Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH KLHS

“KELEMBAGAAN KLHS DALAM SISTEM PERENCANAAN


PEMBANGUNAN NASIONAL”
Dosen pengampu: Dr.Pranoto, M.Sc

Disusun oleh :
Roni Ardyantoro
NIM. A131908012

PROGRAM STUDI S2 ILMU LINGKUNGAN


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2019

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...........................................................................................i
DAFTAR ISI.......................................................................................................ii
DAFTAR TABEL................................................................................................iii
KATA PENGANTAR..........................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................1
A. Latar Belakang........................................................................................1
B. Tujuan......................................................................................................2
C. Rumusan Masaah....................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................3
A. Kajian Lingkungan Hidup Strategis........................................................3
B. Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional..........................................7
BAB III PEMBAHASAN...................................................................................10
C. Pembuatan Keputusan.............................................................................11
D. Penyusunan kebijakan, rencana dan/atau Program.................................11
E. Instansi....................................................................................................12
F. Masyarakat yang memiliki informasi dan/atau keahlian.........................13
G. Masyarakat Terkena Dampak..................................................................14
BAB IV PENUTUP............................................................................................16
A. Kesimpulan..............................................................................................16
B. Saran........................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................17
Latihan Soal........................................................................................................18

2
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kelembagaan.........................................................................................9
Tabel 2. Instansi..................................................................................................11

3
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat
limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya dapat menyelesaikan penyusunan
makalah ini. Makalah ini berjudul “Kelembagaan KLHS dalam Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional”. Makalah ini disusun bertujuan sebagai
penunjang dalam mengetahui tentang kelembagaan KLHS.
Pada penyusunan makalah ini diucapkan terima kasih kepada pihak-pihak
yang telah mendukung. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih dikatakan
belum sempurna, namun penulis sudah berusaha sebaik-baiknya. Semoga makalah
ini bermanfaat bagi mahasiswa lainnya. Makalah ini masih jauh dari sempurna,
oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu
diharapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang
telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.
Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha.

Surakarta, 22 Agustus 2019

Penyusun

4
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 telah mengakibatkan terjadinya perubahan dalam pengelolaan
pembangunan,yaitu dengan tidak dibuatnya lagi Garis-Garis Besar Haluan
Negara (GBHN) sebagai pedoman penyusunan rencana pembangunan
nasional Di Indonesia. Terjadi perubahan UUD 1945 membuat kebijakan
negara tersebut diatur dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
(SPPN). Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan
tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana
pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang
dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat
Pusat dan Daerah.
Lingkungan hidup di Indonesia saat ini masih menunjukkan penurunan
kondisi, seperti terjadinya pencemaran, kerusakan lingkungan, penurunan
ketersediaan dibandingkan kebutuhan sumber daya alam, maupun bencana
lingkungan. Hal ini merupakan indikasi bahwa aspek lingkungan hidup
belum sepenuhnya diperhatikan dalam perencanaan pembangunan.
Memperhatikan hal tersebut, penggunaan sumber daya alam harus selaras,
serasi, dan seimbang dengan fungsi lingkungan hidup. Sebagai
konsekuensinya, kebijakan, rencana, dan/atau program pembangunan harus
memperhatikan aspek lingkungan hidup dan mewujudkan tujuan
pembangunan berkelanjutan. Adanya upaya sadar dan terencana yang
memadukan aspek Lingkungan Hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam
strategi pembangunan akan membuat tujuan pembangunan berkelanjutan
tercapai. Pencapaian pembangunan berkelanjutan diperlukan instrumen
berupa Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS). KLHS adalah
rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh, dan partisipatif untuk
memastikan bahwa prinsip Pembangunan Berkelanjutan telah menjadi dasar
dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau Kebijakan,
Rencana, dan/atau Program.

1
Penyusunan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) yang
menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka
menengah, dan tahunan memerlukan KLHS. Hal tersebut tertuang dalam PP
No. 46 tahun 2016 dimana rencana pembagunan dalam SPPN yang berupa
RTRW beserta rencana rincinya, RPJP nasional, RPJP daerah, RPJM
nasional, dan RPJM daerah diwajibkan KLHS. Penyusunan KLHS
melibatkan berbagai macam pihak/instansi sehingga perlu diurai
kelembagaan yang terlibat.
Berdasarkan uraian diatas, makalah ini menitikberatkan terhadap
Kelembagaan KLHS dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.
Pendalaman materi diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan mengenai
Kelembagaan KLHS.

B. TUJUAN
Tujuan dari makalah ini adalah Mengetahui Kelembagaan KLHS dalam
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.

C. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah makalah ini yaitu Bagaimana Kelembagaan KLHS
dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional?

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Lingkungan Hidup Strategis


1. Definisi
Kajian Lingkungan Hidup Strategis, yang selanjutnya disingkat
KLHS, adalah rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh, dan
partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan
berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam
pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau
program (UU No. 32 tahun 2009)
2. Tujuan dan Manfaat
Menurut Permen LH No. 09 tahun 2011 Kajian Lingkungan Hidup
Strategis bertujuan untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan
berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam
pembangunan. KLHS digunakan untuk merencanakan dan
mengevaluasi kebijakan, rencana dan/atau program yang akan atau
sudah ditetapkan. Dalam penyusunan kebijakan, rencana dan/atau
program, KLHS digunakan untuk menyiapkan alternatif
penyempurnaan kebijakan, rencana dan/atau program agar dampak
dan/atau risiko lingkungan yang tidak diharapkan dapat diminimalkan,
sedangkan dalam evaluasi kebijakan, rencana dan/atau program,
KLHS digunakan untuk mengidentifikasi dan memberikan alternatif
penyempurnaan kebijakan, rencana dan/atau program yang
menimbulkan dampak dan/atau risiko negatif terhadap lingkungan.
KLHS bermanfaat untuk memfasilitasi dan menjadi media proses
belajar bersama antar pelaku pembangunan, dimana seluruh pihak
yang terkait penyusunan dan evaluasi kebijakan, rencana dan/atau
program dapat secara aktif mendiskusikan seberapa jauh substansi
kebijakan, rencana dan/atau program yang dirumuskan telah
mempertimbangkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.
Melalui proses KLHS, diharapkan pihak-pihak yang terlibat dalam
penyusunan dan evaluasi kebijakan, rencana dan/atau program dapat
mengetahui dan memahami pentingnya menerapkan prinsip-prinsip

3
pembangunan berkelanjutan dalam setiap penyusunan dan evaluasi
kebijakan, rencana dan/atau program
3. Pendekatan dan Prinsip
Menurut Permen LH No. 09 tahun 2011 KLHS ditujukan untuk
menjamin pengarusutamaan pembangunan berkelanjutan dalam
pembangunan. Tiga nilai penting dalam penyelenggaraan KLHS yang
mencerminkan penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan adalah
keterkaitan (interdependency), keseimbangan (equilibrium) dan
keadilan (justice).
Keterkaitan (interdependency) dimaksudkan agar penyelenggaraan
KLHS menghasilkan kebijakan, rencana atau program yang
mempertimbangkan keterkaitan antar sektor, antar wilayah, dan
global-lokal. Nilai ini juga bermakna holistik dengan adanya
keterkaitan analisis antar komponen fisik-kimia, biologi dan sosial
ekonomi.
Keseimbangan (equilibrium) bermakna agar penyelenggaraan
KLHS senantiasa dijiwai keseimbangan antar kepentingan, seperti
antara kepentingan sosial-ekonomi dengan kepentingan lingkungan
hidup, kepentingan jangka pendek dan jangka panjang dan
kepentingan pembangunan pusat dan daerah.
Keadilan (justice) dimaksudkan agar penyelenggaraan KLHS
menghasilkan kebijakan, rencana dan/atau program yang tidak
mengakibatkan marjinalisasi sekelompok atau golongan tertentu
masyarakat karena adanya pembatasan akses dan kontrol terhadap
sumber-sumber alam, modal atau pengetahuan.
KLHS dibangun melalui pendekatan pengambilan keputusan
berdasarkan masukan berbagai kepentingan. Makna pendekatan
tersebut adalah bahwa penyelenggaraan KLHS tidak ditujukan untuk
menolak atau sekedar mengkritisi kebijakan, rencana dan/atau
program, melainkan untuk meningkatkan kualitas proses dan produk
kebijakan, rencana, dan/atau program, khususnya dari perspektif
pembangunan berkelanjutan. KLHS bersifat “persuasif” dalam
pengertian lebih mengutamakan proses pembelajaran dan pemahaman
para pemangku kepentingan yang terlibat dalam penyusunan dan

4
evaluasi kebijakan, rencana dan/atau program agar lebih
memperhatikan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Dalam
kerangka pendekatan ini, 6 (enam) prinsip KLHS adalah:
Prinsip 1: Penilaian Diri (Self Assessment)
Makna prinsip ini adalah sikap dan kesadaran yang muncul dari diri
pemangku kepentingan yang terlibat dalam proses penyusunan
dan/atau evaluasi kebijakan, rencana, dan/atau program agar lebih
memperhatikan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dan
mempertimbangkan prinsip-prinsip tersebut dalam setiap
keputusannya. Prinsip ini berasumsi bahwa setiap pengambil
keputusan mempunyai tingkat kesadaran dan kepedulian atas
lingkungan. KLHS menjadi media atau katalis agar kesadaran dan
kepedulian tersebut terefleksikan dalam proses dan terformulasikan
dalam produk pengambilan keputusan untuk setiap kebijakan,
rencana, dan/atau program.
Prinsip 2: Penyempurnaan Kebijakan, Rencana, dan/atau Program
Prinsip ini menekankan pada upaya penyempurnaan pengambilan
keputusan suatu kebijakan, rencana, dan/atau program. Berdasarkan
prinsip ini, KLHS tidak dimaksudkan untuk menghambat proses
perencanaan kebijakan, rencana, dan/atau program. Prinsip ini
berasumsi bahwa perencanaan kebijakan, rencana, dan/atau program
di Indonesia selama ini belum mempertimbangkan pembangunan
berkelanjutan secara optimal.
Prinsip 3: Peningkatan Kapasitas dan Pembelajaran Sosial
Prinsip ini menekankan bahwa integrasi KLHS dalam perencanaan
kebijakan, rencana, dan/atau program menjadi media untuk belajar
bersama khususnya tentang isu-isu pembangunan berkelanjutan, baik
bagi masyarakat umum maupun para birokrat dan pengambil
keputusan. Dengan prinsip ini, pelaksanaan KLHS memungkinkan
seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam perencanaan
kebijakan, rencana, dan/atau program untuk meningkatkan
kapasitasnya mengapresiasi lingkungan hidup dalam keputusannya.
Melalui KLHS diharapkan masyarakat, birokrat, dan pengambil

5
keputusan lebih cerdas dan kritis dalam menentukan keputusan
pembangunan agar berkelanjutan.
Prinsip 4: Memberi Pengaruh pada Pengambilan Keputusan
Prinsip ini menekankan bahwa KLHS memberikan pengaruh positif
pada pengambilan keputusan. Dengan prinsip ini, KLHS akan
mempunyai makna apabila pada akhirnya dapat mempengaruhi
pengambilan keputusan, khususnya untuk memilih atau menetapkan
kebijakan, rencana, dan/atau program yang lebih menjamin
pembangunan yang berkelanjutan.
Prinsip 5: Akuntabel
Prinsip ini menekankan bahwa KLHS harus diselenggarakan secara
terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Prinsip
akuntabel KLHS sejalan dengan prinsip tata pemerintahan yang baik
(good governance). KLHS tidak ditujukan untuk menjawab tuntutan
para pihak. Dengan prinsip ini pelaksanaan KLHS dapat lebih
menjamin akuntabilitas perumusan kebijakan, rencana, dan/atau
program bagi seluruh pihak.
Prinsip 6: Partisipatif
Sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009
tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, prinsip ini
menekankan bahwa KLHS harus dilakukan secara terbuka dan
melibatkan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya yang
terkait dengan kebijakan, rencana, dan/atau program. Dengan prinsip
ini diharapkan proses dan produk kebijakan, rencana, dan/atau
program semakin mendapatkan legitimasi atau kepercayaan publik.

B. Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional


Menurut UU No. 25 tahun 2004 Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk
menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka panjang,
jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur
penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat Pusat dan Daerah
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional bertujuan untuk:
mendukung koordinasi antarpelaku pembangunan;

6
1. menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik
antarDaerah, antarruang, antarwaktu, antarfungsi pemerintah
maupun antara Pusat dan Daerah;
2. menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan,
penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan;
3. mengoptimalkan partisipasi masyarakat; dan
4. menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien,
efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Jenis Rencana Pembangunan menurut Undang-Undang RI Nomor 25
Tahun 2004.
1. Rencana Pembangunan Jangka Panjang, yang selanjutnya
disingkat RPJP, adalah dokumen perencanaan untuk periode 20
(dua puluh) tahun.
2. Rencana Pembangunan Jangka Menengah, yang selanjutnya
disingkat RPJM, adalah dokumen perencanaan untuk periode 5
(lima) tahun.
3. Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Kementerian/Lembaga, yang selanjutnya disebut Rencana
Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra-KL), adalah dokumen
perencanaan Kementerian/ Lembaga untuk periode 5 (lima)
tahun.
4. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja
Perangkat Daerah, yang selanjutnya disebut Renstra -SKPD,
adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah
untuk periode 5 (lima) tahun.
5. Rencana Pembangunan Tahunan Nasional, yang selanjutnya
disebut Rencana Kerja Pemerintah (RKP), adalah dokumen
perencanaan Nasional untuk periode 1 (satu) tahun.
6. Rencana Pembangunan Tahunan Daerah, yang selanjutnya
disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), adalah
dokumen perencanaan Daerah untuk periode 1 (satu) tahun.
7. Rencana Pembangunan Tahunan Kementerian/Lembaga, yang
selanjutnya disebut Rencana Kerja Kementerian/Lembaga
(Renja-KL), adalah dokumen perencanaan Kementrian/Lembaga
untuk periode 1 (satu) tahun.

7
8. Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat
Daerah, yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Satuan Kerja
Perangkat Daerah (Renja-SKD), adalah dokumen perencanaan
Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 1 (satu) tahun.
Kelembagaan dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
(Pasal 32)
1. Presiden menyelenggarakan dan bertanggung jawab atas
Perencanaan Pembangunan Nasional.
2. Dalam menyelenggarakan Perencanaan Pembangunan Nasional,
Presiden dibantu oleh Menteri.
3. Pimpinan Kementerian/Lembaga menyelenggarakan
perencanaan pembangunan sesuai dengan tugas dan
kewenangannya.
4. Gubernur selaku wakil Pemerintah Pusat mengkoordinasikan
pelaksanaan perencanaan tugas-tugas Dekonsentrasi dan Tugas
Pembantuan.
Pasal 33
1. Kepala Daerah menyelenggarakan dan bertanggung jawab atas
perencanaan pembangunan Daerah didaerahnya.
2. Dalam menyelenggarakan perencanaan pembangunan Daerah,
Kepala Daerah dibantu oleh Kepala Bappeda.
3. Pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah menyelenggarakan
perencanaan pembangunan Daerah sesuai dengan tugas dan
kewenangannya.
4. Gubernur menyelenggarakan koordinasi, integrasi, sinkronisasi,
dan sinergi perencanaan pembangunan antarkabupaten/kota.

8
BAB III
PEMBAHASAN

Kelembagaan
Tabel 1. Kelembagaan
Masyarakat dan pemangku Contoh lembaga
kepentingan
Pembuat keputusan 1. Menteri/kepala lembaga
pemerintahan/gubernur/bupati
/walikota
2. DPR/DPRD

Penyusunan kebijakan, 1. Kementerian/lembaga pemerintah non


rencana dan/atau Program kementerian
2. Bappeda/SKPD tertentu
(KRP)
Instansi 1. Instansi yang membidangi lingkungan
hidup
2. Instansi yang membidangi kehutanan,
pertanian, perikanan dan
pertambangan
3. SKPD terkait lainnya

Masyarakat yang memiliki 1. Perguruan tinggi atau lembaga


informasi dan/atau penelitian lainnya
2. Asosiasi profesi
keahlian
3. Forum-forum pembangunan
(perorangan/tokoh/kelom
berkelanjutan dan lingkungan hidup
pok)
(DAS, air)
4. LSM
5. Perorangan/tokoh/
kelompok yang mempunyai data dan
informasi berkaitan dengan SDA
6. Pemerhati Lingkungan Hidup

Masyarakat terkena dampak 1. Lembaga Adat


2. Asosiasi Pengusaha
3. Tokoh masyarakat
4. Organisasi masyarakat
5. Kelompok masyarakat tertentu
(nelayan, petani dll)

9
A. Pembuatan Keputusan
Pembuat kebijakan, rencana, dan/atau program adalah Menteri,
menteri/kepala lembaga pemerintah non kementerian terkait, gubernur, atau
bupati/walikota yang bertanggung jawab terhadap penyusunan atau evaluasi
kebijakan, rencana, dan/atau program yang menjadi obyek KLHS. Sedangkan
Otoritas yang bertanggung jawab menyetujui KRP adalahbadan legislatif
daerah (DPR/DPRD)

B. Penyusunan kebijakan, rencana dan/atau Program (KRP)


Pembuat kebijakan, rencana, dan/atau program adalah Menteri,
menteri/kepala lembaga pemerintah non kementerian terkait, gubernur, atau
bupati/walikota yang bertanggung jawab terhadap penyusunan atau evaluasi
kebijakan, rencana, dan/atau program yang menjadi obyek KLHS.
Pengintegrasian KLHS dalam penyusunan dan evaluasi kebijakan, rencana,
dan/atau program menjadi kunci efektifitas penyelenggaraan KLHS. Dalam
konteks ini, tidak terdapat formula atau rumus baku yang dapat memandu
pengintegrasian ini karena setiap kebijakan, rencana, dan/atau program
mempunyai karakteristik proses, dan prosedur yang tertentu dan bahkan unik,
oleh karena itu menjadi penting untuk memahami secara rinci masing-masing
proses dan prosedur penyusunan dan evaluasi kebijakan, rencana, dan/atau
program dengan segala dinamikanya. Berdasarkan karakteristik itu pula, detil
pengintegrasian KLHS dalam masing-masing kebijakan, rencana, dan/atau
program dirumuskan oleh masing-masing kementerian/lembaga yang
berwenang.
Dalam penyusunan dan evaluasi RPJP dan RPJM, baik untuk tingkat
nasional, provinsi, dan kabupaten/kota, wajib dilaksanakan KLHS.
Pengintegrasian KLHS secara teknis untuk RPJP/RPJM pada tingkat nasional
akan ditentukan lebih lanjut oleh Bappenas, dan pada tingkat provinsi dan
kabupaten/kota oleh Kementerian Dalam Negeri.

C. Instansi
Instansi lingkungan hidup adalah instansi di tingkat pusat atau daerah yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup. Contoh berbagai kemungkinan sumber data
dari instansi adalah sebagai berikut.

10
Tabel 2. Instansi
Data/ informasi/dokumen Instansi/sumber data
Dokumen perencanaan Bappenas atau Bappeda;
Kementerian atau Dinas PU;
KLH atau instansi pengelola
lingkungan hidup daerah.

Laporan status lingkungan Instansi pengelola lingkungan


Hidup Daerah hidup daerah atau Kantor
Statistik

Studi AMDAL sebelumnya Instansi pengelola lingkungan


hidup daerah

Citra satelit (Google Earth, Bappenas, Bappeda, LAPAN,


Landsat) Bakosurtanal

Daerah Dalam Angka, BPS Pusat, daerah


Susenas, Suseda, Sakernas,
Sakerda, Data statistik
terutama demografi,
geografis dan tren ekonomi

Data hasil penelitian di Perguruan tinggi, lembaga


perguruan tinggi atau penelitian, LSM
lembaga negara

Konsultasi dengan pihak Instasi pemerintah


Berwenang

Wawancara narasumber Narasumber yang dipilih secara


dengan keahlian khusus selektif
atau penduduk setempat
yang mengetahui wilayah
studi (wawancara
langsung, diskusi
kelompok terarah);

11
Data/ informasi/dokumen Instansi/sumber data
Laporan LSM, atau artikel Perpustakaan, situs jejaring
terkait
internet, dan media massa

D. Masyarakat yang memiliki informasi dan/atau keahlian (perorangan / tokoh /


kelompok)
Identifikasi dan pelibatan masyarakat dan pemangku kepentingan dapat
dilakukan sesuai proses dan prosedur penyusunan dan evaluasi masing-masing
kebijakan, rencana, dan/atau program, misalnya untuk penyusunan rencana
tata ruang, hal ini mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010
tentang Bentuk dan Tata Cara Peran Masyarakat dalam Penataan Ruang.
Dalam pelibatan masyarakat dan pemangku kepentingan, apabila diperlukan
dapat dilakukan pengelompokan sesuai dengan permasalahan yang akan
didiskusikan. Setiap kelompok dapat dibantu oleh tim. Tim tersebut bertugas
menyiapkan bahan dan materi yang didiskusikan serta menyimpulkan dan
merumuskan masukan, informasi, dan pertimbangan berdasarkan diskusi dan
dialog. Tim dapat dipilih di antara perwakilan masyarakat dan pemangku
kepentingan serta dapat dibantu narasumber sesuai kebutuhan.
Bentuk peran masyarakat dalam perencanaan tata ruang berupa
1. masukan mengenai persiapan penyusunan rencana tata ruang;
2. penentuan arah pengembangan wilayah atau kawasan;
3. pengidentifikasian potensi dan masalah pembangunanwilayah atau
kawasan;
4. perumusan konsepsi rencana tata ruang; dan/atau (5) penetapan
rencana tata ruang.
Bentuk peran masyarakat dalam pemanfaatan tata ruang berupa
1. masukan mengenai kebijakan pemanfaatan ruang
2. kerja sama dengan Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau sesama
unsur masyarakat dalam pemanfaatan ruang;
3. kegiatan memanfaatkan ruang yang sesuai dengan kearifan lokal dan
rencana tata ruang yang telah ditetapkan;
4. peningkatan efisiensi, efektivitas, dan keserasian dalam pemanfaatan
ruang darat, ruang laut, ruang udara, dan ruang di dalam bumi dengan
memperhatikan kearifan lokal serta sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangundangan;

12
5. kegiatan menjaga kepentingan pertahanan dan keamanan serta
memelihara dan meningkatkan kelestarian fungsi lingkungan hidup
dan sumber daya alam; dan
6. kegiatan investasi dalam pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan
peraturan perundangundangan.
Bentuk peran masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang berupa
1. masukan mengenai kebijakan pemanfaatan ruangmasukan terkait
arahan dan/atau peraturan zonasi, perizinan, pemberian insentif dan
disinsentif serta pengenaan sanksi;
2. keikutsertaan dalam memantau dan mengawasi pelaksanaan rencana
tata ruang yang telah ditetapkan;
3. pelaporan kepada instansi dan/atau pejabat yang berwenang dalam hal
menemukan dugaan penyimpangan atau pelanggaran kegiatan
pemanfaatan ruang yang melanggar rencana tata ruang yang telah
ditetapkan; dan
4. pengajuan keberatan terhadap keputusan pejabat yang berwenang
terhadap pembangunan yang dianggap tidak sesuai dengan rencana
tata ruang.
5.
E. Masyarakat terkena dampak
Masyarakat yang akan merasakan dampak penyusunan kebijakan, rencana
dan/atau Program (KRP) meliputi orang atau kelompok yang
diuntungkan(beneficiary groups), dan orang atau kelompok yang dirugikan
(at-risk groups). Terdapat juga masyarakat pemerhati yaitu masyarakat yang
tidak terkena dampak penyusunan kebijakan, rencana dan/atau Program
(KRP), tetapi mempunyai perhatian terhadap kegiatan maupun dampak-
dampak yang ditimbulkan. Kesatuan masyarakat tersebut meliputi Lembaga
Adat, Asosiasi Pengusaha, Tokoh masyarakat, Organisasi masyarakat,
Kelompok masyarakat tertentu (nelayan, petani dll).

13
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa
kelembagaan KLHS dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional terdiri
dari pembuat keputusan, penyusunan KRP, instansi,masyarakat yang memiliki
informasi/keahlian, dan masyarakat terkena dampak.
B. SARAN

Komunikasi dan koordinasi antar kelembagaan yang terlibat perlu


ditingkatkan dalam penyusunan KLHS.

14
DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup RI Nomor 09 Tahun 2011


Tentang Pedoman Umum Kajian Lingkungan Hidup Strategis. 21
November 2011. Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor
729. Jakarta

Peraturan Pemerintah RI Nomor 46 Tahun 2016 Tentang Tata Cara


Penyelenggaraan Kajian Lingkungan Hidup Strategis. 31 Oktober 2016.
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 228. Jakarta

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem


Perencanaan Pembangunan Nasional. 5 Oktober 2004. Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104. Jakarta.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang


Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup 3 Oktober 2009.
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140. Jakarta.

15
LATIHAN SOAL
PILIHAN GANDA
1. Setelah terjadi perubahan UUD 1945 pedoman penyusunan pembangunan
nasional didasarkan pada...
a. Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN)
b. Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN)
c. Rancangan Tata Ruang Wilayah
d. SKPD
e. Bappenas
2. Sebelum terjadi perubahan UUD 1945 pedoman penyusunan pembangunan
nasional didasarkan pada...
a. Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN)
b. Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN)
c. Rancangan Tata Ruang Wilayah
d. SKPD
e. Bappenas
3. rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh, dan partisipatif untuk
memastikan bahwa prinsip Pembangunan Berkelanjutan telah menjadi dasar
dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau Kebijakan,
Rencana, dan/atau Program merupakan pengertian...
a. RTRW
b. RPJM
c. RPJP
d. KLHS
e. SKPD
4. Dokumen perencanaan Nasional untuk periode 1 (satu) tahun .....
a. RTRW
b. RPJM
c. RPJP
d. KLHS
e. RKP
5. Dokumen perencanaan untuk periode 20 (dua puluh) tahun adalah ...
a. RTRW
b. RPJM
c. RPJP
d. KLHS
e. RKP
6. Peran DPR/DPRD dalam kelembagaan KLHS adalah ...
a. Instansi berperan dalam penyusunan
b. Perwakilan masyarakat terkena dampak
c. Pemerhati lingkungan hidup
d. Menyetujui KRP dalam pengambilan keputusan
e. Tokoh Adat
7. Berikut instansi pemerintahan yang berperan dalam KLHS...
a. Organisasi masyarakat.
b. Nelayan.
c. Bapedda.
d. Pengusaha.

16
e. Presiden
8. Berikut kelembagaan KLHS yang berkepentingan dalam pembuat keputusan...
a. Bupati
b. SKPD tertentu
c. BMKG
d. LSM
e. BPS
9. Berikut bagian kelembagaan masyarakat (perorangan/tokoh/kelompok) yang
memiliki informasi dan/atau keahlian KLHS, kecuali...
a. Bappeda.
b. Nelayan.
c. Organisasi masyarakat.
d. Pengusaha.
e. Perguruan Tinggi
10. Berikut bagian kelembagaan masyarakat (perorangan/tokoh/kelompok) yang
terkena dampak KLHS, kecuali ...
a. Gubernur.
b. Nelayan, petani.
c. Pemerhati Lingkungan.
d. Forum Lingkungan Hidup.
e. Asosiasi profesi.

ESSAY
1. Mengapa kelembagaan KLHS berperan dalam sistem perencanaan
pembagunan nasional!
2. Sebutkan bagian kelembaagan dalam KLHS!
3. Sebutkan rencana pembangunan yang ada di pemerintah daerah!
4. Bagaimana bentuk peran masyarakat dalam pemanfaatan tata ruang?
5. Sebutkan kelembagaan masyarakat yang memiliki informasi dan/atau
keahlian!

17
KUNCI JAWABAN
1. B
2. A
3. D
4. E
5. C
6. D
7. C
8. A
9. E
10. A

Essay
1. Karena dalam sistem perencanaan pembangunan nasional tertuang
rencana pembangunan jangka yang dalam penyusunannya diwajibkan
menyusun KLHS dan dalam penyusunan KLHS melibatkan perlu
berbagai instansi (kelembagaan)
2. kelembagaan KLHS dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
terdiri dari pembuat keputusan, penyusunan KRP, instansi,masyarakat
yang memiliki informasi/keahlian, dan masyarakat terkena dampak
3. RPJPD, RPJMD, RKPD
4. Bentuk peran masyarakat dalam pemanfaatan tata ruang berupa
a. masukan mengenai kebijakan pemanfaatan ruang
b. kerja sama dengan Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau
sesama unsur masyarakat dalam pemanfaatan ruang;
c. kegiatan memanfaatkan ruang yang sesuai dengan kearifan lokal
dan rencana tata ruang yang telah ditetapkan;
d. peningkatan efisiensi, efektivitas, dan keserasian dalam
pemanfaatan ruang darat, ruang laut, ruang udara, dan ruang di
dalam bumi dengan memperhatikan kearifan lokal serta sesuai
dengan ketentuan peraturan perundangundangan;
e. kegiatan menjaga kepentingan pertahanan dan keamanan serta
memelihara dan meningkatkan kelestarian fungsi lingkungan hidup
dan sumber daya alam; dan
f. kegiatan investasi dalam pemanfaatan ruang sesuai dengan
ketentuan peraturan perundangundangan.
5. Perguruan tinggi, lembaga penelitian, asosiasi profesi, forum
pembangunan berkelanjutan/lingkungan hidup, LSM, tokoh/perorangan
yang mempunyai data dan informasi terkait dengan SDA.

18