Anda di halaman 1dari 3

Patofisiologi hernia

Hernia adalah suatu penonjolan isi suatu rongga melalui pembukaan yang abnormal
atau kelemahannya suatu area dari suatu dinding pada rongga dimana ia terisi
secara normal (Lewis,SM, 2003).
Pada orang yang sehat ada tiga mekanisme yang dapat mencegah terjadinya hernia
inguinalis yaitu kanalis inguinalis yang berjalan miring, adanya struktur muskulus
oblikus internus abdominis yang menutup anulus inguinalis internus ketika
berkontraksi dan adanya fasia transversal yang kuat yang menutupi triganum
hasselbaeh yang umumnya hampir tidak berotot sehingga adanya gangguan pada
mekanisme ini dapat menyebabkan terjadinya hernia inguinalis (Martini, H 2001)
Komplikasi
1.

Terjadi perlekatan antara isi hernia dengan kantong hernia, sehingga isi
hernia tidak dapat dimasukkan kembali (hernia inguinalis lateralis
ireponibilis). Pada keadaan ini belum ada gangguan penyaluran isi usus.
2. Terjadi penekanan pada cincin hernia, akibatnya makin banyak usus yang
masuk. Cincin hernia menjadi relatif sempit dan dapat menimbulkan
gangguan penyaluran isi usus. Keadaan ini disebut hernia inguinalis lateralis
incarcerata.

3.

Bila incarcerata dibiarkan, maka timbul edema sehingga terjadi penekanan


pembuluh darah dan terjadi nekrosis. Keadaan ini disebut hernia inguinalis
lateralis strangulata.

Pembedahan (Operatif) :
a.

Herniaplasty : memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat


dinding belakang.

b.

Herniatomy : pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya, kantong


dibuka dan isi hernia dibebas kalau ada perlekatan, kemudian direposisi,
kantong hernia dijahit ikat setinggi lalu dipotong.

c.

Herniorraphy : mengembalikan isi kantong hernia ke dalam abdomen


dan menutup celah yang terbuka dengan menjahit pertemuan transversus
internus dan muskulus ablikus internus abdominus ke ligamen inguinal.

Pemberian infus memiliki berbagai indikasi antara lain sebagai infus jaga jalan masuk obat
dan sebagai terapi cairan. Terapi cairan dibagi lagi atas resusitasi, maintenance dan koreksi.
Untuk resusitasi biasa digunakan kristaloid isotonik dan koloid. Kristaloid isotonik memiliki
kandungan Na+ relatif tinggi (>100 mEq/L) tujuannya agar bertahan lama di ekstraseluler
(khususnya intravaskuler). Sebaliknya, cairan maintenance menggunakan elektrolit dalam
jumlah yang sesuai dengan kebutuhan harian (Na+ moderate dan K+ cukup). Terapi cairan
koreksi ditujukan untuk mengatasi gangguan elektrolit berat.

Anda mungkin juga menyukai