Anda di halaman 1dari 9

Sistem Kontrol Homeostatik Umpan Balik

Sistem Kontrol Homeostatik Umpan Balik (Feedback)


Mungkin sistem kontrol homeostatik yang paling utama adalah berdasarkan prinsip
umpan balik (feedback). Umpan balik terbagi atas dua yaitu negatif dan positif. Umpan balik
negatif dapat didefinisikan sebagai suatu prubahan sebuah variabel yang dilawan oleh suatu
respon yang cenderung berkebalikan dengan perubahan tersebut. Sebagai contoh, pada
burung dan mamalia yang harus menjaga suhu tubuhnya, peningkatan suhu tubuh akan
menghasilkan respon-respon spesifik yang akan mengembalikan suhu tubuh ke keadaan
normal. Jadi, umpan balik negatif berperan dalam menjaga stabilitas fisiologis tubuh.

Hal ini kontras dengan sistem umpan balik positif dimana perubahan awal pada
suatu variabel akan menghasilkan perubahan yang lebih lanjut pada arah yang sama. Secara
garis besar, sistem umpan balik positif hanya memiliki peran sangat kecil dalam menjaga
homeostasis. Salah satu contohnya adalah koagulasi atau pembekuan darah. Proses koagulasi
bekerja berdasarkan mekanisme umpan balik positif dan dapat dianggap sebagai suatu proses
yang terlibat dalam menjaga volume sirkulasi darah agar tetap konstan. Dalam banyak hal,
keterlibatan mekanisme umpan balik positif dalam mengontrol atau usaha untuk mengontrol
fungsi-fungsi fisiologis normal hewan mungkin dapat berubah menjadi suatu bencana
(kerusakan). Misalnya jika dalam proses termoregulasi pada burung dan mamalia, jika sistem
tersebut bekerja berdasarkan mekanisme umpan balik positif maka suhu tubuh yang tinggi
akan semakin tinggi sehingga pada akhirnya akan menimbulkan resiko yang fatal. Contoh
lain dari sistem umpan balik positif adalah dalam fungsi sel-sel saraf. Dalam hal ini, influks
awal dari ion Na+ selama tahap awal potensi aksi akan menghasilkan depolarisasi yang
selanjutnya akan meningkatkan influks Na+. Proses ini akan diikuti oleh depolarisasi yang
semakin meningkat dan influks Na+ juga kian aktif. Secara umum, contoh-contoh proses
biologi yang memperlihatkan sistem umpan balik positif sangat sedikit (Santoso, 2009: 9)
Komponen-komponen sistem umpan balik terdiri atas stimulus, reseptor, pusat
integrasi, efektor dan respon. Akan tetapi terdapat 3 komponen prinsip yaitu sebuah reseptor,
pusat integrasi dan efektor. Efektor bertanggung jawab dalam mendeteksi perubahan di
lingkungan hewan, baik lingkungan internal maupun eksternal dimana hewan tersebut berada.
Pada hewan, terdapat banyak sekali reseptor yang masingmasingnya akan memonitor bagian
spesifik dari lingkungan. Fungsi reseptor adalah mengkonversi perubahan yang terdeteksi di
lingkungan menjadi suatu potensial aksi yang dikirimkan melalui bagian aferen sistem saraf
menuju ke pusat integrasi. Pusat integrasi tersebut biasanya berupa otak atau korda spinalis
yang dimiliki oleh hewan. Peranan pusat integrasi adalah untuk mempertimbangkan
informasi yang diterimanya sehubungan dengan variabel spesifik dan bagaimana variabel
tersebut seharusnya. Contohnya, daerah hipotalamus di otak adalah pusat integrasi untuk
mengontrol suhu tubuh pada mamalia. Berdasarkan informasi yang diterimanya dari
termoreseptor, hipotalamus akan memutuskan respon apa yang harus dimulai untuk

mengembalikan suhu tubuh ke kondisi normal. Respon tersebut kemudian dibawah melalui
aksi efektor yang distimulasi melalui jalur neuron eferen (neuron motorik). Efektor adalah
istilah umum untuk struktur yang membawa respon biologis. Respon-respon tersebut dapat
berupa aktivasi muskular, neural atau endokrin.
Berdasarkan uraian sebelumnya, pusat integrasi yang dapat berupa jaringan atau
organ, haru memiliki suatu nilai awal dari suatu variabel yang dikontrolnya. Nilai tersebut
dikenal dengan titik setiing (set point) dan merupakan nilai yang harus dijaga oleh sistem
tubuh hewan agar tetap konstan. Dalam hal temperatur tubuh, bagi mamalia set point nya
adalah 37oC. Namun, suhu tubuh sebenarnya dapat mengalami perubahan dalam batas
toleransi + 1oC. Untuk hewan lainnya, nilai tersebut akan bervariasi, beberapa spesies burung
akan menjaga suhu tubuhnya sekitar 42oC, sementara mamalia lainnya tidak dapat menjaga
temperatur tubuh secara konstan.

Setiap variabel fisiologis akan memiliki kisaran tersendiri dan sangat bervariasi.
Sebagai contoh, plasma darah memiliki pH antara 7.35 7.45 dan konsentrasi ion K+ antara
3-5.5 mmol/l. Kisaran sebenarnya yang masih dapat ditolerir oleh sistem fisiologis sangat
bervariasi antar variabel yang berbeda. Hal tersebut mencerminkan adanya hirarki naturalis
dari homeostasis yang mana bebeapa variabel cenderung lebih dikontrol daripada variabel
lainnya. Variabel-variabel yang dikontrol tersebut memiliki fungsi sangat penting
dibandingkan dengan variabel lainnya. pH darah dan cairan tubuh lainnya adalah salah satu
variabel yang dikontrol sangat ketat. Hal ini terkait dengan peranan pH dalam mempengaruhi
keberlangsungan sistem terutama kerja enzim (berkenaan dengan struktur dan fungsnya).
Perubahan pada pH akan menyebabkan perubahan sangat signifikan dari status ionisasi ikatan
pada enzim yang terlibat dalam interaksi ion yang pada akhirnya akan menyebabkan
kerusakan pada struktur enzim. Jika hal tersebut terjadi, maka akan menjadi sangat destruktif
bagi hewan.
Hal sebaliknya justru terjadi pada level oksigen yang kurang dikontrol secara ketat
dalam darah mamalia dimana level oksigen dapat turun 30-40% sebelum efek-efeknya
terhadap pernafasan terlihat nyata. Fakta berkenaan dengan adanya hirarki naturalis dari
homeostasis antar variabel juga menyiratkan bahwa sistem kontrol homeostasis yang
beragam akan bekerja sama secara kooperatif. Sebagai contoh, pada hewan yang hidup di
gurun, pada siang hari terdapat stres suhu yang sangat ekstrim yang akan berakibat terjadinya
peningkatan suhu tubuh secara drastis. Satu-satunya jalan untuk melawan perubahan tersebut
adalah dengan meningkatkan evaporasi sehingga akan menurunkan suhu tubuh. Akan tetapi
hal tersebut akan menimbulkan masalah baru karena akan terjadi kehilangan air secara
berlebihan.Gambar:

Sistem Kontrol Homeostasis Umpan Kedepan (feedforward)

Kendati sistem umpan balik negatif sangat penting bagi penjaga homeostasis tubuh,
ada metode fisiologis lainnya dimana kontrol lingkungan internal juga dilakukan sedemikian
rupa. Mekanisme tersebut adalah umpan kedepan (feedforward). Mekanisme ini adalah
akivitas antisipasi, suatu perilaku yang bekerja untuk meminimalisir kerusakan sebelum
kerusakan itu sendiri terjadi. Contoh yang ideal dari mekanisme ini adalah proses makan dan
minum yang berlangsung sekaligus. Aktivitas memakan memiliki potensi penyebab
terjadinya dehidrasi karena peningkatan konsentrasi osmolaritas di dalam saluran pencernaan
akan menyebabkan kehilangan air dari cairan tubuh untuk menjaga stabilitas osmolaritas
tersebut hingga tetap isotonik. Untuk meminimalisir adanya gangguan pada osmolaritas
cairan tubuh, kebanyakan hewan minum air pada waktu yang bersamaan dengan makan. Ada
juga prilaku lainnya yang berkontribusi terhadap homeostasis pada hewan, misalnya hewan
dapat belajar untuk menghindari bahan makanan muntah yang mengganggu homeostasis jika
terjadi.

F. Mekanisme Homeostasis Nonfisiologis: Homeostasis Ekuilibrium


Mekanisme-mekanisme homeostasis yang telah uraikan sebelumnya adalah bagian
dariaspek fisiologis hewan yang membutuhkan beberapa mekanisme regulasi
spesifik(misalnya termoregulasi, regulasi pH). Akan tetapi, juga mungkin untuk menjalankan
suatu sistem kontrol tanpa melibatkan mekanisme fisiologis. Hal ini dapat dilihat pada
hewan-hewan akuatis baik vertebrata maupun invertebrata yang hidup di dalam badan air
yang sangat luas sehingga perubahan temperatur lingkungan menjadi sangat kecil.
Temperatur tubuh hewan-hewan tersebut akan selaras dengan temperatur lingkungannya
sehingga jika perubahan temperatur air sangat kecil, maka kemungkinan besar temperatur
tubuh hewan tidak akan berubah (konstan). Sehingga hewan tidak perlu melibatkan
mekanisme kontrol fisiologis tubuhnya untuk mengatur suhu tubuh agar tetap konstan tetapi
cukup dengan hanya tinggal di badan perairan yang suhunya relatif stabil. Mekanisme
homeostasis ini disebut homeostasis ekuilibrium. Secara esensinya, hewan akan
berkonformasi dengan suhu lingkungan eksternal. Akan tetapi apakah homeostasis ini adalah
homeostasis sebenarnya atau bukan masih menjadi masalah yang kontroversial.
G. Mekanisme Aklimatisasi
Dengan merangkum dari semua uraian sebelumnya, terlihat bahwa homeostasis
merupakan upaya integratif dari hewan dalam mempertahankan kondisi fisiologisnya agar
tetap konstan atau berada dalam level perubahan yang masih dapat ditoleransi. Cakupan dari
semuanya itu adalah kemampuan hewan untuk merubah kisaran dari perubahan-perubahan
variabel fisiologis yang terus dipertahankan tersebut. Kemampuan untuk merubah kisaran
inilah disebut dengan aklimatisasi. Mekanisme ini berlangsung sebagai efek kumulatif dari
perubahan lingkungan eksternal dan kemampuan sistem tubuh untuk meregulasi kondisi
internalnya dengan berbagai mekanisme homeostasis. Jadi, regulasi tersebut adalah produk
dari sistem kontrol dasar hewan yang bekerja sama dengan efek-efek lingkungan terhadap
variabel tertentu. Contohnya, fisiologi hewan yang hidup di dataran rendah atau sekitar pantai

berbeda dengan hewan yang sama spesiesnya tetapi tinggal di tempat yang lebih tinggi
seperti di pegunungan karena kadar oksigen akan berbeda pada ketinggian tempat yang
berbeda. Ketersediaan oksigen akan menurun dengan bertambahnya ketinggian tempat. Jadi,
orang yang tinggal di tempat yang tinggi akan memperlihatkan beragam adaptasi fisiologis
dan anatomis dibandingkan dengan orang yang tinggal di dataran rendah dan daerah pantai.
Perbedaan tersebut misalnya dari aspek sensitifitas reseptor tubuh dalam mendeteksi level
oksigen dalam darah, perbedaan struktur pembuluh darah yang membawa darah miskin
oksigen kembali ke pulmo, dan perbedaan dari aspek jumlah dan fungsi eritrositnya.
H. Perubahan-Perubahan Fisiologis
Secara garis besar, perubahan fisiologis yang terjadi pada hewan dapat dibagi menjadi
dua kategori yaitu (a) perubahan yang disebabkan oleh adanya perubahan lingkungan
eksternal dan (b) perubahan internal yang diprogram sedemikian rupa dengan atau
tanpaperubahan lingkungan eksternal. Perubahan kategori pertama terdiri atas perubahan
akut, perubahan kronis (aklimatisasi dan aklimasi), dan perubahan evolusioner. Sedangkan
perubahan kategori kedua meliputi perubahan perkembangan (development change), dan
perubahan yang dikontrol oleh jam biolohis periodik. Perubahan akut adalah perubahan
kondisi fisiologis hewan pada waktu yang singkat (short-term), perubahan yang segera akan
muncul setelah lingkungan berubah. Perubahan ini bersifa reversibel. Perubahan akan
kembali ke keadaan normal jika kondisi lingkungan eksternal kembali ke keadaan semula.
Sedangkan perubahan kronis adalah perubahan fisiologis pada periode yang panjang (longterm) dimana perubahan pada hewan baru akan muncul setelah berada pada kondisi
lingkungan yang baru selamau beberapa waktu (hari, minggu, bulan). Perubahan ini juga
bersifat reversibel.
Adapun perubana evolusioner adalah perubahan yang muncul karena adanya
perubahan frekuensi gen-gen selama beberapa generasi dalam suatu populasi yang berada
pada lingkungan baru. Perubahan perkembangan adalah perubahan secara fisiologis
yangmuncul dalam suatu jalur spesifik yang telah terprogram sedemikian rupa sejak
daritahap perkembangan embrio hingga dewasa dan menjadi tua. Sedangkan perubahan yang
dikontrol oleh jam biologi periodik adalah perubahan fisiologi hewan yang berlangsung
dengan pola berulang (misalnya setiap hari) dbawah kendali jam biologis(Santoso, 2009:814)

DAFTAR PUSTAKA
Bima, 2006. Pengaturan Suhu
Tubuh. http://bima.ipb .ac.id/~tpb/materi/bio100/ Materi/ suhu_ tubuh .html.
Diakses tanggal 16 sep 2013
Isnaini, Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Santoso, Putra. 2009. Buku Ajar Fisiologi Hewan. Padang. Universitas Andalas
Soewolo, 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta : Proyek Pengembangan Guru Sekolah Menengah
IRBD Loan No. 3979. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan
Nasional.
Kukus,Yondry, Wenny Supit dan Fransiska Lintong. 2009. Suhu tubuh:Homeostasi dan efek kinerja
padatubuh manusia. (online:ejournal. unsrat.ac .id/index .php/biomedik/ article/view/ 824.
Diakses tanggal 16 sep 2013

Konsep Pundamental
Fisiologi hewan merupakan ilmu pengetahuan yang membahas dan mengkaji mengenai fungsi
kehidupan dan segala sesuatu yang dilakukan hewan dengan berbagai gejala yang ada dalam sistem
hidup.
Dalam menjalankan fungsi kehidupan hewan dipengaruhi oleh lingkungan luar dan aktivitas hewan
tersebut sehingga akan mempengaruhi lingkungan internal tubuh hewan. Faktor-faktor lingkungan
internal yang harus dijaga stabilitasnya oleh hewan yaitu keasaman (PH), kandungan air tubuh, kadar
garam, suhu tubuh dan kandungan nutrien. Hewan yang mampu mengatur berbagai faktor stabilitas
lingkungan internal dengan tepat disebut Hewan Regulator sedangkan hewan yang tidak mampu
mempertahankan keadaan lingkungan internalnya, lingkungan internalnya berubah seiring dengan
perubahan lingkungan eksternalnya disebut Hewan Konformer.
Lingkungan luar atau eksternal dapat dibedakan menjadi :
1. Lingkungan Aquatik
Faktor yang berpengaruh dilingkungan aquatik :
a. Tekanan Hidrostatik
Yaitu tekanan yang timbul oleh kedalaman air semakin tinggi kedalaman air semakin tinggi tekanan
hidrostatik maka akan semakin jarang ditemukan kehidupan, karena mempengaruhi aktivitas kehidupan
sel.
b. Kandungan Zat Terlarut
Lingkungn aquatik mengandung berbagai zat terlarut seperti garam, gas, sejumlah kecil senyawa
organik dan polutan.
c. Suhu
Suhu didalam air tidak banyak mengalami perubahan sehingga menguntungkan bagi hewan.
2. Lingkungan Terestial
Lingkungan terestial yaitu lingkungan yang berupa daratan. Pada lingkungan ini ketersediaan oksigen
melimpah, tetapi terdapat ancaman pada lingkungan ini yaitu radiasi dan dehidrasi. Dehidrasi dapat
dipengaruhi oleh suhu tinggi, kelembaban rendah, kecepatan angin dan luas permukaan benda.
Mekanisme Homeostatis
Homeostatis yaitu stabilitas lingkungan internal yang terjadi relatif konstan dan dinamis. Mekanisme
pengendalian kondisi homeostatis pada hewan yaitu dengan sistem umpan balik baik yang negatif
maupun yang positif. Sistem umpan balik negatif yaitu perubahan suatu variabel yang dilawan oleh
tanggapan yang cenderung mengembalikan perubahan tersebut ke keadaan semula. Sistem umpan balik
positif yaitu perubahan suatu variabel akan menghasilkan perubahan yang semakin besar.
Fisiologi Sel
Sel merupakan unit terkecil dari organisme, terdapat dua tipe sel yaitu sel tunggal dan multiseluler, sel
tunggal melakukan fungsi kehidupannya oleh satu sel sedangkan multiseluler melakukan fungsi
kehidupan oleh kerja sama multiseluler.
Struktur dan fungsi organel sel
1. Inti (nukleus)
Sebagian besar berisi DNA yang didalamnya terdapat kromosom berfungsi sebagai sintesis RNA yaitu
untuk mengatur karakteristik dari protein yang diperlukan untuk berbagai aktivitas enzimatik.
2. Ribosom
3. Lisosom

Berfungsi sebagai sistem pencernaan intrasel yang akan mencerna dan membuang bahan-bahan yang
tidak dibutuhkan atau benda asing.
4. Mitokondria
Merupakan tempat respirasi seluler, jumlah mitokondria berkolerasi terhadap tingkat aktivitas
metabolisme sel.
5. Sentriol dan Sitoskeleton
Sentriol merupakan bangunan berbentuk tabung kecil yang terdiri atas silinder triplet mikrotubula yang
memiliki peran penting selama pembelahan sel. Sitoskeleton berfungsi mempertahankan struktur sel
agar tidak mudah berubah.
6. Membran Plasma
Berfungsi sebagai rintangan selektifdan sebagai tempat pembuatan enzim.
Komposisi kimia sel yaitu air, elektrolit, protein, lemak dan karbohidrat. Sifat fisik dan kimia sel terdiri
dari kapasitas panas penguapan viskositasdan kondisi molekul.
Peran membran dalam transfor zatadalah sebagai tempat pertukaran dan menyaring zat-zat yang akan
masuk atau keluar sel.
Cara transfor zat melalui membran:
1. Transfor ion channel
2. Transfor aktif
Fisiologi Saraf
Sel penyusun sistem saraf yaitu Neuron dan sel Glis. Neuron berfungsi sebagai neuron sensorik,
interneuron dan neuron motorik. Sel Glia berfungsi mendukung sel sarafdalam fungsi kendali dan
koordinasi tubuh, membuang zat-zat sisa dari sekitar neuron
Bentuk sel saraf : unipolar, bipolar, multipolar.
Komponen sel saraf : badan sel, dendrit, dan akson.
Komponen penyusun sistem saraf yaitu :
- Otak
- Serabut saraf
- Pleksus
- Ganglia
Fisiologi Endokrinologi
Endokrinologi adalah cabang ilmu biologi yang membahas tentang hormon dan aktivitasnya. Hormon
merupakan senyawa kimia yang berada dalam darah dengan kadar yang sangat rendah dan berfungsi
sebagai pengatur metabolisme jaringan. Komponen penyusun organ endokrin adalah :
1. Sel Neurosekretori
Berbentuk seperti sel saraf yang merupakan penghasil hormon.
2. Sel endokrin sejati
Berbentuk tidak seperti sel saraf yang berfungsi sejati sebagai penghasil hormon. Hormon yang yang
dihasilkan secara langsung dilepaskan kedalam darah.
Klasifikasi Hormon
1. Berdasarkan struktur kimia
Hormon protein
Hormon steroid
Hormon asam amino
Zat kimia yang menyerupai hormon
2. Berdasarkam fungsi
Hormon perkembangan
Hormon metabolisme
Hormon frofik
Hormon pengatur metabolisme mineral dan air
Hormon pengatur sistem kardiovaskuler
Sintesis hormon protein yaitu dengan dua langkah:
1. Transkripsi
Proses pembentukan RNA dari templet DNA. RNA yang dibentuk akan menjadi bahan baku dalam proses
selanjutnya. RNA precursor dibentuk menjadi RNA pembawa informasi dengan melakukan pemotongan
RNA dan daigabungkan kembali segmen-segmennya serta melakukan modifikasi dengan polyadenylation
dan penambahan 7-methilguanosline.
2. Translasi

Proses dimana mRNA menembus membran inti sel dan masuk kedalam sitoplasma, kemudian terjadi
penyusunan asam amino dengan pembentukan pasangan yang spesifik antara basa dari antikodon yang
terdapat dalam tRNA dengan kodon yang sesuai, selanjutnya terjadi polmerisasi untuk membentuk
rantai polipeptida.
Sitem endokrin pada hewan invertebrata
Pada vertebrata tidak mempunyai organ sekresi hormon yang bertugas yaitu sel neurosekretori yang
berfungsi dalam pertumbuhan, perkembangan, regenerasi, reproduksi, osmoregulasi, laju denyut
jantung, komposisi adrah dan pergantian kulit, misalnya pada plathelmintes hormon dihasilkan dari
proses regenerasi, regulasi osmotik dan ionik serta reproduksi.
Sistem endokrin pada hewan vertebrata :
1. Hipotalamus : yaitu bagian dari otak yang berperan dalam mempertemukan sistem saraf dan
endokrin serta berfungsi mengendalikan kelenjar pituitari.
2. Pituitari : bekerja dibawah pengaruh hipotalamus dan berfungsi mengendalikan kelenjar endokrin.
3. Kelenjar endoktrim tepi : organ endokrin diluar hipotalamus pituitari.
Hubungan sistem endokrin dengan metabolisme gula darah
Kadar gula dalam darah dikendalikan hormon yaitu insulin dan glukagon, hormrn insulin sangat penting
untuk menurunkan kadar gula dalam darah. Dalam sel hati gula akan mengalami katabolisme atau
disimpan. Kekurangan insulin dalam tubuh akan menurunkan tingkat katabolisme glukosa serta
menurunkan sintesis dan penyimpanan glikogen, akibatnya kadar gula dalam darah meningkat.
Fisiologi Pencernaan
Pencernaan Makanan
1. Pada hewan tingkat rendah
Pada hewan tingkat rendah tidak ada organ percenaan dan pencernaannya secara intraselular terjadi
didalam vakuola makanan.
Tahapan proses pencernaannya yaitu lisosom mensekresikan enzim pencernaan yang menyebabkan
suasana menjadi asam. Kemudian terjadi pemisahan berbagai garam kalsium yang akan menciptakan
kondisi PH yang tepat untuk enzim. Akhir proses pencernaan keadaan lingkungan menjadi netral bahan
makanan yang tercerna dikeluarkan melalui proses eksositosis.
2. Hewan tingkat tinggi
Makanan dicerna didalam saluran yang sudah berkembang dengan baik. Pencernaan makanan
berlangsung didalam organ gastrointestinal (secara ekstraseluler) yang tersusun atas berbagai organ
yaitu:
Daerah penerimaan: yaitu daerah untuk menerima makanan adalah mulut, dalam mulut terdapat
kelenjar ludah yang menghasilkan ludah yangmengandung berbagai substansi seperti: amilase, toksin,
antikoagulan.
Daerah penyimpanan: terdiri dari lambung dan empeda. Lambung berfungsi sebagai tempat
penyimpanan khim yaitu makanan yang telah dicerna sebagian dan akan meloloskan ke usus dengan
jeda waktu tertentu. Empedal berperan dalam pencernaan mekanik yang dapat mengeras dan
menyaring makanan yang berukuran tertentu.
Daerah pencernaan dan penyerapan
Proses ini berlangsung di dalam usus, bahan makanan dicerna lebih lanjut dengan bantuan enzim dan
diubah menjadi berbagai komponen penyusunnya agar dapatdiserap dan digunakan secara optimal.
Apabila proses pencernaan telah mencapai maksimal, bahan makanan berubah bentuk menjadi bahan
sederhana yang siap diserap.
Proses Pasca Penyerapan Makanan
Makanan yang masuk kedalam tubuh hewan akan mengalami berbagai proses yang dapat diuraikan
sebagai berikut:
Pada mulanya, bahan makanan yang terdiri atas karbohidrat, lipid, dan protein dicerna menjadi gula,
asam amino, asam lemak dan gliserol tasil. Pencernaan tersebit selanjutnya diserap oleh sel epitel
mukosa usus, dan diteruskan kedarah (langsung kepembuluh darah atau melalui pembuluh lakteal
terlebih dahulu) hingga akhirnya sampai ke sel tubuh.
Fungsi Sirkulasi
Fungsi sistem sirkulasi :
1. Menjamin terpenuhinya kebutuhan tubuh akan sari makanan dan oksigen.
2. Menjamin pembuangan zat sisa metabolisme dari tubuh dengan segera.
3. Berperan penting dalam penyebaran panas tubuh.
4. Menyebarkan tekanan atau kekuatan.
Komponen sistem sikulasi :

1. Jantung
Berfungsi sebagai pompa penggerak cairan tubuh di sepanjang pembuluh. Ada dua jenis jantung yaitu :
a. Jantung Tubuler (Vaskuler)
Jantung ini terdapat pada hewan invertebrata, bentuknya sederhana dan tidak mempunyai klep. Bekerja
secara kontraksi peristaltik.
b. Jantung Berongga
Terdapat pada hewan vertebrata, merupakan organ berotot yang mampu mendorong darah ke berbagai
bagian tubuh dan mampu mempertahankan aliran darah dengan bantuan sejumlah klep. Gerakan
memompa jantungmerupakan kekuatan utama yang menjamin kelancaran aliran darah. Kontraksi otot
jantung terjadi secara periodik.
Jantung pada Mamalia
Terletak didaerah dada dan dibungkus oleh perikardium yang memiliki empat rongga, yaitu dua ruang
serambi yang berdinding lebih tipis dan dua ruang bilik yang berdinding lebih tebal.
Saat serambi berkontraksi (fase sistol) darah dari vena ke serambi tertutup oleh kontraksi ototo-otot
disekitarnya, tekanan meningkat sehingga darah akan terdorong menuju bilik yang sedang berelaksasi.
Saat bilik berkontraksi serambi relaksasi, jalan masuk darah dari vena ke serambi menurun, sehingga
darah akan masuk ke dalam serambi terdengar suara yang timbul seiring dengan denyutan jantung.
Suara menutupnya klep atrioventrikuler, yang diikuti dengan suara menutupnya klep semilunar (klep
antara bilik dengan pembuluh arteri).
2. Pembuluh
Pembuluh merupakan saluran yang akan dilewati oleh cairan yang beredar keseluruh tubuh, yaitu
dengan pembuluh darah dan pembuluih limfe. Pembuluh darah yaitu saluran yang khusus untuk
mengalirkan darah yang terdiri atas arteri, venadan kapiler. Arteri berfungsi untuk mengangkut darah
yang keluar dari jantung. Kapiler berfungsi sebagai tempat terjadinya pertukaran gas dan zat lainnya
antara pembuluh darah dan sel jaringan.
Pembuluh Limpe
Pembuluh limpe pada berbagai hewan.
1) Vertebrata tingkat tinggi
Berupa saluran buntu dengan ujung terbuka yang berfungsi mengangkut kelebihan cairan di ekstra sel
ke sirkulasi darah.
2) Hewan Invertebrata
Tidak ditemukan adanya pembuluh limfe (kecuali pada teleosteli)
3) Hewan Tingkat Rendah
Ditemukan berbagai bentuk peralihan yang menunjukan adanya perkembangan sistem pembuluh limfe.
3. Cairan tubuh terbagi 2 yaitu, cairan intra sel dan cairan ekstrasel. Cairan ekstrasel ditemukan pada
berbagai tempat dengan sebutan yang berbeda.
Cairan jaringan
Cairan darah
Cairan limfe
Hemolimfe
Cairan Darah
Darah merupakan cairan dalam pembuluh darah yang beredar keseluruh tubuh mulai dari jantung dan
segera kembali ke jantung. Cairan darah tersusun atas sel darah dan plasma darah. Sel darah terdiri
atas eritrosit, leukosit dan trombosit. Plasma darah mengandung mengandung sekitar 90% air dan
berbagai zat terlarut. Fungsi umum darah yaitu mempertahankan fungsi lingkungan dalam keadaan
relatif konstan yang mana mekanismenya disebut homeostatik . sistem sirkulasi pada hewan terbagi 2
yaitu, sistem sirkulasi terbuka dan sirkulasi tertutup.
Sistem Respirasi
Sistem respirasi terbagi dua :
1. Respirasi eksternal
2. Respirasi internal
Respirasi diatur oleh saraf sehingga dapat mencukupi kebutuhan oksigen dan membuang karbondioksida
sehingga kesetimbangan antara kadar oksigen dan kadar karbondioksida.
Organ Respirasi Hewan Akuatik
Organ respirasi pada hewan akuatik ikan dan kulit. Kulit merupakan alat respirasi hewan inaktif,
sedangkan insang terbagi 2 yaitu, insang luar dan insang dalam.
Organ Respirasi Ikan

Pada ikan terdapat kantong udara yang berfungsi mengatur daya apung tubuh hewan agar dapat
bergerak naik turun yang berperan dalam proses respirasi. Mekanismenya mensekresikan gas sebagai
oksigen atau mengabsorbsinya kembali sehingga gelembung udara akan menyusut atau mengembang.
Organ Respirasi Hewan Terestial
Organ Respirasi pada hewan terestial yang :
Paru-paru difusi ditemukan pada bekicot tidak bercangkang.
Paru-paru buku ditemukan pada arakhnida contoh laba-laba.
Trakhea yaitu organ pernafasan pada insekta.
Paru-paru alveoler ditemukan pada amfhibia, aves dan reftil.
Paru-paru sempurna pada mamalia.
Mekanisme Respirasi
Inspirasi : yaitu pembesaran rongga thorax yang diikuti mangembangnya paru-paru sehingga tekanan
dalam paru-paru lebih rendah dan rekanan udara luar, akibatnya udara akan mengalir masuk ke dalam
paru-paru.
Ekspirasi : yaitu pengecilan dari rongga thorax dan paru-paru yang didikuti oleh pengeluaran udara dari
paru-paru.
Inspirasi didikuti ekspirasi yang tidak memerlukan kontraksi otot. Berat dan struktur seluruh dinding
thorax, elastisitas paru-paru dan dinding abdomen akan mengembalikan ke posisi semula.
Transpor zat dalam sistem respirasi terbagi 2 yaitu :
1. Tranfor O2
2. Transfor CO2
Sistem respirasi pada berbagai hewan:
1. Amfibia
Pengambilan oksigen dan pengeluaran karbon dioksida terjadi melalui paru-paru maupun kulit, jalur
pengeluaran CO2 yang utama ialah melalui kulit, inspirasi diawali dengan kontraksi otot didasar mulut,
kemudian rongga mulut meluas sehingga terjadi tekanan negatif didalamnya, selanjutnya nostril terbuka
dan udara mengalir masuk melalui nostril.
2. Burung
Pada burung, paru-paru dilengkapi dengan kantung udara besar dan memiliki membran tebal. Gerakan
inspirasi terjadi dengan adanya kontraksi otot-otot respiratori yang mendorong tulang-tulang iga ke arah
depan sehingga menghasilkan gerakan sternum kedepan dan kebawah, tulang-tulang iga lainya
bergerak ke arah lateral dan menyebabkan peningkatan volume rongga tubuh, paru-paru dan kantung
udara ikut mengembang akibatnya tekanan gas dalam paru-paru dan kantung udara turun sehingga
udara atmosfer masuk kedalamnya.
3. Mamalia
Fase inspirasi merupakan proses aktif terjadi karena adanya kontraksi otot inspiratori akibatnya tekanan
negatif. Fase ekspirasi merupakan proses pasif dan terjadi karena karena adanya relaksasi otot
inspiratori dan pengerutan dinding alveoli