Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Tahun 2000 keatas dikenal dengan abad globalisasi, kita dituntut untuk bersaing
dalam segala aspek kehidupan supaya kita bisa tetap bertahan dan terus
memberikan kontribusi positif untuk kemajuan negara, baik di luar negeri maupun
di dalam negeri. Indonesia yang dikenal oleh negara luar sebagai plural country
(negara majemuk), sebab memiliki beragam budaya di dalamnya, tidak hanya satu
ras, melainkan banyak sekali ras, budaya bahkan kehidupan sosial yang
terangkum dalam tajuk adapt istiadat yang semuanya juga berbeda-beda. Hal ini
sangat dibutuhkan kekuatan yang sangat ekstra untuk dapat mempertahankannya
sehingga masih ada yang bisa dibanggakan dari negara terbesar di Asean ini.

Dari berbagai budaya dan bahasa yang ada di Indonesia, negara tetap memilki
bahasa pemersatu sebagai kekuatan nasionalisme yang menghiasi perbedaan yang
ada, sejak dulu bangsa Indonesia selalu bangga akan bahasa Indonesia yang tidak
lain adalah bahasa kesatuan yang kita gunakan sehari-hari. Bahasa tersebut
tersusun atas serapan dari berbagai bahasa yang ada di Indonesia sehingga dapat
memberikan sinergisitas terhadap bahasa daerah. Tentunya kita pun harus bengga
terhadap keduanya. Baik bahasa Indonesia maupun bahasa daerah.

Mengingat hal tersebut diatas, sepertinya sinergisitas tersebut tidak terlalu


dirasakan oleh salah satu daerah yang merupakn salah satu kamar dari 32 provinsi
yang ada di Indonesia. Daerah tersebut adalah Lampung, daerah yang memiliki
potensi yang sangat besar untuk menumbuhkan taraf ekonomi, sosial serta budaya
apabila kita tinjau dari strategisnya letak wilayah. Hanya saja mungkin hal itu

1
merupakan sebuah mimpi disiang bolong, sebab orang Lampung sendiri kurang
respect (menghargai) bahasa asli daerah tersebut, mungkin tidak telalu
memberikan efek serius terhadap kehidupan ekonomi, tetapi untuk sosial dan
budaya, hal ini akan memberikan dampak yang berarti dikemudian hari terhadap
nilai-nilai sosial budaya daerah Lampung.

Di dalam penjelasan UUD’45 Pasal 36 (sebelum amandemen) dikatakan bahwa


“Didaerah-daerah yang mempunyai bahasa sendiri, yang dipelihara oleh
rakyatnya dengan baik-baik, maka bahasa tersebut dihormati dan dipelihara oleh
negara. Bahasa-bahasa itu pun merupakan sebagian dari kebudayaan Indonesia
yang hidup.”

Piagam Bojong menunjukkan bahwa tahun 1500 hingga 1800 Masehi Lampung
dikuasai oleh kesultanan Banten.

Putra mahkota Banten, Sultan Haji, menyerahkan beberapa wilayah kekuasaan


Sultan Ageng Tirtayasa kepada Belanda. Di dalamnya termasuk Lampung sebagai
hadiah bagi Belanda karena membantu melawan Sultan Ageng Tirtayasa.
Permintaan itu termuat dalam surat Sultan Haji kepada Mayor Issac de Saint
Martin, Admiral kapal VOC di Batavia yang sedang berlabuh di Banten. Surat
bertanggal 12 Maret 1682 itu isinya, Saya minta tolong, nanti daerah Tirtayasa
dan negeri-negeri yang menghasilkan lada seperti Lampung dan tanah-tanah
lainnya sebagaimana diinginkan Mayor/ Kapten Moor, akan segera serahkan
kepada kompeni.

Surat itu kemudian dikuatkan dengan surat perjanjian tanggal 22 Agustus 1682
yang membuat VOC memperoleh hak monopoli perdagangan lada di Lampung.
Akan tetapi, upaya menguasai pasar lada hitam Lampung kurang memperoleh
sambutan baik. Pada 21 November 1682 VOC kembali ke pulau Jawa hanya
membawa 744.188 ton lada hitam seharga 62.292,312 gulden.
Dari angka itu dapat disimpulkan bahwa Lampung kala itu dikenal sebagai
penghasil lada hitam utama. Lada hitam pula yang mengilhami berbagai negara

2
Eropa ambil bagian dalam konstelasi politik Nusantara kala itu. Penguasaan
sumber rempah-rempah dunia berarti menguasai perdagangan dunia-dan tentu saja
wilayah.

Kejayaan Lampung sebagai sumber lada hitam pun mengilhami para senimannya
sehingga tercipta lagu ’Tanoh Lada.’ Bahkan, ketika Lampung diresmikan
menjadi provinsi pada 18 Maret 1964, lada hitam menjadi salah satu bagian
lambang daerah itu. Namun, sayang saat ini kejayaan tersebut telah pudar. Hal ini
juga yang menjadi kekhawatiran tetua Lampung akan kehidupan sosial budaya
Lampung, yang telah mereka pertahankan.

Dapat disinyalir bahwa bahasa Lampung dalam 10 tahun akan hanya menjadi
sejarah jika keadaannya terus seperti ini bahkan lebih buruk lagi. Hal yang terjadi
di Lampung sendiri adalah tidak adanya sifat bangga dan menghargai budaya
yang ada. Kebanyakan dari mereka lebih memilih mengaku sebagai orang
pendatang, padahal ia lahir dan tinggal di daerah lampung. Masih saja ada ego
sukuisme yang terjadi di Lampung, maka bahasa lampung tidak begitu popular,
bahkan orang yang ada di Lampung lebih bisa bahasa Jawa, Sunda, Palembang,
Batak, Padang serta bahasa yang lainnya yang dibawa oleh pendatang.

Kita lihat saja sebagai contoh kota Bandar Lampung, sebagai representasi kecil
provinsi Lampung. Di kota Bandar Lampung sendiri sangat jarang sekali
terdengar orang lampung berbicara dengan bahasa Lampung, hanya daerah raja
basa dan way halim yang masih menggemakan bahasa Lampung, itu pun jarang
sekali. Maka akan timbul pertanyaan jika ada orang luar yang berkunjung ke
Lampung, ‘apakah bahasa lampung sama dengan bahasa jawa?’. Bahkan pemuda
di Bandar Lampung lebih senang menggunakan bahasa gaul, seperti yang sering
divokalkan dengan bunyi “Loe atau Gua” ( kamu atau Saya). Maka disini penulis
mengusung judul diatas agar dapat memberikan solusi atas kasus serius yang
dialami oleh provinsi paling selatan di pulau sumatera tersebut.

3
I.2 Tujuan Penulisan

Tujuan penulis dalam menulis kaya tulis ini adalah, sebagai berikut:

a. Memberikan dorongan bagi seluruh penduduk Lampung untuk dapat


melestarikan bahasa Lampung.
b. Dapat melahirkan soslusi permasalahan kebudayaan khususnya kecintaan
terhadap bahasa Lampung serta nilai-nilai sosial budaya Lampung.
c. Memberikan suntikan kepada pemuda Lampung untuk dapat menjadi tuan
rumah di daerah sendiri.
d. Mengkampanyekan untuk mempertahankan bahasa Lampung.
e. Memberi masukan kepada pihak terkait untuk dapat memperjuangkan
bahasa Lampung sebagai bahasa kebanggan nomor satu di Lampung.
f. Memberikan pengertian terhadap kaum pendatang di Lampung untuk
berpaeran serta ikut dalam melestarika bahasa Lampung.

I.3 Manfaat Penulisan


Adapun manfaat dari penulisan karya ilmiah mahasiswa kali ini adalah, sebagai
berikut:

a. Menjadi referensi pihak terkait sebagai bahan analisa tentang nilai-nilai


sosial budaya provinsi Lampung.
b. Menjadi jalan rekomendasi untuk pembenahan sistem nilai-nilai sosial
budaya di provinsi Lampung yang hampir punah akibat tekanan dari suku
atau penduduk pendatang

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pandangan Terhadap Bahasa

Bahasa merupakan alat komunikasi dan alat interaksi yang dimilki oleh manusia.
Bahasa dapat dikaji scara internal dan eksternal. Secara internal, artinya
pengkajian itu hanya dilakukan terhadap struktur intern bahasa itu sendiri, sperti
struktur fonologi, morfologi atau sintaksisnya. Sedangkan secara eksternal,
artinya pengkajian bahasa tersebut dilakukan terhadap faktor-faktoryang berada di
luar bahasa, tetapi berkaitan dengan pemakaian bahasa itu oleh para penuturnya
didalam kelompok-kelompok sosial masyarakat.

Dalam buku Sosiolinguistik, De Saussure (1916) pada awal abad ke 20 ini telah
menyebutkan bahwa bahasa adalah salah satu lembaga kemasyarakatan, sama
dengan adat istiadat serta nilai-nilai sosial budaya lainnya, seperti tata cara
pernikahan, pewarisan harta dan tahta serta acara dat lainnya. Pakar lain, Charles
Morris, di dalam bukunya ‘Sign, Language and Behavior’ (1946) yang juga
dilansir dalam buku ‘Sosiolingustik‘ yang membicarakan bahasa sebagai sistem
lambang, membedakan adanya tiga macam kajian bahasa berkenaan dengan fokus
perhatian yang diberikan, yaitu hubungan fokus lambang terhadap maknanya
dinamakan semantik. Fokus hubungan lambang dengan lambang disebut sintatik.
Kemudian fokus hubungan lambang terhadap penuturnya disebut pragmatik.

Karena bahasa yang ada di Indonesia sangatlah beragam, dimana termasuk adalah
bahasa asli yang dimiliki seluruh daerah yang telah diatur dalam UUD’45 pasal 36
tentang pemeliharaan bahasa daerah. Bahasa Lampung pun masuk kedalam
himpunan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia, yang butuh perlindungan serta

5
pemeliharaab yang benar-benar baik dari rakyat Lampung maupun negara, sebab
telah di atur dalam undang-undang.

Ketika kita tinjau secara tradisional bahwa bahasa dianggap sebagai alat
komunikasi manusia sejak pertengahan tahun 500-1500 M sangat erat sekali
bahwa bahasa dan manusia saling terkait satu sama lain, yaitu hubungan bahasa
dengan masyarakat. Hubungan itu kemudian dapat melahirkan beberapa aspek
dalam pembedaan bahasa. dimana selalu dipelajari pada sosiolinguistik. Terdapat
berbarbagai hubungan yang akhirnya mengacu kepada masalah kemayarakatan,
diantaranya :

2.1.1 Bahasa dan Tingkat Sosial Masyarakat

Bahwa adnya bentuk-bentuk hubungan tertentu dalam setiap bahasa yang disebut
sebagai variasi bahasa, ragam bahasa atau dialek dengan penggunaan fungsi-
fungsi tertentu yang digunakan oleh masyarakat. Untuk mengetahui hubungan
tingkat sosial masyarakat dengan suatu bahasa, adalah kita perlu mengetahui
sebenarnya parameter tingkat sosial. Sebab ada dua metode untuk dapat melihat
parameter tingkat sosial masyarakat. Pertama dengan kebangsawanan, jika ada.
Kedua dengan melihat kedudukan sosial seperti keadaan ekonomi dan jenjang
pendidikan. Ketika kita sudah meninjau tingkatan sosial, maka kita dapat
mengambil jalan tengan bahawa tingkatan sosial dapat menjadi pembeda dalam
variasi bahasa.

2.1.2 Bahasa, Sastra dan Sejarah

Jauh sebelum manusia mengenal sejarah, sebenarnya manusia telah mengalami


peristiwa-peristiwa penting di dunia, hanya saja mereka tidak mampu untuk
merekan semua peristiwa tersebut. Seiring dengan perkembangan volume otak
manusia yang bertambah, akhirnya timbul sebuah simbol yang dapat dijadikan
sebagai sarana perekam kejadian, simbol yang dikenal sebagai tulisan, huruf dan
lambang. Simbol tersebut memberikan informasi penting serta rentetannya dapat

6
memberikan daya rekan yang luar biasa di dalam otak manusia, sehingga manusia
mampu mengingat dengan jelas. Rentetan simbol yang diatur sedemikian rupa
merupakan suatu sistem yang memiliki pola tetap dan berkaidah atau dengan kata
lain adalah bahasa. setelah bahasa dikenal sebagai alat komunikasi dan interaksi,
maka timbul karya-karya fenomenal yang harus diabadikan sebab itu merupakan
ciri khas daerah yang harus kita junjung tinggi.sehingga dapat dikatakan bahasa
dapat melahirkan sastra.

Dari kedua pembeda diatas, ketika kita tinjau Bahasa Lampung adalah sebuah
bahasa yang dipertuturkan oleh Ulun Lampung di Propinsi Lampung, selatan
Palembang dan pantai barat Banten.

Bahasa ini termasuk cabang Sundik, dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia barat
dan dengan ini masih dekat berkerabat dengan bahasa Sunda, bahasa Batak,
bahasa Jawa, bahasa Bali, bahasa Melayu dan sebagainya.

Aksara Lampung yang disebut dengan Had Lampung adalah bentuk tulisan yang
memiliki hubungan dengan aksara Pallawa dari India Selatan. Macam tulisannya
fonetik berjenis suku kata yang merupakan huruf hidup seperti dalam Huruf Arab
dengan menggunakan tanda tanda fathah di baris atas dan tanda tanda kasrah di
baris bawah tapi tidak menggunakan tanda dammah di baris depan melainkan
menggunakan tanda di belakang, masing-masing tanda mempunyai nama
tersendiri.

Artinya Had Lampung dipengaruhi dua unsur yaitu Aksara Pallawa dan Huruf
Arab. Had Lampung memiliki bentuk kekerabatan dengan aksara Rencong,
Aksara Rejang Bengkulu dan Aksara Bugis. Had Lampung terdiri dari huruf
induk, anak huruf, anak huruf ganda dan gugus konsonan, juga terdapat lambing,
angka dan tanda baca. Had Lampung disebut dengan istilah KaGaNga ditulis dan
dibaca dari kiri ke kanan dengan Huruf Induk berjumlah 20 buah.

7
Berdasarkan peta bahasa, Bahasa Lampung memiliki dua subdilek. Pertama,
subdialek A (api) yang dipakai oleh ulun Melinting-Maringgai, Pesisir Rajabasa,
Pesisir Teluk, Pesisir Semaka, Pesisir Krui, Belalau dan Ranau, Komering, dan
Kayu Agung (yang beradat Lampung Peminggir/Saibatin), serta Way Kanan,
Sungkai, dan Pubian (yang beradat Lampung Pepadun). Kedua, subdialek o (nyo)
yang dipakai oleh ulun Abung dan Menggala/Tulangbawang (yang beradat
Lampung Pepadun).

2.2 Klasifikasi Bahasa di Provinsi Lampung

Dr Van Royen mengklasifikasikan Bahasa Lampung dalam Dua Sub Dialek, yaitu
Dialek Belalau atau Dialek Api dan Dialek Abung atau Nyow.

A. Dialek Belalau (Dialek Api), terbagi menjadi:

1. Bahasa Lampung Logat Belalau dipertuturkan oleh Etnis Lampung yang


berdomisili di Kabupaten Lampung Barat yaitu Kecamatan Balik Bukit,
Batu Brak, Belalau, Suoh, Sukau, Ranau, Sekincau, Gedung Surian, Way
Tenong dan Sumber Jaya. Kabupaten Lampung Selatan di Kecamatan
Kalianda, Penengahan, Palas, Pedada, Katibung, Way Lima,
Padangcermin, Kedondong dan Gedongtataan. Kabupaten Tanggamus di
Kecamatan Kotaagung, Semaka, Talangpadang, Pagelaran, Pardasuka,
Hulu Semuong, Cukuhbalak dan Pulau Panggung. Kota Bandar Lampung
di Teluk Betung Barat, Teluk Betung Selatan, Teluk Betung Utara,
Panjang, Kemiling dan Raja Basa. Banten di di Cikoneng, Bojong,
Salatuhur dan Tegal dalam Kecamatan Anyer, Serang.
2. Bahasa Lampung Logat Krui dipertuturkan oleh Etnis Lampung di Pesisir
Barat Lampung Barat yaitu Kecamatan Pesisir Tengah, Pesisir Utara,
Pesisir Selatan, Karya Penggawa, Lemong, Bengkunat dan Ngaras.
3. Bahasa Lampung Logat Melinting dipertuturkan Masyarakat Etnis
Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Lampung Timur di
Kecamatan Labuhan Maringgai, Kecamatan Jabung, Kecamatan Pugung
dan Kecamatan Way Jepara.

8
4. Bahasa Lampung Logat Way Kanan dipertuturkan Masyarakat Etnis
Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Way Kanan yakni di
Kecamatan Blambangan Umpu, Baradatu, Bahuga dan Pakuan Ratu.
5. Bahasa Lampung Logat Pubian dipertuturkan oleh Etnis Lampung yang
berdomosili di Kabupaten Lampung Selatan yaitu di Natar, Gedung
Tataan dan Tegineneng. Lampung Tengah di Kecamatan Pubian dan
Kecamatan Padangratu. Kota Bandar Lampung Kecamatan Kedaton,
Sukarame dan Tanjung Karang Barat.
6. Bahasa Lampung Logat Sungkay dipertuturkan Etnis Lampung yang
Berdomisili di Kabupaten Lampung Utara meliputi Kecamatan Sungkay
Selatan, Sungkai Utara dan Sungkay Jaya.
7. Bahasa Lampung Logat Jelema Daya atau Logat Komring dipertuturkan
oleh Masyarakat Etnis Lampung yang berada di Muara Dua, Martapura,
Komring, Tanjung Raja dan Kayuagung di Propinsi Sumatera Selatan.

B. Dialek Abung (Dialek Nyow), terbagi menjadi:

1. Bahasa Lampung Logat Abung Dipertuturkan Etnis Lampung yang yang


berdomisili di Kabupaten Lampung Utara meliputi Kecamatan Kotabumi,
Abung Barat, Abung Timur dan Abung Selatan. Lampung Tengah di
Kecamatan Gunung Sugih, Punggur, Terbanggi Besar, Seputih Raman,
Seputih Banyak, Seputih Mataram dan Rumbia. Lampung Timur di
Kecamatan Sukadana, Metro Kibang, Batanghari, Sekampung dan Way
Jepara. Kota Metro di Kecamatan Metro Raya dan Bantul. Kota Bandar
Lampung di Gedongmeneng dan Labuhan Ratu.
2. Bahasa Lampung Logat Menggala Dipertuturkan Masyarakat Etnis
Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Tulang Bawang meliputi
Kecamatan Menggala, Tulang Bawang Udik, Tulang Bawang Tengah,
Gunung Terang dan Gedung Aji.

Kemudian ada juga klasifikasi penggunaan bahasa menurut marga yang ada di
lampung. Lampung mengenal marga-marga yang mulanya bersifat geneologis-

9
territorial. Tapi, tahun 1928, pemerintah Belanda menetapkan perubahan marga-
marga geneologi-territorial menjadi marga-marga territoroal-genealogis, dengan
penentuan batas-batas daerah masing-masing.

Setiap marga dipimpin oleh seorang kepala marga atas dasar pemilihan oleh dan
dari punyimbang-punyimbang yang bersangkutan. Demikian pula, kepala-kepala
kampung ditetapkan berdasarkan hasil pemilihan oleh dan dari para punyimbang.

Klasifikasi Pemetaan Teritirial Geneologis masyarakat Adat Lampung


Menurut Tim Peneliti Unila tahun 2000

No Kabupaten/Kota madya Kecamatan Kebuawaian/Marga


1 Bandar Lampung Kedaton Pepadun
2 Bandar Lampung Kedaton Pepadun
3 Bandar Lampung Kedaton Pepadun
4 Bandar Lampung Kedaton Pepadun
5 Bandar Lampung Sukarame Pepadun
6 Bandar Lampung Tj. Karang Barat Pepadun
7 Bandar Lampung Tj. Karang Timur Pepadun
8 Bandar Lampung T. Betung selatan Sebatin
9 Bandar Lampung T. Betung Barat Sebatin
10 Bandar Lampung T. Betung Barat Sebatin
11 Bandar Lampung T. Betung Barat Sebatin
12 Bandar Lampung T. Betung Barat Sebatin
13 Bandar Lampung T. Betung Barat Sebatin
14 Bandar Lampung T. Betung Utara Sebatin
15 Lampung Selatan Penengahan Sebatin
16 Lampung Selatan Penengahan Sebatin
17 Lampung Selatan Kalianda Sebatin
18 Lampung Selatan Kalianda Sebatin
19 Lampung Selatan Kalianda Sebatin
20 Lampung Selatan Kalianda Sebatin
(…….selengkapnya di Lampiran)

Keanekaragaman bahasa di Lampung, mampu menambah nilai sosial dan budaya.


Orang Lampung mampu memahami bahasa yang dipakai oleh lawan bicaranya
meski dialek yang dituturkannya lain dengan dialek yang dia pakai sehari-hari,
contoh orang yang memakai dialek nyou meski dia sendiri memakai dialek api
dikesehariannya. Hal ini merupakan indikator bahwa perbedaan adalah bukan

10
segalanya, melainkan sebuah kekuatan baru yang tidak perlu dibeda-bedakan
sebab memang hakikatnya sudah berbeda sejak penurunan bahasa.

Bahasa Lampung sendiri sangat mudah untuk dipelajari, sebab bahasa lampung
banyak menyerap bahasa-bahasa yang mudah di cerna oleh manusia, diantarannya
bahasa Arab, bahasa Melayu, bahasa Nusatenggara, bahasa Sansekerta dan bahasa
yang lainya. Semua bahasa yang proporsional bahkan banyak diserap sebagai
bahasa Lampung.
Pemeliharaan budaya, bahasa serta nilai-nilai yang lainnya sangatlah penting,
sebab perlakuan seperti itu menunjukan bahwa kita sangat menghargai serta
mengakui dengan bangga peninggalan-peninggalan yang harus kita jaga
kelestariannya. Ketika kita sudah mengabaikan salah satu diantaranya, maka
lambatlaun yang lain akan ikut merasakan dampaknya. Apalagi ketika bahasa
daerah sudah tidak dihargai lagi oleh penduduk setempat, maka bahasa tersebut
tidak mengalami transformasi kepada generasi penerus, akhirnya bahasa tersebut
hilang dan hanya tinggal sejarah. Ketika hal itu telah terjadi, kebanggaan terhadap
daerah atau rasa cinta terhadap daerah tempat lahir kita akan berkurang, kita akan
sulit untuk mempertahankan tradisi serta warisan-warisan yang ditinggalkan oleh
nenek moyang, sebab kita tidak bangga terhadap daerah. Imbasnya, seluruh karya
yang telah diabadikan sebagai nilai-nilai sosial budaya, melebur seiring dengan
tidak bangganya kita terhadap nilai-nilai sosial buadaya. Bahkan adat istiadat pun
akan hilang, ketika adat istiadat tidak lagi ada maka tidak adalagi ciri khas, jati
diri, bahkan kesempurnaan dari daerah tersebut juga tidak ada. Kemungkinan
daerah itupun hanya tinggal dongeng pengantar tidur.

Perlu diketahui bahwa semua sastra Lampung yang terlahir dari bahasa juga
sangat butuh sentuhan generasi penerus. Sastra lisan Lampung menjadi milik
kolektif suku Lampung. Ciri utamanya kelisanan, anonim, dan lekat dengan
kebiasaan, tradisi, dan adat istiadat dalam kebudayaan masyarakat Lampung.
Sastra itu banyak tersebar dalam masyarakat dan merupakan bagian sangat
penting dari khazanah budaya etnis Lampung.

11
2.3 Budaya dan Sastra Lampumg

2.3.1 Jenis sastra lisan Lampung

Effendi Sanusi (1996) membagi lima jenis sastra tradisi lisan Lampung:
peribahasa, teka-teki, mantera, puisi, dan cerita rakyat.
a. Sesikun/sekiman adalah bahasa yang memiliki arti kiasan atau
semua berbahasa kias. Fungsinya sebagai alat pemberi nasihat, motivasi,
sindiran, celaaan, sanjungan, perbandingan atau pemanis dalam bahasa.
b. Seganing/teteduhan adalah soal yang dikemukakan secara samar-
samar, biasanya untuk permainan atau untuk pengasah pikiran.
c. Memmang adalah perkataan atau ucapan yang dapat
mendatangkan daya gaib: dapat menyembuhkan, dapat mendatangkan celaka,
dan sebagainya.
d. Warahan adalah suatu cerita yang pada dasarnya disampaikan
secara lisan; bisa berbentuk epos, sage, fabel, legenda, mite maupun semata-
mata fiks.
e. Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan
perasaan seseorang secara imajinatif dan disusun dengan semua kekuatan
bahasa dengan pengonsentrasikan struktur fisik dan struktur batin.

2.3.2 Bentuk-Bentuk Puisi Lisan Lampung

Berdasarkan fungsinya, ada lima macam puisi dalam khasanah sastra tradisi lisan
Lampung: paradinei/paghadini, pepaccur/pepaccogh/wawancan,
pattun/segata/adi-adi,bebandung, dan ringget/pisaan/dadi/highing-
highing/wayak/ngehahaddo/hahiwang. Ringget/pisaan/dadi/highing-
highing/wayak/ngehahaddo/hahiwang adalah puisi tradisi Lampung yang lazim
digunakan sebagai pengantar acara adat, pelengkap acara pelepasan pengantin
wanita ke tempat pengantin pria, pelengkap acara tarian adat (cangget), pelengkap
acara muda-mudi (nyambai, miyah damagh, atau kedayek), senandung saat
meninabobokan anak, dan pengisi waktu bersantai.

12
2.3.3 Sastra Modern Lampung

Sebagaimana Melayu di Sumatra pada umumnya, Suku Lampung sangat kental


dengan tradisi kelisanan. Pantun, syair, mantra, dan berbagai jenis sastra
berkembang tidak dalam bentuk keberaksaraan, sehingga wajar jika memiliki
pola-pola sastra lama yang serupa sebagai ciri dari kelisanan itu. Sastra tersebut
erat kaitannya dengan bahasa, bayangkan jika bahasa Lampung tdak dikenal oleh
orang Lampung sendiri.

Tidak seperti sastra Jawa, Sunda, dan Bali yang sudah lama memiliki sastra
modern, sastra modern berbahasa Lampung baru bisa ditandai dengan kehadiran
kumpulan sajak dwibahasa Lampung Indonesia karya Udo Z. Karzi, Momentum
(2002). 25 puisi yang terdapat dalam Momentum tidak lagi patuh pada konvensi
lama dalam tradisi perpuisian berbahasa Lampung, baik struktur maupun dalam
tema. Dengan kata lain, Udo melakukan pembaruan dalam perpuisian Lampung
sehingga ada yang menyebutnya "Bapak Puisi Modern Lampung".

Di Lampung sendiri yang memilki beragam bahasa, Lampung juga memilki


karya-karya sastra serta nili-nilai sosial yang sangat rindu sentuhan pemuda
lampung. Sasta yang sangat terkenal di Lampung, diantaranya Adi-adi, Hahiwang,
Bubandung, Pantun serta nilai-nilai sosial yang lain, seperti tarian adat khas
Lampung, lagu daerah Lampung, prosesi pernikahan khas Lampung, prosesi
penyemaiaman jenazah khas Lampung, bahkan semua artefak-artefak peninggalan
nenek moyang yang harus benar-benar dijaga, dipelihara dan dilestarikan.

13
BAB III
METODE PENULISAN

3.1 Ruang Lingkup Penelitian

Penilitian i ini adalah tentang permasalahan kelestarian nilai-nilai sosial budaya


Lampung yang disebabkan oleh pengenyampingan bahasa Lampung. Dimana
bahasa Lampung adalah sebagai bahasa daerah, kemudian sangat erat
hubungannya dengan budaya Lampung seperti sastra serta yang lainnya.

Adapun ruang lingkup pembahasan ini yaitu:


Pengamatan keseharian terhadap penggunaan bahasa Lampung di daerah
Lampung, serta menganalisa dampaknya terhadap kelestarian nilai-nilai sosial
budaya Lampung

3.2 Studi Pustaka

Studi pustaka dilakukan dengan membaca beberapa literatur dari buku-buku di


perpustakaan dan mengumpulkan sumber bacaan lain dengan memanfaatkan
sistem internet di dalam dan luar lingkungan Universitas Lampung.

3.3 Pengamatan
Pengamatan dilakukan didaerah perkotaan khususnya Bandar Lampung, sebab
Bandar Lampung merupakan representasi kecil provinsi Lampung, yang menjadi
acuan terhadap wisatawan dari luar, Bandar Lampung merupakan awalan mereka
untuk menginjak tanah Lampung, setelah Lampung selatan.

14
BAB IV
PEMBAHASAN

Melalui semua yang kita peroleh, bahwa sebenarnya bahasa sangatlah penting
bagi manusia. Bahasa dapat dijadikan alat komunikasi untuk men-transfer
informasi kepada orang lain. Sebab beberapa ahli mendukung teori tersebut.
Dikatakan adalah bahwa bahasa merupakan suatu sistem, dibuat oleh sekumpulan
komponen yang berpola serta dapat diambil kaidahnya. Dimana karena sistem
tersebut maka bahasa sangatlah dikenal sebagai salah satu karya manusia yang
sistematis sehingga dapat memberikan revolusi positif terhadap manusia itu
sendiri. Hal yang terpenting adalah dengan lahirnya bahasa, akhirnya manusia
dapat berinteraksi satu dengan yang lain, ditambah lagi akal serta hawa nafsu
manusia yang mengembangkan bahasa menjadi sebuah sastra yang menarik dan
memilki nilai artistik. Secara tidak langsung, ternyata bahasa telah memberikan
kehidupan yang baru terhadap manusia dengan mengenal revolusi yang terjadi.

Proses yang sangat panjang dilalui oleh manusia dalam menemukan sebuah
bahasa. interaksi yang dilakukan manusia sangatlah beragam, semuanya
bergantung pada kondisi serta situasi tempat, hal itulah yang membuat mengapa
bahasa juga beraneka ragam. Jauh sebelum sejarah muncul, banyak peristiwa yang
sudah terjadi dalam kehidupan manusia. Hanya saja manusia tidak dapat merekam
semua kejadian tersebut, mengingat volume otak yang sangat kecil dan belum
mengerti akan guna sejarah. Kemudian manusian terus mencoba agar setiap
peristiwa dapat diingat dan selalu menjadi pelajaran berharga, maka manusia
harus merekam kejadian tersebut. Tidak lama kemudian para cendikiawan masa
itu menemukan huruf/simbol/tulisan yang menjadi sarana perekam seluruh
kejadian. Hanya saja tidak semua manusia pada saat itu dapat menerjemahkan
tulisan. Maka dipakailah tulisan tersebut kemudian dikumandangkan secara lisan,
akhirnya semua dapat menerima informasi yang ada. Hal itu perlu sekali
dilakukan mengingat manusia tidak semuanya dapat membaca dan menulis.
Ketika manusia mengumandangkan informasi secara lisan sehingga yang lainnya

15
dapat menerima, tanpa terasa ternyata mereka telah menemukan bahasa yang
langsung mereka aplikasikan dengan komunikasi sesama manusia. Akhirnya
banyak dari manusia terus belajar untuk berubah dan merasa harus dapat bertahan
dari seleksi alam. Setelah semuanya berlalu, manusia akhirnya mengembangkan
potensi diri mereka dengan menciptakan karya-karya yang sangat bagus dan
kemudian menjadi tradisi atau adat istiadat, secara tidak langsung itu merupakan
budaya baru dan semuanya harus dipertahankan, dipelihara serta dipakai setiap
waktu. Supaya semua yang telah diciptakan oleh nenek moyang kita tidak hanya
tingal sejarah.

Ternyata ketika kita lihat dari narasi diatas, dapat kita tarik hubungan antara
bahasa, sastra dan sejarah adalah sebagai berikut:

Tulisan

Bahasa

Sastra / Kebudayaan

Sejarah
Dimana sejarah harus kita tulis dan kita bahasakan terus sehingga tidak akan lupa
pelajaran berharga yang ada.
Begitu pula bagi bahasa Lampung, dimana provinsi Lampung memilki banyak
sekali persepektif terhadap sejarah daerah Lampung sendiri. Ada yang
mengatakan bahwa Lampung berkaitan dengan suku melayu, ada juga yang

16
mengatakan bahwa Lampung merupakan keturunan dari Majapahit. Bahkan ada
yang menyebutkan bahwa Lampung juga keturunan cina. Perbedaan perspektif
itulah yang membuat orang Lampung sulit mengungkapkan misteri tentang
bahasa Lampung. Hanya saja hal itu tidak terlalu penting, yang menjadi bahasan
kali ini adalah tentang “mengapa bahasa Lampung tidak populer di provinsi
Lampung.”

4.1 Faktor Yang Menyebabkan Bahasa Lampung Menjadi Bahasa


Asing Di Negeri Sendiri

Menurut penulis ada beberapa faktor yang menyebabkan mengapa hal ini terjadi,
kondisi dimana bahasa lampung tidak populer dan dipakai oleh orang Lampung
sendiri, diantaranya :

1. Penduduk provinsi Lampung lebih banyak pendatang


2. Penduduk asli lampung sendiri, tidak memilki kemauan besar untuk
mempertahankan.
3. Penduduk lampung tidak tanggap terhadap kebudayaan provinsi Lampung.
4. Penduduk lampung masih bersifat ego sukuisme.
5. Heterogenitas yang memaksa agar lebih bersifat nasionalisme dan
berbahasa Indonesia.
6. Kuranganya kebanggaan penduduk terhadap daerah.

Dari beberapa faktor diatas, ternyata masayarakat Lampung belum dapat


menemukan strategi dalam mempertahankan kehidupan sosial budaya Lampung.
Apabila selama 25 tahun kedepan keadaan terus sperti ini dan tidak ada perubahan
yang sigifikan, maka sosial budaya dikehidupan Lampung hanya akan tinggal
sejarah.

4.1.1 Penduduk Provinsi Lampung Lebih Banyak Pendatang

17
Provinsi Lampung dikenal juga dengan julukan “Sang Bumi Ruwa Jurai” yang
berarti satu bumi yang didiami oleh dua macam masyarakat (suku/etnis), yaitu
masyarakat Pepadun dan Saibatin. Masyarakat pertama mendiami daratan dan
pedalaman Lampung, seperti daerah Tulang Bawang, Abung, Sungkai, Way
Kanan, dan Pubian, sedangkan masyarakat kedua mendiami daerah pesisir pantai,
seperti Labuhan Maringgai, Pesisir Krui, Pesisir Semangka (Wonosobo dan Kota
Agung), Balalau, dan Pesisir Rajabasa.

Di samping penduduk asli Suku Lampung, Suku Banten, Suku Bugis, Jawa, dan
Bali juga menetap di provinsi itu. Suku-suku ini masuk secara massif ke sana
sejak Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1905 memindahkan orang-orang
dari Jawa dan ditempatkan di hampir semua daerah di Lampung. Kebijakan ini
terus berlanjut hingga 1979, batas akhir Lampung secara resmi dinyatakan tidak
lagi menjadi daerah tujuan transmigrasi. Namun, mengingat posisi Lampung yang
strategis sebagai pintu gerbang pulau Sumatera dan dekat dengan Ibu Kota
Negara, pertumbuhan penduduk yang berasal dari pendatang pun tetap saja tak
bisa di bendung setiap tahunnya.

Hanya saja perjuangan para tetua Lampung saat itu dapat kita nilai sangat sia-sia
ketika kita lihat kondisi hari ini, dimana penduduk asli jumlahnya sangat minim
dibanding suku pendatang, mereka pun tidak segan-segan menggunakan bahasa
asli aderah mereka sendiri di tanah ruwai jurai. Para pendatang sangat enggan
untuk berbahasa Lampung. Alasan nasionalisme terus diungkapkan sebagai
tameng untuk sedikit berbahasa Lampung. Akhirnya masyarakat asli Lampung
pun terkontaminasi dengan kehidupan mereka, sebagai contoh suatu pekon atau
dalam bahasa indonesia disebut desa, didominasi oleh orang dari jawa, karena
masarakat asli Lampung jumlahnya sangat minim, maka secara tidak langsung
masyarakat asli pun akan terkontaminasi dan termanjakan dengan budaya jawa.
Yang lebih miris lagi, ketika kita berbincang dengan pendatang kita harus bisa
bahasa mereka. Hal ini yang selalu menjadi penghalang untuk dapat
mempertahankan bahasa Lampung.

18
4.1.2 Penduduk Asli Lampung Sendiri, Tidak Memilki Kemauan Besar
Untuk Mempertahankan Bahasa Asli

Sudah sedikit disinggung pada penjelasan diatas, bahwa penduduk lampung


terdiri dari berbagai macam suku, baik suku banten, suku jawa, suku bali, suku
minang, suku batak, suku melayu bahkan warga keturunan tiong hoa. Sejak 1905
pemerintan Hindia Belanda melakukan pemerataan penduduk dari pulau jawa
menuju pulau sumatera. Maka tidak heran bahwa provinsi Lampung mayoritas
penduduknya adalah suku jawa.

Kemudian ketika tahun 1979 lampung ditetapkan bukan lagi sebagai daerah
tujuan transmigrasi, namun mengingat letak Lampung yang strategis serta
kandungan sumber daya alam yang dimiliki hal ini yang memberikan dorongan
bahwa Lampung menjadi tujuan utama orang jawa untuk menetap di Lampung,
sebab tidak terlalu jauh dengan kampung halaman mereka.

Berkenaan dengan itu jumlah penduduk asli Lampung menjadi berkurang


presentasinya jika dibandingkan dengan kaum pendatang. Banyaknya jumlah
kaum pendatang memberikan sedikit dampak negatif terhadap kehidupan sosial
buday khas lampung. Penduduk asli Lampung mendapatkan beban yang begitu
berat untuk mempertahankan tradisi ditengah-tengah kehidupan para pendatang
yang memaksa untuk bersifat nasionalisme. Penduduk asli Lampung sebenarnya
menginginkan bahwa kebudayaan Lampung harus tetap ada, mereka perlu bekerja
sama dengan kaum pendatang untuk mewujudkan keinginan tersebut. Niat
penduduk asli Lampung begitu besar, hanya saja kaum pendatang kurang
memberikan perhatian serta tanggap terhadap niat penduduk asli tersebut.
Sehingga hal inilah yang membuat penduduk Lampung menjadi pesimis dan
terkesan tidak peduli terhadap tradisi.

4.1.3 Penduduk Lampung Tidak Tanggap Terhadap Kebudayaan Provinsi


Lampung

19
Kehidupan sosial buday di provinsi Lampung menggema sejak lama, banyak
sekali tradisi serta nilai-nilai yang dianggap menjadi prinsip teguh penduduk asli
Lampung. Sektor penataan kemasyarakatan hingga sumber ilu pengetahuan
sebenarnya telah menjadi daya tarik tersendiri bagi masayarakat lampung yang
harus dipertahankan.

Umumnya masyarakat Lampung mendiami kampung yang disebut dengan Tiyuh,


Anek, atau Pekon. Beberapa kampung tergabung dalam satu marga, sedangkan
kampung itu sendiri terdiri atas beberapa buway. Di setiap buwat atau gabungan
buway terdapat rumah besar yang disebut Nuwou Balak. Biasanya Nuwou Balak
ini merupakan rumah dari kepala kerabat yang merupakan pemimpin klan dari
kebuwayan tersebut, yang disebut juga dengan punyimbang bumi.

Masyarakat Lampung memiliki bahasa dan aksara sendiri, namun penggunaan


bahasa Lampung pada daerah perkotaan masih sangat minim akibat heterogenitas
masyarakat perkotaan dan karena itu penggunaan Bahasa Indonesia lebih
menonjol. Untuk daerah pedesaan, terutama pada perkampungan masyarakat asli
Lampung (riyuh ataupun pekon), penggunaan Bahasa Lampung sangat dominan.
Bahasa Lamapung terdiri dari dua dialek, pertama dialek “O” yang biasanya di
gunakan oleh masyarakat Pepaduan, meliputi Abung dan Menggala: serta dialek
“A” dan umumnya digunakan masyarakat Saibatin, seperti Labuhan meringis,
Pesisir Krui, Pesisie Semangka, Belalau, Ranau, Pesisir Rajabasa, Komering, dan
Kayu Agung. Namun demikian ada pula masyarakat Pepaduan yang
menggunakan dialek “A” ini, yaitu Way Kanan, Sungkai, dan Pubian. Di samping
memiliki bahasa daerah yang khas, masyarakat Lampung juga memiliki aksara
sendiri yang disebut dengan huruf kha gha nga. Aksara dan Bahasa Lampung itu
menjadi kurikulum muatan lokal yang wajib dipelajari oleh murid-murid SD dan
SMP di seluruh Provinsi Lampung.

Nilai-nilai budaya masyarakat Lampung bersumber pada falsafah Pi’il Pasenggiri


(kehormatan, harga diri, sikap dan prilaku) yang terdiri atas:
a. Nengah nyappur (hidup bermasyarakat, membuka diri dalam pergaulan):
b. Nemui nyimah (terbuka tangan, murah hati dan ramah pada semua orang)

20
c. Berjuluk Beadek (bernama, bergelar, saling menghormati)
d. Sakai Sambayan (gotong royong, tolong menolong)

Nilai-nilai masyarakat Lampung tercermin pula dalam bentuk kesenian


tradisional, mulai dari tari tradisional, gitar klasik Lampung, sastra lisan, sastra
tulis, serta dalam bentuk upacara kelahiran, pernikahan dan kematian. Pembinaan
terhadap seni budaya daerah ini dilakukan oleh pemerintah daerah dan lembaga
adat secara sinergis. Pada tahun 2006 terdapat sejumlah organisasi kesenian, baik
yang bersifat seni tradisional maupun kreasi

Provinsi ini juga memiliki 438 benda cagar budaya yang dimiliki warga
masyarakat dan 93 lokasi komplek situs kepurbakalaan yang tersebar di berbagai
daerah. Situs kepurbakalaan zaman prasejarah itu antara lain Taman Purbakala
Pugung Raharjo do Lampung Timur, situs Batu Bedil di Tanggamus, dan situs
Kebon Tebu di Lampung Barat yang berupa menhir dan dolmen. Ada juga situs
purbakala zaman Islam berupa kuburan kuno di Bantengsari, Lampung Timur,
dan makam Islam di Wonosobo, Tanggamus. Situs kesejarahan antara lain
Makam Pahlawan Nasional Raden Intan II di Lampung Selatan. Di Museum
Negeri Rua Jurai Lampung, menurut catatan terakhir 2006, ada 4.369 benda
berharga yang berasal dari berbagai jenis koleksi yang bernilai sejarah, budaya,
dan ilmu pengetahuan.

Semua yang telah dijelaskan, merupakan kekayaan Lampung yang harus


dipelihara dan terus dijaga keabadiannya. Hanya saja masyarakat Lampung tidak
terlalu tenggap dengan ini semua. Atau pertanyaanya, apakah masyarakat
Lampung sendiri tidak tahu bahwa informasi diatas adalah sedikit dari berbagai
nilai-nilai sosial kehidupan budaya Lampung. Sebagai contoh saja ketika
informasi ini kita berikan kepada anak cucu kita, maka informasi ini akan mereka
rekam dan terus merekan transformasikan, sehingga kehidupan sosial budaya
lampung tidak akan punah.

4.1.4 Penduduk Lampung Masih Bersifat Ego Sukuisme

21
Telah terbukti baik secara de facto maupun dejure, ternyata penduduk lampung
sebagian besar berasal dari suku pendatang. Dan pendatang yang dibahas disini
adalah pendatang yang menetap di lampung atas dasar perintah transmigrasi oleh
pemerintah hindia belanda sejak tahun 1905. Kemudian mereka hidup dan
berkembang biak hingga melahirkan keturunan di tanah ruwai jurai. Tetapi ada
kekeliruan yang besar disini. Mereka tetap mengangap anak mereka adalah suku
asli mereka. Sebagi contoh pendatang asli dari daerah Medan dengan suku
Batak.berpindah ke Lampung dan melahirkan anak di Lampung. Mereka akan
menganggap anak mereka tetap orang batak. Padahal lain, menurut kamus bahasa,
seorang anak yang lahir di sebuah daerah, maka anak tersebut adalah terhitung
sebagai penduduk asli di daerah tersebut. Lain halnya dengan susku. Suku
memang tidak dapat dihapuskan, sebab berhubungan dengan nilai-nilai
persaudaraan dan kekerabatan setra terikat oleh gen yang hampir mirip. Dari
contoh diatas, anak dari suku batak tersebut adalahpenduduk asli Lampung, hanya
saja mengalir darah suku batak. Hanya saja kebanyakan para pendatang masih
selalu ego terhadap sukunya. Padahal ini sangat tidak dianjurkan, yang
diperhitungkan adalah dimana dia lahir dan besar. Bukan ego sukuisme. Hal ini
yang sampai sekarang masih melekat pada masyarakat Lampung sebab dia tidak
mengaku sebagai orang lampung, padahal dia lahir dan menetap tinggal di
Lampung.

Permasalahn inilah yang menjadikan bahasa Lampung harus terkontaminasi oleh


bahasa daerah lain yang dibawa oleh pendatang. Dan sangat sulit sekali ketika
suku asli Lampung meminta kerja sama pendatang untuk mempertahankan
budaya asli Lampung, sebab kebanyakan pendatang masih memegang pedoman
ego sukuisme. Dan anehnya suku pendatang yang lahir di Lampung selamanya
ingin disebut PENDATANG.
4.1.5 Heterogenitas Yang Memaksa Agar Lebih Bersifat Nasionalisme dan
Berbahasa Indonesia.

22
Heterogenitas yang terjadi di daerah Lampung bukan menjadi suatu isu yang baru,
bahkan isu ini juga menjadi ancaman akan keberlangsungan kehidupan budaya
lampung. Hal ini kita lihat secara nyata bahwa sifat nasionalisme yang ada
didaerah Lampung sangatlah tinggi. Masyarakat Lampung sangat menghargai
kesamaan hak nasionalisme. Besarnya presentasi jumlah penduduk yang berasal
dari luar menjadikan Lampung memilki nilai positif dalam menjunjung tinggi
nasionalisme.

Hanya saja hal ini sangat ironis ketika kita melihat sisi kehidupan sosial budaya
lampung. Justru heterogenitas menjadi kendala penting bagi masyarakat lampung
dalam mempertahankan tradisi serta kebudayaan. Masyarakat Lampung memiliki
bahasa dan aksara sendiri, namun penggunaan bahasa Lampung pada daerah
perkotaan masih sangat minim akibat adanya heterogenitas masyarakat perkotaan
dan karena itu penggunaan Bahasa Indonesia lebih menonjol.

4.1.6 Kuranganya Kebanggaan Penduduk Terhadap Daerah

Hal ini dapat kita lihat secara nyata apabila kita melihat sisi kehidupan remaja
Lampung yang sedikit melupakan budaya asli, mereka terlalu asyik dengan
kemanjaan perkembangan zaman yang begitu canggih, serta pengaruh globalisasi
yang begitu terasa. Contoh saja remaja Lampung lebih bangga ketika mereka bisa
menari break dance dari pada mereka bisa menari bedana atau sembah. Sebab
yang menjadi ukuran mereka saat ini adalah trend. Padahal jika kita dapat
menghayati tarian-tarian adat Lampung, tarian itu sungguh bermakna dan ada
nilai mistis yang terkandung dalam tarian. Lagi-lagi remaja Lampung mungkin
belum tahu akan itu. Mereka hanya berfikir tuntutan trend dan pergaulan.
Bukan hanya dibidang seni saja, bahwa remaja Lampung kurang sekali cinta
terhadap bahasa daerah, tuntutan trend yang menjadi parameter serta
kemajemukan menjadi alternatif bahwa mereka lebih memilih bahasa ‘gaul’
seperti ‘gua atau lu’ yang berarti ‘saya atau kamu.’

23
Demikian sedikit gambaran tentang penjelasan beberapa faktor yang menjadi
kendala mengapa bahasa Lampung belum menjadi bahasa favorit di Lampung.
Sebuah tawaran soslusi yang mungkin dapat dijadikan bahan kajian bagi
masyarakat Lampung sendiri, diperlukan gerakan dari semua elemen untuk dapat
mempertahankan kebudayaan Lampung melalui bahasa. diantaranya adalah
pemerintah daerah serta dewan legislatif, mahasiswa serta pemuda, sektor formal
serta informal dan seluruh kaum yang menetap di provinsi Lampung.

4.2 Solusi

Pemerintah daerah serta legislatif harus membuat Undang-Undang atau Perda


agar masyarakat Lampung setidaknya merasa terikat dan mulai sedikit berbahasa
Lampung. Kemudian mahasiswa serta elemen pemuda mengkampanyekan agar
bahasa Lampung menjadi bahasa keseharian atau mempertahankan bahasa
Lampung sebagai bahasa di negeri Lampung. Kemudian dari sektor formal dan
akademisi, membuat kurikulum muatan lokal untuk pelajaran bahasa Lampung
bukan hanya sekedar penulisan benah sukhat atau tulisan Lampung, tetapi juga
dituntut untuk dapat berbahasa Lampung dengan baik secara oral. Sehingga dapat
memberikan kontribusi lebih terhadap kehidupan sosial budaya provinsi
Lampung. Begitu juga seluruh kaum/suku/agama serta seluruhnya yang ada di
provinsi Lampung mampu bekerja sama dengan mendukung program pemerintah
serta mulai menghargai daerah Lampung dengan mulai berbahasa Lampung.
Setidaknya bahasa Lampung harus digunakan sehari-hari minimal untuk kata-kata
familiarnya. Layaknya kita orang lampung ketika berkunjung ke Palembang,
Bandung atau Surabaya mungkin, setidaknya kita sedikit menguasai bahasa
daerah setempat.

24
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
Adapun simpulan yang diperoleh oleh penulis melalui penjelasan serta
tulisan karya tulis yang berjudul ‘BAHASA LAMPUNG TERASING DI
NEGERI SENDIRI’ adalah, sebagai berikut:

Kepunahan bahasa asli Lampung dapat memicu kepunahan pada nilai-nilai sosial
budaya yang lain terutama pada sastra lisan atau tradisi adat yang erat kaitannya
dengan bahasa Lampung sendiri.

5.2 Saran
Adapun saran yang mampu diberikan penulis pada karya ilmiah yang
berjudul ‘BAHASA LAMPUNG TERASING DI NEGERI SENDIRI’ adalahh
sebagai berikut :

a. Perlu sekali sentuhan dari para pemuda, mahasaswa serta remaja Lampung
dalam mempertahankan bahasa lampung.
b. Penduduk Lampung harus mampu mempertahankan bahasa asli Lampung
agar tidak punah.
c. Berhenti tidak bangga terhadap budaya lampung yang sangat spektakuler.
d. Berhenti untuk terus menganggap diri sebagai pendatang.
e. Perlu banyak mengkaji tentang kebudayaan lampung yang sangat
beragam.
f. Perlu menggali lebih dalam dengan mencari sumber lain mengingat buku
atau sumber yang menuliskan kebudayaan Lampung sangatlah sedikit.

25
g. Perlu membudayakan bahasa lampung mulai saat ini dan dari kita sendiri,
untuk mengkampanyekan ‘ menggunakan bahasa Lampung di negeri
lampung.’
h. Perlu kesadaran yang penuh dari masyarakat serta dukungan dan sikap
menghargai penuh dari para pendatang supaya bahasa Lampung dapat
lestari sehingga mampu mendobrak nilai-nilai sosial budaya Lampung
yang kian hari kian menurun.
i. Mulailah dengan menggunakan bahasa Lampung sebagai bahasa sehari-
hari.

26