Anda di halaman 1dari 26

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karuniaNya sehingga kami dapat menyelesaikan referat pada bagian
radiologi sebagai syarat untuk mengikuti ujian ini dengan baik.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan referat ini masih banyak terdapat
kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang
membangun agar dalam penyusunan karya tulis berikutnya dapat lebih baik lagi.
Akhir kata kami berharap referat ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan
kepada para pembaca pada umumnya dan pada penulis pada khususnya.

Tasikmalaya, 26 oktober 2015

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang
Dunia kedokteran saat ini mengalami kemajuan yang sangat pesat

terutama dengan pekembangan dan aplikasi komputer bidang kedokteran sehingga


ilmu radiologi turut berkembang pesat mulai dari pencitraan organ sampai ke
pencitraan selular atau molekular. Di Indonesia perkembangan kedokteran
terutama dalam bidang radiologi masih banyak dilakukan serta perlu dukungan
pemerintah.

Pemeriksaan radiologi yang umum dapat dilakukan pada kasus gangguan


pencernaan anak-anak adalah barium enema. Barium enema merupakan suatu
pemeriksaan radiografik kolon dengan menggunakan bahan kontras (yang lazim
digunakan adalah barium sulfat) yangdimasukan ke dalam kolon pada pasien
neonatus/bayi. Tujuan pemeriksaan barium enema sendiri adalah untuk
mendapatkangambaran

anatomis

dari

kolon

sehingga

dapat

membantu

menegakkandiagnosa suatu penyakit atau kelainan-kelainan pada kolon. Karena


pasiendalam pemeriksaan ini merupakan neonatus/bayi maka banyak hal yang
perlumendapat perhatian dan pemahaman khusus dalam pelaksanaannya.
I.2

Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud dengan teknik pemeriksaan barium enema pada
anak ?
b. Apa saja indikasi dan kontra indikasi pemeriksaan barium enema pada
anak ?
c. Bagaimana persiapan dan teknik pemeriksaan barium anema pada anak
?

I.3

Tujuan
I.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui teknik pemeriksaan barium enema pada anak
I.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui definisi teknik pemeriksaan barium enema pada
anak.
b. Mengetahui indikasi dan kontraindikasi pemeriksaan barium
enema pada anak
c. Mengetahui persiapan dan prosedur pemeriksaan barium enema
pada anak.

I.4

Manfaat
Penulisan referat ini diharapkan dapat membantu menambah wawasan
kepada semua pihak yang membacanya mengenai teknik pemeriksaan
barium enema pada anak.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1

Definisi
Teknik Pemeriksaan Collon In Loop (barium enema) Pediatrik adalah

teknik pemeriksaan secara radiologis dari usus besar (collon) dengan


menggunakan media kontras secara retrograde pada pasien pediatrik (anak-anak).
Sedangkan Enema adalah tindakan memasukkan cairan kedalam rectum dan kolon
melalui lubang anus. Jadi dapat dikatakan bahwa teknik pemeriksaan barium
enema adalah suatu teknik pemeriksaan secara radiologis usus besar (collon)
dengan menggunakan media kontras barium (kontras positif) yang dimasukan
melalui lubang anus.
Tujuan pemeriksaan colon in loop sendiri adalah untuk mendapatkan
gambaran anatomis dari colon sehingga dapat membantu menegakkan diagnosa
suatu penyakit atau kelainan-kelainan pada colon. Karena pasien dalam
pemeriksaan ini merupakan anak-anak maka banyak hal yang perlu mendapat
perhatian dan pemahaman khusus dalam pelaksanaannya. Misal mengalihkan
perhatian anak, dengan cara mengajak bicara saat pemeriksaan serta membawa
teman atau orang-orang terdekat dari anak tersebut. Menjelaskan jalannya
pemeriksaan pada anak tersebut agar pemeriksaan dapat berjalan dengan lancar.
II.2

Spesifikiasi
Untuk pasien pediatrik umumnya menggunalan waktu eksposure yang

rendah dan mA yang tinggi untuk meminimalisasi gambaran buram akibat


pergerakan pasien. Sedangkan bagi pasien pediatrik yang sudah menginjak remaja
dapat dilakukan pemeriksaan selayaknya orang dewasa, kecuali untuk
perlindungan khusus di gonad dan mengurangi faktor eksposi serendah mungkin.
II.3 Indikasi
Untuk pemeriksaan Collon In Loop ini indikasi yang biasa terjadi meliputi :
1. Colitis
: Penyakit2 inflamasi pada colon
2. Carsinoma
3. Diverticulum : Merupakan kantong yg menonjol pada dinding kolon,
terdiri lapisan mukosa dan muskularis mukosa
4. Polyps
5. Volvulus

: Penonjolan pada selaput lender


: Penyumbatan isi usus karena terbelitnya usus ke bagian

6.
7.
8.
9.

yang lain
Invagination : Melipatnya bagian usus besar ke bagian usus itu sendiri
Intussusception
Stenosis
: Penyempitan saluran usus besar
Mega colon : Suatu kelainan kongenital yang terjadi karena tidak
adanya sel ganglion di pleksus mienterik dan submukosa
pada segmen colon distal menyebabkan feses sulit melewati
segmen ganglionik.

II.4 Kontra Indikasi


Untuk kontra indikasinya yaitu:
1. Perforasi
2. Obstruksi akut atau penyumbatan
3. Diare berat
II.5 Persiapan Prosedur
II.5.1 Persiapan Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang dibutuhkan meliputi :
II.5.1.1
Untuk Anak lebih dari 1 tahun

Kantung enema sekali pakai diisi dengan barium

sulfat
Tabung
Penjepit
Air hangat

sulfat.
Beberapa diantaranya, kateter di design agar tidak

digunakan untuk melarutkan barium

dapat keluar rectum setelah disisipkan, sehingga


tidak bocor.
Catatan: Penggunaan latex tidak boleh, karena dapat
mengakibatkan alergi. Penggunaan jenis balon juga tidak
boleh digunakan, karena dpat mengakibatkan perforasi
pada rectum.

II.5.1.2

Untuk bayi dan anak anak

Menggunakan kateter silicon 10 french dan sebuah


spuit 60 ml, barium diinjeksi secara manual dan
perlahan.

II.5.1.3

Untuk semua pasien

Jelly
Hypoallergenic tape
Sarung Tangan
Lap pel atau Tissue

II.5.2 Pasien
Persiapan pasien yang perlu dilakukan meliputi :

Pasien dan orang tua harus masuk ke dalam ruang pemeriksaan,


Dijelaskan bagaimana prosedur pemeriksaan kepada pasien, bagaimana
teknik media kontras itu dimasukan dan alasannya ,mengapa dilakukan itu,
tunjukan ketika barium masuk ke dalam colon. Katakan dengan bahasa
dan teknik yang dimengerti anak kecil, agar tidak takut bahwa nanti akan
disentuh pada bagian genitalnya. Orang tua pasien mendampingi selama

pemneriksaan
Tanyakan riwayat penyakit pasien. Hal ini sangat penting untuk
mengevaluasi keadaan anak yang akan diperiksa. Karena ini akan
membantu

radiolog

dalam

memutuskan

instruksi

dan

prosedur

pemeriksaan yang akan diambil.

Untuk bayi sampai 2 tahun : Tidak ada persiapan khusus yang diperlukan.
Untuk anak 2 tahun sampai 10 tahun :
Pada malam hari sebelum pemeriksaan hanya makan-makan yang

rendah serat. Malam sebelum pemeriksaan minum satu tablet bisacodyl atau
laxative atau sejenisnya. Jika setelah diberi laxative tidak menunjukan
pengeluaran yang cukup, maka dilakukan enema pedi fleet (Urus-urus) atas
petunjuk dokter.
II.6 Teknik Pemasukan Media Kontras
Pemeriksaan colon in loop (barium enema) pada bayi dan anak-anak biasanya
hanya menggunakan metode kontras tunggal yang menggunakan media kontras
BaSO4 (barium sulfat) saja, sedangkan metoda kontras ganda tidak dianjurkan.

II.7 Proyeksi
Proyeksi pemeriksaan yang digunakan adalah :

AP Plan Foto
AP dengan Kontras
Lateral dengan Kontras
AP Post Evakuasi

II.7.1 AP Plan Foto


Posisi Pasien

Pasien diposisikan supine diatas kaset / meja pemeriksaan dengan


MSP (Mid Sagital Plane) tubuh berada tepat pada garis tengah

kaset.
Kedua tangan diletakkan diatas kepala pasien dan diberi
pengganjal untuk fiksasi. kedua kaki lurus kebawah dan diberi
pengganjal juga.

Posisi Objek

Objek diatur dengan menentukan batas atas processus xypoideus

dan batas bawah adalah symphisis pubis.


Titik bidik pada pertengahan kedua crista illiaca dengan arah sinar

vertikal tegak lurus dengan kaset.


Eksposi dilakukan saat pasien ekspirasi penuh dan tahan nafas.
FFD: 100cm

II.7.2. AP dengan Kontras


Posisi Pasien

Pasien diposisikan supine diatas kaset / meja pemeriksaan dengan


MSP (Mid Sagital Plane) tubuh berada tepat pada garis tengah

kaset.
Kedua tangan diletakkan diatas kepala pasien dan kedua kaki lurus
kebawah dengan di pegang oleh orang tuanya yang telah
menggunakan apron.

Posisi Objek

Objek diatur dengan menentukan batas atas processus xypoideus

dan batas bawah adalah symphisis pubis.


Titik bidik pada pertengahan kedua crista illiaca dengan arah sinar

vertikal tegak lurus dengan kaset.


Eksposi dilakukan saat pasien ekspirasi penuh dan tahan nafas.
Jika pasien menangis lakukan eksposi pada waktu jeda tangisannya
reda.

II.7.3 Lateral Dengan Kontras


Posisi Pasien

Pasien diposisikan lateral atau tidur miring dengan Mid Coronal


Plane (MCP) diatur pada pertengahan kaset dan vertikal terhadap
garis tengah kaset, genu sedikit fleksi kedua ujung kaki dan tangan

dipegang oleh orang tuanya yang terlebih dahulu diberi Apron, hal
ini dikarenakan pasien selalu bergerak dan menangis.
Posisi Objek

Arah sinar ; tegak lurus terhadap film. Titik bidik ; Pada Mid

Coronal Plane setinggi spina illiaca anterior superior (SIAS).


Eksposi dilakukan saat pasien diam.

II.7.4 AP Post Evakuasi


Posisi Pasien

Pasien diposisikan supine diatas kaset / meja pemeriksaan dengan


MSP (Mid Sagital Plane) tubuh berada tepat pada garis tengah

kaset.
Kedua tangan diletakkan diatas kepala pasien dan diberi
pengganjal untuk fiksasi. kedua kaki lurus kebawah dan diberi
pengganjal juga.

Posisi Objek

Objek diatur dengan menentukan batas atas processus xypoideus

dan batas bawah adalah symphisis pubis.


Titik bidik pada pertengahan kedua crista illiaca dengan arah sinar

vertikal tegak lurus dengan kaset.


Eksposi dilakukan saat pasien ekspirasi penuh dan tahan nafas.
FFD: 100cm

II.8

Hasil Hasil Pemeriksaan

Nilai Pemeriksaan :
Hasil pemeriksaan ditentukan oleh study dari X-ray dan gambaran
fluoroscopy.
Nilai Normal :
Tidak tampak adanya abnormalitas pada X-ray colon.
Faktor Faktor yang Mempengaruhi Hasil Pemeriksaan :
a. Persiapan bowel yang tidak adekuat, sehingga mengganggu
kualitas dari X-ray film .
b. Pemeriksaan barium swallow / Upper GI

/ Ba Follow

Through yang dilakukan dalam bebarapa hari sebelum


barium enema akan mengganggu kualitas dari X-ray

barium enema.
c. Ketidak mampuan penderita menahan selama pemeriksaan
barium enema sehingga pemeriksaan tidak komplit.

Gambar 3. Film A,B,C foto polos abdomen film D,E,F foto barium enema.

II.9

Anatomi dan Histologi Kolon


Usus besar terdiri dari caecum, appendix, kolon ascendens, kolon

transversum, kolon descendens, kolon sigmoideum dan rektum serta anus. Mukosa
usus besar terdiri dari epitel selapis silindris dengan sel goblet dan kelenjar
dengan banyak sel goblet, pada lapisan submukosa tidak mempunyai kelenjar.
Otot bagian sebelah dalam sirkuler dan sebelah luar longitudinal yang terkumpul
pada tiga tempat membentuk taenia koli. Lapisan serosa membentuk tonjolan
tonjolan kecil yang sering terisi lemak yang disebut appendices epiploicae.
Didalam mukosa dan submukosa banyak terdapat kelenjar limfa, terdapat lipatanlipatan yaitu plica semilunaris dimana kecuali lapisan mukosa dan lapisan
submukosa ikut pula lapisan otot sirkuler. Diantara dua plica semilunares terdapat
saku yang disebut haustra coli, yang mungkin disebabkan oleh adanya taenia coli

atau kontraksi otot sirkuler. Letak haustra in vivo dapat berpindah pindah atau
menghilang.
Vaskularisasi kolon dipelihara oleh cabang-cabang arteri mesenterica
superior dan arteri mesenterica inferior, membentuk marginal arteri seperti
periarcaden, yang memberi cabang-cabang vasa recta pada dinding usus. Yang
membentuk marginal arteri adalah arteri ileocolica, arteri colica dextra, arteri
colica media, arteri colica sinistra dan arteri sigmoidae. Hanya arteri ciloca
sinistra dan arteri sigmoideum yang merupakan cabang dari arteri mesenterica
inferior, sedangkan yang lain dari arteri mesenterica superior. Pada umumnya
pembuluh darah berjalan retroperitoneal kecuali arteri colica media dan arteri
sigmoidae yang terdapat didalam mesocolon transversum dan mesosigmoid.
Seringkali arteri colica dextra membentuk pangkal yang sama dengan arteri colica
media atau dengan arteri ileocolica. Pembuluh darah vena mengikuti pembuluh
darah arteri untuk menuju ke vena mesenterica superior dan arteri mesenterica
inferior yang bermuara ke dalam vena porta. Aliran limfe mengalir menuju ke nn.
ileocolica, nn. colica dextra, nn. colica media, nn. colica sinistra dan nn.
mesenterica inferior. Kemudian mengikuti pembuluh darah menuju truncus
intestinalis.
Colon ascendens panjangnya sekitar 13 cm, dimulai dari caecum pada
fossa iliaca dextra sampai flexura coli dextra pada dinding dorsal abdomen
sebelah kanan, terletak di sebelah ventral ren dextra, hanya bagian ventral ditutup
peritoneum visceral. Jadi letak colon ascendens ini retroperitoneal, kadang kadang
dinding dorsalnya langsung melekat pada dinding dorsal abdomen yang ditempati
muskulus quadratus lumborum dan ren dextra.
Arterialisasi colon ascendens dari cabang arteri ileocolic dan arteri colic
dextra yang berasal dari arteri mesentrica superior.
Colon transversum panjangnya sekitar 38 cm, berjalan dari flexura coli
dextra sampai flexura coli sinistra. Bagian kanan mempunyai hubungan dengan
duodenum dan pankreas di sebelah dorsal, sedangkan bagian kiri lebih bebas.
Flexura coli sinistra letaknya lebih tinggi daripada yang kanan yaitu pada polus
cranialis ren sinistra, juga lebih tajam sudutnya dan kurang mobile. Flexura coli
dextra erat hubunganya dengan facies visceralis hepar (lobus dextra bagian

10

caudal) yang terletak di sebelah ventralnya. Arterialisasi didapat dari cabang


cabang arteri colica media. Arterialisasi colon transversum didapat dari arteri
colica media yang berasal dari arteri mesenterica superior pada 2/3 proksimal,
sedangkan 1/3 distal dari colon transversum mendapat arterialisasi dari arteri
colica sinistra yang berasal dari arteri mesenterica inferior .

Gambar 1. Arteri Mesenterica Superior


Mesokolon transversum adalah duplikatur peritoneum yang memfiksasi
colon transversum sehingga letak alat ini intraperitoneal. Pangkal mesokolon
transversa disebut radix mesokolon transversa, yang berjalan dari flexura coli
sinistra sampai flexura coli dextra. Lapisan cranial mesokolon transversa ini
melekat pada omentum majus dan disebut ligamentum gastro (meso) colica,
sedangkan lapisan caudal melekat pada pankreas dan duodenum, didalamnya
berisi pembuluh darah, limfa dan syaraf. Karena panjang dari mesokolon

11

transversum inilah yang menyebabkan letak dari colon transversum sangat


bervariasi, dan kadangkala mencapai pelvis.

Gambar 2. Arteri Mesenterica Inferior


Colon descendens panjangnya sekitar 25 cm, dimulai dari flexura coli
sinistra sampai fossa iliaca sinistra dimana dimulai colon sigmoideum. Terletak
retroperitoneal karena hanya dinding ventral saja yang diliputi peritoneum,
terletak pada muskulus quadratus lumborum dan erat hubungannya dengan ren
sinistra. Arterialisasi didapat dari cabang-cabang arteri colica sinistra dan cabang
arteri sigmoid yang merupakan cabang dari arteri mesenterica inferior.
Colon sigmoideum mempunyai mesosigmoideum sehingga letaknya
intraperi toneal, dan terletak didalam fossa iliaca sinistra. Radix mesosigmoid
mempunyai perlekatan yang variabel pada fossa iliaca sinistra. Colon sigmoid

12

membentuk lipatan-lipatan yang tergantung isinya didalam lumen, bila terisi


penuh dapat memanjang dan masuk ke dalam cavum pelvis melalui aditus pelvis,
bila kosong lebih pendek dan lipatannya ke arah ventral dan ke kanan dan
akhirnya ke dorsal lagi. Colon sigmoid melanjutkan diri kedalam rectum pada
dinding mediodorsal pada aditus pelvis di sebelah depan os sacrum. Arterialisasi
didapat dari cabang- cabang arteri sigmoidae dan arteri haemorrhoidalis superior
cabang arteri mesenterica inferior. Aliran vena yang terpenting adalah adanya
anastomosis antara vena haemorrhoidalis superior dengan vena haemorrhoidalis
medius dan inferior, dari ketiga vena ini yang bermuara kedalam vena porta
melalui vena mesenterica inferior hanya vena haemorrhoidalis superior,
sedangkan yang lain menuju vena iliaca interna. Jadi terdapat hubungan antara
vena parietal (vena iliaca interna) dan vena visceral (vena porta) yang penting bila
terjadi pembendungan pada aliran vena porta misalnya pada penyakit hepar
sehingga mengganggu aliran darah portal. Mesosigmoideum mempunyai radix
yang berbentuk huruf V dan ujungnya letaknya terbalik pada ureter kiri dan
percabangan arteri iliaca communis sinistra menjadi cabang-cabangnya, dan
diantara kaki-kaki huruf V ini terdapat reccessus intersigmoideus.
II.10 Fisiologi
Pertukaran air dan elektrolit
Kolon ialah tempat utama bagi absorpsi air dan pertukaran elektrolit.
Sebnyak 90 % kandungan air diserap di kolon yaitu sekitar 1-2 L per hari.
Natrium

diabsorpsi

secara

aktif

melalui

NA-K-ATPase.

Kolon

dapat

mengabsorpsi sebanyak 400 mEq perhari. Air diserap secara pasif mengikuti
dengan natrium melalui perbedaan osmotik. Kalium secara aktif disekresikan ke
dalam lumen usus dan diabsorpsi secara pasif. Klorida diabsoprsi secara aktif
melalui pertukaran klorida-bikarbonat.
Asam lemak rantai pendek
Asam lemak rantai pendek seperti asetat, butirat dan propionat diproduksi
oleh fermentasi bakterial yang berasal dari karbohidrat. Asam lemak rantai pendek
ini berguna sebagai sumber energi bagi mukosa kolon dan metabolisme usus
seperti transportasi natrium. Kekuranga nsumber penghasil Asam lemak rantai
pendek atau kolostomi, ileostomi akan menyebabkan atrofi mukosa.
13

Mikroflora kolon dan gas intestinal


Sebanyak kurang lebih 30% dari berat feses terdiri dari bakteri.
Mikroorganisme yang terbanyak ialah anaerob dan spesies terbanyak ialah
Bacteroides. Escherichia coli merupakan bakteri aerob terbanyak. Mikroflora
endogen ini penting dalam pemecahan karbohodrat dan protein di kolon dan
berpartisipasi dalam metabolisne bilirubin, asam empedu, estrogen dan kolesterol.
Bakteri ini juga di[perlukan dalam produksi vitamin K dan menghambat
pertunbuhan bakteri patogen seperti Clostridium difficle. Tetapi tingginya jumlah
bakteri pada colon dapat menyebabkan sepsis, abses dan infeksi.
Gas intestinal dihasilkan dari air yang tertelan, difusi dari darah dan
produksi intraluminal. Komponen utama dari gas ini ialah nitrogen, oksigen,
karbon dioksida, hidrogen dan methan. Nitrogen dan oksigen dihasilkan dari
udara yang tertelan. Karbon dioksida diproduksi dengan reaksi bikarbonat dan ion
hidrogen dan perubahan trigliserid menjadi asam lemak. Hidrogen dan methane
diproduksi oleh bakteri kolon. Gas yang diproduksi sekitar 100-200 mL dan
dikeluarkan melalui flatus.
Motilitas
Tidak seperti usus halus, usus besar tidak menampilkan karaktersistik dari
kompleks migrasi motorik. Usus besar memperlihatkan kontraksi intermiten.
Amplitudo rendah, kontraksi durasi pendek akan meningkatkan waktu transit di
kolon, dan meningkatkan absorpsi air dan perubahan elektrolit. Secara umum,
aktivasi kolinergik meningktkan motilitas kolon.
Secara umum, aktivitas fisik seperti postur, cara berjalan berperan penting
dalam stimulus pergerakan isi kolon. Selain itu juga dipengaruhi oleh keadaan
emosi. Waktu transit di kolon dipercepat oleh makan makanan yang mengandung
serat. Serat ialah matrix sel tumbuhan yang tidak larut dan terdiri dari selulosa,
hemiselulosa dan lilgnin. Pergerakan kolon normal lambat, kompleks dan
bervariasi. Pada kebanyakan, makanan mencapai sekum dalam 4 jam dan 24 pada
rektosigmoid. Kolon transversum merupakan tempat penyimpanan feses.
Pola motilitas kolon dapat mencampur dan mengeliminasi isi usus. Faktor
yang mempengaruhi motilitas ialah keadaan emosional, jumlah kegiatan dan tidur,
jumlah distensi kolon dan variasi hormonal.
Jenis- jenis gerakan :

14

Gerakan retrograde. Terutama pada kolon kanan dan gerakan ini


memperpanjang lamanya kontak isi lumen dengan mukosa dan

meningkatkan absorpsi air dan elektrolit


Kontraksi segmental. Dilakukan secara simultan oleh otot longitudinal dan

sirkular.
Gerakan massa. Terjadi 3-4 kali sehari dan dikarakteristikkan dengan

kontraksi antegrade dan propulsif.


Defekasi
Defekasi ialah mekanisme yang kompleks dan terkoordinasi melibatkan
pergerakan massa kolon, peningkatan tekanan intra abdominal dan rektal serta
relaksasi lantai pelvis. Rasa ingin defekasi terbentuk ketika feses memasuki
rektum dan menstimulasi reseptor di dinding rektum atau otot levator. Distensi
dari rektum menyebabkan relaksasi dari sfingter ani yang menyebabkan kontak
dengan kanal anal. Refleks ini menyebabkan epitel memisahkan feses padat dari
gas dan cair.

II.11

Invaginasi (Intususepsi)
Invaginasi disebut juga intususepsi adalah suatu keadaan dimana segmen

usus masuk ke dalam segmen lainnya; yang bisa berakibat dengan obstruksi /
strangulasi. Umumnya bagian yang peroksimal (intususeptum) masuk ke bagian
distal (intususepien). Kelainan ini umumnya ditemukan pada anak anak di
bawah 1 tahun dan frekuensinya menurun dengan bertambahnya usia anak.
Umumnya invaginasi ditemukan lebih sering pada anak laki laki, dengan
perbandingan antara laki laki dan perempuan tiga banding dua .

15

Gejala Klinis
Gejala klinis yang menonjol dari invaginasi adalah suatu trias gejala yang
terdiri dari :

nyeri perut yang datangnya secara tiba tiba, nyeri bersifat serang
serangan., nyeri menghilang selama 10 20 menit, kemudian

timbul lagi serangan baru.


Teraba massa tumor di perut bentuk bujur pada bagian kanan atas,

kanan bawah, atas tengah, kiri bawah atau kiri atas.


Buang air besar campur darah dan lendir
Pemeriksaan Radiologi
Photo polos abdomen : didapatkan distribusi udara didalam usus
tidak merata, usus terdesak ke kiri atas, bila telah lanjut terlihat
tanda tanda obstruksi usus dengan gambaran air fluid level.
Dapat terlihat free air bilah terjadi perforasi.

16

17

18

Barium enema : dikerjakan untuk tujuan diagnosis dan terapi,


untuk diagnosis dikerjakan bila gejala gejala klinik meragukan,
pada barium enema akan tampak gambaran cupping, coiled spring
appearance.

Penatalaksanaan
Reduksi dengan barium enema
Reduksi dengan operasi
Reduksi Dengan Barium Enema

19

Telah disebutkan pada bab terdahulu bahwa barium enema


berfungsi dalam diagnostik dan terapi. Barium enema dapat diberikan bila

tidak dijumpai kontra indikasi seperti :


Adanya tanda obstruksi u sus yang jelas baik secara klinis maupun
pada foto abdomen
Dijumpai tanda tanda peritonitis
Gejala invaginasi sudah lewat dari 24 jam
Dijumpai tanda tanda dehidrasi berat.
Usia penderita diatas 2 tahun
Hasil reduksi ini akan memuaskan jika dalam keadaan tenang tidak
menangis atau gelisah karena kesakitan oleh karena itu pemberian sedatif
sangat membantu. Kateter yang telah diolesi pelicin dimasukkan ke
rektum dan difiksasi dengan plester, melalui kateter bubur barium
dialirkan dari kontainer yang terletak 3 kaki di atas meja penderita dan
aliran bubur barium dideteksi dengan alat floroskopi sampai meniskus
intussusepsi dapat diidentifikasi dan dibuat foto. Meniskus sering dijumpai
pada kolon transversum dan bagian proksimal kolon descendens.
Bila kolom bubur barium bergerak maju menandai proses reduksi
sedang berlanjut, tetapi bila kolom bubur barium berhenti dapat diulangi 2
3 kali dengan jarak waktu 3 5 menit. Reduksi dinyatakan gagal bila
tekanan barium dipertahankan selama 10 15 menit tetapi tidak dijumpai
kemajuan. Antara percobaan reduksi pertama, kedua dan ketiga, bubur
barium dievakuasi terlebih dahulu.
Reduksi barium enema dinyatakan berhasil apabila :
Rectal tube ditarik dari anus maka bubur barium keluar dengan
disertai massa feses dan udara.
Pada floroskopi terlihat bubur barium mengisi seluruh kolon dan
sebagian usus halus, jadi adanya refluks ke dalam ileum.
Hilangnya massa tumor di abdomen.
Perbaikan secara klinis pada anak dan terlihat anak menjadi
tertidur serta norit test positif.
Penderita perlu dirawat inap selama 2 3 hari karena sering
dijumpai kekambuhan selama 36 jam pertama. Keberhasilan tindakan ini
tergantung kepada beberapa hal antara lain, waktu sejak timbulnya gejala
pertama, penyebab invaginasi, jenis invaginasi dan teknis pelaksanaannya.

20

II.12 Kolitis
Kolitis jarang terjadi pada bayi dan anak anak dan kalau terjadi maka
gambarannya menyerupai orang dewasa. Kolitis pada bayi yang sering merupakan
bagian

dari

Nekrotizing

Enterokolitis

dan

enterokolitis

dari

penyakit

Hirschsprung. Kolitis pada bayi pernah diidentifikasi bersifat segmental kolitis


dan yang menjadi predisposisi adalah allergi terhadap susu. Pada anak yang lebih
besar biasanya Kolitis terjadi akibat infeksi seperti infeksi akibat Shigella , roto
virus, E.Coli dan amubiasis. Gambaran amubiasis biasanya mirip dengan
gambaran Kolitis ulcerativa atau Kolitis granulomatosa atau Crohns disease.
Penyebab Kolitis yang terjadi pada anak anak pada
umumnya disebabkan oleh infeksi, inflamatory bowel disese,
typhlitis, haemolytic uraemic syndrome, pseudo membranous
kolitis,

iskemik,

dan

radiasi.

Penyakit

Crohn

atau

Kolitis

granulomatosa jarang terjadi pada bayi dan biasanya terjadi


pada anak anak yang lebih besar.
Banyak pemeriksaan Radiologi dari konvensional sampai
canggih dapat dilakukan untuk mendiagnosa penyakit Kolitis
pada bayi dan anak anak tetapi algoritma pemeriksaan adalah
sangat penting untuk membantu diagnosa dini kolitis sehingga
mendapatkan

pengobatan

yang

tepat

dan

cepat

untuk

menghindari komplikasi yang sering terjadi terutama pada kolitis


ulcerativa.
Gambaran klinis
Sakit perut merupakan gejala utama dari penderita kolitis
disertai diare berdarah. Kemudian disusul dengan lemah badan,
kehilangan berat badan, nafsu makan berkurang. Pada kolitis
ulcerativa

sering

disertai

dengan

artritis,

infeksi

mata,

osteoporosis, kulit yang kemerahan, dan anemia.


Kolitis Ulcerativa
Barium Enema
Tampak haustra

yang

menghilang,

ulkus

yang

kecil

21

memperlihatkan

seperti

gigi

gergaji

(saw

teeth)

Pada

pemeriksaan dengan kontras ganda akan terlihat tekstur mukosa


yang menghilang disertai gambaran granuler halus. Apabila
penyakit berlanjut ulkus menjadi lebih dalam dan meluas ke
submukosa yang memberikan gambaran colar button. Pada
stadium lanjut akan terlihat dinding kolon yang menebal dan
kaku dan haustra yang menghilang yang memberikan gambaran
seperti pipa.

Penyakit Crohn (Kolitis granulomatosa )


Barium Enema
Fase Awal : non-stenotik
Merupakan gambaran awal dari patologinya berupa erosi
superfisial ,ulkus aftosa. Ulkus aftosa memberikan gambaran
noduler opak dibagian tengah yang terisi kontras dengan dinding
ireguler dan dikelilingi bayangn radiolusen yang berupa halo
sehingga memberikan gambaran bulls eye atau target lesion.
Ulkus-ulkus dapat menjadi besar dan bergabung menjadi ulkus
longitudinal

dan

transversal

sehingga

menjadi

gambaran

cobblestone. Kalau lesi berlanjut maka lipatan mukosa akan


bertambah tebal dan kasar disertai spasme dan iritabilitas kolon.
Kolon akan tampak menyempit tapi bagian proximal dari
penyempitan tersebut tidak mengalami dilatasi. Skip area adalah

22

gambaran khas lainnya dimana segmen normal membatasi


segmensegmen sakit yang cenderung tiba tiba dengan batas
yang jelas Diantara penebalan lipatan mukosa kolon tampak
kantung kantung di dinding lumen kolon menyerupai divertikel
sehingga disebut pseudo divertikel.
Fase stenotik
Merupakan fase lanjut penyakit Crohn dimana penebalan dinding
kolon sangat bertambah serta kaku gambaran menyerupai pipa
dan

dibagian

proximal

dari

tempat

penyempitan

tampak

melebar. Apabila proses berlanjut akan terjadi String sign ileum


terminalis, caecum berbentuk konus. Proses yang lebih lanjut lagi
terjadi striktur, sinus tract, dan pembentukan fistula.
II.13 Divertikulitis
Divertikulitis adalah peradangan atau infeksi pada satu atau beberapa
divertikula. Divertikulitis jarang terjadi pada orang yang berumur dibawah 40
tahun.
Penyebab

terjadinya

infeksi

pada

divertikula

masih

belum

pasti.

Infeksi mungkin terjadi jika tinja atau bakteri terperangkap di dalam divertikula.
Gejala awalnya adalah nyeri, nyeri tumpul (biasanya pada bagian kiri bawah
perut) dan demam.

23

Diagnosis

ditegakkan

berdasarkan

gejala-gejalanya.

Pemeriksaan rontgen dengan barium enema dilakukan untuk memperkuat


diagnosis atau untuk mengevaluasi masalah yang dapat merusak atau menembus
usus yang meradang, sehingga pemeriksaan ini biasanya ditunda selama beberapa
minggu.

II.14

Polip
Polip adalah petumbuhan jaringan yang menonjol ke dalam lumen traktus

gastrointestinal. Secara umum ,terdapat 2 tipe polip jinak yaitu polip nonneoplastik dan polip neoplastik. Polip non-neoplastik terdiri dari hamartoma,
polip hyperplastik dan polip inflamasi. Polip neoplastik terdiri dari berbagai
macam polip adenomatous dan poliposis coli herediter.
Polip non-neoplastik
Hamartoma
a. Polip Juvenil
24

II.18

Stenosis Kolon
Stenosis kolon adalah suatu kondisi di mana bagian dari usus besar

sangat sempit , sehingga sebagian penyumbatan . Penghalang lain dari usus yang
mempengaruhi bayi baru lahir meliputi berikut ini :
penyakit Hirschsprung
Kecil sindrom usus kiri
obstruksi obturasi
ileus mekonium
mekonium steker
Kontras enema dapat dilakukan sebelum pengobatan operasi, pada
kebijaksanaan ahli bedah, dan dapat berguna dalam mengesampingkan adanya lesi
lainnya hilir dari atresia tersebut. Ini mengungkapkan microcolon dengan ujung
proksimal bulat (lihat gambar pertama di bawah). Dalam kongenital stenosis
kolon, kontras enema mengungkapkan penyempitan usus besar, dengan mengisi
terbatas kolon proksimal melebar (lihat gambar kedua di bawah ini)

25

BAB III
PENUTUP
III.1

Kesimpulan
Teknik pemeriksaan barium enema pada anak adalah suatu teknik

pemeriksaan secara radiologis usus besar (collon) dengan menggunakan media


kontras barium (kontras positif) yang dimasukan melalui lubang anus yang
dilakukan pada anak. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mendapatkan
gambaran anatomis dari colon sehingga dapat membantu menegakkan diagnosa
suatu penyakit atau kelainan-kelainan pada colon.
Terdapat indikasi dan juga kontra indikasi dalam pelaksanaan teknik
pemeriksaan radiologi ini, selain itu juga terdapat beberapa hal yang harus
diperhatikan pula dalam proses persiapan maupun pelaksaan pemeriksaan dengan
barium enema ini.

26