Anda di halaman 1dari 16

Referat

Psikopatologi dan Quality of Life pada


Pasien dengan Kaki DM

Disusun oleh :
Ari Filologus Sugiarto
Nim : 11 2013 204
Pembimbing :
Dr. Elly Tania , SpKJ

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
JAKARTA

PENDAHULUAN
Menurut catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 1996 di dunia
terdapat 120 juta penderita diabetes mellitus yang diperkirakan naik dua kali lipat pada tahun
2025. Kenaikan ini disebabkan oleh pertambahan umur, kelebihan berat badan (obesitas), dan
gaya hidup. 1
Salah satu komplikasi menahun dari DM adalah kelainan pada kaki yang disebut
sebagai kaki diabetik. Menurut dr Sapto Adji H SpOT dari bagian bedah ortopedi Rumah Sakit
Internasional Bintaro (RSIB), komplikasi yang paling sering dialami pengidap diabetes adalah
komplikasi pada kaki (15 persen) yang kini disebut kaki diabetes. 1
Di negara berkembang prevalensi kaki diabetik didapatkan jauh lebih besar
dibandingkan dengan negara maju yaitu 2-4%, prevalensi yang tinggi ini disebabkan kurang
pengetahuan penderita akan penyakitnya, kurangnya perhatian dokter terhadap komplikasi ini
serta rumitnya cara pemeriksaan yang ada saat ini untuk mendeteksi kelainan tersebut secara
dini. Pengelolaan kaki diabetes mencakup pengendalian gula darah,debridemen/membuang
jaringan yang rusak, pemberian antibiotik, dan obat-obat vaskularisasi serta amputasi. 1
Komplikasi kaki diabetik adalah penyebab amputasi ekstremitas bawah nontraumatik
yang paling sering terjadi di dunia industri. Sebagian besar komplikasi kaki diabetik
mengakibatkan amputasi yang dimulai dengan pembentukan ulkus di kulit. Risiko amputasi
ekstremitas bawah 15 46 kali lebih tinggi pada penderita diabetik dibandingkan dengan
orang yang tidak menderita diabetes mellitus. Lagi pula komplikasi kaki adalah alasan
tersering rawat inap pasien dengan diabetes, berjumlah 25% dari seluruh rujukan diabetes di
Amerika Serikat dan Inggris. 1

Definisi
Diabetes mellitus merupakan penyakit endokrin akibat defek dalam sekresi dan kerja
insulin atau keduanya sehingga terjadi defisiensi insulin relatif atau absolut dimana tubuh
mengeluarkan terlalu sedikit insulin atau insulin yang dikeluarkan resisten sehingga
mengakibatkan kelainan metabolisme kronis berupa hiperglikemia kronik disertai berbagai
kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan komplikasi kronik pada sistem
tubuh. 2
Kaki diabetik adalah kelainan pada tungkai bawah yang merupakan komplikasi kronik
diabetes mellitus. Suatu penyakit pada penderita diabetes bagian kaki, dengan gejala dan tanda
sebagai berikut : 3
1. Sering kesemutan/gringgingan (asmiptomatus).
2. Jarak tampak menjadi lebih pendek (klaudilasio intermil).
3. Nyeri saat istirahat.
4. Kerusakan jaringan (necrosis, ulkus).
Salah satu komplikasi yang sangat ditakuti penderita diabetes adalah kaki diabetik.
Komplikasi ini terjadi karena terjadinya kerusakan saraf, pasien tidak dapat membedakan suhu
panas dan dingin, rasa sakit pun berkurang.3
Epidemiologi
Di Negara maju kaki diabetes memang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat
yang besar, tetapi dengan kemajuan cara pengelolaan, dan adanya klinik kaki diabetes yang aktif
mengelola sejak pencegahan primer, nasib penyandang kaki diabetes menjadi lebih cerah. Angka
kematian dan angka amputasi dapat ditekan samapai sangat rendah, menurun sebanyak 49-85%
dari sebelumnya. Tahun 2005 International Diabetes Federation mengambil tema tahun kaki
diabetes meningat pentingnya pengelolaan kaki diabetes dikembangkan. 4

Di RSUPN dr Cipto Mangunkusumo, masalah kaki diabetes masih merupakan masalah


besar. Sebagian besar perawatan penyandang DM selalu menyangkut kaki diabetes. Angka
kematian dan angka amputasi masih tinggi, masing-masing sebesar 16% dan 25% (data
RSUPNCM tahun 2003). Nasib para penyandang DM pasca amputasi pun masih sangat buruk.
Sebanyak 14,3% akan meninggal dalam setahun pasca amputasi, dan sebanyak 37% akan
meninggal 3 tahun pasca amputasi. 4
Di Amerika Serikat biaya keseluruhan yang harus dikeluarkan untuk DM dengan
hanya kaki diabetes adalah sebanyak $ 150 juta dari $ 91,8 miliar biaya yang langsung
berkaitan dengan DM. Di rumah sakit rujukan di California Selatan rata-rata biaya untuk
amputasi primer pada tungkai bawah adalah $ 24.700 dengan rata-rata lama tinggal di
rumah sakit 21 hari. Semuanya itu hanya biaya lansung dan belum termasuk biaya tidak
langsung seperti ketidakhadiran, kecacatan permanen, dan kematian keluarga. Angka
absen pada penderita DM (44 hari pertahun) didapatkan 11 kali lebih tinggi daripada
populasi umumnya, dengan perkiraan kerugian sebanyak $ 365.000 perpasien pertahun.
Pada penelitian tersebut, didapatkan DM menduduki peringkat ketiga penyebab
kecacatan permanen, setelah kelainan neurologic dan penyakit jantung iskemik. 5
Faktor Risiko Terjadinya Kaki Diabetik
Ada 3 alasan mengapa orang diabetes lebih tinggi risikonya mengalami masalah kaki.
Pertama, berkurangnya sensasi rasa nyeri setempat (neuropati) membuat pasien tidak menyadari
bahkan sering mengabaikan luka yang terjadi karena tidak dirasakannya. Luka timbul spontan
sering disebabkan karena trauma misalnya kemasukan pasir, tertusuk duri, lecet akibat
pemakaian sepatu/sandal yang sempit dan bahan yang keras. Mulanya hanya kecil, kemudian
meluas dalam waktu yang tidak begitu lama. Luka akan menjadi borok dan menimbulkan bau
yang disebut gas gangren. Jika tidak dilakukan perawatan akan sampai ke tulang yang
mengakibatkan infeksi tulang (osteomylitis). Upaya yang dilakukan untuk mencegah perluasan
infeksi terpaksa harus dilakukan amputasi (pemotongan tulang). 1
Kedua, sirkulasi darah dan tungkai yang menurun dan kerusakan endotel pembuluh
darah. Manifestasi angiopati pada pembuluh darah penderita DM antara lain berupa
4

penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah perifer (yang utama). Sering terjadi pada
tungkai bawah (terutama kaki). Akibatnya, perfusi jaringan bagian distal dari tungkai menjadi
kurang baik dan timbul ulkus yang kemudian dapat berkembang menjadi nekrosi/gangren
yang sangat sulit diatasi dan tidak jarang memerlukan tindakan amputasi. 1
Gangguan mikrosirkulasi akan menyebabkan berkurangnya aliran darah dan hantaran
oksigen pada serabut saraf yang kemudian menyebabkan degenarasi dari serabut saraf.
Keadaan ini akan mengakibatkan neuropati. Di samping itu, dari kasus ulkus/gangren diabetes,
kaki DM 50% akan mengalami infeksi akibat munculnya lingkungan gula darah yang subur
untuk berkembanguya bakteri patogen. Karena kekurangan suplai oksigen, bakteri-bakteri
yang akan tumbuh subur terutama bakteri anaerob. Hal ini karena plasma darah penderita
diabetes yang tidak terkontrol baik mempunyai kekentalan (viskositas) yang tinggi. Sehingga
aliran darah menjadi melambat. Akibatnya, nutrisi dan oksigen jaringan tidak cukup. Ini
menyebabkan luka sukar sembuh dan kuman anaerob berkembang biak. 1
Ketiga, berkurangnya daya tahan tubuh terhadap infeksi. Secara umum penderita
diabetes lebih rentan terhadap infeksi. Hal ini dikarenakan kemampuan sel darah putih
memakan dan membunuh kuman berkurang pada kondisi kadar gula darah (KGD) diatas 200
mg%. Kemampuan ini pulih kembali bila KGD menjadi normal dan terkontrol baik. Infeksi ini
harus dianggap serius karena penyebaran kuman akan menambah persoalan baru pada borok.
Kuman pada borok akan berkembang cepat ke seluruh tubuh melalui aliran darah yang bisa
berakibat fatal, ini yang disebut sepsis (kondisi gawat darurat). 1
Sejumlah peristiwa yang dapat mengawali kerusakan kaki pada penderita diabetes
sehingga meningkatkan risiko kerusakan jaringan antara lain : 1
- Luka kecelakaan
- Trauma sepatu
- Stress berulang
- Trauma panas
- Iatrogenik
- Oklusi vaskular
- Kondisi kulit atau kuku
Faktor risiko demografis :
- Usia
Semakin tua semakin berisiko
- Jenis kelamin

Laki-laki dua kali lebih tinggi. Mekanisme perbedaan jenis kelamin tidak jelas mungkin
-

dari perilaku, mungkin juga dari psikologis


Etnik
Beberapa kelompok etnik secara signifikan berisiko lebih besar terhadap komplikasi kaki.
Mekanismenya tidak jelas, bisa dari faktor perilaku, psikologis, atau berhubungan dengan

status sosial ekonomi, atau transportasi menuju klinik terdekat.


Situasi sosial
Hidup sendiri dua kali lebih tinggi

Faktor risiko perilaku :


Ketrampilan manajemen diri sendiri sangat berkaitan dengan adanya komplikasi kaki
diabetik. Ini berhubungan dengan perhatian terhadap kerentanan.
Faktor risiko lain :
II. 4

Ulserasi terdahulu (inilah faktor risiko paling utama dari ulkus)


Berat badan
Merokok
Patogenesis Kaki Diabetik
Diabetes seringkali menyebabkan penyakit vaskular perifer yang menghambat sirkulasi

darah. Dalam kondisi ini, terjadi penyempitan di sekitar arteri yang sering menyebabkan
penurunan sirkulasi yang signifikan di bagian bawah tungkai dan kaki. Sirkulasi yang buruk ikut
berperan terhadap timbulnya kaki diabetik dengan menurunkan jumlah oksigen dan nutrisi yang
disuplai ke kulit maupun jaringan lain, sehingga menyebabkan luka tidak sembuh-sembuh. 3
Kondisi kaki diabetik berasal dari suatu kombinasi dari beberapa penyebab seperti
sirkulasi darah yang buruk dan neuropati. Berbagai kelainan seperti neuropati, angiopati yang
merupakan faktor endogen dan trauma serta infeksi yang merupakan faktor eksogen yang
berperan terhadap terjadinya kaki diabetik. 3
Angiopati diabetes disebabkan oleh beberapa faktor yaitu genetik, metabolik dan
faktor risiko yang lain. Kadar glukosa yang tinggi (hiperglikemia) ternyata mempunyai
dampak negatif yang luas bukan hanya terhadap metabolisme karbohidrat, tetapi juga terhadap
6

metabolisme protein dan lemak yang dapat menimbulkan pengapuran dan penyempitan
pembuluh darah (aterosklerosis), akibatnya terjadi gaangguan peredaran pembuluh darah besar
dan kecil., yang mengakibatkan sirkulasi darah yang kurang baik, pemberian makanan dan
oksigenasi kurang dan mudah terjadi penyumbatan aliran darah terutama derah kaki. 3
Neuropati diabetik dapat menyebabkan insensitivitas atau hilangnya kemampuan untuk
merasakan nyeri, panas, dan dingin. Diabetes yang menderita neuropati dapat berkembang
menjadi luka, parut, lepuh, atau luka karena tekanan yang tidak disadari akibat adanya
insensitivitas. Apabila cedera kecil ini tidak ditangani, maka akibatnya dapat terjadi
komplikasi dan menyebabkan ulserasi dan bahkan amputasi. neuropati juga dapat
menyebabkan deformitas seperti Bunion, Hammer Toes (ibu jari martil), dan Charcot Foot. 3

Yang sangat penting bagi diabetik adalah memberi perhatian penuh untuk mencegah
kedua kaki agar tidak terkena cedera. Karena adanya konsekuensi neuropati, observasi setiap
hari terhadap kaki merupakan masalah kritis. Jika pasien diabetes melakukan penilaian
preventif perawatan kaki, maka akan mengurangi risiko yang serius bagi kondisi kakinya. 3
Sirkulasi yang buruk juga dapat menyebabkan pembengkakan dan kekeringan pada
kaki. Pencegahan komplikasi pada kaki adalah lebih kritis pada pasien diabetik karena
sirkulasi yang buruk merusak proses penyembuhan dan dapat menyebabkan ulkus, infeksi, dan
kondisi serius pada kaki. 3
Dari faktor-faktor pencetus diatas faktor utama yang paling berperan dalam timbulnya
kaki diabetik adalah angiopati, neuropati dan infeksi. Infeksi sendiri sangat jarang merupakan
faktor tunggal untuk terjadinya kaki diabetik. Infeksi lebih sering merupakan komplikasi yang
menyertai kaki diabetik akibat iskemia atau neuropati. Secara praktis kaki diabetik
dikategorikan menjadi 2 golongan : kaki diabetik akibat angiopati / iskemia dan kaki diabetik
akibat neuropati, dan ditambah kaki diabetik akibat infeksi.
II.5

Masalah Kaki Pada Penyandang Diabetes

Gambar 5. Masalah kaki pada penyandang diabetes


II.6

Klasifikasi Kaki Diabetik

Menurut berat ringannya lesi, kelainan kaki diabetik dibagi dalam enam derajat menurut
Wagner, yaitu; 2

Tabel 1. sistem klasifikasi kaki diabetik, Wagner.


Derajat

Lesi

Derajat 0

Tidak ada lesi terbuka, kulit utuh dan mungkin disertai

Derajat I

kelainan bentuk kakiUlkus superficial dan terbatas di kulit

Derajat II

Ulkus dalam mengenai tendo sampai kulit dan tulang

Derajat III

Abses yang dalam dengan atau tanpa ostemoielitis

Dearjat IV

Gangren jari kaki atau kaki bagian distal dengan atau tanpa

Derajat V

selulitis
Gangren seluruh kaki dan sebagian tungkai bawah

Psikopatologi pada Pasien dengan kaki DM


8

Dibandingkan dengan penderita lainnya, pasien diabetes mellitus memiliki risiko lebih tinggi,
dan jauh lebih besar terhadap gangguan depresi. Beberapa riset terdahulu mendukung pendapat
ini bahwa, diagnosis penyakit kronik akan memicu depresi, demikian sebaliknya. Artinya,
diabetes mellitus dapat menyebabkan depresi dan depresi dapat memperparah diabetes mellitus,
dengan kata lain diabetes mellitus dan depresi mempunyai hubungan sebab akibat.
Pertama, depresi akan lebih parah dua kali lipat, jika diderita oleh pasien diabetes mellitus,
dibandingkan dengan penderita lain. Dalam Kinder, et al., (2006) dijelaskan depresi yang
diderita oleh penderita selain diabetes mellitus, hanya mencapai 11%-15%.
Kedua, prevalensi depresi mungkin lebih tinggi pada pasien DM, yang memiliki komplikasi
ganda. Depresi pada pasien DM, sering tidak terdeteksi dan merupakan penghalang utama,
terhadap manajemen diabetes yang efektif. WFMH, (2010) mengestimasi prevalensi dunia pada
tahun 2000, terdapat 43 juta kasus DM, yang mengalami depresi. Indikasi estimasi bahwa, satu
diantara empat pasien DM mengalami depresi. Lebih lanjut dikatakan bahwa depresi
berkembang lipat ganda, bahkan meningkatkan angka kematian 30% pada individu dengan DM.
Ketiga, berkaitan dengan ketidakpatuhan terhadap manajemen rejimen diet, olahraga dan obatobatan serta kontrol HbA1c (Mindy, & Catherine, 2004), maka depresi memperberat beban
penyakit (Lype, Shaji, Balakrishnan, & Varghese, 2009), serta memunculkan lebih banyak gejala
fungsional (Clark, & Treisman, 2004). Selain itu, depresi juga telah dikaitkan dengan tingkat
keparahan berupa komplikasi, (Lee, et al., 2009) dan bahkan kematian pada individu akibat DM,
serta berbagai kesulitan hidup lainnya (Glasgow, Toobert, & Gillette, 2001). Kesulitan pasien
DM dalam mengatasi depresi yang dialaminya, disimpulkan dalam penelitian yang dilakukan
oleh Talbot, Nouwen, Gingras, Belanger, dan Audet (1999) tentang bagaimana mengakomodir
berbagai gejala yang ada, termasuk depresi adalah sulit untuk dikendalikan. Depresi merupakan
salah satu tekanan yang dapat memperparah diabetes. Menurut Sargyn, H dan Sargyn (2002) ada
hubungan
yang signifikan antara depresi dan hiperglikemia pada diabetes tipe-1 dan tipe-2. Adanya akibat
yang merugikan dari depresi terhadap diabetes yaitu risiko meningkatnya keparahan komplikasi.
9

Di sisi lain hasil studi ini juga menyatakan bahwa, apabila manajemen depresi efektif, maka gula
darah dapat terkontrol.
Penelitian yang dilakukan oleh Kinder, et al., (2006) menjelaskan, bahwa pasien diabetes
mellitus mempunyai risiko 3 (tiga) kali lebih banyak terkena depresi, dan 10 kali lebih banyak
terkena penyakit jantung koroner, dibandingkan dengan penyakit lainnya. Depresi merupakan
salah satu gangguan psikologis pada kehidupan seseorang. Beck (1985) menggambarkan depresi
sebagai suatu gangguan yang meliputi sekelompok problem yang heterogen, terdiri dari berbagai
macam kondisi psikopatologi. Gonzalez, et al., (2008) menjelaskan, depresi dapat menyerang
setiap orang, tetapi penderita DM berisiko lebih besar terhadap terjadinya komplikasi.
Pengobatan terhadap depresi dapat menolong orang terhindar dari gejala penyakit yang lain.
Lebih lanjut dikatakan, penderita diabetes mellitus mempunyai risiko dua kali lipat, mengalami
depresi dibandingkan dengan mereka yang tanpa diabetes. Adanya peningkatan depresi akan
memperburuk komplikasi diabetes mellitus. Riset ini menunjukkan bahwa depresi menyebabkan
tekanan mental dan fisik, sehingga tubuh menjadi semakin tidak berfungsi. Menurut Lee, et al.,
(2009) pengobatan depresi dengan psikoterapi atau kombinasi, dapat meningkatkan well-being
pasien terhadap kemampuan untuk mengendalikan diabetes mellitus. Keadaan well-being dapat
menguatkan sikap positif yang bersifat individual (Green, Kreuter, Deeds, & Patrige, 2000), dan
penerimaan individu terhadap objek sikap tertentu (Debono & Cachia, 2007) berdasarkan sikap
yang dimiliki individu, dapat diketahui perilaku yang akan dilakukannya.
Perilaku merupakan tindakan yang mempunyai frekuensi, lama, dan bertujuan khusus. Berkaitan
dengan hal tersebut Young (dalam Suhadi, 2005) menyatakan bahwa, pada dasarnya perilaku
kesehatan adalah respon seseorang terhadap stimulus, yang berkaitan dengan sakit dan system
pelayanan kesehatan serta lingkungan. Penelitian ini tidak menjelaskan bahwa, respon manusia
terbagi menjadi dua yaitu respon yang bersifat pasif dan aktif.
Respon pasif terdiri dari pengetahuan, persepsi dan sikap, dan respon aktif terdiri dari tindakan
nyata dan praktis. Dalam hal ini sikap positif berpengaruh terhadap berbagai komplikasi pada

10

pasien diabetes mellitus. Seseorang yang optimis dan resilien (Cristea, et al., 2011) cenderung
berfikir positif dan mampu bertahan dalam keadaan tertekan.
Individu dengan diabetes yang mengalami depresi, berdampak sangat besar pada setiap dimensi
kehidupannya. Sebagai suatu analisa yang membandingkan, antara depresi pada diabetes dan non
diabetes (Debono, & Cachia, 2007) menunjukkan perbedaan secara statistik yang penting pada
kualitas hidup, terutama pada komponen mental dan fisik. Seperti yang dijelaskan oleh Goldney,
Phillips, dan Wilson (2004) tentang prevalensi depresi pada diabetes, telah mencapai 24%
dibandingkan dengan populasi non diabetes yang hanya 17%. Depresi pada pasien diabetes
mellitus, memerlukan penanganan yang lebih baik, agar tidak memperparah kondisi diabetes itu
sendiri. Brands, et al., (2007) dan WFMH (2010) menjelaskan, depresi menyebabkan individu
dengan diabetes mellitus menjadi lemah terhadap pengambilan keputusan, gaya hidup, pola
makan yang tidak sehat, kurang berolahraga, merokok, penyalahgunaan alkohol, dan tidak
terkontrolnya berat badan sehingga menyebabkan berlebihan atau obesitas. Semua kejadian
tersebut merupakan faktor risiko terhadap naiknya kadar gula dalam darah, yang lasim disebut
dengan DM tipe 2.

Quality Of Life pada Pasien dengan Kaki DM


1. . Gambaran kecemasan
Hasil penelitian di dapatkan sebagian besar responden memiliki tingkat kecemasan sedang. Hasil
penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ariyanti (2009) yang menyatakan
bahwa pasien DM dengan ulkus diabetikum mayoritas mengalami kecemasan sedang.
Rahmat (2010) mengatakan individu yang menderita penyakit DM dengan ulkus diabetikum
dapat mengakibatkan munculnya komplikasi lain selain komplikasi fisik yaitu komplikasi
psikologis yang berupa kecemasan. Kecemasan yang terjadi disebabkan karena penyakitnya
yang bersifat long life diseasses ataupun disebabkan oleh komplikasi lain.
2.

Gambaran kualitas hidup

11

Hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar responden memiliki kualitas hidup yang
rendah. Hasil penelitian ini, domain kesehatan fisik pada pasein DM dengan ulkus diabetikum
memiliki skor paling rendah. Domain kesehatan fisik berhubungan dengan perasaan pasien
mengenai kesakitan dan kegelisahan yang sedang dialami oleh pasien, ketergantungan pada
perawatan medis, energi dan kelelahan, mobilitas, tidur dan istirahat, aktifitas sehari-hari, dan
kapasitas kerja (Lase, 2011).
Pada penelitian ini didapatkan sebagian besar pasien mengatakan bahwa rasa gelisah dan
kesakitan yang terkadang membuat pasien tidak bisa bekerja seperti biasanya dan menghambat
aktivitas atau rutinitas sehari-hari. Hal tersebut mungkin yang membuat domain kesehatan fisik
yang cenderung rendah. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Roni
(2012) yang menyatakan bahwa pasien DM dengan ulkus diabetikum memiliki kualitas hidup
rendah berjumlah 18 orang (56,3%) dan kualitas hidup tinggi berjumlah 16 orang (43,7%).
3.

Hubungan umur dengan kualitas hidup

Hasil analisa hubungan umur dengan kualitas hidup pasien DM dengan ulkus diabetikum adalah
sebagian besar responden berumur 55-60 tahun mempunyai kualitas hidup yang rendah (p value:
0,011). Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara umur
dengan kualitas hidup pasien DM dengan ulkus diabetikum yang ini didukung oleh penelitian
Mandagi (2010) dengan hasil bahwa ada hubungan antara umur dengan status kualitas hidup
pasien DM.
Penderita DM dengan ulkus diabetikum usia muda akan mempunyai kualitas hidup yang lebih
baik karena biasanya kondisi fisiknya yang lebih baik dibandingkan yang berusia tua. Usia tua
akan memiliki peningkatan risiko terhadap terjadinya DM dan intoleransi glukosa karena faktor
degeneratif umumnya yaitu menurunnya fungsi tubuh untuk memetabolisme glukosa
(Wicaksono, 2011).

4. Hubungan status pernikahan dengan kualitas hidup


12

Hasil analisa hubungan status pernikahan dengan kualitas hidup pasien DM dengan ulkus
diabetikum, didapatkan hasil bahwa sebagian besar responden mempunyai pasangan memiliki
kualitas hidup yang tinggi (p value: 0,440) yang menunjukkan hasil bahwa status pernikahan
tidak ada hubungan dengan kualitas hidup pasien DM dengan ulkus diabetikum.
Hal ini bukan berarti status pernikahan tidak bermanfaat karena status pernikahan merupakan
salah satu dukungan sosial kepada pasien. Hasil penelitian ini didukung oleh teori Kodriati
(2004) yang menyatakan bahwa suatu pernikahan akan memberikan keuntungan bagi kesehatan
seseorang karena akan mendapatkan perhatian dari pasangannya. Pasien DM dengan ulkus
diabetikum dengan status menikah akan mempunyai harga diri yang lebih tinggi dan mempunyai
sumber koping yang adekuat dari pasangannya sehingga dapat lebih mengembangkan koping
yang adaptif terhadap stressor.
Responden pada penelitian ini sebagian besar mempunyai pasangan dan selalu didampingi oleh
pasangannya dalam melakukan pengobatan. Keberadaan pasangan yang selalu mendampingi dan
memberikan dukungan ataupun bantuan saat pasien mengalami masalah-masalah terkait kondisi
kesehatannya, maka pasien akan merasa lebih optimis dalam menjalani kehidupannya. Hal
tersebut akan mempengaruhi keseluruhan aspek pada kualitas hidupnya. Oleh karena itu, kualitas
hidup pasien dengan status menikah (mempunyai pasangan) lebih baik (Kodriati, 2004).
5.

Hubungan lama menderita dengan kualitas hidup

Hasil analisa hubungan lama menderita dengan kualitas hidup pasien DM dengan ulkus
diabetikum, didapatkan hasil bahwa sebagian besar responden yang menderita 10 tahun
memiliki kualitas hidup yang tinggi (p value: 0,399) yang menunjukkan hasil bahwa tidak ada
hubungan yang signifikan antara lama menderita dengan kualitas hidup. Hasil penelitian ini
didukung oleh penelitian Yusra (2010) yang mengatakan bahwa tidak ada hubungan yang
bermakna antara lama menderita penyakit DM dengan kualitas hidup (p value: 0,085). Rusli
(2011) menyatakan bahwa seseorang yang sedang mengalami penyakit kronis dalam waktu yang
lama akan mempengaruhi pengalaman dan pengetahuan individu tersebut dalam pengobatan
DM.

13

6.

Hubungan komplikasi yang dialami dengan kualitas hidup

Hasil analisa hubungan komplikasi yang dialami dengan kualitas hidup pasien DM dengan ulkus
diabetikum, didapatkan hasil bahwa sebagian besar responden yang tidak mempunyai komplikasi
(penyakit lain) memiliki kualitas hidup yang tinggi (p value: 0,046) yang menunjukkan hasil
bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara komplikasi yang dialami dengan kualitas hidup.
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Yusra (2010) yang menyatakan bahwa ada
hubungan antara berbagai macam komplikasi seperti hipertensi, katarak, obesitas dan perubahan
seksual dengan kualitas hidup pasien DM.
Komplikasi yang dialami pasien menimbulkan dampak yang dapat berpengaruh negatif terhadap
kualitas hidup pasien dan kualitas hidup yang rendah dapat memperburuk gangguan metabolik,
baik secara langsung melalui stress hormonal ataupun secara tidak langsung melalui komplikasi
(Mandagi, 2010).
7. Hubungan kecemasan dengan kualitas hidup
Hasil analisa hubungan kecemasan dengan kualitas hidup pasien DM dengan ulkus diabetikum,
didapatkan hasil bahwa mayoritas responden yang tingkat kecemasannya sedang memiliki
kualitas hidup yang rendah (p value: 0,030) yang menunjukkan hasil bahwa terdapat hubungan
antara kecemasan dengan kualitas hidup.
Rahmat (2010) menyatakan bahwa konseling menurunkan kecemasan dan meningkatkan kualitas
hidup pada pasien DM. Hal ini juga didukung oleh penelitian Kusumadewi (2011) yang
mengungkapkan selain fungsi fisik yang terganggu, perasaan cemas dan mudah tersinggung juga
menimbulkan keterbatasan dalam aktivitas sosial yang mengakibatkan individu kurang sejahtera
dan berdampak buruk terhadap kualitas hidupnya. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa
ansietas (kecemasan) menunjukkan hubungan yang negatif terhadap kualitas hidup.

14

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien
diabetes mellitus dengan ulkus diabetikum diperoleh kesimpulan bahwa sebagian besar
responden berusia 55 - 60 tahun, berjenis kelamin perempuan, mayoritas mempunyai pasangan,
lama menderita 10 tahun, dan sebagian besar responden tidak mempunyai komplikasi,
kecemasan sedang dan kualitas hidup yang rendah.
Berdasarkan hasil uji statistik dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan yang bermakna faktorfaktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien diabetes mellitus dengan ulkus diabetikum
antar lain umur, komplikasi yang dialami dan kecemasan, sedangkan yang tidak ada hubungan
yaitu status pernikahan dan lama menderita.

15

DAFTAR PUSTAKA

1. Waspadji Sarwono. Kaki diabetes dalam : Sudoyo Aru W dkk Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam, Jilid III, Edisi IV. Jakarta : Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran UI : 2006 ; 1911
2. Roni, Y. (2012). Kualitas hidup pasien Diabetes Mellitus yang mengalami ulkus
diabetikum. Skripsi. PSIK UR. Tidak dipublikasikan.
3. Arianti. Y (2009). Hubungan ulkus kaki diabetik dengan tingkat kecemasan penderita
Diabetes Mellitus di Instalasi Rawat Inap tiga Rumah Sakit di Pekanbaru. Skripsi. PSIK
UR. Tidak dipublikasikan.
4. Firman, A., Wulandari, I., & Rochman, D. (2012). Kualitas hidup pasien ulkus diabetik di
Rumah Sakit Serang. Diperoleh tanggal 9 Oktober 2013 dari http://www.researchgate.net.
5. Grace, P.A., & Borley, N.R. (2006). At a glance ilmu bedah. Edisi 3. Jakarta: Gramedia.
6. Hasanat, N.U., & Ningrum, R.P. (2010). Program psikoedukasi bagi pasien Diabetes
untuk meningkatkan kualitas hidup. Diperoleh pada tanggal 9 Oktober 2013 dari
http://lib.ugm.ac.id.pdf.

16