Anda di halaman 1dari 4

Tabel 1.

Klasifikasi Kekuatan dan Kualitas dari Hasil Penelitian


Hasil Penelitian
Deskripsi
Kualitas
Level I

Hasil

penelitian

merupakan

hasil

dari

setidaknya satu penelitian dengan kontrol dan


Level II

pemilihan random.
Hasil

penelitian

merupakan

hasil

dari

setidaknya satu uji klinis yang dirancang


dengan baik tanpa randomisasi, dari penelitian
kohort atau studi analitik case control, dari
beberapa studi serial, atau dari hasil yang
bermakna dalam percobaan tanpa kontrol.
Level III

Hasil penelitian berasal dari pendapat para ahli


yang diakui, berdasarkan pengalaman klinis,
studi deskriptif, atau laporan dari kumpulan

Kekuatan

para ahli.

A
Bukti yang baik untuk mendukung digunakan
sebagai rekomendasi; dokter "harus melakukan
B

ini
sepanjang waktu"
Bukti yang cukup baik untuk mendukung
digunakan sebagai

rekomendasi; dokter "harus melakukan ini


sebagian besar waktu "
Bukti yang buruk untuk mendukung atau

ditolak
dari rekomendasi; dokter "mungkin atau
mungkin

tidak mengikuti rekomendasi "


Bukti

yang

cukup

dan

ditentang

penggunaannya dalam rekomendasi; dokter


"tidak harus melakukan ini"
Bukti yang baik ditentang penggunaannya
dalam

rekomendasi;

dokter

"tidak

harus

melakukan ini"

Terdapat bukti baru bahwa program kolaborasi pada dokter pada layanan primer yang bekerja
sama dengan spesialis kejiwaan, lebih efektif secara signifikan dibandingkan pengobatan oleh
spesialisasi.
Polifarmasi
1. Lansia dengan DM harus disarankan untuk menggunakan daftar obat yang terbaru untuk
ditinjau kembali oleh dokter. (IIA)
Dalam pengaturan rawat jalan, direkomendasikan bahwa peninjauan kembali obat secara
komprehensif dilakukan setiap tahun. Ketersediaan daftar obat terbaru yang didata termasuk
jumlah obat yang berlebihan, vitamin, dan suplemen herbal yang dapat dievaluasi oleh penyedia
layanan kesehatan mengenai kebutuhan obat itu, potensi obat-obat dan interaksi obat dengan
penyakit, dan cara-cara untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan. Direkomendasikan pula
bahwa individu menerima rekonsiliasi pengobatan setelah pulang dari rumah sakit.
2. Obat- obat lansia dengan DM dengan depresi, jatuh, gangguan kognitif, atau inkontiensia urin
harus ditinjau ulang. (IIA)
Bukti epidemiologis menunjukkan bahwa obat dapat berkontribusi memperburuk sindrom
geriatric, baik obat itu sendiri atau melalui interaksi antar obat atau interaksi obat dan penyakit
tersebut. Penggunaan obat terutama yang dengan efek penenang, sering disebutkan sebagai
faktor risiko untuk jatuh. Kriteria AGS Beers menyediakan informasi bagi dokter tentang obat
yang berpotensi tidak cocok pada lansia.
Gangguan kognitif

1. Dokter harus menilai lansia dengan DM dan gangguan kognitif menggunakan alat skrining
terstandarisasi selama periode evaluasi awal dan dengan setiap penurunan yang signifikan dalam
status klinis. Peningkatan kesulitan dalam perawatan diri harus dianggap sebagai perubahan
status klinis. (IIIA)
Tinjauan sistematis dan meta-analisis dari 15 studi hingga menemukan bahwa demensia lebih
mungkin pada orang dengan DM dan DM berhubungan dengan penurunan kognitif yang lebih
cepat pada lansia.
2. Jika ada bukti gangguan kognitif pada lansia dengan DM dan delirium telah diekslusikan
sebagai penyebab, maka evaluasi awal dirancang untuk mengidentifikasi kondisi reversibel yang
dapat menyebabkan atau memperburuk kognitif. Evaluasi harus dilakukan dalam 3 bulan
pertama setelah diagnosis dan dengan perubahan status klinis yang signifikan. (IIIA)
American Academy of Neurology merekomendasikan pedoman skrining dewasa yang lebih tua
dengan bukti gangguan kognitif, depresi, defisiensi B12, dan hipotiroidisme; neuroimaging
struktural untuk mengidentifikasi lesi juga direkomendasikan bagi mereka yang baru didiagnosis.
Jika kognitif ganggguan kognitif ini disebabkan delirium, penilaian segera untuk etiologi dan
manajemen diperlukan.
Inkontinensia urin
1. Lansia dengan DM harus dievaluasi untuk gejala inkontinensia urin selama skrining tahunan.
(IIIA)
Individu biasanya tidak melaporkan inkontinensia urin, dan penyedia layanan kesehatan sering
tidak mendeteksi hal itu, tapi efeknya mungkin besar, dan itu mungkin terkait dengan isolasi
sosial, depresi, jatuh, dan patah tulang.
Meskipun bukti yang mendukung rekomendasi ini tingkat III (pendapat ahli), karena efek negatif
yang besar dari diagnosis dan pengobatan kondisi tersebut terhadap kualitas hidup, maka
diberikan klasifikasi level A.
2. Jika ada bukti inkontinensia urin pada evaluasi lansia dengan DM, maka sebuah evaluasi

dirancang untuk mengidentifikasi penyebab dari inkontinensia urin yang dapat diobati dan harus
dikejar penyebab tersebut (IIIB)
Jatuh
1. Lansia dengan DM harus ditanya tentang jatuh setiap 12 bulan atau lebih sering jika
diperlukan. (IIIB)
2. Jika lansia dengan bukti jatuh, yang dokter harus mendokumentasikan evaluasi dasar jatuh,
termasuk penilaian cedera dan pemeriksaan dari hal-hal yang berpotensi menjadi penyebab yang
reversibel dari jatuh (misalnya, obat-obatan, faktor lingkungan). (IIIB)
Jatuh sering tidak dilaporkan dan tidak terdeteksi dan mungkin berhubungan dengan faktorfaktor reversibel. Faktor risiko umum untuk jatuh termasuk gangguan keseimbangan, penurunan
fungsional, defisit visual, gangguan kognitif, dan jenis obat tertentu.
Komponen umum pada intervensi multifaktorial meliputi tinjauan pengobatan dan manajemen,
olahraga, penilaian aktivitas hidup utama sehari-hari, pengukuran tekanan darah ortostatik,
penilaian visual, gait dan evaluasi keseimbangan, evaluasi kognitif, dan penilaian bahaya
lingkungan. Indikator kualitas untuk jatuh dan masalah mobilitas lansia telah tersedia, dan AGS
menetapkan dalam Pedoman Pencegahan Jatuh pada Lansia (2010) juga memberikan
rekomendasi rinci tentang intervensi yang efektif untuk mengurangi kejadian jatuh.
Nyeri
1. Lansia dengan DM harus dinilai selama periode evaluasi awal untuk bukti nyeri persisten.
(IIIA)
Nyeri neuropatik dapat terjadi pada sebanyak 50% dari individu dengan DM, tetapi sering tidak
dilaporkan dan terobati pada populasi ini. Terapi farmakologi dan nonfarmakologi tersedia dan
harus diberikan individual berdasarkan biaya, pilihan pasien, tujuan dari pengobatan, potensi
interaksi antar obat, komorbiditas, efek samping utama.
dan efek samping yang umum.