Anda di halaman 1dari 42

BAB I

GANGGUAN NEUROSIS
1.

Definisi Neurosis

Neurosis adalah suatu gangguan non-psikotik yang kronis atau rekuran yang
ditandai terutama oleh kecemasan, yang dialami atau yang diekspresikan secara
langsung atau diubah melalui mekanisme pertahanan. Kecemasan tampak sebagai
gejala, seperti suatu obsesi, suatu kompulsi, suatu fobia, atau suatu difungsi
seksual. Gangguan neurotik dalam Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan
Jiwa (PPDGJ) adalah gangguan mental yang tidak mempunyai dasar organik,
individu mempunyai insight, dan hubungan dengan realitanya tidak terganggu
Neurosis, menurut W.F. Maramis (1980 : 97), adalah suatu kesalahan penyesuaian
diri secara emosional karena tidak diselesaikan suatu konflik tidak sadar.
Berdasarkan pendapat mengenai neurosis dari para ahli tersebut dapat
diidentifikasi pokok-pokok pengertian mengenai neurosis sebagai berikut.1
1. Neurosis merupakan gangguan jiwa pada taraf ringan.
2. Neurosis terjadi pada sebagian aspek kepribadian.
3. Neurosis dapat dikenali gejala-gejala yang menyertainya dengan ciri khas
kecemasan.
4. Penderita neurosis masih mampu menyesuaikan diri dan melakukan
aktivitas sehari-hari.
Gangguan neurotik dalam sejarahnya diidentifikasikan oleh Sigmund Freud.
Aslinya ada tiga neurosis klasik, yaitu (1) fobia, yang oleh Freud disebut hysteria
anxietas yang ditandai oleh ketakutan yang tidak masuk akal terhadap benda atau
situasi yang biasa; (2) konversi, atau hysteria konversi, dengan ciri-ciri hilangnya
fungsi pada bagian tubuh yang tidak berkaitan dengan gangguan anatomic atau
fisiologis; dan (3) neurosis obsesif kompulsif yang bercirikan adanya pikiran yang
berulang kali datang dan mengganggu dan dorongan yang tak tertahankan untuk
melakukan perbuatan ritual, berulang, dan tidak bermakna.1

2.

Klasifikasi Neurosis

Kelainan jiwa yang disebut neurosis ditandai dengan bermacam-macam gejala.


Dan berdasarkan gejala yang paling menonjol, sebutan atau nama untuk jenis
neurosis diberikan. Dengan demikian pada setiap jenis neurosis terdapat ciri-ciri
dari jenis neurosis yang lain, bahkan kadang-kadang ada pasien yang
menunjukkan begitu banyak gejala sehingga gangguan jiwa yang dideritanya
sukar untuk dimasukkan pada jenis neurosis tertentu (W.F. Maramis, 1980 : 258).
a.

Berdasarkan DSM-IV

Istilah neurosis tidak digunakan dalam DSM-IV dan tidak ada kelas diagnostik
keseluruhan yang disebut neurosis, tetapi banyak klinisi yang menganggap
kategori diagnostik berikut ini sebagai neurosis : gangguan panik dengan atau
tanpa agorafobia, agorafobia tanpa riwayat gangguan panik, fobia spesifik dan
sosial, gangguan obsesif kompulsif, gangguan stres pasca trauma, gangguan stres
akut, gangguan ansietas menyeluruh, gangguan ansietas akibat keadaan medis
umum, gangguan ansietas yang diinduksi zat, dan gangguan ansietas yang tidak
tergolongkan.2
b. Berdasarkan PPDGJ III
Berdasarkan PPDGJ III Neurosis terdiri dari3:
F40F48 Gangguan Neurotik, Gangguan Somatoform Dan Gangguan Yang
Berkaitan Dengan Stres
F40 Gangguan Anxietas Fobik
F40.0 Agorafobia
.00 Tanpa gangguan panik
.01 Dengan gangguan panik
F40.1 Fobia sosial
F40.2 Fobia khas (terisolasi)
F40.8 Gangguan anxietas fobik lainnya
F40.9 Gangguan anxietas fobik YTT
F41 Gangguan Anxietas Lainnya
F41.0 Gangguan panik (anxietas paroksismal episodik)
F41.1 Gangguan anxietas menyeluruh

F41.2 Gangguan campuran anxietas dan depresif


F41.3 Gangguan anxietas campuran lainnya
F41.8 Gangguan anxietas lainnya YDT
F41.9 Gangguan anxietas YTT
F42 Gangguan Obsesif-Kompulsif
F42.0 Predominan pikiran obsesional atau pengulangan
F42.1 Predominan tindakan kompulsif (obsesional ritual)
F42.2 Campuran tindakan dan pikiran obsesional
F42.8 Gangguan obsesif kompulsif lainnya
F42.9 Gangguan obsesif kompulsif YTT
F43 Reaksi Terhadap Stres Berat dan Gangguan Penyesuaian (F43.0-F43.9)
F44 Gangguan Disosiatif (Konversi) (F44.0-F44.9)
F45 Gangguan Somatoform (F45.0-F45.9)
F48 Gangguan Neurotik Lainnya (F48.0-F48.9)
2.1.

Gangguan Anxietas Fobik

Anxietas dicetuskan hanya atau secara predominan oleh adanya situasi atau objek
yang jelas, tertentu (dari luar individu itu sendiri), yang sebenarnya secara umum
tidak berbahaya. Akibatnya situasi atau objek demikian secara khusus dihindari
atau dihadapi dengan perasaan yang terancam. Pada anxietas timbul gejala-gejala
individual seperti palpitasi, perasaan mau pingsan, dan sering kali disertai dengan
perasaan takut mati, takut kehilangan kendali atau takut menjadi gila. Anxietas
tersebut tidak berkurang meskipun ia mengetahui bahwa orang lain tidak
menganggap situasi yang dihadapi tersebut berbahaya atau mengancam.
Membayangkan menghadapi situasi fobik itu saja umumnya sudah dapat
menimbulkan anxietas sebelumnya.

2.1.1. Fobia
a.

Definisi Fobia

Fobia adalah suatu ketakutan yang tidak rasional yang menyebabkan


penghindaran yang disadari terhadap objek, aktivitas, atau situasi yang ditakuti. 2
Berasal dari bahasa Yunani yaitu Fobos yang berarti ketakutan.
b.

Klasifikasi Fobia

Fobia merupakan suatu gangguan jiwa yang merupakan salah satu tipe dari
gangguan anxietas dan dibedakan dalam tiga jenis menurut jenis objek atau situasi
ketakutan yaitu agorafobia, fobia spesifik, dan fobia sosial. 2
Agorafobia adalah ketakutan terhadap ruang terbuka, orang banyak serta adanya
kesulitan untuk segera menyingkir ke tempat aman. Fobia spesifik adalah suatu
rasa takut yang kuat dan persisten pada suatu objek atau situasi. Fobia sosial
adalah rasa takut yang kuat dan persisten dimana dapat timbul rasa malu.2
i.

Agorafobia

Pasien dengan agorafobia menghindari situasi disaat sulit untuk mendapatkan


bantuan. Lebih suka ditemani kawan atau anggota keluarga ditempat tertentu,
seperti jalan yang ramai, toko yang padat, ruang tertutup, kendaraan tertutup.
Mereka menghendaki ditemani setiap kali harus keluar rumah. Sebagian dari
penderita gangguan fobik menjadi terpaku dirumah, ketakutan dengan bayangan
akan pingsan dan ditinggalkan tak berdaya ditengah orang banyak. Kebanyakan
penderita adalah wanita dan onset biasanya pada dewasa muda. Gejala depresif,
obsesi, dan fobia sosial mungkin juga menyertai keadaan tersebut. Tanpa
pengobatan yang efektif agorafobia seringkali menjadi kronis, meskipun biasanya
berfluktuasi.
Fobia ditandai dengan timbulnya anxietas berat jika pasien terpapar dengan situasi
atau objek spesifik atau jika mengantisipasi akan terpapar dengan situasi atau
objek. Pemaparan atau mengantisipasi dengan stimulus fobik sering menimbulkan
serangan panik pada orang yang rentan terhadap serangan panik. Orang dengan
fobia berusaha untuk menghindari stimulus fobik.

Pasien agorafobia secara kaku menghindari situasi dimana akan sulit untuk
mendapatkan bantuan. Mereka lebih suka disertai oleh seorang teman atau
anggota keluarga di tempat-tempat tertentu seperti jalanan yang sibuk, toko yang
padat, ruang yang tertutup ( seperti di terowongan, jembatan, dan elevator), dan
kendaraan tertutup (seperti kereta bawah tanah, bus, dan pesawat udara).2
ii.

Fobia Spesifik

Pada fobia spesifik, ketakutan yang jelas dan menetap dan tak beralasan terbatas
pada objek atau situasi yang spesifik dan terbagi dalam tipe hewan, lingkungan
alam, darah, injeksi, luka, dan situasional. Fobia yang terbatas pada situasi yang
sangat spesifik seperti bila berdekatan dengan binatang tertentu, tempat tinggi,
kegelapan, naik pesawat, buang hajat di tempat umum, takut melihat darah atau
luka, dan takut berhubungan dengan penyakit tertentu.
-

Epidemiologi
Fobia spesifik adalah gangguan mental yang paling sering pada wanita dan
nomor dua tersering pada laki-laki, hanya setelah gangguan berhubungan
dengan zat. Objek dan situasi yang ditakuti pada fobia spesifik (dituliskan
dalam frekuensi menurun) adalah binatang, badai, ketinggian, penyakit,
cedera, dan kematian.2

Etiologi
Perkembangan fobia spesifik dapat disebabkan dari pemasangan (pairing)
objek atau situasi tertentu dengan emosi ketakutan dan panik. Faktor genetika
juga menjadi etiologi pada fobia spesifik, fobia spesifik cenderung berada di
dalam

keluarga.

Tipe

darah,

injeksi,

cedera

cenderung

memiliki

kecenderungan keluarga yang tinggi.


iii.

Fobia sosial

Fobia sosial juga disebut gangguan kecemasan sosial, ditandai oleh ketakutan
yang berlebihan terhadap penghinaan dan rasa memalukan di dalam berbagai
lingkungan sosial, seperti berbicara di depan publik, miksi di kamar kecil publik
(disebut shy bladder), dan menjanjikan kencan.2

Pada fobia sosial, adanya ketakutan terhadap situasi sosial atau tampil didepan
orang orang yang belum dikenal atau situasi yang memungkinkan ia dinilai oleh
orang lain atau menjadi pusat perhatian, merasa takut bahwa ia akan berperilaku
memalukan atau menampakkan gejala anxietas atau bersikap yang dapat
merendahkan dirinya.3
Sering kali mulai pada usia remaja dan terpusat pada rasa takut diperhatikan oleh
orang lain, yang menjurus kepada penghindaran terhadap situasi sosial. Fobia
sosial frekuensinya sama pada laki-laki dan wanita.
Gambarannya dapat sangat jelas (misalnya, hanya terbatas pada makan di tempat
umum, atau berbicara di depan umum, atau menghadapi jenis kelamin lain), atau
dapat pula kabur, yang mencakup hampir semua situasi sosial di luar lingkungan
keluarga. Fobia sosial biasanya disertai dengan harga diri yang rendah dan takut
akan kritikan. Dapat juga tercetus sebagai keluhan malu (muka merah), tangan
gemetar, mual, ingin buang air kecil, dan kadang-kadang individu bersangkutan
merasa yakin bahwa salah satu dari manifestasi gejala fobia sosial ini merupakan
masalah utamanya (dalam hal ini, gejalanya dapat berkembang menjadi serangan
panik). Kecenderungan menghindar sering kali tampak jelas dan dalam keadaaan
ekstrim dapat menjurus ke isolasi sosial yang total.3
-

Epidemiologi
Dalam penelitian epidemiologis, wanita lebih sering terkena daripada lakilaki, tetapi pada sampel klinis seringkali terjadi hal yang sebaliknya. Onset
usia puncak untuk fobia sosial adalah pada usia belasan tahun, walaupun onset
sering kali paling muda pada usia 5 tahun dan paling lanjut pada usia 35
tahun.2

Etiologi
Data dengan dasar psikologis yang menyatakan bahwa orang tua dari orang
dengan fobia sosial, sebagai suatu kelompok adalah , kurang mengasuh, lebih
menolak, dan lebih overprotektif pada anak-anaknya dibandingkan orang tua
lain.2

Faktor neurokimiawi ; yaitu pasien dengan fobia kinerja mungkin melepaskan


lebih banyak norepinefrin dan epinefrin, baik di sentral maupun perifer,
dibandingkan orang nonfobik, atau pasien tersebut mungkin peka terhadap
stimulasi adrenergik tingkat yang normal.2
Faktor genetika, sanak saudara derajat pertama orang dengan fobia sosial
adalah kira-kira tiga kali lebih mungkin menderita fobia sosial dibandingkan
sanak saudara derajat pertama orang tanpa gangguan mental.
c.

Diagnosis dan Kriteria Diagnostik Fobia

Diagnosis dibuat berdasarkan wawancara psikiatrik, yang meliputi hal-hal seperti


keluhan, sejarah pasien, dan susunan keluarga yang lengkap, termasuk anggota
keluarga dengan fobia. Juga tentang pengalaman atau trauma yang memicu fobia.
Penting juga diketahui dampak fobia terhadap kehidupan sehari-hari, pekerjaan,
dan hubungan dengan orang-orang terdekat. Masalah tentang depresi dan
penyalahgunaan zat yang sering

menjadi komorbiditas fobia jangan lupa

ditanyakan.
Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III (PPDGJ)
i.

Agorafobia

Semua kriteria ini harus dipenuhi untuk :


a. Gejala psikologis/otonomik yang timbul harus merupakan manifestasi
primer dari anxietas dan bukan merupakan gejala lain yang sekunder
seperti waham atau pikiran obsesif.
b. Anxietas yang timbul harus terutama terjadi dalam sekurang-kurangnya
dua dari situasi berikut :
Banyak orang
Tempat-tempat umum
Bepergian keluar rumah
Bepergian sendiri
c. Menghindari situasi fobik harus/sudah merupakan gambaran yang
ii.

menonjol
Fobia spesifik

Semua kriteria yang dibawah ini untuk diagnosis :

a. Gejala psikologis atau otonomik harus merupakan manifestasi primer


dari anxietas, dan bukan sekunder dari gejala-gejala lain seperti waham
atau pikiran obsesif.
b. Anxietas harus terbatas pada adanya objek situasi fobik tertentu.
c. Situasi fobik tersebut sedapat mungkin dihindarinya.
iii.

Fobia Sosial

Semua kriteria di bawah ini harus dipenuhi untuk suatu diagnosis pasti:
Gejala-gejala psikologis, perilaku/otonomik harus merupakan
manifestasi primer dari anxietas dan bukan sekundari gejala lain
seperti waham / pikiran obsesif
Anxietas harus hanya terbatas / menonjol pada situasi sosial tertentu
saja
Penghindaran dari situasi fobik harus merupakan gambaran yang
menonjol
d.
Penatalaksanaan Fobia
Secara umum terapi Fobia meliputi:
i.
Terapi Psikologik.
1. Terapi perilaku: merupakan terapi yang paling efektif dan sering
diteliti. Seperti desensitisasi sistematik yang sering dilakukan; terapi
pemaparan (exposure), imaginal exposure, participent modelling,
guided mastery, imaginal flooding.
2. Psikoterapi berorientasi tilikan.
3. Terapi lain: hypnotherapy, psikoterapi suportif, terapi keluarga bila
diperlukan.
ii.

Farmakoterapi
Terapi agorafobia sama seperti gangguan panik, terdiri dari obat anti
anxietas, antidepresan, dan psikoterapi khususnya terapi kognitif perilaku.
Terapi terhadap fobia spesifik yang terutama adalah terapi perilaku yaitu
terapi pemaparan (Exposure therapy). Juga diajarkan menghadapi
kecemasan dengan teknik relaksasi, mengontrol pernapasan, dan
pendekatan kognitif. Penggunaan anti anxietas yaitu untuk terapi jangka
pendek.

Terapi terhadap fobia sosial terbatas, dapat menggunakan obat -bloker


,anti anxietas, anti depresan serta terapi kognitif perilaku secara individual
dan kelompok.
Beberapa penelitian yang terkontrol dengan baik telah menemukan bahwa
inhibitor monoamine oksidase, khususnya phenelzine (Nardil), adalah
efektif dalam mengobati fobia sosial tipe umum. Obat lain yang telah
dilaporkan efektif, walaupun tidak banyak uji coba terkontrol baik adalah
alprazolam, clonazepam, dan kemungkinan inhibitor ambilan kembali
serotonin. Dosis untuk obat tersebut adalah sama dengan yang digunakan
pada gangguan depresif, dan respon biasanya memerlukan waktu empat
sampai enam minggu.2
2.2.

Gangguan Anxietas Lainnya

Manifestasi dari anxietas merupakan gejala utama dari gangguan ini dan tidak
terbatas pada situasi lingkungan tertentu saja. Dapat disertai gejala depresif dan
obsesif, bahkan juga beberapa unsur dari anxietas fobik yang bersifat sekunder
atau ringan (tidak begitu parah).
2.2.1. Gangguan Panik
a.

Definisi Gangguan Panik

=[Gangguan panik adalah ditandai dengan terjadinya serangan panik yang


spontan dan tidak diperkirakan. Serangan panik adalah periode kecemasan atau
ketakutan yang kuat dan relatif singkat (biasanya kurang dari 1 tahun), yang
disertai oleh gejala somatik tertentu seperti palpitasi dan takipnea.2
Panik adalah adanya serangan anxietas berat (panik) yang berulang, yang tidak
terbatas pada adanya situasi tertentu atau pun suatu rangkaian kejadian, dan
karena itu tidak terduga. Gejala yang dominan bervariasi pada masing-masing
orang, tetapi onset mendadak dalam bentuk palpitasi, nyeri dada, perasaan
tercekik, pusing kepala, dan perasaan yang tidak riil (depersonalisasi atau
derealisasi), merupakan gejala yang lazim. Secara sekunder timbul rasa takut mati,
kehilangan kendali atau menjadi gila.
b.

Epidemiologi

Wanita adalah dua sampai tiga kali lebih sering terkena daripada laki-laki.
Gangguan paling sering berkembang pada dewasa muda, usia rata-rata timbulnya
kira-kira 25 tahun.2
c.

Etiologi

Faktor Biologis

Gejala gangguan panik dapat disebabkan oleh berbagai kelainan biologis di dalam
struktur otak dan fungsi otak. Sistem saraf otonom pada beberapa pasien telah
dilaporkan menunjukkan peningkatan tonus simpatetik, beradaptasi secara lambat
terhadap stimuli yang berulang, dan berespons secara berlebihan terhadap stimuli
sedang.
-

Faktor Genetika

Berbagai penelitian telah menemukan adanya peningkatan resiko gangguan panic


sebesar empat sampai delapan kali lipat pada sanak saudara derajat pertama dari
pasien dengan gangguan psikiatri lainnya.
-

Faktor Psikososial

Teori psikoanalitik memandang serangan panic sebagai akibat dari pertahanan


yang tidak berhasil dalam melawan impuls yang menyebabkan kecemasan.
d.

Tanda dan Gejala Panik

Gangguan panik terutama ditandai dengan serangan panik yang berulang.


Serangan panik terjadi secara spontan dan tidak terduga, disertai gejala otonomik
yang kuat, terutama sistem kardiovaskular dan sistem pernapasan. Serangan sering
dimulai selama 10 menit, gejala meningkat secara cepat. Kondisi cemas pada
gangguan panik biasanya terjadi secara tiba-tiba, dapat meningkat hingga sangat
tinggi disertai gejala-gejala yang mirip gangguan jantung, yaitu rasa nyeri di dada,
berdebar-debar, keringat dingin, hingga merasa seperti tercekik.
Gangguan mental yang dirasakan adalah rasa takut yang hebat dan ancaman
kematian atau bencana. Pasien merasa bingung dan sulit berkonsentrasi. Tanda
fisik yang menyertai adalah takikardi, palpitasi, dispneu, dan berkeringat.
Penderita akan segera berusaha keluar dari situasi tersebut dan mencari

10

pertolongan. Serangan dapat berlangsung selama 20-30 menit, jarang sampai lebih
dari satu jam.1
Pemeriksaan statys mental formal selama suatu serangan panic dapat
mengungkapkan perenungan (rumination), kesulitan berbicara (misalnya,
kegagapan), dan gangguan daya ingat. Pasien mungkin mengalami depresi atau
depersonalisasi selama serangan. Gejala mungkin menghilang dengan cepat atau
secara bertahap. Antara serangan, pasien mungkin memiliki kecemasan yang lebih
dahulu tentang mengalami serangan lain.2
e.

Diagnosis dan Kriteria Diagnostik

Terjadinya beberapa serangan berat anxietas otonomik, yang terjadi dalam periode
kira-kira satu bulan:
a) Pada keadaan-keadaan dimana sebenarnya secara objektif tidak berbahaya;
b) Tidak terbatas hanya pada situasi yang telah diketahui atau yang dapat
diduga sebelumnya;
c) Dengan keadaan yang relatif bebas dari gejala anxietas dalam periode
antara serangan-serangan panik.
f.

Penatalaksanaan

Terdiri dari pemberian farmakaterapi dan psikoterapi.


i. Farmakoterapi:
Terapi farmakologik terdiri atas:
-

Obat trisiklik dan tetrasiklik


Clomipramine dan imipramine adalah efektif dalam pengobatan
gangguan panik. Tetapi pengalaman klinis menyatakan bahwa
clomipramine dan imipramine harus dimulai pada dosis rendah, 10 mg
sehari dan dititrasi perlahan-lahan pada awalnya dengan 10 mg sehari
tiap dua sampai tiga hari, selanjutnya lebih cepat, denga 25 mg sehari
tiap dua sampai tiga hari, jika dosis rendah ditoleransi dengan baik.

Inhibitor monoamine oksidase


Sebagian besar penelitian telah menggunakan phenelzine (Nardil)
walaupun beberapa penelitian telah menggunakan tranylcypromine

11

(Parnate). Beberapa penelitian telah menyatakan bahwa MAOIs adalah


lebih efektif dibandingkan obat trisiklik. Dosis MAOIs harus mencapai
dosis yang digunakan untuk pengobatan depresi, dan uji coba terapetik
harus berlangsung 8 sampai 12 minggu.
-

Inhibitor ambilan kembali spesifik serotonin (SSRIs)


Titrasi

lambat

untuk

fluoxetine

adalah

dimungkinkan

dengan

melarutkan satu kapsul di dalam air atau jus buah atau dengan larutan
fluoxetine yang tersedia. Dosis awal dapat serendah 2 atau 4 mg sehari
dan harus dinaikkan 2 mg sampai 4 mg interval sehari tiap dua sampai
empat hari. Tujuannya adalah mencapai dosis terapeutik penuh pada
sekurangnya 20 mg sehari.
-

Benzodiazepine
Pemakaian benzodiazepine dalam pengobatan gangguan panik adalah
terbatas karena permasalahan tentang ketergantungan, gangguan
kognitif, dan penyalahgunaan. Pada beberapa pasien klinisi dapat
memulai pengobatan dengan suatu benzodiazepine, mentitrasi obat lain
(sebagai contoh, clomipramine), dan selanjutnya menghentikan
perlahan-lahan selama 4 sampai 10 minggu benzodiazepine setelah 8
sampai 12 minggu.

ii.
-

Psikoterapi2:
Terapi relaksasi
Prinsipnya adalah melatih pernapasan (menarik nafas dalam dan lambat,
lalu mengeluarkannya dengan lambat pula), mengendurkan seluruh otot
tubuh dan mensugesti pikiran ke arah konstruksi atau yang diinginkan
akan dicapai. Biasanya dilakukan 20-30 menit atau lebih lama lagi.

Terapi kognitif perilaku


Pasien diajak untuk bersama-sama membentuk pola perilaku dan pikiran
yang irasional dan menggantinya dengan yang lebih rasional. Biasanya
berlangsung 30-45 menit. Pasien kemudian diberi pekerjaan rumah yang

12

harus dibuat setiap hari, antara lain membuat daftar pengalaman harian
-

dalam menyikapi berbagai peristiwa yang dialami.


Pemaparan in vivo
Teknik melibatkan pemaparan yang semakin besar terhadap stimulus
yang ditakuti; dengan berjalannya waktu, pasien mengalami desensitisasi

terhadap pengalaman.
Psikoterapi dinamik
Pasien diajak untuk lebih memahami diri dan kepribadiannya. Pada
psikoterapi ini, biasanya pasien lebih banyak berbicara sedangkan dokter
lebih banyak mendengar. Terapi ini memerlukan waktu panjang, dapat
berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Hal ini tentu memerlukan
kerjasama yang baik antara pasien dengan dokternya serta kesabaran
pada kedua belah pihak.

2.2.2. Gangguan Cemas Menyeluruh


a.

Definisi Gangguan Cemas

Cemas didefinisikan sebagai suatu perasaan yang difus, tidak menyenangkan,


yang umumnya disertai gejala otonom seperti nyeri kepala, berkeringat, palpitasi,
rasa sesak di dada, tidak nyaman pada perut, dan gelisah. Cemas merupakan suatu
sinyal sensor terhadap suatu keadaan yang tidak menguntungkan, yang
memungkinkan seseorang bertindak antisipatif terhadap keadaan tersebut.
b.

Tanda dan Gejala Klinis Gangguan Cemas Menyeluruh

Gejala utama adalah anxietas, ketegangan motorik, hiperaktivitas otonom, dan


kewaspadaan secara kognitif. Kecemasan bersifat berlebihan dan mempengaruhi
aspek kehidupan pasien. Ketegangan motorik bermanifestasi sebagai bergetar,
kelelahan dan sakit kepala. Hiperaktivitas otonom timbul dalam bentuk
pernapasan yang pendek, berkeringat, palpitasi, dan disertai gejala saluran
pencernaan. Terdapat juga kewaspadaan kognitif dalam bentuk iritabilitas.
Pasien GAD biasanya datang ke dokter umum karena keluhan somatik atau datang
ke dokter spesialis karena gejala spesifik seperti diare kronik. Pasien biasanya
memperlihatkan perilaku mencari perhatian.3
c.

Pedoman Diagnostik Gangguan Cemas Menyeluruh


13

Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III (PPDGJ


III)
Penderita harus menunjukkan gejala primer anxietas yang berlangsung hampir
setiap hari selama beberapa minggu, bahkan biasanya sampai beberapa bulan.
Gejala-gejala ini biasanya mencakup hal-hal berikut :
a) Kecemasan tentang masa depan (khawatir akan nasib buruk, perasaan
gelisah seperti di ujung tanduk, sulit berkonsentrasi, dan sebagainya) ;
b) Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak dapat santai) ;
c) Overaktivitas otonomik (kepala terasa ringan, berkeringat, takikardi,
takipneu, keluhan epigastrik, pusing kepala, mulut kering, dan
sebagainya).3
d.

Penatalaksanaan Gangguan Cemas Menyeluruh


i)

Farmakoterapi

Benzodiazepin

Merupakan pilihan obat pertama. Pemberian benzodiazepin dimulai


dengan dosis terendah dan ditingkatkan sampai mencapai respon terapi,
Penggunaan sediaan dengan waktu paruh menengah dan dosis terbagi
dapat mencegah terjadinya efek yang tidak diinginkan. Lama pengobatan
rata-rata adalah 2-6 minggu.
-

Buspiron

Buspiron lebih efektif dalam memperbaiki gejala kognitif dibanding


dengan gejala somatik. Tidak menyebabkan withdrawal. Kekurangannya
adalah efek klinisnya baru terasa setelah 2-3 minggu. Terdapat bukti
bahwa penderita yang sudah menggunakan benzodiazepin tidak akan
memberikan respon yang baik dengan buspiron.
-

SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor)

Sertraline dan paroxetine merupakan pilihan yang lebih baik daripada


fluoksetin. Pemberian fluoksetin dapat meningkatkan anxietas sesaat.
SSRI efektif terutama pada pasien gangguan anxietas menyeluruh dengan
riwayat depresi.

14

ii)

Psikoterapi

- Terapi Kognitif Perilaku


Pendekatan kognitif mengajak pasien secara langsung mengenali distorsi
kognitif dan pendekatan perilaku, mengenali gejala somatik, secara
langsung. Teknik utama yang digunakan adalah pada pendekatan behavioral
adalah relaksasi dan biofeedback.
-

Terapi Suportif
Pasien diberikan reassurance dan kenyamanan, digali potensi-potensi yang
ada dan belum tampak, didukung egonya, agar lebih bisa beradaptasi
optimal dalam fungsi sosial dan pekerjaannya.
- Psikoterapi Berorientasi Tilikan
Terapi ini mengajak pasien untuk mencapai penyingkapan konflik bawah
sadar, menilik egostrength, relasi obyek, serta keutuhan diri pasien. Dari
pemahaman akan komponen-komponen tersebut, kita sebagai terapis dapat
memperkirakan sejauh mana pasien dapat diubah menjadi lebih matur; bila
tidak tercapai, minimal kita memfasilitasi agar pasien dapat beradaptasi
dalam fungsi sosial dan pekerjaannya.

2.2.3. Gangguan Campuran Anxietas dan Depresif


Digunakan bilamana terdapat gejala anxietas maupun depresif, dimana masingmasing tidak menunjukkan rangkaian gejala yang cukup berat untuk menegakkan
diagnosis tersendiri. Bila ditemukan anxietas berat disertai depresi yang lebih
ringan, maka salah satu dari kategori yang lain untuk gangguan anxietas atau
gangguan fobik harus digunakan. Apabila ditemukan sindrom depresi dan anxietas
yang cukup berat untuk menegakkan masing-masing diagnosis, maka kedua
diagnosis tersebut harus dikemukakan dan diagnosis gangguan campuran ini tidak
boleh dipakai. Namun, karena alasan praktis, hanya dapat dikemukakan satu
diagnosis saja, maka gangguan depresif harus diutamakan.
Beberapa gejala otonomik (tremor, palpitasi, mulut kering, sakit perut, dsb) harus
ditemukan, meskipun tidak terus-menerus; apabila hanya kecemasan berlebihan
saja yang ditemukan tanpa adanya gejala otonomik, maka kategori ini tidak dapat
dipergunakan.3

15

Termasuk: depresi anxietas (ringan atau tak menetap)


2.2.4. Gangguan Anxietas Campuran Lainnya
Digunakan untuk gangguan yang memenuhi kriteria gangguan anxietas
menyeluruh (F41.1) dan yang juga menunjukkan (meskipun hanya dalam jangka
pendek) ciri-ciri yang menonjol dari gangguan lain dalam F40-F49 walaupun
kriteria yang lengkap untuk gangguan tambahan ini tidak dipenuhi.
2.2.5. Gangguan Obsesif Kompulsif
a.

Definisi Gangguan Obsesif Kompulsif

Gangguan Obsesi-kompulsif digambarkan sebagai pikiran dan tindakan yang


berulang yang menghabiskan waktu atau menyebabkan distress dan hendaya yang
bermakna.2
Obsesi adalah aktivitas pikiran, perasaan, ide, atau sensasi yang mengganggu
(intrusif). Kompulsi adalah pola perilaku tertentu yang berulang dan disadari,
dibakukan, dan rekuren, seperti menghitung, memeriksa dan menghindar.
b.

Epidemiologi

Untuk orang dewasa, laki-laki dan wanita sama mungkin terkena; tetapi, untuk
remaja, laki-laki lebih sering terkena gangguan obsesif-kompulsif dibandingkan
perempuan. Usia onset rata-rata adalah kira-kira 20 tahun, walaupun laki-laki
memiliki onset usia yang agak lebih awal dibandingkan wanita.2
c.

Etiologi

Faktor Biologis
Neurotransmitter;

suatu

disregulasi

serotonin

adalah

terlibat

di

dalam

pembentukan gejala obsesi dan kompulsi dari gangguan.


Penelitian pencitraan otak; Tomografi emisi positron telah menemukan
peningkatan aktivitas (sebagai contoh, metabolisme dan aliran darah) di lobus
frontalis, ganglia basalis (khususnya kaudata), dan singulum pada pasien dengan
gangguan obsesif-kompulsif.
Genetika; Penelitian keluarga pada pasien gangguan obsesif-kompulsif telah
menemukan bahwa 35 persen sanak-saudara derajat pertama pasien gangguan
obsesif kompulsif juga menderita gangguan.

16

Faktor Perilaku
Kompulsi dicapai dengan cara yang berbeda. Seseorang menemukan bahwa
tindakan tertentu menurunkan kecemasan yang berkaitan dengan pikiran
obsesional. Jadi, strategi menghindar yang aktif dalam bentuk perilaku kompulsi
atau ritualistic dikembangkan untuk mengendalikan kecemasan.
Faktor Psikososial
Yaitu terdiri dari faktor kepribadian dan psikodinamika.
Faktor kpribadian; sebagian besar pasien gangguan obsesif konpulsif tidak
memiliki gejala konpulsif pramorbid; dengan demikian, sifat kepribadian tersebut
tidak diperlukan atau tidak cukup untuk perkembangan gangguan obsesifkonpulsif. Hanya kira-kira 15-35% pasien gangguan obsesif-konpulsif memiliki
sifat obsesional pramorbid.2
Faktor psikodinamik; Sigmund Freud menjelaskan 3 mekanisme pertahanan
psikologis utama yang menentukan bentuk dan kualitas gejala dan sifat karakter
obsesif-konpulsif; isolasi, meruntuhkan (undoing) dan pembentukan reaksi.2
Isolasi ; mekanisme pertahanan yang melindungi seseorang dari afek dan impuls
yang mecetuskan kecemasan. Jika terjadinya isolasi, afek dan impuls yang
didapatkan adalah dipisahkan dari komponen ideasional dan dikeluarkan dari
kesadaran. Jika isolasi terjadi sepenuhnya, impuls dan afeks yang

terkait

seluruhnya terepresi, dan pasien secara sadar hanya menyadari gagasan yang tidak
memiliki afek yang berhubungan dengannya.2
Meruntuhkan (undoing); suatu tindakan konpulsif yang dilakukan dalam usaha
untuk mencegah atau meruntuhkan akibat yang secara irasional akan dialami
pasien akibat pikiran atau impulse obsesional yang menakutkan.
Pembentukan reaksi; menyebabkan pembentukan sifat karakter, bukannya gejala.
Pembentukan reaksi melibatkan pola prilaku yang bermanifestasi dan sikap yang
secara sadar dialami yang jelas berlawanan dengan impuls dasar. Sering kali pola
yang terlihat oleh pengamatan adalah sangat dilebih-lebihkan dan tidak sesuai.

17

Faktor psikodinamika lainnya; jika pasien dengan obsesif-konpulsif merasa


ternacam oleh kecemasan tentang pembalasan dendam atau kehilangan objek cinta
yang penting, mereka mundur dari posisi oedipaldan beregresi ke stadium
emosional yang sangat ambivalen yang berhubungan dengan fase anal.
Ambivalensi adalah dihubungkan dengan menyelesaikan fusi yang halus antara
dorongan seksual dan agresif yang karakteristik dari fase oedipal. Adanya benci
dan cinta secara bersama-sama kepada orang yang sama menyebabkan pasien
dilumpuhkan oleh keragu-raguan dan kebimbangan.
Satu ciri yang melekat pada pasien dengan gangguan obsesif-konpulsif adalah
derajat di mana mereka terpaku dengan agresi dan kebersihan, baik secara jelas
dalam isi gejala mereka atau dalam hubungan yang terletak dibelakangnya.
d.

Gambaran Klinis Gangguan Obsesif Kompulsif

Pada umumnya obsesi dan kompulsif mempunyai gambaran tertentu seperti :


-

Adanya ide atau impuls yang terus-menerus menekan ke dalam kesadaran

individu.
Perasaan cemas/takut akan ide atau impuls yang aneh
Obsesi dan kompulsi yang egoalien
Pasien mengenali obsesi dan kompulsif merupakan sesuatu yang abstrak dan

irasional
Individu yang menderita obsesi kompulsif merasa adanya keinginan kuat
untuk melawan

Ada 4 pola gejala utama gangguan obsesi kompulsif yaitu :


1. Kontaminasi; pola yang paling sering terjadi yang diikuti oleh perilaku
mencuci dan menghindari obyek yang dicurigai terkontaminasi
2. Sikap ragu-ragu yang patologik; obsesi tentang ragu-ragu yang diikuti
dengan perilaku kompulsi mengecek/memeriksa. Tema obsesi tentang
situasi berbahaya atau kekerasan (seperti lupa mematikan kompor atau
tidak mengunci rumah).
3. Pikiran yang intrusif; pola yang jarang, pikiran yang intrusif tidak disertai
kompulsi, biasanya pikiran berulang tentang seksual atau tindakan agresif.

18

4. Simetri; obsesi yang temanya kebutuhan untuk simetri, ketepatan sehingga


bertindak lamban, misalnya makan memerlukan waktu berjam-jam, atau
mencukur kumis dan janggut.
Pola yang lain : obsesi bertema keagamaan, trichotilomania, dan menggigit-gigit
jari.
e.

Klasifikasi Obsesif Kompulsif

Predominan pikiran obsesional atau pengulangan (F42.0)

Dapat berupa gagasan, bayangan mental atau rongan untuk berbuat. Meskipun isi
pikiran tersebut berbeda-beda, tetapi umumnya hampir selalu menyebabkan
distress. Kadanga-kadang berupa pikiran yang sepele yang tidak ada habisnya
untuk dipertimbangkan. Ketidakmampuan mengambil keputusan atas berbagai
alternatif tersebut merupakan unsur penting dalam banyak penanggulangan
obsesional lainnya dan sering kali disertai ketidakmampuan untuk mengambil
keputusan mengenai hal-hal kecil tetapi perlu dalam kehidupan sehari-hari.
-

Predominan tindakan kompulsif (F42.1)

Mayoritas tindakan kompulsif berkaitan dengan kebersihan (khususnya mencuci


tangan), memeriksa berulang untuk meyakinkan bahwa situasi yang dianggapnya
berpotensi bahaya tidak dibiarkan terjadi, atau masalah kerapian dan keteraturan.
Perilaku ini dilandasi perasaan takut terhadap bahaya yang mengancam dirinya
atau yang bersumber dari dirinya, dan tindakan ritual yang dilakukan merupakan
ikhtiar simbolik untuk menghindari bahaya tersebut. Tindakan ritual kompulsif
tersebut bisa menyita banyak waktu sampai beberapa jam setiap hari dan kadang
disertai ketidakmampuan mengambil keputusan dan kelambanan yang mencolok.
Secara keseluruhan gejala-gejala tersebut di atas terjadi secara seimbang pada
laki-laki dan perempuan.
Tindakan ritual kompulsif lebih jarang disertai depresi dan lebih responsive
terhadap terapi perilaku.
-

Campuran tindakan dan pikiran obsesional (F42.2)

Kebanyakan dari pasien obsesi-kompulsif memperlihatkan unsur dari pikiran yang


obsesional maupun tindakan yang kompulsif. Subkategori ini digunakan apabila

19

keduanya secara seimbang sama menonjol. Namun jika salah satu memang lebih
jelas dominan, sebaiknya dinyatakan dalam satu kategori yang spesifik, karena
pikiran dan tindakan dapat menunjukkan respon yang berbeda terhadap
pengobatan yang berbeda.
f.

Kriteria Diagnosis

Pedoman Diagnostik Gangguan Obsesif Kompulsif


Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III (PPDGJ III)
Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala-gejala obsesional dan tindakan
kompulsif, atau kedua-duanya, harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya dua
minggu berturut-turut, dan merupakan sumber distres dan gangguan aktivitas.
Gejala-gejala obsesional harus memiliki ciri-ciri berikut :
a) Harus dikenal/disadari sebagai pikiran atau impuls dari diri individu
sendiri;
b) Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang masih tidak berhasil
dilawan, meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilawan oleh penderita;
c) Pikiran untuk melaksanakan tindakan tersebut di atas bukan merupakan
hal yang memberi kepuasan atau kesenangan (sekadar perasaan lega dari
ketegangan atau anxietas tidak dianggap sebagai kesenangan seperti
dimaksud di atas);
d) Pikiran, bayangan, atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan
yang tidak menyenangkan.
Termasuk :

g.

Neurosis anankastik

Neurosis obsesional

Neurosis obsesif-kompulsif

Penatalaksaan Gangguan Obsesif Kompulsif

Obat-obatan yang umum digunakan pada gangguan obsesif-kompulsif berupa


SSRI sebagai terapi lini pertama contohnya fluoxetine, fluvoxamine, paroxetine,
sertraline, dan citalopram; antidepresan trisiklik seperti clomipramine yang
terbukti paling efektif dibandingkan dengan obat-obatan trisiklik lainnya. Obatobatan tersebut memiliki efek samping, SSRI memiliki efek samping berupa rasa
20

mual, gangguan tidur, nyeri kepala, dan rasa gelisah yang sifatnya transient
sehingga tidak terlalu mengganggu. Untuk pengobatan dengan clomipramine
perlu diperhatikan pemberian dosis awal, karena memiliki efek samping gangguan
sistem gastrointestinal, hipotensi ortostatik, dan efek antikolinergi serta sedasi
berat. Bila terapi dengan SSRI dan clomipramine tidak efektif, dapat diberikan
beberapa obat lain seperti valproat, litihium, atau carbamazepine. Venlafaxine,
pindolol, dan obat-obatan MAOI (phenelzine) juga dapat digunakan sebagai
tambahan.
Terapi perilaku pada seseorang dengan gangguan obsesif-kompulsif dapat berupa
exposure and response prevention dimana pasien dipanjankan dengan stimulusnya
namun diingatkan dan diawasi untuk menahan perasaan kompulsifnya.
Desensitisasi, thought stopping, dan thought flooding, merupakan terapi yang
dapat digunakan pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif.

Untuk

keberhasilan dari terapi perilaku, sebaiknya terapi ini digabungkan dengan obatobatan, psikoterapi, dan yang terutama memerlukan tingkat komitmen pasien
yang tinggi. Dalam proses terapi, diperlukan dukungan dari keluarga yang cukup
sehingga pasien dapat mempertahankan tingkat komitmennya terhadap terapi
yang dijalaninya. Dalam kondisi tertentu, terapi kelompok juga dapat membantu
seorang pasien dalam terapinya.
Pada kasus-kasus yang ekstrim, dapat dipertimbangkan terapi elektro-konvulsi
dan bedah psikis. Yang umumnya digunakan terkait dengan kasus gangguan
obsesif-kompulsif adalah cingulotomy yang sukses pada 25-30 % pasien. Selain
itu juga terdapat capsulotomy. Teknik bedah nonablasi dimana menanamkan
elektrode-elektrode pada nukleus-nukleus ganglia basal. Terapi-terapi ini
dilakukan dengan bantuan MRI. Komplikasi dari terapi bedah tersebut umumnya
adalah kejang, yang dapat diterapi dengan fenitoin.
h.

Prognosis

Suatu prognosis yang buruk dinyatakan oleh mengalah (bukannya menahan) pada
kompulsi, onset pada masa anak-anak, kompulsi yang aneh, perlu perawatan di
rumah sakit, gangguan depresif berat yang menyertai, kepercayaan waham,
adanya gagasan yang terlalu dipegang, dan adanya gangguan kepribadian.

21

Prognosis yang baik ditandai oleh penyesuaian sosial dan pekerjaan yang baik,
adanya peristiwa pencetus, dan suatu sifat gejala yang episodik. Isi obsesional
tampaknya tidak berhubungan dengan prognosis.2
2.3.

Gangguan Neurotik Lainnya:

a.

Neurastenia
Terdapat dua tipe utama:
1. Tipe Pertama: Keluhan utamanya adalah kelelahan setelah suatu
kegiatan mental yang sering kali disertai menurunnya prestasi kerja
serta menurunnya efisiensi tugas sehari-hari. Kelelahan mental
digambarkan sebagai adanya pikiran-pikiran yang mengganggu atau
ingatan-ingatan yang tidak menyenangkan, sulit konsentrasi dan tidak
efisien dalam berpikir.
2. Tipe Kedua: Keluhan utamanya ditekankan pada kelemahan fisik atau
badaniah dan kelelahan hanya karena kegiatan ringan saja, disertai
perasaan nyeri dan sakit otot-otot dan tidak mampu untuk bersantai
(relax).
Pada kedua tipe tersebut, sering ditemukan juga berbagai keluhan fisik
seperti pusing kepala, sakit kepala karena ketegangan, dan perasaan tidak
mantap. Juga sering ditemukan kekhawatiran akan menurunnya kesehatan
badan maupun mental, gampang tersinggung, tidak ada semangat, dan
berbagai keluhan depresi dan anxietas ringan. Tidur biasanya terganggu
pada fase awal dan fase pertengahan masa tidur.
Pedoman Diagnostik:
a. Adanya keluhan-keluhan yang menetap dan mengganggu berupa
meningkatnya rasa lelah setelah suatu kegiatan mental, atau
keluhan yang juga menetap dan tak enak mengenai kelemahan
badaniah dan kehabisan tenaga hanya sesudah kegiatan ringan saja.
b. Paling sedikit ada dua dari hal-hal tersebut di bawah ini:

Perasaan sakit dan nyeri otot-otot

Pusing kepala

Nyeri kepala (tension headache)

22

c. Setiap gejala

Gangguan tidur
Tidak bisa bersantai
Mudah tersinggung
Dispepsia
otonomik atau pun depresif yang ada, tidak cukup

berat untuk dapat memenuhi kriteria salah satu dari gangguan yang
lebih khas di dalam klasifikasi ini.
Termasuk: sindrom kelelahan (fatigue syndrome)
b.

Sindrom Depersonalisasi-derealisasi
Pada gangguan ini penderita mengeluh bahwa aktivitas mentalnya, tubuh,
dan/atau lingkungannya menjadi berubah kualitasnya, sehingga menjadi
tidak nyata, asing atau menjadi seperti robot. Penderita merasa bahwa
mereka tidak lagi menguasai pikirannya sendiri; bahwa gerakan dan
perilaku mereka bukan dari dirinya sendiri; bahwa tubuhnya sudah tak
bernyawa, asing atau ada kelainan; dan bahwa lingkungannya kehilangan
warna dan tidak hidup lagi dan tampak semu, atau seperti panggung
dimana orang-orang hanya sebagai pemain sandiwara. Keluhan hilangnya
perasaan/emosi adalah yang paling sering dijumpai.
Pedoman Diagnostik Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa III (PPDGJ III):
a. Gejala depersonalisasi, yaitu individu merasa bahwa perasaannya
dan/atau pengalamannya terasa seperti terlepas dari dirinya, bukan
dari dirinya;
b. Gejala derealisasi, yaitu objek, orang dan/atau lingkungannya
menjadi seperti tidak nyata, semu, tanpa warna, tidak hidup;
c. Memahami bahwa hal tersebut merupakan perubahan spontan dan
subjektif, dan bukan disebabkan oleh kekuatan dari luar atau orang
lain;
d. Penginderaan tidak terganggu dan tidak ada keadaan kebingungan
toksik atau epilepsi.

23

BAB II
GANGGUAN SOMATOFORM
1.

Definisi Gangguan Somatoform

Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala


fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) dimana tidak dapat ditemukan
penjelasan medis yang adekuat. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius
untuk menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau
gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau
pekerjaan.2
Pada gangguan somatoform, orang memiliki simptom fisik yang mengingatkan
pada gangguan fisik, namun tidak ada abnormalitas organik yang dapat ditemukan

24

sebagai penyebabnya. Gangguan somatoform tidak disebabkan oleh pura-pura


yang disadari atau gangguan buatan.2
Gangguan ini mencakup pasien-pasien yang terutama menunjukkan keluhan
somatic yang tidak dapat dijelaskan dengan adanya gangguan depresif, anxietas,
atau penyakit medis. Ada dua gangguan yang termasuk dalam kelompok
gangguan somatoform: Pertama, yang gambaran utamanya adalah kekhawatiran
bahwa gejala yang ada merupakan bukti adanya penyakit (hipokondirasis) atau
deformitas (dismorfobia), dan yang kedua, yang gambaran utamanya adalah
kekhawatiran tentang gejala somatif itu sendiri (antara lain gangguan somatisasi,
disfungsi autonomic persisten, dan gangguan nyeri somatoform persisten)1
Ciri utama dari gangguan somatoform adalah adanya keluhan gejala fisik yang
berulang yang disertai dengan permintaan pemeriksaan medis, meskipun sudah
berkali-kali terbukti hasilnya negatif dan juga sudah dijelaskan oleh dokter bahwa
tidak ditemukan kelainan fisik yang menjadi dasar keluhannya. Seandainya ada
gangguan fisik, maka gangguan tersebut tidak menjelaskan gejala atau distress
dan preokupasi yang dikemukakan pasien. Pada gangguan ini seringkali terlihat
adanya perilaku mencari perhatian (histrionik) terutama pada pasien yang kesal
karena tidak berhasil membujuk dokternya untuk menerima bahwa keluhannya
adalah memang penyakit fisik dan bahwa perlu adanya pemeriksaan fisik lebih
lanjut.3
2.

Klasifikasi Gangguan Somatoform


Terdapat beberapa versi penggolongan gangguan somatoform.4
1. Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders,
fourth edition (DSM-IV) terdapat 7 gangguan di dalam kategori
gangguan somatisasi
a. Gangguan somatisasi (somatization disorder)
b. Gangguan somatisasi tidak terinci (undifferentiated somatoform
disorder)
c. Gangguan konversi (conversion disorder)

25

d. Gangguan nyeri (pain disorder)


e. Hipokondriasis (hypochondriasis)
f. Body Dysmorphic Disorder (BDD)
g. Gangguan somatoform yang tidak tergolongkan (somatoform
disorder not otherwise specified-NOS)
2. Menurut ICD-10/PPDGJ-III
a. Gangguan somatisasi (F.45.0)
b. Gangguan somatoform tidak terinci (F.45.1)
c. Gangguan hipokondrik (F 45.2)
d. Disfungsi otonomik somatoform (F 45.3)
e. Gangguan nyeri somatoform menetap (F 45.4)
f.

Gangguan somatoform lainnya (F. 45.8)

3. Perbandingan antara DSM-IV-TR dengan ICD-10


DSM IV-TR memasukkan gangguan konversi dan body dysmorphic disorder
dalam gangguan somatoform sedangkan ICD-10 tidak. Dalam ICD-10 gangguan
konversi dimasukkan ke dalam gangguan disosiatif, dan ICD-10 juga merincikan
yang disebut disfungsi otonomik somatoform dan gangguan somatofrom jenis
lainnya yang dalam DSM-IV gejala-gejalanya mirip dengan gangguan cemas dan
gangguan depresi. Dalam ICD-10, body dysmorphic disorder dimasukkan ke
dalam kelas hipokondriasis.2
3.

Diagnosis Gangguan Somatoform

Contoh Penulisan Diagnosis multiaksial:


Aksis I

: Gangguan somatoform, somatisasi

Aksis II : Tidak ada diagnosis aksis II

26

Aksis III : Tidak ada diagnosis aksis III


Aksis IV : Masalah dengan keluarga
Aksis V : GAF Scale 51-60: gejala sedang, disabilitas sedang3
3.1.

Gangguan Somatisasi (F45.0)

Gangguan somatisasi ditandai oleh banyak gejala somatic yang tidak dapat
dijelaskan secara adekuat berdasarkan pemeriksaan fisik dan laboratorium.
Gangguan somatisasi dibedakan dari gangguan somatoform lainnya karena
banyaknya keluhan dan melibatkan sistem organ yang multiple (sebagai contoh
gastrointestinal dan neurologis). Gangguan ini berlangsung kronis (dengan gejala
ditemukan selama beberapa tahun dan dimulai sebelum usia 30 tahun) dan disertai
dengan penderitaan psikologis yang bermakna, gangguan fungsi sosial dan
pekerjaan, dan perilaku mencari bantuan medis yang berlebihan.2
Diagnosis pasti memerlukan semua hal berikut:
a) Ada banyak keluhan-keluhan fisik yang bermacam-macam yang tidak
dapat dijelaskan atas dasar adanya kelainan fisik, yang sudah berlangsung
sedikitnya 2 tahun.
b) Tidak mau menerima nasehat atau penjelasan dari bebarapa dokter bahwa
tidak ada kelainan fisik yang dapat menjelaskan keluhannya.
c) Terdapat hendaya dalam taraf tertentu, dalam fungsinya dimasyarakat dan
keluarga, yang berkaitan dengan sifat keluha-keluhannya dan dampak dari
prilakunya
Termasuk:

Sindrom keluhan multiple


Gangguan psikosomatik multipel

Pada gejala yang kurang menonjol dan berlangsung singkat (kurang dari 2 tahun)
sebaiknya diklasifikasikan sebagai gangguan somatoform tak terinci (F45.1).
3.2.

Gangguan Somatoform Tak Terinci (F45.1)

Bilamana keluhan fisik bersifat multipel, bervariasi, dan menetap, akan tetapi
gambaran klinis yang khas dan lengkap dari gangguan somatisasi tidak terpenuhi,
sebaiknya digunakan kategori ini. Misalnya saja, cara mengemukakakn keluhankeluhan tidak dramatis dan tidak kuat, keluhan-keluhannya tidak terlalu banyak,

27

atau tidak ada gangguan pada fungsi sosial dan fungsi keluarganya. Kategori ini
kemungkinan ada atau tidak ada dasar fisik untuk keluhan-keluhannya yang
digunakan sebagai dasar diagnosis psikiatrik.3
Apabila masih tetap terdapat kemungkinan adanya gangguan fisik yang
melandasi, atau bila pemeriksaan psikiatrik belum lengkap pada saat pemberian
kode diagnosis, maka disarankan untuk menggunakan kategori lain yang lebih
relevan dalam bab-bab ICD 10.3
3.3.

Gangguan Hipokondrik (F45.2)

Ciri utama dari gangguan ini adalah adanya preokupasi yang menetap akan
kemungkinan menderita satu atau lebih gangguan fisik yang serius dan progresif.
Pasien menunjukkan keluhan-keluhan somatik yang menetap atau preokupasi
yang menetap dengan penampilan fisiknya. Penginderaan dan penampilan yang
normal sebenarnya biasa dan oleh pasien seringkali ditafsirkan sebagai abnormal
dan tidak mengenakkan, dan perhatiannya biasanya hanya terfokus pada satu atau
dua organ atau sistem tubuhnya.3
Untuk diagnosis pasti, kedua hal ini harus ada:
a) Keyakinan yg menetap adanya sekurang-kurangnya satu penyakit fisik yg
serius yg melandasi keluhan-keluhannya, meskipun pemerikasaan yg
berulang-ulang tidak menunjang adanya alasan fisik yg memadai, ataupun
adanya peokupasi yg menetap kemungkinan deformitas atau perubahan
bentuk penampakan fisiknya ( tidak sampai waham);
b) Penolakan yang menetap dan tidak mau menerima nasehat atau dukungan
penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ditemukan penyakit atau
abnormalitas fisik yg melandasi keluhan.
Termasuk:

gangguan dismorfik tubuh


Dismorfofobia (nonwaham)
Neurosis hipokondrik
Hipokondriasis
Nosofobia

28

Hipokondriasis dibedakan dari gangguan somatisasi oleh penekanan pada


hipokondriasis tentang ketakutan menderita suatu penyakit dan penekanan pada
gangguan somatisasi tentang banyak gejala. Hipokondriasis juga harus dibedakan
dari gangguan somatoform lainnya, Gangguan konversi adalah akut dan biasanya
sementara dan biasanya melibatkan satu gejala, bukannya suatu penyakit.2
Perjalanan hipokondriasis biasanya episodik; episode berlangsung dari beberapa
bulan sampai beberapa tahun dan dipisahkan oleh periode tenang yang sama
panjangnya.2 Prognosisnya bervariasi dan cenderung menjadi kronis.1 Prognosis
yang baik adalah berhubungan dengan status sosioekonomi yang tinggi, onset
gejala yang tiba-tiba, tidak adanya gangguan kepribadian, dan tidak adanya
kondisi medis non psikiatrik yang menyertai.2
3.4.

Disfungsi Otonomik Somatoform (F45.3)

Keluhan-keluhan fisik yang ditampilkan oleh pasien seakan-akan merupakan


gejala dari sistem saraf otonom, misalnya saja sistem kardiovaskular,
gastrointestinal, atau pernapasan (beberapa aspek dari sistem genitourinaria juga
termasuk disini). Contoh yang paling mencolok dan paling lazim terjadi adalah
yang mengenai sistem kardiovaskular (cardiac neurosis), sistem pernapasan
(hiperventilasi psikogenik dan cegukan) dan sistem gastrointestinal (gastric
neurosis) dan nervous diarrhea).
Gejala-gejalanya biasanya ada dua jenis, yang keduanya tidak menunjukkan
adanya gangguan fisik dari sistem ataupun organ yang terlibat. Jenis pertama,
yaitu yang merupakan gejala utama dari kategori gangguan ini, diwarnai oleh
keluhan-keluhan yang didasarkan atas tanda-tanda objektif dari rangsangan
otonom seperti palpitasi, berkeringat, muka panas/merah (flushing), dan tremor.
Jenis gejala kedua lebih merupakan gejala yang idiosinkratik, subjektif, dan tidak
khas, seperti perasaan sakit, nyeri, rasa terbakar, rasa berat, rasa kencang, atau
perasaan badan seperti mengembang dan keluhan-keluhan tersebut oleh pasien
dihubungkan dengan organ atau sistem tubuh yang spesifik.
Pada beberapa gangguan ini, beberapa gangguan ringan fungsi fisiologis mungkin
ada, seperti cekukan, perut kembung, dan hiperventilasi, tetapi keadaan ini tidak

29

dengan sendirinya menganggu fungsi fisiologis yang esensial dari organ atau
sistem yang bersangkutan.
Pedoman diagnostik
Diagnosis pasti, memerlukan semua hal berikut:
a) Adanya gejala-gejala bangkitan otonomik, seperti palpitasi, berkeringat,
tremor, muka panas/flushing, yg menetap dan mengganggu;
b) Gejala subjektif tambahan mengacu

pada sistem atau organ tertentu

(gejala tidak khas);


c) Preokupasi dengan dan penderitaan (disterss) mengenai kemungkinan
adanya gangguan yang serius (sering tidak begitu khas) dari sistem atau
organ tertentu, yg tidak terpengaruh oleh hasil pemeriksaan berulang,
maupun penjelasan dari para dokter;
d) Tidak terbukti adanya gangguan yg cukup berarti para struktur/fungsi dari
sistem atau organ yg dimaksud.
3.5.

Gangguan Nyeri Somatoform Menetap (F45.4)

Keluhan yang predominan adalah nyeri berat, menyiksa, dan menetap, yang tidak
dapat dijelaskan sepenuhnya atas dasar proses fisiologis maupun adanya gangguan
fisik. Nyeri timbul dalam hubungan dengan adanya konflik emosional atau
problem psikososial yang cukup jelas untuk dapat dijadikan alasan dalam
mempengaruhi terjadinya gangguan tersebut.
Nyeri yang diperkirakn timbul karena faktor psikogenik pada gangguan depresif
dan skizofrenia, tidak boleh dimasukkan dalam kategori ini. Nyeri yang
diakibatkan oleh mekanisme psikofisiologis yang diketahui seperti nyeri tegang
otot atau migren, tetapi yang diyakini ada penyebab psikogenik, harus
dimasukkan dalam kelompol F54 (faktor psikologis atau perilaku yang
berhubungan dengan gangguan atau penyakit YDK) ditambah dengan kode lain
dari ICD -10.
Termasuk: Psikalgia
Nyeri punggung atau nyeri kepala psikogenik
Gangguan nyeri somatoform

30

Pedoman diagnostik
a) Keluhan utama adalah nyeri berat, menyiksa dan menetap, yang tidak
dapat dijelaskan sepenuhnya atas dasar proses fisiologik maupun adanya
gangguan fisik.
b) Nyeri timbul dalam hbungan dengan adanya konflik emosional atau
problem psikososial yg cukup jelas untuk dapat dijadikan alasan dalam
mempengaruhi terjadinya gangguan tersebut.
c) Dampaknya adalah meningkatnya perhatian dan dukungan, baik personal
maupun medis, untuk yang bersangkutan.
3.6.

Gangguan Somatoform lainnya (F45.8)

Pedoman diagnostik

Pada gangguan ini keluhan-keluhannya tidak melalui sistem saraf otonom,


dan terbatas secara spesifik pada bagian tubuh atau sistem tertentu. Ini
sangat berbeda dengan gangguan Somatisasi (F45.0) dan Gangguan
Somatoform Tak Terinci (F45.1) yg menunjukkan keluhan yg banyak dan
berganti-ganti

Tidak ada kaitan dengan adanya kerusakan jaringan.

Gangguan berikut juga dimasukkan dalam kelompok ini:


a) globus hystericus (perasaan ada benjolan di kerongkongan yg
menyebabkan disfagia) dan bentuk disfagia lainnya.
b) Tortikolis psikogenik, dan gangguan gerakan spasmodik lainnya
(kecuali sindrom Tourette);
c) Pruritus psikogenik;
d) Dismenore psikogenik;
e) teet grinding

3.7.

Gangguan Somatoform YTT (F45.8)

Termasuk: gangguan psikofisiologis atau psikosomatik YTT


4.

Tatalaksana Gangguan Somatoform

Secara umum obat antidepresan bermanfaat dalam sebagian besar kasus


meskipun tidak ada depresi yang menyertai. Tetapi penggunaannya harus disertai

31

penjelasan yang memadai agar tidak dianggap mengada-ada. Terapi perilaku


kognitif (CBT, Cognitive Behavior Therapy) akan bermanfaat jika diadaptasi
untuk keluhan somatis utama. Pasien mungkin perlu dibantu untuk mengenali dan
mengatasi stressor sosial yang dialami, juga perlu didorong untuk kembali ke
fungsi normal dan mengurangi perilaku sakit (illnesss behavior) secara bertahap.
4.1.

Gangguan Somatisasi

Gangguan somatisasi paling baik diterapi ketika pasien memiliki satu dokter yang
diketahui sebagai dokter utamanya.Ketika lebih dari satu klinisi terlibat, pasien
tersebut memiliki kesempatan untuk mengekspresikan keluhan somatiknya.
Psikoterapi menurunkan pengeluaran untuk perawatan kesehatan pribadi hingga
50 persen.Pada lingkungan psikoterapi, pasien dibantu beradaptasi dengan
gejalanya, mengekspresikan emosi yang mendasari dab membangun strategi
alternatif untuk mengekspresikan perasaannya.
Memberikan obat psikotropik ketika gangguan somatisasi timbul bersamaan
dengan gangguan mood atau gangguan ansietas selalu memiliki resiko, tetapi juga
diindikasikan terapi psikofarmakologis dan psikotreaupetik pada keluhan yang
muncul bersamaan.Obat harus diawasi karena pasien dengan gangguan somatisasi
cenderung menggunakan obatnya tidak teratur.
4.2.

Hipokondriasis
a. Psikoterapi
i.

Psikoterapi psikoanalitik umumnya tidak bermanfaat

ii.

Terapi Suportif bermanfaat bila didukung hal-hal berikut :


Ada informasi akurat mengenai gejala
Edukasi mengenai mispersepsi dan misinterpretasi gejala dan
sensasi somatik
Kunjungan dan pemeriksaan fisik secara berkala
Reassurance

32

Penggunaan anxiolytic singkat selama periode stress tinggi


iii.

Terapi

Kognitif-Perilaku

(CBT)

merupakan

bentuk

psikoterapi pilihan
b. Farmakoterapi
Obat golongan SSRI bermanfaat pada pasien dengan hipokondriasis
terisolasi (tanpa ko-morbid psikiatris seperti gangguan cemas atau panik).
Fluoxetine atau paroxetine dengan dosis max 60 mg/h dan dapat juga
sertraline dosis minimal 150 mg/h.

BAB III
GANGGUAN PENYESUAIAN
1.

Definisi

Gangguan penyesuaian (adjustment disorder) merupakan reaksi maladaptif jangka


pendek terhadap stressor yang dapat diidentifikasi, yang muncul selama tiga bulan
dari munculnya stressor tersebut. Gangguan ini merupakan respon patologis
terhadap apa yang oleh orang awam disebut sebagai kekurang beruntungan, atau
yang menurut para psikiater disebut sebagai stressor psikososial. Gangguan ini
bukan merupakan kondisi lebih buruk dari gangguan psikiatrik yang sudah ada.4
Gangguan penyesuaian adalah reaksi maladaptif jangka pendek terhadap apa yang
disebut oleh orang awam sebagai nasib malang pribadi atau apa yang disebut oleh
33

dokter psikiatrik sebagai stressor psikososial. Gangguan penyesuaian diharapkan


sembuh dengan spontan segera setelah stressor dihilangkan atau jika stressor
menetap, dicapai tingkat adaptasi yang baru. Respons adalah maladaptif karena
adanya gangguan dalam fungsi sosial atau pekerjaan atau karena gejala atau
perilaku adalah di luar respons yang normal, lazim, atau yang diperkirakan
terhadap stressor tersebut.2
Menggolongkan gangguan penyesuaian sebagai sebuah gangguan mental
memunculkan beberapa kesulitan karena tidak mudah mendefinisikan apa yang
normal dan tidak normal dalam konsep gangguan penyesuaian. Bila sesuatu yang
buruk terjadi pada hidup kita, maka wajar bila kita merasa sedih. Bila ada krisis
dalam pekerjaan, saat dituduh melakukan kejahatan, mengalami kebanjiran, bisa
dimengerti bila kita mengalami kecemasan atau depresi. Sebaliknya justru apabila
kita tidak bereaksi maladaptif, paling tidak secara temporar, karena terjadinya
peristiwa- peristiwa tersebut, dapat menunjukkan ada yang tidak wajar pada diri
kita. Namun, bila reaksi emosional kita berlebihan, atau kemampuan kita untuk
berfungsi mengalami penurunan atau hendaya, maka kondisi ini bisa didiagnosis
sebagai gangguan penyesuaian. Jadi, bila kita sulit berkonsentrasi dalam
mengerjakan tugas kuliah karena putus cinta dan nilai akademis menurun, maka
ada kemungkinan kita mengalami gangguan penyesuaian
Gangguan penyesuaian terkadang dikritik sebagai memedikalisasi masalah dalam
kehidupan, karena perbedaan yang ditimbulkan antara kondisi ini dengan reaksi
normal terhadap stres. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, gangguan
penyesuaian biasanya mengganggu fungsi sosial dan penampilan, dan muncul
sebagai adaptasi terhadap perubahan hidup yang signifikan. Stresor dapat
mempengaruhi integritas kehidupan sosial seseorang (melalui kehilangan atau
perpisahan), atau bahkan yang melibatkan sistem yang lebih luas (migrasi atau
pengungsian).
2.

Cara Penyesuaian Diri Psikologis

Kita telah melihat, bahwa bila suatu organism mengalami stress, maka segera
akan ada usaha untuk mengatasinya. Hal ini dikenal sebagai homeostasis, yaitu

34

usaha organism untuk terus menerus mempertahankan keseimbangan fungsi


internal dalam batas tertentu supaya dapat hidup terus.
Stresor itu mungkin terjadi terutama pada badan (stress fisik atau somatis), seperti
infeksi dan penyakit lainnya yang menggerakkan mekanisme penyesuaian somatis
untuk

mengembalikan

keseimbangan

badani.

Reaksi

ini

dapat

berupa

pembentukan zat antikuman atau zat antiracun; butir-butir darah putih


dimobilisasi dan dikerahkan ke tempat invasi kuman, lebih banyak adrenalin dan
kortison dilepaskan dan sebagainya.
Stress psikologis menimbulkan kecemasan, kekecewaan, ketegangan, rasa salah,
dan sebagainya, yang menimbulkan mekanisme penyesuaian psikologis. Mungkin
pada suatu waktu tertentu, hanya gejala badani atau pun hanya gejala psikologis
saja yang menonjol, tetapi manusia senantiasa bereaksi secara holistik, yaitu
seluruh manusia terlibat dalam hal ini.
Stresor mungkin sekaligus menimpa individu dan kelompoknya, seperti
keguncangan ekonomi, peperangan atau bencana alam yang menuntut
penyesuaian diri baik dari individu, maupun dari kelompok bersama-sama.
Bila kita merasa mampu mengatasi stress, maka perilaku kita akan cenderung
berorientasi pada tugas (task oriented), yang tujuan utama adalah menghadapi
tuntutan keadaan yang menjadi stressor. Akan tetapi, bila stress itu mengancam
kemampuan dan harga diri kita, maka reaksi kita akan condong berorientasi pada
pembelaan ego (ego defense oriented), yang tujuan utama adalah melindungi diri
kita sendiri terhadap rasa devaluasi diri dan meringankan ketegangan serta
kecemasan yang menyakitkan. Dalam hal tuntutan yang terus menerus yang
melampaui daya penyesuaian kita, maka kita akan mengalami dekompensasi
kepribadian dan perilaku kita akan makin menunjukkan tanda-tanda disorganisasi
dan disintegrasi. Yang akan kita bicarakan selanjutkan adalah cara penyesuaian
atau mekanisme pembelaan psikologis yang berorientasi pada tugas dan
mekanisme pembelaan ego.1
3.

Epidemiologi

Gangguan penyesuaian adalah salah satu diagnosis psikiatrik yang paling sering
pada pasien yang dirawat di rumah sakit karena masalah medis atau bedah. Dalam

35

satu penelitian, 5 persen perawatan di rumah sakit selama periode tiga tahun
diklasifikasikan sebagai menderita gangguan penyesuaian. Gangguan paling
sering didiagnosis pada remaja tetapi dapat terjadi pada setiap usia. Dalam satu
survei pasien psikiatrik, 10 persen populasi sampel ditemukan menderita
gangguan penyesuaian. Rasio wanita terhadap laki-laki adalah 2 berbanding 1.
Wanita yang hidup sendirian biasanya secara jelas dinyatakan sebagai yang paling
beresiko. Diantara remaja dari kedua jenis kelamin, bentuk stress pencetus yang
paling sering adalah masalah sekolah, penolakan orang tua, perceraian orangtua,
dan penyalahgunaan zat. Diantara orang dewasa, stress pencetus yang sering
adalah masalah perkawinan, perceraian, pindah ke lingkungan baru, dan masalah
financial.3
Berdasarkan penelitian selama 5 tahun, diperoleh perbedaan penting antara remaja
dan dewasa terkait dengan prognosis gangguan penyesuaian. Sebagian besar
individu dewasa dengan gangguan penyesuaian bebas dari gejala (71% yang
benar-benar baik, 8% memiliki masalah intervensi, dan 21% mengalami depresi
atau kecanduan alcohol), remaja memiliki hasil yang jauh berbeda. Selama 5
tahun, penelitian ini dilanjutkan, hasil bahwa 43% remaja memiliki gangguan
psikiatri utama (misalnya, skizofrenia, gangguan skizoafektif, depresi, gangguan
penyalahguanaan zat, dan gangguan kepribadian), 13% memiliki gangguan mental
intervensi, dan 44% tidak memiliki gangguan mental.4
4.

Etiologi

Gangguan penyesuaian diperkirakan tidak akan terjadi tanpa adanya stressor.


Walaupun adanya stressor merupakan komponen esensial dari gangguan
penyesuaian, namun stress adalah salah satu dari banyak faktor yang menentukan
berkembangnya, jenis dan luasnya psikopatologi. Hingga sekarang, etiologi belum
pasti dan dapat dibagi atas beberapa faktor sebagai berikut:4
a.

Genetik

Temperamen yang tinggi ansietas cenderung lebih bereaksi terhadap suatu


peristiwa stress dan kemudian mengalami gangguan penyesuaian. Ada penelitian
menyatakan bahwa berbagai peristiwa kehidupan dan stressor ada kolerasi pada
anak kembar.

36

b.

Biologik

Kerentanan yang besar dengan riwayat penyakit medis yang serius atau
disabilitas.
c.

Psikososial

Kerentanan yang besar pada individu yang kehilangan orang tua pada masa bayi
atau mereka yang ada pengalaman buruk dengan ibu, kemampuan mentolerir
frustasi dalam hidup individu dewasa berhubungan dengan kepuasan dari
kebutuhan dasar hidup masa bayi.
Gangguan penyesuaian dicetuskan oleh satu atau lebih stressor. Beratnya stressor
atau stressor-stresor tidak selalu meramalkan keparahan gangguan penyesuaian;
beratnya stressor adalah fungsi yang kompleks dari konteks derajat, kuantitas,
durasi, reversibilitas, lingkungan, dan personal. Sebagai contoh, kematian
orangtua adalah berbeda bagi orang yang berusia 10 tahun dan 40 tahun.
Organisasi kepribadian dan norma dan nilai-nilai cultural atau kelompok berperan
terhadap ketidakseimbangan respons terhadap stressor.
Faktor psikoanalitik
Penelitian psikoanalitik telah menekankan peranan ibu dan lingkungan
membesarkan anak dalam kapasitas seseorang di kemudian hari untuk berespons
terhadap stress. Konsep yang cukup penting adalah konsep Donald W. Winnicot
tentang ibu yang cukup baik, seseorang yang beradaptasi terhadap kebutuhan bayi
dan memberikan dukungan yang cukup sehingga memungkinkan anak yang
sedang tumbuh untuk menoleransi frustasi dalam kehidupan.
Faktor Psikodinamika
Gangguan kepribadian atau gangguan organik yang terjadi bersama-sama
mungkin menyebabkan seseorang menjadi rentan terhadap gangguan penyesuaian.
Kerentanan juga berhubungan dengan kehilangan orang tua selama masa bayi.
Dukungan yang actual atau dirasakan dari hubungan inti mungkin memperantai
respon perilaku dan emosional terhadap stressor. Klinisi psikodinamika harus
memperhitungkan hubungan antara stressor dan siklus hidup perkembangan
manusia. Jika seorang remaja meninggakan rumah untuk masuk k perguruan
tinggi, sebagai contoh, mereka berada dalam risiko tinggi untuk bereaksi dengan

37

gambaran simptomatik yang sementara. Demikian juga,

anak yang

meninggalkan rumah adalah anak yang paling muda dalam keluarga, orang tua
mungkin cuup rentan untuk bereaksi dengan gangguan penyesuaian. Selain itu,
orang di usia pertengahan yang melawan kematiannya sendiri mungkin cukup
peka terhadap efek kehilangan atau kematian.
5.

Diagnosis dan Gambaran Klinis

Walaupun definisi gangguan penyesuaian mengikuti suatu stressor, gejala tidak


perlu selalu dimulai segera. Manifestasi gangguan ini bervariasi, dan mencakup
afek depresif, anxietas, kecemasan (atau campuran dari hal-hal tersebut), perasaan
tidak mampu menghadapi dan menyesuaikan, merencanakan masa depan, atau
berlanjut dalam situasi sekarang, disertai adanya disabilitas dalam kinerja kegiatan
rutin sehari-hari. Individu tersebut mungkin merasa dirinya rentan untuk
berperilaku dramatic atau melakukan kekerasan, tetapi hal ini jarang terjadi.
Namun demikian, terutama pada remaja gangguan tingkah laku (misalnya
perilaku agresif atau dissosial) dapat merupakan ciri yang menyertai gangguan ini.
Tidak ada satu pun dari gejala tersebut yang cukup parah atau menonjol, sehingga
dapat membenarkan suatu diagnosis yang lebih spesifik. Pada anak-anak,
fenomena regresif seperti kembali ngompol, bicara kekanak-kanakan, atau
mengisap jempol sering kali merupakan bagian dari pola gejalanya. Jika ciri-ciri
ini menonjol berdasarkan PPDGJ III dimasukkan dalam kategori F43.23.
Onset biasanya terjadi dalam satu bulan setelah terjadinya peristiwa yang
merupakan stress atau perubahan dalam hidup, dan lamanya gejala-gejala
biasanya tidak melebihi 6 bulan, kecuali dalam kasus reaksi depresif
berkepanjangan (F43.21). Apabila gejala-gejala tersebut bertahan melampaui
periode ini, maka diagnosis harus disesuaikan dengan gambaran klinis yang ada
sekarang, dan setiap stress yang masih berlangsung dapat diperikan kode salah
satu dari kode Z dalam Bab XXI dari ICD-10. 3
Diagnosis tergantung pada evaluasi terhadap hubungan antara:

bentuk, isi, dan beratnya gejala

riwayat sebelumnya atau corak kepribadian

kejadian, situasi yang penuh stres, atau krisis kehidupan


38

Adanya ketiga faktor di atas harus ditetapkan dengan jelas dan harus ada bukti
yang kuat dan mungkin dapat diperkirakan, bahwa gangguan tersebut mungkin
tidak akan terjadi tanpa adanya hal tersebut. Apabila stresornya relatif ringan, atau
adanya hubungan waktu (temporal/kurang dari 3 bulan) tidak dapat dibuktikan
maka gangguan tersebut hendaknya diklasifikasikan di tempat lain sesuai cirri-ciri
yang ada.
Termasuk: culture shock (kejut budaya), reaksi berkabung, hospitalisme pada
anak
Tak termasuk: gangguan anxietas perpisahan masa kanak (F93.0)
Apabila criteria untuk gangguan penyesuaian telah dipenuhi, maka bentuk
klinisnya atau cirri predominan dapat ditentukan dengan menggunakan karakter
kelima.
Karakter kelima :
F43.20 = reaksi depresi singkat
Adalah suatu keadaan depresif ringan yang bersifat sementara dengan jangka
waktu tidak melebihi 1 bulan.
F43.21 = reaksi depresi berkepanjangan
Keadaan depresif ringan yang terjadi sebagai respons menghadapi suatu keadaan
stress berkepanjangan, akan tetapi tidak melebihi kurun waktu 2 tahun.
F43.22 = reaksi campuran anxietas dan depresi
Gejala anxietas dan depresif keduanya menonjol, akan tetapi tidak lebih berat dari
yang dijumpai pada gangguan campuran anxietas dan depresif (F412) atau
gangguan anxietas campuran lainnya (F41.3)
F43.23= dengan predominan gangguan emosi lain
Gejala-gejala biasanya meliputi berbagai reaksi emosi seperti anxietas, depresi,
kekhawatiran, ketegangan dan amarah. Gejala-gejala anxietas dan depresif (F41.2)
atau gangguan anxietas campuran lainnya (F41.3), akan tetapi tidak sedemikian
predominan, sehingga tidak bisa didiagnosis sebagai gangguan-gangguan depresif
atau pun anxietas lain yang lebih spesifik. Kategori ini juga harus dipakai untuk
reaksi pada anak-anak dimana ditemukan perilaku regresif, seperti ngompol atau
mengisap jempol.

39

F43.24= dengan predominan gangguan perilaku


Gangguan utamanya menyangkut tingkah laku, misalnya reaksi duka cita pada
remaja yang menimbulkan perilaku agresif atau disosial.
F43.25= dengan gangguan campuran emosi dan perilaku
Di sini baik gejala emosional maupun gangguan tingkah laku merupakan ciri yang
menonjol.
F43.28= dengan gejala predominan lainnya YDT
6.

Perjalanan Penyakit dan Prognosis

Prognosis keseluruhan gangguan penyesuaian biasanya adalah baik dengan


pengobatan yang sesuai. Sebagian besar pasien kembali ke tingkat fungsi
sebelumnya dalam tiga bulan. Remaja biasanya memerlukan waktu yang lebih
lama untuk pulih dibandingkan orang dewasa. Beberapa orang (khususnya
remaja) yang mendapatkan diagnosis gangguan penyesuaian kemungkinan
memiliki gangguan mood atau gangguan berhubungan zat.
7.

Terapi

a.

Psikoterapi

Psikoterapi tetap merupakan terapi pilihan untuk gangguan penyesuaian. Terapi


kelompok terutama dapat berguna untuk pasien yang mengalami stres yang sama.
Psikoterapi individual dapat menawarkan kesempatan untuk menggali arti stresor
bagi pasien sehingga trauma yang lebih dini dapat diatasi. Setelah terapi yang
berhasil, pasien seringkali muncul dari gangguan penyesuaian secara lebih kuat
dari periode pramorbid, walaupun tidak ada patologi yang ditemukan pada
periode tersebut.
b.

Farmakoterapi

Pemakaian medikasi yang bijaksana dapat membantu pasien dengan gangguan


penyesuaian, tetapi harus diberikan untuk periode yang singkat. Pasien mungkin
berespons terhadap obat antiansietas atau terhadap suatu antidepresan, tergantung
pada jenis gangguan penyesuaian.
Pasien dengan kecemasan berat yang hampir menjadi panic atau dekompensasi
mungkin mendapatkan manfaat dari dosis kecil medikasi antipsikotik. Pasien
dalam keadaan menarik diri atau terinhibisi mungkin mendapatkan manfaat dari

40

medikasi psikostimulan singkat. Beberapa kasus gangguan penyesuaian jika ada,


dapat diobati secara adekuat oleh medikasi saja. Pada sebagian besar kasus,
psikoterapi harus ditambahkan pada regimen pengobatan.2

DAFTAR PUSTAKA
1. Maramis, Willy F. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 2. Surabaya:
Airlangga University Press
2. Kaplan, H.I., Saddock, B.J., dan Grebb J.A., 2010. Kaplan-Sadock
Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis Jilid 2.
Jakarta: Binanupa Aksara
3. Departemen Kesehatan R.I., 1995. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa di Indonesia III Cetakan Pertama. Jakarta: Direktorat
Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI

41

4. Elvira, S. D., dkk (editor), 2010. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

42