Anda di halaman 1dari 14
TUGAS SISTEM PEMERINTAHAN ISLAM NAMA : IQBAL RASYID NPM : 170410110107 A. Berdirinya Pemerintahan Dinasti Umayyah Para sejarawan membagi dinasti Umayah ini menjadi dua, yaitu pertama dinasti yang dirintis oleh Muawiyah ibn Abi Sofyan yang berpusat di Damaskus dan yang kedua dinasti Umayyah di Andalusia (Spanyol) yang pada awalnya merupakan wilayah takhlukan Umayah di bawah pimpinan seorang gubernur pada masa khalifah Walid ibn Malik. Dan kemudian diubah menjadi kerajaan yang terpisah dari kekuasaan dinasti Abasiyah setelah berhasil menakhlukan dinasti Umayyah di Damaskus. Perintisan dinasti Umayyah dilakukan oleh Muawiyyah dengan cara menolak membai’at Ali, berperang melawan Ali, dan melakukan perdamaian (tahkim) dengan pihak ali yang secara politik sangat menguntungkan Muawiyyah. Setelah kaum Khawarij berhasil membunuh Ali r.a pada tahun 661 M. Jabatan setelah Ali dipegang oleh putranya Hasan ibn Ali selama beberapa bulan. Namun, karena tidak didukung oleh pasukan yang kuat, sedangkan pihak Muawiyyah kuat akhirnya Muawiyyah membuat perjanjian dengan Hasan ibn Ali, yang berisi bahwa penggantian pemimpin akan diserahkan kepada umat Islam setelah pemerintahan Muawiyyah berakhir. Perjanjian ini terjadi pada tahun 661 M. (41 H) Dan tahun itu disebut am jama’ah karena perjanjian ini mempersatukan umat Islam kembali menjadi satu kepemimpinan politik yaitu Muawiyyah.[1] Pemindahan kekuasaan pada Muawiyyah mengakhiri bentuk pemerintahan demokrasi. Kekhalifaan menjadi monarchy heredetis (kerajaan turun temurun). Karena dia memberikan interpretasi baru dari kata-kata khalifah untuk mengagungkan jabatannya. Dia menyebutkan “khalifah Allah” dalam pengertian “penguasa” yang dipilih Allah.[2] Ketika Muawiyyah mewajibkan seluruh rakyat untuk menyatakan setia terhadap anaknya Yazid dimulailah penggantian secara turun- temurun yang berdasarkan politik, lebih dari pada kepentingan keagamaan. Di pengaruhi oleh keadaan Syiria (yang merupakan kaki tangan bizantium sebelum adanya pemerintahan arab). Muawiyyah bermaksud mencontoh monarchy heriditas yang ada di Persia dan kaisar Bizantium. Yang mana deklarasi ini menyebabkan adanya pergerakan oposisi dari rakyat yang selanjutnya menyebabkan adanya perselisihan dan peperangan saudara.[3] Dinasti Umayyah berkuasa hampir satu abad, tepatnya selama 90 tahun,dengan empat belas khalifah. Namun sebagian diantara mereka tidak mampu menjalankan tugasnya sebagai khalifah dengan baik mereka bukan hanya lemah tetapi juga bermoral buruk. B. Khalifah-Khalifah Dinasti Umayyah 1. Muawiyah ibn Sofyan (661-680 M) 2. Yazid ibn Muawiyah (681-683 M) 3. Muawiyah bin Yazid (683-684 M) 4. Marwan ibn Al-Hakam (684-685 M) 5. Abdul Malik ibn Marwan(685-705M) 6. Al-walid ibn Abdul Malik (705-715 M) 7. Sulaiman ibn Abdul Malik (715-717 M) 8. Umar ibn Abdul Aziz (717-720 M) 9. Yazid ibn Abdul Malik (720-724 M) 10. Hisyam ibn Abdul Malik (724-743 M) 11. Walid ibn Yazid (743-744 M) 12. Yazid ibn Walid (Yazid II) (744 M) 13. Ibrahim ibn Malik (744 M) 14. Marwan ibn Muhammad (745-750 M) C. Khalifah-Khalifah Yang Terkenal 1. Muawiyah ibn Abi Sofyan (661-680 M) Mu’awiyah bin Abu Sufyan bin Hard bin Umayyah bin Abd Asy-Syams bin Abdul Manaf bin Qushay. Nama panggilannya adalah Abu Abdur Rahman Al-Umawi. Dia dan ayahnya masuk Islam pada saat pembukaan kota Makkah (fathu Makkah).[4] Muwiyah ibn Abi Sufyan adalah pendiri dinasti Umayyah dan menjabat sebagai khalifah pertama pada tahun 661 M. Mu’awiyah meninggal pada bulan rajab tahun 60 H. Dia di makamkan di antara Bab Al-Jubayyah dan Bab Ash-Shaghir. Di sebutkan bahwa usianya mencapai 77 tahun. A. Sistem Pemerintahan Muawiyah memindahkan ibu kota dari Madinah al Munawarah ke kota Damaskus dalam wilayah Syiria. Muawiyyah adalah penguasa yang kuat dan administrator yang baik. Ia melakukan perubahan-perubahan dalam administrasi pemerintahan, dan pada masa pemerintahannya dibangun bagian khusus di dalam masjid untuk tindakan pencegahan pengamanan bagi dirinya selama menjalankan shalat, untuk menghindari nasib buruk sebagai mana pernah terjadi pada masa Ali r.a. Muawiyah adalah orang pertama yang memperkenalkan materai resmi untuk pengiriman momerandum yang berasal dari khalifah. Naskah yang sah dibuat lalu ditembus dengan benang dan disegel dengan lilin, yang pada akhirnya dicetak dengan materai resmi.[5] ia juga membangun angkatan darat yang kuat dan efisien. Muawiyah juga telah memperkenalkan pelayanan pos (diwanulbarid), kepala pos memberi tahu pemerintah pusat tentang apa yang terjadi dalam pemerintahan provinsi. B. Ekspansi Wilayah Ekspansi yang terhenti pada masa khalifah Ustman dan Ali dilanjutkan oleh dinasti ini. Pada zaman Muawiyah, Tunisia dapat ditakhlukan. Disebelah timur Muaiyah dapat menguasai Khurasan, sampai ke sungai Oxus dan Afganistan sampai ke Kabul. Angkatan-angkatan lautnya melakukan serangan ke Bizantium, Konstantinopel.[6] Selain itu juga dilakukan perluasan ke Afrika Utara. Ada tiga pendorong bagi Muawiyah untuk menguasai Bizantium. Yaitu: · Bizantium merupakan basis agama kristen ortodok, yang pengaruhnya dapat membahayakan umat Islam. · Orang-orang Bizantium sering mengadakan perampokan ke daerrah Islam · Bizantium termasuk wilayah yang mempunyai kekayaan yang melimpah. [7] C. Strategi Dakwah Dengan mengatur birokrasi baru yang berciri-khas Syam, dengan strata arab dan Mawali (ajam atau non-arab). 2. Abdul Malik bin Marwan (685-705 M) Dia bernama Abdul Malik bin Marwan bin al- hakam bin Abi Al-‘Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab. Di lahirkan pada tahun 26 H. Dia di lantik sabagai khalifah berdasarkan wasiat ayahnya pada masa pemerintahan Abdullah bin Zubair dan di anggap tidak sah. Di masa Zubair dia mampu menguasai Mesir dan Syam, kemudian Irak dan wilayah- wilayah di sekitarnya sehingga Abdullah bin Zubair terbunuh pada tahun 73 H. Sejak kematian Abdullah bin Zubair inilah pemerintahannya di anggap sah, dan keadaan pemerintahan stabil.[8] Pada akhirnya, kekuatan abdullah bin Zubair terdesak. Pasukan bani Umayyah dapat menguasai kota Makkah, benteng pertahanan terakhir dari Abdullah bin Zubair dan membunuh Abdullah bin Zubair. Dikuasainya Hijaz ini kemudian mengakhiri pemberontakan orang-orang Hijaz dan secara otomatis menyatukan kembali kekuatan bani Umayyah pada satu kepemimpinan. A. Sistem Pemerintah Abdul Malik ialah khalifah yang sangat berbakat , dia adalah seorang ahli tata negara dan administrator yang dapat dibedakan dengan Muawiyah, dan hisyam. Ia bertujuan untuk menjalankan sistem administrasi umum di provinsi-provinsi kekuasaan. Khalifah Abdul Malik sebagai khalifah yang tegas, perkasa dan negarawan yan[9]g cakap dan berhasil memulihkan kembali kesatuan dunia Islam. Ia memiliki kontribusi penting dalam tata moneter dunia Islam, antara lain diperkenalkannya dinar dan dirham yang dicetak oleh pemerintah pada waktu itu. Tata administrasi dan birokrasi pemerintahan juga dipertegas, antara lain dengan dibentuknya berbagai lembaga pemerintahan yang kemudian mengatur urusan-urusan umat Islam. Dan memberlakukan bahasa arab sebagai bahasa resmi negara. B. Ekspansi Wilayah Ekspansi ke timur yang dilakukan Muawiyah kemudian dilanjutkan oleh khalifah Abdul Al-Malik. Dia mengirim tentara menyeberangi sungai Oxus dan dapat berhasil menundukkan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Ferghana dan Samarkand. Tentaranya bahkan sampai ke India dan dapat menguasai Balukhistan, Sind dan daerah Punjab sampai ke Maltan.[10] C. Strategi Dakwah Menurut salah satu riwayat ulama pertama yang memberikan baris dan titik pada hurufhuruf Al-Quran adalah Hasan Al-Basrhi (624-728 M) atas perintah Abdul Malik ibn Marwan. Ia menguntruksikan kepada Al-Hajaj untuk menyempurnakan tulisan Al-quran, Al-hajaj meminta hasan Al-Basrhi untuk menyempurnakannya dan kemudian dibantu oleh Yahya ibn Yamura (murid Abu Aswad Ad-Duwali).[11] Khalifah Abdul Malik bin Marwan juga memiliki kontribusi dalam penyebaran Islam. Politik luar negeri yang berbasis pada penyebaran agama Islam ke luar daerah juga menuai hasil yang cukup signifikan, antara lain dengan berhasil dikuasainya Balkh, Bukhara, Khawarizm, Farghana, dan Samarkand di Asia kecil yang sekarang masuk ke teritori negara Uzbekistan serta Kazakhstan. 3. Al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M) Masa pemerintahan Walid adalah masa ketenteraman, kemakmuran, dan ketertiban. Umat Islam merasa hidup bahagia. Pada masa pemerintahan Walid bin Abdul Malik, telah terjadi kemapanan politik yang mengakhiri periode transisi. Gerakan-gerakan oposisi dan kelompok penekan telah dipadamkan sehingga kekuatan khalifah Walid cukup kuat. Dengan adanya kemapanan ini, kebijakan khalifah Walid lebih berkonsentrasi pada konsolidasi politik dan pelaksanaan politik luar negeri dengan menyebarkan Islam ke daerah lain dengan kekuatan dan sumber daya yang dimiliki. Pada era ini, tekanan dari penduduk Hijaz telah mereda dan tidak lagi mengancam eksistensi kekuasaan khalifah. Hajjaj bin Yusuf AtsTsaqafi diberi kebebasan untuk memerintah daerah Irak. Kebijakan khalifah Walid lebih berorientasi pada ekspansi dan pengembangan sayap dakwah Islam ke wilayah-wilayah lain. Khalifah Al-Walid memiliki bangunan sumber daya yang cukup kuat untuk melaksanakan politik luar negerinya tersebut. A. Sistem Pemerintah Walid bin Abdul Malik banyak melakukan pembangunan, dia membangun panti-panti bagi orang-orang cacat. Semua yang terlibat dalam kegiatan humanis ini digaji oleh pemerintah secara tetap. Dia juga membangun jalan-jalan raya yang menghubungkan suatu daerah dengan daerah lain, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan dan masjid-masjid megah. B. Ekspansi Wilayah Pada masa ini, penyebaran Islam mengalami momentumnya tersendiri tercatat suatu peristiwa besar, yaitu perluasan wilayah kekuasaan dari Afrika Utara menuju wilayah barat daya, benua Eropa, yaitu pada tahun 711 M. Perluasan wilayah kekuasaan Islam sampai ke Andalusia (Spanyol) dibawah pimpinan panglima Thariq bin Ziyad. Perjuangan panglima Thariq bin Ziyad mencapai kemenangan, sehingga dapat menguasai kota Cordoba, Granada dan Toledo yang merupakan wilayah kekuasaan Roderik, penguasa Gothik yang memerintah wilayah Spanyol dan Portugal. Khalifah Walid bin Abdul Malik juga berhasil menyebarkan Islam sampai ke India di bawah kepemimpinan Muhammad bin Qasim. Kemenangan pasukan Islam di Punjab kemudian memberi peluang untuk masuk ke India yang sangat kental kekuatan hindunya. Muhammad bin Qasim kemudian berhasil memasuki India hingga menguasai Delhi yang kelak menjadi raison d’etre kekuatan Islam di India. Walid bin Abdul Malik menjadi seorang khalifah yang dikenal luas oleh publik internasional sebagai pemimpin yang disegani. Khalifah Walid berhasil mendesak kekuatan kaum Gothik di Spanyol serta mulai menyebarkan Islam ke segenap penjuru Asia. Hal ini tak lepas dari struktur militer yang professional yang telah dibangun oleh pemerintah pada waktu itu. Militansi kekuatan militer cukup tinggi, terlihat dari berhasilnya pasukan Thariq bin Ziyad dalam menaklukkan Spanyol, padahal kekuatan Gothik masih begitu kuat dan pasukan yang dikirim tidak terlalu besar kuantitasnya. Selain melakukan perluasan wilayah kekuasaan Islam, walid juga melakukan pembangunan internal selama masa pemerintahannya untuk kemakmuran rakyat. Khalifah Walid ibn Malik meninggalkan nama yang sangat harum dalam sejarah daulah bani Umayyah. C. Strategi Dakwah Khalifah Walid berhasil mendesak kekuatan kaum Gothik di Spanyol serta mulai menyebarkan Islam ke segenap penjuru Asia. Hal ini tak lepas dari struktur militer yang professional yang telah dibangun oleh pemerintah pada waktu itu. Militansi kekuatan militer cukup tinggi, terlihat dari berhasilnya pasukan Thariq bin Ziyad dalam menaklukkan Spanyol, padahal kekuatan Gothik masih begitu kuat dan pasukan yang dikirim tidak terlalu besar kuantitasnya.melakukan perluasan wilayah kekuasaan Islam, Walid juga melakukan pembangunan internal selama masa pemerintahannya untuk kemakmuran rakyat. 4. Umar bin Abdul Aziz (717-120 M) Umar bin Abdul Aziz merupakan salah satu khalifah yang baik diantara khalifah-khalifah bani Umayah. Dia terpelajar taan beragama dan bertaqwa. Dia juga merupakan pelopor dalam menyebarkan agama Islam dan memuliakan kepercayaan ini. Ia dilahirkan di Hulwan kira-kira 24 mil dari Kairo. Ayahnya, Abdul Aziz sudah menjadkan Hulwan sebagai tempat pemerintahannya. Abdul Aziz memegang pemerintah sebagai gubernur lebih dari 20 tahun (65-86 H/684-705 M). Umar bin Abdul merupakan khalifah bani Umayah yang hebat. Beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa pemerintahannya termasyhur seperti halnya pemerintahan Abu bakar dan Umar. Kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz hanya bertahan selama 2 tahun 5 bulan jika ia menjadi khalifah lebih lama dia pasti sudah akan menuliskan lembaran sejarah dalam sejarah Islam.[12] A. Sistem Pemerintah Umar bin Abdul Aziz banyak melakukan perbaikan dan pembangunan sarana-sarana umum, melakukan sarana irigasi pertanian dan penggalian sumur dan banyak menyediakan penginapan bagi musaffir. Ia juga dapat menjalin hubungan baik antara Khawarij dan kelompok Syi’ah. B. Ekspansi Wilayah Di zaman Umar bin Abdul Aziz ekspansi wilayah dilakukan ke Prancis melalui pegunungan Piranne. Serangan ini dilakukan oleh Abdul ibn Abdullahal-Ghafiqi, ia mulai menyerang Bordeau, Poitiers. Dari sana ia mencoba menyerang Tours. Namun dalam upaya ini Al-Gifaqi terbunuh dan tentaranya kembali ke Spanyol. C. · Strategi Dakwah Melakukan tindakan persuasif dan bijaksana dalam menjalankan dakwah Islam sehingga penduduk yang belum masuk Islam mau masuk Islam. · Umar ibn Abdul Aziz adalah khalifah yang memelopori penulisan (tadwin) hadist. Beliau memerintahkan kepada Abu Bakar ibn Muhammad ibn Amr ibn Hajm (120 H), gubernur Madinah untuk menuliskan hadist yang ada dalam hafalan-hafalan penghafal hadist. Atas perintah khslifsh pengumpulan hadist dilakukan oleh ulama. Di antaranya adalah Abu Bakar Muhammad ibn Muslim ibn Ubaidillah ibn Syihab Az-Zuhri (guru imam Malik). Akan tetapi, buku hadist yang dikumpulkan oleh imam Az-Zuhri tidak diketahui dan tidak sampai kepada kita. Dalam sejarah tercatat bahwa ulama yang pertama membuktikan hadist adalah imam Az-Zuhri. [13] 5. Hisyam bin Abdul Malik (724-743 M) Di zaman Hisyam ini muncul satu kekuatan baru yang menjadi tantangan berat bagi pemerintahan bani Umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan bani Hasyim yang didukung oleh golongan Mawali dan merupakan ancaman yang sangat serius. Dalam perkembangan berikutnya kekuatan baru ini, mampu menggulingkan dinasti Umawiyah dan menggantikannya dengan dinasti baru, bani Abbas. Sebenarnya Hisyam ibn Abd AlMalik adalah seorang khalifah yang kuat dan terampil. Akan tetapi, karena gerakan oposisi terlalu kuat, khalifah tidak berdaya mematahkannya. Sepeninggal Hisyam ibn Abd Al-Malik, khalifah-khalifah bani Umayyah yang tampil bukan hanya lemah tetapi juga bermoral buruk. Hal ini makin memperkuat golongan oposisi. D. Pendirian Umayah di Andalusia (Spanyol) 705-1031 M. Andalusia adalah nama bagi semenanjung Iberia pada zaman kejayaan Umayah. Andalusia berasal dari Vandal, yang berarti negeri bangsa Vandal sebelum terusir bangsa Ghotia barat (abad ke-5 M ). Umat Islam mulai menakhlukan semenanjung Iberia pada zaman khalifah Al-Walid ibn Abd Al-Malik (86-96 H./705-715 M).[14] Ekspansi pasukan muslim ke semenanjung Iberia, gerbang barat daya Eropa seperti yang telah dikemukakan, merupakan serangan terakhir dan paling dramatis dari seluruh operasi militer penting yang dijalankan oleh orang-orang arab. Serangan ini menandai puncak ekspansi muslim kewilayah Afrika-Eropa seperti halnya penaklukan Turkistan yang menandai. Terjauh ekspansi kewilayah Mesir-Asia. Penaklukan tersebut dipimpin langsung oleh panglima kaum muslimin, Musa bin Nusyair, yang bertekat menyeberangi selat yang memisahkan benua Afrika dan Eropa. Tujuannya untuk menyebarkan Islam di Eropa dan memasukkannya menjadi bagian dari pemerintahan Islam. Lalu dia memberangkatkan panglima Islam yang bernama Thariq bin Ziyad ke Andalusia melalui laut. Andalisia berhasil ditaklukkan pada tahun 92 H/710 M. Kemudian Thariq dan Musa sampai ke pegunungan Baranes dan berhasil menaklukkan semua wilayah itu kecuali Jaliqiyah. Akhirnya Musa ibn Syair mendeklarasikan semenanjung liberia bagian kekuasaan Umayah yang berpusat di Damaskus. Dan ketika Dinasti Umayah dihancurkan oleh bani Abbas di Dmaskus, Abd Rahman ibn Muawiyah berhasil meloloskan diri dan berhasil menginjakkan kakinya di Andalusia pada tahun 132 H. /750 M. Ia berhasil menyingkirkan Yusuf ibn Abd Rahman yang menyatakan tunduk pada dinasti bani Abbas 756 H. Dan Abd Rahman yang bergelar AdDakhil (pendatang baru) memproklamasikan bahwa Andalusia lepas dari kekuasaan bani Abbas dan ia memakai gelar Amir bukan khalifah. Pemerintahan Abd Rahman Ad-Dakhil ini bertahan selama dua tiga perempat abad (756-1031 M.). Dinasti ini mencapai puncaknya dibawah pimpinan amir ke delapan Abd Rahman III (912-961 M). Selama periode Umayah kordova di Spanyol tetap menjadi ibu kota dan menikmati periode kemegahan yang tiada tara seperti halnya di Baghdad. Abd Ar-Rahman memilih sendiri gelarnya, yaitu Al-Khalifah An-Nashir li Allah (khalifah penolong agama allah). Karena ia telah membawa Spanyol muslim ke kedudukan lebih tinggi daripada yang pernah menikmati sebelumnya, dia lah yang paling cocok menyandar gelar Amir Al-muminin, terutama di mata kalangan bawah yang tidak lagi memercayai kekhalifahan timur. E. Kemunduran Dinasti Umayah Faktor-faktor penyebab kemunduran dinasti Umayah: · Sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah sesuatu yang baru (bid'ah) bagi tradisi Islam yang lebih menekankan aspek senioritas. Pengaturannya tidak jelas. Ketidak jelasan sistem pergantian khalifah ini menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat di kalangan anggota keluarga istana. · dari Latar belakang terbentuknya dinasti bani Umayyah tidak bisa dipisahkan konflik-konflik politik yang terjadi di masa Ali. Sisa-sisa Syi'ah (para pengikut Abdullah bin Saba' Al-Yahudi ) dan Khawarij terus menjadi gerakan oposisi, baik secara terbuka seperti di masa awal dan akhir maupun secara tersembunyi seperti di masa pertengahan kekuasaan bani Umayyah. Penumpasan terhadap gerakan-gerakan ini banyak menyedot kekuatan pemerintah. · Pada masa kekuasaan bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia Utara ( bani qays ) dan Arabia selatan ( bani Kalb ) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam , makin meruncing. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa bani Umayyah mendapat kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan. Disamping itu, sebagian besar golongan Mawali (non arab), terutama di Irak dan wilayah bagian timur lainnya, merasa tidak puas karena status Mawali itu menggambarkan suatu inferioritas, ditambah dengan keangkuhan bangsa arab yang diperlihatkan pada masa bani Umayyah. · Lemahnya pemerintahan daulat bani Umayyah juga disebabkan oleh sikap hidup mewah di lingkungan istana sehingga anak-anak khalifah tidak sanggup memikul beban berat kenegaraan tatkala mereka mewarisi kekuasaan. Disamping itu, para ulama banyak yang kecewa karena perhatian penguasa terhadap perkembangan agama sangat kurang. · Penyebab langsung tergulingnya kekuasaan dinasti bani Umayyah adalah munculnya kekuatan baru yang dipelopori oleh keturunan Al-Abbas ibn Abd AlMuthalib . Pemerintahan Dinasti Umayyah (41-132 H) Periode Negara Madinah berakhir dengan wafatnya Khalifah Ali bin Abi Thalib. Tokoh yang naik ke panggung politik dan pemerintahan adalah Muawiyyah bin Abu Sufyan, Gubernur wilayah Syam sejak zama Khalifah Umar. Ia adalah pendiri dan Khalifah pertama Dinasti ini. Terbentuknya dinasti Muawiyah memangku jabatan khalifah secara resmi,menurut ahli sejarah, terjadi pada tahun 661 M/ 41 H. Bukan pada pertengahan tahun 600 M/ 40 H pada saat Umayyah memproklamirkan diri menjadi khalifah di Iliya (Palestina), setelah pihaknya dinyatakan oleh Majelis Tahkim sebagai pemenang. Peristiwa itu terjadi setelah Hasan bin Ali yang dibaiat oleh pengikut setia Ali menjadi Khalifah, sebagai pengganti Ali, mengundurkan diri dari gelanggang politik. Sebab ia tidak ingin lagi terjadi pertumpahan darah yang lebih besar, dan menyerahkan kekuasaan sepenuhnya kepada Muawiyah. Langkah penting Hasan bin Ali ini dapat dikatakan sebagai usaha rekonsiliasi umat Islam yang terpecah belah. Karenanya peristiwa itu dalam sejarah Islam dikenal dengan tahun persatuan (am al-jama’at). Yaitu episode sejarah yang mempersatukan umat kembali berada di bwah kekuasaan seorang khalifah. Muawiyah dikenal sebagai seorang politikus dan administrator yang pandai. Umar bin Khattab sendiri pernah menilainya sebagai seorang yang cakap dalam urusan politik pemerintahan, cerdas dan jujur. Ia juga dikenal seorang negarawan yang ahli bersiasat, piawai dalam merancang taktik dan strategi, disamping kegigihan dan keuletan serta kesediaannya menempuh segala cara dalam berjuang. Untuk mencapai citi-citanya karena pertimbangan politik dan tuntutan situasi. Dengan kemampuan tersebut dan bakat kepemimpinan yang dimilikinya, Muawiyah dinilaiberhasil merekrut para pemuka masyarakat, politikus dan administrator ke dalam sistemnya pada zamannya, untuk memperkuat posisinya dipuncak pimpinan. Muawiyah juga dikenal berwatak keras dan tegas, tapi juga bisa bersifat toleran dan lapang dada. Hal ini dapat dilihat dalam ucapannya yang terkenal sebagai prinsip yang ia terapkan dalam memimpin: “Aku tidak mempergunakan pedangku kalau cambuk saja cukup, dan tidak pula kupergunakan cambukku kalau perkataan saja sudah memadai, andaikata aku dengan orang lain memperebutkan sehelai rambut, tiadalah akan putus rambut itu, karena bila mereka mengencangkannya aku kendorkan, dan bila mereka mengendorkannya akan kukencangkan.” Sejalan dengan watak dan prinsip Muawiyah tersebut serta pemikirannya yang perspektif dan inovatif, ia membuat berbagai kebijaksanaan dan keputusasaan politik dalam dan luar negeri. Dan jejak ini diteruskan oleh para penggantinya dengan menyempurnakannya. Pertama, pemindahan pusat pemerintahan dari Madinah ke Damaskus. Keputusan ini didasarkan pada pertimbangan politis dan alasan keamanan. Karena letaknya jauh dari Kufah pusat kaum Syiah pendukung Ali, dan jauh dari Hijaz tempat tinggal mayoritas Bani Hasyim dan Bani Umayyah, sehingga bisa terhindar dari konflik yang lebih tajam antara dua Bani itu dalam memperebutkan kekuasaan. Lebih dari itu, Damaskus yang terletak di wilayah Syam (Suria) adalah daerah yang berada di bawah genggaman pengaruh Muawiyah selama 20 tahun sejak ia diangkat menajdi Gubernur di distrik itu sejak zaman Khalifah Umar bin Khattab. Kedua, Muawiyah memberi penghargaan kepada orang-orang yang berjasa dalam perjuangannya mencapai puncak kekuasaan. Seperti Amr bin Ash ia angkat kembali menjadi gubernur di Mesir, Al-Mughirah bin Syu’bah juga diangkat menjadi Gubernur di wilayah Persia. Ketiga, menumpas orang-orang yang beroposisi yang dianggap berbahaya jika tidak bisa dibujuk dengan harta dan kedudukan, dan menumpas kaum pemberontak. Ia menupas kaum Khawarij yang merongrong wibawa kekuasaannya dan mengkafirkannya. Golongan ini menuduhnya tidak mau berhukum kepada al-Qur’an dalam mewujudkan perdamaian dengan Ali di perang Shiffin melainkan ia mengikuti ambisi hawa nafsu politik. Keempat, membangun kekuatan militer yang terdiri dari tigaangkatan, dart, laut dan kepolisian yang tangguh dan loyal. Mereka diberi gaji yang cukup, dua kali lebih besar daripada yang diberikan Umar kepada tentaranya. Ketiga angkatan ini bertugas menjamin stabilitas keamanan dalam negeri dan mendukung kebijaksanaan politik luar negeri yanitu memperluas kekuasaan. Kelima, meneruskan perluasan wilayah kekuasaan Islam baik ke Timur maupun ke Barat. Peluasaan wilayah ini diteruskan oleh para penerus Muawiyah, seperti Khalifah Abd al-malik ke Timur, Khalifah al-walid ke barat, dan ke Prancis di zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Keenam, baik Muawiyah maupun penggantinya membuat kebijaksanaan yang berbeda dari zaman Khulafa al-Rasyidin. Mereka merekrut orang-orang non-muslim sebgai pejabat-pejabat dalam pemerintahan, seperti penasehat, administrator, dokter dan di kesatuan-kesatuan tentara. Tepi di zaman Khalifah Umar bin Abd Aziz kebijaksanaan itu ia hapuskan. Karena orang-orang non muslim (Yahudi, Nasrani dan Majusi) yang memperoleh privilege di dalam pemerintahan banyak merugikan kepentingan umat Islam bahkan menganggap rendah mereka. Ketujuh, Muawiyah mengadakan pembaharuan di bidang administrasi pemerintahan dan melengkapinya dengan jabatan-jabatan baru yang dipengarui oleh kebudayaan Byzantium. Kedelapan, kebijaksanaan dan keputusan politik penting yang dibuat oleh Khalifah Muawiyah adalah mengubah sistwm pemerintahan dari bentuk khalifah yang bercorak demokratis menjadi sistem monarki dengan mengangkat putranya, Yazid, menjadi putra mahkota untuk menggantikannya sebagai khalifah sepeninggalannya nanti. Muawiyah mengubah sistem pemerintahan menjadi monarki, namun Dinasti ini tetap memakai gelar Khalifah. Bahkan Muawiyah menyebut dirinya sebagai Amir alMu’minin. Setelah ‘Ali wafat, kursi jabatan kekhalifahan dialihkan kepada anaknya, Hasan ibn ‘Ali. Hasan diangkat oleh pengikutnya (Syi’ah) yang masih setia di Kuffah. Tetapi pengangkatan ini hanyalah suatu percobaan yang tidak mendapat dukungan yang kuat. Hasan menjabat sebagai khalifah hanya dalam beberapa bulan saja. Peralihan Kekuasaan dari Hasan ke Mu’awiyah Di tengah masa kepemimpinan Hasan yang makin lemah dan posisi Mu’awiyah lebih kuat, akhirnya Hasan mengadakan akomodasi atau membuat perjanjian damai. Syaratsyarat yang diajukan Hasan dalam perjanjian tersebut adalah: 1 Agar Mu’awiyah tidak menaruh dendam terhadap seorangpun dari penduduk Irak. 2 Menjamin keamanan dan memaafkan kesalahan-kesalahan mereka. 3 Agar pajak tanah negeri Ahwaz diperuntukkan kepadanya dan diberikan tiap tahun. 4 Agar Mu’awiyah membayar kepada saudaranya, yaitu Husain, dua juta dirham. 5 Pemberian kepada Bani Hasyim haruslah lebih banyak dari pemberian kepada Bani Abdi Syams. Perjanjian itu berhasil mempersatukan umat Islam kembali dalam satu kepemimpinan politik, di bawah pimpinan Mu’awiyah ibn Abi Sufyan. Dengan kata lain, Hasan telah menjual haknya sebagai khalifah kepada Mu’awiyah.Akibat perjanjian itu menyebabkan Mu’awiyah menjadi penguasa absolut. Naiknya Mu’awiyah menjadi khalifah pada awalnya tidak melalui forum pembai’atan yang bebas dari semua umat. Mu’awiyah dibai’at pertama kali oleh penduduk Syam karena memang berada di bawah kekuasaannya, kemudian ia dibai’at oleh umat secara keseluruhan setelah tahun persatuan atau ‘am jama’ah (661). Pembai’atan tersebut tidak lain hanyalah sebuah pengakuan terpaksa terhadap realita dan dalam upaya menjaga kesatuan umat. Maka, di sini telah masuk unsur kekuatan dan keterpaksaan menggantikan musyawarah. Karenanya dapat dikatakan bahwa telah terjadi perceraian antara idealisme dan realita. Sistem Pemerintahan dan Orientasi Kebijakan Politik Umayyah Pemindahan kekuasaan kepada muawiyyah mengakhiri bentuk demokrasi kekholifahan menjadi monarki heridetis, yang diperoleh tidak dengan pemilihan atas suara terbanyak. Pergantian khalifah secara terumurun dimulai dari sikap muawiyyah mengangkat anaknya Yazid, sebagai putra mahkota. Sikap muawiyyah seperti ini dipengaruhi oleh keadaan syiria selama ia menjadi gubernur disana. Pada masa muawiyyah mulai diadakan perubahan-perubahan administrasi pemerintahan, dibentuk pasukan tombak pengawal raja, dan dibangun bagian khusus di dalam masjid untuk pengamanan tatkala dia menjalankan sholat. Kebijakan politik Umayyah, selain usaha-usaha pengamanan di dalam negeri yang sering dilakukan oleh saingan-saingan politiknya serta pertentangan-pertentangan suku-suku Arab, adalah upaya perluasan wilayah kekuasaan. Pada zaman Muawiyyah, Ukbah ibnu Nafi berhasil menguasai Tunis, dan kemudian didirikan kota Qairawan pada tahun 760 M yang kemudian menjadi salah satu pusat kebudayaan Islam.