RUMUS LENGKAP FISIKA SMA

BESARAN DAN SATUAN
Simbol Dimensi satuan m kg s K cd A mol [L] [M] [T] [Ө] [J] [I] [N]

Nama besaran Satuan Panjang Massa Waktu Suhu Intensitas Kuat arus Banyak zat meter kilogram sekon kelvin candela ampere mole

VEKTOR
Komponen vektor arah sumbu-x vx = v cos α Komponen vektor arah sumbu-y vy = v sin α Besar resultan

y vx

v

v = v x + v y + 2v x v y cos α
2 2

α
vx x

Keterangan: vx = vektor pada sumbu x vy = vektor pada sumbu y v = resultan dari dua vektor α = sudut antara vx dan vy

KELAJUAN DAN KECEPATAN
Kelajuan rata-rata (vr)

vr =

s Δt
s Δt

Kelajuan sesaat (vt)

vt = lim Δs Δt

Δt →0

Kecepatan rata-rata ( vr )

vr =

Kecepatan sesaat ( vt )

vt = lim

Δs Δt →0 Δt

Keterangan: s = jarak tempuh (m) Δ s = perubahan jarak benda (m) t = waktu (s) Δ t = selang waktu (s)

PERLAJUAN DAN PERCEPATAN
Perlajuan rata-rata (ar)

ar =

Δv Δt

Perlajuan sesaat (at)

Δv a = lim t Δt →0 Δt
ar =

Percepatan rata-rata ( ar )

Δv v2 − v1 = Δt t2 − t1 Percepatan sesaat ( at ) Δv at = lim Δt →0 Δt

Keterangan: ar = perlajuan rata-rata (m/s2) at = perlajuan sesaat (m/s2) Δ v = perubahan kecepatan (m/s) Δ t = perubahan waktu atau selang waktu (s) v1 = kecepatan awal benda (m/s) v2 = kecepatan kedua benda (m/s)

GERAK LURUS BERATURAN (GLB)
Kedudukan benda saat t st = s0 + v . t Keterangan: st = kedudukan benda selang waktu t (m) s0 = kedudukan benda awal (m) v = kecepatan benda (m/s) t = waktu yang diperlukan (s)

GERAK LURUS BERUBAH BERATURAN (GLBB)
Kedudukan benda saat t s t = s 0 + v 0 . t + ½ a . t2 Kecepatan benda saat t vt = v0 + a . t

vt 2 =

v0 2 + 2a . st

Keterangan: st = kedudukan benda selang waktu t (m) s0 = kedudukan awal benda (m) vt = kecepatan benda saat t (m/s) vo = kecepatan benda awal (m/s) a = percepatan benda (m/s2) t = waktu yang diperlukan (s)

GERAK JATUH BEBAS
Kedudukan saat t s t = s 0 + ½ g . t2 Kecepatan saat t vt = g . t v2 = 2 . g . h Ketinggian benda (h) h = ½ g . t2 Keterangan: st = kedudukan benda selang waktu t (m) s0 = kedudukan awal benda (m) vt = v = kecepatan benda saat t (m/s) t = waktu yang diperlukan (s) g = percepatan gravitasi = 10 m/s

GERAK VERTIKAL KE ATAS
Ketinggian atau kedudukan benda (h) st = h = v0 . t - ½ g . t2 Kecepatan benda (vt) vt = v0 - g . t v = v02 – 2gh Waktu untuk sampai ke puncak (tp) tp =

v0 g

Waktu untuk sampai kembali ke bawah (t) t = 2tp

Tinggi maksimum (hmaks) hmaks =
2 v0

2g

Keterangan: st = kedudukan benda selang waktu t (m) s0 = kedudukan awal benda (m) vt = v = kecepatan benda saat t (m/s) v0 = kecepatan benda awal (m/s) t = waktu yang diperlukan (s) g = percepatan gravitasi = 9,8 m/s2 atau 10 m/s2

DINAMIKA GERAK LURUS
Hukum I Newton ∑F=0 Hukum II Newton

a =

F m

F = m.a
Hukum III Newton Faksi = – Freaksi Gaya berat (w) W = m .g Keterangan: F = gaya yang berlaku pada benda (N atau kg m/s2) W = gaya berat pada benda (N) m = massa benda (kg) a = percepatan benda (m/s2) g = percepatan gravitasi = 9,8 m/s2 atau 10 m/s2

GAYA NORMAL DAN GAYA GESEK
Gaya normal pada lantai datar (N) N=W=m.g Gaya normal pada lantai datar dengan gaya bersudut α Fx = F cos α Fy = F sin α N = W – F cos α Gaya normal pada bidang miring N = W cos α Gaya gesek statis (fs) fs = μ s . N Gaya gesek kinetik (fk) fk = μ k . N

Keterangan: F = gaya yang bekerja pada benda (N atau kg m/s2) Fx = gaya yang bekerja pada sumbu x (N atau kg m/s2) Fy = gaya yang bekerja pada sumbu y (N atau kg m/s2) fs = gaya gesek statis (N) fk = gaya gesek kinetik (N) μ s = koefisien gesek statis

μ k = koefisien gesek kinetik

KATROL TETAP
Percepatan (a)

a=

WB − WA m A + mB

Tegangan (T)

T=

2m A .WB dengan WB = mB g m A + mB 2 mB T= .WA dengan WA = mA g m A + mB

Keterangan: WA = gaya berat pada benda A (N) WB = gaya berat pada benda B (N) a = percepatan benda (m/s2) mA = massa benda A (kg) mB = massa benda B (kg)

GERAK PARABOLA
• Benda dilempar horizontal dari puncak menara Gerak pada sumbu x x = vox . t Gerak pada sumbu y vy = g . t h=
1 2

g. t2 → t =

2h g

vy2 = 2 g h → vy = 2 gh Kecepatan benda saat dilempar v=

v0 + 2 gh

2

Keterangan: x = jarak jangkauan benda yang dilempar dari menara (m) vox = kecepatan awal pada sumbu x (m/s) vy = kecepatan benda pada sumbu y (m/s)

v = kecepatan benda saat dilempar (m/s) v0 = kecepatan awal (m/s) h = tinggi (m) g = percepatan gravitasi = 9,8 m/s2 atau 10 m/s2 • Benda dilempar miring ke atas dengan sudut elevasi Waktu yang ditempuh saat mencapai titik tertinggi (tmaks) tmaks =

v0 y g

=

v0 sin α = g

2h g

Tinggi maksimum (hmaks) hmaks =
2 v0 sin 2 α 2g

Waktu yang ditempuh saat mencapai titik terjauh tterjauh = 2 tmaks =

2v0 y g

=

2v0 sin α 2h =2 g g

Jarak terjauh (xmaks) x maks =
2 v0 sin 2 α g

Koordinat titik tertinggi E(x,y) = (
2 v2 v0 sin 2α , 0 sin 2 α ) g 2g

Perbandingan hmaks dan xmaks

hmaks 1 = tan α xmaks 4

Keterangan: tmaks = waktu yang ditempuh saat mencapai titik tertinggi (s) tterjauh = waktu yang ditempuh saat mencapai titik terjauh (s) v0y = kecepatan awal pada sumbu y (m/s) v0 = kecepatan awal (m/s) h = tinggi (m) hmaks = tinggi maksimum (m) xmaks = jarak terjauh (m) α = sudut elevasi

GERAK MELINGKAR BERATURAN
Lintasan busur (s) s=θ.R Frekuensi (f) f=

1 T 1 f

Periode (T) T=

Laju/kecepatan anguler ( ω )

ω =

2π = 2π f T

Laju/kecepatan linear (v) v = 2π f R v= ω R Percepatan sentripetal (asp) asp =

v2 = ω2R R v2 = mω 2 R R

Gaya sentripetal (Fsp) Fsp = m a = m

Keterangan: s = lintasan busur (rad.m) θ = jarak benda pada lintasan (rad) R = jari-jari lintasan (m) f = frekuensi (Hezt) T = periode (s) v = laju/kecepatan linear (m/s) ω = kecepatan sudut (rad/s) asp = percepatan sentripetal (m/s2) Fsp = gaya sentripetal (N) m = massa benda (m) a = percepatan linear (m/s2)

PADUAN DUA ATAU LEBIH GERAK MELINGKAR BERATURAN
Perpaduan oleh tali (rantai)

ω1 R2 = ⇔ v1 = v2 ω2 R1

Perpaduan oleh poros (as)

ω1 = ω2 ⇔

v2 R1 = v1 R2

Keterangan: ω 1 = kecepatan sudut poros pertama (rad/s) ω 2 = kecepatan sudut poros kedua (rad/s) v1 = kecepatan linear poros pertama (m/s) v2 = kecepatan linear poros kedua (m/s) R1 = jari-jari poros pertama (m) R2 = jari-jari poros kedua (m)

GAYA GRAVITASI
Gaya gravitasi (F) F= G

mM R2

Percepatan gravitasi (g) g= G

M R2

Keterangan: F = gaya gravitasi (N) m = massa benda (kg) M = massa bumi (kg) R = jarak massa bumi dan massa benda (m) G = tetapan gravitasi umum = 6,673 × 10-11 Nm2 . kg-2

USAHA DAN ENERGI
Usaha (W) W = F s cos θ W=Fs Energi potensial gravitasi (Ep) Ep = m g h Usaha dan energi potensial gravitasi W = Δ Ep = m g (h2 – h1) dengan h = h2 – h1 Keterangan: W = usaha (J atau kg m/s) F = besar gaya yang digunakan untuk menarik benda (N) s = jarak pergeseran atau perpindahan benda (m) θ = sudut antara arah gaya dan arah perpindahan Ep = energi potensial gravitasi (J) Δ Ep = perubahan energi gravitasi (J) m = massa benda (kg) g = percepatan gravitasi (10 m/s2) h = ketinggian benda (m) h1 = ketinggian benda awal (m) h2 = ketinggian benda akhir (m) Energi kinetik (Ek) Ek =

1 m v2 2 1 m (v2 2 – v12) 2 1 m.v2 2

Usaha dan energi kinetik W = Δ Ek =

Energi mekanik (Em) Em = Ep + Ek = = m . g . h +

Energi mekanik dalam medan gravitasi Em = Ep + Ek = konstan Ep1 + Ek1 = Ep2 + Ek2 Keterangan: Ep = energi potensial (J) Ek = energi kinetik (J) m = massa benda (kg) v = kecepatan benda (m/s) w = usaha (J) v1 = kecepatan awal benda (m/s) v2 = kecepatan akhir benda (m/s) Em = energi mekanik (J) g = percepatan gravitasi h = ketinggian benda (m) Ep1 = energi potensial awal (J) Ep1 = energi potensial akhir (J) Ek2 = energi kinetik awal (J) Ek1 = energi kinetik awal (J) Δ Ek = perubahan energi kinetik (J) Daya (P) P=

ΔE W F .s = = = F. v Δt Δt Δt

Keterangan: P = daya (J/s atau watt (W)) Δ E = perubahan energi (J) W = usaha (J) F = gaya (N) s = jarak (m) v = kecepatan (m/s) Δ t = perubahan waktu (s)

MOMENTUM, IMPULS, DAN TUMBUKAN
Momentum (p) p = mv Impuls (I) I = F Δt Hubungan momentum dan impuls: F Δt = m v Keterangan: p = momentum (kg m/s) I = impuls (N/s) F = gaya (N) m = massa benda (kg) v = kecepatan (m/s) Δ t = perubahan waktu (s)

Hukum kekekalan momentum: p = tetap/konstan

, m1.v1 + m2 .v2 = m1.v1, + m2 .v2

Koefisien restitusi (e) tumbukan: e = −
, v1, − v2 v1 − v2

Hukum kekekalan energi kinetik: Ek = Ek'

1 1 1 1 2 ' m1.v12 + m2 .v2 = m1.v1'2 + m2 .v22 2 2 2 2
Keterangan: Ek = energi kinetik sebelum tumbukan (J) Ek’ = energi kinetik sesudah tumbukan (J) p = momentum sebelum tumbukan (kg m/s) p’ = momentum sesudah tumbukan (kg m/s) m1 = massa benda 1 sebelum tumbukan (kg) m2 = massa benda 2 sebelum tumbukan (kg) m1’ = massa benda 1 sesudah tumbukan (kg) m2’ = massa benda 2 sesudah tumbukan (kg) v1 = kecepatan benda 1 sebelum tumbukan (m/s) v2 = kecepatan benda 2 sebelum tumbukan (m/s) v1’ = kecepatan benda 1 sesudah tumbukan (m/s) v2’ = kecepatan benda 2 sesudah tumbukan (m/s) e = koefisien restitusi Tumbukan lenting sempurana e=1 v = v’ ∑ p = ∑ p’ ∑ Ek = ∑ Ek ’ Tumbukan lenting sebagian 0<e<1 v ≠ v’ ∑ p = ∑ p’ ∑ Ek > ∑ Ek’ Tumbukan tidak lenting sama sekali e=0 m1 v1 + m2 v2 = (m1 + m2) v ’ Keterangan: v ’ = kecepatan benda setelah tumbukan (m/s) Prinsip kerja roket sebelum mesin dihidupkan ∑ p = ∑ m v = (m1 + m2) v = 0 karena v = 0 Prinsip kerja roket sesudah mesin dihidupkan ∑ p’ = m1v1’ + m2v2’ Keterangan: v = kecepatan benda sebelum mesin dihidupkan (m/s) v ‘ = kecepatan benda sesudah mesin dihidupkan (m/s)

ELASTISITAS
Tegangan (τ)

τ =

F A

Keterangan: τ = tegangan (N.m-2) F = gaya (N) A = luas penampang benda (m2) Regangan (ε) ε =

ΔL L0

Keterangan: ε = regangan (m) Δ L = perubahan panjang benda (m) L0 = panjang awal benda (m) Modulus Young (Y) Y=τ/ε=

F ΔL A L0

Hukum Hooke F = – k. Δx Energi potensial pegas (Ep) Ep =

1 k (x)² 2

Keterangan: F = gaya pada pegas (N) Ep = energi potensial pegas (J) k = konstanta pegas Δx = perubahan panjang pegas (m)

FLUIDA TAK BERGERAK
Massa jenis ( ρ )

ρ =

m V

Berat jenis (S) S= ρ g Keterangan: ρ = massa jenis benda (kg/m3)

m = massa benda (kg) V = volume benda (kg) S = berat jenis benda (kg/m2s2) g = percepatan gravitasi (m/s2) Tekanan (P) P =

F A

Tekanan pada fluida tak bergerak: Ph = ρ.g.h Keterangan: Ph = tekanan hidrostatis (pascal atau N/m2) F = gaya permukaan (N) A = luas permukaan benda (m2) ρ = massa jenis (kg/m3) h = jarak antara titik dengan permukaan zat cair (m) Hukum utama hidrostatis:

PA = PB = PC = P0 + ρ .g .h

Keterangan: PA = tekanan hidrostatis di titik A (pascal (pa) atau N/m2) PB = tekanan hidrostatis di titik B (pascal (pa)) Pc = tekanan hidrostatis di titik C (pascal (pa)) P0 = tekanan udara luar (pascal (pa)) 1 atm = 1,01 x 105 pa Hukum Pascal

P = P2 1

F1 F2 = A1 A2
Keterangan: P1 = tekanan hidrostatis di daerah 1 (pa) P2 = tekanan hidrostatis di daerah 2 (pa) F1 = gaya permukaan daerah 1 (N) F2 = gaya permukaan daerah 2 (N) A1 = luas permukaan penampang 1 (m2) A2 = luas permukaan penampang 2 (m2) Hukum Archimedes FA = ρ f .g.V f Keterangan: FA = gaya archimedes (N) ρ f = massa jenis cair (kg/m3) g = percepatan gravitasi (m/s2) Vf = volume benda yang tercelup (m3)

Tegangan permukaan (γ) γ=

F l

Keterangan: γ = tegangan permukaan (N/m) F = gaya permukaan (N) l = panjang (m) Sudut kontak pada meniskus cekung: Fadhesi > Fkohesi dan sudut kontak θ < 90° (runcing) Sudut kontak pada meniskus cembung: Fadhesi < Fkohesi dan sudut kontak θ > 90° (tumpul) Kapilaritas

y=

2γ cosθ ρ .g.r

Keterangan: y = tinggi cairan dalam pipa kapiler (m) γ = tegangan permukaan (N/m) ρ = massa jenis cairan (kg/m3) θ = sudut kontak g = percepatan gravitasi (m/s2) r = jari-jari pipa kapiler (m) Viskositas (f)

f =π μrv

Keterangan: f = gaya geser oleh fluida terhadap bola (N) μ = koefisien viskositas r = jari-jari bola (m) v = kecepatan bola dalam fluida (m/s)

FLUIDA BERGERAK
Debit fluida (Q) Q =

V = Av t

Keterangan: Q = debit fluida (m3/s) V = volume fluida (m3) t = waktu fluida mengalir (s) A = luas penampang (m2) v = kecepatan fluida (m/s) Persamaan kontinuitas A.v = konstan A1.v1 = A2.v2

Keterangan: A1 = luas penampang di daerah 1 (m2) A2 = luas penampang di daerah 2 (m2) v1 = kecepatan fluida di daerah 1 (m/s) v2 = kecepatan fluida di daerah 2 (m/s) Hukum Bernoulli P + ρ.g.h + ½ ρ.v2 = konstan P1 + ρ.g.h1 + ½ ρ.v12 = P2 + ρ.g.h2 + ½ ρ.v22 Keterangan: P1 = tekanan fluida di daerah 1 (pa) P2 = tekanan fluida di daerah 2 (pa) h1 = tinggi pada daerah 1 (m) h2 = tinggi pada daerah 2 (m) v1 = kecepatan fluida pada daerah 1 (m/s) v2 = kecepatan fluida pada daerah 2 (m/s) Kecepatan fluida pada tabung venturi

v1 =

2 gh ⎛ A1 ⎞ ⎜ ⎟ −1 ⎜A ⎟ ⎝ 2⎠
2

Keterangan: v1 = kecepatan fluida yang masuk ke tabung venturi (m/s) A1 = luas penampang pada bagian 1 (m2) A2 = luas penampang pada bagian 2 (m2) h = selisih tinggi fluida pada tabung venturi (m) Kecepatan fluida pada tabung pitot:

v=

2 g .h.ρ '

ρ

Keterangan: v = kecepatan fluida pada tabung pitot (m/s) h = selisih tinggi fluida (m) ρ = massa jenis fluida (kg/m3) ρ ’ = massa jenis fluida di dalam cairan manometer (kg/m3)

Gaya angkat pesat

F1 − F2 =

1 2 ρ A (v2 − v12 ) 2

Keterangan: F1 = gaya angkat di bawah sayap (N) F2 = gaya angkat di atas sayap (N) ρ = massa jenis fluida (udara) (kg/m3) v1 = kecepatan fluida di bawah sayap (m/s) v2 = kecepatan fluida di atas sayap (m/s)

GERAK TRANSLASI
Persamaan posisi r atau vektor posisi r: r = xi+yj Vektor perpindahan (∆r): ∆ r = ∆x i +∆y j dengan ∆ x = x2 – x1 dan ∆ y = y2 – y1 Vektor kecepatan ( v ):

v = lim

Δt →0

dr dy Δr dx = = i+ j = vx i + v y j Δt dt dt dt
vy vx

2 2 dengan | v |= vx + v y dan arahnya tan θ =

Vektor percepatan ( a ):

a = lim

dv y Δv dv dv x = = i+ j = ax i + a y j Δt →0 Δt dt dt dt ay ax

2 2 dengan | a | = ax + a y dan arahnya tan θ =

Persamaan gerak translasi:

a= v=

dv ⇔ v = ∫ adt = a.t + v0 dt

1 dr ⇔ r = ∫ v dt = ∫ (a.t + v0 )dt = a.t 2 + v0 .t + r0 dt 2

Keterangan: r0 = jarak awal kedudukan benda (m) r = perpindahan benda (m) v0 = kecepatan awal (m/s) v = kecepatan setelah t (m/s) a = percepatan gerak benda (m/s2) t = waktu (s)

GERAK ROTASI
Kecepatan sudut rata-rata ( ω r ) Δθ ω r = tan φ = Δt Kecepatan sudut sesaat ( ω ):

ω = lim

Δt →0

Δθ d θ = Δt dt

Percepatan sudut rata-rata:

αr =

Δω Δt

Percepatan sudut sesaat:

α = lim

d ω d 2θ = 2 Δt →0 dt dt

Keterangan: ω r = kecepatan sudut atau anguler rata-rata (rad/s) ω = kecepatan sudut (rad/s) α r = percepatan sudut rata-rata (rad/s2) α = percepatan sudut (rad/s) φ = sudut elevasi Δ θ = perubahan jarak benda pada lintasan (rad) Δ ω = perubahan kecepatan sudut benda (rad/s) Δ t = perubahan waktu (s) Kecepatan sudut ( ω ): ω = α .t + ω0 Jarak (θ): θ = ½ α 2 t + ω0 t + θ0 Kecepatan linear (v): v = ωR Percepatan linear (a): a=αR Keterangan: θ0 = kedudukan awal benda (rad) ω0 = kecepatan sudut awal (rad/s) R = jari-jari lintasan (m) Momen gaya ( τ ): τ = R × F = R .F sin φ Momen inersia (I): I = m R2 Momentum sudut ( L ): L = m ω R2 = I . ω Hubungan momen gaya dan percepatan sudut: τ = I. α S Energi kinetik gerak rotasi (Ek) Ek = ½ m . v 2 = ½ m.R2 ω 2 = ½ I. ω 2 Keterangan: τ = momen gaya (Nm) R = jari-jari lintasan (m) F = gaya yang bekerja pada benda (N) φ = sudut elevasi I = momen inersia (kg m2) L = momentum sudut (kg m/s2) S = panjang lintasan (rad) Ek = energi kinetik gerak rotasi (joule) m = massa benda (kg) v = kecepatan linear (m/s) Hukum kekekalan momentum anguler/sudut: I .ω = konstan

⇔ I1.ω1 + I 2 .ω2 = I1.ω1' + I 2 .ω ' 2

Keterangan: I1 = momen inersia awal benda 1 (kg m2) I2 = momen inersia awal benda 2 (kg m2) ω 1 = kecepatan sudut awal benda 1 (rad/s) ω 2 = kecepatan sudut awal benda 2 (rad/s) ω 1’ = kecepatan sudut akhir benda 1 (rad/s) ω 2’ = kecepatan sudut akhir benda 2 (rad/s)

KESEIMBANGAN BENDA TEGAR
Keseimbangan partikel, syaratnya: Fx = 0 dan Fy = 0

Titik tangkap gaya resulton (xo, yo):

x0 = y0 =

∑F

yi

.xi

Ry

, dengan Ry = ΣFyi

∑ F .y
xi

i

Rx

, dengan Rx = ΣFxi

Syarat keseimbangan benda tegar memiliki: keseimbangan translasi: Σ Fx = 0 dan Σ Fy = 0 juga keseimbangan rotasi: Σ τ = 0 dengan τ = F × ℓ Titik berat benda tegar Z(xo, yo):

x0 =

∑ w .x ∑w
1

i

dan y0 =

i

∑ w .y ∑w
1

i

, dengan w = berat benda

i

Keterangan: Fx = gaya yang bekerja pada sumbu x (N) Fy = gaya yang bekerja pada sumbu y (N)

GETARAN PADA BANDUL SEDERHANA
Periode getaran (T) T = 2π
l g

Frekuensi getaran (f)

g l Fase getaran (ϕ): t ϕ= T Sudut fase (θ): t θ=2π T
f =

1 1 = T 2π

Keterangan: T = periode getaran (s) f = frekuensi getaran (s) g = percepatan gravitasi (m/s2) l = panjang tali bandul (m) ϕ = fase getaran t = waktu getaran (s)

GETARAN PEGAS
Gaya pada pegas (F) F=ky Konstanta pegas (k) k = m ω2 Periode pegas (T) T = 2π

m k
k m

Frekuensi pegas (f) f=

1 2π

Keterangan: F = gaya yang bekerja pada pegas (N) k = konstanta pegas (N/m) m = massa benda (kg) ω = kecepatan sudut (rad/s)

GERAK HARMONIS
Persamaan simpangan gerak harmonis:

y = A sin(
Fase ( ϕ )

2πt + θ 0 ) = A sin(ωt + θ 0 ) T

ϕ=
v=

t T dy = A ω cos (ω t + θ 0 ) atau dt

Persamaan kecepatan gerak harmonis:

v = ω A2 − y 2
Persamaan percepatan gerak harmonis:

dv = - A ω2 sin (ω t + θ 0 ) atau dt a = ω 2. . y
a =
Paduan dua simpangan dua gerak harmonis: y = 2 A sin π (f1 + f2) t cos π (f1 + f2) t

Energi mekanik gerak harmonis: Em = Ep + Ek = ½ m ω2 A = ½ k A2 = 2 π 2 m2 f2 A2 dengan Ep = ½ k.y2 = ½ k A2sin2ω t Ek = ½ m.v2 = ½ k A2cos2ω t Keterangan: y = simpangan (m) v = kecepatan (m/s) a = percepatan (m/s2) A = amplitudo (m) ω = kecepatan sudut (rad/s) t = waktu (s) ϕ = fase θ = sudut fase Ep = energi potensial (J) Ek = energi kinetik (J) Em = energi mekanik (J)

GELOMBANG
Cepat rambat gelombang (v)

v=

λ

T

= f .λ

Keterangan: v = cepat rambat gelombang (m/s) λ = panjang gelombang (m) f = frekuensi gelombang (Hezt) T = periode (s) Pembiasan gelombang

sin i v1 n2 = = sin r v2 n1
Keterangan: i = sudut datang r = sudut bias v1 = cepat rambat gelombang pada medium 1 (m/s) v2 = cepat rambat gelombang pada medium 2 (m/s) n1 = indeks bias medium 1 n2 = indeks bias medium 2 Indeks bias suatu medium

n=

c λ0 sin i = = v λ sin r

Keterangan: c = cepat rambat gelombang dalam ruang hampa udara (m/s) v = cepat rambat gelombang dalam medium (m/s) λ0 = panjang gelombang dalam ruang hampa (m) λ = panjang gelombang dalam medium (m) Jarak simpul ke perut (s – p) s–p =

λ

4

Keterangan: s – p = jarak simpul ke perut gelombang (m) λ = panjang gelombang (m)

BUNYI SEBAGAI GELOMBANG
Hubungan intensitas bunyi dan jaraknya terhadap sumber bunyi:
2 P P I1 R2 = dan = 2 dengan I1 = I 2 R1 AL1 4πR12

I2 =

P P = 2 AL2 4πR2

Keterangan: I1 = intensitas bunyi pertama (W/m2) I2 = intensitas bunyi kedua (W/m2) R1 = jarak sumber bunyi pertama dengan pendengar (m) R2 = jarak sumber bunyi kedua dengan pendengar (m) Taraf intensitas bunyi (TI) TI = 10 log

I I0

Keterangan: TI = taraf intensitas bunyi (desibel atau dB) I0 = intensitas bunyi sebuah benda (W/m2) I = intensitas bunyi sejumlah benda (W/m2) Frekuensi layangan (f) f = f1 – f2 Keterangan: f1 = frekuensi gelombang pertama (Hezt atau Hz) f2 = frekuensi gelombang kedua (Hz) Efek Doppler fp =

v ± vp v ∓ vs

fs

Keterangan: fp = frekuensi yang terdengar oleh pendengar (Hz) fs = frekuensi sumber bunyi (Hz) v = kecepatan bunyi di udara (m/s) vp = kecepatan pendengar (m/s) → positif jika pendengar mendekati sumber bunyi vs = kecepatan sumber bunyi (m/s) → positif jika sumber bunyi menjauhi pendengar

GELOMBANG MEKANIS
Simpangan pada gelombang berjalan y = A sin 2 πf (t ± ) Simpangan gelombang stasioner dari getaran dawai
y = 2A sin

x v

2πx

λ

cos 2 π f t

Keterangan: x = jarak tiap titik (m) v = kecepatan gelombang (m/s) A = amplitudo (m) λ = panjang gelombang (m) Cepat rambat gelombang transversal dalam dawai (hukum Marsene)

v=

F

μ

Keterangan: F = gaya tegangan dawai (N) μ = massa tali per satuan panjang (kg/m) v = kecepatan gelombang (m/s) Daya yang dirambatkan oleh gelombang

P=

E 2mπ 2 f 2 A2 = = 2μvπ 2 f 2 A2 t t P 2 μvπ 2 A2 = = 2 ρvπ 2 f 2 A2 AL AL

Intensitas gelombang:

I=

Keterangan: P = daya yang dirambatkan gelombang (watt) E = energi yang dirambatkan gelombang (J) ρ = massa jenis tali (kg/m3) A = amplitudo (m) AL = luas penampang (m2) I = intensitas gelombang (W/m2)

SUHU
Perbandingan skala antara termometer X dengan termometer Y:

X − X 0 Y − Y0 = X t − X 0 Yt − Y0

Keterangan: X = suhu yang ditunjukkan termometer x X0 = titik tetap bawah termometer x Xt = titik tetap atas termometer x Y = suhu yang ditunjukkan termometer y Y0 = titik tetap bawah termometer y Yt = titik tetap atas termometer y Muai panjang

α=

ΔL ⇔ Lt = L0(1 + α . ∆t) L0 .Δt

Keterangan: α = koefisien muai panjang (K-1) ∆L = Lt – L0 = perubahan panjang (m) ∆ t = perubahan suhu (K) Muai luas

β=

ΔA = 2 α ⇔ At=A ( 1 + β . ∆t) A0 .Δt

Keterangan: β = koefisien muai luas (K-1) = 2α ∆A =At – A0 = perubahan luas (m2) ∆t = perubahan suhu (K) Muai volume

γ =

ΔV ⇔ Vt = V ( 1 + γ . ∆t) V0 .Δt

Keterangan: γ = koefisien muai volume (K-1) = 3α ∆V = Vt – V0 = perubahan volume (m3) ∆t = perubahan suhu (K) Kalor jenis (c) c=

Q m.ΔT

Keterangan: c = kalor jenis (J . kg-1 . K-1) ∆T = perubahan suhu (K) Q = kalor (J)

Kapasitas kalor (C) C=

Q = m.c ΔT

Keterangan: C = kapasitas kalor (J/T) Azaz Black

Qlepas = Qterima
Kalor lebur/beku

Lf =

Q m

Keterangan: Lf = kalor lebur/beku (J.kg-1) Q = kalor (J) m = massa benda (kg) Kalor uap/didih

Lu =

Q m

Keterangan: Lu = kalor uap/didih (J.Kg-1) Q = kalor (J) m = massa benda (kg)

PERPINDAHAN KALOR
Besarnya kalor pada peristiwa konduksi: H = k.A.∆T/ℓ Keterangan: H = kalor yang merambat pada medium (J) k = koefisien konduksi termal (J s-1m-1K-1) ℓ = panjang medium (m) A = luas penampang medium (m2) ∆T = perbedaan suhu ujung-ujung medium (K) Besarnya kalor pada peristiwa konveksi: H = h.A.∆T Keterangan: H = kalor yang merambat pada medium (J) h = koefisien konduksi termal (J s-1m-2K-1) A= luas penampang medium (m2) ∆T = perbedaan suhu ujung-ujung medium (K)

Energi pada peristiwa radiasi (berlaku hukum Stefan): E = σ T4 jika permukaannya tidak hitam sempurna: E = e.σ T4 sementara energi yang dipancarkan ke lingkungan: E = e.σ (T4 - T04) Keterangan: σ = konstanta Stefan (5,675 . 10-8 W.m-2.K-1) T = suhu (K) e = emisivitas permukaan (0 < e <1) T0 = suhu sekitar atau suhu lingkungan

TEORI KINETIK GAS
Tekanan gas dalam ruang tertutup:

p=

3 pV 2N .Ek ⇔ Ek = 2N 3V

Keterangan: p = tekanan gas (pa) Ek = energi kinetik gas (joule) N = jumlah gas V = volume (m3) Hukum Boyle: p.V = konstan Hukum Gay Lussac: V = K .T Hukum Boyle-Gay Lussac p .V = K .T atau p .V = N . k . T Persamaan gas ideal: p .V = n . R . T dengan

N =n N0

Keterangan: K = konstanta p = tekanan (pa atau N/m2) T = suhu (K) V = volume (m3) N0 = bilangan Avogadro = 6,025.1026 k mol-1 R = konstanta gas umum = 8,31.103 J.mol-1.K-1 k = tetapan Boltzman = 1,38.10-23 JK-1 n = jumlah zat (mol)

Hubungan suhu mutlak dan energi kinetik partikel:

Ek =

3 2 kT ⇔ T = Ek 2 3k 3 NkT 2 3 NkT 2 5 NkT 2 7 NkT 2

Energi dalam untuk gas monoatomik: U = Ek =

Energi dalam untuk gas diatomik pada suhu rendah: U = Ek =

Energi dalam untuk gas diatomik pada suhu sedang: U = Ek =

Energi dalam untuk gas diatomik pada suhu tinggi: U = Ek =

Keterangan: U = energi dalam (J) Ek = energi kinetik (J) N = jumlah gas T = suhu (K) V = volume (m3)

TERMODINAMIKA
Usaha oleh lingkungan terhadap sistem (W): W = –p.∆V Keterangan: W = usaha luar (J) p = tekanan (pa) ∆V = perubahan volume (m3) Proses isothermal: T = konstan ⇔ p.V = konstan W = 2,3 . n RT log Proses isokhorik: V = konstan ⇔ W = 0 Proses isobarik: p = konstan ⇔ W = p (V2 – V1) Proses adiabatik: pV = konstan W = n Cv(T2 – T1) = n .Cv.∆T

V2 V1

p = konstan T

V T

= konstan

Keterangan: W = usaha luar/kerja (J) n = jumlah zat (mol) R = konstanta gas umum = 8,31.103 J.mol-1.K-1 T = suhu (K) ∆T = perubahan suhu (K) V1 = volume awal (m3) V2 = volume akhir (m3) Cv = kapasitas kalor pada volume konstan (J/K) Kalor yang diberikan pada suatu sistem: Q = W + ∆U Keterangan: Q = kalor yang diserap/dilepas sistem (J) ∆U = perubahan energi dalam sistem (J) W = usaha luar/kerja (J) Kapasitas kalor gas (C): C=

ΔQ = konstan ΔT ΔU + ΔW ΔU ΔW = + C= ΔT ΔT ΔT
Keterangan: C = kapasitas kalor gas (J/K) ∆Q = perubahan kalor (J) ∆T = perubahan suhu (K) ∆U = perubahan energi dalam (J) Kapasitas kalor gas pada volume tetap (CV): Cv = ⎜

⎛ ΔU ⎞ ⎟ ⎝ ΔT ⎠ v

Kapasitas kalor gas pada tekanan tetap (Cp): Cp = Cv + n R γ=

Cp Cv

Keterangan: Cv = kapasitas kalor gas pada volume tetap (J/K) Cp = kapasitas kalor gas pada tekanan tetap (J/K) γ = tetapan/konstanta Laplace n = jumlah zat (mol) R = konstanta gas umum = 8,31.103 J.mol-1.K-1 Tetapan Laplace (γ) untuk gas ideal monoatomik: γ = 1,67 Tetapan Laplace (γ) untuk gas ideal diatomik: γ = 1,40

Usaha yang dilakukan pada gas dalam siklus Carnot:

W = Q1 - Q2 Q1 T1 = Q2 T2

Persamaan umum efisiensi mesin (η ):

η=

W × 100% Q1

Efisiensi mesin Carnot:

η = ⎜1 − ⎜

dengan 0 < η < 1

⎝ ⎛ T ⎞ η = ⎜1 − 2 ⎟ ×100% ⎜ T ⎟ 1 ⎠ ⎝

Q2 ⎞ ⎟ × 100% Q1 ⎟ ⎠

Koefisien daya guna (K) pada mesin pendingin Carnot: K=

Q2 Q2 T2 = = W Q1 − Q2 T1 − T2

Keterangan: W = usaha atau kerja mesin (J) Q1 = kalor yang diserap pada suhu tinggi (J) Q2 = kalor yang diserap paa suhu rendah (J) T1 = suhu tinggi (K) T2 = suhu rendah (K) η = efisiensi mesin (%) K = koefisien daya guna

LISTRIK STATIS
Gaya Coulomb antara dua benda yang bermuatan listrik

Fc = k

q1.q2 r2

Keterangan: Fc = gaya Coulomb (N) q1, q2 = muatan listrik (C) r = jarak kedua muatan (m) k=

1 4πε 0

= 9.109 Nm2/C2

Resultan gaya Coulomb pada suatu titik bermuatan

FR = F1 + F2 + F3 + ... F = kq ∑ ±
i =1 n

qi ri 2

Keterangan: F = gaya Coulomb (N) q = muatan yang ditinjau (C) qi = muatan-muatan yang berinteraksi dengan q (C) ri = jarak masing-masing muatan yang berinteraksi dengan q terhadap muatan q (m) ± = tanda (+) dan (-) menunjukkan tanda arah, bukan pada jenis muatan yang berinteraksi dengan q Kuat medan listrik (E)

E =

FC q =k 2 q r

Keterangan: E = kuat medan listrik (NC-1) FC = gaya Coulomb (N) q = muatan listrik (C) r = jarak antara titik dengan muatan listrik (m) Total garis gaya listrik yang menembus suatu permukaan Φ = E A cos α =

q

ε0

Keterangan: Φ = jumlah total garis gaya yang menembus suatu permukaan E = kuat medan listrik (N/C) A = luas permukaan (m2) α = sudut antara E dan A q = besar muatan listrik (C) ε0 = 8,85 × 10-12 C2 N-1m-2 Beda energi potensial (∆Ep) antara dua titik dalam medan listrik homogen ∆Ep = – FC. ∆s cos α Keterangan: ∆Ep = beda energi potensial (J) Fc = gaya Coulomb (N) α = sudut antara FC dengan ∆s ∆s = jarak antara kedua titik (m) Untuk membawa muatan q2 ke titik lain didekat muatan q1 yang berjarak r dari muatan itu diperlukan energi sebesar: W = ∆Ep = k. Keterangan: W = energi (J)

q1.q2 r

Kuat medan listrik homogen yang terdapat di antara dua plat sejajar bermuatan E=

σ ε0

Keterangan: E = kuat medan listrik σ = kerapatan muatan (jumlah muatan per satuan luas permukaan) ε0 = 8,85 × 10-12 C2 N-1m-2 Beda potensial (∆V) antara dua titik dalam medan listrik homogen ∆V =

ΔE p

q

= -E ∆s cos α

Keterangan: ∆s = jarak antara dua titik (m) Kapasitas kapasitor (C) C=

q V

Keterangan: C = kapasitas kapasitor (farad) q = muatan listrik (C) V = tegangan listrik (volt) Kapasitas kapasitor keping sejajar: C = ε

A d

Keterangan: ε = permitivitas dialektrik A = luas penampang (m2) d = jarak kedua keping (m) Kapasitas kapasitor susunan seri:

1 1 1 1 1 = + + + ... + Cs C1 C2 C3 Cn
Kapasitas kapasitor susunan paralel: CP = C1 + C2 + C3 + … + Cn Energi yang tersimpan dalam kapasitor: W=½

q2 = ½ q.V = ½ CV2 C

Keterangan: W = energi kapasitor (J) q = muatan listrik (C) V = tegangan listrik (volt) C = kapasitas kapasitor (farad) Cs = kapasitas kapasitor susunan seri (farad) Cp = kapasitas kapasitor susunan pararel (farad)

RANGKAIAN ARUS LISTRIK SEARAH
Kuat arus listrik (I) I=

q ne = t t

Keterangan: I = kuat arus listrik (Cs-1 atau ampere (A)) q = muatan listrik (C) t = waktu yang dibutuhkan untuk menghantarkan arus listrik (s) n = jumlah elektron e = muatan elektron = 1,6 . 10-19 C Hukum Ohm V =IR Keterangan: V = tegangan listrik (volt) I = kuat arus (ampere) R = hambatan (Ω = ohm) Hambatan (R) pada suatu penghantar R = ρ

L A

Keterangan: R = hambatan penghantar (Ω = ohm) L = panjang penghantar (m) A = luas penampang penghantar (m2) ρ = hambat jenis bahan (Ohm . m) Hukum Kirchoff I ΣImasuk = ΣIkeluar Hukum Kirchoff II ΣE + Σ I R = 0 Keterangan: I = arus masuk (A) E = tegangan listrik (volt) R = hambatan listrik (ohm) Hambatan listrik susunan seri (Rs) Rs = R1 + R2 +… + Rn Hambatan listrik susunan pararel (Rp)

1 1 1 1 = + + ... + R p R1 R2 Rn
Tegangan listrik susunan seri (Es) Es = E1 +E2 + … + En I=

n.E R + nr

Tegangan listrik susunan pararel (Ep) Ep = E I=

n.E r R+ n

Keterangan: I = arus listrik (A) E = tegangan listrik (volt) n = banyaknya sumber tegangan seri r = hambatan dalam masing-masing sumber (ohm) R = hambatan listrik (ohm) Energi listrik (W): W = q V = I2 R t Daya listrik (P): P=

V2 W = I2.R = = V.I t R

Keterangan: W = energi listrik (J) P = daya listrik (watt) t = waktu (s) I = arus listrik (A) R = hambatan listrik (ohm) V = tegangan listrik (volt)

INDUKSI MAGNETIK
Induksi magnetik (B): B=

Φ A

Keterangan: B = induksi magnetik (weber/m2 atau tesla) Φ = fluks magnetik (weber) A = luas penampang (m2) Induksi magnetik pada kawat lurus panjang (B) B=

μ0 I 2π a

Keterangan: B = medan magnetik (weber/m2 atau tesla) I = kuat arus listrik (ampere) a = jarak dari suatu titik ke penghantar μ0 = permeabilitas ruang hampa = 4 π .10-7 weber/ampere.meter

Induksi magnetik pada kawat melingkar berarus (B) B=

μ0 I N
2r

=

μ0 I N
L

Induksi magnetik pada selenoida di pusat: B = μ 0 n I dengan n =

N l

Keterangan: N = jumlah lilitan r = jari-jari lingkaran (m) L = panjang selenoida (m) n = jumlah lilitan per panjang selenoida Induksi magnetik pada selenoida di ujung kumparan: B =

μ0 I n
2

Induksi magnetik pada toroida: B=

R+r μ0 I N μ IN atau B = 0 dengan a = 2π R 2π a 2

Gaya Lorentz pada kawat berarus dalam medan magnet: F = B I L sin θ Gaya Lorenzt dengan muatan bergerak dalam medan magnet: F = B q v sin θ Keterangan: F = gaya Lorenzt (N) B = medan magnetik (tesla atau T) I = arus listrik (A) q = muatan listrik (C) v = kecepatan gerak muatan (m/s) θ = sudut antara B dan I = sudut antara B dan v R = jari-jari toroida (m) Gaya Lorenzt pada dua kawat sejajar F=

μ 0 I1 I 2 L 2π a

Momen kopel (M) M = N A B I sin θ Keterangan: I1 = kuat arus listrik pada kawat pertama (A) I2 = kuat arus listrik pada kawat kedua (A) L = panjang kawat (m) a = jarak antara dua kawat (m) M = momen kopel (Nm) N = jumlah lilitan A = luas penampang kumparan (m2) B = medan magnetik (T) I = kuat arus (A) θ = sudut antara bidang normal dengan medan magnet

Permeabilitas relatif suatu bahan μr
=

Kuat medan magnet dengan inti besi B = μr B0 Keterangan: μr = permeabilitas relatif μ0 = permeabilitas ruang hampa μr = permeabilitas bahan B = kuat medan magnet dengan inti besi (feromagnetik: μr >1) B0 = kuat medan magnet tanpa inti besi (udara)

μ μ0

INDUKSI ELEKTROMAGNETIK
GGL induksi ( ε ) menurut hukum Faraday

ε= −

NΔΦ Δt ΔI Δt

GGL induksi diri menurut hukum Henry

ε=–L

Fluks magnetik ( Φ ) Φ = B A cos θ Keterangan: ε = GGL induksi (volt atau V) N = jumlah kumparan Δ Φ = fluks magnetik (Wb) ΔI = perubahan arus listrik (A) Δt = perubahan waktu (s) B = medan magnet (T) A = luas penampang (m2) θ = sudut antara medan magnet dan permukaan datar penampang Induktansi diri (L) L=N

Φ atau I μ0 N 2 A L= l

Energi yang tersimpan dalam induktor (W) W = ½ L.I2 Induktansi silang (induktansi bersama): M=

μ0 N1 N 2 A
l

GGL induksi pada generator ( ε ): ε maks = N B A ω ε = ε maks sin ωt sementara kuat arus (I): Imaks = Imax sin ωt

Keterangan: L = induktansi diri (henry atau H) Φ = fluks magnet (Wb) N = jumlah kumparan I = kuat arus listrik (A) l = panjang selenoida (m) μ0 = permeabilitas udara = 4 π × 107 Wb m/A W = energi yang tersimpan dalam induktor (J) M = induktansi silang (henry) N1 = jumlah lilitan pada selenoida pertama N2 = jumlah lilitan pada selenoida kedua A = luas penampang selenoida (m2) B = medan magnet (T) ω = kecepatan sudut (rad/s) t = waktu (s)

TRANSFORMATOR (TRAFO)
Besaran daya pada kumparan primer: Pp = Vp . Ip = Np . Ip Besaran daya pada kumparan sekunder: Ps = Vs . Is = Ns . Is Daya yang hilang: Philang = Pp – Ps Hubungan antara besaran-besaran pada kumparan primer dan kumparan sekunder:

Vs N s I N dan P = s = Vp N p IS N p
Efisiensi transformator:

η=

Ps × 100% Pp

Keterangan: Pp = daya pada kumparan primer (watt) Ps = daya pada kumparan sekunder (watt) Vp = tegangan listrik pada kumparan primer (V) Vs = tegangan listrik pada kumparan sekunder (V) Ip = kuat arus pada kumparan primer (A) Is = kuat arus pada kumparan sekunder (A) Np = jumlah lilitan pada kumparan primer Ns = jumlah lilitan pada kumparan sekunder η = efisiensi transformator (%)

ARUS DAN TEGANGAN BOLAK-BALIK
Nilai sesaat I = Imaks sin ω t V = Vmaks sin ( ω t ± θ )

Keterangan: I = arus listrik (A) Imaks = arus listrik maksimum (A) V = tegangan listrik (V) Vmaks = tegangan listrik maksimum (A) ω = kecepatan sudut (rad/s) t = waktu (s) Nilai efektif

I maks = 0,707.I maks 2 V Vef = maks = 0,707.Vmaks 2 I ef =
Keterangan: Ief = arus listrik efektif (A) Vef = tegangan listrik efektif (V) Rangkaian resistif I = Imaks sin ωt V = Vmaks sin ωt Prata-rata = Ief2.R Keterangan: Prata-rata = daya rata-rata (watt) R = resistor (ohm) Reaktansi induktif (XL) XL = ω L = 2 π f L Impedansi rangkaian R-L:

Z =

Vmaks 2 = R2 + X L I maks

Tegangan rangkaian R-L: VL = I XL Sudut fase pada rangkaian R-L: Tg θ =

XL R X Cos θ = L Z

Keterangan: XL = reaktansi induktif (ohm) ω = kecepatan sudut (rad/s) f = frekuensi (Hz) L = induktansi induktor (H) Z = impedansi (ohm) VL = tegangan induktor (V) R = resistor (ohm) θ = sudut fase Cos θ = faktor daya

Rangkaian kapasitif I = Imaks sin ωt V =Vmaks sin (ωt - 90o) Reaktansi kapasitif (Xc) XC =

VC maks I maks

=

1 1 = ω C 2π f C

Keterangan: XC = reaktansi kapasitif (ohm) C = kapasitas kapasitor (farad atau F) Impedansi rangkaian R-C Z =

Vmaks 2 = R2 + X C I maks

Tegangan rangkaian R-C: VC = I XC Sudut fase pada rangkaian R-C: Tg θ =

XC R X Cos θ = C Z
Kuat arus pada rangkaian R-L-C I=

V VR VL VC = = = R R X L XC

Impedansi rangkaian R-L-C

Z = R 2 + ( X L − X C )2
Tegangan pada rangkaian R-L-C

V = VR + (VL − VC ) 2
Beda sudut fase pada rangkaian R-L-C tg θ =

2

X L − X C VL − VC = VR R R cos θ = Z
1 2π 1 LC

Resonansi pada rangkaian R-L-C Syaratnya XL = XC sehingga:

f =

Keterangan: f = frekuensi resonansi (Hz) L = induktansi induktor (H) C = kapasitas kapasitor (F) Harga impedansinya berharga minimum: Z = R Daya rata-rata (Pr) Pr = Ief .Vef cos θ = Ief2.R cos θ

Keterangan: θ = sudut fase Daya semu (Ps) Ps = Ief .Vef = Ief2.R Faktor daya (cos θ ) cos θ =

Pr Ps

OPTIKA GEOMETRI
Pemantulan cahaya Hukum Snellius: sinar datang (i), sinar pantul (r), dan garis normal (N) terletak pada satu bidang datar; dan sudut datang sama dengan sudut pantul. Pembiasan cahaya n = indeks bias

n=

c v n2 n1

n2,1 =

n1 sin i = n2 sin r

sin i n2 v1 λ1 = = = sin r n1 v2 λ2

Keterangan: i = sudut datang r = sudut bias n = indeks bias mutlak c = kecepatan cahaya di ruang vakum/hampa = 3 × 108 m/s v = kecepatan cahaya dalam suatu medium (m/s) n2,1 = indeks bias relatif medium 1 terhadap medium 2 n1 = indeks bias medium 1 n2 = indeks bias medium 2 v1 = kecepatan cahaya di medium 1 (m/s) v2 = kecepatan cahaya di medium 2 (m/s) λ1 = panjang gelombang di medium 1 (m)

λ2 = panjang gelombang di medium 2 (m)

Pembiasan pada prisma Besarnya sudut deviasi (D) pada prisma: D = (i1 + r2) - β Sudut deviasi minimum (Dmin) berlaku pada prisma: Dmin = 2i1 – β, dan r1 =

β

2

Sementara untuk sudut Dmin dan β yang kecil berlaku: Dmin = (n – 1).β Keterangan: β = sudut puncak (pembias) prisma

Pembiasan pada bidang sferis (lengkung):

n1 n2 n2 − n1 + = s s' R
n1s ' h' = n2 s h

Pembesaran (m) yang terjadi pada bidang sferis: m=

Keterangan: n1 = indeks bias medium n2 = indeks bias lensa s = jarak benda (m) s’ = jarak bayangan m) h = tinggi benda (m) h’ = tinggi bayangan (m) R = jari-jari kelengkungan lensa (m) Pembiasan pada benda yang berada di dalam kedalaman berbentuk bidang datar: s’ =

n2 s n1

Keterangan: s' = kedalaman benda yang terlihat (m) Sifat-sifat bayangan pada cermin datar: - Jarak bayangan ke cermin (s’) = jarak benda ke cermin (s) - Tinggi bayangan (h’) = tinggi benda (h) - Sifat bayangan: tegak dan maya (tidak dapat ditangkap layar) Perbesaran bayangan oleh cermin datar: M=

h' =1 h

Jarak fokus (f) pada cermin lengkung:

1 1 1 2 + = = s s' f R
atau

f = s=

R s' . s = 2 s '+ s s'. f s '− f s. f s− f

Jarak benda (s) pada cermin lengkung:

Jarak bayangan (s’) pada cermin lengkung:

s' =

Pembesaran (M) pada cermin lengkung:

s ' h' = atau s h f atau M= s− f s '− f M= f
M=

Keterangan: f = jarak fokus (m) R = jari-jari kelengkungan cermin (m) s = jarak benda (m) s’ = jarak bayangan (m) h = tinggi benda (m) h’ = tinggi bayangan (m) M = pembesaran Jarak fokus pada pembiasan cahaya di lensa:

⎞⎛ 1 1 ⎛ n1 1 ⎞ = ⎜ − 1⎟⎜ + ⎟ ⎟⎜ R R ⎟ ⎜n f ⎝ m 2 ⎠ ⎠⎝ 1
Kekuatan lensa (P): P=

1 f 1 1 + + ... f1 f 2

Kekuatan lensa dan jarak fokus lensa gabungan: Pgab = P1 + P2 + ...

1 f gab

=

Keterangan: f = jarak fokus lensa (m) n1 = indeks bias lensa nm = indeks bias medium R1 = jari-jari kelengkungan lensa 1 (m) R2 = jari-jari kelengkungan lensa 2 (m) P = kekuatan lensa (dioptri) Pgab = kekuatan lensa gabungan (dioptri) fgab = jarak fokus lensa gabungan (m)

ALAT-ALAT OPTIK
Titik dekat mata normal (PP) = 25 cm Titik jauh mata normal (PR) = ~ Rabun jauh (miopi): PP < 25 cm dan PR < ~ P= −

1 PR

Rabun dekat (hipermetropi): PP > 25 cm P=

1 1 − s PR

Keterangan: P = kekuatan lensa (dioptri) s = jarak benda (m)

Lup Sifat bayangan pada lup (kaca pembesar): maya, tegak, diperbesar Pembesaran anguler pada lup saat mata tidak berakomodasi:

γ =

sn x = , sn = jarak titik dekat mata f f sn + 1 dengan sn = 25 cm f
+

Pembesaran anguler pada lup saat mata berakomodasi maksimal:

γ

=

Pembesaran anguler pada lup saat mata berakomodasi pada jarak x:

γ = sn
f

f −d sn S n = (1 + ) f x x

Pembesaran sudut pada lup:

γ =

s n − s ' ⎛ sn ⎞ = ⎜ ⎟ s ⎝ − s '+ d ⎠ s

Keterangan: γ = pembesaran sudut atau pembesaran anguler Sn = jarak titik dekat mata (m) f = jarak titik api atau titik fokus lup (m) d = jarak lup ke mata (m) x = jarak akomodasi (m) s = jarak benda (m) s’ = jarak bayangan (m) Mikroskop Sifat bayangannya: maya, terbalik, diperbesar Panjang mikroskop: d = fob + fok Pembesaran linear total: M = Mob . Mok =

sob ' sok ' × sob sok sob ' sok ' × sob sok
⎞ sob ' ⎛ sn ×⎜ ⎜ f +1⎟ ⎟ sob ⎝ ok ⎠

Pembesaran sudut total untuk mata yang tidak berakomodasi: M = Mob . Mok =

Pembesaran sudut total untuk mata yang berakomodasi maksimum: M = Mob . Mok =

Keterangan: M = pembesaran linear total Mob = pembesaran lensa obyektif Mok = pembesaran lensa okuler sob = jarak benda di depan lensa obyektif (m) s’ob = jarak bayangan yang dibentuk lensa obyektif (m) sok = jarak benda di depan lensa okuler (m) s’ok = jarak bayangan yang dibentuk lensa okuler (m) fob = fokus lensa obyektif (m) fok = fokus lensa okuler (m) d = panjang mikroskop (m)

Teropong Panjang teropong: d = fob + fok Pembesaran bayangan untuk mata yang berakomodasi maksimum:

M =

f ob +1 f ok f ob f ok

Pembesaran bayangan untuk mata yang tidak berakomodasi maksimum

M =

Dispersi Cahaya Sudut dispersi prisma (φ):
φ = Du - D m

Daya dispersi (Φ): Φ = (nu – nm) β Keterangan:
Du = sudut deviasi warna ungu Dm = sudut deviasi warna merah

nu = indeks bias warna ungu nm = indeks bias warna merah Interferensi Cahaya Interferensi cahaya pada celah ganda (percobaan Young) Garis terang (interferensi maksimum): sin α = m

λ
d

, dengan

pd =m λ L pd ⎛ 1⎞ = ⎜m + ⎟ λ 2⎠ L ⎝

Garis gelap (interferensi minimum): sin α = (2m + 1)

λ

2d

, dengan

Keterangan: λ = panjang gelombang (m) p = jarak pola ke terang pusat (m) d = jarak celah (m) L = jarak celah ke layar (m) m = orde = 0, 1, 2, 3, ... Interferensi cahaya pada selaput tipis Garis terang (interferensi maksimum): 2nd cos r = ⎜ m +

⎛ ⎝

1⎞ ⎟λ 2⎠

Garis gelap (interferensi minimum): 2nd cos r = m λ Keterangan: n = indeks bias lapisan d = tebal lapisan (m) r = sudut bias m = order = 0, 1, 2, 3, ...

Difraksi Cahaya Difraksi cahaya pada celah tunggal: Garis terang (interferensi maksimum): d sin α = ⎜ m +

⎛ ⎝

1⎞ 1⎞ pd ⎛ = ⎜m + ⎟ λ ⎟ λ dengan 2⎠ 2⎠ L ⎝ pd = mλ L

Garis gelap (interferensi minimum): d sin α = m λ , dengan

Difraksi cahaya pada kisi difraksi: Garis terang (interferensi maksimum): d sin α = m λ

pd = mλ L 1 d= N
Garis gelap (interferensi minimum): d sin α = ⎜ m +

⎛ ⎝

pd ⎛ 1⎞ 1⎞ = ⎜m + ⎟ λ ⎟ λ dengan 2⎠ 2⎠ L ⎝

Keterangan: d = jarak celah (m) p = jarak pola ke terang pusat (m) N = jumlah garis per satuan panjang λ = panjang gelombang (m) α = sudut antara sinar yang dilenturkan dengan garis normal Polarisasi Cahaya Sudut polarisasi menurut hukum Brewster karena pembiasan dan pemantulan: tan p =

p + r = 90o

n' n

Keterangan: p = sudut pantul r = sudut bias n = indeks bias medium 1 n’ = indeks bias medium 2

KONSEP ATOM
Percobaan Thomson

e = 1,7 × 1011 C/kg m
Keterangan: e = muatan elementer = 1,60204 × 10-19 C me = massa elektron = 9,11 × 10-31 kg

Deret Lyman

1

Deret Paschen

λ λ

= R(1 − = R( = R( = R(

1 ) ; n = 2, 3, 4, … n2

1

1 1 − ) ; n = 4, 5, 6, … 32 n 2 1 1 − ) ; n = 5, 6, 7, … 42 n 2 1 1 − ) ; n = 6, 7, 8, … 52 n 2

Deret Bracket

1

λ
1

Deret Pfund

λ

Keterangan: λ = panjang gelombang (m) R = tetapan Rydberg (1,0074 × 107 m-1) Model atom Bohr

h ) 2π rn = 5,3 . 10-11.n2
m.v.r = n ( En = –

13,6 (dalam eV) n2 2,174.10−18 (dalam J) En = – n2
Keterangan: En = energi elektron pada kulit ke-n (eV) m = massa partikel (kg) v = kecepatan partikel (m/s) r = jari-jari orbit (m) n = bilangan kuantum utama = 1, 2, 3, ... h = konstanta Planck = 6,63 × 10-23 JS

Energi radiasi h . f = E1 – E2 Keterangan: hf = energi radiasi E1 = energi awal atom E2 = energi keadaan akhir atom

INTI ATOM
Nuklida jenis inti atom ditulis:
A Z

X

Keterangan: X = jenis inti atom atau nama unsur A = nomor massa (jumlah proton + jumlah neutron) Z = nomor atom (jumlah proton) Jumlah netron: N = A – Z

Massa defek mD = mi – mr, atau: mD = (Z.mp + N.mn) – mr Energi ikat inti: Eb = mD . c2 Keterangan: mD = massa defek (kg) mi = massa inti (kg) mr = massa proton ditambah massa neutron (kg) Waktu paruh (T½) N = No (½)n dengan n = T½ =

t T1

2

ln 2

λ
=

=
T1

0,693

λ
= 1,44 T½

Umur rata-rata:

T=

1

2

λ

ln 2

Keterangan: N = jumlah sisa bahan yang meluruh N0 = jumlah bahan mula-mula t = waktu peluruhan (s) λ = konstanta peluruhan (disentregasi/s) T = umur rata-rata (tahun) T1 = waktu paruh (s)
2

Energi foton dalam spektrum emisi: Efoton = E2 - E1 = h.f Keterangan: Efoton = energi foton (J) h = konstanta Planck = 6,63 × 10-34 Js f = frekuensi (Hz)

GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK
Cepat rambat gelombang magnetik (c)

c=

1

εμ

Keterangan: c = kecepatan atau cepat rambat gelombang elektromagnetik (m/s) ε = permitivitas medium (C2/Nm2) μ = permeabilitas medium (Wb.m/A)

Cepat rambat gelombang magnetik di ruang hampa

c=

1

ε 0 μ0

Keterangan: ε0 = permitivitas listrik ruang hampa = 8,85 × 10-12 C2/N.m2 μ 0 = permeabilitas magnet ruang hampa = 4 π × 10-7 Wb/A.m Laju energi rata-rata per m2 luas permukaan ( S )

S=

B Emaks − Bmaks atau S = ½ Emaks.Hmaks jika Hmaks = 2μ0 μ0

Induksi magnetik pada gelombang elektromagnetik: E = μ0 H.v = c.B dan Emaks = c.Bmaks Keterangan: S = laju energi rata-rata yang dipindahkan tiap m2 luas permukaan Emaks = medan listrik maksimum (N/C) Bmaks = medan magnet maksimum (T) μ0 = permeabilitas magnet ruang hampa = 4 π × 10-7 Wb/A.m v = kecepatan (m/s) c = cepat rambat gelombang elektromagnetik (m/s) H = intensitas medan magnet Energi radiasi kalor

W=

E P = = e.τ .T 4 t. A A

Keterangan: W = energi persatuan waktu persatuan luas (watt.m-2) P = daya (watt) e = koefisien emisivitas (0 < e < 1) e = 0 → benda putih sempurna e = 1 → benda hitam sempurna τ = konstanta Stefans-Boltzman = 5,67.10-6 watt.m-2K-4 Hukum pergeseran Wien b = λmaks . T Keterangan: λmaks = panjang gelombang yang dipancarkan pada energi maksimum (m) b = tetapan pergeseran Wien = 2,8978.10-3 mK T = suhu mutlak (K) Teori kuantum Planck Efoton = h f =

hc

λ
hc

Etotal = n h f = n

λ

E h P= = c λ

Keterangan: h = tetapan Planck = = 6,63 × 10-34 Js c = kecepatan cahaya (m/s) E = energi foton (J) P = momentum foton (kg m/s) λ = panjang gelombang (m) n = jumlah foton f = frekuensi foton (Hz) Efek fotolistrik Ek = E – W= hf – W W = h . f0 Ek = h (f – f0) Keterangan: Ek = energi kinetik elektron (J) W = fungsi kerja logam (J) f = frekuensi foton (Hz) f0 = frekuensi ambang (Hz) h = konstanta Planck = 6,63 × 10-34 Js Efek Campton P=

E hf h = = c c λ h (1 − cosϕ ) me .c

∆λ = λ’ – λ =

Keterangan: P = momentum foton (kg m/s) λ = panjang gelombang (m) h = tetapan Planck c = kecepatan cahaya = 3 × 108 m/s λ’ = panjang gelombang foton terhambur (m) λ = panjang gelombang foton datang (m)

ϕ = sudut hamburan foton

h = panjang gelombang Compton = 0,0243 Å me .c

me = massa diam elektron = 9,1 × 10-23 kg Teori de Broglie

h h = mv P h h atau λ = λ= 2 m Ek 2mqv

λ=

Keterangan: m = massa partikel (kg) v = kecepatan partikel (m/s) λ = panjang gelombang (m) P = momentum partikel (kg m/s) q = muatan partikel (C)

TEORI RELATIVITAS
Kecepatan relatif terhadap acuan diam:

vx =
x' =

vx ' + v v 'v 1 + x2 c x − v.t
1−

v2 c2 vx t− 2 c t'= v2 1− 2 c
Keterangan: vx = kecepatan relatif terhadap acuan diam (m/s) vx’ = kecepatan relatif terhadap acuan bergerak (m/s) v = kecepatan acuan bergerak terhadap acuan diam (m/s) c = kecepatan cahaya = 3 × 108 m/s x = tempat kedudukan peristiwa menurut kerangka acuan pertama x' = tempat kedudukan peristiwa menurut kerangka acuan kedua t = waktu peristiwa menurut kerangka acuan kedua (s) t = waktu peristiwa menurut kerangka acuan pertama (s) Kontraksi Lorenzt

L' = L 1 − Δt

v2 c2

=

L b

Dilatasi waktu ∆t’ =

v2 1− 2 c m0 v2 1− 2 c

⇔ ∆t’ = b.∆t

Relativitas massa/massa relativistik m =

= b m0

Keterangan: L’ = panjang benda oleh pengamat bergerak (m) L = panjang benda oleh pengamat diam (m) b=

1
v2 1− 2 c

= konstanta transformasi

∆t = lama waktu oleh pengamat diam (s) ∆t’ = lama waktu oleh pengamat bergerak (s) m = massa benda bergerak (kg) m0 = massa benda diam (kg)

Relativitas momentum/momentum relativistik: p = m .v =

m0 .v v2 1− 2 c

= b m0 v

Relativitas energi/energi relativistik: Untuk benda yang bergerak: E=

m0 .c 2 1− v c2
2

= b m0 c 2

Untuk benda diam:

m0 c 2 E0 = = m0 c 2 1− 0
Energi kinetik relativistik:

Ek = E - E0 =

m0 c 2 1− v c2
2

− m0 c 2 = (b − 1)m0.c 2

Keterangan: p = momentum relativistik (kg m/s) E0 = energi diam (J) E = energi total (J) Ek = energi kinetik (J)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful