Anda di halaman 1dari 2

RSUD

WONOSARI

TRANSPORTASI PASIEN KRITIS


No. Dokumen

No. Revisi:

Halaman:
1 dari 2

Standar Prosedur
Operasional

Tanggal Terbit:

Ditetapkan oleh
Direktur
Drg. Isti Indiyani, MM
NIP : 195812301985122002

Pengertian
Tujuan

Transportasi pasien kritikal adalah pemindahan pasien dalam keadaan Kritis


dari unit bagian lain ke ICU maupun sebaliknya ataupun ke rumah sakit lain
untuk tindakan diagnostik ataupun keperluan lainnya
Agar pasien terjamin (aman) selama transportasi

Kebijakan

1.

Prosedur

Unit terkait

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


1691/Menkes/Per/VIII/2011 Tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit
2.
Dilakukan oleh DPJP ICU atau yang mewakili dengan fasilitas alat
dan obat-obat emergency yang cukup dan memadai.
3.
Petugas yang ikut dalam transportasi pasien adalah orang yang
sudah terlatih dan tersertifikasi ICU yakni dokter dan perawat ICU.
4.
Transportasi dilakukan jika pasien memerlukan tindakan
pemeriksaan penunjang (CT Scan, MRI dll) atau pasien untuk dilakukan
dialisa di ruang HD
1.
DPJP ICU melakukan assessment pasien sebelum dilakukan
transportasi pasien dan mengkoordinasikan dengan petugas tempat
tujuan pasien tentang identitas, diagnosis dan kondisi pasien.
2.
Pasien yang ditransportasikan : potensial mengalami perburukan,
kebutuhan monitoring fisiologik dan intervensi akut , kelanjutan terapi
yang telah dilakukan selama transportasi
3.
DPJP ICU / yang mewakili dan perawat PJ pasen menjelaskan
kepada keluarga pasien terkait prosedur transportasi yang dilakukan
dan alasan pasien untuk ditransportasi ke unit lain
4.
Perawat PJ pasien menyiapkan pasien dan alat alat yang
dibutuhkan selama transportasi
5.
Petugas yang mengantar pasien minimal 2 orang dan harus terlatih:
dokter, perawat dan atau petugas ambulans, dan mengerti dan
mengenal dengan kondisi alat transportasi.
6.
Ada alat dan prosedur komunikasi yang aman dalam keadaan
emergency dan tersedia alat pelindung personil, pemadam api /
kebakaran.
7.
Sedapat mungkin kondisi pasien stabil, kecuali pasien memerlukan
intervensi segera di rumah sakit tujuan.
8.
Jalan nafas pasien harus aman, sendiri atau dengan intubasi dan
bantuan ventilasi manual/ mekanik dan pasien sudah harus ada akses
vena.
9.
Pasien harus dalam keadaan keamanan terjamin di stretcher dan
terpasang monitor. Selama transportasi terapi, monitoring dan
dokumentasi harus terus dilakukan.
10.
Serah terima tentang kondisi pasien, terapi yang telah dan sedang
dilakukan, dokumen (RS lain : resume medik, hasil pemeriksaan
laboratorium dan pemeriksaan penunjang;, formulir transfer pasien antar
ruang dan rekam medis pasien) diserah terimakan pada petugas di
tempat tujuan.
1. IGD,
2. Ambulance
3. Unit perawatan Inap
4. Unit penunjang