100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
898 tayangan21 halaman

Propofol

Referat ini membahas propofol, obat anestesi intravena yang sering digunakan untuk induksi anestesi. Propofol bekerja dengan mengaktivasi reseptor GABA untuk menimbulkan efek sedatif dan hipnotik. Propofol menyebabkan depresi sistem kardiovaskular dan respirasi serta dapat menimbulkan hipotensi. Hipotensi akibat propofol dapat berdampak buruk pada fungsi organ kritis seperti otak, jantung, ginjal, dan hat

Diunggah oleh

Nur Cahya Elfaruqi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
898 tayangan21 halaman

Propofol

Referat ini membahas propofol, obat anestesi intravena yang sering digunakan untuk induksi anestesi. Propofol bekerja dengan mengaktivasi reseptor GABA untuk menimbulkan efek sedatif dan hipnotik. Propofol menyebabkan depresi sistem kardiovaskular dan respirasi serta dapat menimbulkan hipotensi. Hipotensi akibat propofol dapat berdampak buruk pada fungsi organ kritis seperti otak, jantung, ginjal, dan hat

Diunggah oleh

Nur Cahya Elfaruqi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

REFERAT

PROPOFOL
OLEH: NURUL HUSNA S.KED

Preseptor :
dr. Kurnian, Sp.An
dr. Fachrurrazi, Sp.An
dr. Zaki Fikran, Sp.An

BAB 1
Pendahuluan
Induksi anestesi adalah pemberian obat
atau kombinasi obat pada saat dimulainya
anestesi yang menyebabkan suatu fase
dimana pasien melewati dari sadar
menjadi tidak sadar. Tahap awal dari
anestesi umum adalah induksi anestesi
yang dapat dilakukan dengan penyuntikan
agen
induksi
secara
intramuskular,
intravena ataupun dengan agen inhalasi

Salah satu obat anestesi intravena yang


sering digunakan dalam induksi anestesi
adalah
propofol,
karena
propofol
mempunyai onset yang cepat, durasi yang
singkat, dan waktu pulih sadar yang
cepat.
Propofol
adalah
2,6
diisoproplyphenol yang merupakan rapid
acting intravenous anesthesia. Merupakan
sedative hipnotik melalui interaksi dengan
reseptor
Gamma
Amino
Butyric
Acid( GABA).

BAB 2
Tinjauan Pustaka

Definsi
Propofol adalah obat anestesi intravena yang
paling sering digunakan saat ini. Dimulai
pada tahun 1970-an dihasilkan dari substitusi
derivate phenol dengan materi hipnotik yang
kemudian menghasilkan 2,6-diisopropofol. Uji
klinik
yang
pertama
kali
dilakukan,
dilaporkan oleh Kay dan Rolly tahun 1977,
memberikan konfirmasi penggunaan propofol
sebagai obat induksi anestesi.

Propofol adalah salah satu dari grup


alkylphenol yang dapat menimbulkan hipnosis.
Alkylphenol berbentuk minyak tidak larut dalam
air tetapi kelarutannya tinggi dalam lemak.
Formula baru yang menyisihkan Cremophor
tersusun atas 1 % (berat/volume) propofol,
minyak kedelai 10 %, glycerol 2,25 % dan 1,2 %
purified egg phosphitide. Disodium edentate
ditambahkan
untuk
memperlambat
pertumbuhan bakteri pada emulsi. Formula ini
memiliki pH 7, viskositasnya rendah, berwarna
putih susu

Mekanisme Kerja
Propofol adalah modulator selektif dari
reseptor gamma amino butiric acid (GABA),
memodulasi saluran ion ligand lainnya pada
konsentrasi yang relevan secara klinis. Propofol
memberikan efek sedatif hipnotik melalui
interaksi
reseptor
GABA.
GABA
adalah
neurotransmiter penghambat utama dalam
susunan saraf pusat.

Ketika reseptor GABA diaktifkan, maka


konduksi
klorida
transmembran
akan
meningkat,
mengakibatkan
hiperpolarisasi
membran
sel post-sinap dan hambatan
fungsional dari neuron post-sinap. Interaksi
propofol dengan komponen spesifik reseptor
GABA terlihat mampu meningkatkan laju
disosiasi dari penghambat neurotransmiter, dan
juga mampu meningkatkan lama waktu dari
pembukaan klorida yang diaktifkan oleh GABA
dengan
menghasilkan
hiperpolarisasi
dari
membran sel.

Farmakokinetik
Pemberian propofol 1.5 2.5 mg/kg IV (setara
dengan
tiopental 4-5 mg/kg IV atau metoheksital 1.5 mg/kg IV)
sebagai injeksi IV (<15 detik), mengakibatkan ketidaksadaran
dalam 30 detik. Sifat kelarutannya yang tinggi di dalam lemak
menyebabkan mulai masa kerjanya sama cepatnya dengan
tiopental ( satu siklus sirkulasi dari lengan ke otak) konsentrasi
puncak di otak diperoleh dalam 30 detik dan efek maksimum
diperoleh dalam 1 menit. Pulih sadar dari dosis tunggal juga
cepat disebabkan waktu paruh distribusinya (2-8) menit.
Pengembalian kesadaran yang lebih cepat dengan residu
minimal dari sistem saraf pusat (CNS) adalah salah satu
keuntungan yang penting dari propofol dibandingkan dengan
obat alternatif lain yang diberikan untuk tujuan yang sama.

Induksi Anestesi
Dosis induksi dari propofol adalah 1.5 - 2.5 mg/kgBB IV
yang menghasilkan ketidaksadaran tergantung pada
pengobatan dan usia pasien. Onset hipnosis propofol
sangat cepat (one arm-brain circulation) dengan durasi
hipnosis 5-10 menit. Seperti halnya dengan barbiturat,
anak membutuhkan dosis induksi dari propofol yang lebih
tinggi per kilogram berat badan. Pasien lansia
membutuhkan dosis induksi yang rendah (25% hingga
50% terjadi penurunan) akibat penurunan volume
distribusi sentral. Pasien sadar biasanya terjadi pada
konsentrasi propofol plasma 1,0 hingga 1,5 g/ml.

Farmakodinamik

Sistem saraf pusat


Propofol mengurangi laju metabolik otak
untuk oksigen (CMRO2), aliran darah ke
otak (CBF), dan tekanan intracranial
(ICP).
Pemberian
propofol
untuk
menghasilkan sedasi pada pasien dengan
SOL (space occupying lesion) intrakranial
tidak meningkatkan ICP. Dosis yang besar
dari propofol ini dapat mengurangi
tekanan darah sistemik dan juga
mengurangi tekanan perfusi otak (CPP).

Sistem Kardiovaskular
Propofol menghasilkan penurunan tekanan darah sistemik yang
lebih besar dibandingkan dosis tiopental pada saat induksi.
Pada keadaan dimana tidak ada gangguan kardiovaskuler,
dosis induksi 2 - 2,5 mg/kgBB menyebabkan penurunan
tekanan darah sistolik sebesar 25-40%. Perubahan yang sama
terlihat juga terhadap tekanan arteri rerata (MAP) dan tekanan
darah diastolik. Penurunan tekanan darah ini mengikuti
penurunan curah jantung sebesar 15% dan penurunan
resistensi vaskular sistemik sebesar 15-25 %. Relaksasi otot
polos vaskular dihasilkan oleh propofol adalah terutama
berkaitan dengan hambatan aktivitas saraf simpatik. Menurut
Dhungana, propofol menyebabkan hipotensi akibat vasodilatasi
perifer yang diakibatkan oleh peningkatan produksi endothelial
dan lepasnya nitric oxide.

Sistem Respirasi
Propofol menghasilkan depresi ventilasi tergantung pada
dosis, kecepatan pemberian dan
premedikasi, dengan
apnu yang berlangsung pada 25% hingga 35% pasien
setelah induksi dengan propofol. Pemberian opioid pada
pengobatan preoperatif dapat meningkatkan efek depresi
ventilasi. Propofol mengurangi respon ventilasi dan juga
hipoksemia. Propofol dapat mengakibatkan bronkodilatasi
dan
menurunkan insidensi
sesak pada pasien asma.
Konsentrasi sedasi dari propofol akan menekan respon
ventilasi terhadap hiperkapnia disebabkan
efek dari
kemoreseptor sentral. Berbeda dengan anestesi inhalasi
dosis rendah, respon kemorefleks perifer pada karbon
dioksida masih tetap ada ketika dirangsang oleh karbon
dioksida dengan adanya propofol.

Efek-efek lain
Propofol tidak mempengaruhi fungsi ginjal atau
hepar sebagaimana dinyatakan oleh konsentrasi
enzim transaminase liver atau kreatinin. Propofol
dalam formula emulsi tidak mempengaruhi
fungsi hematologi atau fibrinolisis.
Propofol juga mempunyai efek antiemetik yang
signifikan pada dosis subhipnotik (10 mg) dan
telah digunakan untuk mengatasi mual muntah
paska operasi (PONV). Peningkatan tekanan bola
mata dicegah setelah pemberian propofol, oleh
sebab itu propofol ideal digunakan pada operasi
mata.

Hipotensi akibat Propofol


Hipotensi didiagnosa sebagai adanya penurunan
darah arteri disertai laju nadi yang menurun atau
normal.
Pada
kepentingan
klinis
dan
eksperimental, diagnosa hipotensi ditegakkan bila
ada penurunan tekanan arteri rerata (MAP) lebih
dari 40% atau MAP<60 mmHg, atau penurunan
tekanan darah sistolik lebih besar 20% dari
tekanan darah sistolik semula atau tekanan darah
sistolik lebih kecil dari 90 mmHg.
Hipotensi merupakan salah satu efek samping
dari propofol. Pada dosis induksi 2 - 2,5 mg/kgBB
menyebabkan penurunan tekanan darah sistolik
sebesar 25- 40%.

Efek Hipotensi Terhadap Fungsi Organ

Susunan saraf pusat


Hipotensi menyebabkan penurunan aliran darah ke
otak (CBF) sehingga dapat menyebabkan iskemi serebral
yang berefek pada terjadinya gejala sisa neurologi.
Autoregulasi serebral adalah kemampuan otak untuk
mempertahankan CBF tetap konstan, baik pada keadaan
dimana terjadi perubahan pada tekanan darah sistemik
ataupun tekanan perfusi serebral (CPP) yaitu dengan
usaha dilatasi sebagai respon terhadap berkurangnya
aliran darah atau iskemia. Autoregulasi ini berlangsung
jika tekanan arteri rerata (MAP) berada pada 60-150
mmHg. Batas bawah tekanan darah sistolik adalah 85
mmHg dan 113 mmHg pada pasien dengan hipertensi.
Jika MAP lebih rendah dari batas bawah autoregulasi
(60mmHg), aliran darah ke otak akan menurun.

Sistem kardiovaskular
Ketika curah jantung menurun, baroreseptor yang
berada di jantung, aorta dan arteri karotid terangsang
untuk meningkatkan laju jantung dan pelepasan
katekolamin menyebabkan vasokonstriksi di perifer dan
meningkatkan kontraktilitas untuk menambah curah
jantung dan menstabilkan tekanan darah. Meskipun
mekanisme
protektif
ini
pada
mulanya
akan
meningkatkan tekanan arteri darah dan perfusi jaringan,
namun efeknya terhadap miokardium justru buruk karena
meningkatkan beban kerja jantung dan kebutuhan
miokardium akan oksigen. Karena aliran darah koroner
tidak memadai, maka ketidak-seimbangan antara
kebutuhan dan suplai oksigen terhadap miokardium
semakin meningkat, menimbulkan suatu infark di jantung.

Pada
pasien
dengan
gagal
jantung,
penurunan kontraktilitas jantung mengurangi
curah jantung dan meningkatkan volume dan
tekanan akhir diastolik ventrikel kiri, hingga
mengakibatkan kongesti paru-paru dan edema.
Dengan bertambah buruknya kinerja ventrikel
kiri, keadaan hipotensi berkembang dengan
cepat sampai akhirnya terjadi gangguan
sirkulasi yang menggangu sistem organ-organ
penting.

Ginjal dan Hati


Perfusi ginjal yang menurun mengakibatkan anuria
dengan volume urine kurang dari 20 cc/jam. Dengan
semakin
berkurangnya curah jantung, terjadi respon
kompensatorik, aliran darah ke ginjal berkurang, retensi
natrium dan air sehinga kadar natrium dalam kemih juga
berkurang. Sejalan dengan menurunnya laju filtrasi
glomerulus, terjadi peningkatan ureum kreatinin. Bila
hipotensi berat dan berkepanjanganan, dapat terjadi
nekrosis tubular akut yang kemudian disusul gagal ginjal
akut.Syok yang berkepanjangan akan mengakibatkan
gangguan sel-sel hati dan bermanifetasi sebagai
peningkatan enzim-enzim hati.

Saluran Cerna
Iskemik saluran cerna berkepanjangan umumnya
mengakibatkan nekrosis hemoragik dari usus besar.
Penurunan motilitas saluran cerna ditemukan pada
keadaan hipotensi, oleh karena itu keadaan hipotensi
tidak dapat dibiarkan dan harus dicegah jangan sampai
terjadi, khususnya pada pasien-pasien dengan penyakit
kardiovaskular
seperti
penyakit
jantung
koroner,
arteriosklerosis, gagal jantung, penyakit serebrovaskular,
pasien-pasien dengan kelainan hepar, penyakit ginjal,
pada geriatri, gangguan volume darah seperti pada
anemia, perdarahan dan keaadaan syok hipovolemik.

BAB 3
Kesimpulan
Propofol adalah obat intravena paling sering
digunakan dalam anestesi saat ini, propofol
merupakan obat anestesi intravena yang
efektif , onset cepat, durasi kerja pendek. Selain
itu propofol juga mempunyai keuntungan pulih
sadar yang cepat meskipun setelah penggunaan
dalam periode anestesi yang lama serta adanya
insidensi mual-muntah yang rendah. Fakta
tersebut
menyebabkan
propofol
semakin
popular penggunaannya secara klinik di
berbagai bidang anestesi.

TERIMAKASIH

Anda mungkin juga menyukai