Anda di halaman 1dari 14

PEMBAHASAN

Tahapan Kegiatan Dalam Audit Laporan Keuangan


Dalam setiap audit baik audit pada perusahaan besar maupun pada perusahaan kecil,
selalu terdapat empat tahapan kegiatan yaitu :
1.
2.
3.
4.

Penerimaan penugasan audit


Perencanaan audit
Pelaksanaan pengujian audit
Pelaporan temuan

Penerimaan Penugasan Audit


Tahap awal dalam suatu audit laporan keuangan adalah mengambil keputusan untuk
menerima (atau menolak) suatu kesempatan menjadi auditor untuk klien baru, atau untuk
melanjutkan sebagai auditor bagi klien yang sudah ada. Pada umumnya keputusan untuk
menerima (atau menolak) ini sudah dilakukan sejak enam hingga Sembilan bulan sebelum
akhir tahun buku yang akan diperiksa.
Perencanaan Audit
Tahap kedua dari suatu audit menyangkut penetapan strategi audit untuk pelaksanaan
dan penentuan lingkup audit. Perencanaan merupakan tahap yang cukup sulit dan
menentukan keberhasilan penugasan audit. Pada gambar dibawah ini nampak bahwa pada
tahap ini perlu diterapkan standar umum dan standar pekerjaan lapangan dari standar
auditing.

STANDAR AUDITING
PENERIMAAN
PENUGASAN
AUDIT

STANDAR PELAKSANAAN
PEKERJAAN PENGUJIAN
STANDAR UMUMAUDIT
LAPANGAN

PELAPORAN
STANDAR
TEMUAN

PELAPORAN

PERENCANAAN
AUDIT

Pelaksanaan Pengujian Audit


Tahap ketiga dalam suatu audit laporan keuangan adalah melaksanakan pengujian audit.
Tahap ini sering disebut juga sebagai pelaksanaan pekerjaan lapangan. Tujuan utama tahap ini
adalah mendapatkan bukti audit mengenai efektivitas struktur pengendalian intern klien dan
kewajaran laporan keuangannya. Pengujian audit ini pada umumnya dilakukan antara tiga
sampai empat bulan sebelum akhir tahun buku hingga satu sampai tiga bulan sesudah akhir
tahun buku klien.

Pelaporan Temuan
Tahap keempat atau tahap terakhir dari suatu audit adalah pelaporan temuan. Laporan audit
bisa berupa laporan standar yaitu laporan audit dengan pendapat wajar tanpa perkecualian,
atau bisa juga menyimpang dari laporan standar. Laporan audit biasanya diterbitkan antara
satu hingga tiga minggu setelah berakhirnya pekerjaan lapangan.
Penerimaan Penugasan
2

Dalam profesi akuntan public, terjadi persaingan yang cukup ketat antar kantor
akuntan public untuk mendapatkan klien. Bagi suatu kantor akuntan publik, klien bisa
merupakan klien baru ataupun klien lama (yang sudah ada) yang akan diharapkan
melanjutkan memberikan penugasan audit pada tahun atau tahun-tahun berikutnya. Klien
baru bisa merupakan perusahaan yang baru pertama kali diaudit oleh akuntan public, atau
perusahaan yang pernah diaudit oleh kantor akuntan public lain. Pergantian auditor bisa
terjadi karena berbagai alasan, misalnya
1. Klien merupakan hasil merger (penggabungan) antara beberapa perusahaan yang
2.
3.
4.
5.

semula memiliki auditor masing-masing yang berbeda.


Ada kebutuhan untuk mendapat perluasan jasa professional.
Tidak puas terhadap kantor akuntan public yang sama.
Ingin mencari auditor dengan honorarium audit yang lebih murah.
Penggabungan antara beberapa kantor akuntan public.
Auditor tidak wajib menerima setiap permintaan untuk melakukan audit laporan

keuangan yang diajukan oleh calon kliennya. Apabila auditor memutuskan untuk menerima
suatu penugasan audit, maka auditor harus memikul tanggungjawab professional terhadap
masyarakat, klien, dan terhadap anggota profesi akuntan public yang lain. Auditor harus
menjaga kelangsungan kepercayaan masyarakat terhadap profesi dengan menjaga
indepedensi, integritas, dan obyektivitas. Kepentingan klien harus dilayani dengan
memperhatikan kopetensi dan profesionalitas.
Pentingnya keputusan ini terlihat dari dimasukkannya masalah penerimaan atau
pelanjutan penugasan dari klien sebagai salah satu dari Sembilan elemen pengendalian mutu
pada suatu kantor akuntan public. Pertimbangan dalam memutuskan untuk menerima
penugasan juga berhubungan langsung dengan kemampuan auditor untuk memenuhi
persyaratan seperti diminta oleh standar auditing serta kode ethic akuntan. Tahapan yang
harus dilakukan oleh suatu kantor akuntan public untuk menjamin bahwa penerimaan
penugasan hanya diberikan pada penugasan audit yang dapat diselesaikan sesuai dengan
standar professional diantaranya
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Mengevaluasi integritas manajemen.


Mengidentifikasi keadaan-keadaan khusus dan risiko tidak biasa.
Menetapkan kompetensi untuk melakukan audit.
Mengevaluasi indepedensi.
Menentukan kemampuan untuk bekerja dengan cermat dan seksama.
Menyiapkan surat penugasan.

EVALUASI ATAS INTEGRITAS MANAJEMEN


Tujuan pokok suatu audit laporan keuangan adalah untuk menyatakan suatu pendapat
tentang laporan keuangan klien. Oleh karena itu, perlu diperhatikan bahwa auditor hanya
akan menerima penugasan apabila terdapat jaminan yang memadai bahwa manajemen klien
bisa dipercaya. Apabila manajemen tidak memiliki integritas, kemungkinan besar terdapat
kekeliruan dan ketidakberesan dalam proses akuntansi yang menjadi dasar penyusunan
laporan keuangan. Hal ini akan menyebabkan risiko menjadi bertambah besar, yaitu risiko
auditor memberikan pendapat wajar tanpa perkecualian, padahal laporan keuangan
mengandung salah saji yang material. Bagi klien baru, auditor bisa memperoleh informasi
tentang integritas manajemen dengan bertanya pada auditor pendahulu, atau dengan
mengajukan pertanyaan kepada pihak ketiga yang dipandang mengenal klien. Untuk klien
yang sudah ada dan akan melanjutkan pemberian penugasan audit, perlu dipertimbangkan
pengalaman auditor dengan manajemen klien pada audit yang lalu.
Komunikasi dengan Auditor Pendahulu
Bagi klien yang pernah diaudit oleh auditor lain, pengetahuan tentang manajemen klien yang
dimiliki oleh auditor pendahulu merupakan informasi penting bagi auditor pengganti.
Sebelum menerima penugasan, PSA No. 16, Komunikasi Antara Auditor Pendahulu dengan
Auditor Pengganti (SA 315. 02), mengharuskan auditor pengganti untuk mengambil inisiatif
untuk berkomunikasi dengan auditor pendahulu, baik secara lisan maupun tertulis.
Komunikasi harus dilakukan dengan persetujuan klien, dan klien diminta untuk mengizinkan
auditor pendahulu untuk memberi jawaban lengkap atas pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan auditor pengganti. Persetujuan klien diperlukan karena kode etik profesi melarang
auditor untuk mengungkapkan informasi rahasia yang diperoleh dalam audit tanpa ijin klien.
Dalam komunikasi, auditor pengganti harus mengajukan pertanyaan yang spesifik dan wajar
mengenai berbagai hal yang berpengaruh atas pengambilan keputusan menerima atau
menolak penugasan, seperti misalnya:

Integritas manajemen
Ketidaksepakatan dengan manajemen mengenai prinsip akuntansi dan prosedur audit
Pemahaman auditor pendahulu mengenai alasan klien melakukan penggantian
auditornya.
4

Auditor pendahulu diharapkan untuk memberi jawaban lengkap, dengan asumsi ijin diberikan
oleh klien. Apabila klien tidak memberi ijin, atau auditor pendahulu tidak memberi jawaban
yang lengkap, maka auditor pengganti harus mempertimbangkan implikasinya dalam
memutuskan apakah penugasan akan diterima.
Mengajukan Pertanyaan pada Pihak Ketiga
Informasi tentang integritas manajemen dapat juga diperoleh dari orang-orang yang mengenal
klien, seperti misalnya, penasehat hukum klien, banker, dan pihak-pihak lain dalam
lingkungan bisnis dan keuangan yang memiliki hubungan bisnis dengan calon klien.
Sumber informasi potensial lainnya, antara lain:
1. Meriview berita yang berkaitan dengan penggantian manajemen puncak di majalah
atau surat kabar.
2. Seandainya calon klien adalah perusahaan terbuka yang menjual saham-sahamnya di
pasar modal dan pernah diaudit auditor lain, informasi bisa diperoleh dengan
membaca laporan klien ke Bapepam tentang penggantian auditor.
Meriview Pengalaman Masa Lalu Klien
Sebelum mengambil keputusan untuk melanjutkan penugasan dengan klien audit, auditor
harus mempertimbangkan secara cermat pengalaman berhubungan kerja dengan manajemen
klien di waktu lalu. Sebagai contoh, audit harus mempertimbangkan semua kekeliruan dan
ketidakberesan material, serta tindakan melawan hukum yang ditemukan dalam audit yang
lalu. Selama audit yang lalu berlangsung, auditor mengajukan pertanyaan kepada manajemen
mengenai berbagai hal seperti ada tidaknya kewajiban bersyarat, lengkap tidaknya notulen
rapat dewan komisaris, dan kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku. Kebenaran jawaban
manajemen atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam audit yang lalu harus dipertimbangkan
dengan cermat dalam mengevaluasi integritas manajemen.

MENGIDENTIFIKASI KEADAAN-KEADAAN KHUSUS DAN RISIKO YANG TAK


BIASA
Hal-hal yang berhubungan dengan pengambilan keputusan untuk menerima penugasan pada
tahap ini, anatara lain mengidentifikasi pemakai laporan keuangan yang telah diaudit,

melakukan penilaian awal tentang klien dari segi hukum dan kestabilan keuangannya, serta
mengevaluasi kemungkinan bisa atau tidaknya audit dilaksanakan.
Mengidentifikasi Pemakai Laporan Keuangan Auditan
Tanggungjawab hukum auditor bisa berbeda-beda tergantung pada siapa yang diperkirakan
akan menjadi pemakai laporan keuangan auditan. Oleh karena itu, auditor harus
mempertimbangkan apakah klien merupakan perusahaan public (menjual saham-sahamnya
kepada masyarakat) atau perusahaan privat, kepada siapa saja atau kepada pihak ketiga mana
diperkirakan klien berpotensi mempunyai kewajiban sesuai dengan peraturan perundangan
yang berlaku. Auditor harus mempertimbangkan apakah laporan audit yang biasa akan cukup
untuk memenuhi kebutuhan semua pemakai laporan atau apakah perlu dibuat laporan khusus.
Sebagai contoh, perusahaan-perusahaan tertentu wajib memenuhi persyaratan tertentu
berdasarkan undang-undang. Kadang-kadang perusahaan semacam itu, diwajibkan undangundang untuk menyampaikan informasi yang telah diaudit, yang tidak diwajibkan oleh
prinsip akuntansi berlaku umum. Permintaan laporan tambahan bisa berarti perlu adanya
tambahan kompetensi pada si auditor, bisa juga tambahan biaya, dan bertambah luasnya
tanggungjwab hukum auditor.
Memperkirakan Adanya Persoalan Hukum dan Stabilitas Keuangan Klien
Apabila perusahaan klien pernah mengalami kesulitan karena adanya gugatan hukum, dan
apabila penggugat bisa menemukan alasan bahwa ia dirugikan karena keputusan yang
diambilnya didasarkan pada laporan keuangan, maka situasi demikian sangat mungkin akan
melibatkan auditor. Bila hal itu terjadi, maka auditor terancam membayar denda atas putusan
pengadilan, dan harus mengeluarkan biaya untuk membela diri, betapapun profesionalnya si
auditor dalam menjalankan pekerjanaanya.
Auditor harus berusaha untuk mengidentifikasi dan menolak calon klien yang memiliki risiko
tinggi terkena gugatan hukum. Ini bisa terjadi pada perusahaan yang produksinya berpeluang
diinvestigasi oleh aparat pemerintah atau berpotensi besar mendapat gugatan dari pihak lain,
maka hasil penyelidikan bisa menyebabkan perusahaan terlibat dalam persoalan hukum.
Apabila calon klien menunjukan ketidakstabilan keuangan, seperti tidak mampu membayar
utang yang sudah jatuh tempo, atau meningkatnya keutuhan tambahan modal. Bahkan apabila
tidak terdapat petunjuk adanya kesulitan yang sedang dihadapi perusahaan, auditor harus
mempertimbangkan timbulnya masalah seperti itu di masa datang bersamaan dengan
6

menurunnya kondisi perusahaan. Prosedur yang digunakan auditor untuk mengidentifikasi


hal-hal semacam itu adalah dengan mengajukan pertanyaan kepada manajemen, menganalisa
laporan keuangan yang pernah diterbitkan baik yag diaudit maupun tidak diaudit, dan apabila
memungkinkan dengan meriview laporan-laporan yang disampaikan kepada berbagai
instansi.
Mengevaluasi Auditabilitas Perusahaan Klien
Auditor harus mengevaluasi apakah terdapat kondisi-kondisi lain yang menimbulkan
pertanyaan mengenai auditabilitas klien. Kondisi tersebut antara lain, misalnya perusahaan
tidak memiliki catatan akuntansi atau catatan akuntansinya buruk sekali, perusahaan tidak
memiliki struktur pengendalian intern yang memadai, atau kemungkinan adanya pembatasan
dari klien atas audit yang dilakukan. Maka auditor sebaiknya menolak untuk menerima
penugasan, atau klien harus diberi pengertian mengenai kemungkinan adanya pengaruh dari
kondisi demikian terhadap laporan auditor.

MENETAPKAN KOMPETENSI UNTUK MELAKSANAKAN AUDIT


Standar umum yang pertama dalam standar auditing menyatakan bahwa: Audit harus
dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis cukup
sebagai auditor.
Oleh karena itu, sebelum auditor menerima suatu penugasan, auditor harus memastikan
apakah mereka memiliki kompetensi professional untuk menyelesaikan penugasan sesuai
dengan standar auditing. Hal ini menyangkut penentuan berapa jumlah anggota tim audit dan
mempertimbangkan kebutuhan bantuan dari konsultan atau spesialis pada waktu audit
berlangsung.
Penetapan Tim Audit
Penetapan personil untuk melaksanakan penugasan merupakan salah satu elemen dari
sembilan elemen pengendalian mutu. Tujuan elemen pengendalian mutu ini adalah untuk
melihat bahwa tingkat keahlian tehnis dan pengalaman tim audit akan dapat memenuhi
kebutuhunan untuk menangani penugasan secara professional. Dalam menetapkan anggota
tim, perlu dipertimbangkan sifat dan luasnya supervise yang harus dipersiapkan. Pada

umumnya, semakin mampu dan berpengalaman para personil yang ditunjuk menangani suatu
penugasan, akan semakin kecil supervise langsung yang diperlukan.
Tim audit pada umumnya terdiri dari:
1. Seorang partner yang bertanggungjawab penuh dan merupakan penanggungjawab
akhir dari suatu penugasan.
2. Seorang manajer atau lebih yang mengkoordinasi dan melakukan supervise
pelaksanaan program audit.
3. Seorang senior atau lebih yang bertanggungjawab atas sebagian program audit dan
melakukan supervise serta meriview pekerjaan staf asisten.
4. Staf asisten yang mengerjakan berbagai prosedur audit yang diperlukan.
Personil-personil kunci dari tim audit biasanya ditetapkan terlebih dahulu sebelum keputusan
menerima penugasan dilakukan, untuk memastikan personil-personil tersebut tersedia.
Apabila caalon klien mengundang kantor akuntan public untuk mengajukan penawaran untuk
mendapat penugasan audit, biasanya dicantumkan resume dari setiap personil kunci dalam
tim audit yang ditawarkan. Dengan demikian, calon klien dapat menilai kemampuan orangorang yang akan ditunjuk menangani penugasan.

MEMPERTIMBANGKAN KEBUTUHAN KONSULTASI DAN PENGGUNAAN


SPESIALIS
Elemen pengendalian mutu yang berkaitan dengan konsultasi menyatakan bahwa
kantor akuntansi publik harus memiliki kebijakan dan prosedur untuk memperoleh jaminan
memadai bahwa personil kantor akuntan publik membutuhkan bantuan, sepanjang
diperlukan, dari orang atau orang-orang yang memiliki tingkat pengetahuan, integritas,
kebijakan, dan otoritas yang sesuai.
Kantor akuntan public kadang-kadang merasa perlu untuk menggunakan spesialis
yang berasal dari luar kantor akuntan publik. Auditor tidak diharapkan untuk memiliki
keahlian atau pelatihan untuk suatu pekerjaan yang merupakan bidang profesi lain. PSA No.
39, Penggunaan Pekerjaan Spesialis (SA 336), menyatakan bahwa auditor bisa menggunakan
pekerjaan spesialis untuk mendapatkan bukti kompeten. Contoh spesialis, antara lain :
1. Penilai (appraiser) untuk mendapatkan bukti tentang penilaian atas barang seni.

2. Insinyur tambang untuk menentukan jumlah cadangan atau deposit barang tambang
yang ada di suatu pertambangan.
3. Aktuaris untuk menentukan jumlah rupiah program pensiun yang akan digunakan
dalam akuntansi.
4. Konsultan lingkungan untuk menentukan pengaruh undang-undang dan peraturan
tentang lingkungan.
Sebelum menggunakan spesialis, auditor harus memperkirakan apakah ia akan puas
dengan kualifikasi professional, reputasi, dan obyektivitas spesialis yang akan
digunakannya.

MENILAI INDEPENDENSI
Standar umum kedua dalam standar auditing menetapkan : dalam semua hal yang
berhubungan dengan penugasan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh
auditor
Apabila disimpulkan bahwa persyaratan independensi tidak dapat dipenuhi, maka
penugasan harus ditolak atau calon klien harus diberi informasi bahwa apabila audit tetap
dilaksanakan, maka auditor akan memberikan pendapat menolak memberi pendapat. Selain
itu kantor akuntan publik juga harus memastikan bahwa menerima klien tersebut tidak akan
menimbulkan pertentangan kepentingan dengan klien lainnya.

MENENTUKAN

KEMAMPUAN

UNTUK

MELAKUKAN

AUDIT

DENGAN

CERMAT DAN SEKSAMA


Standar umum ketiga dalam standar auditing menetapkan : Dalam pelaksanaan audit
dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran professionalnya dengan
cermat dan seksama
Ini berarti bahwa penugasan harus ditolak apabila kecermatan dan keseksamaan tidak
bisa dilaksanakan selama audit berlangsung.
Saat Penunjukkan

Penunjukkan idealnya terjadi enam hingga sembilan bulan sebelum akhir tahun buku klien.
Penunjukkan auditor secara dini oleh klien dan penerimaan penugasan oleh auditor akan
berpengaruh pada perencanaan audit. Sebaliknya apabila penerimaan penugasan terjadi pada
saat mendekati atau sesudah akhir tahun buku, auditor bisa mendapat berbagai hambatan
dalam perencanaan audit dan pelaksanaan pekerjaan lapangan, termasuk kemungkinan
auditor harus menggeser ke belakang prosedur-prosedur yang seharusnya dilakukan pada
tanggal neraca, misalnya observasi perhitungna fisik persediaan.
Penjadwalan Audit
Waktu pelaksanaan pekerjaan lapangan pada umumnya dapat dibagi menjadi dua kategori
berikut :

Pekerjaan Interim yaitu pekerjaan-pekerjaan yang biasanya dilakukan dalam kurun

waktu antara tiga sampai empat bulan sebelum tanggal neraca.


Pekerjaan Akhir Tahun yaitu pekerjaan-pekerjaan yang biasanya dilakukan dalam
kurun waktu tidak lama sebelum tanggal neraca sampai kira-kira tiga bulan setelah
tanggal neraca.

Penaksiran Kebutuhan Waktu


Pembuatan taksiran kebutuhan waktu meliputi estimasi tentang jumlah jam yang diperkirakan
dibutuhkan oleh setiap tingkat staf (partner, manajer, senior, dan sebagainya) untuk
menyelesaikan setiap bagian audit dengan cermat dan seksama. Jumlah taksiran waktu ini
kemudian dikalikan dengan tarif per jam untuk setiap tingkat staf, kemudian ditambah
dengan taksiran biaya transport dan biaya-biaya lain yang harus dikeluarkan, sehingga bisa
ditentukan taksiran biaya untuk melaksanakan penugasan.
Setelah audit berjalan, maka waktu yang digunakan sesungguhnya untuk audit pada semua
bagian audit akan dibandingkan dengan waktu yang dianggarkan dengan maksud untuk
mengawasi biaya atas audit secara keseluruhan.
Personil Klien
Personil-personil klien dapat digunakan untuk mengerjakan tugas-tugas tertentu seperti :

Pembuatan daftar saldo pemeriksaan dari buku besar.


Rekonsiliasi rekening kontrol dengan rekening-rekening pembantu.
Membuat daftar umur piutang.
10

Membuat daftar-daftar tertentu, misalnya: daftar polis asuransi yang masih berlaku,
daftar piutang wesel, daftar aktiva tetap, dan sebagainya.

PEMBUATAN SURAT PENUGASAN


Bentuk da nisi surat penugasan bisa berbeda-beda untuk setiap klien, namun secara
umum setiap surat penugasan hendaknya berisi hal-hal sebagai berikut :

Menyebutkan dengan jelas nama perusahaan atau satuan organisasi dan laporan

keuangan yang akan diperiksa.


Menyebutkan tujuan audit.
Menyebutkan bahwa audit akan dilakukan berdasarkan standar professional yaitu

standar auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.


Menjelaskan tentang sifat dan lingkup audit dan tanggungjawab auditor.
Menyebutkan bahwa walaupun audit telah dirancang dan dilaksanakan dengan baik,

namun audit mungkin tidak akan dapat mendeteksi semua ketidakberesan material.
Mengingatkan manajemen, bahwa manajemen bertanggungjawab atas penyusunan

laporan keuangan dan merapkan suatu struktur pengendalian intern yang memadai.
Menyebutkan bahwa manajemen akan diminta untuk memberikan representasi tertulis

kepada auditor.
Menjelaskan mengenai dasar perhitungan honorarium audit dan cara penagihan

honorarium.
Meminta klien untuk menegaskan kesepakatannya atas berbagai hal yang tercantum
dalam surat penugasan dengan menandatangani surat penugasan tersebut dan
mengirimkan kembali salinannya kepada auditor.

KANTOR AKUNTAN PUBLIK


DRS. BUDI PRASETYO, AKT. & REKAN
Kepada
Yth. Bapak Ir. Sumarno
Direktur Utama PT Sari Alam
Jalan Gagak Rimang No. 2
YOGYAKARTA

11

Dengan hormat,
Surat ini merupakan penegasan mengenai kesepakatan tentang audit yang akan kami lakukan
atas laporan keuangan PT SARI ALAM (selanjutnya dalam surat ini disebut perusahaan)
untuk tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 1999.
Kami akan mengaudit neraca Perusahaan per 31 Desember 1999, dan laporan rugi-laba,
laporan laba ditahan, dan laporan arus kas yang bersangkutan untuk tahun yang berakhir pada
tanggal tersebut, dengan tujuan untuk menyatakan pendapat mengenai laporan-laporan
tersebut. Audit kami akan dilakukan sesuai dengan standar auditing, yang mengharuskan
kami untuk merencanakan dan melaksanakan audit untuk mendapat keyakinan memadai
bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material.
Audit kami akan meliputi pemeriksanaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung
jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Kami juga akan melakukan
penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh
manajemen serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan.
Perlu dipahami bahwa berhubung karakteristik ketidakberesan, walaupun audit telah
dirancanag dan dilaksanakan dengan baik, namun ada kemungkinan audit tidak dapat
mendeteksi semua ketidakberesan material. Oleh karena itu, selama audit berlangsung kami
akan melaporkan kepada Bapak segala sesuatu yang Nampak tidak biasa atau tidak normal.
Perlu kami ingatkan pula penyusunan laporan keuangan, termasuk pula pengungkapan yang
memadai, merupakan tanggungjawab manajemen Perusahaan. Hal ini menyangkut pemilihan
dan penerapan kebijakan akuntansi, dan penerapan struktur pengendalian intern yang
memberikan keyakinan memadai untuk tercapainya tujuan Perusahaan berupa keefektifan
dan keefisienan operasi, pengamanan aktiva, keandalan laporan keuangan, dan ketaatan
terhadap undang-undang dan peraturab yang berlaku. Sebagai bagian dari audit, kami akan
meminta representasi tertulis tertentu dari manajemen tentang informasi-informasi yang
disampaikan kepada kami sehubungan dengan audit ini.
Honorarium audit ini akan dihitung berdasarkan tariff per jam yang berlaqku pada kantor
kami, ditambah dengan biaya transport dan biaya lain-laqin. Penagihan akan kami lakukan
setiap dua minggu dan harus dibayar pada saat tagihan diajukan.
Terimakasih atas kepercayaan dan kesemp[atan yang diberikan kepada kami. Apabila surat
ini sesuai dengan kesepakatan dan pemahaman kita bersama, kami mohon Bapak untuk
menandatangani surat ini dan salinan terlampir harap dikembalikan kepada kami.
12

Hormat kami,
Kantor Akuntan Publik Drs. Budi Prasetyo, Akt, & Rekan
Partner,
(Drs. Budi Prasetyo, Akt, & Rekan
DISETUJUI
Oleh:
Tanggal:

PENUTUP

Simpulan
Dalam setiap audit baik audit pada perusahaan besar maupun pada perusahaan kecil,
selalu terdapat empat tahapan kegiatan yaitu :
1. Penerimaan penugasan audit
2. Perencanaan audit
3. Pelaksanaan pengujian audit
13

4. Pelaporan temuan
Auditor tidak wajib menerima setiap permintaan untuk melakukan audit laporan
keuangan yang diajukan oleh calon kliennya. Apabila auditor memutuskan untuk menerima
suatu penugasan audit, maka auditor harus memikul tanggungjawab professional terhadap
masyarakat, klien, dan terhadap anggota profesi akuntan public yang lain. Auditor harus
menjaga kelangsungan kepercayaan masyarakat terhadap profesi dengan menjaga
indepedensi, integritas, dan obyektivitas. Kepentingan klien harus dilayani dengan
memperhatikan kopetensi dan profesionalitas.
Pentingnya keputusan ini terlihat dari dimasukkannya masalah penerimaan atau
pelanjutan penugasan dari klien sebagai salah satu dari Sembilan elemen pengendalian mutu
pada suatu kantor akuntan public. Pertimbangan dalam memutuskan untuk menerima
penugasan juga berhubungan langsung dengan kemampuan auditor untuk memenuhi
persyaratan seperti diminta oleh standar auditing serta kode ethic akuntan. Tahapan yang
harus dilakukan oleh suatu kantor akuntan public untuk menjamin bahwa penerimaan
penugasan hanya diberikan pada penugasan audit yang dapat diselesaikan sesuai dengan
standar professional diantaranya
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Mengevaluasi integritas manajemen.


Mengidentifikasi keadaan-keadaan khusus dan risiko tidak biasa.
Menetapkan kompetensi untuk melakukan audit.
Mengevaluasi indepedensi.
Menentukan kemampuan untuk bekerja dengan cermat dan seksama.
Menyiapkan surat penugasan.
DAFTAR PUSTAKA

14