Anda di halaman 1dari 35

https://bimbelpolri.blogspot.co.id/2014/12/tes-akademik-polri.

html
Sebuah Trilogi Sebuah Cerita

Sudah, baca dulu sana..

Beranda

Sabtu, 29 Maret 2014


Pengetahuan: Pangkat Kepolisian

Kali ini saya tuliskan seri pengetahuan umum seputar pangkat kepolisian
republik Indonesia atau disingkat POLRI. Bukan karena saya kepengen jadi polisi,
gagal masuk polisi, ataupun gara-gara saya sering melanggar dan ditilang polisi.
Secara umum cuma ingin berbagi pengetahuan aja, tapi secara khusus saya
perlu tahu soal ini karena dari pekerjaan inilah Ayah saya bisa menghidupi saya
dan seluruh keluarga. Karena itulah saya agak sedikit mengerti tentang
pengetahuan pangkat kepolisian. Memang mungkin masih banyak kekurangan
dari POLRI, tapi saya lebih tidak bisa bayangkan apa jadinya suatu negara kalau
tanpa POLRI maupun TNI. Saya lebih senang membayangkan apa jadinya suatu
negara kalau tanpa koruptor, pasti sejahtera sekali. Tapi, penting juga lho buat
kalian tau kepangkatan Polri, kalo nonton berita kriminal di TV jadi tau pangkat
polisinya, kalo ditilang di jalan tau pangkatnya, dan juga siapa tau yang mau
dapat jodoh polisi, harus tau juga dong tentang pangkat-pangkatnya biar bisa
memilah dan memilih..

Sedikit Intermezzo tentang sejarah dan pengetahuan umumnya, dulu sebelum


TNI dan POLRI dipisah, namanya masih ABRI (Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia) yang dihasilkan dari pendidikan AKABRI (Akademi Angkatan
Bersenjata Republik Indonesia). Lalu pada 1 April 1999 secara resmi diadakan
upacara pemisahan Polri dari ABRI yang direalisasikan oleh Presiden B.J. Habibie.
Pemisahan ini dilakukan pasca jatuhnya pemerintahan orde Baru Soeharto yang
menimbulkan banyak tuntutan agar Polri dipisahkan dari ABRI dengan harapan
Polri menjadi lembaga yang professional dan mandiri, jauh dari intervensi pihak
lain dalam penegakan hukum.
AKABRI adalah Integrasi dari empat matra, yaitu Akademi Angkatan Darat
(AAD) / AKMIL di Magelang, Akademi Angkatan Laut (AAL) di Surabaya, Akademi
Angkatan Udara (AAU) di Yogyakarta dan Akademi Kepolisian (AKPOL) di
Semarang. Sejak 1 April 1999, Akpol memisahkan diri dari AKABRI dan sejak itu
juga AKABRI berganti nama jadi Akademi TNI yang terdiri dari tiga matra : AAD,
AAL, dan AAU.
Dalam kepolisian sendiri, ada tiga golongan kepangkatan, mulai dari yang
terendah yaitu Tamtama, Bintara dan kemudian Perwira. Untuk Tamtama

memang jarang sekali kita jumpai dan memang hanya di divisi tertentu saja,
biasanya prajurit brimob atau polair. Kepangkatan yang paling sering kita jumpai
sehari-hari, dibagi dalam dua golongan besar, yaitu Bintara dan Perwira. Ciri
khasnya bisa dibedakan dari warna lambang pangkatnya. Bintara berwarna
perak, sedangkan perwira berwarna emas. Dari warnanya, jelas bahwa pangkat
perwira lebih tinggi dari bintara, begitu juga dengan tingkat kesulitan seleksi dan
pendidikannya. Sekolah Calon Bintara lebih banyak menerima siswa,
pendidikannya adalah SEBA (Sekolah Calon Bintara), bertempat di SPN
(Sekolah Polisi Negara) dan masa pendidikan 7 bulan saja, kemudian
langsung siap penempatan kerja. SPN sendiri ada di banyak daerah,
biasanya tiap provinsi memiliki satu SPN. Sedangkan untuk bisa menjadi perwira,
hanya satu Akademi Kepolisian di Indonesia yang menghasilkannya, yaitu AKPOL
di Semarang yang itu pun hanya menerima sekitar 200an orang dari seluruh
Indonesia setiap tahunnya, dengan pendidikan selama hampir 4 tahun dan para
siswanya lebih dikenal dengan sebutan Taruna dan Taruni. Dari perbedaan
tingkat pendidikannya inilah maka lulusan Akpol langsung mendapat pangkat
golongan Perwira.
Selain AKPOL, ada juga pendidikan untuk menjadi perwira, yaitu SAG Perwira
(Sekolah Alih Golongan Perwira), sekolah bagi Bintara senior (Aipda / Aiptu)
yang ingin melanjutkan mencapai jenjang perwira. Dan ada juga SIPSS
(Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana) pendidikan pembentukan
perwira di SETUKPA Sukabumi selama 6 bulan bagi para lulusan S1 dengan
output lulusan berpangkat Ipda. Namun penerimaan SIPSS tidak selalu pasti ada,
dan tergantung bidang ilmu S1 tertentu yang dibutuhkan.
Perbedaan utama antara pangkat Bintara dan Perwira adalah pada segi
tugasnya. Pangkat Bintara adalah pelaksana utama di lapangan, sedangkan
Perwira lebih bersifat managerial seperti dalam hal perencanaan, strategi,
pengendalian serta pengambilan keputusan. Jadi kalau teman-teman sering lihat
Polantas yang sering bertugas di pos pinggir jalan itu adalah golongan Bintara,
tapi kadang ada juga Perwira yang turun ke lapangan untuk membantu dan
mengawasi tapi saat tertentu saja sebagai koordinator lapangan. Kalau kalian
pernah melihat petugas polantas yang menjaring pelanggar lalu lintas dan
memberi tilang, mayoritas ditangani para Bintara/Brigadir, bukan Tamtama
ataupun Perwira.
Unsur pelaksana, divisi, direktorat, biro dan bidang di kepolisian sendiri ada
banyak, dan punya tugas masing-masing. Jadi polisi punya banyak posisi tugas
masing-masing. Ada:
Intelkam
Reskrim
Reskrimsus
ResNarkoba
Harkam

Brimob
Lalu Lintas
Biro Operasi
Densus 88 khusus terorisme,
Divisi Hukum
Div Propam
Div Humas
Div Hubinter
Div TI (Teknologi Informasi)
Spripim
Kasetum
Kayanma
Staf Ahli
Direktorat Reserse Kriminal
Dir Reskrimsus
Dir Reserse Narkoba
Dir Intelkam
Dir Lantas
Dir Binmas
Dir Sabhara
Dir Pamobvit
Dir Polair
Dir Tahti dll.
Biro Operasi
Biro SDM (Sumber Daya Manusia)
Biro Sarpras (dulu Logistik)
Bidang Keuangan
Bid Propam (Profesi dan Pengamanan)
Bid Hukum
Bid Humas (Hubungan Masyarakat)
Bid Dokkes (Kedokteran Kesehatan)
dan yang paling kalian cowok-cowok kesepian favoritkan yaitu:
POLWAN..
standar..ngerayu minta ditilang tapi omong doang..
Keberadaan Polwan dibutuhkan karena ada ranah yang jika dilakukan oleh wanita
akan lebih bisa memberikan rasa empati ke korban atau pelakunya. Seperti
kasus kekerasan pada anak dan wanita, pemerkosaan dan kasus lainnya yang
mana selama ini jika ditangani oleh polisi laki-laki akan lebih sulit mendapat
keterbukaan dari korban/pelaku yang mayoritas perempuan dan anak-anak.
Polwan terkadang juga dibutuhkan dalam tindakan persuasif atau negosiasi.
Beberapa polwan juga membantu di rumah sakit bhayangkara milik POLRI.

Yang paling sering kalian lihat mungkin cuma dari Korps Lalu Lintas yang sering
kalian lihat di jalan, karena Lalu Lintas memang paling dekat dengan kegiatan
kita sehari-hari. Tugas polantas itu sebenarnya berat karena lalu lintas menjadi
penyumbang terbanyak korban jiwa. Jadi jangan cuma bisa marah-marah jika
kalian ditilang karena gak pake helm, melanggar atau gak taat aturan karena itu
demi keselamatan kita juga. Polantas udah biasa ngelihat ceceran mayat dan isiisi perutnya korban kecelakaan yang sekedar bisa nyetir doang tanpa tahu
aturan. Kalau kalian teliti mengamati, bedanya polantas adalah topinya berwarna
putih. Jadi, polisi itu gak cuma polisi lalu lintas doang, ada banyak unsur
pelaksana polisi lain yang tugasnya berbeda.

Untuk markasnya sendiri dibagi dalam regional wilayah cakupannya dan


kepadatan penduduknya:
1. POLSEK/POLSEKTA (Kepolisian Sektor)
Adalah markas di tingkat Kecamatan, biasanya dipimpin oleh AKP untuk
kecamatan tipe rural (POLSEK) atau KOMPOL untuk kecamatan tipe
urban/kecamatan pusat kabupaten atau kecamatan besar (POLSEKTA). Untuk
wilayah Metro Jakarta Raya, biasanya Kapolseknya seorang KOMPOL bahkan
mungkin saja AKBP. Ada juga beberapa kecamatan kecil di Indonesia yang
berpenduduk sedikit yang dipimpin oleh Kapolsek dengan pangkat IPTU bahkan
IPDA seperti di beberapa kecamatan di Papua atau kepulauan Nusa Tenggara. Di
beberapa daerah terpencil atau perbatasan ada pula pos-pos polisi yang
merupakan perpanjangan tangan dari Kepolisian Sektor.
2. POLRES (Kepolisian Resort)
Adalah markas di tingkat Kabupaten, biasanya dipimpin oleh AKBP
3. POLRESTA / POLRESTABES (Kepolisian Resort Kota/ Kota Besar)
Dulu disebut POLWIL. Adalah markas di tingkat Kotamadya/Ibu kota Provinsi,
biasanya dipimpin oleh AKBP / KOMBES POL tergantung kepadatan penduduk
kota tersebut.
4. POLDA (Kepolisian Daerah)
Adalah markas di tingkat Provinsi, biasa dipimpin BRIGJEN POL (Bintang 1)
untuk provinsi tipe B dan IRJEN POL (Bintang 2) untuk provinsi besar tipe A yang
padat penduduk/rawan konflik atau A+ khusus (Metro Jaya).
5. MABES POLRI (Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia)
Yaitu markas utama Kepolisian Republik Indonesia yang berada di DKI Jakarta,
dan dipimpin oleh seorang JENDERAL Polisi (Bintang 4) yang bertanggung jawab
langsung kepada Presiden RI.

Dahulu ada Markas Polwil (Polisi Wilayah) yang merupakan kawasan yang pada
masa kolonial merupakan Karesidenan. Karena wilayah seperti ini umumnya
hanya ada di pulau Jawa, dan diluar Jawa tidak dikenal adanya satuan Polwil
kecuali untuk wilayah perkotaan seperti ibukota provinsi seperti misalnya
Polwiltabes Makassar di Sulsel, maka mulai awal 2010 seluruh Kepolisian Wilayah
(Polwil) dihapus.

Nah sekarang masuk ke kepangkatannya:


Untuk golongan Tamtama jumlahnya tidak sebanyak Bintara. Tamtama sering
berada di satuan Brimob atau Polair. Untuk Bintara jumlah personelnya paling
banyak dan sering kita jumpai sehari-hari, serta penempatannya bersifat lokal
tidak jauh-jauh, di provinsi dimana dia mendaftar SPN. Dan untuk golongan
Perwira jumlahnya sedikit, serta penempatan dinasnya bisa luas di seluruh
Indonesia dengan periode perpindahan penempatan dinas (mutasi) yang singkat,
dan dididik untuk kelak menjabat posisi strategis pengambil
keputusan/pimpinan, seperti kepala satuan (Kasat), kepala bidang (Kabid),
kepala biro (Karo), direktur (Dir), Wakil kepala (Waka), kepala polisi (Kapol) dll.

Untuk kisaran kuota penerimaan anggota POLRI setiap tahunnya kurang lebih
seperti ini, sepengetahuan saya membaca informasi dari Mabes Polri :
Akpol : 300 (250 Taruna dan 50 Taruni) Tiap provinsi harus ada perwakilan,
dengan kuota perwakilan tiap provinsi mungkin tak sampai sepuluh calon
Taruna/Taruni.
SIPSS : 50 orang Sarjana
Bintara : 9.750 (9.150 Pria dan 600 Polwan)
Tamtama : 1000 (750 Brimob dan 250 Polair)
Dari kuota tiap tahunnya, perhitungan komposisi Polisi menurut
golongan seperti berikut:
Tamtama : sekitar 9%
Bintara : sekitar 88%
Perwira: sekitar 3%
Jumlah personel kepolisian Indonesia ada sekitar 420 ribuan untuk
hampir 250 juta penduduk Indonesia yang artinya rasio 1:580, 1 polisi
untuk sekitar 580 masyarakat yang mana masih kurang dari batas rasio
ideal minimal.
Menurut PBB, rasio ideal Polisi dan masyarakat adalah 1:400. Namun
faktor besarnya jumlah penduduk dan keterbatasan anggaran tidak
serta merta menjadikan penambahan anggota hal yang mudah, ada
sarana lain yang juga harus tercipta untuk penambahan rasio.

Bisa baca artikel lain di sini: Rasio Polisi

TAMTAMA

Dari terendah
BHARADA : Bhayangkara Dua
BHARATU : Bhayangkara Satu
BHARAKA : Bhayangkara Kepala
ABRIPDA : Ajun Brigadir Polisi Dua
ABRIPTU : Ajun Brigadir Polisi Satu
ABRIP : AJun Brigadir Polisi

BINTARA

BRIPDA : Brigadir Polisi Dua

BRIPTU: Brigadir Polisi Satu

BRIGPOL: Brigadir Polisi

BRIPKA: Brigadir Polisi Kepala

BINTARA TINGGI

AIPDA: Ajun Inspektur Polisi Dua

AIPTU: Ajun Inspektur Polisi Satu


sumber foto: http://ntmc-korlantaspolri.blogspot.com/2013/06/inilah-urutankepangkatan-di-kepolisian.html

Nah selanjutnya golongan pangkat Perwira:


Untuk golongan Bintara yang memenuhi syarat untuk melanjutkan SAG (Sekolah
Alih Golongan) Perwira, Setukpa, ataupun Lulusan S1 yang menempuh SIPSS bisa
lanjut karir naik ke golongan Perwira.

Untuk lulusan Akpol, pangkatnya langsung dimulai dari sini (Perwira Pertama):

PERWIRA PERTAMA (PAMA)

IPDA: Inspektur Polisi Dua

IPTU: Inspektur Polisi Satu

AKP: Ajun Komisaris Polisi

PERWIRA MENENGAH (PAMEN)

KOMPOL: Komisaris Polisi

AKBP: Ajun Komisaris Besar Polisi

KOMBES POL: Komisaris Besar Polisi

Daripada pasang foto ayah saya, kelihatannya pak KOMBES Rikwanto lebih
dikenal masyarakat karena sedang menjabat posisi Kabid Humas Polda Metro
Jaya saat ini hehe. Beliau adalah lulusan Akpol '88, satu angkatan dibawah ayah
saya yang lulusan tahun/Leting '87. Karena bagian Humas memang divisi yang
akan sering berinteraksi dengan masyarakat dan wartawan pencari berita,
makanya jabatan ini jadi sering tampil di TV.
Keterangan: di Akabri (Akmil dan Akpol) biasanya angkatan/ Leting bukan
melihat tahun masuknya, tapi tahun lulusnya, karena Taruna Taruni Akmil dan
Akpol diprogram untuk lulus tepat waktu 4 tahun untuk segera siap dinas
ditempatkan menyebar ke seluruh daerah di Indonesia. Ayah saya lolos seleksi
tes masuk Akabri tahun 1983 setelah tes masuk sebelumnya di tahun 1981
sempat gagal di tahap-tahap akhir. Dan lulus tahun 1987 dengan nama angkatan
Rekonfu (1987).
Jika sudah sampai pada pangkat Kombes Pol maka jabatan yang tersedia ada di
tingkat Polda (Provinsi) atau Mabes Polri (Nasional). Pada tahap Kombes Pol,
dalam struktur Pegawai Negeri adalah setara Eselon II B. Kombes Pol juga
mungkin masih ditempatkan di tingkat Polres Kota Besar ibukota Provinsi sebagai
Kapolrestabes. Untuk di tingkat Polda, mungkin menempati Kepala Direktorat
(Direktur), Kepala Biro (Karo), Inspektur Pengawasan Daerah (Irwasda) bahkan
sampai Wakapolda provinsi tipe B. Rincian posisi yang ditempati level Kombes
Pol adalah dibawah ini. Rata-rata mulai dari Kombes angkatan lebih senior
hingga yang belum lama Kombes, tapi sering juga angkatan yang tidak seberapa
jauh dibawah mengemban amanah jabatan yang tanggung jawabnya lebih dari
beberapa senior angkatannya, kembali ke masalah potensi kinerja dan prestasi:
1. Wakapolda (Wakil Kepala Kepolisian Daerah tipe B) *Wakapolda provinsi tipe
A/A+ Brigjen Pol
2. Itwasda (Inspektorat Pengawasan Daerah Polda)
3. Karo Ops (Kepala Biro Operasi)
4. Karo Rena (Kepala Biro Perencanaan)
5. Karo SDM (Kepala Biro Sumber Daya Manusia)
6. Karo Sarpras (Kepala Biro Sarana Prasarana)
7. Kaset RBP DA (Kepala Reformasi Birokrasi Polri Daerah)
8. Kadit Intel (Direktur Intelijen)
9. Kadit Reskrimum (Direktur Resort Kriminal Umum)
10. Kadit Reskrimsus (Direktur Resort Kriminal Khusus)
11. Kadit Narkoba (Direktur Narkotika dan Obat-obatan Terlarang)
12. Kasat Brimobda (Kepala Satuan Brigade Mobile Daerah)
13. Kadit Binmas (Direktur Pembinaan Masyarakat)
14. Kadit Sabhara (Direktur Samapta Bhayangkara)
15. Kadit Lantas (Direktur Lalu Lintas)
16. Kadit Pam Obvit (Direktur Pengamanan Objek Vital)
17. Kadit Polair (Direktur Polisi Perairan)
18. Kapolrestabes/Kapolresta (Kepala Kepolisian Resort Kota Besar)

Ada tambahan beberapa jabatan Kombes Pol yang di provinsi tipe B seorang
AKBP, namun di provinsi tipe A/A+ butuh seorang Kombes Pol :
1. Kabid Propam (Kepala Bidang Profesi dan Pengamanan Internal)
2. Kabid Humas (Kepala Bidang Hubungan Masyarakat)
3. Kabid Hukum (Kepala Bidang Hukum)
4. Kabid Tipol (Kepala Bidang Teknologi Informasi Polisi)
5. SPKT (Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu)
6. Ka SPN (Kepala Sekolah Polisi Negara)
7. Kabid Keu (Kepala Bidang Keuangan)
8. Kabid Dokkes (Kepala Bidang Kedokteran Kesehatan)
Selengkapnya Struktur Organisasi Polri cek tautan dibawah ini:
https://www.polri.go.id/tentang-struktur.php
Ayah saya mencapai Kombes Pol sekitar 2007 akhir atau 2008 awal saya agak
lupa. Beliau terakhir kali pernah tiga kali menjabat ITWASDA/IRWASDA di 3
provinsi berbeda, diselingi pernah dua kali penempatan staff ITWASUM Mabes
Polri. Pernah Itwasda di salah satu provinsi di pulau Jawa, di Maluku Utara sampai
di salah satu provinsi di pulau Sumatera. Irwasda adalah orang ke-3 di wilayah
Polda (Provinsi) yang menyelenggarakan pengawasan, pemeriksaan umum dan
perbendaharaan di lingkungan Polda, termasuk satuan-satuan non struktur yang
ada di bawah pengendalian Kapolda. Singkatnya mengawasi jajaran Polresta,
Polres, sampai ke Polsekta/Polsek di provinsi tersebut. Kalau ibarat di
pemerintahan provinsi, ada Sekda Provinsi yang merupakan unsur pembantu
pimpinan dan pelaksana staf dibawah Gubernur dan Wakil Gubernur.

Tambahan: Untuk golongan perwira pun dibedakan untuk yang bersifat komando
memiliki garis tepi merah, sedangkan yang staff tidak bergaris tepi merah.
Bersifat komando seperti untuk wakil kepala dan kepala satuan (Waka/Ka di
Polsek, Polres, Polda, dan beberapa petinggi di Mabes hingga Waka/Kapolri)

Tanda pangkat perwira pertama dan menengah

PERWIRA TINGGI (PATI)

Sekarang masuk ke jajaran Jenderalnya, mulai dari Bintang 1 sampai Bintang 4.


Jajaran pangkat ini bisa dikatakan golongan "Pangkat Jenderal", jumlahnya di
Indonesia sedikit sekali dan setidaknya menduduki jabatan Wakapolda, Kapolda
atau posisi strategis pejabat utama di Mabes Polri. Paling banyak berkantor di
Mabes Polri. Yah, di Mabes Polri emang banyak Jenderalnya, bertabur bintang
hehe.

BRIGJEN POL: Brigadir Jenderal Polisi

Diatas adalah foto pak Boy Rafli Amar, beliau adalah Leting 88 sama dengan pak
Rikwanto, namun karir dan pangkatnya cukup cepat mendahului rata-rata teman
seangkatannya, bahkan angkatan atasnya termasuk mendahului ayah saya. Hal
ini biasa terjadi di POLRI, yang kinerjanya dirasa baik, mungkin saja naik pangkat
lebih cepat.
Hikmah yang bisa diambil:
"Juniormu sekarang, bukan tidak mungkin akan melampaui karirmu
atau jadi atasanmu suatu saat nanti. Jadi tidak usah merasa bangga
dengan senioritas apalagi sampai ada perpeloncoan dalam pendidikan,
karma itu ada kawan."
Jumlah Brigjen Pol aktif yang saya tahu hanya ada sekitar hampir 120an
orang se-Indonesia. Sebagai Kapolda, atau Wakapolda provinsi besar
dan hampir semua sisanya berdinas di Mabes Polri.

IRJEN POL: Inspektur Jenderal Polisi

Foto Jenderal Bintang Dua diatas adalah foto pak Tito Karnavian. Mantan Kapolda
Papua yang berasal dari Palembang, Sumatera Selatan ini adalah salah satu
Polisi berprestasi yang memiliki kenaikan pangkat yang luar biasa. Bisa dilihat,
beliau sudah mencapai IRJEN meskipun terbilang masih muda untuk ukuran
Jenderal bintang dua, dan melampaui banyak sekali seniornya, serius. Beliau
lulusan Akpol tahun 87 teman seangkatan ayah saya. Prestasi terbaik beliau
adalah menangkap putra mantan Presiden Soeharto, Tommy Soeharto dalam
kasus pembunuhan Hakim Agung Syafiudin Kartasasmita (2001) dan memimpin
Densus 88 dalam pembongkaran jaringan teroris Dr. Azhari (Batu, Jatim,
November 2005) dan penyergapan jaringan teroris Noordin M. Top (Solo,
September 2009). Tidak heran ayah saya menyebut beliau sebagai salah satu
Polisi terbaik saat ini. Dan menurut saya beliau punya kemungkinan yang besar
jadi calon Kapolri suatu saat nanti, secara obyektif, (entahlah kalau secara
politik).
Sekedar info, selepas lulus SMA, beliau lolos seleksi di 4 perguruan tinggi
sekaligus. Mulai dari lolos AKABRI, Kedokteran Universitas Sriwijaya (UNSRI)
Palembang, Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja,
hingga Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Empat-empatnya lulus seleksi,
namun hati beliau memilih ABRI dan menjadi seorang polisi hebat seperti
sekarang ini. Sungguh luar biasa, rasanya kita bisa banyak belajar dari alumnus
terbaik Akpol Leting 87 ini.
Dan saya yakin, dengan kapabilitasnya, tidak lama lagi beliau akan cepat naik ke
bintang tiga (Komjen Pol). Saya ingat betul bagaimana sosok beliau, terlebih
waktu bertemu semasa saya SMA ketika beliau masih Brigjen Pol, bersama
keluarganya mampir berkunjung ke kediaman keluarga saya. Dari situ saya yakin
beliau salah satu stock Polisi berprestasi baik yang dimiliki negara ini saat ini.
Jumlah Irjen Pol yang aktif di Indonesia yang saya tahu hanya ada 30an
orang se-Indonesia. Hanya Kapolda di Provinsi besar/rawan dan hampir
semua sisanya berdinas di Mabes Polri.

Provinsi padat penduduk/rawan/luas dengan Kapolda bintang dua yang saya


tahu:
1. Metro Jaya (Metropolitan Jakarta Raya)
2. Jawa Barat
3. Jawa Tengah
4. Jawa Timur
5. Bali
6. NAD (Nanggroe Aceh Darussalam), sejak 2009 berubah nama jadi provinsi
"Aceh"
7. Sumatera Utara
8. Sumatera Selatan
9. Kalimantan Timur dan Utara (pemekaran provinsi baru, maka masih satu
Polda)
10. Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar, masih terhitung pemekaran baru)
11. Papua (Dulunya satu dengan prov.Papua Barat, sekarang Papua Barat sudah
punya Polda sendiri dipimpin Brigjen Pol)

KOMJEN POL: Komisaris Jenderal Polisi

Komjen Badrodin Haiti diatas, adalah Wakapolri saat ini (sejak 2014) dan
merupakan alumnus terbaik Akpol Leting 82 (Meraih Adhi Makayasa).
Sebelumnya, beliau sudah pernah menjabat sebagai Kapolda di beberapa
Provinsi, mulai dari menjabat Kapolda Banten, Kapolda Sulawesi Tengah, Kapolda
Sumatra Utara, dan Kapolda Jawa Timur, dan akhirnya sejak 2014 menjadi
Wakapolri yang pengangkatannya diumumkan sendiri oleh Kapolri saat itu,
Jenderal Sutarman. Jumlah Jenderal Bintang 3 yang aktif di POLRI biasanya
kurang dari sepuluh orang.
Yang baru saya tahu pernah ada 8 jabatan saja yang dihuni Komjen Pol:
1. Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (WAKAPOLRI)
2. Inspektorat Pengawasan Umum Mabes POLRI (ITWASUM)
3. Kepala Badan Intelijen Keamanan Mabes POLRI (KABAINTELKAM)
4. Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan Mabes POLRI (KABAHARKAM)
5. Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes POLRI (KABARESKRIM)
6. Kepala Lembaga Pendidikan Kepolisian (KALEMDIKPOL)

7. Kepala Badan Narkotika Nasional (Kepala BNN)


8, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (Kepala BNPT)
Untuk yang nomor 1-6 adalah jabatan di dalam struktur MABES POLRI, jika ada
Komjen Pol lainnya, ada di luar struktur Mabes Polri seperti Kepala BNN, BNPT dll

JENDERAL POLISI
Pangkat yang hanya dimiiki oleh/pernah menjabat Kapolri
atau istilah lainnya TB1 (Tri Brata 1)

Jenderal Polisi Sutarman, dilantik sebagai Kapolri oleh Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono pada 25 Oktober 2013. Jenderal bintang empat asal Sukoharjo ini
adalah alumnus Akpol tahun 1981 yang berasal dari keluarga Jawa yang
sederhana. Beliau memang berasal dari keluarga yang kurang mampu. Beliau
pernah bekerja sebagai kuli bangunan dan berjualan bambu keliling sebelum
masuk Akabri. Kerja keras dan perjuangannya membuat saya sangat mengagumi
dan menghormati beliau. Beliau pernah menjadi Ajudan Presiden Abdurrahman
Wahid (alm. Gus Dur). Beliau mengganti jabatan Kapolri dari pendahulunya
Jenderal Purnawirawan Polisi Timur Pradopo. Purnawirawan adalah gelar untuk
para pensiunan polisi atau tentara yang sudah tidak aktif lagi dalam kemiliteran.
Dalam kemiliteran, rasa hormat sangat dijunjung tinggi dan masih akan
dihormati meski telah pensiun sekalipun.

Sedikit foto dan cerita tentang pak Sutarman


https://instagram.com/p/yTmtpGBw1r/?modal=true
https://instagram.com/p/yPTX-MhwzM/?modal=true
https://instagram.com/p/yHlYAihw1a/?modal=true
Dari perhitungan kasar di atas, maka jumlah Perwira Tinggi yang aktif
dalam POLRI kemungkinan tidak sampai 200 se-Indonesia. Itu bahkan

tidak sampai sejumlah kuota seangkatan Akpol yang 250an setiap


angkatan, maka dari itu jika ada yang bisa pensiun dalam pangkat Pati
(Perwira Tinggi), itu "Seleksi Alam" yang sangat sulit.

Dan masih ada beberapa perwira tinggi lainnya di luar struktur


POLRI yang luput belum saya tahu jumlahnya di BNN, BNPT, Dephan,
Polhukam, BIN, Basarnas, Lemhanas, Watannas, Interpol, Atase dll tapi
tidak banyak. Kalaupun iya, mungkin rata-rata yang sudah pensiun
purnawirawan.
Sejak tanggal 1 Januari 2001, Urutan pangkat kepolisian RI telah diubah,
mengikuti dari surat keputusan Kapolri No. Pol: Skep/1259/X/2000, tertanggal 3
Oktober 2000. Dan berikut adalah urutan pangkat polisi yang sekarang ini di
pakai di NKRI dan juga perbandingan nama pangkat yang lama. Penamaan
pangkat Polri yang lama (sebelum 2001) sebenarnya sama seperti pangkat TNI
AD yang masih digunakan hingga sekarang.

Perbandingan pangkat POLRI dulu dan sekarang

Pangkat TNI hingga sekarang

Perbedaan Istilah Kepangkatan antara TNI AD dengan TNI AL dan AU yaitu pada
golongan Perwira Tinggi (Jenderal) nya. Di Indonesia hanya pernah ada tiga
Jenderal besar (penghargaan bintang lima) yang tercatat dalam sejarah yaitu
Jendral Besar Soedirman, Soeharto dan A.H. Nasution.

Untuk rincian jabatan bagi Perwira Tinggi POLRI, saya menemukan tautan
informasi jabatan-jabatannya, silakan cek disini:
http://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000013771618/perwira-tinggipolri-aktif--jabatan-update/

PENDIDIKAN PENGEMBANGAN (DIKBANG)


Untuk mencapai tingkat Pati (Perwira Tinggi) seperti diatas pun tidak cukup
hanya sekolah sampai Akpol, SIPSS, Setukpa atau SAG Perwira saja. Masih
banyak pendidikan pengembangan yang harus ditempuh untuk karir pada level
yang lebih tinggi, yaitu:
a. Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) / PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu
Kepolisian)
Pendidikan pengembangan bagi para Perwira Polisi yang telah memenuhi
syarat administrasi, kesehatan, jasmani, intelektual dan psikologi guna menjalani
pendidikan selama 2 tahun di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Jl. Tirtayasa
No.6 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dengan gelar kelulusan Sarjana Ilmu
Kepolisian (S.IK)
b. Sekolah Staf dan Pimpinan Pertama (SESPIMMA)
Pendidikan pengembangan bagi para Perwira Polisi yang telah memenuhi
syarat administrasi, kesehatan, jasmani, intelektual dan psikologi guna menjalani
pendidikan selama 4 bulan di Sekolah Staf dan Pimpinan Pertama (Sespimma)
Jl. Ciputat Raya No. 40 Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan
c. Sekolah Staff dan Pimpinan Menengah (SESPIMMEN)/SESPIM
Pendidikan pengembangan bagi para Perwira Menengah Polri (khususnya Kompol
dan AKBP) yang telah memenuhi syarat administrasi, kesehatan, jasmani,
intelektual dan psikologi guna menjalani pendidikan selama 7 bulan di Sekolah
Staf dan Pimpinan Polri Jl. Maribaya Lembang , Bandung Jawa Barat.
d.Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (SESPIMTI) / SESPATI
Pendidikan pengembangan bagi para Perwira Menengah Polri berpangkat
Komisaris Besar (Kombes Pol) yang telah memenuhi syarat administrasi,
kesehatan, jasmani, intelektual dan psikologi guna menjalani pendidikan selama
6 bulan di Sekolah Staf dan Pimpinan Polri di Jl. Maribaya Lembang, Bandung
Jawa Barat.
SESPIMTI atau SESPATI ini adalah semacam tiket awal untuk menuju promosi
Perwira Tinggi (Brigjen Pol). Tentu akan semakin susah persaingan untuk
menempuh sekolahnya, hanya boleh dua tahun (2 kali) mencoba tes. Selain
semua pendidikan pengembangan diatas, banyak Polisi yang juga mengambil
kuliah strata S1 sampai S2 untuk menunjang ilmu dan karirnya. Dan
Alhamdulillah ayah saya sudah menempuh SESPIMTI tahun 2011 yang lalu

setelah sempat gagal di tes masuk SESPIMTI yang pertama tahun 2010, juga
sudah selesai mengambil studi S1 dan S2.
Walau telah melalui semua sekolah pengembangan yang ada di atas, tidak
otomatis segera menjadi Perwira Tinggi. Hanya saja, promosi ke Perwira Tinggi
selebihnya adalah masalah waktu dan kesempatan yang menentukan, serta
tentunya kinerja, rekam jejak karir dan prestasi.

Intermezzo: Kasus Damai di Tempat, Salah Penyuap atau yang


Menerima Suap?
Mungkin ini salah satu yang cukup sering terjadi di masyarakat. Oknum polisi
yang korup, contohnya waktu menilang pelanggar lalu lintas. Saya telah lama
mengamati, dan jika kita lihat secara obyektif maka ada dua kemungkinan bagi
petugas polisi dan ada dua pilihan bagi pelanggar lalu lintas.
1. Contoh kasus Polisi yang menerima suap (polisi korup)
P : Mas, karena tadi nerobos lampu dan tidak bawa surat-surat, jadi saya akan
kasih surat tilang,
A : Tunggu pak, saya ga sengaja, saya beneran minta maaf. Kalau damai
ditempat aja gimana pak, Saya ga bakal ngulangi lagi
P : Emang kamu ada uang berapa?
A : Adanya segini pak *keluarin uang 50 ribu
P : #tergiur Ya sudah, lain kali jangan diulangi, sekarang kamu boleh jalan lagi
sana,
B : Kenapa kamu bro?
A : Sebel aku, kena tilang, habis 50 ribu. Sialan tuh polisinya!

2. Contoh kasus polisi yang tidak mau nerima suap (polisi jujur)
P : Mas, karena tadi nerobos lampu dan tidak bawa surat-surat, jadi saya akan
kasih surat tilang,
A : Tunggu pak,saya beneran minta maaf, kalau ditilang saya gak bisa kalau ga
ada motor pak. Kalau damai ditempat saja gimana pak? *keluarin uang 50 ribu
P: Maaf mas, tolong jangan suap saya, peraturan ya peraturan, jadi tetap saya
tilang. Jadi ikutin aja prosedurnya.
B : Kenapa kamu bro?
A : Kena tilang, surat-surat ditahan, sama mesti bayar denda ke bank. Sialan tuh
polisinya!
Kalo kata Raisa, itu polisi jadi "Serba Salah", nerima gak nerima suap tetap kena
maki dan dibenci. Udah kayak cowok di mata cewek aja. Serba salah, ya
namanya juga kaum minoritas, jumlahnya sedikit dibandingkan rakyat sipil yang
jauh lebih banyak. Mau gak mau ya argumen yang mayoritas yang menang.

"Kita hidup di jaman dimana kebenaran kadang dinilai dari suara


mayoritas, bukan realitas"
Emang kasihan jadi minoritas, saya jadi teringat kata dosen saya,
"Sudah ras nya minoritas, Agamanya minoritas pula. Keluarga suruh cari jodoh
yang sesuku. Pemerintah suruh cari yang seagama. Mau cari dimana?? Susah... "
- Salah satu dosen saat mata kuliah tentang Antropologi budaya.
Untuk yang satu ini saya tidak sepenuhnya setuju dengan dosen saya. Minoritas
menikah lintas suku/ras baik saja karena menambah persaudaraan. Namun
menikah dengan yang beda keyakinan akan sangat besar konsekuensi jangka
panjangnya. Tidak semua, tapi banyak teman saya yang lahir dari orang tua
yang beda keyakinan, menceritakan beberapa ketidaknyamanan hidupnya.
Silahkan saja sih, asal sudah siap jangka panjang pertimbangannya.
Kembali ke topik perkuliahan..
Penjelasan:
Kasus suap terjadi karena ada pihak yang menerima suap dan yang memberi
suap. Pelanggar yang memberi uang suap dan petugas yang menerima suap
sama-sama bersalah. Namun seringkali si pelanggar/penyuap tidak sadar kalau
juga turut berperan dalam perilaku korupsi. Kalau tidak percaya silakan unduh
UU no 11 tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap di
http://www.hukumonline.com/pusatdata/download/lt4c333288ee481/node/22473
Jadi jelas bahwa baik yang memberi suap dan menerima suap sama saja dengan
berperilaku korupsi.
Dalam hal ini si pelanggar punya dua pilihan dalam benaknya:
1. Pilihan untuk menyuap agar damai di tempat biar gak ribet.
2, Pilihan untuk menolak tawaran damai ditempat/tidak mau menyuap tapi ikut
prosedur tilang: bayar denda tilang ke pemerintah, mungkin jauh lebih mahal
dari menyuap "damai" petugas.
Tapi sayangnya ternyata sifat orang Indonesia masih banyak yang malas dan gak
suka repot sehingga masih banyak sekali yang menyuap petugas agar "damai",
namun herannya habis itu tetap mengata-ngatai petugas tersebut korup. Lantas
apa si penyuap tidak termasuk korup? Ini tidak hanya terjadi di lembaga Polri.
Suap, korupsi dan pungli di institusi lain juga banyak sekali terjadi, seperti
oknum Pegawai Negeri lainnya yang memperlambat proses dan hanya
mempercepat jika dibayar, yang banyak bolos tidak masuk kerja setelah libur
panjang, calo, pejabat korupsi proyek yang dikurangi spesifikasi mutunya, mark
up anggaran dan segala kebobrokan orang Indonesia bedebah lainnya yang
sampai hapal kita temui sehari-hari.
Dan ini salah satu yang saya sangat sesalkan tentang sebagian besar orang

Indonesia, mentalnya peminta-minta bak pengemis sampai banyak sekali pungli


dimana-mana. Prosedur tidak ada yang singkat kawan, semua ada tahapnya.
Sifat malas kita inilah awal dari korupsi. Jadi jangan memberikan sepeser
uangpun untuk menyuap petugas agar kita lepas dari hukuman. Ingat nama dan
pangkat oknum petugas yang mencari kesempatan, laporkan. Yang lebih baiknya
lagi adalah dengan tidak melanggar, dengan begitu tidak akan ada kesempatan
bagi aparat nakal tersebut untuk korup.
Mari jauhi kebiasaan ini dan bantu budayakan masyarakat anti korupsi. Peran
masyarakat juga penting dalam menciptakan pemerintahan yang bersih. Be
Gentlemen bro! Kalau kita melanggar mari mengakui kesalahan dan mengikuti
prosedur yang berlaku. Ini satu langkah besar untuk membudayakan perilaku
anti korupsi. Percuma saja kita koar-koar ngaku anti korupsi, minta hukum
koruptor seberat-beratnya tapi kalau melanggar masih menyuap petugas. Itu
sama saja ibarat kamu pejabat, pas kampanye mendeklarasikan dengan tegas
anti narkoba, tapi esoknya setelah dilantik ketangkap lagi pesta narkoba,
kan munafik..

"Intinya adalah selama masih ada praktik korupsi dalam masyarakat


kita, negara ini tidak akan pernah maju, bahkan akan semakin
tertinggal dan jauh dari sejahtera. Dan kita butuh banyak orang-orang
dan pemimpin hebat yang mau mendobrak kebobrokan seperti ini untuk
membentuk pemerintahan yang baik dan bersih, semoga itu ada dalam
diri kita semua"

"Aku menantikan masa dimana masyarakat mematuhi peraturan bukan


karena takut dengan sanksi, tapi karena kesadaran diri sendiri" - Haikal
Ahmadi
"Dan layaknya karakter terbelakang pelanggar Indonesia kebanyakan,
mereka selalu berusaha mengelak dengan berbagai alasan meski sudah
tahu ada salah. Alasan klasik picisan, mudah ditebak. Sama seperti
karakter koruptor Indonesia yang tetap mengelak dan tak terlihat malu
atau bersalah ketika ditangkap."
"Mungkin koruptor dulunya orang yang sering melanggar. Mengambil
yang bukan haknya saja dia biasa saja, apalagi kalau sekedar
melanggar. Dan korupsi di Indonesia itu luas, tidak hanya dalam
dimensi materi, korupsi dalam dimensi waktu saja tinggi sekali di
negara ini, kurang kesadaran untuk on time. Belum lagi korupsi dalam
dimensi yang lain."

Sebelum menutup tulisan saya kali ini, dan seperti yang saya katakan tadi,
profesi polisi adalah manusia juga, seperti aku, kamu dan mereka, yang tak
sempurna. Mungkin masih banyak kekurangan dari para Polisi. Ada yang pro dan
kontra itu wajar. Bagi yang kontra silakan membenci dengan cara yang positif.
Bencilah para polisi dengan ajak semua orang di dunia dan dirimu sendiri
berbuat baik, sehingga tidak ada lagi kejahatan, kriminal, kemacetan,
pelanggaran, kecelakaan lalu lintas, demonstrasi, kerusuhan supporter bola,
penculikan, pembunuhan, narkoba, terorisme, radikalisme, korupsi, dan kasuskasus lainnya di muka bumi ini yang tak cukup saya tulis dalam waktu sehari.
Disaat dunia aman tenteram seperti itu maka rasanya dunia sudah tidak
memerlukan lagi profesi Polisi ataupun tentara. Sesimpel itukah? Ternyata tidak..
Aku sudah mencoba membenci polisi sebaik mungkin yang ku bisa, aku berbuat
baik dan tak melanggar, tapi ternyata tetap masih banyak orang di dunia ini
yang terus melanggar tata tertib, peraturan dan berbuat kejahatan sehingga
profesi ini terus dibutuhkan. Aku pun menyerah.. ternyata aku tidak bisa
membenci profesi ini, aku tidak bisa membayangkan bagaimana keamanan
negara ini kalau tak ada mereka.. Tapi jangan di salah artikan juga bahwa kita
jadi boleh melakukan tindak kejahatan biar polisi makin dibutuhkan, pemikiran
tak sedangkal itu kawan..

Q: Kenapa di media sering sekali ada berita oknum anggota yang


terlibat kasus?
Satu kasus oknum anggota yang diberitakan/diexpose media saja sudah sangat
merusak citra anggota lainnya, disaat banyak anggota berprestasi lainnya yang
luput diexpose media. Ya memang begitulah media. Begitu pula masyarakat kita,
opini dan pengetahuan kita sehari-hari memang banyak dipengaruhi oleh media.
Disaat mereka mati dalam tugas, seringkali luput atau jarang diliput. Hal ini
sudah biasa karena berita seperti itu memang tidak terlalu menjual. Mereka
bukanlah publik figur, artis, komedian ataupun selebriti yang jika mati akan
diliput secara masiv oleh media dalam jangka panjang karena memang berita
seperti itulah yang menjual dan ditunggu-tunggu oleh konsumen stasiun TV yang
mayoritas masih awam. Apalagi industri media di negara kita mayoritas dikuasai
pihak swasta yang tentunya berorientasi profit (laba) dan rating dengan
mayoritas pemiliknyapun adalah petinggi partai politik, sehingga netralitas
keberpihakan pemberitaannya pun masih dipertanyakan. Intinya, oknum
memang ada dan wajar saja jika diliput media, namun jangan lupakan juga
bahwa masih banyak juga di luar sana para petugas yang baik dan bekerja keras
menjaga keamanan di masyarakat.
Dan, semua pendidikan termasuk polisi pasti mengajarkan kebaikan, namun
kembali setelah keluar dari pendidikan, tidak menjamin watak tiap individu itu
berubah dan berlaku sesuai yang diajarkan di pendidikan. Bahkan semua kitab
suci pun mengajarkan/mengingatkan kebaikan, namun kembali ia tidak dapat
mengubah watak suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mau berubah.

Jangan salahkan profesinya, profesinya tidak salah, tapi siapa ia sebagai


individunya lah yang bersalah sehingga di sebut oknum.
Dan selalu hati-hati dalam menerima berita dari media apapun. Ambil informasi
yang berimbang, informatif, edukatif dan bermanfaat dari media, namun jangan
mentah-mentah terbawa opini publik sebelum cek kebenarannya.

Q: Kalau soal gaji polisi, bagaimana mas?


Saya tidak akan banyak bicara masalah gaji, sebab masuk polisi itu
"Pengabdian". Saran saya, kalau mau masuk polisi hanya karena berorientasi
pada gaji besar, lebih baik batalkan niat rekan-rekan. Gajinya tidak seberapa
dibanding risiko pekerjaan, mulai dari risiko kecil hingga nyawa. Kalau beruntung
dapat jabatan strategis tertentu, tunjangannya sih Alhamdulillah lumayan, dan
bisa punya tabungan lebih. Tapi itu hanya segelintir perwira menengah atau
perwira tinggi saja yang bisa punya cukup tabungan dari tunjangan jabatan
strategis yang pernah mereka jabat. Toh, setelah punya cukup tabungan dari
jabatan strategis, banyak dari perwira polisi tersebut yang nyambi buka usaha
juga untuk menambah penghasilannya koq. Karena jujur saja, dapat jabatan
bagus gak selamanya, dan kalau sudah tidak dapat jabatan strategis,
penghasilan dari bisnislah yang membantu dan malah sering lebih besar dari gaji
polisinya. Begitu pula ayah saya yang punya beberapa bisnis lain disamping
penghasilan dari polisi, yang malah penghasilan dari bisnisnya jauh lebih tinggi
dari gaji polisinya. Selain itu, mereka juga siap tidak libur ketika hari raya tiba,
siap dinas jauh dari keluarganya, jatah cuti cuma 7 hari saja pertahun, gaji pokok
polisi sekitar 3-4 juta perbulan dan masih banyak suka duka lainnya. Kalau fokus
mau berpenghasilan besar sih, saran saya lebih nyaman berwirausaha.
Kata kuncinya untuk menjadi polisi sekali lagi adalah pengabdian. Kalau ada
yang mau beri komentar masalah polisi gendut, mohon renungkan kembali,
apakah semua polisi seperti itu? Semua polisi gendut dulunya pasti pernah
berpostur ideal ketika pendidikan, hingga faktor umur dan pola makan berbicara.
Pernah lihat polisi lagi jaga di pinggir jalan yang penuh debu dan polusi dari
kenalpot kendaraan kita dengan warna celananya yang telah memudar seperti
celana pramuka? Sekali lagi mohon diingat bahwa kasus-kasus negatif yang
menjadi hot topik media hanyalah oknum. Masih banyak polisi yang baik dan
mereka masih bertahan menjalankan tugas dan patroli saat rekan-rekan sekalian
termasuk saya tertidur pulas atau ketika kita sedang berlibur ke rumah nenek
saat Lebaran tiba. :)

Demikianlah kuliah singkat saya tentang kepangkatan dalam Kepolisian Republik


Indonesia, semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan teman-teman
sekalian. Ataupun ada yang jadi berminat masuk polisi setelah membaca ini,

Alhamdulillah... selama itu keinginan sendiri, cobalah.


Saya sendiri dari dulu sering dapat pertanyaan "Kenapa gak jadi polisi kayak
ayahmu Kal?" Pertanyaan "klasik" untuk anak polisi, yang tidak lelah telah sering
saya jawab dan jelaskan kepada teman-teman yang bertanya. Saya tidak minat
bukan karena jadi polisi itu tugasnya berat, harus siap ditaruh didaerah konflik
dan terpencil manapun. Bukan karena gajinya kecil gak seberapa dibanding
risiko dan bahayanya. Bukan karena itu, tapi saya memang gak punya keinginan
dan minat jadi polisi. Aku punya mimpi yang lain, kawan. Dan pekerjaan yang
dijalani bukan atas keinginan sendiri tentu tidak akan berjalan baik kedepannya,
dan pekerjaan apapun itu jika kita menjalaninya dengan sepenuh hati, pasti lebih
baik.
Saya sendiri saat ini sudah cukup bangga dengan pilihan jalan hidup saya
sebagai mahasiswa di Fakultas Ekonomika dan Bisnis di salah satu PTN terbaik di
Indonesia di Daerah Istimewa Yogyakarta, S1 Business Management. Juga
bangga pernah mendapat banyak pengalaman dari kepengurusan HMJ
Manajemen saya dulu dan Event terbaik yang pernah saya lakoni
di Management's Events dan Economics Jazz. Tuhan berkata lain, minat bakat
saya bukan ikuti jejak orang tua ke karir Kepolisian. FEB UGM, Almamater pilihan
saya dengan sederet tokoh alumni panutan yang sudah menginspirasi seperti
Anies Baswedan, Mardiasmo, mantan Gubernur Bank Indonesia sekaligus wapres
pak Boediono dan masih banyak lagi.
Ada pepatah mengatakan, "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya". Mungkin
bukan dalam hal pilihan karir, tapi saya yakin kesamaan itu saya dapatkan dalam
bentuk lain, yaitu didikan dan pelajaran hidup yang ayah saya berikan sampai
saya bisa menulis seperti sekarang ini.

"Yakinlah kau lebih dari yang kau bayangkan, karena tiap waktu yang
kau lalui adalah takdir yang kau pilih" - Haikal Ahmadi
"Seorang Manager jangan hanya mampu berkata 'iya', namun juga
harus berani mengatakan 'tidak' " - Amin Wibowo, M.B.A., Ph.D. ( Kepala
Departemen Manajemen FEB UGM sekaligus dosen saya di kelas Strategic
Management )

Januari

1 Januari : Hari Perdamaian Dunia


1 Januari : Tahun Baru

3 Januari : Hari Departemen Agama


5 Januari : Hari Korps Wanita Angkatan Laut (KOWAL)
5 Januari : Hari Ulang Tahun Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
10 Januari : Hari Ulang Tahun Partai Demokrasi Indonesia (PDI)
15 Januari : Hari Peristiwa Laut dan Samudera
25 Januari : Hari Gizi & Makanan
25 Januari : Hari Kusta Internasional
31 Januari : Hari Lahir Nahdlatul Ulama (NU)

Februari

5 Februari : Hari Ulang Tahun Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)


5 Februari : Hari Peristiwa Kapal Tujuh
9 Februari : Hari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)
9 Februari : Hari Kavaleri
13 Februari : Hari Persatuan Farmasi Indonesia
14 Februari : Hari Peringatan Pembela Tanah Air (PETA)
19 Februari : Hari KOHANUDNAS
22 Februari : Hari Istiqlal
28 Februari : Hari Gizi Nasional Indonesia

Maret

1 Maret : Hari Kehakiman Indonesia


1 Maret : Hari Peristiwa Serangan Umum di Jogyakarta
6 Maret : Hari KOSTRAD
8 Maret : Hari Wanita Internasional
9 Maret : Hari Musik Nasional
10 Maret : Hari Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI)
11 Maret : Hari Surat Perintah 11 Maret (SUPERSEMAR)
14 Maret : Hari Milad Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)
18 Maret : Hari Arsitektur Indonesia
18 Maret : Hari Ulang Tahun Provinsi Lampung
23 Maret : Hari lahir Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)
23 Maret : Hari Meteorologi Sedunia
24 Maret : Hari Peringatan Bandung Lautan Api
27 Maret : Hari Women International Club (WIC)
30 Maret : Hari Film Indonesia

April

1 April : Hari Bank Dunia


6 April : Hari Nelayan Indonesia
7 April : Hari Kesehatan Internasional
9 April : Hari Penerbangan Nasional
9 April : Hari TNI Angkatan Udara

15 April : Hari Zeni


16 April : Hari KOPASSUS (Komando Pasukan Khusus)
18 April : Hari Peringatan Konferensi Asia Afrika
19 April : Hari Pertahanan Sipil (HANSIP)
20 April : Milad PKS (Partai Keadilan Sejahtera)
21 April : Hari Kartini
22 April : Hari Bumi
24 April : Hari Angkutan Nasional
24 April : Hari Solidaritas Asia-Afrika
27 April : Hari Permasyarakatan Indonesia

Mei

1 Mei : Hari Peringatan Pembebasan Irian Barat


1 Mei : Hari Buruh Sedunia
2 Mei : Hari Pendidikan Nasional
3 Mei : Hari Surya
4 Mei : Hari Bangkit Pelajar Islam Indonesia
8 Mei : Hari Henry Dunant
5 Mei : Hari Lembaga Sosial Desa (LSD)
11 Mei : Hari POM - TNI
17 Mei : Hari Buku Nasional
19 Mei : Hari Korps Cacat Veteran Indonesia

20 Mei : Hari Kebangkitan Nasional


21 Mei : Hari Peringatan Reformasi
31 Mei : Hari anti tembakau internasional

Juni

1 Juni : Hari Lahir Pancasila


1 Juni : Hari Anak-anak Sedunia
3 Juni : Hari Pasar Modal Indonesia
3 Juni : Hari Jadi Kota Bogor
5 Juni : Hari Lingkungan Hidup Sedunia
17 Juni : Hari Dermaga
17 Juni : Hari Ulang Tahun Kota Bandar Lampung
22 Juni : Hari Ulang Tahun Kota Jakarta
24 Juni : Hari Bidan Indonesia
26 Juni : Hari Anti Narkoba Sedunia
29 Juni : Hari Keluarga Berencana Nasional

Juli

1 Juli : Hari Bhayangkara


1 Juli : Hari Anak-anak Indonesia
5 Juli : Hari Bank Indonesia

9 Juli : Hari Satelit Palapa


12 Juli : Hari Koperasi
22 Juli : Hari Kejaksaan
23 Juli : Hari Anak Nasional
23 Juli : Hari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dan Hari ultah uyi
29 Juli : Hari Bhakti TNI Angkatan Udara

Agustus

5 Agustus : Hari Dharma Wanita Indonesia


8 Agustus : Hari Ulang Tahun ASEAN
10 Agustus : Hari Veteran Nasional
13 Agustus : Hari Peringatan Pangkalan Brandan Lautan Api
14 Agustus : Hari Pramuka
15 Agustus : Hari mengudaranya RBTV Asli Jogja
17 Agustus : Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
18 Agustus : Hari Konstitusi Republik Indonesia
19 Agustus : Hari Departemen Luar Negeri Indonesia
21 Agustus : Hari Maritim Nasional
24 Agustus : Hari Televisi Republik Indonesia (TVRI)
30 Agustus : Hari Orang Hilang Sedunia

September

1 September : Hari Polisi Wanita (POLWAN)


3 September : Hari Palang Merah Indonesia (PMI)
8 September : Hari Aksara
8 September : Hari Pamong Praja
9 September : Hari Ulang Tahun Partai Demokrat
9 September : Hari Olahraga Nasional
11 September : Hari Radio Republik Indonesia (RRI)
17 September : Hari Perhubungan Nasional
24 September : Hari Tani
26 September : Hari Statistik
27 September : Hari Pos Telekomunikasi Telegraf (PTT)
28 September : Hari Kereta Api
29 September : Hari Sarjana Indonesia
30 September : Hari Peringatan Pemberontakan G30S/PKI

Oktober

1 Oktober : Hari Kesaktian Pancasila


2 oktober : Hari Batik
5 Oktober : Hari Tentara Nasional Indonesia (TNI)
7 oktober : Hari ulang tahun Kota Jogjakarta
9 Oktober : Hari Surat Menyurat Internasional

10 Oktober : Hari Kesehatan Jiwa


14 Oktober : Hari Pangan Sedunia
15 Oktober : Hari Hak Asasi Binatang
16 Oktober : Hari Parlemen Indonesia
20 Oktober : Hari Ulang Tahun Golongan Karya
24 Oktober : Hari Dokter Indonesia
24 Oktober : Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
27 Oktober : Hari Penerbangan Nasional
27 Oktober : Hari Listrik Nasional
28 Oktober : Hari Sumpah Pemuda
29 Oktober : Hari KORPRI
30 Oktober : Hari Keuangan

November

3 November : Hari Kerohanian


10 November : Hari Pahlawan
10 November : Hari Ganefo
12 November : Hari Kesehatan Nasional
14 November : Hari Brigade Mobil (BRIMOB)
14 November : Hari Diabetes Sedunia
21 November : Hari Pohon
22 November : Hari Perhubungan Darat

25 November : Hari Guru

Desember

1 Desember : Hari AIDS Sedunia


1 Desember : Hari Artileri
3 Desember : Hari Internasional Penyandang Cacat
9 Desember : Hari Armada
10 Desember : Hari Hak Asasi Manusia
12 Desember : Hari Transmigrasi
15 Desember : Hari Infanteri
19 Desember : Hari Bela Negara
22 Desember : Hari Ibu
22 Desember : Hari Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia (ISMAFARSI)
22 Desember : Hari Sosial
22 Desember : Hari Korps Wanita Angkatan Darat (KOWAD)