Anda di halaman 1dari 189

PENGANTAR

AKUNTANSI
1

1
BAB 1

AKUNTANSI DAN RUANG LINGKUPNYA

1.1 Pengertian Akuntansi

Akuntansi tepatnya Akuntansi Keuangan atau ada juga yang menyebut akunting
adalah merupakan bahasa atau alat komunikasi bisnis yang dapat memberikan suatu
informasi tentang kondisi keuangan, berupa posisi keuangan yang tertuang dalam
jumlah kekayaan, uang dan modal suatu usaha pada suatu waktu atau periode
tertentu. Dengan informasi ini pembaca laporan tidak perlu lagi mengunjungi suatu
perusahaan atau melakukan interview untuk mengetahui keadaan keuangannya, hasil
usahanya maupun memprediksi masa depan perusahaan ini.

Definisi akuntansi yang dapat dipakai unutk memahami lebih dalam pengertian
akuntansi ini, ada dalam buku A Statement of Basic Accounting Theory (ASOBAT),
akuntansi diartikan sebagai berikut “Proses mengidentifikasikan, mengukur, dan
menyampaikan informasi ekonomi sebagai bahan informasi dalam hal
mempertimbangkan berbagai alternative dalam mengambil kesimpulan oleh para
pemakainya”

Sedangkan Komite istilah American Institute of Certified Public Accounting (AICPA)


mendifinisikan Akuntansi sebagai berikut “Akuntansi adalah seni pencatatan,
penggolongan, dan pengikhtisaran dengan cara tertentu dan dalam ukuran moneter,
transaksi, dan kejadian-kejadian yang umumnya bersifat keuangan dan termasuk
menafsirkan hasil-hasilnya”

Definisi ini bisa dipermasalahkan seandainya kita berhadapan dengan keadan sistem
pencatatan yang sudah menggunakan komputerisasi, apalagi proses pengolahan
datanya tidak lagi melalui pencatatan tetapi melalui optic, dialing atau keyboard

2
sehingga sama sekali tidak melibatkan proses pencatatan konvensioanal. Definisi ini
sudah “out of date”

Accounting Principle Board (APB) Statement No. 4 mendefinisikan akuntansi


sebagai berikut “Akuntansi adalah suatu kegiatan jasa. Fungsinya adalah
memberikan informasi kuantitatif, umumnya dalam ukuran uang, mengenai suatu
badan ekonomi yang dimaksudkan untuk digunakan dalam pengambilan keputusan
ekonomi sebagai dasar memilih di antara berbagai alternative”.

1.2 Pemakai Informasi Akuntansi

Secara umum pihak-pihak yang berkepentingan. Pemilik dan calon pemilik dari suatu
perusahaan perlu mengetahui bagaimana keadaan keuangan perusahaan dari
prospeknya di masa datang. Bagi pemilik I informasi itu dapat digunakan untuk
memutuskan, apakah ia akan tetap mempertahankan kepemilikannya di perusahaan
itu atau menjualnya dan kemudian menanamkan modalnya di tempat lain. Bagi calon
pemilik informasi akuntansi akan digunakan untuk memutuskan apakah ia akan
menanamkan modalnya di perusahaan tersebut.

Pihak kreditur (misalnya bank) ingin mengetahui perkembangan perusahaan setelah


pinjaman diberikan. Bagi calon kreditur, informasi tentang perusahaan diperlukan
untuk menilai risiko yang akan terjadi sebelum pinjaman diputuskan untuk diberikan.

Badan-badan Pemerintah sangat berkepentingan dengan informasi keuangan


perusahaan untuk tujuan-tujuan pajak dan pengaturan-pengaturannya. Kantor pajak
yang berkepentingan terhadap informasi akuntansi perusahaan untuk memeriksa
kebenaran jumlah pajak yang dilaporkan. Pegawai dan serikat pekerjanya sangat
tertarik mengenal stabilitas dan profitabilitas perusahaan yang mempekerjakannya.

3
Pihak yang sangat tergantung dan paling banyak berhubungan dengan hasil akhir
akuntasi adalah mereka yang diberi tanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan
perusahaan. Kadang-kadang mereka, secara keseluruhan disebut sebagai manajemen
(management) perusahaan. Jenis informasi yang dibutuhkan untuk tiap-tiap
manajemen perusahaan berbeda sesuai dengan besarnya perusahaan. Manajemen
sebuah, perusahaan kecil mungkin hanya membutuhkan informasi akuntansi yang
sedikit saja. Semakin besar perusahaan, semakin sedikit kesempatan manajemen
perusahaan unutuk berhubungan langsung dengan kegiatan sehari-hari. Akan tetapi,
walaupun demikian, ia harus mendapatkan inforamsi yang tepat waktu mengenai
bermacam-macam aspek yang terdapat dalam perusahaan itu.

Informasi yang relevan untuk satu pihak mungkin menjadi tidak relevan bagi pihak
lain. Akan tetapi, begitu kelompok-kelompok yang membutuhkan inforamsi
akuntansi dapat diidentifikasikan, informasi yang relevan juga dapat ditentukan. Jika
kedua hal tersebut telah diketahui, seorang akuntan dapat menciptakan kerangka
sistem inforamsi yang diperlukan untuk membantu setiap kelompok tersebut dalam
membuat penilaian dan keputusan yang berhubungan dengan tindakan-tindakan di
masa mendatang.

1.3 Profesi Akuntan

Secara garis besar akuntan dapat digolongkan menjadi:

1. Akuntan public

2. Akuntan manajemen

3. Akuntan pemerintah

4. Akuntan pendidik

4
Akuntan public atau kadang disebut akuntan ekstern (external accountants) adalah
akuntan independent yang memberikan jasa-jasanya atas dasar pembayaran tertentu.
Mereka bekerja secara bebas, pada umumnya mendirikan suatu kantor akuntan.
Termasuk dalam kategori akuntan public adalah akuntan yang bekerja pada kantor
tadi. Untuk dapat berpraktik sebagai akuntan public dan mendirikan kantor akuntan,
seseorang harus memperoleh izin dari Departemen Keuangan. Seorang akuntan
public dapat memberikan pelayanan dalam bidang:

1. Jasa pemeriksaan (audit)

2. Jasa perpajakan (tax services)

3. Jasa konsultasi manajemen

4. Jasa akuntansi

Akuntan manajemen atau disebut juga akuntan intern (internal accountants) adalah
akuntan yang bekerja dalam suatu perusahaan atau organisasi. Jabatan yang dapat
diduduki mulai dari staf biasa sampai dengan kepala bagian akuntansi, controller atau
direktur keuangan.

Tugas yang dikerjakan oleh akuntan intern dapat berupa:

1. penyusunan sistem akuntansi

2. Penyusunan laporan akuntansi kepada pihak-pihak di luar perusahaan


Penyusunan laporan akuntansi kepada manajemen

3. Penyusunan anggaran

4. Menangani masalh perpajakan

5. Melakukan pemeriksaan intern.

5
Akuntan pemerintah adalah akuntan yang bekerja pada badan-badan pemerintah,
seperti di departemen-departemen, Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan
(BPKP), Badan Pengawas Keuangan (BPK), Direktorat Jenderal Pajak, dan lain-lain.
Disamping tiga golongan akuntan tersebut di atas, terdapat akuntan yang bekerja
sebagai pendidik. Akutan pendidik terutama bertugas dalam pendidikan akuntansi,
yaitu mengajar, menyusun kurikulum pendidikan akuntansi dan melakukan penelitian
di bidang akuntansi.

1.4 Bidang Akuntansi

Seperti halnya bidang-bidang kegiatan yang lain, akuntansi juga mempunyai bidang-
bidang khusus sebagai akibat dari perkembangan zaman. Pembahasan mengenai
bidang-bidang akuntansi banyak diambil dari Guideline on The Core of Konowledge
Professional Subjects; International Federation of Accountants; Now York; 1984.

Kecenderungan untuk sosialisasi disebabkan oleh perkembangan perusahaan,


timbulnya sistem perpajakan baru dan bertambahnya pengaturan-pengaturan oleh
Pemerintah terhadap kegiatan perusahaan. Faktor-faktor tersebut bersama-sama
dengan kemajauan teknologi dan pertumbuhan ekonomi yang cepat telah
mengharuskan akuntan untuk memperoleh keahlian yang tinggi dalam spesialiasi
tertentu.

Berikut ini adalah bidang- bidang dalam Akuntansi:

Akuntansi Keuangan (Financial Accounting).

Bidang ini berkaitan dengan akuntansi untuk suatu unit ekonomi, secara keseluruhan.
Ia berhubungan dengan pelaporan keuangan untuk pihak-pihak di luar perusahaan.
Oleh karena pihak-pihak di luar perusahaan yang mempunyai kepentingan banyak
macam ragamnya, maka laporan yang dihasilkan bersifat serba guna (general
purpose). Hal yang penting untuk diperhatikan dalam menyusun laporan keuangan

6
untuk pihak-pihak ini adalah aturan-aturan yang telah disetujui bersama. Aturan-
aturan itu disebut “Standar Akuntansi Keuangan”. Adalah merupakan kewajiban bagi
perusahaan untuk mengikuti standard akuntansi keuangan tersebut dalam menyusun
laporan mengenai posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan kepada pihak-pihak di
luar perusahaan. Standard akuntansi keuangan dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan
Indonesia dalam bentuk Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK).

Auditing

Bidang ini berhubungan dengan audit secara bebas terhadap laporan yang dihasilkan
oleh akuntansi keuangan. Walaupun tujuan utama audit adalah agar informasi
akuntansi yang disajikan dapat lebih dipercaya, namun terdapat tujuan-tujuan lain
yang dapat dicakup. Misalnya, memastikan ketaatan terhadap kebijakan, prosedur
atau peraturan serta menilai efisiensi dan efektivitas suatu kegiatan. Konsep yang
mendasari auditing adalah objektivitas dan independensi dari pemeriksa. Konsep lain
yang dianut adalah kerahasiaan serta pengumpulan bukti-bukti yang cukup dan
relevan. Pengumpulan bukti, bukti pemeriksaan yang cukup dan relevan tadi
dilakukan melalui pengujian terhadap catatan-catatan akuntansi dan prosedur
pemeriksaan lainnya.

Dalam melakukan audit, akuntan tunduk pada standard auditing dan kode etik
akuntan. Standard auditing dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia dalam bentuk
Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP). Audit merupakan jasa utama yang
diberikan oleh akuntan public. Tetapi disamping akuntan public, hampir semua
perusahaan besar juga mempekerjakan pegawai yang berfungsi sebagai pemeriksa
intern (Internal auditor). Salah satu tugas utama dari pemeriksa intern adalah
menentukan sampai sejauh mana tiap-tiap bagian dalam perusahaan telah mematuhi
kebijakan dan prosedur yang ditetapkan oleh manajemen perusahaan.

7
Akuntansi Manajemen (Management Accounting)

Titik sentral dalam akuntansi manajemen adalah informasi untuk manajemen


perusahaan. Beberapa kegunaan dari akuntansi manajemen adalah mengendalikan
kegiatan perusahaan, memonitor arus kas, dan menilai alternatif dalam pengambilan
keputusan. Pengendalian perusahaan melalui aktivitas yang dijalankan merupakan
trend baru dalam akuntansi manajemen. Keguanaan akuntansi manajemen dalam
pengambilan keputusan dapat dilihat, misalnya dalam hal yang diperlukan, akuntasi
manajemen tidak membatasi diri pada data historis saja. Ada kalanya digunakan data
yang baru terjadi dan bahkan data taksiran di masa datang.

Disamping itu, pemecahan masalah akuntansi manajemen kadang memerlukan


bantuan disiplin ilmu lain, misalnya: teori organisasi, ilmu perilaku, dan teori
informasi. Dalam tahun-tahun terakhir ini, akuntan public telah mengembangkan
penyediaan jasa konsultasi bisnis serta jasa konsultasi ekonomi dan keuangan. Jasa-
jasa tersebut banyak mendasarkan pada pengetahuan tentang akuntansi manajemen.

Akuntansi Biaya (Cost Accounting)

Bidang ini menekankan pada penetapan dan control atas biaya. Ia terutama
berhubungan dengan biaya produksi suatu barang, tetapi perhatian yang makin
meningkat mulai diberikan atas biaya distribusi. Bahkan akuntansi biaya telah
mengarah pada penetapan biaya berdasarkan aktivitas. Fungsi utama akuntansi biaya
adalah mengumpulkan dan menganalisis data mengenai biaya, baik biaya yang telah
maupun yang akan terjadi. Informasi yang dihasilkan berguna bagi-manajemen
sebagai alat control atas kegiatan yang telah dilakukan dan bermanfaat untuk
membuat rencana di masa mendatang.

8
Akuntansi Perpajakan (Tax Accounting)

Laporan akuntansi yang digunakan untuk tujuan perpajakan berbeda dengan laporan
untuk tujuan lain. Hal ini disebabkan oleh berbedanya konsep tentang transaksi dan
kejadian keuangan, metode pengukuran dan cara pelaporan. Untuk tujuan pajak,
konsep tentang transaksi dan kejadian keuangan serta bagaimana mengukur dan
melaporkannya ditetapkan oleh peraturan pajak. Oleh karena setiap perusahaan akan
selalu berurusan dengan masalah perpajakan, maka seorang akuntan perlu
mengetahui konsep, metode, dan cara pelaporan untuk perpajakan tersebut. Di
samping itu, peraturan perpajakan mempunyai pengaruh yang besar terhadap
keputusan usaha yang akan dilkakukan perusahaan. Dalam menghadapi masalah
pajak, akuntan dapat berperan dalam hal perencanaan pajak (tax planning),
pelaksanaan peraturan perpajakan atau mewakili perusahaan dihadapan kantor pajak.

Tugas akuntan dalam perencanaan pajak di antaranya adalah memberi nasihat tentang
bagaimana meminimalisasi pengaruh pajak, apabila secara hukum dimungkinkan.
Nasihat-nasihat tersebut di antaranya adalah pemilihan bentuk badan usaha, metode
akuntansi yang diterapkan dan cara menangani suatu transaksi. Dalam pelaksanaan
peraturan perpajakan seorang akuntan dapat membantu dalam perhitungan pajak yang
terutang, mengisi Surat Pemberitahuan Pajak Tahunan (SPT) dan kegiatan-kegiatan
administrasi perpajakan lainnya. jasa mewakili perusahaan berkaitan dengan kegiatan
pengurusan masalah perpajakan yang memerlukan hubungan langsung dengan pihak
pajak.

Sistem Inforamsi (Information System)

Bidang ini menyediakan inforamsi keuangan maupun non-keuangan yang diperlukan


untuk pelaksanaan kegiatan organisasi secara efektif. Melalui sistem ini diproses
informasi yang diperlukan untuk menyusun laporan kepada pemegang saham,
kreditur, badan-badan Pemerintah, pimpinan perusahaan, pegawai dan pihak-pihak

9
lain. Sistem yang dirancang dengan baik akan memungkinkan pimpinan perusahaan
mengidentifikasikan masalah dan menelaahnya sehingga masalah tersebut dapat
ditangani. Beberapa aspek dari suatu sistem adalah bahwa ia harus dapat
menghasilkan informasi pada waktu yang tepat, dalam bentuk yang bermanfaat dan
pada tingkat akurasi yang wajar.

Perlu diterapkan pengendalian dalam sistem sehingga dapat menghasilkan informasi


yang dapat dipercaya pada tingkat biaya yang layak. Bidang ini berhubungan dengan
perencanaan serta pelaksanaan prosedur pengumpulan dan pelaporan data keuangan
maupun non-keuangan. Sistem yang dirancang haruslah menyediakan cara untuk
melindungi kekayaan perusahaan sedemikian rupa sehingga terdapat adanya
“pengendalian intern” dan sedapat mungkin mendapatkan arus laporan yang efisien
dan berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan. Ia juga
harus mengetahui tentang penggunaan dan kegunaan dari beberapa peralatan
pemrosesan data (data processing equipment). Tugas seorang akuntan dalam bidang
ini dapat meliputi perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi suatu sistem dalam
perusahaan.

Penganggaran (Budgeting)

Bidang ini berhubungan dengan penyusunan rencana keuangan mengenai kegiatan


perusahaan untuk jangka waktu tertentu di masa datang serta analisis dan
pengontrolannya. Anggaran adalah saran untuk menjabarkan tujuan perusahaan. Ia
berisi rencana kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan di masa datang serta nilai
uang yang terlibat di dalamnya. Apabila rencana ini dibandingkan dengan
realisasinya, maka ia dapat merupakan alat control di dalam perusahaan.

Akuntansi Pemerintahan (Government Accounting)

Bidang ini mengkhususkan diri dalam pencatatan dan pelaporan transaksi-transaksi


yang terjadi di badan Pemerintah. Ia menyediakan laporan akuntansi tentang aspek

10
kepengurusan dari administrai keuangan Negara. Di samping itu, bidang ini
mencakupi pengendalian atas pengeluaran melalui anggaran Negara. Termasuk di
dalamnya adalah kesesuaian dengan ketentuan undang-undang yang berlaku.

1.5 Standar Akuntansi Keuangan

Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) sebagai wadah organisasi profesi akuntansi


Indonesia, berdiri di Jakarta pada tanggal 23 Desember 1957. IAI berhasil menyusun
dan menerbitkan Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) pada tahun1973, dengan maksud
antara lain untuk menghimpun prinsip-prinsip yang lazim berlaku di Indonesia dan
sebagai prasarana bagi terbentuknya pasar uang dan modal di Indonesia pada waktu
itu, di mana laporan keuangan dari perusahaan yang akan go public, harus disusun
atas dasar prinsip-prinsip akuntansi tersebut.

Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) 1973 adalah hasil kerja panitia Penghimpun
Bahan-bahan dan Struktur daripada “Generally Accepted Accounting Principles dan
Gengerally Accepted Auditing Standars” yang terdiri dari Dewan Penasihat Panitia
kerja, antara lain telah berhasil menghimpun dan mengkodifikasikan prinsip
akuntansi. Hasilnya kemudian disahkan pasca Kongres III tanggal 2 Deesember 1973,
yaitu menjelang diaktifkannya kembali Pasar Uang dan Modal. PAI ini merupakan
salah satu prasarana mutlak bagi terbentuknya pasar uang dan modal pada waktu itu,
dimana laporan keuangan perusahaan yang akan mengeluarkan surat-surat berharga
kepada masyarakat harus disusun berdasarkan prinsip akuntansi tersebut. Adapun
bahan-bahan yang digunakan untuk menghimpun Prinsip Akuntasi 1973 adalah
sebagai berikut:

1. Buku prinsip-prinsip Accounting yang diterbitkan oleh Direktorat Akuntan


Negara, Direktorat Jenderal Pengawasan Keuangan Negara (DJPKN),

11
Departemen Keuangan RI sekarang bernama Badan Pengawasan Keuangan
dan Pembangunan (BPKP).

2. Inventory of Generally Accepted Accounting Principles for Business


Enterprise, oleh Paul Gradi, diterbitkan oleh AICPA.

3. Opinions of Accounting Principles Board, diterbitkan oleh AICPA.

4. Kumpulan dan Accounting Research Bulletins (ARBs), diterbitkan oleh


AICPA

5. A Statement of Australian Accounting Principles, diterbitkan oleh Accounting


and Auditing Research Committee dari Accountancy Research Foundation

6. Wet op de jaarekening van Ondernemingen, diterbitkan oleh NIVRA.

7. Beberapa literature lainnya.

PAI 1973 ini setelah berjalan selama satu dasawarsa kemudian disempurnakan lagi
dengan “Prinsip Akuntansi Indonesia 1984”. Prinsip Akuntansi 1984 adalah sebagai
ganti Prinsip Akuntansi Indonesia 1973. Sama halnya dengan PAI 1973, perumusan
prinsip, prosedur, metode dan teknik-teknik dalam Prinsip Akuntansi Indonesia 1984
ini, dibatasi pada hal-hal yang berhubungan dengan akuntansi keuangan yang
diungkapakan secara garis besar atau bersifat umum, tidak mencakup praktek
akuntansi untuk industri tertentu. Oleh karena itu, prinsip-prinsip yang memerlukan
penjabaran lebih lanjut diatur dengan “pernyataan”tersendiri.

Sehubungan dengan itu, Komite PAI-IAI mulai tahun 1986 menerbitkan serangkaian
Pernyataan PAI dan Interpretasi PAI untuk mengembangkan, menambah, mengubah
serta menjelaskan standard akuntansi keuangan yang berlaku, yang merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari PAI 1984. Setelah berlangsung selama sepuluh tahun PAI
1984 diganti dengan Standar Akuntansi Keuangan 1994. Standar Akuntansi

12
Keuangan 1994 mengadopsi pernyataan resmi (pronouncements) International
Accounting Standars Committee (IASC). IAI mengadopsi statements atau pernyataan
IASC sebagai dasar acuan standard akuntansi keuangan yang berlaku di Indonesia,
kemudian menerbitkan dua buah buku, yaitu”Standar Akuntansi Keuangan – Oktober
1994”, buku satu dan dua yang berisi:

1. Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan

2. Seperangkat Standar Akuntansi Keuangan, terdiri dari 35 pernyataan yang


setaraf standard Internasional.

Kerangka dasar dan seperangkat pernyataan tersebut, merupakan landasan yang


dianggap kokoh untuk pengembangan lebih lanjut. Berlaku untuk penyusunan
laoporan keuangan mencakup periode laporan yang dimulai atau setelah tanggal 1
januari 1995. Standard Akuntansi Keuangan terus menerus direvisi dan Standar
Akuntansi Keuangan (SAK) yang terbaru diterbitkan pada tanggal 1 Oktober 2004.

1.5 Sifat Dasar Akuntansi

Sifat dasar atau prinsip yang mendasari akuntansi keuangan merupakan konsep yang
harus diyakini kebenarannya sebagai dasar dari ilmu akuntansi itu dibangun. Prinsip
dasar akuntansi ini bisa menjadi keterbatasan atau sekaligus kekuatan informasi ini
yang nanti akan dibahas lebih lanjut. Banyak kajian yang telah menawarkan dan
menjelaskan prinsip atau sifat dasar akuntansi itu. Dalam APB Statement No. 4
dijelaskan beberapa sifat dan elemen dasar dari akuntansi (keuangan) sebagai berikut:

1. Accounting entity:

Dalam menyusun informasi akuntansi maka yang menjadi fokus pencatatan


akuntansi adalah entity atau lembaga, unit organisasi tertentu yang harus jelas

13
sebagai sesuatu entity yang terpisah dari badan atau entity yang lain. Kita
tidak bisa mencatat atau menyajikan informasi akuntansi sekaligus
menyangkut suatu perusahaan dan pemiliknya. Informasi yang disusun harus
masing-masing terpisah antara satu entity dengan entity yang lain.

2. Going concern

Dalam menyusun atau memahami laporan keuangan harus dianggap bahwa


perusahaan (entity) yang dilaporkan akan terus beroperasi di masa-masa yang
akan datang, tidak ada sama sekali asumsi bahwa perusahaan atau usaha ini
akan bubaar. Prinsip ini menjad dasar bagi kewajaran nilai yang dicantumkan
dalam informasi keuangan. Nilai kekayaan dari suatu perusahaan yang
dianggap hidup terus atau going concern tidak akan sama dengan nilai atau
harga kekayaan atau kewajiban dari suatu perusahaan atau lembaga yang akan
dilikuidasi. Biasanya harga atau nilai asset dari perusahaan yang sudah
dinyatakan bubar atau likuidasi akan jauh lebih murah dibandingkan dengan
harga atau nilai asset yang masih berjalan.

3. Measurement:

Akuntansi ialah sebagai alat pengukuran sumber-sumber ekonomi (Economic


Resources) dan kewajiban (liability) beserta perubahannya yang dimiliki
perusahaan. Akuntansi mencoba mengukur nilai suatu asset, kewajiban,
mmodal, hasil dan biaya. Yang namanya pengukuran tentu akan memiliki
kemungkinan kesalahan atau kelemahan dalam pengukuran itu.

4. Time Period

Laporan keuangan menyajikan informasi untuk suatu waktu tertentu, tanggal


tertentu atau periode tertentu. Neraca menggambarkan nilai kekayaan, utang
dan modal pada saat atau pada tanggal tertentu. Laporan laba rugi

14
menggambarkan informasi hasil (pendapatan dan biaya) usaha pada periode
tertentu. Sedangkan laporan Arus Kas menggambarkan informasi arus kas
masuk dan keluar pada periode tertentu.

5. Monetary Unit

Pengukuran yang dipakai dalam akuntansi adalah dalam bentuk ukuran


moneter atau uang. Semua transaksi perusahaan dikuantitatifkan dan
dilaporkan dalam bentuk nilai uang (rupiah atau dollar misalnya).

6. Accrual

Penentuan pendapatan dan biaya dari posisi harta dan kewajiban ditetapkan
tanpa melihat apakah transaksi kas telah dilakukan atau tidak. Penentuannya
bukan keterlibatan kas tetapi didasarkan pada faktor legalnya apakah memang
sudah merupakan hak atau kewajiban perussahaan atau belum. Kalau sudah,
harus dicatat tanpa menunggu pembayaran atau penerimaan kas.

7. Exchange Price

Nilai yang terdapat dalam laporan keuangan umumnya didasarkan pada harga
pertukaran yang diperoleh dari harga pasar sebagai pertemuan bargaining
antara pembeli (demand) dan penjual (supply).

8. Approximation

Dalam akuntansi tidak dapat dihindarkan penafsiran-penafsiran, baik nilai,


harga, umur, jumlah penyisihan piutang ragu, kerugian dan sebagainya.

15
9. Judgement:

Dalam menyusun laporan keuangan banyak diperlukan pertimbangan-


pertimbangan akuntan atau manajemen berdasarkan keahlian atau pengalaman
yang dimilikinya. Misalnya judgement tentang memilih FIFO, LIFO, metode
garis lurus, atau double declining, klasifikasi perkiraan dan sebagainya.

10. General Purpose:

Informasi yang disajikan dalam keuangan yang dihasilkan akuntansi keuangan


ditujukan buat pemakai secara umum, bukan pemakaian khusus. Tidak
ditujukan khusus kepada bankir, investor, kreditor, analisis, manajemen, atau
karyawan.

11. Interrelated Statement

Neraca, Daftar Laba Rugi, dan Laporan Sumber dan Penggunaan Dana
mempunyai hubungan yang sangat erat dan berkaitan satu sama lain. Ini
merupakan salah satu alat kontrol akuntansi sehingga tidak mudah melakukan
rekayasa laporan begitu saja tanpa memperhatikan hubungan satu pos (akun)
dengan pos lainnya.

12. Substance Over Form

Karena akuntansi ingin memberikan informasi yang dipercaya bagi pengambil


keputusan maka akuntansi lebih menekankan penggunaan informasi yang
berasal dari kenyataan ekonomis suatu kejadian daripada bukti legalnya.
Misalnya dalam akte Notaris modal telah disetor penuh, tetapi kenyataan
setoran (transaksi) belum ada maka akuntansi berpihak pada kenyataan yang
sebenarnya. Kalau memang belum ada setoran yang benar-benar telah masuk
ke rekening perusahaan maka belum bisa dicatat kendatipun secara legal

16
formal dianggap sudah disetor penuh. Kredit bank yang sudah disetujui tetapi
belum dimanfaatkan seluruhnya akan dicatat sebesar penggunaannya saja
kendati pun secara legal dana itu sudah dapat dimanfaatkan atau diambil.

13. Materiality

Laporan keuangan hanya memuat informasi yang dianggap penting dan dalam
setiap pertimbangan yang dilakukannya tetap melihat signifikannya.
Pengertian penting di sini adalah jika informasi itu dapat mempengaruhi para
pengambil keputusan yang normal.

Disamping sifat-sifat tersebut sebenarnya para penulis lain mengemukakan sifat-sifat


lain yang terkandung dalam akuntansi keuangan seperti:

1. Laporan Historis:

Laporan keuangan pada hakikatnya mencatat informasi yang sudah terjadi.


Tidak mencatat informasi yang akan terjadi atau masa depan. Sehingga
informasinya bukan prediksi kendati pun dari laporan historis kita bisa
melakukan prediksi dalam keadaan situasi normal.

2. Classification

Inforamsi melalui laporan keuangan diklasifikasikan sesuai dengan sifat dasar


akuntansi yang dapat memudahkan para pemakainya misalnya klasifikasi
perkiraan berdasarkan likuiditasnya, klasifikasi biaya produksi, biaya operasi,
berguna untuk kepentingan pemilik, kreditur, dan pemakai lainnya.

17
3. Summarization

Transaksi dan kejadian-kejadian yang sama dalam perusahaan dikelompokkan


dan diikhtisarkan menurut metode tertentu sesuai dengan pola yang sudah
mapan dalam akuntansi sehingga lebih mudah dipahami dan dianalisa.

4. Measuremen Basis

Dalam pengukuran yang digunakan dalam akuntansi ada bernacan-macam


metode pengukuran seperti Haga Pokok (Cost) Harga Pasar (Market), Harga
yang terendah antara harga Pokok dan harga Pasar atau Locom (Lower of Cost
on Market), Harga realisasi (Realizable Value), dan lain-lain.

5. Verifiability

Setiap inforamsi dalam laporan keuangan harus dapat ditelusuri sampai ke


bukti-bukti dan didukung oleh bukti-bukti yang sah.

6. Conservation

Perusahaan biasanya memiliki kejadian-kejadian yang belum pasti


(uncerainty). Dalam keadaan seperti ini laporan keuangan akan
menginformasikan dengan cara memilih angka yang kurang menguntungkan.
Laporan keuangan memilih dan menilai asset dan pendapatannya yang paling
minimal. Jika ada potensi rugi kendati pun belum direalisir tetapi sudah ada
dasarnya sudah dapat dicatat atau diinformasikan, sedang laba yang belum
direalisir, walau sudah ada indikasi laba belum dapat dicatat sebagai laba. Hal
ini jelas menunjukkan keberpihakan akuntansi kepada para pemilik modal,
kapitalis atau pemilik perusahaan. Karena jika potensi laba itu akan
terrealisasi nantinya maka akan dinikmati pemilik modal yang terus bertahan.

18
7. Technical Terminology

Banyak istilah yang digunakan dalam laporan keuangan merupakan istilah


teknis akuntansi yang berlaku khusus untuk akuntansi yang harus dipahami
para pembaca yang belum tentu cocok dengan pengertian dalam disiplin ilmu
yang lain.

Demikianlah sifat dan ciri akuntansi yang harus diketahui agar kita dapat
memanfaatkan outputnya. Akuntansi merupakan tool of management, ia membantu
fungsi-fungsi manajemen. Dalam fungsi perencanaan informasi, akuntansi sangat
berguna dalam penyusunan anggaran atau perencanaan. Dalam pengawasan, tugas
akuntansi sangat strategis sebagai alat pembanding dengan planning untuk
mengetahui penyimpangan (variance) yang terjadi sehingga dapat dengan mudah
melakukan usaha-usaha koreksi dan perbaikan secara lebih dini.

19
BAB 2

PERSAMAAN DASAR AKUNTANSI

kas dari kegiatan Investasi:


Pembayaran kas untuk akuisisi tanah
(7.500.000)
Arus kas dari kegiatan keuangan:
Kas diterima sbg investasi pemilik 10.000.000
Dikurangi:prive oleh pemilik (1.000.000)
Arus kas bersih dari kegiatan keuangan 9.000.000
Arus kas bersih dan saldo kas 31 Agustus 2005 3.400.000

Pada semua laporan keuangan harus dicantumkan nama perusahaannya, judul


laporan, serta tanggal atau periodenya. Data yang disajikan dalam neraca adalah per
tanggal tertentu. Sedangkan data yang disajikan dalam perhitungan rugi-laba,
laoporan modal pemilik, dan laporan arus kas adalah untuk suatu periode tertentu.
Perlu diperhatikan penggunaan spasi, judul yang jelas tanda mata uang, dan garis
bawah, dalam sebuah penyusunan laporan keuangan tersebut. Hal ini sangat
membantu untuk memberi penekanan pada setiap bagian laporan itu bagi yang
membacanya.

Perhitungan Rugi-Laba

Kelebihan pendapatan atas beban yang dikeluarkan dalam proses menghasilkan


pendapatan disebut laba bersih atau penghasilan bersih. Jika beban perusahaan
melebihi pendapatannya, kelebihannya disebut rugi bersih. Biasanya tidak mungkin
untuk menentukan jumlah yang tepat dari beban yang dikeluarkan dalam hubungan

20
dengan masing-masing transaksi pendapatan. Oleh karenanya, dianggap memuaskan
untuk menentukan laba bersih atau rugi bersih bagi periode waktu yang ditetapkan,
seperti sebulan atau setahun, dan bukan untuk setiap penjualan atau sekelompok kecil
penjualan.

Seperti yang ditunjukkan, penentuan laba bersih (atau rugi bersih) periodik
merupakan proses penandingan dua langkah, pertama, pendapatan diakui selama
periode itu. Kedua, aktiva yang dikonsumsi dalam menghasilkan pendapatan harus
ditandingkan (matched) terhadap pendapatan guna menentukan laba bersih atau rugi
bersih. Pada umumnya, pendapatan dari pemberian jasa akan diakui setelah jasa
tersebut diterima oleh pelanggan. Aktiva yang dikonsumsi untuk menghasilkan
pendapatan selama suatu periode harus diakui sebagai beban. Dengan cara seperti ini,
beban ditandingkan dengan tepat terhadap pendapatan yang dihasilkan.

Dampak pendapatan yang dihasilkan dan beban yang dikeluarkan selama bulan ini
untuk White Bird Taxi ditunjukkan dalam persamaan, masing-masing sebagai
kenaikan dan penurunan di dalam modal pemilik. Rinciannya, bersama dengan laba
bersih sejumlah 1.700.000 dilaporkan dalam perhitungan rugi-laba.

Cara beban operasi disajikan dalam perhitungan rugi-laba bervariasi di antara


beberapa perusahaan. Salah satu susunan yang umum diikuti adalah mengurutnya
menurut besarnya, dimulai denganpos yang terbesar. Beban rupa-rupa biasanya
diperlihatkan sebagai pos terakhir, tanpa memperhatikan jumlahnya.

Laporan Modal Pemilik

Tiga jenis transaksi yang mempengaruhi modal pemilik untuk White Bird Taxi
selama bulan ini adalah :

1. Investasi awal sebesar 10.000.000

21
2. Pendapatan dan beban yang menghasilkan laba bersih sebesar 1.700.000
untuk bulan bersangkutan;

3. Pengamblilan 1.000.000 oleh pemilik Informasi ini disajikan dalam laporan


modal pemilik. Sebagai penghubung antara neraca dan perhitungan rugi-laba.

Karena White Bird Taxi baru beroperasi selama sebulan, tidak terdapat modal
pemilik pada awal bulan Agustus. Akan tetapi untuk bulan September dan bulan-
bulan berikutnya, terdapat saldo awal yang akan dilaporakan pada laporan modal
pemilik. Sebagi contoh, asumsikan White Bird Taxi melaporkan laba bersih
sebesar 2.400.000 dan pemilik mengambil 2.000.000 selama bulan September.

Laporan modal pemilik bagi White Bird Taxi utnuk bulan September akan
tampaik sebagai berikut:

White Bird Taxi


Laporan Modal Pemilik
Untuk bulan yang berakhir 30 September 2005

Modal Nadin 1 September 2005


10.700.000

Laba bersih bulan ini 2.400.000

Dikurangi: Penarikan 2.000.000

Penambahan modal pemilik 400.000

Modal Nadine 30 September 2005 11.100.000

22
Neraca

Jumlah aktiva, kewajiban dan modal pemilik White Bird Taxi pada akhir bulan
Agustus, bulan pertama operasi, tampak pada baris terakhir. Dengan sedikit
menyusun kembali data ini dan menambahkan judul menghasilkan pada neraca yang
diilustrasikan pada halaman sebelumnya. Bentuk neraca ini, dengan bagian kewajiban
dan modal pemilik disajikan di bawah bagian aktiva, disebut bentuk laporan. Susunan
lain yang biasa digunakan adalah aktiva dibagian kiri dan kewajiban serta modal
pemilik di bagian kanan.oleh karena mirip dengan perkiraan, yaitu peralatan
akuntansi dasar, maka deisebut neraca bentuk perkiraan.

Adalah lazim untuk memulai bagian aktiva dengan kas. Pos ini diikuti dengan
piutang, perlengkapan, asuransi dibayar di muka, dan aktiva lain yang akan diubah
menjadi kas atau digunakan dalam waktu dekat. Aktiva yang bersifat relatif
permanan, seperti tanah, bangunan dan peralatan mengikuti pola urutan itu.

Untuk pos kewajiban dan modal pemilik dalam neraca, biasanya kewajiban disajikan
terlebih dahulu, baru disusul modal pemilik. Pada ilustrasi, pos kewajiban seluruhnya
terdiri dari hutang usaha. Apabila pos kewajiban tersebut terdiri dari beberapa jenis
kewajiban, setiap jenis harus dirinci, kemudian dijumlah, seperti contoh:

Kewajiban

Hutang usaha...................................... 1.100.000

Hutang gaji......................................... 300.000

Total kewajiban.................................. 1.400.000

23
Laporan Arus Kas

Adalah biasa untuk melaporkan arus kas (penerimaan dan pengeluaran kas) dalam
tiga bagian:

1. Kegiatan operasi,

2. Kegiatan investasi,

3. Kegiatan keuangan.

Data untuk penyusunan kegita bagian laporan arus kas untuk White Bird Taxi tampak
dalam kolom kas dan ikhtisar.

Arus kas dari bagian kegiatan operasi mencakup transaksi kas yang termasuk dalam
penentuan laba bersih. Untuk White Bird Taxi, kas yang diterima dari konsumen
adalah 4.500.000 untuk honor yang dihasilkan. Pembayaran kas berjumlah 2.500.000,
yang terdiri dari 400.000 dibayarkan kepada kreditor untuk perlengkapan yang dibeli
dan 2.200.000 dibayarkan untuk upah, sewa, prasarana dan beban rupa-rupa. Arus kas
bersih dari kegiatan operasi adalah 1.900.000 (4.500.000-2.600.000).

Arus kas bersih dari kegiatan operasi umumnya berbeda dari jumlah laba bersih
periodebersangkutan. Untuk white bird Taxi, arus kas bersih dan kegiatan operasi
(1.900.000) berbeda dari laba bersih (1.700.000) sebesar 200.000. perbedaan ini
timbul karena perlengkapan sebesar 600.000 digunakan selama bulan Agustus, tetapi
hanya 400.000 yang dibayarkan kepada kreditor. Jadi, meskipun perhitungan rugi-
laba melaporkan beban perlengkapan sebesar 600.000, laporan arus kas hanya
mencakup 400.000 sebagai pembayaran kas untuk perlengkapan.

Arus kas dari bagian kegiatan investasi melaporkan transaksi kas yang
mengakibatkan investasi kas oleh pemilik,. Dan peminjaman serta penarikan oleh
pemilik. Untyuk kWhite Bird Taxi, arus kas dari kegiatan keuangan adalah
10.000.000 dari investasi oleh pemilik, dikurangi pengambilan tunai 1.000.000 oleh

24
pemilik. Arus kas bersih dari kegiatan keuangan, 9.000.000 diperoleh dengan
mengurangkan penarikan 1.000.000 dari kas 10.000.000 yang diterima dari pemilik
sebagai investasi.

Karena bulan Agustus merupakan bulan pertama operasi White Bird Taxi, maka
kenaikan arus kas untuk bulan Agustus adalah saldo kas tanggal 31 Agustus 2005.
Dalam laporanyang akan datang, saldo kas pada awal periode ditambahkan pada
kenaikan (atau penurunan kas) dalam periode tersebut untuk menunjukkan saldo kas
pada akhir periode. Untuk menggabarkannya, asumsikan bahwa arus kas bersih
White Bird Taxi pada bulan September naik sebesar 250.000. kenaikan itu dihasilkan
dari transaksi kas berikut:

Kas diterima dari pelanggan.................................... 6.000.000

Pembayaran kas untuk beban dan

pembayaran kepada kreditor 3.750.000

Penarikan kas oleh pemilik 2.000.000

25
Laporan arus kas White Bird Taxi untuk bulan September adalah sebagai berikut:

White Bird Taxi


Laporan Modal Pemilik
Untuk bulan yang berakhir 30 September 2005

Modal Nadin 1 September 2005


10.700.000

Laba bersih bulan ini 2.400.000

Dikurangi: Penarikan 2.000.000

Penambahan modal pemilik 400.000

Modal Nadine 30 September 2005 11.100.000

26
SOAL

Soal 1

Berikut ini adalah transaksi dari PT. Bintang Surga selama bulan Juni 2005:

1. Menerima uang kontan sebesar Rp.10.000.000 dari pemiliknya sebagai


tambahan investasi

2. Membeli bensin dan oli Rp.850.000 dibayar tunai

3. Membebankan jasa angkutan Rp.900.000 kepada pelanggan secara kredit

4. Menerima uang kontan sebesar Rp.1.750.000 dari pelanggan secara tunai

5. Membayar beban iklan Rp.750.000

6. Membayar sewa bulan juni sebesar Rp.1.500.000

7. Membayar utang Rp.350.000 kepada kreditor

8. Menerima uang tunai Rp.700.000 dar ipelanggan kredit

9. Membayar uang kontan Rp.1.000.000 kepada pemilik untuk keperluan pribadi

10. Dengan stok opname, ditetapkan bahwa pemakaian bensin dan oli selama
bulan itu adalah Rp.575.000

Tunjukkanlah akibat dari setiap transaksi di atas terhadap persamaan akuntansi,


dengan cara berikut: buatlah daftar berbentuk table, diberi yang benar dari berikut ini
dengan tanda huruf:L

a. Menambah aktiva yang satu mengurangi aktiva yang lain

b. Menambah aktiva, menambah kewajiban

c. Menambah aktiva menambah modal

27
d. Mengurangi aktiva, mengurangi kewajiban

e. Mengurangi aktiva, mengurangi modal pemilik

Soal 2:

Aktiva CV.Mahadewi laundry pada tanggal 1 Oktober tahun berjalan adalah sebagai
berikut: Kas Rp.1.000.000, Piutang Rp.2.200.000, Perlengkapan Rp.850.000, Tanah
Rp.11.450.000, Utang Usaha Rp.2.030.000, CV, Mahadewi laundry adalah sebuah
perusahaan perorangan yang dimiliki dan dioperasikan oleh Ny. Dewi. Saat ini
perusahaan menyewa sebuah gedung, truk pengangkut, dan peralatan sambil
menunggu selesainya fasilitas baru. Pekerjaan sebenarnya dari jasa pencucian
dilakukan oleh perusahaan lain dengan tarif partai besar. Transaksi bisnis selama
bulan Oktober diikhtisarkan sbb:

a. Diterima kas dari pelanggan untuk jasa pencucian Rp.4.928.000

b. Membayar kreditur Rp.1.755.000

c. Diterima per kas Rp.3.700.000 dari Ny. Dewi sebagai investasi tambahan

d. Dibayar sewa untuk bulan ini sebesar Rp.1.200.000

e. Dibebankan pada pelanggan untuk jasa pencucian secara kredit Rp.1.025.000

f. Dibeli perlengkapan secara kredit sebesar Rp.245.000

g. Diterima perkas dari pelanggan yang berutang Rp.2.000.000

h. Diterima faktu bulanan untuk beban jasa pencucian bulan oktober (akan
dibayar tanggal 10 November) Rp.1.635.000

i. Dibayar beban upah Rp.850.000 beban truk Rp.250.000, beban prasarana


Rp.325.000, beban rupa—rupa Rp.75.000

28
j. Ditentukan, dengan mengadakan stok opname,l biaya perlengkapan yang
digunakan selama bula ini Rp.115.000.

Instruksi

1. Tentukan jumlah modal pemilik (Modal Ny. Dewi ) per 1 Oktober tahun
berjalan.

2. Tetapkan aktiva, kewajiban dan modal pemilik per 1 Oktober dalam bentuk
persamaan yang serupa dengan yang ditunjukkan dalam topic ini. Dalam
bentuk kolom-kolom di bawah persamaan tersebut, tunjukkan kenaikkan dan
penurunan yang dihasilkan dari setiap transaksi dan soldo baru setelah
masing-masing yang tepat pada bagian kanan jumlah itu.

3. Susunlah: a. perhitungan rugi-laba untuk bulan Oktober

b. laporan Modal pemilik untuk bulan Oktober

c. neraca per 31 Oktober

29
BAB 3

JURNAL UMUM DAN POSTING

3.1 Pengertian Jurnal Umum

Secara umum jurnal, dapat dikatakan sebagai, buku atau formulir yang digunakan
dalam mencatat semua transaksi perusahaan secara kronologis. Kenapa buku atau
formulir, karena hanya merupakan media pencatatan yang paling penting adalah
bahwa transaksi harus dicatat secara kronologis, sehingga akan dapat menyajikan
kondisi keuangan yang sebenarnya. Jurnal dapat juga dikatakan sebagai suatu buku
harian untuk mencatat segala transaksi secara kronologis, dimana dalam pencatatan
ini sudah ditentukan judul akun yang diperlukan serta jumlah uang yang harus di
debit dan jumlah uang yang harus di kredit.

Adapun jenis jurnal yang biasa digunakan adalah jurnal umum dan jurnal khusus.
Jurnal khusus hanya digunakan untuk transaksi tertentu saja, sedangkan jurnal umum
dapat digunakan untuk semua jenis transaksi. Selanjutnya akan kita pelajari dulu
mengenai jurnal umum (general journal). Jurnal ini dikatakan jurnal umum karena
jurnal ini yang paling umum dipakai oleh perusahaan. Jurnal umum ini dikenal juga
dengan nama jurnal dua kolom (teo column journal) dan dikatakan demikian karena
jurnal ini mempunyai 2 kolom, yaitu kolom debit dan kolom kredit. Berdasarkan
penjelasan tersebut di atas, maka tujuan dibuatnya jurnal umum adalah sebagai buku
perantara, yaitu untuk mempermudah dalam memasukkan transaksi ke dalam buku
besar (general ledger).

Di dalam praktik akuntansi yang sesungguhnya, pencatatan atas suatu transaksi atau
sekelompok transaksi yang sama, harus didasari oleh tanda bukti berupa dokumen
transaksi seperti faktur, kwintansi, nota debet, nota kredit, cek dan bukti lainnya. Dari

30
dokumen ini transaksi di catat ke dalam jurnal baru kemudian di posting ke buku
besar.

Pengaruh transaksi tidak dicatat secara langsung dalam buku besar, tetapi masing-
masing transaksi dianalisis dahulu pengaruhnya terhadap elemen-elemen laporan
keuangan (aktiva, kewajiban, modal, pendapatan atau biaya) selanjutnya hasil analisis
dicatat dalam jurnal dan kemudian baru dipindahkan ke buku besar.

Dengan demikian jurnal merupakan penghubung antara transaksi dengan buku besar.
Hubungan tersebut dapat dibuat diagram sebagai berikut:

TRANSAKSI BUKTI-BUKTI JURNAL BUKU BESAR


TRANSAKSI

3.2 Fungsi dan Bentuk Jurnal Umum

Jurnal umum berfungsi untuk mencatat semua jenis transaksi perusahaan, sedangkan
bentuk jurnal umum terdapat berbagai bentuk mulai dari yang sederhana sampai yang
rumit.

Bentuk-bentuk jurnal yang sangat kompleks biasanya adalah jurnal khusus (dirancang
dalam sistem informasi akuntansi). Sedangkan jurnal umum biasanya merupakan
bentuk jurnal yang paling sederhana dan merupakan bentuk standar, yang disebut
jurnal dua kolom. Sebenarnya kolom yang terdapat dalam jurnal ini lebih dari dua
buah, tetapi kolom yang tersedia untuk mencatat jumlah rupiahnya hanya dua, yaitu
satu kolom untuk mencatat jumlah rupiah yang didebit, dan kolom lain untuk
mencatat jumlah rupiah yang dikredit. Contoh bentuk jurnal adalah sebagai berikut:

31
Jurnal Umum (1) Halaman:....

Tanggal Nomo Nama Rekening Ref Debet Kredit


r Bukti dan Keterangan

(2) (3) (4) (5) (6) (7)

Adapun fungsi kolom-kolom tersebut adalah sebagai berikut:

1. Setiap halaman pada jurnal harus diberi nomor urut untuk rujukan (referansi).

2. Tahun ditulis paling atas, cukup sekali kecuali berubah, sesudah itu tulis bulan
cukup sekali saja kecuali berubah, baru selanjutnya tanggal cukup sekali
untuk setiap hari.

3. Nomor bukti transaksi dicatat dan dijadikan dasar pencatatan

4. Ditulis nama rekening yang akan didebet dan dikredit, dan juga narasi atau
keterangan singkat tentang transaksi.

5. Mencatat kode rekening yang bersangkutan di buku besar nantinya.

6. Rekening yang di debet nilai uangnya akan dicatat pada kolom ini

7. Rekening yang di kredit nilai uangnya akan dicatat pada kolom ini.

32
3.3 Pencatatan Transaksi Ke Dalam Jurnal Umum

Proses pencatatan suatu transaksi di dalam jurnal disebut menjurnal. Prosedur yang
harus diikuti dalam menjurnal adalah sebagai berikut:

1. Tahun ditulis di atas sub judul. Tahun biasanya tidak ditulis berulang-ulang
pada suatu halaman apabila halaman tidak berganti.

2. Nama bulan ditulis sekali sesudah tahun dan untuk transaksi yang pertama
terjadi dalam bulan yang bersangkutan. Nama bulan tidak perlu ditulis lagi
pada bagian atas halaman yang baru atau pada awal bulan yang baru. Jadi
nama bulan tidak perlu ditulis berulang-ulang pada halaman yang sama,
kecuali kalau bulan berganti.

3. Tanggal untuk setiap transaksi dicatat pada kolom pertama, pada bagian
kolom yang kecil (sebelah kanan). Untuk setiap transaksi tanggal tidak perlu
ditulis berkali-kali meskipun dalam tanggal yang sama terjadi beberapa
transaksi.

4. Nama rekening yang didebit ditulis merapat ke tepi sebelah kiri dalam kolom
(4) dan jumlah pendebitandimasukkan ke dalam kolom (6).

5. Nama rekening yang dikredit ditulis dalam baris berikutnya pada kolom (4),
dan ditulis sedikit masuk ke sebelah kanan bila dibandingkan dengan nama
rekening yang didebit. Jumlah pengkreditan dimasukkan ke dalam kolom (7).

6. Penjelasan atau keterangan ditulis pada baris berikutnya dalam kolom (4).
Sebaiknya keterangan ditulis secara singkat tanpa mengabaikan informasi
yang penting, dan dapat dipahami dengan jelas.

33
Proses pencatatan transaksi ke dalam suatu jurnal akan dijelaskan menggunakan
contoh berikut:

PO Cipto bergerak di bidang jasa angkutan, pada awal pendiriannya Tuan Cipto
menyerahkan harta berikut sebagai modal perusahaan:

Uang tunak Rp.15.000.000,- kendaraan Rp.6.000.000,- dan peralatan kantor


Rp.1.300.000,-

Adapun transaksi yang terjadi selama bulan Juli 2003 adalah sebagai berikut:

Juli 5 Dibeli peralatan kantor tunai Rp.2.500.000,-cek 4601


6 Diterima uang Rp.750.000,- hasil jasa angkutan Kwt 001

Dibayar untuk bensin Rp.500.000,- dan Rp.250.000,- untuk


supir cek4602
8 Diterima Rp.50.000,- sebagai uang muka jasa angkutan bulan
depan Kwt 002
10 Memberikan jasa angkutan Rp.850.000,- baru diterima tunai
sebesar Rp.500.000,- sisanya kemudian faktur 101
15 Dibeli perlengkapan kantor tunai Rp.250.000,- cek 4603

Dibayar sewa gedung untuk jangka waktu 1 tahun


Rp.3.600.000,- cek 4604
16 Dibayar gaji karyawan Rp.300.000,- cek 4605

Dibayar uang muka untuk pembelian bensin ke SPBU Badak


Singa sebesar Rp.750.000,- untuk memudahkan supir dalam
pengisian bensin cek 4606
18 Diterima tunai atas jasa angkutan Rp.900.000,- dan sisanya
sebesar Rp.600.000,- akan diterima dua minggu lagi kwt 003

34
20 Dibeli sebidang tanah seharga Rp.10.000.000,- baru dibayar
sebesar2.500.000,- sisanya dua bulan lagi cek 4607
29 Dibayar gaji karyawan 400.000,-cek 4608
Catatlah transaksi di atas ke dalam jurnal umum

Tanggal No.Bukti Keterangan Ref Debet Kredit


Juli 1 - Kas 15.000.000 -
Kendaraan 6.000.000 -
Peralatan Kantor 13.000.000 -
Modal - 22.300.000
(memulai Usaha)
5 4601 Peralatan Kantor 2.500.000 -
Kas - 2.500.000
(pemb. Plt kntr tunai)
6 1 Kas 750.000 -
Pend.Jasa - 750.000
(Pend. Jasa tunai)
4602 Biaya BBM 500.000
Biaya Konsumsi 250.000
Kas 750.000
(dibyr bl BBM dan
Konsumsi
8 2 Kas 50.000
Pendapatan dimuka 50.000
(diterima pend jasa
dimuka)
10 101 Kas 500.000
Piutang Usaha 350.000
Pend.Jasa 850.000
(jasa diterima sebagian
15 4603 Perlengkapan Kantor 250.000
Kas 250.000
(perl. Ktr dibeli tunai)
4604 Sewa gedung dimuka 3.600.000
Kas 3.600.000
(dibayar sewa gd u/ 1th)
16 4605 Biaya Gaji 300.000

35
Kas 300.000
(dibayar gaji dua
mingguan)
4606 BBM Dimuka 750.000
Kas 750.000
(dibayar uang muka
BBM)
18 3 Kas 900.000
Piutang Usaha 600.000
Pend.Jasa 1.500.000
(jasa diterima sebagian)

20 4607 Tanah 10.000.000


Hutang Usaha 7.500.000
Kas 2.500.000
(dibeli tanah dbyr
sebagian)
29 4608 Biaya Gaji 400.000
Kas 400.000
(biaya gaji dua
mingguan)

3.4 Posting Dari Jurnal Umum Ke Buku Besar

Proses memindahkan ayat-ayat jurnal yang telah dibuat dalam buku jurnal ke dalam
buku besar disebut posting. Hal ini dilakukan dengan cara memindahkan jumlah dari
kolom debit jurnal ke dalam sisi debit rekening dan memindahkan jumlah dari kredit
jurnal ke dalam sisi kredit rekening dan memindahkan jumlah dari kredit jurnal ke
dalam sisi kredit rekening. Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, nama rekening
yang diposting di buku besar harus sesuai dengan nama rekening yang tertulis di
dalam jurnal. Urutan kegiatan memindahkan ke rekening buku besar ini harus sejalan
dengan urutan mendebit dan mengkredit dari jurnal.

36
Dalam perusahaan-perusahaan besar biasanya posting ke buku besar dilakukan
dengan menggunakan mesin pembukuan atau secara otomatis dilakukan dengan
komputer. Apabila posting dilakukan dengan tangan (dengan secara manual), maka
cara yang harus ditempuh adalah sebagai berikut:

1. Tanggal dan jumlah yang dicatat dalam jurnal dicatat kembali dalam rekening
yang bersangkutan. Apabila suatu jumlah yang dicatat di sisi debit dalam
jurnal, maka posting harus dilakukan ke sisi kredit rekening. Cara mencatat
tahun, bulan dan tanggal, sama dengan yang dilakukan dalam jurnal.

2. Apabila posting telah dilakukan, maka nomor halaman jurnal harus dituliskan
dalam kolom F (Folio) di rekening (buku besar).

3. Langkah berikutnya adalah menuliskan nomor rekening yang telah diposting


pada kolom Nomor Rekening di dalam jurnal. Prosedur ini mempunyai dua
tujuan, yaitu:

a. Untuk menunjukkan bahwa jurnal tersebut sudah di posting

b. Untuk menunjukkan hubungan antara jurnal dan rekening di buku besar

37
SOAL

1. Morinaga, mendirikan perusahaan perbengkelan dengan nama PO Morenos,


transaksi yang terjadi selama bulan Januari 2004, adalah sebagai berikut:

Jan 4 Morinaga menyetor uang tunai Rp.3.000.000 ke perusahaan.

5 Dibeli perlengkapan tunai Rp.1.200.000 cek 4061

6 Dipinjam uang ke BCA Rp.15.000.000 bunga 12%/tahun dibayar tiap


akhir bulan

8 Dibeli peralatan Rp.2.000.000 baru dibayar Rp.1.000.000 faktur 101

9 Dibayar sewa gedung untuk 1 tahun Rp.2.400.000

11 Diselesaikan pekerjaan senilai Rp.800.000 uang langsung diterima

Dibeli perlengkapan tunai Rp.500.000

13 Diselesaikan pekerjaan Rp.1.000.000 uang baru diterima Rp.450.000

15 Dibayar gaji pegawai Rp.300.000 biaya konsumsi Rp.150.000

Diselesaikan pekerjaan senilai Rp.750.000 uang belum diterima

19 Dibeli peralatan bengkel tunai Rp.300.000

20 Dibayar premi asuransi untuk 1 tahun Rp.600.000

21 Dibayar listrik Rp.150.000 PDAM Rp.30.000 dan Telepon


Rp.100.000

23 Dibayar biaya pemeliharaan peralatan bengkel Rp.250.000

Diterima tunai dari tanggan 13 dan lunas

24 Dibeli perlengkapan tunai Rp.1.000.000

26 Diterima tunai untuk pekerjaan yang sudah diselesaikan Rp.850.000

30 Dibayar biaya konsumsi Rp.100.000 biaya gaji Rp300.000

38
31 Dibayar biaya BBM Rp.150.000 dan Morinaga mengambil untuk
pribadi sebesar Rp.500.000

Diminta: Catatlah dalam jurnal umum.

39
2. Perusahaan Jackal Holiday, sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu, dibawah
ini adalah daftar saldo neraca per 31 Desember 2004.

Kas Rp.25.000.000 Piutang Usaha Rp.15.000.000


Perlengkapan Rp.900.000 Bangunan Rp.25.000.000
Hutang Usaha Rp.5.000.000 Hutang Bank Rp.10.000.000
A/P Bangunan Rp.1.250.000
Transaksi yang terjadi selama bulan Januari 2005 adalah sbb:

Jan 1 Diselesaikan pekerjaan senilai Rp.5.000.000 uang belum diterima

4 Diterima piutang usaha Rp.7.500.000

6 Dibayar Hutang Bank Rp.5.000.000 bunga Rp.500.000

9 Diselesaikan pekerjaan senilai Rp.7.350.000 uang langsung diterima

14 Dibayar biaya listrik Rp.50.000 PDAM Rp.25.000 Telepon


Rp.150.000

16 Diambil untuk pribadi uang tunai Rp.250.000

19 Dibayar gaji pegawai Rp.3.500.000

21 Dibeli perlengkapan kantor tunai Rp.525.000

24 Dibeli peralatan kantor Rp.5.650.000 baru dibayar Rp.2.000.000

27 Diselesaikan pekerjaan senilai Rp.6.500.000

30 Perlengkapan tersisa Rp.520.000, penyusutan bangunan Rp.750.000


dan penyusutan peralatan kantor Rp.350.000

Diminta: Catatlah dalam jurnal umum

40
BAB 4

BUKU BESAR

4.1 Pengertian Buku Besar Umum

Sistem akuntansi dirancang dengan sebaik-baiknya sehingga setiap kenaikan dan


penurunan pada setiap pos laporan keuangan akan selalu terdeteksi dan terlihat dalam
catatan terpisah. Catatan ini disebut dengan nama rekening (account/akun). Masing-
masing catatan ini untuk masing-masing pos tersebut. Kumpulan akun dalam entitas
usaha disebut buku besar (ledger), sedangkan nomor atau kode dalam buku besar
disebut kode rekening (chart of account).

Buku bessar yang terdiri atas rekening-rekening adalah alat untuk mencatat transaksi
perusahaan. Dalam buku besar pengaruh transaksi-transaksi perusahaan
diklasifikasikan dan diringkas. Di dalam praktik akuntansi yang sesungguhnya.
Pencatatan atas suatu transaksi atau sekelompok transaksi yang sama, harus didasari
oleh tanda bukti berupa dokumen-dokumen transaksi seperti faktur, kwitansi dan
sebagainya. Pengaruh transaksi tidak dicatat secara langsung dalam buku besar, tetapi
masing-masing transaksi dianalisis dahulu pengaruhnya terhadap elemen-elemen
persamaan akuntansi (aktiva, kewajiban, modal, pendapatan atau biaya) dan
kemudian baru dipindahkan ke buku besar.

Buku besar merupakan “buku referensi” dari sistem informasi akuntansi yang
digunakan untuk mengklasifikasikan dan mengikhtisarkan transaksi-transaksi dan
menyiapkan data guna penyusunan laporan keuangan. Buku besar juga merupakan
sumber informasi yang berharga bagi kepentingan manajemen, misalnya, dapat
memberikan informasi mengenai jumlah penjualan periode tertentu atau saldo kas
pada akhir periode tertentu, dan informasi lainnya.

41
4.2 Bentuk Buku Besar Umum

Metode yang sistematis untuk mengidentifikasikan dan menempatkan setiap rekening


sangat diperlukan. Kode rekening merupakan daftar rekening-rekening yang
diungkapkan dengan menggunakan angka-angka. Pada beberapa perusahaan, nomor
rekening bisa terdiri dari ratusan item. Nomor rekening dicantumkan di atas sub judul
masing-masing rekening. Bentuk buku besar ada dua yaitu:

1. Bentuk T, disebut bentuk T karena memang bentuknya seperti huruf T

Bentuk T yang lengkap terlihat seperti di bawah ini

Nama:
…. No. :…
Tanggal Keterangan Fol Jumlah Tanggal Keterangan Fol Jumlah

Ada lagi bentuk T yang sederhana seperti di bawah ini:

Nama: …. No. : ….

Bilamana yang digunakan buku besar bentuk T, maka kita dapat menghemat
tempat, apalagi kalau menggunakan bentuk T sederhana, sedangkan
kekurangannya adalah saldo akhir buku besar baru dapat dihitung setelah
semua transaksi di catat dalam buku besar tersebut.

2. Bentuk berkolom (columnar account), bentuk ini banyak jenisnya, ada yang
seperti di bawah ini:

42
Nama: …. No. : ….
Tanggal Keterangan Folio Debet (Rp.) Kredit (Rp.)
Ada lagi bentuk berkolom yang lain, seperti di bawah ini:

Nama: No. :
…. ….
Saldo
Debet Kredit Debet Kredit
Tanggal Keterangan Folio (Rp.) (Rp.) (Rp.) (Rp.)

Bilamana yang digunakan buku besar berkolom, maka tidak dapat menghemat
tempat, tetapi saldo akhir akan cepat dapat diketahui setiap saat.

4.3 Tata Cara Mendebet Dan Mengkredit

Akuntansi mempunyai konversi bahwa untuk rekening-rekening tertentu penambahan


diletakkan di sebelah kiri dan untuk beberapa rekening yang lain penambahan
diletakkan di sebelah kanan. Konvensi adalah suatu kebiasaan yang sudah berjalan
lama dalam praktik maupun disiplin pengetahuan sehingga dianggap sebagai suatu
kesepakatan yang berlaku dan menjadi pedoman umum. Konversi akuntansi yang
dimaksud di sini adalah aturan pencatatan jumlah dalam rekening dan penyajian
dalam laporan keuangan. Konvensi pencatatan dalam buku besar sebagai berikut:

1. Kolom atau sisi sebelah kiri disebut dengan debit dan kolom atau sisi sebelah
kanan disebut dengan kredit.

2. Aktiva disajian dalam neraca disebelah kiri (debit). Sebagai konsekuensinya,


kalau aktiva bertambah/ naik maka dicatat sebelah debit.

43
3. Pasiva disajikan dalam neraca disebelah kanan (kredit). Sebagai
konsekuensinya, kalau pasiva bertambah/naik maka dicatat sebelah kredit.

4. Akuntansi mendasarkan pada konsep kesatuan usaha yang mengakibatkan


pencatatan akuntansi menggunakan sistem berpasangan. Dengan demikian,
setiap transaksi minimal akan mempengaruhi dua pos atau rekening.

5. Kalau suatu jumlah transaksi telah dicatat dalam suatu rekening di sebelah
debit maka jumlah yang sama harus dicatat disebelah kredit dalam satu atau
beberapa rekening dalam jumlah yang sama, demikian pula sebaliknya.

Berdasarkan konvensi akuntansi tersebut di atas, jika suatu jumlah dimasukkan di sisi
kiri suatu rekening atau sebelah debit, rekening tersebut disebut didebit. Jika suatu
jumlah dimasukkan di sisi kanan atau sebelah kredit dikatakan bahwa rekening
tersebut dikredit. Singkatan untuk debit dan kredit ialah D dan K atau Db dan Kr.

Apakah penambahan terhadap suatu rekening akan didebit atau dikredit tergantung
pada kategorinya. Sifat dasar pos tersebut dapat dilihat sebagai berikut:

Keterangan Bertambah Berkurang

Harta/Kativa/Assets Debet Kredit

Hutang/Kewajiban/Liabilities Kredit Debet

Modal/Ekuitas/Capital Kredit Debet

Pendapatan/Income Kredit Debet

Biaya/Beban/Expense Debet Kredit

44
Untuk lebih jelas cara mendebit dan mengredit, kita gunakan contoh dari latihan
sebelumnya yaitu Jurnal Umum PO Cipto

No.Bukt
Tanggal i Keterangan Ref Debet Kredit
15.000.00
Juli 1 - Kas 0 -
Kendaraan 6.000.000 -
13.000.00
Peralatan Kantor 0 -
Modal - 22.300.000
(memulai Usaha)
5 4601 Peralatan Kantor 2.500.000 -
Kas - 2.500.000
(pemb. Plt kntr tunai)
6 1 Kas 750.000 -
Pend.Jasa - 750.000
(Pend. Jasa tunai)
4602 Biaya BBM 500.000
Biaya Konsumsi 250.000
Kas 750.000
(dibyr bl BBM dan Knsumsi
8 2 Kas 50.000
Pendapatan dimuka 50.000
(diterima pend jasa dimuka)
10 101 Kas 500.000
Piutang Usaha 350.000
Pend.Jasa 850.000
(jasa diterima sebagian
15 4603 Perlengkapan Kantor 250.000
Kas 250.000
(perl. Ktr dibeli tunai)
4604 Sewa gedung dimuka 3.600.000
Kas 3.600.000
(dibayar sewa gd u/ 1th)

45
16 4605 Biaya Gaji 300.000
Kas 300.000
(dibayar gaji dua mingguan)
4606 BBM Dimuka 750.000
Kas 750.000
(dibayar uang muka BBM)
18 3 Kas 900.000
Piutang Usaha 600.000
Pend.Jasa 1.500.000
(jasa diterima sebagian)
10.000.00
20 4607 Tanah 0
Hutang Usaha 7.500.000
Kas 2.500.000
(dibeli tanah dbyr sebagian)
29 4608 Biaya Gaji 400.000
Kas 400.000
(biaya gaji dua mingguan)

Buku besar umum yang dibuat cukup satu untuk satu rekening, dan akan dicatat di
debet ataupun di kredit, tergantung pada transaksi yang terjadi mempengaruhi
rekening yang bersangkutan.

Modal No. :
Saldo
Debet Kredit Debet Kredit
Tanggal Keterangan Folio (Rp.) (Rp.) (Rp.) (Rp.)
2003 22,300,00
Juli 1 Tunai - 0 - 22,300,000

Kas No. :
Saldo
Debet Kredit Debet Kredit
Tanggal Keterangan Folio (Rp.) (Rp.) (Rp.) (Rp.)
Juli 1 Memulai usaha 15,000,00 - 15,000,00 -

46
2003 0 0
12,500,00
5 Peralatan Kantor - 2,500,000 0 -
13,250,00
6 Pendapatan Jasa 750,000 - 0 -
12,750,00
6 Biaya BBM - 500,000 0 -
12,500,00
Biaya Konsumsi - 250,000 0 -
Pendapatan 12,550,00
8 dimuka 50,000 - 0 -
13,050,00
10 Pendapatan Jasa 500,000 - 0 -
Perlengkapan 12,800,00
15 Kantor - 250,000 0 -
Sewa Gedung
dimuka - 3,600,000 9,200,000 -
16 Biaya Gaji - 300,000 8,900,000 -
BBM - 750,000 8,150,000 -
18 Penjdapatan Jasa 900,000 - 9,050,000 -
20 Tanah - 2,500,000 6,550,000 -
29 Biaya Gaji - 400,000 6,150,000 -

Kendaraan No. :
Saldo
Debet Kredit Debet Kredit
Tanggal Keterangan Folio (Rp.) (Rp.) (Rp.) (Rp.)
2003 1 Memulai usaha 6,000,000 - 6,000,000 -
Juli

Peralatan
Kantor No. :
Saldo
Debet Kredit Debet Kredit
Tanggal Keterangan Folio (Rp.) (Rp.) (Rp.) (Rp.)
2003 1 Memulai usaha 1,300,000 - 1,300,000 -

47
Juli
5 Pembelian tunai 2,500,000 - 3,800,000 -

Perlengkapan Kantor No. :


Saldo
Debet Kredit Debet Kredit
Tanggal Keterangan Folio (Rp.) (Rp.) (Rp.) (Rp.)
2003
Juli 15 Pembelian Tunai 250,000 - 250,000 -

Piutang Usaha No. :


Saldo
Debet Kredit Debet Kredit
Tanggal Keterangan Folio (Rp.) (Rp.) (Rp.) (Rp.)
2003
Juli 10 Pendapatan Jasa 350,000 - 350,000 -
18 Pendapatan Jasa 600,000 - 950,000 -

Sewa Gedung dimuka No. :


Saldo
Debet Kredit Debet Kredit
Tanggal Keterangan Folio (Rp.) (Rp.) (Rp.) (Rp.)
2003
Juli 15 Tunai 3,600,000 - 3,600,000 -

BBM Dimuka No. :


Tanggal Keterangan Folio Debet Kredit Saldo
Debet Kredit
(Rp.) (Rp.)

48
(Rp.) (Rp.)
2003 1
Juli 6 Tunai 750,000 - 750,000 -

Tanah No. :
Saldo
Debet Kredit Debet Kredit
Tanggal Keterangan Folio (Rp.) (Rp.) (Rp.) (Rp.)
2003 10,000,00 10,000,00
Juli 20 Tunai & Kredit 0 - 0 -

Hutang Usaha No. :


Saldo
Debet Kredit Debet Kredit
Tanggal Keterangan Folio (Rp.) (Rp.) (Rp.) (Rp.)
2003
Juli 20 Tanah - 7,500,000 - 7,500,000

Pendapatan Dimuka No. :


Saldo
Debet Kredit Debet Kredit
Tanggal Keterangan Folio (Rp.) (Rp.) (Rp.) (Rp.)
2003
Juli 8 Kas - 50,000 - 50,000

Pendapatan Jasa No. :


Saldo
Debet Kredit Debet Kredit
Tanggal Keterangan Folio (Rp.) (Rp.) (Rp.) (Rp.)
2003
Juli 6 Tunai - 750,000 - 750,000
10 Tunai & Kredit - 850,000 - 1,600,000
18 Tunai & Kredit - 1,500,000 - 3,100,000

Biaya BBM No. :


Tanggal Keterangan Folio Debet Kredit Saldo
Debet Kredit
(Rp.) (Rp.)

49
(Rp.) (Rp.)
2003
Juli 6 Tunai 500,000 - 500,000 -

Biaya Konsumsi No. :


Saldo
Debet Kredit Debet Kredit
Tanggal Keterangan Folio (Rp.) (Rp.) (Rp.) (Rp.)
2003
Juli 6 Tunai 250,000 - 250,000 -

Biaya Gaji No. :


Saldo
Debet Kredit Debet Kredit
Tanggal Keterangan Folio (Rp.) (Rp.) (Rp.) (Rp.)
2003
Juli 16 Tunai 300,000 - 300,000 -
29 Tunai 400,000 - 700,000 -

50
4.4 Penggolongan Buku Besar

Rekening (Akun) dapat digolongkan menjadi dua golongan besar, yaitu:

1. Rekening riil/neraca, yaitu rekening yang dilaporkan ke neraca. Saldo


rekening terbawa dari periode ke periode berikutnya. Ada tiga kelompok
rekening riil, ialah harta/aktiva/asset, utang, dan modal/ekuitas.

2. Rekening nominal (laba/rugi), yaitu rekening yang disajikan dalam laporan


laba/rugi. Rekening nominal terbagi dalam dua kelompok, ialah pendapatan
dan beban. Saldo rekening pendapatan dan beban dipindahkan ke rekening
modal/ekuitas.

4.5 Neraca Saldo

Neraca saldo merupakan suatu daftar yang menunjukkan saldo rekening yang dimiliki
perusahaan pada suatu saat tertentu. Jika jumlah posisi debit suatu perusahaan lebih
besar dari jumlah kredit, selisihnya disebut saldo debit tetapi sebaliknya jika jumlah
sisi kredit suatu rekening lebih besar dari jumlah sisi debit, maka disebut saldo kredit.
Jika hasil perhitungan dilakukan dengan benar jumlah kolom debit harus sama
dengan jumlah kolom kredit.

Setiap transaksi akan menghasilkan jumlah debit dan kredit yang seimbang di buku
besar, total jurnal debit di buku besar seharusnya seimbang dengan total semua jurnal
kredit. Pada akhir periode keseimbangan ini dicek dengan menyiapkan suatu daftar
berkolom dua yang disebut neraca percobaan atau neraca saldo yang membandingkan
total semua saldo debit dengan total semua saldo kredit. Prosedurnya adalah sebagai
berikut:

1. Majukkan rekening-rekening sesuai dengan nomor rekeningnya pada daftar


berkolom dua.

51
2. Catatlah saldo setiap rekening, masukkan saldo debit di kolom sebelah kiri
dan saldo kredit di kolom sebelah kanan. Rekening harta/aktiva dan biaya atau
beban didebit jika bertambah dan umumnya mempunyai saldo debit. Utang,
modal ekuitas dan pendapatan dikredit jika bertambah dan umumnya
mempunyai saldo kredit.

3. Jumlahkan kedua kolom,catat totalnya.

4. Bandingkan total sebelah kiri dengan total sebelah kanan.

Jika totalnya sama, neraca saldo seimbang, menunjukkan keseimbangan debit dan
kredit ratusan atau ribuan transaksi yang dimasukkan dalam buku besar. Neraca saldo
dapat mencegah terjadinya kesalahan perhitungan dalam pencatatan tetapi tidak dapat
mencegah terjadinya kesalahan teoritis. Misalnya, jika pembelian mesin adalah
dibebankan sebagai biaya, neraca saldonya tetap seimbang, tetapi secara teoritis
rekeningnya salah, biaya akan lebih tinggi dari pada keadaan yang sebenarnya,
sedangkan mesin akan lebih rendah. Juga neraca saldo memungkinkan penyiapan
laporan keuangan periodic yang terhindar dari kesalahan perhitungan, karena neraca
saldo merupakan dua kolom pertama dari neraca lajur (worksheet) yang akan
dijadikan sebagai dasar penyusunan laporan keuangan.

52
Sebagai contoh, dari buku besar di atas kita buat neraca saldo, maka akan terlihat
seperti di bawah ini:

PO CIPTO
Neraca saldo, per 31 Juli 2003
No. Nama Barang Debet Kredit
1 Kas 6,150,000 -
2 Piutang Usaha 950,000 -
3 Perlengkapan Kantor 250,000 -
4 Sewa Gedung Dimuka 3,600,000 -
5 BBM Dimuka 750,000 -
10,000,00
6 Tanah 0 -
7 Kendaraan 6,000,000 -
8 Peralatan Kantor 3,800,000 -
9 Hutang Usaha - 7,500,000
10 Pendapatan Dimuka - 50,000
11 Modal - 22,300,000
12 Pendapatan Jasa - 3,100,000
13 Biaya BBM 500,000 -
14 Biaya Konsumsi 250,000 -
15 Biaya Gaji 700,000 -
32,950,00
0 32,950,000

53
SOAL

Untuk pengerjaan soal, lanjutkan dari soal pada topic 3, kerjakan dari jurnal posting
ke buku besar dan membuat neraca saldo

54
BAB 5

AYAT JURNAL PENYESUAIAN

5.1 Pengertian Ayat Jurnal Penyesuaian

Ayat jurnal penyesuaian atau disebut juga Adjusting Entries, biasanya dibuat pada
setiap akhir periode akuntansi, dengan tujuan untuk memperbaiki rekening-rekening
tertentu sehingga mencerminkan keadaan harta, hutang, modal, pendapatan, dan biaya
yang sebesarnya dari suatu perusahaan.

Pada tiap akhir periode akuntansi, bila perusahaan ingin menyusun laporan keuangan
biasanya diadakan penyesuaian terhadap beberapa rekening karena belum
mencerminkan keadaan sebenarnya, sehingga bila tidak diadakan penyesuaian
laporan keuangan akan menyesatkan pemakainya.

5.2 Tujuan Dilakukan Penyesuaian

Penyesuaian dilakukan agar, memperlihatkan kondisi keuangan perusahaan yang


sebenarnya, karena selama ini ada anggapan bahwa semua neraca saldo yang sudah
seimbang, berarti sudah memperlihatkan kondisi yang sebenarnya. Padahal masih
banyak yang perlu disesuaikan atau diperbaiki, karena ada dua kondisi yang akhirnya
mengharuskan membuat ayat jurnal penyesuaian yaitu:

1. Suatu kondisi dimana suatu transaksi sudah terjadi, tetapi belum dilakukan
pencatatan pada rekening yang bersangkutan.

2. Kondisi dimana suatu rekening sudah dicatat, tetapi kondisi saldo rekeningnya
perlu dikoreksi, sehingga akan mencerminkan nilai yang sebenarnya.

55
5.3 Ayat Jurnal Penyesuaian

Dibuatnya AJP terhadap perkiraan tertentu, pada intinya melakukan koreksi terhadap
perkiraan tersebut supaya mencerminkan keadaan yang sebenarnya dari aktiva,
pasiva serta pendapatan dan biaya. Ada dua macam dimana perlu dilakukan membuat
AJP yaitu:

a. Transaksi telah terjadi tetapi belum dicatat dalam perkiraan contoh biaya gaji.

b. Transaksi sudah dicatat dalam perkiraan, tetapi saldonya perlu


perlengkapannya.

Secara umum contoh langkah-langkah penyusunan AJP adalah sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi rekening-rekening yang perlu dilakukan penyesuaian

2. Setelah rekening diketahui, maka dibuat debet dan kredit dari rekening yang
diseduaikan

3. Menghitung angka / nilai dengan benar dalam rekening yang disesuaikan

Adapun perkiraan yang biasanya di adjustment pada akhir tahun biasanya


berpengaruh pada neraca dan rugi/laba, sehingga adjustment entries bisa dibagi
menjadi:

1. Jurnal penyesuaian yang mempengaruhi biaya dan hutang

Jurnal penyesuaian ini perlu dibuat karena adanya biaya yang telah terjadi,
tetapi belum dicatat, biaya-biaya masih harus dibayar (accrued expense)

2. Jurnal penyesuaian yang mempengaruhi rekening biaya dan aktiva

Jurnal penyesuaian ini perlu dibuat karena saldo perkiraan yang ada sudah
tidak mencerminkan kedaan biaya dan aktiva yang sebernarnya.

56
3. Jurnal penyesuaian yang mempengaruhi rekening pendapatan dan aktiva

Jurnal penyesuaian ini berhubungan dengan pendapatan yang telah dihasilkan


tetapi belum dicatat. Kadang-kadang pendapatan ini disebut pendapatan masih
harus diterima (accrued revenue).

4. Jurnal penyesuaian yang mempengaruhi perkiraan dan utang

Jurnal penyesuaian ini berhubungan dengan saldo perkiraan pendapatan atau


hutang yang sudah tidak mencerminkan keadaan sebenarnya. Penerimaan
uang untuk pendapatan yang belum dihasilkan adalah contoh dari jurnal
penyesuaian penerimaan uang itu akan menjadi pendapatan di masa datang.
Pendapatan jenis ini disebut pendapatan diterima dimuka (unearned revenue).

Dalam sebuah perusahaan dagang jurnal penyesuaian yang biasanya dilakukan pada
akhir tahun adalah:

a. Pemakaian biaya dibayar dimuka

b. Pemakaian aktiva tetap

c. Pemakaian biaya terhutang

d. Koreksi persediaan

Dari keempat jurnal penyesuaian tersebut koreksi terhadap persediaan merupakan


jurnal penyesuaian yang belum dibahas sebelumnya. Adapun masing-masing contoh
jurnal penyesuaian adalah sebagai berikut:

a. Pemakaian biaya dibayar dimuka

b. Pemakaian aktiva tetap

c. Pengakuan biaya terhutang

57
d. Koreksi persediaan

Ad. a. pemakaian biaya dibayar dimuka

1. Perlengkapan

Neraca saldo Perusahaan Dagang (PD) Makmur pada tanggal 31 Desember


2005 memperlihatkan saldo perkiraan perlengkapan yang ada awal tahun,
ditambah dengan perubahan yang dilaksanakan satu tahun buku. Pada akhir
tahun 2005 PD. Makmur secara fisik menghitung perlengkapan yang ternyata
Rp.900.000. selisih antar saldo perlengkapan menurut neraca saldo dengan
perhitungan fisik sebesar Rp300 menunjukkan perlengkapan yang terpakai
untuk aktivitas perusahaan selama tahun berjalan yang dibebankan sebagai
biaya.

Jurnal penyesuaian untuk mencatat perlengkapan yang terpakai dan membuat


perkiraan perlengkapan menunjukkan keadan yang sebenarnya.

Tgl No. Keterangan Ref Debit Kredit


Buku

31-12-05 Biaya perlengkapan Rp.300 -

Perlengkapan - Rp.300

2. Asuransi dibayar dimuka

Jurnal penyesuaian untuk premi asuransi yang telah jatuh tempo sama dengan
jurnal penyesuaian untuk pemakaian perlengkapan. Saldo perkiraan asuransi
dibayar dimuka di neraca saldo adalah jumlah premi asuransi yang belum
jatuh tempo pada awal tahun ditambah dengan pembayaran premi yang
dilakukan selama tahun berjalan. Analisis terhadap polis-polis asuransi

58
menunjukkan bahwa premi asuransi yang telah jatuh tempo adalah
Rp.135.000.

Ad. b. Pemakaian Aktiva Tetap

Pembebanan biaya yang diakibatkan oleh penggunaan aktiva tetap dicerminkan


dalam penyusutan. Aktiva tetap sudah menggambarkan keadaan yang sebernarnya.
Anggaplah penyusutan selama satu tahun untuk peralatan Rp.120.000. untuk gedung
Rp.150.000 tanah tidak disusutkan ayat jurnal penyesuaian untuk menyesuaikan
mencatat biaya penyusutan adalah sebagai berikut:

Dr Biaya Penyusutan Rp xxx

Cr Akumulasi Penyusutan Rpxxx

Ad. c. Pengakuan biaya terhutang

• Hutang gaji

Upah dan gaji yang telah menjadi hak pegawai tapi belum saatnya dibayar
merupakan hutang perusahaan hutang ini serta biaya yang berhubungan
dengannya belum dicatat, sehingga perlu dibuat ayat jurnal penyesuaian upah
dan gaji di suatu perusahaan misal akan dilakukan pada tanggal 28 Desember
2005. Pembayaran berikutnya dari tanggal 14 Januari 2006 tetapi upah dan
gaji tanggal 30 dan 31 Desember 2005 sudah merupakan biaya untuk bulan
tersebut karena jasanya sudah diberikan upah dan gaji tersebut misalnya
Rp.600.000. Ayat jurnal yang perlu dibuat adalah sebagai berikut:

Dr Upah dan gaji Rp.600.000

Cr Hutang gaji Rp.600.000

59
• Hutang bunga

Sebagaimana hutang gaji, hutang bunga adalah hutang untuk beban bunga
yang jasanya telah digunakan telah digunakan pembayarannya belum tiba.
Misalnya pada tanggal 27 Februari 2005 PT. B mendapat pinjaman dari bank
sebesar Rp.60.000 tahun bungan 18% per tahun pembeban bunga dilakukan
tiap bulan. Pembebanan terakhir tanggal 27 Desember 2005, pembebanan
selanjutnya baru dilakukan tanggal 27 Januari 2006 bunga dari tanggal 28 s.d.
31 Desember 2005 yang seharusnya sudah menjadi biaya untuk bahan
tersebut belum dicatat. Ayat jurnal penyesuaian untuk mencatat bunga sebesar
Rp.400 adalah sebagai berikut:

Ad. d. Koreksi persediaan

Dalam transaksi setiap perusahaan dagang dan industri biasanya sering terdapat
persediaan barang misalnya PT. A mempunyai persediaan barang dagang awal (1
Januari 2005) Rp 20.000 pada akhir periode (31 Desember 2005) berdasarkan
perhitungan fisik yang disediakan nilai persediaan adalah Rp 16.000 jurnal
penyesuaian yang dibuat harus dapat mengubah saldo Rp20.000 menjadi Rp.160.000
atau jurnal pertama menghilangkan saldo awal sebesar Rp.20.000, sedangkan ayat
jurnal berikutnya memunculkan kembali saldo perkiraan menjadi Rp16.000.

Apabila menggambarkan ayat jurnal penyesuaian akan nampak sebagai berikut:

1 Dr Ikhtisar L/R Rp.20.000 -

Cr Persediaan Barang dagang - Rp.20.000

2 Dr Persediaan Barang dagang Rp.15.000 -

Cr Ikhrisar L/R Rp.15.000

SOAL:

60
SALON IYANK
Neraca Saldo
Per 31 Juli 2005
Perkiraan Debit Kredit

Kas 4.150.000 -

Sewa dibayar di muka 2.000.000 -

Perlengkapan salon 1.200.000 -

Peralatan salon 3.000.000 -

Akum. Penyusutan peralatan - 450.000


salon

Utang Usaha - 2.400.000

Modal Wulan - 5.550.000

Prive wulan 600.000 -

Pendapatan Salon - 5.600.000

Beban Gaji 1.800.000 -

Beban Iklan 300.000 -

Beban Asuransi 600.000 -

Beban listrik dan air 150.000 -

Beban Bunga 200.000 -

Data penyesuaian pada akhir periode akuntansi sebagai berikut:

a. Sewa yang telah menjadi beban sebesar 600.000

b. Persediaan perlengkapan yang masih ada 1.000.000

61
c. Penyusutan peralatan salon 10%

d. Pendapatan yang masih harus diterima 500.000

e. Gaji yang masih harus dibayar 450.000

f. Bunga yang terutang 100.000

Diminta: Buatlah Ayat Jurnal Penyesuaian pada kertas kerja

BAB 6

KERTAS KERJA DAN LAPORAN KEUANGAN

62
6.1 Pengertian Kertas Kerja Dan Laporan Keuangan

Dalam melakukan penyusunan laporan keuangan pada akhir periode setelah posting
kedalam buku besar, untuk mempermudah menyusun laporan keuangan tersebut
harus dibuat dulu worksheet (kertas kerja) yang memuat Trial Balance dari hasil
posting tersebut. Dalam work sheet tersebut biasanya terdapat kolom nomor urut,
penjelasan perkiraan, kolom trial balance, kolom Adjustment entries, kolom trial
balance sesudah adjustment entries, kolom R/L dan kolom balance sheet, dalam
pengisian kolom tersebut berasal dari buku besar dan data perkiraan yang harus di
adjustmentkan, sesudah selesai membuat adjustment kita dapat memilih mana
perkiraan Laba Rugi dan mana yang balance sheet, dari data tersebut kita dapat
menyusun laba-rugi, neraca dan laporan perubahan modal.

Penyusunan laporan keuangan tersebut bisa dilakukan secara cepat dan akurat, karena
worksheet ibarat peta yang bisa membantu kekurangan dan kesalahan yang ada dalam
pencatatan.

Tahap Penyusuan Laporan Keuangan

Untuk menyusun laporan keuangan dari worksheet biasanya melalui tahap-tahap


sebagai berikut:

1. Membuat Trial balance datanya diambil dari buku besar data yang diambil
adalah saldo akhir kecuali untuk persediaan yang memakai sistem physical
dan laba ditahan dimana yang diambil datanya adalah saldo awal.

2. Melakukan adjustment terhadap sebagian saldo-saldo yang ada dalam trial


balance, data untuk adjustment barang diambil dari rekening-rekening yang
memerlukan penyesuaian, tujuannya agar saldo-saldo yang diadjusmentkan
mencerminkan keadaan yang sebenarnya.

3. Menyusun trial balane yang sudah disesuaikan

63
4. Menyusun laporan rugi laba

5. Menyusun laporan neraca

Dari informasi yang ada dalam worksheet tersebut bisa disusun laporan keuangan
yang terdiri dari Neraca, laba-rugi dan laporan perubahan modal, adapun contoh dari
worksheet dan laporan keuangan tersebut adalah sebagai berikut:

Komponen-komponen yang dalam laporan laba-rugi terdiri dari:

a. Penjualan bersih

Adalah jumlah yang dibebankan pada pembeli, karena penjualan barang dan
jasa, baik secara kredit maupun tunai, penjualan retur, pengurang harga sesuai
potongan penjualan dilaporkan sebagai pengurangan penjualan bruto yang
menghasilkan penjualan bersih.

b. H.P. Penjualan

Harga pokok penjualan dalam persediaan barang merupakan gabungan


komponen-komponen persediaan awal ditambah pembelian, dikurangi
persediaan akhir.

c. Laba bruto

Merupakan selisih antara penjualan bersih dengan harga pokok penjualan


disebut laba bersih (Gross profit) atau margin kotor (gross margin) disebut
bruto karena jumlah bersih harus dikurangi dengan biaya-biaya usaha.

d. Biaya-biaya usaha

Biaya usaha biasanya dikelompokkan lagi menjadi biaya penjualan (selling


expense) dan biaya administrasi umum (General dan administrative expense)

64
biaya paling penjualan adalah semua biaya yang terjadi dalam hubungannya
dengan kegiatan menjual dan memasarkan barang-barang yang dijual,
sedangkan biaya administrasi dan umum adalah biaya yang bersifat umum
dan muncul karena kegiatan administratif yang ada di tiap kantor.

e. Laba usaha

Merupakan selisih antara laba bruto dan biaya usaha disebut laba usaha
(income from operation) atau laba operasi (Operating income), laba usaha
adalah laba yang diperoleh sehubungan dengan kegiatan usaha perusahaan.

f. Pendapatan lain-lain

Pendapatan yang diperoleh bukan dari kegiatan pokok perusahaan, disebut


dengan pendapatan lain-lain (other income) atau pendapatan non usaha (non
operating income) termasuk dalam kelompok ini adalah pendapatan bunga
bank.

g. Biaya lain-lain

Biaya yang tidak dapat dihubungkan secara langsung dan pasti dalam kegiatan
pokok perusahaan tersebut dengan biaya lain-lain (other expense) atau biaya
non usaha (non operating expense) contoh biaya bunga.

h. Laba bersih

Merupakan kenaikan bersih terhadap modal, sebaliknya apabila perusahaan


menderita rugi, maka angka terakhirnya adalah rugi bersih.

Aktiva Tetap

65
Merupakan aktiva yang bernilai besar dari digunakan untuk kegiatan perusahaan dan
tidak untuk dijual kembali, dan bersifat permanent, contoh Tanah, Gedung dsb,
kecuali gedung akan berkurang nilainya karena menyusut dan dicatat oleh perusahaan
sebagai biaya penyusutan, akumulasi penyusutan adalah jumlah penyusutan yang
telah dilakukan sejak aktiva tetap diperoleh sampai tanggal neraca.

Kewajiban yang ada dalam perusahaan digolongkan menjadi kewajiban lancar


(jangka pendek) dan kewajiban jangka panjang, kewajiban lancar adalah kewajiban
yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun.

Hutang Dagang

Utang dagang yang berasal dari pembelian kredit barang-barang dagang dan jasa
kepada pihak lain.

Wesel Bayar

Merupakan janji tertulis perusahaan untuk membayar sejumlah uang pada tanggal
tertentu.

Hutang Bank

Merupakan kewajiban jangka pendek atau jangka panjang, kepada bank atau lembaga
keuangan yang disebabkan pinjaman yang diterima perusahaan.

Kewajiban Jangka Panjang

Hutang perusahaan yang jatuh temponya lebih dari satu tahun buku, contoh obligasi,
hutang bank dll.

Modal

66
Merupakan hak milik atas kekayaan perusahaan, bila perusahaannya berbentuk
perseroan terbatas (PT), biasanya modal terdiri dari saham biasa dan istimewa dan
laba ditahan.

Laporan laba ditahan

Laba atau rugi bersih perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas, hanya
memperlihatkan perubahan jumlah saham yang beredar, misalnya karena
bertambahnya modal disetor.

Pertambahan nilai kekayaan bersih karena laba dan penurunan yang disebabkan oleh
pembagian laba kepada pemilik dalam bentuk deviden dilaporkan dalam laporan
perubahan laba ditahan (Retained earning statement).

Neraca persekutuan

Perusahaan yang berbentuk persekutuan (partnership) terdiri dari (firma atau


commanditaire vennotcshaap). Persekutuan adalah kerjasama dua orang secara
bersama mendirikan perusahaan dengan tujuan memperoleh laba. Untuk pembagian
laba perlu diadakan perjanjian yang mengatur besarnya masing-masing perolehan
laba.

Laporan Perubahan Modal Sekutu

Dalam laporan perubahan modal persekutuan untuk masing-masing sekutu harus


dilaporkan, sehingga perubahan modal tersebut terlihat jelas.

Laporan Interim

Akhir siklus akuntasi adalah penyusunan laporan keuangan yang biasanya disusun
pada akhir tahun per triwulan, catur wulan atau per enam bulan, laporan keuangan
seperti lazim disebut laporan keuangan Interim.

Contoh Neraca

67
PT. MAKMUR SALAMINA
NERACA
Per 31 DESEMBER 2005
AKTIVA KEWAJIBAN DAN MODAL
Aktiva Lancar Kewajiban Lancar
Kas dan Bank Rp. xxx Hutang dagang Rp.xxx
Surat Berharga Rp. xxx Wesel Bayar Rp.xxx
Wesel Tagih Rp. xxx Hutang Gaji Rp.xxx
Piutang Dagang Rp. xxx Hutang Bunga Rp.xxx
Persediaan Barang Rp. xxx Hutang lain-lain Rp.xxx
Perlengkapan Rp. xxx Total Rp.xxx
Asuransi dibayar dimuka Rp. xxx
Total Aktiva Lancar Rp. xxx Kewajiban Jk. Pnjang
Investasi Jangka Panjang Rp. xxx Obligasi Rp.xxx
Aktiva Tetap Hutang Bank Rp.xxx
Tanah Rp.xxx Rp.xxx
Gedung Rp.xxx Modal
Akumulasi Penyusutan Rp.xxx Saham Bisasa Rp.xxx
Rp.xxx Saham Istimewa Rp.xxx
Peralatan Rp.xxx Laba ditahan Rp.xxx
Akumulasi Penyusutan Rp.xxx Rp.xxx
Rp.xxx
Total Aktiva Tetap Rp.xxx Total Kewajiban+Modal Rp.xxx

PT. MAKMUR SALAMINA


NERACA
Per 31 DESEMBER 2005
LABA DITAHAN AWAL TAHUN Rp.xxx
LABA BERSIH Rp.xxx
PEMBAGIAN DEVIDEN (Rp.xxx)
KENAIKAN/PENURUNAN LABA Rp.xxx
DITAHAN +
LABA DITAHAN AKHIR TAHUN Rp.xxx

68
Contoh laporan Perubahan Modal Persekutuan

FIRMA DAGANG MAKMUR


LAPORAN PERUBAHAN MODAL
TAHUN BERAKHIR 31 DESEMBER 2005
Modal A Modal B Modal C Total
Saldo Awal Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx
Laba Bersih Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx
Prive Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx
Saldo Akhir Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx Rp.xxx

Periode akuntansi untuk membalik jurnal penyesuaian tertentu dibuat periode


sebelumnya; adapun jurnal penyesuaian pada akhir periode memerlukan jurnal balik
adalah sebagai berikut:

1. Biaya masih harus dibayar (accrual revenue)

2. Biaya dibayar dimuka (prepaid expense)

3. Pendapatan masih harus diterima (accrued revenue)

4. Pendapatan diterima dimuka (Uneraned reveue)

Ad1. Biaya masih harus dibayar

Jurnal balik adalah membayar jurnal penyesuaian pada contoh sebelumnya


yang dilakukan pada tanggal 31 des 05 yang membuat jurnal penyesuaian sebagai
berikut:

No.
Tanggal Bukti Keterangan Ref Debet Kredit
2005 Biaya Bunga Rp.xxx

69
31 Des Hutang Biaya Rp.xxx

Pada tanggal 2 januari 2006 ayat jurnal penyesuaian ini memerlukan jurnal balik
sebagai berikut:

No.
Tanggal Bukti Keterangan Ref Debet Kredit
2006 Hutang Biaya Rp.xxx
2-Jan Biaya Bunga Rp.xxx

Pada saat pembayaran akan di jurnal

No.
Tanggal Bukti Keterangan Ref Debet Kredit
2006 Biaya Bunga Rp.xxx
Jan Kas Rp.xxx

Menutup Perkiraan Prive

No.
Tanggal Bukti Keterangan Ref Debet Kredit
2006 Modal Tuan A Rp.xxx
Des 31 Prive Tn A Rp.xxx
(Menutup Perkiraan Prive)

Neraca Saldo Penutup

Tahap selanjutnya setelah pembuatan jurnal penutup adalah penyesuian neraca saldo
penutup (Post Closing Trial Balance), Tujuannya adalah memastikan bahwa buku
besar telah sesuai, sebelum memulai pencatatan data akuntansi periode selanjutnya.

70
Contoh:

PERUSAHAAN X
NERACA SALDO PENUTUP
31 Desember 2005
Dr (Rp) Cr (Rp)
Kas xxx
Perlengkapan xxx
Peralatan salon xxx
Akum. Penyusutan xxx
Hutang Dagang xxx
Hutang Bank xxx
Hutang Gaji xxx
Hutang Bunga xxx
Modal Tuan A xxx

71
Jurnal Balik

Jurnal Balik adalah jurnal yang dibuat pada awal suatu Jurnal penutup dan neraca
saldo setelah penutupan.

Ayat jurnal penutup merupakan ayat jurnal untuk mengeleminir (me-nolkan)


perkiraan sementara (temporary Account) apabila akan dimulai pencatatan data
akumulasi periode berkepentingan, untuk melakukan ayat jurnal penutup diperlukan
satu perkiraan tambahan yang dapat digunakan untuk mengikhtisarkan data yang
terdapat dalam perkiraan-perkiraan pendapat dan biaya. Perkiraan ini disebut ikhtisar
laba-rugi (Incame summary).

Ada empat tahap yang diperlukan untuk melakukan jurnal penutup keempat tahap
tersebut adalah sebagai berikut:

1. Semua perkiraan pendapatan di debet sebesar masing-masing saldo akhirnya,


perkiraan ikhtisar laba-rugi di debet sebesar sejumlah saldo akhir perkiraan
tersebut dengan pendebetan ini, perkiraan pendapatan akan menjadi nol.

2. Semua perkiraan biaya di kredit sebesar masing-masing saldo akhirnya dan


perkiraan ikhtisar laba rugi di debet sebesar sejumlah saldo akhir perkiraan
tersebut, dengan pengkreditan semua perkiraan biaya akan bersaldo nol.

3. Selisih antara jumlah sesi kredit dengan jumlah sisi debet pada perkiraan
ikhtisar laba-rugi dipindahkan ke perkiraan modal, apabila memperoleh laba,
sisi kredit perkiraan ikhtisar laba-rugi akan lebih besar. Untuk memindahkan
laba diperlukan modal, perkiraan ini debet sebbesar selisih antara sesi kredit
dan debet, perkiraan modal di kredit dengan jumlah yang sama.

4. Perkiraan prive di kredit sebesar saldo akhirnya dan perkiraan modal di debet
dengan jumlah yang sama.

72
Setelah jurnal penutup dicatat, posisi keenam jenis perkiraan tersebut adalah sebagai
brikut:

1. Perkiraan aktiva bersaldo debet

2. Perkiraan kewajiban bersaldo kredit

3. Perkiraan Modal bersaldo kredit

4. Perkiraan Prive bersaldo nol

5. Perkiraan Pendapatan bersaldo nol

6. Perkiraan Biaya bersaldo nol

Contoh tahap pelaksanaan jurnal penutup adalah sebagai berikut:

1. Menutup semua perkiraan pendapatan

No.
Tanggal Bukti Keterangan Ref Debet Kredit
2005 18 Pendapatan Rp.xxx
31 Des Ikhtisal L/R Rp.xxx

2. Menutup semua perkiraan biaya

73
No.
Tanggal Bukti Keterangan Ref Debet Kredit
2005 18 Ikhtisar L/R Rp.xxx
31 Des Biaya Gaji Rp.xxx
Biaya Perlengkapan Rp.xxx
Biaya Sewa Rp.xxx
Biaya Penjualan Rp.xxx
Biaya Bunga Rp.xxx
Biaya Serba-serbi Rp.xxx
(Menutup Perkiraan Biaya)

3. Menutup perkiraan laba rugi

No.
Tanggal Bukti Keterangan Ref Debet Kredit
2005 18 Ikhtisar L/R Rp.xxx
31 Des Modal Tn. A Rp.xxx

4. Biaya dibayar dimuka

Apabila pembelian aktiva tetap apabila dicatat sesuai ikhtisar. Pada akhir
periode akuntansi ditentukan jumlah biaya yang terpakai dan dibuat jurnal
penyesuaian misal PT. Makmur membeli perlengkapan sebesar Rp.2.400.000
transaksi ini akan dicatat:

No.
Tanggal Bukti Keterangan Ref Debet Kredit
2005 Perlengkapan Rp.2.400.000
Des 31 Kas Rp.2.400.000

74
Diasumsikan saldo awal perlengkapan nol, pada akhir tahun ternyata akhir tahun
jumlahnya Rp.1.800.000, ayat jurnal penyesuaian yang dibuat pada 31 Des 2005

No.
Tanggal Bukti Keterangan Ref Debet Kredit
2005 Biaya Perlengkapan Rp.600.000
Des 31 Perlengkapan Rp.600.000

Apabila pada permulaan transaksi dicatat sebagai biaya

No.
Tanggal Bukti Keterangan Ref Debet Kredit
2005 Biaya Perlengkapan Rp.2.400.000
Des 31 Kas Rp.2.400.000

Ayat jurnal akhir tahun adalah sebagai berikut:

No.
Tanggal Bukti Keterangan Ref Debet Kredit
2005 Perlengkapan Rp.1.800.000
Des 31 Biaya Perlengkapan Rp.1.800.000

Jurnal Balik yang diadakan awal tahun 2006 adalah sebagai berikut:

No.
Tanggal Bukti Keterangan Ref Debet Kredit
2006 Biaya Perlengkapan Rp.1.800.000
2-Jan Perlengkapan Rp.1.800.000

Pendapatan masih harus diterima

75
Merupakan pendapatan yang tidak diharapkan dalam periode akuntansi bersangkutan,
tetapi belum dicatat, misalnya perusahaan menyewakan gedung yang dibayar tiap
tanggal 20 sebesar Rp.600.000, pemakaian gedung dari tanggal 21 Des s.d 31 Des
2005 perlu diadakan penyesuaian yaitu:

No.
Tanggal Bukti Keterangan Ref Debet Kredit
2005 Sewa masih harus diterima Rp.200.000
Des 31 Pendapatan sewa Rp.200.000
Jurnal balik yang dibuat awal tahun periode 2006 adalah

No.
Tanggal Bukti Keterangan Ref Debet Kredit
2006 Pendapatan sewa Rp.200.000
2-Jan Sewa masih harus diterima Rp.200.000

Pencatatan pada waktu diterima uang sewa adalah sebagai berikut:

No.
Tanggal Bukti Keterangan Ref Debet Kredit
2006 Kas Rp.600.000
2-Jan Pendapatan sewa Rp.600.000

Pendapatan Diterima dimuka

Merupakan pendapatan yang sudah diterima dan transaksinya sudah dicatat, yaitu

No.
Tanggal Bukti Keterangan Ref Debet Kredit

76
2005 Kas Rp.2.400.000
Pendapatan sewa diterima
1 Okt dimuka Rp.2.400.000

Jumlah yang sudah menjadi pendapatan akhir tahun diadakan jurnal penyesuaian
sebagai berikut:

No.
Tanggal Bukti Keterangan Ref Debet Kredit
2005 Pendapatan diterima dimuka Rp.600.000
31 Des Kas Rp.600.000

Apabila penerimaan uang muka dicatat pada perkiraan pendapatan sewa, ayat jurnal
penyesuaian adalah sebagai berikut:

No.
Tanggal Bukti Keterangan Ref Debet Kredit
2005 Pendapatan sewa Rp.1.800.000
31 Des Pendapatan diterima dimuka Rp.1.800.000

Setelah penyesuaian perkiraan pendapatan akan bersaldo Rp.600.000, sedangkan


jurnal baliknya adalah sebagai berikut:

No.
Tangga Bukt
l i Keterangan Ref Debet Kredit
2006 Pendapatan diterima dimuka Rp.1.800.00

77
0
Rp.1.800.00
2-Jan Pendapatan sewa 0

78
SOAL

Neraca saldo dibawah ini disusun dari buku besar Marshanda Art Shop pada tanggal
31-12-05 (jutaan)

Perkiraan Dr.(Rp) Cr(Rp)

Kas 925 -

Piutang 50 -

Persediaan barang 12135 -

Perlengkapan 735 -

Asuransi dibayar dimuka 585 -

Peralatan 12610 -

Akum. Penyusutan - 4120

Hutang Bank - 4145

Hutang - 5000

Kredit Investasi - 15000

Modal Marshanda - 4550

Prive Marshanda 5400 -

Penjualan - 64320

Penjualan retur dan pengurangan harga 1510 -

Pembelian 40235 -

Pembelian retur - 515

Potongan pembelian - 245

Transport pembelian 915 -

Beban gaji 15745 -

Baban sewa 5500 -

79
Beban iklan 830 -

Beban listrik, air dan telepon 720 -

97895 97895
Informasi yang tersedia pada akhir tahun adalah sebagai berikut:

a. Perkiraan kas sebesar Rp.925 adalah saldo rekening koran di Bank Sakita,
menurut buku besar pemasukan saldo menurut rekening Koran yang dikirim
Bank adalah Rp.910, perbedaan tersebut karena bank membebankan biaya
administrasi dan umum.

b. Perlengkapan yang masih tersisa pada tanggal 31 des 2005 adalah Rp.910

c. Asuransi yang telah jatuh tempo Rp.190

d. Penyusutan peralatan kantor dihitung Rp.1.260

e. Persediaan barang dagang tgl 31 Des 05 adalah Rp.12.120

f. Pembelian barang dagang sebesar Rp.575 dengan syarat franco gudang yang
dilakukan tgl 30 Des 05 barang serta fakturnya baru diterima tgl 4 januari 06.
Pembelian belum dicatat oleh perusahaan.

g. Penjualan kredit barang dagang sebesar Rp. 325 dengan syarat franco gudang
yang barang telah dikirim tanggal 30 Des 05 belum dicatat oleh perusahaan.

Dari data diatas diminta:

1. Buatlah neraca Lajur Marshanda Art Shop 31-12-05

2. Buatlah jurnal penyesuaian yang diperlukan

80
3. Buatlah neraca, lap laba-rugi dan laporan perubahan modal Marshanda Art
Shop 31-12 05

BAB 7

AKUNTANSI PERUSAHAAN DAGANG

1.1 Pengertian Perusahaan Dagang Dan Masalah Khusus

Perusahaan dagang adalah suatu perusahaan yang kegiatan utamanya membeli


barang jadi dan menjual kembali, tanpa melakukan pengolahan lagi. Contoh

81
perusahaan dagang yang ada di Indonesia, seperti dealer, toko kelontong, pasar
swalayan, toko serba ada, dan lainnya. Sedangkan wadah dari perusahaan dagang tadi
dapat perorangan, persekutuan ataupun perseroan terbatas, misalnya, FD Makro, CV
Lima, PT Siloam Motor, dan lain sebagainya.
Ketiga badan usaha tersebut merupakan badan usaha swasta, maksudnya
adalah perusahaan tersebut didirikan oleh orang atau badan swasta. Saat ini
perekonomian di Indonesia disokong oleh tiga pilar pelaku ekonomi yaitu Swasta,
Koperasi dan Badan Usaha Milik Negara.
Dalam suatu perusahaan dagang kegiatan yang terjadi meliputi:
1. Pembelian Barang Dagangan
2. Pembayaran/Pengeluaran Uang
3. Penjualan Barang Dagangan
4. Penerimaan Uang Tunai

Masalah Khusus Dalam Perusahaan Dagang


Dalam perusahaan dagang banyak hal-hal yang perlu diperhatikan, seperti keempat
hal di atas:
1. Pembelian
Dalam perusahaan dagang, pembelian yang utama dilakukan adalah Barang
Dagangan, serta pembelian barang lainnya seperti perlengkapan kantor,
perlengkapan toko, aktiva tetap untuk digunakan dalam operasional
perusahaan.

Pembelian ini dapat dilakukan secara tunai maupun kredit. Saat terjadi
transaksi harus diperhatikan Barang Dagangan yang dibeli dan syarat jual beli.
Barang yang dibeli akan tiba diperusahaan, kemudian diperiksa sesuai
tidaknya dengan surat pesanan, kalau sesuai dibuat laporan penerimaan
barang dan barang disimpan di gudang.

82
Bilamana barang dagangan yang datang ada yang rusak atau tidak sesuai
dengan pesanan, maka barang dagangan tadi dan dikembalikan untuk ditukar
atau diganti. Seandainya tidak ada pengganti atau penukar, maka hal tersebut
disebut dengan retur atau pengembalian, akibatnya akan muncul potongan
harga (allowance).

Barang dagangan yang datang akan disimpan dan dicatat oleh petugas gudang.
Pencatatan barang dapat menggunakan metode periodic ataupun metode
perpetual, tergantung pada jenis barang dagangan yang dijual. Biasanya kalau
barang dagangan terdiri dari berbagai jenis dan perputarannya tinggi seperti
pada toko kelontong ataupun swalayan, maka biasanya akan digunakan
metoda periodik. Sedangkan untuk barang dagangan yang jenisnya sedikit
atau hanya satu jenis saja dan perputarannya rendah, biasanya digunakan
metode perpetual.

Penggunaan metode pencatatan ini akan berpengaruh pada cara pencatatan,


misalnya periodic akan lebih efektif dan efisien bilamana menggunakan jurnal
khusus, sedangkan perpetual cukup dengan jurnal umum saja, walaupun
memungkinkan untuk menggunakan jurnal khusus.

2. Pembayaran/Pengeluaran Uang Tunai


Pada saat barang dagangan dibeli secara tunai, maka perusahaan harus
langsung membayar, dengan kata lain “ada uang ada barang”. Tapi bilamana
pembelian dilakukan secara kredit maka akan muncul “Hutang Usaha” atau
mungkin “Hutang Wesel”, hal ini terjadi tergantung pada perjanjian saat
pembelian terjadi.

Bilamana tanggal jatuh tempo sudah tiba, maka hutang usaha harus dibayar.
Biasa juga terjadi perusahaan membayar pada periode potongan atau sebelum

83
tanggal jatuh tempo. Kalau pada periode potongan maka jumlah uang yang
dibayarkan akan lebih kecil dari yang seharusnya, hal ini terjadi karena
perusahaan mendapat potongan. Periode potongan dalam transaksi disebut
“termin atau Term” dan terjadi sesuai dengan kesepakatan atau perjanjian saat
transaksi pembelian terjadi.

3. Penjualan
Barang dagangan yang ada di perusahaan, disimpan hanya sementara, karena
“penyimpanan” dapat dilakukan di gudang ataupun ditoko dengan cara
dipajang. Pada saat barang dagangan dijual dapat dilakukan secara tunai atau
kredit. Barang dagangan yang dijual mungkin saja akan mengalami kerusakan
ataupun tidak sesuai dengan pesanan saat tiba di tempat tujuan. Bilamana hal
ini terjadi kalau ada pengganti atau penukar, secepatnya harus dilakukan, tapi
bilamana tidak ada, maka akan muncul “retur dan pengurangan harga”
(returns & allowance. Metode yang digunakan pun harus konsisten tidak bisa
di ubah-ubah.

4. Penerimaan Uang Tunai


Pada saat terjadi penjualan tunai, maka pada saat itu perusahaan akan
menerima sejumlah uang tunai. Tapi bilamana yang terjadi adalah penjualan
kredit maka akan muncul “piutang usaha”. Selanjutnya pelunasan atas piutang
usaha ini akan terjadi pada suatu waktu yang sudah disepakati bersama, hal
tersebut tergantung pada termin dan perjanjian saat transaksi terjadi.

Kalau tanggal jatuh tempo sudah tiba, maka akan terjadi pembayaran atau
pelunasan atas piutang usaha, biasa juga terjadi pembayaran atau pelunasan
atas piutang usaha pada jangka waktu potongan, maka jumlah uang yang

84
diterima perusahaan tidak sebesar yang seharusnya karena sudah dikurangi
dengan potongan harga.

Syarat Jual Beli


Pada saat terjadi transaksi pembelian dan penjualan ada beberapa hal syarat jual beli
yang harus diperhitungkan seperti:
a. Jangka Waktu (syarat pembayaran)
Pada saat terjadi transaksi pembelian ataupun penjualan secara kredit, selalu
disebutkan bagaiamana syarat pembayaran, hal ini biasanya berhubungan
dengan jangka waktu dan cara pembayaran, dan biasa ditulis sebagai berikut:
% / waktu 1, N / waktu 2%, adalah besarnya potongan yang dinyatakan dalam
persentasse tertentu, bilamana dilakukan pembayaran dalam jangka waktu
potongan.
Waktu 1, adalah jangka waktu potongan, besarnya dihitung sejak tanggal
transaksi sampai dengan beberapa hari kedepan.
N (net) adalah jumlah yang harus dilunasi pada tanggal jatuh tempo.
Waktu Z, adalah maksimal jangka waktu pelunasan.

Contoh: 2/10, n/30 dibaca potongan 2% bilamana dibayar dalam jangka waktu
10 hari sejak tanggal transaksi, dan harus dilunasi dalam 30 hari 2/10, n/EOM,
dibaca potongan 2% bilamana dibayar dalam jangka waktu 10 hari sejak
transaksi dan harus dilunasi pada End of Month (EOM-akhir bulan)

b. Biaya angkut
Selain potongan ada lagi yang harus diperhatikan, yaitu biaya angkut
saat pembelian ataupun saat penjualan, karena biaya angkut ini bisa dengan
Loco Gudang ataupun Franco Gudang ataupun dengan cara lain seperti FOB
(free on board). Bilamana tempat tujuan barang dagangan tidak melewati
suatu “perairan”, maka biasa digunakan istilah loco ataupun franco,

85
sedangkan kalau melewati suatu perairan maka bisa digunakan FOB baik
shipping point ataupun destinator.
Pada syarat jual beli dengan loco gudang, maka pembeli akan
menanggung semua biaya kirim dari gudang penjual ke gudang sendiri,
sedangkan kalau semua biaya kirim ditanggung oleh penjual, maka disebut
dengan franco gudang.
Kalau FOB Shipping point, pembeli akan menanggung semua biaya kirim
dari pelabuhan penjual sampai gudang pembeli. Sedangkan FOB Destination,
penjual yang menanggung semua biaya kirim sampai barang tiba di gudang
pembeli.
Pada saat transaksi pembelian dan penjualan terjadi, bukan hanya
biaya angkut yang muncul, ada biaya lain seperti biaya asuransi, bea cukai
dan biaya lainnya.

c. Bukti transaksi
Bukti transaksi yang biasa digunakan dalam suatu perusahaan dagang adalah:
o Faktur, yang bisa digunakan untuk transaksi tunai ataupun kredit, dan
juga untuk barang kena pajak.
o Nota kredit, akan digunakan bilamana ada barang yang dikembalikan.
o Kuitansi (bukti penerimaan kas), yang digunakan untuk menerima
sejumlah uang.
o Nota debit, akan digunakan bilamana ada barang yang dikembalikan
o Cek, yang digunakan untuk mengeluarkan sejumlah uang.

7.2 Sistem Pencatatan Persediaan (Jurnal Umum dan Posting)


Setiap keluar masuk barang dagangan yang ada di perusahaan akan dicatat, baik
dengan periodik ataupun dengan perpertual.

86
1. Metode periodik
Dalam metode ini setiap barang dagangan yang dibeli tidak dicatat dalam
rekening barang dagangan, tapi dalam rekening pembelian dan kas/hutang
usaha, sedangkan untuk penjualan akan dicatat dalam rekening penjualan
sebesar harga jual. Selain itu untuk biaya yang terjadi sehubungan dengan
pembelian akan dicatat sebagaimana adanya seperti dalam format di bawah
ini:
Transaksi Jurnal yang dibuat
Pembelian (tunai/kredit) Pembelian Rp xxx
Hutang Usaha/Kas Rp xxx
Retur pembelian Hutang Usaha Rp xxx
Retur Pembelian Rp xxx
Penjualan (tunai/kredit) Piutang Usaha/Kas Rp xxx
Penjualan Rp xxx
Retur Penjualan Retur Penjualan Rp xxx
Piutang Usaha Rp xxx
Biaya Angkut Pembelian Biaya Angkut Pembelian Rp xxx
(FOB – SP) Kas Rp xxx
Biaya Angkut Penjulan Biaya Angkut Penjualan Rp xxx
(FOB – D) Kas Rp xxx

2. Metode perpetual
Dalam metode ini setiap barang dagangan yang dibeli dicatat dalam rekening
barang dagangan, sedangkan untuk penjualan akan dicatat dalam rekening
penjualan sebesar harga jual dan harga pokok. Selain itu untuk biaya yang
terjadi sehubungan dengan pembelian akan dicatat sebagaimana adanya
seperti dalam format di bawah ini:

Transaksi Jurnal yang dibuat

87
Pembelian (tunai/kredit) Barang Dagangan Rp xxx
Hutang Usaha/Kas Rp xxx
Retur pembelian Hutang Usaha Rp xxx
Barang Dagangan Rp xxx

Penjualan (tunai/kredit) Piutang Usaha/Kas Rp xxx


Penjualan Rp xxx

Harga Pokok Penjualan Rp xxx


Barang Dagangan Rp xxx
Retur Penjualan Retur Penjualan Rp xxx
Piutang Usaha/Kas Rp xxx

Barang Dagangan Rp xxx


Harga Pokok Penjualan Rp xxx
Biaya Angkut Pembelian Biaya Angkut Pembelian Rp xxx
(FOB – SP) Kas Rp xxx

Biaya Angkut Penjulan Biaya Angkut Penjualan Rp xxx


(FOB – D) Kas Rp xxx

Penyesuaian Persediaan
Setiap akhir periode harus selalu dilakukan penyesuaian atas saldo perusahaan
yang ada, penyesuaian yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Metode Periodik Metode Perpetual

88
Ikhtisar Laba Rugi Rp xxx Harga Pokok Penjualan Rp xxx
Persediaan Barang Dagangan Rp xxx Persediaan Barang Dagangan Rp xxx
(menutup BD awal) ( )

Persediaan Barang Dagangan Rp xxx Persediaan Barang Dagangan Rp xxx


Ikhtisar Laba Rugi Rp xxx Harga Jual Beli Penjualan Rp xxx
(menampilkan BD akhir) ( )

7.3 Jurnal Khusu & Buku Besar

Secara umum jurnal, dapat dikatakan sebagai, buku atau formulir yang
digunakan dalam mencatat semua transaksi perusahaan secara kronologis. Kenapa
buku atau formulir, karena hanya merupakan media pencatatan, yang paling penting
adalah bahwa transaksi harus dicatat secara kronologis, sehingga akan dapat
menyajikan kondisi keuangan yang sebenarnya. Jurnal dapat juga dikatakan sebagai
suatu buku harian untuk mencatat segala transaksi secara kronologis, dimana dalam
pencatatan ini sudah ditentukan judul akun yang diperlukan serta jumlah uang yang
harus di debit dan jumlah uang yang harus di kredit.
Pada perusahaan jasa, jenis transaksi yang sering kali terjadi adalah transaksi
penerimaan dan pengeluaran kas. Sedangkan pada perusahaan perdagangan, di
samping kedua jenis transaksi tersebut, transaksi pembelian barang dagangan secara
kredit dan transaksi penjualan secara kredit merupakan jenis transaksi yang sering
terjadi pula. Jurnal-jurnal khusus yang biasa digunakan adalah sebagai berikut:

1. Jurnal penjualan: untuk mencatat transaksi-transaksi penjualan secara kredit.


2. Jurnal pembelian: untuk mencatat transaksi-transaksi pembelian secara kredit.
3. Jurnal penerimaan kas: untuk mencatat transaksi-transaksi penerimaan kas.
4. Jurnal pengeluaran kas: untuk mencatat transaksi-transaksi pengeluaran kas.

89
Fungsi dan Tujuan Jurnal Khusus
Yang cocok menggunakan metode ini, biasanya jenis barang dagangan berupa
barang yang cepat habis dikonsumsi, seperti SEMBAKO atau lainnya. Dalam metode
ini akan lebih efektif dan efisien bilamana menggunakan jurnal khusus. Karena
perusahaan bergerak dibidang perdagangan, maka jurnal yang digunakan, biasanya
adalah:
a. Jurnal Penjualan, dalam jurnal ini dicatat semua transaksi penjualan barang
dagangan secara kredit.
b. Jurnal Retur Penjualan, dalam jurnal ini dicatat semua transaksi pengembalian
barang dagangan yang dijual kredit.
c. Jurnal Penerimaan Kas, dalam jurnal ini dicatat semua transaksi penerimaan
uang tunai ke dalam perusahaan dari semua sumber.
d. Jurnal Pembelian, dalam jurnal ini dicatat transaksi pembelian barang
dagangan dan barang lain secara kredit.
e. Jurnal Retur Pembelian, dalam jurnal ini dicatat transaksi pengembalian
barang dagangan yang dibeli kredit.
f. Jurnal Pembayaran Kas, dalam jurnal ini dicatat semua transaksi pengeluaran
uang tunai oleh perusahaan.
g. Jurnal Umum, mencatat transaksi yang tidak dapat dicatat pada jurnal-jurnal
di atas.

Pencatatan Transaksi ke Jurnal Khusus


1. Metode Periodik
Mari kita lihat contoh berikut ini:
PD Nugraha bergerak di bidang perdagangan, dengan transaksi selama bulan
Desember 2005 sebagai berikut:

Des 1 Diinvestasikan uang tunai Rp 50.000.000,- ke perusahaan kwt 001


Dibeli Barang Dagangan tunai dari Amidi Rp 5.000.000,- cek 4601

90
2 Dijual Barang Dagangan kredit ke Syarief Rp 3.500.000,- 2/10,n/30,
Inv N001
Dibeli perlengkapan toko kredit dari CV Dian Rp 1.000.000,-
Inv D010
3 Dibeli Barang Dagangan kredit dari PD Setia Rp 7.500.000,-,
2/8,n/EOM . Dengan Inv S201
Dibeli peralatan toko tunai dari Ligna Rp 2.000.000,- cek 4602
4 Dikembalikan Barang Dagangan ke PD Setia Rp 250.000,- tidak
sesuai DN 004
5 Dijual BD tunai ke PD Elsa Rp 5.000.000,-, kwt 002
6 Dilunasi hutang ke PD Setia cek 4603
7 Diterima pengembalian BD dari PD Elsa Rp 500.000,- tidak sesuai,
uang dikembalikan cek 4604
9 Dibeli BD tunai dari PD Vidi Rp 6.575.000,- setelah potongan
Rp 25.000,- Cek 4605
12 Dijual BD kredit ke Tomodachi Rp 5.000.000,-, 2/10,n/30, Inv N002
14 Dibeli perlengkapan toko tunai dari CV Dian Rp 1.000.000,- cek 4606
15 Diterima pengembalian BD dari Tomodachi Rp 250.000,- tidak sesuai,
CN 003
20 Dilunasi hutang ke CV Dian cek 4607
21 Diterima pelunasas dari Syarief, kwt 003
25 Dibayar gaji karyawan Rp 3.500.000,- cek 4608
26 Dibeli BD kredit dari Hasanah Rp 6.500.000, 3/6,n/25, Inv A 111
Dibeli BD tunai dari Amidi Rp 4.500.000,- cek 4609
28 Dijual BD tunai ke PD Elsa Rp 5.500.000,- kwt 004
29 Dikembalikan BD ke Amidi Rp 500.000,- rusak, uang diterima
ket 005
31 Dibayar Telp Rp 500.000,-, Listrik Rp 100.000,-, PDAM Rp 75.000,-
Cek 4610

91
Dari transaksi di atas catat ke dalam jurnal khusus yang sesuai.

Jurnal Pembelian (Purchases Journal) Rp Page 1


Debet Kredit
Account
Date Account Credited Doc No Term Purchases Sundries
Payable
Account Amount
200
5 2 HU - CV Dian D010 - - Perl. Toko 1.000.000 1.000.000
Des
3 HU - PD Setia S201 2/8,n/EOM 7.500.000 - - 7.500.000
26 HU - Hasanah A 111 3/6,n/25 6.500.000 - - 6.500.000
14.000.000 - 1.000.000 15.000.000

Jurnal Retur Pembelian (Purchase Returns Journal) Rp Page 1


Account Payable (dr)
Date Account Debited Doc No Expl
Purchases retuns (cr)

2005 4 HU - PD Setia DN004 T sesuai 250000


Des
250000

Jurnal Pembayaran Kas (Cash payments Journal) Rp Page 1

92
Debet Credit
Date Descriptions Doc No
A. Payable Purchases Sundries P. Discount Cash
2005
1 Pembelian 4601 - 5000000 - - 5000000
Des

3 Peralatan toko 4602 - - 2000000 - 2000000


6 HU - PD Setia 4603 7250000 - - 145000 7105000
7 Retur Penjualan 4604 - - 500000 - 500000
9 Pembelian 4605 - 6600000 - 25000 6575000
14 Perlengkapan toko 4606 - - 1000000 - 1000000
20 HU - CV Dian 4607 1000000 - - - 1000000
25 Biaya Gaji 4608 - - 3500000 - 3500000
26 Pembelian 4609 - 6500000 - - 6500000
31 Biaya Telepon 4610 - - 500000 - 500000
Biaya Listrik 4610 - - 100000 - 100000
Biaya PDAM 4610 - - 75000 - 75000
8250000 18100000 7675000 170000 33855000

Jurnal Penjualan (Sales Journal) Rp Page 1


A. Receivable (dr)
Date Account Debited Doc No Term
Sales (cr)

2005 2 PU - Syarief N 001 2/10,n/30 3500000


Des
12 PU - Tomodachi N 002 2/10,n/30 5000000
8500000

Jurnal Retur Penjualan (Sales Returns Journal) Rp Page 1


Sales Returns (dr)
Date Account Debited Doc No Expl
A. Receivable (cr)

2005 15 PU - Tomodachi CN 003 T sesuai 250000


Des
250000

Jurnal Penerimaan Kas (Cash Receipts Journal) Rp Page 1

93
Debet Credit
Descriptions Doc No
S. Discount Cash A. Receivable Sales Sundries

Modal 001 - 50000000 - - 50000000

Penjualan 002 - 5000000 - 5000000 -


PU - Syarief 032 - 3500000 3500000 - -
Penjualan 004 - 5500000 - 5500000 -
Retur Pembelian 005 - 500000 - - 5000000
- 64500000 3500000 10500000 50500000

1. Metode Perpetual
Dengan menggunakan contoh soal di atas, dengan asumsi bahwa harga pokok
penjualan adalah 75% dari harga jual, maka jurnal akan terlihat sebagai berikut:

Jurnal Pembelian (Purchases Journal) Rp


Page 1

94
Debet Kredit
Account
Date Account Credited Doc No Term Merchandise Sundries
Payable
Inventory
Account Amount
200
5 2 HU - CV Dian D010 - - Perl. Toko 1.000.000 1.000.000
Des
3 HU - PD Setia S201 2/8,n/EOM 7.500.000 - - 7.500.000
26 HU - Hasanah A 111 3/6,n/25 6.500.000 - - 6.500.000
14.000.000 - 1.000.000 15.000.000

Jurnal Retur Pembelian (Purchases Returns Journal) Rp Page 1


Account Payable (dr)
Date Account Debited Doc No Expl
M. Inventory (cr)

2005 4 HU - PD Setia DN004 T sesuai 250000


Des
250000

Jurnal Pembayaran Kas (Cash Payments Journal) Rp Page 1


Debet Credit
Date Descriptions Doc No
A. Payable Purchases Sundries M. Inventory Cash
2005
1 Pembelian 4601 - 5000000 - - 5000000
Des

3 Peralatan toko 4602 - - 2000000 - 2000000


6 HU - PD Setia 4603 7250000 - - 145000 7105000
7 Retur Penjualan 4604 - - 500000 - 500000
9 Pembelian 4605 - 6600000 - 25000 6575000
14 Perlengkapan toko 4606 - - 1000000 - 1000000
20 HU - CV Dian 4607 1000000 - - - 1000000
25 Biaya Gaji 4608 - - 3500000 - 3500000
26 Pembelian 4609 - 6500000 - - 6500000
31 Biaya Telepon 4610 - - 500000 - 500000
Biaya Listrik 4610 - - 100000 - 100000
Biaya PDAM 4610 - - 75000 - 75000
8250000 18100000 7675000 170000 33855000

Jurnal Penjualan (Sales Journal) Rp Page 1

95
A. Receivable (dr) Cash of Goods Sold (dr)
Date Account Debited Doc No Term
Sales (cr) Merch. Inventory (cr)

2005 2 PU - Syarief N 001 2/10,n/30 3500000 2625000


Des
12 PU - Tomodachi N 002 2/10,n/30 5000000 3750000
8500000 6375000

Jurnal Retur Penjualan (Sales Returns Journal) Rp Page 1


Sales Returns (dr) CGS (cr)
Date Account Debited Doc No Expl
A. Receivable (cr) MI (dr)

2005 15 PU - Tomodachi CN 003 T sesuai 250000 187500


Des
250000 187500

Jurnal Penerimaan Kas (Cash Receipts Journal) Rp Page 1


Debet Credit
Descriptions Doc No
CGS Cash A. Receivable Sales Sundries

Modal 001 - 50000000 - - 50000000

Penjualan 002 - 5000000 - 5000000 -


PU - Syarief 032 - 3500000 3500000 - -
Penjualan 004 - 5500000 - 5500000 -
Retur Pembelian 005 - 500000 - - 5000000
- 64500000 3500000 10500000 50500000

Neraca saldo

Pendebitan sebagai akibat dari suatu transaksi harus sama dengan


pengkreditan dari transaksi yang bersangkutan. Oleh karena itu dalam buku besar,
jumlah pendebitan-pendebitan atas rekening-rekening harus selalu sama dengan
jumlah pengkreditan-pengkreditannya. Hal ini sesuai dengan prinsip akuntansi dalam
persamaan dasar akuntansi. Untuk menguji kebenarannya maka pada akhir masa

96
tertentu harus dibuat Neraca Saldo, yaitu suatu daftar tentang saldo-saldo dari seluruh
rekening yang ada di dalam buku besar pada saat tertentu.

Tujuan pembuatan neraca saldo:

1. untuk menguji kesamaan debit dan kredit di dalam buku besar.


2. merupakan ringkasan dari buku besar sehingga memudahkan penyusunan
laporan-laporan keuangan.

Neraca saldo dapat dibuat pada setiap saat setelah transaksi selesai dicata, tetapi hal
itu kurang praktis. Pada umumnya neraca saldo dibuat setiap akhir bulan atau setiap
akhir periode.

Contoh neraca saldo:

97
PERUSAHAAN PENGANGKUTAN “ASRI”

NERACA SALDO per 30 April 2010

No. Nama Rekening Saldo Debit Saldo Kredit


101 Kas Rp. 6.560.000,00
102 Piutang Dagang Rp. 500.000,00
107 Supplies Rp. 350.000,00
108 Peralatan kantor Rp. 1.500.000,00
110 Persekot sewa Rp. 1.800.000,00
112 Kendaraan Rp. 9.000.000,00
210 Utang Rp. 2.000.000,00
300 Modal Rp. 13.500.000,00
401 Biaya reparasi Rp. 200.000,00
402 Gaji pegawai Rp. 300.000,00
403 Biaya telepon Rp. 175.000,00
404 Biaya listrik dan air Rp. 90.000,00
500 Pendapatan jasa Rp. 5.520.000,00
605 Prive Rp. 275.000,00

Rp. 20.750.000,00 Rp. 20.750.000,00

7.4 Kertas Kerja Perusahaan Jasa

Salah satu jenis perusahaan berdasarkan usahanya adalah perusahaan jasa,


yaitu: perusahaan yang kegiatan utamanya adalah memberikan pelayanan-pelayanan

98
dan kemudahan-kemudahan serta memberi bantuan pada proses produksi maupun
konsumsi, misalnya perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang: jasa salon
kecantikan, jasa transportasi, jasa konsultan, perbankan atau asuransi. Sedangkan
jenis perusahaan menurut badan hukumnya terdiri dari: perusahaan perseorangan,
Firma (fa), Perseroan Komanditer (CV), Perseroan Terbatas (PT), dan koperasi.

Semua jenis perusahaan tersebut dalam melaksanakan berbagai kegiatannya


akan selalu memerlukan bantuan jasa akuntansi. Semakin baik sebuah perusahaan
dalam melaksanakan kegiatan akuntansinya, maka semakin baik pula perusahaan
tersebut dalam menyajikan informasi bagi mereka yang membutuhkannya.

Tahap-tahap akuntansi seperti yang tersebut di atas, akan terus berjalan


berulang-ulang sesuai kegiatan (transaksi) yang ada untuk setiap periode. Karena
sifatnya terus berulang (berputar), maka kegiatan akuntansi dalam suatu periode
sering disebut SIKLUS AKUNTANSI (the accounting cyrcle). Untuk lebih jelasnya
sebuah siklus akuntansi dapat digambarkan dalam bagan berikut ini.

Transaksi/Bukti transaksi
Jurnal
Buku Besar

Daftar sisa/Neraca sisa


Jurnal Penyesuaian
Jurnal Penutup
SIKLUS AKUNTANSI Menutup buku besar
Neraca saldo setelah
penutup

99
Laporan Keuangan
Laporan laba rugi
Laporan perubahan modal
neraca
Tahap pencatatan:

1 Jan – 31 Des

Tahap pengikhtisaran:
1 Jan – 31 Des

Tahap pelaporan:

31 Des

1. Jurnal

a. Pengaruh Transaksi Keuangan

Setiap transaksi keuangan yang terjadi akan selalu mempengaruhi jumlah


uang yang tercantum pada sisi debet atau kredit akun (buku besar) tertentu.
Transaksi keuangan dapat saja menambah atau mengurangi jumlah yang
tercantum pada sisi debet atau kredit akun (buku besar).

Secara garis besar, penambahan atau pengurangan jumlah yang tercantum


pada sisi debet atau kredit akun (buku besar) dapat digambarkan sebagai berikut;

HARTA

100
(+) (-)

Bertambah di sisi debet Berkurang di sisi kredit

UTANG/KEWAJIBAN

(-) (+)

Berkurang di sisi debet Bertambah di sisi kredit

MODAL

(-) (+)

Berkurang di sisi debet Bertambah di sisi kredit

PENGHASILAN/PENDAPATAN

(-) (+)

Berkurang di sisi debet Bertambah di sisi kredit

BIAYA/BEBAN

(+) (-)

101
Bertambah di sisi debet Berkurang di sisi kredit

Pengaruh yang mungkin terjadi dari suatu transaksi keuangan terhadap harta,
kewajiban, dan modal adalah sebagai berikut:

a. Ada penambahan dalam salah satu harta dan adanya pengurangan terhadap
harta lainnya.

b. Adanya penambahan terhadap harta dan diikuti pula dengan penambahan pada
utang.

c. Adanya penambahan terhadap harta dan diikuti pula dengan penambahan pada
modal.

d. Adanya pengurangan terhadap harta dan diikuti pula dengan pengurangan


pada utang.

e. Adanya pengurangan terhadap harta dan diikuti pula dengan pengurangan


modal.

Dalam praktik akuntansi yang sesungguhnya untuk menghindari kesalahan


seminimal mungkin, maka pencatatan tidak dilakukan langsung ke dalam akun
buku besar. Setiap transaksi terlebih dahulu dianalisis pengaruhnya terhadap
unsur-unsur persamaan dasar akuntansi (harta, kewajiban, modal, pendapatan, dan
beban) dan dicatat dalam jurnal baru kemudian dicatat ke dalam akun (buku
besar).

Jurnal (Journal) dikenal juga dengan nama Buku Pencatatan/Pemasukan Asli


(Book of original entry). Jurnal merupakan catatan pendebetan dan pengkreditan

102
dari transaksi-transaksi secara kronologis beserta penjelasan-penjelasan yang
diperlukan dari transaksi tersebut.

2. Bentuk Jurnal

Bentuk jurnal yang sering digunakan dalam suatu perusahaan adalah jurnal yang
mempunyai 2 (dua) kolom jumlah (debet dan kredit). Jurnal semacam ini dapat
dipergunakan untuk mencatat semua transaksi secara kronologis.

Berikut ini contoh bentuk jurnal:

Jurnal umum

Hal: (a)

Tanggal Keterangan Ref Debit Kredit

20….

(b)
(c) (d)

(e) (e)

Keterangan:

a. Halaman, setiap halaman jurnal diberi nomor halaman.

b. Tanggal, kolom pertama diisi dengan tahun dan bulan, sedangkan kolom
kedua diisi dengan tanggal terjadinya transaksi yang dicatat.

c. Keterangan, untuk mencatat nama akun: nama akun yang di debet ditulis di
tepi sisi kiri dan jumlah pendebetan dimasukkan ke dalam kolom debet.
Sedangkan nama akun yang dikredit ditulis agak menjorok ke kanan di

103
bawah akun debet dan jumlah pengkreditan dimasukkan ke dalam kolom
kredit. Di bawah nama akun diberi keterangan ringkas mengenai transaksi
yang terjadi untuk memudahkan dalam pemberian keterangan pada waktu
pemindahbukuan (posting) ke buku besar.

d. Ref, diisi nomor akun, dilakukan ketika pemindahan akun tersebut ke dalam
buku besar (posting).

e. Setiap penggantian halaman sebaiknya kolom debet dan kredit dijumlahkan


untuk dipindahkan ke halaman berikutnya.

3. Jurnal Penyesuaian

Tujuan dari proses penyesuaian adalah:

a. Agar setiap akun riil khususnya kelompok akun harta dan kelompok akun
utang menunjukkan jumlah yang sebenarnya pada akhir periode akuntansi.

b. Agar setiap akun nominal (akun pendapatan dan akun beban)


menunjukkan pendapatan dan beban yang seharusnya diakui dalam suatu
periode akuntansi.

Pada akhir periode akuntansi ada akun-akun yang perlu mendapat penyesuaian,
yaitu:

a. Perlengkapan/Beban Habis Pakai (supplies)

b. Beban yang masih harus dibayar (accured expense)

c. Pendapatan yang masih harus diterima (accured revenue)

d. Beban dibayar dimuka (prepaid expense)

104
e. Pendapatan diterima dimuka (deferred revenue)

f. Penyusutan aktiva tetap (depreciation)

4. Penyelesaian Kertas Kerja

Tahap-tahap penyusunan kertas kerja yang berbentuk 10 kolom adalah sebagai


berikut;

a. Isilah kolom daftar sisa dengan data yang berasal dari daftar sisa yang telah
disiapkan (dari saldo-saldo akun buku besar).

b. Kolom penyesuaian diisi dengan data-data yang berasal dari jurnal


penyesuaian. Apabila terdapat nama akun yang belum ada didaftar sisa, maka
nama akun tersebut dicantumkan di bawahnya.

c. Pada tahap ini kita lebih dahulu mengkompensasikan (menggabungkan antara


daftar sisa dengan penyesuaian). Hasil dari kompensasi atau penggabungan
tersebut kita tuliskan pada kolom daftar sisa disesuaikan.

d. Memindahkan jumlah-jumlah yang tercatat dalam daftar sisa setelah


disesuaikan. Akun harta, utang, dan modal dipindahkan ke kolom neraca.
Sedangkan akun pendapatan dan beban dipindahkan ke kolom laba rugi
(sesuai dengan posisi debit dan kredit daftar sisa disesuaikan).

e. Menjumlahkan angka-angka pada kolom laba rugi dan kolom neraca.


Memasukkan laba bersih atau rugi bersih ke dalam salah satu kolom sebagai
pengimbang, baik ke dalam kolom laba rugi maupun ke kolom neraca.
Perhatikan ketentuan berikut:

• Jika jumlah debet lebih besar dari jumlah kredit, sehingga selisihnya
ditulis dikolom kredit, berarti rugi bersih.

105
• Jika jumlah debet lebih kecil dari jumlah kredit, sehingga selisihnya
ditulis di kolom debet, berarti laba bersih.

5. Jurnal Penutup & Neraca Saldo setelah penutupan

Cara penyusunan jurnal penutup:

1. Pemindahan akun-akun pendapatan ke akun ikhtisar L/R melalui jurnal


penutup

Pendapatan Rp xxx

Ikhtisar L/R Rp xxx

(sebesar saldo masing-masing pendapatan)

2. Memindahkan akun-akun beban ke akun ikhtisar L/R melalui jurnal penutup

Ikhtisar L/R Rp xxx

Beban Rp xxx

(sebesar saldo masing-masing beban)

3. Memindahkan saldo akun prive akun modal melalui jurnal penutup.

(untuk perusahaan perorangan)

Modal Rp xxx

106
Prive Rp xxx

(sebesar saldo prive)

(untuk perusahaan berbentuk PT)

Laba tidak dibagi Rp xxx

Deviden Rp xxx

4. Memindahkan saldo akun iktisar L/R ke akun modal melalui jurnal penutup

(untuk perusahaan perorangan)

- Jika laba : Ikhtisar L/R Rp xxx

Modal Rp xxx

- Jika rugi : Modal Rp xxx

Ikhtisar L/R Rp xxx

(untuk perusahaan berbentuk PT)

- Jika laba : Ikhtisar L/R Rp xxx

Laba tidak dibagi Rp xxx

107
- Jika rugi : Laba tidak dibagi Rp xxx

Ikhtisar L/R Rp xxx

Apabila sumber data yang digunakan berasal dari kertas kerja, maka penyusunan
jurnal penutup dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1. Memindahkan saldo pendapatan ke ikhtisar laba/rugi dengan cara mendebet


akun-akun pendapatan (sebesar saldo masing-masing pendapatan yang
berasal dari kolom laba/rugi kredit) dan mengkredit ikhtisar laba/rugi
sebesar jumlah akun pendapatan (sebesar saldo pendapatan yang berasal dari
kolom laba/rugi kredit).

2. Memindahkan saldo beban ke Ikhtisar laba/rugi dengan cara mengkredit


akun-akun beban (sebesar saldo masing-masing beban yang berasal dari
kolom laba/rugi debet) dan mendebet akun ikhtisar laba/rugi sebesar jumlah
akun beban (sebesar saldo beban yang berasal dari kolom laba/rugi debet).

3. Memindahkan saldo akun ikhtisar laba/rugi ke akun sebesar saldo laba/rugi


yang ada pada kolom laba/rugi.

4. Memindahkan saldo prive ke akun modal dengan cara mengkredit saldo prive
(berasal dari kolom neraca debet) dan mendebet akun modal.

7.5 Laporan Keuangan Perusahaan Dagang Dengan Metode Periodik &


Perpetual

1. Metode Perpetual

108
Sistem pencatatan metode perpetual disebut juga metode buku adalah sistem
dimana setiap persediaan yang masuk dan keluar dicatat di pembukuan.

Setiap jenis barang dibuatkan kartu persediaan dan di dalam pembukuan


dibuatkan rekening pembantu persediaan. Rincian dalam buku pembantu bisa
diawasi dari rekening kontrol persediaan barang dalam buku besar. Rekening
yang digunakan untuk mencatat persediaan ini terdiri dari beberapa kolom yang
dapat dipakai untuk mencatat pembelian, penjualan dan saldo persediaan. Setiap
perubahan dalam persediaan diikuti dengan pencatatan dalam rekening persediaan
sehingga jumlah persediaan sewaktu-waktu dapat diketahui dengan melihat
kolom saldo dalam rekening persediaan. Masing-masing kolom dirinci lagi untuk
kuantitas dan harga perolehannya.

Penggunaan metode buku akan memudahkan penyusunan neraca dan laporan


laba rugi jangka pendek, karena tidak perlu lagi mengadakan perhitungan fisik
untuk mengetahui jumlah persediaan akhir.

Ciri-ciri terpenting dalam sistem perpetual pada penjurnalan adalah :

a. Pembelian barang dagangan dicatat dengan mendebet rekening persediaan

b. Harga pokok penjualan dihitung untuk tiap transaksi penjualan dan dicatat
dengan mendebet rekening HPP pada persediaan.

c. Persediaan merupakan rekening kontrol dan dilengkapi dengan buku pembantu


persediaan yang berisi catatan untuk setiap jenis persediaan. Buku pembantu
persediaan menunjukkan kuantitas dan harga perolehan untuk setiap jenis
barang yang ada dalam persediaan.

2. Metode Periodik

109
Pada metode ini, apabila terjadi pembelian maka jurnalnya adalah mendebet
rekening pembelian dan mengkredit kas atau utang dagang. Jika terjadi penjualan
maka jurnalnya adalah mendebet rekening kas/ piutang dagang dan mengkredit
rekening penjualan. Untuk mengetahui persediaan akhir dilakukan inventarisasi
atau stock opname pada akhir periode.

Dari kedua metode di atas, metode persediaan periodik lebih sederhana dan
lebih mudah penyelenggaraannya bila dibandingkan dengan metode perpetual.
Namun ditinjau dari segi ketepatan dan kecepatan informasi yang dihasilkan,
metode persediaan perpetual jauh lebih unggul. Setiap saat persediaan akhir dapat
diketahui.

Perbandingan Metode Perpetual dengan Periodik


Sistem Perpetual :
Saat terjadi pembelian :
Persediaan 50.000.000
Utang Dagang 50.000.000

Saat terjadi penjualan


Piutang Dagang 30.000.000
Penjualan 30.000.000

HPP 25.000.000
Persediaan 25.000.000

Penyesuaian pada akhir periode


tidak diperlukan jurnal penyesuaian, rekening
persediaan menunjukkan saldo yang ada pada akhir
periode yaitu Rp 35.000.000
(10.000.000 * + 50.000.000 - 25.000.000)
* misal persediaan awal Rp 10.000.000

Sistem Periodik :
Saat terjadi pembelian
Pembelian 50.000.000
Utang Dagang 50.000.000

110
Saat terjadi penjualan
Piutang Dagang 30.000.000
Penjualan 30.000.000

Penyesuaian pada akhir periode


HPP 10.000.000
Persediaan 10.000.000

HPP 50.000.000
Pembelian 50.000.000

Persediaan 35.000.000
HPP 35.000.000

Latihan Soal

Daftar saldo dibawah ini kepunyaan subhan di Cililin per 31 Desember 2005.

No Nama Rekening Jumlah (Rp)


1101 Kasi di Bank 7.225.000
1102 Piutang Usaha 10.150.000
1103 Persediaan Barang Dagangan 32.425.000
1104 Perlengkapan Toko 927.000
1105 Perlengkapan Kantor 325.000
1106 Asuransi Dimuka 1.830.000
1201 Peralatan Toko 35.000.000
1210 A/P - Peralatan Toko 15.750.000
1202 Peralatan Kantor 8.190.000
1211 A/P - Peralatan Kantor 2.457.000
2101 PPh Karyawan Terutang 358.000
2102 Hutang Biaya Gaji -
2103 Hutang Usaha 1.225.000
2104 PPh Pengusaha Terutang -
3101 Modal 49.599.200
3201 Prive 2.800.000

111
3301 Ikhtisar Laba Rugi -
4101 Penjualan 352.850.000
4102 Pendapatan Bunga 125.000
4201 Retur Penjualan 2.750.000
5101 Pembelian 252.800.000
5102 Biaya Angkut Pembelian 4.210.000
5201 Retur Pembelian 1.125.000
5202 Potongan Pembelian 3.650.000
6101 Biaya Gaji - Penjualan 30.450.000
6102 Biaya Sewa - Penjualan 11.250.000
6103 Biaya Iklan 4.240.000
6104 Biaya Perlengkapan Toko -
6105 Biaya Penyusutan Peralatan Toko -
6201 Biaya Gaji - Kantor 17.925.000
6202 Biaya Sewa - Kantor 1.500.000
6203 Biaya Telepon 725.000
6204 Biaya Perlengkapan Kantor -
6205 Biaya Asuransi -
6206 Biaya Penyusutan peralatan Kantor -
6207 Biaya Pajak Penghasilan 2.000.000
6208 Biaya Administrasi Bank 95.000
Keterangan tambahan:
a. Rekening Koran per 31 Desember 2005, menyebutkan bahwa saldo kredit
sebesar Rp. 7.235.000,- , selisih ini disebabkan karena bank mendebet
Rp. 15.000,- , untuk Biaya Administrasi Bank dan mengkreditnya
Rp. 25.000,- untuk Jasa Giro (bunga)
b. Nilai persediaan barang dagangan per 31 Desember 2005 Rp. 32.850.000,-
c. Nilai persediaan perlengkapan Toko per 31 Desember 2005 Rp. 215.000,- dan
perlengkapan kantor Rp 125.000,-
d. Premi asuransi yang telah daluwarsa Rp 1.145.000,-
e. Penyusutan peralatan Toko 15% setahun dari harga perolehan.
f. Nilai buku peralatan kantor per 31 Desember 2005 Rp. 4.914.000,-

112
g. Gaji Karyawan terutang per 31 Desember 2005 Penjualan Rp 225.000,-
Administrasi Rp 175.000,-
h. Pajak Penghasilan pengusaha untuk tahun 2005 ditaksir sebesar Rp
2.500.000,-
Diminta:
a. Ayat jurnal penyesuaian
b. Neraca Lajur 10 kolom
c. Laporan Keuangan
d. Ayat jurnal penutup dan pembalik (bilamana ada)

BAB 8

AKUNTANSI PERUSAHAAN MANUFAKTUR

8.1 Pengertian, Ciri-Ciri Manufaktur

Akuntansi yang mencatat dan melaporkan kegiatan terhadap pengolahan bahan baku
menjadi produk jadi yang siap dijual.

Masalah khusus akuntansi manufaktur

Dalam perusahaan manufaktur persediaan terdiri dari tiga macam yaitu:

1. Persediaan bahan baku


Bahan baku adalah bahan yang digunakan dalam proses produksi dan dilaporkan
pada harga pokok

2. Persediaan barang dalam proses


Terdiri dari:

- Biaya bahan baku

113
- Biaya upah
- Biaya over head pabrik
3. Persedian barang jadi
Terdiri dari total biaya pabrik untuk memproduksi barang jadi.

Biaya pabrik
Biaya yang terjadi dalam pabrik selama satu periode disebut biaya pabrik
(manufacturing cost). Biaya ini digunakan untuk menyelesaikan barang yang masih
sebagian selesai pada awal periode, barang dimasukkan dalam proses produksi itu
dan barang-barang yang dapat diselesaikan pada akhir periode.

Biaya pabrik bisa dikelompokkan dalam 3 kelompok yaitu:

1. Biaya bahan baku (Raw material)


Biaya yang mudah secara langsung diidentifikasikan dengan barang jadi
2. Biaya upah langsung (direct labor)
Biaya untuk upah buruh yang menangani secara langsung proses produksi.
3. Biaya pabrikase (Overhead)
Biaya pabrik selain biaya bahan baku dan biaya upah.

Contoh; biaya pabrikase

- Bahan pembantu
- Upah tidak langsung
- Biaya pemeliharaan
- Biaya listrik, air dan telepon.

Biaya produksi

114
Biaya produksi (produksi cost) adalah biaya yang dibebankan dalam proses produksi
selama satu periode.
Harga pokok produksi

Biaya barang yang telah diselesaikan selain satu periode, harga pokok produksi terdiri
dari:

Persediaan awal Rp.

Biaya produksi Rp.

Persediaan akhir barang dalam proses Rp.

Harga pokok produksi merupakan harga pokok penjualan.

8.2 Kertas Kerja Perusahaan Manufaktur

Jurnal Penyesuaian

Jurnal penyesuaian di perusahaan manufaktur sama dengan jurnal penyesuaian


perusahaan dagang ditambah penyesuaian perkiraan-perkiraan sebagai berikut:

a. Bahan baku
Untuk perusahaan manufaktur persediaan bahan baku perlu disesuaikan,
penyesuaian adalah sebagai berikut:

Tgl No. Keterangan Ref Debit Kredit


Bukti
2005 (A)
31 Ikhtisar HP Produksi Rp xxx
Dec Pers. Bahan Rp xxx
baku

115
(B) Rp xxx
Persd. Bahan baku Rp xxx
Ikhtisar HP
Produksi

Kondisi (A)

Adjustment untuk persediaan bahan baku awal periode

Kondisi (B)

Adjusting untuk persediaan bahan baku akhir periode

Persediaan barang dalam proses

Penyesuaian persediaan barang dalam proses dilakukan pada akhir tahun adapun
penyesuaiannya adalah sebagai berikut:

Tgl No. Keterangan Ref Debit Kredit


Bukti

116
2005 (C)
31 Ikhtisar HP Produksi Rp xxx
Dec Pers. Brg dlm proses Rp xxx

(D)
Persd. Bahan baku Rp xxx
Ikhtisar HP Produksi Rp xxx

Persediaan barang jadi

Penyesuaian persediaan barang jadi dilakukan pada akhir tahun, penyesuaiannya


sebagai berikut:

Tgl No. Keterangan Ref Debit Kredit


Bukti
2005 (E)
31 Ikhtisar Laba - rugi Rp xxx
Dec Pers. Barang jadi Rp xxx

(F)
Persd. Barang jadi Rp xxx
Ikhtisar Laba - rugi Rp xxx

Jurnal penutup (Closing entries)

117
Jurnal penutup untuk perusahaan manufaktur sama dengan jurnal pernutup untuk
perusahaan dagang ditambah perkiraan yang berhubungan dengan kegiatan
produksi. Adapun contohnya adalah sebagai berikut:

Tgl No. Keterangan Ref Debit Kredit


Bukti
2005 Ikhtisar H.P Produksi Rp xxx
Pembelian bahan baku Rp xxx
31 Dec Beban buruh langsung Rp xxx
Beban bahan pembantu Rp xxx
Beban buruh tak langsung Rp xxx
Beban gaji pabrik Rp xxx
Beban listrik, air, telp Rp xxx
Beban perlengkapan pabrik Rp xxx
Beban pemeliharaan Rp xxx
Beban asuransi Rp xxx
Beban penyusutan pabrik Rp xxx
Beban amortisasi pabrik Rp xxx
Beban pabrikase Rp xxx

Setelah ayat jurnal penutup tersebut, perkiraan biaya pabrik akan bersaldo nol,
sementara itu H.P Produksi setelah penutupan akan ditransfer ke Perkiraan
Laba-rugi.

118
Tgl No. Keterangan Ref Debit Kredit
Bukti
2005 Ikhtisar Laba - rugi Rp xxx
Ikhtisar H.P Produksi Rp xxx
31
Dec

Neraca saldo penutup dan jurnal balik neraca saldo penutup dan jurnal balik
sama dengan perusahaan dagang.

Work Sheet

Work Sheet untuk perusahaan terlihat pada contoh berikut, sebagian besar
perkiraan sama dengan perusahaan dagang tapi ada beberapa yang hanya ada
perusahaan manufaktur yaitu:

1. Perkiraan persediaan terdiri dari 3 macam

- Persediaan bahan baku

- Persediaan barang dalam proses

- Persediaan barang jadi

2. Perkiraan biaya terdiri dari 3 jenis

- Beban bahan baku

- Beban upah buruh

- Beban overhead pabrik

119
Biaya di atas disebut biaya produksi, perkiraan biaya lainnya sama dengan
perusahaan dagang. Dalam work sheet perusahaan manufaktur terdapat satu
kolom tambahan yaitu kolom laporan harga pokok produksi, angka-angka ini
diperlukan untuk menghitung harga pokok barang yang selesai di produksi.

Contoh Work Sheet

No Account Title Debet (Rp) Credit (Rp)


1 Cash 18.200 -
2 Marketable Securities 500 -
3 Account Receivable 66.100 -
4 Allowance for bad debt - 1.500
5 Finished good 78.500 -
6 Work in process 55.000 -
7 Direct material 62.000 -
8 Factory supplies 4.700 -
9 Prepaid insurance 1.250 -
10 Land 50.000 -
11 Factory building 240.000 -
12 Accumulation Depr Factory Building - 30.000
13 Factory Equipment 446.000 -
14 Accum depr factory equipment - 111.500
15 Account payable - 5.450
16 Wages & salaries expense payable - 40.150
17 Income tax payable - 13.200
18 Capital - 200.000
19 Retained earning - 537.325
20 Devident 40.000 -
21 Income summary - -
22 Manufacturing summary - -
23 Sales - 915.800
24 Direct material purchases 220.800 -
25 Direct labor 214.250 -
26 Indirect factory labor 48.350 -
27 Depritiation – factory equipment - -

120
28 Factory heat, light & power 21.800 -
29 Depr. Factory Building - -
30 Insurance expense 4.750 -
31 Factory Supplies Expense - -
32 Factory Property Tax 9.750 -
33 Miscellaneous Expense 2.050 -
34 Selling Expense 130.500 -
35 General Expnse 70.700 -
36 Income Tax 52.225 -
Rp. 1.836.925 Rp. 1.836.925

Keterangan untuk adjustment pada tanggal 31 Desember 2005

1. Finished Good per 31 Dec 2005 Rp. 91.000

2. Work in process per 31 Dec 2005 Rp. 65.800

3. Raw material per 31 Dec 2005 Rp. 58.725

4. Factory Supplies per 31 Dec 2005 Rp. 1.800

5. Depreciation for factory building Rp. 6.000

6. Depreciation for factory equipment Rp. 22.000

7. Wages & salaries Exp yang belum dibayar, Direct labor Rp. 4500, Indirect
labor Rp. 950

121
Tgl Keterangan Debet Credit
2005 Manufacturing summary Rp. 62.000
31 Raw material Rp. 62.000
Des Raw material Rp. 58.725
Manufacturing summary Rp. 58.725
Manufacturing summary Rp. 55.000
Work in process Rp. 55.000
Work in process Rp. 65.800
Manufacturing summary Rp. 65.800
Income summary Rp. 78.500
Finished good Rp. 78.500
Finished good Rp. 91.000
Income summary Rp. 91.000
Factory supplies expense Rp. 2.900
Income summary Rp. 2.900
Depreciation factory building Rp. 6.000
Accum depr - factory Rp. 6.000
building Rp. 22.300
Depr-factory equipment Rp. 22.300
Accum depr – factory Rp. 4.500
equipment Rp. 950
Direct labor Rp. 5.450
Indirect labor
Wages & salaries payable
Selanjutnya adjustment di atas dimasukkan dalam worksheet.

122
8.3 Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur

Dari dana yang ada dalam work sheet tadi bisa disusun laporan keuangan yaitu:

• Laporan Harga Pokok Produksi

• Laporan Harga Pokok Penjualan

• Laporan Laba-rugi

• Laporan Perubahan Modal

• Neraca

Laporan H.P Produksi

PT, MAKMUR SALAMINA


STATEMENT OF COST OF GOOD MANUFACTURED
FOR PERIOD ENDED DEC 31, 2005

Work in process Rp. 55.000


Raw material
Raw material (begining) Rp. 62.000
Purchase Rp. 220.800
Cost of material available for used Rp. 282.800
Raw material ending Rp. 58.725
Cost of material used in production Rp. 224.075
Direct labor Rp. 218.750
Factory over head
Direct labor Rp. 49.300
Depr of factory equipment Rp. 22.300
Heat, light & power Rp. 21.800
Properti tax Rp. 9.750

123
Depr. of factory building Rp. 6.000
Insurance expired Rp. 4.750
Factory supplies used Rp. 2.900
Miscellaneous factory used Rp. 2.050
Total factory over head Rp. 118.850
Total manufacturing cost Rp. 561.675
Total WIP during period Rp. 616.675
Work in process ending Rp. 65.800
Cost of good manufactured Rp. 550.875

Laporan Laba – rugi

124
PT, MAKMUR SALAMINA
LAPORAN LABA - RUGI
FOR PERIOD ENDED DEC 31, 2005

Sales Rp. 55.000


Cost of good sold
Finished good (begining) Rp. 78.500
Cost of good manufactured Rp. 550.875
Cost of finished good available Rp. 629.375
Finished good (ending) Rp. 91.000
Cost of good sold Rp. 538.375
Gross Profit Rp. 377.425
Operating Expense
Selling Expense Rp. 130.500
General & Administrative Expense Rp. 88.700
Total Rp. 219.200
Income before tax Rp. 158.225
Income tax Rp. 52.225
Net income Rp. 106.000

Laporan Laba ditahan

PT, MAKMUR SALAMINA


STATEMENT OF COST OF GOOD MANUFACTURED
FOR PERIOD ENDED DEC 31, 2005

125
Retained Earning (beginning) Rp. 537.325
Net income for year Rp. 106.000
Less Deviden Rp. 40.000
Increase in Retained Earning Rp. 66.000
Retained Earning (ending) Rp. 603.325

Neraca (Balance Sheet)

PT, MAKMUR SALAMINA


BALANCE SHEET
FOR PERIOD ENDED DEC 31, 2005

Ayat jurnal penutup (closing entries)


Ayat jurnal pada perusahaan manufacture untuk menutup semua biaya produksi ke
Manufacturing Summary penutupan perkiraan lainnya sama dengan perusahaan
dagang.

Keterangan Debet Credit


A Manufacturing Summary Rp. 558.400
Raw material purchase Rp. 220.800
Direct labor Rp. 218.750
Indirect factory labor Rp. 49.300
Depr factory equipment Rp. 22.300

126
Factory heat, light & power Rp. 21.800
Factory property tax Rp. 9.750
Depr. factory building Rp. 6.000
Insurance Exp – factory Rp. 4.750
Factory supplies exp Rp. 2.900
Miscellaneous factory exp Rp. 2.050
B Sales Rp. 915.800
Income summary Rp. 915.800
C Income summary Rp. 822.300
Selling expense Rp. 130.500
Gen & Amd Expense Rp. 88.700
Income tax Rp. 52.225
Manufacturing summary Rp. 550.875
D Income summary Rp. 106.000
Retained earning Rp. 106.000
E Retained earning Rp. 40.000
Deviden Rp. 40.000

Soal Latihan

Trial Balance PT. MAKMUR SALAMINA memperlihatkan keadaan 31-12-2005

No Account Title Debet Credit


1 Cash Rp 41.800
2 Marketable Securities Rp 10.000
3 Account Receivable Rp 47.450
4 Allowance for bad debt Rp 900
5 Finished good Rp 36.800
6 Work in proses Rp 32.100
7 Raw material Rp 42.000
8 Prepaid Insurance Rp 10.000
9 Land Rp 50.000
10 Building Rp 260.000
11 Acumulation Depr. Building Rp 90.000
12 Machine Rp 100.000
13 Acumulation Depr. Machine Rp 25.000
14 Factory Equipment Rp 172.650
Acumulation Depr
15 Equipment Rp 97.750

127
16 Ofiice Equipment Rp 30.000 Rp 10.000
Acumulation Depr. Office
17 Equipment Rp 135.900
18 Account Payable
19 Income Tax Payable Rp 300.000
20 Wage Payable Rp 127.100
21 Capital
22 Retained Earning
23 Deviden Rp 20.000
24 Income Summary Rp 668.500
25 Manufacturing Summary
26 Sales
27 Sales Return Allowance Rp 500
28 Raw Material Purchases Rp 197.000
29 Wages labor Rp 178.900
30 Factory Over Head Rp 65.150
31 Selling Expense Rp 70.275
32 General & Adm Expense Rp 45.825
33 Interest Expense Rp 3.500
Income Tax Rp 23.000
Rp 1.455.150 Rp 1.455.150

Informasi Tambahan
a. Inventory per Dec 31, 2005 (Rp)
Finished Good 65.000
Work in process 40.000
Raw Material 45.000
b. Income Payable
c. Piutang usaha yang tidak tertagih menjadi 3.500
d. Asuransi dibayar dimuka yang sudah jatuh tempo
Factory Over Head 4.520
General & Adm Expense 1.200

128
PENGANTAR
AKUNTANSI
129
2

BAB 1

KAS

1.1 Pengertian Kas

Setiap perusahaan memerlukan kas dalam menjalankan aktivitas usahanya baik


sebagai alat tukar dalam memperoleh barang atau jasa maupun sebagai investasi
dalam perusahaan tersebut. Untuk lebih jelasnya mengenai pengertian kas, Standar
Akuntansi Keuangan (2002 : 85) memberikan pengertian sebagai berikut : “Kas
adalah alat pembayaran yang siap dan bebas digunakan untuk membiayai kegiatan
umum perusahaan”. Yang dimaksud dengan bank adalah sisa rekening giro
perusahaan yang dapat dipergunakan secara bebas untuk kegiatan umum perusahaan.

Sedangkan menurut Zaki Baridwan (2003 :85) “ kas merupakan suatu alat
pertukaran dan digunakan sebagai suatu ukuran dalam akuntansi”. Dalam neraca kas

130
merupakan aktiva yang paling sering berubah. Hampir dalam setiap transaksi dengan
pihak luar selalu mempengaruhi kas.

Dari defenisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kas merupakan alat
pertukaran dan alat pembayaran yang diterima untuk pelunasan hutang, dan dapat
diterima sebagai setoran dengan jumlah sebesar nilai nominalnya, juga simpanan
bank atau tempat lain yang dapat diambil sewaktu-waktu.

Kas sangat penting artinya karena, menggambarkan daya beli dan dapat ditransfer
segera dalam perekonomian pasar kepada setiap individu dan organisasi dalam
memperoleh barang dan jasa yang diperlukan. Kas juga menjadi begitu penting
karena, perorangan, perusahaan, dan bahkan pemerintah harus mempertahankan
posisi liquiqitas yang memadai, yakni mereka harus memiliki sejumlah uang yang
mencukupi untuk membayar kewajiban pada saat jatuh tempo agar entitas
bersangkutan dapat beroperasi.

Kas merupakan aktiva yang paling lancar dalam arti istilah kas sehari-hari dapat
disamakan dengan uang tunai yang dapat dijadikan sebagai alat pembayaran yang
sah. Persediaan kas yang cukup maka perusahaan akan beroperasi dengan lancar
terutama dalam kegiatan pengeluaran kas yang meliputi pembelian barang dan jasa,
memiliki harta, membayar hutang, membiayai operasi serta kegiatan-kegiatan
lainnya. Dalam aktiva perusahaan, kas mrupakan baik secara langsung maupun tidak
langsung serta merupakan dasar pengukuran dan pencatatan semua data transaksi.
Dalam penyajian neraca maka kas biasanya dicantumkan pada urutan pertama dari
perkiraan yang merupakan aktiva lancar karena kas dapat digunakan tanpa
memerlukan waktu lama.

Kas dapat dikatakan merupakan satu-satunya pos yang paling penting dalam
neraca. Karena berlaku sebagai alat tukar dalam perekonomian kita, kas terlihat
secara langsung atau tidak langsung dalam hampir semua transaksi usaha. Hal ini
sesuai dengan sifat-sifat kas yaitu :

131
a. Kas terlalu terlibat dalam hampir semua transaksi perusahaan.

b. Kas merupakan harta yang siap dan muda untuk digunakan dalam transaksi
serta ditukarkan dengan harta lain, mudah dipindahkan dan beragam tanpa
tanda pemilik.

c. Jumlah uang kas yang dimiliki oleh perusahaan harus di jaga sedemikian rupa
sehingga tidak terlalu banyak dan tidak kurang.

Pengolahan kas dapat dikriteriakan sebagai berikut :

a. Diakui secara umum sebagai alat pembayaran yang sah.

b. Dapat digunakan setiap saat bila dikehendaki

c. Penggunaannya secara bebas

d. Diterima sesuai nilai nominalnya pada saat diuangkan tersebut.

Kas terdiri dari saldo kas yang ditangan perusahaan dan termasuk rekening giro.
Setoran kas adalah asset yang dimiliki untuk memenuhi komitmen kas jangka
pendek, bukan untuk investasi dan dengan cepat dapat dijadikan menjadi kas.

Arus kas adalah arus masuk dan merupakan salah satu dari beberapa elemen
laporan keuangan yang dipublikasikan. Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari
komponen-komponen berikut ini.

a. Neraca

b. Laporan Laba Rugi

c. Laporan Perubahan Modal

d. Laporan Arus Kas dan

e. Catatan atas Laporan keuangan

132
Sebagai sebahagian dari laporan keuangan, laporan arus kas merupakan alat
komunikasi artinya bahwa laporan arus kas itu adalah suatu alat yang digunakan
untuk mengkomunikasikan kas dari suatu perusahaan tersebut. Dengan laporan arus
kas para pemakai dapat mengevaluasi perubahan dalam aktiva bersih perusahaan,
struktur keuangan termasuk likuiditas dan solvabilitas dan kemampuan untuk
mempengaruhi jumlah serta waktu arus kas dalam rangka adaptasi dengan perubahan
keadaan dan peluang.

Likuiditas mengacu kepada kedekatan pada kas dari aktiva dan kewajiban-
kewajiban. Solvabilitas mengacu kepada kemampuan perusahaan untuk melunasi
utangnya pada saat jatuh tempo. Dan fleksibilitas keuangan mengacu kepada
kemampuan perusahaan untuk bereaksi dan beradaptasi terhadap memburuknya
keuangan serta keutuhan dan peluang yang tak terduga. Data tersebut akan lebih
berarti bagi pihak yang berkepentingan apabila data tersebut diperbandingkan untuk
dua periode atau lebih dan dianalisa lebih lanjut. Idealnya laporan arus kas dapat
menunjukkan sampai seberapa jauh efisiensi pelaksanaan kegiatan serta
perkembangan perusahaan telah dicapai manajemen. Informasi tentang arus kas suatu
perusahaan berguna bagi para pemakai laporan keuangan sebagai dasar untuk menilai
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas dan menilai keutuhan
perusahaan untuk menggunakan arus kas tersebut.

1.2 Prosedur Penerimaan & Pengeluaran Kas

Pada umumnya suatu system pengawasan intern terhadap kas akan memisahkan
fungsi-fungsi penyimpanan, pelaksana dan pencatatan. Tanpa adanya fungsi seperti
diatas, akan mudah menggelapkan uang kas.

Karena bentuk dan jenis perusahaan ada bermacam-macam, maka system


pengawasan intern suatu perusahaan akan berbeda dengan perusahaan lain . Tetapi

133
ada dasar-dasar tertentu yang bisa digunakan sebagai pedoman untuk mengadakan
pengawasan terhadap kas.

1. Penerimaan Uang
Penerimaan uang dalam suatu perusahaan bisa berasal dari beberapa
sumber antara lain dari penjualan unai, pelunasan piutang, atau dari pinjaman.
Prosedur-prosedur pengawasan yang dapat digunakan antara lain :

1. Harus ditunjukkan dengan jelas fungsi-fungsi dalam penerimaan kas


dan setiap penerimaan kas harus segera dicatat dan disetor ke bank.
2. Diadakan pemisahaan fungsi antara pengurusan kas dengan fungsi
pencatatan kas.
3. Diadakan pengawasan yang ketat terhadap fungsi penerimaan dan
pencatatan kas. Selain itu setiap hari harus dibuat laporan kas.
2. Pengeluaran kas
Pengeluaran kas dalam suatu perusahaan itu adalah untuk membayar
bermacam-macam transaksi. Apabila pengawasan tidak dijalankan dengan
ketat, sering kali jumlah pengeluaran diperbesar dan selisihnya digelapkan.
Beberapaprosedur pengawasan yang penting sebagai berikut :

1. Semua Pengeluaran uang menggunakan cek, kecuali untuk


pengeluaran-pengeluaran kecil dibayar dari kas kecil.
2. Dibentuk kas kecil yang diawasi dengan ketat.
3. Penulisan cek hanya apabila didukung bukti-bukti (dokumen) yang
lengkap atau digunakan system voucher.
4. Dipisahkan antara orang-orang yang mengumpulkan bukti-bukti
pengeluaran, yang menulis cek, yang menandatangani cek dan yang
mencatat pengeluaran kas.
5. Diadakan pemeriksaan intern dengan jangka waktu yang tidak tentu.
6. Diharuskan membuat laporan kas harian.

134
Dengan diterapakan prinsip-prinsip pengawasan intern terhadap kas seperti
yang telah disebutkan diatas, timbul beberapa masalah, yaitu mengenai pembentukan
kas kecil dan adanya rekening giro bank yang memerlukan dilakukannya rekonsiliasi
bank.

1.3 Kas Kecil


Dana kas kecil adalah uang kas yang disediakan untuk membayar pengeluaran –
pengeluaran yang jumlahnya relative kecil dan tidak ekonomis bila dibayar dengan
cek. Dalam hubungannya dengan kas kecil, ada 2 metode yang dapat digunakan yaitu
(a) system imprest (b) metode fluktuasi.

a. Sistem Imprest.
Didalam system ini jumlah dalam rekening kas kecil selalu tetap, yaitu sebesar
cek yang diserahkan kepada kasir kas kecil untuk membentuk dana kas kecil. Oleh
kasir kas kecil, cek tadi diuangkan ke bank dan uangnya digunakan untuk membayar
pengeluaran-pengeluaran kecil. Setiap kali melakukan pembayaran kasir kas kecil
harus membuat bukti pengeluaran.

Prosedur akuntansi untuk dana kas kecil dengan system imprest sebagai berikut :

135
Misalnya PT.X pada tanggal 1 Desember 2008 membentuk dana kas kecil sebesar
Rp100.000,00. Pengeluaran kas kecil sampai tanggal 19 Desember 2009 sebesar
Rp90.000,00 dengan rincian sebagai berikut :

Biaya angkut Rp15.000,00


Listrik 17.000,00
Telpon 28.000,00
Administrasi kantor 30.000,00

Pada tanggal 19 Desember 2005 dilakukan pengisian kembali sebesar Rp90.000,00


Mulai tanggal 20 Desember sampai dengan 31 Desember 2008 pengeluaran kas kecil
sebesar Rp80.000,00 dengan rincian sebagai berikut :

Biaya kirim penjualan Rp25.400,00


Langganan surat kabar 4.750,00
Biaya rapat dan pertemuan 30.850,00
Biaya cetak formulir 19.000,00
Kas Rp80.000,00

Apabila pada tanggal 31 Desember 2008 tidak dilakukan pengisian kembali maka kas
kecil jumlahnya tinggal Rp20.000,00 dan yang Rp80.000,00 sudah dikeluarkan untuk
membayar biaya-biaya. Karena tidak dilakukann pengisian kembali maka biaya-biaya
sejumlah Rp80.000,00 tersebut tidak dicatat. Oleh karena itu pada tanggal 31
Desember 2008 dibuat jurnal penyesuaian sebagai berikut :

Biaya kirim penjualan Rp25.400,00


Surat kabar,majalah dll 4.750,00
Biaya rapat dan pertemuan 30.850,00
Biaya cetak 19.000,00

136
Kas kecil Rp80.000,00

b. Metode Fluktuasi
Dalam metode fluktuasi pembentukan dana kas kecil dilakukan dengan cara
sama seperti dalam metode system imprest. Perrbedaan dengan system imprest adalah
dalam metode fluktuasi saldo rekening kas kecil tidak tetap, tetapi berfluktuasi sesuai
dengan jumlah pengisian kembalidan pengeluaran-pengeluaran dari kas kecil. Dalam
metode fluktuasi setiap terjadi pengeluaran uang dari kas kecil langsung dicatat. Jadi
buku pengeluarna kas kecil mempunyai fungsi sebagai buku jurnal dan menjadi dasar
pembukuan kerekening-rekening buku besar.Karena pencatatan dilakukan setaip kali
terjadi pengeluaran, maka rekening kas kecil didebit sebesar uang yang diterima.
Misalnya PT.X membentuk kas kecil sebesar Rp100.000,00 pada tanggal 1 Desember
2008.

Transaksi-transaksi pengeluaran kas kecil sebagai berikut :

2008
2 Desember : Membayar Koran Rp7.200,00
3 Desember : Membayar biaya angkut 45.000,00
7 Desember : Biaya adinistrasi dan umum 17.800,00
9 Desember : Membayar reeking listrik 14.000,00
10Desember : Dana kas kecil diisi kembali 75.000,00

Dengan menggunakan metode fluktuasi transaksi-transaksi di atas dicatat dengan


jurnal-jurnal sebagai berikut :

2008
1 Desember : Kas kecil Rp100.000,00
Kas Rp100.000,00

137
2 Desember : Biaya Koran Rp7.200,00
Kas kecil Rp7.200,00
3 Desember : Biaya angkut Rp45.000,00
Kas kecil Rp45.000,00
7 Desember : Biaya adm.Umum Rp17.800,00
Kas kecil Rp17.800,00
9 Desember : Biaya listrik Rp14.000,00
Kas kecil Rp14.000,00
10 Desember : Kas Kecil Rp75.000,00
Kas Rp75.000,00
Jurnal-jurnal tersebut apabila dibukukan kedalam rekening kas kecil akan nampak
sebagai berikut :

Kas Kecil

2005 2005
Desember 1 Rp100.000,00 Desember 2 Rp7.200,00
10 75.000,00 3 45.000,00
7 17.800,00
9 14.000,00

Dari rekening kas kecil di atas dapat dilihat bahwa saldonya berfluktuasi sesuai
dengan penerimaan dan pengeluaran kas kecil.

1.4 Tujuan Dan Rekonsiliasi Bank

Rekonsiliasi Bank, adalah suatu sarana untuk membandingkan catatan uang kas
perusahaan yang ada di perusahaan (cash on hand) dan yang ada di Bank (cash at
bank).

138
Pengendalian intern kas yang baik akan dapat memberi informasi mengenai
sumber kas perusahaan, dikeluarkan untuk apa dan berapa saldo kas setiap saat dapat
diketahui. Oleh karena itu, akuntan harus dapat menjelaskan sebab-sebab terjadinya
perbedaan antara catatan perusahaan dengan laporan bank ( rekening koran ), dan
menentukan jumlah saldo rekening giro yang sesungguhnya setiap bulannya. Proses
ini disebut rekonsiliasi bank.
Tujuannya adalah sebagai pengendalian intern dengan cara menemukan dan
mengkoreksi kesalahan serta hal yang tidak wajar lainnya.

Alasan dilakukan rekonsiliasi bank adalah:

1. Adanya informasi yang belum dicatat oleh perusahaan, seperti:

a. Bank Charge (biaya bank), yaitu biaya administrasi yang dibebankan bank
ke perusahaan, tetapi oleh perusahaan belum dicatat.

b. Bank Transfer (pemindah bukuan), yaitu pengiriman uang ke perusahaan


melalui bank dan dan belum diketahi oleh perusahaan.

c. Dishonoured Cheque (cek kosong), yaitu cek yang berasal dari nasabah
dan pada saat diuangkan oleh perusahaan tidak ada dananya, maka
informasi yang sudah dicatat harus dihilangkan dari catatan tersebut.

d. Mistakes (kesalahan), yaitu kesalahan yang terjadi dan dilakukan oleh


pegawai perusahaan, misalnya salah menjumlah, menambah, mengali,
membagi, menulis dan kesalahan lainnya.

2. Adanya informasi yang belum dicatat oleh bank, seperti:

139
a. Unpresented Cheque (cek yang belum dicairkan), yaitu cek yang
dibayarkan oleh perusahaan kepada pihak lain, tapi oleh pihak tersebut
belum dicairkan.

b. Deposit In Transit / Deposit Not Credited / Outstanding Deposit (setoran


dalam perjalanan), yaitu setoran perusahaan ke bank, yang belum tercatat
pada Laporan Bank (Bank Statement) untuk bulan tersebut, hal ini terjadi
karena selisih waktu.

c. Mistakes (kesalahan), yaitu kesalahan yang dilakukan oleh pihak Bank


seperti membebankan cek perusahaan lain ke dalam rekening perusahaan
kita, serta kesalahan lainnya.

Prosedur Rekonsiliasi Bank

Informasi yang dimiliki oleh perusahaan, adalah jurnal penerimaan kas dan
jurnal pembayaran kas, atau Buku Kas. Selanjutnya setiap akhir bulan perusahaan
akan menerima rekening Koran (Bank Statement) dari bank, maka pada saat akan
mencari kesalahan dari kedua catatan tersebut, lakukan langkah di bawah ini:

1. Bandingkan kolom Kredit Laporan Bank (Bank Statement – Cr), dengan


Buku Kas – Dr atau JKM, bilamana informasi keuangan ada pada kedua
laporan tersebut, maka beri tanda tick (√) pada kedua informasi tersebut. Tapi
bilamana informasi keuangan hanya ada pada Laporan Bank saja, maka
informasi tadi harus dicatat pada Buku Kas – Dr / JKM sebagai penyusaian.
Selanjutnya bilamana informasi hanya ada pada Buku Kas – Dr / JKM, maka
pada informasi tadi beri tanda DIT (deposit intransit). Bilamana semua
informasi sudah diberi tanda dan penyesuaian sudah dibuat, maka jumlahkan
(total) Buku Kas – Dr / JKM tadi.

140
2. Bandingkan kolom Debet Laporan Bank (Bank Statement – Dr), dengan Buku
Kas – Kr / JKK, bilamana informasi keuangan ada pada kedua laporan
tersebut, maka beri tanda tick (√) pada kedua informasi tersebut. Tapi
bilamana informasi keuangan hanya ada pada Laporan Bank saja, maka
informasi tadi harus dicatat pada Buku Kas – Kr / JKK, sebagai penyesuaian.
Selanjutnya bilamana informasi hanya ada pada Buku Kas – Kr / JKK, maka
pada informasi tadi beri tanda UP (Unpresented Cheque). Bilamana semua
informasi sudah diberi tanda dan penyesuaian sudah dibuat, maka jumlahkan
(total) Buku Kas – Kr / JKK tadi.

3. Kemudian cari saldo akhir dari Buku Kas tersebut, dengan membandingkan:

Saldo Awal (Dr) + Total Penerimaan – Total Pengeluaran = Saldo Akhir


(Dr/Kr)

Saldo Awal (Kr) – Total Penerimaan + Total Pengeluaran = Saldo Akhir


(Dr/Kr)

4. Kemudian perusahaan membuat Laporan Rekonsiliasi Bank, dengan format


seperti di bawah ini:

Nama Perusahaan

Laporan Rekonsiliasi Bank, per…………………

Saldo kas per bank ( /Kr) ………………………………………… Rp. xxxx

141
/- Unpresented Cheque …………………………………………. Rp. xxxx

Saldo ……………………………………………………………… Rp. xxxx

+/ Deposit Intransit ……………………………………………… Rp. xxxx

Saldo ……………………………………………………………… Rp. xxxx

+/- Koreksi Kesalahan …………………………………………… Rp. xxxx

Saldo kas per Bank (Dr/Kr) ……………………………………… Rp. xxxx

Pada saat membuat laporan rekonsiliasi bank, perhatikan saldo akhir dari rekening
Koran, bilamana bersaldo Dr + Unpresented Cheque – Deposit Intrasit +/- Koreksi
Kesalahan. Tapi bila bersaldo Kr – Unpresented Cheque + Deposit Intransit +/-
Koreksi Kesalahan.

Selanjutnya bandingkan maka Saldo Kas harus = Saldo Laporan Rekonsiliasi

1.5 Laporan Rekonsiliasi Bank

Apabila setiap penerimaan uang disetor ke bank dan setiap pengeluaran uang
(kecuali jumlahnya relative kecil) menggunakan cek maka rekening kas akan dapat
dibandingkan dengan laporan bank. Biasanya laporan bank diterima bulanan dan akan
direkonsiliasi dengan catatan kas dan catatan bank. Selain itu rekonsiliasi juga beguna
untuk mengetahui penerimaan atau pengeluaran yang sudah terjadi di bank tetapi
belum dicatat oleh perusahaan.

142
Rekonsiliasi laporan bank sebaiknya dibuat oleh pegawai yang tidak mempunyai
kepentingan terhadap kas, agar penyusunan rekonsiliasi bank ini dapat digunakan
untuk mengecek catatan-catatan kas dan bank. Dalam membuat rekonsiliasi laporan
bank perlu diketahui bahwa yang direkonsiliasikan itu adalah catatan perusahaan dan
bank, sehingga harus dibuat perbandingan antara keduanya agar dapat diketahui
perbedaan-perbedaan yang ada.

Hal-hal yang menimbulkan perbedaan dapat digolongkan sebagai berikut :


1. Elemen-elemen yang oleh perusahaan sudah dicatat sebagai penerimaan tetapi
belum dicatat oleh bank.
Contoh :
a. Setoran yang dikirimkan ke bank pada akhir bulan tetapi belum
diterima oleh bank sampai bulan berikutnya (setoran dalam
perjalanan).
b. Setoran yang diterima oleh bank pada akhir bulan, atetapi dilaporkan
sebagai setoran bulan berikutnya, karena laporan bank sudah terlanjur
dibuat (setoran dalam perjalanan).
c. Uang tunai yang tidak disetorkan ke bank.
2. Elemen-elemen yang sudah dicatat sebagai penerimaan oleh bank tetapi
belum dicatat oleh perusahaan.

Contoh :
a. Bunga yang diperhitungkan oleh bank terhadap simpanan, tetapi belum
dicatat dalam buku perusahaan (jasa giro).
b. Penagihan wesel oleh bank, sudah dicatat oleh bank sebagai
penerimaan tetapi perusahaan belum mencatatnya.

3. Elemen-elemen yang sudah dicatat oleh perusahaan sebagai pengeluaran


tetapi bank belum mencatatnya.

143
Contoh :
a. Cek-cek yang beredar (outstanding checks) yaitu cek yang sudah
dikeluarkan oleh perusahaan dan sudah dicatat sebagai pengeluaran
kas tetapi oleh yang meneriman belum diuangkan sehingga bank
belum mencatatnya sebagai pengeluaran.
b. Cek yang sudah ditulis dan sudah dicatat dalam jurnal pengeluaran
uang tetapi ceknya belum diserahkan kepada yang dibayar,maka cek
tersebut belum merupakan pengeluaran oleh karena itu jurnal
pengeluaran kas harus dikoreksi pada akhir periode.
4. Elemen-elemen yang sudah dicatat oleh bank sebagai pengeluaran tetapi
belum dicatat oleh perusahaan.
Contoh :
a. Cek dari langganan yang ditolak oleh perusahaan karena kosong tetapi
belum dicatat oleh perusahaan.
b. Bunga yang diperhitungkan atas overdraft (saldo kredit kas) tetapi
belum dicatat oleh perusahaan.
c. Biaya jasa bank yang belum dicatat oleh perusahaan.

Rekonsiliasi bank dapat dibuat dalam 2 macam cara yang berbeda :

1. Rekonsiliasi saldo akhir yang bisa dibuat dalam 2 bentuk :


a. Laporan rekonsiliasi saldo bank dan saldo kas untuk menunjukkan
saldo yang benar
b. Laporan rekonsiliasi saldo bank kepada saldo kas.
2. Rekonsiliasi saldo awal, penerimaan, pengeluaran dansaldo akhir yang
bisa dibuat 2 bentuk :
a. Laporan rekonsiliasi saldo bank kepada saldo kas (4 kolom).
b. Laporan rekonsiliasi saldo bank dan saldo kas untuk menunjukan
saldo yang benar (8 kolom).

144
Rekonsiliasi Saldo akhir
Contoh penyusunan laporan rekonsiliasi saldo akhir disusun berdasarkan data
yang diperoleh dari catatan kas PT. X pada tanggal 31 Desember 2008 sebagai
berikut:

Dari laporan bank


Jasa giro Rp8.900,00
Biaya bank Rp1.600,00
Saldo akhir Rp1.600,00

Dari rekening
Setoran dalam perjalanan 180.000,00
Uang kas yang tidak disetor 40.000,00

Cek-cek yang telah beredar


No.001 60.000,00
No.002 80.000,00
No.003 121.000,00
Rp261.200,00

Kesalahan mencatat penerimaan Rp101.200,00


dicatat sebesar Rp102.100 900,00
Saldo akhir Rp614.000,00

Data diatas jika disusun dalam laporan rekonsiliasi saldo bank dan saldo kas
untuk menunjukkan saldo yang benar sebagai berikut :

145
PT.X
Rekonsiliasi Laporan Bank
31 Desember 2008

Saldo per laporan bank Rp661.600 Saldo kas Rp614.000

Ditambah : Ditambah :
Setoran dalam perjalanan Rp180.000 Jasa giro Rp 8.900
Uang kas yang tidak disetor Rp 40.000
Rp220.000 Rp622.900

Rp881.600

Dikurangi : Dikurangi :
Cek yang beredar : Biaya jasa bank Rp1.600
No. 001 Rp60.000 Koreksi penerimaan 900
No.002 80.000
No.003 121.200 Rp 2.500
Rp261.200

Saldo bank yang benar Rp620.400 Saldo kas yang benar Rp620.400
========= =========

146
Apabila disusun dalam bentuk kedua yaitu rekonsiliasi saldo bank kepada
saldo kas maka bentuknya sebagai berikut :
PT. X
Rekonsiliasi Laporan Bank
31 Desember 2008

Saldo per laporan bank Rp 661.600


Ditambah :
Setoran dalam perjalanan Rp180.000
Uang kas yang tidak disetor 40.000
Biaya bank 1.600
Koreksi penerimaan 900

222.500

Rp 884.100
Dikurangi :
Cek-cek yang beredar :
No.001 Rp 60.000
No.002 80.000
No.003 121.200

Rp261.200

147
Jasa giro 8.900
Rp 270.100

Saldo kas Rp 614.000


=========
Sesudah membuat rekonsiliasi, perusahaan harus mencatat elemen-elemen
yang mempengaruhi saldo kas . Elemen-elemen itu dapat dilihat dalam rekonsiliasi
pertama yaitu mengenai jasa giro, biaya bank dan koreksi kesalahan penerimaan.
Tetapi bila rekonsiliasinya dibuat dengan bentuk kedua, pemegang buku masih harus
meneliti elemen-elemen yang mempengaruhi kas yang perlu dicatat.

Sebagai haasil rekonsiliasi di atas dalam buku-buku PT.X dibuat jurnal


sebagaiberikut :
Kas Rp8.900
Pendapatan jasa giro Rp8.900

Macam-macam biaya umum Rp1.600


Kas Rp1.600

Piutang Rp900
Kas Rp900

Jurnal-jurnal diatas dapat digabung dalam satu jurnal sebagai berikut :

Kas Rp6.400
Macam-macam biaya umum Rp1.600
Piutang 900
Pendapatan jasa giro Rp8.900

148
Latihan Soal

1. Bagian Pemasaran PD Setia, membentuk Kas Kecil dan memberikan


informasi berikut:

1/6/00 Dibentuk kas kecil dengan data sebesar Rp 150.000,-

dengan cek AX 1015

2/6/00 Dibeli tinta printer senilai Rp 25.000,- voucher 001

3/6/00 Dibeli kue, aqua, kopi Rp 27.500,- voucher 002

4/6/00 Dibeli perangko, materai dan amplop Rp. 12.450,- voucher 003

5/6/00 Dibeli kertas HVS polos Rp 25.500,- voucher 004

6/6/00 Dibeli pen boxy & tinta printer Rp 32.500,- voucher 005

7/6/00 Dibeli nasi bungkus dan aqua senilai Rp 15.500,- voucher 006

8/6/00 Pengisian kembali kas kecil Rp 125.000,- cek AX 1017

Diminta : Buat jurnal dan buku kas kecil yang diperlukan.

2. Bagian pembelian PD Setia, sudah membentuk kas kecil sejak dua tahu yang
lalu, dengan saldo setelah pengisian kembali selalu sebesar Rp. 250.000,-

07/6/00 Pengisian kembali kas kecil Rp. 221.350,- dengan cek XY 2115

08/6/00 Dibeli teh, gula, kopi dan aqua seharga Rp. 15.450,- voucher 101

149
09/6/00 Dibeli kertas HVS dan tonner Rp. 4.750,- voucher 102

10/6/00 Dibeli perangko, materai dan amplop Rp. 14.550,- voucher 103

11/6/00 Dibeli kue kering, dan aqua seharga Rp. 17.500,- voucher 104

12/6/00 Dibayar ongkos taksi Rp. 25.000,- voucher 105

13/6/00 Dibeli tinta printer & pen boxy seharga Rp. 47.500,- voucher 106

14/6/00 Dibeli tiket kereta api seharga Rp. 60.000,- voucher 107

14/6/00 Pengisian kembali kas kecil dengan cek XY 2118

15/6/00 Dibeli teh, gula, kopi dan aqua Rp. 12.500,- voucher 108

16/6/00 Dibayar ongkos taksi Rp. 25.000,- voucher 109

17/6/00 Dibeli kertas HVS dan tonner Rp. 45.750,- vouher 110

18/6/00 Dibeli perangko, materai dan amplop Rp. 12.150,- voucher 111

19/6/00 Dibeli tiket kereta api seharga Rp. 60.000,- voucher 112

20/6/00 Dibeli nasi bungkus dan aqua Rp. 25.750.- voucher 113

21/6/00 Dibeli pen boxy dan kertas HVS Rp. 65.250,- voucher 114

21/6/00 Pengisian kembali kas kecil dengan cek XY 2121

Diminta: Buat jurnal dan buku kas kecil yang sesuai

3. Dibawah ini adalah ringkasan dari Buku Kas dan Laporan Bank kepunyaan
PT Angkasa, saudara diminta untuk mempersiapkan Laporan Rekonsiliasi
Bank, per 30 April 2002

150
Tgl Keterangan Jumlah Tgl Keterangan Jumlah
25/4/02 Ringkasan Penerimaan 1,800,000 25/4/02 Ringkasan Pembayaran 1,400,000
27/4/02 Piutang-Japerson 60,000 27/4/02 Utang-Miki (cek No. 45) 110,000
28/4/02 Piutang-Smith 100,000 28/4/02 Utang-Ali (cek N0. 46) 20,000
29/4/02 Penjualan tunai 40,000 30/4/02 Utang-Lili (cek No. 47) 70,000
30/4/02 Penjualan tunai 250,000

BANKBNI
LAPORAN BANK
Tgl Keterangan Debet (Rp) Kredit (Rp) Saldo (Rp)
2002 25 Saldo - - 100,000
April 28 C/ C - 60,000 460,000
CekNo. 45 110,000 - 350,000
29 Transfer - 200,000 550,000
C/ C - 100,000 650,000
30 BiayaBank 20,000 - 630,000
C/ C - 40,000 670,000

151
BAB 2

SURAT BERHARGA

2.1 Pengertian, Sifat, Pencatatan Perolehan Surat Berharga (Saham),


Penerimaan Deviden

Menurut Soemarso SR dalam bukunya Akunansi Suatu Pengantar, Surat Berharga


dapat berbentuk saham, obligasi dan surat berharga lain yang dimiliki perusahaan
dalam rangka penanaman sementara untuk memanfaatkan dana selama tidak
digunakan. Untuk dapat diklasifikasikan sebagai penanaman sementara, surat
berharga harus mempunyai sifat sebagai berikut:

Sifat Investasi Sementara (jangka pendek)

Suatu surat berharga (saham & obligasi) dapat dikatakan sebagai suatu investasi
jangka pendek (sementara) bilamana mempunyai kriteria sebagai berikut:

a. Mempunyai pangsa pasar yang stabil, sehingga mudah diperjual belikan.

b. Pemiliknya bertujuan untuk dijual kembali dalam waktu cepat, bilamana


terjadi kebutuhan akan dana untuk kegiatan operasional perusahaan.

152
c. Akibatnya pemilikan surat berharga tadi bukan bertujuan untuk menguasai
perusahaan lain.

Pencatatan Perolehan Surat Berharga (Saham)

Investasi dalam saham dimulai saat pembelian dan akhiri saat penjualan. Dalam
pembelian saham untuk menghitung harga perolehan adalah:

Lembar saham x nilai nominal x % kurs + biaya pembelian = harga perolehan atau

Lembar saham x harga kurs + biaya pembelian = harga perolehan

Biaya pembelian biasanya dapat berupa biaya komisi, biaya produksi atau biaya
materai. Pada saat saham tadi dijual kembali, yang harus diperhatikan adalah harga
perolehannya/ harga belinya, apalagi bilamana pembelian terjadi lebih dari satu kali,
maka pada saat penjualan dapat digunakan metode berikut:

a. Metode Identifikasi Fisik

b. Metode FIFO

c. Metode LIFO

d. Metode Average

Selain itu pada saat penjualan harus dihitung harga jual dan dibandingkan dengan
harga perolehan sehingga akan dapat diketahui berapa besarnya laba atau rugi. Harga
jual dihitung: lembar x nilai nominal x % kurs jual – biaya penjualan = harga jual
atau Lembar x harga kurs jual – biaya penjualan = harga jual, selanjutnya baru
dibandingkan antara harga jual : harga perolehan = laba/rugi penjualan.

153
2.2 Pencatatan Perolehan Surat Berharga (Obligasi)

Investasi dalam obligasi dimulai saat pembelian dan diakhiri saat penjualan.
Prosedur pembeliannya sama seperti saham. Perhitungan saat pembelian dan
penjualannya pun sama seperti pada saham. Tetapi ada hal lain yang perlu
diperhatikan dalam obligasi, yaitu tanggal kupon dan bunga berjalan. Tanggal kupon
adalah tanggal penerimaan bunga obligasi, sedangkan bunga berjalan adalah bunga
yang harus diterima atau dibayarkan, karena pembelian atau penjualan terjadi diantara
tanggal kupon.

Pencatatan bunga berjalan ini dapat dilakukan sebagai berikut:

I. Metode harta

Dalam metode ini pembayaran bunga berjalan pada saat pembelian obligasi akan
dicatat dalam rekening piutang bunga, dengan jurnal sebagai berikut:

Piutang bunga Rp xxx

Kas Rp xxx

Sedangkan pada waktu penerimaan bungan obligasi pada tanggal kupon:

Kas Rp xxx

Piutang bunga Rp xxx

Pendapatan bunga Rp xxx

II. Metode laba rugi/ income statement approach

Dalam metode ini pembayaran bunga berjalan pada saat pembelian obligasi akan
dicatat dalam rekening pendapatan bunga, dengan jurnal berikut:

154
Pendapatan bunga Rp xxx

Kas Rp xxx

Sedangkan pada waktu penerimaan bunga obligasi pada tanggal kupon:

Kas Rp xxx

Pendapatan bunga Rp xxx

Pada saat obligasi dijual, si penjual akan menerima sebesar harga jual bersih,
juga akan menerima bungan berjalan dari obligasi yang dijual.

Selisih harga jual bersih dengan harga perolehan obligasi akan diperoleh laba
atau rugi penjualan obligasi, jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut:

Kas Rp xxx Kas Rp xxx

Rugi Penjualan Rp xxx Laba Penjualan Rp xxx

Surat Berharga-Obl Rp xxx Surat Berharga-Obl Rp xxx

II.3 Pencatatan Perolehan, Penjualan, Penilaian Dan Pelaporan Surat Berharga

Cara pemilikan Surat Berharga

Cara kepemilikan atas saham dan obligasi, dapat diketahui melalui bursa saham
(efek), atau melalui mass media seperti Koran ataupun langsung dari perusahaan yang
bersangkutan. Informasi lengkap mengenai perusahaan yang diinginkan para peminat
dapat mengetahuinya dari prospectus, yang diterbitkan oleh perusahaan tersebut.

Dalam prospectus tersebut, tertulis tata cara pembelian saham & obligasi seperti
berikut:

155
1. Para peminat harus mengisi Application Form (AF), dilampiri identitas diri
untuk perorangan atau identitas diri dan surat kuasa dari perusahaan bilamana
peminatnya adalah suatu perusahaan.

2. Sesudah pengisian Application Form & identitas diri dilampirkan, maka harus
disetorkan ke Counter yang sudah disediakan, disertai uang pembayaran
sebesar nilai saham/obligasi yang diinginkan (fully paid)

3. Diperusahaan, selanjutnya AF tadi diproses untuk penjatahan (allotment),


yaitu siapa-siapa saja yang diperbolehkan untuk memiliki surat berharga tadi,
dan uang yang diterima akan dicatat dalam Cash Trust, karena pasti ada
peminat yang tidak lolos dan uangnya akan dikembalikan (Refund).

4. Bilamana sudah selesai dilakukan penjatahan, maka para peminat akan


diberitahu apakah mereka dapat memiliki surat berharga tadi atau tidak,
untuk yang tidak dapat atau surat berharga yang diterima tidak sebesar dalam
AF, akan dilakukan pengembalian dana (refund).

5. Untuk yang diterima pada surat pemberitahuan akan tercantum nomor surat
berharga yang mereka miliki, selanjutnya mereka dapat mengambil surat
berharga ditempat dan waktu yang sudah ditentukan. Surat berharga tersebut
dilampiri juga dengan Talon (tanda bukti untuk mengambil deviden atau
bunga obligasi).

Cara penilaian Investasi Sementara

Penilaian surat berharga dapat dilakukan sebagai berikut:

1. Menurut harga perolehan, cara ini dapat digunakan jika perubahan harga surat
berharga hanya bersifat sementara saja dan jumlahnya tidak terlalu besar,
sehingga dalam neraca surat berharga dicantum sebesar harga perolehannya.

156
2. Menurut harga terendah antara harga perolehan dan harga pasar. Hal ini
digunakan apabila harga pasar surat berharga ternyata lebih rendah dari harga
perolehannya, dengan selisih yang cukup berarti dan tidak bersifat sementara,
maka apabila hal ini terjadi maka selisih tersebut diakui sebagai kerugian.
Kerugian ini dicatat dengan mengkredit surat berharga yang bersangkutan
atau rekening penyisihan penurunan nilai surat berharga. Apabila dikemudian
hari terjadi kenaikan harga pasar, maka kenaikan harga tersebut akan
mengurangi atau menghapus rekening penyisihan penurunan nilai surat
berharga tadi sampai menjadi nol. Apabila kenaikan mengakibatkan harga
pasar lebih dibandingkan harga perolehannya, maka kenaikan harga ini tidak
perlu dijurnal.

157
Soal latihan

1. Pada tanggal 1 juli 2004 CV Sejahtera membeli saham PT Indofood 2 Lots


nilai nominal @ Rp 2.500,- kurs 105, biaya provisi Rp 50.000,-

Pada tanggal 1 September 2004 dibeli 3 Lots saham PT Indo Rayon dengan
nilai nominal @ Rp 2.000,- kurs 103, biaya komisi Rp 50.000,-

Pada 1 Desember 2004 Dijual 1 Lot Saham PT Indofood, kurs 110, biaya
provisi sebesar Rp 50.000,- dan 2 Lots saham PT Indo Rayon, kurs 108, biaya
komisi Rp 50.000,-

Pada 31 Desember diterima devidn dari PT Indo Food @ Rp. 1.000,- dan PT
Indo Rayon @ Rp 1.500,-

Diminta:

a. Menghitung pembelian dan penjualan saham (semua metode)

b. Membuat jurnal yang sesuai

2. Tanggal 24 Agustus 2003 PT INDOMI menginvestasikan uangnya dengan


membeli saham biasa PT Gobleth sebanyak 3 lot, nominal @ Rp. 6.500,- kurs
@ Rp.15.000,-, biaya provisi Rp. 25.000,-. Pada 31 Desember 2002 didapat
dividen @ Rp. 2.500,-. Pada 10 Juli 2004 saham tersebut dijual sebanyak 2

158
lots dengan kurs Rp. 17.500,- biaya produksi Rp. 25.000,-. Diminta: Hiutng
dan buat jurnal yang diperlukan.

159
BAB 3

PIUTANG USAHA

3.1 Pengertian, Penilaian Dan Prosedur Penyisihan Piutang Usaha

Piutang usaha adalah tagihan perusahaan kepada pihak lain yang nantinya akan
dimintakan pembayaran jika sudah jatuh tempo, tagihan ini tidak didukung oleh janji
tertulis yang akan mengakibatkan piutang usaha tersebut dapat saja tidak dilunasi
oleh para debitur. Piutang usaha ini terjadi karena penjualan jasa dan barang yang
dilakukan secara kredit kepada pihak lain.

Untuk tujuan pelaporan piutang usaha dinilai sebesar jumlah yang diharapkan dapat
diterima. Jumlah ini belum tantu sama dengan jumlah yang sebenarnya tercantum
dalam rekening putang usaha, hal ini terjadi karena perusahaan sudah mengantisipasi
bahwa ada bagian piutang usaha ini yang tidak akan dapat ditagih, hal ini disebut
dengan penyisihan putang usaha atau taksiran piutang ragu-ragu atau cadangan
piutang usaha tak tertagih atau lainnya. Bilamana terjadi seperti itu, maka perusahaan
menggunakan metode cadangan, tapi bilamana perusahaan menggunakan metode
cadangan, tapi bilamana perusahaan menggunakan metode langsung maka pelaporan
dan pencatatan akan menyajikan informasi yang sesuai dengan rekening piutang
usaha.

Ada beberapa ciri suatu piutang usaha tidak dapat ditagih, antara lain:

a. Kepailitan seorang debitur.

b. Kelangsungan hidup perusahaan dibitur sudah tidak ada.

c. Usaha penagihan yang dilakukan tidak pernah berhasil.

160
3.2 Estimasi Piutang Usaha Tak Tertagih, Metode Penghapusan Piutang Usaha,
Menghapus Piutang Usaha Dan Pelaporannya Di Neraca

Ada dua pendekatan yang dapat dilakukan untuk menghitung piutang usaha tak
tertagih, yaitu:

a. Pendekatan Rugi Laba (Income Statement Approach)

• Taksiran piutang usaha tak tertagih dihitung berdasarkan atas presentase


tertentu dari total penjualan yang terjadi pada suatu periode tertentu.

• Taksiran piutang usaha tak tertagih dihitung berdasarkan atas presentase


tertentu dari total penjualan kredit yang terjadi pada suatu periode tertentu.

b. Pendekatan Neraca (Balance Sheet Approach)

• Taksiran piutang usaha tak tertagih dihitung berdasarkan saldo piutang


usaha, dalam pendekatan ini, bilamana pada periode sebelumnya sudah
pernah dihitung taksiran piutang usaha tak tertagih, maka pada periode
berjalan (saat ini) taksiran piutang usaha yang akan dijurnal (dicatat) adalah
selisih dari saldo tahun lalu dan tahun sekarang. Bila PUTT bersaldo debet
maka besarnya cadangan harus ditambahkan dengan taksiran PUTT
periode sekarang, tapi kalau bersaldo kredit maka harus dikurangkan,
sehingga akan mencerminkan jumlah taksiran piutang usaha tak tertagih
yang sebenarnya.

• Taksiran piutang usaha tak tertagih berdasarkan analisa umur piutang,


dalam pendekatan ini semua piutang usaha yang ada harus dibuatkan daftar
umur masing-masing, baru kemudian ditetapkan presentase (%) tak tertagih
dari masing-masing umur piutang usaha tersebut.

161
Latihan Soal

1. Transaksi, ayat jurnal penyesuaian dan ayat jurnal penutup di bawah ini
berhubungan dengan piutang usaha tak tertagih. Semuanya dilakukan selama
tahun 200B:

a. 26 Januari 200B menghapuskan Piutang Usaha – PT Bima Sakti Rp.


575.000,- karena bangkrut.

b. 10 April 200B diterima kembali Rp. 870.000,- Piutang Usaha – Fa Asep


yang sudah dihapuskan.

c. 17 Juli 200B diterima 25% dari Piutang Usaha CV Modern Rp 800.000,-


sisanya dihapuskan.

d. 4 Oktober 200B dihapus Piutang Usaha – Fa Sentosa Rp. 3.000.000,-, Fa


Pelita Rp. 760.000,- dan PT Mekar Rp. 500.000,-

e. 31 Desember 200B, saldo Piutang Usaha saat itu Rp. 120.750.000,-

Kebijakan perusahaan atas penyisihan piutang usaha tak tertagih sebesar 3 %


dari saldo piutang usaha rata-rata, sedangkan saldo awal piutang usaha per 1
Januari 200B adalah Rp. 92.250.000,- dan penyisihan piutang usaha 31
Desember 200A Rp. 3.150.000,-

162
2. Beberapa data yang dimiliki oleh PD Cipageran Asri untuk dua tahun kegiatan
operasionalnya adalah sebagai berikut:

Keterangan 2004(Rp) 2005(Rp)


PiutangUsaha(awal tahun) 10,000,000 12,500,000
PiutangUsaha(akhir tahun) 12,500,000 55,000,000
Penjualan kredit bersih selamasetahun 16,870,000 23,620,000
Piutangusahayangdihapuskan selamasetahun 500,000 350,000
Penyisihan piutangusahataktertagih(awal) 300,000 600,000
Penyisihan piutangusahataktertagih(akhir) 600,000 3,300,000

Diminta:

a. Bilamana ditetapkan bahwa penyisihan piutang usaha tak tertagih dihitung


berdasarkan presentase terhadap rata-rata saldo piutang usaha, hitunglah
presentase tersebut untuk tahun 2004 dan 2005. Selain itu berapa besar
beban piutang usaha tak tertagih yang dicatat ke laporan laba rugi untuk
tahun tersebut.

b. Bilamana penyisihan piutan usaha tak tertagih dihitung berdasarkan


presentase terhadap penjualan, hitung presentase tersebut untuk tahun
2004 dan 2005.

163
BAB 4

AKUNTANSI MANUFAKTUR

4.1 Pengertian Perusahaan Manufaktur dan Klasifikasi persediaan Pada


Perusahaan Manufaktur

Perusahaan pengolahan / manufaktur adalah perusahaan yang mengolah bahan


mentah (bahan baku) menjadi barang jadi.

Klasifikasi persediaan pada perusahaan pengolahan :

• Persediaan Bahan Baku

• Persediaan Barang Dalam Proses

• Persediaan Barang Jadi

Laporan Keuangan

Laporan keuangan perusahaan manufaktur hampir sama dengan laporan keuangan


perusahaan dagang. Perbedaannya terletak pada bagian Aktiva Lancar di Neraca dan
Harga Pokok Penjualan di Laporan Rugi-Laba.

164
Neraca

Perbandingan Neraca Perusahaan Dagang dan Perusahaan Manufaktur:

Perusahaan Dagang Perusahaan Manufaktur

Neraca sebagian Neraca sebagian

31 Desember 2005 31 Desember 2005

Aktiva Lancar: Aktiva Lancar:


Kas Rp 1.000 Kas Rp 1.200
Piutang (bersih) 13.000 Piutang (bersih) 4.000
Persediaan Barang Dagangan 9.000 Persediaan:
Sewa Dibayar di Muka 2.900 Barang Jadi Rp 15.000

25.900 Barang Dalam Proses 18.000

Bahan Baku 9.000

42.000
Sewa Dibayar di Muka 1.600

48.800

Laporan Rugi-Laba

Perbandingan bagian Harga Pokok Penjualan di Laporan Rugi-Laba antara


Perusahaan Dagang dan Perusahaan Manufaktur:

Perusahaan Dagang
Laporan Rugi-Laba sebagian
Periode Tahun 2005

Harga Pokok Penjualan:

165
Persediaan Barang Dagangan 1 Januari ………… Rp 10.000

(+) Pembelian Bersih …………………..…………… 99.250

Barang Tersedia Untuk Dijual ……………………… Rp 109.250

(-) Persediaan Barang Dagangan 31 Desember … 9.000

Harga Pokok Penjualan ……………………………. Rp 100.250

Perusahaan Manufaktur
Laporan Rugi-Laba sebagian
Periode Tahun 2005

Harga Pokok Penjualan:

Persediaan Barang Jadi 1 Januari …………………. Rp 12.000

(+) Harga Pokok Produksi (lihat skedul) …………… 688.000

Barang Tersedia Untuk Dijual ………………………. Rp 700.000

(-) Persediaan Barang Jadi 31 Desember …………. 15.000

Harga Pokok Penjualan Rp 685.000

Komponen yang berbeda digambarkan secara skematis sbb:

Perusahaan Dagang:

Persediaan Barang + Pembelian - Persediaan Barang = Harga Pokok

166
Dagangan (Awal) Bersih Dagangan (Akhir) Penjualan

Perusahaan Manufaktur:

Persediaan Barang + Harga Pokok - Persediaan Barang = Harga Pokok

Jadi (Awal) Produksi Jadi (Akhir) Penjualan

Pada perusahaan manufaktur diperlukan banyak rekening untuk menentukan harga


pokok produksi, tetapi dalam Laporan Rugi-Laba hanya disajikan totalnya saja,
sedangkan rinciannya disajikan dalam Schedule Harga Pokok Produksi.

Contoh Skedul Harga Pokok Produksi (merupakan lampiran Laporan Rugi-Laba di atas):

Skedul Harga Pokok Produksi


Tahun 2005

Persediaan Barang Dalam Proses 1 Januari ………………….. Rp 10.000


Ditambah:

167
Bahan Baku:
Persediaan 1 Januari ……………….. Rp 5.000
Ditambah: Pembelian ………………. 100.000
Tersedia Dipakai …………..………... 105.000
105
Dikurangi : Persediaan 31 Desember 9.000
Bahan Baku Dipakai ……………………………….. Rp 96.000
Biaya Tenaga Kerja Langsung …………………….…. 200.000
Biaya Overhead Pabrik:
Tenaga Kerja Tidak Langsung ..…… Rp 50.000
Listrik dan Air ………………………… 140.000
Bahan Habis Pakai Pabrik …………. 30.000
Penyusutan Gedung Pabrik ………... 120.000
Penyusutan Mesin …………………... 60.000
Total Biaya Overhead Pabrik ……………………… 400.000
Total Biaya Produksi tahun ini …………………………………… 696.000
Total Biaya Barang Dalam Proses ………………………………… 706.000
Dikurangi:
Persediaan Barang Dalam Proses 31 Desember …………….. 18.000
Harga Pokok Produksi ……………………………………………… 688.000

HARGA POKOK PRODUKSI

Biaya produksi atau Harga Pokok Produksi (Cost of Goods Manufactured) merupakan
kumpulan dari biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh dan mengolah bahan
baku sampai menjadi barang jadi.

Biaya-biaya tersebut terdiri dari:

a. Biaya Bahan Baku (disingkat BBB)

b. Biaya Tenaga Kerja Langsung ( disingkat BTKL)

c. Biaya Overhead Pabrik (disingkat BOP)

168
Biaya Bahan Baku

 Biaya Bahan Baku adalah harga perolehan (harga pokok) seluruh substansi /
materi pokok yang terdapat pada barang jadi.

 Bahan baku merupakan bagian Barang jadi yang dapat ditelusur


keberadaannya.

 Bahan baku pada sebuah pabrik dapat berasal dari Barang jadi pabrik yang
lain.

Biaya Tenaga Kerja Langsung

 Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang memiliki kinerja langsung
terhadap proses pengolahan barang, baik menggunakan kemampuan fisiknya maupun
dengan bantuan mesin.

 Tenaga kerja langsung memperoleh kontraprestasi yang dikategorikan sebagai


Biaya tenaga kerja langsung. Jadi, Biaya Tenaga Kerja Langsung adalah semua
kontraprestasi yang diberikan kepada tenaga kerja langsung.

Biaya Overhead Pabrik

 Biaya Overhead Pabrik adalah biaya-biaya yang timbul dalam proses


pengolahan, yang tidak dapat digolongkan dalam biaya bahan baku dan biaya tenaga
kerja langsung.

 Biaya-biaya yang termasuk dalam biaya overhead pabrik, a.l.:

 Biaya tenaga kerja tidak langsung, seperti Upah pengawas, mandor,


mekanik, bagian reparasi, dll

169
 Biaya bahan penolong, yaitu macam-macam bahan yang digunakan
dalam proses pengolahan, tetapi kuantitasnya sangat kecil dan tidak dapat ditelusur
keberadaannya pada barang jadi.

 Biaya penyusutan gedung pabrik, Biaya penyusutan mesin, dll

SIKLUS AKUNTANSI

 Siklus akuntansi perusahaan manufaktur sama dengan siklus akuntansi


perusahaan dagang.

 Akuntansi perusahaan manufaktur dengan sistem fisik:

 Rekening Persediaan Bahan Baku hanya digunakan untuk


mencatat nilai bahan baku yang masih tersisa, baik di awal maupun akhir periode.

Transaksi pembelian Bahan baku tidak dicatat ke rekening


Persediaan Bahan Baku, tetapi dicatat ke rekening Pembelian
Bahan Baku, seperti terlihat pada jurnal berikut:

Mei 17 Pembelian Bahan Baku Rp 100.000

Kas / Utang Dagang Rp 100.000

 Rekening Persediaan Barang Dalam Proses hanya digunakan


untuk mencatat nilai barang yang masih dalam proses, baik di awal maupun akhir
periode.

170
 Rekening Persediaan Barang Jadi hanya digunakan untuk
mencatat nilai barang jadi pada awal dan akhir periode.

 Jurnal penyesuaian untuk perusahaan manufaktur sama dengan jurnal


penyesuaian untuk perusahaan dagang.

 Neraca Lajur untuk perusahaan manufaktur pada prinsipnya sama dengan


neraca lajur untuk perusahaan dagang, tetapi ditambahkan kolom untuk skedul harga
pokok produksi.

Contoh Neraca Lajur Sebagian:

Perusahaan Manufaktur
Neraca Lajur sebagian
Periode tahun 2005
Nama Rekening NSSD Harga Pokok Laporan Rugi-Laba Neraca
Poduksi
Debit Kredit Debit Kredit Debit Kredit Debit Kredit
Persediaan Barang Jadi 12.000 12.000 15.000 15.000
Persed. Barang Dlm. Proses 10.000 10.000 18.000 18.000
Persediaan Bahan Baku 5.000 5.000 9.000 9.000
Pembelian Bahan Baku 100.000 100.000
Biaya Tenaga Kerja Lgsg. 200.000 200.000
Biaya Tenaga Kerja Tak Lgsg. 50.000 50.000
Biaya Listrik dan Air 140.000 140.000
Biaya Bahan Habis Pakai 30.000 30.000
Biaya Penyst. Gedung Pabrik 120.000 120.000
Biaya Penyst. Mesin 60.000 60.000
Biaya Pemasaran 40.000 40.000
Penjualan 1.500.000 1.500.000
………. ……….. 715.000 27.000
Harga Pokok Produksi 688.000
715.000 715.000

JURNAL PENUTUP

Jurnal penutup untuk perusahaan manufaktur berbeda dengan perusahaan dagang.


Dalam perusahaan manufaktur, rekening Harga Pokok Produksi digunakan untuk

171
menutup semua rekening yang akan dilaporkan di Skedul Harga Pokok Produksi.
Saldo rekening ini kemudian ditransfer ke rekening Ikhtisar Rugi-Laba.

Contoh:

Des. 31 Harga Pokok Produksi Rp 715.000


Persediaan Barang Dalam Proses Rp 10.000
Persediaan Bahan Baku 5.000
Pembelian Bahan Baku 100.000
Biaya Tenaga Kerja Langsung 200.000
Biaya Tenaga Kerja Tak Langsung 50.000
Biaya Listrik dan Air 140.000
Biaya Bahan Habis Pakai 30.000
Biaya Penyusutan Gedung Pabrik 120.000
Biaya Penyusutan Mesin 60.000
(untuk menutup rekening-rekening Persediaan
Bahan Baku awal, Barang Dalam Proses awal,
dan rekening-rekening Biaya produksi)

31 Persediaan Barang Dalam Proses Rp 18.000


Persediaan Bahan Baku 9.000
Harga Pokok Produksi Rp 27.000
(untuk mencatat persediaan akhir barang dalam
proses dan bahan baku)

31 Persediaan Barang Jadi Rp 15.000


Penjualan 1.500.000
Ikhtisar Rugi-Laba Rp 1.515.000
(untuk mencatat persediaan akhir barang jadi dan
menutup rekening penjualan)

172
31 Ikhtisar Rugi-Laba Rp 700.000
Persediaan Barang Jadi Rp 12.000
Harga Pokok Produksi 688.000
(untuk menutup rekening persediaan awal barang
jadi dan harga pokok produksi)

31 Ikhtisar Rugi-Laba Rp 40.000


Biaya Pemasaran Rp 40.000
(untuk menutup biaya pemasaran)

173
BAB 5

AKUNTANSI AKTIVA TETAP

5.1 Klasifikasi

Aktiva tetap merupakan aktiva tidak lancar yang diperoleh untuk digunakan
dalam operasi perusahaan yang memiliki masa manfaat lebih dari satu periode
akuntansi serta tidak untuk diperjualbelikan dalam operasi normal perusahaan.

5.2 Pengelaran Untuk Aktiva Tetap

Pengeluaran untuk aktiva tidak lancar dapat dikelompokkan menjadi:

1. Pengeluaran pada waktu perolehan;

2. Pengeluaran seteleh aktiva tersebut diperoleh yang dapat dirinci menjadi:

a. Pengeluaran pendapatan yang lazim disebut revenue expenditure;

b. Pengeluaran modal yang lazim disebut capital expenditure.

5.3 Pencatatan Perolehan Aktiva Tetap

Aktiva tetap dapat diperoleh dengan berbagai cara, antara lain:

1. Diperoleh dengan harga lumpsump (gabungan);

2. Diperoleh dengan pembayaran berkala;

3. Pembelian dengan cara leasing;

174
4. Perolehan dengan trade-in

5. Perolehan dengan menerbitkan surat berharga;

6. Perolehan dari donasi; dan

7. Dibangun sendiri.

5.4 Perolehan Sekelompok Aktiva Dengan Harga Gabungan

Harga gabungan adalah suatu harga untuk beberapa aktiva. Sebagai contoh
PT A membeli tanah, bangunan dan peralatan dengan harga Rp160.000. Harga
ini harus dialokasikan kepada 3 jenis harta tersebut dengan menggunakan
perbandingan harga taksiran dari tanah, bangunan, dan peralatan. Misalnya harta
yang dibeli tersebut memiliki harga taksiran tanah Rp 28.000, bangunan
Rp60.000, equipment Rp 12.000, alokasi harga Rp 160.000 tersebut adalah sebagai
berikut:

Jenis harta Nilai Taksiran (Rp) Perhitungan Alokasi Jumlah Alokasi (Rp)

Tanah 28.000 28/100 x 160.000 44.800

Bangunan 60.000 60/100 x 160.000 96.000

Peralatan 12.000 12/100 x 160.000 19.200

Jumlah 100.000 160.000

175
Jurnal yang dibuat untuk mencatat transaksi tersebut adalah:

Tgl. Akun Debet Kredit


2006
Jan 1 Tanah 44.800
Bangunan 96.000
Peralatan 19.200
Kas 160.000

5.5 Perlolehan Aktiva Dengan Pembayaran Berkala

Jika status harta tetap diperoleh dengan pembayaran secara angsuran, maka aktiva
tersebut dicatat sebesar harga tunai aktiva tersebut bukan jumlah dari pembayaran
angsuran dan downpaymentnya. Ada beberapa variasi yang mungkin timbul, seperti:

a. Harga tunai diketahui;

b. Harga tunai tidak diketahui.

Contoh: perusahaan pada tanggal 2 Januari 2006 membeli sebuah aktiva yang harga
tunainya adalah Rp 100.000. Pada waktu itu dibayar uang muka Rp 35.000 sisanya
akan dibayar dengan angsuran tengah tahunan sebesar Rp 5.000 ditambah bunga 10%
dari hutang yang belum dibayar. Jurnal yang dibuat selama tahun 2006 adalah sebagai
berikut:

Tgl. Akun Debet Kredit


2006
Jan 2 Tanah 100.000
Kas 35.000
Hutang 65.000

176
Tgl. Akun Debet Kredit
2006
Jun 30 Hutang 5.000
Biaya Bunga 3.250
Kas 8.250

5.6 Penggunaan Aktiva Tetap

Jika suatu aktiva tetap dapat digunakan lebih dari satu tahun maka aktiva
tersebut bermanfaat untuk memperolah pendapatan selama umurnya. Untuk
menghubungkan biaya aktiva tetap dengan revenue yang diperoleh maka biaya
tersebut dicatat dan dilaporkan sebagai beban pada tahun-tahun manfaatnya.
Proses ini disebut depresiasi. Dengan demikian depresiasi adalah alokasi secara
sistematis dan rasional atas biaya dari aktiva tetap ke tahun-tahun manfaatnya. Jurnal
yang dibuat untuk melakukan depresiasi setiap tahunnya adalah mendebet akun
Beban Depresiasi dan mengkredit akun Akumulasi Penyusutan . Misalkan
untuk tahun 2005, perusahaan menyusutkan mesin sebesar Rp 5.000, maka
jurnal yang dibuat adalah:

Tgl. Akun Debet Kredit


2005
Des 31 Beban Penyusutan 5.000
Akumulasi Penyusutan 5.000

177
Karena setiap akhir tahun ada penyusutan, maka perkiraan Akumulasi
Penyusutan akan selalu bertambah sepanjang masa manfaat aktiva. Depresiasi
bukanlah teknik untuk menilai aktiva tetap dan dengan melakukan depresiasi
tidaklah otomatis perusahaan menyisihkan uang untuk membeli aktiva tetap.

Faktor-faktor yang mempengaruhi depresiasi adalah:

a. cost dari aktiva tetap,

b. umur ekonomis aktiva tetap,

c. nilai residu, dan

d. pola penggunaan aktiva tetap.

5.7 Metode Depresiasi

Terdapat beberapa metode depresiasi, yaitu:

1. Metode Garis Lurus

2. Metode Saldo Menurun

3. Metode Jumlah Angka Tahun

4. Metode Unit Input

5. Metode Unit Output

178
1. Metode Garis Lurus

Dengan metode ini penyusutan tahunan dapat ditentukan dengan dua cara,
yaitu:

a. (cost-nilai residu) : umur

Misalkan nilai sebuah peralatan yang diperoleh tahun 2005 senilai


Rp16.000.000,00 dan masa manfaat ditentukan 5 tahun dengan nilai sisa
Rp1.000.000,00, besarnya penyusutan tahun 2006 dapat dihitung sebagai
berikut: (16.000.000-1.000.000)/5 = Rp 3.000.000,00.

b. Ditentukan % penyusutan , kemudian penyusutan tahunan diperoleh


dengan cara mengalikan % tersebut dengan cost yang disusutkan sebagai
berikut:

1. Prosentase penyusutan tahunan = 100% : umur, jadi = 100% : 5 =


20%.

2. Dihitung penyusutan = 20% x (16.000.000 – 1.000.000)=


Rp3.000.000,00.

2. Metode Saldo Menurun

Pertama, tentukan prosentase penyusutan, biasanya dua kali prosentase


penyusutan metode garis lurus. Dengan demikian jika ada mesin umurnya 5 tahun,
maka tarif/prosentase penyusutan tahunannya adalah 2 x 100% : 5 = 40%. Setelah itu
ditentukan nilai buku pada awal tahun. Nilai buku adalah saldo rekening aktiva tetap
dikurangi dengan saldo rekening akumulasi penyusutan. Untuk tahun pembelian,
karena akumulasi penyusutannya belum ada, maka nilai bukunya adalah sebesar
harga perolehannya. Selanjutnya besarnya penyusutan satu tahun dihitung dengan

179
cara mengalikan % penyusutan dengan nilai buku. Misalkan ada sebuah mesin dibeli
tanggal 2 Januari 2001 dengan harga Rp 16.000.000 dan ditaksir dapat digunakan
selama 5 tahun.

Penyusutan tahun 2001, 2002, dan 2003 dapat dihitung sebagai berikut:

Tarif/prosentase penyusutan = 2 x (100% : 5) = 40%

Penyusutan tahun 2001 = 40% x Nilai Buku

= 40% x Rp 16.000.000

= Rp 6.400.000

Penyusutan tahun 2002 = 40% x Nilai buku awal tahun 2002

= 40% x (Rp 16.000.000

= Rp 6.400.000)

= Rp 3.840.000

Penyusutan tahun 2003 = 40% x Nilai buku awal tahun 2003

= 40% x (16.000.000 )

= 6.400.000

180
Penyusutan tahunan dapat dicari dengan rumus lain yaitu menentukan Nilai

Buku pada akhir tahun ke-n = cost x (1 – tarip) n

= Rp 16.000.000 x (1 – 0,4) n

Nilai buku akhir tahun ke-3 = Rp 16.000.000 x (1 – 0,4) 3

= Rp 16.000.000 x 0,216

= Rp 3.456.000,00.

Penyusutan tahun 2004 adalah 40% x Rp 3.456.000 = Rp 1.282.600,00.

3. Metode Jumlah Angka-angka Tahun

Alokasi cost aktiva tetap dilakukan berdasarkan angka tahun penggunaan. Jika
umur aktiva tetap adalah 5 tahun, maka tahun penggunaannya adalah tahun ke
1,2,3,4,5. Jumlah dari angka-angka tersebut akan dijadikan penyebut. Sementara itu
pembilangnya adalah sisa umur dari masing awal tahun penggunaan. Pada awal
penggunaan sisa umurnya masih lima tahun, oleh karenanya pembilangnya adalah
5. Setelah digunakan 1 tahun, maka pada awal tahun kedua sisa umurnya adalah
empat tahun sehingga pembilangnya adalah 4. Demikian seterusnya untuk tahun
ketiga, keempat, dan seterusnya.

Misalkan ada sebuah mesin dibeli tanggal 2 Januari 2001 dengan harga
Rp16.000.000 ditaksir masa manfaat 5 tahun dengan nilai residu Rp 1.000.000.

181
Penyusutan tahun 2001, 2002, 2003, 2004, dan 2005 dapat dihitung sebagai
berikut:

Tahun ke Perhitungan Jumlah

1 5/15 (16.000.000 - 1.000.000) 5.000.000

2 4/15 (16.000.000 - 1.000.000) 4.000.000

3 3/15 (16.000.000 - 1.000.000) 3.000.000

4 2/15 (16.000.000 - 1.000.000) 2.000.000

5 1/15 (16.000.000 - 1.000.000) 1.000.000

4. Metode Unit Input

Alokasi cost aktiva tetap ke beban penyusutan tahunan digunakan jumlah input
yang dikeluarkan (misalnya jam mesin) dalam suatu tahun dibandingkan dengan
taksiran input (jam mesin) yang harus dikeluarkan sampai aktiva tetap tersebut
diafkir. Misalkan sebuah mesin dibeli pada tanggal 2 Januari 2001 dengan harga
Rp 16.000.000 dan ditaksir dapat digunakan selama 100.000 jam dengan nilai
residu Rp 1.000.000. Selama tahun 2001 digunakan selama 5.000 jam, maka
penyusutan tahun 2001 adalah:

(5.000/100.000) x (Rp 16.000.000 – Rp 1.000.000) = Rp 750.000

182
5. Metode Unit Output (Hasil)

Alokasi cost aktiva ke beban penyusutan tahunan menggunakan jumlah produk


yang dihasilkan dalam suatu tahun dibandingkan dengan taksiran output (jumlah
produk) yang akan dihasilkan sampai aktiva tetap tersebut diafkir. Misalkan sebuah
mesin dibeli pada tanggal 2 Januari 2001 dengan harga Rp 16.000.000 dan
ditaksir dapat digunakan untuk membuat produk sebanyak 200.000 unit dengan
nilai residu Rp 1.000.000. Selama tahun 2001 digunakan selama 20.000 unit maka
penyusutan tahun 2001 adalah:

(20.000/200.000) x (Rp 16.000.000 – Rp 1.000.000) = Rp 1.500.000

5.8 Penafsiran Aktiva Tetap

Aktiva kadangkala dibuang karena sudah tidak digunakan lagi, misalkan sebuah
mesin yang harga belinya Rp 6.000.000,00 sampai tanggal 1 Januari 2000 sudah
disusutkan sebesar Rp 4.750.000,00. Penyusutan tahunannya Rp 600.000,00. Pada
tanggal 24 Maret 2001 dibuang. Jurnal yang dibuat adalah:

1. Menyusutkan untuk tahun 2001


Tgl. Akun Debet Kredit
2001
Mar 24 Beban Penyusutan Mesin 150.000
Akumulasi Penyusutan Mesin 150.000

183
2. Membuang aktiva tetap

Tgl. Akun Debet Kredit


2001
Mar 24Akumulasi Penyusutan Mesin 4.900.000
Kerugian Penghentian Mesin 1.100.000
Aktiva Tetap 6.000.000

5.9 Penjualan Aktiva Tetap

Sebuah mesin yang costnya Rp 10.000.000 dan sampai dengan tanggal 31 Desember
2000 telah disusutkan sebesar Rp 7.750.000, pada tanggal 2 Januari 2001 dijual. Buat
jurnal jika harga jualnya adalah:

a. Rp 2.250.000,00

b. Rp 1.000.000,00

c. Rp 3.000.000,00

Dijual dengan harga

No. Keterangan Dijual dengan harga

1 Cost aktiva tetap 10.000.000 10.000.000 10.000.000

2 Akumulasi penyusutan 7.750.000 7.750.000 7.750.000

s.d. saat penjualan

3 Nilai buku saat penjualan 2.250.000 2.250.000 2.250.000

184
4 Harga jual 2.250.000 1.000.000 3.000.000

5 Laba (rugi) (4 3) 0 (1.250.000) 750.000

Jurnal:

1. Dijual dengan harga Rp 2.250.000,00

Tgl. Akun Debet Kredit


2000
Jan 2 Kas 2.250.000
Akumulasi Penyusutan 7.750.000
Aktiva Tetap 10.000.000

2. Dijual dengan harga Rp 1.000.000

Tgl. Akun Debet Kredit


2000
Jan 2 Kas 2.250.000
Akumulasi Penyusutan 7.750.000
Kerugian Penjualan Aktiva Tetap 1.250.000
Aktiva Tetap 10.000.000

185
3. Dijual dengan harga Rp 3.000.000

Tgl. Akun Debet Kredit


2000
Jan 2 Kas 3.000.000
Akumulasi Penyusutan 7.750.000
Laba Penjualan Aktiva Tetap 750.000
Aktiva Tetap 10.000.000

5.10 Pertukaran Aktiva Tetap

Menurut paragraf 20 PSAK No. 16 suatu aktiva tetap dapat diperoleh dalam
pertukaran atau pertukaran sebagian untuk suatu aktiva tetap yang tidak serupa atau
aktiva lain. Biaya dari pos semacam ini diukur pada nilai wajar aktiva yang
dilepaskan atau yang diperoleh yang mana yang lebih andal, equivalent dengan nilai
wajar aktiva yang dilepaskan setelah disesuaikan dengan jumlah setiap kas atau
setara kas yang ditransfer. Dengan demikian pertukaran aktiva tidak sejenis dapat
mengakibatkan adanya laba atau rugi. Menurut paragraf 21 PSAK No. 16 suatu
aktiva tetap dapat diperoleh dalam pertukaran atas suatu aktiva yang serupa yang
memiliki manfaat yang serupa dalam bidang usaha yang sama dan memiliki nilai
wajar yang serupa. Jika aktiva lain seperti kas sebagai bagian dari transaksi
pertukaran, ini dapat mengindikasikan bahwa pos yang dipertukarkan tidak
memiliki suatu nilai yang serupa. Berdasarkan paragraf 46 PSAK No. 16,
pertukaran aktiva tetap seperti disebutkan pada paragraf 21, biaya aktiva yang
diperoleh sama dengan jumlah tercatat aktiva yang dilepaskan dan tidak ada
keuntungan atau kerugian yang dihasilkan.

186
1. Pertukaran Aktiva Tak Sejenis

Sebuah mesin dengan cost Rp 4.000.000,00 yang telah disusutkan


Rp3.200.000,00 ditukar dengan mesin baru tidak sejenis yang harga pasarnya adalah
Rp 5.000.000,00. Perusahaan harus membayar uang Rp 3,900.000,00. Jurnalnya:

Tgl. Akun Debet Kredit

Mesin (baru) 5.000.000

Akumulasi Penyusutan 3.200.000

Mesin (lama) 4.000.000

Kas 3.900.000

Laba Penukaran Aktiva Tetap 300.000

2. Pertukaran Aktiva Sejenis

Sebuah mesin dengan cost Rp 7.000.000 yang telah disusutkan Rp 4.600.000


ditukar dengan mesin baru sejenis yang dimiliki oleh suatu perusahaan yang
bergerak pada usaha yang sama. Jurnalnya:

Tgl. Akun Debet Kredit

Mesin (baru) 2.400.000

Akumulasi Penyusutan 4.600.000

Mesin (lama) 7.000.000

187
Jumlah sebesar Rp 2.400.000,00 yang dicatat sebagai harga mesin baru
merupakan nilai buku mesin yang diserahkan yaitu harga beli Rp 7.000.000,00
dikurangi dengan akumulasi penyusutan Rp 4.600.000,00.

188
SOAL LATIHAN

SOAL 1

Sebuah mesin dibeli pada tanggal 1 Januari 1999 dengan harga Rp


32.000.000,00. Mesin ini ditaksir dapat digunakan selama 5 tahun dengan nilai sisa
Rp 2.000.000,00.

Diminta:

a. Tentukan besarnya penyusutan tahun 1999, 2000.

b. Buat jurnal penyesuaian untuk mencatat penyusutan tahun 1999,2000.

c. Tentukan nilai buku per 1 Januari 2001.

Jika Perusahaan menyusutkan mesin ini dengan (1) metode garis lurus, dan (2)
metode saldo menurun ganda.

189