Anda di halaman 1dari 33

http://luv2dentisha.wordpress.

com/2010/10/30/fisiologi-bicara/

FISIOLOGI BICARA

Percakapan digunakan untuk berkomunikasi antar individu. Proses bicara melibatkan


beberapa sistem dan fungsi tubuh, melibatkan sistem pernapasan, pusat khusus pengatur
bicara di otak dalam korteks serebri, pusat respirasi di dalam batang otak dan struktur
artikulasi, resonansi dari mulut serta rongga hidung. Untuk menyempurnakan proses
percakapan ini, diperlukan aktivitas otot. Bagian penting dalam percakapan dan bahasa
adalah cerebral cortex yang berkembang sejak lahir dan memperlihatkan perbedaan pada
orang dewasa. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa pengalaman phonetic bukan hal
yang perlu untuk perkembangan area pusat saraf dalam sistem percakapan.

Otot-otot yang mengkomando organ bicara diatur oleh motor nuclei di otak, dengan
produksi suara diatur oleh kontrol pusat di bagian rostral otak.

Proses bicara diawali oleh sifat energi dalam aliran dari udara. Pada bicara yang normal,
aparatus pernapasan selama ekshalasi menyediakan aliran berkesinambungan dari udara
dengan volume yang cukup dan tekanan (di bawah kontrol volunteer adekuat) untuk
fonasi. Aliran dari udara dimodifikasi dalam fungsinya dari paru-paru oleh fasial dan
struktur oral dan memberikan peningkatan terhadap simbol suara yang dikenal sebagai
bicara.

I. Struktur Fungsional Organ Pengucapan, Suara, dan Bicara

Bicara adalah pembentukan dan pengorganisasian suara menjadi simbol atau lambang
yang merupakan interaksi sejumlah organ yang terdiri dari:

1.1 Organ Respirasi

Terdiri dari trakea, bronkus, dan paru-paru. Aliran udara respirasi merupakan sumber
kekuatan yang diperlukan untuk mencetuskan suara dan diatur tekanannya mulai dari
paru-paru.
1.2 Organ Fonasi

Laring dengan otot-otot instrinsik dan ekstrinsiknya dan pita suara yang merupakan
bagian terpenting laring. Laring merupakan penghubung antara faring dan trakea,
didesain untuk memproduksi suara (fonasi). Laring ini terdiri dari 9 kartilago, 3 kartilago
yang berpasangan, dan 3 yang tidak berpasangan. Organ ini terletak pada midline di
depan cervikal vertebra ke 3 sampai 6.

Organ ini dibagi ke dalam 3 regio:

* Vestibule

* Ventricle

* Infraglotitic

Vocal fold (true cord) dan vestibular fold (false cord) terletak pada regio ventricle.

Pergerakan pita suara (abduksi, adduksi dan tension) dipengaruhi oleh otot-otot yang
terdapat disekitar laring, dimana fungsi otot-otot tersebut adalah:

• M. Cricothyroideus menegangkan pita suara


• M. Tyroarytenoideus (vocalis) relaksasi pita suara
• M. Cricoarytenoideus lateralis adduksi pita suara
• M. Cricoarytenoideus posterior abduksi pita suara
• M. Arytenoideus transversus menutup bagian posterior rima glotidis

Setelah udara meninggalkan paru-paru, udara mengalir melalui laring yang berfungsi
sebagai vibrator yang diperankan oleh pita suara.
Pita suara diregangkan serta diatur posisinya oleh beberapa otot khusus laring, dengan
adanya perbedaan regangan dan ruang yang dibentuknya, maka terbentuk celah dengan
macam-macam ukuran yang menghasilkan suara sebagai berikut:

a) Voiceless, yaitu pita suara membuka penuh waktu inspirasi, pita suara saling menjauh,
sehingga udara bebas lewat di antaranya.

b) Voiced, yaitu pita suara bergetar ke arah lateral. Udara mendorong pita suara saling
menjauh, aliran udara lewat dengan cepat yang menarik kembali pita suara untuk asling
mendekat, proses ini berlangsung berulang-ulang sehingga terjadi getaran pita suara.
Suara yang dihasilkan oleh proses fonasi memiliki nada (frekuensi), kekerasan
(intensitas), dan kualitas lemah. Suara hasil produksi laring yang hanya berkaitan dengan
bicara disebut fonasi-suara-bisikan, sebaliknya suara lain yang diproduksi laring yang
tidak berkaitan dengan bicara tidak dapat disebut suara fonasi (batuk, berdehem, tertawa).

Gambar 37-10B menggambarkan pita suara. Selama pernapasan normal, pita akan
terbuka lebar agar aliran udara mudah lewat. Selama fonasi, pita menutup bersama-sama
sehingga aliran udara diantara mereka akan menghasilkan getaran (vibrasi). Kuatnya
getaran terutama ditentukan oleh derajat peregangan pita, juga oleh bagaimana kerapatan
pita satu sama lain dan oleh massa pada tepinya.

Gambar 37-10A memperlihatkan irisan pita suara setelah mengangkat tepi mukosanya.
Tepat di sebelah dalam setiap pita terdapat ligamen elastik yang kuat dan disebut ligamen
vokalis. Ligamen ini melekat pada anterior dari kartilago tiroid yang besar, yaitu
kartilago yang menonjol dari permukaan anterior leher dan Adam’s Apple. Di posterior,
ligamen vokalis terlekat pada prosessus vokalis dari kedua kartilago arytenoid. Kartilago
tiroid dan kartilago arytenoid ini kemudian berartikulasi pada bagian bawah dengan
kartilago lain, yaitu kartilago cricoid.

1.3 Organ Resonansi


Terdiri dari rongga faring, rongga hidung, dan sinus paranasalis. Sumber suara fonasi
pada pita suara intensitasnya lemah, tidak berwarna dan sulit dikenal. Dengan adanya
alat-alat resonansi yang berfungsi sebagai resonator, maka suara tersebut mendapat
variasi pada frekuensi tertentu, intensitasnya meningkat, demikian juga pada kualitasnya
(warna suara) dan idenitasnya, tetapi suara yang sudah diresonansi ini masih bukan
merupakan suara bicara. Ciri-ciri resonansi sangat bervariasi pada setiap orang dan
merupakan aspek yang sangat penting bagi efektivitas bicara.

1.4 Organ Artikulasi

Tersusun atas:

a) Bibir, berfungsi untuk memberndung udara pada pembentukan suara letup.

b) Palatum mole-durum merupakan permukaan sensitif bagi lidah untuk mengawasi


proses artikulasi, menghalangi dan membentukaliran udara turbulen dan sebagai kompas
bagi lidah bahwa suara terbaik sudah dihasilkan.

c) Lidah, membentuk suara dengan mengangkat, menarik, menyempit, menipis,


melengkung, menonjol, atau mendatar.

d) Pipi membendung udara di bagian bukal.

e) Gigi berfungsi menahan aliran udara dalam membentuk konsonan labio-dental dan
apiko-alveolar.

f) Mandibula membuka dan menutup waktu bicara

1.5 Vocal Tract

Vocal tract pada manusia merupakan acoustic tube dari cross section dengan panjang
sekitar 17 cm dari vocal fold hingga bibir. Area cross section ini bervariasi dari 0-20 cm2
dengan penempatan bibir, rahang, lidah, dan velum (palatum lunak). Perangkap (trap-
door action) yang dibuat sepasang velum pada vocal tract membuat secondary cavity
yang berpartisipasi dalam speech production- nasal tract. Kavitas nasalis memiliki
panjang sekitar 12 cm dan luas 60 cm3.
Untuk bunyi suara, sumber rangsang adalah velocity volume dari udara yang melewati
vocal cords. Vocal tract bertindak pada sumber ini sebagai filter dengan frekuensi yang
diinginkan, berkorespondensi dengan resonansi akustik dari vocal tract.

1.6 Voiced Sounds

Suara diproduksi dengan meningkatkan tekanan udara di paru-paru dan menekan udara
untuk bergerak ke glottis (lubang antara vocal cords), sehingga vocal cords bergetar.
Getaran tersebut mengganggu aliran udara dan menyebabkan getaran broad spectrum
quasi-periodic yang berada di vocal tract. Ligament yang bergetar dari vocal cords
memiliki panjang 18 mm dan glottal yang secara khusus bervariasi dalam area dari 0-20
mm2. Otot laryngeal yang mengatur vocal folds dibagi menjadi tensors, abductors, dan
adductors. Naik dan turunnya pitch dari suara dikontrol oleh aksi dari tensor–
cricothyroid dan otot vocalis. Variasi dalam tekanan subglottal juga penting untuk
mengatur derajat getaran laryngeal.

1.7 Artikulasi dan Resonansi

Ketika suara dasar dihasilkan oleh vocal tract, suara tersebut dimodifikasi untuk
menghasilkan suara yang jelas dengan proses artikulasi dan resonansi. Artikulasi adalah
proses penghasilan suara dalam berbicara oleh pergerakan bibir, mandibula, lidah, dan
mekanisme palatopharyngeal dalam kordinasi dengan respirasi dan fonasi.

Dengan kegunaan sifat-sifat resonant dari vocal tract, bunyi suara dasar disaring. Kualitas
akhir dari suara tergantung dari ukuran dan bentuk berbagai kavitas yang berhubungan
dengan mulut dan hidung. Bentuk dari beberapa kavitas ini bisa diubah oleh berbagai
macam aktivitas bagian yang dapat bergerak dari faring dan kavitas oral. Kavitas yang
berhubungan dengan dengan hidung adalah kavitas nasal, sinus, dan nasofaring.
Nasofaring dengan cepat berubah-ubah dan variasi ini dihasilkan oleh kontraksi otot-otot
pharyngeal dan gerakan dari palatum lunak.

Kavitas yang berhubungan dengan mulut adalah kavitas oral dan oropharynx. Kedua
kavitas ini bisa diubah-ubah oleh kontraksi dari otot-otot. Semua kavitas ini mengambil
dan memperkuat suara fundamental yang dihasilkan oleh getaran dari vocal cords. Fungsi
ini dikenal dengan sebutan resonansi. Pergerakan dari palatum lunak, laring, dan faring
membuat manusia dapat mencapai keseimbangan yang baik antara resonansi oral dan
nasal yang akhirnya menjadi karakteristik dari suara tiap-tiap individu.
Fungsi dari mekanisme pengucapan adalah untuk mengubah bentuk dari tonsil laryngeal
dan untuk membuat suara dalam rongga mulut. Suara yang penting terbentuk adalah
pengucapan konsonan, yang ditekankan sebagai iringan suara oleh gesekan bunyi.
Konsonan dibentuk dari gelombang udara yang berkontak dari arah yang berlawanan.
Misalnya pada kontak antara dua bibir saat pengucapan huruf “p” dan “b”. Contoh
lainnya juga pada lidah yang menyentuh gigi dan palatum saat pengucapan huruf “t” dan
“d”.

Tanpa kemampuan (kapasitas) pengucapan, suara yang dihasilkan hanya berupa faktor
kekuatan, volume, dan kekuatan, seperti suara yang hanya dihasilkan oleh huruf vocal.
Hal ini terbukti secara klinis ketika kemampuan berbicara seseorang hilang pada
penderita paralytic stroke. Kemampuan berbicaranya hanya seperti pengucapan huruf
vocal saja dengan sedikit konsonan.

Di samping menyuarakan suara-suara, sistem vokal dapat menghasilkan dua macam


suara-suara yang tak terdengar: fricative sounds dan plosive sounds.

Fricative sounds dicontohkan oleh konsonan s, sh, f, dan th, yang dihasilkan ketika vocal
tract setengah tertutup pada beberapa titik dan udara tertekan melewati konstriksi pada
kecepatan yang cukup tinggi untuk menghasilkan turbulensi. Konsonan fricative
membutuhkan sangat sedikit penyesuaian pada artikulator, dan sering terdengar tidak
sempurna pada kasus maloklusi atau penggunaan denture.

Plosive sounds, konsonan p, t, dan k, diproduksi ketika vocal tract tertutup seluruhnya
(biasanya dengan bibir atau lidah), membiarkan tekanan udara meningkat saat menutup,
dan kemudian membuka dengan tiba-tiba. Untuk beberapa suara, seperti fricative
consonant v dan z yang terdengar, adanya kombinasi dari dua sumber suara.

Pembentukan pada pergerakan untuk kemampuan bicara berkaitan dengan fungsi


kontinyu dari sensorik informasi dari reseptor otot dan mechanoreceptor cutaneous yang
didistribusikan sepanjang sistem respiratori, laringeal, dan sistem orofacial.
II. Mekanisme Neurologis Bicara

Salah satu perbedaan terpenting antara manusia dan binatang adalah adanya fasilitas pada
manusia untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Selanjutnya, karena tes neurologik
dapat dengan mudah menaksir seberapa besar kemampuan seseorang untuk
berkomunikasi satu sama lain, maka kita dapat mengetahui lebih banyak tentang sistem
sensorik dan motorik yang berkaitan dengan proses komunikasi daripada mengenai
fungsi segmen kortikal lainnya.

Untuk berbicara, manusia menerima rangsang baik melalui oragan reseptor umum
maupun oragan reseptor khusus, impulsnya dihantarkan melalui saraf otak atau saraf
spinal atau SSO dan dilanjutkan ke SSP area sensorik. Pengaruh sensorik disampaikan ke
area motorik unutk kembali turun ke SST dan akhirnya sampai ke efektor yang
menghasilkan aktivitas bicara.

Reseptor Sensorik

Organ reseptor umum (eksteroreseptif, interoreseptif, propioreseptif) dan organ reseptor


khusus (penglihatan, pendengaran, keseimbangan, penghidu, pengecap) menerima
rangsang.

Saraf Aferen

Saraf otak I-XII dan saraf spinal menghantarkan impuls saraf ke pusat pemrosesan di SSP

SSP

SSP area Broca (area motorik bicara), area Wernicke (area auditif), pusat ideamotor
(pusat refleks dalam memilih kata dan kalimat) merupakan pusat-pusat yang terlibat
dalam proses bicara.

Saraf Eferen
Saraf eferen dari SSP ke SST menyampaikan sinyal saraf kepada efektor untuk
melakukan aktivitas bicara.

Terdapat dua aspek untuk dapat berkomunikasi, yaitu: aspek sensorik (input bahasa),
melibatkan telinga dan mata, dan kedua, aspek motorik (output bahasa) yang melibatkan
vokalisasi dan pengaturannya.

2.1 Aspek Sensorik Komunikasi

Pada korteks bagian area asosiasi auditorik dan area asosiasi visual, bila mengalami
kerusakan, maka dapat menimbulkan ketidakmampuan untuk mengerti kata-kata yang
diucapkan dan kata-kata yang tertulis. Efek ini secara berturut-turut disebut sebagai afasia
reseptif auditorik dan afasia reseptif visual atau lebih umum, tuli kata-kata dan buta kata-
kata (disleksia). Studi dari afasia ini mempunyai peran penting pada pemahaman neural
basis dari bahasa. Penyebab paling sering ialah trauma kepala (head trauma). Penyebab
selanjutnya ialah stroke: 40% major vascular events pada hemisfer cerebral yang
mengakibatkan language disorders.

Afasia anomik (Anomic aphasia)

Pada afasia ini, satu-satunya gangguan ialah pada kemampuan untuk menemukan kata-
kata yang benar. Ini merupakan bentuk afasia yang tidak biasa. Akan tetapi, biasanya
merupakan lesi pada aspek posterior dari lobus temporal inferior kiri, dekat dengan garis
temporal-occipital.

Afasia Wernicke dan Afasia Global

Beberapa orang mampu mengerti kata-kata yang diucapkan ataupun kata-kata yang
dituliskan namun tak mampu menginterpretasikan pikiran yang diekspresikan walaupun
saat mendengar musik atau suara nonverbal akan normal. Biasanya pasien berbicara
sangat cepat baik ritme, grammar, dan artikulasi. Apabila tidak benar-benar didengarkan,
akan terdengar hampir normal. Keadaan ini sering terjadi bila area Wernicke yang
terdapat di bagian posterior hemisfer dominan gyrus temporalis superior mengalami
kerusakan. Oleh karena itu, tipe afasia ini disebut afasia Wernicke. Bila lesi pada area
Wernicke ini meluas dan menyebar ke belakang ke region gyrus angular, ke inferior ke
area bawah lobus temporalis, ke superior ke tepi superior fisura sylvian dari hemisfer kiri,
maka penderita tampak seperti benar-benar terbelakang secara total (totally demented)
untuk mengerti bahasa atau berkomunikasi, dan karena itu dikatakan menderita afasia
global.

Transcortical sensory aphasia

Merupakan pemutusan area Wernicke dari posterior parietal temporal association area.
Hal ini menyebabkan fluent aphasia dengan kurangnya pemahaman dan juga kecacatan
saat berpikir ataupun mengingat arti dari suatu tanda atau kata-kata. Pasien tidak dapat
membaca, menulis dan juga ditandai dengan kesusahannya mendapat kata-kata, tetapi
dapat mengulang apa yang telah dibicarakan dengan mudah dan fasih.

2.2 Aspek Motorik Komunikasi

Proses bicara melibatkan dua stadium utama aktivitas mental:

1. Membentuk buah pikiran untuk diekspresikan dan memilih kata-kata yang akan
digunakan
2. mengatur motorik vokalisasi dan kerja yang nyata dari vokalisasi itu sendiri

Pembentukan buah pikiran dan bahkan pemilihan kata-kata merupakan fungsi area
asosiasi sensorik otak. Sekali lagi, area Wernicke pada bagian posterior gyrus temporalis
superior merupakan hal yang penting untuk kemampuan ini. Oleh karena itu, penderita
yang mengalami afasia Wernicke atau afasia global tak mampu memformulasikan
pikirannya untuk dikomunikasikan. Atau bila lesinya tak begitu parah, maka penderita
masih mampu memformulasikan pikirannya namun tak mampu menyusun kata-kata yang
sesuai secara berurutan dan bersama-sama untuk mengekspresikan pikirannya.
Seringkali, penderita fasih berkata-kata namun kata-kata yang dikeluarkannya tidak
berurutan.

Afasia Motorik akibat Hilangnya Area Broca.

Kadang-kadang, penderita mampu menentukan apa yang ingin dikatakannya, dan mampu
bervokalisasi, namun tak dapat mengatur sistem vokalnya untuk menghasilkan kata-kata
selain suara ribut. Efek ini, disebut afasia motorik, disebabkan oleh kerusakan pada area
bicara Broca, terletak di regio prefrontal dan fasial premotorik korteks (kira-kira 95%
kelainannya di hemisfer kiri). Oleh karena itu, pola keterampilan motorik yang dipakai
untuk mengatur laring, bibir, mulut, sistem respirasi, dan otot-otot lainnya yang dipakai
untuk bicara dimulai dari daerah ini.
Lesi yang tidak mempengaruhi cortex cerebral, biasanya lesi vaskuler dalam ganglia
basalis dan talamus, dapat juga dihasilkan dalam aphasia yang biasanya disebut
subcortical aphasia.

2.3 Dominasi Cerebral

Kerusakan di area korespondensi di sisi lain otak menyebabkan kemampuan berbahasa


yang utuh. Hanya sedikit keruskan di hemisfer kanan otak menyebabkan kerusakan
bahasa. 97% dari mereka memiliki kerusakan di hemisver kiri otaknya. Kontrol unilateral
pada fungsi tertentu disebut dominasi cerebral.

Tanda bahasa juga menyediakan pengertian untuk produksi bahasa. Tidak seperti kata-
kata, penandaan terdiri atas serangkaian bahasa tubuh yang di interpretasikan oleh sistem
visual daripada sistem auditorial. Pengertian tanda juga dilokalisasi di hemisfer kiri. Lesi
pada otak kiri menyebabkan individu tuli menjadi aphasic pada bahasa tanda.

2.4 Teori Pemrosesan Bahasa

Berdasarkan pembelajaran ekstensif pada kelainan berbahasa dan lesi anatomis


terasosiasi, dibuatlah model aktivitas otak selama produksi bahasa. Teori para
connectionist menjelaskan bahwa ketika sebuah kata terdengar, output dari area auditorial
primer pada cortex diterima oleh Wernicke’s area. Jika kata-kata tersebut adalah untuk
diucapkan, polanya ditranmisikan dari Wernicke’s area ke Broca’s area di mana bentuk
artikulatori dibangun dan dikirim ke area motorik yang mengontrol pergerakan otot-otot
berbicara. Jika kata-kata yang digunakan dieja, pola auditorial dikirim ke cortex
agranular, di mana ia mendapatkan pola visualnya. Saat sebuah kata dieja, output dari
area visual primer melewati gyrus anguler, yang pada gilirannya membangkitkan bentuk
auditori korespondensi pada kata dalam Wernick’s area.

Bahasa mengandung banyak tipe informasi linguistik termasuk informasi yang mengenali
struktur suara dari ungkapan (fonologi), informasi tentang bentuk tata kalimat (sintaksis),
dan informasi yang mengenali maksud ungkapan (semantik). Bukti-bukti telah
menunjukkan bahwa area cortical yang terlibat dengan bahasa tidaklah bekerja sendiri,
tapi kemungkinan dibagi-bagi menjadi area terpisah untuk menangani bahasa yang
berbeda, karena ada lesi-lesi pada orang-orang multilingual yang meninggalkan hanya
satu keutuhan. Area-area terpisah ini juga dijelaskan sebagai yang memegang aspek-
aspek tata bahasa berbeda. Berdasarkan penelitian ini yang lainnya, teori para
connectionist telah digantikan oleh teori moduler di mana bahasa diproses secara paralel
dengan banyak area berbeda yang bertanggung jawab untuk tugas-tugas kognitif yang
berbeda.
http://luv2dentisha.wordpress.com/2010/10/30/fisiologi-pengunyahan-penelanan-dan-
bicara/#comment-36

FISIOLOGI PENGUNYAHAN PENELANAN BICARA

Mekanisme Mastikasi

Pergerakan yg terkontrol dari mandibula dipergunakan dalam mengigit, mengunyah, dan


menelan makanan dan cairan, serta dalam berbicara. Aktivitas yang terintegrasi dari otot
rahang dalam merespon aktivitas dari neuron eferen pada saraf motorik di pergerakan
mandibular yang mengontrol hubungan antara gigi rahang atas dan bawah. Pergerakan
rahang adalah suatu pergerakan yang terintegrasi dari lidah dan otot lain yang mengontrol
area perioral, faring, dan laring.

Pergerakan otot rahang, terhubung pada midline. Pengontrolan otot rahang bukan secara
resiprokal seperti pergerakan limb, tapi terorganisir secara bilateral. Jadi, dapat
disimpulkan bahwa pembukaan dan penutupan rahang selama penguyahan yang secara
relatif merupakan pergerakan sederhana dengan pengaturan pada limb sebagai penggerak.
Bagaimanapun, pergerakan dalam mastikasi adalah suatu yang kompleks dan tidak hanya
berupa mekanisme pergerakan menggerinda simple yang mana merupakan pengurangan
ukuran makanan. Selama mastikasi, makanan dikurangi ukurannya dan dicampur dengan
saliva sebagai tahap awal dari proses digesti.

I.1 Pergerakan Pengunyahan

Pemahaman mengenai pola pergerakan rahang telah menjadi topic yang menarik dalam
hal klinis di kedokteran gigi, terutama dalam bidang orthodonti dan prostodonti. Salah
satu tujuan memugar bentuk oklusal adalah untuk memastikan kontak gigi terintegrasi
dengan pola pergerakan rahang. Oleh karena itu, beberapa penelitian dimaksudkan untuk
menjelaskan bagian mandibula selama pengunyahan dan untuk mengidentifikasikan
posisi mandibula setelahnya. Dokter gigi mencari posisi stabil mandibula untuk
menfasilitasi penelitian tentang rahang pada alat yang bernama simulator atau artikulator.

Seluruh otot rahang bekerja bersamaan menutup mulut dengan kekuatan di gigi incidor
sebesar 55 pounds dan gigi molar sebesar 200 pounds. Gigi dirancang untuk mengunyah,
gigi anterior (incisors) berperan untuk memotong dan gigi posterior ( molar) berperan
untuk menggiling makanan.
Sebagian besar otot mastikasi diinervasi oleh cabang nerevus cranial ke lima dan proses
pengunyahan dikontrol saraf di batang otak. Stimulasi dari area spesifik retikular di
batang otak pusat rasa akan menyebabkan pergerakan pengunyahan secara ritmik, juga
stimulasi area di hipotalamus, amyglada dan di korteks cerebral dekat dengan area
dengan area sensori untuk pengecapan dan penciuman dapat menyebabkan pengunyahan.

Kebanyakan proses mengunyah dikarenakan oleh refleks mengunyah, yang dapat


dijelaskan sebagai berikut :

1. kehadiran bolus dari makanan di mulut pertama kali menginsiasi refleks


penghambat dari otot mastikasi yang membuat rahang bawah turun.
2. penurunan rahang ini selanjutnya menginisiasi reflaks melonggarkan otot rahang
memimpin untuk mengembalikan kontraksi.
3. secara otomatis mengangkat rahang untuk menutup gigi, tetapi juga menekan
bolus lagi, melawan lining mulut, yang menghambat otot rahang sekali lagi,
membuat rahang turun dan mengganjal (rebound) di lain waktu. Hal ini berulang
terus menerus.
4. pengunyahan merupakan hal yang penting untuk mencerna semua makanan,
khususnya untuk kebanyakan buah dan sayuran berserat karena mereka memiliki
membrane selulosa yang tidak tercerna di sekeliling porsi nutrisi mereka yang
harus dihancurkan sebelum makanan dapat dicerna.

Pengunyahan juga membantu proses pencernaan makanan dengan alasan sebagai berikut:

- enzim pencernaan bekerja hanya di permukaan partikel makanan, sehingga tingkat


pencernaan bergantung pada area permukaan keseluruhan yang dibongkar oleh sekresi
pencernaan.

- Penghalusan makanan dalam konsistensi yang baik mencegah penolakan dari


gastrointestinal tract dan meningkatkan kemudahan untuk mengosongkan makanan dari
lambung ke usus kecil, kemudian berturut-turut ke dalam semua segmen usus.

I.1.1 Pergerakan

Selama pengunyahan rahang akan bergerak berirama, membuka dan menutup. Tingkat
dan pola pergerakan rahang dan aktivitas otot rahang telah diteliti pada hewan dan juga
manusia. Pola pergerakan rahang pada beberapa hewan berbeda tergantung jenisnya.
Pengulangan pergerakan pengunyahan berisikan jumlah kunyahan dan penelanan. Selama
mastikasi karakteristik pengunyahan seseorang sangat bergantung pada tingkatan
penghancuran makanan. Urutan kunyah dapat dibagi menjadi tiga periode. Pada tahap
awal, makanan ditransportasikan ke bagian posterior gigi dimana ini merupakan
penghancuran dalam periode reduksi. Selanjutnya bolus akan dibentuk selama final
periode yaitu sebelum penelanan. Pergerakan rahang pada ketiga periode ini dapat
berbeda tergantung pada bentuk makanan dan spesiesnya. Selama periode reduksi
terdapat fase opening, fast-opening dan slow-opening. Pada periode sebelum penelanan
terdapat tiga fase selama rahang membuka dan dua fase selama rahang menutup.

Selama penelanan lidah memainkan peran yang penting di dalam mengontrol pergerakan
makanan dan pembentukan menjadi bolus. Untuk makanan yang dihancurkan,
diposisikan oleh lidah pada konjugasi dengan otot buccinators pada pipi diantara oklusal
permukaan gigi. Makanan yang padat dan cair ditransportasikan di dalam rongga mulut
oleh lidah. Selama fase slow-opening pada pengunyahan, lidah bergerak ke depan dan
memperluas permukaan makanan. Tulang hyoid dan badan lidah kembali tertarik selama
fase fast-opening dan fase-closing, membuat gelombang yang dapat memindahkan
makanan ke bagian posterior pada rongga mulut. Ketika makanan sudah mencapai
bagian posterior rongga mulut, akan berpindah ke belakang di bawah soft palate oleh aksi
menekan dari lidah. Lidah amat penting dalam pengumpulan dan penyortiran makanan
yang bias ditelan, sementara mengembalikan lagi makanan yang masih dalam potongan
besar ke bagian oklusal untuk pereduksian lebih lanjut. Sedikit yang mengetahui
mengenai mekanisme mendasar mengenai pengontrolan lidah selama terjadinya aktivitas
ini.

I.1.2 Aktivitas Otot

Kontraksi otot yang mengontrol rahang selama proses mastikasi terdiri dari aktivitas pola
asynchronous dengan variabilitas yang luas pada waktu permulaan, waktu puncak,
tingkat dimana mencapai puncak, dan tingkat penurunan aktivitas. Pola aktivitas
ditentukan oleh factor-faktor seperti spesies, tipe makanan, tingkat penghancuran
makanan, dan faktor individu. Otot penutupan biasanya tidak aktif selama rahang
terbuka, ketika otot pembuka rahang sangat aktif. Aktivitas pada penutupan rahang
dimulai pada awal rahang menutup. Aktivitas dari otot penutup rahang meningkat secara
lambat seiring dengan bertemunya makanan di antara gigi. Otot penutupan pada sebelah
sisi dimana makanan akan dihancurkan, lebih aktif daripada otot penutupan rahang
kontralateral.

I.2 Struktur batang otak dalam control mastikasi

Pergerakan-pergerakan yang terlibat dalam mastikasi membutuhkan gabungan aktivitas


beberapa otot, yaitu trigeminal, hypoglossal, fasial, dan nuclei motorik lain yang
memungkinkan dari batang otak. Struktur batang otak lain seperti formasi reticular juga
terlibat.
I.2.1 Nukleus Trigeminal Sensorik

Nukleus trigeminal sensorik merupakan kolom neuron yang berada di sepanjang batas
lateral batang otak, dari pons sampai spinal cord. Porsi rostral paling banyak dari nucleus
ini disebut nucleus sensorik principal (kadang lebih sering sering disebut nucleus
sensorik utama) dan sisanya adalah nucleus spinal trigeminal. Nukleus spinal dibagi lagi
dari rostral ke kaudal menjadi subnukleus oralis, interpolaris, dan kaudalis.

Inervasi perifer dari kolom sel ini muncul dari nervus trigeminus. Cabang utama akan
bercabang menjadi limb ascending dan descending, atau secara sederhana turun
memasuki batang otak untuk membentuk traktus trigeminal menutupi sekeliling aspek
lateral dari nucleus sensori utama, sementara secara kaudal limb descending membentuk
traktus spinal trigeminal di sepanjang aspek lateral nucleus spinal. Cabang akson
kolateral meninggalkan traktus trigeminal dan memasuki nucleus sensori untuk
membentuk sumbu terminal pada beberapa nucleus dengan tingkat yang berbeda. Akson
yang menginervasi rostral mulut dan wajah berakhir di medial dan akson yang menyuplai
wajah kaudal berakhir lebih lateral.

Nukleus terdiri dari kelas-kelas neuron yang berbeda. Sirkuit neuron local mempunyai
akson yang dibatasi area batang otak; proyeksi neuron akan mengirimkan akson ke rostral
nuclei batang otak yang lain; dan interneuron termasuk ke interkoneksi dalam nucleus
sensorik. Berdasarkan pada perbedaan morfologi neuron dan pola proyeksi, subnukleus
oralis terdiri dari 3 subdivisi utama: ventrolateral, dorsomedial, dan garis batas. Divisi
ventrolateral terdiri dari interneuron dan 2 populasi neuron proyeksi (satu yang
memproyeksi spinal cord, dan satu lagi yang mengirimkan akson ke tanduk dorsal
medular). Di dalam subdivisi dorsomedial, terdapat seri neuron proyeksi korteks cerebral.
Sedangkan grup neuron pada garis batas memproyeksi cerebellum dan tanduk dorsal
medullar.

Nukleus sensori utama berada pada tingkat nucleus trigeminal motorik, dan dikelilingi
oleh akar trigeminal motorik di medial, serta oleh akar trigeminal sensorik di lateral.
Nukleus sensori utama dapat dibedakan dengan nukleus spinal dari kepadatan neuronnya
yang lebih rendah, dan rendahnya populasi neuron besar dengan dendrit primer yang
tebal, panjang, dan lurus. Perbedaan lain antara nucleus spinal dan nucleus utama adalah
adanya sejumlah gelondong akson bermyelin pada nucleus spinal. Pemeriksaan dengan
mikroskop cahaya dan electron menunjukkan adanya neuron berbentuk fusiform,
triangular, dan multipolar pada nucleus sensori utama. Pada cabang dendritnya pun
relative sederhana. Dendrit primer berasal dari sedikit perpanjangan badan sel atau secara
langsung dari badan sel. Dendrit sekunder lebih panjang, tapi terlihat tidak melebihi batas
nucleus.

I.2.2 Nukleus Trigeminal Mesencefalic


Badan sel dari serabut aferen yang menginervasi gelondong otot penutup rahang dan
badan sel dari ligament periodontal, gingival, dan mekanoreseptor palatal berlokasi di
dalam nucleus mesencefalic. Penyusunannya unik di dalam sistem saraf pusat. Nukleus
neuron mesencefalic berupa unipolar; akson tunggal yang bercabang 2 menjadi cabang
perifer dan sentral. Cabang sentral mengeluarkan sejumlah cabang kolateral yang
berakhir di nucleus motorik, spinal cord, dan area lain dari batang otak. Badan sel neuron
yang menginervasi gelondong otot, ditemukan di sepanjang nucleus, dan badan sel yang
berasal dari reseptor ligament periodontal dibatasi setengah kaudalnya.

I.2.3 Nukleus Tigeminal Motorik

Motoneuron yang mengatur otot-otot mastikasi terdapat pada nucleus trigeminal motorik.
Analisis distribusi ukuran soma motoneuron menandakan bahwa nucleus trigeminal
motorik terdiri dari motoneuron gamma dan alfa. Sejumlah studi pembuktian neural
mendemostrasikan bahwa motoneuron gamma yang menginervasi otot-otot mastikasi
dipisahkan secara anatomi di dalam nucleus; Motoneuron penutup rahang berlokasi di
dorsolateral, sedangkan motoneuron pembuka rahang berlokasi di divisi ventromedial
nucleus. Pengamatan intraselular dan ekstraselular terhadap motoneuron mastikasi
menunjukkan bahwa input sinaps untuk motoneuron pembuka dan penutup rahang
berbeda. Contohnya adalah aktivitas yang memulai gelondong otot untuk menutup
rahang tidak mempengaruhi motoneuron pembuka rahang, tapi aktivitas neural yang
memulai mekanoreseptor pada regio oral dan fasial akan menghambat otot penutup
rahang dan meningkatkan aktivitas otot pembuka rahang.

Dendrit dari motoneuron trigeminal ekstensif dan kompleks. Dendrit dari semua grup
motoneuron yang berbeda, memperpanjang di luar batas nucleus motorik, tapi di sini
terdapat sedikit tumpang tindih antara dendrite motoneuron di region dorsolateral dan
ventromedial nucleus motorik. Teknik ini menghasilkan gambaran yang lebih rinci dari
struktur mikro nucleus trigeminal motorik, dan penting untuk memahami mekanisme
reflek mastikasi.

I.2.4 Nukleus Hipoglosal Motorik

Nukleus hipoglosal motorik yang mengatur otot lidah lebih homogen daripada nucleus
trigeminal motorik. Ia terbentuk dari motoneuron yang besar dan multipolar dan sebuah
populasi dari interneuron-interneuron kecil. Dendrit-dendrit motoneuron besar melintasi
garis tengah ke nucleus hipoglosal kontralateral atau berseberangan dalam formasi
reticular. Interneuron-interneuron kecil memiliki hanya satu atau dua dendrite yang
terdiri oleh nucleus secara total.
I.2.5 Nukleus Fasial Motorik

Nukleus fasial motorik terdiri atas tiga kolom longitudinal motoneuron. Kolom-kolom
medial dan lateral yang lebih besar terpisah oleh kolom intermediet yang lebih kecil.
Studi pembuktan neural menunjukkan bahwa otot fasial direpresentasikan secara
topografi di dalam nucleus. Otot yang mengontrol bibir atas dan nares mempunyai
motoneuron sendiri pada bagian ventral dan dorsal kolom sel lateral. Otot bibir bawah
disuplai oleh motoneuron pada kolom sel intermediet. Otot-otot yang berhubungan
dengan telinga dikontrol oleh motoneuron pada kolom sel medial. Terdapat perbedaan
utama pada pola dendrit antara motoneuron di 3 kolom sel. Dendrit pada motoneuron
fasial secara luas berada di subdivisi yang sama yang mengandung soma, tapi terkadang
meluas di luar batas nucleus fasial motorik.

I.2.6 Kontrol Mastikasi

Nuclei sensori dan motorik yang terdapat pada brain stem memiliki peranan yang yang
sangat penting dalam proses pengontrolan mastikasi. Pola dasar oscillatory pergerakan
mastikasi berawal dari generator neural yang terdapat di brain stem. Input sensori
afferent yang terjadi pada nuclei ini juga merupakan faktor yang tak kalah pentingnya
dalam pembentukan proses mastikasi. Dan faktor yang berpengaruh besar lagi adalah
pusat otak akan mempengaruhi system koordinasi brain stem mastikatori. Setelah sekian
banyak penelitian dilakukan, tiga hal inilah yang merupakan faktor utama yang
berpengaruh besar terhadap pengontrolan proses mastikasi.

I.3 Aktivitas brain stem selama mastikasi

Gerakan dasar mastikasi dapat terjadi tanpa adanya input sensori dalam kavitas oral, fakta
menunjukkan bahwa gerakan mandibula ke atas dan bawah berasal dari dalam brain
stem. Hasil percobaan juga membuktikan bahwa faktor-faktor pemicu gerakan mastikasi
adalah adanya hubungan dari sirkuit neural yang membentuk jaringan neural oscillatory
yang mampu merangsang terjadinya pola gerakan mastikasi. Neural oscillator ini disebut
sebagai generator pola mastikasi atau pusat mastikasi. Selain mastikasi, brain stem juga
bertanggung jawab dalam proses respiratori dan proses penelanan. Selain adanya neural
generator, mastikasi juga terjadi karena aktivitas gerak reflex otot yang diinisiasi oleh
stimulasi dari strukur orofacial.

Gerak refleks yang timbul dari area orofacial bermacam-macam, termasuk juga gerak
lidah, facial, dan berbagai gerak rahang. Dalam gerak refleks orofacial ini terdapat
sekurang-kurangnya satu motor nucleus dan beberapa sinaps, dan prosesnya termasuk
sederhana bila dibandingkan dengan refleks-refleks lain yang lebih kompleks (sebagai
contohnya proses penelanan).
Gerak refleks orofacial yang paling sering diteliti adalah gerak refleks pada jaw-closing
dan refleks jaw-jerk, yang dapat terjadi dengan mengetuk ujung dagu. Saat mengetuk
ujung dagu ini, muscle spindle pada otot-otot jaw-closing tertarik dan menhasilkan input
sensori yang akan menginisiasi gerak refleks. Setelah waktu yang singkat (sekitar 6 detik)
electromyography (EMG) menunjukkan adanya aktivitas yang terjadi pada otot masseter
dan temporalis. EMG juga menunjukkan output berupa gerak motorik pada otot yang
akan menutup rahang. Karena waktu terjadinya yang sangat singkat, gerak refleks ini
sama dengan gerak knee-jerk refleks dimana hanya satu sinaps yang bekerja (refleks
monosynaptic). Input refleks jaw-closing selain muscle spindle adalah stimulasi ligament
periodontal, TMJ, dll dapat menimbulkan refleks jaw-closing dalam waktu singkat. Hal
ini dibuktikan dengan percobaan anestesi yang diaplikasikan pada gigi dan rahang bawah
menurunkan input tapi tidak menghentikan refleks.

Proses jaw-opening diinisiasi oleh stimuli mekanik dari ligament periodontal dan
mekanoreseptor pada mukosa. Stimuli ini menghasilkan eksitasi otot jaw-opening dan
inhibisi pada otot jaw-closing. Proses ini tidak termasuk refleks monosynaptic dan
sekurang-kurangnya satu interneuron bekerja.

Proses mastikasi diinisiasi oleh stimuli elektrik dari cortex yang menyokong otot jaw-
closing dan jaw-opening. Begitu kompleks proses terjadinya gerak mastikasi, pada
intinya ritme mastikasi dihasilkan dari generator pada brain stem yang diaktivasi oleh
pusat dibantu dengan input peripheral yang pada akhirnya menghasilkan output ritmikal
dengan frekuensi yang sesuai dengan input yang terjadi.

Aktivitas motoneuron trigeminal saat proses pengunyahan diteliti menggunakan aktivitas


itrasel dari motoneuron α yang mengontrol otot masseter (jaw-closing) dan digastrics
(jaw-opening). Motoneuron masseter depolarisasi saat fase closing dan hiperpolarisasi
(inhibisi) saat fase opening. Motoneuron digastrics depolarisasi saat opening, akan tetapi
tidak hiperpolarisasi saat closing.

II Penelanan

Menurut kamus deglutasi atau deglutition diterjemahkan sebagai proses memasukkan


makanan kedalam tubuh melalui mulut “the process of taking food into the body through
the mouth”.

Proses menelan merupakan suatu proses yang kompleks, yang memerlukan setiap organ
yang berperan harus bekerja secara terintegrasi dan berkesinambungan. Dalam proses
menelan ini diperlukan kerjasama yang baik dari 6 syaraf cranial, 4 syaraf servikal dan
lebih dari 30 pasang otot menelan.

Pada proses menelan terjadi pemindahan bolus makanan dari rongga mulut ke dalam
lambung. Secara klinis terjadinya gangguan pada deglutasi disebut disfagia yaitu terjadi
kegagalan memindahkan bolus makanan dari rongga mulut sampai ke lambung.
II.1 Neurofisiologi menelan

Proses menelan dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase oral, fase faringeal dan fase
esophageal.

II.1.1 Fase oral

Pada fase oral ini akan terjadi proses pembentukan bolus makanan yang dilaksanakan
oleh gigi geligi, lidah, palatum mole, otot-otot pipi dan saliva untuk menggiling dan
membentuk bolus dengan konsistensi dan ukuran yang siap untuk ditelan. Proses ini
berlangsung secara disadari. Proses ini bertahan kira-kira 0.5 detik

Peranan saraf kranial pada pembentukan bolus fase oral.

ORGAN AFFEREN (sensorik) EFFEREN (motorik)


Mandibula n. V.2 (maksilaris) N.V : m. Temporalis, m. maseter, m.
pterigoid

n. VII : m.orbikularis oris, m.


Bibir n. V.2 (maksilaris) zigomatikum, m.levator labius oris,
m.depresor labius oris, m. levator anguli
oris, m. depressor anguli oris

n.VII: m. mentalis, m. risorius,


m.businator

n.XII : m. hioglosus, m. mioglosus


Mulut & pipi n.V.2 (maksilaris)

Lidah n.V.3 (lingualis)


Pada fase oral ini perpindahan bolus dari rongga mulut ke faring segera terjadi, setelah
otot-otot bibir dan pipi berkontraksi meletekkan bolus diatas lidah. Otot intrinsik lidah
berkontraksi menyebabkan lidah terangkat mulai dari bagian anterior ke posterior. Bagian
anterior lidah menekan palatum durum sehingga bolus terdorong ke faring.

Bolus menyentuh bagian arkus faring anterior, uvula dan dinding posterior faring
sehingga menimbulkan refleks faring. Arkus faring terangkat ke atas akibat kontraksi m.
palato faringeus (n. IX, n.X dan n.XII)

Peranan saraf kranial fase oral

ORGAN AFFEREN (sensorik) EFFEREN (motorik)


Bibir n. V.2 (mandibularis), n.V.3 n. VII : m.orbikularis oris, m.levator labius
(lingualis) oris, m. depressor labius, m.mentalis

n.VII: m.zigomatikus,levator anguli oris,


m.depressor anguli oris, m.risorius.
n. V.2 (mandibularis) m.businator
Mulut & pipi

n.IX,X,XI : m.palatoglosus

n.V.3 (lingualis) n.IX,X,XI : m.uvulae,m.palatofaring


Lidah

n.V.2 (mandibularis)
Uvula

Jadi pada fase oral ini secara garis besar bekerja saraf karanial n.V2 dan nV.3 sebagai
serabut afferen (sensorik) dan n.V, nVII, n.IX, n.X, n.XI, n.XII sebagai serabut efferen
(motorik).
II.1.2 Fase Faringeal

Fase ini dimulai ketika bolus makanan menyentuh arkus faring anterior (arkus
palatoglosus) dan refleks menelan segera timbul. Pada fase faringeal ini terjadi :

1. m. Tensor veli palatini (n.V) dan m. Levator veli palatini (n.IX, n.X dan n.XI)
berkontraksi menyebabkan palatum mole terangkat, kemudian uvula tertarik
keatas dan ke posterior sehingga menutup daerah nasofaring.
2. m.genioglosus (n.XII, servikal 1), m ariepiglotika (n.IX,nX) m.krikoaritenoid
lateralis (n.IX,n.X) berkontraksi menyebabkan aduksi pita suara sehingga laring
tertutup.
3. Laring dan tulang hioid terangkat keatas ke arah dasar lidah karena kontraksi
m.stilohioid, (n.VII), m. Geniohioid, m.tirohioid (n.XII dan n.servikal I).
4. Kontraksi m.konstriktor faring superior (n.IX, n.X, n.XI), m. Konstriktor faring
inermedius (n.IX, n.X, n.XI) dan m.konstriktor faring inferior (n.X, n.XI)
menyebabkan faring tertekan kebawah yang diikuti oleh relaksasi m. Kriko faring
(n.X)
5. Pergerakan laring ke atas dan ke depan, relaksasi dari introitus esofagus dan
dorongan otot-otot faring ke inferior menyebabkan bolus makanan turun ke
bawah dan masuk ke dalam servikal esofagus. Proses ini hanya berlangsung
sekitar satu detik untuk menelan cairan dan lebih lama bila menelan makanan
padat.

Peranan saraf kranial pada fase faringeal

Organ Afferen Efferen


Lidah n.V.3 n.V :m.milohyoid, m.digastrikus

n.VII : m.stilohyoid

n.XII,nC1 :m.geniohyoid, m.tirohyoid

n.XII :m.stiloglosus

Palatum n.V.2, n.V.3 n.IX, n.X, n.XI :m.levator veli palatini

n.V :m.tensor veli palatini

n.Laringeus superior n.V : m.milohyoid, m. Digastrikus


Hyoid cab internus (n.X) n.VII : m. Stilohioid

n.XII, n.C.1 :m.geniohioid, m.tirohioid

n.X

Nasofaring n.IX, n.X, n.XI : n.salfingofaringeus

n.X

Faring n.IX, n.X, n.XI : m. Palatofaring, m.konstriktor


faring sup, m.konstriktor ffaring med.

n.X,n.XI : m.konstriktor faring inf.

n.IX :m.stilofaring
n.rekuren (n.X)

Laring
n.X : m.krikofaring
n.X

Esofagus

Pada fase faringeal ini saraf yang bekerja saraf karanial n.V.2, n.V.3 dan n.X sebagai
serabut afferen dan n.V, n.VII, n.IX, n.X, n.XI dan n.XII sebagai serabut efferen.

Bolus dengan viskositas yang tinggi akan memperlambat fase faringeal, meningkatkan
waktu gelombang peristaltik dan memperpanjang waktu pembukaan sfingter esofagus
bagian atas. Bertambahnya volume bolus menyebabkan lebih cepatnya waktu pergerakan
pangkal lidah, pergerakan palatum mole dan pergerakan laring serta pembukaan sfingter
esofagus bagian atas. Waktu Pharyngeal transit juga bertambah sesuai dengan umur.

Kecepatan gelombang peristaltik faring rata-rata 12 cm/detik. Mc.Connel dalam


penelitiannya melihat adanya 2 sistem pompa yang bekerja yaitu :
1. Oropharyngeal propulsion pomp (OOP) adalah tekanan yang ditimbulkan tenaga
lidah 2/3 depan yang mendorong bolus ke orofaring yang disertai tenaga kontraksi
dari m.konstriktor faring.
2. Hypopharyngeal suction pomp (HSP) adalah merupakan tekanan negatif akibat
terangkatnya laring ke atas menjauhi dinding posterior faring, sehingga bolus
terisap ke arah sfingter esofagus bagian atas. Sfingter esofagus bagian atas
dibentuk oleh m.konstriktor faring inferior, m.krikofaring dan serabut otot
longitudinal esofagus bagian superior.

II.1.3 Fase Esofageal

Pada fase esofageal proses menelan berlangsung tanpa disadari. Bolus makanan turun
lebih lambat dari fase faringeal yaitu 3-4 cm/ detik.

Fase ini terdiri dari beberapa tahapan :

1. Dimulai dengan terjadinya relaksasi m.kriko faring. Gelombang peristaltik primer


terjadi akibat kontraksi otot longitudinal dan otot sirkuler dinding esofagus bagian
proksimal. Gelombang peristaltik pertama ini akan diikuti oleh gelombang peristaltik
kedua yang merupakan respons akibat regangan dinding esofagus.

2. Gerakan peristaltik tengah esofagus dipengaruhi oleh serabut saraf pleksus


mienterikus yang terletak diantara otot longitudinal dan otot sirkuler dinding esofagus
dan gelombang ini bergerak seterusnya secara teratur menuju ke distal esofagus.

Cairan biasanya turun akibat gaya berat dan makanan padat turun karena gerak peristaltik
dan berlangsung selama 8-20 detik. Esophagal transit time bertambah pada lansia akibat
dari berkurangnya tonus otot-otot rongga mulut untuk merangsang gelombang peristaltik
primer.

II.1.4 Peranan sistem saraf dalam proses menelan


Proses menelan diatur oleh sistem saraf yang dibagi dalam 3 tahap :

1. Tahap afferen/sensoris dimana begitu ada makanan masuk ke dalam orofaring


langsung akan berespons dan menyampaikan perintah.
2. Perintah diterima oleh pusat penelanan di Medula oblongata/batang otak (kedua
sisi) pada trunkus solitarius di bag. Dorsal (berfungsi utuk mengatur fungsi
motorik proses menelan) dan nukleus ambigius yg berfungsi mengatur distribusi
impuls motorik ke motor neuron otot yg berhubungan dgn proses menelan.
3. Tahap efferen/motorik yang menjalankan perintah

II.2 Gangguan deglutasi/ menelan

Secara medis gangguan pada peristiwa deglutasi disebut disfagia atau sulit menelan, yang
merupakan masalah yang sering dikeluhkan baik oleh pasien dewasa, lansia ataupun
anak-anak.

Menurut catatan rata-rata manusia dalam sehari menelan sebanyak kurang lebih 2000
kali, sehingga masalah disfagia merupakan masalah yang sangat menggangu kualitas
hidup seseorang.

Disfagia merupakan gejala kegagalan memindahkan bolus makanan dari rongga mulut
sampai ke lambung.

Kegagalan dapat terjedi pada kelainan neuromuskular, sumbatan mekanik sepanjang


saluran mulai dari rongga mulut sampai lambung serta gangguan emosi. Disfagia dapat
disertai dengan rasa nyeri yang disebut odinofagia.

Berdasarkan difinisi menurut para pakar (Mettew, Scott Brown dan Boeis) disfagia dibagi
berdasarkan letak kelainannya yaitu di rongga mulut, orofaring, esofagus atau
berdasarkan mekanismenya yaitu dapat menelan tetapi enggan, memang dapat menelan
atau tidak dapat menelan sama sekali, atau baru dapat menelan jika minum segelas air,
atau kelainannya hanya dilihat dari gangguan di esofagusnya.

III Berbicara

Percakapan digunakan untuk berkomunikasi antar individu Untuk menyempurnakan


proses percakapan ini, diperlukan aktivitas otot. Bagian penting dalam percakapan dan
bahasa adalah cerebral cortex yang berkembang sejak lahir dan memperlihatkan
perbedaan pada orang dewasa. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa pengalaman
phonetic bukan hal yang perlu untuk perkembangan area pusat saraf dalam sistem
percakapan.
Otot-otot yang mengkomando organ bicara diatur oleh motor nuclei di otak, dengan
produksi suara diatur oleh control pusat di bagian rostral otak.

Respirasi. Proses bicara diawali oleh sifat energi dalam aliran dari udara. Pada bicara
yang normal, aparatus pernapasan selama ekshalasi menyediakan aliran
berkesinambungan dari udara dengan volume yang cukup dan tekanan (di bawah
kontrol volunteer adekuat) untuk phonasi. Aliran dari udara dimodifikasi dalam
fungsinya dari paru-paru oleh fasial dan struktur oral dan memberikan peningkatan
terhadap simbol suara yang dikenal sebagai bicara

III.1 Struktur fungsional organ pengucapan

III.1.1 Laring

Laring merupakan penghubung antara faring dan trakea, didisain untuk memproduksi
suara (fonasi). Laring ini terdiri dari 9 kartilago, 3 kartilago yang berpasangan dan 3 yang
tidak berpasangan. Organ ini terletak pada midline didepan cervikal vertebra ke 3 sampai
c 6.

Organ ini dibagi ke dalam 3 regio:

* Vestibule

* Ventricle

* Infraglotitic

Vocal fold (true cord) dan vestibular fold (false cord) terletak pada regio ventricle.

Didalam faring ini terdapat pita suara yang dapat menghasilkan gelombang suara yang
nantinya akan di modifikasi oleh resonator dan articulator yang kemudian dihasilkan
suara yang seperti kita ucapkan sehari-hari. Pergerakan pita suara (abduksi, adduksi dan
tension) dipengaruhi oleh otot-otot yang terdapat disekitar laring, dimana fungsi otot-otot
tersebut adalah:

• M. Cricothyroideu menegangkan pita suara


• M. Tyroarytenoideus (vocalis) relaksasi pita suara
• M. Cricoarytenoideus lateralis adduksi pita suara
• M. Cricoarytenoideus posterior abduksi pita suara
• M. Arytenoideus transversus menutup bagian posterior rima glotidis
III.1.2 Vocal Tract

Vocal tract pada manusia merupakan acoustic tube dari cross section dengan panjang
sekitar 17 cm dari vocal fold hingga bibir. Area cross section ini bervariasi dari 0-20 cm2
dengan penempatan bibir, rahang, lidah, dan velum(soft palate). Perangkap (trap-door
action) yang dibuat sepasang velum pada vocal tract membuat secondary cavity yang
berpartisipasi dalam speech production- nasal tract. Nasal cavity memiliki panjang sekitar
12 cm dan luas 60 cm3.

Untuk bunyi suara, sumber rangsang adalah velocity volume dari udara yang melewati
vocal cords. Vocal tract bertindak pada sumber ini sebagai filter dengan frekuensi yang
diinginkan, berkorespondensi dengan resonansi akustik dari vocal tract

III.1.3 Voiced Sounds (Suara)

Suara, contohnya huruf vokal (a,i,u,e,o), diproduksi dengan meningkatkan tekanan udara
di paru-paru dan menekan udara untuk bergerak ke glottis (lubang antara vocal cords),
sehingga vocal cords bergetar.

Getaran tersebut mengganggu aliran udara dan menyebabkan getaran broad spectrum
quasi-periodic yang berada di vocal tract. Ligament yang bergetar dari vocal cords
memiliki panjang 18 mm dan glottal yang secara khusus bervariasi dalam area dari 0-20
mm2. Otot laryngeal yang mengatur vocal folds dibagi menjadi tensors, abductors, dan
adductors. Naik dan turunnya pitch dari suara dikontrol oleh aksi dari tensor – crico-
thyroid dan otot vocalis. Variasi dalam tekanan subglottal juga penting untuk mengatur
derajat getaran laryngeal.

III.1.4 Artikulasi dan Resonansi

Ketika suara dasar dihasilkan oleh vocal tract, suara tersebut dimodifikasi untuk
menghasilkan suara yang jelas dengan proses resonansi dan artikulasi

Dengan kegunaan sifat-sifat resonant dari vocal tract, bunyi suara dasar disaring. Kualitas
akhir dari suara tergantung dari ukuran dan bentuk berbagai cavitas yang berhubungan
dengan mulut dan hidung. Bentuk dari beberapa cavitas ini bisa diubah oleh berbagai
macam aktivitas bagian yang dapat bergerak dari pharynx dan cavitas oral.
Cavitas yang berhubungan dengan dengan hidung adalah cavitas nasal, sinus, dan
nasopharynx. Nasopharynx dengan cepat berubah-ubah dan variasi ini dihasilkan oleh
kontraksi otot-otot pharyngeal dan gerakan dari palatum lunak.

Cavitas yang berhubungan dengan mulut adalah cavitas oral dan oropharynx. Kedua
cavitas ini bisa diubah-ubah oleh kontraksi dari otot-otot. Semua cavitas ini mengambil
dan memperkuat suara fundamental yang dihasilkan oleh getaran dari vocal cords. Fungsi
ini dikenal dengan sebutan resonansi. Pergerakan dari palatum lunak, laring, dan pharynx
membuat manusia dapat mencapai keseimbangan yang baik antara resonansi oral dan
nasal yang akhirnya menjadi karakteristik dari suara tiap-tiap individu.

Artikulasi adalah proses penghasilan suara dalam berbicara oleh pergerakan bibir,
mandibula, lidah, dan mekanisme palatopharyngeal dalam kordinasi dengan respirasi dan
phonasi

Fungsi dari mekanisme pengucapan adalah untuk mengubah bentuk dari tonsil laryngeal
dan untuk membuat suara dalam rongga mulut. Suara yang penting terbentuk adalah
pengucapan konsonan, yang ditekankan sebagai iringan suara oleh gesekan bunyi.
Konsonan dibentuk dari gelombang udara yang berkontak dari arah yang berlawanan.
Misalnya pada kontak antara dua bibir saat pengucapan huruf “p” dan “b”. Contoh
lainnya juga pada lidah yang menyentuh gigi dan palatum saat pengucapan huruf “t” dan
“d”.

Tanpa kemampuan (kapasitas) pengucapan, suara yang dihasilkan hanya berupa faktor
kekuatan, volume, dan kekuatan, seperti suara yang hanya dihasilkan oleh huruf vocal.
Hal ini terbukti secara klinis ketika kemampuan berbicara seseorang hilang pada
penderita paralytic stroke. Kemampuan berbicaranya hanya seperti pengucapan huruf
vocal saja dengan sedikit konsonan.

Disamping menyuarakan suara-suara, sistem vokal dapat menghasilkan dua macam


suara-suara yang tak terdengar: fricative sounds dan plosive sounds.

Fricative sounds dicontohkan oleh konsonan s,sh, f, dan th, yang dihasilkan ketika traktus
vokal setengah tertutup pada beberapa titik dan udara tertekan melewati konstriksi pada
kecepatan yang cukup tinggi untuk menghasilkan turbulensi. Konsonan fricative
membutuhkan sangat sedikit penyesuaian pada artikulator, dan sering terdengar tidak
sempurna pada kasus maloklusi atau penggunaan denture.

Plosive sounds, konsonan p, t, dan k, diproduksi ketika traktus vokal tertutup seluruhnya
( biasanya dengan bibir atau lidah), membiarkan tekanan udara meningkat saat menutup,
dan kemudian membuka dengan tiba-tiba. Untuk beberapa suara, seperti fricative
consonant v dan z yang terdengar, adanya kombinasi dari dua sumber suara.

Pembentukan pada pergerakan untuk kemampuan bicara berkaitan dengan fungsi


kontinyu dari sensorik informasi dari reseptor otot dan mechanoreceptor cutaneous yang
didistribusikan sepanjang respiratosy, laringeal, dan sistem orofacial.
III.2 Vokalisasi

Laring khususnya berperan sebagai penggetar (vibrator). Elemen yang bergetar adalah
pita suara. Pita suara menonjol dari dinding lateral laring ke arah tengah dari glotis. pita
suara ini diregangkan dan diatur posisinya oleh beberapa otot spesifik pada laring itu
sendiri.

Gambar 37-10B menggambarkan pita suara. Selama pernapasan normal, pita akan
terbuka lebar agar aliran udara mudah lewat. Selama fonasi, pita menutup bersama-sama
sehingga aliran udara diantara mereka akan menghasilkan getaran (vibrasi). Kuatnya
getaran terutama ditentukan oleh derajat peregangan pita, juga oleh bagaimana
kerapatan pita satu sama lain dan oleh massa pada tepinya.

Gambar 37-10A memperlihatkan irisan pita suara setelah mengangkat tepi mukosanya.
Tepat di sebelah dalam setiap pita terdapat ligamen elastik yang kuat dan disebut ligamen
vokalis. Ligamen ini melekat pada anterior dari kartilago tiroid yang besar, yaitu
kartilago yang menonjol dari permukaan anterior leher dan (Adam’s Apple”). Di
posterior, ligamen vokalis terlekat pada prosessus vokalis dari kedua kartilago aritenoid.
Kartilago tiroid dan kartilago aritenoid ini kemudian berartikulasi pada bagian bawah
dengan kartilago lain, yaitu kartilago krikoid.

Pita suara dapat diregangkan oleh rotasi kartilago tiroid ke depan atau oleh rotasi
posterior dari kartilago aritenoid, yang diaktivasi oleh otot-otot dari kartilago tiroid dan
kartilago aritenoid menuju kartilago krikoid. Otot-otot yang terletak di dalam pita suara
di sebelah lateral ligamen vokalis, yaitu otot tiroaritenoid, dapat mendorong kartilago
aritenoid ke arah kartilago tiroid dan, oleh karena itu, melonggarkan pita suara.
Pemisahan otot-otot ini juga dapat mengubah bentuk dan massa pada tepi pita suara,
menajamkannya untuk menghasilkan bunyi dengan nada tinggi dan menumpulkannya
untuk suara yang lebih rendah (bass).

Akhirnya, masih terdapat beberapa rangkaian lain dari otot laringeal kecil yang terletak di
antara kartilago aritenoid dan kartilago krikoid, yang dapat merotasikan kartilago ini ke
arah dalam atau ke arah luar atau mendorong dasarnya bersama-sama atau
memisahkannya, untuk menghasilkan berbagai konfigurasi pita suara.

IV Basis neural bahasa

Salah satu perbedaan terpenting antara manusia dan binatang rendah adalah adanya
fasilitas pada manusia untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Selanjutnya, karena tes
neurologic dapat dengan mudah menaksir seberapa besar kemampuan seseorang untuk
berkomunikasi satu sama lain, maka kita dapat mengetahui lebih banyak tentang sistem
sensorik dan motorik yang berkaitan dengan proses komunikasi daripada mengenai
fungsi segmen kortikal lainnya.

Terdapat dua aspek untuk dapat berkomunikasi, yaitu: aspek sensorik (input bahasa),
melibatkan telinga dan mata, dan kedua, aspek motorik (output bahasa) yang melibatkan
vokalisasi dan pengaturannya.\

IV.1 Aspek Sensorik pada Komunikasi

Pada korteks bagian area asosiasi auditorik dan area asosiasi visual, bila mengalami
kerusakan, maka dapat menimbulkan ketidakmampuan untuk mengerti kata-kata yang
diucapkan dan kata-kata yang tertulis. Efek ini secara berturut-turut disebut sebagai
afasia reseptif auditorik dan afasia reseptif visual atau lebih umum, tuli kata-kata dan
buta kata-kata (disleksia). Studi dari afasia ini mempunyai peran penting pada
pemahaman neural basis dari bahasa. Penyebab paling sering ialah trauma kepala (head
trauma). Penyebab selanjutnya ialah stroke: 40% major vascular events pada hemisfer
cerebral yang mengakibatkan language disorders.

Afasia anomik (Anomic aphasia)

Pada afasia ini, satu-satunya gangguan ialah pada kemampuan untuk menemukan kata-
kata yang benar. Ini merupakan bentuk afasia yang tidak biasa. Akan tetapi, biasanya
merupakan lesi pada aspek posterior dari lobus temporal inferior kiri, dekat dengan garis
temporal-occipital.

Afasia Wernicke dan Afasia Global

Beberapa orang mampu mengerti kata-kata yang diucapkan ataupun kata-kata yang
dituliskan namun tak mampu menginterpretasikan pikiran yang diekspresikan walaupun
saat mendengar music atau suara nonverbal akan normal. Biasanya pasien berbicara
sangat cepat baik ritme, grammar, dan artikulasi. Apabila tidak benar-benar didengarkan,
akan terdengar hampir normal. Keadaan ini sering terjadi bila area Wernicke yang
terdapat di bagian posterior hemisfer dominan girus temporalis superior mengalami
kerusakan. Oleh karena itu, tipe afasia ini disebut afasia Wernicke.

Bila lesi pada are Wernicke ini meluas dan menyebar (1) ke belakang ke region girus
angular, (2) ke inferior ke area bawah lobus temporalis, (3) ke superior ke tepi superior
fisura sylvian dari hemisfer kiri, maka penderita tampak seperti benar-benar terbelakang
secara total (totally demented) untuk mengerti bahasa atau berkomunikasi, dan karena itu
dikatakan menderita afasia global.

Transcortical sensory aphasia

Merupakan pemutusan area Wernicke dari posterior parietal temporal association area.
Hal ini menyebabkan fluent aphasia dengan kurangnya pemahaman dan juga kecacatan
saat berpikir ataupun mengingat arti dari suatu tanda atau kata-kata. Pasien tidak dapat
membaca, menulis dan juga ditandai dengan kesusahannya mendapat kata-kata, tetapi
dapat mengulang apa yang telah dibicarakan dengan mudah dan fasih.

IV.2 Aspek Motorik Komunikasi

Proses bicara melibatkan dua stadium utama aktivitas mental:

1. Membentuk buah pikiran untuk diekspresikan dan memilih kata-kata yang akan
digunakan, kemudian
2. mengatur motorik vokalisasi dan kerja yang nyata dari vokalisasi itu sendiri.

Pembentukan buah pikiran dan bahkan pemilihan kata-kata merupakan fungsi area
asosiasi sensorik otak. Sekali lagi, area Wernicke pada bagian posterior girus temporalis
superior merupakan hal yang penting untuk kemampuan ini. Oleh karena itu, penderita
yang mengalami afasia Wernicke atau afasia global tak mampu memformulasikan
pikirannya untuk dikomunikasikan. Atau bila lesinya tak begitu parah, maka penderita
masih mampu memformulasikan pikirannya namun tak mampu menyusun kata-kata yang
sesuai secara berurutan dan bersama-sama untuk mengekspresikan pikirannya.
Seringkali, penderita fasih berkata-kata namun kata-kata yang dikeluarkannya tidak
berurutan.

Afasia Motorik akibat Hilangnya Area Broca.

Kadang-kadang, penderita mampu menentukan apa yang ingin dikatakannya, dan mampu
bervokalisasi, namun tak dapat mengatur sistem vokalnya untuk menghasilkan kata-kata
selain suara ribut. Efek ini, disebut afasia motorik, disebabkan oleh kerusakan pada area
bicara Broca, terletak di regio prefrontal dan fasial premotorik korteks (kira-kira 95%
kelainannya di hemisfer kiri). Oleh karena itu, pola keterampilan motorik yang dipakai
untuk mengatur laring, bibir, mulut, sistem respirasi, dan otot-otot lainnya yang dipakai
untuk bicara dimulai dari daerah ini.
Artikulasi

Berarti gerakan otot-otot mulut, lidah, laring, pita suara, dan sebagainya, yang
bertanggung jawab untuk intonasi, waktu, dan perubahan intensitas yang cepat dari
urutan suara. Regio fasial dan laryngeal korteks motorik mengaktifkan otot-otot ini, dan
serebelum, ganglia basalis, dan korteks sensorik semuanya membantu mengatur urutan
dan intensitas kontraksi otot, dengan mekanisme umpan balik serebelar dan fungsi
ganglia basalis. Kerusakan setiap regio ini dapat menyebabkan ketidakmampuan parsial
atatu total untuk berbicara dengan jelas.

Lesi yang tidak mempengaruhi cerebral cortex, khususnya lesi vascular pada basal
ganglia dan thalamus, dapat juga menyebabkan afasia yang disebut afasia subcortical.

Lesi kecil pada otak dapat merusak kemampuan untuk membaca dan/atau menulis, tanpa
menganggu bicara ataupun fungsi kognitif lainnya. Alexia (ketidakmampuan untuk
membaca) dengan agraphia (ketidakmampuan menulis) berhubungan dengan lesi kortex
pada lobus parietal kiri, dibelakang cortex area auditorik. Alexia tanpa agraphia
berhubungan dengan lobus occipital kiri.

IV.3 Lokalisasi pusat kontrol bahasa

Vokalisasi mamalia membutuhkan koordinasi pergerakan pernapasan, laryngeal


artikulatori (supralaryngeal). Moto neuron bertanggung jawab untuk pergerakan
respiratori yang berada dalam corda spinalis lumbar atas, toraxic dan servikal. Kontrol –
kontrol ditemukan dalam nucleus ambiguus. Neuron yang bertanggung jawab untuk
kontrol pergerakan artikulator terlokalisasi dalam nukleus motorik trigeminal, nukleus
facial, rostal nucleus ambiguus, nucleus hipoglosal, dan corda spinalis servical atas.
Demikian, bahkan pada tingkat kontrol efferen kontrksi otot (jalur final) yang umum,
vokalisasi melibatkan suatu satuan ekstensive pada motoneuron yang bersambung dari
pons ke corda spinalis.

Transeksi pusat otak diatas nucleus motorik trigeminal pada hewan mengakibatkan
hewan” ini bisu. Karena itu, pertukaran informasi sraf antara nuclei motor cranial,
motoneuron respiratorius spinalis, dan informasi somato sensorik yang memasuki batang
otak bawah dan corda spinalis tidak cukup u8ntuk menginisiai vokalisasi. Input
koordinasi dari pusat cerebral yang lebih tinggi diperlukan. Dengan beberapa penelitian
behavioral yang hati” pada produksi bahasa, para neurologis telah mendeskripsikan
beberapa aphasia yang biasanya terlibat dalam area berbeda di hemisver otak. Salah satu
aphasia yang paling awal, wernicke’s aphasia, yang mana pasien dapat berbicara sangat
cepat, tanpa peduli irama, pola kalimat, dan artikulasi. Kata”, jika tidak didengarkan
secara baik”, dapat terdenga hampir normal. Pasien gagal menggunakan kata” yang benar
dan justur menggunakan frase circumlacutory. Karakteristik lain parafrasia, yang mana
satu kata atau frase disubsitusi untuk yang lain, terkadang pada makasud yang terkait,
ataupun tidak terkait. Pasien ini dapat memiliki kehilangan percakapan yang parah
walaupun pendengaran suara non verbal dan musik bisa jadi sepenuhnya normal. Lesi
saraf ini berhubungan dengan gangguan linguistik asosiasi seperti ketidak mampuan
membaca (aleksia) dan ketidak mampuan menulis (agrafia).

Pada Broca’s apasia , kata-kata terjadi secara perlahan, artikulasi tidak rapi, dan kata”
gramatikal kecil dan akhiran huruf mati dan kata kerja bersambung jadi kata-kata
diucapkan memiliki gaya telegrafik. Lesi ini terlokalisasi dalam zona bahasa anterior, dan
bukan lesi kombinasi.

Conduction aphasia, menyerupai Wernicke’s aphasia pada keberadaan kata” yang


kebanyakan normal dan lancar tapi repetisi yang buruk, juga kompensasi auditori yang
baik. Lesi ini mengkompromisasi struktur yang cecara normal mentransfer informasi
auditori ke sistem motor, langkah fisiologis diperlukan untuk tindakan mengulangi
kalimat.

Pasien dengan global aphasia tidak dapat berbicara atau memahami bahasa. Mereka tidak
dapat membaca, menulis, mengulangi, atau menyebutkan nama barang-barang. Lesi ini
ektensive dan yang secara esensial di suplai oleh cabang cortical pada arteri tengah otak
mengarahnkan semua perisylvian territory pada hemisver kiri.

Pada anomic aphasia, satu-satunya gangguan adalah dalam menemukan kata” yang tepat.
Ini adalah bentuk aphasia yang tidak biasa yang secara khas mengikuti lesi di aspek
posterior lobus temporalis inferior kiri, dekat border temporal-occipital.

Transcortical motor aphasia dihasilkan dari lesi yang memutuskan hubungan area broca’s
dari cortex motori suplementer. Pasien akan melakukan percakapan tapi hanya dapat
mengucapkan sedikit syllables.

Transcortical sensory mengikuti diskoneksi dari Wernicke’s area pada area asosiasi
temporal parietal posterior. Ini menyebabkan aphasia lancar dengan pemahaman yang
defektif, dan defek dalam berfikir atau mengingat maksud sinyal dan tanda-tanda.

Pasien tidak bisa membaca dan menulis dan juga memiliki kesulitan dalam menemukan
kata-kata tapi dapat mengulangi kata-kata verbal secara mudah dan lancar.

Lesi yang tidak mempengaruhi cortex cerebral, biasanya lesi vaskuler dalam ganglia
basalis dan talamus, dapat juga dihasilkan dalam aphasia yang biasanya disebut
subcortical aphasia.

IV.4 Dominasi Cerebral


Kerusakan di area korespondensi di sisi lain otak meninggalkan kemampuan berbahasa
yang utuh. Hanya sedikit keruskan di hemisfer kanan otak menyebabkan kerusakan
bahasa. 97% dari mereka memiliki kerusakan di hemisver kiri otaknya. Kontrol unilateral
pada fungsi tertentu disebut dominasi cerebral.

Tanda bahasa juga menyediakan pengertian untuk produksi bahasa. Tidak seperti kata-
kata, penandaan terdiri atas serangkaian bahasa tubuh yang di interpretasikan oleh sistem
visual daripada sistem auditorial. Pengertian tanda juga dilokalisasi dihemisver kiri. Lesi
pada otak kiri menyebabkan individu tuli menjadi aphasic pada bahasa tanda.

IV.5 Teori pemrosesan bahasa

Berdasarkan pembelajaran ekstensive pada kelainan berbahasa dan lesi anatomis


terasosiasi, dibuatlah model aktivitas otak selama produksi bahasa. Teori para
connectionist menjelaskan bahwa ketika sebuah kata terdengar, output dari area auditorial
primer pada cortex diterima oleh Wernicke’s area. Jika kata-kata tersebut adalah untuk
diucapkan, polanya ditranmisikan dari Wernicke’s area ke Broca’s area dimana bentuk
artikulatori dibangun dan dikirim ke area motorik yang mengontrol pergerakan otot-otot
berbicara. Jika kata-kata yang digunakan dieja, pola auditorial dikirim ke cortex
agranular, dimana ia mendapatkan pola visualnya. Saat sebuah kata dieja, output dari area
visual primer melewati gyrus anguler, yang pada gilirannya membangkitkan bentuk
auditori korespondensi pada kata dalam Wernick’s area.

Bahasa mengandung banyak tipe informasi linguistik termasuk informasi yang mengenali
struktur suara dari ungkapan (fonologi), informasi tentang bentuk tata kalimat (sintaksis),
dan informasi yang mengenali maksud ungkapan (semantik). Bukti-bukti tekah
menujukkan bahwa area cortical yang terlibat dengan bahasa tidaklah bekerja sendiri, tapi
kemungkinan dibagi-bagi menjadi area terpisah untuk menangani bahasa yang berbeda,
karena ada lesi-lesi pada orang-orang multilingual yang meninggalkan hanya satu
keutuhan. Area-area terpisah ini juga dijelaskan sebagai yang memegang taspek-aspek
tata bahasa berbeda. Berdasarkan penelitian ini yang lainnya, teori para connectionist
telah digantikan oleh teori moduler dimana bahasa diproses secara paralel dengan banyak
area berbeda yang bertanggung jawab untuk tugas-tugas kognitif yang berbeda.