Anda di halaman 1dari 12

Voltmeter Tembaga (L3)

Tujuan Percobaan

1. Memahami prinsip perpindahan elektronik pada voltmeter tembaga.

2. Melakukan penerapan Amperemeter dan Voltmeter dengan larutan tembaga

sulfat.

3. memahami teori dan prinsip kerja dari Amperemeter dan Voltemeter.

Alat, bahan beserta fungsi

1. Voltmeter yang terdiri dari sebuah tabung yang berisi larutan tembaga sulfat (150

gr CuSO4 + 2 gr H2SO4 + 50 gr Alkohol + 1 liter H2O), didalamnya terdapat 2

keping tembaga pada tepinya dan 1 keping tembaga di tengahnya.

2. Amperemeter dan Voltmeter

Amperemeter digunakan untuk mengukur arus yang mengalir dalam rangkaian.

Voltmeter digunakan untuk mengukur besarnya tegangan yang diberikan pada

rangkaian.

3. Power Supply

Berfungsi sebagai tenaga yang akan dialirkan dalam percobaan.

4. Kabel-kabel dan pemutus arus

Berfungsi menghubungkan arus listrik yang mengalir dalam rangakaian, lalu

pemtus arus digunakan untuk memutuskan arus.

5. Spritus

Digunakan sebagai larutan untuk membersihkan gumpalan pada keping tembaga.

6. Amplas

Amplas digunakan untuk menggosok gumpalan yang terbentuk pada keping.


Dasar teori

Dalam sel elektrokimia berlangsung suatu proses elektrokimia, yaitu suatu proses

reaksi kimia menghasilkan arus listrik, atau sebaliknya arus listrik menghasilkan proses

kimia. Sel elektokimia digunakan secara luas dalam kehidupan sehari-hari misalnya

dalam proses ekstrasi dan pemurnian logam emas, perak, dan aluminium, penyepuhan

logam dan yang sangat penting adalah pemanfaatan sel elktrokimia pada berbagai alat

elektronik.

Contoh sel elektrokimia yang banyak digunakan pada peralatan elektronik yaitu

baterai dan accumulator(aki). Kedua jenis sel elektrokimia ini banyak digunakan sebagai

sumber energi listrik, antara lain pada radio, lampu senter, kalkulator, mesin mobo\il

mesin motor, mainan anak-anak sampai pada peralatan ruang angkasa seperti satelit yang

menggunakan baterai nikel kadmium dan sel surya. Dapatkah anda menunjukkan contoh

penggunaan baterai dan aki lainnya?

Energi listrik dalam peralatan elektronik tersebut diperoleh dari hasil reaksi kimia

berupa reaksi redoks yang spontan. Dalam reaksi redoks terjadi transfer atau perpindahan

electron dari suatu unsure ke unsur lain. Aliran electron ini menunjukkan adanya alirean

arus listrik.

Pada baterai atau aki yang sedang digunakan, berlangsung suatu reaksi kimia

yang menghasilkan arus listrik. Kebalikan proses tersebut adalah penggunaan energi

listrik untuk reaksi kimia. Misalnya, pada proses penyepuhan logam dan penyetruman

aki. Jadi berdasarkan reaksi selk elektrokimia dibagi menjadi dua yaitu Sel Volta dan Sel

Elektrolisis.

1. Sel Volta : Reaksi kimia yang berlangsung spontan dan menghasilkan arus

listrik. Katode merupakan ktub positip dan anode kutub negatif.

2. Sel Elektrolisis : Arus litrik yang menyebabkan terajdinya reaksi kimai. Katode

merupakan kutub negatif dana anode merupakan kutub postif.

Contoh : penyepuhan, pemurnian logam dalam pertambangan dan

penyetruman aki.
Pada kesempatan ini kita akan membahas mengenai Sel Elektrolisis, sekaligus

menerapkan proses pemurnian logam.

Ilmuwan Inggris, Michael Faraday mengalirkan arus listrik ke dalam larutan

elektrolit dan ternyata larutan elektrolit itu terjadi reaksi kimia. Rangkaian alt kimia yang

digunakan untuk menunjukkan reaksi kimia akibat dialiraka arus listrik disebut sebagai

sel elektrolisis.

Perhatikan gambar dibawah ini Elektroda pada sel elektrolisis berbeda dengan

elektroda pada sel volta. Katode pada sel volta merupakan kutuib positip dan anodenya

merupakan kutub negatip. Adapun pada sel elektrolisis, katode mrupakan kutub negatip

sedangkan katode merupakan kutub positip. Pada sel volta, pemberian tanda kutub positip

dan negatip ini didasarkan pada potensial listrik kedua elektrodanya. Adapun pada sel

elektrolisis, penentuan ini didasarkan pada potensial tyang diberkan dari luar.

Konsep Praktikum

Hantaran listrik melalui larutan elektrolit dapat dianggap sebagai aliran electron. Jadi

apabila electron telah dapat mengalir dalam larutan elektrolit berarti listrik dapat mengalir

dalam larutan tersebut. Elektron berasal dari kutub katode atau kutub negatif. Sedangkan

pada anode melepaskan ion positip dan membentuk endpan pada logam katode. Di dalam

larutan terurai proses:

CuSO4 Cu2+ + SO42-

Ion Cu2+ ini akan berpindah menuju keping katode sedangkan ion SO42- akan

menuju keping anode. Lama-lama keping katode ini akan timbul endapan dan terjadi

perubahan massa. Massa ini dapat dihitung dengan cara:

G=a.I.t
Dimana:

G = jumlah endapan tembaga Cu (gram)

a = tara kimia listrik (gr/ampere.jam)

I = kuat arus listrik (ampere)

t = lamanya pengaliran arus (jam)

Untuk tembaga nilai a = 1,186 gr/ampere.jam, karena G telah dapat diketahui maka I arus

dapat diperoleh dengan:

I = G/at

Kita telah mengetahui berbagai cara untuk membangkitkan arus listrik di dalam

alat pembangkit tegangan. Antara dua jepit tegangan (sumber arus) jepit kedua keping

tembaga anode pada kutub positip dan satu keping tembaga pada keping katode pada

kutub negatif.

Kita telah mempelajari konsep ini pada tingkat SMA, sekarang akan kita buktikan

melalui praktiknya. Kali ini kita akan menggunakan sumber tegangan dc (direct current)

dalam rangakaian, sebab dalam rangkaian hanya ada satu jalan yaitu dari anode ke katode

tetapi tidak sebaliknya.

Kegunaan sel Elektrolisis

1. Pembuatan Gas di Laboratorium

Sel elektrolisis banyak digunakan dalam industri pembuatan gas misalnya

pembuatan gas oksigen, gas hydrogen, atau gas klorin. Untuk menghasilkan gas

oksigen dan hydrogen, Anda dapat menggunakan larutan elektrrolit dari kation

golongan utama (K+,Na+) dan anion yang mengandung oksigen (So42-,, NO3-)

dengan electrode Pt atau karbon. Reaksi elektrolisis yang mengahsilkan gas,

misalnya elektrolisis larutan Na2SO4 menggunakan electrode karbon.


Reaksi yang terjadi

Na2SO4(aq) 2Na+(aq) + SO42-

Katode (C) : 2H2O(l) + 2e- 2OH-(aq) + H2(g)

Anode(C) : 2H2O(l) 4e- + 4H+ + O2(g)

Karena pada katode dan anode yang bereaksi adalah air, semakin lama air

semakin berkurang sehingga perlu ditambahkan. Perlu diingat bahwa walaupun

yang bereaksi air, tidak berarti elektrolit Na2SO4 tidak diperlukan. Elektrolit ini

berguna sebagai penghantar arus listrik.

2. Proses Penyepuhan Logam

Proses penyepuhan sutu logam emas, perak,

atau nikel, bertujuan menutupi logam yang

penampilannya kurang baik atau menutupi

logam yang mudah berkarat. Logam-logam

ini dilapiasi dengan logam lain yang

penampilan dan daya tahannya lebih baik

agar tidak berkarat. Misalnya mesin

kendaraan bermotor yang terbuat dari baja

umumya dilapisi kromium agar terhindar

dari korosi . Beberapa alat rumah tangga

juga disepuh dengan perak sehingga lebih

awet dan penampilannya tampak lebih baik.

Badan sepede titanium dilapisi titanium oksida (TiO2) yang bersifat keras dan

tidak dapat ditembus oleh oksigen atau uap air sehingga terhindar dari reaksi

oksida yang menyebabkan korosi.

Prinsip kerja proses penyepuhan adalah penggunaan sel dengan elektrolit larutan

dan electrode reaktif. Contoh jika logam atau cincin dari besi akan dewlaps emas

digunakan larutan elektrolit AuCl3(aq). Logam besi (Fe) dijadikan sebagai


katode, sedangkan logam emasnya (Au) sebagai anode. Apa yang terjadi jika

kedua logam ini ditukar posisinya?Me ngapa?

Reaksi yang berlangsung dalam proses penyepuhan besi dengan emas yaitu

AuCl3(aq) Au3+(aq) + 3Cl-(aq)

Katode(cincin Fe): Au3+(aq) + 3e- Au(s)

Anode(au) : Au(s) Au3+(aq) 3e-

Proses yang terjadi yaitu oksidasi logam emas (anode) menjadi Au3+(aq) Kation

ini akan bergerak ke katode menggantikan kation Au3+ yang direduksidi katode.

Kation Au3+ di katode direduksi membentuk endapan logam emas yang melapisi

logam atau cincin besi. Proses ini cukup murah karena emas yang melapisi besi

hanya berupa lapisan tipis.

3. Proses Pemurnian logam kotor

Proses pemurnian logam kotor banyak dilakukan dalm pertambangan . logam

transisi yang kotor dapat dimurnikan dengan cara menempatkannya sebagai anode

dan logam murni sebagai katode. Elektrolit yang digunkan adalah elektrolit yang

mengandung kation logam yang dimurnikan. Contoh : prose pemurnian nikel

menggunakan larutan NiSO4 . niukel murni digunkan sebagai katode, sedangkan

nikel kotor (logam yang dimurnikan ) digunakan sebagai anode. Reaksi yang

terjadi, yaitu:

NiSO4(aq) Ni2+(aq) + SO42-

Katode(Ni murni) :Ni2+(aq) + 2e- Ni(s)

Anode (Ni kotor) :Ni(s) Ni2+ + 2e-

Logam nikel yang kotor pada anode

dioksidasi menjdi ion Ni2+. Kemudian, ion

Ni2+ pada katode direduksi membentuk

logam Ni dan bergabung dengan katode


sumber

yang merupakan logam murni. Kation Ni2+

di anode bergerak ke daerah katode

menggantikan kation yang direduksi. Untuk

mendapatkan logam nikel murni(di katode)

harus ada penyaringan sehinggga kotoran

(tanah, pasir dan lain-lain) hanya berada di

anode dan tidak berpindah ke katode

sehingga daerah di katode merupakan daerah

yang bersih.

pengotor

Prosedur Percobaan

1. Susunlah rangkaian seperti gambar di bawah ini.

2. Keping tembaga pada sisi katode diamplas, dibersihkan lalu dicuci dengan air

lalu kemudian disiram dengan spiritus dan dikeringkan, setelah itu ditimbang(Go).

3. Setting power supply sehingga dapat mengalirkan arus sesuai dengan yang

diinginkan( jangan lebih dari 15 A atau 2 A).

4. Masukkan keping katode sesuai dengan rangkaian yang ada kemudian hidupkan

power supply dan jalankan percobaan tersebut sampai pada waktu tertentu.

5. Setelah sampai pada waktunya putuskan arus dan angkat keping katode dan

keringkan kamudian timbang(g1).

6. Ulangi langakah 3 sampai 5 untuk keping II dan keping III.


Data Hasil Percobaan
a. Untuk V = 10 volt

Keping Go G1 G T
I 24,8399 24,9438 0,1039 0,05 jam
II 23,00790 23,1590 0,08 0,05 jam

b. Untuk V = 12 volt

Keping Go G1 G T
I 23,1901 23,3130 0,1229 0,05 jam
II 23,4801 23,6130 0,1329 0,05 jam

Pengolahan Data
a. Untuk V = 10 volt
G = G1 – G0 ; a = 1,186
I1 = G/a.t I2 = G/a .t
= 0,1039/1,186 . 0,05 = 0,08/ 1,186 . 0,05
= 1,752 ampere = 1,3949 ampere

b. Untuk V = 12 volt
I1 = G/a.t I2 = G/a .t
= 0,1229/1,186 . 0,05 = 0,1329/1,186 . 0,05
= 2,072 ampere = 2,241 ampere
Pertanyaan dan Jawaban

1. Untuk tenbaga, a = 1,186 gr/A.jam. Tolong buktikan nilai ini!

Jawab : a = Ar/v . 1/F

Ar Cu = 63,5 ; v Cu = 2 ; F = 96487

a = 63,5/2 . 1/96478

= 0,0003291 gram/A.det

Karena satuan t dalam percobaan ini diperlukan jam, jadi;

A = 0,0003291 . 3600

= 1,1846 gr/A.jam = 1,186 gr/A.jam

2. Berikan pendapat saudara apakah arus bolak-balik dapat dipakai dalam percobaan

ini? Jelaskan!

Jawab : Menurut saya, berdasarkan teorinya arus bolak-balik(AC) kutub positip

dan kutub negatifnya tidak dapat ditentukan karena bersifat bolak-balik.

Sedangkan pada arus searah (DC) kutub positip dan kutub negatifnya dapat
ditentukan, karena arus berlangsung dalam satu arah. Jika kita menggunakan arus

bolak-balik kemungkinan terbentuknya endapan pada katode sangat kecil atau tak

terbentuk sama sekali. Hal ini disebabkan arus yang berlangsung bolak-balik.

Analisa Percobaan

Pada percobaan ini diharapkan praktikan dapat mengetahui seberapa besar

pengaruh arus yang dialirkan dalam larutan elektrolit terhadap endapan yang terbentuk.

Begitu juga bagaimana kalau waktu pemberian arus yang diberikan diperpanjang.

Berdasarkan konsep, arus akan mengalir dari kutub anode ke kutub katode. Dari kutub

katode ini akan terbentuk endapan dari logam-logam tembaga.

Melalui percobaan ini praktikan ini mencoba menganalisa bagaimana pengaruh

arus terhadap endapan yang terbentuk di anode jika arus yang diberikan berbeda-beda.

Pada arus pada tegangan 10 volt jumlah endapan yang terbentuk pada percobaan pertama

yaitu : 0,1039 gram, kemudian pada percobaan kedua endapan yang terbentuk yaitu 0,08

gram. Sedangkan pada pemberian arus pada tegangan 12 volt, endapan yang terbentuk

pada percobaan pertama yaitu : 0,1229 gram kemudian pada percobaan kedua endapan

yang terbentuk sebanyak 0,1329 gram.

Dari data diatas dapat kita peroleh informasi bahwa pada tegangan 10 volt,

endapan yang terbentuk lebih sedikit dibandingkan pemeberian tegangan pada 12 volt.

Berarti apabila kita beri tegangan yang lebih besar maka endapan yang terbentuk pun

akan lebih banyak.

“Lalu bagaimanakah pengaruh waktu terhadap endapan yang terbentuk?”

Sebagaimana kita ketahui, semakin lama kita memberikan arus maka endapan yang

terbentuk juga akan semakin banyak.

Dari praktikum ini kami menyimpulkan bahwa ada beberapa hal yang dapat

mempengaruhi massa yang terbentu pada logam katode:

 Besarnya arus yang dialirkan dalam larutan tembaga sulfat.

 Lamanya waktu untuk mengalirkan arus ke dalam larutan tembaga sulfat.


 Nilai tara kimia listrik dari bahan itu sendiri.

Mungkin dari percobaan ini kita melakukan beberapa kesalahan dalam

pelaksanaan dan penghitungan nilai. Kesalahan ini hal yang wajar karena praktikan baru

pertama kalinya melakukan percobaan jenis ini.

Kesimpulan

1. Ada beberapa hal yang mempengaruhi banyaknya endapan yang terebentuk

pada katode:

 Besarnya arus yang dialirkan dalam larutan tembaga sulfat.

 Lamanya waktu untuk mengalirkan arus ke dalam larutan tembaga sulfat.

 Nilai tara kimia listrik dari bahan itu sendiri.

2. Semakin besar tegangan yang diberikan maka endapan yang terbentuk pun akan

lebih banyak.

3. Semakin lama kita memberikan arus maka endapan yang terbentuk juga akan

semakin banyak.

4. Endapan tidak akan terbentuk jika dialirkan arus bolak-balik.

5. Arus dari anode akan mengalir ke katode dan mengendapkan logam tembaga pada

kutub katode.

Kesalahan

1. Ketidakdisiplinan praktikan dalam mengangkat katode yang mengendap

sehingga ada beberapa massa yang terjatuh dalam larutan tembaga sulfat.

2. Kesalahan dalam pembulatan nilai yang diperoleh.

3. Beberapa keping tembaga sudah mengalami penuruna fungsi.

4. Larutan tembaga sulfat yang sudah keruh karena sisa massa tembaga yang jatuh

waktu pengambilan perhitungan massa


Daftar Pustaka

Setiabudidaya,dedi.2003.Praktikum Fisika Dasar Universitas Sriwijaya.

Palembang:UNSRI

Tim Penyusun Kimia.2002.Lembar Kerja Siswa Kimia 2A SMA.Klaten: Intan

Pariwara.

Tim Penyusun Fisika.2002.PR Fisika 3A SMA.Klaten: Intan Pariwara.

Data Hasil Percobaan


No V I t1 T1 t2 T c Q
1 3 4 180 29-31 90 31-34 2,48 518,4
2 3 4 100 34-36 50 36-38 1,26 288
3 3 4 62 38-40 31 40-41 0,69 178,56
4 3 4 84 41-43 42 43-49 1,02 241,92
5 3 4 70 44-46 35 46-47 0,81 201,6

Pengolahan data