Anda di halaman 1dari 22

Obat Generik Berlogo

Albendazol Tablet 400 mg


Aminofilin Injeksi 24 mg/ml
Amoxicillin Serbuk Injeksi 1g
Amoksisilin Kapsul 250 mg & Kaplet 500 mg
Amoksisilin SK 125 mg/5 ml & 250 mg/5 ml
Ampicillin Serbuk Injeksi 1g
Ampicillin 125 SK
Ampisilin Kaplet 500mg & SK 125 mg/5 ml
Antalgin Tablet 500 mg
Antalgin (Metampyron) Injeksi 250 mg/ml
Anti Perkinson DOEN Tablet kombinasi
Asam Askorbat (Vitamin C) Tablet 50mg & 250mg
Asam Folat Tablet 1mg

Golongan obat adalah penggolongan yang dimaksudkan untuk peningkatan keamanan dan
ketepatan penggunaan serta pengamanan distribusi yang terdiri dari obat bebas, obat bebas
terbatas, obat wajib apotek, obat keras, psikotropika dan narkotika.
Obat Bebas dan Bebas Terbatas dipasarkan tanpa resep dokter atau dikenal dengan nama OTC
(Over The Counter) dimaksudkan untuk menangani penyakit-penyakit simptomatis ringan yang
banyak diderita masyarakat luas yang penanganannya dapat dilakukan sendiri oleh penderita.
Praktik seperti ini dikenal dengan nama self medication (penanganan sendiri).
Obat Bebas
Obat bebas dapat dijual bebas di warung kelontong, toko obat berizin, supermarket serta apotek.
Dalam pemakaiannya, penderita dapat membeli dalam jumlah sangat sedikit saat obat
diperlukan, jenis zat aktiI pada obat golongan ini relatiI aman sehingga pemakainnya tidak
memerlukan pengawasan tenaga medis selama diminum sesuai petunjuk yang tertera pada
kemasan obat. Oleh karena itu, sebaiknya golongan obat ini tetap dibeli bersama kemasannya.

Di Indonesia, obat golongan ini ditandai dengan lingkaran berwarna hijau dengan garis tepi
berwarna hitam. Yang termasuk golongan obat ini yaitu obat analgetik/pain killer (parasetamol),
vitamin dan mineral. Ada juga obat-obat herbal tidak masuk dalam golongan ini, namun
dikelompokkan sendiri dalam obat tradisional (TR).
Obat Bebas Terbatas
Obat bebas terbatas adalah obat yang sebenarnya termasuk obat keras tetapi masih dapat dijual
atau dibeli bebas tanpa resep dokter, dan disertai dengan tanda peringatan. Tanda khusus pada
kemasan dan etiket obat bebas terbatas adalah lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam.

Tanda peringatan selalu tercantum pada kemasan obat bebas terbatas, berupa empat persegi
panjang berwarna hitam berukuran panjang 5 (lima) sentimeter, lebar 2 (dua) sentimeter dan
memuat pemberitahuan berwarna putih sebagai berikut:

Seharusnya obat jenis ini hanya dapat dijual bebas di toko obat berizin (dipegang seorang asisten
apoteker) serta apotek (yang hanya boleh beroperasi jika ada apoteker, no pharmacist no
service), karena diharapkan pasien memperoleh inIormasi obat yang memadai saat membeli obat
bebas terbatas.
Contoh obat golongan ini adalah: pain relieI, obat batuk, obat pilek dan krim antiseptik.
Obat Keras
Golongan obat yang hanya boleh diberikan atas resep dokter, dokter gigi, dan dokter hewan
ditandai dengan tanda lingkaran merah dan terdapat huruI K di dalamnya. Yang termasuk
golongan ini adalah beberapa obat generik dan Obat Wajib Apotek (OWA). Juga termasuk
didalamnya narkotika dan psikotropika tergolong obat keras.

Obat psikotropika adalah obat keras baik alamiah maupun sintetis bukan narkotik, yang
berkhasiat psikoaktiI melalui pengaruh selektiI pada susunan saraI pusat yang menyebabkan
perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.
Contoh : Diazepam, Phenobarbital
Obat Narkotika

Obat narkotika adalah obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun
semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa,
mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan menimbulkan ketergantungan.
Contoh : MorIin, Petidin
Note:
1. Obat bebas dan obat bebas terbatas, termasuk obat daItar W (Warschuwing) atau OTC
(over the counter).
2. Pada obat bebas terbatas terdapat salah satu tanda peringatan nomor 1- 6.
3. Obat keras nama lain yaitu obat daItar G (Gevarlijk), bisa diperoleh hanya dengan resep
dokter.
4. OWA (obat wajib apoteker) yaitu obat keras yang dapat diberikan oleh apoteker
pengelola apotek (APA), hanya bisa didapatkan di apotek.
OBAT WA1IB APOTEK (OWA)
Selain memproduksi obat generik, untuk memenuhi keterjangkauan pelayanan kesehatan
khususnya akses obat pemerintah mengeluarkan kebijakan OWA. OWA merupakan obat keras
yang dapat diberikan oleh Apoteker Pengelola Apotek (APA) kepada pasien. Walaupun APA
boleh memberikan obat keras, namun ada persayaratan yang harus dilakukan dalam penyerahan
OWA.
1. Apoteker wajib melakukan pencatatan yang benar mengenai data pasien (nama, alamat,
umur) serta penyakit yang diderita.
2. Apoteker wajib memenuhi ketentuan jenis dan jumlah yang boleh diberikan kepada
pasien. Contohnya hanya jenis oksitetrasiklin salep saja yang termasuk OWA, dan hanya
boleh diberikan 1 tube.
3. Apoteker wajib memberikan inIormasi obat secara benar mencakup: indikasi, kontra-
indikasi, cara pemakain, cara penyimpanan dan eIek samping obat yang mungkin timbul
serta tindakan yang disarankan bila eIek tidak dikehendaki tersebut timbul.
Jenis OWA
Tujuan OWA adalah memperluas keterjangkauan obat untuk masayrakat, maka obat-obat yang
digolongkan dalam OWA adalah obat ang diperlukan bagi kebanyakan penyakit yang diderita
pasien. Antara lain: obat antiinIlamasi (asam meIenamat), obat alergi kulit (salep hidrokotison),
inIeksi kulit dan mata (salep oksitetrasiklin), antialergi sistemik (CTM), obat KB hormonal.
Sesuai permenkes No.919/MENKES/PER/X/1993, kriteria obat yang dapat diserahkan:
1. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak di bawah usia 2
tahun dan orang tua di atas 65 tahun.
2. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan risiko pada kelanjutan
penyakit.
3. Penggunaannya tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus dilakukan oleh
tenaga kesehatan.
4. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia.
5. Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan
untuk pengobatan sendiri.
Tabel. Contoh OWA
Obat Indikasi Jumlah yang boleh diberikan
Asam meIenamat AntiinIlamasi dan anlagesik 10 tablet
Salep hidrokortison Antialergi topikal 1 tube
Obat KB antiIertilitas 1 siklus (28 hari)
Obat Generik versus Obat Paten
Obat generik adalah obat yang mengandung zat aktiI sesuai nama generiknya, contoh
parasetamol generik berarti obat yang dibuat dengan kandungan zat aktiI parasetamol,
dipasarkan dengan nama parasetamol, bukan nama merek seperti Panadol (Glaxo), Nizoral
(Johnson and Johnson). Atau obat generik adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam
Farmakope Indonesia untuk zat berkhasiat yang dikandungnya.
Obat paten adalah obat dengan nama dagang dan menggunakan nama yang merupakan milik
produsen obat yang bersangkutan. Misal: Lipitor (PIizer), produk innovator/originator yaitu
merek dagang untuk Atorvastatin, Nizoral adalah produk originator dari ketokonazol. (Baca
:Lipitor: inIormasi untuk pasien).
Produsen obat dalam negeri lebih banyak mengeluarkan obat me-too, alias versi generik dari
obat yang telah habis masa patennya yang lalu diberi merek dagang. Kalangan perusahaan
Iarmasi di Indonesia sekali lagi, yang lokal cenderung memposisikan produk semacam ini
sebagai 'obat paten (mungkin karena mereknya didaItarkan di kantor paten), walau sebenarnya
lebih tepat disebut sebagai 'branded generic, alias obat generik bermerek itu tadi.
Obat generik ditargetkan sebagai program pemerintah untuk meningkatkan keterjangkauan
pelayanan kesehatan bagi masyarakat luas khususnya dalam hal daya beli obat. Oleh karena
pemasaran obat generik tidak memerlukan biaya promosi (iklan, seminar, perlombaan, dll) maka
harga dapat ditekan sehingga produsen (pabrik obat) tetap mendapat keuntungan, begitu pula
konsumen mampu membeli dengan harga terjangkau.
Pada awal kebijakan ini diluncurkan (awal tahun 1990-an), pemerintah mencanangkan
penggunaan obat generik (OG), artinya pabrik pembuat obat tidak boleh mencantumkan logo
pabrik, namun tetap mencantumkan nama pabriknya. Seiring berjalannya waktu, desakan datang
dari produsen obat menginginkan adanya logo pada obat buatannya. Maka muncullah Obat
Generik Berlogo (OGB). Pemerintah merasa perlu meluluskan permintaan industri ini asal harga
OGB tetap dikontrol oleh pemerintah (khususnya Depkes). Oleh karena itu, sekarang dapat kita
jumpai parasetamol produk generik dengan logo yang berbeda-beda, contoh: Kimia Farma, Indo
Farma, Dexa Medica, Hexpharm, dll.
Mengapa OGB bisa murah?
Banyak orang meragukan khsiat OGB karena harganya jauh dari obat branded (bermerek). Bisa
jadi harganya hanya /-nya. Beberapa obat bahkan bisa jadi harganya 1/10 dari branded-nya.
Lihat perbandingan harga pada tabel berikut.
Jenis Obat Merek Harga (per
100 tablet)
Keterangan
Amoxycillin
tablet 500mg
Generik (IndoIarma)
Amoxil (originator)
Amoxsan (Sanbe)
Kalmoxillin (Kalbe)
Dexymox (Dexa)
Pehamoxil Forte (Phapros)
Rp 40.340
Rp 313.390
Rp 240.000
Rp 275.000
Rp 225.000
Rp 180.000
Produk Sanbe tergolong
murah di antara generik
bermerek dari produsen Top
10 lain, tetapi lebih dari empat
kali lipat harga OGB dan
hampir 80 harga produk
originator.
CeIadroxil tablet
500mg
Generik (Hexpharm)
DuriceI (originator)
CeIat (Sanbe)
LongceI (Dankos)
DexaceI (Ferron)
DoceI (Kimia Farma)
Rp 198.000
Rp1.329.870
Rp 670.000
Rp 650.000
Rp 635.000
Rp 484.000
Produk Sanbe termahal di
antara generik bermerek dari
produsen Top 10 lain, tetapi
kurang dari empat kali harga
OGB dan hanya sekitar 50
harga produk originator.
CiproIloxacin Generik (Hexpharm) Rp 77.000 Produk Sanbe termahal di
tablet 500mg Ciproxin (originator)
Baquinor (Sanbe)
Scanax (Tempo Scan)
Quidex (Ferron)
Phaproxin (Phapros)
Rp1.853.500
Rp 865.000
Rp 625.000
Rp 833.333
Rp 658.000
antara generik bermerek dari
produsen Top 10 lain dan
harganya lebih dari 10 kali
lipat harga OGB, tetapi
kurang dari 50 harga produk
originator.
Wajar saja hal ini terjadi karena biaya yang dikeluarkan produsen untuk menghasilkan obat lebih
dari 50 merupakan biaya non-produksi. Alokasi biaya yang paling besar adalah biaya promosi
baik berupa iklan, launching produk, seminar di kalangan medis, dan brosur dan barang promosi
lain seperti alat tulis, map, kaos, topi, dll. Kalaupun ada iklan OGB siIatnya massal dan
dilakukan oleh pemerintah disebut iklan layanan masyarakat. Biaya yang dikenakan oleh media
terhadap pemerintah jauh lebih kecil daripada iklan obat branded yang jumlahnya bisa mencapai
miliaran. Iklan populer yaitu OGB-nya Indo Farma yang dibintangi Ida Kusuma dan Kak Seto:
'Yang penting kan khasiatnya, buat apa beli merek-nya.
Bedakah khasiat OGB deng obat branded?
Tidak hanya masyarakat awam, banyak tenaga kesehatan sebagai ujung tombak pelayanan
kesehatan yang terjangkau masih ragu dengan khasiat OGB. Banyak rekan dokter dan dokter gigi
yang sangsi dengan khasiat OG karena kurangnya inIormasi yang sampai ke mereka. Faktor
lainnya adalah gencarnya para detailer/medrep dari produsen obat branded dengan memberikan
'iming-iming/gimmick menarik jika meresepkan obat dari produsen tersebut.
Pada dasarnya sebelum OGB dipasarkan harus dilakukan uji khasiat OGB pada sukarelawan
sehat di RS (clinical trial Iase I), minimal 6 perempuan dan 6 pria dewasa dengan kriteria
inklusiI yang ketat sebagai probadus. Contohnya probandus harus tidak merokok selama 3 bulan
terkahir, kalau bisa yang tidak merokok, tidak mengkonsumsi daging selama seminggu terakhir,
tidak mengkonsumsi obat lain 2 minggu sebelumnya.
Untuk menjadi probandus biasanya diambil dari pedusunan. Para probandus akan diberi
inIormasi sebelumnya, keselamatan diasuransikan, dibayar dan bila sewaktu-waktu merasa tidak
nyaman boleh menyatakan berhenti dari trial ini.
Tes ini harus dilakukan di RS, didukung oleh dokter penanggung jawab yang mampu mengatasi
munculnya eIek samping, bahkan eIek racun obat, dan para peneliti adalah ahli Iarmakologi
biasanya dokter dan apoteker/Iarmasis.
Sebelum uji dilakukan, proposal harus dipresentasikan di hadapan komisi etik biomedik
penelitian pada manusia di Iakultas kedokteran yang ditunjuk Depkes. Begitu pula institusi
pemegang lisensi clinical trial ini adalah institusi yang independen dari pabrik obat. Di Indonesia
setidaknya terdapat 4 lembaga yang direkomendasikan Depkes untuk uji seperti ini antara lain:
Pusat Uji Khasiat Obat (PUKO) FK UI, Bagian Farmakologi dan Pusat Farmakologi Klinik FK
UGM, Bagian Farmakologi dan Farmasi Klinik Fakultas Farmasi UGM, dan Bagian Biomedisin
Fakultas Farmasi UNAIR (Lebih lengkap: Baca Clinical Research).
Pengujian clinical trial Iase I ini harus menyertakan kontrol sebagai perbandingan yakni obat
paten yang dinilai telah siap digunakan oleh para klinisi. Contohnya bila akan dilakukan uji
ketersediaaan hayati (bioavaibilitas) OGB niIedipin produksi Kimia Farma, maka harus
dilakukan uji simultan dengan melakuka desain cross-over dengan Adalat (Bayer, zat khasiat
NiIedipin).
Setelah dillakukan sampling cairan biologis (darah, urin, atau air ludah) dilakukan analisis kadar
obat dengan metode yang sesuai misal HPLC karena spesiIitas dan sensitivitas yang tinggi.
Akhirnya, uji statistik dilakukan untuk mengetahui adalah perbedan yang signiIikan antara OGB
dengan pembanding (obat paten).
Bern melakukan uji clinical trial Iase I untuk OGB, biasanya OGB yang diproduksi oleh pabrik
besar memiliki khasiat yang sama dengan obat paten pembanding. Harga satu uji bervariasi dari
75-350 juta.
Berapa jumlah OGB yang dipasarkan di Indonesia?
Awal peluncuran hanya beberapa puluh saja OGB yang diproduksi, itu pun oleh prabrik milik
pemerintah BUMN. Namun seiring dengan upaya memudahkan keterjangkauan oleh daya beli
masyarakat, maka diproduksilah lebih dari 170 item obat. Obat-obatan yang dibuat dalam bentuk
OGB terutama obat yang diperlukan bagi masyarakat, mulai penyakit simtomatis, misal
parasetamol, antalgin, ibuproIen, asetosal, eIedrin, CTM, dekstrometorIan, gliseril guaiakolat,
ergotamine caIein, antasida, papaverin hingga penyakit inIeksi seperti ampisilin, amoksisilin,
seIallosporin, kotrimoksasol, metrodinazol, griseoIulvin, oksitetrasiklin, dan siproIloksasin.
Juga tidak ketinggalan obat penyakit degenaratiI seperti niIediin, kaptopril, HCT, salbutamol,
teoIilin, isosorbid dinitrat (ISDN), amitriptilin, diazepam, codein, haloperidol, natrium
dikloIenak, asam meIenamat, INH, riIampisin, etambutol, dan streptomisin.
Bentuk obat juga bervariasi mulai dari sirup, sirup kering/dry syrup, tablet, kaplet, tablet kapul,
salep. Apotek yang beroperasi mau tidak mau harus melangkapi persediaan OGB tersebut
sejumlah item yang ada (sesuai aturan Depkes). Namun kadang banyak apotek yang nakal, hanya
pada saat berdiri saja OGB-nya komplit, seiring berjalannya waktu kian lama makin berkurang.
Bagaimana analisisnya? (Baca: Kemanakah OGB sekarang?)
Bolehkah pasien meminta OGB?
Salah satu hak pasien adalah boleh meminta obat generik saat dokter menulis resep. Petugas
apotek/Iarmasis yang mengganti OGB dengan obat paten tanpa seizin pasien, dapat dilaporkan
ke komisi etik karena melanggar hak pasien. Begitu pula sebaliknya, jika dokter menuliskan
resep berupa obat paten, sementara pasien memiliki daya beli yang rendah dan meminta OGB
sebagai gantinya di apotek, hal ini dapat dibenarkan. Intinya, OGB adalah hak pasien dan
tanggung jawab semua tenaga medis untuk memberikannya.
Perlu diketahui, sesungguhnya banyak dokter yang tidak pernah menyatakan bahwa 'obat tidak
dapat diganti tanpa sepengetahuan dokter. Tulisan seperti ini yang biasanya tercantum di bagian
bawah kertas resep sebagian besar buatan pabrik obat karena biasanya pabrik obat melalui
medrep-nya merayu dokter dengan mebuatkan kertas resep satu rim secara gratis tapi ada embel-
embel tulisan di bawah kertas resep.
Sebenarnya, sepanjang masih ada OGB yang zat khasiatnya sama dengan obat paten, maka bisa
saja diganti.
Glosarium:
Medrep : medical representatiI
Simptomatis : obat yang menutup/menghilangkan gejala, misal rasa sakit/nyeri diberikan
analgesik.
DegeneratiI : penyakit yang sering muncul seiring bertambahnya usia dan sakit pada
kemunduran Iungsi tubuh, misal hipertensi, TBC, diabetes melitus
Dry syrup : sirup kering, berupa serbuk jika akan digunakan maka dilarutkan dalam air.
HPLC : High PerIomence Liquid Chromatography yaitu alat ukur dengan prinsip pemisahan
campuran dengan kinerja yang sangat tinggi
Psikotropika adalah merupakan zat atau obat, baik alamiah maupun sintetik bukan narkotika
yang berkhasiat, psikoaktiI melalui pengaruh selektiI menurut susunan syaraI pusat yang
menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku (UU RI No 5 Tahun 1997
tentang Psikotropika).
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis
maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan tingkat atau perubahan kesadaran,
hilangnya rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan (UU RI No 22 Tahun 1997
Tentang Narkotika).
Indikasi : petunjuk, tanda gejala yang dapat menjadi alasan dilakukannya suatu tindakan
Kontra indikasi : obat dengan alasan apapun untuk mencegah makin parahnya penyakit atau
terjadinya penyakit baru.
Referensi:
Pupitasari, I, 2006, Cerdas Mengenali Penyakit dan Obat, Penerbit B-First, Yogyakarta.
Permenkes No.919/MENKES/PER/X/1993
Sarnianto, P., 2007, Strategi Sanbe menekuk pasar ethical, SWA MAJALAH, 28 Juni 2007
UU RI No 22 Tahun 1997 Tentang Narkotika
UU RI No 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika
Depkes RI, 2006, Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas, Direktorat Bina
Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina KeIarmasian dan Alat Kesehatan, Jakarta.
Share this:
O Facebook
O Email
O

Golongan obat adalah penggolongan yang dimaksudkan untuk peningkatan keamanan dan
ketepatan penggunaan serta pengamanan distribusi yang terdiri dari obat bebas, obat bebas
terbatas, obat wajib apotek, obat keras, psikotropika dan narkotika.
Obat Bebas dan Bebas Terbatas dipasarkan tanpa resep dokter atau dikenal dengan nama OTC
(Over The Counter) dimaksudkan untuk menangani penyakit-penyakit simptomatis ringan yang
banyak diderita masyarakat luas yang penanganannya dapat dilakukan sendiri oleh penderita.
Praktik seperti ini dikenal dengan nama self medication (penanganan sendiri).
Obat Bebas
Obat bebas dapat dijual bebas di warung kelontong, toko obat berizin, supermarket serta apotek.
Dalam pemakaiannya, penderita dapat membeli dalam jumlah sangat sedikit saat obat
diperlukan, jenis zat aktiI pada obat golongan ini relatiI aman sehingga pemakainnya tidak
memerlukan pengawasan tenaga medis selama diminum sesuai petunjuk yang tertera pada
kemasan obat. Oleh karena itu, sebaiknya golongan obat ini tetap dibeli bersama kemasannya.

Di Indonesia, obat golongan ini ditandai dengan lingkaran berwarna hijau dengan garis tepi
berwarna hitam. Yang termasuk golongan obat ini yaitu obat analgetik/pain killer (parasetamol),
vitamin dan mineral. Ada juga obat-obat herbal tidak masuk dalam golongan ini, namun
dikelompokkan sendiri dalam obat tradisional (TR).
Obat Bebas Terbatas
Obat bebas terbatas adalah obat yang sebenarnya termasuk obat keras tetapi masih dapat dijual
atau dibeli bebas tanpa resep dokter, dan disertai dengan tanda peringatan. Tanda khusus pada
kemasan dan etiket obat bebas terbatas adalah lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam.

Tanda peringatan selalu tercantum pada kemasan obat bebas terbatas, berupa empat persegi
panjang berwarna hitam berukuran panjang 5 (lima) sentimeter, lebar 2 (dua) sentimeter dan
memuat pemberitahuan berwarna putih sebagai berikut:

Seharusnya obat jenis ini hanya dapat dijual bebas di toko obat berizin (dipegang seorang asisten
apoteker) serta apotek (yang hanya boleh beroperasi jika ada apoteker, no pharmacist no
service), karena diharapkan pasien memperoleh inIormasi obat yang memadai saat membeli obat
bebas terbatas.
Contoh obat golongan ini adalah: pain relieI, obat batuk, obat pilek dan krim antiseptik.
Obat Keras
Golongan obat yang hanya boleh diberikan atas resep dokter, dokter gigi, dan dokter hewan
ditandai dengan tanda lingkaran merah dan terdapat huruI K di dalamnya. Yang termasuk
golongan ini adalah beberapa obat generik dan Obat Wajib Apotek (OWA). Juga termasuk
didalamnya narkotika dan psikotropika tergolong obat keras.

Obat psikotropika adalah obat keras baik alamiah maupun sintetis bukan narkotik, yang
berkhasiat psikoaktiI melalui pengaruh selektiI pada susunan saraI pusat yang menyebabkan
perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.
Contoh : Diazepam, Phenobarbital
Obat Narkotika

Obat narkotika adalah obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun
semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa,
mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan menimbulkan ketergantungan.
Contoh : MorIin, Petidin
Note:
1. Obat bebas dan obat bebas terbatas, termasuk obat daItar W (Warschuwing) atau OTC
(over the counter).
2. Pada obat bebas terbatas terdapat salah satu tanda peringatan nomor 1- 6.
3. Obat keras nama lain yaitu obat daItar G (Gevarlijk), bisa diperoleh hanya dengan resep
dokter.
4. OWA (obat wajib apoteker) yaitu obat keras yang dapat diberikan oleh apoteker
pengelola apotek (APA), hanya bisa didapatkan di apotek.
OBAT WA1IB APOTEK (OWA)
Selain memproduksi obat generik, untuk memenuhi keterjangkauan pelayanan kesehatan
khususnya akses obat pemerintah mengeluarkan kebijakan OWA. OWA merupakan obat keras
yang dapat diberikan oleh Apoteker Pengelola Apotek (APA) kepada pasien. Walaupun APA
boleh memberikan obat keras, namun ada persayaratan yang harus dilakukan dalam penyerahan
OWA.
1. Apoteker wajib melakukan pencatatan yang benar mengenai data pasien (nama, alamat,
umur) serta penyakit yang diderita.
2. Apoteker wajib memenuhi ketentuan jenis dan jumlah yang boleh diberikan kepada
pasien. Contohnya hanya jenis oksitetrasiklin salep saja yang termasuk OWA, dan hanya
boleh diberikan 1 tube.
3. Apoteker wajib memberikan inIormasi obat secara benar mencakup: indikasi, kontra-
indikasi, cara pemakain, cara penyimpanan dan eIek samping obat yang mungkin timbul
serta tindakan yang disarankan bila eIek tidak dikehendaki tersebut timbul.
Jenis OWA
Tujuan OWA adalah memperluas keterjangkauan obat untuk masayrakat, maka obat-obat yang
digolongkan dalam OWA adalah obat ang diperlukan bagi kebanyakan penyakit yang diderita
pasien. Antara lain: obat antiinIlamasi (asam meIenamat), obat alergi kulit (salep hidrokotison),
inIeksi kulit dan mata (salep oksitetrasiklin), antialergi sistemik (CTM), obat KB hormonal.
Sesuai permenkes No.919/MENKES/PER/X/1993, kriteria obat yang dapat diserahkan:
1. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak di bawah usia 2
tahun dan orang tua di atas 65 tahun.
2. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan risiko pada kelanjutan
penyakit.
3. Penggunaannya tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus dilakukan oleh
tenaga kesehatan.
4. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia.
5. Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan
untuk pengobatan sendiri.
Tabel. Contoh OWA
Obat Indikasi Jumlah yang boleh diberikan
Asam meIenamat AntiinIlamasi dan anlagesik 10 tablet
Salep hidrokortison Antialergi topikal 1 tube
Obat KB antiIertilitas 1 siklus (28 hari)
Obat Generik versus Obat Paten
Obat generik adalah obat yang mengandung zat aktiI sesuai nama generiknya, contoh
parasetamol generik berarti obat yang dibuat dengan kandungan zat aktiI parasetamol,
dipasarkan dengan nama parasetamol, bukan nama merek seperti Panadol (Glaxo), Nizoral
(Johnson and Johnson). Atau obat generik adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam
Farmakope Indonesia untuk zat berkhasiat yang dikandungnya.
Obat paten adalah obat dengan nama dagang dan menggunakan nama yang merupakan milik
produsen obat yang bersangkutan. Misal: Lipitor (PIizer), produk innovator/originator yaitu
merek dagang untuk Atorvastatin, Nizoral adalah produk originator dari ketokonazol. (Baca
:Lipitor: inIormasi untuk pasien).
Produsen obat dalam negeri lebih banyak mengeluarkan obat me-too, alias versi generik dari
obat yang telah habis masa patennya yang lalu diberi merek dagang. Kalangan perusahaan
Iarmasi di Indonesia sekali lagi, yang lokal cenderung memposisikan produk semacam ini
sebagai 'obat paten (mungkin karena mereknya didaItarkan di kantor paten), walau sebenarnya
lebih tepat disebut sebagai 'branded generic, alias obat generik bermerek itu tadi.
Obat generik ditargetkan sebagai program pemerintah untuk meningkatkan keterjangkauan
pelayanan kesehatan bagi masyarakat luas khususnya dalam hal daya beli obat. Oleh karena
pemasaran obat generik tidak memerlukan biaya promosi (iklan, seminar, perlombaan, dll) maka
harga dapat ditekan sehingga produsen (pabrik obat) tetap mendapat keuntungan, begitu pula
konsumen mampu membeli dengan harga terjangkau.
Pada awal kebijakan ini diluncurkan (awal tahun 1990-an), pemerintah mencanangkan
penggunaan obat generik (OG), artinya pabrik pembuat obat tidak boleh mencantumkan logo
pabrik, namun tetap mencantumkan nama pabriknya. Seiring berjalannya waktu, desakan datang
dari produsen obat menginginkan adanya logo pada obat buatannya. Maka muncullah Obat
Generik Berlogo (OGB). Pemerintah merasa perlu meluluskan permintaan industri ini asal harga
OGB tetap dikontrol oleh pemerintah (khususnya Depkes). Oleh karena itu, sekarang dapat kita
jumpai parasetamol produk generik dengan logo yang berbeda-beda, contoh: Kimia Farma, Indo
Farma, Dexa Medica, Hexpharm, dll.
Mengapa OGB bisa murah?
Banyak orang meragukan khsiat OGB karena harganya jauh dari obat branded (bermerek). Bisa
jadi harganya hanya /-nya. Beberapa obat bahkan bisa jadi harganya 1/10 dari branded-nya.
Lihat perbandingan harga pada tabel berikut.
Jenis Obat Merek Harga (per
100 tablet)
Keterangan
Amoxycillin
tablet 500mg
Generik (IndoIarma)
Amoxil (originator)
Amoxsan (Sanbe)
Kalmoxillin (Kalbe)
Dexymox (Dexa)
Pehamoxil Forte (Phapros)
Rp 40.340
Rp 313.390
Rp 240.000
Rp 275.000
Rp 225.000
Rp 180.000
Produk Sanbe tergolong
murah di antara generik
bermerek dari produsen Top
10 lain, tetapi lebih dari empat
kali lipat harga OGB dan
hampir 80 harga produk
originator.
CeIadroxil tablet
500mg
Generik (Hexpharm)
DuriceI (originator)
CeIat (Sanbe)
LongceI (Dankos)
DexaceI (Ferron)
DoceI (Kimia Farma)
Rp 198.000
Rp1.329.870
Rp 670.000
Rp 650.000
Rp 635.000
Rp 484.000
Produk Sanbe termahal di
antara generik bermerek dari
produsen Top 10 lain, tetapi
kurang dari empat kali harga
OGB dan hanya sekitar 50
harga produk originator.
CiproIloxacin
tablet 500mg
Generik (Hexpharm)
Ciproxin (originator)
Baquinor (Sanbe)
Scanax (Tempo Scan)
Quidex (Ferron)
Phaproxin (Phapros)
Rp 77.000
Rp1.853.500
Rp 865.000
Rp 625.000
Rp 833.333
Rp 658.000
Produk Sanbe termahal di
antara generik bermerek dari
produsen Top 10 lain dan
harganya lebih dari 10 kali
lipat harga OGB, tetapi
kurang dari 50 harga produk
originator.
Wajar saja hal ini terjadi karena biaya yang dikeluarkan produsen untuk menghasilkan obat lebih
dari 50 merupakan biaya non-produksi. Alokasi biaya yang paling besar adalah biaya promosi
baik berupa iklan, launching produk, seminar di kalangan medis, dan brosur dan barang promosi
lain seperti alat tulis, map, kaos, topi, dll. Kalaupun ada iklan OGB siIatnya massal dan
dilakukan oleh pemerintah disebut iklan layanan masyarakat. Biaya yang dikenakan oleh media
terhadap pemerintah jauh lebih kecil daripada iklan obat branded yang jumlahnya bisa mencapai
miliaran. Iklan populer yaitu OGB-nya Indo Farma yang dibintangi Ida Kusuma dan Kak Seto:
'Yang penting kan khasiatnya, buat apa beli merek-nya.
Bedakah khasiat OGB deng obat branded?
Tidak hanya masyarakat awam, banyak tenaga kesehatan sebagai ujung tombak pelayanan
kesehatan yang terjangkau masih ragu dengan khasiat OGB. Banyak rekan dokter dan dokter gigi
yang sangsi dengan khasiat OG karena kurangnya inIormasi yang sampai ke mereka. Faktor
lainnya adalah gencarnya para detailer/medrep dari produsen obat branded dengan memberikan
'iming-iming/gimmick menarik jika meresepkan obat dari produsen tersebut.
Pada dasarnya sebelum OGB dipasarkan harus dilakukan uji khasiat OGB pada sukarelawan
sehat di RS (clinical trial Iase I), minimal 6 perempuan dan 6 pria dewasa dengan kriteria
inklusiI yang ketat sebagai probadus. Contohnya probandus harus tidak merokok selama 3 bulan
terkahir, kalau bisa yang tidak merokok, tidak mengkonsumsi daging selama seminggu terakhir,
tidak mengkonsumsi obat lain 2 minggu sebelumnya.
Untuk menjadi probandus biasanya diambil dari pedusunan. Para probandus akan diberi
inIormasi sebelumnya, keselamatan diasuransikan, dibayar dan bila sewaktu-waktu merasa tidak
nyaman boleh menyatakan berhenti dari trial ini.
Tes ini harus dilakukan di RS, didukung oleh dokter penanggung jawab yang mampu mengatasi
munculnya eIek samping, bahkan eIek racun obat, dan para peneliti adalah ahli Iarmakologi
biasanya dokter dan apoteker/Iarmasis.
Sebelum uji dilakukan, proposal harus dipresentasikan di hadapan komisi etik biomedik
penelitian pada manusia di Iakultas kedokteran yang ditunjuk Depkes. Begitu pula institusi
pemegang lisensi clinical trial ini adalah institusi yang independen dari pabrik obat. Di Indonesia
setidaknya terdapat 4 lembaga yang direkomendasikan Depkes untuk uji seperti ini antara lain:
Pusat Uji Khasiat Obat (PUKO) FK UI, Bagian Farmakologi dan Pusat Farmakologi Klinik FK
UGM, Bagian Farmakologi dan Farmasi Klinik Fakultas Farmasi UGM, dan Bagian Biomedisin
Fakultas Farmasi UNAIR (Lebih lengkap: Baca Clinical Research).
Pengujian clinical trial Iase I ini harus menyertakan kontrol sebagai perbandingan yakni obat
paten yang dinilai telah siap digunakan oleh para klinisi. Contohnya bila akan dilakukan uji
ketersediaaan hayati (bioavaibilitas) OGB niIedipin produksi Kimia Farma, maka harus
dilakukan uji simultan dengan melakuka desain cross-over dengan Adalat (Bayer, zat khasiat
NiIedipin).
Setelah dillakukan sampling cairan biologis (darah, urin, atau air ludah) dilakukan analisis kadar
obat dengan metode yang sesuai misal HPLC karena spesiIitas dan sensitivitas yang tinggi.
Akhirnya, uji statistik dilakukan untuk mengetahui adalah perbedan yang signiIikan antara OGB
dengan pembanding (obat paten).
Bern melakukan uji clinical trial Iase I untuk OGB, biasanya OGB yang diproduksi oleh pabrik
besar memiliki khasiat yang sama dengan obat paten pembanding. Harga satu uji bervariasi dari
75-350 juta.
Berapa jumlah OGB yang dipasarkan di Indonesia?
Awal peluncuran hanya beberapa puluh saja OGB yang diproduksi, itu pun oleh prabrik milik
pemerintah BUMN. Namun seiring dengan upaya memudahkan keterjangkauan oleh daya beli
masyarakat, maka diproduksilah lebih dari 170 item obat. Obat-obatan yang dibuat dalam bentuk
OGB terutama obat yang diperlukan bagi masyarakat, mulai penyakit simtomatis, misal
parasetamol, antalgin, ibuproIen, asetosal, eIedrin, CTM, dekstrometorIan, gliseril guaiakolat,
ergotamine caIein, antasida, papaverin hingga penyakit inIeksi seperti ampisilin, amoksisilin,
seIallosporin, kotrimoksasol, metrodinazol, griseoIulvin, oksitetrasiklin, dan siproIloksasin.
Juga tidak ketinggalan obat penyakit degenaratiI seperti niIediin, kaptopril, HCT, salbutamol,
teoIilin, isosorbid dinitrat (ISDN), amitriptilin, diazepam, codein, haloperidol, natrium
dikloIenak, asam meIenamat, INH, riIampisin, etambutol, dan streptomisin.
Bentuk obat juga bervariasi mulai dari sirup, sirup kering/dry syrup, tablet, kaplet, tablet kapul,
salep. Apotek yang beroperasi mau tidak mau harus melangkapi persediaan OGB tersebut
sejumlah item yang ada (sesuai aturan Depkes). Namun kadang banyak apotek yang nakal, hanya
pada saat berdiri saja OGB-nya komplit, seiring berjalannya waktu kian lama makin berkurang.
Bagaimana analisisnya? (Baca: Kemanakah OGB sekarang?)
Bolehkah pasien meminta OGB?
Salah satu hak pasien adalah boleh meminta obat generik saat dokter menulis resep. Petugas
apotek/Iarmasis yang mengganti OGB dengan obat paten tanpa seizin pasien, dapat dilaporkan
ke komisi etik karena melanggar hak pasien. Begitu pula sebaliknya, jika dokter menuliskan
resep berupa obat paten, sementara pasien memiliki daya beli yang rendah dan meminta OGB
sebagai gantinya di apotek, hal ini dapat dibenarkan. Intinya, OGB adalah hak pasien dan
tanggung jawab semua tenaga medis untuk memberikannya.
Perlu diketahui, sesungguhnya banyak dokter yang tidak pernah menyatakan bahwa 'obat tidak
dapat diganti tanpa sepengetahuan dokter. Tulisan seperti ini yang biasanya tercantum di bagian
bawah kertas resep sebagian besar buatan pabrik obat karena biasanya pabrik obat melalui
medrep-nya merayu dokter dengan mebuatkan kertas resep satu rim secara gratis tapi ada embel-
embel tulisan di bawah kertas resep.
Sebenarnya, sepanjang masih ada OGB yang zat khasiatnya sama dengan obat paten, maka bisa
saja diganti.
Glosarium:
Medrep : medical representatiI
Simptomatis : obat yang menutup/menghilangkan gejala, misal rasa sakit/nyeri diberikan
analgesik.
DegeneratiI : penyakit yang sering muncul seiring bertambahnya usia dan sakit pada
kemunduran Iungsi tubuh, misal hipertensi, TBC, diabetes melitus
Dry syrup : sirup kering, berupa serbuk jika akan digunakan maka dilarutkan dalam air.
HPLC : High PerIomence Liquid Chromatography yaitu alat ukur dengan prinsip pemisahan
campuran dengan kinerja yang sangat tinggi
Psikotropika adalah merupakan zat atau obat, baik alamiah maupun sintetik bukan narkotika
yang berkhasiat, psikoaktiI melalui pengaruh selektiI menurut susunan syaraI pusat yang
menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku (UU RI No 5 Tahun 1997
tentang Psikotropika).
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis
maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan tingkat atau perubahan kesadaran,
hilangnya rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan (UU RI No 22 Tahun 1997
Tentang Narkotika).
Indikasi : petunjuk, tanda gejala yang dapat menjadi alasan dilakukannya suatu tindakan
Kontra indikasi : obat dengan alasan apapun untuk mencegah makin parahnya penyakit atau
terjadinya penyakit baru.
Referensi:
Pupitasari, I, 2006, Cerdas Mengenali Penyakit dan Obat, Penerbit B-First, Yogyakarta.
Permenkes No.919/MENKES/PER/X/1993
Sarnianto, P., 2007, Strategi Sanbe menekuk pasar ethical, SWA MAJALAH, 28 Juni 2007
UU RI No 22 Tahun 1997 Tentang Narkotika
UU RI No 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika
Depkes RI, 2006, Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas, Direktorat Bina
Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina KeIarmasian dan Alat Kesehatan, Jakarta.
Share this:
O Facebook
O Email
O

Mengenal Lebih Dekat Obat Generik Berlogo
12-05-2008
Obat jenis lain adalah obat yang didapatkan pada saat berkonsultasi dengan dokter, yang
umumnya dikenal sebagai obat keras, yaitu obat yang hanya dapat diperoleh di apotek atau
rumah sakit dengan menyerahkan resep dokter.
Secara umum obat terbagi atas beberapa kategori, yaitu:

1. Obat Bebas. Obat bebas merupakan obat yang telah teruji keamanannya secara luas dan
cukup eIektiI untuk menghentikan gejala-gejala sakit, sehingga dapat dipergunakan untuk
swamedikasi (pengobatan sendiri). Umumnya obat-obat ini dapat dibeli secara bebas,
misalnya di warung, toko obat, supermarket dan lain-lain. Contoh yang paling umum
untuk obat ini adalah parasetamol. Penandaan untuk jenis obat ini adalah gambar
lingkaran hitam de-ngan isi warna hijau (lingkaran hijau dengan garis tepi warna hitam).
2. Obat Bebas Terbatas. Obat bebas terbatas memiliki tingkat keamanan yang sedikit lebih
rendah dibandingkan dengan obat bebas, sehingga penggunaannya harus lebih berhati-
hati. Obat jenis ini masih dapat diperoleh tanpa resep dokter, namun obat jenis ini hanya
tersedia di toko obat dan apotek. Umumnya obat bebas terbatas merupakan kombinasi
dari 2 atau lebih senyawa obat, yang eIektiI namun eIek sampingnya harus diperhatikan
oleh penggunanya. Setiap obat bebas terbatas selalu mencantumkan label agar
penggunanya memeriksakan diri ke dokter, apabila dalam 3 hari penggunaan masih
belum sembuh. Obat-obat jenis ini umumnya adalah obat Ilu, diare dan lain-lain.
Penandaan untuk obat ini adalah gambar lingkaran hitam dengan isi warna biru
(lingkaran warna biru dengan garis tepi warna hitam)
3. Obat Keras. Obat keras adalah obat yang memiliki eIikasi yang telah teruji namun
keamanan dari obat tersebut harus dalam pengawasan dokter atau apoteker. Untuk
memperoleh obat keras pasien harus menebus di apotek atau rumah sakit dengan
menggunakan resep dokter. Ada sebagian obat keras yang dapat diberikan langsung oleh
apoteker, obat-obat tersebut disebut obat wajib apotek.
Obat keras terdiri dari beberapa jenis, yaitu obat keras, obat psikotropika dan obat jenis
narkotika. Untuk obat psikotropika dan obat jenis narkotika, peredarannya sangat dibatasi, hanya
dapat diperoleh dengan menyerahkan resep dokter, dan pengawasannya sangat ketat baik dari
pihak apotek ataupun rumah sakit serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Setelah mengetahui jenis-jenis obat, kita beralih ke penggolongan obat-obat berdasarkan merek
dagangnya, yaitu:
1. Obat Paten/Original. Obat paten merupakan obat yang dipasarkan pertama kali oleh
produsen yang menemukan senyawa atau zat aktiI obat tersebut melalui proses riset.
Obat-obat ini umumnya dilindungi oleh paten yang berkisar 20-25 tahun sejak senyawa
obatnya ditemukan dan dipatenkan. Sebelum dipasarkan, senyawa/zat aktiI obat yang
baru ditemukan harus melewati berbagai uji klinik yang memakan waktu 8-10 tahun.
Selama dalam perlindungan paten, obat jenis ini tidak boleh dibuat oleh produsen lain,
kecuali ada perjanjian khusus. Umumnya obat paten/original masih didominasi oleh
perusahaan-perusahaan asing.
2. Obat Bermerek/Obat Me Too/Obat Copy. Obat Generik bermerek atau secara singkat
disebut obat bermerek adalah obat yang dibuat sesuai dengan komposisi obat paten
setelah masa patennya berakhir. Obat Generik bermerek dipasarkan dengan merek
dagang yang ditentukan olehmasing-masing produsennya dan telah disetujui oleh
BPOM. Umumnya harga produk ini lebih murah dibandingkan harga obat patennya.
3. Obat Generik Berlogo. Obat Generik Berlogo (OGB) merupakan obat yang memiliki
komposisi yang sama dengan obat patennya, namun tidak memiliki merek dagang. OGB
dipasarkan dengan menggunakan nama zat aktiI atau nama senyawa obatnya sebagai
nama produknya. Contoh: Amoksisilin 500 mg, Simvastatin 10 mg, Glimepiride 2 mg,
dan lain-lain. OGB mudah dikenali, dari logonya yaitu berupa lingkaran hijau berlapis-
lapis dengan tulisan GENERIK ditengahnya. Logo OGB terdapat di kemasan luar (box
obat), di strip obat atau di label botol obat. OGB memiliki harga yang sangat terjangkau
oleh masyarakat, karena kebijakan harganya ditetapkan oleh Departemen Kesehatan
Republik Indonesia (DepKes RI)

Standar Mutu OGB
OGB dibuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap obat-obatan yang terjangkau
harganya, dengan kualitas yang terjamin. Sebab setiap produsen yang memproduksi OGB harus
memiliki sertiIikat CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) yang diterbitkan oleh pemerintah.
Dengan demikian, setiap obat yang diproduksi memenuhi standar mutu sesuai dengan spesiIikasi
yang telah ditetapkan. Setiap obat memiliki spesiIikasi yang sama, baik obat paten, obat
bermerek maupun OGB, yaitu berdasarkan Iarmakope, baik yang diterbitkan oleh DepKes RI,
atau Iarmakope-Iarmakope ainnya, misalnya Farmakope Amerika Serikat (United States
Pharmacopoeia), Farmakope Jepang (Japan Pharmacopoeia), Farmakope Inggris (British
Pharmacopoeia), atau Iarmakope-Iarmakope yang diakui lainnya. Farmakope ini mengatur mulai
dari standar mutu bahan baku sampai dengan mutu obat jadi. Sehingga baik obat paten, obat
bermerek, maupun OGB memiliki standar mutu yang sama yaitu mulai dari pemilihan bahan
baku sampai diproses menjadi obat jadi. Selain itu, untuk memenuhi persyaratan CPOB tidaklah
mudah, karena persyaratan CPOB selalu diperbaharui oleh BPOM, dan setiap pabrik harus
mengikuti ketentuan terbaru untuk mempertahankan sertiIikat CPOB yang telah diperolehnya.
Secara berkala, BPOM akan mengaudit seluruh Iasilitas, sistem dan dokumentasi di pabrik untuk
memastikan produsen Iarmasi selalu memenuhi ketentuan CPOB terbaru. Dengan persyaratan
seketat itu, tentunya tidak perlu diragukan lagi mutu OGB.
Mengapa OGB harganya terjangkau?
Harga OGB ditentukan oleh DepKes RI, dengan mempertimbangkan biaya produksi yang wajar,
dengan tetap mempertahankan mutu produk. Berbagai Iaktor, mengapa OGB dapat dibeli dengan
harga terjangkau adalah sebagai berikut:
1. OGB diproduksi dalam jumlah yang besar sehingga eIisien. Dengan skala produksi yang
besar, maka biaya produksi dapat ditekan, sehingga lebih eIisien. Demikian pula dengan
bahan baku dan bahan kemas yang dipergunakan, karena dalam jumlah besar, sehingga
harga pembeliannya lebih rendah, bila dibandingkan pembelian dalam jumlah kecil. Hal
itu, sangat menghemat biaya produksi OGB secara keseluruhan.
2. Kemasan OGB selalu dibuat sederhana, namun memiliki daya kemas yang baik, sehingga
desain kemasan yang sederhana, dapat menurunkan biaya produksi. Walaupun
kemasannya sederhana, kualitas masan harus sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh
BPOM, untuk menjamin kualitas obat selalu terjaga dengan baik.
3. Dari pertimbangan-pertimbangan diatas, DepKes RI menetapkan harga OGB yang
terjangkau dengan tetap menjamin mutu yang baik. Harga OGB ditinjau secara berkala
oleh Depkes RI untuk menjaga ketersediaan obat dengan mutu yang dapat diandalkan.
Dalam beberapa tahun terakhir, pihak Depkes RI telah beberapa kali merevisi harga OGB
yang memiliki kecenderungan turun, sehingga semakin terjangkau oleh masyarakat.
Rangkaian Produk OGB
Saat ini telah tersedia lebih dari 450 jenis OGB yang diproduksi oleh berbagai produsen Iarmasi.
Lebih dari 80 jenis obat yang beredar telah ada OGB-nya, mulai dari analgesik (anti nyeri),
antipiretik (penurun panas), antibiotika, anti inIlamasi (anti radang), anti jamur, anti hipertensi,
anti kolesterol, anti mual, kortikosteroid, anti histamin dan lain-lain. Perkembangan OGB
semakin cepat, dengan banyaknya produk baru yang diluncurkan untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat dengan penyakit yang semakin komplek. Bahkan saat ini, obat yang diperlukan
untuk pasien stroke saja sudah tersedia. OGB sekarang sudah menjadi obat yang dapat
diandalkan dan tersedia dalam berbagai bentuk mulai dari sediaan oral (tablet, kapsul dan sirup),
injeksi (ampul, vial dan inIus) dan sediaan topikal (salep, krim dan lain-lain). Hampir semua
penyakit sudah tersedia obatnya dalam bentuk OGB, sehingga kita tidak perlu ragu untuk minta
OGB kepada dokter.
Sekilas tentang OGBdexa
OGBdexa merupakan OGB yang diproduksi PT Dexa Medica. Pabrik Iarmasi yang berlokasi di
Palembang ini, merupakan salah satu perusahaan pertama yang memperoleh sertiIikat CPOB
yaitu tahun 1990. Pada tahun ini pula, pemerintah menetapkan program OGB. Dexa Medica ikut
berpartisipasi dalam program OGB, dengan mulai memproduksi OGBdexa pada tahun 1991.
Dengan berpartisipasi dalam program ini, Dexa Medica mewujudkan visinya sebagai perusahaan
yang berbakti paling depan untuk mewujudkan 'kesehatan bagi semua di tingkat nasional.
Menjadi kebanggaan Dexa Medica untuk meluncurkan OGBdexa dengan mutu yang baik, dan
harga yang terjangkau untuk menyentuh masyarakat menengah ke bawah. Saat ini, OGBdexa
memiliki lebih dari 90 item OGB yang terdiri dari berbagai jenis sediaan, yaitu sediaan oral
(tablet, kapsul, dan sirup), injeksi (ampul, vial, dan inIus) dan topikal (krim), dengan jangkauan
penyakit mulai dari anti nyeri, anti radang, antibiotika, anti kolesterol, anti diabetes melitus, anti
hipertensi, kortikosteroid, anti mual, anti virus, anti jamur, dan sebagainya. Pada 2008, OGBdexa
kembali menambah rangkaian produknya dengan 3 jenis obat yang dibutuhkan oleh masyarakat
luas, dan OGBdexa akan terus menambah produknya di masa yang akan datang.

Saya minta obat paten, Dok, begitu biasanya yang diucapkan pasien ketika dokter akan
meresepkan obat. Saya pernah bertanya pada beberapa orang teman, apa yang dimaksud dengan
obat paten. Beberapa menjawab, obat paten adalah obat yang lebih berkhasiat di bandingkan
dengan obat generik. Ada juga yang mengatakan, obat paten pastilah mahal, bermerk,
kemasannya bagus dan dapat menyembuhkan penyakit dengan cepat. Dan obat generik adalah
kebalikan dari yang dimaksud obat paten.
Secara umum ada dua jenis obat, obat paten dan obat generik. Obat paten adalah obat baru yang
ditemukan berdasarkan riset dan memiliki masa berlaku paten tergantung jenis obat. Selama
masa berlaku paten, perusahaan Iarmasi yang memiliki hak paten dapat memproduksi obat
tersebut. Perusahaan lain tidak diperbolehkan untuk memproduksi dan memasarkan obat sejenis
kecuali jika memiliki perjanjian khusus dengan pemilik hak paten. Setelah habis masa berlaku
patennya, obat paten disebut obat generik.
Obat generik dibagi menjadi dua, yaitu obat generik berlogo dan obat generik bermerk. Obat
generik berlogo (OGB) adalah obat yang menggunakan nama zat berkhasiatnya dan
mencantumkan logo perusahaan Iarmasi yang memproduksinya pada kemasan obat. Sedangkan
obat generik bermerk (obat bermerk) adalah obat yang diberi merk dagang oleh perusahaan
Iarmasi yang memproduksinya. Misalnya, amoxsan adalah merk dagang untuk amoksisilin yang
diproduksi oleh Sanbe Farma. Amoksisilin merupakan obat generik, karena masa paten obat ini
sudah lama habis. Selain Sanbe Farma, banyak perusahaan Iarmasi lain yang memproduksi
amoksisilin, baik sebagai obat bermerk ataupun obat generik berlogo. Untuk obat generik
berlogo, amoksisilin dipasarkan tetap dengan nama amoksisilin dan diberi logo perusahaan
Iarmasi yang memproduksinya. Kalau dilihat dari harga, obat paten tentulah mahal, karena jasa
penemuannya harus dibayar tinggi. Sedangkan untuk obat generik, perbedaan harga antara OGB
dengan obat bermerk bisa sampai empat kali lipat. Harga obat bermerk lebih mahal karena
menanggung biaya promosi dan kemasan obat, sedangkan OGB tidak.
Apakah semua penyakit memerlukan obat paten? tentu saja tidak, karena belum tentu obat yang
sedang dalam masa berlaku paten merupakan terapi penyakit itu. Apakah obat bermerk lebih
menyembuhkan daripada obat generik berlogo yang lebih murah? menurut pengalaman pribadi
saya belum tentu. Secara teori, obat generik baik berlogo atau bermerk untuk bisa beredar di
pasaran harus melewati sejumlah tes yang sudah ditetapkan oleh pemerintah (BPOM) dengan
standar yang sama dan memiliki kandungan zat berkhasiat yang sama pula. Perbedaan keduanya
terletak pada satu diberi logo dan satu diberi merk.
Manakah yang dipilih oleh pasien saat sakit? berdasarkan pengalaman pribadi saya lagi, rata-rata
pasien akan meminta obat bermerk atau paten (dalam anggapan pasien) saat dokter menuliskan
resep. Padahal kesembuhan atas suatu penyakit tidak hanya bergantung pada obat. Tapi juga
pada terapi selain obat, misalnya makanan, istirahat, perilaku, dan keyakinan dan keinginan
untuk sembuh.


Obat generik adalah obat yang telah habis masa patennya, sehingga dapat diproduksi oleh
semua perusahaan Iarmasi tanpa perlu membayar royalti. Ada dua jenis obat generik, yaitu obat
generik bermerek dagang dan obat generik berlogo yang dipasarkan dengan merek kandungan
zat aktiInya. Dalam obat generik bermerek, kandungan zat aktiI itu diberi nama (merek). Zat
aktiI amoxicillin misalnya, oleh pabrik A diberi merek inemicillin, sedangkan pabrik B
memberi nama gatoticilin dan seterusnya, sesuai keinginan pabrik obat. Dari berbagai merek
tersebut, bahannya sama: amoxicillin.
Daftar isi
sembunylkan
O ZaL akLlf
O MuLu
O CbaL Cenerlk 8erlogo
O 8eferensl
sunting] Zat aktif
Dari sisi zat aktiInya (komponen utama obat) , antara obat generik (baik berlogo maupun
bermerek dagang), persis sama dengan obat paten. Namun Obat generik lebih murah dibanding
obat yang dipatenkan.
sunting] Mutu
Mutu obat generik tidak berbeda dengan obat paten karena bahan bakunya sama. Ibarat sebuah
baju, Iungsi dasarnya untuk melindungi tubuh dari sengatan matahari dan udara dingin. Hanya
saja, modelnya beraneka ragam. Begitu pula dengan obat. Generik kemasannya dibuat biasa,
karena yang terpenting bisa melindungi produk yang ada di dalamnya. Namun, yang bermerek
dagang kemasannya dibuat lebih menarik dengan berbagai warna. Kemasan itulah yang
membuat obat bermerek lebih mahal.
sunting] Ubat Cenerik Berlogo
Obat Generik Berlogo (OGB) merupakan program Pemerintah Indonesia yang diluncurkan pada
1989 dengan tujuan memberikan alternatiI obat bagi masyarakat, yang dengan kualitas terjamin,
harga terjangkau, serta ketersediaan obat yang cukup.
Tujuan OGB diluncurkan untuk memberikan alternatiI obat yang terjangkau dan berkualitas
kepada masyarakat. Soal mutu, sudah tentu sesuai standar yang telah ditetapkan karena diawasi
secara ketat oleh Pemerintah. Hanya bedanya dengan obat bermerek lain adalah OGB ini tidak
ada biaya promosi, sehingga harganya sangat terjangkau dan mudah didapatkan masyarakat.
Awalnya, OGB diproduksi hanya oleh beberapa industri Iarmasi BUMN. Ketika OGB pertama
kali diluncurkan, Departemen Kesehatan RI gencar melakukan sosialisasi OGB sampai ke desa-
desa. Saat ini program sosialisasi ini masih berjalan walaupun tidak segencar seperti pada awal
kelahiran OGB. Pada awalnya, produk OGB ini diproduksi untuk memenuhi kebutuhan obat
institusi kesehatan pemerintah dan kemudian berkembang ke sektor swasta karena adanya
permintaan dari masyarakat.
OGB mudah dikenali dari logo lingkaran hijau bergaris-garis putih dengan tulisan "Generik" di
bagian tengah lingkaran. Logo tersebut menunjukan bahwa OGB telah lulus uji kualitas, khasiat
dan keamanan sedangkan garis-garis putih menunjukkan OGB dapat digunakan oleh berbagai
lapisan masyarakat.