Anda di halaman 1dari 7

EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 7 No.

1 Januari 2011 ; 24 - 30

ANALISA BEBAN KALOR MENARA PENDINGIN BASAH JUJUT ISAP ALIRAN LAWAN ARAH
Mulyono Program Studi Teknik Konversi Energi Politeknik Negeri Semarang Jl.Prof. H. Sudarto, S.H. Tembalang Semarang 50275 Telp. (024) 7473417, 7478727, 7499585, Fax.(024) 7472396 Abstrak Menara pendingin merupakan bagian dari peralatan sistem sirkulasi air pendingin yang berfungsi mendinginkan air panas keluaran kondensor atau peralatan penukar kalor lainnya. Karakteristik menara pendingin basah jujut isap aliran lawan arah dari data manual berupa kisaran (range), pendekatan (approach) dan beban kalor tentu tidak relevan dengan kondisi operasional saat ini. Oleh karena itu dibutuhkan pengujiaan karakteristik menara pendingin sesuai dengan kondisisi setempat. Penelitian dilakukan dengan memasang sejumlah alat bantu dalam instalasi menara pendingin yang terdiri dari termometer bola basah, termometer bola kering, anemometer, dan pengukur debit air (flow meter). Hasil pengujian dengan temperatur lingkungan 27 0C sd 34 0C menunjukkan bahwa efektivitas menara 31,6 % s.d 57,1 % dan rata-rata 45,1 %; Cooling Range (jangkau pendinginan) 3,0 C s.d 6 C dan rata-rata 4,8 C. Approach (pendekatan) terendah sebesar 4,5 C dan tertinggi 6,5 C dengan approach rata-rata 5,8 C. Beban kalor pendinginan mulai 831.52 kJ/s hingga 1663,03 kJ/s dengan beban pendinginan rata-rata 1330,4 kJ/s. Beban kalor penguapan (evaporation) berkisar 50,1 % hingga 65,2 % dan rata-rata sebesar 56,3 % dari beban pendinginan. Beban panas sensibel ke udara 34.8 % hingga 47.7 % dan rata-rata 43,7 % dari beban pendinginan. Kata kunci :menara pendingin, efektivitas, cooling range, approach , beban kalor

Pendahuluan Proses pendinginan mesin sangat penting agar mesin tetap bekerja dengan baik dan mendukung proses produksi. Metode pendinginan mesin diantaranya adalah menggunakan pendingin air. Air sebagai fluida pendingin (coolant) disalurkan ke mesin dan kemudian air panas keluaran mesin disirkulasikan ke menara pendingin. Air di menara pendingin didinginkan oleh udara agar temperatur air menjadi lebih rendah, untuk selanjutnya disirkulasikan lagi ke mesin. Dengan adanya pendinginan air dari proses pendinginan mesin, maka akan diketahui berapa besar beban kalor yang terjadi di menara pendingin, sehingga akan dapat diketahui pula apakah pendinginan air yang berasal dari pendinginan mesin dapat berjalan dengan baik. Karakteristik menara pendingin dari data manual berupa kisaran (range), pendekatan (approach) dan beban kalor tentu tidak relevan dengan kondisi operasional saat ini. Oleh karena itu dibutuhkan pengujiaan karakteristik menara pendingin sesuai dengan kondisi setempat dan

operasional saat ini. Tinjauan Pustaka Menara pendingin basah adalah peralatan pembuang kalor berdasarkan mekanisme pendinginan air dengan menggunakan udara yang berkontak secara langsung dan menguapkan sebagian air tersebut (Stoecker, F.W dan Jerold W.J: 1987). Aliran udara di menara pendingin basah ada yang dibantu kipas (fan) dan ada yang tanpa kipas. Menara pendingin yang tanpa menggunakan kipas dinamakan menara jujut alami dan yang menggunakan kipas disebut menara pendingin jujut (draft) mekanik. Beberapa ciri-ciri menara pendingin jujut (draft) mekanik ditunjukkan tabel 1 . Menara pendingin menggunakan penguapan dimana sebagian air diuapkan ke aliran udara yang bergerak dan kemudian dibuang ke atmosfir. Sebagai akibatnya, air yang tersisa didinginkan secara signifikan (Gambar.1).

24

EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 7 No. 1 Januari 2011 ; 24 - 30

Tabel 1. Ciri-ciri jenis menara pendingin jujut mekanik (berdasarkan pada AIRAH)
Jenis menara pendingin
Jujut dorong/ (forced draft ) : udara dihembus ke menara oleh fan di saluran udara masuk

besar pada cuaca dingin dibandingkan cuaca panas.

Keuntungan

Kerugian

-Cocok untuk resistansi udara yg tinggi krn adanya fan dgn blower sentrifugal - Fan relatif tidak berisik

Resirkulasi, laju udara masuk tinggi &keluar ren- dah , disele- saikan dgn menempatkan menara di ruangan pabrik digabung dgn saluran buang Fan&mekanism e pengge- rak motor dibutuhkan yang tahan cuaca terhadap embun & korosi sebab mereka berada pada jalur udara keluar yang lembab

Gbr 1. Skema sistim menara pendingin basah (Laboratorium Nasional Pacific Northwest, 2001)

aliran melintang jujut isap (induced draft ): - Air masuk pd puncak & melewati isian -Udara masuk dari salah satu sisi (menara aliran tunggal), atau pada sisi berlawanan (m. aliran ganda) -IDF mengalirkan udara melintas isian menuju saluran keluar pada puncak aliran berlawanan jujut isap: -Air panas masuk pada puncak. Udara masuk dibawah& keluar pd puncak menggunakan FDF & IDF

Lebih sedikit resirkulasi drpd menara forced draft sebab kecepatan keluarnya udara 3 hingga 4 kali lebih tinggi daripada udara masuk

Kehilangan sebagian air sirkulasi karena penguapan diantisipasi dengan sistem air tambahan (make-up water). Air tambahan juga untuk mengganti kehilangan air akibat hembus buang (blowdown), dan hanyutan. Hembus buang biasanya 20 %, dan hanyutan 2 s.d. 2,5 % dari kehilangan air karena penguapan. Menara pendingin basah jujut isap aliran lawan arah mempunyai sistem distribusi air yang menggunakan nosel penyemprotkan air turun ke inti menara (water sprayed downward) dimana udara berhembus naik (air blown up ward) untuk bersinggungan secara langsung dengan udara. Inti menara merupakan tempat terjadinya perpindahan panas dan massa sehingga air menjadi dingin. Inti menara ada yang dilengkapi dengan isian (fill) dan ada yang tanpa isian (gambar 2).
-

Ket : FDF = forced draft fan; IDF = induced draft fan (Pedoman Efisiensi Energi untuk Industri di www.energyefficiencyasia.org)

Asia

Bergantung pada iklim setempat, mekanisme pembuangan panas dalam bentuk penguapan (evaporation) mengambil porsi 75 % di cuaca panas dan 60 % pada cuaca dingin dari beban pendinginan dan sisanya berupa penambahan panas sensibel ke udara (El-Wakil, MM : 1992). Menara pendingin basah mampu menurunkan suhu air lebih rendah dari jenis peralatan yang hanya menggunakan udara untuk membuang panas, seperti radiator dalam mobil atau menara pendingin kering. Pembuangan kalor sensibel ke udara lebih 25

Gbr. 2. Menara pendingin jujut isap,lawan arah


(Pedoman Efisiensi Energi untuk Industri di Asia www.energyefficiencyasia.org)

Terdapat tiga jenis bahan pengisi / isian. 1) Media Isian Penciprat (Splash Film).

Analisa Beban Kalor Menara Pendingin Basah

(Mulyono)

Media isian splash menciptakan area perpindahan panas yang dibutuhkan melalui cipratan air diatas media pengisi menjadi butiran air yang kecil. Luas permukaan butiran air adalah luas permukaan perrpindahan panas dengan udara. 2). Media Isian Selaput (Film Fill). Pada isian film, air membentuk lapisan tipis pada sisi-sisi lembaran pengisi. Luas permukaan dari lembaran pengisi adalah luas perpindahan panas dengan udara sekitar. Seperti ditunjukkan tabel 2, dibanding isian penciprat kebutuhan udara isian film sangat rendah, rasio L/G lebih besar (1,5 2,0) dan head pompa lebih rendah(BEE India, 2004; Ramarao and Shivaraman). 3).Bahan isian/pengisi sumbatan rendah (Low-clog film fills). Bahan pengisi sumbatan rendah dengan ukuran flute (galur) yang lebih tinggi saat ini dikembangkan untuk menangani air yang keruh, yang merupakan pilihan terbaik untuk air laut karena menghemat daya dan kinerjanya lebih baik dibanding isian penciprat konvensional. Nilai desain berbagai jenis bahan pengisi (isian) ditunjukkan tabel 2.
Tabel 2: Nilai desain berbagai jenis bahan pengisi Low Splash Film Clog Fill Fill Film Fill
Rasio L/G yang mungkin Luas perpindahan panas yg efektif (m /m ) Kebutuhan Tinggi Bahan Pengisi (m) Kebutuhan Head Pompa, m Kebutuhan Tinggi Sangat Rendah 9 -12 5-8 6-9 5 - 10 1,2 -1,5 1,5 - 1,8
2 3

pemborosan energi dan memberikan saran perbaikan. Selama evaluasi kinerja, peralatan pemantauan yang portable digunakan untuk mengukur parameter-parameter berikut: a) Suhu udara bola basah (wet bulb) b) Suhu udara bola kering (dry bulb) c) Suhu air masuk menara pendingin d) Suhu air keluar menara pendingin e) Suhu udara keluar ) Laju alir air g) Laju alir udara Parameter terukur tersebut kemudian digunakan untuk menentukan kinerja menara pendingin dengan beberapa cara, yaitu: a) Range lengkapnya cooling range- (lihat Gbr 3). Ini merupakan perbedaan antara suhu air masuk dan keluar menara pendingin. Range yang tinggi berarti bahwa menara pendingin (Cooling Tower, CT) telah mampu menurunkan suhu air secara efektif, dan kinerjanya bagus. Rumusnya adalah: Range CT (C) = [suhu masuk CW (C) suhu keluar CW (C)] b) Approach (lihat Gbr. 3). Merupakan perbedaan antara suhu air dingin keluar menara pendingin dan suhu bola basah lingkungan (wet bulb ambient). Semakin rendah approach semakin baik kinerja menara pendingin. Walaupun, range dan approach harus dipantau, 'approach' merupakan indikator yang lebih baik untuk kinerja menara pendingin. Approach CT (C) = [suhu keluar CW (C) - suhu wet bulb (C)]

1,1 -1,5

1,5 -2,0

1,4 - 1,8

30 -45

150

85 - 100

Jumlah Udara Rendah (BEE India, 2004; Ramarao and Shivaraman)

Gbr 3. Range dan approach menara pendingin

Kinerja menara pendingin dievaluasi untuk mengkaji tingkat approach dan cooling range saat ini, identifikasi area terjadinya

c) Efektivitas. Merupakan perbandingan antara range dan range ideal (dalam persentase), yaitu perbedaan antara suhu masuk air pendingin dan suhu wet bulb 26

EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 7 No. 1 Januari 2011 ; 24 - 30

ambien, atau dengan kata lain adalah = Range/ (Range + Approach). Semakin tinggi perbandingan ini, maka semakin tinggi efektivitas menara pendingin. Efektivitas CT (%) = 100 x (suhu CW -suhu keluar CW) / (suhu masuk CW -suhu WB) d) Kapasitas pendinginan. Merupakan panas yang dibuang dalam kKal/jam, atau kJ/s, sebagai hasil dari laju massa air, panas spesifik dan perbedaan suhu. e) Kehilangan penguapan. Merupakan jumlah air yang diuapkan untuk tugas pendinginan. Rumus berikut dapat digunakan untuk menghitung kehilangan air karena penguapan (Perry): Kehilangan penguapan (m3/jam) = 0,00085 x 1,8 x laju sirkulasi (m3 /jam) x (T1-T2) T1 - T2 = perbedaan suhu antara air masuk dan keluar f) Siklus konsentrasi (C.O.C). Merupakan perbandingan padatan terlarut dalam air sirkulasi terhadap padatan terlarut dalam air make up. g) Kehilangan hembus buang (Blow down).Tergantung pada siklus konsentrasi, kehilangan penguapan. Dihitung dengan rumus: Blow down = Kehilangan penguapan/ (C.O.C. - 1) h) Perbandingan Cair/Gas (Liquid/Gas, L/G). Perbandingan L/G merupakan rasio laju alir massa air (liquid) dan udara (gas). Menara pendingin memiliki nilai desain L/G tertentu. Namun karena pengaruh cuaca atau musim, perlu pengaturan dan perubahan laju aliran air dan udara untuk mendapatkan efektivitas terbaik. Pengaturan dapat dilakukan dengan perubahan beban kotak air atau pengaturan sudut siripnya. Aturan termodinamika juga mengatakan bahwa panas yang dibuang dari air harus sama dengan panas yang diserap oleh udara sekitarnya. L/G didapat dari rumus: ma1 / mu2 (Kg air /Kg udara) Metode Penelitian

Didalam analisa beban kalor menara pendingin basah jujut isap aliran lawan arah ini digunakan data dari menara pendingin yang dioperasikan PT P.E.P di kota K. di Jawa Tengah, yang bergerak di industri pemintalan benang. Menara pendingin basah yang dipergunakan adalah model LBC 500, aliran lawan arah, jujut isap, tinggi (H) 4 meter, diameter (D) 5,58 meter. Kipas (fan) yang dipergunakan untuk jujut isap 1450 Rpm, 15 HP, 50 Hz, 380 Volt/ 3 phase, dan jumlah kutup 4 buah. Beban menara pendingin berupa air panas pendinginan minyak pelumas (oil cooler) dan air panas peralatan pendingin antara (intercooler) dari mesin Joy Compressor.

L a juair h an ga t d a rio il c oo le r & in te r c o o le r;1 t a no s el em p ro t s la juu da ra m asu; k td b 1 ; tw b 1 ;v1 A irk e p o m p ; ta 2 a

K is -kis i i p a das em u a sisim e na ra

P e lam p un g K atu p A irta m b a ha n

Gbr 4. Skema pengujian menara pendingin

Termometer bola kering(dry bulb) dipakai untuk mengukur temperatur bola kering udara masuk menara (tdb1), temperatur bola kering udara keluar menara (tdb2), temperatur air masuk menara (ta1) dan temperatur air keluar menara (ta2). Termometer bola basah dipakai untuk mengukur temperatur bola basah udara masuk menara (twb1), temperatur bola basah udara keluar menara (twb2). Pengukur debit (Flow meter) digunakan untuk mengukur laju aliran air pendingin (m3/s). Anemometer dipergunakan untuk mengukur debit aliran udara masuk menara, v1 (m/s) dan keluar menara. Barometer digunakan untuk mendapatkan tekanan atmosfer setempat. Juga digunakan psikrometri untuk mencari parameter udara seperti massa jenis udara, kelembaban absolut, dan kelembbaabn relatif.

27

Analisa Beban Kalor Menara Pendingin Basah


1 2 3 4 5 6 7 8 9 x 3.5 4.5 4.5 3.0 6.0 5.0 4.7 6.0 6.0 4.8 6.5 5.5 6.0 6.5 4.5 5.0 6.0 6.0 6.0 5.8 35.0 45.0 42.9 31.6 57.1 50.0 43.9 50.0 50.0 45.1

(Mulyono)
970.1 1247.3 1247.3 831.5 1663,0 1385.9 1302.7 1663.0 1663.0 1330.4

Hasil dan pembahasan Tabel 3 adalah tabel data percobaan menara pendingin basah jujut isap aliran lawan arah, yang merupakan rata-rata dari data pengujian.
Tabel 3. Data percobaan menara pendingin
N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 tdb1 C 27 28 29 30 30.5 31 32 33 34 Twb1 C 25.5 25.5 26 27.5 27 28 28 28 28.5 tdb2 C 35 35 35 36 36.5 37 36.7 38 38.5 twb2 C 30 30 30 30.5 31,5 32 31 31.8 31.5 ta1 C 35.5 35.5 36.5 37 37.5 38 38.7 41 40.5 ta2 C 32 31 32 34 31.5 33 34 35 34.5 v1
m/s

3.1 3.1 3.1 3.1 3.1 3.1 3.1 3.1 3.1

Ket : x = nilai rata-rata, berturut-turut dari range, approach dan beban kalor pendinginan.

Tabel 5 memperlihatkan hasil perhitungan massa udara masuk (mu1) dan keluar menara (mu2), massa air sirkulasi yang menguap (= mu2 - mu1) atau kebutuhan air tambahan (make up water), dan rasio L/G.
Tabel 5. Perhitungan massa udara masuk dan keluar menara dan massa air yang menguap
N mu1 o Kg/s mu2 Kg/ s mu2- mu1

Laju aliran volumetrik (debit) air pendingin 4000 liter per menit atau 0,0667 m3/s, konstan selama pengujian. Tekanan atmosfer (Patm) sebesar 101,8 kPa atau 1,018 Bar atau 14,765 Psia. Kecepatan udara keluar menara sebesar 6 m/s, konstan sepanjang pengujian. Kecepatan udara masuk menara rata-rata sebesar 3,1 m/s.Temperatur udara lingkungan terendah 27 C dan tertinggi 34 C. Temperatur air masuk menara berkisar dari 35,5 C hingga tertinggi 41 C (tabel 3). Tabel 4 adalah hasil perhitungan nilai jangkau pendinginan (cooling range), pendekatan (approach), efektivitas dan beban kalor atau kapasitas pendinginan, yang didapat dari tabel 3. Cooling Range (jangkau pendinginan) terendah sebesar 3,0 C dan tertinggi 6 C dengan range rata-rata 4,8 C. Approach (pendekatan) terendah sebesar 4,5 C dan tertinggi 6,5 C dengan approach rata-rata 5,8 C. Efektivitas terendah 31,6 % (data 4) sampai tertinggi 57,1 % (data ke 5) dan ratarata efektivitas 45,1 %. Beban kalor pendinginan mulai 831.52 kJ/s hingga 1663,03 kJ/s dengan beban pendinginan ratarata 1330,4 kJ/s. Approach terendah (4,5 0C) atau range tertinggi (6 0C) memberikan efektivitas yang tertinggi (57,1 %) (data ke 5 tabel 4).
Tabel 4. Perhitungan range, approach, efektivitas dan beban kalor menara pendingin
N Range o C Approach C Efektivitas

1 2 3 4 5 6 7 8 9 x

47.35 47.44 46.87 46.84 46.29 46.60 46.01 45.10 45.24

48.04 48.05 48.08 47.91 47.77 47.63 47.79 47.56 47.49

kg/s 0.69 0.61 1.21 1.07 1.48 1.03 1.78 2.46 2.20

m /s

ma1 Kg/s

L/G kg /kg

1.78 1.65 1.99 1.81 2.31 1.89 2.21 3.00 2.72

66.26 66.27 66.25 66.23 66.23 66.23 66.20 66.15 66.15

1.44 1.40 1.41 1.41 1.43 1.42 1.44 1.47 1.46

46.4 47.8 1.3 2.15 66.28 1.43 2 1 9 Ket : x = nilai rata-rata untuk mu1; mu2;(mu2- mu1), L/G

Beban Kalor Pendinginan Kj/s

28

EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 7 No. 1 Januari 2011 ; 24 - 30

Laju aliran massa udara masuk menara (mu1) terendah sebesar 46,01 kg/s dan tertinggi 47,44 kg/s dengan rata-rata 46,42 kg/s; laju aliran massa udara keluar menara (mu2) terendah sebesar 47,49 kg/s dan tertinggi 48,08 kg/s dengan rata-rata 47,81 kg/s; massa air sirkulasi yang menguap (= mu2 - mu1) terendah sebesar 0,61 kg/s (setara 1,65 m3/s), tertinggi 2,46 kg/s (setara 3,00 m3/s) dan rata-rata 1,39 kg/s (setara 2,15 m3/s); dan rasio L/G terendah 1,4 , tertinggi 1,47 dan rata-rata 1,43 (kgair/kgudara) (tabel 5).Tabel 6 menunjukkan nilai beban kalor penguapan (evaporation) dan panas sensibel ke udara dari beban pendinginan. Hasilnya, beban kalor penguapan (evaporation) berkisar 50,1 % (data no.1) hingga 65,2 % (data 9) dan rata-rata sebesar 56,3 % dari beban pendinginan. Beban panas sensibel ke udara minimal 34.8 % (data 9), maksimal 47.7 % (data 3) dan rata-rata 43,7 % dari beban pendinginan.
Tabel 6. Perhitungan penguapan dan panas sensibel dari beban pendinginan
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 x Beban Kalor Pendinginan Kj/s 970.1 1247.3 1247.3 831.5 1663,0 1385.9 1302.7 1663.0 1663.0 1330.4 Kalor Penguapan kj/s % 485.9 50.1 766.7 652.97 423.22 1029.8 733.0 688.4 883.4 1083.7 749.7 61.5 52.3 50.9 61.9 52.9 52.8 53.1 65.2 56.3 Panas Sensibel kj/s 484.2 480.6 594.3 408.3 633.2 652.9 614.3 779.6 579.3 580.7 % 49.9 38.5 47.7 49.1 38.1 47.1 47.2 46.9 34.8 43.7

sebagian data tabel 4, 5, dan 6 dibuat tabel 7 sebagai tabel ringkasan hasil pengujian dengan membandingkannya dengan rujukan /referensi.
Tabel 7. Ringkasan hasil perhitungan menara dan kesesuaiannya dengan rujukan
M.P. Jujut Isap , lawan arah Hasil Rasio L/G yang dihasilkan
Luas perpindahan panas (m2/m3)

Rata 2 1,43 NA 4 NA 46.42 4.8 5.8 45.1


56.3 43.7

Kesesuai-an dengan rujukan (tabel 2, dan lainnya)


Sesuai Isian Splash L/G 1,1 - 1,5

1,4-1,47 NA 4 NA 45.10 s.d 47.44


3.0 s.d 6.0

Lihat Tabel. 2
mendekati tipe Isian splash, 5 -10

Tinggi Bahan Pengisi/isian, m Kebutuhan Head Pompa, m Kebutuhan Udara (kg/s)


Range, C Approach, C Efektivitas , % Beban penguapan (evaporasi), % Beban panas sensibel, %

Lihat Tabel. 2 Tinggi ,krn L/G rendah Setinggi mungkin Serendah mungkin Setinggi mungkin 60 s.d 75 (M.Wakil) 25 s.d 40 (M.Wakil)

4.5 s.d 6.5 31.6 57.6


50.1 65.2 34.8 47.7

s.d
s.d s.d

NA= not available /tidaka ada data

Kesimpulan Setelah dilakukan pengujian menara pendingin basah jujut isap aliran lawan arah didapat kesimpulkan sebagai berikut : 1. Perbandingan L/G yang dihasilkan menara pendingin basah jujut isap aliran lawan arah berkisar 1.4 s.d 1.47 dengan rata-rata perbandingan L/G 1.43 (kgair/ kg udara), bersesuaian dengan tipe menara pendingin isian penciprat (Splash fill) yang mempunyai rasio L/G 1.1 s.d 1.5 (lihat tabel 2). 2.Cooling Range (jangkau pendinginan) berkisar 3.0 0C s.d 6.0 0C dengan rata-rata 4.8 0 C. Range yang diinginkan tentu sebesar mungkin sebagai cerminan kemampuan membuang panas yang baik dari menara pendingin ke lingkungan.

Hanya data no. 2, 5, dan 9 dari tabel 6 yang mempunyai beban kalor penguapan 60 % , batas terendah nilai penguapan (menurut rujukan M.M.El-Wakil : 252), yang berkisar 60 % s.d 75 %. Beban penguapan terbesar sebesar 65. 2 % terjadi pada temperatur terpanas sudah sesuai dengan referensi, bahwa makin panas cuaca maka penguapan makin besar demikian pula sebaliknya. Dari 29

Analisa Beban Kalor Menara Pendingin Basah

(Mulyono)

3. Pendekatan (approach) 4.5 0C s.d 6.5 0C dengan rata-rata sebesar 5.8 0C . Approach yang makin kecil akan memperbesar efektivitas menara, karena approach berbanding terbalik dengan efektivitas. 4. Efektivitas menara pendingin berkisar 31.6 % s.d 57.6 % dengan rata-rata 45.1%. Diinginkan efektivitas menara pendingin sebesar mungkin sebagai ukuran indek prestasi yang baik dari alat penukar kalor . 5. Beban penguapan berkisar 50.1 % s.d 65.2 %, dengan rata-rata 56.3 %. Sebagian sudah sesuai rujukan berkisar 60 % s.d 75 % (M.M.El-Wakil) Daftar Pustaka
El-Wakil, M.M., diterjemahkan Jasjfi, E, 1992, Instalasi Pembangkit Daya (Judul asli : Power Ramarao; Shivaraman ,2004; Ministry of Power India. Cooling Tower In Energy Efficiency in Electricity Utilitas . Chapter 7 , 135-151 , India Bureau of Energy Efficiency. Stoecker, F.W; Jerold, W.J , alih bahasa Supratman Hara, 1987, Refrigerasi dan Pengkondisian Udara, Edisi ke 2, Penerbit Erlangga, Jakarta. -------, Peralatan Energi Listrik:Menara Pendingin Pedoman Efisiensi Energi untuk Industri di Asia www.energyefficiencyasia.org diunduh pada tanggal 23-2-2010

Whitman, Johnson, Tomczyk, 2005, Refrigeration and Air Conditioning Technology 5Th Edition, Copyright 2005 by Thomson Delmar Learning materi power point , diunduh Pebruari 2010

30