Anda di halaman 1dari 3

Ini adalah surat untuk seorang sahabat

Apa yang sedang terjadi antara kita sekarang? Semua terlihat biasa-biasa. Tak ada lagi hal hal bodoh, gila, dan hal-hal ajaib yang pernah kita lakukan. Tak ada lagi hal-hal luar biasa. Semuanya datar dan tak berekspresi. Semuanya penuh dengan kecurigaan dan saling menjatuhkan ( tanpa sadar kita memang seperti itu ). Ah, entahlah. Yang jelas aku begitu risau dengan hal ini. Hal yang membuat kita jauh, padahal tak ada jarak antara kita. Kita tidak sedang membangun hubungan long distance. Kita ada di kota yang sama, bahkan di kotak yang sama. Kenapa kita terasa begitu jauh? Kita kehilangan hal-hal yang romantis. Bercerita sambil mendengarkan radio, jalan-jalan berdua, atau hanya sekedar bertanya sudah minum obat belum?, dan saling mengeluh tentang hari hari kita. Aku khawatir ini akan terjadi lama dan mempengaruhi kualitas persahabatan kita. Dan itu akan sangat menyedihkan. Semuanya terjadi begitu saja tanpa kita menyadarinya. Ini adalah hal yang absurd bagiku, sulit sekali mendeskripsikan kronologinya hingga jadi seperti ini. Ada yang bilang ini masalah komunikasi. Tapi, aku memilih untuk tak membicarakannya lebih jauh. Karena kupikir itu akan semakin membuat kita jauh. Biarkan ini berjalan apa adanya. Biar mengalir seperti air. Toh kita sama-sama yakin bahwa kita pasti memperbaiki semuanya. Kembali seperti semula, penuh keajaiban-keajaiban. Hidup tak selamanya penuh dengan kecocokan. Adakalanya kita dihadapkan pada situsi yang seperti ini. Itu berarti ada yang salah dengan kita. Ada yang salah, dan harus kita perbaiki. Tak cocok bukan berarti tak bisa diperbaiki kan? Bukankah segala macam kecocokan itu berawal dari sesuatu yang tidak cocok? Melalui proses saling memahami, melihat, dan menjalani hingga akhirnya muncul kecocokan. Kalau ada yang tidak cocok, bagaimana kita memperbaikinya sampai kita merasa benar-benar cocok lagi. Bukankah begitu? Kalaupun kita tak bisa memperbaikinya dalam waktu yang bersamaan, biarlah kita perbaiki sendiri-sendiri. Aku yakin, hanya kita yang tau, apa yang terbaik untuk persahabatan kita. Ya, hanya kita yang tau. Adakalanya kita harus ikhlas menerima kenyataan bahwa hidup kadang memang tak sesuai dengan harapan. Kita juga tak bisa berharap bahwa hidup harus selalu sempurna, ada saatsaat tertentu yang mengharuskan kita untuk menerima kenyataan kenyataan di luar rencana kita yang indah99Persahabatan bukanlah untuk mencari sesuatu yang cocok, melainkan saling melengkapi hal-hal yang tak cocok antara kita. Saling mengisi rindu dan kekosongan. Saling berharap dan mengharapkan. 99Saling berbagi dan membagi. Saling menangis dan menangisi. Kadang ada rindu, bahkan ada juga lukaSaatnya kita memperbaiki semuanya dan menjadikannya lebih indah. Karena kita sama-sama tahu bahwa saat ini kita sedang menyimpan rindu. Sama-sama rindu, sama-sama merindukan

Dear Balbon.. Aku tidak tahu harus mulai ini dari mana. Terlalu banyak hal yang aku rasain selama kita bersama. Suka, duka, aku merasa kamu selalu ada untuk aku, aku tidak tahu apa kamu juga merasakan hal yang sama? Masih kamu ingat, saat aku menangis karena tersakiti pacarku? Kamu ada, membawaku pergi, menjemputku dari kampus, kita keliling-keliling dengan sepeda motormu. Saat itu aku menangis, dan sering kamu mengatakan tidak suka melihatku cengeng. Tapi aku beruntung, waktu itu kebetulan gerimis. Entahlah, kamu melihatku menangis atau tidak. Aku bertanya pada Tuhan, kenapa orang yang aku cintai saat itu bukanlah kamu? Aku menarik nafas panjang, ingatkah kamu kejadian yang menurutmu tidak terlalu penting tetapi sangat berarti untukku? Kamu sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Tapi, apa kamu tahu? Sedikit penyesalan yang ada di lubuk hati aku. Kenapa kita gak bisa bersama? Masih aku ingat dengan jelas, ketika mungkin kita pernah sama-sama tertarik. Aku menunggu kamu, tapi kamu memilih untuk tidak mengungkapkannya, aku kecewa, ada sedih di hati aku. Karena ketika itu, kamu terlambat mengungkapkannya. Kamu bilang di saat aku sudah memiliki seseorang yang saat itu benar-benar aku cintai. Padahal aku tahu benar, bahwa aku salah mencintai seseorang, sehingga aku lebih sering menangis dan meminjam bahumu. Waktu berlalu Bon, kita berdua sama-sama sibuk, sibuk untuk jatuh cinta dengan orang lain. Sibuk untuk memahami orang lain. Sibuk mencari dan mencari yang terbaik. Saat itu aku mulai merasa tidak bisa mengganggu kamu setiap saat. Karena kamu juga memiliki kekasih saat itu. Aku tahu aku salah, keegoisan aku terlalu berlebih untuk memiliki kamu, meskipun aku juga sama seperti kamu, sudah memiliki kekasih. Hampir tiga tahun kita sama-sama saling melupakan. Hanya sesekali kita bertemu, dan berkirim sms atau telepon. Sekali lagi, waktu telah berlalu, aku putus dan kamu pun begitu. Entah apa yang menyebabkan kita sama-sama putus dari pasangan kita masing-masing. Tidak pernah ada cerita. Aku lupa tepatnya kapan, tapi waktu itu aku mendengar bahwa mantan kekasih aku yang dulu begitu aku cintai memilih untuk menikah. Aku galau, aku tidak tahu harus berbagi dengan siapa. Entah mengapa aku memilih untuk kembali menghubungi kamu, menangis sekencang-kencang dari balik bantal. Berulang kali kamu bertanya kenapa aku menangis dan berulang kali aku menjawab aku tidak apa-apa, aku hanya ingin menangis. Lalu kamu berkata, Akan mendengarkan aku menangis sampai aku puas. Aku tidak berkata apa-apa, hanya bisa menangis dan terus menangis sampai aku

lelah. Kamu terdiam di sana. Lalu kamu bilang, Nangis aja sekarang! Gue gak mau ketemu lo kalau lo nangis! Apalagi nangis depan gue! Aku suka kamu berucap itu, aku suka mendengar suaramu kembali. Bon, dulu aku selalu bertanya-tanya kenapa kita nggak bisa bersama? Aku selalu mencari jawaban itu selama delapan tahun kita bersahabat. Aku tidak pernah menemukan jawaban itu. Seperti yang aku bilang sebelumnya kita terlalu sibuk dengan orang lain. Sampai kita tidak sadar, siapa yang ada di sebelah kita. Malam di mana mama kamu masuk rumah sakit, dan kita berdua chatting, aku merasakan resah di hati kamu. Satu hal yang aku pikirkan, aku hanya ingin membantu kamu, aku mau menghibur kamu. Lagi-lagi karena kamu telah melakukan banyak hal untuk aku. Sungguh, aku tidak bermaksud apa-apa sewaktu aku ada di samping mama kamu. Ada hal yang membuat aku kecewa, saat kamu bilang, kamu sudah berutang budi sama aku. Bon, aku melakukannya tulus. Aku hanya ingin kamu tahu, aku ada untuk kamu. Sekarang aku sendiri, dan akan belajar untuk mencobanya sendiri, tanpa kamu, bisakah aku mengulanginya Tuhan? Lebih baik aku dan dia jarang bertegur sapa dan bertemu, tapi hati kita selalu dekat, ketimbang sekarang aku dan dia sering bertemu, tapi hati kita berdua semakin jauh. Aku merasa kamu menjauhi aku, aku rindu kamu Bon, aku rindu di mana dengan bebasnya aku menyapa kamu lewat dunia maya, aku bilang kangen sama kamu atau apa saja. Tapi kini, menegur aku pun kamu tidak, aku merasa semua orang melihat ke arah kita berdua, sehingga kamu menjaga jarak. Aku mohon untuk tidak membenciku, aku berjanji akan menjadi sahabat yang terbaik untuk kamu, dengan cara apa? Dengan cara mengabaikan semua perasaanku. Sekarang papa, bunda, kakak, dan teman-temanku yang lain selalu bertanya tentang kamu. Apa yang harus aku katakan? Aku sudah tidak tahu lagi tentang kamu, bahkan bukan menjauhiku saja, semua teman-temanku juga kamu perlakukan sama. Bukan begitu, Bon? Bon, aku menunggumu, aku benar-benar menunggumu kembali seperti dulu. Kita berdua harus berjanji. Berjanji untuk tidak melukai perasaan. Berjanji untuk mengabaikan semua rasa di hati ini. Sekali lagi aku berjanji. Aku berjanji menjadi sahabat terbaikmu, jika memang itu yang kamu inginkan. Baca surat aku ini, kelak saat kau membaca mungkin perasaanku sudah berbeda, aku sudah tidak lagi menyukaimu selain dari sahabat setia.