Anda di halaman 1dari 19

DESIGN BALOK CASTELLA DENGAN MENGGUNAKAN PROFIL I

A. PENDAHULUAN. Open-Web Expanded Beams and Girders (perluasan balok dan girder dengan badan berlubang) adalah balok yang mempunyai elemen pelat badan berlubang, yang dibentuk dengan cara membelah bagian tengah pelat badan, kemudian bagian bawah dari belahan tersebut dibalik dan disatukan kembali antara bagian atas dan bawah dengan cara digeser sedikit kemudian dilas. Gagasan semacam ini pertama kali dikemukakan oleh H.E. Horton dari Chicago dan Iron Work sekitar tahun 1910, yang sekarang ini dikenal dengan metode Castella. Jika pembelahannya zig-zag maka disamping bertambah tinggi juga akan dihasilkan pelat badan balok berlubang dan perluasan pelat badan balok, namun jika pembelahannya miring maka akan dihasilkan perluasan pada salah satu ujung pelat badan dan penyempitan pada ujung pelat badan yang satunya (menghasilkan balok non prismatis). Dengan cara semacam itu maka balok dengan luas yang sama akan menghasilkan modulus potongan dan momen inersia yang lebih besar. Namun disisi lain dengan semakin tingginya balok maka kelangsingannya semakin meningkat sehingga akan menurunkan tegangan kritisnya, atau akan menghasilkan tegangan kritis yang lebih kecil dari pada tegangan lelehnya (fcr < fy). Jika fcr < fy maka profilnya akan cepat rusak (yang sering disebut prematur calleb), hal ini dapat diatasi dengan cara memasang pengaku pada bagian pelat badannya. Yang di sampaikan pada makalah ini hanya sebatas membandingkan tingkat kenaikan antar kapasitas lentur balok Castella dengan balok standart. B. BENTUK BADAN PROFIL DAN TEKNIS PEMBUATAN BALOK CASTELLA. Bentuk badan profil tergantung dari teknis pembelahan pelat badan profil yang disesuaikan dengan kebutuhannya. Ada beberapa macam bentuk yang sering dipergunakan dilapangan, sebagai berikut :

1. Dibelah zig-zag horisontal dengan ukuran sama antara bagian ujung bentang dan bagian tengah bentang, ada juga yang pembelahannya berbetuk bulat horisantal. Bentuk semacam ini cocok digunakan untuk pelat girder. Gambar 1, menunjukan profil I yang dibelah zig-zag lurus di tengah pelat badan, kemudian hasil belahan bagian bawah dibalik dan disatukan kembali dengan bagian atas dengan cara dilas seperti yang terlihat pada Gambar 2.
bagian yang dipotong atas bawah

Gambar 1. Profil balok I dipotong zig-zag sepanjang badannya dilas

atas

bawah Gambar 2. Balok Castella segi enam. 2. Dibelah zig-zag miring bagian pelat badan. Bentuk semacam ini sangat cocok digunakan untuk konsol. Gambar 3, menunjukan profil I yang dibelah zig-zag miring pada bagian pelat badan, kemudian hasil belahan bagian bawah dibalik dan disatukan kembali dengan bagian atas dengan cara dilas seperti yang terlihat pada Gambar 4.

Gambar 3. Profil balok I dipotong zig-zag miring sepanjang badannya

Gambar 4. Balok Castella non prismatis dengan lubang segi enam. 3. Dibelah miring pada pelat badannya, sehingga setelah satukan akan menghasilkan profil yang non prismatis, yang mempunyai luas potongan tidak sama. Bentuk semacam ini sangat cocok digunakan untuk konsol. Gambar 5, menunjukan profil I yang dibelah miring pada pelat badannya, kemudian hasil belahan bagian bawah dibalik dan disatukan kembali sehingga menghasilkan balok non prismatis seperti yang terlihat pada Gambar 6.

Gambar 5. Profil balok I dipotong zig-zag miring sepanjang badannya

Gambar 6. Balok Castella non prismatis tanpa lubang. 4. Dibelah zig-zag horisontal dengan ukuran tidak sama antara bagian ujung bentang dengan bagian tengah bentang. Bentuk semacam mampu menahan momen yang sangat besar di bagian tengah bentang dan menahan gaya geser yang sangat besar pada bagian tumpuan pada pelat girder. Gambar 7, menunjukan profil I yang dibelah zig-zag lurus tidak sama, kemudian hasil belahan bagian bawah dibalik dan disatukan kembali dengan bagian atas dengan cara dilas sehingga menghasilkan lubang yang tidak sama antar ujung bentang dengan tengah bentang seperti yang terlihat pada Gambar 8.

Gambar 7. Profil balok I dipotong zig-zag sepanjang badannya

bagian ujung bentang

bagian tengah bentang

Gambar 8. Balok Castella segi enam dengan luas lubang ujung bentang tidak sama dengan luas lubang tengah bentang. 5. Bagian tengah bentang lebih tinggi dari pada bagian tumpuan, bisa berlubang atau tidak berlubang. Gambar 9 menunjukan pelat yang dipertinggi bagian tengahnya namun tidak berlubang, bentuk semacam mampu menahan momen yang sangat besar di bagian tengah bentang dan menahan gaya geser yang sangat besar pada bagian tumpuan pada pelat girder .

Gambar 9. Balok Castella yang dipertinggi bagian tengah bentangnya.

Gambar 10. Dua open-web yang dijadikan satu. 6. Dua open-web yang dijadikan satu, kemudian disatukan dengan pelat antara dua sayap open-web tersebut sehingga membentuk seperti sarang (gambar 10). Dengan cara ini akan meningkatkan momen inersianya baik terhadap arah x maupun terhadap arah y, sehingga sangat cocok digunakan untuk kolom. C. STRUKTUR TERLENTUR. Komponen struktur yang mengalami lentur banyak dijumpai sebagai gelagar (girder), yang merupakan balok utama yang berpenampang tinggi dan biasanya sebagai

tumpuan balok-balok lain. Sebagai contoh struktur yang mengalami lentur adalah balok sederhana (simple beam) yang menerima beban transversal terdistribusi merata (gambar 11.a). Akibat beban tersebut pada balok bekerja momen (gambar 11.b) dan gaya geser (gambar 11.c).

tekan (a) L/2 M (b) V (c) SFD L/2 BMD (d) (e)

Gambar 11. Balok sederhana yang menerima beban terdistribusi merata. Akibat momen, penampang balok mengalami tegangan lentur (bending stress), akibat gaya geser penampang balok mengalami tegangan geser. Dalam keadaan penampang balok masih elastis distribusi tegangan lentur masih linier (gambar 11.e). Tegangan fb maksimum terjadi pada serat terluar yang letaknya c dari garis netral dapat dinyatakan dengan persamaan 1 sebagai berikut : fb = M. c I (1)

dengan M adalah momen pada penampang yang ditinjau dan I adalam momen inersia. Tanda positif menunjukan tegangan tarik, dan tanda negatif menunjukan tegangan tekan. Jika S = I/c, dengan S adalah modulus potongan (section modulus) maka persamaan 1 tersebut menjadi fb = M. S (2)

Jika balok tersebut dipertinggi maka momen inersia I akan meningkat sehingga akan meningkatkan pula modulus potongan S. Jika modulus potongannya meningkat

maka tegangan yang terjadi pada balok tersebut akan menurun. Kondisi tersebut akan mengakibatkan tegangan kritisnya (fcr) akan lebih kecil dari pada tegangan lelehnya (fy), maka balok akan cepat rusak yang disebut dengan prematur Calep. Disamping adanya tegangan lentur juga mengalami tegangan geser fv maksimum pada bagian badan balok di daerah tumpuan, yang dapat diperoleh dengan persamaan sebagai berikut : fv = dengan : V = gaya lintang yang terjadi. Q = statis momen luas daerah yang tergeser. b = lebar balok yang mengalami geser. I = momen inersia profil. D. BALOK CASTELLA. Bentuk belahan balok Castella segi enam seperti yang tergambar pada gambar 12 dan juga gambar 13 akan menghasilkan persamaan sebagai berikut : h t h tan db h 2 V. Q b. I (3)

tan = dg s dengan :

atau atau

b = dT =

= db + h = 2(b + e)

dg = tinggi profil castella. db = tinggi profil balok awal. h = tinggi pemotongan profil.

Dari persamaan atau dari gambar 12 dan gambar 13 terlihat adanya penambahan tinggi profil dari db menjadi dg, sehingga secara teoritis akan menaikan pula momen inersia dan otomatis akan menaikan pula terhadap Kapasitas Lenturnya.

dT

db e s

Gambar 12. Profil balok I dibelah sepanjang badannya

b h

dT

dg e

Gambar 13. Balok Castella segi enam. Sudut dapat digunakan antara 450 sampai dengan 700, sedangkan yang banyak dipakai dilapangan adalah 450 dan 600. Sudut ditentukan dengan memperhitungkan tegangan geser yang terjadi pada bagian garis netral badan sehingga tidak melebihi tegangan ijinnya. Menurut beberapa literatur Sudut yang paling bagus adalah sebesar 500. Jarak e boleh bervariasi sesuai tegangan geser yang bekerja. E. TEGANGAN DAN GAYA GESER BALOK CASTELLA. Balok yang terlentur akan menghasilkan gaya geser maksimum pada bagian tumpuan dan momen maksimum pada tengah bentang, sehingga balok di daerah tumpuan akan menerima tegangan geser yang lebih besar jika dibandingkan di tengah bentang. Namun tegangan lentur yang diterima di daerah tumpuna lebih kecil jika dibandingkan di tengah bentang. Hal tersebut mengakibatkan adanya keruntuhan prematur akibat tekuk (buckling) pada balok yang berlubang di daerah tumpuan, sebelum mencapai beban maksimum, seperti yang terlihat pada gambar 14. .

Buckling

Gambar 14. Balok Castella yang mengalami buckling pada daerah tumpuan. Pada setiap profil castella yang terbuka dapat dipandang sebagai dua penampang T yang fungsinya identik dengan batang tepi sebuah struktur rangka batang (truss) yang dibebani gaya geser vertikal. Karena itu pada penampang T selain bekerja momen lentur (momen primer) juga bekerja momen sekunder. Gaya lintang yang bekerja di tengah balok statis tertentu dengan beban merata relatif kecil, sehingga pengaruh momen sekunder relatif kecil. Sedang Gaya lintang terbesar terletak pada tumpuan, sehingga pengaruh momen sekunder relatif cukup besar. Momen sekunder yang terjadi pada dukungan akan terjadi pada jarak 1/2 kali jarak potongan arah horisontal (e/2), pada profil T. Dengan asumsi bahwa setiap penampang T bekerja 1/2 kali gaya lintang (D/2), maka gaya dan tegangan yang timbul pada penampang Castella dapat diasumsi : 1. Tegangan fc akibat lentur (momen primer M) yang terjadi pada serat terluar memenuhi persamaan : fc = M Sb (4)

dengan : Sb = Modulus potongan balok castella. 2. Gaya lintang yang bekerja pada penampang terbuka didukung oleh dua penampang T yang sama besar, dengan asumsi gaya geser vertikal bekerja pada tengah-tengah e, maka tegangan akibat lentur sekunder dapat dihitung dengan persamaan : fv = V. e 4.S (5)

dengan besar momen lentur sekunder harus lebih kecil dari momen primernya. 1 1 1b

T Tarik

VT h 1a e e

VT
T Tekan

Tarik VT s Gambar 15. Detail potongan balok castella. Tegangan total dari gambar 15 merupakan kombinasi akibat tegangan primer dan tegangan sekunder atau merupakan jumlah total dari tegangan dari joint 1a yang menghasilkan persamaan 6a dan dari joint 1b yang menghasilkan persamaan 6b. Kombinasi tersebut menghasilkan persamaan 6c. f1a = f1b = f1 = M1a h V1. e + Ig 4.SS M 1b d g 2I g + V1 . e 4.Sf (6a) (6b) (6c) VT

Tekan

M V. e + dA 4.S

F. TEGANGAN IJIN. Tegangan ijin lentur pada penampang T profil Castella yang berlaku untuk stastis tertentu adalah dengan mengganti panjang yang tidak disokong L dengan jarak e pada profil Castella (PPBBG, hal 42). Adapun besarnya tegangan leleh dan ijin yang berlaku untuk setiap profil berkisar antara seperti pada Tabel 1. Sedang AISC memberi rumus sebagai berikut : ( L / r ) 2 0,6. fy 1 f = 2. Cc2 . Cb ( (7)

dimana :

M M Cb = 1,75 - 1,05 1 + 0,3 1 2,3 dan M2 M2 Cc = 22 E fy

nilai Cb tidak melebihi 2,3. Jika diasumsi nilai Cb = 2,3 maka AISC memberikan persamaan dibawah ini, yang sama dengan Tabel 1. 10,434 h 2 f = 1 0,6. fy Cc2 tw (8)

Tabel 1. Tegangan leleh dan Tegangan Ijin. Tegangan Leleh fy 36000 Tegangan Ijin f h 22000 - 14,44 tw h 25000 - 19,15 tw h 27000 - 22,14 tw h 27500 - 23,04 tw h 30000 - 27,34 tw h 33000 - 33,10 tw h 36000 - 39,35 tw h 39000 - 46.27 tw
2

42000

45000

46000

50000

55000

60000

65000

F. TEGANGAN GESER MAKSIMUM. Prakiraan tegangan geser maksimum yang terjadi pada badan balok di sepanjang garis netral, dengan menganggap balok tanpa lubang, maka dapat digunakan persamaan dibawah ini : fvmax = 1,16 fav = 1,16 V tw . d g

Tegangan geser yang diijinkan untuk beberapa macam sudut potongan, dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Tegangan geser yang diijinkan untuk beberapa macam sudut potongan. = 450 = 500 = 550 = 550 D. ANALISIS. Untuk lebih mengetahui tentang balok castella, akan dicoba dianalisis balok castella profil I yang didukung sendi-rol dengan bentang L = 38 ft. dan menerima beban merata sebesar q = 50 K/in. Rencanakan profilnya dengan menggunakan mutu baja A36 dan kwalitas Las E70, Serta sudut potongan = 450. Seperti yang terlihat pada gambar 16. 50 K/in fb = M. S (2) = 450 = 400 = 350 = 300 fva 0,8225 . fa fva 0,7745 . fa fva 0,7106 . fa fva 0,6332 . fa

(a) L = 38 ft. Mmax = 2850 Kin (b) BMD

V= 25 K (c) SFD

Gambar 16. Balok castella yang menerima beban terdistribusi merata. Langkah-langkah Penyelesaian : 1. Modulus potongan Sg ditentukan telebih dahulu. Sg = 2. K1 2850( Kin) M max 2850 = = = 130 in3. 22000( psi) f 22 yang merupakan perbandingan tinggi balok castella dengan balok aslinya dg db Sg K1 Sg Sb

ditentukan. K1 = angggap besarnya K1 = 1,5.

3. Modulus potongan balok dihitung untuk memilih profil. Sb = = 130 = 84,6 in3. 1,5

dipakai profil W50x18 yang mempunyai Sb = 89 in3 > 84,6 in3 . db = 18 in. K1 = = 130 = 1,46 dipakai K1 = 1,46 89 tw dT

4. Tinggi belahan zig-zag h ditentukan. h = db (K1 - 1) = 18 (1,46 - 1) = 8,3 in. dipakai h = 8 in . dT dT = V dengan f v = 0,4 fy = 0,4 . 36 = 14,5 2. t w . f v 25 = 2,41 in. 2.0,38514 ,5 .

h db - 2 dT h = 18 - 2.2,41 = 13,18 in. > 8 in. 5. Kemudian dg = db + h = 18 + 8 = 26 in.

dT =

dg 2

- h = 26/2 - 8 = 5 in.

ds = dT - tf = 5 - 0,57 = 4,43 in. 6. Tegangan lentur tekan yang diijinkan pada badan ditentukan, dengan menggunakan formula 4 AISC. 10,434 h 2 f = 1 0,6. fy Cc2 tw dimana : Cc = 22 E fy (8)

dari Tabel 1 untuk mutu baja A36 h f = 22000 - 14,44 tw


2

8 = 22000 - 14,44 = 14,810 psi. 0,385 Tegangan geser pada potongan badan. 4 2 f 0,4 fy fv = 3tg = 4 ( 0,7854 ) 2 .14,810 = 12,180 psi < 0,4 fy = 0,4 . 36 = 14,4 psi OK! 31 .

Jika memanfaatkan Tabel 2, untuk = 450. f v = 0,8225 f = 0,8225 . 14,810 = 12,18 psi < 0,4 fy = 0,4 . 36 = 14,4 psi OK! 7. Tegangan geser maksimum sepanjang garis netral pada badan dihitung, dengan anggapan badan solid sepanjang girder. fvmax = 1,16 fav = 1,16 V 95 0 0 .25 = 1,16 = 2 960 psi. tw . d g 0,358.26

8. Sekarang tegangan geser maksimum pada potongan badan yang solid, dan tegangan geser yang diijinkan memberikan rasio : K2 = fv = fv max 2960 e = = = 0,243 fV 12 ,18 S fv maxS e

Jika rasio K2 adalah reasonably low (naik kira-kira 3/8 in) maka dapat di coba memakai profil WF. S = 2 (e + h tg ), maka 2. h. tg e 1 2 K2

2.81 . e= 1 = 7,56 in dipakai e = 8 in. 2 0,243 Jarak e selalu konstan sepanjang girder. Namun pada kasus khusus mungkin saja jarak e ada dua dimensi, misalnya e1 dan e2 . Pada daerah dukungan (1/4 panjang bentang) karena tegangan geser lebih besar maka menggunakan jaraknya e2 > e1 yang terletak pada tegangan geser lebih kecil (di tengah bentang), seperti pada gambar 8. Gaya geser V pada 1/4 bentang pada dukungan memberikan dua kali lipat gaya geser V pada tengah bentang, sehingga jarak e1 boleh dua kali lipat jarak e2 (e1 = 2 e2), sehingga K3 = e2 1 < . e1 2

Jika menggunakan dua dimensi e1 dan e2 , maka rumusnya menjadi : e1 fv max = = K2 S f 2. h. tg maka : S = e1 + e2 + 2 h tg ), sehingga e1 1 1 K3 K2

9. Sifat perluasan girder ditentukan sebagai berikut : AT = Af + As = b tf + ds tw = 5,861 in2. ds dT Cs dg d h My = Af (ds + tf d ) + As S = 23,67 in3. 2 2 t2 d2 f ) + As S = 105,53 in4. 3 3

Iy = Af (ds2 + ds tf + CS = SS = My AT =

23,67 = 4,039 in. 5,861

IT 9 ,93 = = 2,46 in3. CS 4 ,039

d = 2 (h + CS) = 2 (8 + 4,039) = 24,077 in. A Td 2 5,861( 24 ,077) Ig = 2 IT + = 2 (9,33) + 2 2 Sg =


2

= 1719,1 in4.

2I g dg

2( 1719 ,1) = 132,2 in3. 26

10. Periksa tegangan lentur sekunder, pada dukungan. Tegangan lentur yang diijinkan dapat dihitung dengan cara yang sama dengan langkah ke-6, kecuali panjang bagian yang takterdukungnya e. Pada dukungan tidak ada momen lentur primer, sehingga tidak ada gaya aksial tekan pada potongan. Tegangan yang diijinkan disini sebesar : 2609 e 2 f = 1 0,6. fy Cc 2 tw Dari Tabel 3, untuk mutu baja yang berbeda : e 8 f = 22000 3,61 = 22000 -3,61 = 20 200 psi. tw 0.358 11. Tegangan lentur primer di tengah bentang diperiksa. Tegangan tarik dan desak. fb = F M 2850 = max = = 20200 psi. AT dA T 24,08(5,861) M max 2850 = = 21600 psi. Sg 132,2
2 2

Tegangan Lentur : fb =

12. Jika tegangan lentur primer pada langkah 11 berlebihan, maka boleh langsung direduksi dengan nilai tinggi h. Jika tegangan lentur sekunder f lebih besar dari hasil pada langkah 10, maka harus direduksi terhadap tinggi dT. Dalam kasus ini tidak diragukan, bahwa profil WF yang telah dipilih tidak dapat digunakan dan harus memilih profil WF yang lebih besar lagi. Jika tegangan lentur primer fb, yaitu dapat dianggap sebagai tegangan yang diijinkan, karena tegangan lentur sekunder f dalam langkah ke-10 melebihi dari yang diijinkan, tegangan lentur sekunder f boleh direduksi lebih besar dari penambahan tinggi h dengan menambah langsung fb.

Tegangan fb dan f dapat dianggap sesuai dengan formula AISC persamaan 6, 7a dan 7b.

Tabel 3. Tegangan ijin untuk bermacam-macam Mutu Baja. fy = 36000 h f = 22000 -14,44 tW h f = 25000 -19,15 tW h f = 27000 -22,14 tW h f = 27500 -23,04 tW h f = 30000 -27,34 tW h f = 33000 -33,10 tW h f = 36000 -39,35 tW h f = 39000 -46,27 tW
2

e f = 22000 -3,61 tW e f = 25000 -4,79 tW e f = 27000 -4,85 tW e f = 27500 -5,76 tW e f = 30000 -6,84 tW e f = 33000 -8,28 tW e f = 36000 -9,84 tW

fy = 42000

fy = 45000

fy = 46000

fy = 50000

fy = 55000

fy = 60000

fy = 65000

e f = 39000 -11,57 tW

Tabel 4. Hasil analisis dengan h yang berbeda. h = 7 AT dT SS Sg d 6,040 5,5 2,98 127,96 22,82 h = 8 5,861 5,0 2,46 132,22 24,08 h = 9 5,682 4,5 1,97 136,53 25,32 h = 10 5,503 4,0 1,57 139,17 26,54

e f fb

6,0 12,600 22,230

9,0 20,300 21,600

10,5 33,300 21,000

16,5 65,700 20,250

Tabel 4 memperlihatkan bahwa dengan bertambahnya h akan menghasilkan tegangan lentur sekunder f yang lebih besar dan juga tegangan lentur primer fb. Jika h tidak direduksi karena tegangan lentur primer fb hampir sama dengan tegangan yang diijinkan, maka gunakan dua ukuran e yang berbeda, misalnya e1 dan e2. 13. Peraturan pabrikasi dapat dibuat sesaui dengan yang dibutuhkan. 14. Setelah mengetahui detail girder, maka dapat diperiksa kembali dengan melihat nilai sesungguhnya V dan M, dan juga dapat kita periksa pertambahan setiap titik sepanjang bentang antara dukungan dan tengah bentang, seperti pada gambar 17 dan Tabel 5 .
x1b x1 x1a a

3 4 5 Gambar 17. Hasil Analsisis Sekunder Primer fb2 fb2

Tabel 6. Hasil Analisis Balok Castella TOTAL f=f1+fb2 -20,56 -20,65 -20,22 -19,26 -17,31 -15,78 -13,25 -10,945 -14,840 -19,335 -20,065 -21,360 -21,880 -21,550 Xa in. 1 32 2 64 3 96 X in. 36 68 Xb in. 40 72 Vx K Ma Kin. Mb 911 f1 f1

Kin. Steam a flange b Steam a flange b Steam a flange b -17,10 -4,065 -3,46 -6,88 -14,27 -3,390 -6,38 -11,45

21,05 744

17,55 1372 1515

100 104 14,04 1892 2200 -11,42 -2,715 -8,80 -16,62 2595 2650 -5,71 -1,36 -11,60 -20,00 2778 2807 -2,86 -680 2849 0 0 -12,92 -21,20 -13,25 -21,55

4 128 132 136 10,53 2300 2385 -8,56 -2,035 -10,70 -18,03 5 160 164 168 7,02 6 192 196 200 3,51 7 224 228 0

E. KESIMPULAN. 1. Dari hasil pemotongan dan baja profil I, dihasilkan baja modifikasi yang disebut dengan Balok Castella. 2. Dari hasil pemotongan secara zig-zag dengan dua sudut yang berbeda didapati hasil balok Castella dengan lubang segienam. 3. Akibat pemotongan dan penyambungan tersebut, terjadi kenaikan tinggi badan profil dari db menjadi dg. 4. Akibat kenaikan tinggi badan profil , maka terjadi pula kenaikan momen inersia, sehingga menaikan besarnya tegangan lentur yang terjadi. 5. Semakin tinggi profil juga mengakibatkan Sb semakin tinggi , sehingga momen sekunder yang dihasilkan semakin kecil. 6. Karena bdan profil semakin langsing, maka terjadi bahaya tekuk lokal (local buckling), yang menyebabkan keruntuhan prematur pada balok. F. DAFTAR PUSTAKA 1. AISC, Manual of Steel Construction, Ninth Edition, 1989, American Institute of Steel Construction, Inc., Chicago. 2. Louis, F. G., Load and Resistance Factor Design of Steel Structures, 1994, PrenticeHall. Inc., New Jersey. 3. Omer W. Blodgett, Design Of Welded Structure, Open-Web Expanded Beams and Girder, Section 4.7 - (1- 24). 4. Salmon, C. G., Steel Structure : Design and Behavior, 2nd edition, 1980, Harper & Row Publishers Inc., Madison. 6. Suharyanto, Stabilitas Balok dan Kolom Baja Tampang I Terhadap Buckling, 2000, Makalah Seminar Nasional Konstruksi Baja Indonesia Pada Millenium Ke-3, Janabadra, Yogyakarta.