Anda di halaman 1dari 18

Sucipto, 2009a: Stabilitas Dimensi Kayu, Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan 2009.

Sucipto, 2009b: Struktur, Anatomi Dan Identifikasi Jenis Kayu, Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan 2009. Info kayu secara umum!!!

POINTER : 1. Sifat Umum Kayu Kayu merupakan material alami yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan kayu antara lain: 1. Bersifat ekonomis 2. Proses energi yang rendah 3. Dapat diperbaharui 4. Sifat mekanis yang kuat 5. Bernilai estetis. Kekurangan antara lain: 1. Mudah terserang secara biologis 2. Bersifat higroskopis (bersifat menghisap dan melepaskan air) a,b 3. Mudah terbakar 4. Mudah terdegradasi oleh sinar matahari 5. Anisotropisa (perbedaan sifat-sifat pada ketiga bidang orientasinya)b 6. Sifat-sifat yang bervariasi. Kayu merupakan komposit biopolimer berdimensi tiga yang mengandung phase solid dan kosong (void). Kayu tersusun atas berbagai jenis sel, yang terbagi menjadi dinding sel (cel wall) dan rongga sel (lumen). Air sebagai salah satu kebutuhan dalam pertumbuhan pohon akan mengisi dinding sel dan rongga sel kayu. Air pada sel terdiri dari air terikat, air bebas dan uap air. Air terikat (bound water) adalah air yang terdapat pada dinding sel, sedangkan air bebas (free water) dan uap air adalah air yang terdapat pada rongga sel. Air bebas akan mempengaruhi berat kayu

sedangkan air terikat akan mempengaruhi berat dan dimensi kayu. Kadar air kayu antara kering tanur dan titik jenuh serat (TJS) (21-32%), air terakumulasi berada pada dinding sel (air terikat). Kadar air di atas TJS, air terakumulasi pada rongga sel (air bebas). Menurut Hill 2006, kayu merupakan bahan yang bersifat higroskopis, karena polimer dinding selnya mengandung gugus hidroksil yang reaktif. Pada lingkungan yang mengandung uap air, kayu kering akan menyerap uap air sampai kadar air kesetimbangan dengan lingkungan. Begitu juga kayu yang jenuh air ketika

ditempatkan ditempat yang kelembaban relatifnya lebih rendah akan kehilangan uap air sampai kadar air kesetimbangan dengan lingkungan.

2. Perubahan Dimensi Dimensi kayu akan berubah sejalan dengan perubahan kadar air dalam dinding sel, karena di dalam dinding sel terdapat gugus OH (hidroksil) dan oksigen lain yang bersifat menarik uap air melalui ikatan hidrogen. Kembang susut kayu yang paling besar berturut-turut adalah pada bidang tangensial, radial dan aksial. Komponen kimia penyusun kayu terdiri dari selulosa (45-50%), hemiselulosa (25-32%), lignin (16-31%), zat ekstraktif (1-8%)dan zat abu/mineral (<1%) Perbaikan sifat kayu (Menurut Rowell, 1984 dalam Sucipto 2009) seperti peningkatan stabilitas dimensi dan ketahanan terhadap serangan bilogis serta penurunan absorbsi air menjadi motivasi untuk sebagian besar penelitian modifikasi kimia kayu. Semua ikatan kimia menurunkan KA kesetimbangan kayu sekitar setengah dari kayu yang tidak bereaksi pada masing-masing kelembabab relatif kecuali propilena oksida. KA kesetimbangan tidak berkurang sebanyak penambahan bobot dengan propilena oksida seperti asetilasi atau ikatan silang dengan formaldehida. Hal ini disebabkan fakta bahwa gugus baru hidroksil terbentuk selama penambahan gugus propil. Modifikasi kimia gugus hidroksil pada kayu dengan anhidrida asetat akan mengeliminasi hidroksil sehingga membuat kayu bersifat hidrofobik dan dimensinya stabil. Sebagian besar lignoselulosa bersifat higroskopis yang dapat menyebabkan ketidakstabilan dimensi, karena mudah menyerap dan menyeluarkan air (Hon, 1996 dalam Sucipto 2009). Untuk mengatasi masalah ini, telah banyak metode yang Sebagan besar penelitian

dikembangkan terutama sejak 10 tahu yang lalu.

mengenai modifikasi kimia kayu dilakukan untuk meningkatkan stabilitas dimensi dan ketahanan terhadapan serangan biologis.

Batubara.R, 2006.: Teknologi Pengawetan Kayu Perumahan dan Gedung Dalam Upaya Pelestarian Hutan, Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Repository 2006.

POINTER : 1. Aspek Pengawetan Kayu Keawetan kayu diartikan sebagai daya tahan kayu terhadap serangan faktor perusak kayu dari golongan biologis. Keawertan alami kayu ditentukan oleh zat ekstraktif yang bersifat racun terhadap organisme perusak. Dalam hal ini tiap jenis kayu mempunyai zat

ekstrakrtif yang berlainan, sehingga mengakibatkan ketahanan kayu terhadap faktor perusak juga berlainan. Pada umumnya kayu gubal mempunyai keawetan yang lebih rendah dibanding kayu teras, karena kayu gubal tidak mengandung zat ekstraktif. Oey Djoen Seng (1964) dalam Djarwanto dan Abdurrahim (2000), membagi kayu dalam lima kelas keawetan di Indonesia berdasarkan usia pakai kayu pada berbagai kondisi tempat pemakaian, tanpa menyebutkan secara spesifik jenis organisme yang menyebabkan kerusakan kayu tersebut. Kayu yang paling tahan terhadap orngaisme perusak dinyatakan dalam kayu kelas awet satu yang berarti memiliki keawetan tinggi, dan yang paling tidak tahan dinyatakan dalam kelas awet lima yang berarti sangat rentan terhadap organisme perusak. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kasifikasi Keawetan Kayu Berdasarkan Umur Pakai di Lapangan


Kondisi Tempat Kayu Dipakai Selalu berhubungan dengan tanah lembab Hanya dipengaruhi cuaca, tapi dijaga supaya tidak terendam air dan tidak kekurangan udara Dibawah atap, tidak berhubungan dengan tanah lembab dan tidak kekurangan udara Dibawah atap, tidak berhubungan dengan tanah lembab, tidak kekurangan udara, dan dipelihara dengan baik serta dicat dengan teratur Serangan rayap tanah Serangan bubuk kayu kering I 8 tahun 20 tahun Tak terbatas II 5 tahun 15 tahun Tak terbatas Kelas Awet III 3 tahun 10 tahun Sangat lama IV Sangat pendek V Sangat pendek Sangat pendek Pendek

Beberapa tahun Beberapa tahun

Tak terbatas

Tak terbatas

Tak terbatas

20 tahun

20 tahun

Tidak Tidak

Jarang Tidak

Cepat Hamper tidak

Sangat cepat Tidak berarti

Sangat cepat Sangat cepat

Mengacu pada tingkatan kelas keawetan kayu seperti pada Tabel 1, berbagai penelitian menunjukkan bahwa keawetan kayu berbeda-beda tergantung pada jenis organisme yang menyerangnya. Jadi kayu memiliki keawetan secara khusus terhadap organisme tertentu. Ketahanan kayu terhadap berbagai organisme perusak kayu berbeda-beda, dipengaruhi

oleh sifat fisik dan kimia yang melekat pada kayu yang bersangkutan, jenis organisme yang menyerang, dan kondisi lingkungan yang mendukung kehidupan organisme perusak. Martawijaya (1975) dalam Djarwanto dan Abdurrahim (2000), membagi kayu ke dalam lima kelas awet secara umum, berdasarkan besarnya penurunan berat kayu oleh jamur di laboratorium. Data selengkapnya dapat di lihat pada Tabel 2. Tabel 2. Klasifikasi Ketahanan Kayu Terhadap Jamur Kelas I II III IV V Resistensi Sangat resistensi Resisten Agak resisten Tidak resisten Sangat tidak resisten Penurunan berat (%) Kecil atau tidak berarti Rata-rata 5% Rata-rata 5 - 10 Rata-rata 10 - 30 Rata-rata > 30%

Sedangkan Martawinata dan Sumarni (1978) dalam Djarwanto dan Abdurrahim (2000), membagi kelas ketahanan kayu terhadap rayap kayu kering seperti tercantum dalam Tabel 3.

Tabel 3. Klasifikasi Ketahanan Kayu Terhadap Rayap Kayu Kering Jumlah rayap hidup (%) < 11,4 11,4 23,8 23,8 39,1 39,1 55,6 > 55,6 Kehilangan volume (mm3) < 52,9 52,9 212,9 212,9 372,9 372,9 532,9 > 532,9

Kelas I II III IV V

Resistensi Sangat resistensi Resisten Agak resisten Tidak resisten Sangat tidak resisten

Adapun sistem klasifikasi keawetan kayu yang dibuat berdasarkan percobaan kuburan (graveyard test) oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, yang dilaporkan oleh Martawijaya (1975) dalam Djarwanto dan Abdurrahim (2000), mengelompokkan kayu ke dalam lima kelas seperti terlihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Kasifikasi Keawetan Kayu Berdasarkan Percobaan Kuburan Kelas I II III IV V Resistensi Sangat resistensi Resisten Agak resisten Tidak resisten Sangat tidak resisten Penurunan berat (%) >8 58 35 1,5 3 < 1,5

Muin, 2009.: Pertumbuhan Pohon dan Kualitas Kayu (Buku Ajar), Diterbitkan Oleh Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin 2009

Tabel2.Syarat Kualitas Kayu Dan Sifat Kayu

Wood Property Trait Wood Quality Requirements


Stiffness

Physical
Density/BJ Density/BJ Density/BJ

Anatomical
Microfibril angel Cell wall thicknes Cell wall Thicknes Microfiril angel, cell wall thickness Microfiril angel Microfiril angel, vessels Cell wall thickness -

Chemical
Extractives Lignin Extractives -

Mechanical (strength)

Strength Hardness Distortion

Growth stress Growth stress Density/BJ, Growth stress, moisture content Sapwood / juvenile wood

Stability

Shrinkage Collapse

Colour

Extractives Extractives

Biological
Durability Gluability

Manufacturing

Drying Machining

Density/BJ

Cell wall thickness Cell wall thickness

Extractives

Log processing

Stiffness, splits

Density/BJ, Growth stress

Tension wood, cell wall thickness

Sumber : www.dpi.qld.gov.au/hardwoodsqld/11872.html dalam : Muin, 2009.

Nuryawan, 2008: Determinasi Berat Jenis Zat Kayu, Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, USU e-Repository 2008. Info kayu Acasia !!! PENDAHULUAN Di Indonesia tumbuh kurang lebih 4000 jenis pohon berkayu. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan Bogor menyimpan contoh kurang lebih 3233 jenis yang mencakup 785 marga dari 106 suku. Namun hingga saat ini pohon yang dikenal hanya 400 jenis, tercakup dalam 198 marga dan 68 suku. (Mandang & Pandit, 1997). Dari sekian banyak kayu tersebut ternyata memiliki sifat yang bervariasi, baik arah vertikal (menurut ketinggian) maupun arah horizontal (menurut kedalaman), baik antar jenis maupun di dalam jenis itu sendiri. Namun demikian menurut Wahyudi & Coto (2003), walaupun ada variasi sifat (fisis, mekanis, kimia/ keawetan), secara umum ada 4 sifat yang dimiliki kayu, yaitu : (1) dihasilkan oleh batang pohon yang sebagian besar elemen penyusunnya tersusun secara vertikal, (2) berstruktur seluler yang terdiri atas sel-sel sebagai penyusun, yang secara kimia terdiri atas selulosa, karbohidrat non selulosa (hemiselulosa), dan lignin, (3) bersifat anisotropis, dan (4) bersifat higroskopis. Ditambahkan oleh Tsoumis (1991) secara umum kerapatan zat kayu besarnya konstan sekitar 1,50 g/ cm3 karena kayu sebagian besar tersusun oleh sel-sel mati, yang terdiri atas dinding dan rongga sel. Dengan demikian, praktis besarnya Berat Jenis (BJ) zat kayu sama dengan 1,50 karena nilai kerapatan zat kayu tersebut dibagi dengan kerapatan benda standar (dalam hal ini air) yang besarnya 1 g/ cm3. Determinasi/ pengukuran BJ zat kayu ini sebenarnya merupakan salah satu upaya untuk memverifikasi atau membuktikan besarnya nilai zat kayu yang ada pada berbagai jenis kayu, seperti yang telah dibuktikan juga oleh Walker (1993) dengan menggunakan bantuan alat piknometer. Kerapatan dan Berat Jenis Kayu Kayu merupakan bahan yang terdiri atas sel-sel. Struktur tersebut memberikan kayu sifat-sifat dan cirri-ciri yang unik. Kerapatan kayu berhubungan langsung dengan porositasnya, yaitu proporsi volume rongga kosong. Kerapatan didefinisikan sebagai massa atau berat per satuan volume. Ini biasanya dinyatakan dalam kilogram per meter kubik (Haygreen & Bowyer, 1996). Lebih lanjut Haygreen & Bowyer (1996) mendefinisikan berat jenis sebagai perbandingan antara kerapatan kayu dengan kerapatan air pada 40C. Air memiliki kerapatan 1 g/ cm3 pada suhu standar tersebut. Perhitungan berat jenis banyak disederhanakan dalam sistem metrik karena 1 cm3 air beratnya tepat 1 gram. Jadi berat jenis dapat dihitung secara langsung dengan membagi berat

dalam gram dengan volume dalam cm3. Dengan angka, maka kerapatan dan berat jenis adalah sama. Namun berat jenis tidak mempunyai satuan karena berat jenis adalah nilai relatif. Berat Jenis Zat Kayu Tsoumis (1991) menyatakan bahwa kayu hampir sebagaian besar tersusun atas sel-sel yang mati, yang terdiri atas dinding sel dan rongga sel. Berat jenis zat kayunya memiliki nilai konstan 1,5 sedangkan kerapatan dan berat jenis (BJ) kayu besarnya berbeda-beda berkisar 0,1 (kayu balsa) hingga 1,3 (Guaiacum officinale). Pernyataan ini didukung oleh Green, et.al (1999) dan Walker (1993) yang berpendapat bahwa berat jenis zat kayu untuk semua tumbuhan berkayu besarnya berkisar 1,5. Brown, et.al (1952) mempertegas bahwa secara umum BJ dinding sel (zat kayu) untuk semua jenis kayu adalah sama besar yaitu 1,46-1,53. Nilai 1,46 diperoleh jika menggunakan media zat cair yang tidak dapat masuk microvoid, seperti benzene dan toluene. Sedangkan nilai 1,53 diperoleh jika media zat cair polar yang digunakan untuk menghitung BJ, dalam hal ini air dapat masuk ke dalam microvoid. Walker (1993) kemudian melengkapi bahwa berat jenis zat kayu yang diukur dengan menggunakan silicon besarnya 1,465; dengan air 1,545; dan dengan hexane 1,533. Deskripsi Kayu Balsa (Ochroma sp.) Balsa termasuk famili Bombacacea, memiliki kelas awet V, kelas kuat IIIIV, menurut Lembaga Pusat Penyelidikan Kehutanan Bogor memiliki sifat perngerjaan tergolong mudah dikerjakan, dan memiliki BJ kering udara minimal 0,09 dan maksimal 0,31 sehingga rataannya 0,16 (YAP, 1984). Deskripsi Kayu Jati (Tectona grandis L.f.) Jati memiliki kerapatan medium (0,60-0,75 gram/ cm3), kekuatan dan dimensinya stabil (Chandrasekharan, 2003 dalam Amoako, 2004). Martawijaya, et al (1981) menyebutkan secara umum warna kayu teras coklat muda, coklat kelabu sampai coklat merah tua atau merah-coklat. Sedangkan gubal berwarna putih atau kelabu kekuning-kuningan. Untuk kelas kuat tergolong kelas II dan kelas awet tergolong kelas II juga. Deskripsi Kayu Keruing (Dipterocarpus spp.) Keruing tersebar di seluruh Sumatera, Jawa, dan Kalimantan, karena itu memiliki spesies yang beraneka ragam dan memiliki beberapa ratus nama daerah. Secara umum kelas awetnya III-IV dan kelas kuat I-II karena itu cocok untuk bahan konstruksi bangunan, lantai, dan bantalan kereta api. Berat jenis bervariasi 0,58-1,10 (Martawijaya, et al.,1981). Deskripsi Kayu Pinus (Pinus merkusii Jungh.et de Vr.) Pinus dikenal juga dengan nama tusam, memiliki terkstur halus, dan bau khas terpentin. Struktur kayu pinus tidak berpori dengan parenkim melingkari saluran damar, memiliki BJ rata-rata 0,55 (terendah 0,40 tertinggi 0,75), tergolong kayu kelas kuat III dan kelas awet IV. Kayu pinus dilaporkan sebagai jenis kayu yang mudah dipotong dan dibelah namun sukar digergaji dan diserut karena mengandung banyak damar (Martawijaya, et al., 1989).

Deskripsi Kayu Albizia (Albizzia falcataria Backer) Albizia atau Sengon (Bahasa Jawa) atau Jeunjing (Bahasa Sunda) termasuk famili Mimosaceae, memiliki kelas awet V, kelas kuat IV-V, menurut Lembaga Pusat Penyelidikan Kehutanan Bogor memiliki sifat pengerjaan tergolong mudah dikerjakan, retak-retaknya sedikit, dan kembang susutnya juga sedikit. BJ kering udara berkisar 0,24 - 0,49 sehingga rataannya 0,33 (Yap, 1984). Deskripsi Kayu Gmelina (Gmelina moluccana (Blume) Backer) Abdurrohim, et al (2004) mencirikan kayu Gmelina dengan warna teras kekuning-kuningan dan gubal putih. BJ rataannya 0,42 (0,33-0,51), termasuk kelas kuat III-IV, kelas awet V, dan keterawetan III. Kayu Gmelina memiliki sifat pengerjaan baik-sangat baik, meliputi penyerutan 72,20 (baik-II), pembentukan 81,37 (sangat baik-I), pembubutan 75,05 (baik-II), pengeboran 71,22 (baik-II), dan pengamplasan (sangat baik-II). Deskripsi Kayu Rasamala (Altingia exelca Noronha) Martawijaya, et al (1989) menyebutkan bahwa kayu teras Rasamala berwarna merah daging, coklat merah sampai coklat hitam. Kayu gubal berwarna lebih muda dan tidak mempunyai batas yang jelas dengan kayu teras, memiliki tekstur halus, struktur pori seluruhnya soliter, diameter 7590m, frekuensi 20-45 per mm2, berisi tilosis, dan berbau asam. BJ rataan kayu ini 0,81 (terendah 0,61 dan tertinggi 0,90), termasuk kelas kuat II dan kelas awet II (III). Kayu rasamala termasuk sulit dan lambat mongering serta mudah mengalami pencekungan, pemilinan, dan pecah pada mata kayu, terutama pada kayu yang seratnya berombak. Kayu harus dikeringkan secara hati-hati dan ditumbuk dengan baik. Deskripsi Kayu Sawo Kecik (Manilkara kauki (L) Dub.) Sawo Kecik termasuk pohon yang bergetah putih karena itu digolongkan dalam famili Sapotaceae. Kelas awetnya I, kelas kuat I, dan menurut Lembaga Pusat Penyelidikan Kehutanan Bogor memiliki sifat pengerjaan tergolong sedang, retak-retaknya sedikit, dan kembang susutnya tergolong sedang. BJ kering udaranya tinggi mencapai 0,97- 1,06 sehingga rataannya 1,03 (Yap, 1984).

Efrida Basri, ----- : http://www.Pengeringan 12 Jenis Kayu Indonesia.pdf/ dikutif tanggal 13 April 2012
Catatan : info kayu Mahang !!!!! ABSTRAK Pengeringan kayu dalam kiln drying memerlukan bagan pengeringan yang berbasis sifat-sifat kayu,

terutama sifat pengeringannya. Tujuan penelitian ini adalah menetapkan bagan pengeringan dasar 12 jenis kayu dari beberapa daerah di Indonesia, yaitu Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Aceh dan Kalimantan Barat berdasarkan sifat pengeringannya. Penetapan bagan pengeringan diawali dengan menguji sifat pengeringan kayu menggunakan metode suhu tinggi (suhu 100C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap jenis kayu memiliki respons yang berbeda terhadap perlakuan suhu tinggi. Dari 12 jenis kayu yang diteliti, kayu bayur (Pterospermum elongatum) memiliki sifat pengeringan terbaik, sedangkan kayu mahang (Macaranga hypoleuca) dan menjalin (Xanthophyllum flavescens) yang terburuk. Berdasarkan sifat pengeringan tersebut, maka ke 12 jenis kayu yang diteliti diklasifikasikan ke dalam 8 kelompok bagan pengeringan. Kata kunci: Jenis kayu, suhu tinggi, sifat pengeringan, bagan pengeringan

I. PENDAHULUAN Bagan pengeringan merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan pengeringan kayu dalam ruangan/dapur pengering yang memiliki sistem pengaturan suhu dan atau kelembaban, seperti kiln drying, dehumidifier atau alat pengering kombinasi tenaga surya dan panas dari tungku bakar. Bagan pengeringan yang lazim digunakan di industri pengolahan kayu di Indonesia adalah bagan pengeringan berbasis kadar air, di mana setiap langkah pengaturan suhu dan kelembaban udara berpatokan pada tingkat kadar air rata-rata kayu yang sedang dikeringkan (Rasmussen, 1961; Kadir, 1975). Sampai saat ini, bagan pengeringan berbasis kadar air masih menjadi pegangan bagi industri pengolah kayu tropis yang menggunakan kiln drying, karena risiko kerusakan kayu yang terjadi sangat kecil dan bisa menghemat waktu pengeringan. Namun begitu, dalam penerapannya perlu dimodifikasi, terutama terhadap kayu-kayu kurang dikenal dan tanaman cepat tumbuh. Untuk itu dibutuhkan operator yang mumpuni yang juga memiliki pengetahuan dasar tentang sifat-sifat kayu (Terazawa, 1965; Perr, 2001). Dalam tulisan ini disajikan hasil penelitian bagan pengeringan dasar (basic drying schedule) 12 jenis kayu yang dapat digunakan dalam dapur pengering konvensional (kiln drying) atau alat pengering lain yang memiliki sistem pengontrolan suhu dan kelembaban. Bagan tersebut diharapkan bisa menjadi pedoman bagi operator yang akan mengeringkan jenis kayu yang sama.

HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat Pengeringan Data hasil pengujian sifat pengeringan kayu serta penetapan suhu dan kelembaban minimummaksimum pengeringan berdasarkan jenis dan tingkat cacat dapat dilihat pada Tabel 5. Kayu mahang, meskipun mempunyai berat jenis (BJ) ringan (BJ 0,31), namun sifat pengeringannya jauh di bawah kayu sepalis yang BJ-nya sangat tinggi (BJ 0,88). Hal ini menunjukkan BJ bukan satu-satunya penentu sifat pengeringan. Menurut Bramhall and ellwood (1976), selain BJ, struktur anatomi kayu juga mempengaruhi proses pengeluaran air dari dalam kayu. Faktor anatomi yang berperan dalam pengeringan kayu di antaranya adalah jaringan pembuluh, dinding serat, parenkim, dan jari-jari (Panshin and de Zeeuw, 1969). Oleh karena itu jika penetapan bagan pengeringan kayu hanya berdasarkan pada kekuatan kayu yang ditunjukkan dari nilai BJ-nya, maka kemungkinan kerusakan

terhadap kayu yang dikeringkan tidak bisa dihindari. Sebagai contoh kayu sendok-sendok (Endospermum malaccense) yang memiliki tekstur dan warna serta kekuatan kayunya mirip dengan kayu ramin (Rulliaty, 1988) ketika dikeringkan menggunakan bagan kayu ramin, kayu tersebut mengalami cacat bentuk yang sangat parah, terutama pada papan dengan ukuran panjang di atas 1 m. Dalam menetapkan suhu pengeringan, cacat yang terutama dipertimbangkan adalah pecah dalam (honeycomb) karena berperan penting terhadap penurunan kekuatan kayu dan sifat fisik lainnya. Salah satu penyebab terjadinya pecah pada bagian dalam kayu karena adanya tegangan-dalam kayu (growth stress) (Wang, et al., 1994). Tegangan-dalam kayu terjadi karena adanya perbedaan penyusutan yang sangat tinggi antara arah tangensial terhadap arah radial kayu (rasio T/R), sebagai akibat pemberian suhu yang keras di awal pengeringan pada kayu-kayu yang tingkat kesulitan pengeringannya tinggi (Rasmussen, 1961). Pada penelitian ini hanya kayu putat, petai dan terlebih lagi kayu mahang yang mengalami pecah pada bagian dalam kayu. Dari data penelitian Mandang dan Sudardji (2000), ukuran pembuluh kayu mahang sangat kecil dan jari-jari kayunya lebar. Hal ini mungkin merupakan faktor penyebab terjadinya pecah di bagian dalam pada kayu

mahang, karena semakin kecil ukuran diameter pembuluh dan semakin lebar jari-jari kayu memudahkan kayu untuk pecah (Panshin and de Zeeuw, 1969). Pecah dalam dapat ditekan antara lain dengan perlakuan pengeringan alami (air drying) atau pengeringan dengan menggunakan suhu kamar dan kelembaban rendah maupun pengaturan kecepatan angin (shed drying) sampai kadar air kayu mendekati titik jenuh serat, sebelum dikeringkan lebih lanjut. Hal ini telah berhasil dilakukan pada pengeringan kayu mangium (Basri, 2005).

Kerusakan kayu yang banyak dijumpai pada penelitian ini adalah pecah pada ujung dan permukaan kayu serta perubahan bentuk/deformasi pada arah tebal kayu. Pecah terparah terdapat pada kayu mahang (nilai skala V) , sedangkan perubahan bentuk terparah ditemukan pada kayu menjalin (nilai skala III-V). Pecah permukaan pada kayu terjadi pada awal proses pengeringan ketika kadar air kayu masih tinggi. Hal ini karena pada awal pengeringan bagian permukaan kayu mengering dengan cepat sementara bagian dalam masih basah sehingga terjadi ketidak-seimbangan tegangan tarik di bagian permukaan dan tegangan tekan di bagian dalam sehingga menyebabkan pecah. Menurut Rasmussen

(1961), pecah permukaan dapat terjadi dalam jari-jari kayu, saluran resin maupun dalam lapisan mineral. Pecah permukaan ini dapat ditekan dengan pemberian kelembaban yang tinggi atau perlakuan pengukusan pada awal pengeringan (Basri, et al., 1999). Perubahan bentuk pada kayu dapat terjadi karena adanya perbedaan penyusutan dalam arah radial, tangensial dan longitudinal atau karena adanya kayu reaksi (compression wood), kayu tekan (tension wood), kayu juvenil (juvenile wood) dan mata kayu (Rasmussen, 1961; Bramhall and Wellwood, 1976). Pemberian beban yang cukup pada permukaan tumpukan bagian atas serta pengaturan jarak ganjal yang baik akan menghasilkan kayu kering berkualitas baik (Basri, 1990). Dari 12 jenis kayu yang diteliti, kayu bayur memiliki sifat pengeringan terbaik dengan kelas cacat pengeringan I untuk pecah di bagian dalam kayu dan II untuk pecah ujung dan deformasi, sehingga dapat dikeringkan menggunakan suhu dan kelembaban minimummaksimum 65C 88C dan 29% - 78%. Sifat pengeringan terburuk diperoleh pada

kayu mahang dan menjalin, sehingga keduanya hanya bisa dikeringkan menggunakan suhu minimum-maksimum 50 C 77 C dan kelembaban 30% - 85% untuk kayu mahang

serta 28% - 81% untuk kayu menjalin.

MANDASYARI, 2007: Keawetan Alami dan Keterawetan Kayu Nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk). Skripsi Teknologi Hasil Hutan Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara 2007.

Info kayu nangka : Kayu Nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk) Rukmana (1997) mengemukakan di Indonesia berabad-abad yang lampau masyarakat sudah mengenal dan menanam tanaman nangka. Nama tanaman nangka di berbagai daerah amat beragam, antara lain panah (Aceh), pinasa, sibodak, nangka atau naka (Batak), baduh atau enaduh (Dayak), lamara atau

malasa (Lampung), naa (Nias), kuloh (Timor), dan nangka (Sunda dan Madura). Nangka adalah tanaman buah tahunan berasal dari famili Moraceae (suku beringininginan). Suku Moraceae yang tergolong marga Artocarpus dari seri Cauliflora mempunyai dua jenis (spesies), yaitu Artocarpus integer (cempedak) dan Artocarpus heterophylla (nangka) (Rukmana, 1997). Menurut Rukmana (1997), kedudukan tanaman ini diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom Divisi Subdivide Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotiledone : Morales : Moraceae : Artocarpus : Artocarpus heterophyllus Lamk Bentuk dan susunan tubuh luar (morfologi) tanaman nangka mempunyai ciri-ciri struktur perakaran tunggang, berbentuk bulat panjang dan menembus tanah cukup dalam. Batang tanaman nangka berbentuk bulat panjang, berkayu keras dan tumbuhnya lurus dengan diameter antara 30-100 cm, tergantung pada umur tanaman. Kulit batang umumnya agak tebal dan berwarna keabu-abuan. Cabang berbentuk bulat panjang, tumbuh mendatar atau tegak, tetapi bentuk tajuk tanaman tidak teratur. Daun berbentuk bulat telur dan panjang, tepinya rata, tumbuh secara berselang seling dan bertangkai pendek. Permukaan atas daun berwarna hijau meda (Rukmana, 1997). Tanaman nangka tumbuh dan berproduksi dengan baik di daerah yang beriklim panas (tropik). Tanaman nangka di Thailand umumnya dibudidayakan di daerah yang berketinggian 0-1.000 m di atas permukaan laut (mdpl). Faktor iklim yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi nangka adalah temperatur, curah hujan dan kelembaban udara. Tanaman nangka membutuhkan temperatur minimum antara 160-210C dan maksimum 310-320C, curah hujan 1.500-2.400 mm/tahun dan kelembaban udara 50-80% (Rukmana, 1997). a. Nangka buah besar; tinggi mencapai 20-30 m; diameter batang mencapai 80 cm dan umur mulai berbuah sekitar 5-10 tahun. b. Nangka buah kecil; tinggi mencapai 6-9 m, diameter batang mencapai15-25 cm dan umur mulai berbuah 18-24 bulan. Tanaman nangka tumbuh dan berproduksi dengan baik di daerah yang beriklim panas (tropik).Tanaman nangka di Thailand umumnya dibudidayakan di

daerah yang berketinggian antara 0-1.000 m di atas permukaan laut (mdpl). Faktor iklim yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi nangka membutuhkan temperature minimum antara 16 0-210 dan maksimum 310-320C, curah hujan 1.500-2.400 mm/tahun dan kelembaban udara 50-80% (Rukmana, 1997). Rukmana (1997), menyatakan bahwa kayu nangka merupakan produk sampingan dari tanaman nangka, yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuat gitar, perkakas rumah tangga, bahan bangunan dan kayu bakar. Sedangkan getahnya dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional, untuk mengobati sakit bisul. Saptono (1999) menambahkan kayu nangka lebih unggul dari kayu jati dalam pembuatan meubel, konstruksi bangunan pembubutan, tiang kapal, untuk tiang kuda, kandang sapi dan dayung.

Apri Heri Iswanto, 2008 : Kekuatan Bahan Sambung Pada Tiga Kombinasi Kelas Kuat Kayu, 2008 USU e-Repository 2008

Kayu Nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk) Dari negeri asalnya, India Selatan, nangka (Artocarpus heterophyllus atau Artocarpus integra) beremigrasi dan menyebar ke seluruh penjuru dunia, tak terkecuali ke Indonesia. Sampai saat ini, ada dua nama ilmiah yang disandang tanaman nangka. Yang pertama adalah Artocarpus heterophyllus Lamk. Nama itu muncul karena bentuk daun nangka pada saat itu masih bibit berbeda dengan setelah dewasa. Pada waktu bibit banyak daun nangka yang bentuknya berlekuk, tetapi setelah dewasa bentuknya utuh kembali. Kata heterophyllus sendiri menunjukkan keadaan itu , hetero= berbeda, dan phyllus = daun Nama ilmiah yang lain yang melekat pada tanaman nangka adalah Artocarpus integra. Di antara kedua nama ilmiah tersebut, nama Artocarpus heterophyllus Lamk dianggap lebih valid (Widyastuti, 1993).

Irwanto, 2006 : Hutan Tanaman Shorea smithiana Prospektif, Sehat dan Lestari. Yogyakarta, 2006 Info Kayu Meranti Shorea smithiana Symington (Meranti Merah) dengan nama daerah compaga, lempong merembung, lempong tembaga, mahambung (Kalimantan) Perawakan pohon sangat besar, mencapai 160 cm atau lebih, batang tinggi, lurus, berbentuk silinder atau agak meruncing; banir setara, tinggi dan bentangan sampai 2 m, tebal l0 cm, bulat tetapi sempit, lurus menonjol. Tajuk rapat, berbentuk kubah rata, kurang lebih simetris, besar

dengan beberapa cabang besar, menanjak dan terpilin, kelihatan hijau kecoklatan gelap dari bawah. Takikan batang pepagan luar tebal (sampai 1 cm), coklat tua pudar, keras, dengan periderma jauh, tipis, hitam; pepagan dalam sampai 2 cm, merah pudar sampai coklat merah jambu sampai coklat kekuningan, kambium krem; kayu gubal kuning pucat; kayu teras coklat merah jambu cerah; damar jernih dan kuning keluar perlahan pada permukaan yang luka. Bunga daun mahkota merah jambu; benang sari 22-26. Kelopak buah dengan tiga sayap panjang dan dua sayap pendek, sayap panjang 10,5-20 x 1,7-2,8 cm, sayap pendek 6--13 x 0,5-0,9 cm; buah geluk 18-27 x 16-18 mm. Shorea smithiana tersebar di pulau Kalimantan bagian timur (Sarawak timur laut, Sabah, P. Kalimantan tenggara sampai Sampit). Banyak pada lahan bergelombang dan sampai ketinggian 600 m. Salah satu jenis meranti merah besar dari pantai timur Kalimantan, sering berupa pohon-pohon yang setengah tua, mungkin menggantikan Shorea leprosula. di sini dan berkembang biak secara bebas, bahkan pada lahan yang keras, padat, dengan tajuk terbuka. Tumbuh sangat baik pada pembukaan rumpang dengan intensitas cahaya 50 70 % (Noor dan Leppe, 1995). Shorea smithiana Sym. yang termasuk dalam golongan meranti merah kayunya mudah dikerjakan, mudah digergaji, dibor dan dibubut serta dapat diamplas dengan baik. Kayunya dapat diplitur dengan baik namun perlu didempul terlebih dahulu. Jenis kayu ini pada umumnya dapat dipaku dan sekrup dengan baik, tetapi cenderung pecah apabila digunakan paku yang berukuran besar. Kayu meranti merah terutama dipakai untuk venir dan kayu lapis (plywood), disamping itu dapat juga dipakai untuk bangunan perumahan sebagai rangka, balok, galar, kaso, pintu dan jendela, dinding, lantai dan sebaginya. Selain daripada itu dapat juga dipakai sebagai kayu perkapalan (perahu, kapal kecil dan bagian-bagian kapal), peti pengepak, meubel murah, peti dan alat musik (pipa tangan).

Gunawan, 2003.: Prospek Dan Potensi Pemanfaatan Kayu Karet Sebagai Substitusi Kayu Alam. Jurnal Ilmu & Teknologi Kayu Tropis Vol. 1 No. 1 2003 Info kayu karet Potensi kayu karet untuk diolah sebagai bahan baku industri cukup besar. Data statistik Ditjenbun (1998) menunjukkan bahwa luas tanaman karet yang perlu diremajakan sampai tahun 1997 sekitar 400 000 hektar atau 11 persen dari total luas areal karet di Indonesia. Di samping itu, saat ini teknologi pengolahan kayu karet telah berkembang pesat sehingga prospek pemanfaatan kayu karet dapat lebih luas.

Ditinjau dari sifat fisis dan mekanis, kayu karet tergolong kayu kelas kuat II yang berarti setara dengan kayu hutan alam seperti kayu ramin, perupuk, akasia, mahoni, pinus, meranti, durian, ketapang, keruing, sungkai, gerunggang, dan nyatoh (Oey Djoen Seng, 1951; Budiman, 1987; Sutigno dan Masud, 1989; Sulastiningsih, dkk., 2000). Sedangkan untuk kelas awetnya, kayu karet tergolong kelas awet V atau setara dengan kayu ramin (Oey Djoen Seng, 1951), namun tingkat kerentanan kayu karet terhadap serangga penggerek dan jamur biru (blue stain) lebih besar dibandingkan dengan kayu ramin. Oleh karena itu untuk pemanfaatannya diperlukan pengawetan yang lebih intensif dari kayu ramin, terutama setelah digergaji (Budiman, 1987). Pengawetan kayu ramin setelah digergaji biasanya cukup dengan cara pencelupan, sedangkan pada kayu karet selain pencelupan juga harus dilakukan dengan cara vakum dan tekan (Sutigno dan Masud, 1989). Dengan berkembangnya teknologi pengawetan saat ini, maka masalah serangan jamur biru (blue stain) dan serangga penggerek, serta kapang seperti Aspergillus sp. Dan Penicillium sp. tidak lagi menjadi kendala dalam pemanfaatan kayu karet. Sifat dasar lainnya yang menonjol dari kayu karet, kayunya mudah digergaji dan permukaan gergajinya cukup halus, serta mudah dibubut dengan menghasilkan permukaan yang rata dan halus. Kayu karet juga mudah dipaku, dan mempunyai karakteristik pelekatan yang baik dengan semua jenis perekat. Sifat yang khas dari kayu karet adalah warnanya yang putih kekuningan ketika baru dipotong, dan akan menjadi kuning pucat seperti warna jerami setelah dikeringkan. Selain warna yang menarik dan tekstur yang mirip dengan kayu ramin dan perupuk yaitu halus dan rata, kayu karet sangat mudah diwarnai sehingga disukai dalam pembuatan mebel (Budiman, 1987). Mutu fibre board asal kayu karet setara dengan kayu lapis yang berasal dari hutan alam (Basuki dan Azwar, 1996). Ditinjau dari sifat fisis, mekanis, dan sifat dasar lainnya seperti warna dan tekstur kayu karet, ketersediaan bahan baku kayu karet pada perkebunan karet, dan berkembangnya teknologi pengolahan dan pengawetan kayu karet akhir-akhir ini, sangat memungkinkan kayu karet dapat dimanfaatkan sebagai substitusi kayu alam, khususnya untuk memenuhi kebutuhan industri perkayuan, sebagaimana dibahas dalam makalah ini. PROSPEK DAN POTENSI KAYU KARET Permintaan kayu di pasar internasional diperkirakan semakin meningkat sebagai akibat perkembangan penduduk dunia yang semakin pesat dan kecenderungan membaiknya kondisi perekonomian berbagai negara saat ini. Sementara itu kebutuhan di dalam negeri dewasa ini mencapai 58 juta m3 per tahun, sedangkan total produksi kayu hanya 52 juta m3 per tahun, berarti terjadi kekurangan pasokan sekitar 6 juta m3 (Direktorat Jenderal Pengusahaan Hutan, 1999 dalam Nancy, dkk., 2001). Sedangkan di

sisi lain potensi kayu hutan yang tersedia makin terbatas. Untuk mengisi pangsa pasar tersebut, kayu karet dapat digunakan sebagai substitusi kayu alam. Pada masa lampau kayu karet hanya digunakan sebagai bahan bakar terutama untuk pengasapan sit asap (RSS). Namun sejak awal tahun 70-an kayu karet mulai digunakan sebagai bahan baku industri, terutama furniture (Tan, 1981). Malaysia, Thailand, dan India telah mengawali pengembangan produk kayu karet sejak awal dasawarsa 70-an. Produk kayu karet yang berwarna khas putih kekuningan seperti kayu ramin banyak dikonsumsi negara negara seperti Singapura, Jepang, China, Taiwan, dan Amerika Latin, berupa furniture, papan partikel, parquet flooring, moulding, laminating, dan pulp. Di Indonesia industri pengolahan kayu karet skala besar mulai berkembang sejak akhir tahun 80-an, seperti di Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, dan pulau Jawa. Permintaan terhadap produk kayu karet dari tahun ke tahun semakin meningkat. Banyak manfaat yang dapat dirasakan akibat peningkatan permintaan produk kayu karet misalnya berkurangnya laju kerusakan kawasan hutan alam akibat penebangan liar (illegal loging), memberikan tambahan pendapatan sekaligus modal bagi petani yang ingin melakukan peremajaan, memperluas lapangan kerja, meningkatkan ekspor nonmigas, dan dalam jangka panjang meningkatkan pelestarian lingkungan hidup (Nancy, dkk., 2001). Di samping itu, dengan berkembangnya teknologi pengolahan kayu saat ini, pemanfaatan kayu karet sebagai bahan baku industri tidak lagi hanya terbatas untuk kayu pertukangan, tetapi kayu-kayu yang berukuran lebih kecil dapat pula diproses di pabrik Medium Density Fiber (MDF) menjadi bubur kayu yang seterusnya diproses menjadi particle board, fibre board, pulp, dan kertas. Dengan demikian seluruh bagian kayu termasuk cabang dan ranting saat ini telah dapat dimanfaatkan (APPI, 1999). Dengan demikian prospek kayu karet yang berasal dari tanaman perkebunan yang bersifat terbaharukan (renewable) diharapkan dapat digunakan lebih luas sebagai substisusi kayu alam. Potensi kayu karet untuk diolah menjadi bahan baku industri cukup besar. Jika melihat dari data statistik karet diketahui bahwa luas perkebunan karet di Indonesia pada tahun 1977 tercatat seluas 3.4 juta hektar, sebesar 85 persen atau 3 juta hektar di antaranya adalah kebun karet rakyat. Potensi kayu karet diperkirakan sebanyak lebih kurang 2.7 juta m3/tahun, yang dihitung dari luas areal perkebunan karet yang ada. Dengan asumsi bahwa perkebunan besar setiap tahun meremajakan 3 persen dari areal karetnya, dan perkebunan rakyat meremajakan 2 persen per tahun Sementara itu, khusus untuk Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan saja potensi kayu karet yang dapat digunakan sebagai sumber bahan baku kayu olahan cukup banyak

mengingat cukup luasnya kebun karet yang dapat diremajakan karena tanaman tua dan tidak menghasilkan lagi. Di Provinsi Jambi seluas 89 261 hektar dan di Sumatera Selatan 102 850 hektar terdapat areal karet tua dari total areal karet rakyat dari masing-masing kedua daerah tersebut (Disbun Jambi, 2001; BPS Sumsel, 2001). Menurut Budiman (1987) diperkirakan pada saat peremajaan jumlah tegakan sekitar 200-250 pohon per hektar, akan menghasilkan kayu sekitar 250-300 m3. Jika cabang dan dahan yang berpenampang kurang dari 15 cm tidak diperhitungkan, maka dari setiap hektar perkebunan karet yang diremajakan dapat diperoleh sekitar 175 m3 kayu bulat, atau setara dengan 120 m3 kayu potongan. Dari jumlah tersebut, sekitar 20 persen atau kira-kira 35 m3 dapat dijadikan kayu gergajian untuk diekspor atau industri mebel dalam negeri dan sisanya untuk bahan particle board, pulp, kertas, arang, atau kayu bakar.

Kurnia, 2009.: Sifat Keterawetan Dan Keaweta Kayu Durian, Limus, Dan Duku Terhadap Rayap Kayu Kering, Rayap Tanah, Dan Jamur Pelapuk. Skripsi Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor 2009 Info kayu durian Kayu dari Hutan Rakyat Hutan rakyat adalah hutan-hutan yang dibangun dan dikelola oleh rakyat dan umumnya berada di atas tanah milik atau tanah adat, meskipun ada pula yang berada di atas tanah negara atau kawasan hutan negara. Kayu yang berasal dari hutan rakyat pada umumnya berumur muda, berdiameter kecil (< 25 cm), dan bermutu rendah. Karena pasokan kayu dari hutan alam semakin menurun, maka pemakai kayu cenderung memilih kayu rakyat. Kayu dari hutan rakyat pada dasarnya digunakan untuk berbagai keperluan baik untuk pertukangan maupun bahan bangunan. Namun, dalam pemakaiannya harus didukung oleh teknologi yang dapat memperbaiki sifat-sifat kayu, seperti pola penggergajian, pengeringan, pengawetan, dan teknologi pengolahan lainnya

(Abdurachman & Hadjib 2006 dalam Kurnia, 2009) .

Durian (Durio zibethinus Murr.) Nama botanis durian adalah Durio spp famili Bombacaceaea (terutama D. carinatus Mast., D. Oxleyanus Griff., D. Zibethinus Murr.). Nama daerahnya adalah duren, deureuyan, andurian, duriat, duriang, derian, duiang, duhuian, tuleno, turene.

Sedangkan nama lain : durian (Philipina, Sabah, Inggris, Amerika Serikat, Perancis, Spanyol, Italia, Belanda, Jerman). Penyebaran kayu durian ini di seluruh Indonesia. Menurut Mandang & Pandit (1997) dalam Kurnia (2009), ciri anatomi kayu durian adalah pembuluh atau pori baur, soliter dan berganda radial yang terdiri atas 2-3 pori, umumnya berukuran agak besar, frekuensinya sangat jarang atau jarang, kadangkadang ada endapan berwarna putih, bidang perforasi sederhana. Parenkima terutama bertipe apotrakea baur, berupa garis-garis tangensial pendek diantara jari-jari atau ada yang bentuk jala. Jari-jari sangat sempit sampai lebar, letaknya jarang sampai agak jarang, ukurannya pendek sampai agak pendek. Ciri umum dari kayu ini adalah kayu teras berwarna coklat merah jika masih segar, lambat laun menjadi coklat kelabu atau coklat semu-semu lembayung. Kayu gubal berwarna putih dan dapat dibedakan dengan jelas dari kayu teras, tebal sampai 5 cm. Teksturnya agak kasar dan merata dengan arah serat lurus atau berpadu. Permukaan kayu agak licin dan mengkilap. Kesan raba agak licin sampai licin, kekerasan agak lunak sampai agak keras. Menurut Oey Djoen Seng (1990) dalam Kurnia (2009) , sifat kayu durian termasuk kelas kuat II-III dengan berat jenis 0.57. Kayunya mudah digergaji meskipun permukaanya cenderung untuk berbulu, selain itu mudah dikupas untuk dibuat finir. Kayu durian cepat menjadi kering tanpa cacat, tetapi papan yang tipis cenderung untuk menjadi cekung. Sedangkan kegunaan kayu ini adalah sebagai bangunan dibawah atap, rangka pintu dan jendela, perabot rumah tangga sederhana (termasuk lemari), lantai, dinding, sekat ruangan, kayu lapis, peti, sandal kayu, peti jenazah, dan bangunan kapal.