Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN POST SC LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

POST SC Konsep Dasar Penyakit 1. Definisi / Pengertian SC (Sectio caesarea) adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim. Jadi sectio caesaria adalah suatu pembedahan guna melahirkan janin lewat insisi pada dinding abdomen dan uterus persalinan buatan, sehingga janin dilahirkan melalui perut dan dinding perut dan dinding rahim agar anak lahir dengan keadaan utuh dan sehat 2. Tanda dan Gejala Kejang parsial ( fokal, lokal ) a. Kejang parsial sederhana : Kesadaran tidak terganggu, dapat mencakup satu atau lebih hal berikut ini : Tanda tanda motoris, kedutan pada wajah, atau salah satu sisi tubuh; umumnya gerakan setipa kejang sama. Tanda atau gejala otonomik: muntah, berkeringat, muka merah, dilatasi pupil. Gejala somatosensoris atau sensoris khusus : mendengar musik, merasa seakan ajtuh dari udara, parestesia. Gejala psikis : dejavu, rasa takut, visi panoramik. b. Kejang parsial kompleks Terdapat gangguankesadaran, walaupun pada awalnya sebagai kejang parsial simpleks Dapat mencakup otomatisme atau gerakan otomatik : mengecap ngecapkan bibir,mengunyah, gerakan menongkel yang berulang ulang pada tangan dan gerakan tangan lainnya. Dapat tanpa otomatisme : tatapan terpaku Kejang umum ( konvulsi atau non konvulsi ) c. Kejang absens Gangguan kewaspadaan dan responsivitas Ditandai dengan tatapan terpaku yang umumnya berlangsung kurang dari 15 detik Awitan dan akhiran cepat, setelah itu kempali waspada dan konsentrasi penuh d. Kejang mioklonik Kedutan kedutan involunter pada otot atau sekelompok otot yang terjadi secara mendadak. Sering terlihat pada orang sehat selaam tidur tetapi bila patologik berupa kedutan keduatn sinkron dari bahu, leher, lengan atas dan kaki. Umumnya berlangsung kurang dari 5 detik dan terjadi dalam kelompok Kehilangan kesadaran hanya sesaat. e. Kejang tonik klonik Diawali dengan kehilangan kesadaran dan saat tonik, kaku umum pada otot ekstremitas, batang tubuh dan wajah yang berlangsung kurang dari 1 menit Dapat disertai hilangnya kontrol usus dan kandung kemih Saat tonik diikuti klonik pada ekstrenitas atas dan bawah. Letargi, konvulsi, dan tidur dalam fase postictal f. Kejang atonik

Hilngnya tonus secara mendadak sehingga dapat menyebabkan kelopak mata turun, kepala menunduk,atau jatuh ke tanah. Singkat dan terjadi tanpa peringatan. 3. Etiologi Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan resiko pada ibu ataupun pada janin, dengan pertimbangan hal-hal yang perlu tindakan SC proses persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan normal ( Dystasia ). a) Pada Ibu : disproporsi kepala panggul/CPD//FPD Disfungsi uterus Distosia jaringan lunak Plasenta previa His lemah / melemah b) Pada Anak : Janin besar Gawat janin Letak lintang Hydrocephalus 4. Klasifikasi a) Sektio caesaria abdominalis Tipe operasi sektio caesaria : Sektio caesaria klasik atau korporal dengan insisi memanjang pada korpus uteri. Sektio caesaria ismika atau profunda atau low cervical dengan insisi pada segmen bawah rahim b) Sectio caesaria transperitonialis yang terdiri dari : Sektio caesaria ekstraperitonealis, yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak membuka kavum abdominalis. Sektio Caesaria vaginalis. Menurut sayatan pada rahim, sectio caesaria dapat dilakukan sebagai berikut : 1) Sayatan memanjang (longitudinal) menurut Kronig 2) Sayatan melintang (transversal) menurut Kerr 3) Sayatan huruf T (T-incision)

5. Pemeriksaan Fisik Inspeksi : adanya Luka Operatif, kondisi jahitan, keadaan Luka dan kebersihan Luka Palpasi : perdarahan, Pus pada Luka operatif, tanda tanda infeksi dan juga nyeri tekan disekitar abdomen 6. Pemeriksaan Diagnostik / Penunjang Test HCG Urine : sebagai Indikator kehamilan apakah Positif /Negatif Ultra Sonografi : untuk mengetahui Kondisi janin/cavum uteria apakah terdapat janin/sisa janin/ Kadar Hematocrit/Ht : sebagai Status Hemodinamika untuk mengetahui adanya Penurunan hematokrit (< 35 mg%)

Kadar Hemoglobin : sebagai Status Hemodinamika untuk mengetahui adanya Penurunan hemoglobin atau tidak (< 10 mg%) Kadar SDP : untuk mengetahui adanya Resiko Infeksi Meningkat(>10.000 U/dl) Kultur : Untuk mengetahui adanya Kuman spesifik 7. Terapi / Tindakan Penanganan a) Memberantas kejang Secepat mungkin Diberikan antikonvulsan secara intravena jika klien masih dalam keadaan kejang, ditunggu selama 15 menit, bila masih terdapat kejang diulangi suntikan kedua dengan dosis yang sama juga secara intravena. Setelah 15 menit suntikan ke 2 masih kejang diberikan suntikan ke 3 dengan dosis yang sama tetapi melalui intramuskuler, diharapkan kejang akan berhenti. Bila belum juga berhenti dapat diberikan fenobarbital atau paraldehid 4 % secara intravena. b) Pengobatan penunjang Sebelum memberantas kejang tidak boleh Dilupakan perlunya pengobatan penunjang Semua pakaian ketat dibuka Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung Usahakan agar jalan nafas bebas untuk menjamin kebutuhan oksigen, bila perlu dilakukan intubasi atau trakeostomi. Penghisapan lendir harus dilakukan secara tertur dan diberikan oksigen. c) Pengobatan rumat Profilaksis intermiten Untuk mencegah kejang berulang, diberikan obat campuran anti konvulsan dan antipietika. Profilaksis ini diberikan sampai kemungkinan sangat kecil anak mendapat kejang demam sederhana yaitu kira - kira sampai anak umur 4 tahun. Profilaksis jangka panjang Diberikan pada keadaan : Epilepsi yang diprovokasi oleh demam Kejang demam yang mempunyai ciri : Terdapat gangguan perkembangan saraf seperti serebral palsi, retardasi perkembangan dan mikrosefali Bila kejang berlangsung lebih dari 15 menit, berdifat fokal atau diikiuti kelainan saraf yang sementara atau menetap Riwayat kejang tanpa demam yang bersifat genetic Kejang demam pada bayi berumur dibawah usia 1 bulan d) Mencari dan mengobati penyebab 8. Komplikasi Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini antara lain : a. Infeksi puerperal ( Nifas ) Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung Berat, peritonealis, sepsis dan usus paralitik b. Perdarahan Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka Perdarahan pada plasenta bed c. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi terlalu tinggi

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan 1) Pengkajian a) Sirkulasi Perhatikan riwayat masalah jantung, udema pulmonal, penyakit vaskuler perifer atau stasis vaskuler (peningkatan resiko pembentukan thrombus). b) Integritas ego Perasaan cemas, takut, marah, apatis, serta adanya factor-faktor stress multiple seperti financial, hubungan, gaya hidup. Dengan tanda-tanda tidak dapat beristirahat, peningkatan ketegangan, stimulasi simpatis. c) Makanan/cairan Malnutrisi, membrane mukosa yang kering pembatasan puasa pra operasi insufisiensi Pancreas/ DM, predisposisi untuk hipoglikemia/ ketoasidosis. d) Pernafasan Adanya infeksi, kondisi yang kronik/batuk, merokok. e) Keamanan Adanya alergi atau sensitive terhadap obat, makanan, plester dan larutan. Adanya defisiensi imun Munculnya kanker/adanya terapi kanker Riwayat keluarga, tentang hipertermia malignan/reaksi anestesi Riwayat penyakit hepatic Riwayat tranfusi darah Tanda munculnya proses infeksi. 2) a) b) c) d) e) f) Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul Perubahan Perfusi Jaringan b.d perdarahan Devisit Volume Cairan b.d perdarahan Gangguan rasa nyaman: Nyeri b.d luka post operasi Intoleransi Aktivitas b.d kelemahan, penurunan sirkulasi Gangguan Integritas Kulit b.d tindakan pembedahan. Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, luka post operasi

3) Rencana Asuhan Keperawatan a) DX 1 : Perubahan Perfusi Jaringan b.d perdarahan Tujuan : diharapkan suplai/ kebutuhan darah ke jaringan terpenuhi Kriteria Hasil : Conjunctiva tidak anemis Acral hangat Hb normal Muka tidak pucat Tidak lemas TTV dalam batas normal ; Suhu : 36-37 0 C, TD : 120/80 mmHg, RR :18-20x/menit, Nadi : 80-100 x/menit Intervensi : 1) Jelaskan penyebab terjadi perdarahan R/ Pasien paham tentang kondisi yang dialami 2) Monitor tanda-tanda vital R/ Tensi, nadi yang rendah, RR dan suhu tubuh yang tinggi menunjukkan gangguan sirkulasi darah

3) Kaji tingkat perdarahan setiap 15 30 menit R/ Mengantisipasi terjadinya syok 4) Kolaborasi pemberian cairan infus isotonik R/ Cairan infus isotonik dapat mengganti volume darah yang hilang akiba perdarahan. 5) Kolaborasi pemberian tranfusi darah bila Hb rendah R/ Tranfusi darah mengganti komponen darah yang hilang akibat perdarahan. b) DX 2 : Devisit Volume Cairan b.d perdarahan Tujuan: Tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan output baik jumlah maupun kualitas. Kriteria Hasil : Tanda vital dalam batas normal (N: 120-60 x/mnt, S; 36-37,50 c, RR : < 40 x/mnt ) Turgor elastik , membran mukosa bibir basah, mata tidak cowong, UUB tidak cekung. Intervensi: 1) Kaji kondisi status hemodinamika. R/ Pengeluaran cairan akibat operasi yang berlebih merupakan faktor utama masalah 2) Ukur pengeluaran harian R/ Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan jumlah cairan yang hilang selama masa post operasi dan harian 3) Berikan sejumlah cairan pengganti harian R/Tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan masif 4) Evaluasi status hemodinamika R/ Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui pemeriksaan fisik. 5) Pantau intake dan output R/ dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus membuat keluaran tak adekuat untuk membersihkan sisa metabolisme.

c) DX 3 : Gangguan rasa nyaman: Nyeri b.d luka post operasi Tujuan : Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami Kriteria Hasil : Mengungkapkan nyeri dan tegang di perutnya berkurang Skala nyeri 0-1 ( dari 0 10 ) Dapat melakukan tindakan untuk mengurangi nyeri Kooperatif dengan tindakan yang dilakukan TTV dalam batas normal ; Suhu : 36-37 0 C, TD : 120/80 mmHg, RR :18-20x/menit, Nadi : 80-100 x/menit Intervensi : 1) Pertahankan tirah baring selama masa akut R/ Meminimalkan stimulasi atau meningkatkan relaksasi 2) Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya. R/ Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri 3) Ajarkan teknik distraksi R/ Pengurangan persepsi nyeri 4) Kolaborasi pemberian analgetika R/ Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik 5) Kaji intensitas, karakteristik, dan derajat nyeri R/ Pengkajian yang spesifik membantu memilih intervensi yang tepat

d) DX 4 : Intoleransi Aktivitas b.d kelemahan, penurunan sirkulasi Tujuan : Kllien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi Kriteria Hasil : klien mampu melakukan aktivitasnya secara mandiri Intervensi : 1) Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas R/ Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti, tetapi perdarahan masif perlu diwaspadai untuk menccegah kondisi klien lebih buruk 2) Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi luka dan kondisi tubuh umum R/ Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ reproduksi, tetapi dapat mempengaruhi kondisi luka post operasi dan berkurangnya energi 3) Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari. R/ Mengistiratkan klilen secara optimal. 4) Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan /kondisi klien R/ Mengoptimalkan kondisi klien, pada abortus imminens, istirahat mutlak sangat diperlukan 5) Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas R/ Menilai kondisi umum klien. e) DX 5 : Gangguan Integritas Kulit b.d tindakan pembedahan Tujuan : Memperbaiki integritas kulit dan proteksi jaringan Kriteria Hasil : Tidak terjadi kerusakan integritas kulit Intervensi : 1) Berikan perhatian dan perawatan pada kulit R/ Jaringan kulit yang mengalami kerusakan dapat mengganggu suplai nutrien dan sangat rentan terhadap tekanan serta trauma. 2) Lakukan latihan gerak secara pasif R/ Meningkatkan mobilisasi 3) Lindungi kulit yang sehat dari kemungkinan maserasi R/ maserasi pada kulit yang sehat dapat menyebabkan pecahnya kulit 4) jaga kelembaban kulit R/ untuk tetap menjaga kulit yang sehat agar tetap lembab f) DX 6 : Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, luka post operasi Tujuan: Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan dan luka operasi.\ Kriteria Hasil : Tidak ada tanda tanda infeksi, seperti : merah, panas, bengkak, fungsio laesa Intervensi : 1) Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau dari luka operasi. R/Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi. 2) Terangkan pada klien pentingnya perawatan luka selama masa post operasi. R/ Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan luka. 3) Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart. R/ Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart. 4) Lakukan perawatan luka R/ Inkubasi kuman pada area luka dapat menyebabkan infeksi. 5) Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda inveksi R/ Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi; demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi.

4) a) b) c) d) e) f)

Evaluasi Perubahan Perfusi Jaringan tidak terjadi Devisit Volume Cairan dapat diatasi Nyeri dapat diatasi Klien dapat melakukan aktivitas secara mandiri Gangguan Integritas Kulit tidak terjadi Infeksi tidak terjadi

DAFTAR PUSTAKA 1. Betz Cecily L, Sowden Linda A. (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta : EGC. 2. Sacharin Rosa M. (1996). Prinsip Keperawatan Pediatrik. Alih bahasa : Maulanny R.F. Jakarta : EGC. 3. Ngastiyah.( 1997 ). Perawatan Anak Sakit Jakarta : EGC 4. Arjatmo T.(2001). Keadaan Gawat Yang Mengancam Jiwa. Jakarta : gaya baru 5. Kejang Pada Anak. www. Pediatrik.com/knal.php

ASuhan keperawatan pada SECTIO CAESAREA


Pengertian Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim. Jenis jenis operasi sectio caesarea Abdomen (sectio caesarea abdominalis) Sectio caesarea transperitonealis SC klasik atau corporal (dengan insisi memanjang pada corpus uteri) Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10 cm. Kelebihan : Mengeluarkan janin dengan cepat Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik Sayatan bias diperpanjang proksimal atau distal Kekurangan Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealis yang baik Untuk persalinan yang berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan SC ismika atau profundal (low servical dengan insisi pada segmen bawah rahim) Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang konkat pada segmen bawah rahim (low servical transversal) kira-kira 10 cm Kelebihan : Penjahitan luka lebih mudah Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke

rongga peritoneum Perdarahan tidak begitu banyak Kemungkinan rupture uteri spontan berkurang atau lebih kecil Kekurangan : Luka dapat melebar kekiri, kanan, dan bawah sehingga dapat menyebabkan uteri uterine pecah sehingga mengakibatkan perdarahan banyak Keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi SC ektra peritonealis yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak membuka cavum abdominal Vagina (section caesarea vaginalis) Menurut sayatan pada rahim, sectio caesarea dapat dilakukan sebagai berikut : 1. Sayatan memanjang ( longitudinal ) 2. Sayatan melintang ( Transversal ) 3. Sayatan huruf T ( T insicion ) Indikasi Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan resiko pada ibu ataupun pada janin, dengan pertimbangan hal-hal yang perlu tindakan SC proses persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan normal ( Dystasia ) Fetal distress His lemah / melemah Janin dalam posisi sungsang atau melintang Bayi besar ( BBL 4,2 kg ) Plasenta previa Kalainan letak Disproporsi cevalo-pelvik ( ketidakseimbangan antar ukuran kepala dan panggul ) Rupture uteri mengancam Hydrocephalus Primi muda atau tua Partus dengan komplikasi Panggul sempit Problema plasenta Komplikasi Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini antara lain : Infeksi puerperal ( Nifas ) Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung Berat, peritonealis, sepsis dan usus paralitik Perdarahan Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka Perdarahan pada plasenta bed Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi terlalu tinggi Kemungkinan rupture tinggi spontan pada kehamilan berikutnya Post Partum DEFINISI PUERPERIUM / NIFAS Adalah masa sesudah persalinan dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhirnya ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama 6 minggu. (Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002) adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan

yang lamanya 6 minggu. (Obstetri Fisiologi, 1983) PERIODE Masa nifas dibagi dalam 3 periode: Early post partum Dalam 24 jam pertama. Immediate post partum Minggu pertama post partum. Late post partum Minggu kedua sampai dengan minggu keenam. TUJUAN ASUHAN KEPERAWATAN Menjaga kesehatan Ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologiknya. Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. Memberikan pelayanan keluarga berencana. TANDA DAN GEJALA Perubahan Fisik Sistem Reproduksi Uterus Involusi : Kembalinya uterus ke kondisi normal setelah hamil. Proses ini dipercepat oleh rangsangan pada puting susu. Lochea Komposisi Jaringan endometrial, darah dan limfe. Tahap Rubra (merah) : 1-3 hari. Serosa (pink kecoklatan) Alba (kuning-putih) : 10-14 hari Lochea terus keluar sampai 3 minggu. Bau normal seperti menstruasi, jumlah meningkat saat berdiri. Jumlah keluaran rata-rata 240-270 ml. Siklus Menstruasi Ibu menyusui paling awal 12 minggu rata-rata 18 minggu, untuk itu tidak menyusui akan kembali ke siklus normal. Ovulasi Ada tidaknya tergantung tingkat proluktin. Ibu menyusui mulai ovulasi pada bulan ke-3 atau lebih. Ibu tidak menyusui mulai pada minggu ke-6 s/d minggu ke-8. Ovulasi mungkin tidak terlambat, dibutuhkan salah satu jenis kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. Serviks Segera setelah lahir terjadi edema, bentuk distensi untuk beberapa hari, struktur internal kembali dalam 2 minggu, struktur eksternal melebar dan tampak bercelah. Vagina Nampak berugae kembali pada 3 minggu, kembali mendekati ukuran seperti tidak hamil, dalam 6 sampai 8 minggu, bentuk ramping lebar, produksi mukus normal dengan ovulasi. Perineum Episiotomi Penyembuhan dalam 2 minggu. Laserasi

TK I : Kulit dan strukturnya dari permukaan s/d otot TK II : Meluas sampai dengan otot perineal TK III : Meluas sampai dengan otot spinkter TK IV : melibatkan dinding anterior rektal Payudara Payudara membesar karena vaskularisasi dan engorgement (bengkak karena peningkatan prolaktin pada hari I-III). Pada payudara yang tidak disusui, engorgement akan berkurang dalam 2-3 hari, puting mudah erektil bila dirangsang. Pada ibu yang tidak menyusui akan mengecil pada 1-2 hari. Sistem Endokrin Hormon Plasenta HCG (-) pada minggu ke-3 post partum, progesteron plasma tidak terdeteksi dalam 72 jam post partum normal setelah siklus menstruasi. Hormon pituitari Prolaktin serum meningkat terjadi pada 2 minggu pertama, menurun sampai tidak ada pada ibu tidak menyusui FSH, LH, tidak ditemukan pada minggu I post partum. Sistem Kardiovaskuler Tanda-tanda vital Tekanan darah sama saat bersalin, suhu meningkat karena dehidrasi pada awal post partum terjadi bradikardi. Volume darah Menurun karena kehilangan darah dan kembali normal 3-4 minggu Persalinan normal : 200 500 cc, sesaria : 600 800 cc. Perubahan hematologik Ht meningkat, leukosit meningkat, neutrophil meningkat. Jantung Kembali ke posisi normal, COP meningkat dan normal 2-3 minggu. Sistem Respirasi Fungsi paru kembali normal, RR : 16-24 x/menit, keseimbangan asam-basa kembali setelah 3 minggu post partum. Sistem Gastrointestinal Mobilitas lambung menurun sehingga timbul konstipasi. Nafsu makan kembali normal. Kehilangan rata-rata berat badan 5,5 kg. Sistem Urinaria Edema pada kandung kemih, urethra dan meatus urinarius terjadi karena trauma. Pada fungsi ginjal: proteinuria, diuresis mulai 12 jam. Fungsi kembali normal dalam 4 minggu. Sistem Muskuloskeletal Terjadi relaksasi pada otot abdomen karena terjadi tarikan saat hamil. Diastasis rekti 2-4 cm, kembali normal 6-8 minggu post partum. Sistem Integumen Hiperpigmentasi perlahan berkurang. Sistem Imun Rhesus incompability, diberikan anti RHO imunoglobin.