LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN POST SC LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

POST SC Konsep Dasar Penyakit 1. Definisi / Pengertian SC (Sectio caesarea) adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim. Jadi sectio caesaria adalah suatu pembedahan guna melahirkan janin lewat insisi pada dinding abdomen dan uterus persalinan buatan, sehingga janin dilahirkan melalui perut dan dinding perut dan dinding rahim agar anak lahir dengan keadaan utuh dan sehat 2. Tanda dan Gejala Kejang parsial ( fokal, lokal ) a. Kejang parsial sederhana : Kesadaran tidak terganggu, dapat mencakup satu atau lebih hal berikut ini :  Tanda – tanda motoris, kedutan pada wajah, atau salah satu sisi tubuh; umumnya gerakan setipa kejang sama.  Tanda atau gejala otonomik: muntah, berkeringat, muka merah, dilatasi pupil.  Gejala somatosensoris atau sensoris khusus : mendengar musik, merasa seakan ajtuh dari udara, parestesia.  Gejala psikis : dejavu, rasa takut, visi panoramik. b. Kejang parsial kompleks  Terdapat gangguankesadaran, walaupun pada awalnya sebagai kejang parsial simpleks  Dapat mencakup otomatisme atau gerakan otomatik : mengecap – ngecapkan bibir,mengunyah, gerakan menongkel yang berulang – ulang pada tangan dan gerakan tangan lainnya.  Dapat tanpa otomatisme : tatapan terpaku Kejang umum ( konvulsi atau non konvulsi ) c. Kejang absens  Gangguan kewaspadaan dan responsivitas  Ditandai dengan tatapan terpaku yang umumnya berlangsung kurang dari 15 detik  Awitan dan akhiran cepat, setelah itu kempali waspada dan konsentrasi penuh d. Kejang mioklonik  Kedutan – kedutan involunter pada otot atau sekelompok otot yang terjadi secara mendadak.  Sering terlihat pada orang sehat selaam tidur tetapi bila patologik berupa kedutan keduatn sinkron dari bahu, leher, lengan atas dan kaki.  Umumnya berlangsung kurang dari 5 detik dan terjadi dalam kelompok  Kehilangan kesadaran hanya sesaat. e. Kejang tonik klonik  Diawali dengan kehilangan kesadaran dan saat tonik, kaku umum pada otot ekstremitas, batang tubuh dan wajah yang berlangsung kurang dari 1 menit  Dapat disertai hilangnya kontrol usus dan kandung kemih  Saat tonik diikuti klonik pada ekstrenitas atas dan bawah.  Letargi, konvulsi, dan tidur dalam fase postictal f. Kejang atonik

 Singkat dan terjadi tanpa peringatan. a) Pada Ibu :  disproporsi kepala panggul/CPD//FPD  Disfungsi uterus  Distosia jaringan lunak  Plasenta previa  His lemah / melemah b) Pada Anak :  Janin besar  Gawat janin  Letak lintang  Hydrocephalus 4. yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak membuka kavum abdominalis. Hilngnya tonus secara mendadak sehingga dapat menyebabkan kelopak mata turun. sectio caesaria dapat dilakukan sebagai berikut : 1) Sayatan memanjang (longitudinal) menurut Kronig 2) Sayatan melintang (transversal) menurut Kerr 3) Sayatan huruf T (T-incision) 5. 3. kondisi jahitan. Klasifikasi a) Sektio caesaria abdominalis Tipe operasi sektio caesaria :  Sektio caesaria klasik atau korporal dengan insisi memanjang pada korpus uteri. keadaan Luka dan kebersihan Luka Palpasi : perdarahan. dengan pertimbangan hal-hal yang perlu tindakan SC proses persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan normal ( Dystasia ).  Sektio Caesaria vaginalis.  Sektio caesaria ismika atau profunda atau low cervical dengan insisi pada segmen bawah rahim b) Sectio caesaria transperitonialis yang terdiri dari :  Sektio caesaria ekstraperitonealis. Etiologi Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan resiko pada ibu ataupun pada janin. tanda – tanda infeksi dan juga nyeri tekan disekitar abdomen 6. kepala menunduk.atau jatuh ke tanah. Pemeriksaan Diagnostik / Penunjang  Test HCG Urine : sebagai Indikator kehamilan apakah Positif /Negatif  Ultra Sonografi : untuk mengetahui Kondisi janin/cavum uteria apakah terdapat janin/sisa janin/ Kadar Hematocrit/Ht : sebagai Status Hemodinamika untuk mengetahui adanya Penurunan hematokrit (< 35 mg%) . Pemeriksaan Fisik Inspeksi : adanya Luka Operatif. Menurut sayatan pada rahim. Pus pada Luka operatif.

bila masih terdapat kejang diulangi suntikan kedua dengan dosis yang sama juga secara intravena.000 U/dl)  Kultur : Untuk mengetahui adanya Kuman spesifik 7. berdifat fokal atau diikiuti kelainan saraf yang sementara atau menetap  Riwayat kejang tanpa demam yang bersifat genetic  Kejang demam pada bayi berumur dibawah usia 1 bulan d) Mencari dan mengobati penyebab 8. retardasi perkembangan dan mikrosefali  Bila kejang berlangsung lebih dari 15 menit.  Penghisapan lendir harus dilakukan secara tertur dan diberikan oksigen. bila perlu dilakukan intubasi atau trakeostomi. Perdarahan  Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka  Perdarahan pada plasenta bed c. peritonealis. Profilaksis ini diberikan sampai kemungkinan sangat kecil anak mendapat kejang demam sederhana yaitu kira . ditunggu selama 15 menit. Komplikasi Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini antara lain : a. dengan suhu meningkat dalam beberapa hari  Sedang. Setelah 15 menit suntikan ke 2 masih kejang diberikan suntikan ke 3 dengan dosis yang sama tetapi melalui intramuskuler. Luka kandung kemih. diberikan obat campuran anti konvulsan dan antipietika. b) Pengobatan penunjang Sebelum memberantas kejang tidak boleh Dilupakan perlunya pengobatan penunjang  Semua pakaian ketat dibuka  Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung  Usahakan agar jalan nafas bebas untuk menjamin kebutuhan oksigen. emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi terlalu tinggi . diharapkan kejang akan berhenti. suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung  Berat. sepsis dan usus paralitik b. Infeksi puerperal ( Nifas )  Ringan.kira sampai anak umur 4 tahun. Terapi / Tindakan Penanganan a) Memberantas kejang Secepat mungkin Diberikan antikonvulsan secara intravena jika klien masih dalam keadaan kejang. Kadar Hemoglobin : sebagai Status Hemodinamika untuk mengetahui adanya Penurunan hemoglobin atau tidak (< 10 mg%)  Kadar SDP : untuk mengetahui adanya Resiko Infeksi Meningkat(>10.  Profilaksis jangka panjang Diberikan pada keadaan :  Epilepsi yang diprovokasi oleh demam  Kejang demam yang mempunyai ciri :  Terdapat gangguan perkembangan saraf seperti serebral palsi. Bila belum juga berhenti dapat diberikan fenobarbital atau paraldehid 4 % secara intravena. c) Pengobatan rumat  Profilaksis intermiten Untuk mencegah kejang berulang.

kondisi yang kronik/batuk. udema pulmonal. 2) a) b) c) d) e) f) Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul Perubahan Perfusi Jaringan b.  Adanya defisiensi imun  Munculnya kanker/adanya terapi kanker  Riwayat keluarga.d tindakan pembedahan. RR :18-20x/menit. penurunan sirkulasi Gangguan Integritas Kulit b. Resiko tinggi Infeksi s. RR dan suhu tubuh yang tinggi menunjukkan gangguan sirkulasi darah . c) Makanan/cairan Malnutrisi. e) Keamanan  Adanya alergi atau sensitive terhadap obat. marah. hubungan. Suhu : 36-37 0 C. predisposisi untuk hipoglikemia/ ketoasidosis. tentang hipertermia malignan/reaksi anestesi  Riwayat penyakit hepatic  Riwayat tranfusi darah  Tanda munculnya proses infeksi.Konsep Dasar Asuhan Keperawatan 1) Pengkajian a) Sirkulasi Perhatikan riwayat masalah jantung. serta adanya factor-faktor stress multiple seperti financial. nadi yang rendah. d) Pernafasan Adanya infeksi.d perdarahan Tujuan : diharapkan suplai/ kebutuhan darah ke jaringan terpenuhi Kriteria Hasil :  Conjunctiva tidak anemis  Acral hangat  Hb normal  Muka tidak pucat  Tidak lemas  TTV dalam batas normal . membrane mukosa yang kering pembatasan puasa pra operasi insufisiensi Pancreas/ DM.d kelemahan.d perdarahan Gangguan rasa nyaman: Nyeri b. Dengan tanda-tanda tidak dapat beristirahat. penyakit vaskuler perifer atau stasis vaskuler (peningkatan resiko pembentukan thrombus). plester dan larutan. stimulasi simpatis.d luka post operasi Intoleransi Aktivitas b. makanan. peningkatan ketegangan. TD : 120/80 mmHg.d perdarahan. luka post operasi 3) Rencana Asuhan Keperawatan a) DX 1 : Perubahan Perfusi Jaringan b. gaya hidup. merokok. takut. Nadi : 80-100 x/menit Intervensi : 1) Jelaskan penyebab terjadi perdarahan R/ Pasien paham tentang kondisi yang dialami 2) Monitor tanda-tanda vital R/ Tensi.d perdarahan Devisit Volume Cairan b. apatis. b) Integritas ego Perasaan cemas.

S.d perdarahan Tujuan: Tidak terjadi devisit volume cairan. R/ Pengeluaran cairan akibat operasi yang berlebih merupakan faktor utama masalah 2) Ukur pengeluaran harian R/ Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan jumlah cairan yang hilang selama masa post operasi dan harian 3) Berikan sejumlah cairan pengganti harian R/Tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan masif 4) Evaluasi status hemodinamika R/ Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui pemeriksaan fisik.3) Kaji tingkat perdarahan setiap 15 – 30 menit R/ Mengantisipasi terjadinya syok 4) Kolaborasi pemberian cairan infus isotonik R/ Cairan infus isotonik dapat mengganti volume darah yang hilang akiba perdarahan. RR : < 40 x/mnt )  Turgor elastik . c) DX 3 : Gangguan rasa nyaman: Nyeri b. mata tidak cowong. membran mukosa bibir basah. dan derajat nyeri R/ Pengkajian yang spesifik membantu memilih intervensi yang tepat . b) DX 2 : Devisit Volume Cairan b.d luka post operasi Tujuan : Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami Kriteria Hasil :  Mengungkapkan nyeri dan tegang di perutnya berkurang  Skala nyeri 0-1 ( dari 0 – 10 )  Dapat melakukan tindakan untuk mengurangi nyeri  Kooperatif dengan tindakan yang dilakukan  TTV dalam batas normal . R/ Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri 3) Ajarkan teknik distraksi R/ Pengurangan persepsi nyeri 4) Kolaborasi pemberian analgetika R/ Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik 5) Kaji intensitas. 5) Kolaborasi pemberian tranfusi darah bila Hb rendah R/ Tranfusi darah mengganti komponen darah yang hilang akibat perdarahan. RR :18-20x/menit. 36-37. UUB tidak cekung. Intervensi: 1) Kaji kondisi status hemodinamika. TD : 120/80 mmHg. Suhu : 36-37 0 C.50 c. 5) Pantau intake dan output R/ dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus membuat keluaran tak adekuat untuk membersihkan sisa metabolisme. seimbang antara intake dan output baik jumlah maupun kualitas. Nadi : 80-100 x/menit Intervensi : 1) Pertahankan tirah baring selama masa akut R/ Meminimalkan stimulasi atau meningkatkan relaksasi 2) Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya. karakteristik. Kriteria Hasil :  Tanda vital dalam batas normal (N: 120-60 x/mnt.

4) Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan /kondisi klien R/ Mengoptimalkan kondisi klien.d perdarahan. e) DX 5 : Gangguan Integritas Kulit b. fungsio laesa Intervensi : 1) Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar . 2) Lakukan latihan gerak secara pasif R/ Meningkatkan mobilisasi 3) Lindungi kulit yang sehat dari kemungkinan maserasi R/ maserasi pada kulit yang sehat dapat menyebabkan pecahnya kulit 4) jaga kelembaban kulit R/ untuk tetap menjaga kulit yang sehat agar tetap lembab f) DX 6 : Resiko tinggi Infeksi s. seperti : merah. warna. R/ Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan luka. demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi. . 2) Terangkan pada klien pentingnya perawatan luka selama masa post operasi.d tindakan pembedahan Tujuan : Memperbaiki integritas kulit dan proteksi jaringan Kriteria Hasil :  Tidak terjadi kerusakan integritas kulit Intervensi : 1) Berikan perhatian dan perawatan pada kulit R/ Jaringan kulit yang mengalami kerusakan dapat mengganggu suplai nutrien dan sangat rentan terhadap tekanan serta trauma. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi. tetapi perdarahan masif perlu diwaspadai untuk menccegah kondisi klien lebih buruk 2) Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi luka dan kondisi tubuh umum R/ Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ reproduksi. istirahat mutlak sangat diperlukan 5) Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas R/ Menilai kondisi umum klien. 3) Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart. dan bau dari luka operasi. jumlah. bengkak. tetapi dapat mempengaruhi kondisi luka post operasi dan berkurangnya energi 3) Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari. pada abortus imminens. panas.\ Kriteria Hasil :  Tidak ada tanda – tanda infeksi.d) DX 4 : Intoleransi Aktivitas b. penurunan sirkulasi Tujuan : Kllien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi Kriteria Hasil : klien mampu melakukan aktivitasnya secara mandiri Intervensi : 1) Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas R/ Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti. R/ Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart. R/ Mengistiratkan klilen secara optimal. luka post operasi Tujuan: Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan dan luka operasi. R/Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar.d kelemahan. 5) Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda inveksi R/ Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi. 4) Lakukan perawatan luka R/ Inkubasi kuman pada area luka dapat menyebabkan infeksi.

( 1997 ). Ngastiyah. Sowden Linda A. Perawatan Anak Sakit Jakarta : EGC 4. Alih bahasa : Maulanny R.php ASuhan keperawatan pada SECTIO CAESAREA • Pengertian Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim. (1996).F. 2. www. Buku Saku Keperawatan Pediatri. (2002). Sacharin Rosa M. Jakarta : EGC. Keadaan Gawat Yang Mengancam Jiwa. Arjatmo T. • Jenis – jenis operasi sectio caesarea • Abdomen (sectio caesarea abdominalis) • Sectio caesarea transperitonealis • SC klasik atau corporal (dengan insisi memanjang pada corpus uteri) Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10 cm. Jakarta : EGC. Betz Cecily L. Kelebihan : • Mengeluarkan janin dengan cepat • Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik • Sayatan bias diperpanjang proksimal atau distal Kekurangan • Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealis yang baik • Untuk persalinan yang berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan • SC ismika atau profundal (low servical dengan insisi pada segmen bawah rahim) Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang konkat pada segmen bawah rahim (low servical transversal) kira-kira 10 cm Kelebihan : • Penjahitan luka lebih mudah • Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik • Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke . 3.com/knal. Prinsip Keperawatan Pediatrik. Kejang Pada Anak.(2001).4) a) b) c) d) e) f) Evaluasi Perubahan Perfusi Jaringan tidak terjadi Devisit Volume Cairan dapat diatasi Nyeri dapat diatasi Klien dapat melakukan aktivitas secara mandiri Gangguan Integritas Kulit tidak terjadi Infeksi tidak terjadi DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta : gaya baru 5. Pediatrik.

Sayatan huruf T ( T insicion ) • Indikasi Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan resiko pada ibu ataupun pada janin. sectio caesarea dapat dilakukan sebagai berikut : 1.rongga peritoneum • Perdarahan tidak begitu banyak • Kemungkinan rupture uteri spontan berkurang atau lebih kecil Kekurangan : • Luka dapat melebar kekiri. suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung • Berat. masa nifas berlangsung selama ± 6 minggu. emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi terlalu tinggi • Kemungkinan rupture tinggi spontan pada kehamilan berikutnya • Post Partum • DEFINISI PUERPERIUM / NIFAS Adalah masa sesudah persalinan dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhirnya ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Sayatan memanjang ( longitudinal ) 2. Sayatan melintang ( Transversal ) 3. (Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. peritonealis. sepsis dan usus paralitik • Perdarahan • Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka • Perdarahan pada plasenta bed • Luka kandung kemih. dan bawah sehingga dapat menyebabkan uteri uterine pecah sehingga mengakibatkan perdarahan banyak • Keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi • SC ektra peritonealis yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak membuka cavum abdominal • Vagina (section caesarea vaginalis) Menurut sayatan pada rahim.2 kg ) • Plasenta previa • Kalainan letak • Disproporsi cevalo-pelvik ( ketidakseimbangan antar ukuran kepala dan panggul ) • Rupture uteri mengancam • Hydrocephalus • Primi muda atau tua • Partus dengan komplikasi • Panggul sempit • Problema plasenta • Komplikasi Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini antara lain : • Infeksi puerperal ( Nifas ) • Ringan. 2002) adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan . dengan pertimbangan hal-hal yang perlu tindakan SC proses persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan normal ( Dystasia ) • Fetal distress • His lemah / melemah • Janin dalam posisi sungsang atau melintang • Bayi besar ( BBL ³ 4. kanan. dengan suhu meningkat dalam beberapa hari • Sedang.

pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. struktur internal kembali dalam 2 minggu. • Vagina Nampak berugae kembali pada 3 minggu. menyusui. baik fisik maupun psikologiknya. • Immediate post partum Minggu pertama post partum. nutrisi. bentuk distensi untuk beberapa hari. • Laserasi . bentuk ramping lebar. (Obstetri Fisiologi. darah dan limfe. • Melaksanakan skrining yang komprehensif. keluarga berencana. • Perineum • Episiotomi Penyembuhan dalam 2 minggu.yang lamanya 6 minggu. • TANDA DAN GEJALA • Perubahan Fisik • Sistem Reproduksi • Uterus • Involusi : Kembalinya uterus ke kondisi normal setelah hamil. kembali mendekati ukuran seperti tidak hamil. • Tahap • Rubra (merah) : 1-3 hari. Jumlah keluaran rata-rata 240-270 ml. 1983) • PERIODE Masa nifas dibagi dalam 3 periode: • Early post partum Dalam 24 jam pertama. • Siklus Menstruasi Ibu menyusui paling awal 12 minggu rata-rata 18 minggu. • Serosa (pink kecoklatan) • Alba (kuning-putih) : 10-14 hari Lochea terus keluar sampai 3 minggu. Ibu menyusui mulai ovulasi pada bulan ke-3 atau lebih. • Lochea • Komposisi Jaringan endometrial. mendeteksi masalah. • Bau normal seperti menstruasi. • Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri. • TUJUAN ASUHAN KEPERAWATAN • Menjaga kesehatan Ibu dan bayinya. produksi mukus normal dengan ovulasi. Ibu tidak menyusui mulai pada minggu ke-6 s/d minggu ke-8. • Memberikan pelayanan keluarga berencana. untuk itu tidak menyusui akan kembali ke siklus normal. dalam 6 sampai 8 minggu. • Ovulasi Ada tidaknya tergantung tingkat proluktin. Proses ini dipercepat oleh rangsangan pada puting susu. struktur eksternal melebar dan tampak bercelah. mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. • Late post partum Minggu kedua sampai dengan minggu keenam. dibutuhkan salah satu jenis kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. jumlah meningkat saat berdiri. Ovulasi mungkin tidak terlambat. • Serviks Segera setelah lahir terjadi edema.

• Sistem Urinaria • Edema pada kandung kemih. diberikan anti RHO imunoglobin. Diastasis rekti 2-4 cm. • Pada fungsi ginjal: proteinuria. • Fungsi kembali normal dalam 4 minggu. • Jantung Kembali ke posisi normal. Sistem Imun Rhesus incompability. • Sistem Muskuloskeletal Terjadi relaksasi pada otot abdomen karena terjadi tarikan saat hamil.TK I : Kulit dan strukturnya dari permukaan s/d otot TK II : Meluas sampai dengan otot perineal TK III : Meluas sampai dengan otot spinkter TK IV : melibatkan dinding anterior rektal • Payudara Payudara membesar karena vaskularisasi dan engorgement (bengkak karena peningkatan prolaktin pada hari I-III). • Nafsu makan kembali normal. sesaria : 600 – 800 cc. • Perubahan hematologik Ht meningkat. • Sistem Integumen Hiperpigmentasi perlahan berkurang. progesteron plasma tidak terdeteksi dalam 72 jam post partum normal setelah siklus menstruasi. COP meningkat dan normal 2-3 minggu. engorgement akan berkurang dalam 2-3 hari. • Sistem Kardiovaskuler • Tanda-tanda vital Tekanan darah sama saat bersalin. Pada ibu yang tidak menyusui akan mengecil pada 1-2 hari. • Hormon pituitari Prolaktin serum meningkat terjadi pada 2 minggu pertama. urethra dan meatus urinarius terjadi karena trauma. • Kehilangan rata-rata berat badan 5. • Volume darah Menurun karena kehilangan darah dan kembali normal 3-4 minggu Persalinan normal : 200 – 500 cc. Pada payudara yang tidak disusui. kembali normal 6-8 minggu post partum. neutrophil meningkat. LH. leukosit meningkat. puting mudah erektil bila dirangsang. diuresis mulai 12 jam. suhu meningkat karena dehidrasi pada awal post partum terjadi bradikardi. • Sistem Endokrin • Hormon Plasenta HCG (-) pada minggu ke-3 post partum. menurun sampai tidak ada pada ibu tidak menyusui FSH.5 kg. RR : 16-24 x/menit. tidak ditemukan pada minggu I post partum. • Sistem Respirasi Fungsi paru kembali normal. keseimbangan asam-basa kembali setelah 3 minggu post partum. . • Sistem Gastrointestinal • Mobilitas lambung menurun sehingga timbul konstipasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful