Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA

PASIEN DENGAN POST SC


LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN POST SC

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Definisi / Pengertian
SC (Sectio caesarea) adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka
dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan
janin dari dalam rahim.
Jadi sectio caesaria adalah suatu pembedahan guna melahirkan janin lewat insisi pada
dinding abdomen dan uterus persalinan buatan, sehingga janin dilahirkan melalui perut
dan dinding perut dan dinding rahim agar anak lahir dengan keadaan utuh dan sehat
2. Tanda dan Gejala
Kejang parsial ( fokal, lokal )
a. Kejang parsial sederhana :
Kesadaran tidak terganggu, dapat mencakup satu atau lebih hal berikut ini :
Tanda tanda motoris, kedutan pada wajah, atau salah satu sisi tubuh; umumnya gerakan
setipa kejang sama.
Tanda atau gejala otonomik: muntah, berkeringat, muka merah, dilatasi pupil.
Gejala somatosensoris atau sensoris khusus : mendengar musik, merasa seakan ajtuh dari
udara, parestesia.
Gejala psikis : dejavu, rasa takut, visi panoramik.
b. Kejang parsial kompleks
Terdapat gangguankesadaran, walaupun pada awalnya sebagai kejang parsial simpleks
Dapat mencakup otomatisme atau gerakan otomatik : mengecap ngecapkan
bibir,mengunyah, gerakan menongkel yang berulang ulang pada tangan dan gerakan
tangan lainnya.
Dapat tanpa otomatisme : tatapan terpaku
Kejang umum ( konvulsi atau non konvulsi )
c. Kejang absens
Gangguan kewaspadaan dan responsivitas
Ditandai dengan tatapan terpaku yang umumnya berlangsung kurang dari 15 detik

Awitan dan akhiran cepat, setelah itu kempali waspada dan konsentrasi penuh
d. Kejang mioklonik
Kedutan kedutan involunter pada otot atau sekelompok otot yang terjadi secara
mendadak.
Sering terlihat pada orang sehat selaam tidur tetapi bila patologik berupa kedutan keduatn
sinkron dari bahu, leher, lengan atas dan kaki.
Umumnya berlangsung kurang dari 5 detik dan terjadi dalam kelompok
Kehilangan kesadaran hanya sesaat.
e. Kejang tonik klonik
Diawali dengan kehilangan kesadaran dan saat tonik, kaku umum pada otot ekstremitas,
batang tubuh dan wajah yang berlangsung kurang dari 1 menit
Dapat disertai hilangnya kontrol usus dan kandung kemih
Saat tonik diikuti klonik pada ekstrenitas atas dan bawah.
Letargi, konvulsi, dan tidur dalam fase postictal
f. Kejang atonik
Hilngnya tonus secara mendadak sehingga dapat menyebabkan kelopak mata turun, kepala
menunduk,atau jatuh ke tanah.
Singkat dan terjadi tanpa peringatan.
3. Etiologi
Operasi sectio caesarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan
menyebabkan resiko pada ibu ataupun pada janin, dengan pertimbangan hal-hal yang
perlu tindakan SC proses persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan normal
( Dystasia ).
a) Pada Ibu :

disproporsi kepala panggul/CPD//FPD

Disfungsi uterus

Distosia jaringan lunak

Plasenta previa

His lemah / melemah

b) Pada Anak :

Janin besar

Gawat janin

Letak lintang

Hydrocephalus

4. Klasifikasi
a) Sektio caesaria abdominalis
Tipe operasi sektio caesaria :

Sektio caesaria klasik atau korporal dengan insisi memanjang pada korpus uteri.

Sektio caesaria ismika atau profunda atau low cervical dengan insisi pada segmen bawah
rahim

b) Sectio caesaria transperitonialis yang terdiri dari :

Sektio caesaria ekstraperitonealis, yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan


demikian tidak membuka kavum abdominalis.

Sektio Caesaria vaginalis. Menurut sayatan pada rahim, sectio caesaria dapat dilakukan
sebagai berikut :

1) Sayatan memanjang (longitudinal) menurut Kronig


2) Sayatan melintang (transversal) menurut Kerr
3) Sayatan huruf T (T-incision)

5. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi : adanya Luka Operatif, kondisi jahitan, keadaan Luka dan kebersihan Luka
Palpasi : perdarahan, Pus pada Luka operatif, tanda tanda infeksi dan juga nyeri tekan
disekitar abdomen
6. Pemeriksaan Diagnostik / Penunjang

Test HCG Urine : sebagai Indikator kehamilan apakah Positif /Negatif

Ultra Sonografi : untuk mengetahui Kondisi janin/cavum uteria apakah terdapat


janin/sisa janin/-

Kadar Hematocrit/Ht : sebagai Status Hemodinamika untuk mengetahui adanya


Penurunan hematokrit (< 35 mg%)

Kadar Hemoglobin : sebagai Status Hemodinamika untuk mengetahui adanya Penurunan


hemoglobin atau tidak (< 10 mg%)

Kadar SDP : untuk mengetahui adanya Resiko Infeksi Meningkat(>10.000 U/dl)

Kultur : Untuk mengetahui adanya Kuman spesifik


7. Terapi / Tindakan Penanganan
a) Memberantas kejang Secepat mungkin
Diberikan antikonvulsan secara intravena jika klien masih dalam keadaan kejang,
ditunggu selama 15 menit, bila masih terdapat kejang diulangi suntikan kedua dengan
dosis yang sama juga secara intravena. Setelah 15 menit suntikan ke 2 masih kejang
diberikan suntikan ke 3 dengan dosis yang sama tetapi melalui intramuskuler, diharapkan
kejang akan berhenti. Bila belum juga berhenti dapat diberikan fenobarbital atau
paraldehid 4 % secara intravena.
b) Pengobatan penunjang
Sebelum memberantas kejang tidak boleh Dilupakan perlunya pengobatan penunjang
Semua pakaian ketat dibuka
Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung
Usahakan agar jalan nafas bebas untuk menjamin kebutuhan oksigen, bila perlu
dilakukan intubasi atau trakeostomi.
Penghisapan lendir harus dilakukan secara tertur dan diberikan oksigen.
c) Pengobatan rumat
Profilaksis intermiten
Untuk mencegah kejang berulang, diberikan obat campuran anti konvulsan dan
antipietika. Profilaksis ini diberikan sampai kemungkinan sangat kecil anak mendapat
kejang demam sederhana yaitu kira - kira sampai anak umur 4 tahun.
Profilaksis jangka panjang
Diberikan pada keadaan :
Epilepsi yang diprovokasi oleh demam
Kejang demam yang mempunyai ciri :
Terdapat gangguan perkembangan saraf seperti serebral palsi, retardasi
perkembangan dan mikrosefali
Bila kejang berlangsung lebih dari 15 menit, berdifat fokal atau diikiuti kelainan
saraf yang sementara atau menetap
Riwayat kejang tanpa demam yang bersifat genetic
Kejang demam pada bayi berumur dibawah usia 1 bulan
d) Mencari dan mengobati penyebab
8. Komplikasi
Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini antara lain :

a.

Infeksi puerperal ( Nifas )

Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari

Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit
kembung

Berat, peritonealis, sepsis dan usus paralitik

b. Perdarahan

Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka

Perdarahan pada plasenta bed

c.

Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi
terlalu tinggi
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1) Pengkajian
a) Sirkulasi
Perhatikan riwayat masalah jantung, udema pulmonal, penyakit vaskuler perifer atau
stasis vaskuler (peningkatan resiko pembentukan thrombus).
b) Integritas ego
Perasaan cemas, takut, marah, apatis, serta adanya factor-faktor stress multiple seperti
financial, hubungan, gaya hidup. Dengan tanda-tanda tidak dapat beristirahat,
peningkatan ketegangan, stimulasi simpatis.
c) Makanan/cairan
Malnutrisi, membrane mukosa yang kering pembatasan puasa pra operasi insufisiensi
Pancreas/ DM, predisposisi untuk hipoglikemia/ ketoasidosis.
d) Pernafasan
Adanya infeksi, kondisi yang kronik/batuk, merokok.
e) Keamanan

Adanya alergi atau sensitive terhadap obat, makanan, plester dan

Adanya defisiensi imun

Munculnya kanker/adanya terapi kanker

Riwayat keluarga, tentang hipertermia malignan/reaksi anestesi

Riwayat penyakit hepatic

Riwayat tranfusi darah

Tanda munculnya proses infeksi.

larutan.

2) Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul


a) Perubahan Perfusi Jaringan b.d perdarahan
b) Devisit Volume Cairan b.d perdarahan
c) Gangguan rasa nyaman: Nyeri b.d luka post operasi
d) Intoleransi Aktivitas b.d kelemahan, penurunan sirkulasi
e) Gangguan Integritas Kulit b.d tindakan pembedahan.
f)

Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, luka post operasi

3) Rencana Asuhan Keperawatan


a)

DX 1 : Perubahan Perfusi Jaringan b.d perdarahan


Tujuan : diharapkan suplai/ kebutuhan darah ke jaringan terpenuhi
Kriteria Hasil :

Conjunctiva tidak anemis

Acral hangat

Hb normal

Muka tidak pucat

Tidak lemas

TTV dalam batas normal ; Suhu : 36-37 0 C, TD : 120/80 mmHg, RR :18-20x/menit,


Nadi : 80-100 x/menit
Intervensi :
1) Jelaskan penyebab terjadi perdarahan
R/ Pasien paham tentang kondisi yang dialami
2) Monitor tanda-tanda vital
R/ Tensi, nadi yang rendah, RR dan suhu tubuh yang tinggi menunjukkan gangguan
sirkulasi darah

3) Kaji tingkat perdarahan setiap 15 30 menit


R/ Mengantisipasi terjadinya syok
4) Kolaborasi pemberian cairan infus isotonik
R/ Cairan infus isotonik dapat mengganti volume darah yang hilang akiba perdarahan.
5) Kolaborasi pemberian tranfusi darah bila Hb rendah
R/ Tranfusi darah mengganti komponen darah yang hilang akibat perdarahan.

b)

DX 2 : Devisit Volume Cairan b.d perdarahan


Tujuan: Tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan output baik
jumlah maupun kualitas.
Kriteria Hasil :

Tanda vital dalam batas normal (N: 120-60 x/mnt, S; 36-37,50 c, RR : < 40 x/mnt )

Turgor elastik , membran mukosa bibir basah, mata tidak cowong, UUB tidak cekung.
Intervensi:

1) Kaji kondisi status hemodinamika.


R/ Pengeluaran cairan akibat operasi yang berlebih merupakan faktor utama masalah
2) Ukur pengeluaran harian
R/ Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan jumlah
cairan yang hilang selama masa post operasi dan harian
3) Berikan sejumlah cairan pengganti harian
R/Tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan masif
4) Evaluasi status hemodinamika
R/ Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui pemeriksaan fisik.
5) Pantau intake dan output
R/ dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus membuat keluaran tak adekuat untuk
membersihkan sisa metabolisme.
c)

DX 3 : Gangguan rasa nyaman: Nyeri b.d luka post operasi


Tujuan : Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami

Kriteria Hasil :

Mengungkapkan nyeri dan tegang di perutnya berkurang

Skala nyeri 0-1 ( dari 0 10 )

Dapat melakukan tindakan untuk mengurangi nyeri

Kooperatif dengan tindakan yang dilakukan

TTV dalam batas normal ; Suhu : 36-37 0 C, TD : 120/80 mmHg, RR :1820x/menit, Nadi : 80-100 x/menit

Intervensi :
1) Pertahankan tirah baring selama masa akut
R/ Meminimalkan stimulasi atau meningkatkan relaksasi
2) Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya.
R/ Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi
nyeri
3) Ajarkan teknik distraksi
R/ Pengurangan persepsi nyeri
4) Kolaborasi pemberian analgetika
R/ Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan
pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum
luas/spesifik
5) Kaji intensitas, karakteristik, dan derajat nyeri
R/ Pengkajian yang spesifik membantu memilih intervensi yang tepat
d) DX 4 : Intoleransi Aktivitas b.d kelemahan, penurunan sirkulasi
Tujuan : Kllien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi
Kriteria Hasil : klien mampu melakukan aktivitasnya secara mandiri
Intervensi :

1) Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas


R/ Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti, tetapi perdarahan masif perlu
diwaspadai untuk menccegah kondisi klien lebih buruk
2) Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi luka dan kondisi tubuh umum
R/ Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ reproduksi, tetapi
dapat mempengaruhi kondisi luka post operasi dan berkurangnya energi
3) Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari.
R/ Mengistiratkan klilen secara optimal.
4) Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan /kondisi klien
R/ Mengoptimalkan kondisi klien, pada abortus imminens,

istirahat mutlak sangat

diperlukan
5) Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas
R/ Menilai kondisi umum klien.

e) DX 5 : Gangguan Integritas Kulit b.d tindakan pembedahan


Tujuan : Memperbaiki integritas kulit dan proteksi jaringan
Kriteria Hasil :

Tidak terjadi kerusakan integritas kulit


Intervensi :

1) Berikan perhatian dan perawatan pada kulit


R/ Jaringan kulit yang mengalami kerusakan dapat mengganggu suplai nutrien dan sangat
rentan terhadap tekanan serta trauma.
2) Lakukan latihan gerak secara pasif
R/ Meningkatkan mobilisasi
3) Lindungi kulit yang sehat dari kemungkinan maserasi
R/ maserasi pada kulit yang sehat dapat menyebabkan pecahnya kulit

4) jaga kelembaban kulit


R/ untuk tetap menjaga kulit yang sehat agar tetap lembab
f)

DX 6 : Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, luka post operasi


Tujuan: Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan dan luka operasi.\
Kriteria Hasil :

Tidak ada tanda tanda infeksi, seperti : merah, panas, bengkak, fungsio laesa
Intervensi :

1) Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau dari luka operasi.
R/Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. Adanya warna
yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi.
2) Terangkan pada klien pentingnya perawatan luka selama masa post operasi.
R/ Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan luka.
3) Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart.
R/ Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart.
4) Lakukan perawatan luka
R/ Inkubasi kuman pada area luka dapat menyebabkan infeksi.
5) Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda inveksi
R/ Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi; demam dan
peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi.

4) Evaluasi
a) Perubahan Perfusi Jaringan tidak terjadi
b) Devisit Volume Cairan dapat diatasi
c) Nyeri dapat diatasi
d) Klien dapat melakukan aktivitas secara mandiri
e) Gangguan Integritas Kulit tidak terjadi
f)

Infeksi tidak terjadi

DAFTAR PUSTAKA
1.

Betz Cecily L, Sowden Linda A. (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta :
EGC.

2. Sacharin Rosa M. (1996). Prinsip Keperawatan Pediatrik. Alih bahasa : Maulanny R.F.
Jakarta : EGC.
3. Ngastiyah.( 1997 ). Perawatan Anak Sakit Jakarta : EGC
4. Arjatmo T.(2001). Keadaan Gawat Yang Mengancam Jiwa. Jakarta : gaya baru
5.

Kejang Pada Anak. www. Pediatrik.com/knal.php