Anda di halaman 1dari 16

Mekanika Fluida & Hidrolika / 1

STEADY NON UNIFORM FLOW


(Aliran Mantap, Tidak Seragam)
Aliran Berubah Lambat laun (Gradually Varied Flow)
Aliran tidak seragam (non unifrom flow) dapat dibedakan menjadi 2 kelompok aliran seperti
berikut :
1. Aliran berubah lambat laun (gradually varied flow), yaitu ditandai dengan
parameter hidraulik (kecepatan dan penampang basah) berubah secara
berangsur-angsur dari penampang satu ke enampang lainnya. Kecepatan
aliran menjadi dipercepat ataupun diperlambat yang tergantung kondisi
saluran.
Jika di ujung hilir terdapat bangunan air atau bangunan bendung maka akan
terjadi profil muka air pembendungan, kecepatan aliran menjadi melambat.
Tapi jika di ujung hilir terdapat terjunan maka profil aliran akan menurun dan
kecepatan aliran menjadi meningkat (semakin cepat). Contoh : aliran di sungai
yang mengalami pembendungan akibat bangunan air (bendung), akibat
pembendungan karena penyempitan pilar jembatan, atau aliran
menjelang/sebelum terjunan.
2. Aliran berubah tiba-tiba (rapidly varied flow), yaitu ditandai dengan
parameter hidraulik (kecepatan dan penampang basah) berubah secara
mendadak dalam jarak yang relatif dekat, kadang-kadang juga tidak kontinyu.
Contoh dari aliran ini adalah aliran pada saluran yang mengalami perubahan
penamang secara mendadak (saluran transisi), loncatan air, terjunan, aliran
melalui pelimpah, aliran melalui pintu air.
Aliran Tidak Seragam (Non Uniform Flow)
Bila : v
x
v

0, dalam hal ini v0,


1
QA
A
Q
v
Q=Q(t) Q fungsi t
A=A(x) A fungsi x
A0 A tidak sama dengan 0
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Agus Suroso MT
MEKANIKA FLUIDA DAN HIDROLIKA
Mekanika Fluida & Hidrolika / 2
v0 v tidak sama dengan 0
Q0 Q tidak sama dengan 0
Sehingga : v
x
v

0 dan v 0 jadi
x
v

0

x
A
A
Q
x
A
A Q
x
A
A
A
Q
x
A
Q
x
QA
x
v

2
2
1 1 1
) (


x
A
A
Q
x
v

2

Jadi untuk 0 v
t
v

, tapi v0, maka 0


x
v

atau
x
A
A
Q

2
A0
Kesimpulan : Aliran tergolong aliran tidak seragam (Non Uniform Flow) jika :
v
x
v

0
0
x
v

0
x
A

v dan A berubah untuk pada setiap


tempat.
Contoh aliran berubah lambat laun :
Aliran yang mengalami pembendungan / pengempangan.
Aliran melewati pelimpah.
Aliran setelah keluar dari pintu air.
Aliran sesaat sebelum mengalamai penerjunan.
Anggapan Dasar yang digunakan :
1. Kehilangan tinggi tekan pada suatu penampang sama seperti pada aliran
seragam dengan kecepatan dan jari-jari hidraulik penampang sama.
2. Kemiringan dasar saluran cukup kecil sehingga :
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Agus Suroso MT
MEKANIKA FLUIDA DAN HIDROLIKA
Mekanika Fluida & Hidrolika / 3
Kedalaman aliran akan sama diukur dalam arah vertical dan tegak
lurus terhadap dasar saluran.
Faktor koreksi tekanan cos = 1
Tidak terjadi pemasukan udara.
3. Saluran prismatik, yaitu saluran yang mempunyai penampang dan kemiringan
dasar yang tetap.
4. Distribusi kevcepatan pada penampang saluran konstan.
5. Hantaran (conveyance)
n
AR
s
Q
K
) 3 / 2 (
dan
T
A
D A Z
2
mempunyai
fungsi eksponen terhadap kedalaman aliran.
6. Koefisien kekasaran tidak tergantung pada kedalaman aliran dan konstan
sepanjang bagian saluran yang ditinjau.
Persamaan Dinamik Aliran Berubah Lambat Laun
Berikut ini sketsa penampang memanjang saluran terbuka:
Gambar 1
Penurunan persamaan aliran berubah lambat laun
(Sumber : Hidrolika Saluran Terbuka)
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Agus Suroso MT
MEKANIKA FLUIDA DAN HIDROLIKA
Mekanika Fluida & Hidrolika / 4
Tinggi tekan total di atas bidang persamaan pada penampang hulu (1) adalah:
g
v
d z H
2
cos
2
+ +
(1)
dengan:
H = Tinggi tekanan total (m)
z = Jarak vertikal dasar saluran di atas bidang dasar (m)
d = Kedalaman penampang aliran (m)
= sudut kemiringan dasar saluran, dianggap konstan sepanjang saluran ditinjau
= Koefisien energi, dianggap konstan sepanjang saluran ditinjau
v = Kecepatan rata-rata aliran (m/dt)
Dasar saluran dianggap sebagai sumbu x.
Persamaan diatas didiferensialkan terhadap x sehingga :

,
_

+ +
g
v
dx
d
dx
dd
dx
dz
dx
dH
2
cos
2

(2)
Jika : kemiringan energi
dx
dH
Sf
Kemiringan dasar saluran
dx
dz
So sin
Maka persamaan (2) manjadi :

,
_

+ +
g
v
dx
d
dx
dd
So Sf
2
cos
2

atau
Sf
g
v
dx
d
dx
dd
So

,
_

+ +
2
cos
2

atau
Sf So
g
v
dx
d
dx
dd

,
_

+
2
cos
2

atau
Sf So
dd
g
v
d
dx
dd

,
_

+ )
2
(cos
2

atau
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Agus Suroso MT
MEKANIKA FLUIDA DAN HIDROLIKA
Mekanika Fluida & Hidrolika / 5
dd g v d
Sf So
dx
dd
/ ) 2 / ( cos
2
+

(3)
Persamaan (3) dikenal sebagai persamaan dinamik aliran berubah lambat laun.
Dari persamaan dan gambar 1 di atas disimpulkan :
0
dx
dd
kemiringan muka air Sw sama dengan kemiringan dasar saluran So.
0 >
dx
dd
(positif)kemiringan muka air Sw lebih kecil dari kemiringan dasar saluran So.
0 <
dx
dd
(negatif)kemiringan mukaair Sw lebih besar dari kemiringan dasar saluran
So.
Untuk persamaan-persamaan di atas dianggap konstan atau tidak tergantung dari x.
Jika kecil , maka cos 1, d y dan dd/dy dy/dx. Sehingga persamaan (3) berubah
menjadi :
( ) dy g v d
Sf So
dx
dy
/ 2 / 1
2
+

(4)
Pada persamaan-persamaan yang terdahulu telah diketahui bahwa :
V = Q/A, dengan Q konstan,
dA/dy = T
T A Z /
3

g
Q
Z
c

, maka :
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Agus Suroso MT
MEKANIKA FLUIDA DAN HIDROLIKA
Mekanika Fluida & Hidrolika / 6
2
2
2
2
3
2
3
2 2 2 2
) ( ) 2 ( 2 Z
Z
gZ
Q
gA
T Q
dy gA
dA Q
dy g
dA Q
g
v
dy
d c

,
_



(5)
Sementara itu dari rums Manning :

) 2 / 1 ( ) 3 / 2 (
1
S R
n
v , maka :

) 3 / 4 (
2 2
R
v n
Sf
dalam bentuk umum unsur
n
AR
) 3 / 2 (
dinyatakan dengan hantaran K sehingga
persamaan di atas dapat ditulis :
2
2
K
Q
Sf (6)
sehingga dapat pula dituliskan
2
2
n
K
Q
So
(7)
Persamaan (6) dibagi persamaan (7) maka akan didapat :
2
2
K
K
So
Sf
n

(8)
Persamaan ini dimasukkan ke dalam persamaan (5) maka hasilnya :
2
2
) / ( 1
) / ( 1
Z Z
K K
So
dx
dy
c
n

(9)
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Agus Suroso MT
MEKANIKA FLUIDA DAN HIDROLIKA
Mekanika Fluida & Hidrolika / 7
Ciri-Ciri Profil aliran
Untuk lengkung air balik (Backwater) atau dy/dx positif , ada 2 kemungkinan
kondisi yaitu :
1. 0 ) / ( 1
2
> K K
n
dan 0 ) / ( 1
2
> Z Z
c

n
y y >
dan
c
y y >
2.
0 ) / ( 1
2
< K K
n
dan
0 ) / ( 1
2
< Z Z
c

y y
dan
c
y y
Untuk lengkung surut muka air atau dy/dx negatif , ada 2 kemungkinan kondisi
yaitu :
1. 0 ) / ( 1
2
> K K
n
dan 0 ) / ( 1
2
< Z Z
c

n c
y y y > >
aliran super kritis.
2. 0 ) / ( 1
2
< K K
n
dan 0 ) / ( 1
2
> Z Z
c

c n
y y y > >
aliran sub kritis.
Ciri-Ciri Profil aliran
Profil aliran menunjukkan lengkung permukaan (surface curve) aliran. Jika kedalaman
aliran bertambah dalam arah aliran (hilir) maka akan menggambarkan lengkung air
balik /backwater curve. Jika kedalaman aliran berkurang dalam arah aliran (hilir) maka
akan menggambarkan lengkung surut muka air.
Profil aliran dapat digolongkan menjadi tiga belas (13) jenis yang berbeda menurut sifat
kemiringan saluran, yaitu : H2, H3, M1, M2, M3, C1, C2, C3, S1, S2, S3 dan A2, A3.
H berarti horisontal, M berarti landai (mild), C berarti kritis, S berarti curam (steep)dan A
berarti menanjak (adverse).
Untuk debit tertentu dan saluran dengan kedalaman normal dan garis kedalaman
normal serta garis kedalaman kritis membagi ruangan menjadi 3 zona yaitu :
Zona 1 = ruang di atas garis atas.
Zona 2 = ruang diantara garis atas dan garis bawah.
Zona 3 = ruang di bawah garis bawah.
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Agus Suroso MT
MEKANIKA FLUIDA DAN HIDROLIKA
Mekanika Fluida & Hidrolika / 8
Tabel 1. Jenis Profil Aliran Pada Saluran Prismatis
Kemiringan
Saluran
Zona1 Zona2 Zone3
Hubungan
y dengan
yc dan yn
Jenis
lengkung
secara umum
Jenis aliran
Mendatar
So = 0
nihil y > yn > yc Nihil Nihil
H2 yn > y > yc Surut muka
air
Sub kritis
H3 yn > y > yc Air balik Super kritis
Landai
0<So<Sc
M1 y > yn > yc Air balik Sub kritis
M2 yn > y > yc Surut muka
air
Sub kritis
M3 yn > yc > y Air balik Super kritis
Kritis
S0=Sc>0
C1 y > yc = yn Air balik Sub kritis
C2 yn = y = yc Sejajar dasar
sal.
Seragam
kritis
C3 yc = yn > y Air balik Super kritis
Terjal
S0>Sc>0
S1 y > yc > yn Air balik Sub kritis
S2 yc > y > yn Surut muka
air
Super kritis
S3 yc > yn > y Air balik Super kritis
Menanjak
S0<0
nihil y > yn > yc Nihil Nihil
A2 yn > y > yc Surut muka
air
Sub kritis
A3 yn > yc > y Air balik Super kritis
Sumber : Hidrolika saluran terbuka, Ven Te Chow
Profil M (Mild)
Profil M1 terjadi pada aliran sungai yang mengalami pembendungan akibat adanya
bangunan air, atau mengalami pembendungan akibat penyempitan penampang sungai, atau
bisa akibat belokan di sungai.Profil M1 bisa terjadi sangat panjang.
Profil M2 terjadi pada saluran landai yang bagian ujung hilirnya berupa saluran yang curam,
pelebaran saluran atau terjunan. Kedalaman air pada arah aliran adalah berkurang. Profil M2
lebih pendek dari profil M1.
Profil M3 terjadi jika air mengalir dari saluran yang curam menuju saluran yang landai, yaitu
bagian hulu dari loncatan air. Profil M3 lebih pendek dari profil M1.
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Agus Suroso MT
MEKANIKA FLUIDA DAN HIDROLIKA
Mekanika Fluida & Hidrolika / 9
Profil S (Steep)
Profil S1 terjadi pada aliran sungai di sebelah hulu bangunan bendung yang berada pada
saluran yang kemiringan dasarnya curam, dimana bagian hulunya mengalami loncatan air.
Profil S2 terjadi pada perubahan aliran dari saluran landai masuk ke saluran curam atau pada
pemasukan ke saluran curam. Profil saluran S2 terjadi sangat pendek.
Profil S3 terjadi pada aliran di belakang (hilir) pintu air yang berada pada saluran curam atau
di sebelah hilir dari perubahan saluran curam ke saluran yang tidak curam. Profil ini
merupakan bentuk peralihan antara profil M dan profil S.
Profil C (Critical)
Profil C terjadi jika So = 0 dan yn = yc, karena garis kedalaman normal dan garis kedalaman
kritis berimpit, maka hanya ada 2 profil saja yaitu C1 dan C3.
Profil H (Horizontal)
Profil H terjadi jika So = 0 dan yn = , sehingga hanya ada 2 profil saja yaitu H2 dan H3.
Profil H2 dan H3 serua dengan profil M2 dan M3 tapi untuk dasar saluran yang horisontal.
Profil A (Adverse)
Profil A terjadi jika So < 0. Karena nilai yn tidak riil, maka hanya ada 2 profil yaitu profil A2
dan A3. Profil A2 dan A3 serua dengan profil H2 dan H3.
Perhitungan Profil Muka Air
Perhitungan profil aliran berubah lambat laun (gradually varied flow) yang merupakan bagian
dari aliran tidak seragam (non uniform flow) pada dasarnya meliputi penyelesaian persamaan
dinamis dari aliran berubah lambat laun. Sasaran utama dari perhitungan ini adalah
menentukan bentuk profil aliran.
Secara umum ada 3 metode perhitungan yang diterapkan dalam erhitungan profil muka air,
yaitu :
1. Metode Integrasi Grafis (Graphical Integration Method).
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Agus Suroso MT
MEKANIKA FLUIDA DAN HIDROLIKA
Mekanika Fluida & Hidrolika / 10
2. Metode Integrasi Langsung (Direct Integration Method).
3. Metode Tahapan (Step Method).
Perhitungan biasanya dimulai dari suatu penampang yang hubungan antara elevasi muka air
(kedalaman) dan debit sudah diketahui. Penampang tersebut dikenal sebagai penampang
kontrol (titik kontrol). Perhitungan profil muka air biasanya dilakukan secara bertahap dari
satu penampang ke penampang berikutnya yang berjarak cukup kecil sehingga permukaan
air di antara kedua penampang tadi dapat didekati sebagai garis lurus.
Jika kondisi aliran adalah sub kritis, maka perhitungan dimulai dari titik aling hilir dan maju ke
arah hulu. Jika kondisi aliran superkritis, perhitungan dimulai dari hulu ke hilir.
METODE INTEGRASI GRAFIS (GRAPHICAL INTEGRATION METHOD)

Metode ini sangat luas pemakaiannya. Bisa digunakan untuk perhitungan pada saluran
prismatik maupun non prismatik dengan berbagai bentuk dan kemiringan. Dasar metode ini
adalah mengintegrasikan persamaan dinamis dari aliran berubah lambat laun secara grafis.
Suatu profil aliran seperti pada gambar berikut, mempunyai penampang di titik (1) dan (2)
dengan jarak masing-masing x1 dan x2 terhadap titik awal dengan kedalaman masing-
masing y1 dan y2.
Jarak dalam arah dasar adalah :
dy
dy
dx
dx x x x
y
y
x
x
2
1
1
2 1 2

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Agus Suroso MT
MEKANIKA FLUIDA DAN HIDROLIKA
x
1
x=x
2
-x
1
x
2
y
2
y
1
Profil aliran
y
x
Mekanika Fluida & Hidrolika / 11
Gambar : Prinsip Metode Integrasi Grafis
Luas daerah yang diarsir yang terbentuk oleh lengkung, sumbu y dan ordinat dx/dy adalah
sama dengan nilai x yang sesuai dengan y1 dan y2.
Di dalam perhitungan, x adalah jarak antara station 1 dengan station berikutnya, yang
dicari lewat bantuan grafik berupa luas daerah yang diarsir.
Contoh Soal :
Suatu saluran penampang trapesium mengalami pembendungan di bagian hilirnya.
Kedalaman aliran adalah 2.50 m di dekat bangunan bendung. Data-data lainnya seperti
berikut :
Lebar dasar B = 6.10 m
Kemiringan dinding saluran m = 2 (1 vertikal dan 2 horisontal)
Kemiringan dasar saluran So = 0.0016
Koefisien kekasaran Manning n = 0.025
Debit yang mengalir Q = 20 m3/dt
Pertanyaan :
Hitung profil muka air (back water profile) akibat pembendungan tersebut.
Langkah-langkah penyelesaian :
1. Menuliskan semua unsur-unsur geometrik penampang saluran :
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Agus Suroso MT
MEKANIKA FLUIDA DAN HIDROLIKA
dy
(dx/dy)
1
(dx/dy)
2
y
2
y
1
y
0
dx/dy
(dx/dy)
x
Mekanika Fluida & Hidrolika / 12
2
) .( . Y m Y B A + =
2
) ).( 2 ( ). 10 . 6 ( Y Y A +
Y m B T . 2 + =
Y ) 2 .( 2 ) 10 . 6 ( +
= Y . 4 10 . 6 +
) 1 ( 2
2
m Y B P + + = ) 2 1 ( 2 10 . 6
2
+ + Y = Y 472 . 4 10 . 6 +
2. Mencari kedalaman kritis Yc.
Kedalaman kritis dicari dengan persamaan
1
.
.
3
2

A g
T Q
sehingga :
1
) 2 10 . 6 .(
) 4 10 . 6 .( ) 20 (
3 2
2

+
+
Y Y g
Y
Dengan cara coba-coba (dilanjutkan dengan interpolasi linier) maka didapat harga Y =
0.925 m. (dalam hal ini Y kritis atau Yc).
3. Mencari kedalaman normal Yn
Kedalaman normal dicari dengan menggunakan persamaan hukum kontinuitas.
v A Q .
2 / 1 3 / 2
1
S R
n
v sehingga :
2 / 1 ) 3 / 2 (
1
. S R
n
A Q
2 / 1
3 / 2
2
2
0016 . 0
472 . 4 10 . 6
2 10 . 6 1
) 2 10 . 6 ( 20
1
]
1

+
+
+
Y
Y Y
n
Y Y
Dengan cara coba-coba dilanjutkan dengan interpolasi linier didapatkan Yn = 1.40 m.
Sehingga dari perhitungan di atas sudah diketahui :
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Agus Suroso MT
MEKANIKA FLUIDA DAN HIDROLIKA
Mekanika Fluida & Hidrolika / 13
Y = 2.50 m Yc = 0.925 m Yn = 1.40 m atau
Y>Yn>Yc, dengan melihat ke tabel Jenis Profil Muka Air, maka profil alirannya tergolong
M1, karena (Y>Yn>Yc).
4. Menghitung faktor penampang pada kondisi aliran kritis Zc.
39 . 6
81 . 9
20

g
Q
Zc
5. Menghitung hantaran (conveyance) pada kondisi normal Kn.
500
0016 . 0
20

S
Q
Kn
6. Menghitung unsur geometris penampang saluran yang lainnya
untuk Y = 2.5 m, yaitu:
10 . 16 ) 5 . 2 .( 4 10 . 6 + T
m
+
2
) 5 . 2 ( 2 ) 5 . 2 ( 10 . 6 A 27.75 m
28 . 17 ) 5 . 2 ( 472 . 4 10 . 6 + P
m
61 . 1
28 . 17
75 . 27
R m
37 . 1 61 . 1
3 / 2 3 / 2
R m
Hantaran 1521
025 . 0
37 . 1 75 . 27 .
3 / 2

x
n
R A
K
Faktor penampang 43 . 36
10 . 16
75 . 27
3 3

T
A
Z
679
) 1521 / 500 ( 1
) 43 . 36 / 39 . 6 ( 1
0016 . 0
1
) / ( 1
) / ( 1 1
2
2
2
2

K Kn
Z Zc
So dy
dx
Dari perhitungan unsur-unsur geometris
di atas, maka untuk mempermudah perhitungan dibuat tabel seperti berikut dengan nilai
Y yang lainnya.
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Agus Suroso MT
MEKANIKA FLUIDA DAN HIDROLIKA
Mekanika Fluida & Hidrolika / 14
Rumus :
data-data lain :
B = 6.1 m Zc = 6.39
R=A/P m = 2 Kn = 500
n = 0.025
So = 0.0016
Y T A P R R2/3 K Z dx/dy A X
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11)
2.50 16.10 27.75 17.28 1.61 1.37 1522 36.43 679 - -
2.40 15.70 26.16 16.83 1.55 1.34 1404 33.77 690 68.46 68.46
2.30 15.30 24.61 16.39 1.50 1.31 1291 31.21 704 69.73 138.19
2.20 14.90 23.10 15.94 1.45 1.28 1183 28.76 723 71.39 209.58
2.10 14.50 21.63 15.49 1.40 1.25 1081 26.42 749 73.60 283.18
2.00 14.10 20.20 15.04 1.34 1.22 983 24.18 784 76.63 359.81
1.90 13.70 18.81 14.60 1.29 1.18 891 22.04 836 80.98 440.79
1.80 13.30 17.46 14.15 1.23 1.15 803 20.01 916 87.58 528.37
1.70 12.90 16.15 13.70 1.18 1.12 721 18.07 1054 98.50 626.87
1.60 12.50 14.88 13.26 1.12 1.08 643 16.23 1337 119.54 746.41
1.50 12.10 13.65 12.81 1.07 1.04 570 14.50 2193 176.49 922.89
1.40 11.70 12.46 12.36 1.01 1.01 501 12.86 111579 5688.59 6611.49
Tabel Perhitungan Profil Aliran Metode Integrasi Grafis
138.19 = 68.46+69.73
(komulatif)
68.46 = 0.5x(679+690)x0.1
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Agus Suroso MT
MEKANIKA FLUIDA DAN HIDROLIKA
Mekanika Fluida & Hidrolika / 15
hubungan dx/dy vs Y
600
700
800
900
1.70 1.80 1.90 2.00 2.10 2.20 2.30 2.40 2.50 2.60
Y
dx/dy
A =
68.46
690 679
0.10
704
723
749
7. Dibuat kurva hubungan antara dx/dy sebagai sumbu vertikal
dan Y sebagai sumbu horisontal seperti gambar di atas.
8. A diukur dari grafik tersebut, yaitu berupa luasan yang diarsir
(dianggap trapesium) di antara kurva dengan sumbu Y (sumbu horisontal). Contoh di
atas A yang merupakan daerah yang diarsir dapat dihitung dengan membuat rata-rata
sumbu vertikalnya yaitu A = 0.5x(679+690) x 0.1 = 68.46. Untuk A lainnya berarti
daerah yang diarsir berikutnya A = 0.5x(690+704) x 0.1 = 69.73. Hasilnya adalah
ditabelkan di atas.
9. Harga X pada kolom (11) tabel di atas adalah harga komulatif
dari A. Contoh
138.19 = 68.46 + 69.73
209.58 = 138.19 + 71.39 dan seterusnya.
10. Profil kurva air balik (backwater curve) bisa digambarkan
dengan memplot sumbu X (jarak mendatar) dengan Sumbu Y (kedalaman aliran).
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Agus Suroso MT
MEKANIKA FLUIDA DAN HIDROLIKA
Mekanika Fluida & Hidrolika / 16
Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Ir. Agus Suroso MT
MEKANIKA FLUIDA DAN HIDROLIKA