Anda di halaman 1dari 5

contoh pelanggaran ham di sekolah

Anak Buah Hasanudin Dituntut 20 Tahun Penjara

Jakarta - Setelah otak kasus mutilasi 3 siswi SMU Poso, Hasanudin, menjalani sidang tuntutan, kini giliran anak buahnya, Lilik Purnomo dan Irwanto Irano. Keduanya dituntut 20 tahun penjara. Tuntutan dibacakan secara bergantian oleh JPU Firmansyah dan Muji Raharjo di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Jalan Gadjah Mada, Rabu (21/2/2007). Hasanudin sebelumnya juga dituntut 20 tahun bui. Wajah Lilik yang terbalut kemeja warna ungu bermotif garis-garis dan Irwanto yang memakai kemeja warna hijau terlihat tenang mendengarkan tuntutan itu. "Kedua terdakwa telah memenuhi dakwaan pertama yakni pasal 15 jo pasal 7 Perpu nomor 1/2002 jo pasal 1 UU 15/2003 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme," kata Muji di hadapan majelis hakim yang diketuai Liliek Mulyadi. Hal-hal yang memberatkan adalah terdakwa melakukan perbuatan yang sadis dan tidak berkemanusiaan sehingga mengakibatkan 3 orang meninggal dunia dan 1 orang luka-luka. Akibat perbuatan terdakwa mengakibatkan masyarakat resah khususnya masyarakat Bukit Bambu, Poso. Hal-hal meringankan, terdakwa belum pernah dihukum, bersikap sopan, mengakui kesalahan dan tidak mempersulit persidangan dan telah dimaafkan oleh keluarga korban. "Kami meminta kepada majelis hakim agar kedua terdakwa bersalah dan masing-masing dijatuhi hukuman 20 tahun dikurangi masa tahanan," kata Muji. Kuasa hukum terdakwa Abu Bakar Rasyide meminta waktu 10 hari kepada majelis hakim untuk menyusun pledoi atau pembelaan. Namun permintaan itu ditolak. "Kan perpanjangan penahanan habis 20 Maret. Menurut surat edaran MA, 10 hari sebelum berakhir harus sudah diputus," kata Liliek. Majelis hakim akhirnya memutuskan sidang dilanjutkan pada 5 Maret dengan agenda pembacaan pledoi. Usai sidang, Lilik terlihat adem ayem menanggapi putusan itu. "Kan baru sebatas tuntutan, nanti ada upaya lain," sahutnya sambil nyengir. Sedangkan Abu mengaku tuntutan itu terlalu berat lantaran kliennya hanya sebatas menjalankan perintah Hasanudin, otak mutilasi siswi Poso.

Contoh Pelanggaran HAM yang Terjadi di Sekolah Tarik Biaya Sekolah Kepsek Bisa Dituduh Pelanggaran HAM

Jakarta Sekolah yang memungut biaya sekolah anak terutama pada keluarga miskin, bisa dikenakan pelanggaran HAM, karena salah satu hak anak yang dilindungi negara adalah hak untuk mendapatkan pendidikan secara cuma-cuma.Apalagi masyarakat miskin termasuk dalam golongan yang dilindungi Undang-undang untuk mendapatkan pendidikan cuma-cuma. Kepala sekolah dapat dikenai pasal pelanggaran HAM, demikian pengamat pendidikan Ade Irawan dari Koalisi Pendidikan di Jakarta, Senin (14/7).Menurutnya pihak Koalisi Pendidikan sudah mendirikan pos-pos pengaduan di beberapa daerah untuk menampung semua keluhan masyarakat termasuk soal pungutan biaya sekolah anak. Namun masyarakat bisa langsung mengadukan pada Komnas HAM dan Komisi Perlindungan Anak, katanya.Dinas Pendidikan dan Kepala Sekolah diisyaratkan berhati-hati menetapkan biaya pendidikan tinggi karena bisa menutup ruang bagi masyarakat tidak mampu mengenyam pendidikan, dan akhirnya bisa dilaporkan pelanggaran Hak Azazi Manusia (HAM) di bidang pendidikan. "Kepsek perlu hati-hati menetapkan biaya pendidikan tinggi, karena jika memberatkan masyarakat apalagi bagi siswa miskin, dapat dilaporkan sebagai pelanggaran HAM," kata praktisi hukum dari LBH Padang, Sudi Prayitno, di Padang, Sabtu (12/7).Dia mengatakan hal tersebut, terkait sejumlah sekolah setingkat SD, SMP dan SMA di Kota Padang menetapkan biaya tinggi bagi siswa barunya.Informasi yang terhimpun di Kota Padang, biaya masuk sekolah bagi siswa baru setingkat SMP mulai Rp 315.000/siswa sampai Rp 445.000/siswa dan untuk siswa SMA dipungut rata-rata diatas Rp1 juta /siswa termasuk uang pembangunan.Sudi mengatakan, biaya pendidikan tersebut dinilainya tinggi dan memberatkan masyarakat dan bisa dilaporkan sebagai bentuk pelanggaran HAM apalagi kondisi itu mengakibatkan terhambatnya sebagian masyarakat mengenyam bangku sekolah.Pendidikan itu, katanya, telah diatur konstitusi, jadi jika penyelenggaraannya terkesan memberatkan maka dapat dilaporkan sebagai pelanggaran HAM dan konstitusi. "Semestinya pendidikan bisa dinikmati masyarakat dengan biaya murah, karena telah diatur oleh konstitusi dan juga banyak bantuan lainnya untuk biaya pendidikantersebut," katanya. (web warouw/ant)

107 Juta Perempuan Di Afrika Tak Tahu Toilet

Banyak kawasan di Afrika yang dilanda kekeringan dalam beberapa puluh tahun terakhir, sehingga menciptakan masalah kelaparan, kematian, dan kehilangan ternak. Namun di kawasan yang tidak mengalami masalah kekeringan pun, ratusan juta penduduk tidak terakses sanitasi dan air minum yang aman. Kaum perempuan paling terpengaruh oleh kondisi ini, karena mereka lah yang harus menghabiskan berjam-jam untuk mencari air atau mencari fasilitas sanitasi, ketimbang sekolah atau bekerja. Sebanyak 297 perempuan dewasa dan anak-anak perempuan Afrika kekurangan akses sanitasi yang memadai dan aman, bahkan 107 juta di antara mereka tidak mampu ke toilet sama sekali. Survei yang digelar oleh WaterAid untuk memeringati World Toilet Day pada 19 November 2012 mendapati bahwa tujuh dari 10 perempuan di pinggiran Sahara tidak punya akses ke toilet yang aman. Hal ini tidak hanya mengancam kesehatan mereka, tetapi juga membuat mereka malu, ketakutan, dan menjadi korban kekerasan. Sebanyak satu dari lima perempuan menjadi korban pelecehan dan intimidasi secara verbal, atau pernah diancam atau diserang secara fisik karena mencoba menggunakan toilet. Tidak adanya tempat pribadi yang aman untuk ke toilet menempatkan mereka dalam posisi yang rentan, namun ketika mereka melakukan aktivitas pribadi itu di tempat terbuka mereka berisiko mengalami pelecehan, ungkap Barbara Frost, chief executive WaterAid. Perempuan enggan membicaraka n atau protes mengenai hal itu, tapi dunia tidak bisa terus mengabaikan hal ini. Selain berpotensi mengalami pelecehan, masalah higienitas yang rendah juga memberikan efek yang serius pada kesehatan. Setiap hari, lebih dari 1.000 perempuan Afrika kehilangan anak karena penyakit diare yang berkepanjangan.

Suriah Menghadapi Krisis Kemanusiaan Yang Mencemaskan

Timur Tengah menghadapi krisis kemanusiaan mencemaskan akibat konflik di Suriah, kata sebuah badan amal. Dengan lebih dari 600.000 warga Suriah melarikan diri dari negara itu, International Rescue Committee meminta dunia luar untuk meningkatkan respon. IRC menyebut tingkat pemerkosaan dan kekerasan seksual yang timbul dalam konflik itu mengerikan. PBB memperkirakan 60.000 orang tewas dalam kekerasan yang dimulai pada Maret 2011. Selain orang yang meninggalkan negara itu, sedikitnya dua juta orang kehilangan tempat tinggal di Suriah. IRC mengatakan banyak pengungsi menyebut pemerkosaan sebagai alasan utama mereka meninggalkan Suriah dan mengatakan hal itu adalah kejahatan terbanyak dari perang tersebut. Pemerkosaan bahkan kerap dilakukan di hadapan anggota keluarga, kata badan itu. Kelompok tersebut mengkritik apa yang mereka katakan sebagai kurangnya dukungan medis dan psikologis untuk para korban perang. IRC mengatakan bantuan internasional sangat tidak cukup untuk krisis yang terus memburuk. Kelompok itu mengatakan ada satu wilayah permukiman yang porak poranda dan warganya terus berpindah pindah dari satu desa ke desa lain untuk menghindari pertempuran. Beberapa hari terakhir, wilayah itu dilanda musim dingin terburuk dalam 20 tahun sehingga kondisi para pengungsi semakin memprihatinkan. Di antara kelompok pengungsi Suriah di lembah Bekaa Lebanon, tidak ada satu anak pun yang mengenakan pakaian musim dingin, kata wartawan BBC lyse Doucet. Semua pengungsi kedinginan dan terserang flu, bahkan banyak yang tidak mengenakan sepatu. Pekan lalu, sebuah badan PBB memperingatkan satu juta warga Suriah terserang kelaparan. World Food Program (WFP) mengatakan mereka membantu 1,5 juta warga Suriah namun pertempuran yang terjadi dan tak berfungsinya pelabuhan Tartus untuk mengantar makanan berarti banyak orang tidak dapat menerima bantuan.

Tawuran Antar Mahasiswa Di Makassar

Dua peristiwa tawuran antarmahasiswa terjadi di Kota Makassar, Kamis (11/10/2012). mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) terlibat tawuran dengan mahasiswa Fakultas Teknik UVRI, Kamis (11/10/2012) di kampus UVRI, Jalan Antang Raya Kecamatan Manggala. Menurut informasi yang dihimpun di sekitar lokasi kejadian, tawuran mahasiswa dua fakultas dalam satu kampus ini dipicu oleh lemparan batu yang mengena salah seorang mahasiswi Fakultas Teknik pada Rabu (10/10/2012) malam. Mahasiswa Fakultas Teknik menuding, pelaku pelemparan batu itu adalah mahasiswa FKIP. Akhirnya mahasiswa Teknik membalasnya dengan melemparkan batu ke mahasiswa FKIP yang lokasinya tak terlalu jauh itu. Aksi saling lempar itu kemudian bisa reda setelah petugas kepolisian dari Polsek Manggala mendatangi tempat kejadian perkara dibantu dengan pihak rektorat UVRI. Kepala Polsekta Manggala Ajun Komisaris Polisi (AKP) Muh Untung yang berada di TKP di kampus UVRI membenarkan kejadian tersebut. Semuanya bisa direda, karena proaktif pihak kampus yang segera menelepon petugas dan menenangkan mahasiswanya. Sekarang kami sementara memanggil perwakilan kedua fakultas tersebut untuk duduk bersama mencari solusi, katanya. Untung menyatakan tidak ada korban jiwa dalam tawuran antarfakultas di UVRI itu. Iya tidak ada korban jiwa dalam bentrok ini, terangnya. Sementara itu, menurut informasi yang diperoleh, aksi tawuran juga terjadi Universitas Negeri Makassar (UNM) Parang Tambung. Sejumlah mahasiswa yang terlibat tawuran terkena anak panah. Korban kini masih mendapatkan pertolongan tim medis di RS Haji Jalan Daeng Tata, Makassar. Belum diketahui penyebab pasti tawuran itu, namun aparat kepolisian dari Polsekta Tamalate yang terjun ke lokasi bentrokan berupaya menenangkan situasi