Anda di halaman 1dari 26

MAIMU MEDIA

Thursday, July 18, 2013


Pengertian Defleksi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Teknologi yang semakin maju dan canggih di era ini mungkin sudah menjadi hal yang tidak
asing bagi civitas akademika, khususnya bagi yang mengambil jurusan teknik mesin. Di era
sekarang ini mungkin sudah banyak perangkat-perangkat lunak yang mudah aplikasinya,
hanya dengan desain langsung pemodelan maka informasi yang didapat bisa sekaligus,
bahkan jenis material sekalipun bisa diatur dalam perangkat lunak tersebut hanya dengan
beberapa klik kemudian informasi yang dibutuhkan akan segera muncul. Berkaitan dengan
teknik mesin, banyak sekali ilmu yang wajib dipelajari, dari mulai rancang konstruksi,
struktur sasis otomotif, konstruksi crane/alat angkat, dan banyak lagi yang lainnya. Diantara
jenis ilmu tersebut ada yang selalu berkaitan dengan defleksi/lendutan dimana kontruksi
crane didesain untuk mengangkat beban dan akan terjadi lendutan konstruksi tersebut pada
saat mengangkat beban, dimana kendaraan otomotif akan terjadi lendutan jika melewati jalan
berlubang pada kaki-kakinya, dan lain sebagainya.
Pada dasarnya ilmu perhitungan lendutan mungkin mudah didapat hanya dengan perangkat
lunak desain, hanya dengan klik-klik saja, spesifikasi desain yang diinginkan sudah didapat
informasinya. Tetapi sebagai civitas akademika yang baik, ilmu-ilmu perumusan/perhitungan
seperti perhitungan defleksi tetap harus dipelajari dengan baik, karena dari sini semua basic
ilmunya didapat. Dan dengan mempelajari ilmu basic maka akan dengan mudah ketika
mengaplikasikan perhitungan tersebut ketika ditemukan dilapangan.
Perhitungan defleksi ini identik dengan spesifikasi baja yang digunakan, profil baja, maka
dengan itu, dibutuhkan pula data spesifikasi dari material yang digunakan agar pada saat
perhitungan didapat hasil yang baik dan siap diaplikasikan.




1.2 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Menentukan serta mengetahui besarnya defleksi yang terjadi pada suatu batang segi empat
dengan jenis material yang berbeda dan variasi jarak pada tumpuan.
b. Membandingkan hasil defleksi secara teoritis dengan eksperimental.

1.3 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini diharapkan dapat memberi gambaran bagaimana defleksi itu terjadi
dan akibat yang ditimbulkan., serta dapat menghitung defleksi yang terjadi pada sebuah
perencanaan desain konstruksi.
BAB II
LANDASAR TEORI

1. Dasar Teori Defleksi
Pada konstruksi teknik, hampir dipastikan semuanya memerlukan perhitungan-perhitungan
yang baik agar desain yang dibangun dan saat diaplikasikan benar-benar kuat dan berfungsi.
Hal-hal tersebut berkaitan dengan gaya-gaya yang menjadi tanggungan desain konstruksi
tersebut. Saat menerima gaya, konstruksi akan mengalami defleksi sesuai dengan gaya yang
diterima dan jenis material yang digunakan untuk konstruksi tersebut.
Defleksi adalah perubahan bentuk pada balok dalam arah y akiat adanya pembebanan
vertikal yang diberikan kepada balok atau batang tersebut. Defleksi diukur dari permukaan
netral awal ke posisi netral setelah terjadi deformasi.

Gambar 1.
(a)Balok sebelum terjadi deformasi, (b)Balok dalam konfigurasi terdeformasi

Jarak perpindahan y didefinisikan sebagai defleksi balok. Pada kriteria kekuatan, desain beam
haruslah cukup kuat untuk menahan gaya geser dan momen lentur, sedangkan pada kriteria
kekakuan, desain haruslah cukup kaku untuk menahan defleksi yang terjadi agar batang tidak
melendut melebihi batas yang telah diizinkan.
Adapun hal-hal yang dapat mempengaruhi besar kecilnya defleksi adalah
a. Besar dan jenis pembebanan.
b. Jenis tumpuan.
c. Jenis material.
d. Kekuatan material.
Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi besar kecilnya defleksi adalah jenis
tumpuan, dan berikut adalah beberapa jenis tumpuan yang sering digunakan:
a. Tumpuan Jepit.
Tumpuan jepitan merupakan tumpuan yang dapat menahan momen dan gaya dalam arah
vertikal maupun horizontal.
b. Tumpuan Engsel.
Tumpuan engsel merupakan tumpuan yang dapat menahan gaya horizontal maupun gaya
vertical yang bekerja padanya.
c. Tumpuan Rol.
Tumpuan rol merupakan tumpuan yang bias menahan komponen gaya vertikal yang bekerja
padanya.
Salah satu factor yang mempengaruhi besarnya defleksi pada batang adalah jenis
beban yang diberikan kepadanya, dan berikut jenis pembebanan :
a. Beban Terpusat
b. Beban Terbagi Merata
c. Beban Bervariasi Uniform
Adapun metode-metode yang dapat digunakan dalam perhitungan lendutan/defleksi pada
balok yaitu :
a. Metode integrasi
b. Metode luas diagram momen
c. Metode superposisi
d. Metode energi
e. Metoda konyugat
Metoda integrasi dan metoda diagram momen digunakan untuk menganalisis hasil
dalam penelitian ini. Untuk menyelesaikan masalahmasalah perhitungan defleksi, maka
diperlukan syarat-syarat batas, antara lain :
a. Pada tumpuan jepit defleksi dan slope adalah sama dengan nol.
b. Pada tumpuan rol dan engsel, defleksi dan momen sama dengan nol.
c. Pada ujung bebas, momen lentur dan gaya geser sama dengan nol.
Untuk setiap batang yang ditumpu akan melendut apabila diberikan beban yang cukup
besar. Lendutan batang disetiap titik dapat dihitung dengan menggunakan metode diagram
atau cara integral ganda dan untuk mengukur gaya yang digunakan. Lendutan sangat penting
dalam konstruksi terutama dalam konstruksi mesin. Dimana pada bagian-bagian terntentu
seperti poros lendutan sangat tidak diinginkan, karena adanya lendutan maka operasi mesin
menjadi tidak normal sehingga dapat menimbulkan kerusakan pada bagian mesin.
Elastisitas merupakan sifat yang menyebabkan sebuah benda kembali ke bentuk
semula apabila gaya yang bekerja padanya dihilangkan. Sebuah benda yang kembali
sepenuhnya kepada bentuk semula dikatakan elastic sempurna, sedang benda yang tidak
kembali sepenuhnya kepada bentuk semula dikatakan elastic parsial. Dalam hal benda elastis
sempurna, usaha yang dilakukan oleh gaya-gaya luar selama deformasi sepenuhnya
ditransformasikan menjadi energi potensial regangan, sedangkan dalam hal benda elastis
parsial sebagian dari usaha yang dilakukan oleh gaya luar selama deformasi diubah ke dalam
bentuk panas yang timbul dalam benda tersebut selama berlangsungnya deformasi non
elastis. Sifat di atas dapat diamati melalui pengujian tarik, dimana tegangan berbanding lurus
dengan regangan yang terjadi sampai pada batas yang disebut batas elastis dimana hukum
Hooke masih berlaku.

2. Rumus-Rumus Persamaan yang Digunakan
2.1 Defleksi
Ada beberapa rumus yang digunakan dalam menghitung defleksi ini tergantung
kepada jarak dimana beban bertumpu, untuk beban yang terletak ditengah-tengah panjang
balok maka rumus perhitungannya sebaggai berikut :
Rumus untuk posisi benda ketika di tengah :



= Defleksi
P = Gaya (Newton)
L = Panjang batang (m)
E = Modulus Elastisitas (Pa)
I = Momen Inersia (N.m)


Rumus untuk posisi benda ketika berada di
1
/
3
dari panjang total
= [3L
2
4a]
= Defleksi
P = Gaya (Newton)
a = Panjang batang tertentu (m)
E = Modulus Elastisitas (Pa)
I = Momen Inersia (N.m)
L= Panjang batang total (m)
2.2 Gaya
Untuk menghitung gaya, rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :
P = m . g
Dimana : P = Gaya (N)
m = massa benda (kg)
g = gaya gravitasi (m/s)

2.3 Momen Inersia (I)
Rumus yang digunakan untuk menghitung momen inersia adalah sebagai berikut :
I
zz =
bh
3

I
zz
= Momen Inersia
b = lebar batang (m)
h = tinggi batang (m)

2.4 Momen Puntir
Rumus Momen puntir :
M = F x d
M = Momen Puntir (N.m)
F = Gaya (Newton)
d = Jarak/panjang lengan (m)









BAB III
PRAKTIKUM

3.1 Bahan & Peralatan yang Digunakan
Pada praktikum pengujian defleksi kali ini metode yang digunakan adalah menguji defleksi
dari batang yang diletakan diatas tumpuan dan diberikan beban dengan letak pembebanan
dan dari panjang batang. Dan berikut adalah peralatan dan bahan yang digunakan dalam
praktikum pengujian defleksi ini :
-. Bahan, sebagai batang yang akan diberi beban, terdiri dari 2 macam material :
a. Baja karbon St60 dengan bentuk square bar dan dimensi sebagai berikut :

Modulus Elastisitas Baja (E) = 200 Gpa
b. Aluminium dengan bentuk square bar dan dimensi sebagai berikut :

Modulus Elastisitas Aluminium (E) = 80 Gpa
Sedangkan alat-alat yang digunakan untuk pengujian defleksi ini adalah :
a. Dial gauge dengan ketelitian 0,01 mm untuk mengukur besarnya lendutan/defleksi
yang terjadi.
b. Mistar sebagai pengukur jarak.
c. Tumpuan terdiri dari tumpuan jepit, engsel, dan tumpuan rol untuk menumpu batang uji
selama pengujian defleksi.
d. Pembebanan dengan berat 500 gram dan 1000 gram
3.2 Prosedur Praktikum
Pada percobaan kali ini, dilakukan beberapa tingkat pembebanan yaitu dengan melakukan
seting pembebanan pada jarak tertentu. Prosedur untuk melakukan percobaan ini adalah
sebagai berikut:
1. Letakkan benda kerja yang sudah disiapkan pada posisi tumpuan dan penggaris serta
dial gauge pada posisi peletakan beban
2. Kalibrasi load cell dan dial gage
3. Set pembebanan pada batang baja dan aluminium dengan jarak tertentu
4. Pada kapasitas tertentu yang telah ditentukan, amati dan catat parameter dibawah ini:
Tinggi permukaan pada meteran



Besar pembebanan kiri dan kanan pada load cell
Besar Defleksi linier pada dial
Ulangi langkah 1-3 dengan beban dan letak beban yang telah ditentukan.
Diagram percobaan defleksi dapat dilihat pada ragkaian dibawah ini :

Diagram uji defleksi

Analisa data yang dilakukan dalam pengujian defleksi ini adalah untuk mengetahui besarnya
momen yang terjadi serta besarnya defleksi yang terjadi pada batang setelah diberikan beban
dengan berat beban yang berbeda serta jarak peletakan beban yang berbeda pula.











BAB IV
HASIL & PEMBAHASAN PRAKTIKUM
4.1 Hasil
Untuk menganalisa defleksi yang terjadi pada penelitian ini didasarkan pada hasil
perhitungan dan hasil pengamatan serta grafik hubungan antara jarak dengan defleksi yang
terjadi. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan diperoleh beberapa hasil sebagai berikut
:
4.1.1 Pengujian batang baja pada jarak l(panjang batang) = 47.5 cm,
m=0.5 kg, P=4.905 N, b= 3.2 cm , h= 0.5 cm



Tabel 1 Hasil Pengujian Defleksi
N
o
R
Kiri
R
Kana
n
Tekanan Terbaca Pada
Tumpuan

Defleksi
(Dial)
Batang
terbaca-
tumpuan Sebelu
m
Setela
h
Rata
2
(sblm-
ssdh)
1 0.22 0.25 14.8 14.6 0.2 cm 3.95*0.05 =
0.1975
0.2-0.1975 =
0.002
2 0.21 0.25 14.8 14.6 0.2 cm 3.9*0.05 =
0.195
0.2-0.195 =
0.005
3 0.23 0.26 14.8 14.5 0.3 cm 3.95*0.05 =
0.1975
0.3-0.1975 =
0.102
4 0.22 0.25 14.8 14.7 0.1 cm 3.95*0.05 =
0.1975
0.1-0.1975 = -
0.097
5
0.22 0.25 14.8 14.6 0.2 cm 3.95*0.05 =
0.1975
Rata-Rata
0.2-0.1975 =
0.002
0.0028


4.1.2 Pengujian batang baja pada jarak l(panjang batang) = 47.5 cm,
m=1 kg, P=9.81 N, b= 3.2 cm, h=0.5 cm

Tabel 2 Hasil Pengujian Defleksi
No R
K
iri
R
Ka
nan
Tekanan Terbaca
Pada Tumpuan

Defl
eksi
(Dia
l)

Bata
ng
terb
aca-

tump
uan
Sebe
lum
Set
elah
Rat
a
2
(sb
lm-
ssd
h)
1 0.
4
7
0.4
9
14.8 14.
4
0.4
cm
7.8*
0.05
=
0.39
0.4-
0.39
=
0.01
2 0.
4
7
0.4
8
14.8 14.
5
0.3
cm
7.8*
0.05
=
0.39
0.3-
0.39
= -
0.09
3 0.
4
7
0.4
7
14.8 14.
4
0.4
cm
7.9*
0.05
=
0.39
5
0.4-
0.39
5 =
0.00
5
4 0.
4
8
0.4
7
14.8 14.
3
0.5
cm
7.7*
0.05
=
0.38
5
0.5-
0.38
5 =
0.11
5
5
0.
4
8
0.4
9
14.8 14.
4
0.4
cm
7.8*
0.05
=
0.39
Rata
-
Rata
0.4-
0.39
=
0.01
0.01

4.1.3 Pengujian batang baja pada jarak l(panjang batang) = 23.75 cm,
m=1 kg, P = 9.81 N, b= 3.2 cm , h= 0.5 cm


Tabel 3 Hasil Pengujian Defleksi
No R R Tekanan Terbaca
Ki
ri
Ka
nan
Pada Tumpuan Defl
eksi
(Dia
l)
Bata
ng
terb
aca-

tump
uan
Sebe
lum
Set
elah
Rat
a
2
(sbl
m-
ssd
h)
1 0.
67
0.2
7
14.8 14.
5
0.3
cm
7.9*
0.05
=
0.39
5
0.3-
0.39
5 = -
0.09
5
2 0.
66
0.2
6
14.8 14.
6
0.2
cm
7.8*
0.05
=
0.39
0.2-
0.39
= -
0.19
3 0.
67
0.2
7
14.8 14.
5
0.3
cm
7.9*
0.05
=
0.39
5
0.3-
0.39
5 = -
0.09
5
4 0.
65
0.2
7
14.8 14.
4
0.4
cm
7.9*
0.05
=
0.39
5
0.4-
0.39
5 = -
0.09
5
5
0.
67
0.2
5
14.8 14.
5
0.3
cm
7.6*
0.05
=
0.39
5
Rata
-
Rata
0.3-
0.39
5 = -
0.09
5
-
0.11
4

4.1.4 Pengujian batang baja pada jarak l(panjang batang) = 23.75 cm, m=0.5 kg, P =
4.905 N, b= 3.2 cm, h=0.5 cm

Tabel 4 Hasil Pengujian Defleksi
No R
Kiri
R
Kana
n
Tekanan Terbaca Pada
Tumpuan
Defleksi
(Dial)
Batang
terbaca-
tumpuan Sebelu
m
Setela
h
Rata
2
(sblm-
ssdh)
1 0.32 0.12 14.8 14.75 0.05 cm 3.95*0.05 =
0.197
0.050.197= -
0.14
2 0.33 0.10 14.8 14.7 0.1 cm 3.9*0.05 =
0.195
0.1 0.195 = -
0.095
3 0.32 0.11 14.8 14.65 0.15 cm 3.95*0.05 =
0.197
0.15 0.197= -
0.04
4 0.31 0.12 14.8 14.75 0.05 cm 4*0.05 = 0.2 0.050.2 = -
0.15
5
0.32 0.12 14.8 14.7 0.1 cm 3.9*0.05 =
0.195
Rata-Rata
0.1 0.195= -
0.195
-0.124

4.1.5 Pengujian batang aluminium pada jarak l(panjang batang) = 31 cm, m=0.5 kg,
P=4.905 N, b= 1.5 cm , h= 0.7 cm


Tabel 5 Hasil Pengujian Defleksi
No R
Kiri
R
Kan
an
Tekanan Terbaca Pada
Tumpuan

Defleksi
(Dial)
Batang
terbaca-
tumpuan Sebelu
m
Setela
h
Rata
2
(sblm-
ssdh)
1 0.25 0.21 15 14.8 0.2 cm 4.5*0.05 =
0.225
0.2-0.225 = -
0.025
2 0.24 0.22 15 14.7 0.3 cm 4.4*0.05 =
0.22
0.3-0.22 = 0.08
3 0.25 0.23 15 14.8 0.2 cm 4.6*0.05 =
0.23
0.2-0.23 = -
0.03
4 0.25 0.22 15 14.7 0.3 cm 4.5*0.05 =
0.225
0.3-0.225 =
0.075
5
0.25 0.22 15 14.8 0.2 cm 4.5*0.05 =
0.225
Rata-Rata
0.2-0.225 = -
0.025
0.015

4.1.6 Pengujian batang aluminium pada jarak l(panjang batang) = 31 cm, m=1 kg,
P=9.81 N, b= 1.5 cm, h=0.7 cm

Tabel 6 Hasil Pengujian Defleksi
No R
Kiri
R
Kan
an
Tekanan Terbaca Pada
Tumpuan

Defleksi
(Dial)
Batang
terbaca-
tumpuan Sebelu
m
Setela
h
Rata
2
(sblm-
ssdh)
1 0.5 0.44 15 14.5 0.5 cm 8.6*0.05 =
0.43
0.5-0.43 = 0.07
2 0.5 0.45 15 14.4 0.6 cm 8.6*0.05 =
0.43
0.6-0.43 = 0.17
3 0.5 0.46 15 14.5 0.5 cm 8.7*0.05 =
0.435
0.5-0.435 =
0.065
4 0.5 0.48 15 14.3 0.7 cm 8.6*0.05 =
0.43
0.7-0.43 = 0.27
5
0.5 0.45 15 14.5 0.5 cm 8.6*0.05 =
0.43
0.5-0.43 = 0.07
Rata-Rata 0.129

4.1.7 Pengujian batang aluminium pada jarak l(panjang batang) = 15.5 cm, m=0.5 kg,
P = 4.905 N, b= 1.5 cm , h= 0.7 cm


Tabel 7 Hasil Pengujian Defleksi
No R
Ki
ri
R
Ka
nan
Tekanan Terbaca
Pada Tumpuan
Defl
eksi
(Dia
l)

Bata
ng
terb
aca-

tump
uan
Sebe
lum
Set
elah
Rat
a
2
(sb
lm-
ssd
h)
1 0.
35
0.0
9
15 14.
75
0.2
5
cm
3.5*
0.05
=
0.17
5

0.25-
0.17
5 =
0.07
5
2 0.
36
0.0
9
15 14.
7
0.3
cm
3.5*
0.05
=
0.17
5
0.3-
0.17
5 =
0.12
5
3 0.
35
0.1 15 14.
74
0.2
6
cm
3.4*
0.05
=
0.17
0.26-
0.17
=
0.09
4 0.
35
0.1 15 14.
75
0.2
5
3.5*
0.05
=
0.25-
0.17
5 =
cm 0.17
5
0.07
5
5
0.
35
0.1 15 14.
75
0.2
5
cm
3.5*
0.05
=
0.17
5
Rata
-
Rata
0.25-
0.17
5 =
0.07
5
0.08
8

4.1.8 Pengujian batang aluminium pada jarak l(panjang batang) = 15.5 cm, m=1 kg,
P = 9.81 N, b= 1.5 cm , h= 0.7 cm

Tabel 8 Hasil Pengujian Defleksi
N
o
R
Ki
ri
R
Ka
nan
Tekanan Terbaca
Pada Tumpuan
Defle
ksi
(Dial
)
Batang
terbaca- tumpuan
Sebe
lum
Sete
lah
Rat
a
2
(sbl
m-
ssd
h)
1 0.
73
0.2 15 14.
55
0.4
5
cm
7.92*
0.05
=
0.396
0.45-0.396 = 0.05
2 0.
75
0.2
5
15 14.
5
0.5
cm
7.9*0
.05 =
0.395
0.5-0.395 = 0.105
3 0.
73
0.3 15 14.
6
0.4
cm
7.85*
0.05
=
0.392
0.4-0.392 = 0.008
4 0. 0.2 15 14. 0.5 7.9*0
.05 =
0.5-0.396 = 0.104
7 5 5 cm 0.396
5 0.
72
0.2
5
15 14.
55
0.4
5
cm
7.9*0
.05 =
0.396
Rata-
Rata
0.45-0.396 = 0.054
0.0642



4.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, maka dapat dilakukan analisa yang terjadi
pada balok dengan menggunakan persamaan-persamaan defleksi dengan rumus-rumus
persamaan yang terdapat pada BAB III. Kemudian dapat dilakukan pengolahan data sehingga
diperoleh perbandingan antara hasil praktikum dengan teoritis.
Contoh perhitungan secara teoritis untuk pembebanan 0.5 kg dan 1 kg
Data tabel no 2 Pengujian batang baja pada jarak L
L= 47.5 cm,
m=1 kg,
P=9.81 N,
b= 3.2 cm ,
h= 0.5 cm ,
E=200 GPa
Momen Inersia balok dapat dihitung sbb :

I
zz =
bh
3


= x 3.2 x 10
-2
(0.5 x 10
-2
)
3

= x 3.2 x10
-2
x 1.25 x 10
-7

= 0.33 x 10
-9

Defleksi yang terjadi pada batang dapat dihitung dengan rumus :

= 9.81 x (0.95)
3
/ 48 x 2 x 10
11
x 0.33 x 10
-9

= 8.41 / 31.68 x 10
2

= 2.65 x 10
-3
m

Menghitung Momen dan reaksi reksi pada tumpuan
R
Ax
P R
bx


R
Ay
R
By

Fx = 0
RAx RBx = 0
RAx = RBx

Fy = 0
RAy + RBy - P = 0
RAy = P RBy

M
A
= 0
-P x L + RBy x L = 0
-9.81 x 0.475 + 0.95 RBy = 0
RBy =
= 4.9 N
RAy = P RBy
= 9.81 4.9
= 4.9 N
Pengujian batang aluminium pada jarak L(panjang batang)
L = 31 cm,
m=1 kg,
P=9.81 N,
b= 1.5 cm,
h=0.7 cm
E=200 GPa
Momen Inersia balok dapat dihitung sbb :

I
zz =
bh
3


= x 1.5 x 10
-2
(0.7 x 10
-2
)
3

= x 1.5 x10
-2
x 0.343 x 10
-6

= 0.042 x 10
-8

Defleksi yang terjadi pada batang dapat dihitung dengan rumus :

= 9.81 x (0.62)
3
/ 48 x 8 x 10
10
x 0.042 x 10
-8

= 1.449 x 10
-3
m

Menghitung Momen dan reaksi reksi pada tumpuan
R
Ax
P R
bx


R
Ay
R
By

Fx = 0
RAx RBx = 0
RAx = RBx

Fy = 0
RAy + RBy - P = 0
RAy = P RBy

M
A
= 0
-P x L + RBy x L = 0
-9.81 x 0.31 + 0.62 RBy = 0
RBy =
= 4.9 N
RAy = P RBy
= 9.81 4.9
= 4.9 N

Dari perhitungan secara teoritis, diperoleh beberapa sata sebagai berikut :
No Beban Jarak Baja Alumunium
1 1 kg L 2.65 x 10
-3
1.449 x 10
-3

2 1 kg L 4.14 x 10
-5
2.05 x 10
-5

3 kg L 2.074 x 10
-5
1.116 x 10
-5

4 kg L 1.327 x 10
-3
7.24 x 10
-4


Dari hasil perhitungan defleksi secara teoritis dan hasil praktikum (eksperimen) pada serta
dari grafik hubungan antara jarak (x) dengan defleksi yang terjadi diperoleh bahwa besarnya
defleksi secara eksperimen yang terjadi pada umumnya lebih besar jika dibandingkan dengan
hasil perhitungan secara teoritis. Hal ini disebabkan oleh karena :
1. Kekakuan material (modulus elastisitas) yang digunakan pada perhitungan secara teoritis.
Dimana semakin kaku suatu batang maka akan semakin kuat menahan suatu pembeban yang
pada nantinya menyebabkan defleksi yang
dihasilkan semakin kecil.
2. Terjadinya pergeseran material uji pada saat pengujian. Kejadian ini timbul oleh karena
dengan adanya pembebanan yang diberikan menyebabkan batang mengalami pembengkokan
sehingga batang bergeser dari kedudukan semula.
3. Ketidak presisian dari alat ukur yang digunakan dapat menyebabkan terjadinya
penyimpangan hasil pengukuran.
4. Metode praktikum yang berbeda antara mahasiswa karena kekurangan bimbingan.





BAB V
Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan
Dari hasil praktikum dan perhitungan analisa data, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut :
1. Defleksi yang diperoleh secara eksperimen melalui praktikum lebih besar jika
dibandingkan dengan perhitugan defleksi teoritis baik pada.
2. Dari kedua jenis tumpuan yang digunakan, besarnya defleksi maksimum cenderung terjadi
pertengahan batang.

5.2 Saran
Mudah-mudahan penelitian ini dapat menjadi dasar bagi peneliti-peneliti berikutnya yang
tentunya akan menganalisis lebih jauh tentang perbandingan hasil yang diperoleh dengan
pengamatan dan perhitungan dengan menggunakan material berbentuk balok segiempat
dengan variasi tumpuan serta bimbingan yang lebih intensif dalam pelaksanaan praktikum-
praktikum lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/446/BAB%20%20II.pdf;jsessionid
=435F427022DDAD59F28E281441A6D5F9?sequence=2
Beumer, B.J.M. (1980). Pengetahuan Bahan Teknik. Bharata Karya Aksara, Jakarta
Popov, E.P. (1993). Mechanics of Materials. Erlangga, Jakarta.
Timoshenko, S. (1986). Dasar-dasar Perhitungan Kekuatan Bahan. Restu Agung, Jakarta.

Posted by MAIMU MEDIA at 4:20 AM
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest
No comments:
Post a Comment
Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments (Atom)
Blog Archive
2013 (26)
o July (26)
target costing
penilaian kinerja manajemen
Pengendalian mutu dan probabilitas
pengertian manajemen persediaan
pengertian manajemen persediaan
pengertian anjak piutang
makalah pancasila yang berketuhanan maha esa
makalah peranan perbankan dalam pengembangan UMKM
pengertian anti monopli dan persaingan usaha tidak...
hukum hak - hak kosumen
peran YLKI dalam melindungi konsumen
pengertian pasar monopoli , anti monopoli & oligo...
pengertian bisnis online
pengertian sewa guna usaha
makalah array
pengertian getaran
pengertian uang ,bank dan kebijakan moneter
pengertian permintaan penawaran ,harga dan keseimb...
pengertian perilaku konsumen dan perilaku produsen...
pengertian pendapatan nasional,indeks harga dan in...
makalah korelasi dan regresi
Pengertian ketenagaakerjaan ,pembangunan ekonomi,p...
Kebijakan pemerintah di bidang ekonomi biaya produ...
pengertian fungsi konsumsi dan tabungan
Pengertian Defleksi
Pengertian Apbn,Apbd Dan Kebijakan Fiskal
About Me

MAIMU MEDIA
View my complete profile
Travel template. Powered by Blogger.
(http://maimumedia.blogspot.com/2013/07/pengertian-defleksi_8080.html)






Defleksi dan Hal-hal yang Mempengaruhi
A. pengertian
Defleksi adalah perubahan bentuk pada balok dalam arah y akibat adanya
pembebanan vertical yang diberikan pada balok atau batang. Sumbu sebuah batang akan
terdeteksi dari kedudukannya semula bila benda dibawah pengaruh gaya terpakai. Dengan
kata lain suatu batang akan mengalami pembebanan transversal baik itu beban terpusat
maupun terbagi merata akan mengalami defleksi. Unsure-unsur dari mesin haruslah cukup
tegar untuk mencegah ketidakbarisan dan mempertahankna ketelitian terhadap pengaruh
beban dalam gedung-gedung,balok lantai tidak dapat melentur secara berlebihan untuk
meniadakan pengaruh psikologis yang tidak diinginkan para penghuni dan untuk
memperkecil atau mencegah dengan bahan-bahan jadi yang rapuh. Begitu pun kekuatan
mengenai karateristik deformasi dari bangunan struktur adalah paling penting untuk
mempelajari getaran mesin seperti juga bangunan-bangunan stasioner dan penerbangan.
Hal-hal yang mempengaruhi terjadinya defleksi yaitu :
1. Kekakuan batang
Semakin kaku suatu batang maka lendutan batang yang akan terjadi pada
batang akan semakin kecil
2. Besarnya kecil gaya yang diberikan
Besar-kecilnya gaya yang diberikan pada batang berbanding lurus dengan
besarnya defleksi yang terjadi. Dengan kata lain semakin besar beban yang
dialami batang maka defleksi yang terjadi pun semakin kecil
3. Jenis tumpuan yang diberikan
Jumlah reaksi dan arah pada tiap jenis tumpuan berbeda-beda. Jika karena
itu besarnya defleksi pada penggunaan tumpuan yang berbeda-beda
tidaklah sama. Semakin banyak reaksi dari tumpuan yang melawan gaya
dari beban maka defleksi yang terjadi pada tumpuan rol lebih besar dari
tumpuan pin (pasak) dan defleksi yang terjadi pada tumpuan pin lebih
besar dari tumpuan jepit.
4. Jenis beban yang terjadi pada batang
Beban terdistribusi merata dengan beban titik,keduanya memiliki kurva
defleksi yang berbeda-beda. Pada beban terdistribusi merata slope yang
terjadi pada bagian batang yang paling dekat lebih besar dari slope titik.
Ini karena sepanjang batang mengalami beban sedangkan pada beban titik
hanya terjadi pada beban titik tertentu saja.

http://muchlis88.blogspot.com/2011/03/defleksi-dan-hal-hal-yang-mempengaruhi.html