Anda di halaman 1dari 25

BAB I PENDAHULUAN

PERPINDAHAN PANAS

  • 1.1. Latar Belakang Heat transfer adalah ilmu yang mempelajari tentang kecepatan perpindahan panas dari sumber panas (heat body) ke penerima panas (cold body). Manfaat ilmu ini adalah untuk membantu merancang alat yang berhubungan dengan panas atau preheater, misalnya cooler, condenser, reboiler, dan evaporator. Pada Industri setelah alat preheater dirancang kemudian dibutuhkan parameter- parameter seperti faktor kekotoran yang mengindikasikan layak atau tidak suatu alat penukar panas ( Heat Exchanger) digunakan dan kapan alat tersebut perlu dibersihkan (cleaning). Dengan diketahuinya masih layak atau tidak suatu alat perpindahan panas yang dapat diketahui dari perhitungan suhu fluida panas masuk (T hi ), suhu fluida panas keluar (T ho ), suhu fluida dingin masuk (T hi ),dan suhu fluida dingin keluar (T ho ) berdasarkan pengamatan maka dengan perhitungan neraca panas dapat mendesain alat penukar panas (Heat Exchanger).

  • 1.2. Rumusan Masalah Dalam heat exchanger terdapat parameter-parameter yang mempengaruhi nilai perpindahan panas seperti Ui, Uo, Uc, Ud, dan Rd. Oleh karena itu, pada praktikum ini perlu dikaji pengaruh flowrate terhadap nilai Ui, Uo, Uc, Ud, dan Rd, pada aliran co-current dan counter current. Dengan demikian dapat diketahui layak tidaknya heat exchanger untuk beroperasi , kapan alat perlu dibersihkan, dan bagaimana perawatan untuk heat exchanger.

  • 1.3. Tujuan Percobaan

    • 1. Mampu merangkai dengan benar hubungan rangkaian searah maupun lawan arah.

    • 2. Dapat menghitung luas perpindahan panas (Ao dan Ai) berdasarkan data ukuran pipa.

    • 3. Mampu menghitung nilai Uo dan Ui berdasarkan neraca panas.

    • 4. Mampu menghitung Uc dan Ud.

    • 5. Mampu menggambar grafik hubungan flowrate vs U (Uc, Ud, Uo, Ui).

1

LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014

PERPINDAHAN PANAS

  • 6. Mampu mencari koefisien α, p, q, dan hubungan persamaan perpindahan panas yang digunakan dengan bilangan Nusselt, Reynold, dan Prandtl berdasarkan rumus:

Dvρ

µ

¿

¿

cpµ

k

¿

¿

hD

k

=α ¿

  • 7. Mampu memberikan rekomendasi terhadap heat exchanger yang digunakan berdasar nilai Rd yang didapat.

1.4. Manfaat Percobaan

Manfaat percobaan ini adalah untuk membantu memahami dasar perancangan

alat-alat yang berhubungan dengan panas, misalnya cooler, condenser, reboiler, dan

evaporator.

2

LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Teori Perpindahan Panas

PERPINDAHAN PANAS

Perpindahan panas adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang kecepatan

perpindahan panas diantara sumber panas (hot body) dan penerima panas (cold body).

Salah satu hubungan ini adalah untuk membantu kita dalam perancangan alat yang

berhubungan dengan panas, misalnya cooler, heater, condenser, reboiler, dan

evaporator.

Percobaan yang dilaksanakan dengan alat Heat Transfer Bench T.D. 36 yang

merupakan alat penukar panas Shell and Tubes dimana alat tersebut terdiri dari 1 shell

dan 5 tubes yang dapat dioperasikan secara searah maupun lawan arah baik fluida

panas dan fluida dingin dilewatkan shell maupun tube.

Sebagai fluida panas, sebelumnya dioperasikan maka dibuat dahulu melalui hot

tank dengan pemanas listrik. Sebagai fluida dingin sebelum dioperasikan dibuat

dahulu melalui tangki yang merupakan refrigerator.

Prinsip percobaan tersebut adalah akan mencari besarnya overall heat transfer

coefficient (U) pada alat tersebut dengan berbagai variasi kecepatan fluida panas

maupun fluida dingin yang dialirkan pada heat exchanger tersebut.

Besarnya panas yang ditransfer dapat dihitung dengan mengetahui perubaahan

suhu dari fluida masuk dan keluar pada kecepatan tertentu. Sedangkan pada suhu rata-

rata logaritma dapat dihitung dari perubahan suhu masuk dan keluar, baik dari fluida

panas maupun dingin.

Dengan persamaan: q = U.A.ΔT LMTD (Logaritmic Mean Temperature Difference)

dapat dihitung harga U dimana besarnya A dihitung dari ukuran alat penukar panas

tersebut. Dari berbagai variasi perubahan kecepatan aliran dapatlah dibuat/dibaca

adanya perubahan harga U terhadap perubahan kecepatan aliran.

Untuk mengetahui jumlah panas yang dipindahkan dipakai heat exchanger

(HE). Ada beberapa jenis heat exchanger, yaitu :

  • 1. Shell and tube heat exchanger Alat penukar panas shell and tube terdiri atas suatu bundel pipa yang dihubungkan secara parallel dan ditempatkan dalam sebuah pipa mantel (cangkang). Fluida yang satu mengalir di dalam bundel pipa, sedangkan fluida yang lain mengalir di luar pipa pada arah yang sama, berlawanan, atau bersilangan.

3

LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014

PERPINDAHAN PANAS

Kedua ujung pipa tersebut dilas pada penunjang pipa yang menempel pada mantel.

Untuk meningkatkan effisiensi pertukaran panas, biasanya pada alat penukar panas

cangkang dan buluh dipasang sekat (buffle). Ini bertujuan untuk membuat

turbulensi aliran fluida dan menambah waktu tinggal (residence time), namun

pemasangan sekat akan memperbesar pressure drop operasi dan menambah beban

kerja pompa, sehingga laju alir fluida yang dipertukarkan panasnya harus diatur.

PERPINDAHAN PANAS Kedua ujung pipa tersebut dilas pada penunjang pipa yang menempel pada mantel. Untuk meningkatkan

Gambar 2.1.1. Alat penukar panas jenis shell and tube heat exchanger

  • 2. Double pipe heat exchanger Salah satu jenis penukar panas adalah susunan pipa ganda (double pipe). Dalam jenis penukar panas dapat digunakan berlawanan arah aliran atau arah aliran, baik dengan cairan panas atau dingin cairan yang terkandung dalam ruang annular dan cairan lainnya dalam pipa. Alat penukar panas pipa rangkap terdiri dari dua pipa logam standart yang dikedua ujungnya dilas menjadi satu atau dihubungkan dengan kotak penyekat. Fluida yang satu mengalir di dalam pipa, sedangkan fluida kedua mengalir di dalam ruang anulus antara pipa luar dengan pipa dalam. Alat penukar panas jenis ini dapat digunakan pada laju alir fluida yang kecil dan tekanan operasi yang tinggi. Sedangkan untuk kapasitas yang lebih besar digunakan penukar panas jenis selongsong dan buluh (shell and tube heat exchanger).

PERPINDAHAN PANAS Kedua ujung pipa tersebut dilas pada penunjang pipa yang menempel pada mantel. Untuk meningkatkan

Gambar 2.1.2. Alat penukar panas jenis pipa rangkap (double pipe heat exchanger)

  • 3. Plate and frame heat exchanger Alat penukar panas pelat dan bingkai (plate and frame) terdiri dari paket pelat-pelat tegak lurus, bergelombang, atau profil lain. Pemisah antara pelat tegak lurus dipasang penyekat lunak (biasanya terbuat dari karet). Pelat-pelat dan sekat disatukan oleh suatu perangkat penekan yang pada setiap sudut pelat 10 (kebanyakan segi empat) terdapat lubang pengalir fluida. Melalui dua dari lubang

4

LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014

PERPINDAHAN PANAS

ini, fluida dialirkan masuk dan keluar pada sisi yang lain, sedangkan fluida yang

lain mengalir melalui lubang dan ruang pada sisi sebelahnya karena ada sekat.

Gambar 2.1.3. Alat penukar panas jenis pelat dan bingkai (plate and frame heat

exchanger)
exchanger)
  • 4. Air cooled heat exchanger Air cooled heat exchanger umumnya digunakan untuk fluida gas, liquid dan kondensasi. Air cooled heat exchanger cenderung menjadi tidak ekonomis jika temperatur outlet kurang dari 20 sampai 30 O C di atas temperatur ambien. Tube dan header dapat difabrikasi dengan menggunakan material umum. Fin biasanya menggunakan material aluminium, kadang-kadang material steel galvanised digunakan dalam kondisi korosif, tapi mempunyai loss efficiency yang cukup besar. Alat ini mempunyai fouling factor yang tinggi, yang perlu dipertimbangkan adalah desain header box untuk memudahkan akses mechanical cleaning pada tube side. Pada fin aluminium memungkinkan terjadinya korosi. Masalah utama adalah cleaning di sekitar air side dan fan drives.

PERPINDAHAN PANAS ini, fluida dialirkan masuk dan keluar pada sisi yang lain, sedangkan fluida yang lain

Gambar 2.1.4. Alat penukar panas jenis air cooled

Yang umum dipakai adalah shell and tube heat exchanger karena:

  • 1. Memiliki luas permukaan perpindahan panas per satuan volume yang besar

  • 2. Untuk area yang kecil cukup dengan double pipe

  • 3. Aliran fluida dapat diatur dengan co-current maupun counter current

  • 4. Terjadi perpindahan panas secara konveksi (antara shell dan fluida) dan konduksi (antara dinding-dinding shell).

Perpindahan panas yang terjadi di heat exchanger akan didahului dengan panas

yang terjadi di masing-masing pipa dan tergantung pada sifat bahan dan diameter pipa.

Makin besar diameter pipa makin besar perpindahan panasnya. Biasanya panas yang

melewati dinding secara keseluruhan ditentukan oleh koefisien luas maupun dalam.

Untuk konduksi ditentukan oleh tebal pipa dan bahan pipa. Hantaran panas heat

exchanger ditentukan oleh koefisien perpindahan panas secara menyeluruh (U).

5

LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014

2.2. Jenis-Jenis Perpindahan Panas

PERPINDAHAN PANAS

Menurut cara penghantar dayanya, perpindahan panas dibedakan menjadi :

  • 1. Konduksi

Merupakan perpindahan panas yang terjadi karena molekul-molekul dalam zat

bersinggungan, dimana besarnya kecepatan perpindahan panas :

Q = k. A.

ΔT

Δx

dengan Q

= kecepatan perpindahan panas secara konduksi (Btu/jam)

A

= luas perpindahan panas (ft 2 )

K

= konduktivitas (Btu/ft.hr. o F)

ΔT

= beda suhu antara permukaan panas dan dingin ( o F)

Δx

= tebal bahan yang dilalui panas (ft)

Berdasarkan hukum Fourier, besarnya Q tergantung pada :

  • - besar kecilnya konduktivitas (k)

  • - berbanding lurus dengan beda suhu (ΔT)

  • 2. Konveksi

Merupakan perpindahan panas disebabkan adanya gerakan atom/molekul suatu

gas/cairan yang bersinggungan dengan permukaan.

Persamaannya : Qc = h. A. (Ts − Tv)

dengan Qc

= laju perpindahan panas konveksi (Btu/hr)

h

= koefisien perpindahan panas konveksi (Btu/hr.ft 2 . o F)

A

= luas perpindahan panas (ft 2 )

Ts

= suhu permukaan batang ( o F)

Tv

= suhu solubility ( o F)

  • 3. Radiasi

Merupakan gelombang perpindahan panas karena adanya perbedaan suhu dan

berlangsung secara gelombang elektromagnetik tanpa perantara.

Persamaannya : Qr = C.F.A (T 1 4 -T 2 4 )

dengan Qr = energi perpindahan panas reaksi (Btu/jam)

c

= konstanta Stefan Boltzman

F

= faktor panas (emitifitas bahan)

A

= luas bidang (ft 2 )

6

LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014

T

1

T

2

= suhu mutlak

= suhu mutlak

2.3. Azas Black

PERPINDAHAN PANAS

Azas Black adalah suatu prinsip dalam termodinamika yang dikemukakan oleh

Joseph Black. Azas ini menjabarkan :

  • - Jika dua buah benda yang berbeda yang suhunya dicampurkan, benda yang panas memberi kalor pada benda yang dingin sehingga suhu akhirnya sama

  • - Jumlah kalor yang diserap benda dingin sama dengan jumlah kalor yang dilepas benda panas

  • - Benda yang didinginkan melepas kalor yang sama besar dengan kalor yang diserap bila dipanaskan

Bunyi Azas Black adalah sebagai berikut :

“Pada pencampuran dua zat, banyaknya kalor yang dilepas zat yang suhunya lebih

tinggi sama dengan banyaknya kalor yang diterima zat yang suhunya lebih rendah.”

Dirumuskan : Qh = Wh.Cph (Th 1 -Th 2 )

Qc = Wc.Cpc (Tc 2 -Tc 1 )

2.4. Overall Coefficient Heat Transfer (U)

Hal yang sangat penting untuk menganalisa alat penukar panas adalah koefisien

perpindahan panas menyeluruh (U). Koefisien ini merupakan ukuran dari alat penukar

panas dalam hal memindahkan panas. Untuk harga U yang besar maka kecepatan

perpindahan panas akan besar, namun sebaliknya jika U kecil maka kecepatan

perpindahan panas harganya kecil.

Hot fluid Cold fluid
Hot fluid
Cold fluid

Gambar 2.1.5. Penggambaran Sisi Aliran Panas dan Aliran Dingin pada Heat

Exchanger

Bila dalam alat penukar panas kedua fluida dalam alat penukar panas dipisahkan

dalam bidang datar maka U dapat dinyatakan dalam bentuk :

7

LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014

1

U =

( hi )+( )+(

k

1

x

1

ho )

PERPINDAHAN PANAS

hi = koefisien perpindahan panas konveksi pada sisi kiri

ho = koefisien perpindahan panas konveksi pada sisi kanan

x

= tebal dinding

k

= konduktivitas panas bahan dinding

Harga U tergantung pada :

  • 1. Tebal dinding, semakin tebal dinding harga U semakin kecil dan panas yang ditransfer juga semakin kecil

  • 2. Daya hantar panas

  • 3. Beda suhu, semakin besar beda suhu maka U semakin besar

  • 4. Luas bidang permukaan panas.

2.5. Pengertian Ui, Uo, Ud, Uc

Bila kedua fluida dibatasi oleh dinding pipa yang jari-jari di dalamnya ri dan

jari-jari luarnya ro maka U dapat dituliskan dalam bentuk :

1

Uo =

( 0 )+( r 0 )ln( r 0 )+( r 0 )(

1

h

k

ri

ri

1

h0 )

1

Ui =

( 0 )+( ri )ln( r 0 )+(

1

h

k

ri

r0 )( hi )

ri

1

Uo dan Ui masing-masing adalah koefisien perpindahan panas menyeluruh

berdasarkan luas permukaan pipa bagian luar dan bagian dalam. Rumus Uo dan Ui di

atas hanya berlaku hanya untuk pipa atau permukaan yang bersih (clean surface).

Scaling

Scaling adalah endapan yang terbentuk pada permukaan pipa/tube yang kontak

dengan air. Scale atau kerak ini disebabkan oleh air yang memiliki kesadahan tinggi.

Komponen utama pembentukkan scale adalah kalsium karbonat, kalsium sulfat, dan

juga senyawa magnesium hidroksida.

Fouling factor (Rd)

Fouling adalah peristiwa terakumulasinya padatan yang tidak dikehendaki di

permukaan heat exchanger yang berkontak dengan fluida kerja, termasuk permukaan

8

LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014

PERPINDAHAN PANAS

heat transfer. Peristiwa tersebut adalah pengendapan, pengerakan, korosi, polimerisasi

dan proses biologi. Faktor pengotoran ini sangat mempengaruhi perpindahan panas

pada heat exchanger. Pengotoran ini dapat terjadi endapan dari fluida yang mengalir,

juga disebabkan oleh korosi pada komponen dari heat exchanger akibat pengaruh dari

jenis fluida yang dialirinya. Selama heat exchanger ini dioperasikan pengaruh

pengotoran pasti akan terjadi. Terjadinya pengotoran tersebut dapat menganggu atau

memperngaruhi temperatur fluida mengalir juga dapat menurunkan atau

mempengaruhi koefisien perpindahan panas menyeluruh dari fluida tersebut.

Penyebab terjadinya fouling :

  • - Adanya pengotor berat yaitu kerak yang berasal dari hasil korosi atau cake.

  • - Adanya pengotor berpori yaitu kerak lunak yang berasal dari dekomposisi kerak

keras.

Akibat fouling :

  • - Mengakibatkan kenaikan tahanan heat transfer, sehingga meningkatkan biaya, baik investasi, operasi maupun perawatan.

  • - Ukuran heat exchanger menjadi lebih besar, kehilangan energi meningkat, waktu shutdown lebih panjang dan biaya perawatan meningkat.

Faktor pengotoran (fouling factor) dapat dicari persamaan :

dengan

Rd =

Uc =

hio .ho

hio+ho

UcUd

Uc .Ud

dan

Ud =

Q

A ΔT

dimana Uc = koefisien perpindahan panas menyeluruh bersih

Ud = koefisien perpindahan panas menyeluruh (design)

hio = koefisien perpindahan panas pada permukaan luar tube

ho = koefisien perpindahan panas fluida diluar tube

2.6. Pemilihan Fluida pada Shell dan Tube

  • - Fluida bertekanan tinggi dialirkan di dalam tube karena tube standar cukup kuat menahan tekanan yang tinggi.

  • - Fluida berpotensi fouling dialirkan di dalam tube agar pembersihan lebih mudah

dilakukan.

  • - korosif

Fluida

dialirkan

di

dalam

tube

karena

pengaliran

di

dalam

shell

membutuhkan bahan konstruksi yang mahal yang lebih banyak.

  • - Fluida bertemperatur tinggi dan diinginkan untuk memanfaatkan panasnya dialirkan di dalam tube karena dengan ini kehilangan panas dapat dihindarkan.

9

LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014

PERPINDAHAN PANAS

  • - Fluida dengan viskositas yang lebih rendah dialirkan di dalam tube karena pengaliran fluida dengan viskositas tinggi di dalam penampang alir yang kecil membutuhkan energi yang lebih besar.

  • - Fluida dengan viskositas tinggi ditempatkan di shell karena dapat digunakan baffle untuk menambah laju perpindahan.

  • - Fluida dengan laju alir rendah dialirkan di dalam tube. Diameter tube yang kecil menyebabkan kecepatan linier fluida (velocity) masih cukup tinggi, sehingga menghambat fouling dan mempercepat perpindahan panas.

2.7. Penjabaran Rumus ΔT LMTD

Untuk mendesain alat penukar panas dan memperkirakan kemampuan alat

penukar panas maka harus ditampilkan hubungan antara total panas yang dipindahkan

dengan besaran yang lain misalnya suhu masuk dan suhu keluar dari kedua fluida,

harga koefisien perpindahan panas menyeluruh U dan luas perpindahan panas dari alat

penukar panas tersebut.

Panas yang dilepas oleh fluida panas dapat dituliskan dalam bentuk persamaan :

Q = mh.Cph (Thi - Tho)

Panas tersebut secara keseluruhan diterima oleh fluida dingin yang dapat dinyatakan

dalam bentuk persamaan :

Q = mc.Cpc (Tco - Tci)

Panas yang dilepas oleh fluida panas dan diterima oleh fluida dingin dapat terjadi

karena adanya beda suhu ΔT = Th - Tc yang disebut beda suhu lokal antara fluida

panas dan fluida dingin pada suatu titik atau lokal tertentu, dimana dari ujung

pemasukan sampai ujung pengeluaran harga ΔT selalu berubah. Dengan menggunakan

neraca energi, dapat dirumuskan sebagai berikut.

dq = - mh.Cph.dTh = - Ch.dTh

dimana

mh.Cph = Ch

dq = mc.Cpc.dTc

= Cc.dTc

dimana

mc.Cpc = Cc

Perpindahan panas melalui luasan dA dapat dinyatakan sebagai :

dimana

ΔT = Th - Tc

d(ΔT) = dTh - dTc

dq = -Ch . dTh

dq = U. T . dA

dTh = −

dq

ch

10

LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014

PERPINDAHAN PANAS

dq

dq = Cc . dTc dTc = cc 1 1 − ¿ dijumlahkan maka didapat: dTh
dq = Cc . dTc
dTc =
cc
1
1
¿
dijumlahkan maka didapat: dTh + dTc = −dq (
ch
cc
1
1
¿
d(ΔT) = −dq (
ch
cc
Substitusi dq = U . ΔT . dA, maka akan diperoleh :
1
1
¿
d(ΔT) = U . ΔT . dA (
ch
cc
(ΔT )
1
1
+
= − U (
ΔT
ch
cc ¿
. dA
Diintegralkan sepanjang alat penukar panas didapatkan :
2
2
( ΔT)
1
1
=¿
+
dA
− U (
ΔT
ch
cc ¿
.
1
1
(ΔT 2)
1
1
+
¿
ln
(ΔT
1)
= − U.A (
ch
cc
q
q
Substitusi ch =
Thi−Tho
dan cc =
Tco−Tci
(ΔT 2)
Thi−Tho
Tco−Tci
+
¿
ln
= −
U.A (
(ΔT
1)
q
q
(ΔT 2)
U . A
ln
[(T hi -T ci ) – (Th o -Tco)]
(ΔT 1) = −
q
dimana T 1 = T hi - T ci dan T 2 = T ho - T co
ln(¿ ΔT ΔT 2 1 )
Maka didapat q = U . A
ΔT 2−ΔT 1

¿

Sehingga ΔT m = ΔT LMTD =

ln(¿ ΔT ΔT 2 1 )

ln(¿ ΔT ΔT 2 1 )

ΔT 2ΔT 1

=

ΔT 1ΔT 2

¿

¿

11

LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014

PERPINDAHAN PANAS

Perpindahan panas dari fluida panas ke fluida dingin tergantung pada beda suhu

rata-rata logaritma (LMTD), luas permukaan perpindahan panas (A), dan overall heat

transfer coefficient (U).

q = U . A .ΔT LMTD

persamaan ini hanya berlaku untuk keadaan:

  • 1. Cairan dalam keadaan steady state dan kecepatan aliran konstan

  • 2. U dan A konstan

  • 3. Cp konstan walau suhu berubah

  • 4. Panas yang hilang di sekeliling di abaikan

  • 5. Berlaku untuk co-current dan counter current

  • 6. Tidak berlaku untuk aliran silang

  • 7. Dalam sistem tidak ada perbedaan fase.

2.8. Kelebihan dan Kekurangan Aliran Co-Current dan Counter Current

1.

Co-Current

• Kelebihan

  • - biasa dipakai dalam 1 fasa di multifase heat exchanger

  • - dapat membatasi suhu maksimal fluida dingin

  • - dapat mengubah salah satu fluida dengan cepat

• Kekurangan

  • - panas yang dihasilkan lebih kecil dibanding counter current

  • - jarang dipakai dalam single pass heat exchanger

  • - tidak mungkin didapat salah satu fluida yang keluar mendekati suhu masuk fluida lain

2. Counter Current

• Kelebihan

  • - panas yang dihasilkan cukup besar dibandingkan co-current

  • - suhu keluar dari salah satu fluida dapat mendekati suhu masuk fluida lain

  • - bahan konstruksi lebih awet karena thermal stress-nya kecil

• Kekurangan

  • - tidak dapat dipakai untuk mengubah suhu fluida dengan cepat

  • - kurang efisien jika dipakai untuk menaikkan suhu fluida dingin untuk batas

tertentu

12

LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014

BAB III

PERPINDAHAN PANAS

METODE PERCOBAAN

  • 3.1. Bahan dan Alat

    • A. Alat yang Digunakan

      • 1. Shell and tube heat exchanger

      • 2. Thermometer

      • 3. Thermostat

      • 4. Selang

  • B. Bahan yang Digunakan

    • 1. Air

  • 3.2. Penetapan Variabel Percobaan

    • A. Variabel tetap

      • 1. Skala cold fluid :

    • B. Variabel berubah

      • 1. Skala hot fluid : 2, 4, 6, 8, dan 10

      • 2. Jenis Aliran : Co-current dan Counter current

      • 3. Suhu awal hot fluid : 50 O C

  • 3.3. Gambar Alat Utama

  • Fluid Cold
    Fluid
    Cold
    Fluid Cold
    BAB III PERPINDAHAN PANAS METODE PERCOBAAN 3.1. Bahan dan Alat A. Alat yang Digunakan 1. Shell

    Gambar 3.3.1. Gambar rangkaian alat utama praktikum perpindahan panas.

    Keterangan :

    • 1. Header

    6. O-ring seal

    • 2. Fixed tube plate

    7. Floating tube plate

    • 3. Shell

    8. Header

    • 4. Baffle

    9. Drain socket

    • 5. Tube

    • 3.4. Respon

    13

    LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014

    Perbedaan suhu fluida panas masuk dan keluar.

    Perbedaan suhu fluida dingin masuk dan keluar.

    • 3.5. Data Percobaan yang Dibutuhkan

      • 1. Jenis aliran : Co-current dan Counter current

      • 2. Flowrate hot fluid : 2, 4, 6, 8, 10

      • 3. Suhu awal hot fluid : 50 O C

    PERPINDAHAN PANAS

    • 4. Perubahan suhu pada flowrate tertentu, baik hot atau cold fluid tiap 1 menit selama 10 menit (Thi, Tho, Tci, Tco)

    • 5. Hitung besarnya ΔT LMTD , Ui, Uo, Ud, Uc, dan Rd berdasarkan data diatas lalu buatlah grafik hubungan dengan suhu awal dan flowrate hot fluid.

    • 3.6. Prosedur Percobaan

      • 1. Nyalakan heater dan unit refrigerasi pada hot dan cold tank. Atur knop thermostat sesuai suhu yang ingin dicapai pada hot tank.

      • 2. Pasang thermometer pada aliran masuk dan keluar HE untuk cold dan hot fluid.

      • 3. Pompa dalam keadaan mati, hubungkan keempat flexible hose dengan socket yang ada di atas bench. Periksa sekali lagi apakah aliran hot/cold fluid sudah sesuai variabel percobaan. Jaga jangan sampai aliran hot fluid dihubungkan silang dengan cold fluid karena akan merusak alat.

      • 4. Setelah semua terpasang, cek kebocoran dengan cara menyalakan hot dan cold

    pump. Jika terjadi kebocoran, matikan hot dan cold pump dan ulangi langkah

    nomor 3 hingga tidak terjadi kebocoran.

    • 5. Setelah tidak terjadi kebocoran tunggu suhu pada hot dan cold tank tercapai, kemudian nyalakan hot dan cold pump.

    • 6. Dengan valve pengatur flowrate, aturlah aliran hot dan cold fluid yang masuk.

    • 7. Setelah flowrate sesuai, operasi mulai dijalankan dan catat data perubahan suhu setiap 1 menit selama 10 menit.

    • 8. Variabel yang di variasikan dalam percobaan ini adalah:

      • a. Jenis aliran : Co-current dan Counter current

      • b. Flowrate hot fluid: 2, 4, 6, 8, 10

    9. Bila percobaan telah selesai, matikan kedua pompa, heater dan unit refrigerasi.

    Lepaskan flexible hose dan thermometer.

    BAB IV

    HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

    4. 1. Hasil Percobaan

    Tabel 4.1.1. Data Skala, Flowrate, Suhu, ΔT LMTD Aliran Co-Current

    14

    LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014

    PERPINDAHAN PANAS

    Skala

    Flowrate

    Thi

    Tho

    Tci

    Tco

    ΔT LMTD

    L/menit

    m 3 /detik

    ( O C)

    ( O C)

    ( O C)

    ( O C)

    ( O C)

    1,167 . 10 -4

    • 2 46,7

    7

    45,3

    30,5

    31,2

    15,126

    1,667 . 10 -4

    • 4 47,2

    10

    45,6

    32,5

    33,7

    13,251

    2,167 . 10 -4

    • 6 46,6

    13

    45,4

    32,7

    33,9

    12,662

    2,667 . 10 -4

    • 8 46,36

    16

    44,45

    33,0

    34,36

    11,649

    10

    19

    3,167 . 10 -4

    45,55

    43,73

    33,55

    34,55

    10,527

    Tabel 4.1.2. Data Skala, Flowrate, Suhu, ΔT LMTD Aliran Counter Current

    Skala

    Flowrate

    Thi

    Tho

    Tci

    Tco

    ΔT LMTD

    L/menit

    m 3 /detik

    ( O C)

    ( O C)

    ( O C)

    ( O C)

    ( O C)

    1,167 . 10 -4

    • 2 46,36

    7

    43,45

    31,27

    33,64

    12,448

    1,667 . 10 -4

    • 4 46,27

    10

    43,36

    30,91

    33,09

    12,812

    2,167 . 10 -4

    • 6 46,18

    13

    43,82

    30,55

    32,27

    13,587

    2,667 . 10 -4

    • 8 46,18

    16

    43,36

    30,73

    31,91

    13,433

    10

    19

    3,167 . 10 -4

    46,27

    45,09

    30,36

    31,09

    14,954

    Tabel 4.1.3. Data Skala, Qh, Qc, Ui, Uo, Ud, Uc Aliran Co-Current

     

    Ui

    Uo

    Ud

    Uc

    Skala

    Qh (J/s)

    Qc (J/s)

    (J/m 3 .s. O C)

    (J/m 3 .s. O C)

    (W/m. O C)

    (W/m. O C)

    • 2 682,76

    1.193,52

    237,57

    218,06

    227,81

    621,55

    • 4 1.114,62

    2.046,04

    442,71

    406,36

    424,54

    807,99

    • 6 1.086,71

    2.046,04

    451,71

    414,61

    433,16

    950,31

    • 8 2.128,77

    2.318,84

    961,81

    882,81

    922,31

    1497,88

    10

    2.408,75

    1.705,03

    1.204,30

    1.105,40

    1.154,85

    1971,91

    Tabel 4.1.4. Data Skala, Qh, Qc, Ui, Uo, Ud, Uc Aliran Counter Current

     

    Ui

    Uo

    Ud

    Uc

    Skala

    Qh (J/s)

    Qc (J/s)

    (J/m 3 .s. O C)

    (J/m 3 .s. O C)

    (W/m. O C)

    (W/m. O C)

    • 2 1.419,18

    4.040,93

    600,05

    550,77

    575,41

    823,844

    • 4 2.027,22

    3.716,97

    832,78

    764,39

    798,58

    932,586

    • 6 2.137,19

    2.932,66

    827,88

    759,89

    793,88

    986,737

    • 8 1.231,45

    3.143,00

    2.011,94

    1.130,32

    1.180,89

    1994,019

    10

    1.561,72

    1.244,67

    549,66

    504,52

    527,09

    847,971

    4. 2. Pembahasan

    4.2.1. Pengaruh Flowrate terhadap Nilai Ui dan Uo

    15

    LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014

    PERPINDAHAN PANAS

    Gambar 4.2.1. Grafik Hubungan Flowrate terhadap Ui dan Uo

    1400

    1200

    1000

    800

    600

    400

    200

    0

    PERPINDAHAN PANAS Gambar 4.2.1. Grafik Hubungan Flowrate terhadap Ui dan Uo 1400 1200 1000 800 600
    PERPINDAHAN PANAS Gambar 4.2.1. Grafik Hubungan Flowrate terhadap Ui dan Uo 1400 1200 1000 800 600

    U (J/m3.s.OC)

    Ui Co-current

    PERPINDAHAN PANAS Gambar 4.2.1. Grafik Hubungan Flowrate terhadap Ui dan Uo 1400 1200 1000 800 600

    Uo Co-Current

    PERPINDAHAN PANAS Gambar 4.2.1. Grafik Hubungan Flowrate terhadap Ui dan Uo 1400 1200 1000 800 600

    Ui Counter-Current

    PERPINDAHAN PANAS Gambar 4.2.1. Grafik Hubungan Flowrate terhadap Ui dan Uo 1400 1200 1000 800 600
    PERPINDAHAN PANAS Gambar 4.2.1. Grafik Hubungan Flowrate terhadap Ui dan Uo 1400 1200 1000 800 600

    Uo Counter-Current

    Flowrate Hot Fluid (m3/detik)

    Dari grafik diatas, menunjukkan bahwa nilai Ui (koefisien perpindahan

    panas overall pada pipa bagian dalam) lebih besar daripada nilai Uo (koefisien

    perpindahan panas overall pada pipa bagian luar) baik pada aliran co-current

    maupun counter current untuk flowrate hot fluid yang sama. Hal ini dipengaruhi

    oleh luas perpindahan panas, dimana luas permukaan (A) berbanding terbalik

    dengan U sehingga semakin besar A, maka harga U yang diperoleh akan semakin

    kecil, dengan Ai < Ao maka Ui > Uo.

    Ai = 5 π Di L dan Ao = 5 π Do L

    ρ. v h. cph. ΔT h

    Ui =

    Ai.

    ΔT LMTD

    ρ. v h. cph. ΔT h

    dan Uo =

    Ao . ΔT LMTD

    Pada percobaan ditunjukkan pula bahwa semakin besar flowrate hot fluid

    maka harga Ui dan Uo baik pada aliran co-current maupun counter current

    memiliki kecenderungan untuk semakin meningkat. Hal ini terjadi karena Ui dan

    Uo berbanding lurus dengan flowrate, seperti yang dijelaskan pada persamaan

    berikut:

    ρ. v h. cph. ΔT h

    Ui =

    Ai.

    ΔT LMTD

    ρ. v h. cph. ΔT h

    dan Uo =

    Ao . ΔT LMTD

    Pada laju alir hot fluid 1,167 x 10 -4 m 3 /s, 1,667 x 10 -4 m 3 /s, dan 2,167 x 10 -4

    m 3 /s, nilai Ui pada aliran counter current lebih besar dibandingkan aliran co-

    current. Hal ini terjadi karena perbedaan suhu rata-rata setiap bagian heat

    exchanger (ΔT LMTD ) untuk aliran counter current lebih besar dibandingkan aliran

    16

    LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014

    PERPINDAHAN PANAS

    co-current. Selain itu, nilai Uo pada aliran counter current juga lebih besar

    dibandingkan aliran co-current. Hal ini terjadi karena perbedaan suhu rata-rata

    setiap bagian heat exchanger (ΔT LMTD ) untuk aliran counter current lebih besar

    dibandingkan aliran co-current. Sehingga dengan nilai (ΔT LMTD ) yang lebih kecil

    nilai, Ui dan Uo pada co-current menjadi lebih besar, dan perpindahan panas dari

    fluida panas ke fluida dingin menjadi lebih mudah.

    4.2.2. Pengaruh Flowrate terhadap Nilai Uc dan Ud

    Gambar 4.2.2. Grafik Hubungan Flowrate terhadap Uc dan Ud

    2500 2000 1500 1000 500 0
    2500
    2000
    1500
    1000
    500
    0
    PERPINDAHAN PANAS co-current . Selain itu, nilai Uo pada aliran counter current juga lebih besar dibandingkan

    U (J/m3.s.OC)

    Ud Co-current

    PERPINDAHAN PANAS co-current . Selain itu, nilai Uo pada aliran counter current juga lebih besar dibandingkan

    Uc Co-Current

    PERPINDAHAN PANAS co-current . Selain itu, nilai Uo pada aliran counter current juga lebih besar dibandingkan

    Ud Counter-Current

    PERPINDAHAN PANAS co-current . Selain itu, nilai Uo pada aliran counter current juga lebih besar dibandingkan
    PERPINDAHAN PANAS co-current . Selain itu, nilai Uo pada aliran counter current juga lebih besar dibandingkan

    Uc Counter-Current

    Flowrate Hot Fluid (m3/detik)

    Pada grafik diketahui bahwa nilai Uc dan Ud cenderung meningkat seiring

    dengan peningkatan laju alir fluida panas. Hal ini disebabkan karena dengan

    meningkatnya laju alir, maka transfer panas dari fluida panas ke fluida dingin

    menjadi lebih cepat. Sesuai dengan persamaan :

    U . A . ΔT LMTD = ρ .vh .cph .ΔTh

    Dimana, U = koefisien perpindahan panas

    vh

    = laju alir fluida panas

    ΔT

    = perubahan suhu

    ΔT LMTD =¿

    beda suhu rata-rata logaritma ( O C)

    ρ

    Cph

    = densitas

    = kalor jenis

    Dari persamaan diatas dapat disimpulkan bahwa semakin nilai koefisien

    perpindahan panas (U) berbanding lurus dengan laju alir fluida (vh), sehingga

    semakin besar laju alir hot fluid dalam heat exchanger maka semakin besar pula

    17

    LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014

    PERPINDAHAN PANAS

    nilai U yang diperoleh. Selain itu, dari grafik juga diketahui bahwa nilai Uc selalu

    lebih besar daripada nilai Ud. Hal ini disebabkan karena adanya proses fouling

    yang terjadi dalam heat exchanger yang dapat memperlambat laju alir sehingga

    harga Ud (koefisien perpindahan panas overall kalor) yang diperoleh lebih kecil

    daripada Uc (koefisien perpindahan panas overall bersih). Fouling merupakan

    peristiwa terakumulasinya padatan yang tidak dikehendaki di permukaan heat

    exchanger yang berkontak dengan fluida kerja, termasuk permukaan heat transfer.

    Peristiwa tersebut adalah pengendapan, pengerakan, korosi, polimerisasi dan proses

    biologi.

    Namun, dalam percobaan ini aliran counter current pada laju alir fluida panas

    3,167 x 10 -4 m 3 /s mengalami penurunan karena diakibatkan oleh adanya kerak yang

    terakumulasi dalam heat exchanger dan memperlambat laju alir sehingga proses

    perpindahan panas terganggu sehingga nilai Ui dan Uo pada laju alir hot fluid 3,167

    x 10 -4 m 3 /s lebih rendah dibandingkan aliran co-current.

    4.2.3. Nilai Rd dan Rekomendasi Perawatan Heat Exchanger

    Gambar 4.2.3. Grafik Hubungan Flowrate terhadap nilai Rd

    Rd

    0 0 0 0 0 0 0 0 Rd Co-current Rd Counter-Current Rd toleransi
    0
    0
    0
    0
    0
    0
    0
    0
    Rd Co-current
    Rd Counter-Current
    Rd toleransi

    Flowrate Hot Fluid (m3/detik)

    Berdasarkan grafik diatas, faktor pengotoran (Rd) cenderung menurun seiring

    dengan bertambahnya laju alir. Hal ini disebabkan karena semakin cepat laju alir

    fluida, maka waktu tinggal fluida makin kecil sehingga kemungkinan terbentuknya

    kerak semakin kecil.

    18

    LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014

    PERPINDAHAN PANAS

    Pada aliran co-current, nilai Rd-nya lebih kecil daripada aliran counter-

    current. Hal ini disebabkan karena nilai Uc pada aliran counter-current lebih besar

    dari Uc aliran co-current, dan nilai Ud aliran counter-current lebih kecil dari Ud

    aliran co-current. Hal ini dapat dijelaskan dari persamaan :

    Rd= 1 U d

    1

    U c U d

    U c

    U c .U d

    =

    Namun pada flowrate hot fluid 3,167 x 10 -4 m 3 /s co-current lebih besar

    daripada counter current. Hal ini disebabkan oleh akumulasi kerak dalam heat

    exchanger yang mempengaruhi oefisien perpindahan panas sehingga

    mempengaruhi nilai faktor pengotoran. Dari data Rd yang didapat, baik itu aliran

    co-current maupun counter-current, dapat disimpulkan bahwa heat exchanger ini

    masih layak digunakan karena nilai Rd yang diperoleh belum melampaui batas

    nilai Rd toleransi yang diperbolehkan, yaitu Rd = 0,003.

    (Kern, Process Heat Transfer Page 108).

    Adapun perawatan yang perlu dilakukan dalam penggunaan heat exchanger

    antara lain :

    • a. Dilakukan pembersihan heat exchanger minimal 1 tahun sekali

    • b. Jika nilai Rd melampaui batas Rd toleransi, dilakukan penggantian tube dengan diameter yang lebih besar

    • c. Mengatasi Pengotoran

    Memilih fluida yang akan dimasukkan kedalam alat penukar kalor.

    Melakukan pembersihan secara berkala untuk membuang kotoran-

    kotoran yang ada di dalam selubung atau tabung alat penukar kalor.

    Mempergunakan bahan yang cocok agar kotoran yang terdapat pada alat

    penukar kalor benar-benar bersih dan ketika membersihkan alat penukar

    kalor tersebut tidak mengalami kerusakan pad dindingmya.

    • d. Mengatasi korosi Korosi dapat dikendalikan atau diminimalisir dengan cara :

    Lapis lindung, yaitu dengan melapisi logam dengan bahan lain yang

    lebih tahan karat, sehingga proses korosi dapat diperlambat,

    Reaksi katodik (perlindungan), yaitu dengan cara arus tanding dan

    dengan anoda karbon

    Inhibitor adalah substansi kimia, bila ditambahkan dalam konsentrasi

    yang relative sedikit ke lingkungan korotif, secara efektif dapat

    menurunkan laju korosi logam.

    19

    LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014

    PERPINDAHAN PANAS

    4.2.4. Koefisien α, p, dan q pada Peristiwa Perpindahan Panas

    Peristiwa perpindahan panas terjadi dengan cara gabungan konduksi dan

    konveksi, tidak ada perubahan fase dan tidak ada radiasi yag signifikan.

    Persamaan:

    hD =α [ Dv ρ ] p [ cpµ

    k

    μ

    k

    ] q

    Merupakan rumus utama dari Bilangan Nusselt (Nu) yaitu rasio perpindahan

    panas konveksi dan konduksi normal terhadap batas dalam kasus perpindahan

    panas konveksi dan konduksi normal terhadap batas dalam kasus perpindahan

    panas pada permukaan fluida. Nilai α, p dan q dapat dihitung dengan cara numerik.

    Unuk mendapatkan nilai-nilai konstanta α, p dan q maka diperlukan 3

    persamaan. Oleh karena itu, diambil nilai-nilai Bilangan Nusselt, Prandtl dan

    Reynold dari 3 skala rotameter pada jenis aliran counter current.

    Skala 2:

    hiDi =α [ Dv ρ ] p [ cp µ

    k

    μ

    k

    ] q

    30.095,94 (W /m 2 °C). 0,0209133m

    0,6377(W /m 0 C)

    =α [21.363,39] p [4,1068 ] q

    992,597=α [21.363,39] p [4,1068 ] q

    Log

    992,597=log α+ p∙log 21.363,39+q ∙log 4,1068

    2,9968=¿

    log α+4,3297 p+0,6135 q

    (1)

    Skala 4:

    31.546,61 ( W 2 °C ) .0,0209133m

    m

    0,6375(W /m 0 C)

    =α [22.838,63] p [4,2134] q

    1.042,908=α [22.838,63 ] p [4,2134 ] q

    Log

    1.042,908=logα + p ∙log22.838,63+q∙ log4,2134

    20

    LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014

    PERPINDAHAN PANAS

    3,018 =

    log α+4,3587 p+0,6246 q

    .

    (2)

    Skala 6:

    33.300,29 ( W 2 °C ) .0,0209133m

    m

    0,6382(W /m 0 C)

    =α [24.812,78] p [4,3036] q

    1.103,333=α [24.812,78 ] p [4,3036 ] q

    Log

    1.103,333=logα + p ∙log24.812,78+q∙ log4,3036

    3,043 =

    log α+4,3947 p+0,6338 q

    .

    (3)

    Eliminasi nilai

    log α

    dari persamaan (1) dan (2)

    2,9968

    =

    log α+4,3297

    p+0,6135 q

    (×2)

    3,018

    =

    log α+4,3587

    p+0,6246 q

    ×1,97

    ¿

    )

    _____________________________

    _

    5,9936

    =

    log α+8,6594 p+1,227 q

    5,9455 = log α+8,5866 p+1,227 q

    _____________________________

    _

    0,0481

    = 0,0,0946 p

    Di dapatkan nilai p = 0,508

    log α

    Eliminasi nilai

    3,018

    =

    dari persamaan (2) dan (3)

    log α+4,3587 p+0,6246 q

    3,043 = log α+4,3947 p+0,6338 q

    _____________________________

    _

    -0,025

    = -0,036 p – 0,0092 q

    -0,025

    = -0,036 (0,508) – 0,0092 q

    Didapatkan nilai q = 0,728

    21

    LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014

    PERPINDAHAN PANAS

    Substitusi nilai p dan q ke persamaan (1) sehingga didapatkan nilai

    α=1,12

    Pembuktian nilai α = 1,12 ; p = 0,508 ; q = 0,728 ke persamaan (1)

    30.095,94 ( W 2 °C ) .0,0209133m

    m

    0,6377 (

    • m C )

    W

    0

    =1,12 [21.363,39] 0,661 [4,1068] 0,1413

    992,597994 ,988

    Dari literature yang ada untuk aliran counter current, harga

    α=0,36 ; p =

    0,55; q = 0,33 yang dijelaskan melalui persamaan:

    h o D c

    k

    =0,36 [ D c μ G s

    ] 0,55 [ cp µ

    k

    ] 0,33

    (Kern, equation page 137)

    Dari hasil percobaan yang didapatkan, dengan menghitung selisih antara nilai

    Re dan Pr pada tiap nilai Gs, maka didapat % error :

    Nu Model :

    Nu Percobaan :

    h o D c k

    =0,36 [ D c μ G s

    ] 0,55 [ cp µ

    k

    ] 0,33 h o D c

    k

    =1,12 [ D c μ G s

    ] 0,661 [ cp µ

    k

    ] 0,1413

    Tabel 4.2.1 Nilai % error antara Nu Percobaan dengan Nu Model

    flowrate

    liter/menit

    m 3 /s

    Re

    Pr

    Nu

    Model

    Nu

    Percobaan

    Error

    (%)

    7

    1,167 .10 -4

    2487,649

    5,81

    138,930789

    1.012,4571

    86,28%

    • 10 1,667 .10 -4

    2448,503

    5,88

    145,285478

    1.060,5831

    86,3%

    • 13 2,167 .10 -4

    2621,574

    5,89

    152,283439

    1.108,2670

    86,26%

    • 16 2,667 .10 -4

    2580,535

    5,93

    159,463921

    1.159,6441

    86,25%

    • 19 3,167 .10 -4

    1894,436

    5,04

    164,188657

    1.194,8043

    86,26%

    22

    LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014

    PERPINDAHAN PANAS

    23

    LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014

    • 5.1. Kesimpulan

    BAB V

    PERPINDAHAN PANAS

    KESIMPULAN DAN SARAN

    • 1. Nilai Ui pada aliran counter current lebih besar dibandingkan aliran co- current. Hal ini terjadi karena perbedaan suhu rata-rata setiap bagian heat exchanger (ΔT LMTD ) untuk aliran counter current lebih besar dibandingkan aliran co-current.

    • 2. Koefisien perpindahan panas bersih (Uc) lebih besar daripada koefisien perpindahan panas kotor (Ud) baik pada aliran co-current maupun counter current.

    • 3. Semakin tinggi flowrate, maka nilai Uc dan Ud juga meningkat. Hal ini dikarenakan nilai U berbanding lurus dengan nilai laju alir.

    • 4. Nilai α, p, dan q yang diperoleh yaitu α = 1,12; p = 0,508; dan q = 0,728

    • 5. Rd percobaan lebih kecil daripada Rd yang diijinkan yang berarti bahwa alat belum saatnya dibersihkan dan masih layak digunakan.

    • 5.2. Saran

      • 1. Pemasangan selang harus benar-benar rapat dan kuat agar tidak terjadi kebocoran

      • 2. Pembacaan suhu harus cermat dan teliti.

      • 3. Pembacaan skala flowrate harus cermat dan teliti.

      • 4. Usahakan alat dalam keadaan kering agar tidak terjadi kontak dengan arus listrik

    24

    LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014

    PERPINDAHAN PANAS

    DAFTAR PUSTAKA

    Brown, G. G. 1976. Unit Operations, Moderns Asia Edition. John Willey and Sons Inc.

    New York.

    Holman,J.D.1997. “Perpindahan Kalor”,edisi ke-6, Jakarta: Erlangga.

    Desember 2014 pukul 21.09 WIB

    Desember 2014 pukul 21.19 WIB

    tanggal 7 Desember 2014 pukul 21.34 WIB

    diakses pada tanggal 7 Desember 2014 pukul 20.52 WIB

    Kern, D. G. 1980. Process Heat Transfer. McGraw Hill Book Co. Ltd. Kogakusha, Tokyo.

    Marsoem, “Modul Alat Penukar Panas”, Jurusan Teknik Kimia UNDIP, hal 9 dan 17.

    McAdam, William H. 1959. Heat Transmittion. McGraw Hill Book Co. Ltd. Kogakusha,

    Tokyo.

    Perry, R.H and Chilson, “Chemical Engineering Handbook”, 5th ed, Mc Graw Hill Book

    25

    LABORATORIUM UNIT OPERASI TEKNIK KIMIA 2014