Anda di halaman 1dari 41

MAKALAH SEMINAR PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA DINAMIKA SUHU PADA PTHB

DISUSUN OLEH: NAMA : DUSTINI DEWI PUSPITA RAKKY ARMAN NURUL FRESTA PRATIWI ASISTEN PEMBIMBING : RADEN BAGUS ANGGY 121100049 121100053 121100072

LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA PRODI TEKNIK KIMIA / FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN YOGYAKARTA

HALAMAN PENGESAHAN MAKALAH SEMINAR PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA DINAMIKA SUHU PTHB

Disusun Oleh: Nama : Dustini Dewi Puspita Rakky Arman Nurul Fresta Pratiwi Plug Kelompok Hari/Jam :A :5 : Selasa / 13.00 WIB 121100049 121100053 121100072

Asisten Pembimbing : Raden Bagus Anggy

Yogyakarta, 18 Desember 2012 Disetujui oleh Asisten Pembimbing

Raden Bagus Anggy Nilai:

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan berkah-Nya kepada praktikan, sehingga praktikan dapat menyelesaikan laporan praktikum ini dengan lancar. Laporan praktikum Dasar Teknik Kimia ini dibuat sebagai salah satu tugas mata kuliah yang harus diselesaikan dan berkaitan dengan kegiatan praktikum yang sedang dilaksanakan, serta disusun berdasarkan hasil praktikum dan referensi yang telah didapat. Ucapan terima kasih tidak lupa praktikan ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu dalam kegiatan praktikum, khususnya kepada asisten pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan selama kegiatan praktikum berlangsung. Tidak lupa pula praktikan ucapkan terima kasih pada rekan-rekan yang telah memberikan saran dan kritik dalam penyusunan laporan ini. Dalam penyusunan laporan ini, praktikan sangat menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan laporan ini masih jauh dari sempurna dan banyak kekurangannya. Oleh karena itu, praktikan tetap menerima saran serta kritik yang

pembaca berikan, guna menyempurnakan dan memperbaiki dalam penyusunan laporan praktikum selanjutnya. Demikian kata pengantar ini praktikan sampaikan, praktikan sangat berharap bahwa laporan praktikum ini dapat bermanfaat bagi praktikan dan semua pihak pembaca. Wassalamualaikum Wr. Wb. Yogyakarta, 18 Desember 2012 Praktikan

DAFTAR TABEL

Tabel 1

Hubungan waktu dan suhu pada percobaan kondisi

tunak Tabel 2 Hubungan waktu dan suhu pada percobaan kondisi dinamik Tabel 3 Tabel 4 Hubungan waktu dan suhu pada data kondisi tunak Hubungan waktu dan suhu pada data kondisi dinamik Tabel 5 Densitas air pada setiap suhu

15

16 18

20 30

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1

Fungsi Unit Step

Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6 Gambar 7 Gambar 8

Fungsi Step Pemanas Tangki Horizontal Berpengaduk (PTHB) Rangkaian Alat PTHB Diagram alir percobaan pendahuluan Diagram alir percobaan kondisi tunak Diagram alir percobaan kondisi dinamik Grafik hubungan antara waktu dan suhu pada kondisi tunak

7 9 10 13 13 14

19&22

Gambar 9

Grafik hubungan antara waktu dan suhu pada kondisi dinamik 21&23 26

Gambar 10

Diagram blok fungsi transfer

DAFTAR ISI

Halaman Pengesahan Kata Pengantar Daftar Tabel Daftar Gambar

i ii iv v

Intisari Bab I Pendahuluan 1. 2. 3. Latar Belakang Tujuan Tinjauan Pustaka

1 3 3 5 5 10 10 11 13 15 15 17 22 22 24

Bab II Pelaksanaan Percobaan 1. 2. 3. Rangkaian Alat dan Bahan Cara Kerja Diagram Alir

Bab III Hasil Percobaan dan Perhitungan 1. 2. Hasil Percobaan Perhitungan

Bab IV Pembahasan dan Kesimpulan 1. 2. Pembahasan Kesimpulan

Daftar Pustaka Lampiran

29 30

INTISARI
Dalam pengoperasian suatu pabrik akan selalu mengalami gangguan (disturbance) dari lingkungan eksternal. Selama beroperasi, pabrik harus terus mempertimbangkan aspek keteknikan, keekonomisan, dan kondisi sosial agar tidak terlalu signifikan terpengaruh oleh perubahan-perubahan eksternal tersebut. Maka dari itu, perubahan atau fluktuasi Process Variables (PV) di dalam suatu pabrik mempengaruhi kinerja prosesnya. Tujuan percobaan ini adalah mengetahui perubahan dinamika respon suhu (T) pada sistem tangki pemanas berpengaduk berbentuk silinder horizontal yang terjadi akibat perubahan eksternal yang diberikan. Dari perubahan tersebut dapat disusun model matematisnya dan didapat nilai-nilai konstanta yang ikut mempengaruhi dinamika suhu yang terjadi. Percobaan ini menggunakan PTHB sebagai sistem yang akan diukur dinamika suhu keluarnya. Dimana PTHB akan diberikan aliran gangguan dari tangki gangguan dengan air yang suhunya lebih tinggi daripada suhu air di dalam PTHB. Suhu yang keluar dari PTHB dihitung setiap tiga menit untuk mengetahui perubahan suhu dinamiknya hingga konstan. Dari hasil percobaan tersebut diperoleh persamaan matematis yang dapat mewakili perubahan dinamik suhu keluar dari PTHB dan konstanta-konstanta yang mempengaruhinya, yaitu: 1. Persamaan yang diperoleh dari percobaan:

2.

Konstanta-konstanta yang mempengaruhi : p Kp K1 K2 = 650 s = 0.0563 = 615.3477 s = 0.9467 = 0.053

BAB I PENDAHULUAN

1.

LATAR BELAKANG Pabrik kimia merupakan susunan/rangkaian berbagai unit pengolahan yang

terintegrasi satu sama lain secara sistematik dan rasional. Tujuan pengoperasian pabrik secara keseluruhan adalah mengubah (mengonversi) bahan baku menjadi produk yang lebih bernilai guna. Dalam pengoperasiannya pabrik akan selalu mengalami gangguan (disturbance) dari lingkungan eksternal. Selama beroperasi, pabrik harus terus memepertimbangkan aspek keteknikan, keekonomisan, dan kondisi sosial agar tidak terlalu signifikan terpengaruh oleh perubahan-perubahan eksternal tersebut. Di dalam pabrik kimia itu sendiri prosesnya menggunakan gabungan dari beberapa unit proses seperti reaktor, heat exchanger, pompa, tangki, separator dan lain-lain yang tersusun secara sistematis dan proporsional untuk mengubah bahan baku menjadi produk (yang mempunyai nilai lebih) dengan cara seekonomis mungkin (Stephanopoulus,1990) Perubahan atau fluktuasi Process Variables (PV) di dalam suatu pabrik mempengaruhi kinerja proses. Kelakuan dinamik dari Process Variables (PV) sangat penting untuk diketahui guna mendukung tercapainya tujuan proses. Selain itu, kelakuan dinamik proses juga bermanfaat dalam perancangan sistem

pengendalian proses. Dalam percobaan ini, diambil kasus dinamika suhu pada Pemanas Tangki Horizontal Berpengaduk. Dalam penelitian dan praktik industri, pemahaman mengenai dinamika suatu proses kimia telah berkembang dan terbentuk karena faktor-faktor berikut: 1. Struktur proses kimiawi menjadi sangat kompleks, yang menuntut perhatian profesi keteknikan untuk mengkaji/ merancang pengendalian proses keseluruhan pabrik dari pada per satu unit operasi. Perancangan sistem instrumentasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perancangan proses kimia itu sendiri 2. Perancangan instrumentasi sistem proses yang dituntut untuk memenuhi: a. b. c. 3. Tujuan dan sasaran sistem kontrol Pemilihan cara pengukuran, manipulasi serta rangkaian yang tepat Identifikasi sistem komputerisasi dan instrumentasi yang tepat

Pertumbuhan komputer digital yang sangat cepat sehingga dapat merombak praktik instrumentasi proses kimia dan telah menerapkan sistem instrumentasi yang modern Sistem kontrol dalam perancangan instrumentasi merupakan Suatu sistem

yang digunakan untuk menjaga/mengendalikan PV pada nilai yang diinginkan (set-point), walaupun terjadi gangguan proses. Ada beberapa fungsi gangguan pada sistem, salah satunya adalah fungsi step. Di mana fungsi tersebut akan berubah secara cepat dengan satu tahap dari satu tingkat ke tingkat lainnya dan setelah itu mencapai nilai steady baru atau konstan.

Gambar 1: Fungsi Unit Step

2.

TUJUAN Tujuan dilaksanakannya praktikum ini, antara lain:

1.

Menyusun permodelan matematis untuk mempelajari dinamika suhu pada sistem tangki pemanas berpengaduk berbentuk silinder horizontal

2.

Mempelajari dinamika respon suhu (T) terhadap perubahan input ( gangguan )

3.

Menghitung harga K1, K2, Kp, p, dan .

3.

TINJAUAN PUSTAKA Variabel-variabel yang terlibat dalam proses operasi pabrik adalah F (laju

alir), T (temperatur), P (tekanan) dan C (konsentrasi). Variabel-variabel tersebut dapat dikategorikan menjadi 2 kelompok, yaitu variabel input dan variabel output.

1.

Variabel Input Variabel input adalah variabel yang menandai efek lingkungan pada proses kimia yang dituju. Variabel ini juga diklasifikasikan dalam 2 kategori, yaitu: 1. Manipulated (adjustable) variable, jika harga variabel tersebut dapat diatur dengan bebas oleh operator atau mekanisme pengendalian. 2. Disturbance variable, jika harga tidak dapat diatur oleh operator atau sistem pengendali, tetapi merupakan gangguan.

2.

Variabel Output Variabel oiutput adalah variabel yang menandakan efek proses kimia terhadap lingkungan yang diklasifikasikan dalam 2 kelompok: 1. Measured output variables, jika variabel dapat diketahui dengan pengukuran langsung 2. Unmeasured output variables, jika variabel tidak dapat diketahui dengan pengukuran langsung Dalam analisis dinamika proses, variable proses dan sinyal control

merupakan fungsi waktu. Ada beberapa fungsi yang dapat mewakili perubahan atau dinamika yang terjadi pada input dalam respon sistem order satu. 1. Fungsi Step Fungsi step adalah fungsi yang bernilai nol pada saat t < c dan bernilai 1 pada saat t c

Gambar 2: Fungsi Step Fungsi ini dinotasikan dengan f(t) = u(t c), dimana c merupakan nilai t yang menandai perubahan nilai fungsi dari 0 ke 1. Adapun transformasi Laplace pada fungsi ini, sebagai berikut:

A F(s) A.e st .dt e st | 0 s 0


=

A (0 1) s A s

2.

Fungsi Ramp Fungsi ramp adalah fungsi dimana input mengalami kenaikan secara linier dengan waktu mulai dari nol. Fungsi input pada fungsi ramp adalah:

Dimana r merupakan slope dari fungsi ramp tersebut. Adapun transformasi Laplace dari persamaan tersebut:

3.

Fungsi Sinusoidal Fungsi sinusoidal ini adalah fungsi yang menyatakan respon mengalami osilasi akibat perubahan dinamiknya sebelum mencapai nilai steady barunya. Fungsi ini dinotasikan dengan;

Dimana A merupakan amplitudo dan

adalah frekuensi (radian/waktu).

Transformasi Laplace pada fungsi ini adalah:

Penyelesaian persamaan diferensial dengan menggunakan transformasi Laplace beranggapan bahwa kondisi awal merupakan keadaan tunak (steady state) dan semua variabel dinyatakan dalam prosedur penyelesaian term deviasi. Sistematika transformasi Laplace: 1. Menyusun persamaan diferensial neraca massa atau neraca panas yang terjadi pada sistem dalam keadaan steady dan unsteady. 2. 3. Membuat term deviasi dari setiap variabel steady dan unsteady. Mengubah persamaan diferensial menjadi bentuk Laplace dengan variabel s. 4. 5. Membuat hubungan antara variabel output dan variable input. Meng-invers persamaan yang telah terbentuk menjadi bentuk waktu (t) untuk memperoleh respon output.

Dalam percobaan ini fungsi dan transformasi Laplace tersebut digunakan untuk menghitung dan mengetahui perubahan dinamik pada suhu air di dalam sistem PTHB. PTHB atau Pemanas Tangki Horizontal Berpengaduk sendiri merupakan CPI atau Chemical Process Industries dimana sistem ini terdiri dari beberapa unit proses, antara lain; tangki, pompa pengangkut, dan pemanas. PTHB biasanya digunakan pada perusahaan bioethanol yang fungsinya untuk mengontrol suhu atau mereaksikan suatu zat.

Gambar 3: Pemanas Tangki Horizontal Berpengaduk (PTHB)

BAB II PELAKSANAAN PERCOBAAN

1.

RANGKAIAN ALAT DAN BAHAN

10 2

11

7 9 1 12

9 3 8

5 8

Gambar 4: Rangkaian Alat PTHB

Keterangan Alat: 1. 2. 3. 4. PTHB Tangki Umpan Tangki Umpan Cadangan Tangki Gangguan 5. 6. 7. 8. Tangki Gangguan Cadangan Pengaduk Elektrik Termometer Pompa

9. 10.

Pemanas Kran Umpan

11. 12.

Kran Gangguan Kran Buangan PTHB

Bahan yang digunakan adalah air dengan spesifikasi sebagai berikut: 1. 2. Suhu (T) = 28oC Kapasitas panas air (Cp) = 1 kal/goC

2.

CARA KERJA Percobaan dilakukan dengan satu percobaan pendahuluan untuk

mengetahui volume pada PTHB dan dua percobaan utama dalam kondisi yang berbeda yaitu, tunak dan dinamik. 1. Percobaan Pendahuluan Percobaan pendahuluan dilakukan untuk mengetahui volume air pada PTHB dengan cara mengisi PTHB dengan air hingga penuh, ditandai dengan mengalirnya air menuju tangki umpan cadangan. Setelah itu, dilanjutkan dengan membuka kran buangan PTHB sambil menampung dan mengukur air yang keluar dari PTHB. Lalu, mencatat volume yang terukur.

2.

Percobaan Kondisi Tunak Percobaan kondisi tunak bertujuan untuk mengetahui suhu steady pada sistem. Percobaan ini diawali dengan mengisi tangki umpan hingga penuh yang ditandai dengan mengalirnya air dari tangki umpan ke tangkin umpan

cadangan. Lalu melakukan pengecekan aliran dengan menghidupkan pompa pada tangki umpan cadangan dan membuka kran tangki umpan sampai aliran menjadi overflow. Apabila alirannya sudah overflow, kemudian melakukan pengukuran suhu awal pada tangki umpan. Lalu, menghidupkan pemanas pada PTHB dan mengukur suhu air keluar dari PTHB setiap selang waktu 3 menit hingga suhu mencapai nilai konstan.

3.

Percobaan Kondisi Dinamik Percobaan kondisi dinamik dilakukan untuk mengetahui perubahan dinamik suhu pada PTHB apabila diberi aliran gangguan hingga suhu mencapai nilai konstannya. Pertama-tama, mengisi tangki gangguan dengan air hingga penuh dan menghidupkan pemanas pada tangki gangguan hingga air pada tangki gangguan mencapai suhu 50oC dan menyalakan pompa pada tangki gangguan cadangan. Lalu, mengalirkan air dari tangki gangguan menuju PTHB dan memulai split untuk mengetahui perubahan dinamik suhu pada selang waktu 3 menit.

3.

DIAGRAM ALIR Diagram alir percobaan dibagi atas 3 diagram, yaitu:

1.

Diagram alir percobaan pendahuluan

Mengisi PTHB dengan air hingga penuh

Membuka kran buangan PTHB dan menampung air yang keluar dari PTHB

Mengukur volume air yang telah ditampung

Gambar 5: Diagram alir percobaan pendahuluan

2.

Diagram alir percobaan kondisi tunak Mengisi tangki umpan dengan air hingga penuh

Menghidupkan pompa pada tangki umpan cadangan dan membuka kran pada tangki umpan Mengatur bukaan kran tangki umpan hingga aliran menjadi overflow1

Melakukan pengukuran suhu awal pada tangki umpan

Menghidupkan pemanas pada PTHB dan mengukur suhu keluar PTHB setiap selang waktu 3 menit sampai suhu konstan Gambar 6: Diagram alir percobaan kondisi tunak

3.

Diagram alir percobaan kondisi dinamik

Mengisi tangki gangguan dengan air hingga penuh

Menghidupkan pemanas pada tangki gangguan hingga air pada tangki gangguan mencapai suhu 50oC

Menyalakan pompa pada tangki gangguan cadangan dan mengatur kran pada tangki gangguan dan tangki umpan hingga aliran overflow

Mengukur suhu air keluar pada PTHB setiap selang waktu 3 menit sampai memperoleh data konstan Gambar 7: Diagram alir percobaan kondisi dinamik

BAB III HASIL PERCOBAAN DAN PERHITUNGAN

1.

HASIL PERCOBAAN Volume Tangki (V) Kapasitas Panas Cairan (Cp) Densitas Air ( ) Laju Alir Volumetrik (Fi) = 13 = 42 = 0.996233 = 20 l J/goC g/cm3 cm3/s cm2 W/m2oC W

Luas Permukaan Koil Pemanas (Ae) = 188.5 Koefisien Konveksi (he) Panas yang Diberikan Koil (Qe) = 2500 = 420

1.

Kondisi Tunak

Tabel 1: Hubungan waktu dan suhu pada percobaan kondisi tunak No 1 2 3 4 5 6 7 Waktu 0 3 6 9 12 15 18 Suhu 28 28.5 29 29.5 30 31 31.5 8 9 10 11 12 13 14 15 21 24 27 30 33 36 39 42 32 33 33.5 34 35 35.5 36 37

16 17 18 19 20 21 22 23

45 48 51 54 57 60 63 66

37 37 37.5 38 38.5 39 39 40

24 25 26 27 28 29 30 31

69 72 75 78 81 84 87 90

40 41 41 41.5 41.5 41.5 41.5 41.5

2.

Kondisi Dinamik

Tabel 2: Hubungan waktu dan suhu pada percobaan kondisi dinamik No. 1 2 3 4 5 6 7 Waktu 0 180 360 540 720 900 1080 Suhu 41.5 45 48 50 53 55 57 8 9 10 11 12 13 14 15 1260 1440 1620 1800 1980 2160 2340 2520 60 61.5 62 63 63 63 63 63

2. 1.

PERHITUNGAN Mencari nilai p dan Kp Diketahui: V Fi he Ae Cp = 13 l = 13000 cm3 = 20 cm3/s = 2500 W/m2oC = 188.5 cm2 = 0.996233 g/cm3 = 42 J/goC

2.

Mencari nilai , K1, dan K2 Diketahui: p Kp = 650 s = 0.0563

3.

Kondisi Tunak Suhu Umpan Masuk (Tis) = 28oC

Tabel 3: Hubungan waktu dan suhu pada data kondisi tunak

Waktu No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 (menit) 0 3 6 9 12 15 18 21 24 27 30 33

Suhu (oC) 28 28.5 29 29.5 30 31 31.5 32 33 33.5 34 35

13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

36 39 42 45 48 51 54 57 60 63 66 69 72 75

35.5 36 37 37 37 37.5 38 38.5 39 39 40 40 41 41

27 28 29

78 81 84

41.5 41.5 41.5

30 31

87 90

41.5 41.5

Dari data percobaan di atas diperoleh nilai suhu steady pada 41.5oC. Maka, dari data tersebut dapat dibuat grafik hubungan antara waktu dan suhu, sebagai berikut:
45 40 35

30
Suhu 25 20 15 10 5 0 0 20 40 Waktu 60 80 100

Gambar 8: Grafik hubungan antara waktu dan suhu pada kondisi tunak

4.

Kondisi Dinamik Suhu Umpan Masuk (Tis) Suhu Steady (Ts) Suhu Gangguan (Tisnew) = 28oC = 41.5oC = 50oC

Untuk menghitung kondisi dinamik suhu yang keluar pada PTHB digunakan transformasi Laplace dari persamaan diferensial yang diperoleh dari kerja sistem, yaitu:

Invers dari transformasi Laplace di atas digunakan untuk menghitung suhu hitung yang keluar dari PTHB. Untuk mendapatkan perbedaan antara suhu yang didapat dari data dan suhu hitung dicari dengan menggunakan rumus persen kesalahan.

Maka, diperoleh tabel sebagai berikut: Tabel 4: Hubungan waktu dan suhu pada data kondisi dinamik No. 1 2 3 4 5 6 7 Waktu 0 180 360 540 720 900 1080 Suhu 41.5 45 48 50 53 55 57 Suhu Hitung 41.50 46.78 50.72 53.67 55.86 57.50 58.73 %kesalahan 0.00 3.96 5.68 7.33 5.40 4.55 3.03

8 9 10 11 12 13 14 15

1260 1440 1620 1800 1980 2160 2340 2520

60 61.5 62 63 63 63 63 63

59.64 60.32 60.83 61.21 61.49 61.70 61.86 61.98

0.60 1.92 1.89 2.84 2.39 2.06 1.81 1.62

Diperoleh persen kesalahan rata-rata = 3.00% Dari data yang diperoleh dari tabel di atas dapat dibuat grafik hubungan waktu dan suhu pada kondisi dinamik, sebagai berikut:

70 60 50 Suhu 40 30 20 10 0 0 1000 Waktu 2000 3000 Waktu vs. Suhu Data

Waktu vs. Suhu Hitung

Gambar 9: Grafik hubungan waktu dan suhu pada kondisi dinamik

BAB IV PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

1.

PEMBAHASAN Dari percobaan pada kondisi tunak didapatkan nilai steady umpan masuk

untuk perhitungan pada kondisi dinamik.


45 40 35 30 Suhu 25 20 15 10 5 0 0 20 40 60 80 100

Waktu

Gambar 8: Grafik hubungan waktu dan suhu pada kondisi tunak Dari grafik di atas diketahui bahwa waktu yang lama mengakibatkan suhu meningkat hingga pada akhirnya mencapai titik konstan pada 41.5oC. Hal ini disebabkan air yang mengalir dari tangki umpan ke PTHB dan keluar dari PTHB mendapatkan panas yang diberikan oleh koil pemanas di dalam PTHB. Pada percobaan ini seharusnya mengikuti teori gangguan sistem berdasarkan fungsi step. Namun, karena suhu umpan masuk tiba-tiba diganggu dengan aliran gangguan bersuhu konstan, maka dapat digunakan rumus berikut:

Perbedaan hasil antara suhu data dan suhu hitung menghasilkan persen kesalahan. Persen kesalahan diperoleh karena disebabkan kesalahan pembacaan suhu gangguan awal dan suhu keluar dari PTHB. Selain itu, pada saat percobaan, aliran tidak terjaga overflow, sehingga air pada tangki gangguan sering ditambahkan air dengan suhu tinggi yang mengakibatkan suhu keluar PTHB menjadi meningkat.
70 60 50 Suhu 40 30 20 10 0 0 1000 Waktu 2000 3000 Waktu vs. Suhu Data Waktu vs. Suhu Hitung

Gambar 9: Grafik hubungan waktu dan suhu pada kondisi dinamik Grafik tersebut menunjukkan bahwa kondisi steady state belum dapat terlihat dikarenakan data yang diambil untuk menentukan kondisi steady state belum sempurna. Namun pada percobaan kondisi dinamik didapat suhu steady state 63oC. Semakin tinggi suhu gangguan (Tis new) maka semakin tinggi suhu steady-nya (Tis new), hal ini disebabkan oleh perbedaan antara suhu umpan (Tis) dan suhu gangguan (Tis new) yaitu magnitude (M) yang besar.

2. 3.

KESIMPULAN Dari data percobaan dan perhitungan diperoleh : p Kp K1 K2 = 650 s = 0.0563 = 615.3477 s = 0.9467 = 0.053

4.

Persamaan yang diperoleh dari percobaan kondisi dinamik:

5.

Susunan neraca panas pada PTHB:

Neraca panas pada keadaan unsteady:

Neraca panas pada keadaan steady:

Term Deviasi:

Transformasi Laplace:

Fungsi Transfer: Ti(s)


+

T(s) Te(s)
+

Gambar 10: Diagram blok fungsi transfer

Jika Te(s) = 0, maka fungsi transfernya menjadi;

DAFTAR PUSTAKA
Perry, R.H., Green, D.W. 1997. Perrys Chemical Engineers Handbook 7th ed. McGraw-Hill: New York Smith, C.A., Corripio, A.B. 1997. Principles & Practice of Automatic Process Control 2nd ed. John Wiley & Sons, Inc: New York Stephanopoulus, G. 1984. Chemical Process Control : An Introduction to Theory and Practice. Prentice-Hall, Inc: New Jersey

LAMPIRAN

Tabel 5: Densitas air pada setiap suhu t, oC 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Densitas (gr/ml) 0.999839 0.999898 0.999940 0.999964 0.999972 0.999964 0.999940 0.999901 0.999848 0.999781 0.999699 0.999605 0.999497 0.999377 0.999244 0.999099 0.998943 0.998775 0.998595 19 t, oC 21 22 23 24 25 26 27 20 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 0.998405 Densitas (gr/ml) 0.997992 0.997770 0.997538 0.997296 0.997045 0.996783 0.996513 0.998204 0.996233 0.995945 0.995647 0.995341 0.995026 0.994703 0.994371 0.994032 0.993684 0.993328

38 39 40 41 42 43 44 45 46

0.992965 0.992594 0.992215 0.991830 0.991436 0.991036 0.990628 0.990213 0.989792

47 48 49 50 51 52 53 54 55

0.989363 0.988928 0.988485 0.988037 0.987581 0.987120 0.986652 0.986177 0.985696

PERTANYAAN DAN JAWABAN 1. Nadia Benita (121100127) Sebutkan variabel input dan variabel output pada percobaan! Jawaban: Variabel input pada percobaan meliputi; laju alir cairan masuk, suhu cairan masuk, dan panas steam. Variabel output pada percobaan meliputi: level cairan pada tangki, suhu cairan keluar, dan laju alir cairan keluar

2. Diah Asih Ekawati (121100067) Apa saja kegunaan PTHB pada industri? Jawaban: Pada industri PTHB digunakan dalam sistem, salah satunya untuk mengontrol suhu dan mereaksikan suatu zat. Contohnya, pada industry ethanol.

3. Monica Gretta Pawung (121100076) Apa hubungan percobaan kondisi tunak dan percobaan kondisi dinamik? Jawaban: Pada percobaan kondisi tunak, kita hanya mencari data pada sistem tanpa adanya gangguan hingga air mencapai suhu steady-nya. Sedangkan pada percobaan kondisi tunak kita menambahkan aliran gangguan di mana suhu gangguan lebih besar dari pada suhu steady air. Sehingga terjadi perubahan yang dinamik pada suhu air yang awalnya telah mencapai steady, hingga suhu air mencapai nilai konstan kembali.

4. Desi Kurniyati (121100056) Apa contoh gangguan yang terjadi pada industri riil dan bagaimana menanggulanginya? Jawaban: Gangguan pada sistem proses pabrik tentu saja sangat beragam. Contohnya; sistem Heat Exchanger, pada aliran masuk dan aliran keluar harus dipasang alat sensor yang nantinya akan mengirimkan sinyal apabila terjadi gangguan pada input maupun outputnya, sehingga secara otomatis alat akan melakukan antisipasi agar tidak terjadi konflik pada sistem. Secara matematis, kita mengubah fungsi transfer di saat terjadi perubahan input maupun outputnya. Gangguannya sendiri dapat merupakan macam-macam variabel yang dapat berubah maupun diubah. Contohnya; suhu, tekanan, laju alir, level, dll.