Anda di halaman 1dari 49

Laporan Praktikum

Dosen Pembimbing

Laboratorium Teknik Kimia

Zuchra Helwani, ST, MT, PhD

DISTILASI BATCH

Kelompok

: I (Satu)

Nama Kelompok

: 1. Hendryanto Sinaga (1507167334)


2. Ryan Tito (1507165761)
3. Sudung S. Siallagan (1507165728)

Tanggal Praktikum

: 6 Agustus 2016

Tanggal Pemasukan Laporan

: 13 Agustus 2016

PROGRAM STUDI TRANSFER S1 TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS RIAU
2016

ABSTRAK
Distilasi merupakan proses pemisahan komponen-komponen dalam larutan cair
dengan menggunakan panas sebagai separating agent. Tujuan dari praktikum ini
adalah untuk menentukan efisiensi kolom, menjelaskan perubahan komposisi
overhead dan bottom terhadap waktu pada kondisi rasio refluks konstan,
menjelaskan pengaruh perubahan rasio refluks dan power terhadap efisiensi
kolom. Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah seperangkat alat distilasi
yang dilengkapi dengan 8 tray. Bahan yang digunakan yaitu campuran etanol-air
dengan perbandingan volume 30% : 70%. Praktikum ini dilakukan dengan variasi
rasio refluks 1:2; 1:3 dan 1:4, serta power konstan sebesar 1,75 kW. Metode yang
digunakan untuk menentukan efisiensi kolom adalah dengan menggunakan
persamaan Fenske dan metode McCabe & Thiele. Hasil yang diperoleh pada
praktikum ini adalah adanya penurunan komposisi etanol pada overhead dan
bottom pada rasio refluks konstan seiring dengan bertambahnya waktu distilasi.
Semakin kecil rasio refluks maka efisiensi kolom akan semakin besar. Efisiensi
kolom terbesar didapat pada rasio refluks 1:3 yaitu 21,25%. Untuk rasio refluks
yang sama, semakin tinggi power yang digunakan maka efisiensi kolom akan
semakin berkurang. Untuk rasio refluks 1:3, pada power 1,5 kW didapat efisiensi
kolom sebesar 18,53% sedangkan pada power 1,75 kW didapat efisiensi kolom
sebesar 11,09%.
Keyword: efisiensi kolom; rasio refluks; overhead; bottom.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Distilasi (penyulingan) adalah proses pemisahan komponen dari suatu
campuran yang berupa larutan cair-cair dimana karakteristik dari campuran
tersebut adalah mampu bercampur dan mudah menguap, selain itu komponenkomponen tersebut mempunyai perbedaan tekanan uap dan hasil dari
pemisahannya menjadi komponen-komponennya atau kelompok-kelompok
komponen. Karena adanya perbedaan tekanan uap, maka dapat dikatakan pula
proses penyulingan merupakan proses pemisahan komponen berdasarkan
perbedaan titik didihnya.
Sebagai contoh, proses penyulingan sederhana adalah penyulingan dari
larutan garam yang dilakukan di laboratorium, sebagaimana ditunjukkan pada
Gambar 1.1.

Gambar 1.1 Rangkaian Penyulingan Sederhana (Rahayu, 2009).

Pada gambar tersebut, terlihat larutan garam (NaCl) dimasukkan pada labu,
dimana pada bagian atas dari labu tersebut dipasang alat pengukur suhu atau
termometer. Larutan garam di dalam labu dipanasi dengan menggunakan
pembakar Bunsen. Setelah beberapa saat, larutan garam tersebut akan mendidih
dan sebagian akan menguap. Uap tersebut dilewatkan di kondensor dan akan

terkondensasi yang ditampung pada erlemeyer. Cairan pada erlenmeyer


merupakan destilat sebagai air murni (Rahayu, 2009).
Bentuk modern distilasi pertama kali ditemukan oleh ahli-ahli kimia Islam
pada masa kekhalifahan Abbasiah, terutama oleh Al-Razi pada pemisahan alkohol
menjadi senyawa yang relatif murni melalui alat alembik, bahkan desain ini
menjadi semacam inspirasi yang memungkinkan rancangan distilasi skala mikro,
The Hickman Stillhead dapat terwujud. Tulisan oleh Jabir Ibnu Hayyan (721-815)
yang lebih dikenal dengan Ibnu Jabir menyebutkan tentang uap anggur yang dapat
terbakar. Ia juga telah menemukan banyak peralatan dan proses kimia yang
bahkan masih banyak dipakai sampai saat kini. Kemudian teknik penyulingan
diuraikan dengan jelas oleh Al-Kindi (801-873).
Selain itu salah satu yang paling terkenal pada operasi penyulingan atau
distilasi ini adalah dilakukan untuk pemisahan minyak mentah menjadi bagianbagian untuk penggunaan khusus seperti untuk transportasi, pembangkit listrik,
pemanas dan sebagainya. Udara didistilasi menjadi komponen-komponen seperti
oksigen untuk penggunaan medis dan helium untuk pengisi balon. Distilasi juga
telah digunakan sejak lama untuk pemekatan alkohol dengan penerapan panas
terhadap larutan hasil fermentasi untuk menghasilkan minuman suling.

1.2. Dasar Teori


1.2.1 Distilasi
Distilasi adalah sistem perpindahan yang memanfaatkan perpindahan massa.
Masalah perpindahan massa dapat diselesaikan dengan dua cara yang berbeda.
Pertama dengan menggunakan konsep tahapan kesetimbangan (equilibrium stage)
dan kedua atas dasar proses laju difusi (difusional forces). Distilasi dilaksanakan
dengan rangkaian alat berupa kolom/menara yang terdiri dari piring (plate
tower/tray)

sehingga

dengan

pemanasan

komponen

dapat

menguap,

terkondensasi, dan dipisahkan secara bertahap berdasarkan tekanan uap/titik


didihnya. Proses ini memerlukan perhitungan tahap kesetimbangan (Mc Cabe and
Warren, 1999).

Salah satu model operasi distilasi adalah distilasi curah (batch distillation).
Pada operasi ini, umpan dimasukkan hanya pada awal operasi, sedangkan
produknya dikeluarkan secara kontinu. Operasi ini memiliki beberapa
keuntungan:
1. Kapasitas

operasi

terlalu

kecil

jika

dilaksanakan

secara

kontinu.

Beberapa peralatan pendukung seperti pompa, tungku/boiler, perapian atau


instrumentasi biasanya memiliki kapasitas atau ukuran minimum agar dapat
digunakan pada skala industrial. Di bawah batas minimum tersebut,
harga peralatan akan lebih mahal dan tingkat kesulitan operasinya akan
semakin tinggi.
2. Karakteristik umpan maupun laju operasi berfluktuasi sehingga jika
dilaksanakan secara kontinu akan membutuhkan fasilitas pendukung yang
mampu menangani fluktuasi tersebut. Fasilitas ini tentunya sulit diperoleh
dan mahal harganya.
Peralatan distilasi curah dapat dipandang memiliki fleksibilitas operasi
dibandingkan peralatan distilasi kontinu. Hal ini merupakan salah satu alasan
mengapa peralatan distilasi curah sangat cocok digunakan sebagai alat serba guna
untuk memperoleh kembali pelarut maupun digunakan pada pabrik skala pilot.
Perangkat praktikum distilasi batch membawa para pengguna untuk mempelajari
prinsip-prinsip dasar pemisahan dengan operasi distilasi, seperti kesetimbangan
uap cair dan pemisahan lewat multi tahap kesetimbangan. Perangkat ini dapat juga
dimanfaatkan untuk mempelajari dasar-dasar penilaian untuk kerja kolom
distilasi packing dan mempelajari perpindahan massa dalam kolom distilasi
packing.
Kolom distilasi adalah sarana melaksanakan operasi pemisahan komponenkomponen dari campuran fasa cair, khususnya yang mempunyai perbedaan titik
didih dan tekanan uap yang cukup besar (Geankoplis, 1993). Kolom distilasi
dapat berfungsi sebagai sarana pemisahan karena sistem perangkat sebuah kolom
distilasi memiliki bagian-bagian proses yang memiliki fungsi-fungsi (Mc Cabe
and J.C Smith, 1985) :

1. Menguapkan campuran fasa cair (terjadi di reboiler)


2. Mempertemukan fasa cair dan fasa uap yang berbeda komposisinya (terjadi
di kolom distilasi)
3. Mengondensasikan fasa uap (terjadi di kondensor)
4. Konsep pemisahan dengan cara distilasi merupakan sintesa pengetahuan dan
peristiwa-peristiwa:
a. Kesetimbangan fasa
b. Perpindahan massa
c. Perpindahan panas
d. Perubahan fasa akibat pemanasan (penguapan)
e. Perpindahan momentum
Kolom distilasi dibangun atas beberapa komponen, masing-masing
dimanfaatkan untuk melakukan transfer energi panas dan transfer material.
Beberapa komponen utamanya antara lain:
1. Shell, tempat dimana pemisahan komponen cair terjadi
2. Colomn Internal/Tray, digunakan untuk meningkatkan pemisahan komponen
3. Reboiler, menyiapkan kebutuhan vaporasi pada proses distilasi
4. Kondensor, mendinginkan dan mengkondensasi uap yang meninggalkan
bagian atas kolom distilasi
5. Reflux Drum, untuk menampung uap yang terkondensasi dari kolom bagian
atas sehingga cairan (reflux) dapat diumpan balikkan ke kolom.
Shell membungkus Column Internal, bersama dengan reboiler dan
kondensor dalam satu kesatuan membentuk sebuah kolom distilasi. Skema kolom
distilasi dengan single feed dan dua aliran produk dapat dilihat pada gambar 2.1.
Campuran berfase cair yang akan diproses dinamakan feed, biasanya diletakkan di
bagian tengah kolom dan dilewatkan ke sebuah tray yang disebut sebagai feed
tray. Feed tray membagi kolom menjadi bagian atas (top section) dan bagian
bawah (bottom section). Feed mengalir ke bagian bawah kolom yang selanjutnya
dikumpulkan pada reboiler.

Gambar 1.2 Skema Kolom Distilasi


Panas diperoleh dari reboiler untuk menghasilkan vapour. Sumber panas
yang dipakai bisa fluida jenis apapun, meskipun dibanyak proses kimia lebih
sering digunakan steam. Bahkan pada proses refiner, sumber panas yang
digunakan adalah keluaran dari kolom distilasi lainnya. Uap yang dihasilkan
reboiler, diumpankan kembali ke bagian bawah kolom. Sedangkan liquid yang
dikeluarkan reboiler dinamakan bottom product atau disingkat bottom saja.
Vapour bergerak ke bagian atas kolom. Setelah vapour tersebut
meninggalkan bagian atas kolom, selanjutnya akan didinginkan oleh kondensor.
Cairan yang terkondensasi disimpan pada sebuah vessel yang dikenal sebagai
reflux drum. Sebagian dari cairan ini ada yang diumpanbalikkan ke bagian atas
kolom dan disebut sebagai reflux. Sedangkan cairan terkondensasi yang
dikeluarkan dari reflux drum disebut sebagai distillate atau top product
(Geankoplis, 1993).
Batas

perpindahan

fasa

tercapai

apabila

kedua

fasa

mencapai

kesetimbangan dan perpindahan makroskopik terhenti. Pada proses komersial


yang dituntut memiliki laju produksi besar, terjadinya kesetimbangan harus
dihindari. Distilasi pada satu tahapannya memisahkan dua komponen, yang

terdapat dalam 2 fasa, sehingga derajat kebebasannya 2 dan 4 variabel yaitu


tekanan, suhu, dan konsentrasi komponen A pada fasa cair dan fasa uap
(konsentrasi komponen B sama dengan 1 dikurangi konsentrasi komponen A).
Jika telah ditetapkan temperatur, hanya ada satu variabel saja yang dapat diubah
secara bebas, sedangkan temperatur dan konsentrasi fasa uap didapatkan sebagai
hasil perhitungan sesuai sifat-sifat fisik pada tahap kesetimbangan (Tim penyusun,
2010).

Gambar 1.3 Skema Proses Perpindahan Massa pada Distilasi


(Tim penyusun, 2010)
1.2.2 Kesetimbangan Uap-Cair
Operasi

distilasi

mengekspoitasi

perbedaan

kemampuan

menguap

(volatillitas) komponen-komponen dalam campuran untuk melaksanakan proses


pemisahan. Pada umumnya proses distilasi dilaksanakan dalam keadaan bubble
temperature dan dew temperature, dengan komposisi uap dan cairan yang ada
dalam kesetimbangan ditunjukkan pada Gambar 1.5 (Tim penyusun, 2010).

Gambar 1.4 Kesetimbangan Uap-Cair pada Kondisi Bubble dan Dew


Temperature (Tim penyusun, 2010)

Gambar 1.5 Komposisi Uap Dan Cairan pada Kesetimbangan


(Tim penyusun, 2010).
Proses distilasi melibatkan kesetimbangan uap-cairan (vapour-liquid
equilibrium-VLE). Sistem kesetimbangan uap cairan yang ideal mengikuti hukum
Dalton dan hukum Raoult (Treybal, 1981).
Hukum Dalton untuk gas ideal :
pi = yi P ....(1.1)
Dimana : pi = tekanan uap koponen
yi = fraksi komponen idi fasa uap (gas)
P = tekanan total

Hukum Raoult untuk larutan ideal :


pi = xi.pio....................................(1.2)
Dimana :

pi = tekanan uap koponen


xi = fraksi komponen idi fasa cairan
pio = tekanan uap murni

1.2.3 Nilai K dan Volatilitas Relatif


Harga

(K-Value)

adalah

ukuran

tendensi

suatu

komponen

untuk menguap. Jika harga-K suatu komponen tinggi, maka komponen tersebut

cenderung untuk terkonsentrasi di fasa uap, sebaliknya jika harganya rendah,


maka komponen cenderung untuk terkonsentrasi di fasa cair. Persamaan (1.3) di
bawah ini menampilkan cara menyatakan harga K.
=

..(1.3)

dengan Yi adalah fraksi mol komponen i di fasa uap dan Xi adalah fraksi mol
komponen i di fasa fasa cair.
Harga K adalah fungsi dari temperatur, tekanan, dan komposisi. Dalam
kesetimbangan, jika dua di antara variable-variabel tersebut telah ditetapkan,
maka variabel ketiga akan tertentu harganya. Dengan demikian, harga K dapat
ditampilkan sebagai fungsi dari tekanan dan komposisi, temperatur dan
komposisi, atau tekanan dan temperatur
Volatillitas relative (relative volatility) antara komponen i dan j
didefinisikan sebagai-:

, =

...(1.4)

Dengan Ki adalah harga K untuk komponen I dan Ki adalah hargaK untuk komponen j. Volatillitas relatif ini adalah ukuran kemudahan terpisahkan
lewat eksploitasi perbedaan volatillitas. Menurut konsensus,volatillitas relative
ditulis sebagai perbandingan harga K dari komponen lebih mudah menguap
(MVC = more-volatile component ) terhadap harga K komponen yang lebih sulit
menguap. Dengan demikian, harga mendekati satu atau bahkan satu, maka
kedua komponen sangat sulit bahkan tidak mungkin dipisahkan lewat operasi
distilasi.
Sebagai contoh untuk sistem biner, misalkan suatu cairan yang dapat
menguap terdiri dari dua komponen, A dan B. Cairan ini dididihkan sehingga
terbentuk fasa uap dan fasa cair, maka fasa uap akan kaya dengan komponen yang
lebih mudah menguap, misalkan A, sedangkan fasa cair akan diperkaya oleh
komponen yang lebih sukar menguap, B. Berdasarkan persamaan (1.3) dan (1.4),
volatillitas relative,AB, dapat dinyatakan sebagai berikut :

........(1.5)

Atau dapat dikembangkan menjadi :

..(1.6)

Jika persamaan (4) tersebut dialurkan terhadap sumbu x-y, maka akan diperoleh
kurva kesetimbangan yang menampilkan hubungan fraksi mol komponen yang
menampilkan hubungan fraksi mol komponen yang mudah menguap di fasa cair
dan fasa uap yang dikenal sebagai diagram x-y. Perhatikan Gambar 1.6, garis
bersudut 45o yang dapat diartikan semakin banyaknya komponen A di fasa uap
pada saat kesetimbangan. Ini menandakan bahwa semakin besar harga AB,
semakin mudah A dan B dipisahkan lewat distilasi.

Gambar 1.6 Diagram x-y Sistem Biner A-B (Tim penyusun, 2009)

1.2.4 Sistem Ideal dan Tak Ideal


Uraian terdahulu berlaku dengan baik untuk campuran-campuran yang
mirip dengan campuran ideal. Yang dimaksud dengan campuran ideal adalah
campuran yang perilaku fasa uapnya mematuhi Hukum Dalton dan perilaku fasa
cairnya mengikuti Hukum Raoult. Hokum Dalton untuk gas ideal, seperti
diperlihatkan pada persamaan (1.7), menyatakan bahwa tekanan parsial komponen

dalam campuran, pi, sama dengan fraksi mol komponen tersebut, yi, dikalikan
tekanan parsial komponen, pi, sama dengan fraksi mol komponen di fasa cair, pis.
persamaan (1.8) menampilkan pernyataan ini.
= ............(1.7)

Pi = xiPis.(1.8)
Dari persamaan (1.7) dan (1.8), harga-K untuk system ideal dapat dinyatakan
sebagai berikut :
Ki =

.....(1.9)

Pernyataan harga-K untuk system tak ideal tidak seringkas pernyataan


untuk system ideal. Data kesetimbangan uap-cair umumnya diperoleh dari
serangkaian hasil percobaan. Walaupun tidak mudah, upaya penegakan
persamaan-persamaan untuk mengevaluasi sistem tak ideal telah banyak
dikembangakn dan bahkan telah diaplikasikan.

1.2.5 Macam-macam Proses Distilasi


1. Distilasi Batch (Batch Distillation)
Pada beberapa industri kimia, terutama bila umpan (feed) jumlahnya kecil,
maka distilasi dilakukan secara batch. Begitu pula bil diinginkan distilat dengan
komposisi yang cukup bervariasi. Distilasi batch biasanya dilakukan pada sebuah
kolom distilasi yang jumlah platenya sudah tertentu dan umpan (feed) dimasukkan
hanya sekali pada setiap batch operasi. Distilat akan dikeluarkan secara kontinyu,
tetapi produk bawah (residu) baru dikeluarkan setelah operasi per batch selesai.
Pada distilasi batch, komposisi distilat sangat tergantung pada komposisi
residu, jumlah tahap pada kolom dan rasio refluk operasi. Sesaat setelah kolom
beroperasi, maka akan dihasilkan distilat berkadar komponen yang lebih mudah
menguap sangat tinggi. Di lain pihak, residu akan menurun kadarnya akibat tidak
ada umpan yang mengalir masuk. Akibatnya, kadar distilat selanjutnya juga akan
menurun. Berdasarkan hal tersebut, maka distilasi batch dapat beroperasi pada
dua kemungkinan:

a) Dengan kadar distlat konstan, rasio refluk berubah


b) Dengan rasio refluk konstan, kadar distilat berubah

a. Distilasi Batch dengan Kadar Distilat Konstan


Misal pada saat operasi dimulai, jumlah liquid yang dimasukkan ke dalam
bejana adalah F1 mol dengan kadar XF1 dan sesaat setelah mulai dihasilkan distilat
dengan kadar XD pada rasio refluk R1. Setelah interval waktu tertentu, liquid
dalam bejana tinggal F2 mol dengan kadar XF2, sedangkan kadar distilat tetap XD
karena rasio refluk diubah menjadi R2. Bila jumlah distilat yang terkumpul selama
ini adalah D mol, maka neraca massanya.

F1 x F1 F2 x F2 D x D
F1 F2 D
Maka diperoleh :

D F1
R

x F1 x F2
..........................................(1.10)
x D x F2
xD

................................(1.11)

adalah perpotongan garis operasi dengan sumbu y.

Gambar 1.7 Distilasi Batch dengan Xd Konstan (Tim Penyusun, 2016)

b. Distilasi Batch dengan Rasio Refluk Konstan


Bila kolom beroperasi dengan rasio refluk yang selalu sama tiap saat, maka
kadar distilat XD akan menurun secara kontinu. Misal, pada suatu interval waktu
yang sangat singkat dt, komposisi distilat berubah dari XD menjadi dXD. Dalam
waktu ini pula distilat akan bertambah dD, maka :

dx

dD x D D x D dD (differensial tingkat diabaikan)


2

dan x D dD -d(F x F )
tetapi dD = - dF, maka x D dF F dx F x F dF
bila diatur dan diintegrasikan diperoleh :

ln

F1
dx F
xxFF 12
.....(1.12)
F2
xD xF

Dari persamaan (1.12) di atas, dapat ditentukan perbandingan jumlah liquid


yang berada di dalam bejana sebelum dan sesudah operasi, yaitu dengan membuat
grafik XF versus 1/(XD-XF). Distilasi batch dengan rasio refluk konstan dapat
dilihat pada Gambar 1.8.

Gambar 1.8 Distilasi Batch dengan R Konstan (Tim Penyusun, 2016)

2. Distilasi Kontinu (Continuous Distillation)


Distilasi kontinu menggunakan refluk biasanya dilakukan pada kolom
distilasi yang mempunyai tray yang disesuaikan dengan kebutuhan. Metode
perhitungan dalam proses distilasi dikembangkan oleh McCabe dan Thiele
didasarkan atas neraca massa di seksi enriching (pengayaan), neraca massa di
seksi stripping (pelucutan) dan data kesetimbangan.
Asumsi untuk perhitungan McCabe Thiele adalah constant molar overflow
(equimolar overflow), yaitu jumlah mol antara umpan yang masuk sampai tray
paling atas dan tray bawah sama, hal ini dapat di jelaskan seperti Gambar 1.9.
Persamaan neraca massa total:

Vn 1 L n 1 Vn L n ...........................................(1.13)
Persamaan neraca massa komponen :

Vn 1 Yn 1 L n-1 X n-1 Vn Yn L n X n .............(1.14)


dimana :
Vn+1 = Laju alir dari tray n + 1
Yn+1 = Fraksi mol uap dalam Vn+1
Ln-1 = Laju alir cairan dari tray n-1
Xn-1= Fraksi mol cairan dalam Ln-1
Vn

= Laju alir uap dari tray n

Yn

= Fraksi mol uap dalam Vn

Ln

= Laju alir cairan dari tray n

Xn

= Fraksi mol cairan dalam Ln

Gambar 1.9 Mekanisme Distilasi pada Tahap n di Kolom Distilasi


(Tim Penyusun, 2009)

Persamaan untuk seksi Enriching:


Gambar 1.10 menggambarkan seksi enriching, dimana uap dari tray paling
atas dengan komposisi y1 melewati kondensor dan terkondensasi menghasilkan
cairan.

Gambar 1.10 Diagram Seksi Enriching (Tim Penyusun, 2009)

Aliran refluks L dan aliran distilat D mempunyai kompisisi yang sama (x D).
Dengan asumsi equimolar over flow L1 = L2 = L3 = Ln dan V1 = V2 = V3 = Vn =
Vn+1.
Persamaan neraca massa total untuk envelope bertitik-titik adalah :

Vn 1 L n D ...(1.15)
Persamaan neraca massa komponen adalah :

Yn 1 Yn 1 L n X n D X D ..(1.16)
Persamaan untuk seksi Stripping :

Gambar 1.11 Diagram Seksi Stripping (Tim Penyusun 2009)

Persamaan neraca massa total untuk envelope (daerah bergaris titik-titik) adalah :

Vm1 L m W .............(1.17)

Persamaan neraca massa komponen adalah :

Vm1 Ym1 L m x m W x m ......................(1.18)


Dengan asumsi equimolar overflow, maka Lm = Ln dan Vm+1 = Vn

1.2.6 Proses Pemisahan Dalam Distilasi


Pada operasi distilasi, terjadinya pemisahan didasarkan pada gejala bahwa
bila campuran cair ada dalam keadaan setimbang dengan uapnya, komposisi uap
dan cairan berbeda. Uap akan mengandung lebih banyak komponen yang lebih
mudah menguap, sedangkan cairan akan mengandung lebih sedikit komponen
yang mudah menguap. Bila uap dipisahkan dari cairan dan uap tersebut
dikondensasikan, akan didapatkan cairan yang berbeda dari cairan yang pertama,
dengan lebih banyak komponen yang mudah menguap dibandingkan dengan
cairan yang tidak teruapkan. Bila kemudian cairan dari kondensasi uap tersebut
diuapkan lagi sebagian, akan didapatkan uap dengan kadar komponen yang lebih
mudah menguap lebih tinggi. Untuk menunjukkan lebih jelas uraian di atas,
berikut digambarkan secara skematis :
1. Keadaan awal (Initial condition)

Campuran A dan B (fasa cair). A adalah


komponen yang lebih mudah menguap.

xA,0 = fraksi berat A di fasa cair

xB,0 = fraksi berat B di fasa cair

xA +xB =1

2. Campuran diuapkan sebagian, uap dan cairannya dibiarkan dalam keadaan


setimbang.

xA,1 = fraksi berat A di fasa cair (setimbang)

xB,1 = fraksi berat B di fasa cair (setimbang)

xA +xB =1

yA,1 = fraksi berat A di fasa uap (setimbang)

yB,1 = fraksi berat B di fasa uap (setimbang)

yA + yB =1

Pada keadaan ini maka: yA,1 > xA,1 dan yB,1< xB,1
Bila dibandingkan dengan keadaan mula: yA,1 > xA,1> xA,2 dan yB,1< xB,1 <
xB,2.
3. Uap dipisahkan dari cairannya dan dikondensasi; maka didapat dua cairan,
cairan I dan cairan II. Cairan I mengandung lebih sedikit komponen A (lebih
mudah menguap) dibandingkan cairan II
Prinsip distilasi adalah membuat kesetimbangan fasa uap san cairan serta
memisahkan uap dan cairan yang berada dalam keadaan setimbang tersebut. Cara
pemisahan tersebut diperlihatkan pada Gambar 1.12.

Gambar 1.12 Cara Pemisahan Secara Distilasi (Tim Penyusun, 2016)

Seperti terlihat pada Gambar 1.12, misalnya cairan Ln+1 dengan komposisi
xA,n+1 dicampur dengan uap Vn+1 berkomposisi yA,n+1. Pencampuran tersebut
berlangsung pada suatu tahap kesetimbangan n. Pada tahap kesetimbangan n, akan
terbentuk uap dan cairan baru dalam keadaan setimbang yaitu Vn dan Ln. Uap Vn
mempunyai komposisi yA,n yang mengandung lebih banyak komponen A (ya,n>
yA,n+1), sedangkan cairan Ln mengandung lebih sedikit komponen A (xA,n< xA,n-1).
Operasi kesetimbangan tersebut diulang berkali-kali, sehingga diperoleh uap yang
sangat kaya A dan cairan yang sangat miskin A.
Dalam operasi distilasi, pencampuran dilakukan berturut-turut dalam tahaptahap (stage). Pada saat operasi berlangsung, cairan di tahap terendah dipanaskan
(Qr), sedangkan uap di tahap teratas didinginkan (Qc). Hasil atas yang diambil
disebut distilat (D) dan yang dikembalikan ke kolom disebut refluks (Lo). Jumlah
refluks dibanding distilat disebut rasio refluks (R) yang sangat mempengaruhi
hasil pemisahan.

R L 0 / D ...........(1.19)
Jika R tak hingga, artinya semua hasil atas kembali ke tahap I, maka operasi
distilasi disebut refluks total. Pada operasi dengan refluks total, maka jumlah
tahap teoritis adalah minimum. Kalau relative volatility konstan (dapat dianggap
konstan), maka jumlah tahap minimum pada operasi dengan refluks total dapat
dihitung dengan persamaan Fenske.

X X
log A B
X B D X A B
..............................................(1.20)
n 1
log av
dimana :
n

= jumlah tahap teoritis

xA

= fraksi mol komponen yang mudah menguap

xB

= fraksi mol komponen yang kurang mudah menguap

av

= relative volatility rata-rata (av = d + b)


d dan b berturut-turut adalah distilat dan bottom

Selanjutnya, efisiensi kolom dapat ditentukan dengan persamaan berikut :

Jumlah tah ap teoriti s


100%
Jumlah tah ap aktual

...................................(1.21)

Pada kenyataannya, setiap tahap tidak akan pernah terjadi kesetimbangan


yang sempurna antara cairan dan uap yang meninggalkannya. Dengan demikian,
jumlah tahap aktual (yang sebenarnya) akan lebih banyak dari pada jumlah tahap
teoritis sehingga ada faktor efisiensi (Tim penyusun, 2016).

1.3

Tujuan

1. Menghitung jumlah plate teoritis dengan menggunakan persamaan Fenske


dan McCabe & Thiele
2. Menghitung efisiensi kolom
3. Menjelaskan perubahan komposisi overhead dan bottom terhadap waktu
pada kondisi rasio refluks konstan
4. Menjelaskan pengaruh perubahan rasio refluks terhadap efisiensi kolom
5. Menjelaskan pengaruh perubahan power terhadap efisiensi kolom

BAB II
METODOLOGI PERCOBAAN

2.1 Bahan
Bahan-bahan yang di gunakan :
1. Etanol 96%
2. Aquades
2.2 Alat
Alat-alat yang digunakan:
1. Perangkat Distilasi
2. Gelas ukur 1000 ml, 1 buah
3. Gelas ukur 100 ml, 2 buah
4. Gelas ukur 10 ml, 1 buah
5. Alkoholmeter
6. Termokopel
7. Stopwatch
2.3 Prosedur Percobaan
1. Campuran etanol-air disiapkan sebanyak 8 liter dengan perbandingan
30% : 70%
2. Sebelum percobaan dimulai, semua valve dipastikan dalam keadaan
tertutup dan reboiler dalam keadaan kosong.
3. Valve V10 pada pipa refluks dibuka.
4. Reboiler diisi dengan campuran etanol-air yang telah disiapkan.
5. Power alat pada control panel dihidupkan.
6. Temperatur diatur ke T9 (temperatur reboiler)
7. Air pendingin dialirkan ke kondensor dengan membuka valve V5.
8. Power controller diatur sebesar 1,75 kW
9. Rasio refluks diatur dengan perbandingan 1 : 2.
10. Setelah distilasi berjalan, temperatur pada T9 diamati hingga konstan.
11. Refluks total selama 30 menit dilakukan jika T9 sudah konstan.

12. Laju boil-up diukur menggunakan valve V3 (sebelum mengukur laju


boil-up, V3 dibuka sebagian dan kondensat dari sistem refluk
dikeluarkan sampai diperoleh aliran stedi), pengukuran dilakukan
sebanyak tiga kali.
13. Sampel pada bagian overhead diambil melalui valve V3 dan sampel
bagian bottom diambil pada valve V2 secara bersamaan sebanyak tiga
kali. Temperatur pada T1 dan T8 diukur menggunakan termokopel.
14. Komposisi overhead dan bottom diukur dengan alkoholmeter.
15. Poin 12-13 di atas diulangi tiap 10 menit, sampai diperoleh masingmasing lima sampel.
16. Poin 9-13 diulang dengan variasi rasio refluks 1 : 3 dan 1 : 4

Gambar 2.1 Rangkaian Alat Distilasi Batch

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1

Hubungan Komposisi Overhead dan Bottom Terhadap Waktu pada


Berbagai Variasi Rasio Refluks
Percobaan distilasi batch dilakukan untuk memisahkan campuran etanol-air

sebanyak 8 liter dengan perbandingan volume 30% : 70%, menggunakan power


sebesar 1,75 kW dan variasi rasio refluks sebesar 1 : 2; 1 : 3 dan 1 : 4.
Berdasarkan hasil percobaan, didapat hubungan antara komposisi etanol pada
distilat (overhead) dan bottom terhadap waktu untuk masing-masing rasio refluks.
Hubungan komposisi etanol pada overhead dan bottom terhadap waktu
untuk rasio refluks 1 : 2 disajikan pada Gambar 3.1.
90
80

80

79

Komposisi (% Volume)

70

77
66

60

65
Komposisi
Overhead

50
40
30

33

Komposisi
Bottom
30

20

26
21

20

40

50

10
0
10

20

30
Waktu (menit)

Gambar 3.1 Hubungan antara Komposisi Etanol terhadap Waktu pada Rasio
Refluks 1 : 2.
Berdasarkan Gambar 3.1, untuk rasio refluks 1 : 2, komposisi etanol pada
overhead semakin menurun dengan bertambahnya waktu. Komposisi etanol pada
overhead tertinggi terdapat pada menit ke 10 yaitu 80%, sedangkan yang terendah

terdapat pada menit ke 50 yaitu 65%. Gambar 3.1 juga menunjukkan adanya
penurunan komposisi etanol pada bottom seiring dengan bertambahnya waktu.
Komposisi etanol pada bottom tertinggi terdapat pada menit ke 10 yaitu 33%,
sedangkan yang terendah terdapat pada menit ke 50 yaitu 20%. Laju boil-up yang
didapat pada rasio refluks 1 : 2 yaitu sebesar 2,561 liter/jam.
Hubungan komposisi etanol pada overhead dan bottom terhadap waktu
untuk rasio refluks 1 : 3 disajikan pada Gambar 3.2.
90
80

Komposisi (% Volume)

79

79

70

78

77

76

60
50

Komposisi
Overhead

40
30

Komposisi
Bottom

29
20

25
22

20

19

30

40

50

10
0
10

20

Waktu (menit)
Gambar 3.2 Hubungan antara Komposisi Etanol terhadap Waktu pada Rasio
Refluks 1 : 3.
Berdasarkan Gambar 3.2, untuk rasio refluks 1 : 3, komposisi etanol pada
overhead semakin menurun dengan bertambahnya waktu. Komposisi etanol pada
overhead tertinggi terdapat pada menit ke 10 yaitu 79%, sedangkan yang terendah
terdapat pada menit ke 50 yaitu 76%. Gambar 3.2 juga menunjukkan adanya
penurunan komposisi etanol pada bottom seiring dengan bertambahnya waktu.
Komposisi etanol pada bottom tertinggi terdapat pada menit ke 10 yaitu 29%,

sedangkan yang terendah terdapat pada menit ke 50 yaitu 19%. Laju boil-up yang
didapat pada rasio refluks 1 : 3 yaitu sebesar 2,829 liter/jam.
Hubungan komposisi etanol pada overhead dan bottom terhadap waktu
untuk rasio refluks 1 : 4 disajikan pada Gambar 3.3.
90
80

Komposisi (% Volume)

81
70

78

76

75

74

60

Komposisi
Overhead

50
40

Komposisi
Bottom

30
20

27

26

23

21

20

40

50

10
0
10

20

30

Waktu (menit)
Gambar 3.3 Hubungan antara Komposisi Etanol terhadap Waktu pada Rasio
Refluks 1 : 4.
Berdasarkan Gambar 3.3, untuk rasio refluks 1 : 4, komposisi etanol pada
overhead semakin menurun dengan bertambahnya waktu. Komposisi etanol pada
overhead tertinggi terdapat pada menit ke 10 yaitu 81%, sedangkan yang terendah
terdapat pada menit ke 50 yaitu 74%. Gambar 3.3 juga menunjukkan adanya
penurunan komposisi etanol pada bottom seiring dengan bertambahnya waktu.
Komposisi etanol pada bottom tertinggi terdapat pada menit ke 10 yaitu 27%,
sedangkan yang terendah terdapat pada menit ke 50 yaitu 20%. Laju boil-up yang
didapat pada rasio refluks 1 : 4 yaitu sebesar 2,873 liter/jam.

Berdasarkan hasil percobaan, komposisi etanol pada overhead dan bottom


untuk rasio refluks konstan (1 : 2; 1 : 3 atau 1: 4) mengalami penurunan seiring
dengan bertambahnya waktu distilasi. Bila kolom beroperasi dengan rasio refluks
yang selalu sama tiap saat, maka komposisi overhead (distilat xD) akan menurun
secara kontinu. Komposisi bottom juga menurun karena etanol dari umpan telah
teruapkan menjadi produk overhead, sehingga etanol yang kembali sebagai
produk bawah cenderung lebih kecil dan nilainya menurun terhadap waktu.
Pada distilasi batch, komposisi distilat sangat tergantung pada rasio refluk
operasi. Sesaat setelah kolom beroperasi, maka akan dihasilkan distilat berkadar
komponen yang lebih mudah menguap sangat tinggi. Di lain pihak, residu (produk
bawah atau bottom) akan menurun kadarnya akibat tidak ada umpan yang
mengalir masuk. Akibatnya, kadar distilat selanjutnya juga akan menurun (Tim
Penyusun, 2016).
3.2

Pengaruh Rasio Refluks Terhadap Efisiensi Kolom


Efisiensi kolom disitilasi didapat dengan membandingkan jumlah tray yang

diperoleh secara teoritis dengan tray aktual, baik menggunakan persamaan Fenske
maupun dengan metode McCabe & Thiele. Jumlah tray teoritis dan efisiensi
kolom pada berbagai variasi rasio refluks dengan power konstan 1,75 kW
disajikan pada Tabel 3.1
Tabel 3.1 Jumlah Tray Teoritis dan Efisiensi Kolom pada Berbagai Variasi Rasio
Refluks.
Tray Teoritis
Rasio
Refluks

Laju boilup
(liter/jam)

Tray
Aktual

1:2

2,561

1:3
1:4

Efisiensi Kolom (%)

Persamaan
Fenske

Metode
McCabe
& Thiele

Persamaan
Fenske

Metode
McCabe
& Thiele

0,57

1,2

7,18

15

2,829

0,89

1,7

11,09

21,25

2,873

0,81

1,5

10,13

18,75

Jumlah refluks dibanding distilat disebut rasio refluks (R) yang sangat
mempengaruhi hasil pemisahan. Jika R tak hingga, artinya semua hasil atas
kembali ke kolom, maka operasi distilasi disebut refluks total. Pada operasi
dengan refluks total, maka jumlah tray adalah minimum. Pada rasio refluks yang
kecil, jumlah tray akan besar, sedangkan pada rasio refluks minimum, jumlah tray
menjadi tak berhingga.
Berdasarkan Tabel 3.1, jumlah tray teoritis yang didapat pada rasio refluks 1
: 2 (baik menggunakan persamaan Fenske maupun dengan metode McCabe &
Thiele) lebih kecil dibandingkan pada rasio refluks 1 : 3. Kemudian terjadi
penurunan jumlah tray teoritis untuk rasio refluks 1 : 4. Sebagai contoh, jumlah
tray teoritis pada rasio refluks 1 : 2 yang dihitung menggunakan metode McCabe
& Thiele yaitu sebanyak 1,2 trays, kemudian meningkat menjadi 1,7 trays pada
rasio refluks 1 : 3 dan menurun menjadi 1,5 trays pada rasio refluks 1 : 4. Jumlah
tray ini akan berpengaruh terhadap efisiensi kolom, dimana efisiensi berbanding
lurus terhadap jumlah tray teoritis.

Jumlah tray teoritis


100%
Jumlah tray aktual

Berdasarkan Tabel 3.1, efisiensi kolom pada rasio refluks 1 : 2 yang


dihitung menggunakan metode McCabe & Thiele yaitu 15%, kemudian
meningkat menjadi 21,25% pada rasio refluks 1 : 3 dan menurun menjadi 18,75%
pada rasio refluks 1 : 4. Artinya, terjadi penurunan kinerja alat pada rasio refluks 1
: 4. Semakin kecil rasio refluks, maka jumlah cairan yang diambil sebagai destilat
akan semakin banyak dibanding jumlah cairan yang masuk kembali ke kolom
destilasi.

R L0 / D
Pada rasio refluks 1 : 4, jumlah cairan yang diambil sebagai destilat semakin
banyak dan laju boil-up nya pun meningkat yaitu sebesar 2,873 liter/jam, sehingga
pada menit ke 50 tidak terlihat lagi adanya proses pemisahan di sepanjang kolom
distilasi. Kondisi ini dipertegas dengan terjadinya penurunan temperatur yang
sangat besar di T8 pada menit ke 50 (lihat Tabel B.1 untuk rasio refluks 1 : 4).

3.3

Pengaruh Power Terhadap Efisiensi Kolom


Penentuan pengaruh power terhadap efisiensi kolom dilakukan dengan

membandingkan data hasil percobaan yang didapat pada power 1,75 kW dengan
data hasil percobaan kelompok II (dua) yang menggunakan power sebesar 1,5
kW. Data hasil percobaan kelompok II (dua) disajikan pada Tabel 3.2.
Tabel 3.2 Data hasil percobaan kelompok II dengan menggunakan power 1,5 kW.
Power
(kW)

Rasio
Refluks

Laju
boil-up
(liter/jam)

1,5

1:2

2,5124

1,5

1:3

2,4973

1,5

1:4

1,9549

Metoda

Jumlah Tray

Persamaan Fenske
Tray Aktual
Persamaan Fenske
Tray Aktual
Persamaan Fenske
Tray Aktual

1,35135
8
1,48263
8
1,46118
8

Efisiensi
Kolom (%)
16,89
18,53
18,26

Berdasarkan Tabel 3.2, efisiensi kolom tertinggi untuk power 1,5 kW di


dapat pada rasio refluks 1 : 3 yaitu sebesar 18,53% (menggunakan persamaan
Fenske), sedangkan berdasarkan Tabel 3.1 efisiensi kolom tertinggi didapat
sebesar 11,09% pada rasio refluks 1 : 3 dan power 1,75 kW. Berdasarkan
perbandingan data kelompok II dan I, untuk rasio refluks yang sama, semakin
tinggi power yang digunakan maka efisiensi kolom akan semakin berkurang.
Power berbanding lurus terhadap besarnya laju boil-up (Geankoplis, 1993).
Semakin tinggi power yang digunakan, maka semakin tinggi pula laju boil-up
nya. Laju boil-up berpengaruh terhadap efisiensi perolehan komposisi etanol pada
distilat. Jika laju boil-up terlalu tinggi, maka butiran-butiran cairan akan terbawa
oleh uap dan akan memenuhi space antar tray. Hal ini biasa disebut dengan
flooding. Sebaliknya, jika laju boil-up kecil, maka uap tidak dapat mengimbangi
laju alir liquid sehingga butiran-butiran liquid turun melalui lubang-lubang pada
tray. Hal ini biasa disebut dengan weeping. Keadaan proses distilasi seperti diatas
akan mengakibatkan efisiensi distilasi menjadi rendah karena kontak antara
umpan dengan steam tidak optimal sehingga komposisi etanol yang diperoleh pun
sedikit (Coulson & Richardson, 1989).

BAB IV
KESIMPULAN

1. Komposisi etanol pada overhead dan bottom pada rasio refluks konstan
mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya waktu distilasi.
2. Semakin kecil rasio refluks maka efisiensi kolom akan semakin besar.
Efisiensi kolom terbesar didapat pada rasio refluks 1 : 3 yaitu 21,25%.
3. Untuk rasio refluks yang sama, semakin tinggi power yang digunakan
maka efisiensi kolom akan semakin berkurang. Untuk rasio refluks 1 : 3,
pada power 1,5 kW didapat efisiensi kolom sebesar 18,53%
(menggunakan persamaan Fenske), sedangkan pada power 1,75 kW
didapat efisiensi kolom sebesar 11,09%.

DAFTAR PUSTAKA

Coulson, J. M. and Richardson, J. F. 1989. An Introduction to Chemical


Engineering Design, 6th edition.
Geankoplis, C.J. 1993. Transport Process and Unit Operation, 3rd edition,
Prentice Hall Inc., Englewood Cliffs, New Jersey.
Mc. Cabe, W. L., J.C Smith and P. Harriot. 1985. Unit Operation of Chemical
Engineering, 5th edition, McGraw-Hill book Co. Inc., New York.
Mc. Cabe, Warren L, dkk. 1999. Operasi Teknik Kimia. Jilid 2. Edisi keempat.
Diterjemahkan oleh: Ir. E.Jasjfi, M.Sc. Jakarta: Erlangga.
Rahayu,

Suparni

Setyowati.

2009.

Penyulingan

(Distilation).

Tersedia:

www.chem-is-try.org.
Tim Penyusun. 2009. Laboratorium Operasi Teknik Kimia UNTIRTA: Distilasi
Batch. Banten.
Tim Penyusun. 2010. Penuntun Praktikum Laboratorium Operasi Teknik Kimia
FT UNTIRTA. Banten.
Tim Penyusun. 2016. Penuntun Praktikum Laboratorium Teknik Kimia. Program
Studi S1 Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau. Pekanbaru.
Treybal, R. E. 1981. Mass Transfer Operation, 3rd edition, Mc. Braco, Singapore.

LAMPIRAN A
LAPORAN SEMENTARA

Judul Praktikum

: Distilasi Batch

Hari/Tanggal Praktikum

: Sabtu/6 Agustus 2016

Pembimbing

: Zuchra Helwani, ST, MT, PhD

Asisten Laboratorium

: Tiffani Qalbi

Nama Kelompok II

: Hendryanto Sinaga (1507167334)


Ryan Tito (1507165761)
Sudung Sugiarto Siallagan (1507165728)

Data Hasil Percobaan

Tabel A.1 Data Hasil Percobaan


Rasio
Refluks

1:2

1:3

1:4

Volume
boil-up
(ml)

Waktu
boil-up
(detik)

50

81

50

64

50

68

50

66

50

62

50

63

50

62

50

63

50

63

Laju boilup
(liter/jam)

2,561

2,829

2,873

Komposisi
Overhead
(% Vol)

Komposisi
Bottom
(% Vol)

80
79
77
66
65
79
79
78
77
76
81
78
76
75
74

33
30
26
20
21
29
25
22
20
19
27
26
23
21
20

Temperatur
(oC)
T1

T8

89,1
91,7
94,6
96,7
98,1
91.3
93,8
94,7
97,4
98,4
92,9
95,3
97,1
98,5
94,1

84,2
88,3
91,6
94,1
96,1
83,6
84,5
88,3
90,9
93,6
84,6
90,2
93,4
95,2
78,9

Rasio Etanol-Air

: 30% : 70%

Volume Umpan

: 8 Liter

Power

: 1,75 kW
Pekanbaru, 6 Agustus 2016
Asisten Praktikum,

Tiffani Qalbi

LAMPIRAN B
PERHITUNGAN

B.1 Data Hasil Percobaan pada Berbagai Variasi Rasio Refluks


Power

=1,75 kW

Etanol (A)

= 30% (2,4 L)

Air (B)

= 70% (5,6 L)

Tabel B.1 Data Hasil Percobaan pada Berbagai Variasi Rasio Refluks
Rasio
Refluks

Laju boilWaktu
up
(menit)
(liter/jam)

1:2

2,561

1:3

2,829

1:4

2,873

Komposisi
Overhead
(% Vol)

Komposisi
Bottom
(% Vol)

80
79
77
66
65
79
79
78
77
76
81
78
76
75
74

33
30
26
20
21
29
25
22
20
19
27
26
23
21
20

10
20
30
40
50
10
20
30
40
50
10
20
30
40
50

Temperatur (oC)
T1

T8

89,1
91,7
94,6
96,7
98,1
91.3
93,8
94,7
97,4
98,4
92,9
95,3
97,1
98,5
94,1

84,2
88,3
91,6
94,1
96,1
83,6
84,5
88,3
90,9
93,6
84,6
90,2
93,4
95,2
78,9

B.2 Perhitungan Fraksi Mol


B.2.1 Menghitung Fraksi Mol Fasa Cair
Berikut contoh perhitungan fraksi mol fasa cair di distilat dan bottom untuk
rasio refluks 1 : 2 pada menit ke 10.
a) Distilat (D)
Volume larutan = 100 ml
Volume Etanol = 80% x 100 ml = 80 ml

Volume Air

= (volume larutan volume air)


= (100 80) ml
= 20 ml

Mol Etanol

=
=

etanol

Vetanol

BMetanol

0,789 g/ml)
ml
48 g/mol

= 1,3722 mol.
Mol air

air Vair
BMair

1 g/ml)

ml

18 g/mol

= 1,1111 mol.

Fraksi mol etanol di distilat (XAD)

mol etanol
mol etanol + mol air

= 0,5526
Fraksi mol air di distilat (XBD)

+ ,

Volume larutan = 100 ml


Volume Etanol

= 33% x 100 ml = 33 ml

Volume Air

= (volume larutan volume air)


= (100 33) ml
= 67 ml
=
=

etanol

Vetanol

BMetanol

0,789 g/ml)
ml
48 g/mol

= 0,5660 mol.

= 1- XAD = 1 0,5526 = 0,4474

b) Bottom (B)

Mol Etanol

Mol air =
=

air Vair
BMair

1 g/ml)
ml
18 g/mol

= 3,7222 mol.

Fraksi mol etanol di bottom (XAB)

mol etanol
mol etanol + mol air

= 0,1320

+ ,

Fraksi mol air di bottom (XBB) = 1- XAD = 1 0,1320 = 0,8680


Perhitungan di atas juga digunakan untuk menghitung fraksi mol fasa cair di
distilat dan bottom untuk berbagai variasi rasio refluks (1 : 3 dan 1 : 4) pada menit
ke 10, 20, 30, 40, dan 50.
B.2.2 Menghitung Fraksi Mol Fasa Uap
Berikut contoh perhitungan fraksi mol fasa uap di distilat dan bottom untuk
rasio refluks 1 : 2 pada menit ke 10.
a) Distilat

Fraksi cair etanol (XAD) dari percobaan = 0,5526


Fraksi mol etanol fasa uap (YAD) didapatkan berdasarkan data
kesetimbangan etanol-air. Karena nilai (XAD) tidak terdapat pada data
kesetimbangan, maka harus di interpolasi :
YAD = ,

= 0,6775

Fraksi mol air fasa uap (YBD) pada distilat :


YBD = 1- YAD = 1 0,6775 = 0,3225

b) Bottom

Fraksi cair etanol (XAB) dari percobaan = 0,1320


Fraksi

mol etanol fasa uap (YAB) didapatkan berdasarkan data

kesetimbangan etanol-air. Karena nilai (XAB) tidak terdapat pada data maka
harus di interpolasi :
YAB = ,

= 0,4786

Fraksi uap air pada bottom:


YBB = 1- YAB = 1 0,4786 = 0,5214
Perhitungan di atas juga digunakan untuk menghitung fraksi mol fasa uap di
distilat dan bottom untuk berbagai variasi rasio refluks (1 : 3 dan 1 : 4) pada menit
ke 10, 20, 30, 40, dan 50.

B.3 Perhitungan Relatif Volatility


Berikut contoh perhitungan relatif volatility pada rasio refluks 1 : 2.
Diketahui :
XAD

= 0,4675

XBD

= 0,5325

XAB

= 0,0988

XBB

= 0,9012

YAD

= 0,6416

YBD

= 0,3584

YAB

= 0,4302

YBB

= 0,5698

D =

B =

Fraksi mol rata-rata.

(YAD )/(XAD ) ,
=
(YBD )/(XBD ) ,

,
,

= ,

(YAB )/(XAB ) ,
=
(YBB )/(XBB ) ,

,
,

= ,

()av = D B = ,

x ,

= ,

Perhitungan di atas juga digunakan untuk menghitung relatif volatility

pada rasio refluks 1 : 3 dan 1 : 4.


B.4

Penentuan Jumlah Tray Teoritis dan Efisiensi Kolom

B.4.1 Persamaan Fenske


Berikut contoh perhitungan jumlah tray teoritis dan efisiensi kolom pada
rasio refluks 1 : 2 dengan menggunakan persamaan Fenske:
Diketahui:
XAD

= 0,4675

XAB

= 0,0988

XBD

= 0,5325

XBB

= 0,9012

()av

= 3,7465

n+ =

log [

XA

XB

XB D XA B

log
,

av

, ,
,

log [ ,
n+1=
log ,

n = 0,57467 1

Jumlah tray teoritis = 0,57467


Efisiensi kolom =

jumlah tray teoritis


jumlah tray aktual

x 100%

0,57467
8

x 100%

= 7,18%
Perhitungan di atas juga digunakan untuk menghitung jumlah tray teoritis
dan efisiensi kolom pada rasio refluks 1 : 3 dan 1 : 4.

B.4.2 Metode McCabe & Thiele


Berikut contoh perhitungan jumlah tray teoritis dan efisiensi kolom pada
rasio refluks 1 : 2 dengan menggunakan metode McCabe & Thiele :

Diketahui:
XF = 0,30
XAD = 0,4675
XAB = 0,0988
Menentukan garis operasi;
R =
=
=

XAD

XAD

R+
,

, +

= 0,3116
Dimana adalah perpotongan garis operasi dengan sumbu y. Data diplot ke
dalam grafik kesetimbangan etanol-air, sehingga didapat jumlah tray teoritis
dalam menara destilasi pada rasio refluks 1 : 2 yaitu sebanyak 1,2 tray.
Jumlah tray teoritis = 1,2
Efisiensi kolom

jumlah tray teoritis


jumlah tray aktual
1,2
8

x 100%

x 100%

= 15%
Perhitungan di atas juga digunakan untuk menghitung jumlah tray teoritis
dan efisiensi kolom pada rasio refluks 1 : 3 dan 1 : 4.

LAMPIRAN C
DATA HASIL PERHITUNGAN

C.1 Rasio Refluks 1 : 2


Data hasil perhitungan fraksi mol pada overhead dan bottom disajikan pada
Tabel C.1 dan Tabel C.2.
Tabel C.1 Data Hasil Perhitungan Fraksi Mol Fasa Cair dan Uap pada Overhead
untuk Rasio Refluks 1 : 2
Run

Waktu
(menit)

Mol
etanol

Mol air

XAD

XBD

YAD

YBD

10

1,3722

1,1111

0,5526

0,4474

0,6775

0,3225

20

1,3550

1,1667

0,5373

0,4627

0,6708

0,3292

30

1,3207

1,2778

0,5083

0,4917

0,6579

0,3421

40

1,1320

1,8889

0,3747

0,6253

0,6029

0,3971

50

1,1149

1,9444

0,3644

0,6356

0,5989

0,4011

Jumlah

2,3373

2,6627

3,2080

1,7920

Rata-rata

0,4675

0,5325

0,6416

0,3584

Tabel C.2 Data Hasil Perhitungan Fraksi Mol Fasa Cair dan Uap pada Bottom
untuk Rasio Refluks 1 : 2

Waktu
(menit)
10

Mol
etanol
0,5660

20

Run

Mol air

XAB

XBB

YAB

YBB

3,7222

0,1320

0,8680

0,4786

0,5214

0,5146

3,8889

0,1169

0,8831

0,4604

0,5396

30

0,4460

4,1111

0,0979

0,9021

0,4376

0,5624

40

0,3602

4,3889

0,0758

0,9242

0,3926

0,6074

50

0,3430

4,4444

0,0717

0,9283

0,3816

0,6184

Jumlah

0,4942

4,5058

2,1508

2,8492

Rata-rata

0,0988

0,9012

0,4302

0,5698

C.2 Rasio Refluks 1 : 3


Data hasil perhitungan fraksi mol pada overhead dan bottom disajikan pada
Tabel C.3 dan Tabel C.4.
Tabel C.3 Data Hasil Perhitungan Fraksi Mol Fasa Cair dan Uap pada Overhead
untuk Rasio Refluks 1 : 3
Run

Waktu
(menit)

Mol
etanol

Mol Air

XAD

XBD

YAD

YBD

10

1,3550

1,1667

0,5373

0,4627

0,6708

0,3292

20

1,3550

1,1667

0,5373

0,4627

0,6708

0,3292

30

1,3379

1,2222

0,5226

0,4774

0,6642

0,3358

40

1,3207

1,2778

0,5083

0,4917

0,6579

0,3421

50

1,3036

1,3333

0,4944

0,5056

0,6517

0,3483

Jumlah

2,5999

2,4001

3,3153

1,6847

Rata-rata

0,5200

0,4800

0,6631

0,3369

Tabel C.4 Data Hasil Perhitungan Fraksi Mol Fasa Cair dan Uap pada Bottom
untuk Rasio Refluks 1 : 3
Run

Waktu
(menit)

Mol
etanol

Mol air

XAB

XBB

YAB

YBB

10

0,4974

3,9444

0,1120

0,8880

0,4546

0,5454

20

0,4288

4,1667

0,0933

0,9067

0,4322

0,5678

30

0,3773

4,3333

0,0801

0,9199

0,4037

0,5963

40

0,3430

4,4444

0,0717

0,9283

0,3816

0,6184

50

0,3259

4,5000

0,0675

0,9325

0,3708

0,6292

Jumlah

0,4246

4,5754

2,0429

2,9571

Rata-rata

0,0849

0,9151

0,4086

0,5914

C.3 Rasio Refluks 1 : 4


Data hasil perhitungan fraksi mol pada overhead dan bottom disajikan pada
Tabel C.5 dan Tabel C.6.
Tabel C.5 Data Hasil Perhitungan Fraksi Mol Fasa Cair dan Uap pada Overhead
untuk Rasio Refluks 1 : 4
Run

Waktu
(menit)

Mol
etanol

Mol air

XAD

XBD

YAD

YBD

10

1,3893

1,0556

0,5683

0,4317

0,6845

0,3155

20

1,3379

1,2222

0,5226

0,4774

0,6642

0,3358

30

1,3036

1,3333

0,4944

0,5056

0,6517

0,3483

40

1,2864

1,3889

0,4808

0,5192

0,6457

0,3543

50

1,2693

1,4444

0,4677

0,5323

0,6403

0,3597

Jumlah

2,5338

2,4662

3,2864

1,7136

Rata-rata

0,5068

0,4932

0,6573

0,3427

Tabel C.6 Data Hasil Perhitungan Fraksi Mol Fasa Cair dan Uap pada Bottom
untuk Rasio Refluks 1 : 4
Run

Waktu
(menit)

Mol
etanol

Mol air

XAB

XBB

YAB

YBB

10

0,4631

4,0556

0,1025

0,8975

0,4432

0,5568

20

0,4460

4,1111

0,0979

0,9021

0,4376

0,5624

30

0,3945

4,2778

0,0844

0,9156

0,4151

0,5849

40

0,3602

4,3889

0,0758

0,9242

0,3926

0,6074

50

0,3430

4,4444

0,0717

0,9283

0,3816

0,6184

Jumlah

0,4323

4,5677

2,0700

2,9300

Rata-rata

0,0865

0,9135

0,4140

0,5860

C.4 Jumlah Tray dan Efisiensi Kolom


Data hasil perhitungan jumlah tray dan efisiensi kolom disajikan pada Tabel
C.7.
Tabel C.7 Data Hasil Perhitungan Jumlah Tray Teoritis dan Efisiensi Kolom
Tray Teoritis
Rasio
Refluks

Tray
Aktual

1:2

Efisiensi Kolom (%)

Persamaan
Fenske

Metode
McCabe &
Thiele

Persamaan
Fenske

Metode
McCabe &
Thiele

0,57

1,2

7,18

15

1:3

0,89

1,7

11,09

21,25

1:4

0,81

1,5

10,13

18,75

LAMPIRAN D
McCABE & THIELE DIAGRAM
FOR DISTILLATION OF ETHANOL-WATER

D.1 Rasio Refluks 1 : 2


Jumlah tray teoritis : 1,2
1

0,9

0,8
Equilibrium line

0,7

45 degrees line
Y (Fraksi Uap)

0,6

XF (umpan)
XAD (destilat)

0,5

XAB (bottom)
0,4

Operating line
q line

0,3

Feed Tray
0,2

0,1

0
0

0,1

0,2

0,3

0,4

0,5

0,6

0,7

0,8

0,9

X (Fraksi Cair)

Gambar D.1 Diagram McCabe & Thiele untuk distilasi etanol-air pada rasio
refluks 1 : 2

D.2 Rasio Refluks 1 : 3


Jumlah tray teoritis : 1,7
1

0,9

0,8
Equilibrium line
0,7
45 degrees line
XF (umpan)

Y (Fraksi Uap)

0,6

XAD (destilat)
0,5
XAB (bottom)
0,4

Operating line
q line

0,3

Feed Tray
0,2

0,1

0
0

0,1

0,2

0,3

0,4

0,5

0,6

0,7

0,8

0,9

X (Fraksi Cair)

Gambar D.2 Diagram McCabe & Thiele untuk distilasi etanol-air pada rasio
refluks 1 : 3

D.3 Rasio Refluks 1 : 4


Jumlah tray teoritis : 1,5
1

0,9

0,8
Equilibrium line

0,7

45 degrees line
Y (Fraksi Uap)

0,6

XF (umpan)
XAD (destilat)

0,5

XAB (bottom)
0,4

Operating line
q line

0,3

Feed Tray
0,2

0,1

0
0

0,1

0,2

0,3

0,4

0,5

0,6

0,7

0,8

0,9

X (Fraksi Cair)

Gambar D.3 Diagram McCabe & Thiele untuk distilasi etanol-air pada rasio
refluks 1 : 4

LAMPIRAN E
DATA KESETIMBANGAN ETANOL-AIR

Tabel E.1 Data kesetimbangan etanol-air pada 1 atm (Geankoplis App. A.3-23)
Temperatur

Fraksi Massa Etanol

Temperatur

Fraksi Massa Etanol

(C)

XA

YA

(C)

XA

YA

100
98.1
95.2
91.8
87.3
84.7
83.2
82

0
0.02
0.05
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5

0
0.192
0.377
0.527
0.656
0.713
0.746
0.771

81
80.1
79.1
78.3
78.2
78.1
78.2
78.3

0.6
0.7
0.8
0.9
0.94
0.96
0.98
1

0.794
0.822
0.858
0.912
0.942
0.96
0.978
1

Data kesetimbangan yang diperoleh dari Geankoplis masih dalam bentuk


fraksi massa, sedangkan data yang dibutuhkan dalam bentuk fraksi mol, sehingga
data yang ada dikonversi menjadi fraksi mol.
Tabel E.2 Data kesetimbangan etanol-air pada 1 atm (dalam fraksi mol)
Temperatur

Fraksi Mol Etanol

Temperatur

Fraksi Mol Etanol

(C)

XA

YA

(C)

XA

YA

100
98.1
95.2
91.8
87.3
84.7
83.2
82

0
0.008
0.02
0.042
0.089
0.144
0.207
0.281

0
0.085
0.191
0.304
0.427
0.493
0.533
0.568

81
80.1
79.1
78.3
78.2
78.1
78.2
78.3

0.37
0.477
0.61
0.779
0.86
0.94
0.95
1

0.601
0.644
0.703
0.802
0.864
0.902
0.946
1

LAMPIRAN F
DOKUMENTASI

Gambar F.1 Pengisian Feed ke dalam


Reboiler

Gambar F.2 Ratio Reflux and Power


Setting

Gambar F.3 Measurement of Boil-up Rate

Gambar F.4 Pengambilan Sampel di


Bottom

Gambar F.5 Pengukuran Temperatur di


T1

Gambar F.6 Pengukuran Temperatur di


T8