Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM TEKNIK KIMIA


REAKTOR

Disusun Oleh :
Kelompok I (Satu)
Hendryanto Sinaga

(1507167334)

Ryan Tito

(1507165761)

Sudung Sugiarto Siallagan

(1507165728)

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA S1 NON REGULER


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2016

ABSTRAK
Percobaan pada reaktor tubular dilakukan dengan reaksi saponifikasi Etil
asetat dengan Natrium hidroksida hingga tercapai kondisi steady state yang
ditandai dengan konduktivitasnya konstan. Percobaan ini bertujuan untuk
menentukan konstanta kecepatan reaksi saponifikasi pada reaktor tubular.
Percobaan dilakukan dengan memvariasikan laju alir umpan (speed pompa 5, 7
dan 9) dan konsentrasi umpan Etil asetat (0,01 M dan 0,05 M). Proses yang
dilakukan yaitu kalibrasi pompa 1 dan pompa 2 untuk mengetahui laju alir
masing-masing umpan. Berdasarkan percobaan yang dilakukan, semakin besar
speed pompa, maka laju alir yang diperoleh juga akan semakin besar. Semakin
besar laju alir umpan, maka waktu untuk mencapai kondisi steady state semakin
cepat. Peningkatan laju alir umpan juga meningkatkan konversi reaksi serta nilai
konstanta laju spesifik (k). Konsentrasi reaktan juga berpengaruh terhadap nilai
konstanta laju spesifik, dimana peningkatan konsentrasi reaktan akan
meningkatkan nilai konstanta laju spesifik (k). Konstanta laju spesifik (k) tertinggi
didapat sebesar 1,88 L/mol.s yaitu pada speed pompa 9 dengan konsentrasi
NaOH 0,01 M dan Etil asetat 0,05 M.

Kata kunci : reaktor tubular; saponifikasi ; steady state; konduktivitas; konstanta


kecepatan reaksi ; konversi.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Tujuan Percobaan
Tujuan percobaan yaitu untuk menentukan konstanta kecepatan reaksi

saponifikasi pada reaktor tubular.


1.2

Dasar Teori

1.2.1 Reaktor Alir Pipa


Salah satu reaktor yang mekanismenya cukup sederhana dibandingkan
dengan reaktor-reaktor yang digunakan pada industri kimia adalah reaktor alir
pipa. Model reaktor alir pipa (RAP) atau plug flow reactor (PFR) merupakan
reaktor di mana reaksi kimia berlangsung secara kontinu sepanjang sistem aliran.
Reaktor alir pipa sering juga disebut sebagai reaktor alir sumbat atau Continuous
Tubular Reactors (CTRs). Reaktor alir pipa ini digunakan untuk memperkirakan
sifat-sifat reaktor kimia sehingga variabel kunci reaktor seperti dimensi reaktor
bisa dihitung (Yahdi, 2013).
Menurut Yahdi (2013), reaktor ini memiliki karakteristik dalam mekanisme
reaksi. Pada umumnya karakteristik reaktor alir pipa pada kondisi ideal yaitu:
1. Reaktor ini biasanya berupa tube (tabung) yang bereaksi dengan aliran
fluida
2. Diasumsikan tidak terjadi pengadukan (mixing)
3. Aliran plug merupakan jenis aliran yang terjadi pada reaktor ini (reaktor
alir)
4. Sebagian besar mixing dari jenis reaktor ini beroperasi pada level
intermediet
5. Pencampuran sempurna dalam dimensi radial (konsentrasi seragam)
6. Tidak ada pencampuran (mixing) pada aliran aksial atau tidak terjadi
dispersi aksial (aliran terpisah).
Reaktor alir pipa merupakan reaktor di mana cairan bereaksi dan mengalir
dengan cara melewati tube (tabung) dengan kecepatan tinggi, tanpa terjadi

pembentukan arus putar pada aliran cepat. Reaktor alir pipa pada hakekatnya
hampir sama dengan pipa dan relatif cukup mudah dalam perancangannya.
Reaktor ini biasanya dilengkapi dengan selaput membran untuk menambah
yield produk pada reaktor. Produk secara selektif ditarik dari reaktor sehingga
keseimbangan dalam reaktor secara kontinu bergeser membentuk lebih banyak
produk (Yahdi, 2013).

Gambar 1.1 Reaktor Alir Pipa (Reaktor Tubular)


Di dalam reaktor alir pipa, fluida mengalir dengan perlakuan yang sama
sehingga waktu tinggal () sama untuk semua elemen fluida. Fluida sejenis yang
mengalir melalui reaktor ideal ini disebut dengan plug. Saat plug mengalir
sepanjang reaktor alir pipa, fluida bercampur sempurna dalam arah radial bukan
dalam arah axial (dari arah depan atau belakang). Setiap plug dengan volume
berbeda dinyatakan sebagai kesatuan yang terpisah-pisah (hampir seperti batch
reaktor) dimana plug mengalir turun melalui pipa reaktor ini (Yahdi, 2013).
Reaktor alir pipa juga dikenal sebagi reaktor aliran piston atau reaktor aliran
turbular. Reaktor-reaktor tersebut memiliki persamaan diferensial biasa, dimana
pemecahan persamaan tersebut dapat diselesaikan jika boundary condition

diketahui. Model reaktor alir pipa digunakan untuk berbagi jenis fluida, seperti:
cairan, gas, dan slurry. Walaupun aliran turbulen dan difusi aksial menyebabkan
pencampuran arah axial pada berbagai reaktor namun pada reaktor alir pipa
kondisi ini memiliki efek yang kecil dan diabaikan (Yahdi, 2013).

Gambar 1.2 Reaktor Alir Pipa (Reaktor Tubular) dan Kelengkapannya.


1.2.2 Kalibrasi
Menurut Tim Penyusun (2013), kalibrasi merupakan perbandingan kinerja
instrumen dengan suatu standar akurat telah spakati. Kalibrasi menjamin bahwa
pengukuran yang akurat dan dalam batas spesifikasi yang disyaratkan dari
instrumen proses. Kalibrasi secara singkat dapat digambarkan sebagai suatu
aktivitas pengujian instrumen dengan cara membandingkan hasil penunjukkan
instrument tersebut dengan nilai/referensi yang telah diketahui. Referensi
merupakan nilai acuan /nilai pembanding yang standarnya sudah ditetapkan.
Alasan utama untuk kalibrasi adalah bahwa instrumen yang paling baik pun juga
mengalami drift serta akan kehilangan kemampuan untuk memberikan
pengukuran yang akurat. Sumber-sumber yang mempengaruhi hasil kalibrasi :

Prosedur
Kalibrasi harus dilakukan sesuai dengan prosedur standar yang telah
diakui. Kesalahan pemahaman prosedur akan membuahkan hasil yang

kurang benar dan tidak dapat dipercaya. Pengesetan sistem harus teliti
sesuai dengan aturan pemakaian alat, agar kesalahan dapat dihindari.

Kalibrator
Kalibrator harus mampu telusur

ke standar Nasional dan atau

Internasional. Tanpa memiliki ketelusuran, hasil kalibrasi tidak akan


diakui oleh pihak lain. Demikian pula ketelitian, kecermatan dan
kestabilan kalibrator harus setingkat lebih baik dari pada alat yang
dikalibrasi.

Tenaga pengkalibrasi
Tenaga pengkalibrasi harus memiliki keahlian dan keterampilan yang
memadai,

karena

hasil

kalibrasi

sangat

tergantung

kepadanya.

Kemampuan mengoperasikan alat dan kemampuan visualnya, umumnya


sangat diperlukan, terutama untuk menghindari kesalahan yang disebabkan
oleh penalaran posisi skala.

Periode kalibrasi
Periode kalibrasi adalah selang waktu antara satu kalibrasi suatu alat ukur
dengan kalibrasi berikutnya. Periode kalibrasi tergantung pada beberapa
faktor antara lain pada kualitas metrologis alat ukur tersebut, frekuensi
pemakaian, pemeliharaan atau penyimpanan dan tiingkat ketelitiannya.
Periode kalibrasi dapat ditetapkan berdasarkan lamanya pemakaian alat,
waktu kalender atau gabungan dari keduanya.

Lingkungan
Lingkungan dapat menyebabkan pengaruh yang sangat besar terhadap
kalibrasi terutama untuk mengkalibrasi kalibrator. Misalnya kondisi suhu,
kelembaban, getaran mekanik medan listrik, medan magnetik, medan
elektromagnetik, tingkat penerangan dan sebagainya.

Alat yang dikalibrasi


Alat yang dikalibrasi harus dalam keadaan maksimal, artinya dalam
kondisi jalan dengan baik, stabil dan tidak terdapat kerusakan yang
mengganggu.

1.2.3 Pengertian Konversi


Konversi memiliki pengertian bahwa untuk mengetahui sejauh mana reaksi
telah berlangsung atau untuk mengetahui jumlah mol hasil untuk setiap
penggunaan mol salah satu pereaksi atau basis (Tim Penyusun, 2013).
Secara rumus dinyatakan :
Xa =

mol A reaktan
mol A feed

1.2.4 Definisi Kecepatan Reaksi


Untuk menyatakan cepat lambatnya suatu reaksi kimia perlu adanya suatu
konsep kecepatan reaksi. Kecepatan reaksi dapat didefenisikan sebagai banyaknya
mol zat per liter (gas maupun larutan) yang berubah menjadi zat lain dalam satuan
waktu (Tim Penyusun, 2013).
Kinetika adalah ilmu tentang laju atau seberapa cepat suatu peristiwa
berlangsung. Kinetika reaksi adalah ilmu tentang seberapa cepat suatu reaksi
kimia berlangsung. Kecepatan reaksi dapat didefenisikan sebagai banyaknya mol
zat per liter (gas maupun larutan) yang berubah menjadi zat lain dalam satuan
waktu (Tim Penyusun, 2016).
A+B

C+D

Untuk reaksi diatas, kecepatan reaksi dapat dinyatakan sebagai berikut:


Kecepatan A dan B bereaksi
Kecepatan berkurangnya A dan B karena bereaksi
Kecepatan terbentuknya C sebagai hasil reaksi

1.2.5 Tingkat Reaksi dan Molekularitas


Tingkat reaksi merupakan jumlah molekul pereaksi yang konsentrasinya
menetukan kecepatan reaksi, sedangkan molekularitas merupakan jumlah molekul
pereaksi yang ikut dalam reaksi (Tim Penyusun, 2016).
Molekularitas dan tingkat rekasi tidak selalu sama, sebab tingkat reaksi
bergantung dari mekanisme reaksi. Bila tidak disebutkan lain maka dianggap
bahwa reaksi dan molekularitas selalu sama (Tim Penyusun, 2016).

1.2.6 Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Kecepatan Reaksi


Menurut Tim Penyusun (2013), kecepatan reaksi kimia dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu :
1. Konsentrasi
Reaksi kimia akan berlangsung lebih cepat jika konsentrasi yang bereaksi
lebih besar. Semakin besar konsentrasi, maka semakin banyak partikel zat
sehingga semakin banyak terjadi tumbukan.
2. Luas permukaan
Semakin luas permukaan sentuhan zat bereaksi, maka semakin besar
frekuensi tumbukan yang terjadi sehingga reaksi semakin cepat.
3. Suhu
Dengan kenaikan suhu, energi kinetik molekul zat yang bereaksi bertambah
sehingga reaksi akan semakin cepat.
4. Katalis
Katalis memungkinkan suatu efektif dengan terjadinya penurunan energi
aktivasi dan memperbanyak tahap reaksi.
1.2.7 Bentuk-Bentuk Persamaan Kecepatan Reaksi
Reaksi yang dilakukan pada reaktor dilakukan hingga kondisi steady state.
Kondisi steady state ini ditandai dengan tidak berubahnya nilai konduktivitas dan
suhu yang ada pada reaktor. Kondisi steady state tergantung pada konsentrasi
reagen, laju alir, volume reaktor dan suhu reaksi (Tim Penyusun, 2013).
Kecepatan reaksi dinyatakan dengan persamaan :
r = k.a.b

....................... ( 1 )

Jika konsentrasi awal A (ao) sama dengan konsentrasi awal B (bo), maka
persamaan (1) tersebut dapat disederhanakan menjadi :
r = k.a2

....................... ( 2 )

secara umum untuk reaksi order n dapat dituliskan dengan :


r = k.an

....................... ( 3 )

reaksi order dua pada persamaan (2) dapat dinyatakan dengan hubungan konversi
A (Xa) dengan waktu reaksi (t) sebagai berikut :

Xa
k.a.t
1 X a

....................... ( 4 )

Pada persamaan (4) dapat diplotkan pada grafik

Xa
versus t, sehingga
1 X a

diperoleh slope k.a0. Dengan diketahui konsentrasi awal A (a0), maka nilai
konstanta kecepatan (k) dapat dihitung.
Reaksi saponifikasi Ethyl acetate dengan Sodium hydroxide merupakan
contoh reaksi orde dua dengan batasan konsentrasi 0 0.1 M dan temperature 2040 0C. Adapun reaksinya sebagai berikut:

NaOH

Sodium hydroxide

CH3COOC2H5
Ethyl asetat

CH3COONa
Sodium acetate

+ C2H5OH
Ethyl alcohol

Reaksi ini dapat dilakukan pada reaktor CSTR ataupun Tubular sampai kondisi
steady state. Kondisi steady state ini akan bervariasi tergantung pada kondisi
reagen, flow rate, volume reaktor dan temperatur reaksi (Tim Penyusun, 2016).
1.2.8 Pengukuran Konduktivitas
Konduktivitas laturan yang berekasi dalam reaktor tergantung pada tingkat
konversi dan hal ini memberikan suatu metode yang cocok untuk memonitor
perkembangan reaksi (Tim Penyusun, 2016). Konsentrasi umpan dapat dihitung
sebagai berikut:
Konsentrasi NaOH mula-mula dalam reaktor (a0) :
a0 =

F +F

................................................. ( 5 )

..................................................( 6 )

Konsentrasi Etil asetat mula-mula dalam reaktor (b0) :


b0 =

F +F

Dengan ; Fa = laju alir volum NaOH (ml/menit)


Fb = laju alir volum Etil asetat (ml/menit)

= konsentrasi NaOH dalam tangki umpan (mol/L)

= konsentrasi Etil asetat dalam tangki umpan (mol/L)

Menurut Tim Penyusun (2016), jika diberikan waktu tak hingga, reaksi akan
berlangsung kontinu sehingga salah satu atau kedua reagen tersebut terkonversi
sempurna. Sehingga, konsentrasi sodium asetat dalam reaktor pada waktu tak
hingga menjadi:

Atau

<

..................................................( 7 )

.........................................( 8 )

Dan konsentrasi sodium hydroxide dalam reaktor setelah waktu tak hingga :

Atau

<

.........................................( 9 )

.......................................( 10 )

Hubungan konduktivitas sodium acetate pada waktu tak hingga dengan


konsentrasinya dapat dinyatakan melalui persamaan berikut:

= .

[ + .

...........................( 11 )

Dengan cara yang sama, hubungan konduktivitas sodium hydroxide pada waktu
tak hingga dengan konsentrasinya dapat dinyatakan dengan persamaan berikut :
= .

[ + .

Konduktivitas larutan setelah waktu tak hingga


=

...........................( 12 )

.......................................( 13 )

Dan konduktivitas sodium hydroxide dalam umpan campuran


= .

[ + .

.......................................( 14 )

Konduktivitas awal larutan dapat juga dihitung dengan asumsi bahwa sodium
asetat sama dengan nol
=

.......................................( 15 )

1.2.9 Perhitungan konversi reaksi

Menurut Tim Penyusun (2013), dengan perhitungan dari persamaanpersamaan diatas maka harga konsentrasi sodium hydroxide dalam reaktor pada
waktu t (a1) dan konsentrasi sodium asetat pada waktu t (c1) serta tingkat konversi
(Xa) untuk masing-masing sampel konduktivitas yang dilakukan tiap periode
waktu selama percobaan dapat dihitung dengan persamaan-persamaan berikut :
Konsentrasi sodium hydroxide dalam reaktor pada waktu t :
=

]+

...................................................( 16 )

Dengan cara yang sama, konsentrasi sodium asetat pada waktu t adalah :
=


[ ]

...................................................( 17 )

Dimana merupakan konduktivitas pada waktu t. Konversi sodium hydroxide


dapat didefenisikan sebagai jumlah mol NaOH yang bereaksi/jumlah mol NaOH

mula-mula. Jumlah yang sama dapat didefenisikan untuk produksi sodium asetat,
sebagai jumlah yang dihasilkan yang dinyatakan sebagai persentase jumlah total
yang diharapkan setelah waktu tak hingga:
=
=

...................................................( 18 )

untuk c0 = 0....................................................( 19 )

1.2.10 Perhitungan Konstanta Laju Spesifik


Menurut Tim Penyusun (2016), konstanta laju spesifik (k), dapat dihitung
dari konsentrasi sodium hydroxide pada kondisi steady state dalam reaktor (a1).
Neraca massa keseluruhan untuk reaktor dapat ditulis sebagai:
Input Output yang bereaksi = Akumulasi ............................ ( 20 )
Untuk reaktan a dalam reaktor dengan volume V dapat ditulis:
.

= .

. .

...................................... ( 21 )

Untuk reaktor kontinu yang beroperasi pada keadaan steady state, laju perubahan
mol dalam reaktor adalah nol dan volume dapat diasumsikan konstan, sehingga :

Maka,

............................................... ( 22 )

.......................................( 23 )

BAB II
METODOLOGI PERCOBAAN

2.1.

Alat dan Bahan


a. Alat:
1. Reaktor Tubular dengan kelengkapan
2. Stopwatch
3. Gelas ukur 100 ml
4. Labu ukur 1 liter dan 2 liter.
5. Beaker glass 1 liter
6. Corong
7. Neraca digital
8. Buret + statif
9. Erlenmeyer
10. Batang pengaduk
11. Pipet tetes

b. Bahan:
1. Etil asetat (CH3COOC2H5)
2. NaOH
3. Aquades
4. HCl 0,1 M
5. Indikator PP

2.2. Prosedur Percobaan


2.2.1 Persiapan Percobaan
1. Kalibrasi Pompa Feed
a) Kedua tangki feed reagen diisi dengan air hingga penuh
b) Pompa 1 dihidupkan dengan set kontrol kecepatan 4
c) Air yang terpompa keluar ditampung dengan gelas ukur pada periode
waktu 1 menit.

d) Volume air yang keluar diukur dengan gelas ukur.


e) Percobaan di atas diulang kembali dengan set kontrol kecepatan 5, 6,
7, 8 dan 9
f) Grafik hubungan antara flowrate vs speed setting dibuat berdasarkan
data hasil percobaan
g) Kalibrasi pada pompa 2 dilakukan dengan menggunakan set kontrol
kecepatan yang sama seperti pada pompa 1.

2. Pembuatan Larutan Umpan


Pembuatan larutan NaOH dan Etil asetat untuk percobaan I (NaOH 0,01
M dan Etil asetat 0,01 M) dan percobaan II (NaOH 0,01 M dan Etil asetat
0,05 M), masing-masing dibuat sebanyak 5 liter. Untuk larutan NaOH ini
dititrasi dengan larutan HCl 0,1 M.

2.2.2 Pelaksanaan Percobaan


a. Larutan NaOH dan Etil asetat yang telah dibuat dimasukkan ke dalam
tangki reaktan sampai kira-kira 5 cm dari batas atas tutup tangki reaktan.
b. Kecepatan pompa di-setting pada speed 5.
c. Konduktivitas hasil reaksi dicatat setiap 2 menit hingga menit ke 30
d. Setelah konduktivitas stabil, produk diambil sebanyak 30 ml.
e. Tiap 10 ml larutan produk ditambah dengan indikator pp sebanyak 3 tetes
hingga diperoleh warna larutan ungu muda.
f. Larutan dititrasi dengan HCl 0,1 M hingga larutan berubah warna seperti
semula.
g. Percobaan diulangi dengan setting pompa 7 dan 9.

2.3

Gambar dan Keterangan Alat

Gambar 2.1. Reaktor Tubular dan kelengkapannya


Alat ini terdiri dari beberapa bagian :

Tangki Reaktan (2)


Tangki reaktan ini terdiri dari dua buah dengan kapasitas volume masingmasing 5 liter. Pada bagian bawah tangki dilengkapi dengan drain valve
yang berfungsi untuk mengosongkan tangki.

Pompa Umpan
Tipe pompa paristaltik dengan kemampuan pada range 0-95 ml per menit.
Operasi normal dilakukan dengan switch toggle (16) pada posisi manual.
Untuk pengaturan kecepatan pompa dapat diatur dengan memutar
potensiometer.

Sirkulator Air Panas


Sirkulator air panas ini digunakan, jika reaktor dioperasikan di atas
temperatur kamar. Air dipanaskan dengan elemen pemanas dalam

sirkulator, dipompa dengan pompa sirkulasi yang terletak dalam sirkulator.


Air dikembalikan ke priming vessel (21) setelah dipanaskan. Sistem
sirkulasi dioperasikan pada tekanan sub-atmosfherik untuk meningkatkan
keamanan. Priming vessel ini digunakan untuk mengisi awal sirkulator dan
reactor serta untuk menghembuskan udara.

Kontrol Temperatur Automatis


Kontrol temperatur dijalankan dengan sirkulasi pemanas atau pendingin
air melalui coil yang terletak dalam reaktor CSTR. Sensor temperatur (13)
dirancang dalam reaktor yang berhubungan dengan pengontrol temperatur
otomatis. Temperatur proses diset dengan menekan tombol (23)
bersamaan dengan tombol (24), jika untuk menaikkan temperatur.
Sedangkan untuk menurunkan temperatur dengan menekan tombol (23)
bersamaan dengan tombol (25). Untuk menghidupkan sirkulator dengan
cara menekan switch toggle (26) pada posisi 1.

Pengukur Konduktivitas
Konduktivitas ditunjukkan pada monitor (27) dalam satuan milliSiemen.
Selama bereaksi, konduktivitas dari larutan berubah. Dari data ini dapat
digunakan untuk menentukan tingkat konversi dan kecepatan konversi.

2.4

Perhitungan/Analisis

2.4.1 Data-data yang dicatat


1. Laju alir NaOH (Fa), L/s
2. Laju alir CH3COOC2H5 (Fb), L/s
3. Konsentrasi NaOH dalam tangki (a ), mol/L
4. Konsentrasi CH3COOC2H5 dalam tangki (b ), mol/L
5. Temperatur reaktor (T), K
6. Volume reaktor (V) : 0,4 L

2.4.2 Data-data yang dihitung


1. Konsentrasi NaOH dalam umpan campuran (ao), mol/L
2. Konsentrasi CH3COOC2H5 dalam umpan campuran (bo), mol/L
3. Konsentrasi CH3COONa pada t (c)
4. Konduktivitas CH3COONa pada t (c)
5. Konduktivitas NaOH dalam umpan campuran (a0)
6. Konduktivitas awal larutan (0)
7. Konsentrasi NaOH dalam reaktor setelah waktu t (a)
8. Konduktivitas NaOH setelah waktu t (a)
9. Konduktivitas larutan setelah waktu t ()
10. Konsentrasi NaOH dalam reaktor pada waktu t (a1)
11. Konsentrasi CH3COONa pada waktu t (c1)
12. Konversi NaOH (Xa)
13. Konversi CH3COONa (Xc)
14. Konstanta laju spesifik (k)

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1

Hasil Percobaan
Percobaan dilakukan dengan mengalirkan air menggunakan speed pompa 4,

5, 6, 7, 8 dan 9 (untuk masing-masing pompa 1 dan 2), kemudian menampung air


yang keluar dari reaktor dengan gelas ukur selama 1 menit. Data hasil pengukuran
laju alir pompa 1 dan pompa 2 pada berbagai variasi speed pompa disajikan pada
Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Laju alir pompa 1 dan pompa 2 pada berbagai variasi speed pompa.
Speed pompa
4
5
6
7
8
9

Laju alir pompa 1


( ml/menit )
18
25
34
43
55
67

Laju alir pompa 2


( ml/menit )
30
41
51
62
73
81

Percobaan kemudian dilanjutkan dengan memasukkan umpan ke dalam


kedua tangki, yaitu NaOH 0,01 M dan Etil asetat 0,01 M untuk percobaan I serta
NaOH 0,01 M dan Etil asetat 0,05 M untuk percobaan II. NaOH dialirkan
menggunakan pompa 1 sedangkan Etil asetat dialirkan menggunakan pompa 2.
Variasi speed pompa yang digunakan yaitu skala 5, 7 dan 9 untuk masing-masing
percobaan. Nilai konduktivitas yang terbaca pada alat dicatat setiap 2 menit
hingga menit ke 30. Data konduktivitas kemudian digunakan untuk menentukan
konstanta laju spesifik k serta mengetahui kondisi steady state campuran dalam
reaktor. Data hasil pengukuran konduktivitas disajikan pada Tabel 3.2, sedangkan
data konstanta laju spesifik k untuk masing-masing speed pompa percobaan I dan
II disajikan pada Tabel 3.3.

Tabel 3.2. Data hasil pengukuran konduktivitas pada masing-masing percobaan.


NaOH 0,01 M dan Etil asetat 0,01 M

NaOH 0,01 M dan Etil asetat 0,05 M

Waktu
(menit)

Konduktivitas
speed 5
(mS)

Konduktivitas
speed 7
(mS)

Konduktivitas
speed 9
(mS)

Konduktivitas
speed 5
(mS)

Konduktivitas
speed 7
(mS)

Konduktivitas
speed 9
(mS)

0,77

0,76

0,73

0,57

0,74

0,70

0,76

0,77

0,74

0,55

0,74

0,69

0,77

0,75

0,74

0,54

0,71

0,70

0,76

0,74

0,72

0,63

0,70

0,69

0,75

0,74

0,72

0,66

0,70

0,69

10

0,74

0,74

0,72

0,75

0,70

0,69

12

0,74

0,74

0,72

0,74

0,70

0,69

14

0,75

0,74

0,72

0,74

0,70

0,69

16

0,75

0,74

0,72

0,74

0,70

0,69

18

0,75

0,73

0,72

0,74

0,70

0,69

20

0,75

0,73

0,72

0,74

0,70

0,69

22

0,75

0,73

0,72

0,74

0,70

0,69

24

0,75

0,73

0,72

0,74

0,70

0,69

26

0,75

0,73

0,72

0,74

0,70

0,69

28

0,75

0,73

0,72

0,74

0,70

0,69

30

0,75

0,73

0,72

0,74

0,70

0,69

Tabel 3.3. Data konversi dan konstanta laju spesifik k untuk masing-masing
speed pompa percobaan I dan II
NaOH 0,01 M dan Etil asetat 0,01 M

NaOH 0,01 M dan Etil asetat 0,05 M

Hasil Perhitungan
Speed 5

Speed 7

Speed 9

Speed 5

Speed 7

Speed 9

Konversi Xa

0,203

0,33

0,477

0,312

0,388

0,527

Konstanta Laju spesifik k

0,23

0,65

0,69

0,73

1,12

1,88

Produk kemudian ditampung sebanyak 30 ml untuk dititrasi menggunakan


HCl 0,1 M. Titrasi dilakukan duplo terhadap 10 ml produk. Volume HCl yang
digunakan dicatat untuk mentukan nilai konstanta laju spesifik k. Data hasil titrasi
disajikan pada Tabel 3.4.

Tabel 3.4. Data hasil titrasi pada masing-masing percobaan.


Volume NaOH Volume HCl 0,1 M
(ml)
(ml)
10
0,65
10
0,55
10
0,5
10
0,4
10
0,5
10
0,55

Variasi Konsentrasi Skala Pompa


5
7
9
5
7
9

NaOH 0,01 M dan


Etil asetat 0,01 M
NaOH 0,01 M dan
Etil asetat 0,05 M

3.2

Pembahasan

3.2.1 Kalibrasi Pompa


Hubungan antara speed pompa terhadap laju alir air pada masing-masing
pompa disajikan pada Gambar 3.1.
90
y = 10.343x + 20.133
R = 0.9983

Laju Alir (mL/menit)

80
70
60
50

y = 9.8286x + 5.9333
R = 0.9901

40
30
20
10
0
4

Speed Pompa

9
Pompa 1
Pompa 2

Gambar 3.1. Hubungan antara speed pompa dengan laju alir air pada
pompa 1 dan 2.
Berdasarkan Gambar 3.1 dapat dilihat bahwa semakin besar speed pompa
yang digunakan, baik pada pompa 1 maupun pompa 2, maka laju alir yang
diperoleh akan semakin besar pula. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan
volume air yang ditampung dalam gelas ukur setiap kenaikan speed pompa pada

selang waktu konstan selama 1 menit. Gambar 3.1 juga menunjukkan bahwa
untuk speed pompa yang sama, laju alir air pada pompa 2 lebih besar
dibandingkan laju alir air pada pompa 1. Kondisi ini dikarenakan spesifikasi
pompa yang digunakan berbeda, sehingga mempengaruhi kinerja dari pompa
tersebut.
3.2.2 Menentukan Kondisi Steady State
Penentuan

steady

kondisi

state

dilakukan

dengan

memplot

data

konduktivitas terhadap waktu reaksi. Hubungan konduktivitas terhadap waktu


reaksi untuk percobaan I (NaOH 0,01 M dan Etil asetat 0,01 M) disajikan pada
Gambar 3.2, sedangkan untuk percobaan II (NaOH 0,01 M dan Etil asetat 0,05 M)
disajikan pada Gambar 3.3.
0.78

Konduktivitas (S)

0.76

0.74

0.72

0.7

0.68
0

10

12

14

16

18

20

22

Waktu (menit)

24

26

28 30
Speed 5
Speed 7
Speed 9

Gambar 3.2. Hubungan konduktivitas terhadap waktu reaksi pada percobaan I


(NaOH 0,01 M dan Etil asetat 0,01 M)

0.8

Konduktivitas (S)

0.75

0.7

0.65

0.6

0.55

0.5
0

10

12

14

16

18

20

22

24

26

Waktu (menit)

28 30
Speed 5
Speed 7
Speed 9

Gambar 3.3. Hubungan konduktivitas terhadap waktu reaksi pada percobaan II


(NaOH 0,01 M dan Etil asetat 0,05 M)
Berdasarkan Gambar 3.2 dan 3.3 dapat dilihat bahwa semakin besar laju alir
umpan (dalam hal ini yaitu speed pompa), maka waktu untuk mencapai kondisi
steady state semakin cepat. Hal ini dikarenakan semakin besar laju alir maka akan
meningkatkan frekuensi tumbukan antar partikel larutan, sehingga waktu untuk
bereaksi dan mencapai steady state semakin cepat.
Konduktivitas merupakan kemampuan suatu bahan (larutan, gas atau logam)
untuk menghantarkan listrik. Dalam suatu larutan, arus listrik timbul karena
adanya pergerakan kation dan anion. Berdasarkan Gambar 3.2 dan 3.3 juga dapat
dilihat bahwa semakin besar konsentrasi umpan, maka waktu untuk mencapai
kondisi steady state juga akan semakin cepat. Hal ini dikarenakan semakin besar
konsentrasi suatu larutan, maka semakin banyak ion-ion yang terkandung di
dalamnya, sehingga frekuensi tumbukan akan semakin meningkat. Akibatnya,
waktu untuk bereaksi dan mencapai steady state pun semakin cepat.

3.2.3 Konversi dan Konstanta Laju Spesifik


Hubungan antara konversi dengan speed pompa pada percobaan I dan II
disajikan pada Gambar 3.4, sedangkan hubungan antara nilai konstanta laju
spesifik k dengan speed pompa pada percobaan I dan II disajikan pada Gambar
3.5.
0.56

0.527038

0.48

Konversi (Xa)

0.388754
0.4
0.32

0.477386

0.312269
0.330639

0.24
0.16

0.202896

0.08
0
5

Speed Pompa
Konversi percobaan I (NaOH 0,01 M dan Etil asetat 0,01 M)
Konversi percobaan II (NaOH 0,01 M dan Etil asetat 0,05 M)

Gambar 3.4 Hubungan antara konversi dengan speed pompa pada percobaan
I dan II.
Berdasarkan Gambar 3.4 dapat dilihat bahwa semakin besar speed pompa
(laju alir semakin besar) maka konversi yang dihasilkan juga semakin besar.
Semakin besar speed pompa, maka semakin banyak umpan yang masuk ke reaktor
dan saling bertumbukan, sehingga konversinya semakin besar pula. Gambar 3.4
juga memperlihatkan bahwa konversi pada percobaan II lebih besar dibanding
pada percobaan I, dimana konsentrasi larutan pada percobaan II lebih besar
dibanding percobaan I. Kondisi ini terjadi karena semakin besar konsentrasi
larutan umpan, maka semakin banyak partikel zat didalamnya sehingga frekuensi
tumbukan semakin banyak. Akibatnya, semakin banyak komponen larutan yang
terkonversi. Konversi tertinggi didapat sebesar 0,527 yaitu pada speed pompa 9
dengan konsentrasi NaOH 0,01 M dan Etil asetat 0,05 M.

Konstanta Laju Spesifik, k (L/s.mol)

2
1.88
1.5
1.12
1
0.73
0.69

0.65

0.5
0.23
0
5

Speed Pompa
Nilai k percobaan I (NaOH 0,01 M dan Etil asetat 0,01 M)
Nilai k percobaan II (NaOH 0,01 M dan Etil asetat 0,05 M)

Gambar 3.5 Hubungan antara konstanta laju spesifik k dengan speed pompa pada
percobaan I dan II.
Berdasarkan Gambar 3.5 dapat dilihat bahwa semakin besar speed pompa
(laju alir) maka konstanta laju spesifik yang diperoleh juga akan semakin besar.
Kondisi ini sesuai dengan persamaan:
k=

F a0 a1
V
a12

dimana nilai k berbanding lurus terhadap flowrate umpan (F). Berdasarkan


persamaan di atas juga dapat dilihat bahwa konstanta laju spesifik berbanding
terbalik dengan kuadrat konsentrasi NaOH (steady state). Nilai a1 pada percobaan
II lebih kecil dibanding pada percobaan I (lihat Lampiran C), sehingga konstanta
laju spesifik k pada konsentrasi etil asetat 0,05 M lebih besar dibanding pada
konsentrasi etil asetat 0,01 M. Konstanta laju spesifik k tertinggi didapat sebesar
1,88 L/mol.s yaitu pada speed pompa 9 dengan konsentrasi NaOH 0,01 M dan Etil
asetat 0,05 M.

BAB IV
KESIMPULAN

1. Semakin besar speed pompa, maka laju alir yang diperoleh semakin besar.
2. Semakin besar laju alir umpan, maka waktu untuk mencapai kondisi steady
state semakin cepat. Konsentrasi reaktan juga berpengaruh terhadap waktu
steady state, dimana peningkatan konsentrasi reaktan akan mempercepat
tercapainya kondisi steady state.
3. Semakin besar speed pompa (laju alir) maka konversi yang dihasilkan juga
semakin besar. Konversi tertinggi didapat sebesar 0,527 yaitu pada speed
pompa 9 dengan konsentrasi NaOH 0,01 M dan Etil asetat 0,05 M.
4. Semakin besar speed pompa (laju alir) maka konstanta laju spesifik yang
diperoleh juga akan semakin besar. Konsentrasi reaktan juga berpengaruh
terhadap nilai konstanta laju spesifik, dimana peningkatan konsentrasi
reaktan akan meningkatkan nilai konstanta laju spesifik. Konstanta laju
spesifik k tertinggi didapat sebesar 1,88 L/mol.s yaitu pada speed pompa 9
dengan konsentrasi NaOH 0,01 M dan Etil asetat 0,05 M.

DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun. 2013. Penuntun Praktikum Teknik Reaksi Kimia. Program Studi
D-III Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau. Pekanbaru
Tim Penyusun. 2016. Penuntun Praktikum Laboratorium Teknik Kimia. Program
Studi SI Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau. Pekanbaru
Yahdi, NS. 2013. Makalah Reaktor Alir Pipa. Pekanbaru.

LAMPIRAN D
DOKUMENTASI

Gambar D.1 Larutan Etil asetat.

Gambar D.2 Pembuatan Larutan Umpan

Gambar D.3 Reaktor Tubular

LAMPIRAN A
LAPORAN SEMENTARA

Judul Praktikum

: Reaktor

Hari/Tanggal Praktikum

: Sabtu/13 Agustus 2016

Pembimbing

: Edy Saputra, MT, PhD

Asisten Laboratorium

: Rini Dwi A

Nama Kelompok I

: Hendryanto Sinaga (1507167334)


Ryan Tito (1507165761)
Sudung Sugiarto Siallagan (1507165728)

Hasil Percobaan

A.1 Kalibrasi Pompa Feed


Tabel A.1 Data Hasil Percobaan Kalibrasi Pompa 1 dan 2
Skala pompa
4
5
6
7
8
9

Laju alir pompa 1


( ml/menit )
18
25
34
43
55
67

A.2 Pembuatan Larutan Umpan


1. Pembuatan larutan umpan NaOH (0,01 M)
Perhitungan massa NaOH yang dibutuhkan:
n = M.V
n = 0,01 . 5L
n = 0,05 mol

Laju alir pompa 2


( ml/menit )
30
41
51
62
73
81

m = n . Mr
m = 0,05 . 40
m = 2 gr
2. Pengenceran larutan umpan Etil asetat (0,01M)
Perhitungan volume Etil asetat yang dibutuhkan:
M1 . V1 = M2 . V2
0,01 . 5L = 10 . V2
V2 = 0,005L
V2 = 5 mL
A.3 Pengukuran Konduktivitas
Tabel A.2 Data Hasil Pengukuran Konduktivitas
NaOH (0,01 M) dan Etil asetat (0,01 M)

NaOH (0,01 M) dan Etil asetat (0,05 M)

Waktu
(menit)

Konduktivitas
speed 5
(S)

Konduktivitas
speed 7
(S)

Konduktivitas
speed 9
(S)

Konduktivitas
speed 5
(S)

Konduktivitas
speed 7
(S)

Konduktivitas
speed 9
(S)

0,77

0,76

0,73

0,57

0,74

0,70

0,76

0,77

0,74

0,55

0,74

0,69

0,77

0,75

0,74

0,54

0,71

0,70

0,76

0,74

0,72

0,63

0,70

0,69

0,75

0,74

0,72

0,66

0,70

0,69

10

0,74

0,74

0,72

0,75

0,70

0,69

12

0,74

0,74

0,72

0,74

0,70

0,69

14

0,75

0,74

0,72

0,74

0,70

0,69

16

0,75

0,74

0,72

0,74

0,70

0,69

18

0,75

0,73

0,72

0,74

0,70

0,69

20

0,75

0,73

0,72

0,74

0,70

0,69

22

0,75

0,73

0,72

0,74

0,70

0,69

24

0,75

0,73

0,72

0,74

0,70

0,69

26

0,75

0,73

0,72

0,74

0,70

0,69

28

0,75

0,73

0,72

0,74

0,70

0,69

30

0,75

0,73

0,72

0,74

0,70

0,69

A.4 Titrasi
Tabel A.4 Data Hasil Titrasi
Variasi Konsentrasi

Skala
Pompa
5

NaOH 0,01 M dan


Etil asetat 0,01 M

7
9
5

NaOH 0,01 M dan


Etil asetat 0,05 M

7
9

Volume NaOH
(ml)
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10

Volume HCl 0,1 M


(ml)
0,7
0,6
0,7
0,4
0,5
0,5
0,4
0,4
0,5
0,5
0,5
0,6

Pekanbaru, 13 Agustus 2016


Asisten Laboratorium,

Rini Dwi A

LAMPIRAN B
CONTOH PERHITUNGAN

B.1 Perhitungan Konstanta Laju Spesifik (k) dari Data Konduktivitas


Larutan NaOH (a)

= 0,01 M

Etil Asetat (b)

= 0,01 M

Suhu (T)

= 30oC = 303 K

Laju alir NaOH (Fa)

= 25 ml/menit

Laju alir Etil asetat (Fb)

= 41 ml/menit

Skala pompa

=5

1= 0,77 mS = 0,00077 Siemen


1. Konsentrasi NaOH dalam campuran (ao)
Fa
25
a
ao

0,01 0,00379 M
Fa Fb
25 41

2. Konsentrasi CH3COOC2H5 dalam umpan campuran (bo)


41
Fa
bo
b
0,01 0,00621 M

25 41
Fa Fb

3. Konsentrasi CH3COONa pada t (c)


nilai bo ao, maka nilai c = ao
c = 0,00379 M
4. Konduktivitas CH3COONa pada t (c)

c 0,0701 0,0284T 294 c


c 0,0701 0,0284303 294 0,00379 0,000324 siemen
5. Konduktivitas NaOH dalam umpan campuran (ao)

ao 0,1951 0,0184T 294 ao ; T 294.


ao 0,1951 0,0184303 294 0,00379 0,000861 siemen
6. Konduktivitas awal larutan (o)
Nilai o = ao
o = 0,000861 siemen
7. Konsentrasi NaOH dalam reaktor setelah waktu t (a)

jika nilai a0 < b0 maka a = 0


8. Konduktivitas NaOH setelah waktu t (a)

a 0,1951 0,0184303 294 a


a 0,1951 0,0184303 294 0 0
9. Konduktivitas larutan setelah waktu t ()
c a
0,000324 0 0,000324 siemen

10. Konsentrasi NaOH dalam reaktor pada waktu t (a1)

l
ai a ao o
ao
o
0,000861 0,00077
al 0 0,00379
0,00379
0,000861 0,000324
al 0,003143mol / L
11. Konsentrasi CH3COONa pada waktu t (c1)
c1 c

o 1
o

0,000861 0,00077
c1 0,00379
0,000645 M
0,000861 0,000324

12. Konversi NaOH (Xa)

a al
X a o
ao

0,00379 0,003143

0,170317
0,00379

13. Konversi CH3COONa (Xc)

Xc

c1 0,000645

0,170317
0,00379
c

14. Konstanta laju spesifik (k)

Fa Fb ao a1
2
V
a1

(0,0004167 0,0006863) L / s (0,00379 0,003143)mol / L

0,4 L
(0,003143mol / L) 2

k 0,23 L / mol.s

Perhitungan konstanta laju spesifik untuk skala pompa 7 dan 9 serta untuk
konsentrasi etil asetat 0,05 M dilakukan dengan langkah yang sama seperti
langkah-langkah di atas, sehingga diperoleh data hasil perhitungan seperti yang
disajikan pada Lampiran C.

B.2 Perhitungan Konstanta Laju Spesifik (k) dari Data Titrasi


Larutan NaOH (a)

= 0,01 M

Etil Asetat (b)

= 0,01 M

Suhu (T)

= 30oC = 303 K

Contoh Perhitungan
Skala pompa

=5

Laju alir umpan (Fa + Fb)

= (25 + 41) ml/menit


= 66 ml/menit
= 0,0011 L/s

Volume Reaktor

= 0,4 L

Konsentrasi NaOH umpan

= 0,00379 M

Volume HCl yang terpakai

= (0,7 + 0,6) ml = 0,65 ml

Konsentrasi HCL

= 0,1 M

Volume Produk

= 10 ml

Konsentrasi NaOH dalam produk (a1) = (0,1 x 0,65)/10


= 0,0065 M
Konversi NaOH (Xa)

0,00379 0,0065

0,716
0,00379

a a
X a o l
ao
ktitrasi =
=

F Xa

Xa

, L

L/s ,
9

= -0,30 L/mol.s

Perhitungan konstanta laju untuk skala pompa 7 dan 9 serta untuk


konsentrasi Etil asetat 0,05 M dilakukan dengan langkah-langkah yang sama

seperti di atas. sehingga diperoleh data hasil perhitungan seperti yang disajikan
pada Lampiran C.

LAMPIRAN C
HASIL PERHITUNGAN
A. Konsentrasi Etil Asetat 0,01 M
1). Variabel berubah: skala pompa 5
o
Variabel tetap: suhu 30 C dan konsentrasi NaOH 0,01 M
Fa =
Fb =
Waktu
(menit)
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
20
22
24
26
28
30

i
(S)
0.000770
0.000760
0.000770
0.000760
0.000750
0.000740
0.000740
0.000750
0.000750
0.000750
0.000750
0.000750
0.000750
0.000750
0.000750
0.000750

25 ml/menit
41 ml/menit
ao
(mol/L)
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379

bo
(mol/L)
0.00621
0.00621
0.00621
0.00621
0.00621
0.00621
0.00621
0.00621
0.00621
0.00621
0.00621
0.00621
0.00621
0.00621
0.00621
0.00621

=
=

0.025
0.041

L/menit
L/menit

=
=

0.0004167
0.0006833

L/s
L/s

c
(mol/L)
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038

c
(S)
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324

ao
(S)
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861

o
(S)
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861

a
(mol/L)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

a
(S)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

(S)
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324

a1
(mol/L)
0.003143
0.003072
0.003143
0.003072
0.003002
0.002931
0.002931
0.003002
0.003002
0.003002
0.003002
0.003002
0.003002
0.003002
0.003002
0.003002
0.003019

(S)
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000

a1
c1
Xa
Xc
(mol/L)
(mol/L)
0.002887 0.001209 0.295124 0.2951236
0.002957 0.001138 0.277904 0.2779042
0.002816 0.001279 0.312343 0.312343
0.002746 0.00135 0.329562 0.3295625
0.002746 0.00135 0.329562 0.3295625
0.002746 0.00135 0.329562 0.3295625
0.002746 0.00135 0.329562 0.3295625
0.002746 0.00135 0.329562 0.3295625
0.002746 0.00135 0.329562 0.3295625
0.002675 0.00142 0.346782 0.3467819
0.002675 0.00142 0.346782 0.3467819
0.002675 0.00142 0.346782 0.3467819
0.002675 0.00142 0.346782 0.3467819
0.002675 0.00142 0.346782 0.3467819
0.002675 0.00142 0.346782 0.3467819
0.002675
0.001
0.347
0.347
0.002741
0.330639

c1
(mol/L)
0.000645
0.000716
0.000645
0.000716
0.000786
0.000857
0.000857
0.000786
0.000786
0.000786
0.000786
0.000786
0.000786
0.000786
0.000786
0.000786

Xa

Xc

0.170317
0.188934
0.170317
0.188934
0.20755
0.226167
0.226167
0.20755
0.20755
0.20755
0.20755
0.20755
0.20755
0.20755
0.20755
0.20755
0.202896

0.1703171
0.1889338
0.1703171
0.1889338
0.2075505
0.2261671
0.2261671
0.2075505
0.2075505
0.2075505
0.2075505
0.2075505
0.2075505
0.2075505
0.2075505
0.2075505

k
(L/mol.s)
0.18
0.21
0.18
0.21
0.24
0.27
0.27
0.24
0.24
0.24
0.24
0.24
0.24
0.24
0.24
0.24
0.23

a1 titrasi

Xa titrasi

k titrasi
L/mol.s

0.0065

-0.716

-0.30

k
(L/mol.s)
0.52
0.47
0.58
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.64
0.71
0.71
0.71
0.71
0.71
0.71
0.71
0.65

a1 titrasi

Xa titrasi

k titrasi
L/mol.s

0.0055

-0.343023

-0.27

2). Variabel berubah: skala pompa 7


Variabel tetap: suhu 30oC dan konsentrasi NaOH 0,01 M
Fa =
Fb =
Waktu
(menit)
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
20
22
24
26
28
30

i
(S)
0.000760
0.000770
0.000750
0.000740
0.000740
0.000740
0.000740
0.000740
0.000740
0.000730
0.000730
0.000730
0.000730
0.000730
0.000730
0.000730

43 ml/menit
62 ml/menit
ao
(mol/L)
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041

bo
(mol/L)
0.0059
0.0059
0.0059
0.0059
0.0059
0.0059
0.0059
0.0059
0.0059
0.0059
0.0059
0.0059
0.0059
0.0059
0.0059
0.0059

=
=

0.043
0.062

L/menit
L/menit

=
=

0.0007167
0.0010333

L/s
L/s

c
(mol/L)
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041

c
(S)
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000

ao
(S)
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.001

o
(S)
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.001

a
(mol/L)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

a
(S)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

3). Variabel berubah: skala pompa 9


Variabel tetap: suhu 30oC dan konsentrasi NaOH 0,01 M
Fa =
Fb =
Waktu
(menit)
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
20
22
24
26
28
30

i
(S)
0.000730
0.000740
0.000740
0.000720
0.000720
0.000720
0.000720
0.000720
0.000720
0.000720
0.000720
0.000720
0.000720
0.000720
0.000720
0.000720

67 ml/menit
81 ml/menit
ao
(mol/L)
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453

bo
(mol/L)
0.00547
0.00547
0.00547
0.00547
0.00547
0.00547
0.00547
0.00547
0.00547
0.00547
0.00547
0.00547
0.00547
0.00547
0.00547
0.00547

=
=

0.067
0.081

L/menit
L/menit

=
=

0.0011167
0.00135

L/s
L/s

c
(mol/L)
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045

c
(S)
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000

ao
(S)
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.001

o
(S)
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.001

a
(mol/L)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

a
(S)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

(S)
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000

a1
(mol/L)
0.002414
0.002485
0.002485
0.002344
0.002344
0.002344
0.002344
0.002344
0.002344
0.002344
0.002344
0.002344
0.002344
0.002344
0.002344
0.002344
0.002366

c1
(mol/L)
0.002113
0.002042
0.002042
0.002183
0.002183
0.002183
0.002183
0.002183
0.002183
0.002183
0.002183
0.002183
0.002183
0.002183
0.002183
0.002

(S)
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324

a1
(mol/L)
0.001732
0.001591
0.001521
0.002155
0.002367
0.003002
0.002931
0.002931
0.002931
0.002931
0.002931
0.002931
0.002931
0.002931
0.002931
0.002931
0.002605

c1
(mol/L)
0.002055
0.002197
0.002267
0.001632
0.001421
0.000786
0.000857
0.000857
0.000857
0.000857
0.000857
0.000857
0.000857
0.000857
0.000857
0.000857

Xa

Xc

0.466677
0.4511
0.4511
0.482254
0.482254
0.482254
0.482254
0.482254
0.482254
0.482254
0.482254
0.482254
0.482254
0.482254
0.482254
0.482
0.477386

0.4666766
0.4510996
0.4510996
0.4822537
0.4822537
0.4822537
0.4822537
0.4822537
0.4822537
0.4822537
0.4822537
0.4822537
0.4822537
0.4822537
0.4822537
0.482

Xa

Xc

0.542651
0.579884
0.598501
0.43095
0.3751
0.20755
0.226167
0.226167
0.226167
0.226167
0.226167
0.226167
0.226167
0.226167
0.226167
0.226167
0.312269

0.5426505
0.5798838
0.5985005
0.4309505
0.3751005
0.2075505
0.2261671
0.2261671
0.2261671
0.2261671
0.2261671
0.2261671
0.2261671
0.2261671
0.2261671
0.2261671

k
(L/mol.s)
0.65
0.59
0.59
0.71
0.71
0.71
0.71
0.71
0.71
0.71
0.71
0.71
0.71
0.71
0.71
0.71
0.69

a1 titrasi

Xa titrasi

k titrasi
L/mol.s

0.005

-0.104478

-0.13

k
(L/mol.s)
1.88
2.39
2.70
0.97
0.70
0.24
0.27
0.27
0.27
0.27
0.27
0.27
0.27
0.27
0.27
0.27
0.73

a1 titrasi

Xa titrasi

k titrasi
L/mol.s

0.004

-0.056

-0.04

B. Konsentrasi Etil Asetat 0,05 M


1). Variabel berubah: skala pompa 5
Variabel tetap: suhu 30oC dan konsentrasi NaOH 0,01 M
Fa =
Fb =
Waktu
(menit)
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
20
22
24
26
28
30

i
(S)
0.000570
0.000550
0.000540
0.000630
0.000660
0.000750
0.000740
0.000740
0.000740
0.000740
0.000740
0.000740
0.000740
0.000740
0.000740
0.000740

25 ml/menit
41 ml/menit
ao
(mol/L)
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379
0.00379

bo
(mol/L)
0.0311
0.0311
0.0311
0.0311
0.0311
0.0311
0.0311
0.0311
0.0311
0.0311
0.0311
0.0311
0.0311
0.0311
0.0311
0.0311

=
=

0.025
0.041

L/menit
L/menit

=
=

0.0004167
0.0006833

L/s
L/s

c
(mol/L)
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038
0.0038

c
(S)
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324
0.000324

ao
(S)
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861

o
(S)
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861
0.000861

a
(mol/L)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

a
(S)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

2). Variabel berubah: skala pompa 7


Variabel tetap: suhu 30oC dan konsentrasi NaOH 0,01 M
Fa =
Fb =
Waktu
(menit)
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
20
22
24
26
28
30

i
(S)
0.000740
0.000740
0.000710
0.000700
0.000700
0.000700
0.000700
0.000700
0.000700
0.000700
0.000700
0.000700
0.000700
0.000700
0.000700
0.000700

43 ml/menit
62 ml/menit
ao
(mol/L)
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041

bo
(mol/L)
0.02952
0.02952
0.02952
0.02952
0.02952
0.02952
0.02952
0.02952
0.02952
0.02952
0.02952
0.02952
0.02952
0.02952
0.02952
0.02952

=
=

0.043
0.062

L/menit
L/menit

=
=

0.0007167
0.0010333

L/s
L/s

c
(mol/L)
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041
0.0041

c
(S)
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000

ao
(S)
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.001

o
(S)
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.000931
0.001

a
(mol/L)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

a
(S)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

(S)
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000351
0.000

a1
(mol/L)
0.002746
0.002746
0.002534
0.002464
0.002464
0.002464
0.002464
0.002464
0.002464
0.002464
0.002464
0.002464
0.002464
0.002464
0.002464
0.002464
0.002503

c1
Xa
Xc
(mol/L)
0.00135 0.329562 0.3295625
0.00135 0.329562 0.3295625
0.001561 0.381221 0.3812208
0.001632 0.39844 0.3984402
0.001632 0.39844 0.3984402
0.001632 0.39844 0.3984402
0.001632 0.39844 0.3984402
0.001632 0.39844 0.3984402
0.001632 0.39844 0.3984402
0.001632 0.39844 0.3984402
0.001632 0.39844 0.3984402
0.001632 0.39844 0.3984402
0.001632 0.39844 0.3984402
0.001632 0.39844 0.3984402
0.001632 0.39844 0.3984402
0.002
0.398
0.398
0.388754

k
(L/mol.s)
0.78
0.78
1.06
1.18
1.18
1.18
1.18
1.18
1.18
1.18
1.18
1.18
1.18
1.18
1.18
1.18
1.12

a1 titrasi

Xa titrasi

k titrasi
L/mol.s

0.005

-0.22093

-0.19

k
(L/mol.s)
1.72
1.89
1.72
1.89
1.89
1.89
1.89
1.89
1.89
1.89
1.89
1.89
1.89
1.89
1.89
1.89
1.88

a1 titrasi

Xa titrasi

k titrasi
L/mol.s

0.0055

-0.214925

-0.24

3). Variabel berubah: skala pompa 9


Variabel tetap: suhu 30oC dan konsetrasi NaOH 0,01 M
Fa =
Fb =
Waktu
(menit)
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
20
22
24
26
28
30

i
(S)
0.000700
0.000690
0.000700
0.000690
0.000690
0.000690
0.000690
0.000690
0.000690
0.000690
0.000690
0.000690
0.000690
0.000690
0.000690
0.000690

67 ml/menit
81 ml/menit
ao
(mol/L)
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453
0.00453

bo
(mol/L)
0.02736
0.02736
0.02736
0.02736
0.02736
0.02736
0.02736
0.02736
0.02736
0.02736
0.02736
0.02736
0.02736
0.02736
0.02736
0.02736

=
=

0.067
0.081

L/menit
L/menit

=
=

0.0011167
0.00135

L/s
L/s

c
(mol/L)
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045
0.0045

c
(S)
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388

ao
(S)
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.001

o
(S)
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.00103
0.001

a
(mol/L)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

a
(S)
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

(S)
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000388
0.000

a1
(mol/L)
0.002203
0.002132
0.002203
0.002132
0.002132
0.002132
0.002132
0.002132
0.002132
0.002132
0.002132
0.002132
0.002132
0.002132
0.002132
0.002132
0.002141

c1
(mol/L)
0.002324
0.002395
0.002324
0.002395
0.002395
0.002395
0.002395
0.002395
0.002395
0.002395
0.002395
0.002395
0.002395
0.002395
0.002395
0.002

Xa

Xc

0.513408
0.528985
0.513408
0.528985
0.528985
0.528985
0.528985
0.528985
0.528985
0.528985
0.528985
0.528985
0.528985
0.528985
0.528985
0.529
0.527038

0.5134078
0.5289848
0.5134078
0.5289848
0.5289848
0.5289848
0.5289848
0.5289848
0.5289848
0.5289848
0.5289848
0.5289848
0.5289848
0.5289848
0.5289848
0.529