Anda di halaman 1dari 45

Laporan Praktikum

Pengolahan Limbah

Dosen Pembimbing
Dra. Yelmida, M.Si

PENGOLAHAN LIMBAH B3

Kelompok

: II (Dua)

Nama

: Rita P. Mendrova

(1107035609)

Ryan Tito

(1107021186)

Yakub J. Silaen

(1107036648)

LABORATORIUM DASAR-DASAR PROSES KIMIA


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
2013

Abstrak
Limbah B3 adalah sisa suatu usaha atau kegiatan yang mengandung
bahan berbahaya dan beracun yang karena sifat, konsentrasi, dan jumlahnya
baik secara langsung ataupun tidak langsung dapat mencemarkan atau
membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta
makhluk hidup lainnya. Percobaan ini bertujuan untuk menentukan karakteristik
limbah B3, menjelaskan cara pengolahan limbah B3 serta menganalisa limbah
B3 dengan cara fisika. Percobaan dilakukan dengan mengalirkan larutan sampel
zat warna tekstil ke dalam adsorben lempung putih dan kuning dengan variasi
tinggi unggun 5 cm dan 10 cm. Sampel keluaran kolom adsorpsi ditampung ke
dalam 15 wadah penampungan masing-masing sebanyak 25 ml, kemudian
dianalisa dengan menggunakan spektroskopi visible untuk diketahui
konsentrasinya. Hasil percobaan didapat bahwa semakin tinggi variasi unggun
lempung putih maupun lempung kuning yang digunakan, maka akan semakin
cepat proses penyerapan yang terjadi. Lempung putih dan kuning dengan tinggi
unggun masing-masing 10 cm lebih cepat menyerap zat warna tekstil yang
terkandung didalam sampel dibandingkan tinggi unggun 5 cm. Untuk tinggi
unggun yang sama, baik 5 cm maupun 10 cm, penyerapan zat warna tekstil yang
dikandung sampel lebih cepat terjadi pada lempung putih dibandingkan pada
lempung kuning.
Kata Kunci : Limbah B3; adsorben; tinggi unggun; spektroskopi visible;
lempung putih; lempung kuning.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan percobaan pengolahan limbah B3 yaitu sebagai berikut:
1. Menentukan karakteristik limbah B3
2. Menjelaskan cara pengolahan limbah B3
3. Menganalisa limbah B3 dengan cara fisika
1.2 Landasan Teori
Limbah adalah bahan sisa pada suatu kegiatan atau proses produksi. Awal
munculnya limbah bermula dari aktifitas manusia ynag bisa berupa kegiatan
industri, rumag tangga, dll. Aktifitas tersebut bisa jadi menggunakan bahan awal
yang memang sudah mengandung bahan beracun dan berbahaya (B3). Sebuah
aktifitas industri, disamping menghasilkan produk bermanfaat tentu juga
menghasilkan limbah yang mudah diolah dan limbah B3. Yang memerlukan
penanganan ekstra adalah cara penanganan limbah B3 agar tidak berbahaya untuk
lingkungan, kesehatan manusia dan makhluk hidup lain. Dapat disimpulkan
bahwa pencegahan dan pengendalian pencemaranlimbah B3 merupakan
kewajiban bagi sebuah industri disemua sektor dan bidang industri.
Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), adalah proses
untuk mengubah jenis, jumlah dan karakteristik limbah B3 menjadi tidak
berbahaya atau tidak beracun atau immobilisasi limbah B3 sebelum ditimbun atau
memungkinkan agar limbah B3 dimanfaatkan kembali (daur ulang). Pengolahan
limbah B3 merupakan suatu kegiatan yang cukup banyak, antara lain mencakup :
penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan pengolahan dan penimbunan atau
pembuangan akhir. Pengelolaan limbah B3 bertujuan untuk melindungi kesehatan
masyarakat dan mencegah pencemaran lingkungan.
Proses pengolahan limbah B3 dapat dilakukan secara pengolahan fisika dan
kimia, stabilisasi/solidifikasi, biologis, dan insenerasi (secara thermal). Proses
pengolahan secara fisika dan kimia bertujuan untuk mengurangi daya racun
limbah B3 atau menghilangkan sifat/karakteristik limbah B3 dari berbahaya
menjadi tidak berbahaya. Proses pengolahan secara stabilisasi/solidifikasi
bertujuan untuk mengubah watak fisik dan kimiawi limbah B3 dengan cara

penambahan senyawa pengikat B3 agar pergerakan senyawa B3 ini terhambat


atau terbatasi dan membentuk massa monolit dengan struktur yang kekar.
Sedangkan proses pengolahan secara insenerasi bertujuan untuk menghancurkan
senyawa yang terkandung didalamnya menjadi senyawa yang tidak mengandung
B3. Pemilihan proses pengolahan limbah B3, teknologi dan penerapannya didasari
atas evaluasi kriteria yang menyangkut kerja, keluwesan, kehandalan, keamanan,
operasi dari teknologi yang digunakan, dan pertimabangan lingkungan. Timbunan
limabah B3 yang sudah tidak dapat diolah atau dimanfaatkan lagi harus ditimbun
pada lokasi penimbunan (landfill) yang memenuhi persyaratn yang telah
ditetapkan.
1.2.1 Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
Limbah B3 (Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun) adalah sisa suatu
usaha atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan beracun yang karena
sifat, konsentrasi, jumlahnya, baik secara langsung ataupun tidak langsung dapat
mencemarkan

atau

dapat

membahayakan

lingkungan

hidup,

kesehatan,

kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya. Bentuk limbah B3


adalah padat, cair dan udara. Jenis limbah tersebut memiliki sifat-sifat yang
berbeda, sehingga memerlukan metoda pengelolaan limbah yang berbeda pula,
sebelum dibuang ke lingkungan.
Ada beberapa karakteristik limbah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya) :
1. Mudah meledak (eksplosif) (misal : bahan peledak)
2. Mudah terbakar (misal : bahan bakar Extremely flammable and Highly
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

flammable)
Bersifat reaktif (misal : bahan-bahan oksidator)
Berbahaya/harmful (misal : logam berat)
Menyebabkan infeksi (misal : limbah medis rumah sakit)
Bersifat korosif (asam kuat)
Bersifat irritatif (basa kuat)
Beracun (produk uji toksikologi)
Karsinogenik, Mutagenik dan Teratogenik (merkuri, turunan benzena,

beberapa zat warna)


10. Bahan Radioaktif (Uranium, plutonium, dll)

Berdasarkan jenisnya, limbah B3 dapat dikategorikan sebagai berikut :


1. B3 dari sumber spesifik yaitu B3 yang berasal bukan dari proses utamanya
tetapi berasal dari kegiatan pemeliharaan alat, pencucian, inhibitor korosi,
pelarutan kerak, pengemasan, dll.
2. B3 dari sumber spesifik yaitu B3 bahan awal, produk atau sisa proses
suatu industri atau kegiatan tertentu.
3. B3 dari sumber lain yaitu bahan kimia kadaluwarsa, tumpahan, sisa
kemasan dan produk yang tidak memenuhi spesifikasi.
Pengolahan limbah B3, adalah proses untuk mengubah karakteristik dan
komposisi limbah B3 untuk menghilangkan atau mengurangi sifat bahaya atau
sifat racun. Tujuan dari pengolahan limbah B3 adalah untuk mengurangi,
memisahkan, mengisolasi atau menghancurkan sifat/kontaminan yang berbahaya.
Jenis pengolahan limbah, secara garis besar dapat dikelompokkan atas :

Pengolahan fisika-kimia
Pengolahan biologis
Pengolahan thermal

Jenis pengolahan limbah B3 dapat dikelompokkan atas :


1. Pengolahan secara Fisika/Kimia
Stabilisasi/Solidifikasi
Filtrasi dan Separasi
Oresipitasi Kimia
Reduksi dan Oksidasi
Evaporasi
2. Pengolahan secara Biologi
Aerobic/An-aerobic Digestion
Composting
3. Pengolahan secara Thermal
Insenerasi Tanur Putar
Insenerasi Tanur Semen
Insenerasi Katalitik
Peleburan Gelas
Oksidasi Termal
1.2.1.1 Pengolahan Limbah B3 secara reaksi kimia atau fisika

Yang harus diperhatikan adalah pada penentuan jenis limbahnya, apakah


limbah organik atau anorganik. Proses reaksi kimia/fisika yang dilakukan adalah :

pH control
redox potential control
precipitation (carbonate, sulfide, silicate)
adsorption
chemisorption
passivation
ion exchange
diadochy
reprecipitation
encapsulation (micro and macro-encapsulation)

1.2.1.2 Kriteria proses pengolahan limbah B3 dengan cara Stabilisasi


Menghilang atau mengurangi potensi racun dan kandungan B3
Melalui
upaya
memperkecil
atau
membatasi
daya

larut,

pergerakan/penyebaran dan daya racunnya


Sebelum dilakukan penimbunan dalam landfill limbah B3
Umumnya dilakukan untuk limbah an-organik
Kriteria pengujian dan baku mutu :
- Uji TCLP
- Uji Compressive Strength
- Uji Paint Filter

Contoh reaksi presipitasi, pada proses stabilisasi polutan Hg dan Cr

Hg++ + S=
HgS
6+
Cr + 3 e
Cr3+
Cr3+ + 3 OH- Cr(OH)3

Tahapan proses kimia/fisika sangan kompleks, namun operasi sederhana. Produk


stabilisasi merupakan suatu ikatan massa monolit dengan struktur yang masif.
TCLP = Toxicity Characteristic Leaching Procedure, Ekstrasi secara dinamik
selama 18 jam oleh pelarut buffer pada PH tertentu (US-EPA Method No. 1311).
1.2.1.3 Pengolahan limbah B3 secara biologis, mengacu kepada KepMen
128/2003

Detoksifikasi atau penurunan kadar polutan dengan dengan agen

biologis
Persyaratan material yang diolah
Persyaratan konstruksi pengolahan
Persyaratan operasional
Target kriteria akhir pengolahan
Penanganan bahan hasil olahan
Pemantauan bahan hasil olahan
Pelaporan 6 bulan sekali

1.2.1.4 Pengolahan Limbah B3 secara Thermal (Incenerator)


Prinsip pengolahan limbah B3 secara thermal adalah pemusnahan limbah
dengan cara pemberian panas ada suhu tinggi (Self destruction).
- Limbah : pada umumnya untuk senyawa organik, flash point < 40oC
- Incenerator : tipe, suhu pembakaran, waktu tinggal, tinggi snack, air
-

supply, bahan bakar


Emisi memenuhi baku mutu
Effisiensi pembakaran
DRE dan dioxin (hanya untuk yang membakar PHOCs)
Perkiraan dampak terhadap udara ambient
Limbah B3 dikarakterisasikan berdasarkan beberapa parameter yaitu
total solids residue (TSR), kandungan fixed residue (FR), kandungan
volatile solids (VR), kadar air (sludge moisture content), volume
padatan, serta karakter atau sifat B3 (toksisitas, sifat korosif, sifat
mudah terbakar, sifat mudah meledak, beracun, serta sifat kimia dan
kandungan senyawa kimia).

1.2.2

Teknologi Pengolahan
Terdapat banyak metode pengolahan limbah B3 di industri, tiga metode

yang

paling

populer

di

antaranya

ialah

chemical

conditioning,

solidification/stabilization, dan inceneration.


1.2.2.1 Chemical Conditioning
Salah satu teknologi pengolahan limbah B3 ialah chemical coditioning.
Tujuan utama dari chemical conditioning ialah :
- Menstabilkan senyawa-senyawa organik yang terkandung di dalam
-

lumpur
Mereduksi volume dengan mengurangi kandungan air dalam lumpur
Mendestruksi organisme patogen

Memanfaatkan hasil samping proses chemical conditioning yang


masih memiliki nilai ekonomi seperti gas methane yang dihasilkan

pada proses digestion


Mengkondisikan agar lumpur yang dilepas ke lingkungan dalam
keadaan aman dan dapat diterima lingkungan.

Chemical Conditioning terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut :


1. Concentration thickening
Tahapan ini bertujuan untuk mengurangi volume lumpur yang kaan diolah
dengan cara meningkatkan kandungan padatan. Alat yang umumnya digunakan
pada tahapan ini ialah gravity thickener dan solid bowl centrifuge. Tahapan ini
pada dasarnya merupakan tahapan awal sebelum limbah dikurangi kadar air pada
tahapan de-watering selanjutnya. Walaupun tidak sepopuler gravity thickener dan
centrifuge, beberapa unit pengolahan limbah menggunakan proses flotation pada
tahapan awal ini.
2. Treatment, stabilization, and conditioning
Tahapan kedua ini bertujuan untuk menstabilkan senyawa organik dan
menghancurkan patogen. Proses stabilisasi dapat dilakukan melalui proses
pengkondisian secara kimia, fisika, dan biologi. Pengkondisian secara kimia
berlangsung dengan adanya proses pembentukan ikatan bahan-bahan kimia
dengan partikel koloid. Pengkondisian secara fisika berlangsung dengan jalan
memisahkan bahan-bahan kimia dan koloid dengan cara pencucian dan destruksi.
Pengkondisian secara biologi berlangsung dengan adanya proses destruksi dengan
bantuan enzin dan reaksi oksidasi. Proses-proses yang terlibat pada tahapan ini
ialah lagooning, anaerobic digestion, aerobic digestion, heat treatment,
polyelectrolite flocculation, chemical conditioning dan elutriation.
3. De-watering and dying
De-watering and drying bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi
kandungan air dan sekaligus mengurangi volume lumpur. Proses yang terlibat
pada tahapan ini umumnya ialah pengeringan dan filtrasi. Alat yang biasa
digunakan adalah drying bed, filter press, centrifuge, vacuum filter dan belt press.

4. Disposal
Disposal ialah proses pembuangan akhir limbah B3. Beberapa proses yang
terjadi sebelum limbah B3 dibuang ialah pyrolisis, wet air oxidation dan
composting. Tempat pembuangan akhir limbah B3 umumnya sanitary landfill,
crop land, atau injection well.
1.2.2.2 Solidification/Stabilization
Disamping chemical conditioning, teknologi solidification/stabilization
juga dapat diterapkan untuk mengolah limbah B3. Secara umum stabilisasi dapat
didefinisikan sebagai proses pemadatan suatu bahan berbahaya dengan
penambahan aditif. Kedua proses tersebut seringkali terkait sehingga sering
dianggap mempunyai arti yang sama.
Proses dolidifikasi/stabilisasi berdasarkan mekanismenya dapat dibagi
menjadi 6 golongan, yaitu:
1. Macroencapsulation, yaitu proses dimana bahan berbahaya dalam limbah
dibungkus dalam matriks struktur yang besar
2. Microencapsulation, yaitu proses yang mirip macroencapsulationtetapi
bahan pencemar terbungkus secara fisik dalam struktur kristal pada tingkat
mikroskopik
3. Presipitation
4. Adsorbsi, yaitu proses dimana bahan pencemar diikat secara elektrokimia
pada bahan pemadat melalui mekanisme adsorpsi.
5. Absorbsi, yaitu proses solidifikasi bahan

pencemar

dengan

menyerapkannya ke bahan padat.


6. Detoxification, yaitu proses mengubah suatu senyawa beracun menjadi
senyawa lain yang tingkat toksisitasnya lebih rendah atau bahkan hilang
sama sekali.
Teknologi solidikasi/stabilisasi umumnya menggunakan semen, kapur
(ca(OH)2), dan bahan termoplastik. Metoda yang diterapkan di lapangan ialah
metoda in-drum mixing, in-situ mixing, dan plant mixing. Peraturan mengenai
solidifikasi/stabilisasi

diatur

oleh

BAPEDAL

03/BAPEDAL/09/1995 dan Kep-04/BAPEDAL/09/1995.

1.2.2.3 Inceneration

berdasarkan

Kep-

Teknologi pembakaran (inceneration) adalah alternatif yang menarik


dalam teknologi pengolahan limbah. Insenerasi mengurangi volume dan massa
limbah hingga sekitar 90% (volume) dan 75% (berat). Teknologi ini sebenarnya
bukan solusi final dari sistem pengolahan limbah padat karena pada dasarnya
hanya memindahkan limbah dari bentuk padat yang kasat mata ke bentuk gas
yang tidak kasat mata. Proses insenerasi menghasilkan energi dalam bentuk panas.
Namun, insenerasi memiliki beberapa kelebihan dimana sebagian besar dari
komponen limbah B3 dapat dihancurkan dan limbah berkurang dengan cepat.
Selain itu, insenerasi memerlukan lahan yang relatif kecil.
Aspek penting dalam sistem insenerasi adalah nilai kandungan energi
(heating value) limbah. Selain menentukan kemampuan dalam mempertahankan
berlangsungnya proses pembakaran, heating value juga menentukan banyaknya
energi yang dapat diperoleh dari sistem insenerasi. Jenis insenerator yang paling
umum diterapkan untuk membakar limbah padat B3 ialah rotary kiln, multiple
hearth, fluidized bed, open pit, single chamber, multiple chamber, aqueos waste
injection, dan starved air unit. Dari semua jenis insenerator tersebut, rotary kiln
mempunyai kelebihan karena alat tersebut dapat mengolah limbah padat, cair dan
gas sedihasilkan cara simultan.
Bahaya fisik bahan berbahaya dan beracun (B3)
Bahaya keshatan meliputi :
1. Irritants : Zat kimia yang menyebabkan iritasi atau reaksi peradangan bila
kontak dengan tubuh.
Contoh :
Powdered chemicals
Cutting oils
Solvens
2. Sensitizers : Zat kimia yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan
sementara/alergi. Biasanya tidak ada masalah pada kontak pertama tetapi
dapat menyebabkan alergi pada kontak berikutnya.
Contoh :

Isocuantes/formaldehydes (digunakan sebagai lem dan busa)


Senyawa nickel (plating/metal cutting oils/jewelry)

3. Reproductive Hazard
4. Carsinogen
5. Beracun (toksik)
Contoh :
Limbah B3 ialah logam berat seperti Al, Cr, Cu, Cd, Fe, Pb, Mn, Hg, san
Zn serta zat kimia seperti pestisida, sianida, sulfida, fenol dan sebagainya. Cd
dihasilkan dari lumpur dan limbah industri kimia tertentu sedangkan Hg
dihasilkan dari industri klor-alkali, industri cat, kegiaan pertambangan, industri
kertas, serta pembakaran bahan bakar fosil. Pb dihasilkan dari peleburan timah
hitam dan accu. Logam-logam berat pada umumnya bersifat racun sekalipun
dalam konsentrasi rendah.
1.2.3

Kajian Teoritis Percobaan


Limbah industri yang mengandung logam berat tidak dapat dibuang

langsung ke perairan, karena berbahaya bagi kehidupan makhluk hidup dan


lingkunganya. Salah satu metodeyang digunakan untuk menghilangkan zat
pencemar dari limbah logam berat adalah adsorpsi (Rios et al. 1999 dan Saiful et
al. 2005). Adsorpsi merupakan terjerapnya suatu zat (molekul atau ion) pada
permukaan adsorben. Mekanisme penjerapan tersebut dapat dibedakan menjadi
dua yaitu, jerapan fisika (fisiosorpsi) dan jerapan secara kimia (kemisorpsi).
Adsorpsi adalah suatu proses yang terjadi ketika suatu fluida (cairan maupun gas)
terikat kepada suatu padatan dan akhirnya membentuk suatu film (lapisan tipis)
pada permukaan tersebut. Adsorpsi berbeda dengan absorpsi, dimana pada
absorpsi fluida terserap oleh fluida lainnya dengan membentuk suatu larutan.
Dalam adsorpsi digunakan istilah adsorbat dan adsorben, dimana adsorbat adalah
substansi yang terjerap atau substansi yang akan dipisahkan dari pelarutnya
misalnya logam berat seperti Cu, Cr, Pb, Cd dan lain-lain, sedangkan adsorben
merupakan suatu media penyerap yang dalam hal ini bisa berupa lempung, karbon
aktif, zeolit atau dari limbah biomassa seperti serbuk gergaji atau ampas tebu yang
dihaluskan.
Cara lain yang dikembangkan untuk mengolah limbah cair yang
mengandung logam berat adalah flotasi. Proses flotasi lebih mampu memisahkan
partikel-partikel yang berukuran kecil secara sempurna dan lebih selektif

dibandingkan proses-proses pengolahan limbah lain. Disamping itu flotasi juga


lebih menguntungkan karena pemisahannya lebih cepat dan biaya operasinya
relatif lebih murah. Pada flotasi, separasi dihasilkan oleh gelembung-gelembung
gas (diffuser) yang digunakan. Gas yang ditambahkan ke dalam larutan air limbah
akan mengalami kontak dengan partikel-partikel kandungan air limbah, sehingga
menghasilkan gaya apung yang cukup besar, yang menyebabkan partikel-partikel
tersebut mengapung ke permukaan. Diffuser yang umum digunakan dalam proses
flotasi adalah udara atau oksigen. Udara/oksigen sebagai diffuser atau dapat juga
ozon karena mempunyai kemiripan sifat dengan oksigen dengan beberapa
kelebihan diantaranya : merupakan oksidator yang lebih kuat dan lebih mudah
larut dalam air dibandingkan dengan oksigen, dan juga merupakan bahan bantu
koagulan dan disinfektan.

1.2.4

Tanah Lempung
Tanah liat atau lempung dihasilkan oleh alam, yang bersal dari pelapukan

kerak bumi yang sebagian besar tersusun oleh batuan feldspatik, terdiri dari
batuan granit dan batuan beku. Kerak bumi terdiri dari unsur unsur seperti silikon,
oksigen, dan aluminium. Aktivitas panas bumi membuat pelapukan batuan silika
oleh asam karbonat, kemudian membentuk terjadinya tanah liat. Tanah Liat atau
tanah lempung memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Tanahnya sulit menyerap air sehingga tidak cocok untuk dijadikan
lahan pertanian.
2. Tekstur tanahnya cenderung lengket bila dalam keadaan basah dan
kuat menyatu antara butiran tanah yang satu dengan lainnya.
3. Dalam keadaan kering, butiran tanahnya terpecah-pecah secara halus.
4. Merupakan bahan baku pembuatan tembikar dan kerajinan tangan
lainnya yang dalam pembuatannya harus dibakar dengan suhu di atas
10000C.

Gambar 1.1 Potensi lahan galian tanah liat


1.2.4.1 Jenis-Jenis Tanah Liat
a. Tanah Liat Primer
Yang disebut tanah liat primer (residu) adalah jenis tanah liat yang
dihasilkan dari pelapukan batuan feldspatik oleh tenaga endogen yang tidak
berpindah dari batuan induk (batuan asalnya), karena tanah liat tidak berpindah
tempat sehingga sifatnya lebih murni dibandingkan dengan tanah liat sekunder.
Selain tenaga air, tenaga uap panas yang keluar dari dalam bumi mempunyai andil
dalam pembentukan tanah liat primer. Karena tidak terbawa arus air dan tidak
tercampur dengan bahan organik seperti humus, ranting, atau daun busuk dan
sebagainya, maka tanah liat berwarna putih atau putih kusam. Suhu matang
berkisar antara 13000C14000C, bahkan ada yang mencapai 17500C. Yang
termasuk tanah liat primer antara lain: kaolin, bentonite, feldspatik, kwarsa dan
dolomite, biasanya terdapat di tempat-tempat yang lebih tinggi daripada letak
tanah sekunder. Pada umumnya batuan keras basalt dan andesit akan memberikan
lempung merah sedangkan granit akan memberikan lempung putih. Mineral
kwarsa dan alumina dapat digolongkan sebagai jenis tanah liat primer karena
merupakan hasil samping pelapukan batuan feldspatik yang menghasilkan tanah
liat kaolinit.
Tanah liat primer memiliki ciri-ciri:

warna putih sampai putih kusam


cenderung berbutir kasar,
tidak plastis,
daya lebur tinggi,
daya susut kecil

bersifat tahan api

Dalam keadaan kering, tanah liat primer sangat rapuh sehingga mudah
ditumbuk menjadi tepung. Hal ini disebabkan partikelnya yang terbentuk tidak
simetris dan bersudut-sudut tidak seperti partikel tanah liat sekunder yang berupa
lempengan sejajar. Secara sederhana dapat dijelaskan melalui gambar penampang
irisan partikel kwarsa yang telah dibesarkan beberapa ribu kali. Dalam gambar di
bawah ini tampak kedua partikel dilapisi lapisan air (water film), tetapi karena
bentuknya tidak datar/asimetris, lapisan air tidak saling bersambungan, akibatnya
partikel-partikel tidak saling menggelincir.

Gambar 1.2 Penampang irisan partikel kwarsa


b. Tanah Liat Sekunder
Tanah liat sekunder atau sedimen (endapan) adalah jenis tanah liat hasil
pelapukan batuan feldspatik yang berpindah jauh dari batuan induknya karena
tenaga eksogen yang menyebabkan butiran-butiran tanah liat lepas dan
mengendap pada daerah rendah seperti lembah sungai, tanah rawa, tanah marine,
tanah danau. Dalam perjalanan karena air dan angin, tanah liat bercampur dengan
bahan-bahan organik maupun anorganik sehingga merubah sifat-sifat kimia
maupun fisika tanah liat menjadi partikel-partikel yang menghasilkan tanah liat
sekunder yang lebih halus dan lebih plastis.

Gambar 1.3 Sumber tanah liat sekunder di alam


Jumlah tanah liat sekunder lebih lebih banyak dari tanah liat primer.
Transportasi air mempunyai pengaruh khusus pada tanah liat, salah satunya ialah
gerakan arus air cenderung menggerus mineral tanah liat menjadi partikel-partikel
yang semakin mengecil. Pada saat kecepatan arus melambat, partikel yang lebih
berat akan mengendap dan meninggalkan partikel yang halus dalam larutan. Pada
saat arus tenang, seperti di danau atau di laut, partikel partikel yang halus akan
mengendap di dasarnya. Tanah liat yang dipindahkan bisaanya terbentuk dari
beberapa macam jenis tanah liat dan berasal dari beberapa sumber. Dalam setiap
sungai, endapan tanah liat dari beberapa situs cenderung bercampur bersama.
Kehadiran berbagai oksida logam seperti besi, nikel, titan, mangan dan
sebagainya, dari sudut ilmu keramik dianggap sebagai bahan pengotor. Bahan
organik seperti humus dan daun busuk juga merupakan bahan pengotor tanah liat.
Karena pembentukannya melalui proses panjang dan bercampur dengan
bahan pengotor, maka tanah liat mempunyai sifat: berbutir halus, berwarna
krem/abu-abu/coklat/merah jambu/kuning, suhu matang antara 9000C-14000C.
Pada umumnya tanah liat sekunder lebih plastis dan mempunyai daya susut yang
lebih besar daripada tanah liat primer.
Semakin tinggi suhu bakarnya semakin keras dan semakin kecil
porositasnya, sehingga benda keramik menjadi kedap air. Dibanding dengan tanah
liat primer, tanah liat sekunder mempunyai ciri tidak murni, warna lebih gelap,
berbutir lebih halus dan mempunyai titik lebur yang relatif lebih rendah. Setelah
dibakar tanah liat sekunder biasanya berwarna krem, abu-abu muda sampai coklat
muda ke tua.

Tanah liat sekunder memiliki ciri-ciri:

Kurang murni.
Cenderung berbutir halus.
Plastis.
Warna krem/abu-abu/coklat/merah jambu/kuning, kuning muda,

kuning kecoklatan, kemerahan, kehitaman.


Daya susut tinggi.
Suhu bakar 12000C13000C, ada yang sampai 14000C (fireclay,

stoneware, ballclay).
Suhu bakar rendah 9000C11800C, ada yang sampai 12000C
(earthenware).

Warna tanah tanah alami terjadi karena adanya unsur oksida besi dan unsur
organis, yang biasanya akan berwama bakar kuning kecoklatan, coklat, merah,
wama karat, atau coklat tua, tergantung dan jumlah oksida besi dan kotorankotoran yang terkandung. Biasanya kandungan oksida besi sekitar 2%-5%,
dengan adanya unsur tersebut tanah cenderung berwarna Iebih gelap, biasanya
matang pada suhu yang lebih rendah, kebalikannya adalah tanah berwama lebih
terang atau pun putih akan matang pada suhu yang lebih tinggi.

Gambar 1.4 Tanah liat sekunder


Menurut titik leburnya, tanah liat sekunder dapat dibagi menjadi lima
kelompok besar, yaitu:
1. Tanah Liat Tahan Api (Fireclay).

Kebanyakan tanah liat tahan api berwarna terang (putih) ke abu-abu gelap
menuju ke hitam dan ditemukan di alam dalam bentuk bongkahan padat, beberapa
diantaranya berkadar alumina tinggi dan berkadar alkali rendah. Titik leburnya
mencapai suhu 1500 C. Yang tergolong tanah liat tahan api ialah tanah liat
yang tahan dibakar pada suhu tinggi tanpa mengubah bentuk, misalnya kaolin dan
mineral tahan api seperti alumina dan silika. Bahan ini sering digunakan untuk
bahan campuran pembuatan massa badan siap pakai, untuk produk stoneware
maupun porselin.
Karena beberapa sifatnya yang menguntungkan, antara lain berwarna
putih, mempunyai daya lentur dan sebagainya, maka Kaolin juga dipakai sebagai
bahan pengisi untuk produk kertas dan kosmetik.
2. Tanah Liat Stoneware.
Tanah liat stoneware ialah tanah liat yang dalam pembakaran gerabah
(earthenware) tanpa diserta perubahan bentuk. Titik lebur tanah liat stoneware
bisa mencapai suhu 1400 C. Bisaanya berwarna abu-abu, plastis, mempunyai
sifat tahan api dan ukuran butir tidak terlalu halus. Jumlah deposit di alam tidak
sebanyak deposit kaolin atau mineral tahan api. Tanah liat stoneware dapat
digunakan sebagai bahan utama pembuatan benda keramik alat rumah tangga
tanpa atau

menggunakan campuran bahan lain. Setelah suhu pembakaran

mencapai 1250 C, sifat fisikanya berubah menjadi keras seperti batu, padat,
kedap air dan bila diketuk bersuara nyaring.

Gambar 1.5 Tanah liat stoneware.


3. Ballclay.
Disebut juga sebagai tanah liat sendimen. Ball Clay berbutir halus,
mempunyai tingkat plastisitas sangat tinggi, daya susutnya besar dan bisaanya
berwarna abu-abu. Tanah liat ini mempunyai titik lebur antara 1250 C s/d 1350
C. Karena sangat plastis, ball clay hanya dapat dipakai sebagai bahan campuran
pembuatan massa tanah liat siap pakai.
4. Tanah Liat Earthenware.
Bahan ini sangat banyak terdapat di alam. Tanah liat ini memiliki tingkat
plastisitas yang cukup, sehingga mudah dibentuk, warna bakar merah coklat dan
titik leburnya sekitar 1100 C s/d 1200 C. Tanah liat merah banyak digunakan di
industri genteng dan gerabah kasar dan halus. Warna alaminya tidak merah terang
tetapi merah karat, karena kandungan besinya mencapai 8%. Bila diglasir
warnanya akan lebih kaya, khususnya dengan menggunakan glasir timbal.
5. Tanah Liat Lainnya.
Yang termasuk kelompok ini adalah jenis tanah liat monmorilinit.
Contohnya bentonit yang sangat halus dan rekat sekali. Tanah liat ini hanya
digunakan sebagai bahan campuran massa badan kaolinit dalam jumlah yang
relatif kecil.
1.2.5

Spektroskopi Sinar Tampak (Visible)


Spektroskopi visible disebut juga spektroskopi sinar tampak. Yang

dimaksud sinar tampak adalah sinar yang dapat dilihat oleh mata manusia. Cahaya
yang dapat dilihat oleh mata manusia adalah cahaya dengan panjang gelombang
400-800 nm dan memiliki energi sebesar 299149 kJ/mol.
Elektron pada keadaan normal atau berada pada kulit atom dengan energi
terendah disebut keadaan dasar (ground-state). Energi yang dimiliki sinar tampak

mampu membuat elektron tereksitasi dari keadaan dasar menuju kulit atom yang
memiliki energi lebih tinggi atau menuju keadaan tereksitasi.
Cahaya yang diserap oleh suatu zat berbeda dengan cahaya yang ditangkap
oleh mata manusia. Cahaya yang tampak atau cahaya yang dilihat dalam
kehidupan sehari-hari disebut warna komplementer. Misalnya suatu zat akan
berwarna orange bila menyerap warna biru dari spektrum sinar tampak dan suatu
zat akan berwarna hitam bila menyerap semua warna yang terdapat pada spektrum
sinar tampak. Untuk lebih jelasnya disajikan pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1. Warna yang diserap dan warna yang terlihat oleh mata pada berbagai
panjang gelombang.

Panjang

Warna-warna yang

Warna komplementer

gelombang (nm)

diserap

(warna yang terlihat)

400 435

Ungu

Hijau kekuningan

435 480

Biru

Kuning

480 490

Biru kehijauan

Jingga

490 500

Hijau kebiruan

Merah

500 560

Hijau

Ungu kemerahan

560 580

Hijau kekuningan

Ungu

580 595

Kuning

Biru

595 610

Jingga

Biru kehijauan

610 800

Merah

Hijau kebiruan

Pada

spektrofotometer

sinar

tampak,

sumber

cahaya

biasanya

menggunakan lampu tungsten yang sering disebut lampu wolfram. Wolfram


merupakan salah satu unsur kimia, dalam tabel periodik unsur wolfram termasuk
golongan unsur transisi tepatnya golongan VIB atau golongan 6 dengan simbol W
dan nomor atom 74. Wolfram digunakan sebagai lampu pada spektroskopi tidak
terlepas dari sifatnya yang memiliki titik didih yang sangat tinggi yakni 5930 C.

Gambar 1.6 Spektroskopi sinar tampak


Panjang gelombang yang digunakan untuk melakukan analisis adalah
panjang gelombang dimana suatu zat memberikan penyerapan paling tinggi yang
disebut maks. Hal ini disebabkan jika pengukuran dilakukan pada panjang

gelombang yang sama, maka data yang diperoleh makin akurat atau kesalahan
yang muncul makin kecil.
Berdasarkan hukum Beer absorbansi akan berbanding lurus dengan
konsentrasi, karena b atau l harganya 1 cm dapat diabaikan dan merupakan suatu
tetapan. Artinya konsentrasi makin tinggi maka absorbansi yang dihasilkan makin
tinggi, begitupun sebaliknya konsentrasi makin rendah absorbansi yang dihasilkan
makin rendah.
Hubungan antara absorbansi terhadap konsentrasi akan linear (AC)
apabila nilai absorbansi larutan antara 0,2-0,8 (0,2 A 0,8) atau sering disebut
sebagai daerah berlaku hukum Lambert-Beer. Jika absorbansi yang diperoleh
lebih besar maka hubungan absorbansi tidak linear lagi. Kurva kalibarasi
hubungan antara absorbansi versus konsentrasi dapat dilihat pada Gambar 1.7.

Gambar 1.7 Kurva hubungan absorbansi vs konsentrasi


Faktor-faktor yang menyebabkan absorbansi vs konsentrasi tidak linear:
1. Adanya serapan oleh pelarut. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan
blangko, yaitu larutan yang berisi selain komponen yang akan
dianalisis termasuk zat pembentuk warna.
2. Serapan oleh kuvet. Kuvet yang ada biasanya dari bahan gelas atau
kuarsa, namun kuvet dari kuarsa memiliki kualitas yang lebih baik.
3. Kesalahan fotometrik normal pada pengukuran dengan absorbansi
sangat rendah atau sangat tinggi, hal ini dapat diatur dengan
pengaturan konsentrasi, sesuai dengan kisaran sensitivitas dari alat
yang digunakan (melalui pengenceran atau pemekatan).

Zat yang dapat dianalisis menggunakan spektroskopi sinar tampak adalah


zat dalam bentuk larutan dan zat tersebut harus tampak berwarna, sehingga
analisis yang didasarkan pada pembentukan larutan berwarna disebut juga metode
kolorimetri. Jika tidak berwarna maka larutan tersebut harus dijadikan berwarna
dengan cara memberi reagen tertentu yang spesifik. Dikatakan spesifik karena
hanya bereaksi dengan spesi yang akan dianalisis. Reagen ini disebut reagen
pembentuk warna (chromogenik reagent). Berikut adalah sifat-sifat yang harus
dimiliki oleh reagen pembentuk warna:
1. Kestabilan dalam larutan. Pereaksi-pereaksi yang berubah sifatnya dalam
waktu beberapa jam, dapat menyebabkan timbulnya semacam cendawan
bila disimpan. Oleh sebab itu harus dibuat baru dan kurva kalibarasi yang
baru harus dibuat saat setiap kali analisis.
2. Pembentukan warna yang dianalisis harus cepat.
3. Reaksi dengan komponen yang dianalisa harus berlangsung secara
stoikiometrik.
4. Pereaksi tidak boleh menyerap cahaya dalam spektrum dimana dilakukan
pengukuran.
5. Pereaksi harus selektif dan spesifik (khas) untuk komponen yang dianalisa,
sehingga warna yang terjadi benar-benar merupakan ukuran bagi
komponen tersebut saja.
6. Tidak boleh ada gangguan-gangguan dari komponen-komponen lain dalam
larutan yang dapat mengubah zat pereaksi atau komponen komponen yang
dianalisa menjadi suatu bentuk atau kompleks yang tidak berwarna,
sehingga pembentukan warna yang dikehandaki tidak sempurna.
7. Pereaksi yang dipakai harus dapat menimbulkan hasil reaksi berwarna
yang dikehendaki dengan komponen yang dianalisa, dalam pelarut yang
dipakai.
Setelah ditambahkan reagen atau zat pembentuk warna maka larutan tersebut
harus memiliki lima sifat di bawah ini:
1. Kestabilan warna yang cukup lama guna memungkinkan pengukuran
absorbansi

dengan

teliti.

Ketidakstabilan,

yang

mengakibatkan

menyusutnya warna larutan (fading), disebabkan oleh oksidasi oleh udara,


penguraian secara fotokimia, pengaruh keasaman, suhu dan jenis pelarut.
Namun kadang-kadang dengan mengubah kondisi larutan dapat diperoleh
kestabilan yang lebih baik.
2. Warna larutan yang akan diukur harus mempunyai intensitas yang cukup
tinggi (warna harus cukup tua) yang berarti bahwa absortivitas molarnya
() besar. Hal ini dapat dikontrol dengan mengubah pelarutnya. Dalam hal
ini dengan memilih pereaksi yang memiliki kepekaan yang cukup tinggi.
3. Warna larutan yang diukur sebaiknya bebas daripada pengaruh variasivariasi kecil kecil dalam nilai pH, suhu maupun kondisis-kondisi yang
lain.
4. Hasil reaksi yang berwarna ini harus larut dalam pelarut yang dipakai.
5. Sistem yang berwarna ini harus memenuhi Hukum Lambert-Beer.

Konsentrasi sampel dalam suatu larutan dapat ditentukan dengan rumus


yang diturunkan dari hukum lambert beer (A= a . b . c atau A = . b . c). Namun
ada cara lain yang dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu spesi
yang ada dalam suatu larutan yakni dengan cara kurva kalibarasi. Cara ini
sebenarnya masih tetap bertumpu pada hukum Lambert-Beer yakni absorbansi
berbanding lurus dengan konsentrasi.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam penentuan konsentrasi zat


dengan kurva kalibarasi:
1. Maching kuvet : mencari dua buah kuvet yang memiliki absorbansi atau
transmitansi sama atau hampir sama. Dua buah kuvet inilah yang akan
digunakan untuk analisis, satu untuk blanko, satu untuk sampel. Dalam
melakukan analisis Maching kuvet harus dilakukan agar kesalahannya
makin kecil.

2. Membuat larutan standar pada berbagai konsentrasi. Larutan standar yaitu


larutan yang konsentrasinya telah diketahui secara pasti. Konsentrasi
larutan standar dibuat dari yang lebih kecil sampai lebih besar dari
konsentrasi analit yang diperkirakan.
3. Ambilah salah satu larutan standar, kemudian ukur pada berbagai panjang
gelombang. Hal ini dilakukan untuk mengetahui pada panjang gelombang
berapa, absorbansi yang dihasilkan paling besar. Panjang gelombang yang
menghasilkan absorbansi paling besar atau paling tinggi disebut panjang
gelombang maksimum (lmaks).
4. Ukurlah absorbansi semua larutan standar yang telah dibuat pada panjang
gelombang maksimum.
5. Catat absorbansi yang dihasilkan dari semua larutan standar, kemudian
alurkan pada grafik absorbansi vs konsentrasi sehingga diperoleh suatu
kurva yang disebut kurva kalibarasi. Dari hukum Lambart-Beer jika
absorbansi yang dihasilkan berkisar antara 0,2-0,8 maka grafik akan
berbentuk garis lurus, namun hal ini tidak dapat dipastikan.
Misalkan absorbansi yang dihasilkan dari larutan standar yang telah dibuat adalah:

Absorbansi 0,2

0,3

0,4

0,5

0,6

0,7

0,8

0,9

konsentrasi 2 ppm 4 ppm 6 ppm 8 ppm 10 ppm 12 ppm 14 ppm 16 ppm

Grafiknya adalah:

6. Ukurlah absorbansi larutan yang belum diketahui konsentrasinya. Setelah


diperoleh absorbansinya, masukan nilai tersebut pada grafik yang
diperoleh pada langkah 5. Misalkan absorbansi yang diperoleh 0,6. Maka
jika ditarik garis lurus konsentrasi sampel akan sama dengan konsentrasi
larutan standar 10 ppm. Maka grafiknya sebagai berikut:

Selain dengan cara diatas konsentrasi sampel dapat dihitung dengan persamaan
regresi linear:

persamaan di atas dapat dihitung dengan bantuan kalkulator. Setelah diperoleh


persamaan di atas, absorbansi sampel yang diperoleh dimasukan sebagai nila y
sehingga diperoleh nila x. Nilai x yang diperoleh merupakan konsentrasi sampel
yang dianalisis.
BAB II
METODOLOGI PERCOBAAN

2.1 Alat-alat yang Digunakan


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Kolom adsorpsi
Ayakan plastik
Gelas ukur 100 ml
Labu ukur 100 ml
Timbangan
Cawan porselin
Gelas piala 2 Liter
Corong pisah 1 Liter
Blender

2.2 Bahan-bahan yang Digunakan


a.
b.
c.
d.

Limbah cair sintetik zat warna tekstil


Lempung putih dan kuning
Kapas
Aquadest

2.3 Prosedur Percobaan


a. Persiapan adsorbent lempung
1. Lempung digerus menggunakan lumpang dan blender dan kemudian
disaring dengan ayakan plastik sampai ukurannya seragam.
2. Adsorbent dicuci dengan aquadest berulang kali sampai pH air pencuci
netral
3. Lempung dikeringkan dalam oven pada suhu 110oC sampai kering atau
beratnya konstan.
4. Lempung digerus lagi dengan menggunakan lumpang dan blender dan
kemudian disaring dengan ayakan plastik sampai ukurannya seragam.
5. Adsorbent disimpan dalam wadah plastik.
b. Persiapan sampel limbah cair zat warna tekstil
1. Larutan induk zat warna tekstil dibuat dengan konsentrasi 200 ppm.
2. Larutan zat warna tekstil 20 ppm dibuat dari larutan induknya
sebanyak 2 Liter.
c. Proses adsorpsi limbah cair secara kontiniu
1. Adsorben lempung dimasukkan kedalam kolom yang bagian
bawahnya telah ditutup dengan kapas. Variasi tinggi unggun yaitu 5 cm
dan 10 cm untuk masing-masing jenis lempung.

2. Larutan sampel limbah tekstil dialirkan dari corong pisah (1) dengan
laju alir 5 ml/menit kedalam kolom (2). Keluaran kolom ditampung
setiap 25 ml dalam gelas plastik (4). Penampungan dilakukan sebanyak
15 gelas.
3. Analisa dilakukan dengan menggunakan spektroskopi UV-Vis.
Absorbansi masing-masing sampel dicatat.

Gambar 2.1 Peralatan kolom adsorpsi

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil
Percobaan pengolahan limbah B3 dilakukan dengan memvariasikan tinggi
unggun adsorben lempung setinggi 5 cm dan 10 cm, baik pada lempung putih
maupun lempung kuning. Data hasil percobaan disajikan pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1 Data hasil percobaan pada berbagai variasi tinggi unggun,

Gela
s ke-

Tinggi Unggun
Lempung Putih
5 cm
10 cm
C
C
A
A
(ppm)
(ppm)

0,02

0,386

0,004

0,105

3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

0,002
0,007
0,009
0,009
0,009
0,009
0,006
0,008
-0,01
0,009
0,009

0
-0,09
-0,12
-0,12
-0,12
-0,12
-0,07
-0,11
-0,14
-0,12
-0,12

14

-0,01

-0,14

15

-0,12

0,002
0,004
0,004
0,004
0,005
0,004
0,005
0,004
0,005
0,005
0,005
0,002
0,004
0,001
-

Tinggi Unggun
Lempung Kuning
5 cm
10 cm
C
C
A
A
(ppm)
(ppm)

0,02

0,386

0,026

0,035

-0,035

0,006

0,14

0,006

0,035

-0,035

0,002

0,07

-0,035

0,035

-0,053
-0,035
-0,053
-0,035
-0,053
-0,053
-0,053
0
-0,035
0,018
0,018

0,001
0,005
0,006
0,006
0,004
0,008
0,007
0,007
0,008
0,008
-

0,018
-0,053
-0,07
-0,07
-0,035
-0,105
-0,088
-0,088
-0,105
-0,105
-0,123

0,001
0,002
0,002
0,002
0,002
0,002
0,002
0,001
0,002
0
0,001
0,001
0

0,035
0,035
0,035
0,035
0,035
0,035
0,035
0,035
0,035
0,035
0,035
0,035
0,035

0,009
0,001
Keterangan : A, absorbansi; C, konsentrasi

0,009

3.2 Pembahasan
Tahapan proses percobaan dimulai dengan persiapan adsorben lempung.
Lempung yang digunakan dua mcam, yaitu lempung putih dan lempung kuning.
Lempung yang digunakan masih dalam kondisi basah (memiliki kadar air yang
cukup banyak). Oleh karena itu lempung dikeringkan terlebih dahulu dengan cara
dijemur dibawah sinar matahari. Pengeringan lempung sebenarnya bisa
menggunakan oven, namun karena oven yang tersedia sedang digunakan oleh
praktikan lain, maka pengeringan dilakukan dengan penjemuran dibawah sinar
matahari. Proses penjemuran dimaksudkan agar kadar air yang dikandung
lempung berkurang sehingga mempermudah proses penggerusan. Setelah kering,
masing-masing lempung kemudian di gerus dengan menggunakan blender,
kemudian di ayak dengan menggunakan ayakan plastik. Penggerusan dan
pengayakan ini bertujuan untuk mendapatkan adsorben dengan ukuran yang
seragam. Ukuran adsorben yang seragam tentunya akan menghasilkan porositas
yang baik sehingga penyerapannya diharapkan akan lebih baik pula.
Tahapan selanjutnya yaitu mencuci lempung yang telah diayak dengan
menggunakan aquades. Pencucian dilakukan sampai pH adsorben netral (pH 7).
Pada percobaan yang dilakukan, pH adsorben yang telah dicuci tidak netral,
melainkan mendekati asam, yaitu didapat pH sebesar 5. Hal ini terjadi karena
aquades yang digunakan memiliki pH 5. Pencucian dimaksudkan agar lempung
yang digunakan benar-benar terbebas dari senyawa-senyawa lain yang terkandung
di dalam lempung yang dapat mempengaruhi konsentrasi keluaran kolom
nantinya.
Proses selanjutnya yaitu menjemur kembali lempung yang telah dicuci
dibawah sinar matahari. Penjemuran kali ini juga bertujuan untuk menghilangkan
kadar air yang terkandung di dalam lempung sehingga mempermudah proses
selanjutnya. Disamping itu, penjemuran ini juga bertujuan untuk membuka celah
lempung sehingga dapat menyerap dengan baik. Setelah kering, lempung
kemudian digerus kembali untuk menyeragamkan ukurannya. Lempung kemudian
disimpan didalam wadah plastik bertutup dan siap untuk digunakan.

Sampel limbah B3 yang digunakan yaitu sampel limbah cair zat warna
tekstil. Dalam percobaan ini sampel yang digunakan yaitu larutan belau (larutan
berwarna biru yang digunakan untuk mencuci pakaian). Sampel induk dibuat
dengan konsentrasi 200 ppm dalam 5 liter, kemudian diambil sebanyak 200 ml
dan diencerkan ke dalam 2 Liter aquades (konsentrasi 20 ppm). Sampel ini
digunakan untuk menentukan kurva kalibrasi serta untuk proses adsorpsi limbah
cair secara kontiniu.
Penentuan kurva kalibrasi dilakukan dengan menguji absorbansi sampel
limbah pada berbagai variasi konsentrasi larutan standar (2, 4, 6, 8 dan 10 ppm)
dengan menggunakan spektroskopi sinar tampak (visible). Larutan standar yaitu
larutan yang konsentrasinya telah diketahui secara pasti. Konsentrasi larutan
standar dibuat dari yang lebih kecil sampai lebih besar dari konsentrasi analit yang
diperkirakan. Langkah selanjutnya yaitu mengambil salah satu larutan standar
(biasanya larutan standar dengan konsentrasi menengah), kemudian diukur
absorbansinya pada berbagai panjang gelombang. Hal ini dilakukan untuk
mengetahui pada panjang gelombang berapa absorbansi yang dihasilkan paling
besar. Panjang gelombang yang menghasilkan absorbansi paling besar atau paling
tinggi disebut panjang gelombang maksimum. Panjang gelombang maksimum
yang didapat pada percobaan ini yaitu 670 nm. Panjang gelombang ini sesuai
dengan range panjang gelombang untuk sinar tampak, yaitu 400-800 nm.
Setelah didapat panjang gelombang maksimum, absorbansi semua larutan
standar yang telah dibuat diukur pada panjang gelombang maksimum tersebut.
Absorbansi yang dihasilkan dari semua larutan standar dicatat, kemudian
dialurkan pada grafik absorbansi vs konsentrasi sehingga diperoleh suatu kurva
yang disebut kurva kalibarasi. Dari hukum Lambart-Beer jika absorbansi yang
dihasilkan berkisar antara 0,2-0,8 maka grafik akan berbentuk garis lurus (namun
hal ini tidak dapat dipastikan). Berdasarkan hasil penentuan kurva kalibrasi,
didapat absorbansi masing-masing larutan standar seperti yang disajikan pada
Tabel 3.2.
Tabel 3.2 Abosrbansi pada berbagai konsentrasi larutan standar

Konsentras
i
Absorbansi

0 ppm

2 ppm

4 ppm

6 ppm

8 ppm

10 ppm

0,117

0,249

0,303

0,465

0,591

Berdasarkan Tabel 3.2 dapat dibuat kurva kalibrasi yang merupakan


hubungan antara konsentrasi larutan standar terhadap absorbansi, seperti yang
disajikan pada Gambar 3.1.
0.6
f(x) = 0.06x - 0
R = 0.99

0.5
0.4
Absorbansi

0.3
0.2
0.1
0
0

10

Konsentrasi (ppm)

Gambar 3.1 Kurva hubungan antara konsentrasi larutan standar terhadap


absorbansi
Berdasarkan Gambar 3.1 dapat dilihat bahwa absorbansi berbanding lurus
terhadap konsentrasi, sesuai dengan hukum Lambert-Beer (A= a . b . c atau A = .
b . c). Disamping itu juga dapat dilihat adanya persamaan regresi linier yang
dihasilkan dari kurva yang terbentuk, yaitu y=0,057x 0,002 dengan nilai R 2 =
0,989. Persamaan regresi linear ini digunakan untuk menentukan konsentrasi
sampel keluaran kolom pada berbagai variasi tinggi unggun.
Proses

adsorpsi

limbah

cair

secara

kontiniu

dilakukan

dengan

memasukkan lempung ke dalam kolom adsorpsi yang bagian bawahnya telah


diberi kapas. Pemberian kapas ini bertujuan agar lempung yang dimasukkan tidak

ikut keluar bersamaan dengan keluarnya sampel keluaran kolom. Lempung yang
dimasukkan ke dalam kolom merupakan lempung yang tanpa diaktivasi atau
dipanaskan

terlebih

dahulu.

Tinggi

unggun/lempung

yang

dimasukkan

divariasikan, yaitu 5 cm dan 10 cm. Variasi ini dilakukan untuk mengetahui


pengaruh tinggi unggun terhadap adsorpsi sampel zat warna tekstil. Disamping
variasi unggun, juga dilakukan variasi jenis lempung yang digunakan. Dalam
percobaan ini, jenis lempung yang digunakan yaitu lempung putih dan lempung
kuning. Variasi jenis lempung ini dimaksudkan untuk mengetahui lempung jenis
mana yang memberikan penyerapan yang lebih baik.
Larutan sampel limbah tekstil dimasukkan ke dalam corong pisah dan
diatur laju alirnya sebesar 5 ml/menit. Sampel yang keluar dari corong pisah
langsung masuk ke dalam kolom yang telah berisi unggun untuk dilakukan proses
adsorpsi. Sampel keluaran kolom ditampung ke dalam 15 buah wadah penampung
berupa gelas plastik. Masing-masing wadah penampung berisi sampel keluaran
sebanyak 25 ml. Rangkaian peralatan percobaan dapat dilihat pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1. Rangkaian peralatan percobaan pengolahan limbah B3

Sampel hasil keluaran kolom dianalisa dengan menggunakan spektroskopi sinar


tampak dan kemudian ditentukan konsentrasinya.
3.2.1

Pengaruh Tinggi Unggun terhadap Adsorpsi.


a. Lempung Putih
Pengaruh tinggi unggun pada lempung putih terhadap konsentrasi
sampel keluaran kolom disajikan pada Gambar 3.2.
0.5
0.4
0.3

Konsentrasi (ppm)

0.2

0.1
Tinggi Unggun 5 cm

Tinggi Unggun 10 cm

0
-0.1

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

-0.2

Penampungan ke-

Gambar 3.2 Konsentrasi sampel pada lempung putih dengan variasi tinggi
unggun 5 cm dan 10 cm
Berdasarkan Gambar 3.2 dapat dilihat bahwa semakin tinggi variasi
unggun lempung putih yang digunakan, maka akan semakin cepat proses
penyerapan yang terjadi. Semakin tinggi unggun yang digunakan maka semakin
banyak partikel-partikel adsorben yang berkontakan dengan sampel serta waktu
kontaknya pun semakin lama. Akibatnya penyerapan zat warna tekstil di dalam
sampel akan lebih sempurna.
Gambar 3.2 menunjukkan bahwa konsentrasi sampel keluaran kolom pada
wadah penampungan pertama (Gelas ke-1) untuk variasi tinggi unggun lempung
putih 5 cm lebih tinggi dibandingkan pada variasi tinggi unggun 10 cm.
Disamping itu juga dapat dilihat bahwa pada tinggi unggun 5 cm, konsentrasi

sampel 0 ppm didapat pada wadah penampungan ke-3, sedangkan pada tinggi
unggun 10 cm, konsentrasi sampel 0 ppm telah didapat pada penampungan
pertama. Ini artinya, lempung putih dengan tinggi unggun 10 cm lebih cepat
menyerap zat warna tekstil yang terkandung didalam sampel dibandingkan
lempung putih dengan tinggi unggun 5 cm.
b. Lempung Kuning
Pengaruh tinggi unggun pada lempung kuning terhadap konsentrasi
sampel keluaran kolom disajikan pada Gambar 3.3.
0.5
0.4
0.3

Konsentrasi (ppm)

0.2

0.1
Tinggi Unggun 5 cm

Tinggi Unggun 10 cm

0
-0.1

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

-0.2

Penampungan ke-

Gambar 3.3 Konsentrasi sampel pada lempung kuning dengan variasi tinggi
unggun 5 cm dan 10 cm
Berdasarkan Gambar 3.3 dapat dilihat bahwa semakin tinggi variasi
unggun lempung kuning yang digunakan, maka akan semakin cepat proses
penyerapan yang terjadi. Semakin tinggi unggun yang digunakan maka semakin
banyak partikel-partikel adsorben yang berkontakan dengan sampel serta waktu
kontaknya pun semakin lama. Akibatnya penyerapan zat warna tekstil di dalam
sampel akan lebih sempurna.

Gambar 3.3 menunjukkan bahwa konsentrasi sampel keluaran kolom pada


wadah penampungan pertama (Gelas ke-1) untuk variasi tinggi unggun lempung
kuning 10 cm lebih tinggi dibandingkan pada variasi tinggi unggun 5 cm. Namun
penurunan konsentrasi pada penampungan selanjutnya sangat signifikan pada
tinggi unggun 10 cm dibandingkan pada tinggi unggun 5 cm. Disamping itu juga
dapat dilihat bahwa pada tinggi unggun 5 cm, konsentrasi sampel 0 ppm didapat
pada wadah penampungan ke-6, sedangkan pada tinggi unggun 10 cm,
konsentrasi sampel 0 ppm telah didapat pada penampungan ke-4. Ini artinya,
lempung kuning dengan tinggi unggun 10 cm lebih cepat menyerap zat warna
tekstil yang terkandung didalam sampel dibandingkan lempung kuning dengan
tinggi unggun 5 cm.

3.2.2

Pengaruh Jenis Unggun (Lempung) terhadap Adsorpsi.


a. Tinggi Unggun 5 cm
Pengaruh jenis lempung pada tinggi unggun 5 cm terhadap konsentrasi
sampel keluaran kolom disajikan pada Gambar 3.4.
0.5
0.4
0.3

Konsentrasi (ppm)

0.2

0.1
Lempung Putih

Lempung Kuning

0
-0.1

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

-0.2

Penampungan ke-

Gambar 3.4 Konsentrasi sampel pada variasi jenis lempung dengan tinggi
unggun 5 cm.

Berdasarkan Gambar 3.4 dapat dilihat bahwa untuk tinggi unggun yang
sama, yaitu 5 cm, penyerapan zat warna tekstil yang dikandung sampel lebih cepat
terjadi pada lempung putih dibandingkan pada lempung kuning. Lempung putih
merupakan tanah liat primer sedangkan lempung kuning merupakan tanah liat
sekunder.
Lempung putih adalah jenis tanah liat yang dihasilkan dari pelapukan
batuan feldspatik oleh tenaga endogen yang tidak berpindah dari batuan induk
(batuan asalnya), karena tanah liat tidak berpindah tempat sehingga sifatnya lebih
murni dibandingkan dengan tanah liat sekunder. Selain tenaga air, tenaga uap
panas yang keluar dari dalam bumi mempunyai andil dalam pembentukan tanah
liat primer. Karena tidak terbawa arus air dan tidak tercampur dengan bahan
organik seperti humus, ranting atau daun busuk dan sebagainya, maka tanah liat
berwarna putih atau putih kusam. Sedangkan lempung kuning merupakan jenis
tanah liat hasil pelapukan batuan feldspatik yang berpindah jauh dari batuan
induknya karena tenaga eksogen yang menyebabkan butiran-butiran tanah liat
lepas dan mengendap pada daerah rendah seperti lembah sungai, tanah rawa,
tanah marine maupun tanah danau. Dalam perjalanan karena air dan angin, tanah
liat bercampur dengan bahan-bahan organik maupun anorganik sehingga merubah
sifat-sifat kimia maupun fisika tanah liat menjadi partikel-partikel yang
menghasilkan tanah liat sekunder yang mempunyai ciri tidak murni dan berwarna
lebih gelap (berwarna krem/abu-abu/coklat/merah jambu/kuning) dibandingkan
tanah liat primer/ lempung putih.
Berdasarkan Gambar 3.4 dapat dilihat bahwa untuk lempung putih pada
tinggi unggun 5 cm, konsentrasi sampel 0 ppm didapat pada wadah penampungan
ke-3, sedangkan pada lempung kuning, konsentrasi sampel 0 ppm baru didapat
pada penampungan ke-6. Ini artinya, lempung putih dengan tinggi unggun 5 cm
lebih cepat menyerap zat warna tekstil yang terkandung didalam sampel
dibandingkan lempung kuning dengan tinggi unggun yang sama.

b. Tinggi Unggun 10 cm
Pengaruh jenis lempung pada tinggi unggun 10 cm terhadap konsentrasi
sampel keluaran kolom disajikan pada Gambar 3.5.
0.5
0.4
0.3

Konsentrasi (ppm)

0.2

Lempung Putih
0.1

Lempung Kuning

0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
-0.1

Penampunganke-

Gambar 3.5 Konsentrasi sampel pada variasi jenis lempung dengan tinggi
unggun 10 cm.
Berdasarkan Gambar 3.5 dapat dilihat bahwa untuk tinggi unggun yang
sama, yaitu 10 cm, penyerapan zat warna tekstil yang dikandung sampel lebih
cepat terjadi pada lempung putih dibandingkan pada lempung kuning. Untuk
lempung putih pada tinggi unggun 10 cm, konsentrasi sampel 0 ppm telah didapat
pada wadah penampungan pertama, sedangkan pada lempung kuning, konsentrasi
sampel 0 ppm baru didapat pada penampungan ke-4. Ini artinya, lempung putih
dengan tinggi unggun 10 cm lebih cepat menyerap zat warna tekstil yang
terkandung didalam sampel dibandingkan lempung kuning dengan tinggi unggun
yang sama. Hal ini terjadi karena lempung putih memiliki kemurnian yang lebih
tinggi dibandingkan lempung kuning. Tingginya konsentrasi sampel hasil
penampungan pertama oleh lempung kuning bisa jadi disebabkan karena lempung
masih mengandung bahan-bahan organik maupun anorganik, sehingga terbawa
oleh sampel keluaran kolom dan meningkatkan konsentrasinya.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat pada percobaan pengolahan limbah B3 yang
mengandung zat warna tekstil dengan memvariasikan tinggi unggun/lempung
adalah sebagai berikut:
1.

Semakin tinggi variasi unggun lempung putih maupun lempung kuning


yang digunakan, maka akan semakin cepat proses penyerapan yang terjadi.
Lempung putih dan kuning dengan tinggi unggun masing-masing 10 cm
lebih cepat menyerap zat warna tekstil yang terkandung didalam sampel

2.

dibandingkan tinggi unggun 5 cm.


Untuk tinggi unggun yang sama, baik 5 cm maupun 10 cm, penyerapan
zat warna tekstil yang dikandung sampel lebih cepat terjadi pada lempung
putih dibandingkan pada lempung kuning.

4.2. Saran
1. Larutan standar harus dibuat seteliti mungkin. Kesalahan dalam
pembuatan larutan standar akan menyebabkan terjadinya kegagalan dalam
penentuan kurva kalibrasi.
2. Sampel keluaran kolom harus dijaga baik-baik agar pada saat
penampungan tidak terjadi over capasity atau melebihi batas yang telah
ditentukan (25 ml untuk masing-masing wadah).
3. Sampel keluaran kolom harus ditutup dengan menggunakan tisu atau
penutup lainnya agar terhindar dari kotoran maupun debu.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Mengenal Tanah Liat atau Lempung. [online] Tersedia:
http://www.ruangkumemajangkarya.wordpress.com [Diakses pada 9 Januari
2014]
Seran, Emel. 2011. Spektrofotometri Sinar Tampak (Visible). [online] Tersedia:
http://www.wanibesak.wordpress.com [Diakses pada 9 Januari 2014]
Tim Penyusun. 2013. Penuntun Praktikum Pengolahan Limbah. Pekanbaru :
Program Studi D-III Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau.

LAMPIRAN A
PERHITUNGAN

Berikut merupakan perhitungan pembuatan larutan sampel zat warna


tekstil 20 ppm dalam 2 liter:
V 1=

V 2. N2
N1

2000 ml . 20 ppm
200 ppm
= 200 ml

Sampel larutan induk 200 ppm diambil sebanyak 200 ml, kemudian diencerkan
dengan penambahan aquades hingga volume larutan 2 liter.
Berikut merupakan contoh perhitungan dalam pembuatan larutan standar 2
ppm dalam 100 ml dari larutan sampel 20 ppm:
V 2=

V 1. N1
N2

100 ml . 2 ppm
20 ppm
= 10 ml

Sampel larutan 20 ppm diambil sebanyak 10 ml, kemudian diencerkan dengan


aquades didalam labu takar 100 ml hingga tanda batas. Pembuatan larutan standar
dengan variasi konsentrasi lainnya (4, 6, 8,dan 10 ppm) menggunakan
perhitungan yang sama.

LAMPIRAN B
LAPORAN SEMENTARA

Judul Praktikum

: Pengolahan Limbah B3

Hari/Tanggal Praktikum

: Senin/16 Desember 2013

Pembimbing

: Dra. Yelmida, M.Si

Asisten Laboratorium

: M. Asyraf. H

Nama Kelompok III

: Rita Puriani Mendrova (1107035609)


Ryan Tito (1107021186)
Yakub Jeffery Silaen (1107036648)

Hasil Percobaan

:
Tabel B.1 Absorbansi larutan standar

Konsentras
i
Absorbansi

0 ppm

2 ppm

4 ppm

6 ppm

8 ppm

10 ppm

0,117

0,249

0,303

0,465

0,591

Panjang gelombang maksimum : 670 nm

Tabel B.2 Absorbansi sampel keluaran kolom pada lempung putih


Tinggi Unggun
(cm)
5

Penampungan
ke1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Absorbansi
0,02
0,004
-0,002
-0,007
-0,009
-0,009
-0,009
-0,009
-0,006
-0,008
-0,01
-0,009
-0,009
-0,01

10

15
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

-0,009
-0,002
-0,004
-0,004
-0,004
-0,005
-0,004
-0,005
-0,004
-0,005
-0,005
-0,005
-0,002
-0,004
-0,001
-0,001

Tabel B.3 Absorbansi sampel keluaran kolom pada lempung kuning


Tinggi Unggun
(cm)

10

Penampungan ke-

Absorbansi

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
1
2
3
4
5
6
7
8

0,02
0,006
0,002
0
-0,001
-0,005
-0,006
-0,006
-0,004
-0,008
-0,007
-0,007
-0,008
-0,008
-0,009
0,026
0,006
-0,001
-0,002
-0,002
-0,002
-0,002
-0,002

9
10
11
12
13
14
15

-0,002
-0,001
-0,002
0
-0,001
-0,001
0
Pekanbaru, 10 Januari 2014
Asisten Laboratorium,

M. Asyraf. H

LAMPIRAN C
DOKUMENTASI

Gambar C.1 Proses pengeringan

Gambar C.2 Proses penggerusan

lempung

lempung dengan blender

Gambar C.3 Proses pengayakan

Gambar C.4 Proses pencucian

lempung

lempung

Gambar C.5 Proses penjemuran

Gambar C.6 Larutan standar berbagai

lempung yang telah netral.

konsentrasi.

Gambar C.7 Analisa dengan

Gambar C.8 Analisa dengan

menggunakan Spektroskopi Visible

menggunakan Spektroskopi Visible

Gambar C.9 Larutan sampel zat warna

Gambar C.10 Larutan sampel

tekstil 20 ppm.

keluaran kolom.

Sumber gambar : Arsip Pribadi.