Anda di halaman 1dari 53

MAKALAH PENANGANAN LIMBAH GAS

Disusun Oleh :

Ridho Dwi Syahrial


Nim : 4201417022
Juanda
Nim : 4201417023
Dicky Abrianta
Nim : 4201417024
Danu Sepriadi
Nim : 4201417025
M.Habib Khairuman
Nim : 4201417027
Uray Vicky Ramadhan
Nim : 4201417029

POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

2017
KATA PENGANTAR

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, shalawat serta
salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW beserta keluarga dan
sahabatnya. Berkat kudrat dan iradat-Nya akhirnya kami dapat menyelesaikan
makalah Penjelasan dan Cara Menangani Limbah Gas.
Dalam kesempatan ini kami menyampaikan rasa terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberikan
bantuan, dorongan, bimbingan dan arahan kepada penyusun.
Dalam makalah ini kami menyadari masih jauh dari kesempurnaan, untuk
itu segala saran dan kritik guna perbaikan dan kesempurnaan sangat kami
nantikan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penyusun dan
para pembaca pada umumnya.

Penyusun

Kelompok 3

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................................... i

DAFTAR ISI..................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang .................................................................................................. 1

1.2. Rumusan Masalah ............................................................................................ 1

1.3. Tujuan Penulisan .............................................................................................. 1

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................ 2

2.1. Gas Asap Pembakaran Batu Bara................................................................... 2

2.2. Pencemaran Udara Akibat Limbah Padat ..................................................... 6

2.3. Limbah Kimia Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Dalam Pencemaran Udara 25

2.4. Pengolahan Limbah Gas ............................................................................... 38

2.5. Penanganan Limbah Gas .............................................................................. 45

BAB III PENUTUP ....................................................................................................... 49

3.1. Kesimpulan ..................................................................................................... 49

3.2. Saran................................................................................................................. 49

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... 50

ii
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Seperti kita ketahui, Limbah sudah merajalela dimana-mana. Seperti yang kita
Alami di Kutai Barat ini, ada-ada saja orang yang membuang limbah
disembarangan tempat seperti dipinggir jalan raya. Jadi, Latar Belakang saya
menulis Karya Ilmiah ini adalah supaya masyarakat sadar untuk mengontrol
limbah supaya lingkungan kita tetap bersih dan sehat.

1.2. Rumusan Masalah

Gas Asap Pembakaran Batu Bara

Pencemaran Udara Akibat Limbah Padat

Limbah Kimia Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Dalam Pencemaran


Udara

Pengolahan Limbah Gas

Beberapa Cara Menangani Limbah Gas

1.3. Tujuan Penulisan


Penjelasan Penanganan Limbah Gas dipilih karena saya ingin mengingatkan orang
orang agar tidak membuang Limbah dan saya juga akan menjelaskan tentang
cara untuk Penanganan Limbah.
2

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Gas Asap Pembakaran Batu Bara


Batu bara belum banyak diteliti, dikembangkan, dan dimanfaatkan
sepenuhnya sebagai sumber energi oleh masyarakat umum. Batu bara juga belum
dimanfaatkan untuk bahan baku industri kimia lainnya seperti pembuatan
benzena, toluena, xylena (BTX) dan campuran BTX ini mempunyai angka oktan
sangat tinggi dan sebagai sumber energi bensin masa depan. Batu bara terdiri atas
gambut, batu bara keras (antasit) untuk energi rumah tangga, dan batu bara
bitumen untuk kokas, ter dan gas serta kokas untuk tanur baja. Cadangan batu
bara diindonesia berturut turut terdapat di Sumatera ditaksir sekitar 27,7 miliar ton
dan 11,5 miliar ton di Kalimantan dan sisanya di Sulawesi dan Irian Jaya.

2.1.1 Manfaat Batu Bara

Manfaat batu bara diindonesia digunakan sebagai energi pada Pusat


Listrik Tenaga Uap, bahan bakar bakar pembuatan klinker semen,
bahan bakar pada industri besi dan baja. Bahan bakar pada ketel uap,
bahan bakar patrabat (campuran minyak dan batu bara).

2.1.2 Proses dan Limbah Batu Bara

Jika batu bara dilakukan piroliss dan distilasi, maka diperoleh bahan
bakar padat, cair, dan gas. Pirolisis digunakan untuk mengambil
produk cairan dan gas.

2.1.3 Arang Kayu (Charcoal) dan Kokas (Coke)

Arang kayu (Charcoal) dibuat dari hasil pembakaran kayu pada suhu
tinggi tanpa adanya udara. Kokas (Coke) dibuat dari batu bara
bituminious pada suhu tinggi tanpa udara menjadi kokas (Coke).
3

Gas produser (producer gas) dibuat dengan cara mengalirkan


campuran udara, uap melalui batu bara pada tungku pembakaran.
Reaksi kimia yang terjadi adalah :

C + O2 CO2 (Eksotermik)

C + CO2 2CO (Endotermik)

C + H2O CO + H2 (Endotermik)

Uap

Gas CO dihasilkan pula dari pembakaran bensin pada kendaraan


bermotor dan gas CO dihasilkan pula dari tungku pembakaran, jika
jumlah oksigen tidak mencukupi untuk pembakaran.

2.1.4 Bahan Berbahaya dan Beracun CO Terhadap Pencemaran Udara

Gas CO sangat beracun jika gas CO dihirup oleh manusia. Gas CO


tidak berbau, tidak berwarna, tanpa ada peringatan (Warning). Jika gas
CO ada dalam darah manusia, maka terjadi penghalangan aliran
oksigen di dalam tubuh manusia.

Satu (1) bagian dari gas CO dalam 800 bagian udara akan
menyebabkan kematian seseorang dalam waktu 30 menit. Mobil yang
dijalankan mesinnya dalam garasi tertutup selama 5 -10 menit maka
seorang akan pingsan.

2.1.5 Hasil Distilasi Batu Bara

Dari distilasi fraksional batu bara diperoleh produk yang terdiri atas :

Minyak Ringan (light oil) yang merupakan fraksi cair terdiri


atas benzena, toluena, xilene, dan naftalene.

Minyak menengah (middle olis) yang terdiri dari atas nafta,


fenol, serta kresol dan
4

Minyak berat (heavy oils)

Anthracene oil.

2.1.6 Batu Bara untuk Pusat Listrik Tenaga Uap dan Limbah Padat

Sifat Limbah Abu Terbang dan Abu Bawah

Peratutan Pemerintah Nomor 19/1994 secara rinci mengatur


bahan kimia mana yang termasuk jenis limbah kimia bahan
berbahaya dan beracun (B3) dan jenis bahan kimia mana yang
tidak termasuk limbah bahan berbahaya dan beracun. Oleh
karena itu diperlukan identifikasi limbah abu terbang (fly ash)
dan limbah bawah pembakaran batu bara kemudian
mencocokan hasil identifikasi limbah atau abu terbang dan abu
bawah (botton ash) dengan daftar limbah bahan berbahaya dan
beracun pada lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 94/1994
dan jika hasil identifikasi limbah abu terbang dan abu bawah
sesuai dengan daftar limbah bahan dalam berbahaya dan
beracun dari sumber spesifik. Maka abu terbang dan abu bawah
termasuk jenis limbah kimia bahan berbahaya dan beracun (B-
3).

2.1.7 Abu Terbang Sebagai Bahan Baku Industri

Ekstraksi Abu Terbang dengan NaOH

Jika abu terbang diekstraksi dengan 2 molar NaOH dalam alat


ektraktor dengan suhu 90oC selama 6 jam, maka diperoleh hasil
ekstraksi berturut turut kadar CaO sebesar 1,12% berat, SiO2
sebesar 61,34%, Fe2O3 sebesar 1,78% berat dan Al2O3 sebesar
32,43% berat kadar SiO2 dalam abu terbang sebelum
diekstraksi sebesar 58,31% berat menjadi 61,34% berat sesudah
ekstraksi.
5

Di Amerika Serikat (USA) pada tahun 1993, dicatat limbah abu


terbang sebesar 43,4 juta metrik ton abu terbang dihasilkan
oleh Pusat Listrik Tenanga Uap. Dari jumlah 43,4 juta metrik
ton abu terbang ini, sebesar 9,5 juta metrik ton sudah
dimanfaatkan, sedangkan sisanya masih belum dimanfaatkan
sepenuhnya.

Abu terbang juga dihasilkan dari berbagai negara seperti


Indonesia, Australia, Taiwan, China, Hong Kong, India,
Jepang, Korea Selatan, Malaysia, dan Thailand dengan jumlah
abu terbang sebesar sekitar 121 juta metrik ton dan 42% yang
sudah dimanfaatkan, sedangkan sisanya belum dimanfaatkan
untuk beban baku atau produk lainnya. Batu bara diprediksi
sampai tahun 2010 menduduki peringkat kedua sebagai sumber
energi dunia sesudah minyak bumi dan gas alam.

Kendala Penggunaan Abu Terbang

Kendala penggunaan abu terbang disebabkan komposisi kimia


dan sifat fisika abu terbang sangat bervariasi dan tergangung
jenis batu baranya, jenis ketel uap (steam boiler), dan
ketinggian cerobong asap. Kendala lain adalah abu terbang
banyak mengandung kontaiman belerang dan karbon sehingga
sangat jelek untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan
semen dan batako, namun batu bara dengan kandungan
belerang rendah dapat digunakan sebagai bahan baku batako
dan semen murah.

Karbon Tak Terbakar

Semakin tinggi karbon dalam abu terbang yang tak terbakar


semakin besar kendala abu terbang untuk pembuatan semen.
Karbon tak terbakar dalam abu terbang sekitar 3% berat.
6

Karbon tak terbakar dalam abu terbang dapat dimurnikan


sehingga diperoleh produk karbon sebagai bahan baku
pembuatan karbon aktif, industri grafit dan bahan bakar ketel
uap. Metode pemisahan karbon tak terbakar dalam abu terbang
dapat dilakukan dengan metode berturut-turut sebagai berikut :

Pemisahan dengan udara (air clssification) dan

Pemisahan dengan elektrostatik

Pemisahan karbon tak terbakar dalam abu terbang dilakukan


dengan elektroda positif dan elektroda negatif dimana abu
terbang diumpamakan melewati elektroda positif dan elektroda
negatif. Pada elektroda positif dapat menampung abu bersih
dan pada elektroda negatif dapat menampung karbon kadar
tinggi.

2.2. Pencemaran Udara Akibat Limbah Padat


Masalah limbah padat berkaitan dengan kemampuan sumber daya mannusia
cendekia dan profesional untuk mengelola limbah padat menjadi produk baru
yang tidak berbahaya. Limbah padat yang di proses dengan cara fermentasi dan
proses kimia menimbulkan bau tak sedap, dioksin, toksin dan gas CO, gas CO 2,
debu asbes, debu logam di udara.Limbah padat mengandung mikroba patogen
seperti: Poliovirus, Hepatitis A, Hepatitis B, Diarrhoe, Typhoid fever, dan
Cholera.

Dewasa ini limbah padat berkaitan erat dengan keselamatan (safety),


kesehatan (hralth), dan perlindungan lingkungan (enviromental protection) yang
merupakan isu nasional. Isu lain adalah tentang tiadanya tempat pembuangan
akhir sampah di kota kota besar dengan dampak timbulnya bau tak sedap di udara
dan tercemarnya air permukaan tanah yang mengganggu kesehatan masyarakat.
Limbah padat sangat mempengaruhi ekologi permukaan tanah, udara, dan lahan
pertanian. Tiadanya kebijakan dan penerapan sistem pembuangan dan pelayanan
7

limbah padat menyebabkan berbagai dampak negatif terhadap kesehatan manusia


dan pencemaran jangka panjang terhadap air permukaan tanah, udara dan infeksi
parasitik dan bakteri. Limbah padat merupakan substrat dan media bagi
pertumbuhan berbagai penyakit manusia yang berasal dari lalat, tikus, dan bibit
penyakit lainya.

Pada pertambangan logam seperti tembaga, besi, nikel, timah maupun


mineral non logam seperti pasir kuarsa, tanah liat, zeolit, bentonit, iodium, kapur,
garam dapur menghasilkan limbah yang mengalir melalui lahan kemudian masuk
ke air permukaan tanah sehingga air permukaan tanah menjadi tercemar.

Semakin maju perkembangan dan pemanfaatan teknologi untuk mengolah


sumber daya alam menjadi produk baru maka semakin besar jumlah dan jenis
limbah padat, cair, gas yang dihasilkan. Hal ini ditambah dengan jumlah
pemukiman penduduk yang semakin padat sehingga resiko terhadap gangguan
kesehatan semakin tinggi karena tiadanya pengendalian dan pemrosesan limbah
padat secara tepat guna.

Pemanfaatan teknologi produksi mendatangkan keuntungan bagi umat


manusia namun masalh berikutnya adalah adanya limbah yang dihasilkan tetap
merupakan masalah yang harus segera di pecahkan. Salah satu pendekatan ialah
dengan teknologi hijau (green technology) dalam arti limbah padat yang
dihasilkan sejak saat keluar dar setiap unit produksi harus di kurangi atau diganti
dengan bahan baku senyawa kimia non-B.

2.2.1 Kelebihan Udara Insinerator Tungku Putar

Kelebihan udara dalam pembakaran udara primer melalui


limbah cair dalam tungku putar dan keluar tengku putar.
Total kelebihan umpan udara masuk ke tengku putar,
Persen kelebihan udara dijaga sesudah keluar tengku putar,
Udara terdiri atas 21% oksigen dan 79% gas nitrogen, gas
nitrogen merupakan gas inert, dan
8

Kelebihan udara dinyatakan dengan rumus:

Kelebihan udara =
9

2.2.2 Keuntungan Alat Insinerator Tungku Putar

Mampu membakar semua limbah cair dan limbah padat,

Mampu menerima limbah cair dan limbah padat atau campuran


nya,

Fleksibel dalam rancangan umpan limbah,

Memberikan turbulensi tinggi,

Pengeluaran abu secara kontinu,

Semua jenis limbah cair atau limbah padat dapat diumpankan


ke dalam tungku putar tanpa persiapan terlebih dahulu, dan

Tegnologi tungku putar sudah diuji keandalannya.


10

2.2.3 Kerugian Insinerator Tungku Putar

Biaya instalasi sangat mahal khususnya untuk laju bahan bakar


rendah,

Operasi pemeliharaan sangat diperlukan untuk mencegah


kerusakan bata tahan api dari limbah padat yang besar-besar,

Diperluakan kelebihan udara sangat besar pada awal operasi


tungku putar, dan

Efisiensi termal rendah.


11

2.2.4 Kondisi Stoikiometri

Pada Pada waktu merancang alat insinerator maka pertimbangan sifat-


sifat kimia dan thermodinamika unsur-unsur kimia limbah sangat
diperlukan misal komposisi, nilai panas, mudah tidaknya limbah
meledak, persen karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, halogen,
fosfor, kadar air untuk memperbaiki laju alir gas pembakaran. Reaksi
kimia ditunjukan sebagai berikut :

C + O2 CO2

2H2 + O2 2H2O

CH4 + 2O2 CO2 + 2H2O

Dari persamaan reaksi tersebut di atas dapat diketahui jumlah oksigen


yang diperlukan secara teoretis dan hasil produk pembkaran untuk
masing-masing reaksi. Jika fraksi berat masing-masing unsur dalam
limbah sudah ditemukan maka stoikhiometrik jumlah oksigen dapat
ditetapkan dan hasil produk pembakaran dapat dihitung.
12

Panas yang hilang melalui dinding refraktori ialah :

Q = H

Dengan nilai Q adalah panas yang hilang melalui dinding refraktori


dalam BTU/lb limbah dan II adalah perubahan entalpi secara
keseluruhan dalam ruang pembakaran, Btu/lb limbah.

Keterangan :

1. Limbah dan udara pada suhu injeksi,


2. Limbah dan udara pada suhu 25oC
3. Produk pembakaran, limbah tak bereaksi dan kelebihan udara,
suhu 25oC
13

4. Produk pembakaran, limbah tak bereaksi dan kelebihan udara


pada suhu pembakaran

2.2.5 Keuntungan dan Kerugian Pirolisis

Pirolisis adalah proses dekomposisi termal senyawa tanpa adanya


oksigen dalam ruangan pirolisis converter.

Keuntungan Pirolisis

- Mereduksi volume lumpur tanpa tambahan energi,


- Efisiensi termal sangat tinggi jika dibandingkan dengan
insinerator biasa karena sedikit udara yang digunakan,
- Mencegah terjadinya gas asam di udara,
- Mereduksi emisi gas,
- Mengonversi senyawa karbon menjadi gas mudah
dibakar, dan

- Mencegah terjadinya gas asam di udara

Kerugian Pirolisis

- Sangat terbatas untuk limbah tanpa senyawa bahan


berbahaya dan beracun seperti khlor dan logam berat,
serta

- Tidak dapat digunakan limbah lumpur.


14

2.2.6 Landfil System

Sistem ini yaitu dengan menyiapkan lahan yang di lapisi oleh beberapa
lapisan media, kemudian menebar limbah padat pada lapisan di atas
lahan. Pada sitem ini, limbah padat senyawa organik di konversi
menjadi gas metana dan pupuk kompos.

Tujuan landfill system ialah untuk mencegah tercemarnya air


permukaan tanah oleh limbah padat dimana limbah padat di letakan
diatas lahan dan di bawah limbah padat terdiri atas beberapa lapisan
media padat antara lain granular, geotekstil, plastik, tanahh liat, dan
batuan lain-lain.

Gas dari landfill didapatkan dari hasil degradasi anaerobik limbah


padat senyawa organik dengan komposisi gas sebesar 60% gas metana
dan 40% gas karbondioksida dan gas metana mudah terbakar dan
meledak. Oleh sebab itu pengendalian proses anaerobik limbah padat
dilakukan secara kontinyu. Metabolisme landfill terdiri atas beberapa
tahap proses yaitu:
15

Tahap fase aerobik awal berlangsung beberapa hari sehingga


O2 mampu mendefusi ke dalam limbah dan mengkonversi
senyawa non-lignin.

Tahap transisi yaitu terjadi konversi asam asam organik oleh


bakteri metan menjadi asam organik sederhana seperti asam
asetat, asam formiat, dan metanol yang kemudian dikonversi
menjadi gas metan.

Fase pembentukan metana yaitu asam asam organik di konversi


oleh bakterii metan menjadi gas bio dan hasil samping.

Reaksi proses anaerobik yaitu :

Bakteri metan

CHONS + H2O H2O + CO2 + CH4 + H2 + NH4 + H2S

Rasio antara gas metan dengan gas CO2 yaitu 45% dibanding 60%.
Mula-mula sistem landfill dilakukan terhadap limbah padat non B3
jika di perlakukan lain sudah tidak dapat di lakukan untuk mengolah
limbah padat non B3 menjadi produk baru.

Sarana landfill digunakan untuk mengolah limbah padat dan limbah


padat dari rumah tangga sehingga teknologi yang digunakan tidak
canggih dan modern . sarana landfill limbah padat membutuhkan
pemeliharaan secara kontinyu , pemantauan, dan perhatian dari pihak
pemilik dan manejer karena resiko kebocoran air maupun gas.

Tahap tahap manajemen landfill limbah padat senyawa organik perlu


dilakukan melalui tahap tahapsebagai berikut :

Desain landfill
16

o Rancangan fondasi landfill yang cukup kuat

o Rancangan pelapis yang tepat

o Pengumpulan air dan gas yang terjadi

o Rancangan saluran air yang tepat

o Rancangan pengisian limbah padat organik

o Konstruksi landfill dan

o Operasi proses landfill

Operasi landfill

o Menginventariskan limbah padat baik jenis,


konsentrasi, maupun jumlahnya

o Merancang tata letak alat dan mesin landfill

o Merancang tata letak limbah kimia wujud padat non B3


dan

o Menyusun jenis lapisan, penyaring, granullar,


geotekstil, plastik high density polyethylene, tanah liat,
dan granula pasir.
17

Reaksi bio kimia pada landfill

o Laju reaksi

o Biodegradasi lambat

o Biodegradasi cepat dan

o Non biodegradasi

Manajemen kebocoran air

o Pengumpulan letak kebocoran

o Perlakuan limbah padat

o Monitoring limbah padat dan


18

o Pengurangan kembali limbah padat

Manajemen gas landfill

o Pemantauan limbah padat

o Pengumpulan limbah padat dan

o Flaring yaitu gas dibakar agar


lingkungan tetap bersih

Monitoring lingkungan

o Kualitas udara dan bau tak sedap

o Monitoring gas CH4, H2S, senyawa


organik mudah menguap

o Monitoring air permukaan tanah dan

o Monitoring limbah padat

2.2.7 Jenis zat yang mudah terbakar

Reaksi esoterm melibatkan bermacam macam bahan bakar gas,cairan,


dan padat diuapkan dahulu sebelum dibakar. Gas dan uap dicampur
dengan oksigen atau udara untuk membentuk nyala api. Bahan bakar di
oksidasi sambil melepaskan panas. Jika proses pembakaran
menghasilkan kenaikan tekanan, maka akan terjadi peledakan.

Bahaya kebakaran dapat dibahas sebagai berikut :

Amat berbahaya artinya gas atau cairan yang mudah terbakar

Peringatan artinya cairan dengan titik nyala kurang dari 100oC


19

Kehati hatian artinya bahan caiaran mudah dibakar dengan titik


nyala 100oC-200oC

Bahan mudah terbakar jika dibakar

Bahan tidak mudah terbakar.

2.2.8 Panas pembakaran dan perpindahan panas

Bahan bakar fosil gas alam yang terdiri atas metana dan etana
mempunyai panas pembakaran tinggi jika dibandingkan dengan bahan
bakar batubara. Perpindahan panas terjadi tiga mekanisme perpindahan
panas yaitu :

Konduksi

Konveksi

Radiasi

2.2.9 Pembakaran karbon dari batu bara

Jika karbon dari batu bara di bakar dengan sejumlah udara maka akan
terjadi dua kemungkinan, yaitu reaksi pembakaran sempurna dan
reaksi pembakaran tak sempurna sehingga terbentuk senyawa gas CO.

2C + 02 2C0

Pada reaksi ini terjadi pembakaran tak sempurna dimana gas CO


merupakan bahan berbahaya dan beracun. Gas CO merupakan gas tak
berbau, tidak iritan dan tidak berwarna dan amat beracun jika
seseorang menghirup gas CO diatas 2000 mg/L, ia akan kehilangan
kesadaran dan meninggal. Gas CO sangat mudah terbakar.

Jika reaksi pembakaran karbon pada bahan bakar padat batu bara
dengan oksigen berlebihan, maka akan terjadi reaksi pembakaran
sempurna menurut reaksi sebagai berikut :
20

2C + 2O2 2CO2

2.2.10 Pembakaran senyawa hidrokarbon

Pada pembakaran gas alam yang terdiri atas CH4, C2H6, C3H8 dengan
oksigen dari udara secara berlebihan , maka akan terjadireaksi menurut
persamaan reaksi sebagai berikut :

CH4 + 2O2 CO2 + 2H2O

2C2H6 + 7O2 4CO2 + 6H2O

C3H8 + 5O2 3CO2 + 4H2O

Bahan bakar harus berada pada konsentrasi terendah untuk


pembakaran. Oksigen harus ada diatas keperluan minimal. Titik bakar
harus berada di atas suhu minimum.

Suhu nyala bahan bakar padat di pengaruhi oleh ukuran bahan bakar
padat, laju alir udara dan kecepatan pemanasan. Kombinasi ketiga
komponen bahan bakar, oksigen dan sumber nyala harus ada untuk
dimulainya kebakaran.

2.2.11 Kebakaran Tetrahedron

Kebakaran tetrahedron terjadi karena ada interaksi antara komponen


komponen sebagai berikut [wentz, C,A,,1999].

Bahan bakar padat, gas, dan cairan

Adannya oksigen dalam udara

Adanya sumber panas, dan

Terjadinya reaksi rantai


21

Pada proses pembakaran terjadi pelepasan panas melalui oksidasi


bahan bakar oleh oksigen dalam udara. Reaksi rantai merupakan
radikal bebas yang sangat penting untuk di mulainya reaksi
pembakaran. Pembentukan radikal bebas akan menentukan kecepatan
nyala. Jika radikal bebas di pindahkan dari reaksi rantai, maka
kebakaran akan mudah terjadi.

Pada kebakaran tetrahedron terdapat empat komponen dan reaksi


rantai digunakan untuk mencegah dan mengendalikan terjadinya
kebakaran. Hubungan antara suhu-tekanan-volume merupakan gas
ideal. Yaitu :

PV = nRT

Dengan

V= volume untuk n mol gas L

P= tekanan atm

T= suhu absolut oK (kelvin) atau oR (renkine)

R= konstanta gas = 0,082 L.atm/g.moloK


22

Kebakaran dan peledakan bahan kimia, debu merupakan kejadian


yang sangat berbahaya dalam dunia industri karena hilangnya sarana
produk, kematian karyawan, dan kerugian uang kaitanya dengan
kecelakaan ini. Kehilangan sarana produksi pada giliranya akan
menyebabkan loss prevention khususnya dengan pihak asuransi.

Reaksi
rantai

oksigen Bahan
bakar

Sumber
panas

Gambar 2.2.11 Kebakaran Tetrahedron [Wentz, C.A 1999]

Bahan bakar terdiri atas senyawa hidrokarbon baik berwujud cair, atau
gas misalkan yang terdiri atas unsur karbon dan hidrogen serta jumlah
atom karbon dalam senyawa hidrokarbon menentukan karakteristik
pembakaran. Gas metana sangat mudah terbakar jika di bandingkan
dengan khlorometana.
23

Tabel 2.2.11 pengaruh subtitusi khlorin dalam gas metana terhadap


tingkat nyala

No Senyawa kimia Tingkat nyala

1 Gas metana CH4 Amat sangat mudah menyala

2 Khloro metana CH3Cl Mudah menyala

3 Dikhlorometana CH2Cl2 Sulit menyala

4 Khloroform CCl4 Pemadam kebakaran

Zat padat yang mudah terbakar adalah zat padat yang dapat
menyebabkan kebakaran melalui :

Friksi

Absorpsi campuran

Perubahan spontan reaksi kimia

Loss prevention dalam proses perencanaan dapat di rangkum


sebagai berikut :

Identifikasi dan pengkajian daerah berbahaya

Pengendalian daerah berbahaya dengan alat dan metode tepat


guna misalnya;

o Perbaikan pemeliharaan dan subtansi

o Memotivasi karyawan untuk mengenal daerah


berbahaya dan pemberian saran

o Memonitor daerah kerja


24

o Mengembangkan prosedur kerja yang aman

o Melatih dan mendidik karyawan

o Memodifikasi prosedur kerja

o Perencanaan pencegahan dan

o Memonitor peraturan situasi

Pengendlian proses misalnya pencegahan kondisi daerah


berbahaya dalam operasi variabel proses dengan
pengendalian otomatis dan alarm

Manajemen pengendalian melalui manajemen sumber daya


manusia, memonitor, mereduksi sumber daerah berbahaya,
mengikuti pertemuan keselamatan, mengawasi kinerja
karyawan, merangkum semua kinerja pada semua tingkat,
terbuka dan obyektif, dan

Pembatasan kehilangan jika terjadi kecelakaan

Idenifikasi dapat dilakukan secara sistematik untuk mengetahui daerah


dan alat berbahaya misalnya perpipaan, alat, instrumen dan lain lain
selalu di uji dan di kembalikan kedalam kondisi normal. Pihak
manajemen harus memberi semangat untuk keterlibatan semua
karyawan terhadap keselamatan.
25

2.3. Limbah Kimia Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Dalam Pencemaran
Udara
Pada awal revolusi industri, dampak negatif dari kegiatan industri seperti
limbah gas, limbah padat dan limbah cair belum dirasakan terhadap degradasi
lingkungan. Namun setelah berabad-abad penggunaan teknologi modern dengan
menggunakan bahan bakar fosil untuk memproses bahan baku menjadi produk
barang dan jasa pelayanan, dampak negatif terhadap degradasi lingkunagn sangat
terasa dan merupakan ancaman bagi keselamatan dan kesehatan masyarakat serta
perlindunhgan lingkungan (Safety, Health and Environmenral Protection).

Penggunaan energi fosil seperti minyak bumi, gas alam, batu bara yang
mengandung bahan pencemar berbahaya dapat menimbulkan pencemaran udara
padahal udara sangat bermanfaat bagi pernapasan umat manusia. Oleh sebab
itulah diperlukan adanya persepsi sumber pencemar limbah gas di udara. Pada
Gambar 2.3 ditunjukan bahwa terdapat 3 fenomena, yaitu:

Bahwa setiap pencemar senyawa kimia berbahaya dan beracun dari udara
masuk kedalam air yang didistribusikan ke semua arah kaeran aliran air.

Bahwa senyawa kimia berbahaya dan beracun seperti CO, CO2, NO, SO,
Pb, Hg dari kegiatan dunia industri akan bergerak ke segala arah sesuai
dengan arah gerakan angin.

Bahwa lahan dan tanah yang tercemar oleh senyawa kimia bahan
berbahaya dan beracun mudah menguap akan terbang ke udara atau
mengalir ke sumber air.

Senyawa toksik dari hasil pembakaran batu bara dalam udara terdiri atas :

Logam fase pertikurat seperti antimony, arsen , Be, Cd, Cr, Co, Pb, Mn,
dan Ni

Senyawa anorganik muda menguap miasal Hg, Se, dan HCL


26

Senyawa organik misal benzema, toluena, formaldehida, arsen poly cyclic


aromatic hydrocarbon.

Faktor kinetika dan termodinsmisk memengaruhi distribusi senyawa kiia


bahan berbahaya dan beracun. Gambar 2.3.1 menunjukan bahwa analisis
kinetika dan termodinamika mampu menjelaskan proses distribusi bahan
berbahaya dan beracun, yaitu :

Distribusi antar lahan dan air

Distribusi karena proses penguapan dari air dan lahan.

Distribusi absorpasi melalui mambran biologi ke hewan dan tanaman.

Gambar 2.3.A Kontribusi senyawa kimia toksik ke dalam lingkungan udara,


lahan, dan air terhadap kesehatan manusia
27

2.3.1 Komposisi Senyawa Kimia di Udara

Komposisi senyawa kimia di udara permukaan air laut terdiri atas


78.03% nitrogen (N2), 21% oksigen (O2). 1% uap air.
Karbondioksida(CO2), ozon (O3), gas metana (CH4), Helium, Argon
(Ar), Neon (Ne), Krypton (Kr), and Xenon (Xe), [ Austin, G.T. 1975].

Komposisi senyawa kimia di udara ini di gunakan sebagai bahan baku


industri untuk berbagai keperluan industri misalnya industri garam
dapur industri pupuk urea, industri gas. Misal reaksi pupuk urea.

N2 + 3H2 2NH3

NO2 + NH3 NH2 COONH4 (Almunium Karbanat)

NH2 COONH4 NH2CONH2 + H2O (Urea)

Pada gambar 3.2.1 ditunjukan bahwa:

Gs = Gf + Gv

Gs = - R.T.In Ps

Gv = - R.T.In Pf
28

Senyawa gas nitrogen atau N2 diperoleh dari distilasi fraksionasi udara


cair dangas hidrogen atau H2 diperoleh dari gas alam (CH4) yang pada
gilirannya dapat digunakan sebagai bahan baku industri pembuatan
sintesis ammonia dan pupuk urea. Jika komposisi senyawa kimia di
udara tidak berubah oleh kegiatan manusia seperti kegiatan industri,
maka keseimbangan dan kelestarian hidup dapat dijamin dan
dipertahankan.

Komposisi senyawa kimia di udara sudah berubah dari komposisi


aslinya karena adanya emisi polutan atau bahan pencemar ke udara
baik oleh bencana alam seperti meletusnya gunung berapi (natural
disaster) maupun bencana buatan manusia (man made disaster) seperti
kebakaran hutan di Indonesia pada waktu musim kemarau,
pembakaran bahan bakar fosil dalam dunia lindustri, rumah tangga,
dan transportasi.

2.3.2 Pencemaran Senyawa Kimia di Udara dan Batasan batasan

Pencemaran udara adalah masuknya atau dimasukkannya zat energi,


dan/atau komponen lain ke dalam udara ambien oleh kegiatan
manusia, sehingga mutu udara ambien turun sampai ke tingkat tertentu
yang menyebabkan udara ambien tidak dapat memenuhi fungsinya.

Batasan batasan

Indeks standar polutan (PSI) adalah indeks yang dikembangkan


oleh US EPA untuk meningkatkan ketelitian.

Sumber Pencemar

Sumber pencemar adalah setiap kegiatan usaha dan/atau


kegiatan yang mengeluarkan bahan pencemarke udara yang
menyebabkan udara tidak dapat berfungsi.

Udara Ambien
29

Udara ambien adalah udara bebas di permukaan bumi pada


lapisan troposfir yang berada di wilayah hukum Republik
Indonesia yang dibutuhkan dan memengaruhi kesehatan
manusia, mahluk hidup, dan unsur lingkungan hidup lainnya.

Emisi

Emisi adalah zat energi dan/atau komponen yang dihasilkan


dari suatu kegiatan yang masuk dan/atau dimasukkan ke dalam
udara ambien yang mempunyai dan/atau tidak mempunyai
potensi sebagai unsur pencemar.

2.3.3 Jenis, Sumber, dan Dampak Pencemaran Udara

Atmosfir adalah lapisan gas yang tak terlihat yang mampu


menyelimuti bumi. Kadar oksigen 21% dan nitrogen 78% adalah gas
yang paling dominan dalam atmosfir dan di samping itu masih ada air
dan partikel-pertikel halus di udara bersama gas argon.

Bahan Pencemar Udara

Senyawa kimia pencemar di udara terdiri atas gas, cairan dan


pertikel padat dalam atmosfir yang sangat berbahaya bagi
kesehatan manusia, ternak, tanaman dan material lain.

Bahan Pencemar Partikulat di Udara

Bahan pencemar partikulat di udara berupa pertikel padat debu,


suspensi cairan berupa kabut, lahan, debu Pb, debu asbes, dan
tetesan asam sulfat yang menyebabkan kurangnya daya
pandang dan menyerap sinar matahari. Partikulat dihasilkan
oleh industri, kendaraan bermotor dapat memberi dampak
negatif terhadap kesehatan manusia separti broncitis.
30

Sumber Pencemar Udara Primer dan Sekunder

o Sumber pencemar udara primer terdiri atas senyawa


kimia yang tidak berubah komposisinya, bentuk fisik
dan/atau bentuk senyawa kimia dari sumber pencemar
ke udara dengan waktu tinggal cukup lama dari waktu
bulanan ke tahunan dan sangat stabil.

o Sumber pencemar udara sekunder yang di hasilkan di


atmosfir fotokimia. Bahan pencemar udara sekunder
diperoleh dari sumber bergerak yang merupakan
sumber emisi bergerak atau tidak tetap pada suatu
tempat dari kendaraan bermotor dan bahan kimia
berbahaya yang terbentuk dari senyawa lain dan
dilepaskan ke udara.

2.3.4 Dampak Bahan Pencemar Senyawa Kimia di Udara Terhadap


Kesehatan Masyarakat

Secara umum bahan pencemar senyawa kimia ozon, sulfur dioksida,


nitrogen oksida, karbon mono-oksida, dan partikulat di udara
menyebabkan gangguan kesehatan manusia seperti luka mata, luka
saluran pernapasan manusia. Hal tersebut dibahas sebagai tersebut:

Dampak Sulfur Dioksida Terhadap Kesehatan Masyarakat

Senyawa kimia gas sulfur dioksida di udara dihasilakan oleh


pembangkit listrik tenaga uap dimana ketel uap menggunakan
bahan bakar batu bara. Senyawa kimia gas SO2 Mmenyebabkan
gangguan pernapasan dan broncitis.
31

Dampak Senyawa Kimia Gas Nitrogen Oksida Terhadap


Kesehatan Masyarakat

Senyawa kimia gas nitrogen oksida di hasilkan oleh kendaraan


bermotor dan industri menyebabkan gangguan kesehatan
manusia seperti penyakit asma dan bronchitis kronis dan
gangguan pernapasan jika kadar NO2 cukup tinggi dalam waktu
kurang dari 3 jam.

Dampak Senyawa Kimia Gas Karbon Monooksida (CO)


Terhadap Kesehatan Masyarakat

Senyawa kimia gas CO merupakan gas yang tidak berwarna


hasil pembakaran tidak sempurna bahan bakar, namun dunia
industri juga memberi kontribusi besar terhadap terbentuknya
senyawa kimia gas CO dan jugakendaraan bermotor merupakan
penghasil senyawa kimia gas CO yang besar.

Dampak Senyawa Kimia Ozon Terhadap Kesehatan


Masyarakat

Senyawa kimia ozon yang dihasilkan di atmosfir merupakan


bahan pencemaran sekunder di udara yang menyebabkan
gangguan kesehatan manusia seperti luka mata, luka saluran
pernapasan, asma dan bronchitis kronis.

Udara sebagai bahan baku industri dan gas buangan

Peranan udara sebagai bahan baku industry sangat besar


terhadap dunia industri sehingga gas nitrogen dan oksigen
dapat digunakan sebagai bahan baku industry. Namun terdapat
gas buangan yang dapat mencemari lingkungan udara. Adapun
udara yang digunakan sebagai bahan baku industry diantaranya
ialah:
32

o Industry kimia dasar

o Industry kimia hilir

o Industry pangan

o Industry farmasi

o Industry pupuk urea

o Respirasi dan

o Industry gas nobel dan khusus gas nobel ini digunakan


dalam penelitian dan pengembangan elektroni

Komposisi senyawa kimia gas di udara dapat di pisahkan


menjadi komponen-komponen lain oleh proses distilasi
traksionari udara cair, dengan demikian akan timbul industry
gas baru. Lingkungan alam sekitar berfungsi sebagai sumber
bahan baku pertanian, air sumber dan air permukaan tanah,
mineral, dan udara yang secara langsung maupun tidak
langsung dibutuhkan dikonsumsi oleh umat manusia.

Konsumsi bahan bakar fosil

Konsumsi bahan bakar fosil, yaitu minyak bumi, gas alam di


Indonesia mencapai sekitar 10% untuk pembangkit listrik,
transportasi sebesar 45%, industry sebesar 23% dan rumah
tangga sebesar 22%. Konsumsi bahan bakar fosil khususnya
minyak bumi di kota-kota besar di Indonesia selalu
meningkatkan dari tahun ke tahun. Sebagai gambaran pada
tahun 1994, konsumsi bahan bakar dalam negeri untuk
transportasi bahan bakar dalam negeri untuk transportasi
sebesar 18.000.000 kiloliter, dan untuk konsumsi rumah tangga
mencapai lebih 8.000.000 kilo liter [sumber: statistic
perminyakan Indonesia, 1994].
33

Minyak bumi (petroleum) dan gas alam (natural gas) yang di


gunakan untuk dunia industry dan pusat tenaga listrik
mengeluarkan gas-gas polutan yang diemisikan ke atmosfir
adalah senyawa NOx, SO2, CO, CO2, H2S, H2S, NH3 dan
debu hidrokarbon, logam berat merkuri (Hg), timbal (Pb) dan
partikulat.

Gas alam

Gas alam yang digunakan untuk pembakaran ketel uap


menghasilkan panas yang ditunjukan oleh persamaan reaksi
kimia stiokhiometrik. nilai panas terndah digunakan untuk
menguapkan air, semakin tidak sempurna pembakaran gas
alam, semakin banyak kontaminan gas CO, karbondioksida,
hidrokarbon, senyawa amina. Asam organic dan senyawa
organic polisiklik. Pembakaran reaksi pembakaran gas alam
dan gas NO akan sejalan meningkatkan suhu di dalam reactor.

Penggunaan batu bara sebagai bahan baku kimia industry

Batu bara dapat diproses dengan proses fluidisasi batu bara


menjadi berbagai macam bahan baku industry seperti bahan
baku kimia industry bahan bakar, tar, kokas, carbon black,
tenaga listrik, gas hidrokarbon, methanol, bensin, minyak
diesel, dan produk lain dan limbah abu terbang. Teknologi
hydro gasification batu bara memberikan harapan baru energy
tanpa menimbulkan polusi udara

Energy baru

Penggunaan bahan bakar fosil ternyata banyak memberikan


dampak negative tehadap degradasi lingkungan.Karena itu
perlu dicari upaya perncarian energy baru. Energy baru ramah
lingkungan antara lain:
34

o Energy surya

o Energy angin

o Energy biomasa berbasis produksi biomasa dengan


bantuan system fotosintesa

o Energy geothermal

Sumber emisi dan distribusi global gas beracun

Sumber emisi adalah setiap kegiatan usaha dan kegiatan yang


mengeluarkan emisi dari sumber bergerak.Sumber spesifik,
sumber tidak bergerak, maupun sumber tidak bergerak spesifik
[PP Nomor 41 Tahun 1999].Setiap kegiatan dunia industry
yang menggunakan bahan bakar fosil slalu beresiko terhadap
degradsi lingkungan global khususnya gas beracun di udara
seperti gas karbondioksida, gas metan.Gas sulfur dioksida dan
nitrogen dioksida serta gas gas beracun lainnya.

Pembakaran batu bara di rumah tangga menghasilkan bahan


pencemar senyawa kimia di udara seperti partikulat, senyawa
kimia gas SO2, dan senyawa kimia organic hidrokarbon yang
sedikit mudah menguap seperti aromatic polisiklik.

Bahan senyawa kimia di udara juga berasal dari hasil


pembakaran ketel uap, kiln semen, dan tungku tinggi
pembakaran pada berbagai industry dan hasil gas buang
kendaraan dan bahan bakar diesel. Bahan pencemar udara
tersebut akan menyebabakan interaksi antara udara dengan air
permukaan tanah sehingga menyebabkan interaksi antara udara
dengan air permukaan tanah sehingga menyebabkan dampak
negative terhadap pemeliharaan kesehatan manusia. Senyawa
hidrokarbon tidak sempurna akan mengontaminasi tanaman
35

pangan sayur sayuran, air permukaan tanah, dan lahan


pertanian.

Analisis pencemar senyawa kimia gas NO2

Sumber pencemar senyawa kimia gas NO2 sangat berbau tajam


menyengat , berwarna cokelat, dan sangat iritasi dan toksik
yang mampu merusak paru-paru manusia.

Sumber pencemar ozon

Senyawa kimia gas ozon merupakan gas yang tidak bewarna


dan merupakan komponen kabut.Senyawa kimia gas ozon
dihasilkan oleh reaksi kimia antara senyawa kimia
nitrogenoksida dengan senyawa kimia organic missal senyawa
hidrokarbon keluar knalpot.

Dampak negative senyawa kimia ozon terhadap kesehatan


manusia

Senyawa kimia ozon menyebabkan gangguan system


pernapasan manusia, luka pada hidung, tenggorokan dengan
gejala sakit tenggorokan, batuk-batuk, dan sakit kepala.

Dampak negative bahan partiulat terhadap kesehatan


manusia

Bahan partikulat menyebabkan gangguan pernapasan, gejala


pernapasan, dan penyakit jantung, gejala flu, dan asma..standar
bahan partikulat yang di izinkan adalah 150 mikrigram pr meter
kubik selama waktu rata-rata 24 jam.

Sumber pencemar senyawa kimia gas karbondioksida


(CO2)
36

Sumber pencamar senyawa kimia gas CO2 dihasilkan dari


limbah industry fermentasi industry besi baja.Senyawa kimia
gas CO2 banyak digunakan pada industry minuman ringan, es
kering sebagai bahan pendingin dan bahan pengawet makanan
dan sebagai bahan pemadam kebakaran.

Sumber pencemar senyawa kimia hidrogensulfida

Sumber pencemar senyawa kimia gas hidrogensulfida


merupakan asam lemah, tak bewarna dan bau busuk namu
sangat bermanfaat bagi pengendapan garam logam seperti
FeCL3, tidak stabil terhadap panas merupakan bahan reduksi.

Sumber pencemar senyawa kimia lain di udara

Dampak dari penggunaan dan pembakaran bahan bakar fosil


oleh dunia industry, transportasi, dan rumah tangga akan
menghasilkan limbah logam berat seperti timbal, arsen, merkuri
dan gas sulfur oksida. Karbondioksida dan nitrogen oksida di
atmosfir.

Persepsi sumber pencemaran

Di Indonesia industry transportasi dan kegiatan lain


menghasilkan bahan berbahaya dan beracun di udara dan air
permukaan tanah sehingga menimbulkan dampak negative
terhadap kesehatan manusia. Sehingga menimbulkan dampak
negative terhadap kesehatan manusia.Pemaknaan risiko
tergantung masing masing situasi dan sikap serta prilaku
seseorang.
37

Komunikasi pengendalian pencemaran senyawa kimia di


udara

Persepsi risiko polutan gas dan limbah kimia b3 di udara


terhadap kesehatan masyarakat umum sangat penting untuk di
komunikasikan dan di sosialisasikan ke masyarakat luas agar
tingkat bahayanya diketahui saasaran komunikasi persepsi
risiko polutan gas dan limbah kimia B1 industri tentang bahan
berbahaya dan beracun. Proses kimia, pemurnian minyak bumi
dan operasi lain yang berhubungan dengan senyawa kimia
bahan berbahaya dan beracun serta limbah kimia.

Factor-faktor yang mempengaruhi daya terima risiko berbasis


pada persepsi orang, yaitu:

o Daya terima besar yaitu bersifat sukarela, alami, mudah


dikendalikan, esensial, manfaatnya besar, diketahui
umum, rutin, dan rendah derajat konservasinya

o Daya terimanya rendah yaitu tidak sukarela, sintetik,


tidak mudah dikendalikan, segera berdampak, tidak
esensial, manfaatnya kecil, tidak diketahui dan tidak
umum.

System pengendalian pencemaran senyawa kimia di udara

Pada umumnya metode pengendalian senyawa kimia oksik di


udara di lakukan dengan metode kondensasi, adsorpasi,
absorpsi uap missal Se, CL dan senyawa organic pengendalian
pencemaran udara harus dilakukan mengingat dampak negative
terhadap gangguan kesehatan masyarakat.

Senyawa kimia HF digunakan sebagai katalisator di industri


petruleum, aluminium dan senyawa dan senyawa kimia HF
38

menyebabkan iritasi kulit manusia serta meruak gigi, tulang


ternak dan merusak tanaman jeruk.partikulat dan senyawa
kimia gas asam seperti SO, HCl, HBr merupakan bahan
berbahaya dan beracun di udara sehingga perlu dikendalikan
dengan alat penyerap ( scrubber).

Metode penyerapan senyawa kimia gas beracun di udara

Sumber pencemar udara yang berupa senyawa kimia gas yaitu


gas HF, H2S, NO, Fosgen dari hasil dekomposisi senyawa
kimia hidrokarbon terkhlorinasi dan senyawa kimia organik,
abu terbang (fly ash) dari hasil pembakaran batu bara, partikel
besi oksida, asap dari hasil kebakaran hutan musim kemarau di
Indonesia yang semuanya harus dicarikan jalan
penyelesaiannya. Alat penyerap gas asam ini di operasikan
dengan dua mekanisme, yaitu:

o Pemindahan logam fase partikulat secara fisika, dan

o Pemindahan logam fase partikulat secara kimia dengan


penyerapan (absorption dnan netralisasi gas asam).

Menara kabutan basah (wet spray tower)

Untuk memindahkan pencemaran asam digunakan metode


menara penyerap yang dilengkapi dengan alat nozzle tekanan
tinggi sehingga memberikan tetesan cairan dan kontak dengan
gas asam berlawanan arah yang menhasilkan gas bebas
pencemar.

2.4. Pengolahan Limbah Gas


Pengertian dari pencemaran udara itu sendiri ialah peristiwa pemasukan
dan/atau penambahan senyawa, bahan, atau energi ke dalam lingkungan udara
akibat kegiatan alam dan manusia sehingga temperatur dan karakteristik udara
39

tidak sesuai lagi untuk tujuan pemanfaatan yang paling baik. Atau dengan singkat
dapat dikatakan bahwa nilai lingkungan udara tersebut telah menurun. Di Amerika
Serikat, industri memberikan bagian yang relatif kecil pada pencemaran
atmosferik jika dibandingkan dengan pengangkutan. Namun, karena kegiatan
industri merupakan aktivitas yang mudah diamati dan merupakan golongan
sumber pencemaran titik (point source of pollution), masyarakat pada umumnya
lebih menganggap industri sebagai sumber utama polutan yang menyebabkan
udara tercemar. Belum lagi dengan limbah padat dan limbah cair industri
yang semakin memperparah imagenegatif industri di masyarakat.

2.4.1 Kandungan Gas di udara

Kandungan gas di udara terdiri dari , Nitrogen, oksigen, argon, karbon


dioksida, gas- gas lain (Ne, He, H, Xe).

2.4.2 Proses pencemaran udara

Semua spesies kimia yang dimasukkan atau masuk ke atmosfer yang


bersih disebut kontaminan. Kontaminan pada konsentrasi yang
cukup tinggi dapat mengakibatkan efek negatif terhadap penerima
(receptor), bila ini terjadi, kontaminan disebat cemaran (pollutant).
40

Cemaran udara diklasifihasikan menjadi 2 kategori menurut cara


cemaran masuk atau dimasukkan ke atmosfer yaitu: cemaran primer
dan cemaran sekunder

Cemaran primer adalah cemaran yang diemisikan secara


langsung dari sumber cemaran

Cemaran sekunder adalah cemaran yang terbentuk oleh


proses kimia di atmosfer

Sumber cemaran dari aktivitas manusia (antropogenik) adalah


setiap kendaraan bermotor, fasilitas, pabrik, instalasi atau aktivitas
yang mengemisikan cemaran udara primer ke atmosfer.

2 kategori sumber antropogenik yaitu :

sumber tetap (stationery source) seperti: pembangkit energi


listrik dengan bakar fosil, pabrik, rumah tangga, jasa, dan lain-
lain dan

sumber bergerak (mobile source) seperti: truk, bus, pesawat


terbang, dan kereta api.

Lima cemaran primer yang secara total memberikan sumbangan


lebih dari 90% pencemaran udara global adalah:
41

Karbon monoksida (CO)

Nitrogen oksida (Nox),

Hidrokarbon (HC)

Sulfur oksida (SOx)

Partikulat

Selain cemaran primer terdapat cemaran sekunder yaitu cemaran yang


memberikan dampak sekunder terhadap komponen lingkungan ataupun
cemaran yang dihasilkan akibat transformasi cemaran primer menjadi
bentuk cemaran yang berbeda. Ada beberapa cemaran sekunder yang
dapat mengakibatkan dampak penting baik lokal, regional maupun
global yaitu :

CO2 (karbon monoksida),

CFC (Chloro-Fluoro-Carbon/Freon),

Cemaran asbut (asap kabut) atau smog (smoke fog),

Hujan asam,

CH4 (metana).

Sebagai pencemar udara terutama apabila konsentrasi gas tersebut


melebihi tingkat konsentrasi normal dan dapat berasal dari sumber
alami (seperti gunung api) serta juga gas yang berasal dari kegiatan
manusia (anthropogenic sources). Senyawa pencemar udara itu
sendiri digolongkan menjadi (a) senyawa pencemar primer, dan (b)
senyawa pencemar sekunder.

Senyawa pencemar primer adalah senyawa pencemar yang


langsung dibebaskan dari sumber sedangkan senyawa pencemar
42

sekunder ialah senyawa pencemar yang baru terbentuk akibat antar-


aksi dua atau lebih senyawa primer selama berada di atmosfer.

Dari sekian banyak senyawa pencemar yang ada, lima senyawa


yang paling sering dikaitkan dengan pencemaran udara ialah:
karbonmonoksida (CO), oksida nitrogen (NOx), oksida sulfur (SOx),
hidrokarbon (HC), dan partikulat (debu). Pencemaran udara yang
disebabkan oleh aktivitas manusia dapat ditimbulkan dari 6 (enam)
sumber utama, yaitu:

pengangkutan dan transportasi

kegiatan rumah tangga

pembangkitan daya yang menggunakan bahan bakar fosil

pembakaran sampah

pembakaran sisa pertanian dan kebakaran hutan

pembakaran bahan bakar dan emisi proses

Pada waktu proses pengolahan, gas juga timbul sebagai akibat reaksi
kimia maupun fisika. Sebagian besar gas maupun partikel terjadi
pada ruang pembakaran, sebagai sisa yang tidak dapat dihindarkan
dan karenanya harus dilepaskan melalui cerobong asap. Banyak jenis
gas dan partikel gas lepas dari pabrik melalui cerobong
asapataupun penangkap debu harus ditekan sekecil mungkin
dalam upaya mencegah kerusakan lingkungan. Pada umumnya
limbah gas dari pabrik bersumber dari penggunaan bahan baku,
proses, dan hasil serta sisa pembakaran. Pada saat pengolahan
pendahuluan, limbah gas maupun partikel timbul karena perlakuan
bahan-bahan sebelum diproses lanjut. Limbah yang terjadi
disebabkan berbagai hal antara lain; karena reaksi kimia,
kebocoran gas, hancuran bahan- bahan dan lain-lai
43

Jenis industri yang menjadi sumber pencemaran melalui udara di


antaranya:

industri besi dan baja

industri semen

industri kendaraan bermoto

industri pupuk

industri pembangkit tenaga listrik

industri kertas

industri kilang minyak

industri pertambangan

Jenis industri semacam ini akumulasinya di udara dipengaruhi arah


angin, tetapi karena sumbernya bersifat stationer maka lingkungan
sekitar menerima resiko yang sangat tinggi dampak pencemaran.

Berdasarkan ini maka konsentrasi bahan pencemar dalam udara


perlu ditetapkan
sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap manusia dan
makhluk lain sekitarnya. Jenis industri yang menghasilkan partikel
dan gas adalah sebagai tertera dalam tabel 2.4.2
Tabel 2.4.2 Jenis Industri dan Limbahnya
44

Jenis gas yang bersifat racun antara lain SO 2, CO, NO, timah hitam,
amoniak, asam sulfida dan hidrokarbon. Pencemaran yang terjadi
dalam udara dapat merupakan reaksi antara dua atau lebih zat
pencemar. Misalnya reaksi fotokimia, yaitu reaksi yang terjadi
karena bantuan sinar ultra violet dari sinar matahari. Kemudian reaksi
oksidasi gas dengan partikel logam dengan udara sebagai katalistor
konsentrasi bahan pencemar dalam udara dipengaruhi berbagai faktor
antara lain :

volume bahan pencemar

sifat bahan

kondisi iklim dan cuaca

topografi
45

2.5. Penanganan Limbah Gas


Pencemaran udara sebenarnya dapat berasal dari limbah berupa gas atau
materi partikulat yang terbawah bersama gas tersebut. Berikut akan dijelaskan
beberapa cara menangani pencemaran udara oleh limbah gas dan materi partikulat
yang terbawah bersamanya.

2.5.1 Mengontrol Emisi Gas Buang

Gas-gas buang seperti sulfur oksida, nitrogen oksida, karbon


monoksida, dan hidrokarbon dapat dikontrol pengeluarannya
melalui beberapa metode. Gas sulfur oksida dapat dihilangkan dari
udara hasil pembakaran bahan bakar dengan
cara desulfurisasi menggunakan filter basah (wet scrubber).

Mekanisme kerja filter basah ini akan dibahas lebih lanjut pada
pembahasan berikutnya, yaitu mengenai metode menghilangkan
materi partikulat, karena filter basah juga digunakan untuk
menghilangkan materi partikulat.

Gas nitrogen oksida dapat dikurangi dari hasil pembakaran


kendaraan bermotor dengan cara menurunkan suhu pembakaran.
Produksi gas karbon monoksida dan hidrokarbon dari hasil
pembakaran kendaraan bermotor dapat dikurangi dengan cara
memasang alat pengubah katalitik (catalytic converter) untuk
menyempurnakan pembakaran.

Selain cara-cara yang disebutkan diatas, emisi gas buang jugadapat


dikurangi kegiatan pembakaran bahan bakar atau mulai
menggunakan sumber bahan bakar alternatif yang lebih sedikit
menghasilkan gas buang yang merupakan polutan.
46

2.5.2 Menghilangkan Materi Partikulat Dari Udara Pembuangan

Filter Udara

Filter udara dimaksudkan untuk yang ikut keluar pada cerobong


atau stack, agar tidak ikut terlepas ke lingkungan sehingga hanya
udara bersih yang saja yang keluar dari cerobong. Filter udara yang
dipasang ini harus secara tetap diamati (dikontrol), kalau sudah
jenuh (sudah penuh dengan abu/ debu) harus segera diganti dengan
yang baru. Jenis filter udara yang digunakan tergantung pada sifat
gas buangan yang keluar dari proses industri, apakah berdebu
banyak, apakah bersifat asam, atau bersifat alkalis dan lain
sebagainya

Pengendap Siklon

Pengendap Siklon atau Cyclone Separators adalah pengedap debu /


abu yang ikut dalam gas buangan atau udara dalam ruang pabrik
yang berdebu. Prinsip kerja pengendap siklon adalah pemanfaatan
gaya sentrifugal dari udara / gas buangan yang sengaja
dihembuskan melalui tepi dinding tabung siklon sehingga partikel
yang relatif berat akan jatuh ke bawah. Ukuran partikel / debu /
abu yang bisa diendapkan oleh siklon adalah antara 5 u 40 u.
Makin besar ukuran debu makin cepat partikel tersebut diendapkan.

Filter Basah
Nama lain dari filter basah adalah Scrubbers atau Wet Collectors.
Prinsip kerja filter basah adalah membersihkan udara yang kotor
dengan cara menyemprotkan air dari bagian atas alt, sedangkan
udara yang kotor dari bagian bawah alat. Pada saat udara yang
berdebu kontak dengan air, maka debu akan ikut semprotkan air
turun ke bawah. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dapat
juga prinsip kerja pengendap siklon dan filter basah digabungkan
menjadi satu. Penggabungan kedua macam prinsip kerja tersebut
menghasilkan suatu alat penangkap debu yang dinamakan.
47

Pegendap Sistem Gravitasi


Alat pengendap ini hanya digunakan untuk membersihkan udara
kotor yang ukuran partikelnya relatif cukup besar, sekitar 50 u atau
lebih. Cara kerja alat ini sederhana sekali, yaitu dengan
mengalirkan udara yang kotor ke dalam alat yang dibuat
sedemikian rupa sehingga pada waktu terjadi perubahan kecepatan
secara tiba-tiba (speed drop), zarah akan jatuh terkumpul di bawah
akibat gaya beratnya sendiri (gravitasi). Kecepatan pengendapan
tergantung pada dimensi alatnya.
Pengendap Elektrostatik
Alat pengendap elektrostatik digunakan untuk membersihkan udara
yang kotor dalam jumlah (volume) yang relatif besar dan pengotor
udaranya adalah aerosol atau uap air. Alat ini dapat membersihkan
udara secara cepat dan udara yang keluar dari alat ini sudah relatif
bersih. Alat pengendap elektrostatik ini menggunakan arus searah
(DC) yang mempunyai tegangan antara 25 100 kv. Alat
pengendap ini berupa tabung silinder di mana dindingnya diberi
muatan positif, sedangkan di tengah ada sebuah kawat yang
merupakan pusat silinder, sejajar dinding tabung, diberi muatan
negatif. Adanya perbedaan tegangan yang cukup besar akan
menimbulkan corona discharga di daerah sekitar pusat silinder. Hal
ini menyebabkan udara kotor seolah olah mengalami ionisasi.
Kotoran udara menjadi ion negatif sedangkan udara bersih menjadi
ion positif dan masing-masing akan menuju ke elektroda yang
sesuai. Kotoran yang menjadi ion negatif akan ditarik oleh dinding
tabung sedangkan udara bersih akan berada di tengah-tengah
silinder dan kemudian terhembus keluar.
Pada umumnya jenis pencemar melalui udara terdiri dari
bermacam-macam senyawa kimia baik berupa limbah maupun
bahan beracun dan berbahaya yang tersimpan dalam pabrik.
48

Limbah gas, asap dan debu melalui udara adalah:


o Debu : Berupa padatan halus
o Karbon monoksida : Gas tidak berwarna dan tidak berbau
o Karbon dioksida : Gas, tidak berwarna, tidak berbau
o Oksida nitrogen : Gas, berwarna dan berbau
o Asap : Campuran gas dan partikel berwarna hitam: CO2 dan
SO2
o Belerang dioksida : Tidak berwarna dan herbau tajam
o Soda api : Kristal
o Asam chlorida : Berupa larutan dan uap
o Asam sulfat : Cairan kental
o Amoniak : Gas tidak berwarna, berbau
o Timah hitam : Gas tidak berwarna
o Nitro karbon : Gas tidak berwarna
o Hidrogen fluorida : Gas tidak berwarna
o Nitrogen sulfida : Gas, berbau
o Chlor : Gas, larutan dan berbau
o Merkuri : Tidak berwarna, larutan
49

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Limbah gas sangat berbahaya jika dikeluarkan terlalu berlebihan, baik untuk
kesehatan pada manusia, maupun untuk lingkungan sekitar kita. Maka dari itu,
kita sebagai makhluk yang mempunyai akal dan pikiran harus mencintai pada
lingkungan kita sendiri dengan menjaga dan melestarikannya.

3.2. Saran
Mungkin inilah yang diwacanakan pada penulisan kelompok ini meskipun
penulisan ini jauh dari sempurna minimal kita mengimplementasikan tulisan ini.
Masih banyak kesalahan dari penulisan kelompok kami, karna kami manusia yang
adalah tempat salah dan dosa: dalam hadits al insanu minal khotto wannisa, dan
kami juga butuh saran/ kritikan agar bisa menjadi motivasi untuk masa depan
yang lebih baik daripada masa sebelumnya. Kami juga mengucapkan terima kasih
atas guru pembimbing mata kuliah Teknik Pengantar Ilmu Lingkungan. Yang
telah memberi kami tugas kelompok demi kebaikan diri kita sendiri dan untuk
negara dan bangsa.
50

DAFTAR PUSTAKA

Suharto.2011. Limbah Kimia Dalam Pencemaran Udara dan Air

httpikk357.weblog.esaunggul.ac.idwp-contentuploadssites313201212LIMBAH-
GAS.pdf

http://johan-mustopa.blogspot.co.id/2014/05/makalah-penanganan-limbah-
gas_1626.html