Anda di halaman 1dari 26

PILOT PLANT

SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2017/2018

MODUL : Ekstraksi Padat-Cair (Leaching) pada Biji Kemiri

PEMBIMBING : Ayu Ratna P, ST., MT

Praktikum : 12 September 2017


Penyerahan :19 September 2017
(Laporan)

Oleh :

Kelompok : IX dan X
Nama : 1. Noorma Nurmalasari (151411023)
2. Rahmawati Sri M (151411024)
3. Renaldo Kastari (151411025)
4. Septian Hardi P (151411027)
5. Septiani Rasidah (151411028)

Kelas : 3A

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Komponen-komponen kimia yang terkandung di dalam bahan organik seperti


yang terdapat di dalam tumbuh-tumbuhan sangat dibutuhkan oleh keperluan hidup
manusia, baik komponen senyawa tersebut digunakan untuk keperluan industri
maupun untuk bahan obat-obatan. Komponen tersebut dapat diperoleh dengan metode
ekstraksi dimana ekstraksi merupakan proses pelarutan komponen kimia yang sering
digunakan dalam senyawa organik untuk melarutkan senyawa tersebut dengan
menggunakan suatu pelarut.
Berdasarkan bentuk campuran yang diekstraksi, ekstraksi dibagi menjadi dua
yaitu ekstraksi padat-cair dan ekstraksi cair-cair. Pada ekstraksi cair-cair, bahan yang
menjadi analit berbentuk cair dengan pemisahannya menggunakan dua pelarut yang
tidak saling bercampur sehingga terjadi distribusi sampel di antara kedua pelarut
terebut. Pendistribusian sampel dalam kedua pelarut tersebut dapat ditentukan dengan
perhitungan KD (koefisien distribusi).
Kemiri (Aleurites moluccana), adalah tumbuhan yang bijinya dimanfaatkan
sebagai sumber minyak dan rempah-rempah. Minyak kemiri terutama
mengandung asam oleostearat. Minyak yang lekas mengering ini biasa digunakan
untuk mengawetkan kayu, sebagai pernis atau cat, melapis kertas agar anti-air, bahan
sabun, bahan campuran isolasi, penggantikaret, dan lain-lain. Minyak kemiri ini
berkualitas lebih rendah daripada tung oil, minyak serupa yang dihasilkan
olehVernicia fordii (sin. Aleurites fordii) dari Cina.[1]
Kadar lemak yang terdapat di dalam kemiri dapat ditentukan dengan metode
ekstraksi padat-cair. Pada metode ini, sampel berbentuk padatan akan diekstraksi
menggunakan pelarut cair berupa kloroform dengan metode soxhletasi dan destilasi
sederhana. Pada ekstraksi soxhlet terjadi penyarian simplisia secara
berkesinambungan dengan menggunakan pelarut yang dipanaskan sehingga terjadi
penguapan dan pelarut yang terkondensasi akan menyaring simplisia yang terdapat di
dalam selonsong. Berdasarkan dari latar belakang di atas, maka dilakukanlah
percobaan untuk melakukan ekstraksi secara cair-cair dan padat-cair.
1.2 TUJUAN

1. Menjalankan Peralatan Ekstraksi di Politeknik dengan aman dan benar


2. Menjalankan Fenomena Perpindahan massa (proses fisis ektraksi tersebut)
3. Menghitung efisiensi tahap percobaan dan hasil ektraksi
4. Menghitung kalor terpakai dan kukus (steam) oleh pemanasan terlarut
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ekstraksi
Ekstraksi pelarut atau sering disebut juga ekstraksi air merupakan metode
pemisahan atau pengambilan zat terlarut dalam larutan (biasanya dalam air) dengan
menggunakan pelarut lain (biasanya organik). (Mahmud, 2014)
Ekstraksi pelarut menyangkut distribusi suatu zat terlarut (solute) di antara
dua fasa cair yang tidak saling bercampur. Teknik ekstraksi sangat berguna untuk
pemisahan secara cepat dan bersih baik untuk zat organik maupun zat anorganik.
Cara ini juga dapat digunakan untuk analisis makro maupun mikro. Selain untuk
kepentingan analisis kimia, ekstraksi juga banyak digunakan untuk pekerjaan-
pekerjaan preparatif dalam bidang kimia organik, biokimia dan anorganik di
laboratorium. Alat yang digunakan dapat berupa corong pemisah (paling sederhana),
alat ekstraksi soxhlet sampai yang paling rumit berupa alat Counter Current Craig.
(Mahmud, 2014)
Menurut Estien Yazid (2005), berdasarkan bentuk campuran yang
diekstraksi, suatu ekstraksi dibedakan menjadi ekstraksi padat-cair dan ekstraksi cair-
cair.
1. Ekstraksi padat-cair; zat yang diekstraksi terdapat di dalam campuran yang
berbentuk padatan. Ekstraksi jenis ini banyak dilakukan di dalam usaha
mengisolasi zat berkhasiat yang terkandung di dalam bahan alam seperti steroid,
hormon, antibiotika dan lipida pada biji-bijian.
2. Ekstraksi cair-cair; zat yang diekstraksi terdapat di dalam campuran yang
berbentuk cair. Ekstraksi cair-cair sering juga disebut ekstraksi pelarut banyak
dilakukan untuk memisahkan zat seperti iod atau logam-logam tertentu dalam
larutan air.
2.2 Ekstraksi Padat-cair
Ekstraksi padat cair digunakan untuk memisahkan analit yang terdapat pada
padatan menggunakan pelarut organik. Padatan yang akan diekstrak dilembutkan
terlebih dahulu, dapat dengan cara ditumbuk atau dapat juga diiris-iris menjadi
bagian yang tipis-tipis. Kemudian padatan yang telah halus dibungkus dengan kertas
saring. Padatan yang telah terbungkus kertas saring dimasukkan ke dalam alat
ekstraksi soxhlet. Pelarut organik dimasukkan ke dalam pelarut godog. Kemudian
peralatan ekstraksi dirangkai dengan menggunakan pendingin air. Ekstraksi
dilakukan dengan memanaskan pelarut organik sampai semua analit terekstrak.
(Mahmud, 2014)
Ada empat jenis metode operasi ekstraksi padat cair, yaitu (Arifin, 2013) :
1. Operasi sistem bertahap tunggal
Dalam metode ini, pengontakan antara padatan dan pelarut dilakukan secara
bersamaan, kemudian disusul dengan pemisahan larutan dari padatan sisa. Metode
ini jarang digunakan dalam operasi industri karena perolehan solute-nya rendah.

Gambar 2.1. Sistem operasi ekstraksi bertahap tunggal


(Sumber: Arifin, 2013)
2. Operasi sistem bertahap banyak dengan aliran sejajar atau aliran silang .
Operasi ini dimulai dengan pencampuran umpan padatan dan pelarut
dalam tahap pertama, kemudian aliran bawah dari tahap ini dikontakkan
dengan pelarut baru pada tahap berikutnya, dan demikian seterusnya. Larutan
yang diperoleh sebagai aliran atas dapat dikumpulkan menjadi satu seperti
yang terjadi pada sistem dengan aliran sejajar, atau ditampung secara terpisah,
seperti pada sistem dengan aliran silang. (Arifin, 2013)
Gambar 2.2. Sistem bertahap banyak dengan aliran sejajar
(Sumber: Arifin, 2013)

Gambar 2.3. Sistem bertahap banyak dengan aliran silang


(Sumber: Arifin, 2013)
3. Operasi kontinu dengan aliran berlawanan
Dalam sistem ini, aliran bawah dan atas mengalir secara berlawanan.
Operasi dimulai pada tahap pertama dengan mengontakkan larutan pekat
yang merupakan aliran atas tahap kedua, dan padatan baru. Operasi berakhir
pada tahap ke-n (tahap terakhir), ketika terjadi pencampuran antara pelarut
baru dan padatan yang berasal dari tahap ke-n (n-1). Pada operasi ini, sistem
memungkinkan memperoleh hasil solute yang tinggi, sehingga banyak
digunakan di dalam industri. (Arifin, 2013)

Gambar 2.4. Operasi continue Sistem bertahap banyak dengan aliran


berlawanan
(Sumber: Arifin, 2013)
4. Operasi batch sistem bertahap banyak dengan aliran berlawanan
Sistem ini terdiri dari beberapa unit pengontak batch yang disusun
berderet atau dalam lingkaran yang dikenal sebagai rangkaian ekstraksi
(extraction battery). Dalam sistem ini, padatan dibiarkan tetap dalam setiap
tangki dan dikontakkan dengan beberapa larutan yang konsentrasinya makin
menurun. Padatan yang hampir tidak mengandung solute meninggalkan
rangkaian setelah dikontakkan dengan pelarut baru, sedangkan larutan pekat
sebelum keluar dari rangkaian terlebih dahulu dikontakkan dengan padatan
baru di dalam tangki yang lain. (Arifin, 2013)

Gambar 2.4. Operasi batch Sistem bertahap banyak dengan aliran berlawanan
(Sumber: Arifin, 2013)

2.2.1 Taksonomi kemiri


Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas : Commelinidae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae (suku jahe-jahean)
Genus : Alpinia
Spesies : Alpinia purpurata (Vieill.) K. Schum
(Mahmud, 2014)
Komposisi kimia minyak kemiri (Putry, 2016) :
Asam lemak Jumlah
(%)
Asam lemak jenuh -
Asam palmitat 55
Asam stearat 6.7
Asam lemak tak jenuh -
Asam oleat 10.5
Asam linoleat 48.5
Asam linolenat 28.5

Kemiri adalah tumbuhan yang bijinya dimanfaatkan sebagai sumber minyak


dan rempah-rempah. Minyak kemiri terutama mengandung asam oleostearat.
Minyak yang lekas mengering ini biasa digunakan untuk mengawetkan kayu, sebagai
pernis atau cat, melapis kertas agar anti-air, bahan sabun, bahan campuran isolasi,
penggantikaret, dan lain-lain. Minyak kemiri ini berkualitas lebih rendah
daripada tung oil, minyak serupa yang dihasilkan olehVernicia fordii (sin. Aleurites
fordii) dari Cina.

2.2.2 Soxhletasi
Pada prinsipnya, soxhletasi didasarkan atas penarikan komponen kimia
yang dilakukan dengan cara serbuk simplisia ditempatkan dalam klonsong yang telah
dilapisi kertas saring sedemikian rupa, cairan penyari dipanaskan dalam labu alas
bulat sehingga menguap dan dikondensasikan oleh kondensor bola menjadi molekul-
molekul cairan penyari yang jatuh ke dalam klonsong menyari zat aktif di dalam
simplisia dan jika cairan penyari telah mencapai permukaan sifon, seluruh cairan
akan turun kembali ke labu alas bulat melalui pipa kapiler hingga terjadi sirkulasi.
Ekstraksi sempurna ditandai bila cairan di sifon tidak berwarna, tidak tampak noda
jika di KLT, atau sirkulasi telah mencapai 20-25 kali. Ekstrak yang diperoleh
dikumpulkan. (Mahmud, 2014)

2.2.3 Destilasi
Destilasi merupakan teknik pemisahan yang didasari atas perbedaan titik didih
atau titik cair dari masing-masing zat penyusun dari campuran homogen. Dalam
proses destilasi terdapat dua tahap proses yaitu tahap penguapan dan dilanjutkan
dengan tahap pengembangan kembali uap menjadi cair atau padatan. Atas dasar ini
maka perangkat peralatan destilasi menggunakan alat pemanas dan alat
pendingin. Proses destilasi diawali dengan pemanasan, sehingga zat yang memiliki
titik didih lebih rendah akan menguap. Uap tersebut bergerak menuju kondenser
yaitu pendingin, proses pendinginan terjadi karena kita mengalirkan air kedalam
dinding (bagian luar kondensor), sehingga uap yang dihasilkan akan kembali cair.
Proses ini berjalan terus menerus dan akhirnya kita dapat memisahkan seluruh
senyawa-senyawa yang ada dalam campuran homogen tersebut. (Mahmud, 2014)
Alat yang digunakan dalam destilasi sederhana terdiri atas labu destilasi, still
head, dan kondensor dengan satu adaptor yang menghubungkan ujung kondensor
dengan labu penampung destilat. Ukuran alat gelas yang digunakan ditentukan oleh
ukuran volume cairan yang akan didestilasi. Destilasi sederhana hanya dapat
digunakan untuk memisahkan komponen yang perbedaan titik didihnya paling
kurang 80oC. Umumnya, destilasi ini digunakan untuk pemurnian komponen-
komponen volatil yang sudah hampir murni. Jika cairan relatif murni, sejumlah kecil
destilat mengandung pengotor bertitik didih rendah akan keluar ke penampungan
destilat pada waktu temperatur di still head masih meningkat, fraksi ini disebut
sebagai fore-run. Segera setelah temperatur di still head mencapai harga konstan,
fraksi utama dapat dikumpulkan, dan destilasi dapat dilanjutkan sampai sejumlah
destilat diperoleh. Pengotor bertitik didih tinggi akan tinggal sebagai residu dalam
labu destilasi.Jika destilasi sederhana digunakan untuk memisahkan dua komponen
dengan perbedaan titik didih yang lebar, seharusnya temperatur di still head diamati
secara ketat. Sesaat setelah senyawa volatil terkumpul, temperatur akan mulai
meningkat, dan labu penampung harus diganti dengan labu kosong. Kumpulkan
destilat tersebut pada labu kedua selama temperatur masih meningkat. Destilat akan
mengandung kedua komponen (fraksi campuran), tetapi seharusnya hanya
merupakan fraksi dengan volume yang kecil. (Mahmud, 2014).
Ada beberapa jenis metode operasi leaching, yaitu (kurniawan, 2015) :
1. Operasi dengan sistem bertahap tunggal dalam metode ini pengontakan antara
padatan dan pelarut dilakukan sekaligus dan kemudian disusul dengan
pemisahan larutan dari padatan sisa. Cara ini jarang ditemui dalam operasi
industri, karena perolehan solute yang rendah.
2. Operasi kontinu dengan sistem bertahap banyak dengan aliran berlawanan
(countercurrent) dalam sistem ini aliran bawah dan atas mengalir secara
berlawanan. Operasi ini dimulai pada tahap pertama dengan mengontakkan
larutan pekat, yang merupakan aliran atas tahap kedua, dan padatan baru, operasi
berakhir pada tahap ke n (tahap terakhir), dimana terjadi pencampuran antara
pelarut baru dan padatan yang berasal dari tahap ke-n (n-1). Sistem ini
memungkinkan didapatnya perolehan solute yang tinggi, sehingga banyak
digunakan di dalam industri (Treyball, 1985: 719).

Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai unjuk kerja ekstraksi atau
kecepatan ekstraksi yang tinggi pada ekstraksi padat-cair, yaitu (kurniawan,
2015) :
Karena perpindahan massa berlangsung pada bidang kontak antara fase
padat dan fase cair, maka bahan itu perlu sekali memiliki permukaan yang
seluas mungkin.
Kecepatan alir pelarut sedapat mungkin besar dibandingkan dengan laju
alir bahan ekstraksi.
Suhu yang lebih tinggi (viskositas pelarut lebih rendah, kelarutan ekstrak
lebih besar) pada umumnya menguntungkan unjuk kerja ekstraksi.

Ada empat faktor penting yang harus diperhatikan dalam operasi ekstraksi
(kurniawan, 2015) :
1. Ukuran partikel
Ukuran partikel mempengaruhi kecepatan ekstraksi. Semakin kecil
ukuran partikel maka areal terbesar antara padatan terhadap cairan
memungkinkan terjadi kontak secara tepat. Semakin besar partikel, maka
cairan yang akan mendifusi akan memerlukan waktu yang relative lama.
2. Faktor pengaduk
Semakin cepat laju putaran pengaduk partikel akan semakin
terdistribusi dalam permukaan kontak akan lebih luas terhadap pelarut.
Semakin lama waktu pengadukan berarti difusi dapat berlangsung terus dan
lama pengadukan harus dibatasi pada harga optimum agar dapat optimum
agar konsumsi energi tak terlalu besar. Pengaruh faktor pengadukan ini hanya
ada bila laju pelarutan memungkinkan.
3. Temperatur
Pada banyak kasus, kelarutan material akan diekstraksi akan
meningkat dengan temperatur dan akan menambah kecepatan ekstraksi.
4. Pelarut
Pemilihan pelarut yang baik adalah pelarut yang sesuai dengan
viskositas yang cukup rendah agar sirkulasinya bebas. Umumnya pelarut
murni akan digunakan meskipun dalam operasi ekstraksi konsentrasi dari
solute akan meningkat dan kecepatan reaksi akan melambat, karena gradien
konsentrasi akan hilang dan cairan akan semakin viskos pada umumnya
(Coulson, 1955: 721). Dalam biologi dan proses pembuatan makanan, banyak
produk yang dipisahkan dari struktur alaminya menggunakan ekstraksi cair-
padat. Proses terpenting dalam pembuatan gula, leaching dari umbi-umbian
dengan produksi minyak tumbuhan, pelarut organic seperti hexane, acetone,
dan lainnya digunakan untuk mengekstrak minyak dari kacang kedelai, biji
bunga tumbuhan dan lain-lain. Dalam industri farmasi, banyak produk obat-
obatan diperoleh dari leaching akar tanaman, daun dan batang. Untuk
produksi kopi instan, kopi yang sudah dipanggang di leaching dengan air
segar. Teh dapat larut diproduksi dengan menggunakan pelarut air dan daun
teh (Geankoplis, 1997: 724-725).
Setelah hal hal diatas dilaksanakan, ekstraksi dapat dilaksanakan. Ekstraksi
dihentikan apabila (Putry, 2016) :
1. Cairan yang tersirkulasi sudah tidak berwarna lagi ( bagi suatu bahan yang
disekstraksi mula mula memberikan cairan yang berwarna ).
2. Cairan yang tidak memberikan rasa yang sesuai denga rasa substransi yang
diekstraksi.
3. Memberikan reaksi yang negatif bila dilakukan reaksi identifikasi.
Keuntungan dari metode ini antara lain (Putry, 2016) :
1. Menggunakan penyari yang sedikit sebab penyari itu jugs yang akan digunakan
kembali untuk mengulang percobaan.
2. Uap panas tidak melalui simplisia, tetapi melalui pipa samping.
Kerugian dari metode ini (Putry, 2016) :
1. Tidak dapat menggunakan bahan yang mempunyai tekstur yang keras.
2. Pengerjaannya rumit dan agak lama, karena harus diuapkan di rotavapor untuk
mmeperoleh ekstrak kental.
BAB III
METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan

No Alat Bahan
1 Unit ekstraksi padat-cair Kemiri (1 kg)
2 Kunci-kunci pembuka wadah Air
3 Stopwatch Ethanol
4 Gelas piala plastik 1 liter
5 Pipa plastik
6 Tangga
7 Ember plastik 15 liter
8 Termometer

3.2 Rangkaian alat


3.3 Prosedur Kerja

Membuka katup katup air pendingin V1 dan V2 ke kondensor

Membuka tutup wadah dan memasukkan kertas saring disusul 900


gr Umpan Kemiri

Mengatur sudut sifon antara 60 0C

Mengisi labu utama dengan pelarut (etanol) sebanyak 30 liter dan

Membuka katup kukus V3 sampai tekanan menunjukan 1,5 bar

Setelah satu siklus atau tahap mengambil sampel dari ekstrak untuk
analisa

Analisa sebanyak 5x siklus dengan menimbang berat sampel+cawan, lalu oven


dan timbang kembali. Catat selisihnya

Mencatat laju dari kukus dan temperatur kondensat

Setelah selesai mematikan peralatan yang digunakan


.
BAB IV
DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
4.1 Data Pengamatan
Berat kemiri Sesudah di Tumbuk dan di sangrai : 900 kg
Volume Solvent (Ethanol) : 30 L
Tekanan : 1,5 Bar
Berat Ekstrak Total :
1. Berat Gelas kimia = 0,28 Kg
Berat Gelas kimia+ekstrak = 1,30 kg
Jadi, Berat ekstrak : 1300 gram 280 gram = 1020 gram
2. Berat Gelas kimia = 0,12 Kg
Berat Gelas kimia+ekstrak = 0,50 kg
Jadi, Berat ekstrak : 500 gram 120 gram = 380 gram

Total Berat ekstrak = 1020 gram + 380 gram = 1400 gram

Berat Rafinat =800 gram


Berat Minyak kemiri yang di dapat =155 mL x 0,93 gr/mL = 144,15
gram
Volume Total = Vol ekstrak + Vol Rafinat
= 1450 mL + 155 mL
= 1605 mL
= 1,605 L

Tabel 4.1 Tabel Laju massa kukus


Laju Kondensat
Laju Kondensat
Tahap Suhu Kondensat (C) (kg/Min) atau
(L/Min) atau Mkks
Mkks
1 62 0,36 0,353575
2 75 0,6 0,584892
3 67 0,42 0,409996
4 80 0,36 0,349859
5 79 0,51 0,495939

Tabel 4.2 Berat Sampel tiap siklus per 5 mL


Siklus Cawan Kosong (gram) Cawan + Berat Sampel Konsentrasi
Ekstrak (gram) (gram) minyak kemiri
(kg/L)
1 38,36 38,63 0,27 0,054
2 37,7 37,87 0,17 0,034
3 55,6 55,76 0,16 0,032
4 38,36 38,41 0,05 0,001
5 37,85 37,88 0,03 0,0006

4.2 Perhitungan
1. Menghitung Kalor Terpakai
Siklus 1
T = 62 C
P = 21,834 Kpa
Hf = 259,281 Kj/Kg
Hg = 2613,26 Kj/Kg
Hfg = 2353,98 Kj/Kg

Q = Mkks. hg Mkks.hf + Mkks.hfg


= (0,3535 . 2613,26) (0,3535 . 259,281) + (0,3535 . 2353,98)
= 1664,2635 Kj/Kg

Siklus 2
T= 75 C
Hf = 313,72 Kj/Kg (hasil interpolasi)
Hg = 2635,585 Kj/Kg (hasil interpolasi)
hfg = hg- hf
=2635,585 Kj/Kg-313,72 Kj/Kg
=2321,638 kj/kg

Q = Mkks. hg Mkks.hf + Mkks.hfg


= (0,5848 . 2635,385) (0,5848 . 313,72) + (0,5848 . 2321,638)
= 2715,4 Kj/Kg

Siklus 3
T= 67 C
Hf = 280,225 Kj/Kg (hasil interpolasi)
Hg = 2621,284 Kj/Kg (hasil interpolasi)
hfg = hg- hf
=2621,284 Kj/Kg-280,225 Kj/Kg
=2341,059 kj/kg

Q = Mkks. hg Mkks.hf + Mkks.hfg


= (0,4099 . 2621,284) (0,4099 . 280,225) + (0,4099 . 2341,059)
= 1919, 67 Kj/Kg

Siklus 4
T= 80 C
Hf = 334,696 Kj/Kg
Hg = 2643,69 Kj/Kg
Hfg = 2308,99 Kj/Kg

Q = Mkks. hg Mkks.hf + Mkks.hfg


= (0,3498 . 2643,69) (0,3498 . 334,696) + (0,3498 . 2308,99)
= 1615,371 Kj/Kg
Siklus 5
T= 79 C
Hf = 330,5 Kj/Kg (hasil interpolasi)
Hg = 5284,06 Kj/Kg (hasil interpolasi)
hfg = hg- hf
=5284,06 Kj/Kg-330,5 Kj/Kg
=2311,53 kj/kg

Q = Mkks. hg Mkks.hf + Mkks.hfg


= (0,4959 . 2642,03) (0,4959 . 330,5) + (0,4959.2311,53)
= 2292,5754 Kj/Kg

2. Efisiensi :
konsentrasi minyak kemiri tiap siklus
= 100 %
konsentrasi minyak total

Siklus 1
0,054
= 0,1216 100% = 44,41 %

Siklus 2
0,034
= 0,1216 100% = 28 %

Siklus 3
0,032
= 100% = 26,32%
0,1216

Siklus 4
0,001
= 0,1216 100% = 0,8 %
Siklus 5
0,0006
= 0,1216 100% = 0,5 %

3. Yield :

ekstrak
=
ekstrak + Rafinat

1400 gram
= 1400 gram+800 gram x 100 % = 63,6 %
BAB V

PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

5.1 Pembahasan
Pembahasan Oleh Noorma Nurmalasari (151411023)
Pada praktikum ini dilakukan percobaan ekstraksi padat-cair pada biji kemiri.
Tujuan dari percobaan ekstraksi padat-cair ini adalah mampu menjalankan
peralatan ekstraksi padat-cair dengan aman dan benar, mampu memahami
fenomena perpindahan massa, menghitung efisiensi tahap percobaan dan hasil
ekstraksi (yield) dan menghitung kalor terpakai dan kukus (steam) oleh pemanasan
terlarut.
Pada percobaan ekstraksi padat-cair hal yang dilakukan adalah mengekstraksi
pelarut secara padat-cair dimana sampel yang digunakan adalah kemiri yang telah
dihaluskan. Penghalusan kemiri dilakukan agar proses ekstraksi pelarut dapat
berjalan dengan baik sehingga pelarut dapat mengekstraksi lemak yang terdapat di
dalam sel kemiri tersebut. Sesuai dengan teori bahwa semakin kecil ukuran partikel
maka area terbesar antara padatan terhadap cairan memungkinkan terjadi kontak
secara tepat (Kurniawan, 2015). Lemak dalam buah kemiri diisolasi dengan metode
soxhletasi dan dimurnikan dengan metode destilasi.
Berdasarkan prinsip soxhletasi, sampel dimasukkan dalam saringan pada
peralatan ekstraksi dan pelarut akan menyaring kemiri tersebut secara
berkesinambungan. Pelarut yang digunakan adalah etanol dimana secara teori
pelarut yang digunakan harus memenuhi kriteria bahwa daya larut terhadap solute
cukup besar, dapat diregenerasi, dapat memuat solute dalam jumlah yang besar,
sama sekali tidak melarutkan diluen atau hanya sedikit melarutkan diluen dan antara
solven dan diluen harus memiliki perbedaan densitas yang besar (perry, 1997 dalam
Julistian, 2014). Penggunaan etanol dilakukan karena pelarut ini bersifat mudah
menguap dengan titik didih yang rendah dan merupakan pelarut yang dapat
melarutkan minyak atau lemak dengan baik sehingga cocok digunakan pada isolasi
lemak yang terkandung di dalam kemiri, etanol juga tidak mudah terbakar sehingga
bila bereaksi dengan udara tidak akan menimbulkan ledakan. Pemanasan pelarut
organik dilakukan selama 5 kali siklus atau sampai pelarut tidak berwarna lagi yang
berarti bahwa pelarut sudah tidak membawa komponen yang ingin diisolasi dan
juga secara teori ekstraksi dihentikan apabila cairan yang tersirkulasi sudah tidak
berwarna lagi (putry, 2016).
Pada setiap siklus dilakukan pengambilan sampel sebanyak 5 mL untuk
dilakukan penimbangan hingga berat nya konstan dengan sampel yang di dapat di
oven terlebih dahulu sebelum di timbang selama 10 menit. Hasil dari penimbangan
berat sampel dapat diketahui bahwa semakin lama siklus ekstraksi maka berat
sampel minyak kemiri yang di dapat semakin berkurang. Hal ini dikarenakan
semakin lama siklus ekstraksi maka minyak yang di dapat semakin berkurang
karena proses pemanasan oleh pelarut.
Pada proses ekstraksi ini diperoleh minyak yang bercampur dengan pelarut
yang digunakan yaitu etanol maka dilakukan pemisahan minyak dengan etanol
menggunakan metode destilasi. Dari data yang diperoleh dilakukan perhitungan
terhadap kalor yang terpakai. Secara teori semakin lama proses ekstraksi berjalan
maka kalor yang terpakai semakin besar. Namun, pada hasil yang kami dapatkan
pada siklus 3 dan 4 mengalami penurunan jumlah kalor yang terpakai dan
mengalami kenaikkan jumlah kalor yang terpakai kembali pada siklus ke 5, hal ini
disebabkan karena laju alir steam yang berubah-ubah dan suhu yang tidak stabil.
Selain itu juga, dari perhitungan efisiensi diperoleh efisiensi yang optimum pada
siklus 1, hal ini dikarenakan siklus 1 masih merupakan campuran murni sehingga
efisiensi yang didapatkan cukup besar yaitu 44,41%. Dari perhitungan efisiensi kita
dapat menyimpulkan bahwa ekstraksi tersebut lebih baik dilakukan sampai siklus
ke 3 karena siklus 4 dan siklus 5 efisiensi nya sangat kecil. Dari proses ekstraksi
tersebut diperoleh ekstrak dan rafinat yang digunakan untuk menghitung yield
sehingga diperoleh %yield nya sebesar 63,6%.

Pembahasan Oleh Rahmawati Sri Mulyani (151411024)


Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dapat dianalisa bahwa percobaan
ini adalah mengekstraksi minyak dalam padatan kemudian dengan cara
melarutkannya dalam pelarut. Pada percobaan ini digunakan Kemiri sebagai
umpan, minyak atau ekstrak dari kemiri akan di ambil dengan cara melarutkannya
pada solvent yaitu berupa ethanol yang kemudian akan menguapkannya sehingga
di dapatkanlah minyak /ekstrak murni dari biji kemiri tersebut. Proses leaching
sendiri terjadi pada basket (wadah) ekstraktor. Ketika bahan ekstraksi di campur
dengan pelarut, maka pelarut menembus kapiler-kapiler dalam bahan padat dan
melarutkan ekstrak.
Pada proses leaching ini terjadi peprindahan massa secara difusi dari
permukaan partikel ke zat pelarut.. Difusi merupakan salah satu peristiwa
perpindahan massa yang prosesnya sering juga dilakukan dalam industri-industri.
Proses difusi minimal melibatkan dua zat, salah satu zat berkonsentrasi lebih tinggi
daripada zat lainnya atau dapat dikatakan dalam kondisi belum setimbang,
Keadaan ini dapat menjadi driving force dari proses difusi. Karena pada dasarnya
tahapan pada proses Leaching sendiri adalah perubahan fase dari zat terlarut yang
diambil pada saat zat pelarut meresap masuk. Lalu terjadi proses difusi pada cairan
dari dalam partikel padat menuju keluar. Dan perpindahan zat terlarut dari padatan
ke zat pelarut.
Prinsip kerja alat leaching ini adalah dengan cara pelarutan Biji kemiri oleh
etanol kemudian di bawa turun kebawah untuk didestilasi dan diembunkan agar
proses yang berlangsung terjadi secara kontinyu dan akurat. Proses ini berlangsung
selama 4 jam dan mendapat 5 sirkulasi dalam waktu tersebut. Sirkulasi pada
proses ini yaitu dimulai dari umpan, minyaknya mulai menetes lalu melewati sifon
60o - 90o kemudian menuju labu yang berisi etanol. Pada alat leaching terdapat sifon
yang berfungsi untuk memperluas bidang kontak. Dalam labu, uap yang dihasilkan
akan naik keatas kondenser, cairan akan turun kebawah lalu dari labu minyak + air
+ etanol keluar dari bagian bawah menuju kukus dan terjadi sirkulasi kembali.
Sedangkan ekstrak yang didapat akan menetes kebagian bawah dekat kukus steam.
Percobaan ini menggunakan umpan 900 gram biji kemiri yang telah di tumbuk dan
dikeringkan. Tujuannya dikeringkan untuk mengurangi kadar air, adapun tujuan
ditumbuknya biji kemiri agar luas permukaan umpan (biji kemiri) lebih besar,
sehingga kontak dengan pelarut semakin luas dan proses leaching bisa berjalan
lebih cepat. Leaching kali ini dilakukan dalam 5 siklus. Setiap satu siklus, sampel
yang diambil ditimbang dan di oven untuk mengetahui berat sampelnya. Setelah
sirkulasi tercapai, maka hasil rafinat dan ekstrak ditimbang. Berat Ekstrak total
yang didapat adalah 1400 gram, sedangkan berat rafinat sebanyak 800 gram.
Adapun minyak kemiri yang didapat dari percobaan leaching biji kemiri ini
sebanyak 144,15 gram minyak kemiri. Efisiensi setiap siklusnya mengalami
penurunan yang cukup drastis, efiensi tertinggi terjadi pada tahap/siklus 1 yakni
sebesar 44,41 %. Sedangkan Yield yang dihasilkan sebesar 63,6 %.
Pada data pelepasan kalor proses ekstraksi padat-cair, didapatkan nilai kalor
yang berbeda pada setiap tahap/siklus.
Siklus Q (Kj/Kg)
1 1664,2635
2 2715,4
3 1919, 67
4 1615,371
5 2311,53

Adapun laju massa kukus yang didapatkan setiap siklusnya mengalami


fluktuatif. Produksi kukus tertinggi sebesar 0,584892 Kg/Menit pada tahap ke-2
dan produksi kukus terendah sebesar 0,349859 Kg/Menit pada tahap ke 4. Dari
data percobaan dapat dikatakan tidak sesuai dengan literatur yang diperoleh, karena
semakin lama proses leaching, maka laju kukus yang diperoleh semakin besar serta
kalor yang dilepaskanpun akan semakin banyak. Kondisi tesebut biasanya terjadi
karena performa alat yang tidak maksimal sewaktu proses leaching.. Pada saat
percobaan, pelarut (solvent) terkontaminasi oleh kotoran-kotoran dan adanya lumut
pada peralatan bagian dalam sehingga mengganggu kinerja peralatan dan proses
leaching. Penyimpangan juga dapat terjadi akibat kurang telitinya dalam
pembacaan suhu dan pengaturan tekanan (human eror) sehingga menyebabkan
steam dan panas yang dihasilkan fluktuatif setiap waktunya saat pengambilan
sempel dan pengukuran laju alir steam. Untuk mengatasi hal tersebut maka
diperlukan perawatan secara berkala pada ekstraktor-leaching dengan cara
memebersihkan bagian bagian yang dipenuhi lumut/kotoran, pada sistem
perpipaan, dan uni utilitas.

Pembahasan Oleh Renaldo Kastari (151411025)


Pembahasan Oleh Septian Hardi Prasetya (151411027)
Pembahasan Oleh Septiani Rasidah (151411028)
5.2 Kesimpulan
1. efisiensi yang paling baik adalah pada siklus 1 sebesar 44,41%
2. kalor yang terpakai mengalami naik turun (fluktuatif) di setiap siklus
Siklus Q (Kj/Kg)
1 1664,2635
2 2715,4
3 1919, 67
4 1615,371
5 2311,53

3. Semakin kecil ukuran kemiri maka kontak dengan pelarut akan semakin besar
4. Yield yang diperoleh sebesar 63,6%
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, imam.2013.Modul Ekstraksi Padat Cair. https://www .scribd. com/doc/17
7980494 /Modul-Ekstraksi-Padat-Cair [ 8 September 2017]
Kurniawan, Gilang.2015.Praktikum Leaching .http://www scribd.com/ document
/26972134 5/praktikum-leaching [ 8 september 2017]
Mahmud, Nur M.2014.Laporan Ekstraksi Padat Cair. https ://www .scribd.com /doc
/24535 5433/Laporan-Praktikum-Ekstraksi-Padat-Cair# [ 8 September 2017]
Putry, anggraini.2016.Ekstraksi Minyak Kemiri Dengan Metode Soxhlet. http ://
anggrainiputry17.blogspot.co.id/2016/01/ekstraksi-minyak-kemiri-dengan-metod
e.html [ 8 September 2017]