Anda di halaman 1dari 34

LABORATORIUM PILOT PLANT

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2019/2020

Modul : Falling Film Evaporator

Pembimbing : Lidya Elizabeth, ST., MT.

Tanggal Praktikum : 25 November 2019

Tanggal Pengumpulan Laporan : 02 Desember 2019

Oleh:
Kelompok : IX dan X
Nama : Nanda Hasri Dwirizky (171411087)
: Nisya Qonitta Zahra (171411088)
: Rianny Puspa Rismayani (171411089)
: Royfa Fenandita Finadzir (171411091)
: Awaludin Fitroh Rifa’i
Kelas : 3C-TK

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Evaporasi merupakan suatu proses yang dilakukan untuk mengurangi kandungan
pelarut di dalam suatu larutan yang terdapat dalam suatu larutan atau campuran. Alat
yang digunakan disebut dengan evaporator. Di dalam evaporator akan terjadi
penguapan pelarut sehingga akan dihasilkan dua produk berupa larutan pekat yang
pelarutnya sudah berkurang serta distilat yaitu uap pelarut yang telah dikondensasikan.
Salah satu jenis evaporator adalah falling film evaporator Keuntungan
menggunakan evaporator jenis ini adalah waktu kontak yang singkat dan tidak merusak
bahan karena pemanasan dilakukan pada suhu yang tidak terlalu tinggi (Elias, 2004
dalam Fitri, 2016). Suhu yang diperlukan tidak terlalu tinggi karena yang dilakukan
hanya mengirangi kadar pelarutnya, bukan menghilangkan pelarut dari suatu larutan
atau bahan.
Suhu yang digunakan untuk evaporasi juga perlu diketahui agar dapat
menentukan seberapa banyak pelarut yang akan diuapkan. Selain itu, perpindahan
panas dalam kolom FFE juga dihitung agar dapat menentukan banyaknya steam sebagai
pemanas yang diperlukan sehingga tidak terjadi pemborosan steam.
Aplikasi evaporasi biasa digunakan dalam industri susu yang menghasilkan
produk susu evaaporasi, industri minuman yang menghasilkan jus atau sari buah, dan
lain sebagainya. Dalam praktikum ini mahasiswa hanya mengamati perpindahan panas
yang terjadi dalam kolom kalandria (FFE).

1.2 Tujuan Praktikum


Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat:
1. Memahami prinsip evaporasi untuk proses pemekatan larutan.
2. Dapat mengoperasikan peralatan Falling Film Evaporator dengan pemanasan
uap air langsung dan tidak langsung.
3. Memilih temperatur dan tekanan yang optimum untuk umpan tertentu.
4. Menghitung koefisien perpindahan panas pada FFE/Kalandria.
5. Menghitung efisiensi penggunaan kukus (steam) seagai sumber panas.
6. Menjelaskan piranti pengendalian tekanan secara elektronis pada sistem
kontrol.
BAB II

LANDASAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Menurut Geankoplis (1997), evaporasi adalah proses untuk memekatkan suatu larutan
dengan menguapkan zat pelarutnya. Sedangkan evaporator adalah alat untuk menguapkan zat
pelarut pada suatu larutan. Sedangkan menurut Mc Cabe (1993), evaporasi atau penguapan
juga dapat didefinisikan sebagai perpindahan kalor ke dalam zat cair mendidih.
Sedangkan menurut Abudaris (2011), Evaporator adalah suatu alat di mana bahan
pendingin menguap dari carir menjadi gas. Melalui perpindahan panas dari ruangan di
sekitarnya ke dalam sistem. Panas tersebut lalu dibawa ke kompresor dan dikeluarkan lagi oleh
kondensor. Evaporator sering juga disebut cooling coil, boiler dan lain-lain, tergantung dari
bentuknya.Karena keperluan dari evaporator berbeda-beda, maka evaporator dibuat dalam
bermacam-macam bentuk, ukuran dan perencanaan. Evaporator juga dapat dibagi ke dalam
beberapa golongan dilihat dari konstruksinya, cara kerjanya, aliran bahan pendingin, macam
pengontrolan bahan pendingin dan pemakaiannya.

2.2 Faktor yang Mempengaruhi Evaporasi


Sifat kimia dan fisika larutan yang akan dipekatkan mempunyai pengaruh besar pada
jenis evaporator yang digunakan, menurut Geankoplis (1997) Berikut adalah sifat- sifat
penting dari zat cair yang dievaporasikan yang mempengaruhi proses evaporasi :
 Konsentrasi larutan
Biasanya umpan cair yang akan dipekatkan pada evaporator konsentrasinya encer,
memiiki viskositas rendah, hampir sama dengan air dan koefisien perpindahan panas
relatif tinggi. Selama proses penguapan, konsentrasi larutan dapat menjadi lebih pekat
sehingga dapat menyebabkan koefisien perpindahan panas menurun. Agar koefisien
perpindahan panas tidak menurun maka harus menaikkan sirkulasi produk dan
memperbesar turbulensi aliran udara.
 Kelarutan
Saat larutan dipanaskan maka konsentrasi zat terlarut atau garam meningkat, dan kristal
akan terbentuk. Kelarutan membatasi konsentrasi maksimum larutan yang dipekatkan.
 Kesensitifan bahan terhadap suhu
Banyak produk, khususnya minuman dan bahan biologi lainnya, yang mana sensitif
terhadap suhu, akan rusak ketika dipanaskan pada suhu tinggi.
 Busa
Pada beberapa bahan yang kental seperti susu skim, selama proses penguapan akan
menimbulkan busa, yang akan menyebabkan sebagian cairan terbawa dalam aliran uap.
 Tekanan dan suhu
Titik didih larutan berhubungan dengan tekanan pada sistem. Semakin besar tekanan
operasi pada evaporator menyebabkan titik didih larutan semakin tinggi.
 Pembentukan endapan dan bahan konstruksi
Beberapa larutan membentuk endapan yang disebabkan karena dekomposisi produk
atau kelarutannya menurun, sehingga menyebabkan penurunan koefisien perpindahan
panas. Bahan konstruksi untuk evaporator perlu diperhatikan unutuk meminimalkan
korosi. Maka dari itu harus sering dibersihkan.

2.3 Faktor yang Mempengaruhi Operasi Penguapan


Menurut Geankoplis (1997), faktor yang mempengaruhi operasi penguapan adalah:

a. Suhu umpan
Suhu umpan mempunyai pengaruh besar pada operasi evaporator. Apabila umpan yang
masuk dibawah suhu jenuhnya, maka diperlukan pemanasan awal pada umpan sebelum
terjadi penguapan sehingga diperlukan luas perpindahan panas untuk pemanasan awal.
Jika umpan yang masuk suhunya diatas suhu jenuh, akan terjadi penguapan secara
flash.
b. Tekanan operasi
Dalam beberapa hal diharapkan driving force perbedaan suhu yang besar, karena
semakin besar driving force perbedaan suhu, luas perpindahan panas dan biaya
penguapan semakin menurun. Biasanya digunakan unit penghampaan untuk
menurunkan tekanan operasi. Selain itu dapat juga dengan penghembusan uap-gas
untuk menurunkan tekanan parsial uap.
c. Suhu media pemanas
Semakin besar suhu media pemanas yang digunakan semakin besar perbedaan suhunya,
yang akan menyebabkan semakin kecil luas perpindahan panas. Sehingga ukuran dan
biaya evaporator menjadi kecil.
d. Waktu tinggal
Semakin lama waktu tinggal menyebabkan semakin banyak terjadi penguapan. Tetapi
untuk bahan yang sensitif terhadap panas, waktu tinggal yang terlalu lama harus
dihindari karena akan merusak larutan yang akan dipekatkan.
e. Turbulensi
Adanya turbulensi dapat menaikkan koefisien perpindahan panas karena adanya
konveksi.
f. Kerak
Kerak dan bahan konstruksi; beberapa bahan dapat mudah membentuk kerak pada
permukaan pemanas akibat dekomposisi ataupun penururnan kelarutan. Ini akan
menyebabkan penurunan koefisien perpindahan panas. Sedangkan bahan konstruksi
evaporator hendaknya dipilih yang tidak mudah terkorosi dan tahan secara mekanik
maupun panas.
g. Foaming
Pembusaan (foaming); beberapa bahan yang mengandung soda, lerutan susu dan asam
lemak dapat membentuk busa selama pendidihan. Hal ini akan menghambat
pembentukan dan pengeluaran uap sehingga terjadi tumpahan (entrainment).

2.4 Tipe-tipe Evaporator


Beberapa tipe evaporator antara lain :
a. Batch Pan
Pada umumnya digunakan untuk evaporasi minyak bumi, tipe ini adalah metode yang
paling tua digunakan. Membutuhkan waktu evaporasi yang cukup lama. Batch Pan bisa
menggunakan model pemanas external shell and tube heater. Luas perpindahan panas
umumnya cukup sempit tergantung pada volume vessel dan koefisien perpindahan
panas umumnya rendah dibawah kondisi konveksi alamiah. Biasanya digunakan untuk
evaporasi kapasitas rendah.
b. Tubular Evaporator
 Natural Circulation
Evaporasi dengan menggunakan natural circulation di tujukan untuk penggunaan
beberapa tube yang pendek pada bagian batch pan, atau dengan menggunakan
external shell and tube heater dibagian luar dari vessel utama. Aplikasi yang
paling umum pada tipe ini adalah sebagai unit reboiler pada bagian bawah kolom
distilasi.
 Rising Film Tubular
Sistemnya menggunakan tube yang vertikal dengan steam yang di kondensasi
pada bagian luar permukaan. Larutan pada bagian tube di didihkan, dengan uap
yang di generasikan pada bagian dalam tube. Pada perkembangannya tipe ini
dijadikan sebagai perubahan besar-besaran pada evaporator terutama pada
kualitas produk. Pada laju alir yang lebih tinggi menghasilkan film larutan yang
tipis dan bergerak lebih cepat pada bagian tube. Ini menghasilkan koefisien
perpindahan panas yang lebih tinggi dan waktu tinggal produk lebih cepat.
 Falling film Evaporator
Pada umumnya tidak terlalu memiliki perbedaan suhu yang terlalu besar, biasanya
digunakan untuk pemisahan komponen yang sensitif terhadap panas,
membutuhkan pressure drop yang rendah diperlukan perbedaan suhu sebagai
driving force yang rendah juga. Dimana sistemnya cairan masuk pada bagian atas
tube dan mengalir ke bawah pada dindingnya sebagai film yang tipis. Pemisahan
larutan dan uap umumnya terjadi di bagian bawah, sehingga ini adalah alasan
falling film evaporator ini digunakan secara luas untuk mengentalkan material
yang sensitif.
 Forced Circulation Evaporator
Dikembangkan untuk memproses cairan dimana cairan tersebut mudah terjadi
kerak atau mengkristal. Cairan disirkulasi dengan laju yang cepat pada heat.
c. Plate Type Evaporator
Plate Evaporator dikembangkan sebagai alternatif dari sistem turbular. Pada plate
evaporator diperoleh permukaan perpindahan panas yang lebar sehingga bisa di
peroleh kapasitas yang tinggi, serta diperoleh waktu tinggal yang rendah.

2.5 Konsep Dasar Perhitungan Perpindahan Massa dan Panas Single Effect Evaporator
Menurut Geankoplis (1997), persamaan-persamaan ataupun rumus-rumus untuk
perhitungan kapasitas pada single effect evaporator diturunkan dari persamaan dan rumus dasar
perpindahan panas dan massa sebagai berikut :

Q = U. A. ΔT ........................................................(1)
Dimana :
Q : jumlah panas yang berpindah dalam evaporator (W atau btu/h)
U : koefisien perpindahan panas overall (W/m2 K atau btu/h.ft3.oF)
A : luas penampang perpindahan panas (m2 atau ft2)
ΔT : beda suhu antara steam jenuh dan cairan yang mendidih dalam
evaporator (K atau oC atau oF)
Untuk menyelesaikan persamaan diatas, dibuat neraca massa dan panas evaporator
yang digambarkan seperti pada flow diagram berikut :

Hs

Gambar 2.1 Single Effect Evaporator


Dimana :
F : Feed (kg/h atau lbm/h)
Tf : Suhu masuk feed (K atau oC atau oF)
Xf : Fraksi massa zat terlarut dalam feed
hf : Entalpi dari feed (J/kg atau btu/lbm)
L : Produk (concentration liquid)(kg/h atau lbm/h)
T1 : Suhu liquid dalam evaporator = suhu produk = suhu uap hasil
evaporasi (K atau oC atau oF)
xL : Fraksi massa zat terlarut dalam produk
hL : Entalpi dari produk (J/kg atau btu/lbm)
V : Uap hasil evaporasi (kg/h atau lbm/h)
yv : Fraksi massa zat terlarut dalam uap hasil evaporasi (yV = 0)
HV : Entalpi uap hasil evaporasi (J/kg atau btu/lbm)
S : Steam jenuh masuk = kondensat keluar (kg/h atau lbm/h)
Ts : Suhu steam jenuh masuk = suhu kondensat keluar (isoterm)
(K atau oC atau oF)
Hs : Entalpi steam masuk (J/kg atau btu/lbm)
hs : Entalpi kondensat keluar (J/kg atau btu/lbm)

Dari steam yang masuk dan kondensat yang keluar (isotermal), ini berarti panas yang
dipakai untuk penguapan hanya diambil dari panas laten (panas pengembunan) dari steam
tersebut yang berarti :

λ = Hs – hs ........................................................(2)

Suhu uap keluar dan suhu produk serta suhu liquid dalam evaporator adalah sama,
karena uap (V) dan liquid (L) berada dalam kesetimbangan. Neraca massa untuk proses diatas
(anggap steady state) dapat dituiskan :

Rate of mass in = rate of mass out ................................(3)

Sehingga neraca massa totalnya:

F = L......................................................(4)
+V

Dan neraca komponen (solute) nya :

F.xF = ....................................................(5)
L xL

(karena yV=0, maka V. yV=0)


Sedangkan neraca energinya dapat ditulis :

Input-output = akumulasi ...........................................(6)

Asumsi steady state maka akumulasi = 0, sehingga persamaan diatas dapat ditulis:
.
Total energi masuk = Total energi keluar ................................(7)

Dalam evaporator neraca energi dapat ditulis dengan persamaan dibawah ini:
.................................(8)
F. hF + S.Hs = L.hL + V.HV + S.hs

Substitus persamaan (2) ke persamaan (7) di dapat :

F.hF + S.λ = L.hL + V.Hv........................................(9)


Dan panas yang berpindah dalam evaporator adalah :

q = S (Hs – hs) =............................................(10)


S.λ

Pada persamaan-persamaan diatas, panas laten steam (λ) pada suhu steam jenuh Ts
mudah di dapat dari tabel. Tetapi entalpi dari feed dan produk sulit dicari karena memang sering
datanya tidak tersedia. Untuk itu maka kadang-kadang perlu dilakukan aproksimasi untuk
dapat menyelesaikan perhitungan diatas.

Implementasi Perhitungan Perpindahan Massa dan Panas Falling Film Evaporator


Dalam Praktikum

Gambar II.2 Skema alat Falling Film Evaporator


Keterangan :
T4 : Temperatur steam masuk kolom FFE
T6 : Temperatur pendingin keluar
T7 : Temperatur feed masuk
T8 : Temperatur kondensat keluar
T10 : Temperatur uap pelarut
T11 : Temperatur larutan pekat
T12 : Temperatur distilat (kondensasi pelarut)
T14 : Temperatur pendingin masuk
Neraca massa pada kalandria adalah sebagai berikut:

m1 = m2 + m3

dimana
m1 = laju umpan (feed) dalam kg/jam yang dihitung dari hasil kalibrasi
m2 = laju larutan pekat dalam kg/jam
m3 = laju uap pelarut dalam kg/jam yang dihitung dari laju kondensat pelarut

Neraca panas pada kalandria untuk sistem pemanasan uap air panas langsung adalah
sebagai berikut:

Q feed = m1 Cp (T11 – T7) + m3 (Hv – Hl) pada suhu T11


Q steam = ms (Hv – Hl) pada tekanan steam

Efisiensi kalandria dihitung dengan rumus:

Q feed m1 Cp (T11 – T7) + m3 (Hv – Hl) pada suhu T11


η= =
Q steam ms (Hv – Hl) pada (Pop+1)bar

Overall heat transfer coefficient, U dihitung dengan rumus:

Q steam
U=
A𝜟𝑻𝒎 dimana A, luas perpindahan panas = 0,21 m2

Dan ΔTm, log mean temperature difference dihitung dengan rumus:

Th1
Th2
∆T1 - ∆T2
ΔT2
ΔTm = ∆T1
ΔT1
ln
∆T2
Tc2

Tc1
Neraca panas pada kalandria untuk sistem pemanasan uap air panas tidak langsung
adalah sebagai berikut:

Q feed = m1 Cp (T11 – T7) + m3 (Hv – Hl) pada suhu T11


Q air panas = map Cp (T8 – T4)

Efisiensi kalandria dihitung dengan rumus:

Q feed m1 Cp (T11 – T7) + m3 (Hv – Hl) pada suhu T11


η= =
Q air panas map Cp (𝑻𝟖 – 𝑻𝟒 )

Overall heat transfer coefficient, U dihitung dengan rumus:

Q steam
U=
A𝜟𝑻𝒎 dimana A, luas perpindahan panas = 0,21 m2
Dan ΔTm, log mean temperature difference dihitung dengan rumus:

Th1

ΔT1 Th2
∆T1 - ∆T2
Tc2 ΔT2
ΔTm = ∆T1
ln
∆T2

Tc1

Proses pemanasan langsung dilakukan untuk bahan-bahan yang dipekatkan yang tahan
temperature tinggi sedangkan pemanasan tak langsung untuk bahan-bahan yg tidak tahan
dengan temperature tinggi (misal sari buah dan susu),kadang-kadang dbantu dengan tekanan
vakum untuk menjaga kualitas bahan yang dipekatkan.
Falling film evaporator memiliki waktu tertahan yang pendek, dan menggunakan gravitasi
untuk mengalirkan liquida yang melalui pipa. Pada saat sekarang ini falling film evaporator
sangat meningkat penggunaanya di dalam proses industri kimia untuk memekatkan fluida
terutama fluida yang sensitif panas (misal sari buah dan susu), karena waktu tertahan pendek,
cairan tidak mengalami pemanasan berlebih selama mengalir melalui evaporator.
BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat yang Digunakan
1. Unit Falling Film Evaporator
3.1.2 Bahan yang Digunakan
1. Air umpan berisi air keran diisikan hingga tangka umpan penuh ditambah 5 gram
CaCl2 dan pewarnaan EBT (untuk pemanasan langsung dan tidak langsung)
2. Ember plastic 15 L sebanyak dua buah
3. Gelas ukur plastic 2000 mL/1000 mL dua buah
4. Sarung tangan, helm, kaca mata pengaman dan jas lab
3.2 Skema Alat Falling Film Evaporator

Gambar 3.1 Skema Alat Falling Film Evaporator


3.3 Diagram Alir Percobaan
3.3.1 Start Up

Mulai

Memutar saklar utama merah


ke kanan

Memutar saklar instrumen


hitam ke posisi ON

Selesai

3.3.2 Bukaan Katup dengan Menggunakan Pemanasan Steam Langsung

Mulai

Buka katup V3 dan V10

Tutup katup V2, V5,


V6 dan V7

Selesai

3.3.3 Bukaan Katup dengan Menggunakan Pemanasan Steam Tidak Langsung

Mulai

Buka katup V5 dan V6 (hanya


dibuka pada saat awal pengisian
air ke sistem sirkulasi tertutup)

Tutup katup V3, V10,


V4 dan V6

Selesai
3.3.4 Proses Evaporasi

Isi tangki umpan


Nyalakan air
dengan sampai kira-
Mulai pendingin dengan
kira 3/4 volume
membuka katup V15
tangki

Lakukan pembukaan
dan penutupan katup
Nyalakan pompa P2
sesuai dengan Buka katup V12 dan
dengan menekan di
pemanasan steam V14
kontrol panel
langsung atau tidak
langsung

Setelah umpan Atur katup


melewati kalandria, pengendali otomatis
Selesai
buka katup utama pada panel dengan set
(V1) point 25-1 bar

3.3.5 Pengaturan Katup Pengendali Otomatis pada PIC-1


Tekan atau atur
Tekan tombol
Tekan tombol tombol 12.1 dan
8 sampai
Mulai 13 sampai 12.2 untuk
lampu hijau
lampu hijau mendapatkan angka
[SP-W]
0,25 - 1 bar

Matikan atau tekan tombol 10 Tekan tombol


Tekan tombol
warna kuning bila dalam keadaan 8 sampai
13 hingga
menyala, sekarang beroperasi lampu merah
lampu mati
secara otomatis [PV-X]

Selesai
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Percobaan


4.1.1 Data Hasil Kalibrasi Laju Alir Umpan
Laju feed (L/h) Kalibrasi I (Kg/h) Kalibrasi 2 (Kg/h) Rata-Rata
50 117.72 116.28 117
75 141.48 144 142.74
100 187.2 186.12 186.66

4.1.2 Data Pengamatan Laju Alir Massa


a) Pemanasan Langsung

Laju larutan Laju uap


Laju Umpan Laju alir steam
P (bar) q (L/h) pekat pelarut
m1 (kg/h) ms (kg/h)
m2 (kg/h) m3 (kg/h)
1 50 117 31.14 75.6 6.48
1 75 142.74 30.6 131.4 11.88
1 100 186.66 48.42 171 4.14

b) Pemanasan Tidak langsung

Laju larutan Laju uap


Laju Umpan
P (bar) q (L/h) Laju alir steam pekat pelarut
m1 (kg/h)
ms (kg/h) m2 (kg/h) m3 (kg/h)
1 50 117 38.88 115.74 3.6
1 75 142.74 38.16 140.94 1.08
1 100 186.66 22.86 170.82 1.08

4.1.3 Data Pengamatan Suhu


a) Pemanasan Langsung

P (bar) q (L/h) T4 T6 T7 T8 T10 T11 T12 T14


1 50 128.7 29 25.5 85 97.2 98 34 40.9
1 75 123 26.3 28.1 90 97.7 99 31 39.6
1 100 119 24.5 27.7 92 93.8 99 29 39.5

b) Pemanasan Tidak langsung

P (bar) q (L/h) T4 T6 T7 T8 T10 T11 T12 T14


1 50 108.8 24.9 27.4 90 89.2 99 29 39.8
1 75 101.5 24.4 27.3 90 66.6 95 29 40
1 100 102.6 28 27.7 190 66.3 95 28 40.3

4.1.4 Data Hasil Perhitungan


a) Pemanasan Langsung

P q Efisiensi U
SE
(bar) (L/h) (%) (kWatt/m2.K)
1 50 73,31148 19288,89 0.208092
1 75 102,8642 19281,17 0.388235
1 100 61,14869 30378,51 0.085502

b) Pemanasan Tidak langsung

P q Efisiensi U
SE
(bar) (L/h) (%) (kWatt/m2.K)
1 50 225,4658 1143,312 0.092593
1 75 259,0398 1031,975 0.028302
1 100 534,113 631,6053 0.047244

4.1.5 Grafik Hubungan Effisiensi terhadap Laju Alir Umpan


a) Pemanasan Uap Air Panas Langsung (Steam)

Grafik ɳ (%) vs q (L/h)


120

100

80
ɳ (%)

60

40

20

0
0 20 40 60 80 100 120
q (L/h)

Gambar 4.1.5.1 Grafik Hubungan Effisiensi terhadap Laju Alir Umpan pada
Pemanasan Uap Air Panas Langsung
b) Pemanasan Uap Air Panas Tidak Langsung

Grafik ɳ (%) vs q (L/h

600

500

400
ɳ (%)

300

200

100

0
0 20 40 q (L/h)
60 80 100 120

Gambar 4.1.5.2 Grafik Hubungan Effisiensi terhadap Laju Alir Umpan pada
Pemanasan Uap Air Panas Tidak Langsung

4.1.6 Grafik Hubungan Koefisiensi Perpindahan Keseluruhan terhadap Laju


Alir Umpan

a) Pemanasan Uap Air Panas Langsung (Steam)

Grafik U (W/m2.h) vs q (L/h)


35000

30000

25000
U (W/m2.°C)

20000

15000

10000

5000

0
0 20 40 60 80 100 120
q (L/h)

Gambar 4.1.6.1 Grafik Hubungan Koefisiensi Perpindahan Keseluruhan


terhadap Laju Alir Umpan pada Pemanasan Uap Air Panas Langsung
b) Pemasan Uap Air Panas Tidak Langsung

Grafik U (W/m2.h) vs q (L/h)


1,400

1,200

1,000
U (W/m2.°C)
800

600

400

200

0
0 20 40 60 80 100 120
q (L/h)

Gambar 4.1.6.2 Grafik Hubungan Koefisiensi Perpindahan Keseluruhan


terhadap Laju Alir Umpan pada Pemanasan Uap Air Panas Tidak Langsung

4.1.6 Hubungan Steam Ekonomi terhadap Laju Alir Umpan


a) Pemanasan Uap Air Panas Langsung (Steam)

Grafik SE vs q (L/h)
0.45
0.4
SE (kg uap / kg steam)

0.35
0.3
0.25
0.2
0.15
0.1
0.05
0
0 20 40 60 80 100 120
q (L/h)

Gambar 4.1.7.1 Grafik Hubungan Steam Ekonomi terhadap Laju Alir Umpan
pada Pemanasan Uap Air Panas Langsung
5 Pemanasan Uap Air Panas Tidak Langsung

Grafik SE vs q (L/h)
0.1
0.09

SE (kg uap / kg steam)


0.08
0.07
0.06
0.05
0.04
0.03
0.02
0.01
0
0 20 40 60 80 100 120
q (L/h)

Gambar 4.1.7.2 Grafik Hubungan Steam Ekonomi terhadap Laju Alir Umpan
pada Pemanasan Uap Air Panas Tidak Langsung

4.2 Pembahasan
Oleh Nanda Hasri Dwirizky (171411087)

Falling film evaporator (FFE) merupakan proses pemekatan suatu larutan dimana
umpan dialirkan ke atas kolom kalandria dan jatuh ke dalam tube-tube sehingga membentuk
lapisan film dengan dialirkan pemanas. Pembentukan lapisan film ini bertujuan agar proses
penguapan lebih efektif. Pada saat umpan memasuki tube-tube dan membentuk lapisan tipis,
tekanan dari umpan akan meningkat dan penguapan akan terjadi pada suhu yang rendah.
Pemanasan yang dilakukan dapat secara langsung maupun tidak langsung. Untuk pemanasan
langsung menggunakan aliran steam, sedangkan untuk pemanasan tidak langsung
menggunakan aliran air panas yang telah menyerap panas dari steam. Pemanasan
menggunakan steam, tipe aliran prosesnya yaitu co-current (searah), sedangkan pemanasan
dengan air panas tipe aliran prosesnya counter current (berlawanan arah). Hal ini menyebabkan
kontak umpan dengan air panas lebih lama, sehingga perpindahan kalor akan lebih efisiensi.

Pada praktikum ini tidak melakukan suatu proses pemekatan pada larutan, melainkan
pengamatan proses perpindahan panas yang terjadi di dalam kalandria antara pemanas dengan
umpan. Umpan yang digunakan yaitu air keran. Kondisi operasi yang digunakan yaitu tekanan
steam pada 1 bar, serta variasi laju alir umpan sebesar 50,75,100 L/h. Pertama dilakukan proses
FFE dengan pemanasan langsung. Pemanasan langsung ini dengan aliran steam. Berdasarkan
data pengamatan, efisiensi optimum terjadi pada laju alir umpan sebsar 75 L/h yaitu dengan
nilai efisiensi sebesar 102,86%. Hal ini menandakan bahwa umpan telah menyerap banyak
kalor yang diberikan oleh steam. Namun pada laju alir umpan 100 L/h, efisiensinya menurun
hingga 61,14%, hal ini karena laju alir umpan yang terlalu besar menyebabkan tidak
terbentuknya lapisan film pada tube, sehingga banyak umpan yang jatuh tanpa menyerap panas.
Pada proses pemanasan tidak langsung yaitu dengan air panas, dari data pengamatan
didapatkan bahwa semakin tinggi laju alir umpan maka semakin tinggi efisiensi perpindahan
panasnya. Hal ini karena tipe alirannya counter current, kontak antara air panas dengan lapisan
film di dalam tube lebih lama, sehingga umpan dapat menyerap kalor dengan efisien. Efisiensi
optimum terjadi pada laju alir umpan 100 L/h dengan efisiensi sebesar 534,1 %.

Koefisien perpindahan panas keseluruhan (U) berhubungan terbalik dengan efisiensi


perpindahan panas, yaitu semakin tinggi nilai efisiensi, maka nilai U akan semakin kecil, dan
semakin kecil nilai efisiensi maka nilai U akan semakin besar. Koefisien perpindahan panas
menunjukkan besarnya panas yang digunakan untuk menguapkan umpan. Maka semakin besar
nilai kalor steam yang dilepas, koefisien perpindahan panas keseluruhan akan semakin besar
pula. Pada sistem pemanasan langsung nilai koefisien perpindahan panas keseluruhan yang
maksimum terjadi pada laju alir umpan 100 L/h, yaitu sebesar 30378,51 kW/m2.K. Hal ini
karena kalor yang dilepaskan oleh steam, tidak diserap dengan maksimum oleh air umpan
karena laju alir yang terlalu besar sehingga banyak steam yang terlepas ke lingkungan.
Sedangkan pada sistem pemanasan tidak langsung, koefisien perpindahan panas keseluruhan
yang maksimum pada laju alir umpan 50 L/h, yaitu sebesar 1143,31 kW/m2.K. Hal ini karena
lapisan film yang terbentuk terlalu tipis sehingga penyerapan kalornya tidak maksimal.

Steam ekonomi adalah perbandingan jumlah uap pelarut dengan kebutuhan steam. Nilai
steam ekonomi yang tinggi menggambarkan bahwa pemakaian steam yang sedikit dapat
memanaskan umpan yang lebih banyak. Berdasarkan hasil perhitungan, nilai steam ekonomi
yang optimum terjadi pada proses pemanasan langsung dengan laju alir umpan sebesar 75 L/h
dengan nilai steam ekonomi sebesar 0,3882 kg uap pelarut/kg steam yang digunakan. Nilai
steam ekonomi yang rendah menandakan bahwa steam yang dibutuhkan lebih banyak untuk
menguapkan pelarut dalam umpan, dan hal itu terjadi pada proses pemanasan tidak langsung
dengan laju alir umpan 75 L/h dan nilai steam ekonominya sebesar 0,0283 kg uap pelarut/kg
steam yang digunakan. Hal ini karena steam tidak berkontak langsung dengan kolom kalandria
dan harus memanaskan air dingin yang nantinya akan menjadi air panas, sehingga
membutuhkan steam yang tinggi agar dapat memanaskan air dingin.
Maka berdasarkan hasil praktikum, perpindahan panas optimum pada FFE terjadi pada
pemanasan langsung dengan laju alir umpan sebesar 75 L/h, dengan efisiensi 102,86% dan
steam ekonomi sebesar 0,3882 kg uap pelarut/kg steam yang digunakan.

Oleh Nisya Qonitta Zahra (171411088)

Proses pemekatan bisa dilakukan menggunakan alat falling film evaporator. Prinsip
kerja dari alat ini yaitu umpan dimasukkan dari atas dan akan masuk ke kolom kalandria.
Dengan penambahan pemanasan, pelarut yang ada di dalam umpan akan menguap dan
menyisakan larutan fasa uap pelarut dan larutan pekat.

Pada praktikum kali ini dilakukan proses percobaan dengan jenis media pemanas
langsung (steam) dan tidak langsung (air panas). Umpan yang dimasukkan berupa air yang
akan dipekatkan menjadi akuades. Kondisi operasi yang digunakan yaitu pada 1 bar dengan
variasi laju alir umpan sebesar 50, 75, dan 100 L/jam. Pada awal proses dilakukan kalibrasi
untuk mengukur kondisi sebenarnya dari laju alir umpan.

Pemanasan langsung berasal dari uap panas (steam) yang akan mengalir dari atas
sehingga pada proses ini terjadi kontak secara co-current. Sedangkan pemanasan tidak
langsung dengan media air panas akan berkontak dengan umpan secara counter-current
dikarenakan media ini berupa air yang jika dikontakkan dari atas akan memperkecil waktu
tinggal karena sifatnya yang mengalir. Sehingga pengaliran pemanas dilakukan dari bawah
agar waktu kotak anatara umpan dan pemanasa bisa berlangsung lebih lama. Berdasarkan data
pengolahan, dapat dihitung nilai SE, efisiensi proses, dan nilai overall heat transfer (U).

Perubahan laju alir umpan akan mempengaruhi nilai karakteristik tersebut. Pada
gambar 4.1.5.1, nilai efisiensi optimum berada pada saat laju alir umpan 75 L/h sebesar
102,8%. Dengan penambahan laju alir menjadi 100 L/h tidak bisa meningkatkan efisiensi
proses, hal ini bisa disebabkan karena jumlah umpan yang masuk terlalu besar sehingga
menyebabkan tidak terbentuk lapisan tipis pada kalandria tube. Sedangkan untuk pemanasan
tidak langsung dilihat dari gambar 4.1.5.2 semakin besar laju alir umpan maka efisiensi akan
semakin besar juga hal ini dikarenakan semakin banyak umpan yang berkontak dengan
pemanas dan waktu tinggal nya lebih lama sehingga umpan bisa menyerap kalor lebih efisien.
Nilai optimum efisiensi sebesar 534,1% pada saat laju alir umpan 100 L/h. Efisiensi yang
sangat besar ini disbebakan karena proses pemanasan tidak terkendali dari katup steam nya
yang tidak konstan pada tekanan 1 bar.

Nilai U menunjukan seberapa banyak panas yang dibutuhkan untuk menguapkan


umpan. Nilai U yang didapat berbanding terbalik dengan efisiensi, dimana semakin besar
efisiensi maka nilai U akan semakin kecil dan sebaliknya. Dari gambar 4.1.6.1 pada sistem
pemanas langsung didapatkan nilai U terbesar pada saat kondisi laju alir umpan 100L/h sebesar
30378,51 kW/m2.K. Hal ini disebabkan karena semakin banyak nilai kalor steam yang dilepas
tetapi pada kondisi ini tidak meningkatkan efisiensi. Hal ini menunjukkan bahwa panas tidak
diserap secara maksimum oleh umpan sehingga menyebabkan panas banyak yang terlepas ke
lingkungan. Sedangkan pada sistem pemanas tidak langsung, nilai U terbesar pada laju alir
terkecil yaitu 50 L/h sebesar 1143,31 kW/m2.K.

Nilai Steam Ekonomi (SE) menunjukkan kemampuan dari media pemanas untuk
menguapkan sejumlah massa pelarut dalam proses evaporasi. Dari gambar 4.1.7.1 dapat
dilihat bahwa nilai SE terbesar pada kondisi 75 L/h sebesar 0,3882 kg uap pelarut/kg steam
yang digunakan. Nilai SE terendah pada saat kondisi laju alir umpan 100 L/h yang berarti perlu
steam yang lebih banyak untuk menguapkan pelarut dalam umpan nya. Sedangkan pada
pemanasan tidak langsung (gambar 4.1.7.2), nilai SE terbesar pada kondisi 50 L/h sebesar
0,092593 kg uap pelarut/kg steam yang digunakan. Nilai SE pada pemanasan tidak langsung
lebih kecil dibandingkan pemanasan langsung. Hal ini dikarenakan steam yang digunakan tidak
berkontak langsung dengan kolom dan digunakan untuk memanaskan air dingin menjadi air
panas dalam heater.

Apabila kedua sistem pemanas dibandingkan, sistem pemanasan langsung


menghasilkan proes perpindahan panas yang optimum pada kondisi laju alir umpan 75 L/h dan
menghasilkan efisiensi proses yang besar sebesar 102,86% dengan penggunaan SE sebesar
0,3882 kg uap pelarut/kg steam yang digunakan.

Oleh Rianny Puspa Rismayani (171411089)

Praktikum kali ini dilakukan proses pemekatan air dengan menggunakan alat Falling
Film Evaporator. Prinsip kerja dari alat ini adalah penguapan dengan cara menjatuhkanbahan
umpan beruapa larutan encer ke dalam kolom Calndria Shell and Tube dari atas ke bawah
yang akan membentuk lapisan tipis. Umpan akan turun secara gravitasi yang akan menyerap
panas dari kolom calandria sehinga akan membentuk 2 fasa dimana pelarut akan manjadi uap
dan terbentuk juga larutan pekat. Pemanasan pada proses ini dilakukan dengan 2 metode yaitu
pemanasan langsung maupun tidak langsung. Pemanasan langsung dengan media pemanas
berupa steam dan mengalir secara co current sedangkan media pemanas tidak lansgung
menggunakan air yang dipanaskan oleh steam menjadi air panas bertekanan dna dialirkan
secara counter current.

a. Pemanasan Langsung

Berdasarkan grafik , 4.1.5.1 bahwa Hubungan Effisiensi terhadap Laju Alir Umpan
bernilai fluktuatif hal ini mungkin dapat terjadi karena tekanan steam yang berubah-ubah ketika
proses. Adapun efisiensi optimumnya terjadi pada laju alir 75 L/h yaitu 102%. Ini menunjukan
bahwa semua panas steam diserap oleh air umpan. Namun ketika laju alir berubah naik menjadi
100 L/h efisiensi perpindahan panas justru menurun menjadi 61%. Hal ini mungkin dapat
terjadi karena umpan yang jatuh tidak menyerap panas steam dengan baik.

Sedangkan berdasarkan grafik 4.1.6.1 bahwa Grafik Hubungan Koefisiensi


Perpindahan Keseluruhan terhadap Laju Alir Umpan cenderung meningkat . Hal ini
menandakan bahwa semakin tinggi laju alir umpan, koefisien perpindahan panas overall nya
akan meningkat pula. Artinya semakin tinggi laju alir proses maka perpindahan panasnya
semakin baik. Koefisien perpindahan panas menunjukkan besarnya panas yang digunakan
untuk menguapkan suatu fluida. Adapun nilai koefisien perpindahan panas keseluruhan
optimum yang diperoleh yaitu pada laju alir umpan 100 L/h, yaitu sebesar 30378,51 kW/m2.K.

Parameter yang terakhir mengenai steam ekonomi. Steam ekonomi adalah


perbandingan anatar steam yang dibutuhkan untuk mneghasilkan jumlah uap pelarut.
Berdasarkan grafik 4.1.7.1 bahwa Hubungan Steam Ekonomi terhadap Laju Alir Umpan
bernilai fluktuatif. Hal ini dapat terjadi karena tekanan steam yang masuk tidak konstan dan
selalu berubah-rubah. Adapun nilai stema ekonomi optimum yang diproleh yaitu pada laju alir
75 L/h sebesar 0.388235 kg uap pelarut/kg steam yang digunakan.

b) Pemanasan Tidak Langsung

Media pemanas tidak lansgung menggunakan air yang dipanaskan oleh steam menjadi
air panas bertekanan dna dialirkan secara counter current.

Berdasarkan grafik , 4.1.5.2 bahwa Hubungan Effisiensi terhadap Laju Alir Umpan
cenderung meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar laju alir maka semakin besar
pula efisiensi yan diperoleh. Adapun efisiensi optimumnya terjadi pada laju alir 100 L/h yaitu
534%. Efisiensi yang diperoleh pda setiap laju alir nilainya melebihi 100%, Ini menunjukan
bahwa steam yang masuk tidak konstan sehingga suhu pemanasan tidak dapat dikendalikan .

Sedangkan berdasarkan grafik 4.1.6.2 bahwa Grafik Hubungan Koefisiensi


Perpindahan Keseluruhan terhadap Laju Alir Umpan cenderung menurun, berbanding terbalik
dengan pemanasan langsung yang menunjukan koefisiensi perpindahan panas terhadap laju alir
umpan cenderung meningkat. Hal ini mungkin menandakan bahwa banyak panas yang
terbuang ke lingkungan akibat panas dari steam tidak diserap secara maksimum oleh air.
Adapun nilai koefisien perpindahan panas keseluruhan optimum yang diperoleh yaitu pada laju
alir umpan 50 L/h, yaitu sebesar 1143,312 kW/m2.K.

Selanjutnya adalah steam ekonomi. Berdasarkan grafik 4.1.7.1 bahwa Hubungan Steam
Ekonomi terhadap Laju Alir Umpan bernilai fluktuatif. Hal ini dapat terjadi karena tekanan
steam yang masuk tidak konstan dan selalu berubah-rubah. Adapun nilai stema ekonomi
optimum yang diproleh yaitu pada laju alir 50 L/h sebesar 0.092593kg uap pelarut/kg steam
yang digunakan.

Dari pembahasan diatas dapat terlihat faktor yang sangat mempengaruhi proses
evaporasi adalah tekanan steam. Tekanan steam yang berubah-ubah membuat proses
pemanasan menjadi tidak optimal dan kurang baik.

Oleh Royfa Fenandita Finadzir (171411091)

Falling Film Evaporator merupakan salah satu alat evaporasi untuk memekatkan suatu
larutan dengan cara meguapkan pelarut yang ada dalam larutan tersebut. Dari evaporator akan
dihasilkan dua jenis produk yaitu larutan pekat yang sudah berkurang kandungan pelarutnya
dan distilat berupa kondensasi pelarut hasil penguapan.

Pada praktikum kali ini dilakukan pengamatan bagaimana pengaruh laju alir umpan dan
jenis pemanas terhadap koefisien perpindahan panas. Laju alir umpan sebesar 50 L/h, 75 L/h,
dan 100 L/h serta jenis pemanas yang digunakan ada dua yaitu pemanas langsung
menggunakan steam dan pemanas steam tidak langsung menggunakan air panas.

1. Pemanasan langsung
Pada pemanasan langsung menggunakan steam terjadi arah aliran co-current
antara pemanas dan umpan dalam kolom kalandria. Aliran umpan jatuh dari atas dan
aliran steam juga masuk dari atas kolom kalandria.

Dari data hasil perhitungan terlihat bahwa perpindahan panas yang terjadi tidak
stabil, pada Gambar 4.1.6.1 koefisien perpindahan panas pada laju alir 100 L/h
mengalami peningkatan daripada laju alir yang lainnya. Sedangkan pada laju alir 50
L/h dan 75 L/h koefisien perpindahan panas hanya berbeda sedikit sekali. Hal ini tidak
sesuai dengan penelitian Palen, dkk (1994) yang disebutkan dalam Budhikarjono
(2005) yang menyatakan bahwa semakin besar laju alir cairan maka semakin besar
koefisien perpindahan panas.

Bila dilihat dari efisiensi penggunaan steam pada Gambar 4.1.5.1, laju alir 75
L/h menghasilkan efisiensi 102% yang berarti semua panas yang dilepaskan steam
diserap oleh umpan dalam kolom kalandria. Laju alir yang lainnya tidak menyerap
seluruh panas yang dilepas oleh steam, dimana efisiensi pada laju alir 50 L/h hanya
mencapai 73% dan pada laju alir 100 L/h hanya 61%. Hal ini terjadi karena selama
praktikum, suplai steam dari boiler tidak stabil sehingga berpengaruh pada banyaknya
steam yang terpakai dalam kolom.

Selanjutnya steam ekonomi yang dipengaruhi oleh penggunaan steam. Dapat


dilihat dari Gambar 4.1.7.1 steam ekonomi (SE) berbanding lurus dengan efisiensi.
Pada laju alir 75 L/h, nilai SE yaitu 0,38. Nilai ini lebih besar daripada yang dimiliki
oleh laju alir 50 L/h dan 100 L/h. Steam ekonomi dipertimbangkan agar tidak terjadi
pemborosan dalam penggunaan steam. Nilai SE 0,38 pun belum termasuk ke dalam
nilai yang besar karena energi yang dibutuhkan tetap banyak. Namun hasil terbaik pada
jenis pemanasan langsung menggunakan steam terjadi pada laju alir 75 L/h.

2. Pemanasan tidak langsung

Aliran yang terjadi pada pemanasan tidak langsung menggunakan air panas
yaitu counter-current, di mana umpan jatuh dari atas dan air panas masuk dari bawah
kolom kalandria agar terjadi waktu kontak yang lebih lama dibanding steam langsung
karena suhu air panas tidak setinggi steam sehingga perpindahan panas dapat
dimaksimalkan.
Dari data hasil perhitungan serta Gambar 4.1.6.2 dapat dilihat bahwa koefisien
perpindahan panas berbanding terbalik dengan laju alir umpan, semakin tinggi laju alir
makan koefisien perpindahan panas semakin menurun. Hal ini terjadi karena waktu
kontak yang semakin sebentar ketika laju alir umpan meningkat. Hasil ini tidak sesuai
dengan penelitian Palen, dkk (1994) yang disebutkan dalam Budhikarjono (2005) yang
menyatakan bahwa semakin besar laju alir cairan maka semakin besar koefisien
perpindahan panas.

Namun pada nilai efisiensi perpindahan panas yang dihasilkan, pada laju alir
100 L/h, efisiensi penggunaan steam mencapai 534% karena steam digunakan untuk
memanaskan pemanas air panas yang tidak perlu mencapai suhu setinggi steam,
sehingga kalor yang dilepaskan oleh steam tidak terlalu tinggi dan tidak membutuhkan
banyak steam. Dapat dilihat pada Gambar 4.1.5.2 bahwa nilai efisiensi penggunaan
steam meningkat seiring dengan meningkatnya laju alir umpan. Nilai-nilai efisiensi ini
jauh lebih besar bila dibandingkan dengan operasi yang menggunakan pemanas steam
langsung.

Steam ekonomi (SE) pada operasi pemanas steam tidak langsung berbanding
terbalik dengan nilai efisiensi dan juga menunjukan ketidakstabilan, hal ini dapat dilihat
pada Gambar 4.1.7.2, dimana nilai SE terbesar pada pemanas air panas hanya mencapai
0,09 yang terdapat pada laju alir 50 L/h. Hal ini terjadi karena waktu kontak antara
umpan dan pemanas dalam kolom lebih lama dibandingkan dengan laju alir yang
lainnya, sehingga lebih banyak pelarut yang menguap.

Pada proses evaporasi menggunakan pemanas steam tidak langsung, dapat


diketahui bahwa laju alir terbaik dari praktikum ini yaitu 50 L/h.

Bila dibandingkan antara pemanas langsung atau tidak langsung, dapat ditarik
kesimpulan bahwa laju alir 75 L/h pada pemanas steam langsung lebih baik dibandingkan
dengan laju alir 50 L/h karena terjadi perpindahan panas yang lebih besar serta penggunaan
steam yang lebih ekonomis. Suhu dalam kolom kalandria yang tercapai pada laju alir ini
sebesar 99⁰C.

Oleh Awalludin Fitroh Rifai (191427006)


Falling Film Evaporator adalah metoda penguapan dengan cara menjatuhkan bahan
umpan berupa larutan encer dalam kolom calandria shell and tube dari atas ke bawah
membentuk lapisan tipis selanjutnya larutan dan uap umumnya dipisahkan di bagian bawah
dengan separator, Falling Film Evaporator biasanya digunakan untuk pemisahan komponen
yang sensitif terhadap panas, Media pemanas dapat menggunakan uap air panas (metoda
pemanasan uapa air panas secara langsung) atau air panas (metoda pemanasan uap air tidak
langsung) yang dialirkan ke bagian shell calandria.
Pada praktikum ini proses pemanasan dilakukan dengan 2 cara, proses pemanasan
menggunakan pemanas langsung (steam) dan pemanasan tidak langsung dengan air panas yang
dipanaskan dengan steam. Proses pemanasan langsung dilakukan untuk bahan-bahan yang
dipekatkan yang tahan temperature tinggi sedangkan pemanasan tak langsung untuk bahan-
bahan yg tidak tahan dengan temperatur tinggi (misal sari buah dan susu),kadang-kadang
dbantu dengan tekanan vakum untuk menjaga kualitas bahan yang dipekatkan. Untuk proses
pemanasan dapat dilihat melalui skema berikut:

Dari gambar iatas dapat dilihat untuk pemanasan langsung dengan steam, aliran steam
melalui V1 kemudian melalui V3 (V2, V6 dan V7 ditutup) dan masuk melalui bagian atas
kolom kalandria lalu turun kebawah melalui V10 (V5 ditutup) menjadi kondensat untuk
feednya masuk dari atas kolom kalandria melalui V14, lebih jelasnya lihat alur panah berwarna
merah. Untuk pemanasan tidak langsung (menggunakan air panas) aliran steam melalui V1
kemudian melalui V2 (V3 dan V4 ditutup) lalu masuk kedalam heater untuk memanaskan air
selanjutnya keluar dalam bentuk kondensat lebih jelasnya lihat alur panah warna biru,
sementara untuk aliran air, air masuk melalui V6 lalu menuju V7 (V8 ditutup) selanjutnya akan
dipompa P1 melewati V9 (V11 ditutup) menuju kedalam heater untuk dipanaskan dengan
steam dan menghasilkan air panas yang masuk kedalam kolom kalandria sehingga air panas
akan tersirkulasi secara terus-menerus, V6 ditutup ketika air sudah terisi dan feed masuk dari
atas kolom kalandria melalui V14, lebih jelasnya lihat alur panah warna hijau.
Dalam mengoprasikan Falling Film Evaporator tidak lepas dari pengaturan suhu dan
tekanan sebab hal ini dapat mempengaruhi produk yang dihasilkan. Hasil dari praktikum ini
tidak mendapatkan tekanan dan suhu yang optimum untuk umpan, umpan yang digunakan
hanya berupa air murni sehingga hasilnya juga tidak dapat merepresentasikan suatu produk
tertentu, produk tidak dapat diketahui persen kepekatannya seperti yang dijelaskan pada bab 2
(nerca massa dan panas).
Dalam proses pemanasan secara langsung atau tidak langsung diperoleh perbedaan
yang mencolok yaitu pada U (koefisien perpindahan panas), didapatkan hasil untuk U
pemanasan langsung dengan variable laju alir 50, 75, 100 L/jam secara berturut-turut sebesar
19288,89; 19281,17; 30378,51 kWatt/m2.K dan untuk pemanasan tidak langsung sebesar
1143,312; 1031,975; 631,6053 kWatt/m2.K. dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa U dengan
pemanasan langsung lebih besar dibandingkan dengan U pemanasan tidak langsung, hal ini
dikarenakan panas yang dipindahkan dari steam ke umpan lebih besar daripada pans yang
dipindahkan dari air panas ke umpan. Steam memiliki panas yang lebih besar sehingga panas
yang akan diterima umpan akan lebih besar juga. Berbeda jika steam digunakan untuk
memanaskan air, air panas hasil pemanasan steam akan memiliki kalor yang lebih kecil
sehingga panas yang diterima umpan juga lebih kecil.
Penggunaan steam dihitung menggunakan steam ekonomi, dari hasil praktikum ini
diperoleh steam ekonomi untuk pemanasan langsung dengan variable laju alir 50, 75, 100
L/jam secara berturut-turut sebesar 0,208; 0,388; 0,086 dan untuk pemanasan tidak langsung
sebesar 0,092; 0,028; 0,047. Dari hasil tersebut terlihat bahwa steam ekonomi pada pemanasan
langsung lebih besar daripada pemanasan tidak langsung, sehingga pada proses pemanasan
langsung membutuhkan panas yang lebih banyak dari pada proses pemanasan tidak langsung.
BAB V

KESIMPULAN

Dari praktikum yang sudah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :

1. Laju alir dan tekanan yang dilakukan pada falling film evaporator
Laju Alir Umpan Rata – rata
(L/h) (kg/jam)
50 117
75 142.74
100 186.66

2. Koefisien perpindahan panas overall (U)


a. Pemanasan Steam Langsung
P Laju Alir
U (kWatt/m2.C)
(bar) (L/h)
1 50 19288,89
1 75 19281,17
1 100 30378,51

b. Pemanasan Steam Tidak Langsung


P Laju Alir
U (kWatt/m2.C)
(bar) (L/h)
1 50 1143,312
1 75 1031,975
1 100 631,6053

3. Efisiensi
a. Pemanasan Steam Langsung

P Laju Alir Effisiensi (ᶯ)


(bar) (L/h) (%)
1 50 73,31148
1 75 102,8642
1 100 61,14869

b. Pemanasan Steam Tidak Langsung


P Laju Alir Effisiensi (ᶯ)
(bar) (L/h) (%)
2,1 50 225,4658

2,25 75 259,0398

2,6 100 534,113

4. Steam Ekonomi
a. Pemanasan Steam Langsung
P Laju Alir
SE
(bar) (L/h)
1,6 50 0.208092
2 75 0.388235
2,6 100 0.085502

b. Pemanasan Steam Tidak Langsung


P Laju Alir
SE
(bar) (L/h)
2,1 50 0.092593
2,25 75 0.028302
2,6 100 0.047244
DAFTAR PUSTAKA

Abudaris, R dan Baheramsyah, A. 2011. Desain dan Performa Evaporator pada Sistem
Refrigrasi Absorpsi Untuk Kapal Perikanan. Surabaya: ITS
Budhikarjono, K. 2005. Perpindahan Panas dan Massa Penguapan Falling Film Campuran
Uap-Gas Metanol-Air Arah Berlawanan. E-jounal: Reaktor. Surabaya: ITS.

Fitri, Medya Ayunda; Dhaniswara, Trisna. 2012. Simulasi Proses Evaporasi Black Liquor
Aliran Udara Ditinjau dari Pengaruh Arah Aliran Udara. Surabaya: ITS
Fitri, Medya Ayunda. 2016. Studi Eksperimental Falling Film Evaporator Pada Evaporasi Nira
Kental. Journal of Research and Technologies. Sidoarjo: Universitas NU.

Geankoplis, C. J. 1997. Transport Processes and Unit Operations. New Delhi: Prentice Hall
of India.

Mc Cabe, W. L. 1993. Unit Operations of Chemical Engineering 5th Ed. New York: McGraw-
Hill.
LAMPIRAN

I. Pemanasan langsung
 Mencari Q-Feed
𝑸𝒇𝒆𝒆𝒅 = 𝒎𝟏 𝒙 𝑪𝒑 𝒙 (𝑻𝟏𝟏 − 𝑻𝟕) + 𝒎𝟑 𝒙 (𝑯𝑽 − 𝑯𝑳)pada T11

q (L/h) m1 Cp T11-T7 m3 HV HL Qfeed


50 117 117 4,197 72,5 6,48 2673 410,7
75 142.74 142,74 4,195 70,9 11,88 2674,5 414,9
100 186.66 186,66 4,195 71,3 4,14 2674,5 414,9

 Mencari Q-Steam
𝑸 𝒔𝒕𝒆𝒂𝒎 = 𝒎𝒔 𝒙 (𝑯𝑽 − 𝑯𝑳)pada (P.opr+1)bar

q(L/h) ms HV HL Qsteam
50 31,14 2706,3 504,7 68557,82
75 30,6 2706,3 504,7 67368,96
100 48,42 2706,3 504,7 106601,5

 Mencari Efisiensi
𝑸𝒇𝒆𝒆𝒅
𝜼=
𝑸𝒔𝒕𝒆𝒂𝒎

q(L/h) Qfeed Qsteam efisiensi


50 50260,76 68557,82 73,31148
75 69298,56 67368,96 102,8642
100 65185,4 106601,5 61,14869

 Mencari 𝚫Tm
𝚫𝐓𝟏 − 𝚫𝐓𝟐
𝚫𝐓𝐦 =
𝚫𝐓𝟏
𝒍𝒏 (𝚫𝐓𝟐)

ln
ΔT1 ΔT2 ΔT1-ΔT2 ΔTm
(ΔT1/ΔT2)
103,2 30,7 72,5 4,283587 16,93
94,9 24 70,9 4,26127 16,64
91,3 20 71,3 4,266896 16,71
 Mencari U
𝑸 𝒔𝒕𝒆𝒂𝒎
𝑼=
𝑨 𝚫𝐓𝐦

q (L/h) Q steam A (m2) ΔTm U


50 68557,82 0,21 16,925 19288,89
75 67368,96 0,21 16,638 19281,17
100 106601,5 0,21 16,710 30378,51

 Mencari SE
𝒎𝟑
𝑺𝑬 =
𝒎 𝒔𝒕𝒆𝒂𝒎

q (L/h) m3 ms SE
50 6.48 31.14 0.208092
75 11.88 30.6 0.388235
100 4.14 48.42 0.085502

II. Pemanasan Tidak Langsung


 Mencari Q-Feed
𝑸𝒇𝒆𝒆𝒅 = 𝒎𝟏 𝒙 𝑪𝒑 𝒙 (𝑻𝟏𝟏 − 𝑻𝟕) + 𝒎𝟑 𝒙 (𝑯𝑽 − 𝑯𝑳)pada T11

q (L/h) m1 Cp T11-T7 m3 HV HL Qfeed


50 117 4,183 71,6 3,6 2674,5 414,9 43176,39
75 142,74 4,183 67,7 1,08 2667,5 398 42873,47
100 186,66 4,183 67,3 1,08 2667,5 398 54998,82

 Mencari Q-Air Panas


𝑸 𝒂𝒊𝒓 𝒑𝒂𝒏𝒂𝒔 = 𝒎𝒔 𝒙 𝑪𝒑 𝒙 𝑻𝟖𝒑𝒂𝒏𝒆𝒍 − 𝑻𝟖

T8 T8
q(L/h) ms cp Qsteam
control panel termometer
50 38,88 4,527 198,8 90 19149,862
75 38,16 4,476 186,9 90 16550,923
100 22,86 4,491 190,3 90 10297,225
 Mencari Efisiensi
𝑸𝒇𝒆𝒆𝒅
𝜼=
𝑸𝒔𝒕𝒆𝒂𝒎

q(L/h) Qfeed Qsteam efisiensi


50 43176,39 19149,86 225,4658
75 42873,47 16550,92 259,0398
100 54998,82 10297,23 534,113

 Mencari 𝚫Tm
𝚫𝐓𝟏 − 𝚫𝐓𝟐
𝚫𝐓𝐦 =
𝚫𝐓𝟏
𝒍𝒏 (𝚫𝐓𝟐)

ln
T1 T2 T1-T2 (T1/T2) tm
99,8 62,6 37,2 0,466403 79,75937
91,9 62,7 29,2 0,38234 76,3719
95,3 62,3 33 0,425068 77,63457

 Mencari U
𝑸 𝒂𝒊𝒓 𝒑𝒂𝒏𝒂𝒔
𝑼=
𝑨 𝚫𝐓𝐦

q (L/h) Q steam A (m2) Tm U


50 19149,86 0,21 79,75937 1143,312
75 16550,92 0,21 76,3719 1031,975
100 10297,23 0,21 77,63457 631,6053

 Mencari SE
𝒎𝟑
𝑺𝑬 =
𝒎 𝒂𝒊𝒓 𝒑𝒂𝒏𝒂𝒔

q (L/h) m3 ms SE
50 3.6 38.88 0.092593
75 1.08 38.16 0.028302
100 1.08 22.86 0.047244