Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Peran Energi Surya


Energi memiliki peran penting bagi manusia dalam melangsungkan kehidupannya.
Dibutuhkan untuk segala kegiatan yang dilakukan oleh manusia. Semakin lama jumlah
penduduk yang semakin besar menjadikan kebutuhan energi semakin meningkat. Energi
surya merupakan energi terbarukan yang terus ditingkatkan pemanfaatannya. Di Indonesia
memiliki banyak sekali sumber energi terbarukan. Untuk energi surya sendiri dimiliki oleh
Indonesia dalam jumlah yang cukup besar (Tonapa, 2010).
Menurut (Lubis, 2007) Berdasarkan data penyinaran matahari yang dihimpun di 18
lokasi di Indonesia, radiasi surya diklasifikasikan menjadi 2(dua) yaitu;
 Kawasan barat Indonesia  4,5 kWh/m2/hari dengan variasi bulanan 10%
 Kawasan timur Indonesia  5,1 kWh/m2/hari dengan variasi bulanan 9%
Dengan begitu potensu rata-rata Indonesia sekitar 4,8 kWh/m2/hari dengan variasi 9,5%.
Dalam pemanfaatan energi surya tersebut menerapkan dua teknologi yaitu,

1) Teknologi surya thermal : untuk keperluan memasak, pengeringan,


pemanasan
2) Teknologi surya fotovoltaik : untuk kebutuhan listrik, pompa air, tV,
telekomunikasi, lemari pendingin dengan kapasitas ± 6 MV

Bumi menerima sekitar 1000 Watt/m2 energi matahari. <30% dipantulkan kembali
ke angkasa, 47% dikonversikan menjadi panas, dan 23% untuk sirkulasi kerja yang
terdapat di permukaan bumi, sebagian kecil 0,25% ditampung angin, gelombang dan arus.
Serta bagian sangat kecil 0,025% disimpan melalui proses fotosintesis tumbuh-tumbuhan.
Dalam cuaca yang cerah, sel surya dapat menghasilkan tegangan konstan 0,5-0,7 V dengan
arus 20mA. Jumlah energi akan diterima secara optimum apabila posisi sel surya 90°
terhadap sinar matahari. Maka sebuah sel surya akan menghasilkan daya 0,6 V x 20 mA =
12mW (Manan, 2009).

Menurut (Abdullah, 1998) energi surya adalah hasil dari pembangkitan reaksi fusi
yaitu hydrogen menjadi helium dengan laju 1020 kWh/det.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Reaksi Termonuklir sebagai sumber energy matahari


Pemancaran energi matahari ke bumi telah berlangsung terus menerus kurang lebih
selama 5000 jt tahun lalu. Matahari sebagai dapur nuklir menghasilkan panas dari reaksi
termonuklir yang terjadi di matahari. Suhu pada inti matahari diperkirakan mencapai
≥14jt℃. Sedangkan suhu permukaannya relatif dingin sekitar 5000-6000℃ .
Di matahari terdapat beberapa unsur yang dapat bereaksi untuk menghasilkan
energi. Unsur tersebut terdiri dari 80% hydrogen berupa gas, gas Helium 19%, dan 1 %
terdiri dari oksigen, magnesium, nitrogen, silicon, karbon, belerang, besi, sodium,
kalsium, nikel, dll. Unsur-unsur tersebut bercampur menjadi satu dalam bentuk gas sub
atomic yang terdiri atas inti atom, electron, proton, neutron, dan positron. Gas sub atomic
tersebut memancarkan energi yang sangat amat panas disebut “plasma”.
Energi matahari yang dipancarkan ke bumi dalam berbagai bentuk gelombang
elektromagnetik mulai dari gelombang radio (panjang/pendek), gelombang sinar
inframerah, gelombang sinar tampak, gelombang sinar ultraviolet, dan gelombang sinar
X. Yang dapat ditangkap secara visual adalah sinar tampak, sedangkan infra merah
sebagai panas. Bentuk gelombang lainnya hanya dapat ditangkap dengan bantuan
peralatan khusus contohnya detector nuklir dll. Ketika matahari mengalami plage akan
mengeluarkan energi yang amat panas kemudian diikuti dengan flare yaitu semburan sub
atomic keluar dari matahari menuju ke ruang angkasa. Maka pada system matahari telah
terjadi reaksi thermonuklir yang dahsyat.

Reaksi fusi (penggabungan inti ringan menjadi berat ) reaksi ini berupa penggabungan 4
inti hydrogen menjadi helium. Berdasarkan reaksi
1
H + 2H  2
H + β + V + 0,42 MeV x2
1
H + 2H  3
He + γ + 5,5 MeV x2
3
He + 3He  4
He + 12,8 MeV +
1
H  4
He + 2β + 2 γ + 2V +`24,64 MeV

Menurut Bethe, reaksi ini dapat menghasilkan energi panas yang amat sangat dahsyat.
Dan komponennya yang terdiri dari hydrogen dan helium sehingga kemungkinan masih
ada reaksi yang dapat terjadi berdasarkan reaksi proton-proton,
H1 + H1  H2 + β + V
H1 + H2  H3 + γ
He3 + He4  Be7 + γ
Be7 + β  Li7 + γ + V +
7
Li + H1  4
He + He 4
Terbentuknya helium dari reaksi tersebut menghasilkan energi yang amat panas,
kemungkinan lain gas helium juga dapat melalui reaksi nuklir sbb,
Be7 + H1  B8 + γ
B8  Be8 + β+ + V
Be8  He4 + He4

Meski dari reaksi tersebut sudah menghasilkan energi yang sangat panas masi ada
kemungkinan lain untuk terjadinya reaksi termonuklir matahari yang menghasilkan energi
jauh lebih dahsyat dan lebih panas. Reaksi tersebut mengikuti reaksi inti rantai karbon-
nitrogen
12
C + 1H  13
N+γ
13
N  13
C+β +V
+
13
C+ H1
 14
N+γ
14 1
N+ H  15
O+γ
15
O  15
N+β +V
+
15 1
N+ H  12
C + 4He

Reaksi diatas akan menghasilkan panas yang jauh lebih panas daripada reaksi termonuklir
yang lain. Reaksi termonuklir diatas terjadi di matahari dan juga bintang bintang di yang
tersebar dijagat raya ini. Semua bentuk reaksi yang telah disebutkan terjadi secara
kontinyu dengan demikian energi panas matahari akan berhenti apabila reaksi termonuklir
di planet matahari berhenti.
2.1.1. Atmosphere matahari
Atmosphere matahari terletak diatas permukaan matahari yang sebagian
besar berupa gas hydrogen yang terdiri dari dua bagian utama yaitu Chromospher
dan Corona. Chromospher memiliki ketebelan sejauh 12km dari permukaan
matahari. Corona bagaikan mahkota berwarna putih yang melingkari matahari
dengan ketinggian ratusan ribu bahkan sampai jutaan km.

Suhu pada chromosphere sekitar 5000℃ sedangkan corona memiliki suhu


berkisar 10.000-100.000℃. Suhu yang tinggi di corona ini akibat dari kejutan
gelombang dari gerakan turbulen photosphere yang memanaskan lapisan gas pada
corona. Pada permukaan chromosphere sering terjadi lidah api akibat letusan
ataupun ledakan gas yang ada pada permukaannya. Letusan atau lidah api ini
disebut “prominence”. Peristiwa lain yang terjadi di chromosphere adalah
timbulnya filament gas akibat gerakan gas chromosphere yang panas. Filament ini
terdapat di permukaan chromsphere sebagai sel kasar yang disebut
“supergranulation”. Peristiwa tersebut terjadi silih berganti yang menyebabkan
timbulnya “plage” dan “flare”. Plage adalah keadaan matahari saat panas dan
bercahaya terang sedangkan flare adalah semburan energi tinggi dari permukaan
matahari berupa radiasi partikel sub atomic. Radiasi ini dapat sampai ke atmosfer
bumi dan memicu terjadinya reaksi inti.

2.2. Teknologi Pemanfaatan Energi Surya


2.2.1. Teknologi Energi Surya Fotovoltaik
Sel fotovoltaik mengubah penyinaran matahari menjadi listrik, masih impor
Sasaran pengembangan energi surya di perkotaan dan daerah mengembangkan seef
dengan dua pola yaitu
 Pola tersebar, apabila letak rumah penduduk menyebar dengan jarak yang
cukup jauh
 Pola terpusat, apabila letak rumah penduduk terpusat.
Program pengembangan fotovoltaik di Indonesia :

1) Mengembangkan SESF untuk program listrik pedesaan, (untuk memenuhi


kebutuhan listrik yang jauh dari jangkauan PLN
2) Mengganti sebagian atau seluruh pasokan listrik bagi pelanggan social kecil dan
rumah tangga kecil PLN dengan SESF
3) Memenuhi semua kebutuhan listrik untuk pelanggan S1(batas daya 220VA)
4) Memenuhi semua kebutuhan listrik untuk pelanggan S2(batas daya 450 VA)
5) Mengkaji kemungkinan pendirian pabrik modulusnya untuk memenuhi
kebutuhan dalam negeri dan kemungkinan ekspor
6) Mendorong partisipasi swasta dalam memanfaatkan energi surya fotovaltaik
7) Melaksanakan kerja sama dengan luar negeri untuk pembangunan SESF skala
besar
Menurut (Lubis, 2007) sel fotovoltaik merupakan sebuah alat
semikonduktor dimana alat ini memiliki permukaan yang luas dan terdiri dari
rangkaian diode tipe P dan N. Alat ini mampu merubah energi surya menjadi
listrik secara langsung.
2.2.1.1. Aplikasi
Ada beberapa aplikasi teknologi PV yang saat ini sedang dikembangkan di
Pulau Saugi antara lain Solar Home System, lampu penerangan tenaga
surya, dan pompa air tenaga surya.
1) Solar Home System
Solar Home System (SHS) biasanya diterapkan pada rumah tinggal,
tempat ibadah, puskesmas, dan instansi pemerintah di daerah terpencil
seperti pedesaan. Komponen utama yang digunakan adalah modul
surya, baterai/aki, regulator baterai, inverter, dan kabel. Skema SHS
terlihat pada gambar 7.
2) Lampu jalan tenaga surya
Lampu jalan tenaga surya sangat besar manfaatnya dalam rangka
penghematan energi listrik PLN yang membutuhkan BBM itu. Adapun
komponen utamanya terdiri atas modul surya 50 Wp-100 Wp, baterai,
regular baterai, lampu jalan DC, tiang lampu, dan alat control pengatur
waktu penggunaan dan intensitas cahaya. Lampu jalan jenis ini sangat
cocok untuk daerah terpencil yang jauh dari instalasi listrik PLN.

Gambar 7. Solar Home System dan komponen-komponennya.

Gambar 8. Komponen-komponen lampu jalan bertenaga surya.


Namun ternyata sering terjadi di lapangan lampu penerangan jalan solar
panel hanya bertahan selama satu tahun, hal ini disebabkan oleh
beberapa hal diantaranya:
- Sistem daya tidak sesuai dengan yang seharusnya, panel 50 Wp
untuk lampu 30/40 W.
- Sistem baterai yang tidak sesuai untuk keperluan solar sel sistem.
- Sistem lampu yang tidak sesuai, mempergunakan lampu AC yang
berkapasitas daya tinggi dan tidak sesuai dengan baterai.
3) Pompa air tenaga surya
Sistem ini sangat mudah dalam pemasangan dan pembongkaran tanpa
harus memikirkan kabel atau genset.

Gambar 9. Skema rancangan pompa air tenaga surya.


Power Conditioner merupakan komponen yang mengatur pemakaian daya
listrik dari modul ke pompa air yang digunakan. Modul surya akan
menyalurkan daya listrik DC ke pompa, penggunaan inverter akan
diefektifkan apabila pompa yang digunakan adalah pompa AC. Energi
listrik oleh motor listrik akan diubah menjadi energi kinetik yang akan
menggerakkan pompa sehingga berhasil menimpa air. Debit air yang tersisa
ini akan disimpan di tangki penyimpan sementara untuk menghemat
penggunaan baterai/aki.

Gambar 10. Aplikasi photovoltaic pada pompa air tenaga surya.

2.2.2. Teknologi Energi Surya Thermal


Teknologi dan kemampuan Nasional dalam pemanfaatan energy surya termal
untuk aplikasi rendah (T=60℃ ), skala menengah ( T= 60-120℃ ) telah dikuasai
dengan baik mulai dari rancangan konstruksi hingga manufaktur seperti ,
1) Pengeringan pasca panen
2) Pemanas air domestic
3) Pemasak/oven
4) Pompa air (siklus rankine dan fulida kerja isopentana)
5) Penyuling air (solar distillation/still)
6) Pendingin (radiatif, absorpsi, evaporasi, termoelektrik, kompressip, tipe jet
7) Sterilisator surya
8) Pembangkit listrik dengan menggunakan konsentrator dan fluida kerja dengan
titik rendah
Program pengembangan energy surya thermal
 Melakukan inventarisasi, identivikasi dan pemetaan potensi serta aplikasi
teknologi fototermik secara berkelanjutan
 Melakukan diseminasi dan alih teknologi dari pihak pengemang kepala
pemakai
 Melaksanakan standardisasi nasional komponen dan system teknologi
fototermik
 Mengkaji skema pembiayaan dalam rangka pengembangan manufaktur
nasional
 Meningkatkan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk berbagi teknologi
fototermik
 Meningkatkan produksi local secara massal dan penjajakan untuk kemungkinan
ekspor
 Pengembangan fototermik suhu tinggi, seperti pembangkit listrik mesinstiriling
dll

2.2.2.1. Aplikasi
Dalam pembangkit ini, energi cahaya matahari akan digunakan
untuk memanaskan suatu fluida yang kemudian fluida tersebut akan
memanaskan air. Air yang panas akan menghasilkan uap yang digunakan
untuk memutar turbin sehingga dapat menghasilkan energi listrik.
Pembangkit Listrik Termal Surya dapat bekerja dalam berbagai
cara. Pembangkit ini juga biasa dikenal sebagai pembangkit listrik surya
terkonsentrasi (concentrated solar power plants). Tipe yang paling banyak
digunakan adalah desain parabola cekung. Cermin parabola dirancang
untuk menangkap dan memfokuskan berkas cahaya ke satu titik fokus,
seperti seorang anak yang menggunakan kaca pembesar untuk membakar
kertas. Pada titik fokus tersebut terdapat pipa hitam yang panjangnya
sepanjang cermin tersebut.
Didalam pipa tersebut terdapat fluida yang dipanaskan hingga
temperatur yang sangat tinggi, seringkali diatas 300 derajad fahrenheit (150
derajad celcius). Fluida panas tersebut dialirkan dalam pipa menuju ke
ruang pembangkitan energi listrik untuk memasak air, menghasilkan uap air
dan menghasilkan energi listrik.
a. Kompor Tenaga Surya
Kompor tenaga surya adalah perangkat masak yang menggunakan
sinar matahari sebagai sumber energi. Berhubung kompor jenis ini tidak
menggunakan bahan bakar konvensional dan biaya operasinya rendah,
organisasi kemanusiaan mempromosikan penggunaannya ke seluruh
dunia untuk mengurangi penggundulan hutan dan penggurunan, yang
disebabkan oleh penggunaan kayu sebagai bahan bakar untuk memasak.
Kompor surya dapat digunakan di luar rumah, terutama dalam situasi
ketika konsumsi bahan bakar minimal atau resiko kebakaran menjadi
pertimbangan penting. Semuanya menggunakan panas dari dan cahaya
matahari untuk memasak makanan.
Desain Kompor tenaga surya

Beberapa prinsip dasar kompor surya adalah sebagai berikut:

1. Pemusatan cahaya matahari.


Beberapa perangkat, biasanya berupa cermin atau sejenis
bahan metal/logam yang memantulkan cahaya, digunakan untuk
memusatkan cahaya dan panas matahari ke arah area memasak
yang kecil, membuat energi lebih terkonsentrasi dan lebih
berpotensi menghasilkan panas yang cukup untuk memasak.
Mengubah cahaya menjadi panas. Bagian dalam kompor surya
dan panci, dari bahan apapun asal yang berwarna hitam, dapat
meningkatkan efektivitas pengubahan cahaya menjadi panas.
Panci berwarna hitam dapat menyerap hampir semua cahaya
matahari dan mengubahnya menjadi panas, secara mendasar
meningkatkan efektivitas kerja kompor surya. Semakin baik
kemampuan panci menghantarkan panas, semakin cepat kompor
dan oven bekerja.
2. Memerangkap panas.
Upaya mengisolasi udara di dalam kompor dari udara di
luarnya akan menjadi penting. Penggunaan bahan yang keras dan
bening seperti kantong plastik atau tutup panci berbahan kaca
memungkinkan cahaya untuk masuk ke dalam panci. Setelah
cahaya terserap dan berubah jadi panas, kantong plastik atau tutup
berbahan gelas akan memerangkap panas di dalamnya seperti
efek rumah kaca. Hal ini memungkinkan kompor untuk mencapai
temperatur yang sama ketika hari dingin dan berangin seperti
halnya ketika hari cerah dan panas. Strategi memanaskan suatu
barang dengan menggunakan tenaga matahari menjadi kurang
efektif jika hanya menggunakan salah satu prinsip tersebut di atas.
Pada umumnya kompor surya menggunakan sedikitnya dua cara
atau bahkan ketiga prinsip dasar kompor surya untuk
menghasilkan temperatur yang cukup untuk memasak. Terlepas
dari kebutuhan akan adanya cahaya matahari dan kebutuhan
untuk menempatkan kompor surya pada posisi yang tepat
sebelum menggunakannya, kompor ini tidak berbeda jauh dengan
kompor konvensional.
Pemanfaatan energi surya termal digunakan untuk
penyediaan air panas rumah tangga, dimana jumlah pemanas air
tenaga surya (PATS) diperkirakan berjumlah 150.000 unit.
secara non komersial yang digunakan untuk keperluan
pengeringan berbagai komoditas pertanian, perikanan,
perkebunan, industry kecip dan keperluan rumah tangga.
Sedangkann secara komersial dapat dilakukan untuk penyediaan
panas proses suhu rendah menggunakan system energi surya
termik (SEST) bagi pengolahan pasca panen.

2.3. Aplikasi Penggunaan Teknologi Energi Surya


2.3.1. PLTSF
1) Pengertian PLTSF

Pembangkit Listrik Tenaga Surya Fotovoltaik

Pembangkit listrik tenaga surya fotovoltaik adalah pembangkit listrik yang


mengubah energi surya menjadi energi listrik. Alat utama untuk menangkap,
perubah dan penghasil listrik adalah Photovoltaic yang disebut secara umum
Modul / Panel Solar Cell.
2) Prinsip Kerja PLTSF
Menurut Anya P. Damastuti, dalam cahaya matahari terkandung energi
dalam bentuk foton. Ketika foton ini mengenai permukaan sel surya, elektron-
elektronnya akan tereksitasi dan menimbulkan aliran listrik. Prinsip ini dikenal
sebagai prinsip photoelectric. Sel surya dapat tereksitasi karena terbuat dari
material semikonduktor; yang mengandung unsur silikon. Silikon ini terdiri atas
dua jenis lapisan sensitif: lapisan negatif (tipe-n)3 dan lapisan positif (tipe-p).
Sel surya ini mudah pecah dan berkarat jika terkena air. Karena itu sel ini dibuat
dalam bentuk panel-panel ukuran tertentu yang dilapisi plastic atau kaca bening
yang kedap air. Panel ini dikenal sebagai panel surya.
Ada beberapa jenis panel surya yang dijual di pasaran. Jenis pertama, yang
terbaik saat ini, adalah jenis monokristalin. Panel ini memiliki efisiensi5 12-
14%. Jenis kedua adalah jenis polikristalin atau multikristalin, yang terbuat dari
kristal silikon dengan efisiensi 10-12%. Jenis ketiga adalah silikon jenis
amorphous, yang berbentuk film tipis. Efisiensinya sekitar 4-6%. Panel surya
jenis ini banyak dipakai di mainan anak-anak, jam dan kalkulator. Yang terakhir
adalah panel surya yang terbuat dari GaAs (Gallium Arsenide) yang lebih
efisien pada temperatur tinggi.
Listrik yang dihasilkan oleh panel surya dapat langsung digunakan atau
disimpan lebih dahulu ke dalam baterai. Arus listrik yang dihasilkan adalah
listrik dengan arus searah (DC). Rangkaian panel-panel surya dapat didesain
secara seri atau paralel, untuk memperoleh output tegangan dan arus yang
diinginkan. Untuk memperoleh arus bolak balik (AC) diperlukan alat tambahan
yang disebut inverter. Kemudian arus yang diperoleh dari inverter dapat
menyuplai beban AC.

Gambar 2.6 Skema sistem PLTSF


3) Komponen Sistem PV
Adapun komponen-komponen yang terdapat dalam Photovoltaic antara lain,
dijelaskan berikut ini.
 Modul Surya
Komponen utama dari PV yang dapat menghasilkan energi listrik DC
disebut panel surya atau modul surya. Panel surya terbuat dari bahan
semikonduktor (umumnya silicon) yang apabila disinari oleh cahaya
matahari dapat menghasilkan arus listrik.

Panel atau modul sel surya yangterbuat


dari bahan semikonduktor.
 Baterai/Aki
Baterai atau aki adalah penyimpan energi listrik pada saat matahari tidak
ada. Baterai yang cocok digunakan untuk PV adalah baterai deep cycle
lead acid yang mampu menampung kapasitas 100 Ah, 12 V, dengan
efisiensi sekitar 80%. Waktu pengisian baterai/aki selama 12 jam - 16
jam.

Gambar 3. Baterai/aki sebagai penyimpan energi listrik.


 Regulator Baterai
Regulator baterai adalah alat yang mengatur pengisian arus listrik dari
modul surya ke baterai/aki dan sebaliknya. Saat isi baterai tersisa 20%
sampai 30%, maka regulator akan memutuskan dengan beban.
Regulator baterai juga mengatur kelebihan mengisi baterai dan
kelebihan tegangan dari modul surya. Manfaat dari alat ini juga untuk
menghindari full discharge dan overloading serta memonitor suhu
baterai. Kelebihan tegangan dan pengisian dapat mengurangi umur
baterai. Regulator baterai dilengkapi dengan diode protection yang
menghindarkan arus DC dari baterai agar tidak masuk ke panel surya
lagi.

Gambar 4. Contoh regulator baterai yang ada di pasaran.


 Inverter
Inverter adalah alat yang mengubah arus DC menjadi AC sesuai dengan
kebutuhan peralatan listrik yang digunakan. Alat ini mengubah arus DC
dari panel surya menjadi arus AC untuk kebutuhan beban-beban yang
menggunakan arus AC.

Gambar 5. Inverter untuk mengubah arus DC menjadi AC.


 Kabel Instalasi
Kabel yang digunakan untuk instalasi PV adalah kabel khusus yang
dapat mengurangi loss (kehilangan) daya, pemanasan pada kabel, dan
kerusakan pada perangkat. Spesifikasi kabel yang cocok dapat
mengurangi loss 3. Konfigurasi teknologi PV yang lengkap terlihat pada
gambar 6. Setiap terminal positif panel dihubungkan satu sama lainnya
demikian pula dengan setiap terminal negatifnya. Kemudian terminal
positif panel surya dihubungkan dengan terminal positif charge
controller, demikian pula dengan terminal negatifnya. Tegangan panel
surya akan digunakan untuk menghidupkan baterai.
Gambar 6. Skema lengkap teknologi photovoltaic.
4) Kelebihan
1. Tidak Menimbulkan Polusi : Tenaga surya tidak melepaskan karbon
dioksida, sulfur dioksida, nitrogen oksida atau merkuri ke atmosfir. Tidak
membakar bahan bakar dan tidak menghasilkan emisi.
2. Menghemat Uang : Setelah investasi awal, karena akan menggunakan lebih
sedikit energi, tagihan listrik akan jauh lebih rendah dan sering kali tidak
akan ada pengeluaran sama sekali.
3. Mengurangi Konsumsi : Karena tidak memerlukan bahan bakar, akan
menghemat uang biaya bensin.
4. Hampir Bebas Perawatan : Produsen menawarkan jaminan 20 tahun dan
lebih.
5. Simpanan Energi : Konsumen dapat membangun sebuah simpanan energi
jika sistem surya menghasilkan energi lebih dari yang digunakan
6. Berkelanjutan dan Terbarukan : Bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak
dan gas alam tidak terbarukan dan berkurang. Energi matahari tidak akan
pernah habis.
7. Faktor Kebisingan : panel surya diam ditempat.
8. Panel surya ramah lingkungan dan tidak memberikan kontribusi terhadap
perubahan iklim seperti pada kasus penggunaan bahan bakar fosil karena
panel surya tidak memancarkan gas rumah kaca yang berbahaya seperti
karbon dioksida.
9. Panel surya memanfaatkan energi matahari dan matahari adalah bentuk
energi paling berlimpah yang tersedia di planet kita.
10. Panel surya mudah dipasang dan memiliki biaya pemeliharaan yang sangat
rendah karena tidak ada bagian yang bergerak.
11. Panel surya tidak memberikan kontribusi terhadap polusi suara dan bekerja
dengan sangat diam.
12. Banyak negara di seluruh dunia menawarkan insentif yang menguntungkan
bagi pemilik rumah yang menggunakan panel surya.
13. Harga panel surya terus turun meskipun mereka masih harus bersaing
dengan bahan bakar fosil.
14. Tidak diharuskan membeli semua panel surya yang diperlukan dalam waktu
yang sama, tetapi dapat dibeli secara bertahap yang berarti Anda tidak perlu
melakukan investasi besar secara instan.
15. Panel surya tidak kehilangan banyak efisiensi dalam masa pakai mereka
yang mencapai 20+ tahun.
16. Masa pakainya yang panjang, mecapai 25-30 tahun, menggaransi
penggunanya akan menghemat biaya energi dalam jangka panjang pula.

5) Kekurangan
1. Panel surya masih relatif mahal, bahkan meskipun setelah banyak
mengalami penurunan harga. Harga panel rumah sedang saat ini sekitar $
12000-18000.
2. Panel surya masih perlu meningkatkan efisiensi secara signifikan karena
banyak sinar matahari terbuang sia-sia dan berubah menjadi panas. Rata-
rata panel surya saat ini mencapai efisiensi kurang dari 20%.
3. Jika tidak terpasang dengan baik dapat terjadi over-heating pada panel
surya.
4. Panel surya terbuat dari beberapa bahan yang tidak ramah lingkungan.
5. Daur ulang panel surya yang tak terpakai lagi dapat menyebabkan
kerusakan lingkungan jika tidak dilakukan dengan hati-hati karena silikon,
selenium, kadmium, dan sulfur heksafluorida (merupakan gas rumah kaca),
kesemuanya dapat ditemukan di panel surya dan bisa menjadi sumber
pencemaran selama proses daur ulang.
6. Variabilitas Iklim - Meskipun panel surya dapat digunakan diberbagai
iklim,namun jumlah jam matahari akan menentukan jumlah panel yang
Anda perlukan dan watt yang dihasilkan.
7. Estetika - panel surya mengambil sedikit ruang atap dan tidak
menyenangkan untuk dilihat.
8. Tidak 24 Jam - Panel Surya hanya akan berfungsi ketika matahari bersinar.
Pada malam hari Anda akan harus bergantung pada energi yang tersimpan
atau dari sumber lain.
2.4. Keuntungan dan Kekurangan Energi Surya
1) Keuntungan
a. Tenaga Surya Sangat Murah
Produk yang berhubungan dengan energi matahari, seperti solar
panel, diperkirakan harganya akan lebih murah sekitar 7% setiap tahunnya.
Hal ini sudah terjadi di Amerika Serikat yang sebagian besar sudah
menggunakan tenaga surya sebagai sumber energi untuk keperluan mereka
sehari-hari.
Sepuluh tahun mendatang diperkirakan akan ada 100 juta orang
Amerika yang tinggal di berbagai kota akan menggunakan tenaga surya karena
lebih murah dibanding listrik biasa. Penghematan ini akan membuat setiap
rumah bisa memangkas tagihan listrik mereka menjadi jauh lebih kecil dari
sebelumnya.
Di beberapa perumahan di Indonesia, penggunaan panel surya sudah
diterapkan di setiap rumah. Pihak developer tersebut tentunya sudah
mengetahui arah perubahan sumber energi masa depan dan telah
memperkirakan bahwa tenaga surya nantinya akan menjadi pilihan utama.
Pemasangan awal solar panel biayanya lebih mahal dan mungkin akan
turun biayanya setiap tahun. Namun, dari sisi biaya pemakaian akan jauh lebih
kecil biayanya dibanding dengan listrik tradisional. Departemen Energi A.S.
meluncurkan SunShot Initiative, yang akan membantu menurunkan biaya
pemasangan dan pemeliharaan panel surya.

b. Tenaga Surya Banyak Peminatnya


Sektor surya memiliki salah satu persentase pertumbuhan tertinggi
bila dibandingkan dengan sektor utilitas energi lainnya. Di Amerikan
Serikat sendiri, permintaan akan tenaga surya mengalami peningkatan
sebesar 41%, membuatnya menjadi salah satu sumber energi generasi baru
yang tertinggi, diikuti oleh gas alam.
Proyek tenaga surya di perumahan di Amerika Serikat mengalami
pertumbuhan sekitar dari 60% dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2013,
panel surya telah dipasang pada lebih dari 3,5 juta rumah di Amerika
Serikat. Menurut analisis industri surya Amerika Serikat, permintaan akan
panel surya akan terus meningkat setiap tahunnya

c. Sumber Daya yang Ada Akan Semakin Berkurang


Kita tahu bahwa sumber energi tradisional seperti batu bara dan
minyak tidak bisa diperbaharui dalam waktu cepat. Dan pada waktunya
nanti, sumber energi tersebut akan semakin sedikit, bahkan habis
selamanya. Minyak mentah misalnya, membutuhkan waktu jutaan tahun
untuk terbentuk dan bisa digunakan.
Sayangnya, manusia telah menggunakan begitu banyak pasokan
minyak bumi sebelum pasokan baru terbentuk di dalam bumi. Di sisi lain,
energi matahari dapat terus diperbaharui karena matahari akan terus ada
untuk waktu yang sangat lama. Cepat atau lambat, penggunaan tenaga surya
akan sangat diperlukan oleh manusia untuk kebutuhan sehari-hari.

d. Lebih Bermanfaat Dibanding Sumber Energi Lainnya


Industri tenaga surya dianggap mampu memberikan konsumen
manfaat tertentu yang tidak didapatkan oleh industri energi lainnya. Energi
surya cepat dipasang dan harganya bisa lebih murah.
Properti komersial dan perumahan akan mendapatkan manfaat dari
sisi penghematan biaya penggunaan. Inilah yang akan membuat banyak
konsumen beralih dari sumber energi tradisional ke energi matahari.
Selain itu, penggunaan energi matahari juga menawarkan insentif
dan potongan pajak tambahan. Tidak seperti industri minyak, batu bara, dan
gas alam, yang tidak memberi keuntungan seperti ini kepada konsumen
mereka.

e. Tenaga Surya Tersedia Luas


Industri energi matahari telah berkembang pesat di Amerika Serikat.
Di sana ada banyak retailer, perusahaan independen, dan penjual online
yang memasarkan produk solar panel mereka. Ini keuntungan tersendiri
bagi konsumen karena mereka lebih banyak pilihan.
Di Indonesia sendiri, saat ini sudah cukup banyak pengecer yang
menjual produk paket tenaga surya. Dengan biaya sekitar Rp2 juta,
masyarakat bisa mendapat pembangkit listrik tenaga surya di rumah
mereka. Saat ini ada solar cell roof top berukuran 1 meter persegi yang dapat
menghasilkan listrik sekitar 100 Watt setiap hari dan membuat masyarakat
lebih hemat biaya listrik.

f. Tersedia bebas dan dapat diperoleh secara gratis di alam


Matahari merupakan sumber energi yang benar-benar bebas untuk
digunakan oleh setiap orang. Tidak ada yang memiliki Matahari, jadi
setelah Anda menutupi biaya investasi awal, pemakaian energi selanjutnya
dapat dikatakan gratis.
g. Persediaan surya hamper tak terbatas
Kita sudah mengetahui, bahwa energi surya merupakan sumber
energi terbarukan. Matahari hampir tak terbatas sebagai sumber energi, dan
energi surya tidak dapat habis, tidak seperti bahan bakar fosil yang akhirnya
akan habis. Setelah bahan bakar fosil habis, dunia akan memerlukan
alternatif sumber energi yang baik, dan energi surya jelas terlihat sebagai
salah satu alternatif terbaik. Dapat dibangun di daerah terpencil karena tidak
memerlukan transmisi energi maupun transportasi sumber energi. Energi
surya adalah salah satu pilihan energi terbaik untuk daerah-daerah terpencil,
bilamana jaringan distribusi listrik tidak praktis atau tidak memungkinkan
untuk di-instal.

2) Kelemahan
Selama ini, listrik yang kita gunakan sehari-hari berasal dari energi fosil seperti
batu bara. Namun, perlu diingat bahwa batu bara jumlahnya terbatas dan bisa habis
kapan pun. Selain itu, penggunaan bahan bakar fosil juga merupakan penyebab utama
dari pemanasan global. Sudah selayaknya kita mempertimbangkan memakai sumber
energi lain.
Berada di garis khatulistiwa, sinar matahari di Indonesia dikenal sangat melimpah.
Matahari bersinar sepanjang tahun, suatu keuntungan yang gak semua negara bisa
miliki. Lalu, kenapa Indonesia gak menggunakan pembangkit listrik tenaga surya saja?
Secara umum membutuhkan investasi awal yang besar (mahal). Kelemahan utama
dari energi surya adalah biaya awal yang tinggi. Panel surya terbuat dari bahan mahal,
bahkan dengan penurunan harga yang terjadi hampir setiap tahun, harganya tetap terasa
mahal. Biaya investasi tinggi merupakan kendala dari terhambatnya pendirian PLTS.
Sekurang-kurangnya, dibutuhkan biaya US$ 2 juta atau sekitar Rp26 miliar dari setiap
1 MWp. Jika PLTS dibangun dengan kapasitas 5000 MW, maka biaya yang dibutuhkan
adalah sekitar Rp165 triliun. Kementrian ESDM mengatasi problem ini dengan
membuka penawaran ke pihak swasta.
Meski begitu, PLTS tidak membutuhkan biaya operasional yang besar. Biaya yang
dibutuhkan hanya untuk maintenance modul surya, seperti menyiram air untuk
menghilangkan debu serta melakukan pemotongan rumput di sekitar modul.
Bandingkan dengan pembangkit listrik tenaga diesel yang membutuhkan ribuan liter
solar untuk mengaliri listrik.
a. Pemanfaatan energi surya di Indonesia baru 0,05 persen saja
Dalam skala global, China dan Amerika Serikat memimpin dalam
penggunaan pembangkit listrik tenaga surya. Sementara, di Indonesia,
justru pemanfaatan energi matahari masih sangat kurang. Hal ini dipaparkan
oleh Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Energi
Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementrian ESDM, M.
Arifin, dalam keterangan tertulis di laman esdm.go.id.

"Pemanfaatan energi surya di Indonesia baru sebesar 0,05 persen


dari potensi yang ada. Sehingga masih banyak tantangan yang harus
diselesaikan bersama, salah satunya adalah biaya produksi PLTS yang
masih tinggi," terang Arifin. Tantangan lainnya, PLTS tidak dapat
ditransportasikan dan kurang kemampuan SDM dalam penguasaan
teknologi PLTS.
b. Padahal, pembangkit listrik tenaga surya punya segudang manfaat, lho!

Laman Green Match menyebut bahwa energi matahari memiliki


dampak paling sedikit terhadap lingkungan dibanding sumber energi
lainnya. Di antaranya, tidak menghasilkan gas rumah kaca, tidak mencemari
air, membutuhkan sedikit air untuk pemeliharaan serta tidak menimbulkan
kebisingan.
Asal ada sinar, energi matahari dapat diterapkan di mana saja. Ini
sangat berguna untuk daerah terpencil tanpa akses ke sumber listrik lain.
Tentu saja, ramah lingkungan dan lebih murah merupakan keuntungan lain
dari pemanfaatan energi matahari.

 Meski begitu, Indonesia juga punya pembangkit listrik tenaga surya terbesar!

Diresmikan di desa Oelpuah, Kupang, NTT pada 27 Desember 2015


oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, PLTS Kupang ini memiliki
kapasitas sebesar 5 MW. Dengan demikian, PT Lembaga Elektronik
Nasional (LEN) turut serta membantu PLN dalam mengatasi defisit listrik
di wilayah tersebut.
Berdiri di atas lahan seluas 7,5 hektare, terlihat ribuan panel surya
membentang di atasnya. Satu panel surya menghasilkan 230 watt listrik.
Wilayah NTT dirasa sangat cocok untuk mengembangkan PLTS sebab
selama sembilan bulan dari satu tahun, NTT selalu disinari oleh cahaya
matahari.

 Seberapa banyak energi yang dihemat dari adanya PLTS?


Memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber energi dinilai sangat
ramah lingkungan. Misalnya, energi 5.000 MW yang dihasilkan dari PLTS,
bila dikonversi akan setara dengan menanam 18.124 pohon, menghemat 1,5
juta bahan bakar solar untuk PLTD serta mencegah emisi CO2 dari PLTD
sebanyak 3,6 juta ton. Bayangkan betapa besar manfaat yang dirasakan
apabila PLTS menjadi sumber listrik utama di tanah air!
Selain itu, menurut laman Solar Craft, setiap 1000 kWh, solar panel
dapat mengurangi emisi hampir 8 pon sulfurdioksida, 5 pon nitrogen oksida
serta 1.400 karbon dioksida. A really great benefit!
 Perkara pembebasan lahan juga menjadi kendala
Seperti yang kita tahu, PLTS membutuhkan lahan yang luas untuk
menempatkan panel surya. Hal ini pun menjadi kendala karena melakukan
pembebasan lahan juga tidak mudah untuk dilakukan. Terlebih, di area
padat penduduk, sulit memperoleh lahan untuk membangun PLTS. Hal ini
kontras dengan Uni Emirat Arab (UEA) yang memberikan lahan gratis
untuk investor dalam mengembangkan tenaga surya.

Berkaitan dengan masalah demografi tersebut, akan lebih baik jika


PLTS dibangun di daerah yang masih memiliki lahan luas (seperti di luar
Jawa), di dataran rendah dan dengan sinar matahari yang bersinar sepanjang
tahun.

 Apa target kementrian ESDM terkait PLTS di masa depan?

Tantangan mencari energi terbarukan terus dicari. Kementrian


ESDM melalui Ditjen EBTKE sedang mencanangkan dibuatnya satu juta
atap panel surya hingga tahun 2025 mendatang. Bila dikonversikan, proyek
ini akan menghasilkan sekitar 1000 MW atau 1 GW. Hal ini juga membantu
pemerintah dalam mencapai target kebijakan energi nasional. Let's hope for
the best!
Daftar Pustaka
Abdullah, K. (1998). Penerapan Energi Surya Dalam Proses Termal Pengolahan Hasil Pertanian. Jurnal
Teknik Pertanian Vol.12 No.1, 56-73.

Hage. (2008, September 11). Energi Surya dan Prospek Pengembangannya di Indonesia. Retrieved from
Ensiklopedia Listrik : dunia-listrik.blogspot.com/2008/11/energi-surya-dan-prospek.html

Hasan, H. (2012). Perancangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya DI Pulau Saugi. Jurnal Riset dan
Teknologi Kelautan (JRTK) Volume 10 Nomor 2, 13.

Lubis, A. (2007). Energi Terbarukan Dalam Pembangunan Berkelanjutan . Jurnal Teknik Lingkungan Vol.8
No.2 , 155-162.

Manan, S. (2009, November 20). Energi Matahari, Sumber Energ Alternatif yang Effisien, Handal dan
Ramah Lingkungan di Indonesia. Retrieved from Diponegoro University Institutional Repository :
eprints.undip.ac.id

Tonapa, Y. (2010). Buku I Bahan Ajar Teknik Penyediaan Energi . Bandung: Politeknik Negeri Bandung.