Anda di halaman 1dari 13

Frozen Shoulder

Bahu Beku (Frozen Shoulder)


Adhesive Capsulitis adalah istilah medis untuk Bahu beku (Frozen Shoulder). Ini
adalah kondisi yang mempengaruhi kemampuan untuk menggerakkan bahu, dan
biasanya hanya terjadi pada satu sisi.

Gejala Capsulitis Adhesive


Kondisi ini telah digambarkan dalam tiga fase, gejala akan berbeda tergantung pada
fase kondisi.

The Painful (Freezing) Phase


Secara bertahap timbulnya nyeri bahu.
Berkembang nyeri secara luas, sering buruk di malam hari dan ketika berbaring
pada sisi yang terkena.
Fase ini dapat berlangsung antara 2-9 bulan.

The Stiffening (Frozen) Phase

Kekakuan mulai menjadi sebuah masalah.

Tingkat nyeri biasanya tidak mengubah.

Kesulitan dengan kegiatan sehari-hari seperti berpakaian, menyiapkan makanan,


membawa tas, bekerja.
kerugian karena penyusutan otot mungkin jelas karena kurang digunakan.
Tahap ini bisa bertahan antara 4-12 bulan.

The Thawing Phase


Secara bertahap perbaikan dalam kemampuan gerak
Secara bertahap penurunan nyeri, meskipun mungkin muncul
sebagaimanamengakibatkan kekakuan
Tahap ini bisa bertahan antara 5-12 bulan

kembali

Apa itu Frozen Shoulder ?


Capsulitis Adhesive adalah istilah medis untuk bahu beku, kadang-kadang disingkat
FSS (Frozen Soulder Syndrome). Ini adalah kondisi yang mempengaruhi kemampuan
untuk menggerakkan bahu, dan biasanya hanya terjadi pada satu sisi. Kadang-kadang
masalah dapat menyebar ke bahu lain (sekitar 1 orang dalam 5 orang).
Istilah medis secara harfiah menggambarkan apa yang dilihat dalam kondisi ini.
Adhesive berarti kaku dan capsulitis berarti peradangan pada kapsul sendi. Diperkirakan
bahwa banyak gejala disebabkan oleh kapsul yang menjadi meradang dan'lengket',
membuat sendi kaku dan sulit untuk bergerak. Ini tidak sama dengan artritis dan tidak
ada sendi lainnya biasanya terpengaruh.
Bahu beku sangatlah jarang di kalangan anak muda, dan hampir selalu ditemukan pada
kelompok usia 40 +, biasanya dalam rentang usia 40-70. Sekitar 3% dari populasi akan
terkena dampak ini, dengan kejadian yang sedikit lebih tinggi di antara wanita,
danprevalensi lima kali lebih tinggi pada penderita diabetes.

Apa penyebabnya?

Ada dua klasifikasi dari sindrom bahu beku:


Primer - Tidak ada alasan yang signifikan untuk nyeri / kekakuan.
Sekunder - Sebagai hasil dari suatu peristiwa seperti trauma, pembedahan
ataupenyakit.
Tidak diketahui persis apa yang menyebabkan masalah ini, namun diperkirakan
bahwalapisan sendi (kapsul) menjadi meradang, yang menyebabkan jaringan parut
terbentuk.Ini meninggalkan sedikit ruang untuk humerus (tulang lengan) untuk bergerak,
makamembatasi pergerakan sendi.
Prevalensi meningkat di kalangan penderita diabetes (terutama bergantung pada
insulindiabetes) mungkin karena molekul glukosa menempel pada serat kolagen dalam

kapsul sendi, yang menyebabkan kekakuan. Untuk alasan ini, penderita diabetes lebih
mungkinmemiliki kedua bahunya terpengaruh.
Perubahan hormon mungkin bertanggung jawab terhadap kejadian lebih tinggi di
antaraperempuan, khususnya karena prevalensi meningkat sekitar periode menopause.
Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa postur tubuh yang buruk, terutama
mengitari bahunya, dapat menyebabkan pemendekan salah satu ligamen bahu, yang
juga dapat menyebabkan kondisi ini. Juga, perpanjangan imobilitas (seperti setelah
patah tulang) dapat menyebabkan kondisi ini untuk berkembang.
somber : http://www.sportsinjuryclinic.net

DEFINISI
Frozen shoulder atau adhesive capsulitis mempunyai beberapa sebutan seperti
scapulohumeral periarthritis of duplay atau disebut juga sebagai check rein shoulder.
Adhesive capsulitis adalah suatu keadaan yang mempunyai karakteristik berupa nyeri
dan kekakuan yang disebabkan oleh kelainan intrinsik dan ekstrinsik sendi bahu.
Kekakuan tersebut menimbulkan keterbatasan gerak segara arah baik gerakan aktif
maupun pasif, dan sering dialami oleh orang berusia 40-60 tahun dan lebih sering pada
perempuan. Nyeri secara berangsur-angsur bertambah berat dan pasien sering tidak
dapat tidur pada sisi yang terkena. Gejala klinis dari frozen shoulder adalah nyeri pada
sendi bahu, berkurangnya LGS pada sendi bahu sehingga menyebabkan terjadi
penururunan kapasitas fungsional bahu dalam aktivitas pasien sehari-hari. Keadaan ini
pertama kali dikenali oleh Putnam dan kemudian oleh Codman.
Frozen shoulder dibagi dalam 3 tahapan, yaitu :
a.

Pain (Freezing) : ditandai dengan adanya nyeri hebat bahkan saat istirahat, gerak

sendi bahu menjadi terbatas selama 2-3 minggu dan masa akut ini berakhir ampai 10-36
minggu.
b.

Stiffness (Frozen) : ditandai dengan rasa nyeri saat bergerak, kekakuan atau

perlengketan yang nyata dan keterbatasan gerak dari glenohumeral yang di ikuti oleh
keterbatasan gerak scapula. Fase ini berakhir 4-12 bulan.
c.

Recovery (Thawing) : pada fase ini tidak ditemukan adanya rasa nyeri dan tidak

ada synovitis tetapi terdapat keterbatasan gerak karena perlengketan yang nyata. Fase
ini berakhir 6-24 bulan atau lebih.
Adapun berbagai macam gangguan yang ditimbulkan dari frozen shoulder adalah
sebagai berikut :
1.

Impairment.

Pada kasus frozen shoulder akibat capsulitis adhesiva permasalahan yang ditimbulkan
antara lain adanya nyeri pada bahu, keterbatasan lingkup gerak sendi dan penurunan
kekuatan otot di sekitar bahu.
2.

Functional limitation.

Masalah-masalah yang sering ditemui pada kondisi-kondisi frozen shoulder adalah


keterbatasan gerak dan nyeri, oleh karena itu dalam keseharian sering ditemukan
keluhan-keluhan seperti tidak mampu untuk menggosok punggung saat mandi, menyisir
rambut, kesulitan dalam berpakaian, mengambil dompet dari saku belakang kesulitan
memakai breast holder (BH) bagi wanita dan gerakan-gerakan lain yang melibatkan
sendi bahu.
3.

Participation restriction.

Pasien yang mengalami frozen shoulderakan menemukan hambatan untuk melakukan


aktifitas sosial masyarakat karena keadaannya, hal ini menyebabkan pasien tersebut
tidak percaya diri dan merasa kurang berguna dalam masyarakat, tapi pada
umumnya frozen shoulder jarang menimbulkan disability atau kecacatan.
KLASIFIKASI
Frozen shoulder dibagi 2 Klasifikasi,yaitu :
a. Primer/ idiopetik frozen shoulder
Yaitu frozen yang tidak diketahui penyebabnya. Frozen shoulder lebih banyak terjadi
pada wanita dari pada pria dan biasanya terjadi usia lebih dari 41 tahun. Biasanya terjadi
pada lengan yang tidak digunakan dan lebih memungkinkan terjadi pada orang-orang
yang melakukan pekerjaan dengan gerakan bahu yang lama dan berulang.
b

Sekunder frozen shoulder

Yaitu frozen yang diikuti trauma yang berarati pada bahu misal fraktur, dislokasi, luka
baker yang berat, meskipun cedera ini mungkin sudah terjadi beberapa tahun
sebelumnya.
ETIOLOGI
Penyebab frozen shoulder tidak diketahui, diduga penyakit ini merupakan
respon autoimmobization terhadap hasil hasil rusaknya jaringan lokal. Meskipun
penyebab utamanya idiopatik, banyak yang menjadi predisposisi frozen shoulder, selain
dugaan adanya respon auto immobilisasi seperti yang dijelaskan di atas ada juga faktor
predisposisi lainnya yaitu usia, trauma berulang (repetitive injury), diabetes mellitus,
kelumpuhan, pasca operasi payudara atau dada dan infark miokardia, dari dalam
sendi glenohumeral (tendonitis bicipitalis, infalamasi rotator cuff, fracture) atau kelainan
ekstra articular (cervical spondylisis, angina pectoris). De Palma (1973) melaporkan
bahwa setiap hambatan yang menghalangi gerak scapulohumeral/ scapulothoraxic
menyebabkan inaktifitas dari otot sehingga merupakan predisposisi terjadinya frozen
shoulder
Etiologi dari frozen shoulder masih belum diketahui dengan pasti. Adapun faktor
predisposisinya antara lain periode immobilisasi yang lama, akibat trauma, over use,
cidera atau operasi pada sendi, hyperthyroidisme,
penyakit kardiovaskuler, clinical depressiondan Parkinson (AAOS, 2000).
Menurut American Academy Of Orthopedic Surgeon (2000), teori yang mendasari
terjadinya frozen shoulder adalah sebagai berikut :
1. Teori hormonal
Pada umumnya frozen shoulder terjadi 60 % pada wanita bersamaan dengan
datangnyamenopause.
2. Teori genetik

Beberapa studi mempunyai komponen genetik dari frozen shoulder, contohnya ada
beberapa kasus dimana kembar indentik pasti menderita pada saat yang sama.
3. Teori auto immun
diduga penyakit ini merupakan respon auto immun terhadap hasil-hasil rusaknya
jaringan lokal.
4.Teori postur
Banyak studi yang belum diyakini bahwa berdiri lama dan postur tegap menyebabkan
pemendekkan pada salah satu ligamen bahu.
Walaupun banyak peneliti sependapat bahwa immobilisasi merupakan faktor penting dari
penyebab frozen shoulder sendi glenohumeral. Ada beberapa kondisi predisposisi yang
lain, pertama usia pasien. Adhesive capsulitis tidak terjadi pada usia muda, tetapi sering
pada usia pertengahan. Kedua, refleks spasme otot penting dalam
perubahan fibroticprimer.
PATOLOGI
Patologinya dikarakteristikan dengan adanya kekakuan kapsul sendi oleh jaringan fibrous
yang padat dan selular. Berdasarkan susunan intra articular adhesion,
penebalan sinovialakan berlanjut ke keterbatasan articular cartilago. Berkurangnya
cairan sinovial pada sendi sehingga terjadi perubahan kekentalan cairan tersebut yang
menyebabkan penyusutan pada kapsul sendi, sehingga sifat ekstensibilitas pada kapsul
sendi berkurang dan akhirnya terjadi perlekatan. Tendinitis bicipitalis,
calcificperitendinitis, inflamasi rotator cuf, frkatur atau kelainan ekstra articular
seperti angina pectoris, cervical sponylosis, diabetes mellitus yang tidak
mendapatkan penanganan secara tepat maka kelama-lamaan akan menimbulkan
perlekatan atau dapat menyebabkan adhesive capsulitis. Adhesive capsulitis dapat
menyebabkan patologi jaringan yang menyebabkan nyeri dan menimbulkan spasme,
degenerasi juga dapat menyebabkan nyeri dan dapat menimbulkan spasme.
Kapsul sendi terdiri dari selaput penutup fibrosa padat, suatu lapisan dalamnya
terbentuk dari jaringan penyambung berpembuluh darah banyak dan sinovium, yang
berbentuk suatu kantong yang melapisi seluruh sendi, dan membungkus tendon-tendon
yang melintasi sendi, sinoviumtidak meluas melampaui permukaan sendi tetapi terlipat
sehingga memungkinkan gerakan secara penuh. Sinovium menghasilkan cairan yang
sangat kental yang membasahi permukaan sendi. Cairan sinovium normalnya bening,
tidak membeku, tidak berwarna. Jumlah yang di permukaan sendi relative kecil (1-3 ml).
Cairan sinovium juga bertindak sebagai sumber nutrisi bagi tulang rawan
sendi. Capsulitis adhesiva merupakan kelanjutan dari lesi rotator cuf, karena terjadi
peradangan atau degenerasi yang meluas ke sekitar dan ke dalam kapsul sendi dan
mengakibatkan terjadinya reaksi fibrous. Adanya reaksi fibrous dapat diperburuk akibat
terlalu lama membiarkan lengan dalam posisi impingement yang terlalu lama.
Sindroma nyeri bahu sangat komplek dan sulit untuk diidentifikasi satu persatu bagian
secara detail. Guna memahami penyebab dan patologi sindroma nyeri bahu, maka dapat
dikelompokkan menjadi:
a. Faktor Penyebab:
1) Faktor penyebab gerak dan fungsi, yang terkait dengan aktifitas gerak dan struktur
anatomi

2) Faktor penyebab penyebab secara neurogenik yang berkaitan dengan keluhan


neurologik yang menyertai baik secara langsung maupun tidak langsung yang berupa
nyeri rujukan.
b. Berdasarkan sifat keluhan nyeri bahu dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu :
(a) Kelompok spesifik, mengikuti pola kapsuler dan
(b) Kelompok tidak spesifik sebagai kelompok yang bukan mengikuti pola kapsuler.
Selama peradangan berkurang jaringan berkontraksi kapsul menempel pada kaput
humeri dan guset sinovial intra artikuler dapat hilang dengan perlengketan. Frozen
merupakan kelanjutan lesi rotator cuf, karena degenerasi yang progresif. Jika
berkangsung lama otot rotator akan tertarik serta memperlengketan serta
memperlihatkan tnada-tanda penipisan dan fibrotisasi. Keadaan lebih lanjut, proses
degenerasi diikuti erosituberculum humeri yang akan menekan tendon bicep dan
bursa subacromialis sehingga terjadi penebalan dinding bursa.
Frozen shoulder dapat pula terjadi karena ada penimbunan kristal kalsium fosfat dan
karbonat pada rotator cuf. Garam ini tertimbun dalam tendon, ligamen, kapsul serta
dinding pembuluh darah. Penimbunan pertama kali ditemukan pada tendon lalu
kepermukaan dan menyebar keruang bawah bursa subdeltoid sehingga terjadi rardang
bursa, terjadi berulang-ulang karena tekiri terus-menerus menyebabkan penebalan
dinding bursa, pengentalan cairan bursa, perlengketan dinding dasar dengan bursa
sehingga timbul pericapsulitis adhesive akhirnya terjadi frozen shoulder.
Faktor immobilisasi juga merupakan salah satu faktor terpenting yang juga dapat
menyebabkan perlekatan intra, ekstra selular pada kapsul dan ligamen, kemudian
kelenturan jaringan menjadi menurun dan menimbulkan kekakuan. Semua organ yang
disekeliling jaringan lunak, terutama tendon supraspinatus terlibat dalam perubahan
patologi. Fibrotic ligamen coracohumeral cenderung normal dari tendon bicep caput
longum juga rusak (robek). Keterlibatan tendon bicep berpengaruh secara signifikan
dalam penyebaran nyeri ke anterior sendi glenohumeral yang berhubungan dengan
adhesive capsulitis.
Menurut Kisner frozen shoulder dibagi dalam 3 tahap, yaitu :
1. Pain (Freezing) :
ditandai dengan adanya nyeri hebat bahkan saat istirahat, gerakan sendi bahu menjadi
terbatas selama 2-3 minggu dan masa akut ini berakhir sampai 10-36 minggu.
2. Stifness (Frozen) :
ditandai dengan nyeri saat bergerak, kekakuan atau perlengketan yang nyata dan
keterbatasan gerak dari glenohumeral yang diikuti oleh keterbatasan gerak scapula. Fase
ini berakhir 4-12 bulan.
3. Recovery (Thawing) :
pada fase ini tidak ditemukan adanya rasa nyeri dan tidak ada synovitis tetapi terdapat
keterbatasan gerak karena perlengketan yang nyata. Fase ini berakhir 6-24 bulan atau
lebih.
Pada frozen shoulder terdapat perubahan patologi pada kapsul artikularis glenohumeral
yaitu perubahan pada kapsul sendi bagian anterior superior mengalami synovitis,
kontraktur ligamen coracohumeral, dan penebalan pada ligamen superior glenohumeral,
pada kapsul sendi bagian anterior inferior mengalami penebalan pada ligamen inferior

glenohumeral dan perlengketan pada ressesus axilaris, sedangkan pada kapsul sendi
bagian posterior terjadi kontraktur, sehingga yang khas pada kasus ini rotasi internal
paling bebas, abduksi terbatas dan rotasi eksternal paling terbatas atau biasa disebut
pola kapsuler. Perubahan patologi tersebut merupakan respon terhadap rusaknya
jaringan lokal berupa inflamasi pada membran synovial dan kapsul sendi glenohumeral
yang membuat formasi adhesive (Thomson, 1991). Sehingga menyebabkan perlengketan
pada kapsul sendi dan terjadi peningkatan viskositas cairan sinovial sendi glenohumeral
dengan kapasitas volume hanya sebesar 5-10ml, yang pada sendi normal bisa mencapai
20-30m (Donatelli, 1989). Selanjutnya kapsul sendi glenohumeral menjadi mengkerut,
pada pemeriksaan gerak pasif ditemukan keterbatasan gerak pola kapsular dan firm end
feel dan inilah yang disebut frozen shoulder.
PATOFISIOLOGI
Patofisiologi frozen shoulder masih belum jelas, tetapi beberapa penulis menyatakan
bahwa dasar terjadinya kelainan adalah imobilisasi yang lama. Setiap nyeri yang timbul
pada bahu dapat merupakan awal kekakuan sendi bahu. Hal ini sering timbul bila sendi
tidak digunakan terutama pada pasien yang apatis dan pasif atau dengan nilai ambang
nyeri yang rendah, di mana tidak tahan dengan nyeri yang ringan akan membidai
lengannya pada posisi tergantung. Lengan yang imobil akan menyebabkan stasis vena
dan kongesti sekunder dan bersama-sama dengan vasospastik, anoksia akan
menimbulkan reaksi timbunan protein, edema, eksudasi, dan akhirnya reaksi fibrosis.
Fibrosis akan menyebabkan adhesi antara lapisan bursa subdeltoid, adhesi
ekstraartikuler dan intraartikuler, kontraktur tendon subskapularis dan bisep, perlekatan
kapsul sendi.
Pendapat lain mengatakan inflamasi pada sendi menyebabkan thrombine dan fibrinogen
membentuk protein yang disebut fibrin. Protein tersebut menyebabkan penjedalan dalam
darah dan membentuk suatu substansi yang melekat pada sendi. Perlekatan pada sekitar
sendi inilah yang menyebabkan perlekatan satu sama lain sehingga menghambat full
ROM. Kapsulitis adhesiva pada bahu inilah yang disebut frozen shoulder.GAMBARAN
KLINIS
Biasanya memang penderita datang dengan keluhan nyeri dan ngilu pada sendi serta
gerakan sendi bahu yang terbatas ke segala arah, terutama gerakan abduksi dan elevasi,
sehingga mengganggu lingkup gerak sendi bahu. Rasa nyeri akan meningkat
intensitasnya dari hari ke hari. Bersamaan dengan hal ini terjadi gangguan lingkup gerak
sendi bahu. Penyembuhan terjadi lebih kurang selama 6 -12 bulan, di mana lingkup
gerak sendi akan meningkat dan akhir bulan ke 18 hanya sedikit terjadi keterbatasan
gerak sendi bahu.
a. Nyeri
Pasien berumur 40-60 tahun, dapat memiliki riwayat trauma, seringkali ringan, diikuti
sakit pada bahu dan lengan nyeri secara berangsur-angsur bertambah berat dan pasien
sering tidak dapat tidur pada sisi yang terkena. Setelah beberapa lama nyeri berkurang,
tetapi sementara itu kekakuan semakin terjadi, berlanjut terus selama 6-12 bulan setelah
nyeri menghilang. Secara berangsur-angsur pasien dapat bergerak kembali, tetapi tidak
lagi normal.
b. Keterbatasan Lingkup gerak sendi

Capsulitis adhesive ditandai dengan adanya keterbatasan luas gerak


sendi glenohumeral yang nyata, baik gerakan aktif maupun pasif. Ini adalah suatu
gambaran klinis yang dapat menyertaitendinitis, infark myokard, diabetes
melitus, fraktur immobilisasi berkepanjangan atau redikulitis cervicalis. Keadaan ini
biasanya unilateral, terjadi pada usia antara 4560 tahun dan lebih sering pada wanita.
Nyeri dirasakan pada daerah otot deltoideus. Bila terjadi pada malam hari sering sampai
mengganggu tidur. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya kesukaran penderita
dalam mengangkat lengannya (abduksi), sehingga penderita akan melakukan dengan
mengangkat bahunya (srugging).
c. Penurunan Kekuatan otot dan Atropi otot
Pada pemeriksaan fisik didsapat adanya kesukaran penderita dalam mengangkat
lengannya (abduksi) karena penurunan kekuatan otot. Nyeri dirasakan pada daerah
otot deltoideus, bila terjadi pada malam hari sering menggangu tidur. Pada pemeriksaan
didapatkan adanya kesukaran penderita dalam mengangkat lengannya
(abduksi), sehingga penderita akan melakukandengan mengangkat bahunya (srugging).
Juga dapat dijumpai adanya atropi bahu (dalam berbagaoi tingkatan). Sedangkan
pemeriksaan neurologik biasanya dalam batas normal.
d. Gangguan aktifitas fungsional
Dengan adanya beberapa tanda dan gejala klinis yang ditemukan pada penderita frozen
shoulderakibat capsulitis adhesiva seperti adanya nyeri, keterbatasan LGS, penurunan
kekuatan otot danatropi maka secara langsung akan mempengaruhi (mengganggu)
aktifitas fungsional yang dijalaninya.
Beberapa penulis membagi keadaan tersebut dalam 4 stadium:
1. Staduim I : rasa nyeri umumnya terdapat pada sekitar sendi glenohumeral, serta
semakin bertambah nyeri bila digerakkan tetapi belum menimbulkan keterbatasan gerak
sendi bahu. Pemeriksaan gerak secara pasif menimbulkan rasa nyeri pada akhir gerakan.
2. Stadium II : rasa nyeri bertambah, timbul pada malam hari sehingga mengganggu
tidur. Hampir setiap gerakan sendi bahu menimbulkan rasa nyeri dan gerakan tiba-tiba
akan menimbulkan rasa nyeri yang hebat. Nyeri terjadi pada daerah insersi otot deltoid
dan menjalar ke lengan dan siku. Karena rasa nyeri dan adanya keterbatasan gerakn
sendi bahu maka akan menimbulkan gangguan pada saat menyisir rambut.
3. Stadium III : rasa nyeri timbul secara spontan pada saat istirahat, walaupun demikian
nyeri akan tetap timbul bila melakukan gerakan tiba-tiba seperti meregangkan sendi.
Pada stadium ini keterbatasan gerak sendi bahu baru bertambah nyata, hal ini
disebabkan oleh adhesi dan kontraktur dari penebalan mangkok sendi bahu. Otot-otot
sekitar sendi seperti supraspinatus dan infraspinatus akan menjadi atrofi. Lamanya
stadium I III bervariasi antara beberapa minggu sampai lbih kurang 2 bulan. Pada
stadium III dan IV keterbatasan gerak sendi merupakan masalah yang dihadapi.
4. Stadium IV : mulai terjadi penyembuhan dari keterbatasan sendi bahu secara bertahap
dan pemulihan gerakan sendi bahu mulai lebih kurang pada bulan ke 4 dan ke 5 dari saat
mulai timbulnya keluhan dan berakhir sekitar 6 sampai 12 bulan.gambaran radiologi
umumnya tidak menunjukkan adanya kelainan.
DIAGNOSA
a. Anamnesis

Hal-hal yang harus ditanyakan kepada pasien adalah sebagai berikut:


- Lokasi yang sebenarnya dari nyeri bahu yang dirasakan
- Sudah berapa lama nyeri tersebut dirasakan
- Faktor apa saja yang menjadi pencetus timbulnya nyeri bahu tersebut dan yang dapat
menguranginya
- Ada tidaknya aktivitas yang berlebihan, terkilir atau trauma pada bahu sebelumnya
- Ada tidaknya masalah atau penyakit pada bahu yang pernah diderita sebelumnya. Jika
mungkin ditanyakan juga diagnosis serta terapi yang pernah diberikan saat itu.
- Perlu juga ditanyakan mengenai pekerjaan, kegemaran atau kegiatan waktu senggang
yang sering dilakukan pasien.
b. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
- Perhatikan postur tubuh pasien dan cara berjalan saat memasuki ruang periksa. Apakah
lengan berayun atau sesuai langkah kaki atau dipertahankan pada posisi tertentu.
- Pasien diminta untuk membuka pakaian bagian atas sampai ke pinggang dan saat
pasien melakukan hal tersebut perhatikan apakah gerakannya normal atau ada gerakan
yang canggung dan posisi terpaksa.
- Selain itu perhatikan :
1. Posisi leher dan punggung, apakah ada kifosis berlebihan pada vertebra torakal.
2. Posisi skapula relatif terhadap vertebra apakah ada protaksi berlebihan
3. Posisi humerus terhadap skapula dan vertebra torakal :
a. Adanya hipotrofi/atrofi otot
b. Adanya tanda radang akut, edema dan kemerahan
Palpasi
Palpasi sebaiknya di;lakukan dengan posisi pemeriksa di belakang pasien :
- Lakukan palpasi mulai dari sendi sternoklavikular, kemudian bergerak ke lateral
sepanjang klavikula menuju sendi akromioklavikula dan sendi glenohumeral
- Rasakan apakah terdapat edema, krepitasi, tanyakan ada tidaknya nyeri tekan.
Perubahan kontur tulang jaringan lunak dan peningkatan rasa nyeri.
- Oleh karena rotator cuff terletak tepat di bawah akromion, untuk dapat dipalpasi
terlebih dahulu harus dirotasikan keluar dengan cara mengekstensikan lengan pasien
secara pasif, sehingga kaput humeri berotasi ke anterior. Untuk mengetahui ada tidaknya
nyeri tekan pada rotator cuff palpasi daerah di bawah anterior akromion
- Palpasi di bawah bagian lateral akromion dapat menimbulkan nyeri tekan pada bursitis
subakromial
Pada frozen shoulder merupakan gangguan pada kapsul sendi, maka gerakan aktif
maupun pasif terbatas dan nyeri. Nyeri dapat menjalar ke leher, lengan atas dan
punggung, perlu dilihat faktor pencetus timbulnya nyeri. Gerakan pasif dan aktif
terbatas. Pertama-tama pada gerakan elevasi dan rotasi interna lengan, tetapi kemudian
untuk semua gerakan sendi bahu.
Tes Appley scratch merupakan tes tercepat untuk mengeveluasi lingkup gerak sendi aktif
pasien diminta menggaruk daerah angulus medialis skapula dengan tangan sisi kontra
lateral melewati belakang kepala. Pada frozen shoulder pasien tidak dapat melakukan
gerakan ini. Bila sendi dapat bergerak penuh pada bidang geraknya secara pasif, tetapi

terbatas pada gerak aktif, maka kemungkinan kelemahan otot bahu sebagai penyebab
keterbatasan.
Nyeri akan bertanbah pada penekanan dari tendon yang membentuk muskulotendineus
rotator cuff. Bila gangguan berkelanjutan akan terlihat bahu yang terkena reliefnya
mendatar, bahkan kempis, karena atrofi otot deltoid, supraspinatus dan otot rotator cuff
lainnya.
c. Pemeriksaan penunjang
- Radiologi polos
- Arthrografi
- Bonescan
- MRI
- EMG
- Arthroscopi
- Laboratorium
DIAGNOSA BANDING
Kekakuan pasca trauma setelah setiap cedera bahu yang berat, kekakuan dapat
bertahan beberapa bulan. Pada mulanya kekurangan ini maksimal dan secara berangsurangsur berkurang, berbeda dengan pola bahu beku. Kondisi pembanding dari kondisi
Frozen shoulder yang diakibatkan capsulitis adhesiva antara lain: 1) Bursitis
subacromial, 2) Tendinitis bicipitalis 3) Lesi rotator cuf
PENATALAKSANAAN
Beberapa teknik terapi fisik untuk penderita penyakit ini antara lain :
1.

Diatermi gelombang pendek (Short Wave Diathermy/ SWD)

Short wave diathermy merupakan suatu pengobatan dengan


menggunakan stressor berupaenergi elektromagnetik yang dihasilkan oleh arus listrik
bolak- balik frekuensi 27, 12 MHz, dengan panjang gelombang 11m.
Efektifitas dalam penggunaan SWD ditentukan oleh penentuan intensitas dan
dosis.Intensitas ditentukan oleh perasaan penderita terhadap panas yang diterimanya.
Besar kecilnya intensitas bersifat subjektif tergantung sensasi panas yang diterima
pasien oleh karena itu antara orang satu dengan lainnya mungkin bisa berbeda
intensitas SWD yang diberikan . Menurut schliphake, intensitas dibagi menjadi empat
tingkat yaitu : (a) Intensitas submitis (penderita tidak merasakan panas), (b)
Intensitas mitis (penderita merasakan sedikit panas), (c) Intensitas normalis (penderita
merasakan hangat yang nyaman), (d) Intensitas fortis (Penderita merasakan panas yang
kuat, tapi masih bisa ditahan).
Tujuan terapi panas yang dihasilkan pada pemberian SWD ini adalah:
a)

Mengurangi nyeri

Adanya gejala nyeri menunjukkan dalam keadaan tidak normal. Jaringan tersebut
merupakan sumber nyeri, keadaan yang tidak normal tadi memberikan iritasi kepada
reseptor nyeri. Stimulustadi selanjutnya akan dihantarkan oleh serabut C tanpa myelin
(nyeri tumpul, lamban, difuse) atau serabut A delta bermielin (nyeri tajam, cepat).
Panas yang diberikan akan memberikan efek sedative karena adanya kenaikan nilai
ambang nyeri.karena adanya vasodilatasi akan memperlancar pembuangan zat pain
producing substance.

b)

Memberikan relaksasi otot- otot spasme

Nyeri bahu akan merangsang reaksi protektif dari tubuh berupa spasme otot- otot sekitar
bahu. Ini dimaksudkan untuk memfiksir sendi bahu agar tidak bergerak, yang selanjutnya
akan terhindar rasa nyeri. Reaksi spasme itu sendiri akan menghambat sistem peredaran
darah setempat yang mengakibatkan terhambatnya reorgnisasi jaringan dan pain
producing substance. Hal ini akan menambah nyeri, sehingga siklus yang tidak
menguntungkan, sel-sel abnormal yang menyebabkan bengkak dan nyeri oleh pengaruh
medan magnit yang ditimbukan oleh gelombang pulsa SWD, sel-sel abnormal dapat
dinormalkan.
Syarat-syarat untuk menentukan indikasi pemberian terapi dengan SWD:
1)

Stadium dari penyembuhan luka

2)

Sifat dari jaringan atau organ yang mengalami kerusakan

3)

Lokalisasi dari jaringan/ organ yang mengalami kerusakan

2.

Terapi Manipulasi

Terapi manipulasi adalah suatu gerakan pasif yang digerakkan dengan tiba- tiba,
amplitude kecil dan kecepatan yang tinggi, sehingga pasien tidak mampu menghentika
gerakan yang terjadi.
Tujuan mobilisasi sendi adalah untuk mengembalikan fungsi sendi normal dan tanpa
nyeri. Secara mekanis, tujuannya adalah untuk memperbaiki joint play movement dan
dengan demikian memperbaiki roll-gliding yang terjadi selama gerakan aktif. Terapi
manipulasi harus diakhiri apabila sendi telah mencapai LGS maksimal tanpa nyeri dan
pasien dapat melakukan gerakan aktif dengan normal.
Gerakan translasi (traksi dan gliding) dibagi menjadi tiga gradasi. Gradasi gerakan ini
ditentukan berdasarkan tingkat kekendoran (slack) sendi yang dirasakan fisioterapis saat
melakukan gerakan pasif seperti yang ditunjukkan pada Grade I. Grade
I traksi merupakan gerakan dengan amplitudo sangat kecil sehingga tidak sampai terasa
adanya geseran permukaan sendi. Kekuatan gaya tarik yang diberikan sebatas cukup
untuk menetralisir gaya kompresi yang bekerja pada sendi.
Kombinasi antara tegangan otot, gaya kohevisitas kedua permukaan sendi dan tekiri
atmosfer menghasilkan gaya kompresi pada sendi.
Grade II traksi dan gliding gerakan sampai terjadi slack taken up jaringan di sekitar
persendian meregang.
Grade III traksi dan gerakan sampai diperoleh slack taken up kemudian diberi gaya lebih
besar lagi sehingga jaringan di sekitar persendian teregang.
Traksi untuk memperbaiki luas gerak sendi:
Traksi mobilisasi grade III efektif untuk memperbaiki mobilitas sendi karena dapat
meregang (streatch) jaringan lunak sekitar persendian yang memendek. Traksimobilisasi dipertahamkan selama 7 detik atau lebih dengan kekuatan maksimal sesuai
dengan toleransi pasien. Antara duatraksi yang dilakukan, traksi tidak perlu dilepaskan
total keposisi awal melainkan cukup diturunkan kegrade II dan kemudian lakukan traksi
grade III lagi.
2.

Terapi Latihan.

Adapun metode yang digunakan adalah :


a. Active exercise

Latihan aktif disini bertujuan untuk menjaga serta menambah lingkup gerak sendi
(LGS).Disini penulis memberikan latihan dengan menggunakan metode free active
exercise.Gerakan dilakukan oleh kekuatan otot penderita itu sendiri dengan tidak
menggunakan suatu bantuan dan tahanan yang berasal dari luar.Latihan ini bisa
dilakukan kapan pun dan dimana pun penderita berada.
b. Overhead pulley
Tujuan dari pemberian overhead pulley adalah untuk menambah lingkup gerak sendi dan
meningkatkan nilai kekuatan otot dengan bantuan alat ini. Dengan adanya gerakan yang
berulang-ulang maka akan terjadi penambahan lingkup gerak sendi serta menjaga dan
menambah kekuatan otot jika diberi beban.
c, Codman pendulum exercis.
Codman pendulumexercise dilakukan pada stadium akut.
1) Tujuan :
Untuk mencegah perlengketan pada sendi bahu dengan melakukan gerakan pasif sedini
mungkin yang dilakukan pasien secara aktif.
Gerakan pasif dilakukan untuk mempertahankan pergerakan pada sendi & mencegah
pelengketan permukaan sendi. Sedangkan pencegahan gerakan aktif adalah untuk
mencegah terjadinya kontraksi otot- otot rotator cuf & abductor bahu
2) Cara melakukan:
Pasien membungkukkan badan dan lengan yang sakit tergantung vertical. Posisi ini
menyebabkan lengan fleksi 90 pada bahu tanpa adanya kontraksi otot- otot deltoid
maupunrotator cuf. Gravitasi / gaya tarik bumi menyebabkan pemisahan permukaan
sendi glenohumeralsehingga kapsul sendi tersebut akan memanjang. Lutut pasien dalam
keadaan fleksi untuk mencegah timbulnya gangguan pada pinggang.
Pengobatan pada frozen shoulder sangat bervariasi sesuai dengan pengalaman klinik
dan sampai sekarang tidak ada terapi akurat. Terapi fisik baik dan menguntungkan
dengan dimulainya gerakan yang terarah dan benar.
Selama periode nyeri dapat dilakukan
1. Mengurangi/menghilangkan sakit dengan kompres es lokal
2. Medika mentosa dengan analgesik oral/NSAID
3. Gerakan lingkup gerak sendi pasif, yang lebih baik dilakukan daripada aktif
4. TENS
5. Mobilisasi dan manipulasi yang tepat dan benar
6. Pemanasan dengan alat diatermi.
7. Terapi latihan pendulum aktif dan pasif dapat meningkatkan lingkup gerak sendi dan
memperbaiki fleksibilitas kapsul.
KOMPLIKASI
Pada kondisi frozen shoulder akibat capsulitis adhesiva yang berat dan tidak dapat
mendapatkan penanganan yang tepat dalam jangka waktu yang lama, maka akan timbul
problematik yang lebih berat antara lain :
(1) Kekakuan sendi bahu
(2) Kecenderungan terjadinya penurunan kekuatan otot-otot bahu
(3) Potensial terjadinya deformitas pada sendi bahu
(4) Atropi otot-otot sekitar sendi bahu

(5) Adanya gangguan aktifitas keseharian (AKS).