Anda di halaman 1dari 6

SPEKTRA BERBAGAI ION LOGAM TRANSISI

I.

TUJUAN PERCOBAAN
Mempelajari spectra berbagai ion kompleks logam transisi, yaitu : Ni, Co, Cr,
Mn dan Cu.

II.

A lat dan Bahan


A. Alat
1. Spektrofotometer UV-VIS
2. Gelas beker 25 ml
3. Gelas ukur 25 ml
4. Labu ukur 10 ml
5. Kuvet kuarsa
6. Pipet tetes
7. Gelas beker 250 ml
8. Drag ball
B. Bahan
1. Larutan Ni(NO3)2
2. Larutan K2Cr2O7
3. Larutan KMnO4
4. Larutan CuSO4
5. Larutan Co(NO3)2
6. Larutan FeSO4
7. Aquades
III.
Dasar Teori
Unsur-unsur transisi adalah unsure yang dalam konfigurasi elektronika
electron-elektronnya berada pada posisi orbital 4 atau dikelompokakn dalam
unsure blok d yang dimasukakn dalam golongan B unsur

transisi yang

umumnay dimiliki oleh beberapa golongan oksidasi dalam konfigurasi dalam


electron-elektron ionnya, paling tidak terdapat ion dengan konfigurasi
electron orbital d.
Unsur-unsur transisi periode 4 mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
1. Ikatan logamnya kuat
2. Memiliki titik didih dan titik lebur yang tinggi
3. Memiliki lebih dari satu bilangan koordinasi
4. Bersifat paramanganetik
5. Membentuk senyawa berwarna
6. Membentuk ion kompleks dari senyawa koordinasi
(Surakiti, 1989)
Senyawa

kompleks

adalah

senyawa

yang

terbentuk

karena

penggolongan 2 atau lebih senyawa sederhana yang masing-masing dapat


berdiri sendiri. Beberapa senyawa logam cenderung berikatan dengan zat-zat

yang disebut logam dengan ikatan koordinasi. Jumlah ligan yang dapat diikat
oleh ion logam disebut bilangan koordinasi senyawa kompleks.
(Rivai, 1995)
Ion-ion dan kompleks-kompleks dari 18 unsur transisi deret pertama
dan kedua cenderung mengabsorbsi sinar tampak. Unsur-unsur transisi ini
mempunyai

beberapa

kompleks

anorganik

memperlihatkan

absorbs

perpindahan yang melebar ditandai dengan pengarur faktor lingkungan.


Beberapa organic memperlihatkan absorbsi

perpindahan

muatan dan

karenanya disebut kompleks. Sehingga reaksi pengompleksan merupakan


reaksi yang memperlibatkan spectrum perpindahnan muatan. Salah satu
komponen mempunyai sifat asar electron maka komponan ion bersifat asptor
electron. Adanya

absorbsi radiasi menyebabkan perpindaha electron dari

donor ke aseptor. Akibatnay bentuk tereksitasi merupakan hasil prose


oksidasi internal.
(Hendayana, 1994)
Cahaya tampak terdiri dari cahaya radiasi dengan berbagai panjang
gelombang yaitu antara 380-780 nm. Suatu larutan /zat padat mempunyai
warna tertentu, karena menyerap dari sebagian komponene sinar tampak
yang tidak diserap oleh zat tertentu.
(N uraini S, 1994)

IV.

Pembahasan
Senayawa

kompleks

unsur transisi

emrupakan

senyawa

yang

berwarna yang berarti bahwa kompleks ini dapat menyerap sinar pada
daerah tampak

spectra (lamda 200-800 nm). Logam transisi dapat

memberikan warna karena adanya transisi tinkat energi pertama ke tingkat


energi selanjutnya

berada pada daerah sinar tampak dan juga adanya

transisi antara tingkat energu electron orbital d dimana sebagian besar


elektro pada orbital d belum berpasangan. Sehingga menyebabkan senyawa
tersebut berwarna dan bersifat paramagnetic . selain pengaruh dari orbital d

warna dapat dipengaruhi oleh anion (ligan) yang di ikatnya. Pengaruh dari
lemah atau kuatnya ligan pada pembentukan ion kompleks dapat terjadi jika :
1. Ligan

kuat,

maka

aturan

rund

tidak

berlaku

dan

memungkinkam terjadinya pemisahan komplek orbital


2. Ligan lemah , maka tidak akan terjadi pemisahan komplek
orbital dan berlaku hukum rund.
Pada percobaan ini akan dipelajari spektra berbagai ion komplek
dengan spektrofotometer UV-VIS. ion kompleks yang digunakan adlah ion
komplek logam teransisi Mn, Cr, Cu, Ni, dan Fe dengan spektrofoto meter UVVIS akan diketahui spektre unsur/senyawa transisi pada berbagai panjang
gelombang. penjang gelombang maksimum merupakan panjang gelombang
yang mempunyai serapan tertinggi. digunakan spektrofotometer UV-VIS
karena alat ini dapat mengukur absorbansi larutan berwarna pada daerah
tampak maupun UV. dimana kebanyakan dari senyawa transisi berwarna dan
menyerap energy pada daerah tampak.
Prinsip dari UV-VIS adalah adanya interaksi antara materi dengan
energy . materinya adaklah molekul senyawa berwarna dan energinya adalah
molekul senyawa berwarna dan energinya adlah sinar foton/ cahaya. larutan
yang akan digunakan adalah larutan Ni(NO) 2., CuSO4.5H2O, Ca (NO3)2, K2Cr2O7
dan FeSO4 larutan dilarutkan dalam aquades kemudian diukur dengan UV-VIS.

1. Larutan Ni(NO3)2

larutan ini berwarna hijau. adanya warna hijau dikarenakan

electron tak berpasangan pada orbital d dan bersifat para magnetic.


Ni(NO)2 Ni 2= + 2NO 3
Konfigurasi Ni
2
8
28 Ni = [Ar] 4s 3d
+
8
Ni = [Ar] 3d
dari percobaan diperoleh dua puncak yaitu:
A. = 716 nm abs = 0,0824
B. = 6571 nm abs = 0,0719
C. = 303 nm abs =0, 1884
2. Larutan CuSO4
larutan berwarna biru bersifat para magnetic dengan adanya
electron tak berpasangan.
CuSO4 Cu 2+ + SO4
9
2
29Cu = [Ar] 3d 4s
+
9
Cu = [Ar] 3d

dari percobaan ini diperoleh satu puncak pada = 536,5 nm abs


=

0,0079

terbentuk

satu

puncak

berdasarkan

spectra

dari

konfigurasi Elektra d9, trensisi yang mungkin terjadi adalah Eg T2g


dengan = 536,5nm dan absorbansinya 0,0079.

3. Larutan Ca (NO3)2
unsur transisi Co2+ memberikan warna merah dan bersifat
paramagnetic karena adanya electron tak berpasangan.
Ca (NO3)2 CO 2+ +2NO3konfigurasi

27

Co =[Ar] 3d

Co

2+

4 s2

= [Ar] 3d

dar percobaan dieroleh suatu puncak pada = 510 dengan


absorbansi 0,0455.

4. Larutan KMnO4

KMnO4 K ++MnO4
Karena electron pada M7+ tidak ada electron yang menempati
orbital d maka KMnO4 bersifat dia magnetic. larutan KMnO 4
berwarna karena adanya transfer energy dalam bentuk electron

seperti pada O 2 menjadi O- setelah diukur diperoleh 4 puncak :


A. = 540 nm abs = 0,0499
B. = 524 nm abs = 0,0280
C. = 347 nm abs = 0.0288
D. = 306 nm abs = 0,0645
berdasarkan term symbol yaitu 4g dan 4f maka
KMnO 4
seharusnya menghasilkan 5transisi yaitu
A2g (f) T2g (g)
A2g (f) T1g (g)
A2g (g) A2g (f)
A2g (g) T2g (f)
A2g (g) T1g (f)
pada percobaan terdapat 4 puncak dengan maks berdekatan
dengan demikian energinya berdekatan, karena 4f ter split
menjadi 3 dan ktiganya menjadi orbital transisi maka puncak
yang terjadi dimungkinkan :
A. A2g (f) T2g (g) =543 nm
B. A2g (f) T1g (g) = 524 nm
C. A2g (g) A2g (f) = 347 nm

D. A2g (g) T2g (f) = 306 nm


5. Larutan K2Cr2O7
K2Cr2O7 2K+ + Cr 2O72karena tidak ada electron pada orbital d maka Cr

2+

tidak

berwarna dan bersifat diamagnetic. akan tetapi larutannya


berwarna hal in disebabkan transfer energyyang menyebabkan
Cr6+ menjadi Cr5+ maka pada orbital d terdapat 1 elektron
transisinya. dari percobaan diperoleh 2 puncak :
A. =351 nm abs = 0,3010
B. = 388 nm abs = 0,4067
6. larutan FeSO4
FeSO4 Fe2+ + SO42adanya electron tak berpasangan mentebabkan

larutan

berwarna dan bersifat paramagnetic. dalam hal ini Fe terdapat 2


puncak
A. =300 nm abs = 0,6106
B. = 234 nm abs = 0,7429
dari hasil percoban banyak ditemukan penyimpangan hal itu
bisa disebabkan :
A.
B.
C.
D.
V.

adnya penggangu saat pengukuran


larutan kurang jernih
adnya zat pengotor
kurang ketelitian praktikan saat membuat sampel

Kesimpulan
dari percobaan diperoleh
1. pada larutan Ni(NO)2 dengan logam Ni2= mempunyai 3 puncak
= 716 nm abs = 0,0824
= 6571 nm abs = 0,0719
= 303 nm abs =0, 1884
2. pada larutan FeSO4 dengan logam Fe

2=

terdapat 2 puncak

=300 nm abs = 0,6106


= 234 nm abs = 0,7429
3. pada larutan Co (NO3)2 denagn logam Co2= mempunyai satu puncak
= 510nm abs = 0,0455
4. larutan KMnO4
mempunyai 4 puncak
= 540 nm abs = 0,0499
= 524 nm abs = 0,0280
= 347 nm abs = 0.0288

= 306 nm abs = 0,0645


5. larutan CuSO4 dengan logam Cu2= mempunyai 1 puncak
= 536nm abs = 0,0070
6. larutan K2Cr2O7 dengan logam Cr mempunyai 2 puncak
=300 nm abs = 0,6106
= 234 nm abs = 0,7429
VI.

Daftar Pustaka
Hendrayana, Sumar. 1994. Kimia Analitik Instrument. Edisi pertama.
Semarang : IKIP Press.
Rivai,Harizul.1998.Azas Pemerisa Kimia.Jakarta. UI Press.
Surakiti.1998.Kimia 3.Edisi I.Klaten. PT.Intan Pariwara.
S,Nuraini.1994. Ikatan Kimia. Yogyakarta. UGM Press.