Anda di halaman 1dari 53

REFRESHING

DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA GIZI BURUK PADA ANAK


Disusun Oleh :
1. Alfian Wika Cahyono
2. Fahimma Albinsaid

105070107111037
105070104111011

Pembimbing :
dr. Anik Puryatni, SpA
dr. Tjahyo Suryanto

LABORATORIUM ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
TAHUN 2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Masalah kekurangan gizi merupakan masalah kesehatan tertinggi di

dunia, terutama di negara-negara berkembang. Data statistik United Nation


Foods and Agriculture Organization (FAO), menyatakan bahwa kekurangan gizi
di dunia mencapai 1,02 milyar orang yaitu kira-kira 15% populasi dunia dan
sebagian besar berasal dari negara berkembang. Anak-anak adalah golongan
yang sering mengalami masalah kekurangan gizi. Kira-kira setengah dari 10,9
juta anak yaitu kira-kira 5 juta anak meninggal setiap tahun akibat kekurangan
gizi (Mller O, Krawinkel M., 2005).
Di Indonesia, berdasarkan penelitian yang dilakukan, sebanyak 19
provinsi memiliki prevalensi gizi buruk dan gizi kurang diatas prevalensi nasional,
yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan
Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi tengah. Sulawesi
Tenggara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan
Papua. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional
Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2007, prevalensi gizi buruk
nasional berdasarkan presentase berat badan per umur (BB/U) pada anak balita
mencapai 5.4% dan gizi kurang sebesar 13% (Kemenkes RI, 2011).
Kurang energi dan Protein (KEP) pada anak masih menjadi masalah gizi
dan kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar
tahun 2010, sebanyak 13,0% berstatus gizi kurang, diantaranya 4,9% berstatus
gizi buruk. Data yang sama menunjukkan 13,3% anak kurus, diantaranya 6,0%
anak sangat kurus dan 17,1% anak memiliki kategori sangat pendek. Keadaan
ini berpengaruh kepada masih tingginya angka kematian bayi. Menurut WHO
lebih dari 50% kematian bayi dan anak terkait dengan gizi kurang dan gizi buruk,
oleh karena itu masalah gizi perlu ditangani secara cepat dan tepat (KEMENKES
RI, 2011). Menurut data dari World Hunger Organization, terdapat empat jenis
masalah kekuranan gizi utama dan berpengaruh pada golongan berpendapatan
rendah di negara berkembang. Masalah gizi utama tersebut adalah Malnutrisi
Energi Protein (MEP), Anemia Gizi Besi (AGB), Kurang Vitamin A (KVA) dan
Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) (Mengistu K, Alemu K, Destaw B.,
2

2013).
Prevalensi tertinggi Malnutrisi Energi Protein (MEP) berada pada anak di
bawah umur 5 tahun, ibu hamil, dan ibu menyusui. Berdasarkan lama dan
beratnya kekurangan energi dan protein, MEP diklasifikasikan menjadi MEP
derajat ringan-sedang (gizi kurang) dan MEP derajat berat (gizi buruk). Gizi
kurang belum dijumpai gejala klinis yang khas, namun gizi buruk disamping
gejala klinis didapatkan pula kelainan biokimia sesuai dengan bentuk klinis.
Kwashiokor, marasmus, dan kombinasi kwasiokor-marasmur merupakan bentuk
klinis dari gizi buruk (Mengistu K, Alemu K, Destaw B., 2013).
Marasmus adalah permasalahan serius yang terjadi di negara-negara
berkembang. Menurut data WHO sekitar 49% dari 10,4 juta kematian yang
terjadi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun di negara berkembang berkaitan
dengan defisiensi energi dan protein sekaligus. Masalah malnutrisi atau
kekurangan nutrisi pada anak usia bawah lima tahun dapat mengganggu proses
tumbuh kembang secara fiskal maupun mental. Hal ini dapat memberikan
dampak yang negatif pada sumber daya manusia pada masa mendatang.
Dari data yang disampaikan diatas, maka dirasa perlu bagi seorang
dokter umum untuk mampu mendiagnosis dan menatalaksana gizi, terutama
masalah gizi buruk yang bersifat kronis yaitu marasmus. Dengan ini diharapkan
dokter umum sebagai lini pertama dalam pelayanan kesehatan mampu
mewujudkan generasi Indonesia yang lebih sehat.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana menegakkan diagnosis dan tatalaksana gizi buruk pada
anak?
1.3 Tujuan Penulisan
Memahami cara mendiagnosa dan menatalaksana anak dengan

gizi

buruk.
1.4 Manfaat Penulisan
Menambah pemahaman penulis

tentang

marasmus,

baik proses

penegakan diagnosis maupun tatalaksana sehingga dapat meningkatkan


kemampuan dan keterampilan penulis dalam memberikan pelayanan pada
pasien dengan marasmus.
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Definisi

2.1.1

Gizi Buruk
Gizi buruk akut atau malnutrisi akut berat (MAB) menurut WHO adalah

keadaan dimana seseorang tampak sangat kurus, ditandai dengan BB/PB < - 3
SD dari median WHO child growth standard, atau didapatkan edema nutrisional,
dan pada anak umur 5-59 bulan lingkar lengan atas (LLA) < 110 mm. Secara
mendetail, klasifikasi status gizi anak berdasarkan berat derajatnya dijelaskan
pada tabel berikut ini :
Indeks

BB / U

TB / U

BB / TB

Simpangan Baku
2 SD

Status Gizi
Gizi Lebih

-2 SD sampai +2 SD

Gizi Baik

<-2 SD sampai -3SD

Gizi Kurang

<-3 SD
-2 SD sampai +2 SD

Gizi Buruk
Normal

< -2 SD
2 SD

Pendek
Gemuk

-2 SD sampai +2 SD

Normal

< -2 SD sampai -3 SD

Kurus

< -3 SD

Sangat Kurus

Tabel 1. Klasifikasi Status Gizi

Berikut klasifikasi penentuan gizi buruk pada anak menurut (Direktorat Jenderal
Bina Gizi dan KIA, KEMENKES RI, 2011)

2.1.2

Marasmus
Malnutrisi Energi-Protein (MEP) adalah defisiensi yang disebabkan oleh

ketidakcukupan asupan protein, sumber energi, atau keduanya. MEP juga dapat
dideskripsikan sebagai keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya
konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak
memenuhi angka kecukupan gizi. Defisiensi protein dan energi dapat terjadi
bersamaan, namun bila defisiensi salah satu di antara nutrisi tersebut lebih berat,
maka disebut dengan marasmus atau kwarshiorkor (Mller O, Krawinkel M,
2005).
Marasmus adalah salah satu bentuk MEP yang terutama disebabkan oleh
kekurangan kalori berat dalam jangka waktu lama dan ditandai dengan retardasi
pertumbuhan dan pengurangan lemak bawah kulit dan otot secara progresif.
Marasmus adalah malnutrisi energi protein berat yang disebabkan oleh defisiensi
makanan sumber energi (kalori) dapat terjadi bersamaan/tanpa disertai defisiensi
protein (Mengistu K, Alemu K, Destaw B., 2013).
Marasmus dibedakan dengan kwarshiorkor yang juga merupakan bagian
dari MEP berdasarkan sistem penilaian McLaren yang dikenal sebagai McLaren
Scoring System seperti berikut (Pardede N., 2008):
GEJALA KLINIS / LABORATORIS
Edema
Dermatosis
Edema disertai dermatosis
Perubahan pada rambut
Hepatomegali
Kadar Albumin
Kadar Protein
<1,00
< 3,25
1,00 1,49
3,25 3,99
1,50 1,99
4,00 4,75
2,00 2,49
4,75 5,49
2,50 2,99
5,50 6,24
3,00 3,49
6,25 6,99
3,50 3,99
7,00 7,74
> 4,00
> 7,75

ANGKA
3
2
6
1
1
7
6
5
4
3
2
1
0

Tabel 2. McLaren Scoring System (Pardede N., 2008).

Interpretasi nya adalah bila skor total 0-3 maka tergolong marasmus, bila
skor total| 4-8 maka marasmus-kwashiorkordan bila skor total maka 9-15
tergolong kwashiorkor.
2.1.3

Kwasiorkor
5

Kwasiorkor merupakan salah satu bentuk malnutrisi yang disebabkan


oleh defisiensi protein. Penampilan pada anak-anak kwasiorkor seperti anak
yang gemuk (suger baby), bilamana dietnya mengandung cukup energi
disamping kekurangan protein, walaupun dibagian tubuh lainnya terutama
dipantatnya terlihat adanya atrofi. Anak dengan kwasiorkor biasa tampak sangat
kurus dan atau edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh.
Penampakan klinis pada anak dengan kwasiorkor :

Edema
Perubahan mental
Perubahan rambut
Perlemakan hati
Dermatosis (skin lesions)
Infeksi

(Keith P et al, 2006)


2.1.4

Marasmik Kwasiorkor
Gambaran klinis merupakan campuran dari beberapa gejala klinik

kwashiorkor dan marasmus. Makanan sehari-hari tidak cukup mengandung


protein dan juga energi untuk pertumbuhan yang normal. Pada penderita
demikian disamping menurunnya berat badan < 60% dari normal memperlihatkan
tanda-tanda kwashiorkor, seperti edema, kelainan rambut, kelainan kulit,
sedangkan kelainan biokimiawi terlihat pula (Depkes RI, 2000).
2.2

Epidemiologi
Malnutrisi Energi-Protein (MEP) merupakan salah satu dari empat

masalah gizi utama di Indonesia di samping anemia gizi, defisiensi vitamin A,


dan gangguan akibat kekurangan Iodium (GAKI). Prevalensi yang tinggi terdapat
pada anak di bawah umur 5 tahun (balita), ibu hamil dan menyusui (Marcdante
KJ., et al., 2013).
Berdasarkan data stastistik Departemen Kesehatan RI tahun 2005 dari
241,97 juta penduduk Indonesia, menunjukkan penderita gizi kurang ditemukan
di 72% kabupaten di Indonesia dengan perbandingan 2-4 dari 10 balita
menderita gizi kurang. Sedangkan angka lain menunjukkan sebesar 6% atau
sekitar 14,5 juta orang menderita gizi buruk. Penderita gizi buruk pada umumnya
anak-anak dibawah usia 5 tahun (balita). Marasmus adalah salah satu bentuk
6

kekurangan gizi buruk yang paling sering ditemui pada balita. Sebagai contoh,
ditemukan 47% dari kasus gizi buruk RS DR. Soetomo Surabaya dan 42% dari
kasus gizi buruk RS. Dr. Pirngadi Medan adalah gizi buruk jenis marasmus
(KEMENKES RI, 2011).

2.3

Etiologi
Marasmus merupakan hasil akhir dari interaksi antara kekurangan

makanan dan penyakit infeksi. Selan faktor lingkungan, ada beberapa faktor lain
pada diri anak sendiri yang dibawa sejak lahir yang diduga berpengaruh
terhadap terjadinya marasmus. Secara garis besar, berikut adalah faktor-faktor
yang mempengaruhi terjadinya marasmus (Mclaren DS., et al., 1967):
a) Faktor diet
Rendahnya kualitas dan kuantitas diet yang dikonsumsi.
b) Faktor sosial
Pantangan mengkonsumsi bahan makanan tertentu yang sebenarnya

memiliki kandungan energi tinggi oleh karena tradisi


Kebiasaan/pola makan yang tidak tepat
Hubungan orang tua dengan anak terganggu dapat menurunkan nafsu

makan anak
Tingkat pendidikan dan pengetahuan orang tua mengenai pemberian

makanan sesuai kebutuhan anak


Kemiskinan atau penghasilan yang rendah sehingga menyebabkan
ketidakmampuan memenuhi ketersediaan makanan yang bernilai gizi

baik dalam rumah tangga


Lingkungan padat penduduk menyebabkan buruknya higienitas

sehingga meningkatkan resiko terjadinya infeksi


c) Faktor penyakit penyerta
Terdapat interaksi sinergis antara infeksi dan malnutrisi. Infeksi berat
dapat memperburuk keadaan gizi melalui gangguan asupan dan tingginya
kehilangan zat-zat gizi esensial tubuh. Infeksi tersebut antara lain infantil
gastroenteritis, bronkopneumonia, pielonefiritis, dan sifilis kongenital.
Kelainan

struktur

bawaan

juga

berpengaruh

terhadap

terjadinya

marasmus misalnya penyakit jantung bawaan, penyakit Hirschprung,


deformitas palatum, palatoschizis, mocrognathia, stenosis pilorus, hiatus
hernia, hidrosefalus, dan kistik fibrosis.
7

d) Faktor lain
Faktor pada diri anak sendiri yang dibawa sejak lahir yang diduga

berpengaruh terhadap terjadinya marasmus


Pemberian ASI yang terlalu lama tanpa pemberian makanan tambahan

yang cukup
Gangguan metabolik, misalnya renal asidosis, hiperkalsemia idiopatik,

galaktosemia, intoleransi laktosa.


Tumor hipotalamus, kejadian ini jarang dijumpai dan baru ditegakkan

bila penyebab maramus yang lain disingkirkan


Penyapihan yang terlalu dini desertai dengan pemberian makanan

tambahan yang kurang


Urbanisasi mempengaruhi

dan

merupakan

predisposisi

untuk

timbulnya marasmus, meningkatnya arus urbanisasi diikuti pula


perubahan kebiasaan penyapihan dini dan kemudian diikuti dengan
pemberian susu manis dan susu yang terlalu encer akibat dari tidak
mampu membeli susu, dan bila disertai infeksi berulang terutama
gastroenteritis akan menyebabkan anak jatuh dalam marasmus
2.4

Patofisiologi
Berbagai ulasan mengenai proses patofisiologi yang terjadi pada

marasmus banyak tersedia. Tidak seperti kwarshiorkor, clinical sequele pada


marasmus dapat dipertimbangkan sebagai proses adaptasi anak terhadap
asupan energi yang tidak adekuat.
Marasmus terjadi akibat balans energi negatif. Ketidakseimbangan
tersebut disebabkan oleh kurangnya asupan energi, peningkatan kehilangan
kalori yang dicerna (contohnya emesis dan diare), peningkatan konsumsi energi,
atau kombinasi faktor-faktor tersebut seperti pada penyakit akut ataupun kronis.
Anak-anak beradaptasi pada defisiensi energi dengan menurunkan aktivitas fisik,
letargi, menurunkan metabolisme energi basal, perlambatan pertumbuhan, dan
akhirnya penurunan berat badan.
Perubahan patofisiologi yang berhubungan dengan defisit nutrisi dan
energi adapat dijelaskan sebagai (1) perubahan komposisi tubuh, (2) perubahan
metabolik, dan (3) perubahan anatomik.
8

1) Perubahan Komposisi Tubuh

Massa tubuh : massa tubuh menurun secara signifikan dengan berbagai cara.

Massa lemak : penyimpanan lemak menurun sebanyak 5% dari berat badan


total dan dapat secara makroskopis tidak terdeteksi. Lemak yang tersisa
biasanya tersimpan dalam liver, memberikan tampilan paradoksal dari
perlemakan hati. Meskipun hal ini sering ditemui pada kwarshiorkor, hal
tersebut juga terjadi pada beberapa kasus marasmus. Sebuah studi di
Nigeria meneliti serum lipin pada anak-anak dengan malnutrisi. Para peneliti
tersebut menemukan bahwa kadar kolesterol total, LDL, dan HDL secara
signifikan tinggi pada anak dengan kwarshiorkor daripada marasmus.

Air tubuh total : Proporsi kandungan air dalam tubuh meningkat seiring
dengan peningkatan derajat keparahan MEP (marasmus atau kwarshiorkor)
dan berhubungan dengan hilangnya massa lemak, yang rendah akan air.
Edema secara signifikan terdapat pada kwarshiorkor namun juga dapat terjadi
pada marasmus atau sering pada marasmus-kwarshiorkor. Peningkatan air
ekstraseluler proporsional terhadap peningkatan air tubuh total. Selama hari
pertama terapi, sebagian air ekstraseluler bergerak menuju kompartemen
intraseluler dan sebagian lagi hilang melalui urin, menyebabkan penurunan
berat badan awal yang dapat diamati dengan terapi.

Massa protein : Utamanya direpresentasikan oleh otot dan beberapa organ


(contohnya jantung), massa protein dapat menurun sebesar 30% dalam
berbagai bentuk serius. Serabut otot menjadi tipis dengan hilangnya pola lurik.
Sel otot mengalami atrofi dan jaringan otot diinfiltrasi oleh jaringan lemak dan
fibrosa. Pemulihan total membutuhkan waktu cukup panjang, namun
memungkinkan.

Massa organ lain : Otak, skeleton, dan ginjal dipertahankan namun liver,
jantung, pankreas, dan saluran cerna adalah yang pertama dipengaruhi.

Perubahan fisiologis : perubahan fisiologis pada pada bayi dan anak-anak


berbeda jika dibandingkan dengan dewasa. Bayi dengan marasmus memiliki
9

kecenderungan meningkat hipotermia dan hipoglikemia, membutuhkan


administrasi makanan dalam jumlah kecil yang sering. Hal ini dapat dijelaskan
oleh ketidakseimbangan komposisi tubuh anak dengan marasmus antara
organ yang membutuhkan energi tinggi, seperti otak dan ginjal, dibandingkan
dengan organ yang menyimpan energi, seperti otot dan lemak.

Penilaian massa lemak dan otot : Seperti yang dijelaskan di bawah ini,
penilaian hilangnya massa lemak dan otot dapat secara klinis dilakukan
dengan mengukur lingkar lengan atas (lihat gambar di bawah) atau ketebalan
lipatan

kulit,

seperti

lipatan

kulit

bagian

trisep.

Diagram

tersebut

mengilustrasikan validitas metode penilaian tersebut. Karena lingkar lengan


atas secara relatif konstan pada anak sehat berusia 1-5 tahun, secara kasar
merepresentasikan penilaian umum status gizi.

Gambar 1. Dasar fisiopatologis pengukuran lingkar lengan atas pada anak usia

10

1-5 tahun dan hubungan antara derajat keparahan malnutrisi.

2) Vitamin dan Mineral

Potassium : Potassium adalah elektrolit yang paling sering diteliti pada


marasmus. Defisit potassium tubuh total berhubungan dengan penurunan
massa otot, asupan yang rendah, dan kehilangan melalui saluran cerna.
Defisit potassium ini, yang dapat mencapai 15 mEq/kg, berkontribusi pada
hipotonia, apatis, dan gangguan fungsi jantung.

Elektrolit lain : Konsetrasi sodium plasma secara umum berada dalam rentang
nilai normal, namun dapat rendah, yang menjadi tanda buruknya prognosis.
Meskipun begitu, kadar sodium intraseluler meningkat pada otak, otot, dan
leukosit maupun eritrosit, menjelaskan ekskresi sodium dalam hari pertama
pemulihan.

Mineral lain : Defisit penyimpanan kalsium, fosfor, dan magnesium juga


diamati. Anemia defisiensi besi secara konsisten diamati pada marasmus.
Meskipun begitu, pada beberapa bentuk serius, besi terakumulasi dalam liver,
umumnya karena defisit pada transport protein. Pasien-pasien ini memiliki
resiko kematian tinggi, sehingga suplemetasi besi hanya diberikan setelah
fase pemulihan akut terpenuhi. Seng, selenium, dan magnesium lebih
signifikan menurun pada kwarshiorkor tapi juga secara konstan kurang pada
marasmus.

Beberapa

studi

menunjukkan

perkembangan

pemulihan

malnutrisi dan penurunan mortalitas dengan suplementasi dengan 3


mikronutrien

tersebut.

Sebuah

ulasan

Cochrane

menyimpulkan

jika

suplementasi seng secara jelas bermanfaat pada anak usia 6 bulan atau lebih
dengan diare di area yang tingkat mortalitas akibat diare tinggi.

Vitamin : Baik vitamin yang larut air seperti vitamin A, D, E, dan K maupun
vitamin yang larut air seperti vitamin B6, B12, dan asam folat, harus
diadministrasikan secara sistematis.
Vitamin A penting untuk fungsi retina, efek tropik pada jaringan epitel, dan
memegang peranan mayor sebagai antioksidan. Defisit vitamin A berpengaruh
11

pada fungsi visual (seperti konjungtivitis, ulkus kornea, night blindness, dan
buta mata total), fungsi saluran cerna, respirasi, dan urinarius.Terlebih lagi,
program suplementasi vitamin A terbukti menurunkan angka morbiditas dan
mortalitas, khusunya pada diare dan campak.
Defisiensi vitamin dan mikronutrien bisa dibedakan menjadi 2 kategori.
Pasien dengan defisiensi nutrien tipe 1 memberikan gambaran klinis spesifik
dan lambat. Namun sebaliknya, pasien dengan defisiensi nutrien tipe 2 sulit
diidentifikasi karena lever darah tidak memungkinkan dan manifestasi klinis
tidak spesifik, seperti retardasi pertumbuhan dengan defisiensi ringan serta
penurunan berat badan dengan defisiensi signifikan. Terlebih lagi, defisiensi
nutrien tipe 2 sering kombinasi. Maka dari itu, defisiensi-defisiensi tersebut
global dan membutuhkan rehabilitasi nutrisi global, seperti solusi terstandar
dari WHO. Berikut adalah karakteristik defisiensi tipe 1 dan 2, berdasarkan
pada Laporan Golden tahun 1991 :
a. Defisiensi Tipe 1
-

Manifestasi klinis spesifik

Manifestasi klinis muncul setelah periode laten

Menggunakan jalur metabolik spesifik

Independen terhadap satu dan lainnya

Konsentrasi jaringan bervariasi

b. Defisiensi Tipe 2
-

Manifestasi klinis tidak spesifik

Menggunakan jalur metabolik spesifik

Status nutrisi berhubungan dengan asupan harian

Menggunakan berbagai organ dan jalur metabolik


12

Interaksi nutrisi

Konsentrasi jaringan konstan

Berikut adalah daftar klasifikasi nutrisi berdasarkan pada respon klinis


terhadap defisiensi tipe 1 dengan reduksi konsentrasi jaringan dan tipe 2 dengan
defisit pertumbuhan.
a. Nutrien Tipe 1
-

Selenium

Asam Askorbat

Yodium

Retinol

Besi

Tokoferol

Tembaga

Kalsiferol

Kalsium

Asam Folat

Mangan

Vitamin B-12

Thiamin

Piridoksin

Riboflavin

b. Nutrien Tipe 2
-

Sodium

Magnesium

Sulfur

Seng

Asam
esensial

Fosfor

Air

amino

Potassium

3) Perubahan Metabolik
-

Adaptasi metabolik menyeluruh terjadi selama marasmus mirip

dengan kelaparan, yang secara luas di investigasi. Tujuan utama adalah


mempertahan-kan energi adekuat untuk otak dan organ vital lain dalam
13

menghadapi suplai kompromaise. Awalnya, peningkatan gkukoneogenesis


menyebabkan peningka-tan laju metabolik. Seiring dengan berlanjutnya puasa,
glukoneogenesis disupresi untuk meminimalisasi pemecahan protein otot, dan
keton yang diturunkan dari lemak menjadi bahan bakar utama untuk otak.
- Dengan kondisi kurang makan yang kronis, tingkat metabolisme basal
menurun. Satu dari adaptasi utama terhadap defisiensi energi yang berlangsung
lama adalah penurunan laju pertumbuhan linier, sehingga menghasilkan
kekerdilan permanen. Penghematan energi diminimalisasi oleh diversi energi dari
otot menuju organ yang aktif secara metabolis. Adaptasi lanjut terhadap situasi
kritis seperti infeksi signifikan, memiliki hubungan pada mereka yang diamati
pada tekanan, model hewan malnutrisi. Peningkatan kebutuhan energi dan
ekskresi nitrogen urinarius setelah pembedahan secara signifikan rendah pada
tikus dengan malnutrisi. Hal ini mengindikasikan kalau malnutrisi mengganggu
kemampuan organisme dalam memobilisasi zat dalam merespon stres.
Meskipun begitu, proses penyembuhan pada hewan ini masih normal,
mengindikasikan kemampuan memprioritaskan aktivitas biologis.

Metabolise energi : Seiring dengan penurunan asupan energi, penurunan


aktivitas terjadi diikuti oleh laju pertumbuhan yang melambat secara progresif.
Penurunan berat badan awalnya terjadi karena penurunan massa otot
kemudian dilanjutkan oleh penurunan massa otot yang secara klinis ditandai
oleh perubahan lingkar lengan atas.

Kehilangan massa otot menyebabkan penurunan keluaran enegi. Penurunan


metabolisme energi dapat mengganggu respon pasien dengan marasmus
terhadap perunahan suhu lingkungan, menghasilkan peningkatan resiko
hipotermia. Terlebih lagi, selama infeksi, demam menurun dibandingkan
dengan pasien dengan nutrisi baik.
-

Pada kasus defisiensi nutrisi, metabolisme diarahkan untuk fungsi

vital (membutuhkan 80-100 kkal/kg/hari). Selama masa pemulihan, kebutuhan


energi untuk mencapai pertumbuhan harus ditambahkan (hingga 100
kkal.kg/hari). Pada tahap ini, energi yang dibutuhkan bisa masif.
14

Metabolisme protein : Absorpsi intestinal dari asam amino dipertahankan,


meskipun terjadi atrofi mukosa intestinal. Protein turnover menurun (sebesar
40% dalam kondisi berat) dan mekanisme protein-sparing diregulasi oleh
kendali hormonal kompleks yang mengarahkan asam amino pada organ vital.
Asam amino yang dibebaskan dari katabolisme otot didaur ulang oleh liver
untuk sintesis protein esensial. Plasma protein total, termasuk albumin,
menurun, meskipun gamma globulin serigkali meningkat sehubungan dengan
adanya infeksi.

Konsentrasi albumin kurang dari 30g/L seringkali dipertimbangkan sebagai


nilai ambang dimana edema dapat terjadi akibat dari penurunan tekanan
onkotik. Meskipun begitu, pada marasmus, konsentrasi albumin dapat secara
jarang berada di bawah nilai tersebut tanpa edema. Konsentrasi albumin
adalah indeks sensitif dari sintesis protein. Hal itu menurun seiring dengan
penurunan asupan protein dan meningkat secara cepat dalam beberapa hari
dengan rehabilitasi nutrisi yang tepat. Insulinlike growth factor 1 (IGF-1)
adalah penanda sensitif lain dari status nutrisi.

Metabolisme karbohidrat : Metabolisme karbohidrat paling utama dipelajari


untuk menjelaskan hipoglikemia serius dan seringkali fatal yang terjadi pada
fase re-nutrisi awal anak-anak dengan marasmus. Level glukosa seringkali
rendah dan penyimpanan glikogen berkurang. Juga, etiologi yang belum jelas
dari

tingkat

berhubungan

intoleransi
dengan

glukosa

tahanan

tertentu
perifer

masih

diteliti,

terhadap

insulin

kemungkinan
atau

dengan

hipokalemia. Pada awal inisiasi renutrisi atau pada hubungan antara diare
atau infeksi, resiko signifikan dan bahkan fatal terjadinya hioglikemia.
-

Makan dalam jumlah kecil namun sering direkomendasikan,

termasuk selama malam hari untuk mencegah kematian pada pagi hari.
Terlebih lagi, pencernaan karbohidrat terganggu oleh penurunan produksi
amilase pankreas. Malabsoprsi laktosa sering terjadi namun secara umum
tanpa disertai konsekuensi klinis. Pada sebagian besar kasus, re-nutrisi
menggunakan susu dimungkinkan.

15

Metabolisme lemak : Makanan mengandung lemak seringkali mengalami


malabsorpsi pada fase awal renutrisi marasmus. Mobilisasi penyimpanan
lemak untuk metabolisme energi terjadi di bawah kendali hormon adrenalin
dan hormon pertumbuhan. Level lipid darah biasanya rendah dan disregulasi
serius dari metabolisme lipid dapat terjadi, terutama selama kwarshiorkor dan
jarang selama marasmus.
4) Perubahan Anatomik

Saluran cerna : saluran cerna dari mulut hingga rektum dipengaruhi oleh
karena malnutrisi ini. Permukaan mukosa menjadi tipis dan halus, dan fungsi
sekresi terganggu. Terdapat penurunan ekskresi HCl gaster dan perlambatan
peristaltik, menyebabkan overgrowth bakteri dalam duodenum. Volume liver
biasanya

menurun,

seperti

halnya

organ-organ

lain.

Hepatomegali

mengindikasikan adanya diagnosis lain seperti kwarshiorkor atau hepatitis.


-

Fungsi sintetis liver dipertahankan meskipun sintesis protein

menurun yang direfleksikan oleh penurunan kadar albumin dan orealbumin.


Sintesis glikogen menurun, selanjutnya beresiko terjadi hipoglikemia. Fungsi
detoksifikasi liver terganggu karena perubahan struktur sel liver. Maka dari itu
obat yang dimetabolisme di liver harus diberikan dengan perhatian penuh, dan
fungsi liver perlu diawasi.

Sistem endokrin : Banyak adaptasi terjadi pada marasmus dimediasi oleh


hormon tiroid, insulin, dan hormon pertumbuhan. Pada kondisi stres, respon
adrenergik teraktivasi. Respon ini bersifat fungsional pada marasmus namun
kurang pada kwarshiorkor.
-

Protein otot diubah menjadi asam amino dan digunakan pada

sintesis lipoprotein hepar. Lipoprotein tersebut berkontribusi pada mobilisasi


trigliserida dari liver. Hal ini berbeda pada kwarshiorkor, yang mana fungsi
tersebut terganggu menyebabkan stetatosis hepatis yang tidak muncul pada

16

marasmus. Meskipun begitu, faktor presipitasi seperti gastroenteritis, renutrisi


yang tidak tepat, bisa mengganggu mekanisme adaptif yang rapuh.
-

Selanjutnya, pada marasmus yang serius, terjadi hipotiroidisme

pada derajat signifikan, terjadi penurunan ukuran kelenjar tiroid dan terdapat
reperkusi pada fungsi otak dan perkembangan psikomotor. Pada bentuk yang
kurang serius, level insulin rendah dan berkontribusi pada intoleransi glukosa
pada derajat tertentu, khususnya pada kwarshiorkor. Sehingga, diet tinggi
karbohidrat tidaklah tepat. Hormon pertumbuhan awalnya berada dalam
rentang normal namun secara progresif menurun.

Sistem hematopoetik : Anemia normokromik atau hipokromik dengan ukuran


eritrosit normal biasanya muncul. Defisiensi besi dan asam folat, parasit
intestinal, malaria, dan infeksi kronik lainnya memperburuk anemia.

Sistem imun : Gangguan sistem imunitas dan infeksi biasanya berhubungan


dengan marasmus. Atrofi timus adalah manifestasi khas dari timus sehingga
produksi limfosit T terganggu. Sedangkan limfosit B seperti Patches Peyer,
limpa, dan tonsil dipertahankan. Imunitas seluler paling banyak dipengaruhi,
dengan karakteristik anergi tuberkulin. Meskipun begitu produksi antibodi
dipertahankan.

Otak dan sistem saraf : Umumnya, jaringan serebral dipertakankan selama


marasmus. Atrofi otak dengan gangguan fungsi serebral hanya terjadi pada
marasmus berat.

Sistem kardiovaskuler : Serabut otot jantung tipis dan kontraktilitas miofibril


terganggu. Cardiac output khususnya fungsi sistolik menurun seiring dengan
penurunan berat badan. Bradikardia dan hipotensi umumnya terjadi pada
malnutrisi berat. Gangguan elektrolit dapat muncul pada gambaran EKG.
-

Secara sederhana, patofisiologi marasmus seperti bagan berikut

ini :

17

(-2

SD

Bagan 1. Adaptasi hormonal terhadap malnutrisi. Evolusi


marasmus.

Apabila kondisi ini terjadi pada saat status gizi masih diatas -3 SD
hingga

SD)

maka

terjadilah

kwarshiorkor

(malnutrisi

akut/

decompensated malnutrition). Pada kondisi ini, radikal bebas dan antioksidan


memegang peranan penting. Bila stres katabolik ini terjadi pada status gizi
dibawah -3 SD maka akan terjadi marasmik-kwarshiorkor. Kalau kondisi
kekurangan ini terus dapat teradaptasi sampai di bawah -3 SD maka akan terjadi
marasmus (malnutrisi kronik/compensated malnutrition). Dengan demikian pada
MEP dapat terjadi gangguan pertumbuhan, atrofi otot, penurunan kadar albumin
serum, penurunan hemoglobin, penurunan sistem kekebalan tubuh, dan
penurunan berbagai sintesis enzim (Arisman, 2004).
-

2.5

Penegakan Diagnosis

Pada anamnesis sering didapatkan keluhan pertumbuhan dan

perkembangan terganggu, tubuh kurus, berat badan yang kurang atau sukar
bertambah, serta anak sering rewel. Pada anamnesis juga diperoleh informasi
bahwa sering terjadi infeksi berulang atau penyakit lain seperti diare atau
konstipasi (WHO, 2009).
18

Pada pemeriksaan fisik, penting untuk melakukan penilaian status

antropometri yang meliputi pengukuran berat badan (BB), tinggi atau panjang
badan (TB/PB), lingkar lengan atas (LLA). LLA dapat digunakan untuk
menentukan status gizi yang dapat memperkirakan jumlah otot rangka dalam
tubuh (lean body mass atau massa tubuh tidak berlemak). Perlu dilakukan juga
pengukuran ketebalan lipatan kulit di lengan atas bagian posterior (lipatan trisep)
yang ditarik menjauhi lengan, sehingga lapisan lemak subkutan dapat diukur
menggunakan jangka lengkung (kaliper). Lemak di bawah kulit banyaknya
adalah 50% dari lemak tubuh. Lipatan kulit normal sekitar 1,25 cm pada laki-laki
dan 2,5 cm pada perempuan (WHO, 2009).
-

Berikut Kriteria Anak Gizi Buruk menurut KEMENKES, 2011

1. Gizi Buruk Tanpa Komplikasi


a. BB/TB : < -3SD dan atau;
b. Terlihat sangat Kurus dan atau;
c. Adanya edema dan atau;
d. LILA <11,5 cm untuk anak 6 59 bulan
2. Gizi Buruk dengan komplikasi
-

Gizi buruk dengan tanda-tanda tersebut di atas disertai salah


satu atau lebih dari tanda komplikasi medis berikut :

a. Anoreksia
b. Pneumonia berat
c. Anemia berat
d. Dehidrasi berat
e. Demam sangat tinggi
f.

Penurunan kesadaran
-

(KEMENKES, 2011)

Alur pemeriksaan anak gizi buruk, KEMENKES, 2011 (Direktorat

jenderal gizi)
2.6 Tatalaksana Gizi Buruk
-

Penanganan umum gizi buruk meliputi 10 langkah dan terbagi

dalam 3 fase yaitu fase stabilisasi, fase transisi, dan fase rehabilitasi seperti pada
tabel berikut :
19

Tabel 3. Alur Tatalaksana Gizi Buruk (Direktorat Bina Gizi Direktorat Jenderal Bina Gizi
KIA, 2011)
-

- Jika ditemukan ulkus kornea, beri vitamin A dan obat tetes mata
kloramfenikol / tetrasiklin dan atropin, tutup mata dengan kassa yang telah
dibasahi dengan larutan garam normal, dan balutlah (WHO, 2009).
- Perhitungan kebutuhan gizi menurut fase PMT
-

n
-

a
-

Prot

ein

g
S

i
8

a
-

n
1

1,5

g/kg

/hari

0
20

1
3
0

k
k
a

l/

ri

a
r
i

1
0

1
5
0
-

m
-

a
l/

g/kg

/hari

g
/

a
R

ri
1

g/kg

0
21

k
k
a
l/

m
/hari

k
g
/
h
a
ri

l
/
k
g
/
h
a
r
i

2.6.1

Hipoglikemia

Semua anak dengan gizi buruk berisiko hipoglikemia (kadar gula

darah < 3 mmol/L atau < 54 mg/dl) yang sering kali menyebabkan kematian pada
2 hari pertama perawatan (WHO, 2009). Tanda-tanda hipoglikemi pada anak
tidak selalu diikuti dengan berkeringat dan pucat. Anak dengan letargis, nadi
lemah, dan kehilangan kesadaran merupakan tanda-tanda yang harus
diwaspadai terjadinya hipoglikemi, bahkan terkadang tanda-tanda hipoglikemi
pada anak hanya ditandai dengan mengantuk.

Tanda hipoglikemia pada anak menurut usia :

Neonatus : Tremor, sianosis, hipotermia, kejang, apneu atau pernapasan tidak


teratur, letargi atau apatis, berkeringat, takipneau atau takikardia, tidak mau
minum.

Balita : Kejang, letargi, pucat, berkeringat dingin, hipotermia, takikardia,


lemah, gangguan bicara, dan koma
-

Diagnosis hipoglikemia pada anak :

1) Adanya gejala klinis hipoglikemia


22

2) Kadar gula plasma darah <50mg/dL


3) Respon klinis baik terhadap pemberian gula
-

Berikut tatalaksana anak gizi buruk dengan hipoglikemia:


-

Bila anak sadar dan

Bila anak tidak sadar

dapat minum
Bolus 50 ml larutan glukosa 10%

Glukosa 10% intra vena (5mg/ml)

atau sukrosa 10% peroral atau

diikuti 50 ml Glukosa 10% atau

dengan pipa NGT kemudian mulai

sukrosa lewat pipa NGT. Kemudian

pemberian F75 setiap 2 jam.

mulai pemberian F75 setiap 2 jam

Antibiotik spektrum luas

Antibiotik spektrum luas

Pemberian makan per 2 jam

Pemberian makanan per 2 jam

Tabel 3. Penanganan hipoglikemia pada anak dengan gizi buruk (WHO,


2009).

Pemantauan yang perlu dilakukan adalah setelah 2 jam ulangi

pemeriksaan kadar gula darah. Jika kadar gula darah di bawah 3 mmol/L (< 54
mg/dl), ulangi pemberian 50 ml bolusglukosa 10% atau larutan sukrosa, lanjutkan
pemberian makan F75 setiap 2 jam hingga anak stabil. Jika suhu rektal < 35.5
C atau bila kesadaran memburuk, mungkin hipoglikemia disebabkan oleh
hipotermia, ulangi pengukuran kadar gula darah dan tangani sesuai keadaan
(hipotermia dan hipoglikemia).
-

Sebagai pencegahan, beri makanan awal (F-75) setiap 2


jam, mulai sesegera mungkin atau jika perlu lakukan rehidrasi
lebih dulu. Pemberian makan harus teratur setiap 2-3 jam
siang malam.

2.6.2

Hipotermia
-

Hipotermia didefinisikan sebagai suhu aksilar terukur < 35.5 C.

Cara mengukur suhu aksilar dengan meletakkan termometer selama 5 menit di


ketiak. Hipotermia biasanya terjadi bersama-sama dengan hipoglikemia.
Hipotermia dan hipoglikemia pada anak gizi buruk biasanya merupakan tanda
dari adanya infeksi sistemik yang serius. Semua anak gizi buruk dengan
hipotermia harus mendapat pengobatan untuk mengatasi hipoglikemia dan
infeksi.
-

Cadangan energi anak gizi buruk sengat terbatas, sehingga tidak

mampu memproduksi panas untuk mempertahankan suhu tubuh. Setiap anak


23

gizi buruk harus dipertahankan suhunya dengan menutup tubuhnya dengan


penutup yang memadai. Tidakan menghangatkan tubuh adalah usaha untuk
menghemat penggunaan cadangan energi pada anak tersebut.
-

Bila terjadi hipotermia, maka tatalaksananya :

1. Segera beri makan F-75 (jika perlu, lakukan rehidrasi lebih dulu).
2. Hangatkan anak. Pastikan bahwa anak berpakaian (termasuk kepalanya).
Tutup dengan selimut hangat dan letakkan pemanas (tidak mengarah
langsung kepada anak) atau lampu di dekatnya, atau letakkan anak
langsung pada dada atau perut ibunya (dari kulit ke kulit: metode
kanguru).
3. Beri antibiotik sesuai spektrum luas.
-

Pemantauan yang

perlu

dilakukan antara lain

melakukan

pengukuran suhu tiap setengah jam hingga mencapai suhu 36.5 C, memastikan
anak selalu tertutup pakaian atau selimut terutama pada malam hari, dan
memeriksa kadar gula darah bila ditemukan hipotermia.
-

Sebagai pencegahan, maka perlu meletakkan tempat tidur di area

yang hangat, di bagian bangsal yang bebas angin dan pastikan anak selalu
tertutup pakaian/selimut, mengganti pakaian dan seprai yang basah, jaga agar
anak dan tempat tidur tetap kering, menghindarkan anak dari suasana dingin
(misalnya: sewaktu dan setelah mandi, atau selama pemeriksaan medis),
memastikan anak tidur dengan dipeluk orang tuanya agar tetap hangat, terutama
di malam hari, serta memberi makan F-75 atau modifikasinya setiap 2 jam, mulai
sesegera mungkin (pemberian makan awal), sepanjang hari, siang dan malam.
2.6.3

Dehidrasi
-

Diagnosis

Tidak mudah menentukan adanya dehidrasi pada anak dengan

gizi buruk karena tanda dan gejala dehidrasi seperti turgor kulit dan mata cekung
sering didapati pada anak dengan gizi buruk walaupun tidak dehidrasi. Tandatanda dehidrasi pada anak pada umumnya sebagai berikut :
-

Tanda

Cara

Melihat

Letargis

Menentukan
Anak yang

dan
letargis

24

tidak bisa bangun dan


apatis.

Dia tampak

mengantuk dan tidak


menunjukkan
ketertarikan

terhadap

kejadian
-

Anak gelisah dan rewel

disekelilingnya
Anak selalu gelisah
dan

rewel

terutama

bila

disentuh

atau

dipegang untuk suatu


-

Tidak ada air mata

tindakan
Lihat ada air matanya
atau tidak pada saat

Mata cekung

anak menangis
Mata anak yang gizi
buruk selalu
cekung,

mirip

tampak
tanda

anak dehidrasi. Tanya


ibu

apakah

mata

cekung tersebut sudah


ada seperti biasanya
ataukah baru beberapa
-

Mulut dan lidah kering

saat timbulnya.
Raba dengan jari yang
kering

Haus

dan

bersih

untuk

menentukan

apakah

lidah

dan

mulutnya kering
Lihat apakah

anak

ingin

meraih

cangkir

saat

anda

beri

ReSoMal. Saat cangkir


itu disingkirkan, lihat
apakah
-

Kembalinya cubitan /
turgor kulit lambat

anak

masih

ingin minum lagi.


Gunakan ibu jari dan
jari

telunjuk

mencubit

kulit

saat
perut

25

bagian tengah antara


umbilicus

dan

perut.

Posisikan

tangan

anda

sejajar/lurus
garis

sisi

dengan

tubuh,

melintang.

bukan
Tarik

lapisan

kulit

dan

jaringan

bawah

kulit

pelan-pelan.

Cubit

selama 1 detik dan


lepaskan.

Jika

kulit

masih terlipat (belum


balik rata selama >2
detik),

dikatakan

cubitan kulit / turgor


kulit lambat.

Diagnosis pasti adanya dehidrasi adalah dengan pengukuran

berat jenis urin (> 1, 030) selain tanda dan gejala klinis khas, antara lain tampak
haus dan mukosa kering (WHO, 2009; IDAI, 2011).
-

Tatalaksana

Beri ReSoMal, secara oral atau melalui NGT, lakukan lebih lambat

dibanding jika melakukan rehidrasi pada anak dengan gizi baik.


-

beri 5 ml/kgBB setiap 30 menit untuk 2 jam pertama

setelah 2 jam, berikan ReSoMal 510 ml/kgBB/jam berselang-seling dengan


F-75 dengan jumlah yang sama, setiap jam selama 10 jam. Jumlah yang
pasti tergantung seberapa banyak anak mau, volume tinja yang keluar dan
apakah anak muntah.

Selanjutnya berikan F-75 secara teratur setiap 2 jam sesuai tabel 1. Jika
masih diare, beri ReSoMal setiap kali diare. Untuk usia < 1 th: 50-100 ml
setiap buang air besar, usia 1 th: 100-200 ml setiap buang air besar (IDAI,
2011).
-

Resep Resomal
26

ReSoMal mengandung 37.5 mmol Na, 40 mmol K, dan 3 mmol Mg per

liter (WHO, 2009).


Bahan
Oralit WHO *
Gula Pasir
Larutan mineral-mix
Ditambah air sampai menjadi

Jumlah
1 sachet (200ml)
10 g
8 ml
400 ml

Tabel 4. Resep ReSoMal (WHO, 2009).

Bila mineral-mix tidak tersedia, sebagai pengganti ReSoMal


dapat dibuat larutan berikut:
-

Bahan

Oralit
Gula Pasir
Bubuk KCl
Ditambah air sampai menjadi
-

Jumlah
1 sachet (200ml)
10 g
0.8 g
400

Tabel 5. Resep larutan pengganti ReSoMal (WHO, 2009).

Oleh karena larutan pengganti tidak mengandung Mg, Zn, dan Cu, maka

dapat diberikan makanan yang merupakan sumber mineral tersebut. contoh


makanan yang banyak mengandung sumber mineral adalah :

Magnesium :
-

Sayuran berwarna hijau (brokoli, bayam, selada), kacang-kacangan

(kenari, almond, kacang mete, kacang tanah, kedelai), ikan, buah (alpukat,
kismis, tomat, labu), dan produk susu.

Zinc :
-

Daging (sapi, ayam), makanan laut (tiram, lobster, kepiting), produk susu,

kacang-kacangan (kedelai)

Tembaga :
-

Kerang, biji-bijian (wijen, bunga matahari), kacang-kacangan (kacang

mete, kedelai,

kacang polong, kacang merah, kacang merah, walnut),

alpukat, keju, jamur shitake, sayur hijau, kentang, daging, kelapa, pepaya,
apel.
-

Dapat pula diberikan MgSO4 40% IM 1 x/hari dengan dosis 0.3

ml/kg BB, maksimum 2 ml/hari (WHO, 2009).


-

Pemantauan
27

Pantau kemajuan proses rehidrasi dan perbaikan keadaan klinis

setiap setengah jam selama 2 jam pertama, kemudian tiap jam sampai 10 jam
berikutnya.
-

M
o
ni
t
o
ri
n
g
W
a
kt
u
P
e
r
n
af
a
s
a
n
D
e
n
y
u
t
N
a
di
P
r
o
d
u
k
si
u
ri
n
:y
a
ti
d
a
k
F
r
e

2 jam
pertama

- 09.0- 09.3 - 10.0 - 10.


0
0
0
30

- 11.0 - 12. - 13. - 14.


0
00
00
00

- 15. - 16.0
00
0

Jam ke (10 jam


berikutnya)

- 17.0
0

- 18.0
0

- 19.0
0

- 20.0
0

- 21.0
0

28

k
u
e
n
si
B
A
B
F
r
e
k
u
e
n
si
M
u
n
ta
h
T
a
n
d
a
R
e
hi
d
r
a
si
A
s
u
p
a
n
R
e
S
o
M
al
(
m
l)
A
s
u
p
a
n

29

F
7
5
(
m
l)

Waspada

terhadap

gejala

kelebihan

cairan,

yang

sangat

berbahaya dan bisa mengakibatkan gagal jantung dan kematian (IDAI, 2011).
Selalu evaluasi mengenai frekuensi napas, frekuensi nadi, frekuensi miksi dan
jumlah produksi urin, frekuensi buang air besar dan muntah.
-

Adanya air mata, mukosa mulut yang lembab, mata dan fontanella

yang sudah tidak cekung dan perbaikan turgor kulit merupakan tanda-tanda
keberhasilan rehidrasi, tetapi anak gizi buruk seringkali tidak memperlihatkan
tanda tersebut walaupun rehidrasi penuh telah terjadi, sehingga sangat penting
untuk memantau berat badan.
-

Jika

ditemukan

tanda

kelebihan

cairan

(frekuensi

napas

meningkat 5x/menit dan frekuensi nadi 15x/menit), hentikan pemberian


cairan/ReSoMal segera dan lakukan penilaian ulang setelah 1 jam (WHO, 2009).
-

Pencegahan

Cara mencegah dehidrasi akibat diare yang berkelanjutan


sama dengan pada anak dengan gizi baik (Rencana Terapi A),
kecuali penggunaan cairan ReSoMal sebagai pengganti
larutan oralit standar.

Jika anak masih mendapat ASI, lanjutkan pemberian ASI


Pemberian F-75 sesegera mungkin
Beri ReSoMal sebanyak 50-100 ml setiap buang air besar cair (WHO,
2009).
2.6.4

Gangguan Keseimbangan Elektrolit


-

Semua anak dengan gizi buruk mengalami defisiensi elektrolit

yang mungkin membutuhkan waktu 2 minggu atau lebih untuk memperbaikinya.


Terdapat kelebihan natrium total dalam tubuh, walaupun kadar natrium serum
mungkin rendah. Edema dapat diakibatkan oleh keadaan ini. Jangan obati
edema dengan diuretikum. Namun perlu diingat pemberian natrium berlebihan
dapat menyebabkan kematian (WHO, 2009).
30

Tatalaksana

Untuk mengatasi gangguan elektrolit diberikan kalium dan magnesium, yang


sudah terkandung di dalam larutan Mineral-Mix yang ditambahkan ke dalam
F-75, F-100 atau ReSoMal.

Gunakan larutan ReSoMal untuk rehidrasi.

Siapkan makanan tanpa menambahkan garam (NaCl) (IDAI, 2011).


-

2.6.5

Infeksi
-

Pada gizi buruk, gejala infeksi yang biasa ditemukan seperti

demam, seringkali tidak ada, dan infeksi sering tersembunyi (IDAI, 2011). Infeksi
merupakan komplikasi utama pada anak dengan MEP, namun seringkali tidak
menunjukkan tanda dan gejala klasik. MEP juga menjadi penyebab umum kedua
dari defisiensi imun sehingga penderita rentan mengalami infeksi.
-

Anak dengan malnutrisi berada dalam kondisi imunokompromais

karena malnutrisi yang tejadi mempengaruhi pertumbuhan timus, organ limfoid


peifer, dan limpa. Hal ini menyebabkan defek sistem imun jangka panjang yang
ditandai oleh leukopenia, penurunan rasio CD4/CD8, penurunan produksi
antibodi, penurunan produksi sitokin proinflamasi, dan penurunan mekanisme
pertahanan oleh epithelial barrier. Karena defek tersebut maka anak dengan
malnutrisi rentan terhadap infeksi, namun tidak menunjukkan gejala klinis yang
khas seperti anak sehat karena respon imun dan produksi sitokin proinflamasi
yang menurun tadi. Maka konsekuensinya, WHO merekomendasikan bahwa
semua anak yang didiagnosis MEP harus mendapatkan antibiotik parenteral.
-

Tatalaksana

Berikan pada semua anak dengan gizi buruk:

Antibiotik spektrum luas

Vaksin campak jika anak berumur 6 bulan dan belum pernah


mendapatkannya, atau jika anak berumur > 9 bulan dan sudah pernah diberi
vaksin sebelum berumur 9 bulan. Tunda imunisasi jika anak syoK (IDAI,
2011).
-

Pilihan antibiotik spektrum luas

Jika tidak ada komplikasi atau tidak ada infeksi nyata, beri Kotrimoksazol per
oral (25 mg sulfamethoxazole + 5 mg trimethoprim/kgBB setiap 12 jam
selama 5 hari.
31

Jika ada komplikasi (hipoglikemia, hipotermia, atau anak terlihat letargis atau
tampak sakit berat), atau jelas ada infeksi, beri:

Ampisilin (50 mg/kgBB IM/IV setiap 6 jam selama 2 hari), dilanjutkan dengan
Amoksisilin oral (15 mg/kgBB setiap 8 jam selama 5 hari) atau, jika tidak
tersedia amoksisilin, beri Ampisilin per oral (50 mg/kgBB setiap 6 jam selama
5 hari) sehingga total selama 7 hari, ditambah:

Gentamisin (7.5 mg/kgBB/hari IM/IV) setiap hari selama 7 hari.


-

Catatan: Jika anak anuria/oliguria, tunda pemberian gentamisin dosis ke-

2 sampai ada diuresis untuk mencegah efek samping/toksik gentamisin.


-

Jika anak tidak membaik dalam waktu 48 jam, tambahkan Kloramfenikol (25
mg/kgBB IM/IV setiap 8 jam) selama 5 hari (IDAI, 2011).
-

Pengobatan terhadap parasit cacing

Jika terdapat bukti adanya infestasi cacing, beri mebendazol (100

mg/kgBB) selama 3 hari atau albendazol (20 mg/kgBB dosis tunggal). Beri
mebendazol setelah 7 hari perawatan, walaupun belum terbukti adanya infestasi
cacing (WHO, 2009).
-

Jika anak berumur 4 bulan atau lebih dan belum pernah


mendapatkan obat pirantel pamoat dalam 6 bulan terakhir,
dengan hasil pemeriksaan tinjanya positif, beri pirantel pamoat
di klinik sebagai dosis tunggual (Diberikan pada fase transisi)
-

Ber

at

(125 mg/tab)

Ba
-

4-

Pirantel Pamoat

dan
6 -

Dosis Tunggal

tablet

tablet

1 tablet

< 8
-

9-

Kg
8 <
10

1-

Kg
10
- <
14

32

3-

Kg
14

1 tablet

- <
19
Kg

Pemantauan

Jika terdapat anoreksia setelah pemberian antibiotik di atas, lanjutkan

pengobatan sampai seluruhnya 10 hari penuh. Jika nafsu makan belum


membaik, lakukan penilaian ulang menyeluruh pada anak (WHO, 2009).
2.6.6

Koreksi Defisiensi Mikronutrien


-

Semua anak gizi buruk mengalami defisiensi vitamin dan mineral.

Meskipun sering ditemukan anemia, tidak boleh diberikan preparat besi pada
periode awal (stabilisasi, transisi), tetapi tunggu sampai anak mempunyai nafsu
makan yang baik dan mulai bertambah berat badannya (biasanya pada minggu
kedua, mulai fase rehabilitasi). Pemberian preparat besi dapat memperburuk
keadaan infeksi serta terjadinya reaksi oksidatif oleh besi bebas yang akan
merusak membran sel dan berakibat fatal (IDAI, 2011).
-

Tatalaksana

Pemberian pada hari 1:

Asam folat 5 mg, oral

Vitamin A: diberikan secara oral pada hari ke 1 (kecuali bila telah diberikan
sebelum dirujuk) (IDAI, 2011), dengan dosis seperti di bawah ini :
-

Dosis
(IU)

<

50

000

(1/2
kapsul

Tabel 6.

sesuai dengan usia

6
1-

Biru)
100 000

Dosis vitamin A
anak (IDAI, 2011)

(1 kapsul
-

Biru)
200 000
(1 kapsul
Merah)

33

Pemberian harian selama 2 minggu:

Asam folat 1 mg/hari

Suplemen multivitamin

Zinc (2 mg Zn elemental/kgBB/hari)

Tembaga (0.3 mg Cu/kgBB/hari)

Ferosulfat 3 mg/kgBB/hari setelah berat badan naik (pada fase rehabilitasi)


-

Jika ada gejala defisiensi vitamin A, atau pernah sakit campak


dalam 3 bulan terakhir, beri vitamin A dengan dosis sesuai
umur pada hari ke 1, 2, dan 15 (IDAI, 2011).

2.6.7

Pemberian Makan Awal


-

Pada fase stabilisasi, pemberian makan (formula) harus diberikan

secara hati-hati sebab keadaan fisiologis anak masih rapuh dan kapasitas
homeostasisnya berkurang. Pemberian makan sebaiknya dimulai sesegera
mungkin setelah pasien masuk dan harus dirancang untuk memenuhi kebutuhan
energi dan protein secukupnya untuk mempertahankan proses fisiologi dasar
(IDAI, 2011).
-

Tatalaksana

Gambaran hal-hal penting dalam pemberian makan pada fase


stabilisasi adalah sebagai berikut:

Makanan dalam jumlah sedikit tetapi sering dengan osmolaritas rendah dan
rendah laktosa (F-75)

Pemberian makan secara oral atau melalui NGT, hindari penggunaan


parenteral

Energi: 80 100 kkal/kgBB/hari

Protein: 1-1.5 g/kgBB/hari

Cairan: 130 ml/kgBB/hari (bila ada edema berat beri 100 ml/kgBB/hari)

Jika anak masih mendapat ASI, lanjutkan, tetapi pastikan bahwa jumlah F-75
yang ditentukan harus dipenuhi (IDAI, 2011).
-

Tabel 7. Jadwal pemberian F-75 (WHO, 2009)

VOLUME/K

VOL

GBB/PEMB

UM

ERIAN

E/K
GB
34

B/H
-

11 ml

16 ml

22 ml

ARI
130
ml

130
ml

130
ml

s
-

Formula awal F-75 sesuai resep (Tabel 8) dan jadwal makan

(Tabel 7) dibuat untuk mencukupi kebutuhan zat gizi pada fase stabilisasi. Pada
F-75 yang berbahan serealia, sebagian gula diganti dengan tepungberas atau
maizena sehingga lebih menguntungkan karena mempunyaiosmolaritas yang
lebih rendah, tetapi perlu dimasak dulu. Formula ini baik bagi anak gizi buruk
dengan diare persisten (WHO, 2009).
-

Formula F-75 mengandung 75 kkal/100 ml dan 0,9 gram


protein / 100 ml cukup memenuhi kebutuhan bagi sebagian
besar anak. Berikan dengan menggunakan cangkir atau
sendok. Anak yang sangat lemah, mungkin perlu diberikan
dengan sendok atau secara drop atau dengan spuit (IDAI,
2011).
-

Cara Membuat Formula WHO (F-75, F-100)

Campurkan gula dan minyak sayur, aduk sampai rata dan masukkan susu
bubuk sedikit demi sedikit, aduk sampai kalis dan berbentuk gel.Tambahkan
air hangat dan larutan mineral-mix sedikit demi sedikitsambil diaduk sampai
homogen dan volumenya menjadi 1000 ml.Larutan ini bisa langsung diminum
atau dimasak selama 4 menit.

Untuk

F-75

maizena,larutan

yang

menggunakan

harus

dididihkan

campuran
(5-7

tepung

menit)

dan

beras

atau

mineral-mix

ditambahkansetelah larutan mendingin.


35

Apabila tersedia blender, semua bahan dapat dicampur sekaligusdengan air


hangat secukupnya. Setelah tercampur homogen baruditambahkan air
hingga volume menjadi 1000 ml. Apabila tidaktersedia blender, gula dan
minyak sayur (dianjurkan minyak kelapa)harus diaduk dahulu sampai rata,
baru tambahkan bahan lain dan air hangat (WHO, 2009).
-

Jika jumlah petugas terbatas, beri prioritas untuk pemberian makan

setiap2 jam hanya pada kasus yang keadaan klinisnya paling berat, dan bila
terpaksa upayakan paling tidak tiap 3 jam pada fase permulaan. Libatkan
danajari orang tua atau penunggu pasien.Pemberian makan sepanjang malam
hari sangat penting agar anak tidakterlalu lama tanpa pemberian makan (puasa
dapat meningkatkan risiko kematian) (WHO, 2009).
-

Apabila

pemberian

makanan

per

oral

pada

fase

awal

tidak

mencapaikebutuhan minimal (80 kkal/kgBB/hari), berikan sisanya melalui NGT.


Jangan melebihi 100 kkal/kgBB/hari pada fase awal ini. Pada cuaca yang sangat
panas dan anak berkeringat banyak maka anakperlu mendapat ekstra air/cairan.
-

Pemantauan

Pantau dan catat setiap hari:

Jumlah makanan yang diberikan dan dihabiskan

Muntah

Frekuensi defekasi dan konsistensi feses

Berat badan (WHO, 2009).


-

2.6.8

Tumbuh Kejar
-

Pada fase rehabilitasi perlu pendekatan yang baik untuk

pemberian makan dalam pencapaian asupan yang tinggi dan kenaikan berat
badan yang cepat (>10 g/kg/hari). Formula yang dianjurkan pada fase ini adalah
F100 yang mengandung 100 kkal/100 ml dan 2,9 g protein/100 ml (IDAI, 2011).
-

Kesiapan untuk memasuki fase rehabilitasi ditandai dengan

kembalinya nafsu makan, biasanya sekitar satu minggu setelah perawatan.


Transisi yang bertahap direkomendasikan untuk mencegah risiko gagal jantung
yang dapat muncul bila anak mengonsumsi makanan langsung dalam jumlah
banyak (IDAI, 2011).
-

Untuk mengubah dari pemberian makanan awal ke makanan


tumbuh kejar (transisi) :
36

Ganti F 75 dengan F 100. Beri F-100 sejumlah yang sama dengan F-75
selama 2 hari berturutan.

Selanjutnya naikkan jumlah F-100 bertahap sebanyak 10-15 ml setiap kali


pemberian

hingga

mencapai

pemberian

formula

mencapai

150

kkal/kgBB/hari (volume minimum pada tabel pemberian F-100).


-

Energi: 100-150 kkal/kgBB/hari

Protein: 2-3 g/kgBB/hari.

Bila anak masih mendapat ASI, lanjutkan pemberian ASI, tetapi pastikan
anak sudah mendapat F-100 sesuai kebutuhan karena ASI tidak
mengandung cukup energi untuk menunjang tumbuh-kejar. Makananterapeutik-siap-saji (ready to use therapeutic food = RUTF) yang
mengandung energi sebanyak 500 kkal/sachet 92 g juga dapat digunakan
pada fase rehabilitasi.
-

STAB

ILISA

SI

I
T
A
S

80-

I
1

100

kkal/k

gBB/

hr

37

1-1.5

r
2

r
4

g/kgB

B/hr

130

r
1

r
1

ml/kg

BB/hr

atau

100

ml/kg

BB/hr

bila

edem

m
38

berat

B
B
/
h
r

Tabel 10. Kebutuhan zat gizi anak gizi buruk menurut fase
pemberian makanan (WHO, 2011)

Pemantauan

Monitor selama fase transisi terhadap tanda gagal jantung


(WHO, 2009):

Frekuensi napas

Frekuensi nadi
-

Bila frekuensi napas meningkat lima kali atau lebih/menit dan


frekuensi nadi 25 atau lebih/menit selama 2 kali pemantauan
dalam 4 jam berturut-turut, maka hal ini merupakan tanda
bahaya (cari penyebabnya). Lakukan segera pengurangan
volume makanan per kali makan kemudian ditingkatkan
perlahan-lahan sebagai berikut:

berikan tiap 4 jam F100 16 ml/kgbb/makan selama 24 jam

19 ml/kgbb/makan selama 24 jam berikutnya

22 ml/kgbb/makan selama 48 jam berikutnya

kemudian tingkatkan jumlah pemberian makan 10 ml tiap kali pemberian


seperti dijelaskan sebelumnya
-

Setelah fase transisi, anak masuk ke fase rehabilitasi


(IDAI, 2011):

Lanjutkan menambah volume pemberian F-100 hingga ada makanan sisa


yang tidak termakan oleh anak (anak tidak mampu menghabiskan
porsinya). Tahapan ini biasanya terjadi pada saat pemberian makanan
mencapai 30 ml/kgbb/makan (200 ml/kgbb/hari).
39

Pemberian makan yang sering (sedikitnya tiap 4 jam) dari jumlah formula
tumbuh-kejar

Energi : 150-220 kkal/kg/hari

Protein : 4-6 gram protein/kg/hari

Bila anak masih mendapat ASI tetap berikan diantara pemberian formula
(catatan: ASI tidak memiliki energi dan protein yang cukup untuk
mendukung tumbuh kejar yang cepat)

Monitor kemajuan terapi

Kemajuan terapi dinilai dari kecepatan kenaikan berat badan


setelah tahap transisi dan mendapat F-100:

Timbang dan catat berat badan setiap pagi sebelum diberi makan, plot pada
formulir pemantauan berat badan.

Tiap minggu hitung dan catat pertambahan berat badan dalam satuan
gram/kgbb/hari

Jika kenaikan berat badan:


-

buruk (< 5 g/kgBB/hari), anak membutuhkan penilaian ulang lengkap,


periksa apakah target asupan terpenuhi, atau mungkin ada infeksi
yang tidak terdeteksi.

sedang (5-10 g/kgBB/hari), lanjutkan tatalaksana

baik (> 10 g/kgBB/hari), lanjutkan tatalaksana (IDAI, 2011).


-

2.6.9

Stimulasi Sensorik
-

Pada anak gizi buruk terjadi keterlambatan perkembangan mental

dan perilaku karenanya harus diberikan :


- Perawatan kasih sayang
- Lingkungan yang ceria dan nyaman
- Terapi bermain terstruktur selama 1530 menit per hari
- Aktivitas fisik segera setelah cukup sehatsesuai kemampuan psikomotor
anak
40

- Keterlibatan ibu sesering mungkin (misal menghibur, memberi makan,


memandikan, bermain) (WHO, 2009).
-

2.6.10

Persiapan Tindak Lanjut setelah Perawatan

Bila anak sudah mencapai persentil 90% BB/TB (setara -1SD)

maka anak sudah pulih dari keadaan malnutrisi, walaupum mungkin BB/U masih
rendah karena umumnya anak pendek (TB/U rendah). Pola makan yang baik
dan stimulasi fisik dan sensorik dapat dilanjutkan di rumah. Tunjukkan kepada
orang tua atau pengasuh bagaimana :
-

Pemberian makan secara sering dengan kandungan energi dan


nutrien memadai

Berikan terapi bermain yang terstruktur


-

Saran untuk orangtua atau pengasuh:

Membawa anak kontrol secara teratur

Memberikan imunisasi booster

Memberikan vitamin A setiap 6 bulan (WHO, 2009).


-

2.7 Kriteria sembuh

Bila BB/TB atau BB/PB >-2 SD dan tidak ada gejala klinis
dan memenuhi kriteria pulang sebagai berikut (KEMENKES
RI, 2011) Direktorat Bina Gizi 2011

a) Edema sdah berkurang atau hilang, anak sadar, dan aktif


b) BB/PB atau BB/TB >-3 SD
c) Komplikasi sudah teratasi
d) ibu telah mendapat konseling gizi
e) ada kenaikan BB sekitar 50 g/kgBB/minggu selama 2 minggu berturutturut
f) selera makan sudah membak, makanan yang diberikan dapat dhabiskan
2.8 Pencegahan
-

Menurut IDAI (2009), malnutrisi energi protein berat salah satunya

adalah marasmus, merupakan masalah gizi yang multifaktorial. Tindakan


pencegahan bertujuan untuk mengurangi insiden dan menurunkan angka
kematian. Oleh karena ada beberapa faktor yang menjadi penyebab timbulnya
41

masalah tersebut, maka untuk mencegahnya dapat dilakukan beberapa langkah,


antara lain :
1. Pola makan
-

Penyuluhan pada masyarakat mengenai gizi seimbang (perbandingan

jumlah karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral berdasarkan umur


dan berat badan).
2. Pemantauan tumbuh kembang dan penentuan status gizi secara berkala
(sebulan sekali pada tahun pertama)
3. Faktor sosial
-

Mencari kemungkinan adanya pantangan untuk menggunakan bahan

makanan tertentu yang sudah berlangsung secara turun-temurun dan dapat


menyebabkan terjadinya MEP.
4. Faktor ekonomi
-

Dalam World Food Conference di Roma tahun 1974 telah dikemukakan

bahwa meningkatnya jumlah penduduk yang cepat tanpa diimbangi dengan


bertambahnya

persediaan

bahan

makanan

setempat

yang

memadai

merupakan sebab utama krisis pangan, sedangkan kemiskinan penduduk


merupakan akibat selanjutnya. Perlu ditekankan pula perlunya bahan
makanan yang bergizi baik di samping kuantitasnya
5. Faktor infeksi
-

Infeksi derajat apapun dapat memperburuk keadaan status gizi, walaupun

dalam derajat ringan.


42

BAB III

KESIMPULAN

43

LAPORAN KASUS

Keadaa

Pemeriksaan Fisik

GCS 456, sadar, tampak sakit sedang, gerak tonus


lemah

n Umum

Pucat, Kesan dehidrasi

Nafas spontan, tampak sesak

Kesan gizi buruk

Wajah tidak dismorfik, tidak ikterik, tidak sianosis, dan


tidak edema

Rambut tampak hitam, tipis, tidak mudah dicabut

Kulit berwarna sawo matang, tidak pucat, tidak biru,


tidak ikterus

Tanda-

tanda Vital

Status

Pakaian dan higienitas cukup baik

Denyut jantung

: 162 kali/menit, reguler, kuat

Laju napas

: 50 kali/menit, reguler, spontan

Suhu aksila

: 36,70C

Sat O2

: 98 %

Berat Badan

: 8,7 kg (-2SD s/d mean)


44

Antropometri
-

Kepala

Panjang Badan

: 75 cm (-2SD s/d mean)

Berat Badan Ideal

: 9,5 kg

%BBI

:91,6%

Lingkar Lengan Atas

: 14cm (-1SD s/d mean)

Kesimpulan : Gizi Baik

Bentuk

: mesosefal, simetris, tidak ada

benjolan dan

massa, ubun-ubun datar

: normosefal

Ukuran
-

Rambut

: warna hitam, tidak mudah

dicabut
-

Wajah

sianosis (-)
Mata

: simetris, deformitas (-), rash(-),


: konjungtiva anemis (-/-), sklera

ikterik (-/-), edema palpebra (-/-), mata cowong


(-/-), air mata (+/+), pupil bulat isokor
-

3mm/3mm, reflek cahaya +/+


Telinga
: bentuk dan ukuran normal, posisi

normal,
-

sekret(-)
Hidung
: bentuk simetris, deviasi (-), sekret
(-), perdarahan (-), hiperemi (-), pernapasan

cuping hidung (-)


Mulut
: mukosa bibir kering (-), mukosa
sianosis (-), faring hiperemi (-), pembesaran
tonsil (-)

Leher

Inspeksi

: simetris, pembesaran kelenjar leher

(-), massa (-)


-

Palpasi

: pembesaran kelenjar limfe leher

(-|-), trakea di tengah, kaku kuduk (-)

45

Toraks

Inspeksi: bentuk dada simetris, retraksi dinding dada

(-), deformitas (-), jaringan parut (-),


-

Jantung:

Inspeksi
Palpasi

: ictus cordis tidak terlihat


: ictus cordis teraba di ICS V Mid

Clavicular
Auskultasi

Line sinistra
: bunyi jantung S1, S2 tunggal regular,

murmur (-), gallop (-)


Paru:
-

Inspeksi

: gerak nafas simetris pada

kedua sisi dinding dada, retraksi dinding


dada (-)
-

Palpasi

: pergerakan dinding dada saat

bernafas
Auskultasi
-

simetris, stem fremitus normal.


:

SuaraNapas

Ronki

Wheezi
ng

anan
-

Ki

ri
V

esikular

esikular

esikular

esikular

Kanan

esikular
V

esikular

Kiri

anan
-

Kiri
- -

K -

- -

- -

Abdome

Inspeksi

: Flat

n
46

Auskultasi : bising usus (+) normal

Perkusi
: meteorismus (-), shifting
dullness (-),

undulasi (-).

Palpasi

: abdomen soefl

Hepar

: 1/3 1/3

Lien

: tidak teraba pembesaran

turgor kulit kembali agak lambat

Ekstrem

Pe

meriksaan

itas

Atas
-

anan
-

Akr

angat
An

Bawah
K Ki

anan
H

angat

kering
-

Ki

ri
H

al

ri
H

angat

kering

H
angat

kering

kering

Ikt

Ed

ema
Sia

nosis
Pte

chiae
CR

<

<

<

<

emis
erik

T
-

2 detik

2 detik
-

To

2 detik
Kuat

2 detik

nus otot
-

Anus

Neurolo

Inspeksi : Diaper rash (-), baggy pant (-)

Glasgow Comma Scale: 456


Meningeal Sign: Kakukuduk (-), Kernigs Sign (-),
47

gis

Brudzinski I (-), Brudzinski II (-), Brudzinski III (-), Brudzinski


IV (-)
-

Pupil bulatisokor 3mm/3mm, Reflek cahaya +/+,

Reflek kornea +/+


-

Ekst

rimitas

Kekuatan

Kan

an

Atas

Baw

ah
-

Kiri

Tonus

anan

N -

N -

Reflek Fisiologis:
Biseps: +2 | +2
Triseps: +2 | +2
Patella: +2 | +2
Achilles: +2 | +2
ReflekPatologis:
-

Refle

k:
-

anan

K -

iri

Hoff

- -

Trom

- -

Babi

- -

Chad

- -

Oppe -

- -

Gord

- -

mann
mer
nski
dock
nheim
-

on
48

Gond -

- -

Scha

- -

a
-

effer
-

Pemeriksaan penunjang

1. Hasil lab 24 - 04 - 2015, 11:58


-

Jenis Pemeriksaan
Hematologi

Hasil

Sat
uan

Nilai Rujukan

Kesan

g/d
L

Hemolobin (HGB)
Eritrosit (RBC)
Leukosit (WBC)
Hematokrit
Trombosit (PLT)
MCV
MCH
MCHC
RDW
Hitung jenis
Eosinofil
Basofil
Neutrofil
Limfosit
Monosit
Lain-lain

Faal Hemostasis
PPT
APTT
Kesimpulan

9,90
3,00
15.24

106/

L
103/
L

0
-

30
205
100
33,0
33,0
22,90
-

1,3
0,4
44,6
44,8
8,9
-

10,7
35,8
Norm

%
103/

L
-

fL
pg
g/d
L

%
-

0%
%
%
%
%
-

Detik
detik
-

13,4-17,7
4,0-5,5
4,7-10,3
40-47
142-424
80-93
27-31
32-36
11,5-14,5
0-4
0-1
51-67
25-33
2-5
-

9,4-11,3
24,6-30,6
-

Menurun
Menurun
Meningkat
Menurun
Normal
Meningkat

Meningkat
Normal
Meningkat
Normal
Normal
Menurun
-

Meningkat
Meningkat
-

Normal
Normal
-

al

49

2. Hasil lab 09 05 2015, 10:38

Jenis Pemeriksaan
Hematologi
Hemolobin (HGB)
Eritrosit (RBC)
Leukosit (WBC)
Hematokrit
Trombosit (PLT)
MCV
MCH
MCHC
RDW
Hitung jenis
Eosinofil
Basofil
Neutrofil
Limfosit
Monosit
Lain-lain
-

12,10
3,85
9.49
37,1
231
96,4
31,4
32,6
18,30
-

Evalua
Hapus
an
Darah
Eritosit
:
normo
krom,
anisos
itosis

Hasil

si

0,0
0,0
43,0
48,0
9,0
-

Sat

uan
g/d
L
-

106/

L
103/
L
-

%
103/

L
-

fL
pg
g/d
L

%
-

0%
%
%
%
%
-

Nilai Rujukan
-

13,4-17,7
4,0-5,5
4,7-10,3
40-47
142-424
80-93
27-31
32-36
11,5-14,5
0-4
0-1
51-67
25-33
2-5
-

Kesan

Normal
Menurun
Normal
Menurun
Normal
Meningkat
Meningkat
Normal
Meningkat
Normal
Normal
Menurun
Meningkat
Meningkat
-

Leuko
sit

kesan
jumlah
normal
-

Tromb
osit

kesan
jumlah
normal
,
terdap
at
giant

50

tromb
osit
-

KIMIA KLINIK
FAAL HATI
SGOT

78

U/l

0-40

SGPT

130

U/l

0-41

Albumin
FAAL GINJAL
Ureum
Kreatinin
ELEKTROLIT
Kalsium
Natrium
Kalium
Clorida
-

3,75

66,3
0,32

Mg/dl
Mg/dl

9,1
142
4,6
132

Mg/dl
Mmol/l
Mmol/l
Mmol/l

g/l

3,5-5,5

16,6-48,5
<12
7,6-11,0
136-145
3,5-5,0
98-106
-

Normal

Meningkat
Normal

Normal
Normal
Normal
Meningkat
-

VII. Diagnosis Kerja

1. Gizi buruk marasmus fase Rehabilisasi H6


51

I.

Rencana Terapi

1. Kebutuhan Cairan 150 cc/kgBB/hari x BBI 20% = 360cc/hari


2. Kebutuhan Kalori 120 kcalxBBI = 120x3 = 360 kcal/hari
3. Kebutuhan protein = 2,2 x BBI = 6,6 gr/hari
4. Per oral :

II.

Vitamin A 1x 2500 IU

Vitamin BC 1 x tab

Vitamin C 1x 25mg

Vitamin E 1x 25 IU

Asam folat 1x1 mg

Zinc 1 x 2,5 mg

Diet SK BBLR 12 x 30 cc, 1 takar dalam 25 cc

Rencana Monitoring
a. Tanda-tanda vital
b. Intake
c. Balance cairan
d. Jaga dari hipotermi
e. GDA berkala
f.

III.

Cegah dehidrasi

Rencana Edukasi
1. Menjelaskan kepada keluarga pasien tentang penyakit pasien
2. Menjelaskan kepada keluarga pasien tentang faktor risiko dari penyakit
pasien
3. Menjelaskan kepada keluarga pasien tentang obat-obatan yang diberikan,
manfaatnya, efek bila tidak diberikan, efek samping obat, dan
penanganan bila terjadi efek yang tidak diinginkan.
4. Menjelaskan kepada keluarga pasien tentang pemeriksaan penunjang
yang diperlukan dan manfaatnya.

52

5. Menjelaskan kepada keluarga pasien tentang pencegahan penyakit


tersebut supaya tidak terulang lagi di kemudian hari.
-

6.

Menjelaskan pentingnya kerjasama pasien

dan keluarga dalam pelaksanaan tindakan medis dan pengobatan.


a. Menjaga kecukupan kuantitas

dan kualitas makanan

dan

minuman sesuai anjuran dokter.


b. Mengikuti terapi dengan baik sesuai petunjuk dokter.
c. Ikut serta memonitor tanda-tanda hipotermi, hipoglikemi, dan
dehidrasi
-

53