Anda di halaman 1dari 36

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

I.1.1.1.
I.2.

PENDAHULUAN
Fungsi dan Kegunaan

Yang dimaksud dengan reklamasi adalah meningkatkan sumberdaya lahan dari


yang kurang bermanfaat menjadi lebih bermanfaat ditinjau dari sudut
lingkungan, kebutuhan masyarakat dan nilai ekonomis. Sebagai contoh
suatu kegiatan reklamasi diantaranya adalah kegiatan mengubah padang
rumput yang kurang bermanfaat menjadi suatu kawasan pertanian; kegiatan
mengubah rawa menjadi daerah persawahan; dan kegiatan mengubah rawa
menjadi kawasan pertambakan. Sedangkan contoh reklamasi perairan pantai
misalnya kegiatan menimbun perairan pantai untuk keperluan pembuatan
fasilitas pelabuhan atau kawasan bisnis.
Tujuan pekerjaan reklamasi haruslah jelas, dan hasil reklamasi haruslah
memberikan nilai tambah, baik dari sudut ekonomi, lingkungan, dan manfaat
terhadap masyarakat sekitar lokasi pekerjaan. Beberapa tujuan pekerjaan
reklamasi perairan pantai diantaranya adalah:
mengubah perairan pantai menjadi daratan untuk memenuhi kebutuhan lahan,
meningkatkan kualitas dan nilai ekonomi kawasan pantai,
mengurangi luas lahan subur (pertanian) yang diubah menjadi
lahan untuk permukiman, perkantoran, industri atau perkotaan,
mengurangi luas kawasan resapan yang diubah menjadi kawasan
permukiman atau peruntukan yang lain.
I.3.

Teknologi Reklamasi
Pembangunan reklamasi secara umum dapat dibedakan menjadi tiga jenis
yaitu: sistem timbunan atau urugan, sistem polder dan sistem kombinasi antar
polder dan urugan (lihat Gambar 1.1).
a.

Reklamasi sistem timbunan atau urugan


Reklamasi sistem timbunan atau urugan yaitu reklamasi dengan menimbun
perairan pantai sampai muka lahan berada di atas muka air laut tinggi
(HWL). Keuntungan sistem ini diantaranya adalah lahan hasil reklamasi
selalu berada di atas permukaan air laut, dengan demikian fasilitas yang
dibangun di atas lahan reklamasi ini aman dari ancaman air laut ataupun
air yang berlebihan. Sedangkan kelemahannya atau kerugiannya adalah
volume penimbunan yang relatif besar. Reklamasi sistem timbunan sangat
cocok untuk daerah tropis yang mempunyai curah hujan tinggi.

b.

Reklamasi sistem polder


Reklamasi sistem polder yaitu reklamasi yang dilakukan dengan cara
pengeringan perairan yang akan direklamasi. Untuk melakukan
pengeringan ini perlu dibuat tanggul yang mengelilingi lahan yang akan
direklamasi. Tanggul tersebut harus kedap air. Lahan hasil reklamasi
biasanya berada di bawah muka air laut, dengan demikian sistem drainasi
dan pengeringan harus dilakukan secara terus menerus. Keuntungan

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

reklamasi cara ini adalah membutuhkan material timbunan yang relatif


sedikit, namun kelemahannya adalah selalu terancam genangan air baik
berasal dari laut maupun hujan lokal. Dengan demikian untuk menjaga
agar lahan tetap kering diperlukan biaya operasional dan pemeliharaan
yang tinggi. Reklamasi ini kurang cocok untuk daerah yang mempunyai
curah hujan yang sangat deras, karena biaya operasi dan pemeliharaan
(Biaya O & M) akan cukup tinggi..
c.

Reklamasi sistem kombinasi urugan-polder


Reklamasi sistem kombinasi urugan-polder yaitu reklamasi dengan
menggunakan sistem gabungan antara sistem polder dan sistem timbunan.
Sistem ini diharapkan dapat memberikan solusi yang lebih murah untuk
kasus-kasus tertentu.
LAHAN REKLAMASI

Reklamasi Sistem Urugan

POMPA
LAHAN REKLAMASI

Reklamasi Sistem Polder

POMPA
LAHAN REKLAMASI

Reklamasi Sistem Kombinasi


Urugan Polder

Gambar 1.1. Teknologi Reklamasi, Sistem Urugan, Polder dan Kombinasi

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

I.4.

Tata Letak Reklamasi


Tata letak reklamasi sangat tergantung kepada kondisi geografis lahan dan
kepemilikan lahan. Secara umum tata letak reklamasi dapat dibagi menjadi 2
macam yaitu: (a) Lahan reklamasi terhubung dengan daratan utama (main
land), dan (b) Lahan reklamasi terpisah dengan daratan utama. (lihat Gambar
1.2, 1.3; dan 1.4).
a. Lahan reklamasi terhubung (menyatu) dengan daratan utama.
Keunggulan: prasarana murah, karena dapat langsung
dihubungkan dengan fasilitas yang telah ada di daratan utama,
tidak perlu jembatan khusus fasilitas. Biaya reklamasi relatif
murah karena perairan relatif dangkal, sehingga kebutuhan
material relatif sedikit
Kerugian: potensi banjir meningkat, karena memperpanjang aliran
(sungai maupun selokan drainasi.
b. Lahan reklamasi terpisah dengan daratan utama
Keunggulan: potensi banjir tidak meningkat, karena tidak
mengganggu aliran sungai maupun saluran drainasi yang telah
ada.

Kerugian: biaya pembangunan mahal, karena perairan relatif


dalam, dan perlu sarana penghubung kedaratan utama dengan
jembatan yang mungkin cukup panjang.

Perairan pantai

A
Lahan reklamasi

B
Lahan reklamasi

Daratan utama
Sungai

A = lahan reklamasi terpisah dengan


daratan utama (main land)
B = lahan reklamasi terhubung dengan
daratan utama (main land)

Gambar 1.2. Tata letak reklamasi terhadap daratan utama

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

Gambar 1.3. Contoh reklamasi yang terpisah dari daratan utama


(Hakkejima, Jepang)

Gambar 1.4. Contoh reklamasi yang menyatu dengan daratan utama


(Reklamasi Teluk Manado)

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

I.5.

Bagian-Bagian Lahan Reklamasi


Beberapa pekerjaan reklamasi dilakukan diperairan yang mempunyai tanah
dasar relatif bagus seperti di Pantai Teluk Manado dan Pulau Serangan, Bali.
Namun banyak pula reklamasi yang dilakukan di perairan dengan kondisi
tanah dasar yang sangat lembek, misalnya seperti reklamasi pantai Mutiara,
Jakarta; dan reklamasi pantai Marina, Semarang. Khusus reklamasi di tanah
dasar yang lembek (lihat Gambar 2.5) memang perlu perhatian khusus. Bahan
reklamasi yang dipergunakan untuk reklamasi di atas tanah dasar yang lembek
atau lumpur biasanya digunakan pasir.
Bagian bagian konstruksi reklamasi secara umum:
a. Lapisan tanah urug pada lapisan atas ( 0,5 sd 0,75 m),
b. Lapisan pasir urug di atas tanah dasar lumpur.
c. Vertical drain untuk mempercepat pangatusan air yang berada diantara
butiran tanah lumpur.
d. Bangunan penahan atau pengaman berupa tembok laut biasanya dibangun
diatas matras bambu dan tiang bambu .

Pemadatan dng
vibro compactor

Tanah urug agar


tanaman dpt tumbuh

Tanah urug
Pasir urug

Tembok laut

Tanah lembek

Vertical drain

Trucuk bambu

Matras bambu

Gambar 1.5. Lahan hasil reklamasi dan bangunan pelindungnya

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

I.6.

Tahapan Perencanaan Reklamasi Pantai


Untuk lebih memudahkan dalam perencanaan reklamasi pantai disarankan untuk
melihat bagan alir pada Gambar 1.6.
Mulai

Pradesain Reklamasi

Borrow area + Quarry

Lokasi Reklamasi

Data Pendukung

Penyelidikan tanah /
batuan

Penyelidikan tanah dasar

muka air laut rencana

Tidak
Kualitas & Kuantitas

Kondisi tanah dasar

Baik

Kurang Baik

OK
Perbaikan tanah
dasar

Tanpa perbaikan

Elevasi lahan
Vertical drains
Surcharge
Ya
Perencanaan Penimbunan

-Vibro compaction
-Dynamic Compaction

Pemadatan Timbunan

Aman terhadap

Liquifaksi

Gambar Rencana
Spesifikasi Teknik

selesai

Gambar 1.6. Bagan alir pekerjaan reklamasi pantai

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

I.6.1.1.

PERTIMBANGAN PEKERJAAN REKLAMASI

Seperti yang telah diuraikan didepan, tujuan utama reklamasi adalah untuk
menambah luasan daratan untuk suatu aktivitas yang sesuai dengan kebutuhan
atau keperluan wilayah tersebut. Pertimbangan secara umum untuk melaksanakan
pilihan reklamasi diantaranya adalah sebagai berikut.
a. Tata ruang suatu wilayah tertentu kadang kala memang membutuhkan suatu
lahan yang berasal dari proses reklamasi. Sebagai contoh kebutuhan akan
lahan untuk keperluan pembangunan pelabuhan. Pelabuhan membutuhkan
fasilitas bongkar muat, lapangan penumpukan, terminal penumpang, kompleks
pergudangan, dermaga dan sebagainya. Lahan untuk keperluan tersebut
biasanya tidak tersedia di kawasan pantai dalam bentuk yang siap bangun.
Lahan yang terdapat di lokasi pekerjaan biasanya berupa rawa atau perairan
dangkal. Untuk keperluan dermaga diperlukan kedalaman perairan yang cukup
untuk sandar kapal. Kebutuhan lahan tersebut di atas menuntut dilakukannya
reklamasi, namun dalam skala yang tidak begitu besar, hanya sebatas
keperluan fasilitas pelabuhan.
b. Reklamasi diperlukan untuk memenuhi kebutuhan lahan yang harus berada di
tepi pantai misalnya untuk keperluan: industri, pariwisata dan permukiman
nelayan. Pengembangan industri dan pariwisata sangat penting karena dapat
menampung angkatan kerja (memberi lapangan pekerjaan).
c. Reklamasi diperlukan untuk keperluan konservasi lahan atau pulau yang
tererosi. Reklamasi ini bertujuan untuk mengembalikan kondisi pantai menjadi
seperti keadaan sebelum terjadi erosi. Contoh proyek konservasi pulau Nipa.
Kondisi pulau Nipa saat ini terabrasi sangat parah, dan hampir tenggelam.
Padahal pulau tersebut adalah pulau terluar dari batas NKRI dengan
Singapura. Bilamana pula tersebut hilang, batas negara akan bergeser ke
wilayah Indonesia, dan hal ini akan sangat merugikan Indonesia karena luas
negara (perairan) akan berkurang.
d. Reklamasi untuk memperbaiki kondisi lingkungan pantai yang telah menurun
kualitas lingkungannya. Sebagai contoh:
kawasan pantai yang berubah menjadi kawasan kumuh,
kawasan pantai yang selalu dilanda genangan (baik karena banjir
atau rob), diperbaiki kualitas lingkungannya dengan sistem polder.
e. Kebanggaan negara untuk mempunyai kawasan Waterfront City, dalam hal ini
Indonesia termasuk terlambat.
f. Memenuhi kebutuhan lahan dengan konsep membangun tanpa menggusur,
atau mendapat lahan tanpa mengurangi lahan yang ada.

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

I.6.1.2.

PENENTUAN MUKA AIR LAUT RENCANA

Muka air laut rencana (design water level - DWL) adalah muka air laut pada
kondisi tinggi, dimana elevasi ini dipergunakan sebagai referensi untuk
menentukan elevasi penimbunan reklamasi dan elevasi mercu bangunan
pelindungnya. Disamping itu muka air laut rencana ini juga dipergunakan untuk
menentukan tinggi gelombang pecah, terutama di lokasi bangunan. Muka air
laut rencana diperhitungkan terhadap pasang surut : high water spring (HWS),
wind set up, storm surge dan sea level rise (SLR) akibat efek rumah kaca (green
house effect). Muka air laut rencana dapat ditentukan dengan formula (Yuwono,
1992):
DWL = HWS + SS atau WS + SLR .(3.1)
Keterangan:

DWL = Design water level (m)


HWS = High Water Spring (m)
SS = Storm Surge (m)
WS = Wind Set-up (m)
SLR = Sea Level Rise (m)

Berdasarkan IPCC (1990), kenaikan muka air laut akibat efek rumah kaca
(SLR) diperkirakan sebesar 60 cm tiap seratus tahunnya (lihat Gambar 3.1).
Sedangkan besar Wind Set-up dan Storm Surge dapat dihitung dengan
formula:
SS = 0,01 (Po Pa) ..(3.2)
Keterangan:
SS
= tinggi storm surge (m)
Pa
= tinggi tekanan atmosfer pada muka air laut (mbar)
Po
= tinggi tekanan pada MSL = 1013 mbar
WS = Iw F/2 ; Iw = Cw(

udara U 2
)(
) .(3.3)
airlaut gh

Keterangan:
WS
Iw
F
U
g
Cw
h

= tinggi wind set up (m)


= gradien muka air laut
= panjang fetch (m)
= kecepatan angin (m/det)
= percepatan gravitasi bumi (m/det2)
= koef. gesek udara-air = 0,8 10-3 sd 3,0 10-3
= kedalaman air laut rerata (m)
airlaut ,udara = rapat masa air laut dan udara
= 1030 kg/m3; 1,21 kg/m3

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

Gambar 3.1. Prediksi kenaikan muka air laut akibat efek rumah kaca
(IPCC, 1990).

I.6.1.3.

PENENTUAN ELEVASI LAHAN REKLAMASI

I.7.

Lahan Reklamasi di Atas Muka Air Laut (lihat


Gambar 4.1)
a.

Elevasi Lahan Reklamasi


Lahan reklamasi yang terlindung oleh tembok laut dapat dibuat agak lebih
rendah dari tembok lautnya.
Elevasi lahan reklamasi minimum = DWL + (0,5 sd 1,0 m)

b.

Material Lahan Reklamasi


Material bagian lapis atas (yang direncanakan akan ditanami)
berupa tanah urug. Tebal lapis tanah urug berkisar 0,5 sd 0,75 m
Material lapis bawahnya berupa pasir dengan gradasi halus
sampai dengan kasar dan sebaiknya jangan lumpur

I.8.

Lahan Reklamasi di Bawah Muka Air Laut


a. Lahan basah untuk konservasi hutan bakau (lihat Gambar 4.2)
(1). Elevasi lahan untuk mangrove
Syarat lahan untuk kehidupan mangrove diantaranya adalah lahan
harus masih terendam pada saat air pasang, namun tidak boleh sampai
menenggelamkan pohon mangrove tersebut. Oleh karena itu elevasi
lahan untuk mangrove ditentukan sekitar = HWL 0,75 m

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

(2). Material lahan untuk mangrove


Material reklamasi harus dipilih sedemikian rupa sehingga mangrove
(pohon api-api ataupun bakau) dapat tumbuh dengan baik.

W/10

DWL + Ru + F

Geotekstil

DWL + 0,5 sd 1,0 m


F
b

DWL

Ru

Tanah Urug

Pasir Urug

W/2

Gambar 4.1. Penentuan Elevasi Lahan Reklamasi Di Atas Muka Air Laut

HWL
0,5 m

0,75 m
Lahan reklamasi untuk mangrove

Gambar 4.2. Penentuan Elevasi Lahan Reklamasi Untuk Mangrove

b. Lahan kering untuk berbagai peruntukan


Elevasi lahan kering hasil reklamasi di bawah muka air laut, tidak
mempunyai persyaratan khusus. Biasanya elevasi lahan ditentukan oleh
persyaratan peruntukan lahan tersebut. Bilamana lahan akan dipergunakan
untuk perumahan maka perlu dilakukan penimbunan dengan material
pasir, dengan ketebalan tertentu agar tanah dasar tidak terlalu lembek.
Pada umumnya tanah dasar perairan pantai adalah berupa lumpur (mud)
dan perlu perbaikan tanah. Karena lahan berada dibawah muka air laut

10

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

maka sistem drainasi atau sistem pengatusan harus direncanakan dengan


baik. Untuk mencegah intrusi air laut maka perlu dibangun saluran keliling
di kaki tanggul laut (lihat Gambar 4.3. dan 4.4).

DWL + Ru + F
Pasir/tanah urug

Elevasi bebas,
Sesuai kebutuhan

Gambar 4.3. Elevasi Lahan Kering, Bawah Muka Air Laut

Gambar 4.4.

Reklamasi Dengan Sistem Polder, Lahan Reklamasi di Bawah Muka


Air Laut (Rijkswaterstaat, 1991)

11

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

I.8.1.1.

PERENCANAAN TIMBUNAN LAHAN


REKLAMASI

I.9.

Penyelidikan Tanah (Soil Investigation) yang


Diperlukan
Penyelidikan tanah dimaksudkan untuk mendapatkan informasi kondisi
lapisan tanah di bawah permukaan dan kesesuaiannya dengan keperluan
pengembangan. Pengamatan umum terhadap daerah sekitar yang mungkin
akan terpengaruh oleh reklamasi atau pengembangannya perlu dilakukan.
Daerah yang langsung terkait dengan pekerjaan reklamasi yang harus
diselidiki meliputi : lokasi reklamasi, borrow area (tanah bahan timbun) dan
quarry (bahan bangunan pelindung lahan reklamasi). Informasi kondisi
geologi daerah yang diselidiki perlu didapatkan untuk mendapatkan gambaran
umum kondisi tanah. Masing-masing daerah pekerjaan tersebut jenis
penyelidikan yang diperlukan, diuraikan di bawah ini.
a. Lokasi Proyek
Penyelidikan tanah di lokasi yang akan direklamasi dimaksudkan untuk
mendapatkan data lapisan-lapisan tanah di bawah permukaan, sifat dan
perilaku tanah yang ada berkaitan dengan pekerjaan penimbunan yang
akan dilaksanakan di lokasi tersebut serta kondisi geoogi daerah tersebut.
Pekerjaan penyelidikan/pengujian akan meliputi pekerjaan lapangan dan
pekerjaan laboratorium, masing-masing sebagai berikut.

Pekerjaan Lapangan :
Pekerjaan penyelidikan tanah di lapangan diharapkan dapat
memberikan informasi kondisi lapisan-lapisan tanah secara cukup
lengkap, baik arah vertikal maupun arah horisontal. Beberapa jenis
perkerjaan/pengujian yang dapat dilakukan adalah
- Pengeboran
- Sampling (pengambilan contoh tanah terganggu/ tak-terganggu)
- Uji penetrasi standar (SPT)
- Uji sondir (statis)
- Vane shear test
Disamping pengujian tersebut di atas, pengujian yang lain bisa
dilakukan dengan pertimbangan yang sesuai, diantaranya :
- Uji deformasi dan kekuatan ditempat dengan pressuremeter atau
dilatometer
- Plate bearing test (dalam lubang bor atau dipermukaan)
- Direct dynamic probing
- Static-dynamic penetration testing
- Uji kepadatan (densitas) lapangan
- CBR lapangan
- Survey geofisik (seismic refraction, electrical resistivity/
geolistrik)
Pekerjaan Laboratorium:

12

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

Pengujian laboratorium ditujukan untuk mendapatkan sifat umum


tanah di lokasi pekerjaan, klasifikasi tanah, sifat mekanis (kekuatan)
dan sifat pemampatan (kompresibilitas) serta jika diperlukan
kandungan kimia tanah:
- kadar air asli
- kepadatan asli (berat volume)
- berat jenis
- batas Atterberg (batas cair, batas plastis dan indeks plastisitas)
- distribusi ukuran butir
- kuat geser tanah (geser langsung, triaksial, tekan bebas)
- konsolidasi
- uji kimia tanah
b. Borrow Area
Penyelidikan tanah di borrow area (tempat pengambilan bahan timbun)
ditujukan untuk mendapatkan informasi kondisi lapisan tanah (geologi)
berkaitan dengan kualitas bahan timbun dan kuantitas (volume) bahan
timbun yang bisa diambil. Pengujian yang perlu dilakukan untuk
keperluan ini meliputi pekerjaan lapangan dan laboratorium, sebagai
berikut.

Pekerjaan Lapangan
Penyelidikan lapangan untuk borrow area dimaksudkan untuk
mendapatkan informasi kondisi lapisan-lapisan tanah arah vertikal
maupun arah horisontal yang terkait dengan keperluan bahan timbun.
Pekerjaan yang umum dilakukan di borrow area meliputi :
- Pengeboran/sumur-uji
- Sampling(pengambilan contoh tanah tergganggu/tak-terganggu)
- Uji kepadatan (densitas) lapangan

Pekerjaan Laboratorium
Uji laboratorium ditujukan untuk mendapatkan sifat umum tanah bahan
timbun, klasifikasi tanah dan sifat mekanis (kekuatan) serta, jika
diperlukan, kandungan kimia tanah. Penelitian tersebut meliputi:
- berat jenis
- batas Atterberg (batas cair, batas plastis dan indeks plastisitas)
- distribusi ukuran butir
- uji pemadatan
- kuat geser tanah (geser langsung, triaksial, tekan bebas)

c. Quarry
Penyelidikan tanah dilokasi bahan bangunan pelindung lahan reklamasi
ditujukan untuk mendapatkan informasi tentang kualitas bahan bangunan
dan volume yang bisa diambil. Pengujian yang perlu dilakukan untuk
keperluan ini meliputi pekerjaan lapangan dan laboratorium, sebagai
berikut.

Pekerjaan Lapangan
Penyelidikan lapangan untuk quarry dimaksudkan untuk mendapatkan
informasi kondisi quarry yang mungkin digunakan material sebagai
13

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

bahan bangunan pelindung reklamasi (batu). Pekerjaan yang umum


dilakukan di quarry meliputi :
- Pemetaan geologi
- Pengeboran
- Sampling

Pekerjaan Laboratorium
Uji laboratorium ditujukan untuk mendapatkan sifat umum/klasifikasi
batu dan sifat mekanis (kekuatan) serta, jika diperlukan, sifat kimia
batu.
- berat jenis
- densitas
- penyerapan air
- abrasi (Los Angeles Abtassion test)
- point load test atau uniaxial compression test

I.10.

Penentuan Material Penimbun


a. Klasifikasi Tanah
Tanah dari keperluan teknik sipil adalah mineral tanpa atau mempunyai
sedikit ikatan antar butir yang terbentuk akibat pelapukan batuan dasar
secara fisis maupun kimiawi. Berdasarkan ukuran butir, tanah
dikelompokkan seperti terlihat pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1. Jenis tanah berdasarkan ukuran butir
Jenis tanah
Lempung (clay)
Lanau (silt)
Pasir (sand)
Kerikil (gravel)
Kerakal (cobble)
Batu/berangkal (boulder)

Diameter butir (mm)


< 0.002
0.002 0.074
0.074 4.75
4.75 75
75 - 300
> 300

Tanah dengan diameter kurang dari 0.074 mm (lolos ayakan no. 200)
sering disebut dengan tanah berbutir halus dan tanah yang tertahan ayakan
no. 200 (diameter lebih besar 0.074 mm) disebut tanah berbutir kasar.
Tanah berbutir kasar lebih banyak dipengaruhi oleh variasi ukuran butir
(distribusi ukuran butir). Bentuk dan tekstur butir tanah dalam beberapa
aplikasi kadang dianggap cukup berpengaruh. Untuk mengklasifikasi
tanah berbutir kasar, digunakan identifikasi variasi butiran yang
melibatkan jumlah/prosentasi fraksi yang lebih kecil dari suatu diameter
yaitu D60, D30 dan D10. Istilah D60 adalah nilai diameter tanah pada 60%
dari grafik distribusi ukuran butir tanah (60% dari fraksi tanah lebih kecil
dari D60). Pengertian yang sama untuk D30 dan D10. Angka tersebut
kemudian digunakan untuk menghitung koefisien keseragaman (Cu) dan
koefisien kelengkungan grafik (Cz).

14

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

D60
...(5.1)
D10
D30
Cz
...(5.2)
D60 D10

Cu

Kerikil atau pasir dikategorikan sebagai murni atau bersih juka fraksi
halusnya tidak lebih dari 5%. Pasir/kerikil bergradasi baik (SW atau GW)
jika mempunyai nilai Cu > 4-6 dengan nilai Cz = 1-3. Apabila kedua nilai
tersebut tidak terpenuhi, maka tanah mempunyai gradasi buruk (SP), bisa
bergradasi seragam atau bergradasi lowong (gap). Jika fraksi halus tanah
lebih dari 12-15 (%), tanah pasir/kerikil telah banyak dipengaruhi oleh
tanah berbutir halus terutama plastisitasnya.
Tanah lempung dan lanau tidak bisa dikelompokkan berdasarkan ukuran
butir saja. Klasifikasi yang baru menyebutkan bahwa lanau dan lempung,
keduanya merupakan tanah dengan butiran lolos ayakan no. 200 (diameter
kurang dari 0,074 mm). Perbedaan dari kedua tanah tersebut dilihat dari
plastisitasnya (batas cair dan indeks plastisitas). Tanah di alam umumnya
tercampur. Untuk mengetahui klasifikasi tanah yang lengkap bisa
mengacu ke ASTM atau British Standard.
b. Pemilihan Bahan Timbunan
Secara umum bahan timbun harus berupa tanah mineral dengan kualitas
baik dan bebas dari bahan yang dapat mencemari lingkungan. Tanah
organik atau gambut tidak boleh digunakan sebagai bahan urug, demikian
juga tanah lempung ekspansif sebaiknya tidak digunakan. Tanah timbun
tidak boleh tercampur tunggul kayu/tanaman, gebalan rumput, akar
tanaman, sampah atau material sejenis.
Material timbun lebih disukai berupa tanah berbutir kasar (pasir) yang
cukup bersih karena beberapa kelebihan, diantaranya : mudah dikerjakan,
drainasi baik, bongkar/muat/pengangkutan lebih mudah, hydraulic filling
dapat dilakukan, tanah hasil reklamasi mempunyai kuat dukung lebih
besar, tidak mengalami konsolidasi dan teknik pemadatan lebih sederhana.
Disamping itu, karena lahan reklamasi sering terendam air, maka gradasi
tanah perlu dipilih sedemikian rupa sehingga untuk daerah yang potensi
mengalami gempa, tidak mengalami liquifaksi.
I.11.

Perhitungan Settlement
Tanah yang ada di alam akan mengalami pemampatan atau penurunan lebih
lanjut, terlebih lagi jika menerima tambahan beban akibat bangunan atau
penimbunan (lihat Gambar 5.1). Penurunan dari bangunan/fondasi/ timbunan
dapat dikelompokkan menjadi 3 komponen penurunan secara terpisah sebagai
berikut:
s = si + sc + ss .(5.3)

15

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

Keterangan:
s = penurunan total
si = penurunan segera
sc = penurunan konsolidasi
ss = penurunan sekunder
Bilamana lapisan tanah terdiri dari tiga lapis (tanah urug, pasir urug dan tanah
dasar) maka penurunan total adalah penjumlahan penurunan total dari
masing-masing lapisan (lihat Gambar 5.1).
s = S1 + S2 + S3 (5.4)
Penurunan tanah dasar biasanya sangat besar, karena tanahnya lunak
mengandung banyak air. Perhitungan penurunan tanah dasar di teluk Jakarta
mencapai 2,0 m

si
s
sc

ss
t

S1

Tanah urug

Pasir urug

S2

Tanah dasar, lembek

S3

Gambar 5.1. Skema proses penurunan dan lapisan tanah reklamasi


Dalam penyederhanaan analisis, penurunan segera terjadi saat pekerjaan
pembangunan dilaksanakan sampai beberapa hari setelah pembangunan
selesai, disusul proses penurunan konsolidasi sampai selesai, baru penurunan
sekunder berlangsung. Pada tanah granuler/pasir penurunan terdiri dari
penurunan segera dan penurunan sekunder. Penurunan terbesar adalah

16

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

penurunan segera yang terjadi selama proses pembangunan, sedangkan


penurunan sekunder pada pasir relatif kecil. Dengan demikian, penurunan
pada pasir akibat beban pembangunan/pengembangan terjadi saat pekerjaan
pembangunan dan selesai setelah pembangunan selesai. Penurunan
selanjutnya umumnya relatif kecil.
Penurunan pada lempung umumnya terdiri dari penurunan segera, penurunan
konsolidasi dan penurunan sekunder. Penurunan segera pada lempung jenuh
air terjadi pada kondisi tak terdrainasi (undrained), yang secara teoritis terjadi
dengan volume konstan. Analisis penurunan segera pada lempung jenuh air
sering menggunakan pendekatan deformasi elastis. Pada umumnya, jika
beban yang bekerja tidak melebihi kapasitas dukung aman tanah, maka
penurunan segera pada lempung tidak terlalu besar.
Penurunan konsolidasi terjadi dengan mengalirnya air dari pori dalam tanah
yang disebabkan adanya kelebihan tekanan air pori tanah akibat beban yang
bekerja. Penurunan konsolidasi sering berlangsung pada jangka waktu yang
lama dan intensitas penurunannya besar. Penurunan sekunder pada lempung
terjadi akibat rayapan antar butir tanah membentuk posisi lebih stabil (creep).
Penurunan sekunder umumnya tidak terlalu besar dengan jangka waktu yang
lebih lama dibandingkan konsolidasi. Untuk pekerjaan reklamasi, penurunan
konsolidasi dari lapisan tanah asli merupakan permasalahan yang paling
menentukan.
I.12.

Perhitungan Konsolidasi
Penurunan konsolidasi adalah penurunan pada tanah lempung/lanau jenuh air
atau terendam akibat perubahan volume tanah yang terjadi dengan
terperasnya air pori tanah keluar. Proses konsolidasi berlangsung cukup lama
tergantung terutama pada koefisien permeabilitas tanah, ketebalan lapisan dan
kondisi drainasi yang tersedia.
Analisis konsolidasi akan mencakup perkiraan besarnya penurunan dan
waktu/kecepatan penurunan konsolidasi.

a. Perkiraan besar penurunan konsolidasi


Besarnya penurunan konsolidasi untuk tanah lempung jenuh air yang relatif
lunak dihitung dengan rumus (lihat Gambar 6.1)
sc = mv p H atau ..(5.5)
sc

Cc
p ' p
H log o
..
1 eo
po '

(5.6)
Keterangan:
mv = koefisien kompresibilitas volume
p = tambahan beban dan
H = tebal lapisan yang ditinjau
Cc = indeks kompresi tanah
eo = angka pori awal
17

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

po = tekanan vertikal awal


b. Waktu proses konsolidasi
Waktu berlangsungnya proses konsolidasi bisa berlangsung sangat lama,
tergantung terutama oleh koefisien permeabilitas tanah dan ketebalan lapisan
tanah. Pengaruh koefisien permeabilitas tanah, diwujudkan pada parameter
koefisien konsolidasi (cv). Proses konsolidasi tidak dipengaruhi langsung oleh
besarnya penurunan konsolidasi, namun lebih dikaitkan pada derajat
konsolidasi (U) yang dikaitkan dengan faktor waktu (T v). Waktu (t) untuk
mencapai suatu kemajuan proses konsolidasi U, dihitung dengan rumus:
Tv = cv t/d2 ...(5.7)
Dengan d adalah jarak lintasan drainasi terjauh. Jika lapisan permeabel
terdapat di atas dan bawah lapisan lempung yang ditinjau, maka drainasi bisa
ke arah atas dan bawah sehingga besarnya d = tebal lapisan lempung,
namun jika lapisan permeabel hanya di satu sisi maka nilai d = tebal lapisan
ditinjau.
Besarnya nilai cv ditentukan dari uji konsolidasi di laboratorium dengan alat
oedometer. Untuk konsolidasi satu dimensi dapat digunakan bantuan grafik
untuk menghitung waktu atau progres/derajat konsolidasi.
I.13.

Penebaran Material dan Pemadatan


Untuk penimbunan di daratan, tatacara penimbunan yang baik diawali dengan
pengupasan lapisan tanah asli bagian atas (top soil) yang mengandung
material organik sampai bersih dilanjutkan dengan pemadatan tanah asli
setelah dikupas. Penimbunan dilakukan dengan menebar material timbun
yang telah dipilih dengan kadar air optimum setebal antara 20 cm sampai 40
cm dan dipadatkan dengan mesin pemadat (mesin gilas) yang sesuai sampai
tingkat kepadatan yang disyaratkan (biasanya > 90% kepadatan maksimum
laboratorium). Apabila tingkat kepadatan telah dipenuhi, lapisan berikutnya
bisa ditebar dan dipadatkan dengan cara yang sama.
Pada pekerjaan reklamasi, beberapa kendala mungkin terjadi, misalnya
kondisi tanah asli relatif sangat lunak sehingga pengupasan top soil tidak bisa
dilakukan dengan baik dan pemadatan tanah dasar tidak bisa dilakukan.
Dengan kondisi tersebut, bahan timbun perlu ditebar secara bertahap, lapis
demi lapis yang relatif tipis dan dipadatkan. Untuk menghindari tercampurnya
bahan timbun dengan tanah asli, sering diperlukan lembaran pemisah antara
tanah asli dan bahan timbun, misalnya menggunakan : anyaman/matras
bambu, lembaran geosintetik atau yang sejenis. Penimbunan diatas tanah
lunak ini perlu memperhitungkan kekuatan tanah asli berkaitan dengan tinggi
timbunan sehingga tidak terjadi keruntuhan akibat kegagalan kapasitas
dukung tanah asli. Disamping itu, akan dihasilkan lahan dengan lapisan lunak
di bawah tanah timbunan yang akan mengakibatkan penurunan yang besar
sehingga bilamana perlu, pematangan tanah bisa dilakukan.

18

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

Pekerjaan penimbunan di dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan: (a)
penimbunan dari perairan biasanya dengan hydraulic filling, dan (b)
penimbunan dari darat.
a. Penimbunan dari perairan (Hydraulic filling).
Pelaksanaan penimbunan dari perairan atau laut, biasanya digunakan kapal
keruk dan kapal penebar material. Pasir dipompa dari kapal atau dari tempat
penimbunan di bawah air, disebarkan merata ke seluruh daerah yang akan
direklamasi (lihat Gambar 5.2). Penebaran dilakukan selapis demi selapis,
dengan ketebalan sekitar 30 sd 50 cm. Dengan cara ini diharapkan tidak
akan terjadi mud explotion ataupun mud wave. Yang dimaksud dengan mud
explotion adalah munculnya lumpur ke permukaan lahan reklamasi.
Sedangkan mud wave adalah ketebalan penimbunan yang tidak merata,
sehingga seakan-akan terjadi gelombang lumpur di bawah lahan reklamasi.

Gambar 5.2. Contoh Pengisian material reklamasi dengan Hydraulic Filling


(Hang Tuah, 2004)

19

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

b. Penimbunan dari Darat


Penimbunan dari darat, dilakukan terutama bila material timbunan
berasal dari darat. Penimbunan ini dilakukan dengan peralatan Dump
Truck, Bulldozer, Power Shovel dan Back Hoe. Untuk kawasan reklamasi
yang luas, penimbunan cara ini biasanya hanya untuk lapisan paling atas
saja, karena material timbunan dengan volume yang sangat besar jarang
tersedia di daratan, pada umumnya diambil dari dasar laut (pasir laut).
Contoh penimbunan ini dapat dilihat pada Gambar 5.3.

20

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

Gambar 5.3. Penimbunan lahan reklamasi dari darat

I.13.1.1.

PEMATANGAN LAHAN REKLAMASI

I.14.

Usaha Untuk Menghindari Permasalahan Liquifaksi


a. Umum
Liquifaksi adalah proses/kejadian berkurangnya tekanan efektif tanah
secara drastis pada pasir halus seragam tidak padat yang terendam air,
akibat beban sesaat (misal gempa atau getaran). Beban sesaat tersebut
menimbulkan kenaikan tekanan air pori tanah yang cukup besar, tekanan
efektif tanah turun (jika mencapai nol, butiran tanah akan melayang)
mengakibatkan kapasitas dukung tanah turun sehingga tidak mampu lagi
mendukung beban di atas dengan baik. Contoh kerusakan bangunan akibat
21

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

liquifaksi dapat dilihat pada Gambar 6.1 dan 6.2. Secara umum paramater
yang mempengaruhi terjadinya proses liquifaksi adalah :
- jenis tanah dan gradasi butir: pasir halus-sedang, seragam,
- tingkat kepadatan
: tak padat,
- kondisi lingkungan
: terendam air,
- beban sesaat
: kejut/gempa/getaran.
Keempat parameter tersebut secara bersama-sama membangkitan
liquifaksi pada daerah tersebut. Apabila salah satu atau lebih parameter
tidak ada, maka kejadian atau potensi liquifaksi berkurang. Dengan
demikian, usaha mengurangi potensi liquifaksi adalah merubah salah satu
atau lebih parameter utama penyebab liquifaksi sebagaimana tersebut di
atas.

Gambar 6.1. Contoh kerusakan gedung akibat kasus Liquifaksi


(Hang Tuah, 2004)

22

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

Gambar 6.2. Contoh kerusakan dermaga akibat Liquifaksi


(Hang Tuah, 2004)
b. Persyaratan Gradasi
Sebagaimana telah banyak dilaporkan bahwa kejadian liquifaksi terjadi
pada tanah pasir berukuran halus sampai sedang yang relatif bersih dengan
gradasi seragam. Gambar 6.3. menunjukkan rentang gradasi tanah yang
berpotensi mengalami liquifaksi.

Gambar 6.3. Gradasi tanah dan rentang tanah yang berpotensi mengalami
liquifaksi
Apabila reklamasi dilakukan di lahan yang tergenang air di daerah gempa,
maka bahan timbun harus dipilih sedemikian rupa sehingga tidak
berpotensi liquifaksi dan dipadatkan dengan baik. Jika lahan yang
direklamasi berada di daerah gempa dan tanah asli berupa tanah berpotensi
liquifaksi, maka usaha khusus perlu dilakukan, misalnya dengan perbaikan
gradasi atau teknik yang lain. Perbaikan gradasi dilakukan dengan
menambahkan tanah lain dengan butiran tertentu dan mencampurkannya
sehingga didapatkan gradasi tanah secara keseluruhan diluar gradasi tanah
yang mudah liquifaksi. Jenis tanah yang ditambahkan bisa berupa
lanau/lempung atau pasir kasar/kerikil. Penambahan pasir kasar/kerikil
lebih mudah untuk dilaksanakan. Perbaikan gradasi juga dapat dilakukan
pada material bahan timbun.
c. Pemampatan Dalam
(1)

Pemampatan dengan Vibro Compactor

23

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

.Lapisan tanah pasir yang tebal dan tidak padat bisa dipadatkan dengan
alat padat getar yang ditusukkan kedalam lapisan tersebut. Saat batang
getar dimasukkan kedalam tanah, tanah akan tergeser kesamping.
Semprotan udara dengan tekanan yang cukup tinggi biasanya digunakan
di ujung batang getar untuk membantu penetrasinya. Setelah mencapai
kedalaman yang diinginkan, batang getar diangkat, pasir pengisi
dimasukkan, kemudian batang getar dimasukkan lagi untuk menekan pasir
pengisi kebawah dan kesamping (lihat Gambar 6.4). Dilaporkan bahwa
pengaruh pemadatan bisa mencapai 2.5 meter dari sumbu penggetar.
Pekerjaan diulangi pada jarak-jarak tertentu sampai didapatkan kepadatan
yang merata untuk lahan yang dikerjakan. Kedalaman yang bisa
dipadatkan dengan teknik ini dilaporkan sampai kedalaman 12 meter,
namun tingkat kepadatan yang dihasilkan tergantung pula pada jarak antar
sumbu penggetar, semakin dekat jarak antar sumbu penggetar akan
didapatkan tingkat kepadatan yang lebih tinggi (Craig, 1991).

Gambar 6.4. Pemampatan dengan Vibro- compaction


(2)

Pemampatan dengan Vibro-replacement

Dalam vibro-replacement (proses basah), lubang dibuat dengan


menyemprot air ke dalam tanah sampai kedalaman yang direncanakan
menggunakan sebuah probe getar (vobroflot). Setelah mencapai
kedalaman yang diinginkan, lubang terbuka yang terbentuk dibilas air dan
batu dimasukkan bertahap, dipadatkan dengan getaran dan menaikturunkan batang semprot (lihat Gambar 6.5). Gerakan dari vobroflot
cenderung menumbuk-numbuk batu ke sisi lubang, sehingga sering
merontokkan tanah samping ke dalam lubang. Aliran air keatas yang
kontinyu diperlukan untuk membersihkan tanah yang longsor ke
permukaan sehingga batu dapat menyebar sampai tercapai kesetimbangan
dimana batu yang ditambahkan terpadatkan lapis demi lapis dengan baik.
Diameter kolom batu biasanya bervariasi dengan diameter besar sering

24

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

terjadi di dasar, di permukaan dan di bagian dengan kondisi tanah lebih


lunak.
Hasil terbaik penggunaan teknik ini dilaporkan pada tanah lempung
dengan kondisi sangat lunak sampai kenyal (kohesi, cu sampai 50 kN/m2)
dan muka air tanah tinggi. Pada tanah lunak, batang semprot ditempatkan
dibagian bawah lubang terus menerus dengan aliran air kontinyu untuk
menstabilkan dinding lubang dan mengangkut butiran tanah keatas
sehingga didapatkan kolom batu yang bersih saat batu dimasukkan dan
dipadatkan disekitar ujung batang semprot. Segi negatif yang timbul
adalah akibat penggunaan air yang cukup besar dan dihasilkannya limbah
(campuran air dan tanah) yang sangat banyak sehingga berpotensi
mengganggu lingkungan.

Gambar 6.5. Pemampatan dengan Vibro- replacement (stone column)


(3)

Pemanpatan dengan Vibro-displacement

Pada cara vibro-displacement (proses kering), saat batang getar


dimasukkan kedalam tanah, tanah akan tergeser ke samping. Semprotan
udara dengan tekanan yang cukup tinggi biasanya digunakan di ujung
batang getar untuk membantu penetrasinya. Setelah mencapai kedalaman
yang diinginkan, batang getar diangkat, batu-batu dimasukkan, kemudian
batang getar dimasukkan lagi untuk menekan batu-batu ke bawah dan ke
samping. Proses dilanjutkan sampai didapatkan kolom batu padat. Kolom
yang terbentuk umumnya lebih kecil dibanding dengan proses basah,
karena pada teknik ini tidak ada tanah yang dibuang dan penggunaannya
pada tanah yang lebih padat dibanding tanah pada proses basah.

25

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

Teknik ini dianggap paling tepat untuk tanah lempung bersensitivitas


rendah dengan kohesi (cu) antara 30 kN/m2 sampai 60 kN/m2 dan dengan
muka air tanah rendah (dalam). Beberapa alat telah dikembangkan dengan
cara pengisian batu melalui tengah batang getar sehingga tidak perlu
mengangkatnya saat pengisian material urug. Pengembangan tersebut
sangat bermanfaat untuk mencegah longsor dinding lubang dan juga lebih
cocok digunakan untuk tanah lunak yang liquefable.
(4)

Dynamic Compaction

Dynamic compaction adalah teknik perbaikan tanah dengan memadatkan


tanah bagian dalam dengan berulang-ulang menjatuhkan beban berat ke
permukaan tanah. Dilaporkan teknik ini sukses digunakan untuk
memadatkan pasir lepas, berbagai urugan tak direncanakan, buangan
bahan tambang, tanah yang mudah runtuh, pengurugan sanitasi dan
pemadatan kembali tanah yang terganggu akibat larutnya batu kapur dan
kegiatan penambangan. Teknik pemadatan ini menimbulkan getaran,
gerakan tanah lateral dan kebisingan yang perlu ditertimbangkan lebih
lanjut.
d. Pemampatan/pemadatan dangkal
Pemadatan dangkal dilakukan dengan alat pemadat (mesin gilas/rollers)
pada lapisan tanah yang relatif tipis pada kadar air tanah sekitar optimum.
Ketebalan lapisan yang disarankan sekitar 20 cm untuk tanah lempung dan
bisa mencapai 40 cm untuk tanah pasir/kerikil.
Hasil
pemadatan
dangkal
bisa
dievaluasi/dikontrol
dengan
membandingkan hasil kepadatan lapangan dengan hasil uji pemadatan
tanah dilaboratorium yang umumnya harus lebih dari 90% kepadatan
maksimum standar laboratorium. Beberapa teknik pengujian kepadatan
lapang yang telah banyak digunakan : sand cone, drive cylinder, rubber
balloon, nuclear density tester.

I.15.

Pengatusan Lahan
Penimbunan lahan dengan pasir yang menggunakan sistem pemompaan, akan
mengakibatkan lahan cenderung selalu basah dan terendam air. Kondisi
tersebut akan menyulitkan pemadatan tanah timbunan. Usaha pengurangan
kandungan air dalam tanah bisa dilakukan pengeringan atau pengatusan lahan.
Pengatusan lahan yang paling umum dilakukan adalah dengan menurunkan
muka air tanah. Penurunan muka air tanah akan mengakibatkan kenaikan
tegangan efektif dalam tanah yang selanjutnya menaikkan kekuatan tanah.
Disamping itu, dengan kondisi tanah timbunan (pasir) yang tidak terendam air,
usaha pemadatan tanah timbunan akan lebih mudah dilakukan.
Pada pekerjaan pengatusan lahan, parameter yang terkait langsung adalah :
- koefisien permeabilitas tanah (jenis tanah)

26

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

- kondisi lingkungan lahan yang dikeringkan


- muka air tanah dalam timbunan.
Pangatusan lahan dapat dilakukan dengan membuat saluran drainasi
pengumpul atau lubang/sumur pengumpul air yang selanjutnya dibuang
keluar.
Perlu diperhatikan bahwa pada saat pembuangan air dapat mengakibatkan
butiran halus tanah ikut terbawa rembesan air sehingga pasir yang tertinggal
dapat relatif bersih dari butir. Apabila butiran pasir cukup halus dan seragam,
maka potensi liquefaksi pada tanah ini bisa terbangkitkan.

I.16.

Percepatan Terjadinya Proses Konsolidasi


Proses konsolidasi yang sering berlangsung dalam waktu yang cukup lama
bisa dipercepat, menyesuaikan dengan waktu yang tersedia untuk penyelesaian
pekerjaan. Teknik percepatan yang telah banyak dilakukan adalah dengan
pemberian beban tambahan sementara (preloading) dan penggunaan vertical
drains.
a. Pre loading (precompression, surcharging)
Metoda perbaikan sifat tanah dengan pra-beban dilakukan dengan
pemberian tambahan beban (pra-beban) pada tanah dengan beban
permukaan yang terdistribusi merata sebelum bangunan yang direncanakan
dikerjakan. Pemberian pra-beban akan memberikan pengaruh pada :
penurunan konsolidasi, penurunan pemampatan sekunder dan menaikkan
kuat geser tanah.
Teknik pra-beban bisa dilakukan dengan dua cara : beban-lebih
(overloading) dan pembangunan bertahap (staged contruction). Pada
pelaksanaan beban-lebih (lihat Gambar 6.6.), suatu beban tambahan (ps)
yang melebihi beban rencana (pf), ditempatkan sementara di atas lahan
yang kemudian diambil jika bangunan rencana dapat dikerjakan dengan
kemungkinan sedikit atau tanpa terjadi penurunan lebih lanjut. Rasio ps/pf
dikenal sebagai koefisien beban-lebih. Penggunaan beban-lebih ditujukan
untuk digunakan pada lahan-lahan untuk semua bentuk bangunan seperti :
gedung, tanki penyimpanan dan urugan untuk membangun jalan raya, jalan
rel serta lapangan terbang. Teknik ini juga sering menghasil kondisi tanah
yang cukup baik yang memungkinkan penggunaan fondasi dangkal
sebagai pengganti tiang yang dirancang sebelumnya. Beban yang
digunakan pada pra-beban yang sudah banyak dilaksanakan berupa :
timbunan tanah, reservoir diisi air, dan penggunaan vacuum.

27

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

Gambar 6.6. a. Overloading. b. Stage construction (Brand dan Brenner, 1981)


Pembangunan bertahap dilakukan terutama untuk tujuan menaikkan kuat
geser lempung lunak secara bertahap. Kekuatan tanah asli tak
memungkinkan timbunan dengan tinggi rencana dibangun karena akan
terjadi keruntuhan. Dengan pembangunan bertahap, tanah dasar tidak
runtuh, sempat terkonsolidasi, kuat geser naik sehingga beban bisa
ditambahkan secara bertahap.
b. Vertical drains
Untuk lapisan lempung lunak yang tebal atau pada tanah dengan
permeabilitas ekstrim sangat rendah, sering teknik pra-beban tidak
memenuhi harapan karena waktu yang diperlukan masih sangat lama. Hal
ini dikarenakan proses keluarnya air dari pori akibat beban (konsolidasi)
berjalan lambat karena lintasan yang relatif panjang. Usaha untuk
memperpendek lintasan drainasi air pori dilakukan dengan memasang
sarana drainasi arah vertikal (vertical drains) dengan jarak-jarak tertentu
yang memungkinkan drainasi air pori ke arah horisontal/radial dengan
lintasan yang lebih pendek, sehingga proses konsolidasi lempung lebih
cepat (lihat Gambar 6.7). Teknik ini semata-mata ditujukan untuk
mempercepat proses konsolidasi dengan menyediakan fasilitas drainasi
dengan jarak horisontal yang relatif pendek, sehingga air cepat terdrainasi
dan kelebihan tekanan air pori cepat berkurang/habis dan proses
konsolidasi cepat selesai. Terhadap penurunan sekunder tidak ada
pengaruhnya, hanya saja proses penurunan sekunder akan cepat mulai
setelah proses konsolidasi selesai.
Material untuk drainasi pada awalnya digunakan (tiang) pasir (vertical
sand drains) berdiameter antara 20 cm sampai 40 cm yang juga
merupakan awal pengembangan teknik percepatan konsolidasi ini.
Pembuatan drain pasir vertikal ini dilakukan dengan terlebih dulu
membuat lubang dengan diameter dan sampai kedalaman yang
direncanakan, kemudian diisi dengan pasir dengan gradasi tertentu yang
sekaligus berfungsi sebagai filter pada tanah. Penggunaan drain pasir
vertikal memerlukan sarana pendukung yang cukup berat (alat bor atau
pancang pipa), material pasir yang cukup banyak, waktu dan biaya yang
besar.

28

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

Drain pasir vertikal dikembangkan dengan pre-packaged (prefabricated)


sand drain yang berupa pasir dimasukkan dalam bungkus/selubung nylon
(sintetis) yang juga berfungsi sebagai filter. Tipikal diameter jenis drain ini
sekitar 6.5 cm, cukup fleksibel dan kurang dipengaruhi gerakan tanah arah
lateral.

Gambar 6.7. Penggunaan vertical drains (Craig, 1992)


Drain vertikal dikembangkan lebih lanjut dengan band drain,
menggunakan material sintetik penuh, terdiri dari bagian dalam berupa
plastik gelombang memanjang dibungkus diluarnya dengan lembaran
fabric/geosintetik yang cukup kuat dan ketat. Lapisan geosintetik
berfungsi juga sebagai filter sehingga air mudah masuk ke saluran plastik
gelombang dan mengalir bebas keluar. Bentuk band menyerupai pita
dengan lebar sekitar 100 mm, tebal sekitar 4 mm dengan panjang bisa
disesuaikan karena diproduksi dalam bentuk gulungan/roll. Penggunaan
jenis band drains berkembang pesat, karena pemasangan mudah, dengan
ditusukkan kedalam tanah lunak dengan batang baja kaku, pelaksanaan
cepat, dan material yang mudah diangkut, serta sifat fleksibel dari drain.
Penggunaan drain pasir vertikal dengan ukuran yang cukup besar
cenderung berkelakuan seperti fondasi tiang yang tak terlalu kuat sehingga
beban timbunan sebagian dipikul oleh tiang pasir mengakibatkan kenaikan
beban pada lapisan lempung berkurang sehingga nilai kenaikan tekanan

29

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

air pori rendah dan proses konsolidasi terganggu, tidak cukup membuat
tanah lempung menjadi cukup padat dan kuat. Pengaruh tersebut menjadi
kecil pada penggunaan pre-fabricated drains, karena kondisinya jauh
lebih fleksibel.
Penggunaan vertical drains dilaporkan kurang berhasil pada lapisan
lempung yang mempunyai pemampatan sekunder yang besar seperti :
lempung-lempung berplastisitas tinggi dan tanah humus (peat), karena
kecepatan penurunan sekunder ini tidak bisa dikontrol (tidak terpengaruh)
oleh drain vertikal.
Analisis penggunaan vertical drain telah dikembangkan pada vertical
sand drain dengan menggunakan analisis tiga dimensi dalam koordinat
kutub yang melibatkan parameter kecepatan konsolidasi arah vertikal dan
horisontal. Hasil analisis terutama terkait dengan diameter sand drain dan
jarak pemasanganannya. Analisis disederhanakan dengan menggunakan
bantuan grafik-grafik.
Untuk penggunaan band drains, analisis bisa dilakukan dengan cara
sebagaimana untuk sand drains. Khusus untuk band drains juga telah
dikembangkan rumus oleh Hansbo (1982) yang menyajikan hubungan
antara waktu konsolidasi dan jarak atau jari-jari pengaruh drainasi,
sebagai berikut.
D2
t
8 ch

ln( D / d )
3 (d / D) 2
1

..........................

ln
2
4
1U
1 (d / D)

(6.1)

dengan d/D dianggap kecil dan diabaikan, maka persamaan menjadi:

D2
D
1

ln
0.75 ln

8 ch
d
1U

.................................................

(6.2)
Keterangan:
t
ch
d
D
U
S

= waktu untuk konsolidasi


= koefisien konsolidasi arah horisontal
= diameter ekivalen band drain = keliling/
= diameter pengaruh (1.05S atau 1.13S)
= derajat konsolidasi rerata
= jarak antar drainasi vertikal (band drains)

Selanjutnya bisa dibuat grafik hubungan antara jarak band drains (S)
dengan waktu (t) untuk derajat konsolidasi (U) tertentu dan bisa dipilih
rancangan yang sesuai terkait dengan waktu yang diinginkan untuk
mempercepat konsolidasi.

30

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

Gambar 6.8. Contoh pemasangan Vertical Drains


(Hang Tuah, 2004)

I.16.1.1.
I.17.

PERLINDUNGAN LAHAN REKLAMASI

Umum
Seperti diuraikan di depan bahwa reklamasi perairan pantai adalah mengubah
perairan pantai menjadi daratan. Keberadaan lahan tersebut akan terancam
adanya erosi oleh arus dan gelombang, juga genangan air hujan. Untuk
mengamankan lahan hasil reklamasi supaya tidak rusak maka perlu adanya
bangunan pelindung. Bangunan tersebut adalah:
a. Sistem drainasi lahan
b. Tembok laut atau tanggul laut
c. Tembok laut bawah air akan terancam adanya

31

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

d. Revetment, rip-rap
I.18.

Sistem Drainasi Lahan


Lahan reklamasi dapat tererosi oleh aliran permukaan yang tidak terkendalai,
terutama bila lahan tersebut berada pada kawasan yang mempunyai curah
hujan yang tinggi. Untuk mengatasi erosi tersebut maka perlu dibuat sistem
drainasi yang baik di atas lahan reklamasi. Air tawar dari hujan sebaiknya
dimasukkan ke dalam lahan reklamasi untuk mencegah terjadinya kadar garam
yang terlalu tinggi didalam air tanah, yang dapat menyebabkan tanaman
dilahan reklamasi kurang subur.

I.19.

Perlindungan Lahan Reklamasi (lihat Buku V dan


VI)
Perlindungan lahan reklamasi seperti tembok laut, tanggul laut, dan revetment
telah dibuatkan pedoman teknis perencanaan, sehingga tidak perlu diuraikan
panjang lebar disini. Hanya perlu disampaikan disini secara ringkas maksud
pemakaian bangunan tersebut. Contoh bangunan pelindung lahan reklamasi
dapat dilihat pada Gambar 7.1.
a. Tembok laut.
Tembok laut berfungsi untuk menjada agar lahan reklamasi (di atas
permukaan air laut) tidak rusak akibat gempuran gelombang dan kikisan
arus laut. Bangunan dapat berupa tumpukan batu atau bangunan monolit
(lihat Buku VI)
b. Tanggul laut
Tanggul laut berfungsi sama dengan tembok laut, namun biasanya
dipergunakan untuk melindungi lahan yang relatif rendah dari ancaman
luapan (over topping). Konstruksi ini sangat cocok untuk reklamasi sistem
polder.
c. Revetment atau Rip Rap
Revetment atau Riprap adalah konstruksi pelindung tebing, baik dari
ancaman arus ataupun gelombang. Rip-rap biasanya terdiri dari kontruksi
tumpukan batu miring. Sedangkan revetment secara umum dapat dari batu
buatan atau concrete block. Konstruksi ini cocok bilamana tebing lahan
hasil reklamasi tidak harus vertikal.

Tanah urug
Pasir urug

Tembok laut

Tanah lembek

32
Vertical drain

Trucuk bambu

Matras bambu

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

Gambar 7.1. Contoh lahan reklamasi dengan pelindung tembok laut


I.19.1.1.
I.20.

PERSYARATAN BANGUNAN DI ATAS


LAHAN REKLAMASI
Umum

Untuk membangun di lahan reklamasi perlu didahului dengan penyelidikan


tanah untuk mendapatkan informasi kondisi lapisan tanah setelah pekerjaan
reklamasi dinyatakan selesai. Secara umum fondasi bangunan harus
memenuhi persyaratan stabilitas dan deformasi, diantaranya :

kedalaman fondasi harus cukup sehingga bebas dari pengaruh


gerakan lateral tanah, perubahan musim, erosi atau gangguan alam
lainnya,

sistem fondasi harus aman terhadap penggulingan, penggeseran


dan keruntuhan kapasitas dukung tanah,

penurunan/deformasi fondasi atau perbedaan penurunan masih


dalam batas yang dapat ditolerir,

fondasi harus tahan/aman terhadap korosi atau kerusakan akibat


bahan-bahan reaktif dalam tanah,

sistem fondasi dan pelaksanaan harus memenuhi ketentuan standar


lingkungan yang berlaku.
I.21.

Permasalahan lahan
Lahan yang terbentuk dari hasil reklamasi dapat dianggap sebagai deposit baru
dengan kondisi yang cukup bervariasi. Sebagaimana umumnya tanah
timbunan baru, proses pemadatan secara alami masih berlangsung. Apabila
tanah dasar asli (sebelum ditimbun) cukup baik dan timbunan berupa tanah
pasir yang dipadatkan dengan baik, maka penurunan pasca reklamasi yang
disebabkan oleh rayapan antar partikel tanah diperkirakan relatif kecil. Apabila
kondisi tanah dasar dan/atau tanah timbunan tidak baik/padat atau proses
pemadatan belum selesai, permasalahan kapasitas dukung tanah dan
penurunan akan lebih rumit. Studi khusus untuk kasus ini dapat dilakukan
bilamana diperlukan.

I.22.

Penyelidikan tanah
Penyelidikan tanah dalam hal ini ditujukan untuk mendapatkan gambaran
kondisi tanah (arah vertikal dan horisontal) untuk perancangan fondasi. Jenis,
kedalaman dan jumlah-titik penyelidikan disesuaikan dengan keperluan
pengembangan.

33

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

Jenis penyelidikan bisa sama dengan yang digunakan pada lahan yang akan
direklamasi sebagaimana telah diuraikan didepan namun lebih intensif.
Penyelidikan harus dilaksanakan sampai kedalaman lapisan yang kuat yang
mampu mendukung beban dengan aman dan penurunan yang timbul akibat
beban bangunan masih dalam batas yang dapat ditolerir.
Untuk lahan reklamasi yang kurang baik atau proses penurunan masih terus
berlangsung dengan besaran yang signifikan, maka penyelidikan khusus perlu
dilakukan.
I.23.

Bangunan Tidak Bertingkat dan Bangunan Ringan


Jenis bangunan ini memberikan tambahan beban pada tanah dasar dengan
intensitas relatif kecil, sehingga tidak diperlukan tanah pendukung dengan
kekuatan sangat tinggi. Permasalahan akan lebih banyak pada masalah
stabilitas umum dan penurunan bangunan/lahan. Jika hasil reklamasi cukup
baik, untuk bangunan ringan dapat menggunakan fondasi dangkal/langsung
yang masuk kedalam tanah sekurang-kurangnya 0.60 m. Kedalaman fondasi
perlu disesuaikan terhadap pengaruh alam sekitar (air, angin, arus/ombak, dll),
sehingga stabilitas bangunan dapat terjamin.

I.24.

Bangunan Bertingkat atau Bangunan Berat


Jenis bangunan ini akan memberikan beban yang cukup besar sehingga
diperlukan lapisan tanah yang kuat dan stabil untuk mendukung beban
tersebut. Jenis dan kedalaman fondasi harus diperhitungkan terhadap kekuatan
tanah pendukung dan penurunan yang akan terjadi akibat beban. Pengaruh
lingkungan/alam sekitar perlu diperhitung dalam perancangan fondasi
sehingga stabilitas bangunan dapat terjamin. Penyelidikan tanah akan
memegang peranan penting pada penentuan fondasi bangunan ini.
I.24.1.1.

CONTOH PERHITUNGAN

Suatu lahan basah terendam air, mempunyai lapisan tanah bagian atas berupa lempung
lunak setebal 12 meter disusul di bawahnya lapisan tanah keras yang relatif rapat air.
Lempung mempunyai koefisien perubahan volume, mv = 0.008 m2/ton, koefisien
konsolidasi arah vertikal, cv = 3.5 m 2/tahun dan koefisien konsolidasi arah horisontal,
ch = 7.0 m2/tahun. Lahan akan direklamasi dengan timbunan tanah pasir setinggi 5.0
meter padat dengan berat volume rerata sebesar 1.7 ton/m3. Untuk percepatan
konsolidasi lapisan lempung digunakan band drain lebar 100 mm dan tebal 3 mm
dipasang sampai lapisan tanah keras dengan pola pasang bujursangkar.
a. Analisis penurunan konsolidasi
Tambahan beban, p = 5.0 x 1.7 = 8.5 t/m2
Besarnya penurunan konsolidasi, sc = 0.008 x 8.5 x 5.0 = 0.34 m = 340 mm
Penurunan konsolidasi sc = 340 mm untuk derajat konsolidasi U = 100%
b. Waktu konsolidasi

34

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

Untuk mencapai penurunan 90% (306 mm) dan penurunan sisa 10% (34 mm)
waktu yang diperlukan dihitung sebagai berikut.
U = 90% Tv = 0.848
Bagian bawah rapat air maka d = tebal lapisan lempung = 12 m
t90 = 0.848 x 122/3.5 = 34.9 tahun
c. Percepatan konsolidasi
Digunakan band drain 100 mm x 3 mm,
d = keliling/ = 2 x (100 + 3)/ =65.6 mm = 0.0656 m
Pola pasang bujur sangkar : D = 1.13 S atau S = D/1.13
Dicoba derajat konsolidasi (U) sebesar 95%, 90% dan 85%
U
95%
90%
85%

Penurunan yang dicapai (mm)


323
306
289

Penurunan sisa (mm)


17
34
51

Dengan rumus Hansbo didapatkan :


S
U = 95% U = 90% U = 85%
(m)
t (tahun)
t (tahun)
t (tahun)
0.50
0.02
0.02
0.02
1.00
0.14
0.11
0.09
1.50
0.38
0.30
0.24
2.00
0.76
0.59
0.48
2.50
1.29
0.99
0.81
3.00
1.96
1.51
1.24

Dari hasil di atas, untuk mencapai derajat konsolidasi U = 90% (penurunan konsolidasi
mencapai 306 mm dan penurunan konsolidasi sisa 34 mm) menggunakan band drain
dengan jarak pasang 2.0 m diperlukan waktu 0.59 tahun (sekitar 6 bulan). Hasil ini jauh
lebih cepat dibandingkan waktu konsolidasi tanpa band drain sebesar 34.9 tahun.
Sisa penurunan yang direncanakan disesuaikan dengan keperluan pembangunan di atas
lahan reklamasi, yang selanjutnya bisa dianalisis seperti contoh di atas.

35

Pedoman Teknis Perencanaan Reklamasi Pantai

I.24.1.2.

PENUTUP

Pedoman yang diuraikan di depan masih bersifat umum. Penggunaan cara lain diluar
yang telah diuraikan dalam pedoman ini masih dimungkinkan dengan alasan atau
pertimbangan yang tepat. Pemelihan metoda pelaksanaan perlu mempertimbangan
aspek efektif, efisien dan ramah lingkungan.
Ucapan terimakasih disampaikan kepada PT. Tata Guna Patria dan Direktorat Bina
Teknik, Dirjen SDA, Departemen Kimpraswil, sehingga buku Pedoman Teknis
Perencanaan Reklanasi Pantai dapat terselesaikan. Apabila pembaca dalam mengkaji
materi ada kesulitan atau ada yang kurang jelas mohon dapat melihat ke buku asli yang
diacunya. Pada kesempatan ini pula penulis mengharapkan kritik dan masukan dari para
pembaca untuk dapat dipergunakan dalam penyempurnaan materi pedoman ini.
Semoga buku pedoman ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, institusi pemerintah
terkait dan pelaksana/perencana industri maritim.

36