Anda di halaman 1dari 55

SMFPELAYANAN BEDAH

RSUD S.K LERIK


KUPANG
Jl. Timor Raya No. 134
Pasir Panjang
Kupang

STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR ( SOP )
Pengertian

PENANGANAN
KONSERVATIF
FRAKTUR COLLES
No. Dokumen :
No. Revisi

Disahkan oleh :
Direktur RSUD Kota
Kupang

Halaman
:
Tahun Terbit : 2016

dr. Marsiana Y. Halek


Pembina Tk.I(IV/b)
NIP. 19770712 2001 12 2
003

Adalah fraktur metafisis distal radius yang sudah


menaalami osteoporosis, garis fraktur transversal,
komplit, jaraknya 2-2,5 cm proximal garis sendi,
bagian distal beranjak ke dorsal dan angulasi ke radial
serta fraktur avulsi dari processus styloideus ulna

Kebijakan
Ruang lingkup

Berdasarkan perribagian:
1. Frykman 1967
Didasarkan atas adanya fraktur pada sendi
radiocarpalia, radio ulna bagian distal dan processus
styloideus ulna. Makin tinggi tipe fraktur makin jelek
prognosis.
2. Sallter
Membagi fraktur menjadi stabil dan tak stabil yang
didasarkan pada banyaknya komunitas fraktur
dibagian distal.
3. Sarmento 1981
Membagi fraktur atas dasar peranjakan dan adanya
fraktur pada sendi radio carpalia.
Insiden:
Kira-kira 8-15% dari seluruh fraktur dan 60 % dari
fraktus radius umur atas 50 tahun wanita lebih
banyak dari pada pria, sedang umur kecil dari 50
tahun wanita sama dengan pria.

Indikasi

Kominusi Dorsal lebih dari 50% dari dorsal ke


palmar distance
Kominusi metafiseal Palmar
Initial dorsal tilt lebih dari 20
Pergeseran initial (fragment translation) lebih dari
1 cm
Pemendekan Initial lebih dari 5 mm
Disrupsi Intra-artikuler
Disertai Fraktur ulna

Osteoporosis masif

Kontraindikasi

Tidak ada

Diagnosis Banding

1. fraktur pergelangan tangan tipe lainnya


2. Dislokasi sendi Wrist

Pemeriksaan Penunjang

X- Ray

Alogaritma

Fraktur Colles

Non displaced

Displaced
Reduksi tertutup

Tereduksi
Gips

Tehnik /Operasi:

Tidak tereduksi/tidak stabil

Rujuk ke spesialis orthopaedi


Prinsip
Reposisi seanatomis mungkin, pertahankan hasil reposisi dan cegah
komplikasi karena reposisi yang anatomis akan memberikan fungsi
yang baik. Reposisi dapat dilakukan dalam anestesi lokal, regional
blok atau anestesi umum.
I . Teknik reposisi
Segera dilakukan sebelum adanya edema. Dilakukan dengan cara
disimpaksi, traksi, reposisi, dan
imobilisasi dilakukan selama 2-5 menit. Fungsi yang baik tercapai
jika post reposisi angulasi dorsal < 150 pemendekan radius < 3mm
Metode Imobilisasi
Konservatif dengan gip atau lungtional brace.
Operatif dengan fiksator
Posisi pergelangan tangan
- Posisi palmar fleksl 15 dan ulnar deviasi 20'
Posisi lengan bawah
Posisi pronasi ( klasik )
Posisi supinasi
Lama imobilisasi

Lamanya pemasangan gip bervariasi 3-6 minggu. Setelah 28 hari


fraktur sudah cukup stabil
dan boleh mobilisasi. Pada kasus yang minimal displacement
imobilisasi cukup 3-4 minggu.
Fisioterapi
Dimaksudkan agar fungsi tangan kembali normal karena penderita
diharapkan bekerja biasa setelah 3-4 bulan fraktur.
Komplikasi

Mortalitas

Umumnya akan selalu ada komplikasi, komplikasi yang mungkin


terjadi:
1. Dini
Kompresi / trauma a. ulnaris dan medianus
Kerusakan tendon
Edema post reposisi
Redislokasi
2. Lanjut
Arthrodosis dan nyeri kronis
Shoulder hand syndrome
Defek kosmetik (penonjolan styloideus radii)
Malunion/ non union
Stiff hand
Volksman ischemic contraktur
Suddeck atropi
Tidak ada

Perawatan Pasca Bedah

Imobilisasi dengan forearm splint selama 3 minggut,

SMFPELAYANAN BEDAH
TERAPI KONSERVATIF
FRAKTUR PATELLA
No. Dokumen :

RSUD S.K LERIK


KUPANG
Jl. Timor Raya No. 134
Pasir Panjang
Kupang

No. Revisi

Halaman

Disahkan oleh :
Direktur RSUD Kota
Kupang

dr. Marsiana Y. Halek


Pembina Tk.I(IV/b)
NIP. 19770712 2001 12 2
003

STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Pengertian

Fraktur patella adalah diskontinuitas patella karena


trauma

Kebijakan
Ruang lingkup

Fraktur tertutup, fraktur terbuka, undisplaced dan


displaced

Indikasi

Semua keadaan dengan posisi displaced tertutup


maupun terbuka

Kontraindikasi

Keadaan umum penderita jelek

Diagnosis banding

Tidak ada

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium rutin dan foto polos lutut

Alogaritma

Patofisiologi

Fraktur patella
Pemeriksaan Klinik

Mekanisme fraktur
1. Trauma langsung / Direct
a. Disebabkan karena penderita jatuh dalam posisi lutut flexi
dimana patella terbentur dengan lantai
b. Karena diatas patella hanya terdapat subcutis dan kutis,
sehingga dengan benturan tersebut tulang patella mudah
patch
c. Biasanya jenis patahnya comminutiva (stelata), pada jenis
patah ini biasanya medial dan lateral quadrisep expansion
tidak ikut robek, hal ini menyebabkan penderita masih
dapat melakukan extensi lutut melawan gravitasi
Immobilisasi
2. Trauma tak langsung / Indirect
Gibs yang
a. Karena tarikan yang sangat kuat danPasang
otot quadrisep
Pangkal
paha
sampai
membentuk
musculotendineus melekat
pada
patella,
Fraktur tertutup
& undisplaced
Pergelangan
kaki
sering terjadi pada penderita yang jatuh
dengan tungkai
bawah menyentuh tanah terlebih dahulu dan otot
quadrisep kontraksi secara kerns untuk mempertahanakan
kestabilan lutut.
Penanganan
Fraktur
terbukagaris
undisplaced
b. Biasanya
patahnya transversal
avulsedebridement,
ujung atas atau immobilisasi
ujung bawah dan patella
Anamnesa
Ditemukan adanya riwayat trauma
Penderita tak dapat melakukan extensi lutut, biasanya
terjadi pada trauma indirect dimana patahnya transversal
ke spesialis orthopaedi
Displaced,
dislokasi,
frakturrobek
denganRujuk
penyulit
dan fr
quadrisep
mekanisme
Pada trauma direct dimana patahnya comminutiva medial
dan lateral, quadrisep expansion masih utuh sehingga
penderita masih dapat melakukan extensi lutut
Pemeriksaan Klinik
Pada lutut ditemukan pembengkakan disebabkan
hemarthrosis
Pada perabaan ditemukan patela mengambang (floating
patella)
Pemeriksaan Radiologis
Dengan proyeksi AP dan lateral sudah cukup untuk
melihat adanya fraktur patela
Proyeksi sky-line view kadang-kadang untuk memeriksa

adanya fraktur patela incomplete

Tehnik /Operasi:

Pengobatan fraktur patela biasanya dengan reduksi terbuka dan


fiksasi interen pada patella. Fiksasi interen yang paling efektif ialah
dengan benang kawat melingkari patela dikombinasi dengan kawat
berbentuk angka delapan.
Pengobatan fraktur patela comminutiva yang terdapat
haemorthrosis, dilakukan aspirasi haemorthrosis, diikuti pemakaian
Non operatif
Untuk fraktur patela yang undisplaced
Bila terjadi haemorthrosis dilakukan punksi terlebih dahulu
Kemudian dilakukan imobilisasi dengan pemasangan gips
dan pangkal paha sampai pergelangan kaki. Posisi lutut
dalam fleksi sedikit (5-10) dipertahankan 6 minggu.
Operatif
Pada fraktur transversal dilakukan reposisi, difiksasi
dengan teknik tension band wiring
Bila jenis fraktur comminutiva dilakukan rekronstruksi
fragmennya dengan K wire, baru dilakukan tension band
wiring
Bila fragmen terlalu kecil sehingga tidak mungkin untuk
dilakukan rekronstruksi, dilakukan patellectomi (hal ini
menimbulkan kelemahan quadrisep expansion)
Komplikasi pasca penanganan fraktur Patela dan
penanganannya
Komplikasi yang mungkin terjadi adalah terjadinya kondromalasia
pada patela dan artrosis degeneratif
Rehabilitasi pasca fraktur Patela
Rehabilitasi fraktur patela pascabedah dapat dilakukan mobilisasi
segera. Fleksi maksimal dihindarkan hingga minggu ke 10.

Komplikasi

Follow up

Pemeriksaan X ray ulang dilakukan satu atau dua minggu kemudian


untuk menilai ada tidaknya loss of reduction. Plaster dipertahankan
sampai terjadinya union 34 minggu pada anak-anak usia 10 tahun
dan 1-2 minggu pada anak usia 4 tahun.

Rujukan

Pada kasus-kasus fr radius ulna yang memerlukan tindakan


operasi/rekonstruksi, dirujuk ke dokter spesialis orthopaedi.

Malunion dan Non-union


Sindrom Kompartemen
Infeksi

RSUD S.K LERIK


KUPANG
Jl. Timor Raya No. 134
Pasir Panjang
Kupang

STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR ( SOP )
Pengertian

SMFPELAYANAN BEDAH
PENANGANAN
KONSERVATIF
FRAKTUR
SUPRAKONDILER
HUMERUS
No. Dokumen :
No. Revisi

Disahkan oleh :
Direktur RSUD Kota
Kupang

Halaman
:
Tahun Terbit : 2016

dr. Marsiana Y. Halek


Pembina Tk.I(IV/b)
NIP. 19770712 2001 12 2
003

Fraktur suprakondiler humerus: fraktur sepertiga


distal humerus tepat proksimal troklea dan capitulum
humeri. Garis fraktur berjalan melalui apeks coronoid
dan fossa olecranon, biasanya fraktur transversal.
Merupakan fraktur yang sering terjadi pada anakanak. Pada orang dewasa, garis fraktur terletak
sedikit lebih proksimal daripada fraktur suprakondiler
pada anak dengan garis fraktur kominutif, spiral
disertai angulasi

Kebijakan
Ruang lingkup

Klasifikasi fraktur Suprakondiler humeri


Mekanisme trauma
Ada 2 mekanisme terjadinya fraktur yang
menyebabkan dua macam jenis fraktur suprakondiler

yang terjadi:
1. Tipe Ekstensi (sering terjadi 99 % kasus). Bila
melibatkan sendi, fraktur suprakondiler tipe ekstensi
diklasifikasikan sebagai: fr transkondiler atau
interkondiler. Fraktur terjadi akibat hyperextension
injury (outstreched hand) gaya diteruskan melalui
elbow joint, sehingga terjadi fraktur proksimal
terhadap elbow joint. Fragmen ujung proksimal
terdorong melalui periosteum sisi anterior di mana
m.brachialis terdapat, ke arah a.brachialis dan
n.medianus . Fragmen ini mungkin menembus kulit
sehingga terjadi fraktur terbuka.
Klasifikasi fr suprakondiler humeri tipe ekstensi
dibuat atas dasar derajat displacement.
Tipe I undisplaced
Tipe II partially displaced
Tipe III completely displaced
2. Tipe fleksi (jarang terjadi) .Trauma terjadi akibat
trauma langsung pada aspek posterior elbow dengan
posisi fleksi. Hal ini menyebabkan fragmen proksimal
menembus m/tendon triceps dan kulit.
Klasifikasi fr suprakondiler humeri tipe fleksi juga
dibuat atas dasar: derajat displacement.
Tipe I undisplaced
Tipe II partially displaced
Tipe III completely displaced
Patofisiologi

Daerah suprakondiler humeri merupakan daerah yang


relatif lemah pada ekstremitas atas. Di daerah ini
terdapat titik lemah, dimana tulang humerus menjadi
pipih disebabkan adanya fossa olecranon di bagian
posterior dan fossa coronoid di bagian anterior. Maka
mudah dimengerti daerah ini merupakan titik lemah
bila ada trauma didaerah siku. Terlebih pada anakanak sering dijumpai fraktur di daerah ini.
Bila terjadi oklusi a brachialis dapat
menimbulkan komplikasi serius yang disebut dengan
Volkmann 's Ischemia. A brachialis terperangkap dan
kingking pada daerah fraktur.
Selanjutnya a brachialis sering mengalami
kontusio dengan atau tanpa robekan intima.
Gejala/tanda- tanda klinisnya adalah:
Sakit (pain)
Denyut nadi a. Radialis yang berkurang
(pulsellessness)
Pucat (pallor)
Rassa semutan (paresthesia, baal)
Kelumpuhan (paralisis)

Pemeriksaan Klinis

Pemeriksaan Klinis fraktur suprakondiler humeri


Pada tipe ekstensi sendi siku dalam posisi ekstensi daerah siku
tampak bengkak kadang bengkak hebat sekali akibat perdarahan
yang luas. Bila pembengkakan tidak hebat dapat teraba tonjolan
fragmen di bawah subkutis. Pada tipe fleksi posisi siku fleksi
(semifleksi), dengan siku yang bengkak dengan sudut jinjing yang
berubah.
Pada pemeriksaan klinis sangat penting diperiksa ada tidaknya
gangguan sirkulasi perifer dan lesi pada saraf tepi. Adanya
gangguan sirkulasi perifer memerlukan tindakan reduksi fraktur
segera. Jika penderita mengeluh gejala setempat yaitu pain (nyeri)
dan paresthesia (baal), disertai dengan adanya tanda passive strech
pain, pucat (pale) dan paralisis (kelumpuhan) harus dicurigai
adanya sindrom kompartemen akut (Volkmann Ischemia).
Pada lesi n. radialis didapati ketidakmampuan untuk ekstensi ibu
jari dan ekstensi jari lainnya pada sensi metakarpofalangeal. Juga
didapati gangguan sensorik pada bagian dorsal sela metakarpal III . Pada lesi n. ulnaris didapati ketidakmampuan untuk melakukan
gerakan abduksi dan aduksi jari jari. Gangguan sensorik didapati
pada bagian volar satu setengah jari sisi ulna. Pada lesi n- medianus
didapati ketidakmampuan untuk melakukan oposisi ibu jari dengan
jari lain. Gangguan sensorik didapati pada bagian volar tiga
setengah sisi radial. Sering didapati lesi pada sebagian n. Medianus,
yaitu lesi pada cabangnya yang disebut n. Interosseus anterior,
disini didapati ketidakmampuan jari I dan II untuk melakukan
fleksi (pointing sign).
Fraktur Kondiler humeri
Fraktur kondiler yang sering terjadi pada anak adalah fraktur
kondilus lateralis humerus dan fraktur epikondilus medialis
humerus. Pada orang dewasa umumnya dijumpai fraktur kondiler
komunitif berbentuk T atau Y.
Kondilus lateralis humerus merupakan tempat origo otot ekstensor
tangan dan otot ini kuat sehingga pada fraktur kondilus lateralis
humerus pada anak, kondilus tersebut tertarik ke distal. Bagian
proksimal pecahan kondilus mungkin tertarik ke distal dan bagian
distal pecahan kondilus tertahan di sendi atau masuk ke dalam
sendi, sehingga pecahan kondilus ini posisinya terbalik. Sekalipun
demikian dapat terjadi fraktur kondilus lateralis humerus yang
pecahannya undisplaced/minimally displaced.
Fraktur kondilus lateralis humerus pada anak termasuk fraktur
epifisis berat tipe 4 yang merupakan fraktur intraartikuler ini berarti
bahwa reposisi yang dilakukan harus seanatomis mungkin. Itulah
sebabnya fraktur kondilus yang fragmennya displace direposisi
secara operatif.
Fraktur epikondilus medialis humerus merupakan fraktur avulsi
dan terjadi akibat gaya abduksi atau valgus yang berlebihan. Bila
anak dapat bergerak, siku dapat di ditangani konservatif.

Kadang pecahan ditarik ke distal, sehingga dapat masuk ke dalam


sendi dan sendi terkunci. Reposisi perlu diadakan secara operasi.
Kadang stabilitas sendi siku hilang karena epikondilus medialis
merupakan juga insersi ligamen kolateral. Bila terdapat instabilitas,
perlu ditangani secara operatif untuk mengembalikan stabilitas
siku.
Fraktur kondiler humerus pada orang dewasa umumnya berbentuk
T atau Y, adalah fraktur intraartikuler. Ini berarti bahwa reposisi
yang dilakukan harus seanatomis mungkin, lalu diikuti dengan
mobilisasi dini. Untuk ini perlu dilakukan reposisi terbuka dan
fiksasi interna yang rigid. Reposisi terbuka tanpa fiksasi yang rigid
justru akan menyebabkan kekakuan sendi akibat perlengketan sendi
pasca bedah.
Indikasi

Pemeriksaan Penunjang

Displaced fracture
Fraktur disertai cedera vaskular
Fraktur terbuka
Pada pendenta dewasa kebanyakan patah di daerah suprakondiler
sering kali menghasilkan fragmen distal yang komunitif dengan
garis patahnya berbentuk T atau Y. Untuk menanggulangi hal ini
lebih baik dilakukan tindakan operasi yaitu reposisi terbuka dan
fiksasi fragmen fraktur dengan fiksasi yang rigid
Pemeriksaan penunjang dengan radiologi proyeksi
AP/LAT, jelas dapat dilihat tipe ekstensi atau fleksi.

Alogaritma

Tehnik /Operasi:

Penanggulangan konservatif fraktur suprakondiler humerus


diindikasikan pada anak undisplaced/ minimally dispaced fractures
atau pada fraktur sangat kominutif pada pasien dengan lebih tua
dengan kapasitas fungsi yang terbatas. Pada prinsipnya adalah
reposisi dan immobilisasi. Pada undisplaced fracture hanya
dilakukan immobilisasi dengan elbow fleksi selama tiga minggu
Kalau pembengkakan tidak hebat dapat dicoba dilakukan reposisi
dalam narkose umum. Penderita tidur terlentang, dalam posisi
ekstensi, operator menekuk bagian distal, menarik lengan bawah
dengan siku pada posisi ekstensi, sedang asisten menahan bagian

proksimal, memegang lengan atas pada ketiak pasien. Setelah


tereposisi, perlahan-lahan sambil tetap menarik lengan bawah siku
difleksikan ambil diraba a. Radialis. Gerakan fleksi diteruskan
sampai a. radialis mulai tidak teraba, kemudian diekstensi siku
sedikit untuk memastikan a. radialis teraba lagi. Fleksi maksimal
akan menyebabkan tegangnya otot triseps, dan ini akan
mempertahankan reposisi lengan baik. Dalam posisi ini dilakukan
immobilisasi dengan gips spalk (posterior splint).
Pemasangan gips dilakukan dengan lengan bawah dalam posisi
pronasi bila fragmen distal displaced ke medial dan dalam posisi
supinasi bila fragmen distal displaced ke arah lateral.
Bila reposisi berhasil biasanya dalam 1 minggu perlu dibuat foto
rontgen kontrol, karena dalam 1 minggu bengkak akibat hematom
dan oedem telah berkurang dan menyebabkan kendornya gips,
yang selanjutnya dapat menyebabkan terlepasnya reposisi yang
telah tercapai. Kalau dengan pengontrolan radiologi haslinya sangat
baik, gips dapat dipertahankan dalam waktu 3 minggu. Setelah itu
gips diganti dengan mitela dengan maksud agar pasien bisa melatih
gerakan fleksi ekstensi dalam mitela. Umumnya penyembuhan
fraktur suprakondiler ini berlangsung cepat dan tanpa gangguan.
Bila reposisi gagal, atau bila terdapat gejala Volkmann
Ischernia atau lesi saraf tepi, dapat dilakukan tindakan
reposisi terbuka secara operatif dan dirujuk ke dokter spesialis
orthopaedi.
Komplikasi

Volkmann's ischemia terjepitnya a. brachialis yang akan


menyebabkan iskemi otot-otot dan saraf tepi pada regio
antebrachii. Komplikasi ini terjadi akibat kompartemen sindrom
yang tidak terdeteksi. Nekrosis akan terjadi mulai 6 jam terjadinya
ischemik. Maka penanggulangannya sangat penting sebelum 6 jam
arteri harus sudah bebas. Bila dilakukan perubahan posisi ekstensi
a. radialis masih belum teraba dan release bandage/cast, arteriografi
dulu, untuk menentukan lokasi sumbatannya, kemudian dilakukan
operasi eksplorasi a. brachialis, dicari penyebabnya.
Operasi dapat berupa repair/reseksi arteri yang robek, bila
Volkmann's ischemia tidak tertolong segera akan menyebabkan
Volkmann's kontraktur dimana otot-otot fleksor lengan bawah
menjadi nekrosis dan akhirnya fibrosis, sehingga tak berfungsi lagi.
Mal union cubiti varus dimana siku berbentuk huruf 0, secara
fungsi baik, namun secara kosmetik kurang baik. Perlu dilakukan
koreksi dengan operasi meluruskan siku dengan teknik French
osteotomy.

Follow up

Evaluasi union sekitar 3-4 minggu untuk anak usia 4 tahun dan
sekitar 4-5 minggu untuk anak-anak usia 8 tahun dengan
pemeriksaan klinis dan radiologi. Dengan meletakan jari di atas
tendon biceps kemudian dilakukan fleksi dan ekstensi elbow.
Adanya spasme m biceps menunjukkan elboe belum siap
mobilisasi. Setelah melepas splints, dilakukan latihan aktif dalam
sling selama beberapa bulan sampai range of motion tercapai sesuai
dengan yang diharapkan.

SMFPELAYANAN BEDAH
PENANGANAN PATAH
TULANG TERBUKA
GRADE 1, 2, 3

RSUD S.K LERIK


KUPANG
Jl. Timor Raya No. 134
Pasir Panjang
Kupang

STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR ( SOP )
Pengertian

No. Dokumen :
No. Revisi

Halaman
:
Tahun Terbit : 2016

dr. Marsiana Y. Halek


Pembina Tk.I(IV/b)
NIP. 19770712 2001 12 2
003

Patah tulang dimana terdapat kerusakan kulit sehingga bakteri dari


luar dapat menginfeksi hematoma yang disebabkan oleh patah
tulang tersebut

Kebijakan
Ruang lingkup

Disahkan oleh :
Direktur RSUD Kota
Kupang

Jaringan lunak
Jaringan tulang

Fiksasi dalam dan luar

Indikasi

Tidak ada

Kontraindikasi

Tidak ada

Diagnosis Banding

Tidak ada

Pemeriksan Penunjang

Rontgen Foto

Alogaritma

Klasifikasi patah tulang terbuka: menurut Gustilo


Tipe I
Luka kecil kurang dan 1 cm, terdapat sedikit kerusakan jaringan,
tidak terdapat tanda-tanda trauma yang hebat pada jaringan lunak.
Fraktur yang terjadi biasanya bersifat simpel, tranversal, oblik
pendek atau komunitif
Tipe II
Laserasi kulit melebihi 1 cm tetapi tidak terdapat kerusakan
jaringan yang hebat atau avulsi kulit. Terdapat kerusakan yang
sedang dan jaringan
Tipe III
Terdapat kerusakan yang hebat pada jaringan lunak termasuk otot,
kulit dan struktur neovaskuler
dengan kontaminasi yang hebat. Dibagi dalam 3 sub tipe:
1. tipe IIIA : jaringan lunak cukup menutup tulang yang patah
2. tipe IIIB : disertai kerusakan dan kehilangan janingan lunak,
tulang tidak dapat do cover soft tissue
3. tipe IIIC : disertai cedera arteri yang memerlukan repair segera

Tehnik /Operasi:

Penanggulangan fraktur terbuka:


1. Obati sebagai suatu kegawatan
2. Evaluasi awal dan diagnosis kelainan yang mungkin akan
menjadi penyebab kematian
3. Berikan antibiotik dalam ruang gawat darurat, di kamar
operasi dan setelah operasi
4. Segera lakukan debridement dan irigasi yang baik
5. Ulangi debridemen 24-72 jam berikutnya
6. Stabilisasi fraktur
7. Biarkan luka terbuka antara 5-7 hari
8. Lakukan bone graft autogenous secepatnya
9. Rehabilitasi anggota gerak yang terkena
Tahap pengobatan patah tulang terbuka
Pembersihan luka

Eksisi jaringan yang mati dan disangka mati


Pengobatan patah tulang dan penentuan jenis traksi
Penutupan kulit
Pemberian antibiotik
Pencegahan tetanus
Prinsip debridement adalah untuk membersihkan
kontaminasi yang terdapat di sekitar fraktur dengan
melakukan pengangkatan terhadap jaringan yang non
viabel dan material asing, seperti pasir yang melekat pada
jaringan lunak. Dilakukan penilaian pada sekitar jaringan
sekitar tulang, cedera pembuluh darah, tendon, otot, saraf.
Debridementjaringan otot dipertimbangkan jika otot
terkontaminasi berat dan kehilangan kontraktilitas.
Debridement
pada
tendon
mempertimbangkan
kontraktilitas tendon, sedangkan debridement pada kulit
dilakukan hingga timbul perdarahan. Pada fraktur terbuka
grade IIIb dan IIIc dilakukan serial debridement yang
diulang dalarn selang waktu 24-72 jam untuk tercapainya
debridement definitif.
8.4. Tehnik Operasi
Sebelum dilakukan debridement, diberikan antibiotik
profilaks yang dilakukan di ruangan emergency. Yang
terbaik adalah golongan sefalosforin. Biasanya dipakai
sefalosforin golongan pertama. Pada fraktur terbuka
Gustilo tape III, diberikan tambahan berupa golongan
aminoglikosida, seperti tobramicin atau gentamicin.
Golongan sefalosforin golongan ketiga dipertimbangkan di
sini. Sedangkan pada fraktur yang dicurigai terkontaminasi
kuman clostridia, diberikan penicillin.
Peralatan proteksi diri yang dibutuhkan saat operasi adalah
google, boot dan sarung tangan tambahan.
Sebelum dilakukan operasi, dilakukan pencucian dengan
povine iodine,lalu drappingarea operasi. Penggunaan tidak
dianjurkan, karena kita akan melakukan pengamatan
terhadap perdarahan jaringan. Debridement dilakukan
pertama kali pada daerah kulit. Kemudian rawat
perdarahan di vena dengan melakuan koagulasi. Buka
fascia untuk menilai otot dan tendon. Viabilitas otot dinilai
dengan 4C, Color, Contractility, Circulation and
Consistency. Lakukan pengangkatan kontaminasi canal
medullary dengan saw atau rongeur. Curettage canal
medulary dihindarkan dengan alasan mencegah infeksi ke
arah proksimal. Irigasi dilakukan dengan normal saline.
Penggunaan normal saline adalah 6-10 liter untuk fraktur
terbuka grade II dan III. Tulang dipertahankan dengan
reposisi. Bisa digunakan ekternal fiksasi pada fraktur grade
III4.
Penutupan luka dilakukan jika memungkinkan. Pada
fraktur tipe III yang tidak bisa dilakukan penutupan
luka, dilakukan rawat luka terbuka, hingga luka

dapatditutup sempurna.
Komplikasi

Perawatan Lanjut

Komplikasi
Mortalitas
Perawatan Pasca Bedah

Alogaritma

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

perdarahan, syok septik kematian


septikemi, toksemia oleh karena infeksi piogenik
tetanus
gangren
non union dan ma union
kekakuan sendi
perdarahan sekunder
osteomielitis kronik
delayed union
Hilangkan nyeri
Mendapatkan dan mempertahankan posisi yang memadai
dan flagmen patah tulang
3. Mengusahakan terjadinya union
4. Mengembalikan
fungsi
secara
optimal
dengan
mempertahankan fungsi otot dan sendi dan pencegahan
komplikasi.
5. Mengembalikan fungsi secara maksimal dengan fisioterapi.
1.
2.

Komplikasi debridement hampir tidak ada. Komplikasi


terjadi berupa infeksi pada jaringan lunak dan tulang
hingga sepsis pasca operasi.
Berhubungan dengan syok hemoragik dan adanya fat
embolism
Antibiotika post operasi dilanjutkan hingga 2-3 hari
pasca debridement. Kultur pus, jika ada pus, lakukan
kultur pus. Pada fraktur terbuka grade yang
memerlukan debridement ulangan, maka akan
dilakukan debridement ulangan hingga jaringan
cukup sehat dan terapi definitive terhadap tulang bisa
dimulai. Pada penutupan luka yang tertunda,
dilakukan pemasangan split thickness skin flap,
vascularized pedicle flaps (seperti gastrocnemeus
flap) dan free flaps seperti fasciocutaneus flaps atau
myocutaneus flaps.

RSUD S.K LERIK


KUPANG
Jl. Timor Raya No. 134
Pasir Panjang
Kupang

STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR ( SOP )
Pengertian

SMFPELAYANAN BEDAH
PENANGANAN
KONSERVATIF
FRAKTUR KOMPRESI
VERTEBRA
No. Dokumen :
No. Revisi

Disahkan oleh :
Direktur RSUD Kota
Kupang

Halaman
:
Tahun Terbit : 2016

dr. Marsiana Y. Halek


Pembina Tk.I(IV/b)
NIP. 19770712 2001 12 2
003

Fraktur kompresi yang terjadi pada tulang vertebra

Kebijakan
Ruang lingkup

Penanganan konservatif fraktur kompresi vertebra

Indikasi

Terhantung jenis kelainan

Kontraindikasi

Keadaan umum penderita jelek

Diagnosis Banding

Fraktur patologis

Pemeriksan
Penunjang

Radilogis, laboratorium

Alogaritma

Klasifikasi

1. BEATSON (1963) membedakan atas 4 grade:


Grade I = Simple Compression Fraktur
Grade II = Unilateral Fraktur Dislocation
Grade III = Bilateral Fraktur Dislocation
Grade IV = Rotational Fraktur Dislocation
2. BEDBROCK membagi atas: T
Trauma pada vertebra
seperti compression,
extension dan flexion
rotation injury
Trauma medula spinalis seperti :
comotio, con-tusio, stretching, gangguan
vaskuler, trombus dan hematoma
3. E. SHANNON STAUPER membagi:
Extension injury
simple flexion injury dan
flexion compression fraktur dislocation.
4. HOLDS WORTH membagi alas taruma:
Fleksi, rotasi fleksi, rotasi, ektensi, kompressi vertikal (direct
shearing force)
5. Pembagian Umum:
a. Fraktur Stabil

Fraktur wedging sederhana (Simple wedges fraktur)


Burst fraktur
Extension
b. Fraktur tak stabil
Dislokasi
Fraktur dislokasi
Shearing fraktur
Fraktur tulang belakang terjadi karena trauma
kompresi axial pada waktu tulang belakang tegak.
Menurut percobaan beban seberat 315 kg atau
1,03 kg per mm2 dapat mengakibatkan fraktur
tulang belakang. Daerah yang paling sering kena
adalah daerah yang mobil yaitu VC4.6 dan Th12Lt-2.
Tehnik /Operasi:

Jika faktur stabil (kelainan neorologis) maka dengan istirahat saja


penderita akan sembuh.. Yang menjadi masalah bila disertai dengan
kelainan neorologis.
I. Fase Akut (0-6 minggu)

1. Live saving dan kontrol vital sign


2. Perawatan trauma penyerta
a. Fraktur tulang panjang dan fiksasi interna.
b. Perawatan trauma lainnya.
3. Fraktur/Lesi pada vertebra
a. Konservatif (postural reduction) (reposisi sendiri)
Tidur telentang alas yang keras, posisi diubah tiap 2 jam
mencegah dekubitus, terutama simple kompressi.
b. Operatif
Pada fraktur tak stabil terdapat kontroversi antara
konservatif dan operatif. Kalau dilakukan operasi
harus dalam waktu 6-12 jam pertama dengan cara:
laminektomi
fiksasi interna dengan kawat atau plate
anterior fusion atau post spinal fusion
c. Perawatan status urologi
Pada status urologis dinilai ripe kerusakan sarafnya
apakah supra nuldear (reflek bladder) dan infra
nuklear (paralitik bladder) atau campuran.
Pada fase akut dipasang keteter dan kemudian secepatnya
dilakukan bladder training dengan cara penderita disuruh
minum segelas air tiap jam sehingga buli-buli berisi tetapi
masih kurang 400 cc. Diharapkan dengan cara ini tidak
terjadi pengkerutan buli-buli dan reflek detrusor dapat
kembali.
Miksi dapat juga dirangsang dengan jalan:
Mengetok-ngetok perut (abdominal tapping)
Manuver crede
Ransangan sensorik dan bagian dalam paha
Gravitasi/ mengubah posisi

d. Perawatan dekubitus
Dalam perawatan komplikasi ini sening ditemui yang
terjadi karena berkurangnya vaskularisasi didaerah
tersebut.
II. Fase Sub Akut (6-12 minggu)
Fraktur perawatan komplikasi ini sering ditemui yang terjadi
karena berkurangnya vaskularisasi didaerah tersebut.
III. Fase berdikari (3-6 bulan)
Yang banyak berperan disini adalah pekerja sosial seperti:
mempersiapkan rumah beserta isinya pada penderita.
Mengadakan alat-alat pembantu
Mempersiapkan pekerjaan
tangannya. Siapapun yang
mengelola penderita ini harus
dapat:
Mengembalikan spinal augment
Stabilitas dan tulang belakang
Mengusahakan agar penderita mencapai kehidupan normal
Mencegah komplikasi.
Fisioterapi

Tatalaksana Trauma
Cervical

I. Stadium Akut
1. Breathing exercise yang adequate
2. Mencegah kontraktur
3. Melatih otot yang lemah
II. Stadium Sub Akut
Penderita boleh duduk pada kursi roda
III. Berdikari
Spine Instability
Pada dasarnya tulang belakang mempunyai 3 tulang (kolona vertikal)
yaitu 1 (satu) kolona anterior yang terdiri korpus dan diskus dari atas
sampai kebawah. Dua kolona posterior (kanan & kiri) yang terdiri dari
rangkaian sendi (facet joint) dan atas kebawah. Tulang belakang yang
demikian dapat diumpamakan sebagai suatu gedung bertingkat dengan
3 tiang utama (1 di depan 2 di belakang) dengan masing-masing diberi
koefisien 1. Sedangkan lantainya terdiri dan pedikel kiri dan kanan,
lamina proc. spinosus, dan proc. transversum dengan nilai koefisien
antara 0,25 dan 0,5 Jadi bila koefisien instability 2 dalam arti kolona
vertikal putus >2, maka dikatakan tulang belakang tidak stabil.
Diagnosis dan Management
Semua yang dicurigai fraktur vertebrate cervical harus dirawat sebagai
cervical spinal injury sampai terbukti tidak ada.
1. Penanganan Cedera Akut Tanpa Gangguan Neorologis
Penderita dengan diagnose cervical sprain derajat I dan II yang
sening karena "wishplash Injury" yang dengan foto AP tidak
tampak kelainan sebaiknya dilakukan pemasangan culiur brace
untuk 6 minggu. Selanjutnya sesudah 3-6 minggu post trauma
dibuat foto untuk melihat adanya chronik instability
Kriteria radiologis untuk melihat adanya instability
adalah:

a.
b.
c.
d.

Dislokasi feset >50%


Loss of paralelisine dan feset.
Vertebral body angle > 11 derajat path fleksi.
ADI (atlanto dental interval) melebar 3,5-5 mm
(dewasa- anak)
e. Pelebaran body mas CI terhadap corpus
cervical II (axis) > 7 mm pada foto AP
Pada dasarya bila terdapat dislokasi sebaiknya dikerjakan
emergensi closed reduction dengan atau tanpa anestesi.
Sebaiknya tanpa anestesi karena masih ada kontrol dan otot
leher. Harus diingat bahwa reposisi pada cervical adalah
mengembalikan koposisi anatomis secepat mungkin untuk
mencegah kerusakan spinal cord.
2. Penanganan Ceders Servikal dengan Gangguan Neorologis
Patah tulang belakang dengan gangguan neorologis komplit,
tindakan pembedahan terutama ditujukan untuk memudahkan
perawatan dengan tujuan supaya dapat segera diimobilisasikan.
Pembedahan dikerjakan jika keadaan umum penderita sudah
baik lebih kurang 24-48 jam. Tindakan pembedahan setelah 6-8
jam akan memperjelek defisit neorologis karena dalam 24 jam
pertama pengaruh hemodinamik pada spinal masih sangat tidak
stabil. Prognosa pasca bedah tergantung komplit atau tidaknya
transeksi medula spinalis.
Renkontruksi &
Rehabilitasi Cacat Tulang
Belakang

Cacat vertebra dapat disebabkan oleh penyakit dengan variasi yang


sangat luas mulai dan penyakit kongenital sampai idiopatic. Sering
kelainan vertebra disertai dengan adanya neorologi defisit. Deformitas
tulang belakang ini bervariasi pula yang mulai dan tanpa gejala sampai
ada gejala yang sangat berat berupa kelumpuhan.
Hubungan sumsum tulang belakang dengan vertebra adalah:
1. Kelainan neorologis dapat menimbulkan deformitas belakang
misalnya: scollosis paralitik.
2. Deformitas tulang belakang dapat menimbulkan kelainan
neorologis, misalnya: spinal stenosis, diastematomella,
kyphoscollosis yar berat.
3. Beberapa penyakit dapat menimbulkan keduanya, yaitu
deformitas tulang belakang dengan kelainan syarafmisalnya:
Pott paraplegia, Metastase tumor dengan kompresi fraktur
4. Koreksi deformitas tulang belakang dapat menimbulkan
komplikasi saraf misalnya instrumentalia harington.
Sifat Deformitas
a.
Scoliosis: pembengkokan keposterior dan tulang belakang.
b.
Kyposis: pembengkokan keposterior dan tulang belakang.
c.
Gibbus: kyposis yang pendek dengan sudut yang tajam.
d.
Kelainan setempat yang bervaniasi
Pada koreksi cacat tulang belakang muncul 3 problem:
1.
Penyebab deformitas (infeksi, neoplasms, metabolik, dll)
2.
Deformitas sediri
3.
Akibat deformitas itu sendiri pada organ sekitamya:
a. Defisit neorologis : paraflegia dan tetraplegia.
b. Ganguan fungsi paru-paru pada skollosis

c. Gangguan tr. Urinarius.


Karena itu terapi diarahkan pada:
1. pengobatan terhadap penyabab deformitas.
2. koreksi dan rekonstruksi deformitas (fiksasi yang kuat)
3. rehabilitasi.
Tujuan koreksi:
Meningkatkan, memperbaiki atau mengembalikan anatominya
semaksimal mungkin dalam batas toleransi jaringan lunak disekitar
tulang belakang, terutama medula spinalis. Koreksi kadang-kadang tidak
perlu harus sampai 100%.

SMFPELAYANAN BEDAH
PENANGANAN NONOPERATIF DISLOKASI
BAHU AKUT
No. Dokumen :

RSUD S.K LERIK


KUPANG

No. Revisi

Jl. Timor Raya No. 134


Pasir Panjang
Kupang

Halaman

STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Disahkan oleh :
Direktur RSUD Kota
Kupang

dr. Marsiana Y. Halek


Pembina Tk.I(IV/b)
NIP. 19770712 2001 12 2
003

Pengertian

Pergeseran kaput humerus dari sendi glenohumeral,


berada di anterior dan medial glenoid (dislokasi
anterior), di posterior (dislokasi posterior), dan di
bawah glenoid (dislokasi inferior)

Kebijakan
Ruang lingkup

Nyeri hebat dan gangguan pergerakan sendi bahu,


pergeseran kaput humerus. Pada pemeriksaan
radiologis tampak kaput humerus terlihat berada di
depan dan medial flenoid

Indikasi

Dislokasi bahu yang tidak berhasil direduksi secara


tertutup dan dislokasi yang sudah neglected lebih
dari 2 minggu

Kontraindikasi

Berhubung dengan kondisi medis/cedera penyerta yang tidak


memungkinkan dilakukan tindakan pembiusan

Diagnosis Banding

Pemeriksaan Penunjang

1.
2.
3.
4.

dislokasi akromioklavikula
fraktur klavikula
firaktur kolumna humeri
traktur humerus proksimal

Rontgen foto (X-ray)

Alogaritma

Tehnik /Operasi:

DISLOKASI ANTERIOR
Dislokasi preglenoid subkorakoid, subklavikuler
Mekanisme trauma:
Paling sering ditemukan, jatuh dalam keadaan out stretched,
trauma pada scapula gambaran klinis nyeri hebat dengan
gangguan pergerakan bahu, kontur sendi bahu jadi rata, kaput
humerus bergeser ke depan pemeriksaan radiologist:
Kaput humerus terlihat di depan dan medial glenoid
Pengobatan:
1. dengan bius umum
Metode hipocrates: dibaringkan, tank anggota gerak,
tekan kaput humeri
Metode kocher: dilakukan tahap-tahap reposisi kocher
2. tanpa pembiusan
Tehnik menggantung lengan

DISLOKASI POSTERIOR
Mekanisme trauma
Jarang ditemukan, trauma langsung pada sendi bahu
dalam keadaan rotasi interna
Gambaran klinis
Nyeri, benjolan dibagian belakang sendi pemeriksaan radiologis
Khas: light bulb karena rotasi internal humerus
Pengobatan
Reduksi dengan menarik lengan, rotasi interna, Imobilisasi 3-6
minggu
DISLOKASI INFERIOR
Kaput humerus terjepit di bawah glenoid, dengan lengan arah
ke atas pengobatan dilakukan reposisi tertutup seperti dislokasi
anterior, jika gagal dilakukan reposisi terbuka dengan operasi
DISLOKASI DENGAN FRAKTUR
Biasanya adalah dislokasi tipe anterior dengan fraktur
Pent-,obatan
Dilakukan reposisi path dislokasi maka fraktur akan tereposisi
dan kembali melekat pada humerus
Komplikasi

Kerusakan nervus aksilaris


Kerusakan pernbuiLlh darah
Tidak dapat tereposisi
Kaku sendi
Dislokasi rekuren, dilakukan tindakan operasi Putti-platt, Bristow dan
bankart

Mortalitas

Tidak ada

Perawatan Pasca Bedah

Imobilisasi dengan verban Velpeau atau collar cuff selama 3


minggu
Pengawasan posisi ekstremitas atas dalam posisi fleksi, adduksi dan
internal rotasi untuk dislokasi bahu anterior dan ekstensi, abduksi,
dan eksternal rotasi untuk yang tipe posterior. Daerah lipatan aksilla
harus diperhatikan terjadinya mycosis, dan kondisi yang lembab
harus dihindarkan dan diatasi. Latihan isometrik segera dilakukan
dan latihan isotonik setelah 3 minggu.

Follow up

SMFPELAYANAN BEDAH
PENANGANAN NONOPERATIF DISLOKASI
PANGGUL AKUT
No. Dokumen :

RSUD S.K LERIK


KUPANG
Jl. Timor Raya No. 134
Pasir Panjang

No. Revisi

Disahkan oleh :
Direktur RSUD Kota
Kupang

Kupang

Halaman

dr. Marsiana Y. Halek


Pembina Tk.I(IV/b)
NIP. 19770712 2001 12 2
003

STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Pengertian

Bergesernya caput femur dari sendi panggul, berada


di posterior dan atas acetabulum (dislokasi posterior),
di anterior acetabulum (dislokasi anterior), dan caput
femur menembus acetabulum (dislokasi sentra)

Kebijakan
Ruang lingkup
Indikasi

Terapi non-operatif dislokasi panggul anterior,


posterior dan sentral.
1. gagal reposisi tertutup
2. kedudukan caput femur tidak stabil
1. terjadi fraktur koolum femoris
3. adanya lesi N. Ischiadikus

Kontraindikasi

Tidak ada

Diagnosis Banding

1. fraktur acetabulum
2. fraktur collum femur

Pemeriksaan Penunjang

X-ray dan CT-scan

Alogaritma

Tehnik Reduksi

Klasifikasi
1. Dislokasi posterior
2. Dislokasi anterior
3. Dislokasi sentral
Patofisiologi
Dislokasi posterior
Dislokasi posterior terjadi patah trauma saat panggul fleksi dan
adduksi. Arah trauma dan lutut ditransmisikan sepanjang batang
femur dan mendorong caput femur ke belakang (Dashboard injury)
atau jatuh dengan posisi kaki fleksi dan lutut tertumpu
Dislokasi anterior

Dislokasi anterior ter adi pada trauma jika tungkai terkangkang,


lutut lurus, punggung bongkok arah ke depan dan ada puntiranke
balakang.
Dislokasi sentral
Dislokasi sentral terjadi kalau trauma datang dan arah samping
sehingga trauma ditransmisikan lewat trokanter mayor mendesak
terjadi fraktur acetabulum sehingga caput femors masuk ke rongga
pelvis.
Gejala Minis
Dislokasi posterior
1. Sendi panggul dalam posisi fleksi, adduksi dan internal rotasi
2. Tungkai tampak lebih pendek
3. Teraba caput femur pada panggul
Dislokasi anterior
1. Sendi panggul dalam posisi eksorotasi, ekstensi dan
abduksi
2. Tak ada pemendekan tungkai
3. Benjolan di depan daerah inguinal dimana kaput femur
dapat diraba dengan mudah
4. Sendi panggul sulit digerakkan
Dislokasi Sentral
1. Posisi panggul tampak normal, hanya sedikit lecet di bagian
lateral
2. Gerakan sendi panggul terbatas
Pemeriksaan Penunjang

Dislokasi posterior
Caput femur berada di luar
dan di atas acetabulum
Femur adduksi dan internal
rotasi
Dislokasi anterior
Caput femur terlihat di depan acetabulum
Dislokasi sentral
Terlihat pergeseran dan caput femur menembus panggul
Pengobatan
Dislokasi posterior
Dislokasi harus direposisi secepatnya dengan pembiusan
umum dengan disertai relaksasi yang cukup.
Penderita dibaringkan di 1antai dan pembantu menahan
panggul. Sendi panggul difleksikan 90 dan kemudian
dilakukan tarikan pada pada secara vertikal
Sesudah reposisi dilakukan traksi kulit 3-4 minggu disertai
exercise Weight bearing dilakukan minimal sesudah 12
minggu.
Dislokasi anterior
Dilakukan reposisi seperti dislokasi posterior, kecuali pada
saat fleksi dan tarikan pada dislokasi posterior dilakukan
adduksi pada dislokasi anterior
Dislokasi sentral
Dilakukan reposisi dengan skietal traksi sehingga self
reposisi pada fraktur acetabulum tanpa penonjolan kaput

femur ke dalam panggul dilakukan terapi konservatif


dengan traksi tulang 4-6 minggu
Komplikasi

Komplikasi dini
1. Kelumpuhan N.ischiadikus
Biasa terjadi pada dislokasi posterior karena internal rotasi yang
hebat atau tekanan langsung oleh fragmen fraktur acetabulum.
2. Kerusakan pembuluh darah (A.Glutea superior)
Biasanya terjadi pada dislokasi anterior
1. Kerusakan kaput femur
Komplikasi lanjut
1. Nekrosis avaskular
2. Miositis ossifikans
3. Rekurent dislokasi
4. Osteoarthritis

Mortalitas

Tidak ada

Perawatan Pasca Bedah

Pasien tirah baring dan diimobilisasi dengan skin traksi selama 2


minggu, kemudian mobilisasi non weight bearing selama 3 bulan
atau tirah baring hingga nyeri sendi panggul menghilang, kemudian
segera mobilisasi partial weight bearing.

SMFPELAYANAN BEDAH
AMPUTASI
EKSTRIMITAS
No. Dokumen :

RSUD S.K LERIK


KUPANG

No. Revisi

Disahkan oleh :
Direktur RSUD Kota
Kupang

Jl. Timor Raya No. 134


Pasir Panjang
Kupang

Halaman

:
dr. Marsiana Y. Halek
Pembina Tk.I(IV/b)
NIP. 19770712 2001 12 2
003

STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Pengertian

a. Prinsip dasar amputasi


Dengan kemajuan dibidang prostesis maka pemilihan
tempat
amputasi
dengan
tujuan
untuk
mempertahankan ekstremitas sedistal mungkin tidak
sepenuhnya benar. Hal ini berlaku pada amputasi
ekstremitas superior. Aturan yang menyatakan untuk
mempretahankan ekstremitas sedistal mungkin tidak
dapat diterapkan pada amputasi ekstremitas inferior.
Meskipun begitu sedapat mungkin lutut harus
diselamatkan, karena lutut sangat berguna secara
fungsional. Masalah weight bearing dan menyisakan
soft
tissue
untuk
menutupi
stump
sangat
mempengaruhi pemilihan tempat amputasi pada
ekstremias inferior. Pada amputasi below knee stump
yang terlalu panjang tidak disarankan karena akan
mempersulit penggunaan prostesa. Batas anterior
tibia harus di bevel dan harus tersedia soft tissue
yang cukup untuk menutupinya dengan cara
membuat flap diposterior lebih panjang. Amputasi
setinggi pergelangan kaki mempunyai indikasi yang
cukup jarang, umumnya pada trauma. Amputasi
Syme bermanfaat untuk end weight bearing
prosthesis. Untuk amputasi telapak kaki kesepakatan
umum yang dipakai adalah trans metatarsal (level
amputasi lihat gambar skematis).

Kebijakan
Ruang lingkup
Indikasi

Trauma
Dead limb karena ganggan suplai vaskuler
Malignant neoplasma
Osteomyelitis kronis
Infeksi yang mengancam nyawa
Deformitas tungkai kongenital yang inoperable

Kontraindikasi

keadaan umum yang jelek

Tehnik /Operasi:

Penatalaksanaan Amputasi Ekstremitas


Anesthesia
Anestesia spinal umum digunakan untuk amputasi ekstremitas
bawah, anstesia umum untuk amputasi ekstremitas atas. Bisa juga
digunakan anestesia blok leksus. Untuk amputasi jari bisa
digunakan infiltrasi lokal anestesia.

Teknik operasi
Amputasi atas-lutut
Tempat terbaik untuk membagi femur adalah 8-10 cm ( selebar satu
tangan). Gunakan spidol kulit untuk merencanakan insisi, yang
harus membuat flap anterior maupun flap posterior memiliki
panjang sama atau yang anterior sedikit lebih panjang. Bagi kulit
dan jaringan subkutan sepanjang garis yang direncanakan.
Hemostasis biasanya tidak sukar pada anggota gerak yang iskemik
namun bisa terjadi perdarahan hebat pada anggota gerak yang
septik. Ikat semua vena dengan menggunakan jarum serap 2/0.
Perdalam insisi anterior sampai tulang, sambil memotong tendon
quadriceps femoris. Vasa femoralis bersama-sama nervus poplitea
media dan lateral dijumpai pada posisi posteromedial. Ikat rangkap
pembuluh darah dengan benang serap. Sebelum memotong saraf,
beri tegangan pada saraf sehingga saraf tertarik ke dalam puntung
pada amputasi. Jika amputasi dilakukan pada tingkat yang lebih
tinggi, nervus sciaticus bisa dijumpai. Nervus sciaticus diikuti oleh
arteri yang harus didiseksi secara terpisah dan diikat sebelum saraf
dipotong. Setelah memotong semua otot di sekeliling femur, ikat
pembuluh yang tinggal dan hindari pemakaian diatermi. Periksa
titik amputasi yang tepat dari femur dan kerok periosteum dari
tulang di daerah ini. Otot-otot paha harus diretraksi ke arah
proksimal untuk memberikan cukup ruang dalam menggunakan
gergaji. Ini bisa dilakukan dengan bantuan beberapa pembalut
abdomen atau retraktor khusus. Setelah memotong femur dan
melepas tungkai bawah, tempatkan handuk bersih di bawah
puntung dan istirahatkan puntung pada mangkok yang dibalik.
Gunakan kikir untuk menghaluskan pinggir femur, kemudian bawa
otot-otot depan dan belakang bersamaan menutup tulang dengan
jahitan terputus benang serap ukuran 1. Pasang suction drain Insisi
kulit Titik pemotongan tulang di bawah lapisan otot. Tempatkan
jahitan lapis kedua yang lebih superfisial dalam otot dan jaringan
subkutan karena ini akan membantu mendekatkan flap kulit. Jahit
pinggir kulit dengan beberapa jahitan putus dengan benang non
serap 2/0. Hindari memetik pinggir kulit dengan forsep bergigi.
Tutup puntung dengan kasa dan kapas dan balut dengan crepe
bandage.
Amputasi bawah-lutut
Titik optimum untuk amputasi adalah 14 cm dari tibial plateau,
fibula dipotong 2 cm proksimal dari ini. Beri tanda insisi, dengan
flap anterior berakhir tepat distal dari garis pemotongan tulang pada
tibia dan flap posterior meluas ke bawah sampai tendon Achilles.
Buat insisi sepanjang garis yang telah diberi tanda. Di posterior
potong tendon Achilles dan perdalam insisi untuk memotong sisa
otot dan tendon sampai tulang. Potong otot ke dalam sampai

Komplikasi

melintasi bagian depan. Fibula dipotong miring dengan gergaji


Gigli, kemudian belah tibia 2 cm distal dari ini. Bersihkan otot dari
tulang dengan elevator periosteum. Potong bevel anterior pertama
kali dengan gergaji diagonal kemudian potong tegak lurus tibia.
Bentuk sudut pada ujung bawah tibia ke arah atas dan pisahkan
massa otot dari aspek posteriornya. Ikat rangkap semua pembuluh
darah dan potong setiap saraf yang tegang. Lepas tungkai bagian
distal. Flap posterior ditarik ke atas membungkus puntung tulang
dan dijahit ke flap anterior. Flap posterior mungkin perlu dikurangi
dengan eksisi jaringan otot. Tempatkan benang serap di antara otot
di bagian posterior dan jaringan subkutan di anterior dan
meninggalkan suction drain di bawah otot. Satukan pinggir kulit
dengan jahitan putus benang non-serap 2/0. Pangkas sudut-sudut
flap posterior jika perlu agar bentuknya rapi. Tutup puntung dengan
katun dan balut ketat dengan crepe bandage.
Perdarahan
Infeksi

Mortalitas

Tergantung etiologinya

Perawatan Pasca Bedah

Perawatan luka pada umumnya


Rehabilitasi dengan pembuatan prostesis yang sesuai

SMFPELAYANAN BEDAH

RSUD S.K LERIK


KUPANG
Jl. Timor Raya No. 134
Pasir Panjang
Kupang

STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR ( SOP )

PENANGANAN
KONSERVATIF &
OPERATIF FRAKTUR
KLAVIKULA 1/3
TENGAH

Disahkan oleh :
Direktur RSUD Kota
Kupang

No. Dokumen :
No. Revisi

Halaman
:
Tahun Terbit : 2016

dr. Marsiana Y. Halek


Pembina Tk.I(IV/b)
NIP. 19770712 2001 12 2
003

Pengertian

Klasifikasi fraktur klavikula


1. Fraktur mid klavikula ( Fraktur 1/3 tengah klavikula)
paling banyak ditemui
terjadi medial ligament korako-klavikula
( antara medial dan 1/3 lateral)
mekanisme trauma berupa trauma langsung
atau tak langsung ( dari lateral bahu)
2. Fraktur 1/3 lateral klavikula
fraktur klavikula lateral dan ligament korakokiavikula, yang dapat dibagi:
type 1: undisplaced jika ligament intak
type 2 displaced jika ligamen korakokiavikula rupture.
type 3 : fraktur yang mengenai sendi
akromioklavikularis.
Mekanisme trauma pada type 3 biasanya
karena kompresi dari bahu.
3. Fraktur 1/3 medial klavikula
Insiden jarang, hanya 5% dan seluruh fraktur
klavikula.
Mekanisme trauma dapat berupa trauma
langsung dan trauma tak langsung pada
bagian lateral bahu yang dapat menekan
klavikula ke sternum . Jatuh dengan tangan
terkadang dalam posisi abduksi.
Pemeriksaan Klinis
Fraktur klavikula sering terjadi pada anak-anak.
Biasanya penderita datang dengan keluhan jatuh dan
tempat tidur atau trauma lain dan menangis saat
menggerakkan lengan. Kadangkala penderita datang
dengan pembengkakan pada daerah klavikula yang
terjadi beberapa hari setelah trauma dan kadangkadang fragmen yang tajam mengancam kulit.
Ditemukan adanya nyeri tekan pada daerah klavikula.
Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan rontgen anteroposterior dan klavikula
biasanya dapat membantu menegakkan diagnosis
dan fraktur. Fraktur biasanya terjadi pada 1/3 tengah
dan fragmen luar terletak dibawah fragmen dalam.
Fraktur pada 1/3 lateral klavikula dapat terlewat atau
tingkat pergeseran salah dikira kecil, kecuali kalau
diperoleh foto tambahan pada bahu.

Kebijakan
Ruang lingkup

Indikasi

Fraktur terbuka.
Fraktur dengan gangguan vaskularisasi
Fraktur dengan scapulothorcic dissociation
(floating shoulder)
Fraktur dengan displaced glenoid neck fraktur

Kontraindikasi

Diagnosis Banding

Alogaritma

Patofisiologi
Pada fraktur sepertiga tengah klavikula otot stemokleidomastoideus
akan menarik fragmen ragmen medial keatas sedangkan beban
lengannya akan menarik fragmen lateral ke bawah. Jika fraktur
terdapat pada ligament korako-klavikula maka ujung medial
klavikula sedikit bergeser karena ditahan ligament ini.
Fraktur yang terjadi kearah medial terhadap fragment maka ujung
luar mungkin tampak bergeser kearah belakang dan atas, sehingg
membentuk benjolan dibawah kulit.
Tehnik /Operasi:

Penatalaksanaan Fraktur Klavikula


1. Fraktur 1/3 tengah
Undisplaced fraktur dan minimal displaced fraktur
diterapi dengan menggunakan sling, yang dapat
mengurangi nyeri.
Displaced fraktur fraktur dengan gangguan kosmetik
diterapi dengan menggunakan commersial strap yang
berbentuk angka 8, untuk menarik bahu sehingga dapat
mempertahankan alignment dan fraktur. Strap harus
dijaga supaya tidak terlalu ketat karena dapat
mengganggu sirkulasi dan persyarafan. Suatu bantal
dapat diletakkan di antara scapula untuk menjaga tarikan
dan kenyamanan. Jika commersial strap tidak dapat
digunakan balutan dapat dibuat dari tubular stockinet,
ini biasanya digunakan untuk anak yang berusia <10
tahun.
Pemakaian strap yang baik:
1. menarik kedua bahu, melawan tekanan dipusat, dan daerah

Komplikasi

interscapula selama penarikan fraktur.


2. tidak menutupi aksila, untik kenyamanan dan hygiene.
3. menggunakan bantalan yang bagus.
4. tidak mengganggu sirkulasi dan persyarafan kedua lengan.
Plating Clavikula
Gunakan insisi sesuai garis Langer untuk mengekspos
permukaan superior clavikula. Hindari flap kulit
undermining dan kerusakan saraf supraklavikula. Hindari
juga diseksi subperiosteal pada fracture site.
Lakukan reduksi fragmen fraktur jika memungkinkan
pasang lag screw melintasi fraktur. Plate diletakkan di sisi
superior clavikula dengan 3 screw pada masing-masing
sisi fraktur untuk mencapai fiksasi yang solid.
Jika diperlukan diletakan subkutaneus drain, luka operasi
ditutup dengan jahitan subcuticular.
2. Fraktur lateral
Undisplaced fraktur dapat diterapi dengan sling.
Displaced fraktur dapat diterapi dengan sling atau dengan open
reduction dan internal fiksasi. Jika pergeseran lebih dan setengah
diameter klavikula harus direduksi dan internal fiksasi. Bila
dibiarkan tanpa terapi akan terjadi deformitas dan dalam beberapa
kasus rasa tidak enak dan kelemahan pada bahu karena itu terapi
diindikasikan melalui insisi supraklavikular, fragmen diaposisi dan
dipertahankan dengan pen yang halus, yang menembus kearah
lateral melalui fragmen sebelah luar dan akromion dan kemudian
kembali ke batang klavikula. Lengan ditahan dengan kain
gendongan selama 6 minggu dan sesudah itu dianjurkan melakukan
pergerakan penuh.
Komplikasi dini
kerusakan pada pembuluh darah atau saraf ( jarang terjadi)
Komplikasi lanjut
non-union
jarang terjadi
dapat diterapi dengan fiksasi interna dan
pencangkokan tulang yang aman.
mal-union
meninggalkan suatu benjolan, yang biasanya
hilang pada waktunya.
untuk memperoleh basil kosmetik yang baik
dan cepat dapat menjalani terapi yang lebih
drastis yaitu fraktur direduksi dibawah
anastesi dan dipertahankan reduksinya
dengan
menggunakan
gips
yang
mengelilingi dada ( wirass)
kekakuan bahu
sering ditemukan, hanya sementara, akibat
rasa takut untuk menggerakkan fraktur. Jari
juga akan kaku dan membutuhkan waktu
berbulan-bulan untuk memperoleh kembali
gerakan, kecuali kalau dilatih.

Mortalitas

Pada umumnya kecil

Perawatan Pasca Bedah

Rehabilitasi
Commersial strap yang berbentuk angka 8, harus di
follow up apakah sudah cukup kencang. Strap ini harus
dikencangkan secara teratur. Anak anak <10 tahun
menggunakan strap atau splint selama 3-4 minggu
sampai bebas nyeri, sedangkan orang dewasa biasanya
membutuhkan waktu 4-6 minggu.
Pasien dianjurkan untuk melakukan pergerakan seperti
biasa begitu nyeri berkurang (strap/splint/sling sudah
dilepas).

SMFPELAYANAN BEDAH
PENANGANAN
KONSERVATIF &
OPERATIF FRAKTUR
HUMERUS 1/3 TENGAH

RSUD S.K LERIK


KUPANG
Jl. Timor Raya No. 134
Pasir Panjang
Kupang

STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR ( SOP )

Disahkan oleh :
Direktur RSUD Kota
Kupang

No. Dokumen :
No. Revisi

Halaman
:
Tahun Terbit : 2016

dr. Marsiana Y. Halek


Pembina Tk.I(IV/b)
NIP. 19770712 2001 12 2
003

Pengertian

Diskontinuitas yang terjadi pada diafisis shaft tulang


humerus karena rudapaksa / trauma
Klasifikasi fraktur humerus
1. Fraktur proksimal humerus
- One
part
fractures
(minimally displaced)
- Two part fractures
Fraktur
tuberositas
minor
Fraktur
tuberositas
mayor
Surgical
neck
fracture
- Three part fractures ( caput
humeri, shaft humeri dan
salah satu dari tuberositas)
- Four part fractures
- Fraktur dislokasi
- Head splitting and articular
impression fractures
2. Fraktur Shaft Humerus ( 1/3 tengah )
- Tipe
A
(
simple/non
cominuted )
- Tipe B ( Butterfly fractures )
- Tipe
C
(
comminuted
fractures )
3. Fraktur Distal Humerus ( Kondilus Humeri )
- T or Y fracture
- Sideswipe fracture
- Comminuted fracture of the
articular surface
- Anterior shearing fracture of
capitulum

Kebijakan
Ruang lingkup

Penanganan Fraktur Humerus


Fraktur proksimal humerus
- Reduksi tertutup, jika fraktur stabil ( one part
fractures )
- ORIF atau pemakaian prostese jika fraktur tidak
stabil
Fraktur shaft Humerus
- Reduksi tertutup
Hanging arm cast
Shoulder spica cast
Velpeau dressing
Coaptatioin splint
Functional brace

- Operatif

Plate Osteosintesis
Rigid Intramedullary Nail Fixation
Flexible Intramedullary Nail
Fixation
Fiksasi eksternal
Fraktur distal humerus
Reduksi tertutup pada fraktur distal humerus
tidak memberikan hasil yang memuaskan. Terapi
operatif merupakan pilihan utama sebaiknya kasus ini
dirujuk.

Kontraindikasi

Fraktur segmental
Multipel trauma
Fraktur terbuka
Trauma vaskuler
Fraktur shaft humeri bilateral
Floating elbow injury
Fraktur patologis
Reduksi tertutup yang sukar dipertahankan
Radial nerve palsy setelah reduksi tertutup
Pada penderita Parkinson
Lesi plexus brachial ipsilateral
Keadaan Umumnya jelek

Diagnosis Banding

Tidak ada

Indikasi

Pemeriksaan Penunjang

X-Ray, dengan 2 atau 3 proyeksi


CT-Scan

Alogaritma

Tehnik /Operasi:

Eksposur dapat menggunakan cara anterolateral atau midline


posterior untuk fraktur 1/3 distal shaft humerus. Gunakan insisi
yang baik, hindari retraksi soft tissue yang berlebihan dengan cara
diseksi soft tissue yang seksama dan teknik bone handling yang
baik. Identifikasi dan lindungi nervus radialis. Plate dapat

ditempatkan di permukaan posterior atau anterolateral tulang.


Reduksi fraktur sebaik mungkin dan gunakan lag screw untuk
kompresi interfragmental jika memungkinkan ( pada fraktur oblique
atau spiral). Kemudian letakkan plate yang sesuai pada sisi
kompresi jika memungkinkan. Minimal gunakan 6 screw pada
fragmen utama, beberapa penulis merekomendasikan 8 sampai 10
screw. Padan fraktur transversal dan oblique yang pendek
compression plate sangat bermanfaat.
Komplikasi

Mortalitas

Umumnya rendah

Perawatan Pasca Bedah

Nonunion
Malunion
Avascular nekrosis ( fraktur pada caput humerus )
Arthrodesis
Osteomyelitis ( pada fraktur terbuka )
Trauma vaskuler
Lesi N.radialis

Perawatan luka operasi pada umumnya


Pasien diinstruksikan untuk mulai latihan ROM ringan
beberapa hari setelah operasi dengan penekanan untuk
menggerakkan jari-jari, pergelangan tangan dan siku
untuk mencegah kekakuan sendi. Tambahkan latihan
gerakan pendulum pada sendi bahu sesegera mungkin
dimulai minggu-minggu awal post operatif.
Disarankan pasien untuk memakai sling sampai fungsi
otot kembali secara penuh.
Latihan keras dihindari sampai 12 minggu atau sampai fraktur
sembuh

SMFPELAYANAN BEDAH
FRAKTUR RADIUS
ULNA 1/3 TENGAH
No. Dokumen :

RSUD S.K LERIK


KUPANG
Jl. Timor Raya No. 134
Pasir Panjang
Kupang

STANDAR

No. Revisi

Halaman

Tahun Terbit : 2016

Disahkan oleh :
Direktur RSUD Kota
Kupang

dr. Marsiana Y. Halek


Pembina Tk.I(IV/b)

OPERASIONAL
PROSEDUR ( SOP )
Pengertian

NIP. 19770712 2001 12 2


003
Fraktur yang mengenai tulang radius ulna karena rudapaksa
termasuk fraktur dislikasi proximal atau distal radioulnar joint (
Fr.Dislokasi Galeazzi dan Montegia )
Fraktur Galeazzi : adalah fraktur radius distal disertai
dislokasi atau subluksasi sendi radioulnar distal.
Fraktur Monteggia: adalah fraktur ulna sepertiga
proksimal disertai dislokasi ke anterior dari kapitulum
radius
Klasifikasi Bado:
Fraktur 1/3 tengah / proksimal ulna dengan
angulasi anterior disertai dislokasi anterior
kaput radius
Fraktur 1/3 tengah / proksimal ulna dengan
angulasi posterior disertai dislokasi posterior
kaput radii dan fraktur kaput radii
Fraktur ulna distal processus coracoideus
dengan dislokasi lateral kaput radii
Fraktur ulna 1/3 tengah / proksimal ulna dengan
dislokasi anterior kaput radii dan fraktur 1/3
proksimal radii di bawah kiberositas bicipitalis

Kebijakan
Ruang lingkup

Pemeriksaan Klinis

Fraktur dial-isis radius dan ulna


Fraktur-dislokasi Galea771
Fraktur-dislokasi Monteggia.
Patofisiologis
Mekamsme trauma pada antebrachii yang paling
sering adalah jatuh dengan outstreched hand atau
trauma langsung. Gaya twisting menghasilkan fraktur spiral pada level tulang yang berbeda.Trauma
langsung atau gaga angulasi menyebabkan fraktur
transversal pada level tulang van,, sama.Bila salah
sate tulang antebrachii mengalami frakfur dan
mengiami angulasi, maka tulang tersebut menjadi
lebih pendek terhadap tulang alinnya. Bila perlekatan
dengan wrist jomt'dan humerus intak, tulang van( ,
lain akan -nengalami dislokasi (frakturdislokasi
GalcaVzi/Monteggia)
Penierikswin Kiinis
Fraktur radius ulna
Deformitas di daerah yang fraktur:
angulasi, rotasi (pronasi atau supinasi)
atau shorthening
Nyeri
Bengkak

Pemeriksaan fisik harus meliputi evaluasi


neurovascular dan pemeriksaan elbow
dan wrist. Dan evaluasi kemungkinan
adanya sindrom kompartemen

Fraktur sepertiga distal radius dengan dislokasi radioulnar Joint distal.F


angulasi ke dorsal. Pada pergelangan tangan dapat diraba tonjolan Uju
ulna. Fraktur dislokasi Galeazzi terjadi akibat trauma langsung pada wr
khususnya pada aspek dorsolateral atau akibat jatuh dengan outstrech
pronasi forearm. Pasien dengan nyeri pada wrist atau midline forearm
diperberat oleh penekanan pada distal radioulnar joint

: Fraktur setengan proksimal ulna dengan dislokasi radioulnar joint pro


dengan fraktur-dislokasi Monteggia datang dengan siku yang bengkak,
serta terbatasnya ROM karena nyeri khususnya supinasi dan pronasi. K
bisanya dapat di palpasi.Harus dilakukan pemeriksaan neurovascular d
oleh karena Bering terjadi cedera saraf periper n radialis atau PIN.

Klasifikasi Fraktur dislokasi Monteggia menurut Bado:


1. Fraktur 1/3 tengah / proksimal ulna dengan
angulasi anterior disertai dislokasi anterior
kaput radius
2. Fraktur 1/3 tengah / proksimal ulna dengan
angulasi posterior disertai dislokasi
3. posterior kaput radii dan fraktur kaput radii
4. Fraktur ulna distal processes coracoideus
dengan dislokasi lateral kaput radio
5. Fraktur ulna 1/3 tengah / proksimal ulna
dengan dislokasi anterior kaput radii dan
fraktur 1/3 proksimal radii di bawah
kiberositas bicipitalis
Kontraindikasi

Keadaan umum jelek

Diagnosis Banding

Tidak ada

Pemeriksaan Penunjang

X Ray dengan dua proyeksi

Alogaritma

Tehnik /Operasi:

Komplikasi

Metode Penanganan Konservatif


Prinsipnya dengan melakukan traksi ke distal dan kembalikan posisi
tangan berubah akibat rotasi
Posisi tangan dalam arah benar dilihat letak gans patahnya
1/3 proksinal posisi fragmen proksimal dalam
supinasi untuk dapat kesegarisan fragmen distal
supinasi
1/3 tengah posisi radius netral maka posisi distal
netral
1/3 distal radius pronasi maka posisi seluruh lengan
pronasi, setelah itu dilakukan immobilisasi dengan
gips atas siku
Metode Penanganan Operatif
Empat eksposur dasar yang direkomendasikan
1. Straight ulnar approach untuk fraktur shaft ulna
2. Volar antecubital approach untuk fraktur radius
proximal
3. Dorsolateral approach untuk fraktur shaft radius,
mulai dari kapitulum radius sampai distal shaft
radius
4. Palmar approach untuk fraktur radius 1/3 distal
Posisikan pasien terlentang pada meja operasi.
Meja hand sangat membantu untuk memudahkan
operasi. Tourniquet dapat digunakan kecuali bila
didapatkan lesi vaskuler.
Ekspos tulang yang mengalami fraktur sesuai
empat prinsip diatas.
Reposisi fragmen fraktur seoptimal mungkin
Letakkan plate idealnya pada sisi tension yaitu
pada permukaan dorsolateral pada radius, dan sisi
dorsal pada ulna. Pada 1/3 distal radius plate
sebaiknya diletakkan pada sisi volar untuk
menghindari tuberculum Lister dan tendon-tendon
ekstensor.
Pasang drain, luka operasi ditutup lapis demi lapis

Malunion
Kompartemen sindrom
Cross union
Atropi sudeck

Mortalitas
Perawatan Pasca Bedah

Trauma N. Medianus
Rupture tendo ekstensor sendi pergelangan tangan,
pronasi, supinasi, fleksi palmar, pergerakan serta
ekstensi

pada umumnya rendah

Follow up

Perawatan luka operasi pada umumnya


Drain dilepas 24-48 jam post operatif atau sesuai
dengan produksinya
Elevasi lengan 10 cm di atas jantung
Mulai latihan ROM aktif dan pasif dari jari-jari,
pergelangan tangan, siku sesegera mungkin setelah
operasi
Fisioterapi aktif ROM tangan, pergelangan dan siku
Buat X Ray kontrol 6 minggu dan 3 bulan
sesudahnya
Penyembuhan biasanya setelah 16-24 minggu,
selama ini hindari olah raga kontak dan
mengangkat beban lebih dari 2 kilogram

SMFPELAYANAN BEDAH
FRAKTUR FEMUR
1/3/ TENGAH

Disahkan oleh :

Direktur RSUD Kota


Kupang

No. Dokumen :

RSUD
S.K LERIK KUPANG
Jl. Timor Raya No. 134
Pasir Panjang
Kupang

No. Revisi

Halaman

:
dr. Marsiana Y. Halek
Pembina Tk.I(IV/b)
NIP. 19770712 2001 12 2
003

STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Pengertian

Fraktur (fraktur) yang terjadi pada tulang femur.


Mekanisme trauma yang berkaitan dengan terjadinya
fraktur pada femur antara lain : (I) pada jenis Femoral
Neck fraktur karena kecelakaan lalu lintas, jatuh pada
tempat yang tidak tinggi, terpeleset di kamar mandi
dimana panggul dalam keadaan fleksi dan rotasi.
Sering terjadi pada usia 60 tahun ke atas, biasanya
tulang bersifat osteoporotik, pada pasien awal
menopause, alkoholism, merokok, berat badan
rendah, terapi steroid, phenytoin, dan jarang
berolahraga, merupakan trauma high energy; (2)
Femoral Trochanteric fraktur karena trauma langsung
atau trauma yang bersifat memuntir; (3) Femoral
Shaft fraktur teijadi apabila pasien jatuh dalam posisi
kaki melekat pada dasar disertai putaran yang
diteruskan ke femur. Fraktur bisa bersifat transversal
atan oblik karena trauma langsung atau angulasi.
Fraktur patologis biasanya terjadi akibat metastase
tumor ganas. Bisa disertai perdarahan masif sehingga
berakibat syok

Kebijakan
Ruang lingkup

Fraktur tulang femur terdiri atas : Femoral Head


fraktur, Femoral Neck fraktur,
Intertrochanteric frakiur, Subtrochanteric fraktur,
Femoral Shaft fraktur,
Supracondylar/Intercondylar Femoral fraktur (Distal
Femoral fraktur)
Femoral Head fraktur
Berdasarkan klasifikasi Pipkin : (I) Tipe I : fraktur
dibawah fovea; (2) Tipe 2 fraktur diatas fovea; (3)
Tipe 3: tipe 1 atau tipe 2 ditambah fraktur femoral
neck; (4) Tipe 4: tipe I atau tipe 2 ditambah fraktur
acetabulum
Femoral Neck fraktur
Berdasarkan klasifikasi Pauwel : (I) Tipe I : sudut
inklinasi garis fraktur <30;

(2) Tipe 2 : sudut inklinasi garis fraktur 30-50; (3)


Tipe 3 : sudut inklinasi garis fraktur > 70
Berdasarkan klasiflkasi Garden (1) Garden 1: Fraktur
inkomplet atau tipe abduksi/ valgus atau impaksi; (2)
Garden 2 fraktur lengkap, tidak ada pergeseran; (3)
Garden 3 : fraktur lengkap, disertai pergeseran tapi
masih ada perlekatan atau inkomplet disertai
pergeseran tipe varus; (4) Garden 4: Fraktur lengkap
disertai pergeseran penuh
Trochanteric fraktur
Diklasifikasikan menjadi 4 tipe (1) Tipe 1: fraktur
melewati trokanter mayor dan minor tanpa
pergeseran; (2) fraktur melewati trokanter mayor
disertai pergeseran trokanter minor; (3) fraktur
disertai fraktur komunitif; (4) fraktur disertai fraktur
spiral
Femoral Shaft fraktur
Klasifikasi OTA : (1) Tipe A : Simple fraktur, antara lain
fraktur spiral, oblik, transversal; (2) Tipe B :
wedge/butterfly comminution fraktur; (3) Tipe C :
Segmental communition
Klasifikasi Winquist-Hansen : (1) Type 0 : no
communition; (2) Tipe 1: 25% butterfly; (3) Tipe 2 :
25-50% butterfly; (4) Tipe 3 : >50% communition; (5)
tipe segmental ; (6) Tipe 5 : segmental dengan bone
loss
Supracondylar/Intercondylar Femoral fraktur (Distal
Femoral fraktur)
Klasifikasi Neer, Grantham, Shelton (1) Tipe 1: fraktur
suprakondiler dan kondiler bentuk 1; (2) Tipe II A :
fraktur suprakondiler dan kondiler dengan sebagian
metafise (bentuk Y); Tipe II B : bagian metafise lebih
kecil; (3) fraktur suprakondiler komunitif dengan
fraktur kondiler tidak total
Untuk penegakkan diagnosis diperlukan diperlukan
pemeriksaan fisik. Pada fraktur tipe femoral neck dan
trochanteric, ditemukan pemendekkan dan rotasi
eksternal. Selain itu ditemukan nyeri dan bengkak.
Juga dinilai gangguan sensoris daerah jan I dan II,
juga pulsasi arteri distal. Untuk pemeriksaan
penunjang berupa foto roentgen posisi
anteroposterior dan lateral. Sedangkan pemeriksaan
laboratorium antara lain hemoglobin, leukosit,
trombosit, CT, BT.
Indikasi

Pada fraktur femur anak, dilakukan terapi


berdasarkan tingkatan usia. Pada anak usia baru lahir
hingga 2 tahun dilakukan pemasangan bryant traksi.
Sedangkan usia 2 sampal 5 tahun dilakukan
pemasangan thomas splint. Anak diperbolehkan

pulang dengan hemispica.


Pada anak usia 5 sampai 10 tahun ditatalaksana
dengan skin traksi dan pulang dengan hemispica
gips. Sedangkan usia 10 tahun ke atas ditatalaksana
dengan pemasangan intamedullary nails atau plate
dan screw.
Untuk fraktur femur dewasa, tipe Femoral Head,
prinsipnya adalah reduksi dulu dislokasi panggul.
Pipkin 1, II post reduksi diterapi dengan touch down
weight-bearing 4-6 minggu. Pipkin I, 11 dengan
peranjakan >1mm diterapi dengan ORIF. Pipkin 111
pada dewasa muda dengan ORIF, sedangkan pada
dewasa tua dengan endoprothesis. Pipkin IV diterapi
dengan cara yang sama pada fraktur acetabulum.
Tipe Femoral Neck, indikasi konservatif sangat
terbatas. Konservatif berupa pemasangan skin traksi
selama 12-16 minggu. Sedangkan operatif dilakukan
pemasangan pin, plate dan screw atau arthroplasti
(pada pasien usia >55 tahun), berupa eksisi
arthroplasti, hemiarthroplasti dan arthtroplasti total.
Fraktur Trochanteric yang tidak bergeser dilakukan
terapi konservatif dan yang bergeser dilakukan ORIF.
Penanganan konservatif dilakukan pada
supracondylar dan intercondylar, femur atau
proksimal tibia. Beban traksi 9 kg dan posisi lutut
turns selama 12 minggu. Sedangkan untuk
intercondylar, untuk terapi konservatif, beban traksi 6
kg, selama 12-14 minggu.
Fraktur Shaft femur bisa dilakukan ORIF dan terapi
konservatif. Terapi konsevatif hanya bersifat untuk
mengurangi spasme, reposisi dan immobilisasi.
Indikasi pada anak dan remaja, level fraktur terlalu
distal atau proksimal dan fraktur sangat kominutif.
Pada anak, Cast bracing dilakukan bila terjadi clinical
union.
Kontraindikasi

Pemeriksaan Penunjang

Alogaritma

Pada pasien dengan fraktur terbuka, diperlukan debridement hingga


cukup bersih untuk dilakukan pemasangan ORIF. Kontraindikasi
untuk traksi, adanya thromboplebitis dan pneumonia. Atau pada
pasien yang kondisi kesehatan tidak memungkinkan untuk operasie.
Foto roentgen, CT scan dan MRI. Jiku perlu dilakukan foto
perbandingan.

Tehnik /Operasi:

Pemasangan skeletal traksi


Pasien berbaring posisi supine, Mikulicz line,
dengan fleksi pada art genu.
- Prosedur aseptik/antiseptik
- Approach, pada distal femur linchi inferiot tubercie
abduktor. Pada proximal tibia 1 inchi inferior dan V
inchi inferior tubercle tibia Anestesi lokal dengan
lidokain 1 % . Anestesi disuntikkan hingga ke
periosteum.
- Insisi dengan pisau no.11. Approach dan bagian
medial untuk distal femur dan lateral untuk
proksimal tibia
- Wire diinsersikan dengan menggunakan hand drill,
untuk menghindari nekrosis tulang sekitar insersi
pm (bila menggunakan alat otomatis). Jenis wire
yang bisa digunakan disini adalah Kirschner wire
No.5
Pemasangan K-Nail (Kuntscher-Nail ) secara terbuka
pada fraktur femur 1/3 tengah
- Pasien tidur miring ke sisi sehat dengan fleksi sendi
panggul dan lutut
- Aprroach posterolateral dan trochanter mayor ke condylus
lateral sepanjang 15 cm di atas daerah fraktur
- Fascia lata dibelah dan m.vastus lateralis dibebaskan
secara tajam dan septum intermuskularis dan disisihkan
ke anterior
- Ligasi a/v perforantes
- Bebaskan periosteum untuk mencapai kedua fragmen
fraktur.
- Bebaskan kedua fragmen fraktur dari darah dan otot
- Ukur panjang K-nail. Pasang guide ke arab fragmen
proksimal dan Ietakkan di tengah, dengan posisi fleksi
dan adduksi sendi panggul. Bagian kulit yang tertembus
dibuat sayatan.
- K-nail dipasang dengan guide menghadap posteromedial
- Ujung proksimal K-nail dibenamkan 1-2 cm di atas
tulang, jika terdapat rotational instability, ben anti rotation
bar, atau pakai cerelage wiring atau atau ganti K-nail
- Pemasangan K-nail sebaiknya setelah 7-14 hari pasca
trauma. Cara lain pemasangan K- nail dengan bantuan
fluoroscopy.
Plating pada fraktur fmur 1/3 tengah
- Pasien tidur miring ke sisi sehat dengan fleksi sendi
panggul dan lutut
- Aprroach posterolateral dan trochanter mayor ke condylus
lateral sepanjang 15 cm di atas daerah fraktur
- Fascia lata dibelah dan m.vastus lateralis dibebaskan
-

Komplikasi

Mortalitas
Perawatan Pasca Bedah

secara tajam dan septum intermuskularis dan disisihkan


ke anterior
Ligasi a/v perforantes
Bebaskan periosteum untuk mencapai kedua fragmen
fraktur.
Bebaskan kedua fragmen fraktur dari darah dan otot
Reduksi fragmen fraktur
Pemasangan plate (Broad Plate) pada permukaan anterior
atau lateral dengan memakai 8 screw pada masing-masing
fragmen fraktur.

Komplikasi pada fraktur femur, termasuk yang diterapi secara


konservatif antara lain, bersifat segera: syok, fat embolism,
neurovascular injury seperti injury nervus pudendus, nervus
peroneus, thromboembolism, volkmann ischemic dan infeksi.
Komplikasi lambat: delayed union, non union, decubitus ulcer, ISK
dan joint stiffhess. Pada pemasangan K- nail adventitious bursa, jika
fiksasi terlalu panjang dan fiksasi tidak rigid jika terlalu pendek
Mortitas berkaitan dengan adanya syok dan embolisme.
Pasien dengan pernasangan traksi, rawat di ruangan dengan fasilitas
ortopedi. Sedangkan pada pasien dengan pemasangan OR1F, rawat
di ruangan pemulihan, cek hemoglobin pasca operasi.

SMFPELAYANAN BEDAH
FRAKTUR CRURIS 1/3
TENGAH
No. Dokumen :

RSUD S.K LERIK


KUPANG
Jl. Timor Raya No. 134
Pasir Panjang
Kupang

No. Revisi

Halaman

Disahkan oleh :
Direktur RSUD Kota
Kupang

dr. Marsiana Y. Halek


Pembina Tk.I(IV/b)
NIP. 19770712 2001 12 2
003

STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR ( SOP )

Tahun Terbit : 2016

Pengertian

Fraktur pada shaft (batang) tibia dan fibula yang


sering disebut fraktur kruris merupakan fraktur yang
sering terjadi dibandingkan dengan fraktur pada
tulang panjang lainnya. Periosteum yang melapisi
tibia agak tipis terutama path daerah depan yang
hanya dilapisi kulit sehingga tulang ini mudah patah
dan biasanya fragmen frakturnya bergeser karena
berada langsung dibawah kulit sehingga sering juga
ditemukan fraktur terbuka.

Kebijakan
Ruang lingkup

Mekanisme Injuri
Cedera yang terjadi sering terjadi akibat trauma
langsung pada kecelakaan mobil dan sepeda motor.
Cedera terjadi akibat gaya angulasi yang hebat yang
menyebabkan garis fraktur transversal atau oblik,
kadang-kadang dengan fragmen komunitif. Tenaga
rotasi dapatjuga terjadi pada olah ragawan seperti
pemain bola.

Gambaran klinis
Gambaran klinis yang terjadi berupa pembengkakan
dan karena kompartment otot merupakan sistem
yang tertutup, sehinnga pembengkakan sering
menekan pembuluh darah dan dapat terjadi sindrom
kompartment dengan gangguan vaskularisasi kaki.
Terapi
Jika tibia dan fibula fraktur yang diperhatikan adalah
reposisi tibia. Angulasi dan rotasi yang paling ringan
sekalipun dapat mudah terlihat dan dikoreksi.
Pemendekan kurang 2 cm tidak akan jadi masalah
karena akan dikompensasi pada waktu pasien sudah
mulai berjalan. Sekalipun demikian pemendekan
sebaiknya dihindari.
Fraktur tibia dan fibula dengan garis fraktur
transversal atau oblik yang stabil, cukup diimobilisasi
dengan gips dan jan kaki sampai puncak paha
dengan lutut posisi fisiologis yaitu fleksi ringan, untuk
mngatasi rotasi pada daerah fragmen. Setelah
dipasang, harus ditunggu samapi gips menjadi kering
betul yang biasanya membutuhkan waktu dua hari.
Saat itu gips tidak boleh dibebani. Penyambungan
fraktur diafisis biasanya terjadi antara 3-4 bulan.
Angulasi dalam gips biasanya dapat dikoreksi dengan
membentuk insis baji pada gips. Pada fraktur yang
tidak dislokasi diinstruksikan untuk menopang berat
badan dan berjaian. Makin cepat fraktur dibebani
maka makin cepat penyembuhan. Gips tidak boleh
dibuka sebelum penderita dapat jalan tanpa nyeri.
Garis fraktur yang oblik dan membentuk spiral
merupakan fraktur yang tidak stabil karena
cenderung membengkok dan memendek sesudah
reposisi. Oleh karena itu diperlukan tindakan reposisi
terbuka dan penggunaan fiksasi interna atau
eksterna. Fraktur dengan dislokasi fragmen dan tidak
stabil membutuhkan traksi kalkaneus terus menerus.
Setelah terbentuk kalus fibrosis, dipasang gips
sepanjang tungkai dan jan hingga paha.
Metode terapi alternatif lain pada fraktuf shaft tibia
tertutup adalah dengan intramedullary nailing dan
bagian teratas tibia
Indikasi

Fraktur terbuka
Fraktur dengan gangguan vaskular

Kontraindikasi

Keadaan umum jelek

Diagnosis Banding

Tidak ada

Pemeriksaan Penunjang

Fraktur tibia fibula yang tidak stabil terlebih dahulu harus


diimobilisasi sebelum pemeriksaan radiologis untuk mengurangi
nyeri dan kerusakan jarinngan lunak. Proyeksi foto 4 posisi yaitu
anteroposterior, lateral dan 2 oblik merpakan yang terbaik.
Setelah memahami, menguasai dan mengerjakan modul ini maka
diharapkan seorang dokter ahli bedah mempunyai kompetensi
tindakan konservatif dan operatif fraktur cruris 1/3 tengah serta
penerapannya dapat dikerjakan di RS Pendidikan dan RS jaringan
pendidikan.serta tatacara sistem rujukan

Alogaritma

Tehnik /Operasi:

Komplikasi

Ekspos fraktur dilakukan dengan anterolateral


approach yaitu melalui insisi 1 cm lateral batas
anterior tibia. Jika diperlukan insisi dapat dierpanjang
sampai seluruh tibia terekspos, tetapi prinsipnya
panjang insisi harus cukup untuk mengekspos tibia
tanpa retraksi soft tissue berlebihan.
Periosteum harus dipreservasi sebaik mungkin
Reduksi fragmen fraktur
Pemasangan plate pada permukaan anteromedial
dengan memakai 6 screw pada masing-masing fragmen
fraktur.

Komplikasi pada fraktur tibia dan fibuia adalah cedera pada


pembuluh darah, cedera saraf terutama n. peroneus, pembengkakan

yang menetap, pertautan lambat, pseudoartrosis dan kekakuan sendi


pergelangan kaki.
Sindrom kompartmen sering ditemukan pada fraktur tungkai bawah
tahap dini. Tanda dan gejala 5 P harus diperhatikan siang dan
malam pada hari pertarna pasea cedera atau pasca bedah, yaitu
nyeri (pain) dikeadaan istirahat, parestesia karena rangsangan saraf
perasa, pucat karena iskemia, paresis atau paralisis karena gangguan
saraf motorik, dan denyut nadi (pulse) tidak dapat diraba lagi.
Selain itu didapatkan peninggian tekanan intrakornpartmen yang
dapat diukur (pressure), gangguan perasaan yang nyata pada
pemeriksaan yang membandingkan dua titik (points) dan kontraktur
jari dalam posisi fleksi karena kontraktur otot fleksor jari. Operasi
fasiotomi ketiga kompartmen tungkai bawah merupakan operasi
darurat yang harus dikerjakan segera setelah diagnosis ditegakkan
sebab setelah kematian otot tidak ada kemungkinan fungsinya pulih
kembali.
Mortalitas

pada umunnya rendah

Perawatan Pasca Bedah

Post op sebaiknya tungkai dielevasi untuk mengurangi edema.


Weight bearing harus ditunggu sampai fraktur benar-benar telah
union.
In rigidly internally fixed fractures of the tibia, union may be
difficult to judge, as minimal or no callus may form. Fractures of
the diaphysis in adults rarely heal well enough to sustain weight
bearing before 16 weeks. At 16 weeks or later, take AP, lateral, and
two oblique radiographs to establish the presence of union. If union
is judged to be present, begin careful, progressive weight bearing
with crutches, and monitor frequently, to ensure that displacement
does not occur.

Follow up

Setelah 16 minggu dilakukan foto X Ray kontrol dengan posisi AP,.


Lateral dan 2 oblik untuk menilai fraktur sudah union. Jika fraktur
telah union weight bearing bertahap dapat dimulai dengan bantuan
kruk. Pasien harus tetap dimonitor untuk meyakinkan tidak
terjadinya displacement.

SMFPELAYANAN BEDAH
CONGENITAL TALIPES
EQUINOVARU
( CLUBFOOT )

RSUD S.K LERIK


KUPANG
Jl. Timor Raya No. 134
Pasir Panjang
Kupang

STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR ( SOP )

Disahkan oleh :
Direktur RSUD Kota
Kupang

No. Dokumen :
No. Revisi

Halaman
:
Tahun Terbit : 2016

dr. Marsiana Y. Halek


Pembina Tk.I(IV/b)
NIP. 19770712 2001 12 2
003

Pengertian

Suatu kelainan kongenital yang terdiri dari kombinasi:


equinus dan varus dari hind foot, adduksi dan
supinasi dari forefoot dan deviasi medial seluruh kaki
terhadap tungkai
Etiologi dan Patologi
Penyebab pasti masih belum diketahui. Delbrillitas
mulai terbentuk pada awal masa embrionik. Otot-otot
posterior dan medial tungkai lebih pendek. kapsula
librosa pada sendi-sendi yang deformitas lebih tebal
dan lebih pendek. Deformitas semakin progresif dan
semakin sulit dikoreksi seiring bertambahnya usia.

Kebijakan
Ruang lingkup
Indikasi

terapi non-operatif CTEV


1.
2.

Bila terapi konservatif gagal


CTEV tipe rigid

Kontraindikasi

CTEV tipe Rigid

Diagnosis

Pemeriksaan Fisik
Relatif mudah didiagnosa, namun perlu diwaspadai adanya mild
clubfoot yang dapat diketahui dari equinovarus posisional
2. Pada usia yang lebih tua dimana pembentukan tulang sudah
sempurna dengan 2 proyeksi
Pada proyeksi AP, garis melalui axis panjang talus dan calcaneus
hampir paralel, normalnya membentuk sudut 20-40 derajat. Pada
proyeksi lateral, axis longitudinal talus dan calcaneus membentuk
sudut kurang dari 20 derajat, normalnya membentuk sudut 20-40
derajat.

Pemeriksaan Penunjang

X-ray, MRI dan Podogram

1.

Aloga

CTEV

ritma
Newborn

Manipulation Casting

Neblected
Dirujuk ke spesialis orthopaedi
Tidak terkoreksi

Netral
Denis browne splint (3 bln)

Operasi definitif

Rekuren
Manipulatioand Casting
Tehnik /Operasi:

Prinsip Pengobatan
Pengobatan sebaiknya dimulai secepatnya, paling baik dalam5 hari
pertama setelah lahir. Pengobatan konservatif berupa
passive gentle correction dari deformitas. maintenance dari koreksi
dalam jangka waktu yang lama dan pengamatan terhadap anak
tersebut sampai akhir masa pertumbuhannya.
Pemasangan Cast :
1. Gips sirkuler dipasang secara serial /mingguan untuk
koreksi yang lembut tapi progresif terhadap deformitas.
Pemasangan gips dilakukan selama 6 minggu.
2. Pemasangan gips bisa dilanjutkan dengan pemakaian
splint Denis Brown. Pemakaian splint ini sedemikian rupa
sehigga berada dalam posisi valgus. Splint ini dipakai
selama 8 minggu dimana setiap minggu direduksi.
1. Pemasangan splint Denis Brown dilakukan siang dan
malam dan hanya dilepas saat anak mandi sampai anak
berumur 3 bulan. Kemudian dapat diikuti dengan melepas
splint untuk jangka waktu yang agak lama sampai anak
dapat berjalan. Splint kemudian dipakai lagi hanya pada
malam hari selama 1-2 tahun kemudian untuk mencegah
terjadi rekuren.
2. Koreksi dilanjutkan dengan memakai sepatu boot lurus
sampai anak berumur 3 tahun. Sepatu ini hanya dipakai
siang hari.
3. Evaluasi terhadap semua tahapan koreksi deformitas ini
dilakukan dengan pemeriksaan radiologik.
Didapatkan 15 % dari kasus CTEV resisten terhadap metode
pengobatan konservatif ini. Pada kasus yang resisten tersebut lebih
baik diputuskan untuk melakukan tindakan operatif koreksi soft

tissue terhadap semua tendon dan kontraktur ligamen yang ada pada
saat anak berusia 4-6 bulan
Komplikasi

o
o

Rekurensi
Rocker Bottom Foot

Mortalitas

Tidak ada

Perawatan Pasca Non Operatif/


Casting

Denis Browne splint dan Ankle Foot Orthosis (AFO)