Anda di halaman 1dari 4

1 A.

KESIMPULAN
Rasa nyaman berupa terbebas dari rasa yang tidak menyenangkan adalah
suatu kebutuhan individu. Nyeri merupakan perasaan yang tidak menyenangkan
yang terkadang dialami individu. Kebutuhan terbebas dari nyeri itu merupakan
salah satu kebutuhan dasar yang merupakan tujuan diberikannya asuhan
keperawatan pada seorang pasien di Rumah sakit; (Sigit, 2010).
Peng
kajian dilakukan terhadap Ny. S pada tanggal 18 Juni 2013 dan
ditemukan prioritas masalah dengan kebutuhan dasar aman dan nyaman nyeri
berhubungan dengan kelahiran SC ditandai dengan terdapat luka SC pada daerah
abdomen dengan skala nyeri: 6. Kemudian dilakukan implementasi berdasarkan
intervensi yang direncanakan selama dua hari dan hasil evaluasi diperoleh
masalah pada pasien teratasi sebagian disebabkan pasien sudah pulang.
B. SARAN
1.
Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan pada intitusi pendidikan agar
lebih meningkatkan penerapan
dan pengajaran asuhan keperawatan pasien dengan masalah kebutuhan
dasar rasa aman dan nyaman; nyeri.
2.
Bagi Praktek Keperawatan
Agar petugas kesehatan selalu memberikan asuhan keperawatan yang
komprehensif kepada pasien.
3.
Bagi Kebutuhan Klien
Agar klien mampu memenuhi kebutuhannya khususnya kebutuhan dasar
rasa aman dan nyaman; nyeri.
A. Kesimpulan Kehilangan merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami suatu
kekurangan atau tidak ada dari sesuatu yang dulunya pernah ada atau pernah dimiliki.
Kehilangan merupakan suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada
menjadi tidak ada, baik sebagian atau seluruhnya. Berduka merupakan respon normal pada
semua kejadian kehilangan. NANDA merumuskan ada dua tipe dari berduka yaitu berduka
diantisipasi dan berduka disfungsional. Berduka diantisipasi adalah suatu status yang merupakan
pengalaman individu dalam merespon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang,
hubungan/kedekatan, objek atau ketidakmampuan fungsional sebelum terjadinya kehilangan.
Tipe ini masih dalam batas normal. Berduka disfungsional adalah suatu status yang merupakan
pengalaman individu yang responnya dibesar-besarkan saat individu kehilangan secara aktual
maupun potensial, hubungan, objek dan ketidakmampuan fungsional. Tipe ini kadang-kadang
menjurus ke tipikal, abnormal, atau kesalahan/kekacauan Kehilangan dibagi dalam 2 tipe yaitu:
Aktual atau nyata dan persepsi. Terdapat 5 katagori kehilangan, yaitu:Kehilangan seseorang
seseorang yang dicintai, kehilangan lingkungan yang sangat dikenal, kehilangan objek eksternal,
kehilangan yang ada pada diri sendiri/aspek diri, dan kehilangan kehidupan/meninggal. Elizabeth
Kubler-rose,1969.h.51, membagi respon berduka dalam lima fase, yaitu : pengikaran, marah,
tawar-menawar, depresi dan penerimaan. B. Saran Dari makalah ini kami memberikan saran

antara lain: 1. Seseorang harus dapat menerima suatu kehilangan terhadap seseorang atau suatu
benda dan selalu berduka jika mendapat rejeki. 2. Suatu kehilangan atau berduka harus di
syukuri oleh seseorang, khususnya perawat apabila pasien mendapat musibah atau meninggal
dunia
Make Money Online : http://ow.ly/KNICZ
Terminal A.

Kesimpulan

Kondisi Terminal adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami penyakit atau sakit
yang tidak mempunyai harapan untuk sembuh sehingga sangat dekat dengan proses kematian.
Respon klien dalam kondisi terminal sangat individual tergantung kondisi fisik,
psikologis, social yang dialami, sehingga dampak yang ditimbulkan pada tiap individu juga
berbeda. Hal ini mempengaruhi tingkat kebutuhan dasar yang ditunjukan oleh pasien terminal.
Orang yang telah lama hidup sendiri, terisolasi akibat kondisi terminal dan menderita
penyakit kronis yang lama dapat memaknai kematian sebagai kondisi peredaan terhadap
penderitaan. Atau sebagian beranggapan bahwa kematian sebagai jalan menuju kehidupan kekal
yang akan mempersatukannya dengan orang-orang yang dicintai. Sedangkan yang lain
beranggapan takut akan perpisahan, dikuncilkan, ditelantarkan, kesepian, atau mengalami
penderitaan sepanjang hidup.
Seseorang yang menghadapi kematian/kondisi terminal, dia akan menjalani hidup,
merespon terhadap berbagai kejadian dan orang disekitarnya sampai kematian itu terjadi.
Perhatian utama pasien terminal sering bukan pada kematian itu sendiri tetapi lebih pada
kehilangan kontrol terhadap fungsi tubuh, pengalaman nyeri yang menyakitkan atau tekanan
psikologis yang diakibatkan ketakutan akan perpisahan, kehilangan orang yang dicintai.
B.

Saran
1. Perawat harus memahami apa yang dialami klien dengan kondisi terminal, tujuannya
untuk dapat menyiapkan dukungan dan bantuan bagi klien sehingga pada saat-saat
terakhir dalam hidup bisa bermakna dan akhirnya dapat meninggal dengan tenang dan
damai.
2. Ketika merawat klien menjelang ajal atau terminal, tanggung jawab perawat harus
mempertimbangkan kebutuhan fisik, psikologis, dan social yang unik.

3. Perawat harus lebih toleran dan rela meluangkan waktu lebih banyak dengan klien
menjelang ajal, untuk mendengarkan klien mengekspresikan duka citanya dan untuk
mempertahankan kualitas hidup pasien.
4. Asuhan perawatan klien terminal tidaklah mudah. Perawat membantu klien untuk meraih
kembali martabatnya. Perawat dapat berbagi penderitaan klien menjelang ajal dan
melakukan intervensi yang dapat meningkatkan kualitas hidup, klien harus dirawat
dengan respek dan perhatian penuh. Dalam melakukan perawatan keluarga dan orang
terdekat klien harus dilibatkan, bimbingan dan konsultasi tentang perawatan diperlukan.

Harga diri
atar Belakang
Kebutuhan dasar manusia merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan olehmanusia dalam
mempertahankan keseimbangan fisiologis maupuan psikologis,yang tentunya bertujuan untuk
mempertahankan kehidupan dan kesehatan.Kebutuhan-kebutuhan manusia dapat dibagi menjadi
dua golongan, yaitu:Kebutuhan Primer, yang pada umumnya merupakan kebutuhan faal, seperti
lapar,haus, seks, tidur, dan lain-lain. Semua ini adalah kebutuhan faal yang merupakansyarat
kelangsungan hidup seseorang. Kebutuhan-kebutuhan semacam ini timbuldengan sendirinya atau
sudah ada sejak seseorang lahir. Kebutuhan Sekunder,yang timbul dari interaksi antara orang
dengan lingkungannya seperti kebutuhanuntuk bersaing, bergaul, ekspresi diri, harga diri dan dan
lain-lain.Kebutuhan dasar manusia menurut Abraham Maslow dalam teori Hirarkimenyatakan
bahwa setiap manusia memiliki lima kebutuhan dasar yaitukebutuhan fisiologis, keamanan,
cinta, harga diri, dan aktualisasi diri (Potter danPatricia, 1997). Harga diri merupakan salah satu
kebutuhan penting manusia.Maslow dalam teori hierarki kebutuhannya menempatkan kebutuhan
individuakan harga diri sebagai kebutuhan pada level puncak, sebelum kebutuhanaktualisasi diri.
Hal ini karena harga diri individu mempunyai pengaruh yang kuatterhadap perilaku yang
ditampilkannya.Kebutuhan harga diri merupakan kebutuhan seseorang untuk merasakanbahwa
dirinya adalah seorang yang patut dihargai dan dihormati sebagai manusiayang baik. Setiap
individu normal pasti berharap dan menginginkan dapatmerasakan hidup sukses, dihormati dan
dihargai sebagai manusia.Pentingnya pemenuhan kebutuhan harga diri individu, terkait erat
dengandampak negatif jika mereka tidak memiliki harga diri yang mantap. Mereka
akanmengalami kesulitan dalam menampilkanperilaku sosialnya,merasa inferior dancanggung.
Namun apabila kebutuhan harga diri mereka dapat terpenuhi secaramemadai, kemungkinan
mereka akan memperoleh sukses dalam menampilkan

Aktualisasi diri
menjadi salah satu tema besar dalam kajian humanistic.Dalam pandangan humanistic sendiri,
manusia diyakini memiliki kehendak bebas atau free will. Manusia dikenal sebagai makhluk

yang aktif. Pada umumnya pula, manusia memiliki dorongan atau keinginan untuk mewujudkan
diri menjadi seseorang yang lebih baik. Maka wajar apabila manusia memiliki kecenderungan
untuk mengaktualiasasikan diri.
Kecenderungan atau tendensi aktualisasi diri pada manusia juga menggambarkan bahwa
manusia bukanlah makhluk yang statis. Manusia senantiasa mengoptimalkan potensi-potensi
yang ada dalam dirinya dan memiliki kehendak untuk maju.Menurut humanistic sendiri,
kecenderungan aktulisasi diri pada manusia adanya need dan dorongan-dorongan dalam diri
mereka. Dan pada akhirnya, kecenderungan aktualisasi diri manusia akan membawa dirinya pada
aktualisasi diri yang sesungguhnya.
Menurut Maslow (Privette, 2001, dalam Schneider,K.J, dkk, 2001), aktualisasi diri
merupakan sebuah prototype akan sehatnya kepribadian seseorang. Dalam hirarki kebutuhan,
Maslow menempatkan aktualisasi diri dalam posisi yang tinggi. Hal ini menunjukan bahwa
aktualisasi diri merupakan sebuah peristiwa yang memiliki nilai tinggi dalam kehidupan
seseorang. Aktualisasi diri merupakan sebuah proses pertumbuhan seseorang menuju kondisi
idealnya. Oleh karena itu, aktualisasi diri bukan sebuah kondisi yang statis atau kondisi stabil
pada seseorang.
Aktualisasi diri pada akhirnya akan merujuk pada peak performance dan peak
experience. Menurut privette (2001, dalam Schneider,K.J, dkk, 2001), peak performance adalah
kondisi terbaik seseorang, yaitu ketika pikiran dan tubuh bekerja secara bersamaan.Sedangkan
peak experience merupakan sebuah momen yang berharga ketika manusia mencapai kebahagiaan
yang sesungguhnya. Jika aktualisasi merupakan prototype dari kesehatan kepribadian, peak
performance dan peak experience merupakan prototype dari pengalaman yang positif.