Anda di halaman 1dari 20

TEORI ANTRIAN

Oleh :

Muhammad Arif Fadhlurrahman

(1304108010060)

Muhammad Arif revani

(1304108010043)

Ibnu Khaldun Setiawan

(1304108010032)

Hafizul Rifki Hawari

(1304108010062)

Sharfan Luthfil Hadi

(1304108010068)

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2015

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, puji dan
syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunian-Nya, sehingga
penulis dapat mnyelesaikan penulisan laporan yang berjudul Teori Antrian. Shalawat beriring
salam kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW yang telah membimbing umatnya
sehingga menjadi masyarakat yang bermoral dan bertingkah laku baik seperti sekarang ini.
Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Peralatan Tambang.
Dalam penyelesaian laporan ini penulis telah mendapat bantuan, dorongan, bimbingan, dan
pengarahan dari dosen pengasuh mata kuliah Peralatan Tambang, maka dengan rasa hormat
penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pengasuh mata kuliah Peralatan Tambang.
Kami menyadari bahwa laporan ini masih penuh dengan kekurangan karena segala keterbatasan
penulis. Oleh sebab itu dengan kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritik yang
sifatnya membangun guna kesempurnaan penulisan ini.

Banda Aceh, 4 Desember 2015

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................................2
BAB I : PENDAHULUAN......................................................................................5
1.1 Latar Belakang....................................................................................................... 5
1.2 Tujuan.................................................................................................................. 5

BAB II : PEMBAHASAN.......................................................................................6
2.1.

Definisi Teori Antrian........................................................................................... 6

2.2.

Komponen Dasar Antrian..................................................................................... 6

2.3.

Struktur Dasar Antrian.......................................................................................... 8

2.4.

Teori Antrian Dalam Pertambangan..........................................................................9

2.5.

Perhitungan dengan menggunakan teori antrian.........................................................11

2.5.1. Penentuan tingkat pelayanan................................................................................ 11


2.5.2. Probabilitas keadaan antrian.................................................................................12
2.5.3. perhitungan Lq1 dan Lq3, Wq1 dan Wq3...................................................................14
2.6.

Perhitungan antrian dengan distribusi poisson dan eksponensial.....................................17

BAB III............................................................................................................19
PENUTUP........................................................................................................19
3.1. Kesimpulan..................................................................................................................................19

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................20

DAFTAR TABEL
TABEL 3.1 PROBABILITAS KEADAAN ANTRIAN DENGAN CAT 345D.......................................13

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar belakang
Peristiwa terjadinya antrian alat angkut tambang pada lokasi loading memang dapat

sering kali terjadi hal tersebut dapat disebabkan karena beberapa faktor baik itu dari alat gali
muat yang digunakan, alat angkut yang digunakan atau dari operator yang menjalani alat gali
muat serta alat angkut itu sendiri. Terjadinya antrian akan timbul apabila bila tingkat permintaan
untuk memperoleh suatu pelayanan melebihi kapasitas pelayanan yang ada. Sehingga tingkat
kedatangan alat angkut untuk dilayani dan tingkat pelayanan fasilitas alat gali muat yang akan
melayani merupakan dua unsur pokok yang akan menentukan apakah masalah garis antrian atau
tunggu didalam sistem akan timbul atau tidak.

1.2.

Tujuan
1. Pembaca dapat memahami dasar-dasar teori antrian
2. Pembaca dapat memahami permasalahan pada antrian alat tambang

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.

Definisi Teori Antrian


Menurut Siagian (1987), antrian adalah suatu garis tunggu dari nasabah (satuan) yang

memerlukan layanan dari satu atau lebih pelayan (fasilitas layanan). Sedangkan menurut
Pangestu,dkk (2000), sistem antrian adalah suatu himpunan pelanggan, pelayan serta atau aturan
yang mengatur kedatangan pelanggan dan pemrosesan masalah pelayanan antrian dimana
dicirikan oleh lima buah komponen yaitu: pola kedatangan para pelanggan, pola pelayanan,
jumlah pelayanan, kapasitas fasilitas untuk menampung para pelanggan dan aturan dalam mana
para pelanggan dilayani.
Teori Antrian adalah teori yang menyangkut studi matematis dari antrian-antrian atau
baris-baris penungguan. Formasi baris-baris penungguan ini tentu saja merupakan suatu
fenomena biasa yang terjadi apabila kebutuhan akan suatu pelayanan melebihi kapasitas yang
tersedia untuk menyelenggarakan pelayanan itu. Keputusan-keputusan yang berkenaan dengan
jumlah kapasitas ini harus dapat ditentukan, walaupun sebenarnya tidak dapat dibuat prediksi
yang tepat mengenai kapan unit-unit yang membutuhkan pelayanan itu akan datang atau berapa
lama waktu yang diperlukan untuk menyelenggarakan pelayanan itu. Teori antrian sendiri tidak
langsung memecahkan persoalan ini. Walaupun begitu, teori ini menyumbangkan informasi
penting yang diperlukan untuk membuat keputusan seperti itu dengan cara memprediksi
beberapa karakteristik dari baris penungguan,seperti misalnya waktu tunggu rata-rata.
2.2.

Komponen Dasar Antrian


Dalam pemodelan antrian memiliki struktur umum yang meliputi tiga komponen penting

yaitu garis tunggu disebut juga antrian (queue), fasilitas pelayanan (service facility), dan
kedatangan. Dengan sistem yang dilakukan yaitu pelanggan menunggu untuk memasuki atau
menggunakan fasilitas pelayanan, kemudian menerima pelayanan, lalu akhirnya keluar dari
sistem pelayan.

Menurut Schroeder (1997), pelayan atau mekanisme pelayanan dapat terdiri dari satu atau
lebih pelayan, atau satu atau lebih fasilitas pelayanan. Tiap-tiap pelayanan biasanya disebut
sebagai saluran (channel). Berikut adalah model fasilitas antrian :

Adapun penentu lain dalam komponen antrian, yaitu disiplin antri. Disiplin antri adalah
aturan keputusan yang menjelaskan cara melayani pengantri. Menurut Siagian (2006), ada 5
bentuk disiplin pelayanan yang biasanya digunakan yaitu :
1. First Come First Served (FCFS) atau First In First Out (FIFO)
Yaitu disiplin yang menerapkan sistem input yang lebih dulu datang ke sistem akan
lebih dulu dilayani atau lebih dulu keluar antrian.
2. Last Come First Served (LCFS) atau Last In First Out (LIFO)
Yaitu disiplin yang menerapkan sistem input yang terakhir datang ke sistem akan
lebih dulu dilayani atau lebih dulu keluar antrian.
3. Service In Random Order (SIRO)
Yaitu disiplin yang menerapkan pemilihan input ke sistem secara peluang acak tanpa
mempertimbangkan siapa yang lebih dulu tiba.

4. Priority Service (PS)


Yaitu sistem pelayanan prioritas yang penerapannya yaitu input ke sistem yang
memiliki prioritas lebih tinggi didahulukan dibandingkan dengan prioritas yang lebih
rendah, walaupun lebih dulu tiba di antrian.
5. Round Robin (RR)
Yaitu sistem pelayanan yang hanya diberikan pada jangka waktu tertentu saja.

2.3.

Struktur Dasar Antrian


Terdapat 4 model struktur antrian yang umumnya terjadi dalam sistem antrian, yaitu :
1. Single Channel Single Server
Struktur antrian ini terdiri dari pelayanan tunggal dengan jalur satu jalur antrian.

2. Single Channel Multi Server


Struktur antrian yang terdiri dari satu jalur antrian dengan pelayanan yang tersusun
secara seri.

3. Multi Channel Single Server


Struktur antrian yang terdiri dari beberapa pelayanan yang tersusun secara parallel
dengan satu jalur antrian.

4.
Multi Channel Multi Server
Struktur antrian yang terdiri dari beberapa pelayanan seri yang tersusun secara
parallel dengan satu jalur antrian.

2.4.

Teori Antrian dalam Pertambangan


Peristiwa terjadinya antrian alat angkut tambang pada lokasi loading memang dapat

sering kali terjadi hal tersebut dapat disebabkan karena beberapa faktor baik itu dari alat gali
muat yang digunakan, alat angkut yang digunakan atau dari operator yang menjalani alat gali
muat serta alat angkut itu sendiri. Terjadinya antrian akan timbul apabila bila tingkat permintaan
untuk memperoleh suatu pelayanan melebihi kapasitas pelayanan yang ada. Sehingga tingkat
kedatangan alat angkut untuk dilayani dan tingkat pelayanan fasilitas alat gali muat yang akan
melayani merupakan dua unsur pokok yang akan menentukan apakah masalah garis antrian atau
tunggu didalam sistem akan timbul atau tidak. Ada dua sistem teori antrian yaitu sistem antrian
terbuka dan sistem antrian tertutup.
Sistem antrian adalah suatu kesatuan fasilitas pelayanan sejak dari masukkan, yaitu
pelanggan yang akan menggunakan jasa pelayanan, hingga keluar yaitu pelanggan yang telah
9

memperoleh pelayanan. Pemanfaatan Teori antrian ini dapat digunakan untuk meningkatkan
keefektivitasan pekerjaan penambangan dan cycle time serta pemilihan alat yang sesuai dengan
kebutuhan pertambangan. Contoh aplikasinya adalah, dalam pekerjaan muat dan angkut dengan
menggunakan teori antrian dapat memprediksikan dan estimasi kebutuhan armada alat angkut
terhadap alat muat sesuai dengan faktor cycle time, serta analisa biaya dan mengurangi koefisien
antrian untuk mendapatkan produksi optimum.

Model antrian alat angkut penambangan

Truk antri menunggu


loading

Kembali ke area
tambang

Truk kosong
menunggu kembali
ke blok tambang

10

Proses loading oleh


excavator

2.5.
2.5.1.

Proses hauling
menuju crusher oleh
excavator

Proses hauling oleh


dumptruck

Perhitungan Dengan Menggunakan Teori Antrian


Penentuan tingkat pelayanan

Pada antrian putaran dalam 1 siklus dibagi menjadi 4 tahap yang masing-masing tahap
punya tingkat pelayanan :
1. 1 =
Backhoe ( Pelayanan pemuatan Batubara ).
2. 2 =
Dump Truck bermuatan (pelayanan sendiri) yaitu pelayanan
pengangkutan dari front penambangan ke dump hopper.
3. 3 =
Unit Dump Hopper (Dumping area).
4. 4 =
Dump Truck kosong (kembali ke front).
Tahap 1
Adalah tahap pelayanan backhoe untuk memuat material dump truck hingga terisi penuh :
Tp = T1 + T2
Tp
= waktu pelayanan backhoe hingga bak truk penuh
T1
= waktu penempatan dump truck akan dimuati
T2
= waktu pengisian
Untuk Backhoe Catterpilar 345D
Tp = 56,23 + 202,30 detik
Tp = 258,53 detik = 4,31 menit
Maka tingkat pelayanan backhoe setiap jam untuk melayani dump truck adalah :
1
T1
1 : CAT 345D =

x 60 dump truck per jam.

1
4,31

=
x 60 dump truck per jam.
= 13,92 dump truck per jam 14 dump truck/jam.
Tahap 2
Yaitu pelayanan sendiri, yakni Dump Truck dalam perjalanan untuk mengangkut batubara
ke Dump Hopper (T2) Scania P420CB = 291,00 detik (4,85 menit). Maka tingkat pelayanan
dump truck setiap 1 jam adalah :
1
1
T2
4,85
2 Cat 345D =
x 60 dump truck/jam =
x 60 dump truck/jam
11

2 Cat 345D = 12,37 dump truck/jam = 12 dump truck/jam


Tahap 3
Yaitu tahap Dump Truck menumpahkan material yang dibawanya ke Dump Hopper,
maka :
Tt = T3 + T4
Dump Truck dari CAT 345D :
T3 = Waktu posisi penumpahan = 48,87 detik = 0,81 menit
T4 = waktu penumpahan = 33,60 detik = 0,56 menit
Maka :
Tt = 0,81 + 0,56
= 1,37 menit
Tingkat pelayanan dalam 1 jam adalah :
1
1
1,37
Tt
3 =
x 60 dump truck /jam =
x 60 dump trcuk/jam
= 43,80 dump Truck/jam = 44 dump truck/jam
Tahap 4
Yaitu dump truck kembali kosong menuju ke front untuk diisi kembali menuju CAT
345D. T4
= 261,81 detik = 4,36 menit.
1
T4
4 =

x 60 dump truck/jam

1
4,36

=
x 60 dump truck/jam
= 13,76 dump truck/jam = 14 dump truck/jam
2.5.2. probabilitas keadaan antrian
Jumlah keadaan antrian putaran untuk ( n1,n2,n3,n4 ) adalah n1+n2+n3+n4 = 5 dimana n1 =
jumlah dump truck pada tahap i. Jumlah rata-rata alat angkut yang beroperasi adalah 5 alat
angkut dan 1 buah alat gali muat, maka alat gali muat melayani 5 unit dump truck (K=5). Maka
kemungkinan yang dapat terjadi dalam antrian putaran dari distribusi 5 dump truck pada kasus 4
tahap (M = 4) adalah :
K M 1

K
Antrian Putaran =

5 4 1

8!
(8 5)!5!

Antrian Putaran =
=
=
= 56
Jadi ada 56 kemungkinan antrian dari distribusi 5 dump truck diantara 4 tahap tersebut.
Maka probabilitas keadaan antrian putaran dapat dihitung :
1 K n1
P (n1, n2, n3,,n4 ) =
P (5,0,0,0)
12

n2 ! 2 n2 3

n3

n4 ! 4n4

maka untuk CAT 345D :


(13,92)5-2
P (2,0,3,0) =
0 ! (12,42)0 (43,48)3 0 ! (13,76)0

P (5,0,0,0)

= ( 0,04) P ( 5,0,0,0)
Dimana probabilitas keadaan P (5,0,0,0) adalah sebagai dasar dari ketentuan bahwa
jumlah probabilitas-probabilitas sama dengan 1 ( lihat tabel III.1 ). Dari jumlah koefisien dari
seluruh keadaan sistem untuk pelayanan alat muat adalah 10,62002029 maka :
1
10,62
Probabilitas keadaan P (5,0,0,0) =
= 0,09
Tabel III.1
Probabilitas keadaan antrian dengan CAT 345D
Kondisi

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

n1
0
0
0
5
0
0
4
4
4
1
1
1
0
0
0
0
0
0
3
0
3

n2
0
0
5
0
0
4
1
0
0
0
0
4
0
1
1
4
0
3
2
3
0

n3
0
5
0
0
4
1
0
0
1
0
4
0
1
4
0
0
3
2
0
0
0

n4
5
0
0
0
1
0
0
1
0
4
0
0
4
0
4
1
2
0
0
2
2

Koefisien

Probabilitas

0,008829229
0,003363168
0,014736928
1
0,010627218
0,021047912
1,120772947
1,011627907
0,320147194
0,043638716
0,010505066
0,065744483
0,013970812
0,011773794
0,048909092
0,066508954
0,016790387
0,024049224
0,628065999
0,120064129
0,511695511

0,0008314
0,0003167
0,0013877
0,0941618
0,0010007
0,0019819
0,1055340
0,0952567
0,0301456
0,0041091
0,0009892
0,0061906
0,0013155
0,0011086
0,0046054
0,0062626
0,0015810
0,0022645
0,0591398
0,0113055
0,0481822
13

22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56

3
2
2
2
0
0
0
0
0
1
1
1
2
0
2
2
2
2
2
0
0
0
1
1
1
3
3
1
1
1
0
1
1
2
1

0
0
0
3
0
2
2
0
1
2
0
2
2
2
0
0
2
1
1
2
2
1
0
1
1
1
0
0
3
3
3
1
2
1
1

2
0
3
0
2
0
3
2
2
2
2
0
1
2
2
1
0
0
2
1
2
1
1
0
3
1
1
3
0
1
1
1
1
1
2
Jumlah

0
3
0
0
3
3
0
3
2
0
2
2
0
1
1
2
1
2
0
2
1
3
3
3
0
0
1
1
1
0
1
2
1
1
1

0,102494226
0,172548486
0,032813239
0,234639794
0,017685224
0,108371837
0,02060888
0,017685224
0,058779873
0,064373138
0,052445835
0,321378552
0,201073567
0,065121663
0,103686019
0,163817882
0,635369092
0,573494486
0,114872756
0,102888442
0,065121663
0,061912522
0,055240914
0,193387675
0,03677619
0,358812314
0,323869836
0,033194788
0,237368163
0,075119272
0,075992751
0,18360265
0,203411632
0,36298455
0,116208485
10,62002029

0,0096510
0,0162475
0,0030898
0,0220941
0,0016653
0,0102045
0,0019406
0,0016653
0,0055348
0,0060615
0,0049384
0,0302616
0,0189334
0,0061320
0,0097633
0,0154254
0,0598275
0,0540013
0,0108166
0,0096882
0,0061320
0,0058298
0,0052016
0,0182097
0,0034629
0,0337864
0,0304962
0,0031257
0,0223510
0,0070734
0,0071556
0,0172884
0,0191536
0,0341793
0,0109424
1

2.5.3. Perhitungan Lq1, Lq3, Wq1 dan Wq3


Dengan menggunakan rumus - rumus dari model antrian putaran, maka dapat dihitung :
14

a. Rata-rata jumlah dump truck menunggu dalam antrian


Dalam sistem antrian putaran ini, rata-rata jumlah dump truck dihitung dengan ketentuan
sebagai berikut :
Tahap 1
Yaitu dump truck menunggu untuk dimuati alat gali muat dengan ketentuan n 1 > 1 (tabel
IV.1 kolom ke-2) sehingga rata-rata dump truck yang menunggu untuk dimuati :

Lq1 = 1 x (Probabilitas keadaan 23,24,25,34,36,37,38,39,40,55) +

2 x (Probabilitas keadaan 19,21,22,47,48) + 3 x (Probabilitas keadaan

7,8,9) + 4 x (Probabilitas keadaan 4 )


Lq1 CAT 345D = 1,67 dump truck 2 dump truck
Tahap 2
Yaitu saat dump truck menunggu untuk menumpahkan muatan dengan ketentuan n3 >1

Lq3 =1x (Probabilitas keadaan17,22,27,35,40,41,46,54,56,71,73,75,77,78,80) + 2 x


(Probabilitas keadaan 29,31,33,36,38,42,44,47,50,82) +

3 x (Probabilitas keadaan 18,20,24,60,62,67) + 4 x (Probabilitas keadaan 6,8,12 )


Lq3 CAT 345 D = 0,10 dump truck
b. Waktu tunggu dump truck dalam antrian
Tingkat kesibukan alat gali muat dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

P ( 0, n2, n3, n4 )
1= 1 Rumus tersebut diperoleh pada kondisi n1= 0 ( Tabel 1 kolom kedua ), yaitu keadaan
dimana tidak ada dump truk yang datang ke front (alat gali muat dalam keadaan menganggur).

= {1 - ( Probabilitas1, 2, 3, 5, 6, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 20, 26, 27, 28, 29, 30,35, 41,
1
42, 43, 52)} x 100 %

1 CAT 345D = (1 - 0,08) x 100 % = 91%


Jadi tingkat kesibukan alat gali muat pada penambangan batubara adalah 91 % untuk
CAT 345D. Kerena operasi pemuatan ada pada tahap 1, maka jumlah dump truck yang dapat
terlayani pada tahap ini adalah :
1

x 1
1 Cat 345D =
= 0,91 x 13,92
= 12,67 dump truck/jam = 13 dump truck/jam


Untuk tahap 2,3,dan 4 harga
diasumsikan sama, sehingga : 1= 2= 3= 4= ,
sehingga rata-rata waktu tunggu dump truck dalam antrian pada alat gali muat adalah :
Lq1

Wq1 =

15

1,67
12,66

Wq1 CAT 345D =


= 0,13 jam = 7,94 menit
Rata-rata waktu tunggu dump truck di dump hopper
Lq3

Wq3 =
0,10
12,66
Wq3 Cat 345D =
= 0,008 jam = 0,49 menit
Sehingga total waktu tunggu dalam antrian untuk alat angkut dilayani CAT 345D = (7,94
+ 0,49) menit = 8,43 menit
c. Waktu Edar dan Tingkat Kedatangan Dump Truck
Berdasarkan penerapan teori antrian maka waktu edar alat angkut setiap ritase atau
sekali putar adalah :
1
1
1
1

Wq1 Wq 3
1 2 3 4
CTt CAT 345D = (

1
1
1
1

0,13 0,008
13,92 12,42 43,48 13,76

CTt CAT 345D = (


= 0,38 jam = 23,38 menit

sehingga tingkat kedatangan Dump Truck dalam 1 jam baik di front maupun di Dump Hopper
adalah :
1
x60
23,28


Dump truck kode BK 400 = 1= 3 =
dump truck/jam
= 2,57 dump truk/jam = 3 dump truck/jam
Waktu edar alat angkut tanpa waktu antri adalah (Ct) :
Cttanpa antri = (T1 + T2 + T3 + T4)
1
1
1
1

1 2 3 4
=
Cttanpa antri DT-A = 0,24 jam = 14,88 menit
sehingga tingkat kedatangan dump truck dalam 1 jam :
1
14,88

1
dump truck kode BK 400 =
x 60 dump truck/jam
= 4,03 dump truck/jam = 4 dump truck/jam

Waktu tunggu tiap 1 unit dump truck dalam 1 hari adalah tingkat kedatangan tiap 1 unit

dump truck yang dilayani alat gali muat pada saat ini ( ) pada CAT 345D adalah 4 dump
16

truck/jam. Karena waktu kerja effektif (Wke) adalah 15,36 jam/hari, maka tingkat kedatangan
tiap 1 unit alat gali muat selama 1 hari adalah :
4 dump truck/jam x 15,36 jam/hari = 61,44 dump truck/hari
= 61 dump truck/hari
Bila waktu tunggu dump truck pada alat angkut (Wq1 DT BK 400) = 0,13 jam, dan pada
dump hopper (Wq3 DT BK 400) adalah 0,008 jam maka :
Wtt Dump Truck BK 400
= (0,13 + 0,008) x 61 dumptruk/hari
= 8,56 jam/hari 9 jam/hari
Jumlah dump truck yang mampu dilayani alat gali muat tanpa waktu antri adalah :
1 13,92
4,03
1
CAT 345D =
=
= 3,50 dump truck = 4 dump truck

2.6.

Perhitungan Antrian dengan Distribusi Poisson dan Distribusi Eksponensial


a. Distribusi Poisson
Suatu eksperimen yang menghasilkan jumlah sukses yang terjadi pada interval waktu

ataupun daerah yang spesifik dikenal sebagai eksperimen Poisson. Jumlah sukses dalam
eksperimen Poisson disebut variabel random Poisson. Distribusi kemungkinan dari variabel
random Poisson disebut distribusi Poisson (Siagian, 2006).
Distribusi Poisson dapat digunakan untuk menggambarkan tingkat kedatangan dengan
asumsi bahwa jumlah kedatangan adalah acak. Maka, persamaan fungsi Poisson adalah sebagai
berikut :
x e
(
)
px=
x!
Keterangan :
P(x) = Peluang bahwa ada x pelanggan dalam sistem
= Rata-rata kecepatan kedatangan

b. Distribusi Eksponensial
17

Distribusi Eksponensial dapat digunakan untuk menghitung lama pelayanan sejak


kedatangan pelanggan dalam sistem antrian sampai selesai pelayanan, dengan persamaan :
f ( t )= et
Keterangan :
= Rata-rata pelayanan

t = Waktu lamanya pelayanan tiap unit


Perhitungan probabilitias alat angkut berdasarkan teori antrian menggunakan beberapa
parameter yang meliputi :
f = Faktor efisiensi kerja alat gali-muat
q = Kapasitas bak truk (ton atau m3)
n = Jumlah truk dalam armada
Po (n,x) = Probabilitas tidak ada truk dalam antrian
r = Rata-rata tingkat kedatangan truk per jam
Ta = Waktu edar truk, tak termasuk waktu loading (jam), 1/r
m = Jumlah truk yang dimuat per jam
Ts = Waktu untuk memuat sebuah truk (jam), 1/m
x = Jumlah truk yang dibutuhkan dalam satu armada, m/r
Perhitungan yang digunakan adalah :
Q = Produksi ideal alat gali muat (ton atau m3)
Q = f.m.q
Po = Probabilitas tidak ada truk dalam antrian
Po ( n , x )=

ex xn /n !
n

(ex x n /n !)

p(n , x)
P(n , x )

j=0

Q = Produksi alat gali-muat karena adanya antrian (ton atau m3)


Q = ( 1 - Po ) (Q)

18

BAB III
PENUTUP
3.1.

KESIMPULAN
1. Dalam sistem antrian terdapat tiga komponen utama yaitu garis tunggu (queue), fasilitas
pelayanan (service facility), dan kedatangan. Dengan sistem yang dilakukan yaitu
pelanggan menunggu untuk memasuki atau menggunakan fasilitas pelayanan, kemudian
menerima pelayanan, lalu akhirnya keluar dari sistem pelayan.
2. Rata-rata jumlah dump truck yang menunggu dalam antrian untuk dump truck saat
dilakukan pengisian atau loading yaitu didapatkan 2 dump truck, sedangkan rata-rata
dump truck yang menunggu untuk melakukan dumping di dump hopper didapatkan 0,1
dump truck atau tidak ada dump truck yang menunggu di dump hopper.
3. Dengan menggunakan teori antrian kita dapat mengetahui waktu tunggu dari dump truck,
jumlah dump truck yang dapat dilayani oleh backhoe, rata-rata jumlah dump truck yang
menunggu pada saat loading maupun pada saat dumping.

19

DAFTAR PUSTAKA
Dimyati, T.T., Dimyati, A, 1992. Operation Research (Model-model Pengambilan Keputusan).
PT Sinar Baru Algensindo. Bandung. Hal. 309.
Siagian P. 2006. Penelitian Operasional Teori dan Praktek. UI : Jakarta
Subagyo, Pangestu dkk. 2000. Dasar-Dasar Operations Research Edisi 2.PT. BPF : Yogyakarta
Utami,

Farisyah

Melladia.,

Kuniawan,

Angga.,Wahyudi,

Muhammad,

2012.

Studi

Perbandingan Antara Model Match Factor Dengan Model Antrian Untuk Pengambilan
Keputusan Dalam Pemilihanalat Gali Dan Alat Muat Penambanganbatubara Pt.Bukit
Asam, Tanjung Enim. Universitas Sriwijaya : Palembang
Yernuntriani, 2011, Optimasi Produksi Alat Angkut Menggunakan Metode Kapasitas Produksi
Dan Teori Antrian Pada Pt. Cipta Kridatama Site Sungkai Kecamatan Batulicin
Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan. Universitas Lambung Mangkurat :
Banjarmasin

20