Anda di halaman 1dari 31

EVALUASI TEKNIS SISTEM PENYANGGAAN MENGGUNAKAN SPLITSET

DAN SHOTCRETE UNTUK MENCEGAH RUNTUHAN BAJI PADA


LEVEL EXTRACTION TAMBANG BAWAH TANAH DEEP MILL
LEVEL ZONE (DMLZ) PT. FREEPORT INDONESIA

PROPOSAL PENELITIAN TUGAS AKHIR


Diajukan untuk Penelitian Tugas Akhir Mahasiswa Pada Jurusan Teknik
Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya

Oleh:
Herbert Helmy Ofsir
03121002023

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2015

A. JUDUL
Evaluasi Teknis Sistem Penyanggaan Split Set dan Shotcrete Untuk Mencegah
Runtuhan Baji pada Lubang Extraction Tambang Bawah Tanah Deep Mill
Level Zone (DMLZ) PT.Freeport Indonesia
B. BIDANG ILMU
Teknik Pertambangan
C. LATAR BELAKANG
PT. Freeport Indonesia, yang berlokasi Kecamatan Mimika Timur,
Kabupaten Timika, Provinsi Papua dengan posisi grafisnya adalah 04o 06` 04o 012`LS dan 137o 06`-137o12` BT merupakan sebuah perusahaan yang
bergerak di bidang pertambangan bijih (emas dan tembaga) memiliki reputasi
yang sangat baik dengan sistem produksi yang sangat mapan. Keberadaan ore
yang ada pada wilayah eksploitasi adalah berbentuk vein (urat kuarsa) yang
memanjang dan vertikal yang dinamakan dengan nama vein cikoneng dan vein
cibitung. Sistem penambangan yang diterapkan pada PT. Freeport Indonesia
merupakan sistem tambang dalam atau Underground Mining dengan metoda
block caving.
Dalam proses penambangan bawah tanah, penyanggaan (supporting)
dan penguatan (reinforcement) merupakan salah satu faktor penting dalam
keberlangsungan operasi kegiatan penambangan. Hal ini berkaitan dengan
faktor keselamatan (safety factor) kerja serta produktivitas kerja. Pentingnya
suatu penyanggaan dan penguatan dapat diperhatikan pada kegiatan produksi
dan development, seperti pada kegiatan pengeboran untuk peledakan produksi,
pemuatan, pengangkutan, kegiatan pengeboran, pembuatan main haulage
level, sill drift dll.
Penggunaan sistem penyanggaan dan penguatan yang tepat akan
berdampak pada lokasi kerja yang lebih aman serta target produksi yang
direncanakan dapat tercapai. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, maka
pembuatan desain penyanggaan harus sesuai dengan kondisi batuan dan

keadaan ketidakmenerusan yang terbentuk dari lokasi penambangan dan


kaidah dari geologi teknik yang baik
Pada kegiatan ekskavasi lubang bukaan tambang bawah tanah di lokasi
masa batuan yang berkekar, kemungkinan akan terjadi keruntuhan yang dapat
berasal dari atap atau meluncur keluar dari dinding samping dari bukaan
karena level extraction berada pada level undercut yang merupakan tempat
proses ambrukkan Keruntuhan ini terbentuk karena adanya suatu struktur
batuan yang ketidakmenerusan dan saling memotong seperti bidang
perlapisan dan juga kekar serta juga karena proses ambrukan. Ketika kegiatan
ekskavasi dilakukan seperti pada kegiatan peledakan untuk kemajuan bukaan
yang baru, gaya penahan dari sekitar batuan tersebut akan berkurang dan
hilang. Oleh karena itu maka satu atau lebih dari keruntuhan tersebut bisa
jatuh atau meluncur dari permukaannya baik yang berasal dari level undercut
maupun dinding. Untuk mengamanakan lokasi kerja terhadap runtuhan
tersebut, maka diperlukan adanya sistem penguatan yang tepat yang sesuai
dengan safety factor pada penggunaan split set dan shotcrete agar lokasi
menjadi aman untuk melakukan kegiatan produksi.
Penggunaan penguatan pada PT. Freeport Indonesia pada level
extraction terkadang terjadi kesalahan dalam penggunaan jumlah dan letak
pemasangan split set yang digunakan serta tebal shotcrete yang dibutuhkan
untuk melakukan pengamanan. Hal tersebut mengakibatkan perlunya
dilakukan evaluasi terhadap hal tersebut dan diperlukan perbandingan
terhadap pengamatan secara aktual terhadap bukaan tersebut, serta analisis
sistem pemasangan split set dan shotcrete untuk menyangga bukaan yang
akan digunakan pada lokasi kegiatan produksi guna mendapatkan safety
factor yang sesuai
D. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah :
1.

Bagaimana kondisi bidang ketidakmenerusan pada lubang bukaan yang


berpotensi terbentuknya runtuhan baji.

2.

Bagaimana keadaan sifat fisik dan mekanis dari batuan pada level
extraction.

3.

Bagaimana klasifikasi massa batuan pada level extraction dengan


menggunakan sistem RMR dan klasifikasi CSD.

4.

Bagaimana pemasangan secara teknis split set dan shotcrete yang sesuai
dengan kondisi batuan dan bidang ketidakmenerusan yang digunakan
dengan menggunakan pemodelan phase 2 dan unwedge

5.

Bagaimana evaluasi teknis terhadap pemasangan split set dan shotcrete


yang seharusnya diterapkan dan perbandingannya dengan aktual
dilapangan.

E.

TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1.

Mengetahui

kondisi bidang ketidakmenerusan pada lubang bukaan

yang berpotensi terbentuknya runtuhan baji


2.

Mengetahui keadaan sifat fisik dan mekanis dari batuan pada level
extraction

3.

Menganalisis klasifikasi massa batuan pada level extraction dengan


menggunakan sistem RMR dan klasifikasi CSD

4.

Menentukan potensi akan tebentuknya runtuhan baji pada level


extraction berdasarkan keadaan bidang ketidakmenerusan massa
batuan.

5.

Memberikan rekomendasi secara teknis terhadap pemasangan split set


dan shotcrete pada lubang bukaan kegiatan prodiuksi

F.

BATASAN MASALAH
Penelitian hanya difokuskan pada evaluasi teknis pemasangan split set
dan shotcrete dengan menggunakan pemodelan phase 2 dan unwedge untuk
mencapai safety factor yang aman pada lubang bukaan kegiatan produksi.

G. MANFAAT
Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan sumbangan pemikiran
bagi perusahaan untuk memutuskan kebijakan pemasangan jumlah split set
dan ketebalan shotcrete guna mencapai safety factor yang sesuai pada level
extraction agar kegiatan produksi berjalan dengan baik.
H

TINJAUAN PUSTAKA

1.

Runtuhan Baji
Pada kegiatan ekskavasi lubang bukaan tambang bawah tanah di lokasi
masa batuan yang berkekar, jenis runtuhan yang paling umum terjadi adalah
runtuhan baji (wedges failure) yang dapat berasal dari atap (roof fall) atau
meluncur keluar dari dinding samping (sidewall wedge) dari bukaan seperti
yang disimulasikan seperti pada (Gambar 1), (Hoek, E, Kaiser, P.K., dan
Bawden W.F.,1995). Baji terbentuk karena adanya suatu struktur yang saling
memotong, seperti bidang perlapisan dan juga kekar (Irwandy A. dan Made
AR, 1998). Ketika kegiatan ekskavasi dilakukan seperti pada kegiatan
peledakan untuk membuat free face yang baru, gaya penahan dari sekitar
batuan tersebut akan berkurang dan hilang. (Hoek, dkk, 1995).

(Sumber : Evert Hoek., 1989: 38)

Gambar 1. Runtuhan baji dari atap dan dinding


Berikut merupakan langkah yang dibutuhkan untuk mengatasi
terjadinya runtuhan baji :

1. Penentuan rata-rata nilai dip dan dipdirection dari diskontinuitas yang


dalam satu kesatuan massa batuan.
2. Mengidentifikasi potensi terjadinya runtuhan baji yang dapat berasal dari
luncuran atau jatuhan dari atas dan dinding lubang bukaan.
3. Menghitung faktor keamanan dari potensi baji tersebut yang dapat dilihat
dari kriteria runtuhan.
4. Menghitung banyaknya kebutuhan split set yang dibutuhkan sesuai dengan
perhitungan faktor keamanan dari potensi runtuhan baji tersebut.
2.

Klasifikasi Massa Batuan


Klasifikasi massa batuan merupakan cikal bakal dari pendekatan
rancangan empiris dan digunakan secara luas di dalam rekayasa batuan
(Hoek, E dan Brown, ET, 1980). Klasifikasi massa batuan tidak digunakan
sebagai pengganti rancangan rekayasa, Tetapi harus digunakan bersama-sama
dengan metode observasi dan analitik untuk memformulasikan secara
menyeluruh rancangan yang rasional, yang cocok dengan tujuan rancangan
dan kondisi geologi di lapangan (Bieniawski, 1989).
Dalam menggunakan klasifikasi massa batuan, disarankan untuk
menggunakan lebih dari satu jenis klasifikasi massa batuan. Terdapat enam
klasifikasi massa batuan yang biasa digunakan untuk keperluan desain
rekayasa batuan. Klasifikasi beban batuan atau rock load classification
merupakan sistem klasifikasi praktis pertama yang dikenalkan dan secara
dominan digunakan di Amerika Serikat lebih dari 35 tahun. Klasifikasi stand
up time yang diusulkan oleh Lauffer (1958) berdasarkan pada hasil kerja Stini
(1950) dan merupakan langkah sangat maju dalam seni penerowongan karena
konsep yang diperkenalkan lebih relevan dalam penentuan tipe dan jumlah
penyangga terowongan. Klasifikasi Rock Quality Designation (RQD) yang
diusulkan oleh Deere (1967), merupakan metode sederhana dan praktis untuk
mendeskripsikan kualitas inti batuan dari lubang bor. Konsep Rock Structure
Rating (RSR) yang dikembangkan di Amerika Serikat oleh Wickham,
Tiedemann, dan Skinner (1972,1974), merupakan sistem pertama yang

mengutamakan rating klasifikasi untuk pembobotan yang relatif penting dari


klasifikasi. Klasifikasi Geomekanika (RMR-sistem) yang diusulkan oleh
Bieniawski (1973) dan Q-sistem yang diusulkan oleh Barton, Lien, dan
Lunde (1974), telah dikembangkan secara independen dan keduanya
menyediakan data kuantitatif untuk memilih tindakan perkuatan terowongan
yang modern, misalnya dengan menggunakan rockbolt dan shotcrete.
Qsistem dikembangkan secara khusus untuk terowongan dan ruang
bawah tanah.Sedangkan klasifikasi geomekanika (RMR-sistem), walaupun
pada awalnya dikembangkan untuk terowongan, juga dapat diaplikasikan
untuk lereng batuan dan pondasi, penilaian ground rippability, serta masalah
pertambangan lainnya (Laubscher, 1977; Ghose dan Raju, 1981; Kendorski
dkk, 1983). Aplikasi lebih lanjut dari klasifikasi massa batuan diusulkan oleh
Bieniawski (1978) yang dihubungkan dengan deformabilitas massa batuan
yang diperlukan untuk studi numerik tegangan dan distribusi perpindahan di
sekitar bukaan bawah tanah (Hoek dan Brown, 1980).
2.1.1 Klasifikasi Geomekanika (Sistem RMR)
Sistem RMR menggunakan enam parameter untuk mengklasifikasikan
massa batuan yaitu parameter kuat tekan dari batuan utuh, rock quality
designation, spasi bidang diskontinu, kondisi bidang diskontinu, dan kondisi
air tanah. Alasan penggunaan dari keenam parameter tersebut dikarenakan
parameter tersebut dapat diperoleh dari lubang bor, penyelidikan di lapangan
baik di permukaan maupun di bawah tanah. (Bieniawski, 1989). Dalam
menerapkan sistem ini, massa batuan dibagi menjadi seksi-seksi menurut
struktur geologi dan masing-masing seksi diklasifikasikan secara terpisah.
Batas-batasnya umumnya berupa struktur geologi mayor seperti patahan atau
perubahan jenis batuan. Massa batuan dengan jenis yang sama terkadang
harus dibagi menjadi seksi-seksi karena perubahan yang signifikan dalam
spasi atau karakteristik bidang diskontinu.

2.1.2 Uji Kuat Tekan (Unconfined Compressive Strength Test)


Uji kuat tekan (UCS) menggunakan mesin tekan (compression
machine) untuk menekan contoh batu yang berbentuk silinder, balok atau
prisma dari satu arah (uniaxial). Penyebaran tegangan di dalam contoh batu
secara teoritis adalah searah dengan gaya yang dikenakan pada contoh
tersebut. Tetapi dalam kenyataannya arah tegangan tidak searah dengan gaya
yang dikenakan pada contoh tersebut karena ada pengaruh dari plat penekan
mesin tekan yang menghimpit contoh. Sehingga bentuk pecahan tidak
berbentuk bidang pecah yang searah dengan gaya melainkan berbentuk
kerucut. Dalam menguji UCS batuan digunakan mesin tekan untuk menekan
sampel batuan dari satu arah (uniaxial). Nilai UCS merupakan besar tekanan
yang harus diberikan sehingga membuat batuan pecah. Contoh batuan uji
berupa silinder dengan ukuran 2 < (L/D) < 2,5.
2.1.3 Rock quality designation (RQD)
RQD adalah modifikasi dari persentase perolehan inti yang utuh dengan
panjang 10 cm atau lebih.Ini adalah indeks yang telah digunakan secara luas
untuk mengidentifikasikan daerah batuan yang kualitasnya rendah sehingga
dapat diputuskan untuk penambahan pemboran atau pekerjaan eksplorasi
lainnya.(Bieniawski, 1989).Prosedur pengukuran dan perhitungan RQD
(Deere, 1989) dilihat pada (Gambar 2).

(Sumber : Bieniawski, Z.T., 1989: 38)

Gambar 2. Prosedur pengukuran dan perhitungan RQD, Deere (1989)

Walaupun RQD adalah indeks yang sederhana dan murah, tapi


sendirian tidak cukup untuk melakukan deskripsi yang baik dari massa
batuan, karena tidak memperhatikan orientasi kekar, keketatan (tightness),
dan material pengisi. Priest & Hudson (1976) mengusulkan

agar RQD

ditentukan berdasarkan frekuensi kekar jika tidak adanya bor inti dengan
persamaan:
= 100 0,1 (0,1 + 1)
sumber :: Priest&Hudson(1976)
adalah frekuensi diskontinu per meter
Palmstrom (1982) mengusulkan jika inti tidak tersedia, RQD dapat
diperkirakan dari jumlah kekar-kekar (joints) per satuan volume, di dalam
mana jumlah kekar per meter untuk tiap kekar ditambahkan. Konversi untuk
massa batuan yang bebas lempung adalah :
RQD = 115 - 3.3 Jv
sumber :: Bieniawski, Z.T., 1989
Jv adalah jumlah total kekar per m3.
Hubungan antara indeks RQD dan kualitas teknik dari batuan adalah
sebagai berikut (Deere, 1968) pada (Tabel 1).
Tabel 1. Hubungan RQD dan kualitas
RQD
< 25
25 50
50 75
75 90
90 - 100
(Sumber : Bieniawski, Z.T., 1989: 38)

Kualitas Batuan
Sangat jelek (very poor)
Jelek (poor)
Sedang (fair)
Baik (good)
Sangat baik (very good)

2.1.4 Jarak diskontinuitas (Spasi of discontinuity)


Jarak diskontinuitas didefinisikan sebagai jarak rekahan bidang-bidang
tidak sejajar dengan bidang-bidang lemah lain. Sedangkan spasi bidang
diskontinuitas adalah jarak antarbidang yang diukur secara tegak lurus

dengan bidang diskontinuitas. Jarak diskontinuitas ini dapat menentukan


ukuran blok batuan utuh yang terbentuk, tingkat kekuatan kohesi massa
batuan, model runtuhan massa batuan, dan mempengaruhi permeabilitas,
serta karakter rembesan.Spasi bidang diskontinyu adalah jarak tegak lurus
antara bidang-bidang diskontinuitas yang mempunyai kesamaan arah (satu
keluarga) yang berurutan sepanjang garis pengukuran (scanline) yang dibuat
sembarang (Gambar 3). (Goodman R, Taylor R dan Brekke T, 1968)

2.1.5 Kondisi diskontinuitas (Condition of discontinuity)


Kondisi diskontinuitas merupakan parameter yang sangat kompleks dan
terdiri dari sub-sub parameter yang disarankan menurut Bieniawski, yakni
kemenerusan bidang diskontinuitas (persistence), lebar rekahan bidang
diskontinuitas (aperture), kekasaran permukaan bidang diskontinuitas
(roughness), material pengisi bidang diskontinuitas (infilling), dan tingkat
pelapukan dari permukaan bidang diskontinuitas (weathered) (Gambar 3).
Paramater nilai yang digunakan untuk kondisi diskontinuitas (Tabel 2)

(Sumber : Hudson dan Hurrison 1997)

Gambar 3. Keadaan bidang diskontinu

Tabel 2.Petunjuk klasifikasi kondisi diskontinuitas


Parameter
Panjang
kemenerusan

<1m
6
Sangat pendek

1-3m
4
pendek

rating
3-10m
2
sedang

10-20m
1
tinggi

>20m
0
Sangat tinggi

Bukaan / rekahan

0
6
Tidak ada

<0.1mm
5
Sangat rapat

0.1-1mm
4
sedang

1-5mm
1
lebar

>5mm
0
Sangat lebar

Kekasaran
permukaan joint
isian

6
Sangat kasar
0
6
Tidak ada
Tidak lapuk
6

5
kasar
<5mm
5
keras
Agak lapuk
5

4
Agak kasar
>5mm
4
keras
Sedang
5

1
halus
<5mm
1
lunak
Tinggi
1

0
licin
>5mm
0
lunak
Terurai
0

Pelapukan

(Sumber : Bieniawski, Z.T., 1989: 58)

2.1.6 Kondisi Air Tanah


Airtanah

sangat

berpengaruh

terhadap

lubang

bukaan

suatu

terowongan, sehingga posisi muka airtanah terhadap posisi lubang bukaan


sangat perlu diperhatikan. Disamping itu, tekanan piezometrik air tanah dalam
rekahan dan kecepatan aliran yang masuk ke dalamnya perlu juga untuk
diperhatikan.
Namun di lapangan, penentuan mengenai kondisi airtanah dapat
dilakukan dengan cara mengamati atap dan dinding terowongan secara visual
dan meraba permukaan rekahan. Kemudian kondisi airtanah dinyatakan
secara umum (Tabel 3), yaitu kering (dry), lembab (damp), basah (wet),
menetes (dripping), dan mengalir (flowing). (Goodman R, Taylor R dan
Brekke T, 1968)

Tabel 3. Kondisi airtanah


Deskripsi
Kering
Lembab
Basah
Menetes

Kekar Tidak Terisi


Kekar
Aliran
Kering
Tidak ada
Pengotor
Tidak ada
Lembab
Tidak ada
Basah
Kadang-kadang

Kekar Terisi
Pengisi
Kering
Lembab
Basah
Tergerus

Aliran
Tidak ada
Tidak ada
Beberapa menetes
Menetes

Mengalir

Basah

Menerus

Tercuci

Menerus

(Sumber: ISRM, Ramano)

Ada empat langkah dalam menggunakan klasifikasi geomekanika RMR


yaitu :
1. Langkah pertama adalah dengan menghitung rating total dari

lima

parameter yang terdapat di dalam (Tabel 4) sesuai dengan kondisi


lapangan yang sebenarnya.
2. Langkah kedua adalah menilai kedudukan sumbu terowongan terhadap
jurus (strike) dan kemiringan (dip) bidang-bidang diskontinuitas (Tabel 5).
3. Setelah menentukan kedudukan sumbu terowongan terhadap jurus dan
kemiringan bidang-bidang diskontinuitas, maka ratingnya ditetapkan
berdasarkan (Tabel 6). Langkah ini disebut juga sebagai penyesuaian
rating (rating adjustment).
4. Langkah keempat adalah menjumlahkan rating yang didapat dari langkah
pertama dengan rating yang didapatkan dari langkah ketiga sehingga
didapatkan rating total sesudah penyesuaian. Dari rating total ini dapat
diketahui kelas dari massa batuan berdasarkan (Tabel 7).
Tabel 4. Parameter klasifikasi RQD dan parameter bobotnya
PARAMETER

2
3

Popint-load
strength index
(Mpa)

NILAI
> 10

4-10

2-4

1-2

> 250

100250

50-100

25-50

15
90-100
20

12
75-90
17

Jarak Diskontinuitas

>2m

0.6-2 m

Bobot

20

15

7
50-75
13
200600 m
10

4
25-50
8
60-200
mm
8

Kekuatan
dari
batuan
utuh

Uniaxial
compressive
strength (UCS)
Bobot
RQD
Bobot

Untuk kuat
tekan rendah
UCS diperlukan
:
525
2

1-5
1
< 25
< 60 m
0

<
1
0

Kondisi Diskontinuitas

Sangat
kasar,
tidak
menerus,
tidak ada
separasi,
tidak ada
pelapuka
n
30

Bobot
Aliran per 10 m
panjang
None
terowongan
(L/min)
Air
Tekanan air
tanah
5
kekar tegangan
0
utama
Kondisi umum
Kering
Bobot
15
(Sumber : Bieniawski, Z.T., 1989: 54)

Agak
kasar,
separasi
<1
mm,
agak
lapuk

Agak
kasar,
separasi
< 1mm,
sangat
lapuk

Licin,
tebal
gouge <
5mm,
separasi
1- 5 mm,
menerus

Tebal gouge
lunak > 5mm,
separasi > 5mm,
menerus.

25

20

10

< 10

10-25

25-125

> 25

< 0.1

0.1-0.2

0.2-0.5

> 0.5

Lembab

Basah
7

Menetes
4

Mengalir
0

10

Tabel 5. Efek orientasi jurus dan kemiringan diskontinuitas


Jurus tegak lurus terhadap sumbu terowongan
Searah dengan dip
Dip 45-90

Dip 20-45

Sangat menguntugkan

Menguntungkan

Berlawanan dengan dip


Dip
Dip 20-45
45-90
Sedang Tidak menguntungkan

Jurus sejajar terhadap sumbu terowongan

Irrespective of Strike

Dip 20-45

Dip 45-90

Dip 0-20

Sedang

Sangat tidak menguntungkan

Fair

Tabel 6.Penyesuaian rating untuk orientasi bidang diskontinu


Orientasi strike dan
dip dari kekar

Sangat
menguntung
kan

Terowo
0
ngan
Bobot
Sipil
0
Lereng
0
(Sumber : Bieniawski, Z.T., 1989: 55)

menguntung
kan

cukup

Tidak
menguntung
kan

Sangat tidak
menguntung
kan

-2

-5

-10

-12

-2
-5

-7
-25

-15
-50

-25
-60

Tabel 7. Kelas massa batuan yang ditentukan dari rating total


10081
I
Sangat
baik
(Sumber : Bieniawski, Z.T., 1989: 55)
Bobot
Kelas
Diskripsi

8061
II
Baik

6041
III
Cukup

4021
IV
Jelek

< 20
V
Sangat
Jelek

Bieniawski mengklasifikasikan rekomendasi penyanggaan berdasarkan dari


sistem RMR yang telah didapatkan untuk setiap ekskavasi bukaan (Tabel 8).

Tabel 8. Panduan rekomendasi penyanggaan berdasarkan sistem RMR


Penyanggaan
Kelas Massa Batuan
Batuan sangat baik (I)
RMR : 81 - 100

Penggalian

Rock bolt
(D = 20 mm, fully
grouted)

Shotcrete

Steel sets

Full face, kemajuan 3 m.

Umumnya, tidak diperlukan penyanggaan kecuali spot bolting.

Full face, kemajuan 1 - 1.5 m,


penyangga lengkap 20 m dari
muka.
Top heading and bench,
kemajuan 1.5- 3 m di top
heading, penyangga dipasang
setiap
setelah
peledakan,
penyangga lengkap 10 m dari
muka.

Secara lokal, bolt di atap


panjang 3 m, spasi 2.5 m,
dengan tambahan wire mesh.

50 mm di atap
di tempat yang
dibutuhkan.

Tidak perlu

Sistematik bolt panjang 4 m,


spasi 1.5 - 2 m di atap dan
dinding dengan wire mesh di
atap.

50 - 100 mm
di atap dan 30
mm di
dinding.

Tidak perlu

Batuan buruk (IV)


RMR : 21 - 40

Top heading and bench,


kemajuan 1 - 1.5 m di top
heading,
pemasangan
penyangga seiring dengan
penggalian, 10 m dari muka.

Sistematik bolt panjang 4 - 5


m, spasi 1 - 1.5 m di atap
dan dinding dengan wire
mesh.

100 - 150 mm
di atap dan
100 mm di
dinding.

Batuan sangat buruk


(V)
RMR : < 20

Drift
berganda
dengan
kemajuan 0.5 - 1.5 m di top
heading,
pemasangan
penyangga seiring dengan
penggalian, shotcrete perlu
segera setelah peledakan.

Sistematik bolt panjang 5 - 6


m, spasi 1 - 1.5 m di atap
dan dinding dengan wire
mesh, bolt invert.

150 - 200 mm
di atap, 150
mm di
dinding, dan
50 mm di
muka.

Batuan baik (II)


RMR : 61 - 80

Batuan sedang (III)


RMR : 41 - 60

Rangka
ringan
sampai
sedang spasi
1.5 m di
tempat yang
diperlukan.
Rangka
berat sampai
ringan spasi
0.75 m
dengan steel
lagging dan
forepoling
jika perlu,
close invert.

(Sumber : Hoek, E, Kaiser, P.K., dan Bawden W.F., 1995: 37)

3.

Klasifikasi Stand up Time


Stand-up time adalah jangka waktu dimana terowongan dapat stabil
tanpa penyangga sesudah penggalian. Harus dicatat bahwa beberapa faktor
dapat mempengaruhi stand up time, seperti orientasi dari sumbu terowongan,
bentuk penampang terowongan, metode penggalian dan metode penyangga.
(Hoek, E, Kaiser, P.K., dan Bawden W.F.,1995).
Untuk menentukan nilai dari standup time maka data parameter yang
dibutuhkan adalah kelas massa batuan RMR dan lebar terowongan (span)
(Gambar 4). Lebar terowongan tanpa penyanggaan didefinisikan sebagai
lebar terowongan atau jarak antara muka dan posisi terdekat dengan

penyangga, jika jarak tersebut lebih panjang dari lebar terowongan (Lauffer,
1958).

(Sumber: Lauffer, 1988; dalam Bieniawski, 1989)

Gambar 4. Lebar terowongan (span)


Besarnya nilai standup time akan didapatkan juga nilai kohesi dan sudut
geser dalamnya berdasarkan arti kelas massa batuan seperti diperlihatkan pada
(Tabel 9).hubungan antara waktu stabil tanpa penyangga (stand-up time) dengan
span untuk berbagai kelas massa batuan dan nilai dari maximum unsupported
spandiperlihatkan oleh (Gambar 5)
Tabel 9. Arti dari kelas massa batuan
Kelas

I
20 tahun
untuk 15 m
span

II
1 minggu
untuk 10 m
span

III
1 minggu
untuk 5m
span

Kohesi dari masa


batuan (kPa)

> 400

300-400

Sudut geser
dalam dari masa
batuan (deg)

> 45

35-45

Stand up time
rata-rata

(Sumber : Bieniawski, Z.T., 1989: 55)

IV

1 jam untu 2.5 m


span

30 menit untuk
1 m span

200-300

100-200

< 100

25-35

15-25

< 15

(Sumber : Bieniawski, Z.T., 1989: 61.)

Gambar 5. Hubungan antara stand up time dengan lebar span RMR


4.

Identifikasi Potensi Baji


Ukuran dan bentuk yang berpotensi terjadinya runtuhan baji didalam
suatu masa batuan tergantung dari ukuran, bentuk dan orientasi dari bukaan,
(Hoek, E,dan Brown E,T, 1980). Dalam tambang bawah tanah longsoran baji
dapat diprediksi dengan mengukur kemiringan (dip) dan arah kemiringan (dip
direction) dari kekar-kekar (joints) yang saling berpotongan (Made AR,
Suseno K, dan Ridho KR, 2010). Terbentuknya baji pada batuan dapat
disimulasikan dengan bantuan software. Software yang digunakan untuk
identifikasi potensi keadaan baji adalah dengan menggunakan UNWEDGE
(Hoek, E, Kaiser, P.K., dan Bawden W.F.,1995).
Setelah dip dan dip direction ditentukan, kemudian bidang diskontinu
tersebut dapat diplot pada stereonet untuk melihat potensi baji yang muncul.
Sebagai contoh plot dari bidang diskontinu dapat dilihat pada (Tabel 10) dan
(Gambar 6) dibawah.

Tabel 10. Contoh data dip dan dip direction dari data diskontinu

(Sumber : Hoek, E, Kaiser, P.K., dan Bawden W.F., 1995: 62)

Gambar 6, Plot dip dan dip direction dari tiga bidang diskontinu
Dalam menentukan potensi baji (wedge) perlu diperhatikan juga data sumbu
dari sudut penunjaman (plunge) dan arah penunjaman (trend) dari sumbu tunnel
yang akan diselidiki potensi bajinya. Setelah data dimasukkan, maka software
UNWEDGE akan mendeterminasikan lokasi dan dimensi potensi terbesar yang
dapat terbentuk dari kegiatan ekskavasi (Tabel 11) dan (Gambar 7) (Hoek, E,
Kaiser, P.K., dan Bawden W.F.,1995).
Tabel 3.11.contoh data dip dan dip direction dari data diskontinu

(Sumber : Hoek, E, Kaiser, P.K., dan Bawden W.F., 1995: 64)

Gambar 7. Wedges yang terbentuk pada atap, dinding dan lantai

4.1 Tinggi runtuh dan beban keseluruhan


Dalam melakukan analisis runtuhan baji, tinggi runtuhan dan besarnya
beban runtuhan merupakan komponen yang penting untuk diketahui dalam
merekomendasikan penguatan (Gambar 8).Menurut klasifikasi geomekanik
sistem RMR, tinggi runtuh (ht) dan beban runtuh (PRMR) yang akan diterima
penyangga dirumuskan oleh Unal (1983) (Tabel 12).
Tabel 12. Rumus tinggi dan besar beban runtuh menurut Unal (1983)
No Rekomendasi

Rumus

Keterangan
ht = tinggi beban (m)

Tinggi beban
runtuh

ht =

100 RMR
xB
100

RMR = rock mass rating


B
(m)

= lebar terowongan

P = beban runtuh (ton/m2)


2

Beban runtuh

P = ht x

= densitas batuan (ton/m3)

(Sumber : Bieniawski, Z.T., 1989: 61)

Gambar 8. Tinggi dan beban runtuh

4.2 Penguatan (reinforcement)


Runtuhan baji merupakan jenis runtuhan yang paling sering terbentuk
pada tambang bawah tanah yang diakibatkan oleh adanya bidang-bidang
diskontinu pada lubang bukaan. Untuk mencegah terjadinya runtuhan baji
tersebut maka diperlukan adanya control yang sering terhadap lubang bukaan
yang dibuka. Salah satu cara untuk mencegah terhadinya baji adalah dengan
melakukan penguatan (reinforcement) tepat pada daerah yang berpotensi baji
tersebut, salah satunya dengan penggunaan baut batuan yang tepat sesuai
dengan kedalaman dan sudut untuk mengunci baji tersebut seperti yang
ditunjukan pada (Gambar 9).

(Sumber : Bieniawski, Z.T., 1989: 61)

Gambar 9. Mekanisme penguatan baji atap dan dinding bukaan


Baut batuan yang dipergunakan sebagai penyangga akan merupakan
suatu bagian dari masssa batuan, akan mempunyai fungsi yang lain (juga
fungsi yang sama) dari misalnya penyangga kayu atau besi baja yang tidak
merupakan bagian dari massa batuan tetapi diluar massa batuan.
Adapun alasan mengapa baut batuan telah digunakan secara meluas
sebagai penguat batuan,antara lain :
- Fleksibel, dapat dipergunakan pada bentuk geometri yang bervariasi.
- Umumnya mudah digunakan dan relatif murah
- Pemasangannnya dapat sepenuhnya dengan mekanisasi
- Kerapatannnya (Jumlah baut batuan per skala luas) dengan mudah dapat
disesuaikan dengan kondisi batuan lokal
- Dapat dikombinasikan dengan sistem penyanggan yang lain seperti mes
kawat, beton tembok, dan selimut beton.
Dalam memilih jenis rockbolt yang digunakan disarankan sesuai
dengan kebutuhan dalam melakukan penyanggan untuk mencegah terjadinya
baji. Rockbolt yang dibutuhkan untuk melakukan penyanggan harus sesuai
dengan kebutuhan panjang untuk menyangga baji dan spesifikasi untuk
menahan beban yang diberikan oleh baji tersebut. Potensi baji yang terbentuk
biasanya pada kegiatan ekskavasi bukaan hasil kegiatan peledakan yang
mengakibatkan terbentuk bidang diskontinu yang baru. Blok batuan yang
runtuh terjadi karena blok tersebut terletak pada atap dan dinding

terowongan. Dalam melakuan sistem penyanggaan, kuat geser

dari

permukaan yang runtuh harus diperhitungkan.

4.2.1 Baut batuan dengan pengikatan geser (Friction Anchored Rockbolt)


Baut batuan dengan cara pengikatan geser merupakan baut batuan yang
paling banyak berkembang dalam teknik penguatan batuan.Dua tipe baut
batuan dengan pengikatan geser yang tersedia , yaitu split set dan swellex.
Mekanisme pengikatan baut batuan dengan split set timbul dari
kekuatan geser dari adanya pembebanan yang mendapat batas beban
maksimum dari baut batuan saat baut batuan akan tergelincir. Baut batuan
dapat mengalami perpindahan yang besar (Gambar 10).
Mekanisme dari pengikatan baut batuan dengan swellex tergantung dari
kekuatan geser dan dikombinasikan dengan ikatan mekanik.Pengikatan dari
swellex ditimbulkan oleh kekuatan geser pembebanan ikatan mekanikantara
baut batuan dan batuan mencegah lepasnya baut dari batuan.

(Sumber : Bieniawski, Z.T., 1989: 61)

Gambar 10. Baut batuan dengan pengikatan geser tipe split set
4.2.2 Perlengakapan penunjang pada sistem baut batuan
Beberapa komponen penunjang yang digunakan bersama dengan baut
batuan antara lain:

1.

Face Plate
Sebuah face plate dirancang untuk mendistribusikan beban pada kepala
baut secara merata di sekitar batuan sekililingnya. Pada (Gambar 11) berikut
dapat dilihat jenis-jenis face plate

(Sumber : Schach, 1971)

Gambar 11. face platetipe flat, domed dan triangular


2.

Mes Kawat (wire mesh)


Jenis wire mesh yang sering digunakan adalah chailink mesh dan weld
mesh. Chailink mesh umumnya digunakan pada permukaan karena kuat dan
fleksibel. Sedangkan weld mesh terdiri atas kabel baja yang diatur dengan
pola segiempat atau bujur sangkar dan disambung dengan cara dipatri pada
titik-titik perpotongnya. Weld mesh digunakan untuk memperkuat beton
tembak dan lebih kaku daripada chailink mesh.

3.

Beton Tembak (shotcrete)


Untuk melakukan penyanggan lebih lanjut guna menambah safety
factor lubang bukaan yang tidak cukup kuat disangga dengan menggunakan
rockbolt, maka digunakan beton tembak pada dinding dan atap dari lubang
bukaan untuk menambah keamanan area kerja.
Beton tembak merupakan salah satu jenis penyangga yang besifat pasif.
Beton tembak dapat dihasilkan melalui campuran kering dimana campuran
semennya kering dan air ditambahkan pada penyemprot (nozzle). Selain itu
beton tembaka juga dapat dihasilkan dari campuran basah yang pada dasarnya

memiliki komponen yang sam dengan campuran kering hanya airnya telah
dicampurkan dalam tempat pengaduk

4.3

Pemakaian split set dan shotcrete pada lubang bukaan.


Dalam

melakukan

pemilihan

jenis

rockboltdanshotcrete

yang

digunakan, terdapat rekomendasi penggunaan penyanggan yang menurut


Cemai Biron ditunjukan pada (Tabel 13). Rekomendasi ketebalan pemakaian
shotcrete ditunjukan pada (Tabel 14).
Barton (1974) mengestimasi kebutuhan panjang rockbolt rekomendasi
yang digunakan berdasarkan lebar terowongan dan nilai ESR (excavation
support ration) dengan rumus dibawah.
L=

2 + 0.15 B
(ESR)

L adalah panjang rockbolt , B adalah lebar terowongan


ESR adalah excavation support ratio (1.3 kategori bukaan CKN-1045-XC7NTH)
.Tabel 13. Rumus rekomendasi pemasangan rockbolt menurut Cemai Biron
No Rekomendasi

Rumus

Panjang baut

I = ht +0,5

Jarak/spasi baut

b = 2/9 x S

Beban baut yang


diizinkan

R = Rmax / FK

Panjang maksimum
baut

Imax = Rmax/b2
.

Keterangan
I = panjang baut (m)
ht = tinggi beban
b = jarak baut (m)
S = lebar terowongan (m)
R = beban baut yang diizinkan
(ton)
Rmax = beban baut maksimum
(ton)
FK = faktor keamanan (2-4)
Imax = panjang baut maksimum
(m)
= density batuan (ton/m3)

Dalam melakukan proses kegiatan produksi pada lubang bukaan


tambang bawah tanah, maka dibutuhkan segera adanya suatu penyanggaan
aktif (reinforcement) yang bersifat melakukan reaksi langsung (yield) dan
memperkuat batuan tersebut secara langsung. Hal tersebut dilakukan untuk

mengamankan lokasi kerja dari adanya runtuhan dan membahayakan


keselamatan pekerja.

Tabel 14. Rumus rekomendasi pemasangan shotcrete


No Rekomendasi
1

Ketebalan
shotcrete
Shear stress
shotcrete

4.4

Rumus

= 0,434
= 0,2

P. S

LB
FK

Keterangan
= ketebalan shotcrete (m)
P= beban runtuh (ton/m2)
S= lebar terowongan (m)
= shear stress shotcrete
(ton/m2)
LB= UCS shotcrete (ton/m2)
FK = faktor keamanan

Faktor keamanan (safety factor)


Faktor keamanan merupakan besarnya nilai yang menyatakan tingkat
keamanan suatu lubang bukaan per blok grid radius pengamanan. Nilai dari
faktor keamanan harus sesuai dengan spesifikasi penyanggaan atau
pengamanan yang digunakan dan mampu untuk mengamankan lubang
bukaan tambang.Besarnya nilai faktor keamanan yang direkomendasikan
berdasarkan pengalaman dilapangan adalah sebesar 1.5 sampai dengan 2.0
untuk lubang bukaan sementara maupun lubang bukaan permanen.
Besarnya nilai dari faktor keamanan berasal dari hubungan antara gaya
penahanan terhadap terhadap beban yang diterima. Dalam penggunakan split
setsebagai penguatan, maka kapasitas dan jumlah dari split set harus
diperhitungkan sebagai faktor gaya penahan untuk menahan beban yang akan
disangga sementara (Gambar 12). Nilai suatu faktor keamanan dikatakan
tidak stabil atau runtuh jika nilainya kurang dari 1.0 berdasarkan
perhitungan.Rumus yang digunakan untuk menentukan faktor keamanan
dapat dilihat pada (Tabel 15).
Dalam menentukan faktor keamanan rencana untuk menahan runtuhan
baji, maka harus diperhitungkan spesifikasi split set dan shotcrete yang sesuai
dengan keadaan runtuhan, berupa data tinggi runtuhan, tinggi spesifikasi split

set, besarnya span, kemampuan menahan split set (kapasitas), dan beban dari
runtuhan yang diterima.

(Sumber : Hoek, E, Kaiser, P.K., dan Bawden W.F., 1995: 9)

Gambar 12. Mekanisme perhitungan faktor keamanan rockbolt


Tabel 15. Rumus perhitungan faktor keamanan menggunakan split set
No Rekomendasi

Rumus
Cxn
W

Faktor keamanan

FK =

beban luas atap

W
= S1 x S2 x P

Jumlah split set

n =

FK x W
C

Keterangan
FK = Faktor keamanan (1.52.0)
C = kapasitas split set (ton)
n= jumlah split set
W= Beban luas atap (ton)
W= beban luas atap (ton)
1= span (m)
S2 = Kemajuan (m)
P = beban runtuh ( ton/m2)

METODOLOGI PENELITIAN
Dalam pelaksanaan penelitian, penulis menggabungkan antara teori
dengan data di lapangan sehingga di dapat pendekatan penyelesaian masalah.
Adapaun metode penulisan yang dilakukan adalah :

1. Studi literatur
Studi literatur yang dilakukan meliputi studi mengenai struktur geologi
berupa ketidakmenerusan massa batuan pada tambang bawah tanah,
karakterisitik dan klasifikasi sifat batuan dengan menggunakan RMR,
penyanggaan pada bukaan tambang bawah tanah, dan analisis pemasangan
split set dan shotcrete yang didapatkan melalui laporan-laporan penelitian,
paper ataupun textbook yang berkaitan dengan penelitian serta kunjungan
perpustakaan.
2. Observasi lapangan,
Kegiatan observasi lapangan dilakukan dengan meninjau langsung ke
lokasi kegiatan produksi untuk melakukan pengamatan secara aktual terhadap
pemasangan split set dan shotcrete yang diterapkan serta kegiatan-kegiatan
lain yang berkaitan dengan penelitian.
3. Pengambilan data di lapangan
Pengambilan

data

dilakukan

pada

lokasi

pengamatan

dengan

mengambil data yang berkaitan dengan penelitian dan data yang akan
dimasukkan pada perangkat lunak phase 2 dan unwedge. Data tersebut
meliputi data geometri lubang bukaan produksi secara aktual dan data
klasifikasi RMR.
4. Pengolahan dan analisis data
Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan memasukan data yang
didapatkan dilapangan dan dilakukan beberapa perhitungan dan kemudian
dilakukan analisis terhadap data tersebut. Kegiatannya adalah sebagai berikut:

Menginput data kelengkapan klasifikasi masa batuan (RMR)

sehingga didapatkan rating dan kondisi batuan pada lubang bukaan.

Mengolah data joint yang didapatkan, sehingga dapat dilihat area-

area yang berpotensi terbentuknya baji.

Menvisualisasikan keadaan lubang bukaan berdasarkan data yang

didapatkan serta keadaan baji pada lubang bukaan dengan menggunakan


software phase 2 dan unwedge. Setelah itu dapat di tentukan posisi dan

kebutuhan split set yang akan digunakan untuk menaikan safety factor dari
lubang bukaan tersebut.

Melakukan perhitungan terhadap tinggi dan beban runtuh

berdasarkan data yang didapatkan sehingga dapat dilakukan evaluasi teknis


terhadap pemasangan split set dan shotcrete yang tepat.
5. Penyusunan laporan,
Penyusunan laporan dilakukan dengan melakukan bimbingan secara
berkala dan pembuatan laporan secara sistematis.
Sistematika penelitian dan penulisan berdasarkan data pengamatan dan
masalah yang dilakukan pada PT. Freeport Indonesia dapat dilihat pada
(Gambar 12)

\
Gambar 12. Sistematika penelitian dan penulisan

J.

RENCANA JADWAL PENELITIAN

Rencana pelaksanaan kerja skripsi adalah mulai tanggal 1 Maret 2016


sampai dengan 9 Mei 2016 (Tabel 16), dengan jadwal kegiatan sebagai
berikut.
Tabel 16. Jadwal Pelaksanaan penelitian
2016
No

K.

Kegiatan

Studi Literatur

Orientasi Lapangan

Pengambilan Data

Pengolahan Data

Penyusunan Draft

Maret

April

Mei

X
X

PENUTUP
Demikianlah proposal ini saya buat sebagai bahan pertimbangan bagi
agar dapat diterima untuk melaksanakan Tugas Akhir di PT. Freeport
Indonesia. Melihat keterbatasan dan kekurangan yang saya miliki, maka
saya sangat mengharapkan bantuan dan dukungan baik secara moril
maupun materil dari pihak perusahaan untuk kelancaran penelitian tugas
akhir ini.
Adapun bantuan yang sangat kami harapkan dalam pelaksanaan
penlitian tugas akhir ini adalah:
1. Adanya Pembimbing Lapangan selama penelitian tugas akhir

2. Kemudahan dalam mengadakan penelitian (akomodasi) ataupun


pengambilan data-data yang diperlukan selama melaksanakan tugas
akhir
3. Tempat tinggal dan konsumsi selama melaksanakan penelitian tugas
akhir.
4. Transportasi pulang-pergi Palembang ke daerah penelitian.
Semoga hubungan baik antara pihak industri pertambangan dengan
pihak institusi pendidikan pertambangan di Indonesia tetap berlangsung
secara harmonis demi kemajuan dunia pendidikan dan perkembangan
industri pertambangan Indonesia. Atas perhatian dan bantuan yang
diberikan, kami ucapkan terima kasih.
L.

DAFTAR PUSTAKA

Bieniawski, Z.T. 1984.Rock Mechanics Design In Mining and Tunneling. A.A


Balkema. Boston.
Brady, B.H.G., Brown, E.T. 1985. Rock Mechanics For Underground Mining.
George Allen & Unwin. London.
Goodman R., Taylor R. and Brekke T. 1968, A model for the mechanics of
jointed rock. ASCE Journ. Of the soil mech. And found. Div., Vol. 94,
pp.637-659
Hoek E., Brown E.T. 1980.Underground Excavation In Rock. TheInstitute
Mining And Metallurgy. London.
Hoek, E, Kaiser, P.K, Bawden, W.F. 1995.Support of Underground Excavations
in Hard Rock. A.A. Balkema.Rotterdam Brookfield.
Fernberg H. 2007. Mining Methods in Underground Mine: Second Edition.
Publisher Ulf Linder Atlas Copco Rockdrills AB, pg 37
Palmstrom, Arlid. 2009. Combining the RMR, Q, and RMi Classification
Systems. International Journal of Rock Mass. Norway.
R. D. Lama, V.S. Vutukuri. 1978 Mechanical properties ofrocks, Vol. 4, Trans
Tech.
Torres, C. Carranza. 2009. Mechanical Analysis of circular liners with particuar
reference to composite supports. For example, liners consisting of
shotcrete and steel sets. International Journal of Rock Mechanics and
Sciences Geomechanics. Newyork