Anda di halaman 1dari 44

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH

LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
BAB IV
PENGARUH STRUKTUR TERHADAP KESTABILAN LUBANG
BUKAAN TAMBANG BAWAH TANAH

4.1.

Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari kegiatan praktikum ini, sebagai berikut :
1. Mengetahui dan memahami pengaruh-pengaruh struktur yang mempengaruhi
kestabilan lubang bukaan pada tambang bawah tanah.
2. Mengetahui cara pengambilan data untuk menangani baji pada tambang bawah
tanah.
3. Dapat mengolah data yang diambil baik secara manual maupun dengan
menggunakan Unwedge Software dan Dips Software untuk desain baji pada
tambang bawah tanah.
4.2.
Dasar Teori
4.2.1. Pengaruh Struktur Terhadap Kestabilan Lubang Bukaan Tambang Bawah
Tanah
Potensi ketidakstabilan yang terjadi pada batuan di sekitar lubang bukaan
tambang bawah tanah biasanya akan selalu membutuhkan penanganan khusus
terutama atas dua hal, yaitu keselamatan pekerja dan keselamatan peralatan yang
terdapat di dalam tambang. Disamping itu, akibat dari kondisi yang lemah pada
badan bijih sehingga menyebabkan batuan samping berpotensi jatuh, dapat
mengakibatkan keuntungan dari operasi penambangan mungkin akan berkurang
jika terjadi failure pada batuan di sekitar stope pada saat proses penambangan.
Untuk mengatasi hal-hal seperti di atas, dibutuhkan pengetahuan mengenai
penyebab ketidakstabilan dan merencanakan ukuran yang sesuai sehingga akan
mengurangi atau menghilangkan segala macam permasalahan yang mungkin
timbul pada proses penambangan bawah tanah.
Di bawah permukaan bumi terdapat tegangan yaitu tegangan vertikal dan
tegangan horizontal. Jika bawah permukaan di lakukan penggalian untuk
terowongan, maka terjadi gangguan pada tegangan tersebut sehingga terjadi
perpindahan (deformasi). Jika proses deformasi pada terowongan semakin besar,
maka besar kemungkinan terowongan atau lubang bukaan tersebut runtuh. Jika

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-1

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
semakin kecil tegangan, maka kemungkinan akan berhenti dan menjadi stabil
(Bieniawski, 1989).

*Sumber : https://www.scribd.com/doc/247907866, 2016

Gambar 4.1.
Tegangan Vertikal

*Sumber : https://www.scribd.com/doc/247907866, 2016

Gambar 4.2.
Tegangan Horizontal
Secara umum ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemantapan suatu
lubang bukaan antara lain :
a.
Penyebaran batuan
b.
Struktur geologi
c.
Morfologi
d.
Tingkat pelapukan

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-2

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
Lebih lanjutnya peranan pengaruh struktur geologi tambang bawah tanah
terhadap kemantapan suatu lubang bukaan atau terowongan dapat dijelaskan
dengan melakukan analisis kajian geoteknik tambang bawah tanah seperti
stratigrafi, jenis batuan, jurus dan kemiringan, kekar dan sesar, kandungan kimia,
serta kuat massa batuan dengan serangkaian tes geomekanik. Analisis stabilitas
lubang bukaan tambang bawah tanah tidak terlepas dari sistem Rock Mass Rating
(RMR) dan juga Rock Tunneling Quality Index (Q) System.
Keberadaan struktur batuan seperti struktur kekar sangat mungkin
menghasilkan batuan-batuan lepas (falling rocks). Sebabnya adalah kekar-kekar
yang saling berpotongan. Falling rocks ini merupakan potensi yang harus
diperhatikan karena dapat membahayakan keselamatan pekerja yang mungkin
sedang berada pada daerah tersebut. Pemasangan rock bolt yang tepat akan dapat
menjaga kondisi falling rocks tidak terjadi. Terutama mengenai perhitungan model
efektif yang dapat digunakan dalam pemasangan rocks bolt.
4.2.2. Jenis dan Pengertian Longsoran pada Tambang Bawah Tanah
Dalam pertambangan, pembukaan lubang pada area yang memiliki kekar
dan relatif dangkal, jenis yang paling umum dari kecelakaan yang terjadi adalah
wedges (baji) jatuh dari atap (falling wedge) atau meluncur (sliding wedge) keluar
dari dinding samping dari bukaan. Baji ini terbentuk oleh perpotongan dua bidang
yang memisahkan massa batuan tetapi saling bertautan. Ketika bidang bebas yang
dibuat oleh penggalian dari pembukaan, tahanan dari batuan disekitarnya akan
hilang.
Satu atau lebih dari baji bisa jatuh atau meluncur dari permukaan jika bidang
bergeser adalah batuan menerus atau batuan sepanjang diskontinuitas yang rusak.
Apabila langkah-langkah yang diambil untuk mendukung baji longgar, stabilitas dari
belakang dan dinding pembukaan dapat memburuk dengan cepat. Masing-masing
baji yang dibiarkan jatuh atau longsor akan menyebabkan pengurangan tanahan
batuan dan dimana pada gilirannya akan memungkinkan baji lainnya jatuh.
Kegagalan proses ini akan berlanjut sampai melengkung alami dalam massa batuan
dan mencegah penguraian lebih lanjut atau sampai pembukaan penuh ambruk.
Ukuran dan bentuk dari potensi baji dalam massa batuan sekitar lubang bukaan
tergantung pada ukuran, bentuk dan orientasi lubang bukaan serta pada orientasi
bidang diskontinuitas yang signifikan.

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-3

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
Langkah-langkah yang diperlukan untuk menangani masalah ini, sebagai
berikut :
a. Penentuan rata dip dan arah kemiringan yang signifikan diskontinuitas daerah
pada massa batuan.
b. Identifikasi potensi baji yang dapat meluncur atau jatuh dari bagian belakang
atau dinding pembukaan.
c. Perhitungan faktor keamanan baji ini tergantung pada mode kegagalan.
d. Perhitungan jumlah rockbolt yang diperlukan untuk membawa faktor keamanan
individu baji hingga tingkat yang dapat diterima.
(Hoek, 1993)

*Sumber : Support of Underground Excavation in Hard Rock, 1993

Gambar 4.3.
Falling Wedge

*Sumber :Support of Underground Excavation in Hard Rock, 1993

Gambar 4.4.
Sliding Wedge
4.2.3. Proyeksi Stereografis

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-4

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
Menurut Ragan (1985), proyeksi stereografis adalah gambaran dua dimensi
atau proyeksi dari permukaan sebuah bola sebagai tempat orientasi geometri
bidang dan garis. Proyeksi ini hanya menggambarkan geometri kedudukan atau
orientasi

bidang

dan

garis,

sehingga

hanya

memiliki

kemampuan

untuk

memecahkan masalah yang berkaitan dengan geometri (besaran arah dan sudut)
saja.
Sedangkan menurut Coxeter (1969), proyeksi stereografis adalah sebuah
proyeksi yang memproyeksikan poin pada permukaan bola dari lingkup kutub utara
ke titik dalam bidang bersinggungan dengan kutub selatan dalam proyeksi yang
memproyeksikan bola ke sebuah bidang datar. Proyeksi didefinisikan pada seluruh
wilayah, kecuali pada satu titik-titik proyeksi. Secara intuitif, proyeksi stereografis
adalah cara membayangkan bola sebagai bidang datar, dengan beberapa aturan
yang harus diikuti. Dalam prakteknya, proyeksi dilakukan oleh komputer atau
dengan tangan menggunakan kertas grafik jenis khusus yang disebut stereonet.
Macam-macam proyeksi stereografis, sebagai berikut :
a. Wulf Net
Proyeksi ini pada dasarnya memproyeksikan setiap titik pada permukaan
bola ke bidang proyeksi pada suatu titik zenith yang terletak pada sumbu vertikal
melalui pusat bola bagian puncak. Bidang-bidang dengan sudut yang sama akan
digambarkan semakin rapat ke arah pusat.

*Sumber : http://www.docstoc.com, 2016

Gambar 4.5.
Wulf Net

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-5

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
b. Schmidt Net
Proyeksi ini lebih umum digunakan dalam analisis data statistik karena
kerapatan hasil ploting menunjukkan keadaan yang sebenarnya. Proyeksi equal
area merupakan proyeksi yang akan menghasilkan jarak titik pada bidang proyeksi
yang sama dan sebanding dengan sebenarnya. Hasil dari equal area projection
adalah suatu stereogram yang disebut dengan Schmidt Net. Schmidt Net
mempunyai daya pisah lebih baik dibagian tengah dikarenakan lingkaran yang
dibuat berdasarkan luas sehingga mendekati kesamaan dari jaring yang dihasilkan
dari perpotongannya, sehingga interval tiap lingkaran akan mearata pada setiap
kedudukan.
Perbedaan yang sangat utama antara Schmidt Net dengan Wulf Net,
sebagai berikut :
1) Schmidt Net, memiliki lingkaran besar dan lingkaran kecil dibuat dari awal atau
berdasarkan luas yang mendekati kesamaan dari jaring yang dihasilkan dari
perpotongannya, sehingga interval dari tiap lingkaran akan tetap merata pada
setiap kedudukan.
2) Wulf Net, menghasilkan lingkaran besar dan lingkaran kecil yang didapatkan
dari proyeksi bola pada arah titik zenith.

*Sumber : http://www.ged.rwth-aachen.de, 2016

Gambar 4.6.
Schmidt Net
c. Polar Net
Pada proyeksi ini, baik unsur garis maupun bidang tergambar sebagai suatu
titik. Stereogram dari proyeksi kutub ini adalah Polar Net atau Billings Net. Polar Net
ini diperoleh dari equal area projection, sehingga apabila ingin mendapatkan
proyeksi bidang dari suatu titik pada Polar Net, harus menggunakan Schmidt Net..
Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-6

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

*Sumber : http://www.exo.net, 2016

Gambar 4.7.
Polar Net
d. Orthogonal Projection (Orthographic Net)
Ortografis berasal dari bahasa Yunani, yaitu orthos, berarti lurus atau tegak
lurus dan graphikus yamg berarti menulis atau menggambar dengan garis. Ciri
proyeksi ortografis adalah semua garis proyeksi sejajar terhadap satu sama lain dan
tegak lurus terhadap bidang pada saat benda tersebut diproyeksikan.

*Sumber : http://en.wikipedia.org, 2016

Gambar 4.8.
Orthographic Net
Metode proyeksi ortografis digambarkan pada perbedaan objek gambar
berupa tampak depan, tampak samping dan tampak atas disusun secara sistematis
pada kertas gambar untuk memberikan informasi yang penting. Proyeksi
Orthographic diperoleh apabila sinar proyeksi tegak lurus dengan bidang proyeksi.
(Anonim, 2016)
Tahapan penggambaran longsoran baji dengan menggunakan proyeksi
stereografis, sebagai berikut :
Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-7

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
a. Jika diketahui kekar 1 memiliki orientasi N 130 O E/50O. Himpitkan kertas kalkir
ke wulf net. Dari arah N diukur 130O ke arah E, kemudian ditandai.
b. Arah yang ditandai di atas (130O) diputar ke arah N (dihimpitkan pada N),
kemudian digambar busur pada lingkaran besar, 50O dari luar lingkaran. Kutub
bidang digambarkan dari sebuah titik, dimana 50O dari luar ke pusat jaring.
c. Titik utama (N) yang sudah ditandai pada tahap 1, dikembalikan pada arah
semula sehingga bidang dengan orientasi N 130O E/50O sudah tergambar.

*Sumber : http://en.wikipedia.org, 2016

Gambar 4.9.
Penggambaran Orientasi Kekar pada Wulf Net
d. Setelah itu ulangi langkah penggambaran pada kekar 2 dan 3 hingga
membentuk perpotongan 3 buah kekar.

*Sumber : Longsoran Baji, 2016

Gambar 4.10.
Penggambaran Orientasi 3 Kekar yang Berpotongan
e. Setelah itu tarik arah orientasi terowongan yang telah diketahui hingga ke
bawah gambar stereografis. Bentuk terowongan sesuai dengan lebar yang telah
diketahui, kemudian tarik garis lurus yang berpotongan pada tiap bidang kekar
hingga membentuk pola baji pada terowongan di bawah gambar stereografis.

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-8

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

*Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2016

f.

Gambar 4.11.
Penampang Lubang Bukaan dengan Baji
Jika gambar telah terbentuk maka hal yang diperlukan selanjutnya adalah
mengukur plunge setiap bidang kekar dengan menempelkan garis plunge ke E
dan hitung seperti menentukan dip, kemudian dimensi baji yang terbentuk pada
terowongan baik panjang maupun sudut yang dibentuk. Setelah itu data dapat
dilakukan pengolahan data dengan menggunakan persamaan yang sesuai
untuk longsoran baji.

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-9

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
4.2.4. Unwedge Software
Unwedge merupakan bagian dari paket perhitungan geoteknik Rocscience
yang merupakan software geoteknik yang mempunyai spesialisasi sebagai software
perhitungan kestabilan lubang bukaan. Unwedge adalah analisis stabilitas dan
visualisasi 3D program untuk penggalian bawah tanah di batuan yang mengandung
berpotongan diskontinuitas struktural. Faktor keamanan dihitung untuk wedges dan
persyaratan dukungan berpotensi tidak stabil dapat dimodelkan menggunakan
berbagai jenis pola dan tempat perbautan (bolt) dan shotcrete.
Selain memungkinkan untuk titik sederhana dan klik geometri input atau
editing, Unwedge memberikan model dukungan untuk tekanan baut, shotcrete dan
dukungan, kemampuan untuk mengoptimalkan orientasi terowongan dan pilihan
untuk melihat kombinasi yang berbeda dari tiga set bersama berdasarkan daftar
lebih dari tiga set sendi. Unwedge menggunakan mesin analisis baru berdasarkan
Goodman dan Shi blok teori, yang mencakup kemampuan untuk menggabungkan
stres diinduksi sekitar penggalian dan efek pada stabilitas, model kekuatan baru
seperti Barton-Bandis dan Power Curve dan kemampuan untuk meningkatkan skala
dan ukuran wedges.
(Anonim, 2016)
Tahapan penggunaan unwedge software dalam memodelkan baji, sebagai
berikut :
a. Buka aplikasi unwedge software terlebih dahulu.

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-10

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

*Sumber : Rocscience Unwedge, 2016

Gambar 4.12.
Membuka Aplikasi Rocscience Unwedge
b. Klik menu Opening > Add Opening Section, untuk membuka lembar kerja baru.
Input data bentuk tunnel dengan sistem (X,Y) yaitu (0,0), (2.25,0), (2.25,2),
(0,2), (0,0) di pojok kanan bawah secara berurutan, dengan diketahui lebar
2,25 meter dengan tinggi 2 meter.

*Sumber : Rocscience Unwedge, 2016

Gambar 4.13.
Input Data Dimensi Terowongan
c. Tampak dimensi tunnel dengan lebar sebesar 2,25 meter dan tinggi 2 meter.

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-11

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

*Sumber : Rocscience Unwedge, 2016

Gambar 4.14.
Dimensi Terowongan

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-12

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
d. Kemudian klik menu Analysis > Input Data. Pada tampilan kotak Input Data,
pada submenu General diperlukan mengisi data orientasi terowongan, pada
submenu Joint Orientation input data kekar yang diperoleh berupa dip dan dip
direction dan pada submenu Joint Properties Model Mohr-Coulomb kemudian
klik Apply.

*Sumber : Rocscience Unwedge, 2016

Gambar 4.15.
Input Data Arah Terowongan dan Kekar
g. Klik menu View > Select View > pilih Stereonet, untuk menampilkan bentuk
stereonetnya dari hasil kekar serta orientasi terowongan.

*Sumber : Rocscience Unwedge, 2016

Gambar 4.16.
Stereonet pada Rocsciene Unwedge
h. Klik menu Support > Switch to Perimeter Support Designer, untuk menampilkan
bentuk terowongan dan baji dengan perimeter supportdesigner.
Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-13

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

*Sumber : Rocscience Unwedge, 2016

i.

Gambar 4.17.
Perimeter Support Designer
Kemudian klik Wedge Visibility pilih Roof, dimana pengaturan ini sebagai
penempatan posisi dari baji tersebut.

*Sumber : Rocscience Unwedge, 2016

Gambar 4.18.
Wedge Vasibility

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-14

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
j.

Klik menu Support > Bolt Properties, untuk mengatur bolt. Kemudian pada
Type, pilih Mechanically Anchored, dan klik OK.

*Sumber : Rocscience Unwedge, 2016

Gambar 4.19.
Type Bolt Mechanically Anchored
k. Klik menu Support > Add Bolt Pattern, perlu menambahkan support bolt pada
baji. Atur Bolt Lenght dan Pattern Spacing masing-masing sebesar 1 meter,
dimana pada keterangan di bawahnya diketahui tinggi maksimum dari bajinya
sebesar 0,75 meter dan klik Ok.

*Sumber : Rocscience Unwedge, 2016

l.

Gambar 4.20.
Bolt Setting
Kemudian double klik pada puncak baji, maka akan menampilkan bolt yang
terpasang pada baji tersebut.

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-15

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

*Sumber : Rocscience Unwedge, 2016

Gambar 4.21.
Bolt pada Terowongan dan Baji
m. Klik Tools 3D Wedge View untuk menampilkan terowongan serta baji secara

dimensi.

*Sumber : Rocscience Unwedge, 2016

Gambar 4.22.
Tampilan 3 Dimensi Terowongan dan Baji

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-16

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
n. Klik menu View > Select View > Info Viewer menampilkan Report Unwedge
Analysis Information.

*Sumber : Rocscience Unwedge, 2016

Gambar 4.23.
Report Unwedge Analysis Information pada Rocscience Unwedge

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-17

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
4.2.5. Dips Software
Dips adalah suatu program rancangan untuk menganalisis orientasi secara
interaktif dengan berdasarkan data yang berhubungan dengan struktur geologi.
Program ini adalah suatu alat bantu yang mampu diterapkan pada banyak aplikasi
dan dirancang untuk dapat digunakan bagi pemula, maupun bagi pengguna yang
mengharapkan analisis proyeksi stereografis untuk data geologi.
Dips memungkinkan pemakai untuk meneliti dan memvisualisasikan data
struktur geologi baik kekar, sesar perlapisan serta struktur-struktur lainnya dengan
mengikuti teknik yang sama digunakan di dalam stereonet manual. Dips dirancang
untuk analisi data yang berhubungan dengan analisis rancangan struktur batuan.
Penggunaan aplikasi dips antara lain geologi, tambang penggunaan dips untuk
menentukan arah umum diskontinuitas pada struktur-struktur geologi, dan
menentukan jenis longsoran yang terbentuk dalam data sudut geser dalamnya.
(Anonim, 2016)
Tahapan penggunaan dips software dalam memodelkan berupa stereonet
dari hasil data yang diperoleh pada lubang bukaan tambang bawah tanah, sebagai
berikut :
a. Buka aplikasi Dips

*Sumber : Rocscience Dips, 2016

Gambar 4.24.
Membuka Aplikasi Rocscience Dips

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-18

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
b. Kedua, klik menu File > New untuk membuka lembar kerja baru pada
Rocscience Dips.

*Sumber : Rocscience Dips, 2016

Gambar 4.25.
Membuka Lembar Kerja Baru Rocscience Dips
c. Selanjutnya pada lembar kerja baru isi data dip dan dip direction sesuai data
yang diperoleh.

*Sumber : Rocscience Dips, 2016

Gambar 4.26.
Input Data Dip dan Dip Direction

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-19

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
d. Kemudian klik View > Contour Plot, menampilkan tampilan kontur dari hasil
input data kekar.

*Sumber : Rocscience Dips, 2016

Gambar 4.27.
Contour Plot
e. Klik menu Select > Add Plane.

*Sumber : Rocscience Dips, 2016

Gambar 4.28.
Add Plane

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-20

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
f.

Klik pada area tengah-tengah ketiga kontur itu, untuk menghasilkan


stereografisnya dari kontur tersebut.

*Sumber : Rocscience Dips, 2016

Gambar 4.29.
Add Plane pada Contour Plot
g. Kemudian klik menu View > Major Planes Plot untuk menampilkan hasil dari
add plane dari kontur tersebut.

*Sumber : Rocscience Dips, 2016

Gambar 4.30.
Major Planes Plot

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-21

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
h. Klik Tools > Add Line > Klik bebas pada stereonet tersebut hingga muncul kotak
Add Line kemudian masukkan data arah terowongan yaitu trendnya.

*Sumber : Rocscience Dips, 2016

Gambar 4.31.
Add Line

*Sumber : Rocscience Dips, 2016

Gambar 4.32.
Stereografis pada Rocscience Dips

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-22

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

4.3.

Praktikum Kestabilan Lubang Bukaan Tambang Bawah Tanah

4.3.1. Alat dan Bahan yang Digunakan Dalam Praktikum


a. Alat
Adapun alat yang digunakan pada praktikum kestabilan lubang bukaan
tambang bawah tanah ini, sebagai berikut :
1) Kompas Geologi
Kompas geologi digunakan untuk mengukur kedudukan (strike, dip dan dip
direction) pada struktur bidang kekar serta orientasi tunnel.

*Sumber : Laboratorium Teknologi Pertambangan, 2016

Gambar 4.33.
Kompas Geologi
2) Meteran
Meteran digunakan untuk mengukur dimensi dari terowongan berupa lebar,
panjang dan tinggi dari terowongan tersebut.

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-23

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

*Sumber : Laboratorium Teknologi Pertambangan, 2016

Gambar 4.34.
Meteran
3) Alat Tulis
Alat Tulis digunakan untuk mencatat data-data hasil pengamatan dan hal
yang terkait dalam memperoleh data tersebut.

*Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2016

Gambar 4.35.
Alat Tulis
4) Clipboard
Clipboard digunakan sebagai alat bantu dalam pengukuran kedudukan
bidang kekar pada lubang bukaan tambang bawah tanah.

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-24

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

*Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2016

Gambar 4.36.
Clipboard

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-25

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
5) Simulasi Tambang Bawah Tanah
Simulasi Tambang Bawah Tanah digunakan sebagai tempat simulasi
tambang bawah tanah yaitu terowongan (tunnel) dilengkapi bidang kekar berbentuk
baji pada lubang bukaan tambang bawah tanah.

*Sumber : Laboratorium Teknologi Pertambangan, 2016

Gambar 4.37.
Simulasi Tambang Bawah Tanah
6) Safety Tools
Safety Tools digunakan untuk melindungi diri pada saat praktikum dari
kemungkinan bahaya yang terjadi pada tambang bawah tanah.

*Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2016

Gambar 4.38.
Safety Tools

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-26

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
7) Laptop
Laptop digunakan sebagai media dalam pengolahan data menggunakan
software recscience unwedge dan recscience dips.

*Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2016

Gambar 4.39.
Laptop
8) Rapido 1 Set
Rapido 1 Set digunakan sebagai alat gambar dalam penggambaran baji
secara manual pada kalkir dari data yang diperoleh pada lubang bukaan tambang
bawah tanah.

*Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2016

Gambar 4.40.
Rapido 1 Set

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-27

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
b. Bahan
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum kestabilan lubang bukaan
tambang bawah tanah ini, sebagai berikut :
1) Software Rocscience Unwedge
Software Rocscience Unwedge digunakan untuk menganalisis kestabilan
lubang bukaan tambang bawah tanah dan memodelkan tunnel dengan bidang kekar
berbentuk baji tersebut.

*Sumber : Rocscience Unwedge, 2016

Gambar 4.41.
Software Rocscience Unwedge
2) Software Rocscience Dips
Software Rocscience Dips digunakan untuk menggambarkan stereonet dari
data yang diperoleh pada lubang bukaan tambang bawah tanah.

*Sumber : Rocscience Dips, 2016

Gambar 4.42.
Software Rocscience Dips

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-28

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
3) Kertas Kalkir
Kertas Kalkir digunakan untuk tempat penggambaran secara manual
stereografis dari data yang diperoleh pada lubang bukaan tambang bawah tanah.

*Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2016

Gambar 4.43.
Kertas Kalkir
4) Wulf Net
Wulf Net digunakan untuk acuan dalam penggambaran stereonet secara
manual dari data yang diperoleh pada lubang bukaan tambang bawah tanah.

*Sumber : Laporan Geologi Struktur, 2014

Gambar 4.44.
Wulf Net
5)

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-29

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

4.3.2. Teknis Pengambilan Data Struktur Kekar


Adapun teknis pengambilan data struktur kekar pada praktikum kestabilan
lubang bukaan tambang bawah tanah, sebagai berikut :
a. Mempersiapkan perlengkapan yang diperlukan dalam pengambilan data.
b. Mengukur tinggi lubang bukaan atau terowongan.
c. Mengukur lebar lubang bukaan atau terowongan.
d. Mengukur arah orientasi dari terowongan (trend).
e. Mengukur kemiringan lubang bukaan (plunge).
f.

Mengukur dip direction dan dip dari struktur bidang kekar yang berada di roof
pada lubang bukaan tambang bawah tanah, pengukuran ini dilakukan pada tiap
struktur bidang kekar yang berbentuk baji.

g. Pengolahan data dari hasil data yang diperoleh secara penggambaran manual,
menggunakan software rocscience unwedge dan rocscience dips.

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-30

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

4.4.
Pengolahan Data
4.4.1. Pengerjaan Menggunakan Perhitungan Manual
Adapun data dalam pengerjaan perhitungan manual dapat dilihat pada tabel,
sebagai berikut :
Tabel 4.1.
Data Pengerjaan Perhitungan Secara Manual
Kekar

Densitas
Batuan

Lebar
Terowongan

Tinggi
Terowongan

Trend

Plunge

1
2

2,70 t/m3

Khairi Ramdhani
H1C113061

2,25 m

2,00 m

N 265O E

0O

Dip
Direction

Dip

N 85O E

71O

N 295O E

58O

N 224O E

63O

IV-31

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

PROYEKSI STEREOGRAFIS

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-32

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
Keterangan :
1. Data Pengukuran Struktur Kekar (Dip Direction/Dip)
A = N 85O E/71O
B = N 295O E/58O
C = N 224O E/63O
2. Data Ukuran Dimensi Kekar
a

= 2,4 cm = 1,20 meter

= 4,5 cm = 2,25 meter

= 3,0 cm = 1,50 meter

ab = 1,9 cm = 0,95 meter


bc = 2,7 cm = 1,35 meter
ac = 1,0 cm = 0,50 meter
ab = 40O
bc = 31O
ac = 109O
ab = 39O
bc = 29O
ac = 55O
3. Data Orientasi dan Kemiringan Terowongan = N 265O E/0O

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-33

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
Diketahui data proyeksi stereografis struktur bidang kekar pada lubang
bukaan tambang bawah tanah, sebagai berikut :
Skala 1 : 50
Massa Baji

: 2,70 ton/m3

Trend Tunnel

: N 265O E

Lebar Lubang Bukaan

: 2,25 meter

Tinggi Lubang Bukaan

: 2,00 meter

Joint 1 Dip Direction/Dip : N 85O E/71O


Joint 2 Dip Direction/Dip : N 295O E/58O
Joint 3 Dip Direction/Dip : N 224O E/63O
ab

: 40O

bc

: 31O

ac

: 109O

ab

: 29O

bc

: 39O

ac

: 55O

: 2,4 cm = 1,20 meter

: 4,5 cm = 2,25 meter

: 3,0 cm = 1,50 meter

ab

: 1,9 cm = 0,95 meter

bc

: 2,7 cm = 1,35 meter

ac

: 1,0 cm = 0,50 meter


Ditanyakan dari diketahui data proyeksi stereografis struktur bidang kekar

pada lubang bukaan tambang bawah tanah, sebagai berikut :


a. Luas Alas Baji (AF)
=.....
b. Tinggi Baji (h)
=.....
c. Berat Baji ()
=.....
d. Berat Spesifik Baji (W)
=.....
e. Tekanan Baji (P)
=.....

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-34

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
Penyelesaian :
a. Luas Alas Baji (AF)
AF= 1/3 (1/2.a.b.sin ab)+(1/2.b.c.sin bc)+(1/2.a.c.sin ac)
= 1/3 x (1/2 x 1,2 m x 2,25 m x sin 40o) + (1/2 x 2,25 m x 1,5 m x sin 31o)
+ (1/2 x 1,2 m x 1,5 m x sin 109o)
= 0,86262 m2
b. Tinggi Baji (h)
h = 1/3 ((ab.tan ab) + (bc.tan bc) + (ac.tan ac))
= 1/3 ((0,95 m x tan 39) + (1,35 m x tan 29) + (0,50 m x tan 55))
= 0,74390 m
c. Berat Spesifik Baji ()
= .g
= 2,7 ton/m3 x 9,81 m/s2
= 2700 kg/m3 x 9,81 m/s2
= 26487 N/m3
= 26,487 kN/m3
d. Berat Baji (W)
W = (1/3.AF.h).
= (1/3 x 0,86262 m2 x 0,74390 m) x 26,487 kN/m3
= 5,66555 kN
e. Tekanan Baji (P)
P = W/AF
= 5,66555 kN/0,86262 m2
= 6,56785 kN/m2

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-35

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
4.4.2. Pengerjaan Menggunakan Software Unwedge
Adapun data dalam pengerjaan dengan menggunakan software unwedge
dilihat pada tabel, sebagai berikut :
Tabel 4.2.
Data Pengerjaan Menggunakan Software Unwedge
Kekar

Lebar
Terowongan

Tinggi
Terowongan

Trend

Plunge

1
2

2,25 m

2,00 m

N 265O E

0O

Dip
Direction

Dip

N 85O E

71O

N 295O E

58O

N 224O E

63O

*Sumber : Rocscience Unwedge, 2016

Gambar 4.46.
Hasil Pengolahan Data Proyeksi Stereonet dengan Unwedge Software

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-36

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

*Sumber : Rocscience Unwedge, 2016

Gambar 4.47.
3 Dimensi Wedge pada Lubang Bukaan Tambang Bawah Tanah

*Sumber : Rocscience Unwedge, 2016

Gambar 4.48.
3 Dimensi Wedge dengan Rockbolt pada Lubang Bukaan
Tambang Bawah Tanah

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-37

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

*Sumber : Rocscience Unwedge, 2016

Gambar 4.49.
Tampak Samping Wedge dengan Rockbolt pada Lubang Bukaan
Tambang Bawah Tanah

*Sumber : Rocscience Unwedge, 2016

Gambar 4.50.
Tampak Atas Wedge dengan Rockbolt pada Lubang Bukaan
Tambang Bawah Tanah

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-38

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

*Sumber : Rocscience Unwedge, 2016

Gambar 4.51.
Tampak Depan Wedge dengan Rockbolt pada Lubang Bukaan
Tambang Bawah Tanah

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-39

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
Hasil pengolahan dengan Unwedge Software didapatkan data, sebagai
berikut :
a. Tunnel (Terowongan)
Tinggi
= 2,00 meter
Lebar
= 2,25 meter
Trend
= N 265O E
Plunge
= 0O
Densitas Batuan
= 2,70 ton/m3
Densitas Air
= 0,981 ton/m3
b. Bolt Properties (Baut)
Bolt Type
= Mechanicaly Anchored
Tensile Capacity
= 10 ton
Plate Capacity
= 10 ton
Anchor Capacity
= 10 ton
Method
= Cosine Tension/Shear
Bolt Length
= 1,00 meter
Orientation
= Normal to Boundary
Pattern Spacing
In Plane
= 1,00 m
Out of Plane
= 1,00 m
Out of Plane Offset = 1,00 m
c. Joint Orientation (Orientasi Kekar)
Joint 1
= N 85o E/71o
Joint 2
= N 295o E/58o
Joint 3
= N 224o E/63o
d. Wedge (Baji)
Factor Safety
= 33,953
Volume
= 0,218 m3
Weight
= 0,589 ton
z-Length
= 0,78 meter

4.4.3. Pengerjaan Menggunakan Software Dips


Adapun data dalam pengerjaan dengan menggunakan software dips dilihat
pada tabel, sebagai berikut :
Tabel 4.3.
Data Pengerjaan Menggunakan Software Dips

Khairi Ramdhani
H1C113061

Kekar

Trend
Tunnel

Plunge
Tunnel

Dip
Direction

Dip

N 265O E

0O

N 85O E

71O

IV-40

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN

N 295O E

58O

N 224O E

63O

*Sumber : Rocscience Dips, 2016

Gambar 4.52.
Hasil Pengolahan Data Kontur Struktur Bidang Kekar dengan Dips Software

*Sumber : Rocscience Dips, 2016

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-41

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
Gambar 4.53.
Proyeksi Stereonet dari Kontur Struktur Bidang Kekar dengan Dips Software

*Sumber : Rocscience Dips, 2016

Gambar 4.54.
Hasil Pengolahan Data Proyeksi Stereonet dengan Dips Software

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-42

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
4.5.

Pembahasan
Potensi ketidakstabilan lubang bukaan pada tambang bawah tanah yang

terjadi pada batuan di sekitar lubang bukaan tambang bawah tanah biasanya akan
selalu membutuhkan penanganan khusus. Disamping itu, akibat dari kondisi yang
lemah pada badan bijih sehingga menyebabkan batuan samping berpotensi runtuh,
maka dibutuhkan pengetahuan mengenai ketidakstabilan dan merencanakan
ukuran yang sesuai sehingga akan mengurangi atau menghilangkan segala macam
permasalahan yang mungkin timbul pada lubang bukaan tambang bawah tanah.
Pada perbandingan data pengolahan data secara manual dan dengan cara
pengolahan menggunakan software unwedge. Perhitungan secara manual memakai
rumus-rumus dari yang sudah ada sebelumnya. Dari hasil kegiatan pengukuran
yang dilakukan pada area simulasi tambang bawah tanah, data yang didapat data
lubang bukaan berupa lebar span, tinggi span, trend (arah terowongan), plunge dan
juga data kekar berupa dip dan dip direction. Pada pengerjaan perhitungan manual,
data-data yang didapat tadi diproyeksikan pada media wulf net (proyeksi
stereografis) sampai membentuk segitiga baji dan baji tersebut dipindahkan ke
gambar desain lubang bukaan tambang bawah tanah untuk selanjutnya diukur
panjang masing-masing garis dan sudut yang membentuk baji tersebut. Data yang
digunakan untuk menenentukan luas alas (AF) adalah panjang garis yang berada
pada desain lubang bukaan, yaitu panjang garis a (a), panjang garis b (b), panjang
garis c (c), dan sudut yang berada pada proyeksi wulf net (proyeksi stereografis)
dibentuk oleh pertemuan garis a dan b ( ab), sudut pertemuan garis b dan c (

bc), dan sudut pertemuan garis a dan c ( ac). Data yang digunakan untuk
menentukan tinggi baji (h) adalah panjang garis yang berada pada desain lubang
bukaan dan dibuat ditengah baji yang melambangkan garis tengah antara 2 garis,
yaitu panjang garis ab (ab), panjang garis bc (bc), panjang garis ac (c), dan sudut
yang berada pada desain lubang bukaan dibentuk oleh pertemuan garis a dan b (

ab), dibentuk oleh pertemuan garis b dan c ( bc), dan dibentuk oleh
pertemuan garis a dan c ( ac). Data yang digunakan dalam menentukan berat
spesifik baji ( ) adalah densitas batuan ( ) dan kecepatan gravitasi (g). Data
yang digunakan untuk menentukan barat baji (W) adalah luas alas (AF), tinggi baji
(h), dan berat spesifik baji ( ). Kemudian data yang sudah didapat di lapangan
dihitung dengan menggunakan rumus dalam perhitungan tersebut, dan dalam
penggambaran dan perhitungannya dibutuhkan ketelitian.

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-43

PRAKTIKUM TAMBANG BAWAH TANAH


LABORATORIUM TEKNOLOGI PERTAMBANGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
Pada praktikum kali ini diperoleh data trend terowongan : N 265o E, lebar
lubang bukaan : 2,25 meter, tinggi lubang bukaan : 2,0 meter, dimana dengan
orientasi kekarnya (dip direction/dip) : joint 1 (N 85o E/71O), joint 2 (N 295o E/58O),
joint 3 (N 224o E/63O).
Dimana data yang diinput sama, dalam pengerjaan perhitungan secara
manual dan pengerjaan menggunakan software unwedge. Hasil perhitungan secara
manual diproleh hasilnya sebagai berikut luas alas baji (AF) adalah 0,86262 m2,
tinggi baji (h) adalah 0,74390 m, berat spesifik baji () adalah 26,487 kN/m3, berat
baji (W) adalah 5,6655 kN dan tekanan baji (P) pada terowongan adalah
6,56785 kN/m2, sedangkan pada perhitungan baji menggunakan software unwedge
diperoleh hasil Factor Safety (FS) 33,953, Volume Baji adalah 0,218 m3, Weight Baji
adalah 0,589 ton dan z-Length 0,78 m.
Hasil pengerjaan dengan menggunakan manual dan menggunakan software
berbeda baik dalam segi gambaran proyeksinya karena ketelitian dalam
penggambaran yang kurang, kemudian dalam perhitungannya dilihat dari tinggi dan
berat baji hasil secara manual dan software kurang lebih sama hanya selisih sekitar
2 angka di belakang koma saja dalam hasil tersebut.

Khairi Ramdhani
H1C113061

IV-44