Anda di halaman 1dari 27

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada kegiatan usaha pertambangan dalam pengambilan bahan galian
sangat jarang mendapatkan hasil yang langsung dapat di jual atau memiliki
nilai tinggi. Biasanya akan dilakukan terlebih dahulu pengolahan awal yang
sering disebut dengan Pengolahan Bahan Galian (PBG). Kegiatan ini
bertujuan untuk mengolah bahan galian tersebut menjadi lebih ekonomis dan
menciptakan tingkat efektivitas dari kegiatan usaha pertambangan.
Yang dimaksud dengan bahan galian adalah bijih (ore), mineral
industri (industrial minerals) atau bahan galian Golongan C dan batu bara
(coal). Pengolahan bahan galian (mineral beneficiation/mineral
processing/mineral dressing) adalah suatu proses pengolahan dengan
memanfaatkan perbedaan-perbedaan sifat fisik bahan galian untuk
memperoleh produkta bahan galian yang bersangkutan. Khusus untuk batu
bara, proses pengolahan itu disebut pencucian batu bara (coal washing) atau
preparasi batu bara (coal preparation).
Pada saat ini umumnya endapan bahan galian yang ditemukan di alam
sudah jarang yang mempunyai mutu atau kadar mineral berharga yang tinggi
dan siap untuk dilebur atau dimanfaatkan. Oleh sebab itu bahan galian
tersebut perlu menjalani pengolahan bahan galian (PBG) agar mutu atau
kadarnya dapat ditingkatkan sampai memenuhi kriteria pemasaran atau
peleburan.
Selain itu potensi endapan mineral industri yang relatif besar,
diantaranya bentonit, batugamping, zeolit, kaolin, feldspar, tras, dan kaolin,
seperti tercantum pada pengolahan mineral/bahan galian atau juga disebut ore
dressing/mineral dressing/miling dimaksudkan untuk meningkatkan nilai
ekonomi dari mineral. Pengolahan mineral dapat dilakukan dengan
memanfaatkan perbedaan sifat-sifat fisika atau kimianya.
2 Pengolahan Bahan Galian

Kehidupan manusia tidak lepas dari bahan galian, mulai dari rumah
seisinya, genting, keramik, peralatan dapur, motor, mobil, cat sampai bahan
bakar, semuanya berasal dari bahan galian.

Tahap pengolahan bahan galian terdiri dari preparasi, konsentrasi, dan


dewatering. Pada praktikum ini, praktikan dikenalkan dengan alat-alat
preparasi yaitu jaw crusher. Crusher merupakan mesin yang dirancang untuk
mengurangi besar batu ke batu yang lebih kecil seperti kerikil atau debu batu.
Kegiatan praktikum ini dibimbing oleh asisten dosen mata kuliah pengolahan
bahan galian.
Pada kegiatan praktikum pengolahan bahan galian para praktikan yang
akan melakukan kontak dengan alat harus menggunakan APD (Alat
Pelindung Diri). APD adalah kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja
sesuai bahaya dan risiko kerja untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri
dan orang di sekelilingnya. Biasanya jaw crusher ini digunakan pada kegiatan
kominusi di sejumlah perusahaan tambang batuan seperti batubara, batu
granit dan batu-batu lainnya yang ukuran bahan galiannya besar-besar.

1.2 Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dari kegiatan praktikum pengolahan bahan galian


mengenai Rotary Sample Devider ini adalah agar praktikan dapat mengenal
alat-alat pengolahan bahan galian yang dimaksudkan di Laboratorium
Pengolahan Bahan Galian dan Metalurgi di Gedung Pengabdian Jurusan
Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Bangka Belitung.

Tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan praktikum pengolahan bahan


galian ini, antara lain :

Agar praktikan dapat memahami pengetahuan tentang pengolahan bahan


galian.

Agar praktikan dapat mengusai dasar dari cara kerja dan sistematika dari
alat praktikum yaitu rotary sample devider.
3 Pengolahan Bahan Galian

Agar praktikan dapat memahami tahapan-tahapan pengolahan bahan


galian dari primary, secondary lalu fine crushing.

Agar praktikan dapat mengetahui cara kerja alat rotary sample devider.
Agar praktikan dapat mengetahui komponen komponen yang terdapat
pada alat rotary sample devider.
Agar praktikan dapat melakukan tahap analisis dari praktikum tersebut.

1.3 Manfaat

Dari praktikum ini memiliki manfaat agar para praktikan mengerti


dasar dan dapat memahami mengenai alat rotary sample devider. Karena
nantinya hal-hal tersebut sesuai dengan acuan bidang pekerjaan pada kegiatan
pertambangan nantinya.
4 Pengolahan Bahan Galian

BAB II
TEORI DASAR

2.1 Granit
Batuan granit merupakan batuan beku yang berasal dari dalam perut
bumi (muntahan magma) yang berstuktur granitik dan struktur holokristalin,
yang terdiri dari elemen kuarsa dan feldspar, sedangkan mineral lainnya
dalam jumlah kecil seperti bioit, muskovit, hornblende, dan piroksen. Dalam
bidang industri, pemanfaatan batuan granit banyak dipakai dalam pembuatan
keramik dan bahan beku pembuatan batu hias, lantai, ataupun ornamen
dinding.

Gambar 2.1 Batu Granit

2.2 Pengolahan Bahan Galian

Pengolahan Bahan Galian merupakan proses pemisahan mineral


berharga dari mineral tidak berharga, yang dilakukan secara mekanis, dimana
menghasilkan produk yang kaya mineral berharga (konsentrat) dan produk
yang mineralnya berkadar rendah (tailing). Proses pemisahan ini didasarkan
atas sifat fisik mineral maupun sifat kimia fisika
permukaan mineral dan diupayakan menguntungkan.
Keuntungan dari pengolahan bahan galian adalah sebagai berikut :
1. Secara Ekonomis.
a. Mengurangi ongkos angkut tiap ton logam dari lokasi penambangan ke
pabrik pengolahan, karena sebagian mineral tidak berharga (waste mineral)
telah terbuang selama proses pengolahan dan kadar bijih sudah
5 Pengolahan Bahan Galian

ditingkatkan.
b. Mengurangi jumlah flux yang ditambahkan dalam peleburan serta
mengurangi metal yang hilang bersama slag.
c. Mengurangi biaya peleburan tiap ton logam yang dihasilkan, sebab
dalam peleburan tonase logan yang dihasilkan lebih banyak (dalam waktu
yang sama) bila dibandingkan dengan peleburan tanpa diawali dengan
pengolahan bahan galian.
2. Secara Teknis.
a. Pengolahan Bahan Galian akan menghasilkan konsentrat yang
mempunyai kadar mineral berharga relatif tinggi, sehingga lebih
memudahkan untuk mengambil metalnya.
b. Ada kemungkinan konsentratnya mengandung lebih dari satu mineral
berharga, maka ada kemungkinan dapat diambil logam yang lain sebagai
hasil sampingan.
Tujuan dilakukannya kegiatan pengolahan bahan galian ini yaitu untuk
membebaskan mineral berharga dari mineral pengotornya (meliberasi),
memisahkan mineral berharga dari pengotornya, mengontrol ukuran partikel
agar sesuai dengan proses selanjutnya (reduksi ukuran), mengontrol agar bijih
mempunyai ukuran yang relatif seragam, mengontrol agar bijih mempunyai
kadar yang relatif seragam, membebaskan mineral berharga, menurunkan
kandungan pengotor (menaikkan kadar mineral berharga).

Aktifitas dari kegiatan penambangan telah diatur dalam Undang-


undang No.4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
Adapun tahap-tahap dalam pengolahan bahan galian yang utama terdiri dari:

1. Reduksi Ukuran

Yaitu tahapan pengecilan ukuran yang merupakan tahapan utama


dalam pengolahan bahan galian.Reduksi ukuran terdiri dari dua macam
proses yaitu:

a. Peremukan atau pemecahan bahan galian yang dapat menggunakan


alat mekanis yang berbasis Crushing baik tahap pertama, kedua
dan seterusnya disesuaikan dengan permintaan konsumen.
6 Pengolahan Bahan Galian

b. Penggerusan atau penghalusan yang dapat menggunakan alat


mekanis yang berbasis Grinding baik dalam tahap pertama, kedua
dan seterusnya, hasil atau produk dapat berfariatip yang dapat
disesuaikan denagn sistem pengoperasian alat.

2. Pemisahan Berdasarkan Ukuran (Sizing)

Setelah bahan galian atau bijih diremuk dan digerus, maka akan
diperoleh bermacam-macam ukuran partikel. Oleh sebab itu harus dilakukan
pemisahan berdasarkan ukuran partikel agar sesuai dengan ukuran yang
disesuaikan dengan kebutuhan konsumen agar bernilai jual. Pada proses
pengolahan yang berikutnya, pengolahan tersebut dapat berupa tahapan
pengayakan atau penyaringan yang merupakan tahapan atau proses
pemisahan secara mekanik berdasarkan perbedaan ukuran partikel.

Pengayakan (screening) dipakai dalam skala industri, sedangkan


penyaringan (sieving) dipakai untuk skala laboratorium yang digunakan
untuk pembelajran serta praktikum pengolahan bahan galian .

Produk dari proses pengayakan atau penyaringan ada dua, yaitu:

a. Ukuran lebih besar daripada ukuran lubang-lubang ayakan (oversize).

b. Ukuran yang lebih kecil daripada ukuran lubang-lubang ayakan


(undersize). Tentunya hal yang dapat merugikan seperti tidak sesuai
dengan yang dibutuhkan oleh perusahaan sangat dihindari.

Kominusi merupakan salah satu tahapan pada pengolahan bijih, mineral


atau bahan galian. Pada kominusi, bijih atau mineral berukuran lebih besar
dari 1 meter dapat dikecilkan menjadi bijih berukuran kurang daripada 100
mikron. Pada umumnya bijih, mineral atau bahan galian dari tambang masih
berukuran cukup besar. Sehingga sangat tidak mungkin dapat secara agnsung
digunakan atau diolah lebih lanjut. Biasanya bijih atau minral dalam ukuran
7 Pengolahan Bahan Galian

besar itu memiliki kadar sangat rendah dan terikat dengan mineral
pengotornya. Liberasi mineral berharga masih rendah pada ukuran bijih yang
besar. Sehingga untuk dapat diolah dan untuk dapat meninggkatkan kadar
mineral tertantu harus melalui proses pengecilan ukuran terlebih dahulu.
Operasi ini biasanya dibagi menjadi dua tahapan yaitu:

Crushing

Grinding

Pada prinsipnya tujuan operasi pengecilan ukuran pada kominusi


ukuran bijih, mineral atau bahan galian adalah:

1. Membebaskan ikatan mineral berharga dari gaunge nya.

2. Menyiapkan ukuran umpan sesuai dengan ukuran operasi konsentrasi


atau ukuran pemisahan.

3. Mengekspos permukaan mineral berharga, untuk proses hyrometalurgi


tidak perlu benar-benar bebas dari gangue.

4. Memenuhi keinginan konsumen atau tahapan berikutnya.


8 Pengolahan Bahan Galian

Gambar 2.2 Proses Kominusi

Tahapan kominusi adalah dengan system crushing. Crushing


biasanya digunakan untuk pengecilan ukuran sampai ukuran bijih kuran lebih
20 mm, sedangkan penggerusan, grinding digunakan untuk pengecilan ukuran
mulai dari 20 mm sampai halus. Umumnya pengecilan ukuran bijih dilakukan
secara bertahap, yaitu:

1. Primary Crushing (Peremukan tahap pertama)

Mengecilkan ukuran bijih sampai ukuran 20 cm.

2. Secondary Crushing (Peremukan tahap kedua)

Mengecilkan ukuran bijih dari sekitar 20 cm sampai 5 cm.

3. Tertiary Crushing (Peremukan tahap ketiga)

Mengecilkan ukuran bijih dari 5 cm menjadi sekitar 1 cm.


9 Pengolahan Bahan Galian

4. Grinding (Penggerusan kasar)

Mengecilkan ukura bijih dari sekitar 1 cm menjadi 1 mm

5. Fine Grinding (Penggerusan halus)

Mengecilkan ukuran bijih mulai dari 1 mm menjadi halus, biasanya


ukuran bijih menjadi kuran 0,075.

Kemampuan alat dalam mengecilkan ukuran sangat terbatas,


sehingga pengecilan selalu dilakukan bertahap. Tahap peremukan biasanya
dilakukan dengan reduksi rasio antara 4 sampi 7, sedangkan penggerusan
biasanya dilakukan dengan reduksi rasio 15 sampai 60. Reduksi rasio ukuran
merupakan perbandingan ukuran umpan terhadap ukuran produk.

Mekanisme Remuk (Aksi Kominusi):

1) Abrasion (attrition)

Terjadi bilamana energi yang kurang mencukupi diterapkan pada


partikel, menyebakan terjadinya localized stressing dan remuknya
sebagian kecil area sehingga menghasilkan distribusi ukuran partikel
yang halus.

2) Compression (clevage)

Energi cukup untuk membuat partikel remuk, menghasilkan ukuran


partikel ukurannya tidak jauh berbeda dengan ukuran umpan.
10 Pengolahan Bahan Galian

3) Impact (shatter)

Energi sangat mencukupi untuk terjadinya peremukan partikel,


menghasilkan banyak partikel dengan distribusi ukuran yang lebar.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses kominusi:

Ukuran material/bijih dari tambang.

Biasanya ukuran material/bijih dari tambang dalam bentuk


bongkah pemilihan primary crusher dan proses screening.

Keadaan bijih pada material yang lengket akan mempengaruhi


pemilihan mill/crusher.

Kesediaan air penting khususnya untuk proses basah.

Proses-proses berikutnya basah atau kering.

Korosi pada lining (bahan pelapis pada dinding dalam mill).

Reaksi antara material dengan air.

2.3 Tahapan Kominusi


2.3.1 Crushing
Peremukan ini merupakan proses bagian dari kominusi yang bertujuan
untuk mengurangi/mereduksi ukuran butir dari bijih bahan galian yang telah
ditambang. Crushing ini sendiri memiliki arti proses reduksi ukuran dari bahan
galianatau bijih yang langsung dari tambang (ROM = run of mine) dan memiliki
ukuran besar-besar (diameter sekitar 100 cm) menjadi ukuran 20-25 cm bahkan
bisa mencapai ukuran 2,5 cm.Crushing bagian dari kominusi ini memiliki 3
tahap, yaitu primary crushing, secondary crushing, dan fine crushing (grinding).
Tahapan Crushing tersebut yaitu :
11 Pengolahan Bahan Galian

1. Prymari crushing (Tahap pertama) : Dapat memecah batuan yang berukuran


sekitar 1500mm menjadi ukuran 30-100mm. Ukuran terbesar dari tahapan ini
adalah 200mm. Alat peremuk yang biasanya digunakan pada tahap ini
adalah Jaw Crusher dan Gyratory Crusher.
2. Secondary Cruher (Tahap kedua) : Dapat memecah material yang berukuran
150mm menjadi 12.5-25.4mm. Pada tahapan ini kadang masih di jumpai ukuran
partikel 75mm sehingga perlu di lakukan cushing tahap ketiga. Alat peremuk
yang digunakan adalah Cone Crusher, Hammer Mill dan Rolls.
3. Fine crushing (Tahap lanjutan) : material yang dicruching biasanya berukuran
lebih besar dari 25,4mm. Apabila hasil tidak memuaskan maka perlu di lakukan
crusher lagi. Alat yang digunakan Rolls, Dry Ball Mills, Disc Mills dan Ring
Mills.

2.3.2 Grinding
Grinding Merupakan tahap pengurangan ukuran dalam batas ukuran halus
yang diinginkan. Grinding adalah proses pengurangan ukuran partikel bahan
dari bentuk kasar menjadi ukuran yang lebih halus untuk menyempurnakan
proses mixing yaitu hasil pencampuran yang merata dan menghindari segregasi
partikelpartikel bahan. Grinding menggunakan hammermill ataupun rollermill.
Grinding adalah proses pengurangan ukuran partikel bahan olahan dari bentuk
besar/kasar di ubah menjadi ukuran yang lebih kecil. Untuk itu yg namanya
grinding adalah proses pemecahan atau penggilingan.
Alat yang digunakan dalam grinding yaitu:
a.Ball Mill
Mill ini merupakan sebuah silinder horizontal dengan diameter sama
dengan panjangnya, yang dilapisi dengan suatu plat. Alat ini memiliki suatu
silinder yang terisi dengan bola baja. Cara kerjanya yaitu dengan diputar,
sehingga material yang dimasukkan hancur oleh bola-bola baja. Biasanya
diameter ball mill sama dengan panjang ball mill.
b. Rod Mill
12 Pengolahan Bahan Galian

Media grinding ini alat ini berupa batang-batang besi/baja yang


panjangnyya sama dengan panjang mill. Cara kerjanya dengan diputar.sehingga
batang baja terangkat lalu jatuh dan menjatuhi material yang ada dalam rod mill
sehingga hancur.
c.Hammer Mill
Penggiling ini memiliki sebuah rotor yang berputar dengan kecepatan
tinggi dalam sebuah casing berbentuk silinder. Umpan masuk dari bagian
puncak casing dan dihancurkan, selanjutnya dikeluarkan melalui bukaan pada
dasar casing. Umpan dipecahkan oleh seperangkat palu ayun yang berada pada
piring rotor. Kemudian pecahan ini terlempar pada anvil plate di dalam sebuah
casing sehingga dipecahkan lagi menjadi bagian yang lebih kecil. Lalu digosok
menjadi serbuk. Akhirnya didorong oleh palu ke luar bukaan.

Proses pemecahan/penggilingan ada 4 cara yaitu

1. Potongan ( cutting ), bahan olahan di grinding dengan menggunakan benda


tajam.

2. Pukulan ( impact ), bahan olahan di grinding dengan menggunakan benda


tumpul.

3. Tekanan ( compression ), bahan olahan di grinding dgn di tekan arah tegak


lurus dari landasan.

4. Gesekan ( attrition ), bahan olahan di grinding dgn di gesek arah sejajar dari
landasan.

2.4 Preparasi
Preparasi sampel adalah pengurangan massa dan ukuran dari sample
sampai pada massa dan ukuran yang cocok untuk analisa di laboratorium.
Preparasi batubara merupakan salah satu kegiatan lanjutan untuk conto yang
13 Pengolahan Bahan Galian

telah disampling, dimana kegiatan ini adalah untuk mempersiapkan contoh


batubara yang akan dianalisa dengan melakukan pengadukan (homogenisasi),
penggilingan, pembagian, penghalusan.
Teknik preparasi sampel adalah bagian dari proses analisis yang sangat
penting karena merupakan proses yang harus dilakukan untuk menyiapkan
sampel sehingga siap untuk dianalisis menggunakan instrumentasi yang sesuai.
Secara umum proses analisis minimal mempunyai 5 langkah, yaitu sampling
(pengambilan sampel), preservasi sampel (penyimpanan sampel), preparasi
sampel (penyiapan sampel), analisis (pengukuran), interpretasi data (analisis
data), dan pembuatan laporan analisis. Kesalahan pada salah satu tahap pada
proses analisis akan menyebabkan terjadinya kesalahan hasil analisis. Akibatnya
akan dihasilkan data hasil analisis yang tidak valid.
Preparasi merupakan persiapan sebelum dilakukan proses konsentrasi,
dalam proses ini ada beberapa tahap, yaitu :

1. Kominusi

Proses mereduksi butiran sehingga menjadi lebih kecil dari ukuran


semula. Hal ini dapat dilakukan dengan crushing (peremukan) untuk proses
kering.

2. Sizing

Sizing adalah tindakan untuk mengelompokkan partikel menurut besar


kecilnya ukuran. Sizing merupakan aktivitas yang sangat penting dalam upaya
penyeragaman ukuran untuk mendapatkan kelompok partikel dengan ukuran
butir yang sesuai untuk tiap-tiap metode pemisahan atau pengolahan mineral.
Adapun tahapan-tahapan preparasi sample yaitu sebagai berikut :

1. Pengeringan Udara (Air Drying)


Pengeringan udara pada gross sample dilakukan jika sample tersebut
terlalu basah untuk diproses tanpa menghilangnya moisture atau yang
menyebabkan timbulnya kesulitan pada crusher atau mill. Pengeringan udara
dilakukan pada suhu ambient sampai suhu maksimum yang dapat diterima yaitu
400C. Waktu yang diperlukan untuk pengeringan ini bervariasi tergantung dari
14 Pengolahan Bahan Galian

tipe batubara yang akan di preparasi, hanya prinsipnya batubara dijaga agar
tidak mengalami oksidasi saat pengeringan.
2. Pengecilan Ukuran Butir (Crushing)
Pengecilan ukuran butir adalah proses pengurangan ukuran atas sample
tanpa menyebabkan perubahan apapun pada massa sample. Umumnya conto
batubara digiling berdasarkan ukuran partikel yang diperlukan oleh pengujian
tertentu. Beberapa aturan dalam cara memperkecil ukuran partikel antara lain:
Pengecilan ukuran harus dilakukan secara mekanis.
Tidak diperbolehkan mengayak material yang tertahan ayakan (oversize).
Semua penggerus harus selalu bersih. Misalnya pada pemakaian hammer mill
yang selalu menahan batubara setelah penggerusan, sehingga pada penggerusan
selanjutnya dapat mengotori sample yang akan digerus.
Memperkecil ukuran dengan tangan tidak diperbolehkan, kecuali untuk batubara
lempengan.
3. Pencampuran (Mixing)
Pencampuran yaitu proses yang dilakukan setelah pengecilan ukuran butir
pengadukan sample agar diperoleh sample yang homogen.
4. Pembagian (Dividing)
Proses untuk mendapatkan sample yang representatif dari gross sample
tanpa memperkecil ukuran butir dan alat yang digunakan untuk batubara yaitu
slotted belt.
5. Pengayakan (Screening)
Pengayakan (screening) adalah kegiatan pengelompokkan partikel dengan
melewatkan melalui mata atau lubang ayakan, mata ayakan itu sendiri dapat
dibuat dari besi yang dilubangi dengan ukuran tertentu atau dari kawat yang
dianyam partikel yang lolos dari atau melewati mata ayakan disebut undersize
product, akibat terlalu banyak partikel berukuran kecil dalam jumlah yang
cukup besar atau banyak dicampur dengan partikel besar yang tinggal sebagai
oversize product.
6. Penggerusan (milling)
15 Pengolahan Bahan Galian

Proses selanjutnya adalah milling atau penggerusan. Alat yang digunakan


adalah raymond mill. Raymond mill merupakan alat yang digunakan untuk
menggiling atau menghancurkan sampel batubara sehingga didapatkan ukuran
0,212 mm (sampel batubara yang telah siap dianalisa di laboratorium).
7. Penyimpanan Sampel (Storage)
Setelah dilakukannya berbagai macam proses preparasi, maka selanjutnya
dilakukanlah penyimpanan sampel yang disimpan di dalam botol sampel.
Sebagian sampel digunakan analisa di laboratorium dan sebagian lagi disimpan
pada storage.

Dalam melakukan kegiatan preparasi, terdapat beberapa alat mekanis yang


digunakan yaitu :
a.Jaw Crusher
Jaw Crusher biasa digunakan untuk mengurangi ukuran butir dari 50 mm
sampai 11,2 mm dan merupakan mesin peremuk yang umum dengan bentuk dan
mekanisme yang sederhana untuk melakukan peremukan batuan dengan cara
menjepit diantara dua buah plat atau swing jaw, lalu dihancurkan dengan gaya
tekan remuk. Alat ini mempunyai dua jaw yang satu dapat digerakkan dan
lainnya tidak dapat digerakkan atau diam.
b. Swing Hammer Mills
Swing Hammer Mills digunakan untuk menggerus sampel sampai ukuran
0,2 mm yang akan digunakan untuk sampel yang akan dianalisis di
laboratorium.
c.Rotary Sampel Divider
Alat ini terdiri atas sejumlah kontiner misalnya 12 atau 8 yang dibentuk
seperti segmen-segmen pada pelat berputar sekitar 60 rpm. Digunakan pada
tahapan pembagian sampel.
d. Slotted Belt
Slotted belt merupakan suatu belt conveyor yang tidak berakhir,
mempunyai slot dengan ruang pitch-nya diperalati oleh alat berbentuk bibir
yang bertindak sebagai pagar pemotong.
16 Pengolahan Bahan Galian

e.Screen
Screen merupakan alat untuk menyaring suatu material dengan ukuran
yang seragam. partikel yang lolos dari atau melewati mata ayakan disebut
undersize product, akibat terlalu banyak partikel berukuran kecil dalam jumlah
yang besar.
f. Roll Crusher
Roll crusher adalah tipe crusher dengan sistem gilas rotary dengan
kecepatan rpm yang realatif lebih rendah dari impact crusher yaitu sekitar 300
rpm dan memiliki kapasitas produksi yang jauh lebih besar. Roll crusher
digunakan sebagai crusher sekunder atau crusher tersier setelah batuan
melewati crusher tipe lain yang berfungsi sebagai crusher primer. Roll crusher
terbagi menjadi dua jenis, yaitu sebagai berikut :
Single Roll Crusher
Single roll crusher adalah roll crusher yang didesain mempunyai satu
roller saja dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas pengolahan batubara
dengan satuan luas. Pada single roll crusher memiliki satu buah roda.
Double roll crusher

Double roll crusher adalah roll crusher yang mempunyai 2 buah roller,
dengan sumbu yang sejajar pada bidang horizontal yang sama. Double roll
crusher sangat cocok digunakan untuk batuan dan mineral dengan jenis seperti
batubara, limestone, dan kaolin.
17 Pengolahan Bahan Galian

BAB III

METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Praktikum pengolahan bahan galian mengenai rotary sample divider


dilakukan pada hari jumat tepatnya tanggal 24 Februari 2017 pukul 10:00 WIB
yang dilaksanakan di Laboratorium Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas
Teknik Universitas Bangka Belitung.

3.2 Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang diperlukan dalam pelaksanaan praktikum pengolahan


bahan galian yaitu:

1. Rotary Sample Divider


2. Batu Granit (berupa tepung)
3. Masker
18 Pengolahan Bahan Galian

4. Kacamata
5. Sarung tangan
6. Safety Shoes
7. Alat Tulis
8. Penggaris
9. Kamera
10.Timer

3.3 Langkah-Langkah Praktikum

Berikut adalah langkah-langkah yang dilakukan dalam praktikum


pengolahan bahan galian mengenai alat Rotary Sample Devider:
1. Terlebih dahulu gunakan APD (Alat Pelindung Diri) dengan benar sesuai
standar.
2. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum.
3. Pertama, timbang terlebih dahulu sampel/feed yang akan digunakan dalam
percobaan yaitu seberat 1,5 kg. Apabila telah selesai ditimbang, maka
masukkan sampel/feed tersebut ke dalam plastik sampel.
4. Selanjutnya, masukkan sampel/feed yang telah ditimbang tadi ke dalam alat
Rotary Sample Devider melalui hopper.
5. Pada alat Rotary Sample Devider, atur getaran yang akan digunakan dalam
percobaan. Dalam pengaturan getaran ini, dilakukan dengan cara memutar
tombol yang ada pada alat di bagian paling kanan (dimana pada alat terdapat
3 buah tombol yang digunakan). Untuk percobaan pertama ini, atur
getarannya sebesar 8 getaran.
6. Setelah getarannya diatur, selanjutnya adalah menyalakan pemutar segmen
dengan cara memutar tombol yang ada pada alat di bagian paling kiri
(dimana pada alat terdapat 3 buah tombol yang digunakan).
7. Setelah segmen diputar, berikutnya adalah memutar tombol yang ada di
bagian tengah, dimana guna tombol ini adalah untuk menghidupkan getaran
pada feeder. Sembari menghidupkan getaran pada feeder ini, secara
19 Pengolahan Bahan Galian

bersamaan lakukan perhitungan untuk menghitung waktu yang dibutuhkan


sampai feed yang dimasukkan habis keluar menuju segmen dengan
menggunakan timer.
8. Selanjutnya, tunggu sampai feed yang dimasukkan habis keluar menuju
segmen yang ada. Apabila feed telah habis, maka matikan timer bersamaan
sembari memutar tombol untuk mematikan getaran pada feeder.
9. Catat waktu yang dibutuhkan sampai feed tersebut habis keluar menuju
segmen.
10. Keluarkan feed yang telah masuk dalam segmen tadi. Timbang dan catat
berat feed per masing-masing segmen. Bersihkan alat agar tidak ada feed
yang tertinggal karena percobaan pertama ini.
11. Lakukan hal yang sama untuk percobaan kedua dan ketiga. Hanya saja pada
percobaan kedua, getaran yang diatur adalah sebesar 9 getaran dan untuk
percobaan ketiga getaran yang diatur adalah sebesar 10 getaran.
12. Setelah selesai melakukan ketiga percobaan tersebut, selanjutnya adalah
membersihkan alat dan bahan yang digunakan selama praktikum
berlangsung seperti sedia kala.
20 Pengolahan Bahan Galian

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHSAN

4.1 Rotary Sample Devider


4.1.1 Pengertian
Rotary Sample Devider merupakan salah satu alat tambang yang penting
memiliki fungsi untuk membagi sample yang bekerja secara mekanis. Keuntungan
alat pembagi sample mekanis ialah reduction ratio dapat divariasikan dan tidak
perlu membagi sample sampai setengahnya secara berurutan. Setelah dibagi,
sample dapat di peroleh dengan mengambil increment kecil yang banyak. Jadi
menghindarkan tahap pencampuran. Pada proses pembuatan ini bermacam-
macam seperti pemilihan bahan, pembuatan rangka, pemasangan body, panel, dan
motor, finishing, dll. Proses pembuatan merupakan proses perlakuan terhadap part
(komponen) dengan menggunakan mesin dimana objek dibentuk dengan cara
membuang atau menghilangkan sebagian material dari benda kerja yang
tujuannya untuk mendapatkan benda kerja (komponen) dengan akurasi yang baik
21 Pengolahan Bahan Galian

dan ketelitian yang tinggi sehingga dihasilkan produk yang berkualitas dan
bermutu tinggi sesuai dengan keinginan dan standar produk.
Pembagian sample dapat dilakukan baik secara manual maupun mekanis.
Jika pembagian akan dilakukan secara manual tetapi tidak menggunakan riffle,
dapat dilakukan dengan cara yang disebut sebagai cara coning and quartering.
Prinsipnya ialah partikel dibagi menjadi 8 bagian yang sama. Empat bagian yang
berlawanan disatukan untuk kemudian dibagi dua lagi, begitu seterusnya sampai
diperoleh berat yang diinginkan, empat bagian lainnya dibuang.
Alat ini terdiri atas sejumlah continer misalnya 12 atau 8 yang dibentuk
seperti segmen-segmen pada plat berputar sekitar 60 rpm. Ukuran minimal lubang
pintu harus tiga kali ukuran terbesar partikel. Jadi, sejumlah increment akan
terpisah pada setiap putarannya, terbagi merata ke setiap kontainer. Jika ada 8
segmen, satu kontainer akan mengandung fraksi seperdelapan dari jumlah yang
masuk ke Rotary Sample Devider, sehingga kita dapat mengambil fraksi 1/8,
atau .

4.2 Bagian-Bagian Rotary Sample Devider

Gambar 4.1 Alat Rotary Sample Devider

Keterangan :
Berikut ini adalah bagian-bagian dari alat rotary sample devider beserta
keterangan dan penjelasannya:
22 Pengolahan Bahan Galian

1 Hopper

Merupakan tempat/bak penampungan material yang akan dimasukkan ke


dalam alat. Atau bisa juga sebagai tempat masuknya material yang akan
dimasukkan.

Gambar 4.2 Hopper

2 Plat Pan

Yaitu tempat berjalannya feed akibat getaran dari hopper menuju sample
segment.

Gambar 4.3 Plat Pan

3 Sample Segment

Merupakan tempat sample yang berputar dan berisi 8 segment pembagian


untuk pembagian sample secara merata.
23 Pengolahan Bahan Galian

Gambar 4.4 Sample Segment

4 Controller

Merupakan bagian utama alat untuk mengontrol kecepatan getaran.

Gambar 4.5 Controller

5 Elektronic Vibrator 25/50 ohm

Yaitu bagian alat yang berfungsi menghasilkan getaran menggunakan


sistem motor electric.

6 Box of Drive Motor

Yaitu tempat dimana letak dari motor utama untuk menggerakkan alat
seluruhnya.

4.3 Mekanisme / Cara Kerja Alat


Berikut adalah mekanisme atau cara kerja dari alat rotary sample devider:
Cara kerja dari alat ini yaitu menggunakan prinsip getaran yang berasal dari
tenaga elektrik yang menggerakkan vibrator untuk menghasilkan getaran pada
24 Pengolahan Bahan Galian

alat. Alat ini juga memiliki tombol pengatur kecepatan untuk mengatur kecepatan
getaran dan juga memiliki tombol untuk memutar sample segment dengan
kecepatan konstan. Cara kerja alat ini dimulai dengan memasukkan feed melalui
hopper dan kemudian diberikan getaran agar feed dapat berjalan menuju sample
segment yang berputar. Kemudian sample akan terbagi rata dan untuk pemilihan
sample diambil pada sample segment yang berlawanan.

4.4 Hasil Praktikum


Pada hasil praktikum kali ini dengan menggunakan alat rotary sample devider
dilakukan dengan 3 kali percobaan. Dari tiap percobaan tersebut dengan
menggunakan getaran yang berbeda. Berikut data sample dari tiap percobaan:

1. Sample Percobaan I
Sample : 2 Kg
Getaran : 8 Hz
Waktu: 31,02 detik
2. Sample Percobaan II
Sample : 2 Kg
Getaran : 9 Hz
Waktu: 49 detik

3. Sample Percobaan III


Sample : 2 Kg
Getaran : 10 Hz
Waktu: 16,45 detik

Hasil produksi, sebagai berikut:


1. Sample Percobaan I
Hasil produk : 20,65 Kg
Keluaran : +0,65
25 Pengolahan Bahan Galian

2. Sample Percobaan II
Hasil Produk : 21,15 Kg
Keluaran : +1,15
3. Sample Percobaan III
Hasil Produk : 20,8 Kg
Keluaran : +0,8

Dari macam-macam sample yang sudah dimasukan nantinya akan ada


perbedaan waktu yang disebabkan oleh perbedaan getaran yang diatur. Berikut
adalah hasil percobaan dari 3 kali sample pada tiap devider:

Hasil
Segme 1 2 3 4 5 6 7 8
n
1 2,65 2,6 2,6 2,55 2,5 2,6 2,6 2,55
2 2,65 2,6 2,6 2,6 2,7 2,7 2,65 2,55
3 2,5 2,6 2,45 2,5 2,55 2,9 2,7 2,6
Tabel Hasil Praktikum

4.5 Dokumentasi
Berikut adalah foto-foto mengenai alat dan feed saat melakukan praktikum
pengolahan bahan galian:
26 Pengolahan Bahan Galian

Gambar 4.6 Feed

Gambar 4.7 Rotary Sample Devider

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari praktikum pengolahan bahan galian mengenai


alat rotary sample devider adalah sebagai berikut:

Rotary sample devider digunakan pada kegiatan kominusi. Dapat dikatakan


bila pengklasifikasi saat akan sebelum dimasukkan atau menjadi feed bagi
hammer mill.

Fungsi dari rotary sample devider sendiri adalah untuk membagi sama rata feed
hasil primary crushing sebelum tahap grinding dengan prinsip kerja berupa
27 Pengolahan Bahan Galian

getaran yang kemudian feed hasil getaran akan masuk ke dalam tempat
penampung yang berputar dengan hasil yang sama rata.
Hasil praktikum:
1. Sample Percobaan I
Sample : 2 Kg
Getaran : 8 Hz
Waktu: 31,02 detik
2. Sample Percobaan II
Sample : 2 Kg
Getaran : 9 Hz
Waktu: 49 detik

3. Sample Percobaan III


Sample : 2 Kg
Getaran : 10 Hz
Waktu: 16,45 detik

Hasil produksi, sebagai berikut:


1. Sample Percobaan I
Hasil produk : 20,65 Kg
Keluaran : +0,65
2. Sample Percobaan II
Hasil Produk : 21,15 Kg
Keluaran : +1,15
3. Sample Percobaan III
Hasil Produk : 20,8 Kg
Keluaran : +0,8