Anda di halaman 1dari 9

BAB V

LAYOUT TAMBANG

5.1. Dumping Area


Pengerjaan disposal atau dumping area akan dilakukan dengan metode terrace
dump. Dalam metode ini, setiap pengerjaan lift timbunan akan dilakukan dengan menimbun
dari bawah ke atas. Metode ini digunakan karena dalam perencanaannya semua lapisan
timbunan paling tidak terkena pemadatan dari beberapa dump trcuk dan bulldozer yang
membuat timbunan menjadi lebih stabil. Keuntungan lain dengan metode ini adalah
reklamasi dapat langsung dilakukan seiring dengan kemajuan pembangunan lift timbunan.
Pengendali erosi pada disposal bertujuan untuk mengurangi adanya penumpukkan
air pada timbunan yang dapat mengakibatkan erosi pada disposal. Air pada lokasi disposal
berasal dari limpasan air hujan dan juga aliran air pada disposal terdahulu. Proses
pengendalian erosi pada disposal dapat dilakukan dengan membentuk back slope dan
pembuatan saluran air. Penirisan disposal dapat dibuatkan berupa paritan disepanjang kaki
lereng disposal dan pembuatan saluran akan dilakukan pada sisi barat disposal. Hal ini
dimaksudkan untuk mengurangi adanya limpasan air dari sekitar disposal yang tergenang.
Dimensi saluran aktual dirancang berdasarkan lebar bucket alat gali yang
digunakan. Alat gali terkecil yang digunakan sesuai rancangan minimal saluran, sehingga
ada perubahan dimensi saluran yang dirancang yaitu lebar dasar parit adalah kurang lebih
1 meter yang merupakan lebar minimal bucket dari alat gali yang digunakan.
5.1.1. Kapasitas Disposal
Kapasitas disposal dirancang berdasarkan total volume overburden terbongkar dari
pit yang akan dilakukan penambangan. Total volume overburden yang dibongkar sebanyak
29,057,734.55 BCM dengan luasan areanya seluas 69.98 hektar, disajikan pada tabel di
bawah ini (tabel 5.1.). Hasil perhitungan volume dan luasan disposal diperoleh
menggunakan software Minescape 4.118 dengan dasar perhitungan volume dan luasanya
dari pembentukan triangle disposal tersebut.

Tabel 5.1.
Volume dan Luas Disposal
Disposal

Volume Luasan
(BCM) (Hektar)
31,457,540.00 69.98

V-1
5.1.2. Geometri Disposal
Design geometri disposal ditentukan berdasarkan pembagian kelompok yang telah
dibagikan, berikut ketentuan pembuatan disposal dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 5.2.
Geometri Disposal
Geometri Disposal
Ketinggian Lereng Tunggal 12 m
Kemiringan Lereng Tunggal 32O
Lebar Jenjang Tunggal 7m

5.2. Sistem Penyaliran Tambang


Penanganan masalah air dalam suatu tambang terbuka dapat dibedakan menjadi
beberapa katergori, sebagai berikut :
1. Mine Drainage
Merupakan upaya untuk mencegah aliran air masuk ke lokasi penggalian. Hal ini
umumnya dilakukan untuk penanganan air tanah dan air yang berasal dari sumber air
permukaan. Ada beberapa cara untuk mencegah agar air tidak masuk ke dalam lokasi
penggalian, yaitu :
a. Metode Siemens
Ke dalam lubang bor dimasukkan casing yang bertujuan agar air mudah masuk ke
dalam pipa. Kerugian cara ini adalah banyak pipa yang digunakan dan kedalaman lubang
bor harus melebihi tinggi bench. Jadi biaya akan lebih besar karena disamping biaya pipa
juga biaya pemboran.
b. Metode Elektro Osmosis
Bilamana lapisan tanah terdiri dari tanah lempungan, maka pekerjaan pemompaan
akan sangat sulit dilakukan karena adanya sifat kapilaritas yang terdapat pada jenis tanah
lempungan. Untuk mengatasi hal tersebut, maka dipergunakan cara Elektro Osmosis. Pada
metode ini digunakan batang anoda serta katoda. Bilamana elemen-elemen ini dialiri listrik,
maka air pori yang terkandung dalam batuan akan mengalir menuju katoda (lubang sumur)
yang kemudian terkumpul dan dipompa ke luar.
c. Metode Pemotongan atau Pengaliran Air Tanah
Metode ini biasanya digunakan untuk mengamati kondisi air tanah, dimana lapisan
tanah digali sehingga sebatas aquifer. Dengan terpotongnya aliran air tanah ini, maka
daerah hilir akan menjadi tidak kedap air atau dengan cara disemen.
2. Mine Dewatering
Merupakan upaya untuk mengeluarkan air yang telah masuk ke lokasi penggalian,
terutama untuk penanganan air hujan. Upaya untuk mengeluarkan air yang terlanjur masuk
ke dalam lokasi penggalian dapat dilakukan dengan 3 (tiga) cara, yaitu :
a. Sistem Kolam Terbuka (Open Sump)
Cara penyaliran ini sangat umum diterapkan di tambang terbuka, air yang masuk ke
dalam tambang dikumpulkan ke suatu sumur yang biasanya dibuat di dasar tambang dan
dari sumuran tersebut air dipompa ke luar tambang.
b. Sistem Adit
Cara ini biasanya digunakan untuk membuang air pada tambang terbuka yang
mempunyai banyak jenjang. Saluran horizontal yang dibuat dari tempat kerja menembus
ke shaft yang dibuat disisi bukit untuk pembuangan air yang masuk ke dalam tempat kerja.
Pembuangan dengan sistem ini biasanya mahal, disebabkan oleh biaya pembuatan saluran
horizontal tersebut dan shaft.

V-2
c. Cara Paritan
Dibandingkan dengan metode penirisan lainnya, cara ini adalah cara yang paling
murah. Beberapa lubang paritan dibuat pada lokasi penambangan guna menampung
aliaran air limpasan (run off), sehingga tidak mengganggu pekerjaan penambangan.
Beberapa macam bentuk saluran penirisan dapat dibuat guna melakukan pekerjaan
penirisan, tetapi sederhana dan umum digunakan adalah saluran dengan bentuk trapesium,
dengan kemiringan sisinya 450.
5.3. ROM dan Stockpile
Cara yang paling sederhana untuk menyimpan batubara adalah dengan
menimbun/menumpuk batubara setelah diangkut langsung dari tambang maupun yang
telah diolah terlebih dahulu.
Stockpile adalah tempat penyimpanan/penumpukan hasil tambang batubara.
Stockpile berfungsi sebagai penyangga antara pengiriman dan proses, sebagai persediaan
strategis terhadap gangguan yang bersifat jangka pendek atau jangka panjang. Stockpile
juga berfungsi sebagai proses homogenisasi dan atau pencampuran batubara untuk
menyiapkan kualitas yang dipersyaratkan (Muchjidin, 2006 : 96)
Proses penyimpanan (stockpile), dapat dilakukan di daerah, sebagai berikut :
1. Dekat tambang
2. Dekat pelabuhan
3. Ditempat pengguna batubara
Untuk proses penyiapan diharapkan jangka waktunya tidak lama, karena akan
berakibat pada penurunan kualitas batubara. Proses penurunan kualitas biasanya lebih
dipengaruhi oleh proses oksidasi dan alam.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen stockpile, diantaranya :
1. Monitoring kuantitas (Inventory) dan pergerakan batubara di stockpile, meliputi
pendataan batubara yang masuk dan pendataan batubara yang keluar di stockpile,
termasuk pendataan batubara yang tersisa.
2. Menghindari batubara yang terlalu lama di stockpile, dapat dilakukan dengan penerapan
aturan FIFO (first in first out) dimana batubara yang terdahulu masuk harus dikeluarkan
terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi resiko degradasi kualitas dan
pemanasan batubara.
3. Mengusahakan pergerakan batubara sekecil mungkin di stockpile, termasuk diantaranya
mengatur posisi stock dekat dengan reclaimer/hopper. Monitoring efektivitas
penggunaan unit bulldozer di stockpile dengan maksud mengurangi degradasi batubara.
4. Monitoring kualitas batubara yang masuk dan keluar dari stockpile termasuk diantaranya
kontrol temperatur untuk mengantipasi pemanasan dan swabakar.
5. Pengawasan yang ketat terhadap kontaminasi, meliputi pemantauan (housekeeping)
dan inspeksi langsung adanya pengotor yang terdapat di stockpile (quality control).
Karena swabakar batubara di tempat timbunan atau penyimpanan umumnya
disebabkan oleh dua faktor yaitu udara dan panas, maka pencegahan terjadinya swabakar
hanya dapat dilakukan apabila salah satu dari kedua faktor ini dihilangkan atau ditiadakan.
Hal ini perlu dilakukan, terutama untuk penimbunan atau penyimpanan jangka panjang
(lebih dari 3 bulan), bertujuan mencegah terjadinya penurunan kualitas batubara disamping
untuk mengurangi bahaya swabakar yang menyebabkan kebakaran. Pemadatan timbunan
batubara harus dilakukan secara sistematis yaitu dilakukan secara lapis demi lapis dimana
setiap lapis yang disebarkan merata setebal sekitar 0,5 sampai 1,0 m dan langsung
dipadatakan dengan wheel loader dibanding dengan bulldozer yang umumnya memakai
penggerak crawler (track), untuk mencegah kehancuran partikel batubara lebih lanjut.
Permukaan datar dan kemiringan di sisi samping timbunan batubara harus dikompakan.
Perataan permukaan seharusnya dilaksanakan untuk mempermudah pengeringan air dan
penyemprotan air. Permukaan kemiringan bagian sisi timbunan batubara sebaiknya dilapisi

V-3
dengan bahan yang tidak mudah terbakar untuk mencegah masuknya aliran udara ke
dalam timbunan batubara tersebut. Dalam hal ini, terutama untuk tempat timbunan
batubara yang dikompakan berjangka panjang, sudut sisi miring sampai ke puncak
timbunan harus kurang dari sudut alami yang terbentuk oleh batubara yang ditimbunkan
(angle of repose) sekitar 40o. Biasanya sudut ini dibuat selandai mungkin sekitar 15o dan
30o dari bidang datar tanah supaya alat pengompakan bisa bekerja aman. Tinggi
maksimum timbunan yang dianjurkan adalah kira-kira 2-4 m untuk tempat timbunan
batubara baik yang berasal dari tambang (ROM-coal) maupun yang bersih dari unit
pencucian (clean or saleable coal), diterapkan untuk timbunan yang tidak dikompakan dan
waktu penimbunan berjangka pendek (live storage). Sedangkan untuk sistem penimbunan
batubara yang dikompakkan (reserve storage), tinggi timbunan batubaranya bisa mencapai
kira-kira 12-16 m, terutama untuk penimbunan batubara bersih (Maksum, 2014).
Tabel 5.3.
Angle of Repose
Angle Of Repose For Rock

Type of Rock Angle of Repose in Degrees


Solid Clay 40-45
Moist Clay 20-25
Wet Clay 16
Lumpy Stone Rock (Avarage) 38
Coal 34-40

5.4. Main Office


Pada industri pertambangan juga harus memiliki ruang kerja (office) sebagai tempat
bekerja baik dalam hal administratif, pengolahan data ataupun permodelan dan
perencanaan dan sebagainya. Dari sudut pandang efektifitas biaya, merancang ruang kerja
adalah suatu hal yang sangat penting. Di dalam mendesain tata ruang harus
mempertimbangkan interelasional tiga komponen berikut, yaitu peralatan, alur kerja, dan
para karyawan (Quible, 2001:54). Oleh karenanya, interelasional ketiga komponen tersebut
harus dipelajari dan dianalisis di dalam proses perencanaan tata ruang kerja karyawan
secara efisien.
Layout tata ruang yang efektif akan memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Mengoptimalkan penggunaan ruang yang ada secara efektif.
2. Mengembangkan lingkungan kerja yang nyaman bagi pegawai.
3. Memberikan kesan yang positif terhadap pelanggan perusahaan.
4. Menjamin efisiensi dari arus kerja yang ada.
5. Meningkatkan produktivitas kerja pegawai.
6. Mengantisipasi pengembangan organisasi di masa depan dengan melakukan
perencanaan layout yang fleksibel.

V-4
5.5. Pengelolaan Air Asam Tambang (AAT)
Pada kegiatan pertambangan, air asam tambang jika terbentuk maka akan sulit
untuk menghentikan proses pembentukan AAT tersebut. Oleh karena itu, metode
pengelolaan AAT yang terbaik adalah mengupayakan agar proses oksidasi mineral sulfide
tidak terjadi dengan cara menghindarkan kontak antara mineral sulfide dengan oksigen dan
air.
Secara urutan hierarki pengolahan air asam tambang terdiri atas upaya di bawah
ini, sebagai berikut :
1. Pencegahan pencemaran melalui pengelolaan pada setiap sumber pencemar potensial
di wilayah pertambangan.
2. Minimalisasi dampak potensial terhadap lingkungan melalui upaya-upaya mitigasi.
3. Mendaur ulang dan menggunakan kembali air tambang.
4. Pengolahan air tambang untuk pnggunaan air dan pemenuhan baku mutu pada saat
dialirkan ke badan air alami.
Urutan upaya-upaya tersebut di atas didasarkan pada risiko, baik risiko teknis,
ekonomis dan lingkungan untuk jangka pendek dan jangka panjang. Dalam pengelolaan
AAT perlu ditetapkan terlebih dahulu tujuan strategis dari pengelolaan AAT tersebut karena
hal ini penting untuk menentukan metode pengendalian AAT yang diperlukan. Untuk itu
perlu dipertimbangkan hal-hal berikut ini:
1. Risiko terhadap lingkungan hidup dan kesehatan manusia maupun penerima (reseptor)
lainnya.
2. Kriteria baku mutu air limbah dari kegiatan pertambangan.
3. Biaya kapital, operasi, dan perawatan dari berbagai alternatif metode.
4. Kemudahan dan keandalan logistik untuk operasional dan perawatan jangka panjang.
5. Tahap atau waktu dimana sistem pengelolaan diperlukan untuk bekerja secara optimal
dan bentuk kegagalan yang mungkin terjadi.
Material sumber pembentuk AAT pada suatu wilayah pertambangan antara lain:
1. Batuan penutup pada tambang terbuka atau batuan samping/limbah (waste rock) pada
tambang bawah tanah.
2. Tailing dan sisa pencucian batubara.
3. Sisa batuan pada proses heap leach.
4. Batuan sisa penambangan atau longsoran dan batuan dinding pada lubang bekas
tambang terbuka.
5. Batuan yang terdedah atau tersingkap pada bukaan tambang bawah tanah (drift, cross
cut, lombong/stope, dll).
6. Hancuran batuan pada zona ambrukan di permukaan pada metode penambangan
bawah tanah dengan ambrukan (caving method).
Pendekatan utama dalam pencegahan pembentukan AAT adalah menerapkan
metode yang dapat meminimalkan ketersediaan dari reaktan yang terlibat dalam reaksi
oksidasi mineral sulfida dan/atau memaksimalkan ketersediaan reaktan penetral asam.
Metode tersebut adalah sebagai berikut :
1. Meminimalkan pasokan oksigen yang berasal dari proses difusi atau adveksi.
2. Meminimalkan infiltrasi air dan lindian (air berfungsi sebagai reaktan maupun media
transpor).
3. Meminimalkan, memindahkan atau mengisolasi mineral sulfide.
4. Mengendalikan pH air.
5. Memaksimalkan ketersediaan mineral penetral asam dan alkalinitas air pori.
6. Mengendalikan proses bakteri dan biogeokimia.
Metode pelapisan atau penudungan merupakan metode yang paling sering
digunakan untuk mencegah atau mengendalikan pembentukkan AAT. Secara konseptual
metode ini bertujuan untuk menghambat kontak antara reaktan-reaktan pembentuk AAT
sehingga reaksi oksidasi tidak berlangsung. Metode ynag digunakan adalah menghalangi

V-5
aliran oksigen dan/atau air ke material PAF. Material pendukung utama yang sering
digunakan adalah lapisan batuan atau tanah, air dan material pelapis buatan. Metode ini
dibedakan menjadi dua, yaitu penudungan kering (dry cover) dan penudungan dengan air
(water cover).
Metode lain yang digunakan dalam pencegahan atau pengendalian pembentukkan
AAT adalah metode dengan panambahan bahan, yaitu:
1. Pavipasi
Pavipasi adalah pengolahan permukaan batuan yang reaktif sehingga membentuk
lapisan pelindung dan secara kimiawi inert untuk membatasi pelepasan produk pelindian
atau oksidasi. Metode ini masih dalam tahap pengembangan dan belum diimplementasikan
pada skala operasi. Berbagai metode pavipasi antara lain:
a. Kalium permanganat
b. Pelapisan fosfat
c. Metode lainnya
2. Material alkalin
Penambahan material alkalin akan dapat mengendalikan pembentukkan AAT
dengan syarat pencampuran yang relatif sempurna dapat dicapai. Efektivitas dari sistem ini
tergantung pada lintasan air di dalam sistem, derajat pencampuran, dan konta antara
batuan PAF serta material alkalin. Material alkalin yang umum digunakan sebagai
pencampur adalah CaCO3, CaO atau Ca(OH)2.Selain itu dapat juga digunakan material lain
yang bersifat alkalin, seperti abu hasil pembakaran batubara, debu kiln (kiln dust) pada
pabrik semen, slag dari peleburan baja.
Dalam proses pembentukkan AAT selain berfungsi sebagai salah satu reaktan
dalam reaksi pembentukkan air juga berfungsi sebagai transpor polutan ke badan air
penerima, yang dapat berupa sumber air permukaan alami atau air tanah. Pemanfaatan air
untuk mencegah terbentuknya AAT didasarkan pada pemahaman bahwa oksigen terlarut
di dalam air sangat tidak reaktif dibandingkan dengan oksigen di dalam fasa gas di udara.
Dalam hal ini air merupakan lapisan penudung untuk menghindarkan kontak antara oksigen
di udara dengan material PAF. Metode pencegahan melalui pengelolaan air antara lain
dalam bentuk pengendalian atau pengalihan aliran air, penenggelaman (flooding), atau
penyumbatan (seal). Penenggelaman (flooding) adalah metode yang umum dilakukan pada
tambang bawah tanah dan lubang pit penambangan pda masa pasca tambang. Hal yang
perlu diperhatikan pada penerapan metode ini adalah keberadaan batuan yang telah
teroksidasi sebelumnya karena produk oksidasi dapat kembali.
Tujuan pengolahan AAT yang terutama adalah untuk memenuhi baku mutu
lingkungan sesuai dengan peraturan prundang-undangan yang berlaku, mengolah air
tambang sehingga memiliki kualitas yang sesuai dengan pemanfaatannya kembali di
lingkungan, serta melindungi kesehatan manusia jika terdapat kemungkinan pemanfaatan
air penyaliran untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat setempat.
Tujuan dari pengolahan AAT bergantung pada permasalahan atau tantangan yang
dihadapi oleh pelaku usaha pertambangan dan hal ini biasanya bersifat site spesific. Berikut
ini berbagai tujuan dari pengolahan AAT:
1. Memanfaatkan kembali air tambang untuk keperluan pengolahan bijih atau batubara,
transpor material dan penggunaan operasional lainnya seperti penyiraman debu, irigasi
pada daerah reklamasi atau pndinginan tambang bawah tanah dalam hal inni
pengolahan AAT bertujuan untuk memperbaiki kualitas iar tambang sehingga memenuhi
persyaratan untuk pemanfaatannya kembali.
2. Melindungi kesehatan manusia pada kndisi dimana terdapat kemungkinan kontak antara
manusia dengan AAT baik secara langsung maupun tidak langsung.
3. Perlindungan lingkungan khususnya dampak terhadapa air permukaan dan air tanah.
AAT dapat menjadi media pembawa berbagai pencemar atau kontaminan ke
lingkungan.

V-6
4. Kemungkinan mengekstrak unsur yang mempunyai nilai jual dari AAT, contohnya
pengolahan AAT di tambang tembaga-emas untuk menghasilkan logam tembaga.
5. Memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan yang
mengatur tentang kualitas efluen (baku mutu) atau beban pencemar.
6. Air tambang sebagai bagian dari sumberdaya air yang penting bagi manusia. Semakin
banyak kasus dimana air tambang yang telah diolah dialirkan untuk memnuhi kebutuhan
masyarakat sekitar akan air bersih.
7. Pengolahan air tambang merupakan suatu komponen penting dari pengelolaan air
tambang untuk mendukung operasi sepanjang umur tambang dan menjamin kondisi
pascatambang yang berkelanjutan.
Teknologi pengolahan AAT telah banyak dikembangkan serta diterpakan di
pertambangan di berbagai negara dan secara garis besar dapat dibedakan dalm tiga
kategori berdasaran tujuan yang ingin dicapai (GARD Guide, 2009), yaitu:
1. Untuk netralisasi
a. Penetralan dengan kapur atau batugamping
b. Penetralan dengan bahan alkali berbasiskan natrium
c. Ammonia
d. Reduksi sulfat secara biologi
e. Lahan basah, saluran anoksik
f. Teknologi lain
2. Untuk penghilangan atau pengurangan logam
a. Presipitasi hidroksida
b. Presipitasi karbonat
c. Presipitasi sulfida
d. Lahan basah, kolam oksidasi
e. Teknologi lain
3. Untuk target polutan tertentu
a. Penghilangan sianida (oksidasi kimiawi, oksidasi biologi, kompleks)
b. Nuklida radioaktif (presipitasi, pertukaran ion)
c. Penghilangan arsen (oksidasi/reduksi, presipitasi, adsorpsi)
d. Penghilangan molibdenum (adsorpsi besi)
e. Teknologi lain

V-7
Gambar 5.1.
Layout Pertambangan
V-8
V-9