Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
Di Indonesia komplikasi kehamilan trimester pertama dalam bentuk
kehamilan ektopik tidak jarang ditemui. Kehamilan ektopik sering disebutkan
juga kehamilan di luar rahim atau kehamilan di luar kandungan. Dengan demikian
kehamilan yang berkembang di dalam serviks dan atau di dalam kornu (bagian
interstisial uterus) walaupun masih bagian dari rahim adalah kehamilan ektopik.
Istilah kehamilan di luar kandungan malah jauh menyimpang karena saluran telur,
indung telur dan rahim semuanya termasuk alat kandungan, padahal kehamilan
ektopik yang terbanyak adalah kehamilan yang terjadi di dalam saluran telur dan
bahkan juga pada indung telur. Satu-satunya kehamilan yang bisa disebut di luar
kandungan adalah kehamilan abdominal.
Kehamilan ektopik adalah suatu kehamilan yang berbahaya bagi wanita
bersangkutan berhubung dengan besarnya kemungkinan terjadinya keadaan
gawat. Keadaan gawat ini dapat apabila terjadi kehamilan ektopik terganggu.
Kehamilan ektopik adalah salah satu komplikasi kehamilan dimana ovum yang
sudah dibuahi menempel di jaringan yang bukan dinding rahim. Kehamilan
ektopik terganggu (KET) adalah kegawatdaruratan obstetric yang mengancam
nyawa ibu dan kelangsungan hidup janin, serta merupakan salah satu penyebab
utama mortalitas ibu, khususnya pada trimester pertama. Blastokista normalnya
berimplantasi di lapisan endometrium rongga uterus. Implantasi ditempat lain
disebut kehamilan ektopik.
Risiko kematian akibat kehamilan ekstra uteri lebih besar daripada angka
kelahiran pervaginam atau induksi aborsi. Selain itu, prognosis keberhasilan
kehamilan berikutnya juga menurun. Insiden terjadinya kehamilan ektopik sekitar
2% dari seluruh kehamilan. Pengukuran kuantitatif B-hcg, kuldosintesis,
laparoskopi dan USG transvaginal adalah standar mendiagnosis dan mendeteksi
lebih awal suatu kehamilan ektopik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. DEFINISI
Kehamilan ektopik merupakan kehamilan dengan implantasi blastokista
tidak pada lapisan endometrium di kavum uterus. Kehamilan dapat terjadi di
tuba fallopi, kavum abdomen, ovarium, dan serviks. Patofisiologi terjadinya
kehamilan ektopik tersering karena sel telur yang sudah dibuahi dalam
perjalanannya menuju endometrium tersendat sehingga embrio sudah
berkembang sebelum mencapai kavum uteri dan akibatnya akan tumbuh diluar
rongga rahim. Bila kemudian tempat nidasi tersebut tidak dapat menyesuaikan
diri dengan besarnya embrio, akan terjadi rupture dan menjadi kehamilan
ektopik terganggu.1
2. EPIDEMIOLOGI
Kehamilan pada tuba terjadi pada hampir 95 % kehamilan, 70 % kasus
terjadi pada ampulla, 12 % kasus terjadi isthmus, 11 % kasus terjadi pada
fimbria, dan 5 % terjadi di kavum abdomen, ovarium, dan serviks.1

Gambar 1. Persentase lokasi kejadian KET2

3. FAKTOR RISIKO
Faktor risiko yang paling kuat berhubungan dengan kejadian kehamilan
ektopik termasuk di dalamnya riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, operasi
tuba, paparan dietilsilbestrol (DES) in utero. Riwayar infeksi organ genitalia
atau infertilitas dan perokok meningkatkan risiko terjadinya kehamilan ektopik.
Selain itu, penggunaan alat kontrasepsi intrauterin (AKDR alat kontrasepsi

dalam rahim) juga dapat meningkatkan risiko. Berikut tabel yang menunjukkan
beberapa faktor yang berhubungan dengan kejadian kehamilan ektopik.1,2
Tabel 1. Faktor risiko kehamilan ektopik2
Faktor Risiko
Odds Rasio
Riwayat operasi tuba
21.0
Riwayat kehamilan ektopik
8.3
Paparan DES in utero
5.6
Riwayat infeksi genital
2.4 2.7
Infertilitas
2.0 2.5
Merokok
2.3
AKDR
1.6
*makin tinggi Odds rasio makin kuat pengaruh faktor risiko
4. PATOGENESIS
Kehamilan pada tuba dapat menyebabkan kerusakan pada tuba itu sendiri
terutama pada lapisan mukosa. Ovum yang sudah difertilisasi akan
berimplantasi pada epitel. Zigot kemudian berkembang di lapisan muskularis
yang kemudian menyebabkan proliferasi trofoblas. Biasanya kehamilan
ektopik merupakan kehamilan tanpa janin di dalam kantong gestasi ataupun
pertumbuhan terhambat.2
Kehamilan ektopik pada akhirnya akan menyebkan ruptur tuba (gambar
2), aborsi tuba, atau kegagalan kehamilan dengan resolusi. Dengan terjadinya
ruptur, hasil konsepsi akan keluar dan menyebabkan perdarahan di sekitarnya.
Pada beberapa kasus, bila ruptur tuba terjadi pada minggu awal, kehamilan
akan terjadi pada isthmus, dimana ampulla lebih dintensif.2

Gambar 2. Ruptur tuba pada minggu awal kehamilan2

5. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis kehamilan ektopik yaitu ditemukannya gejalan klasik,
trias gejala klinis hamil ektopik terganggu diuraiakan sebagai berikut:2,5
a. Amenorea
Lamanya amenorea bervariasi dari beberapa hari sampai beberapa
bulan. Dengan amenorea dapat dijumpai tanda-tanda hamil muda, yaitu
morning sickness, mual atau muntah, terjadi perasaan ngidam. Biasanya
darah berwarna gelap kecoklatan dan keluarnya intermitten atapun kontinyu.
b. Nyeri abdomen
Nyeri abdomen disebabkan oleh kehamilan tuba yang pecah. Timbunan
darah menimbulkan iritasi dan manifestasi rasa nyeri, darah dalam ruangan
perut tidak berfungsi dan menyebabkan pasien tampak pucat (anemia), TD
turun sampai shock, bagian ujung-ujung anggota badan terasa dingin, perut
kembung karena darah. Nyeri dapat menjalar keseluruh abdomen
bergantung pada perdarahan didalamnya. Bila rangsangan darah dalam
abdomen mencapai diafragma, dapat terjadi nyeri di daerah bahu. Bila
darahnya membentuk hematokel yaitu timbunan di daerah kavum douglas
akan terjadi rasa nyeri di bagian bawah dan saat defekasi.
c. Perdarahan
Terjadinya abortus atau ruptur kehamilan tuba menimbulkan perdarahan
kedalam kavum abdomen dalam jumlah yang bervariasi. Darah yang
teertimbun dalam kavum abdomen tidak berfungsi sehingga terjadi
gangguan dalam sirkulasi umum yang menyebabkan frekuensi nadi
meningkat, tekanan darah menurun, hingga shock. Hilangnya darah dari
peredaran darah umum mengakibatkan penderita tampak anemis, daerah
ujung ekstremitas dingin, berkeringat dingin, kesadaran menurun, dan pada
abdomen terdapat timbunan darah.
Gejala-gejala kehamilan ektopik lainnya:2,5
a. Pada pemeriksaan vagina terdapat nyeri goyang bila serviks digerakkan
(Slinger Pijn), nyeri pada perabaan dan kavum douglas menonjol karena ada
bekuan darah.
b. Pleuritic chest pain, bisa terjadi akibat iritasi diafragma akibat perdarahan

c. Perubahan uterus. Uterus dapat tumbuh membesar pada 3 bulan pertama


akibat hormon yang dilepaskan plasenta. Uterus dapat terdesak ke sisi yang
berlawanan dengan masa ektopik.
d. Tekanan darah menurun. Kecuali bila terjadi ruptur, perubahan yang terjadi
antara lain adanya peningkatan ringan, respon vasovagal seperti bradikardi
dan hipertensi ataupun penurunan tensi tajam disertai peningkatan nadi bila
perdarahan terus berlangsung dan hipovolemia
e. Temperatur. Setelah perdarahan akut suhu tubuh dapat turun atau meningkat
> 38C bila terjadi infeksi.
6. DIAGNOSIS
1. Pemeriksaan Laboratorium1,2,5
a. Pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit serial tiap satu jam selama 3
kali berturut-turut menunjukkan penurunan kadar Hb akibat perdarahan.
b. Adanya lekositosis. Untuk membedakan kehamilan ektopik dan infeksi
panggul, dapat diperhatikan jumlah leukositnya melebihi 20.000 biasanya
menunjukkan infeksi panggul.
c. Urinary Pregnancy Test, dengan metode inhibisi aglutinasi hanya
menunjukkan positif pada kehamilan ektopik sebesar 50-69%.
d. Serum -hCG
2. Ultrasound Imaging
a. USG abdominal (gambar 3), kehamilan tuba sulit dideteksi dengan
metode ini.

Gambar 3. Sakus pseudogestasi pada kavum uteri2

b. USG vaginal (gambar 4), untuk mendeteksi letak gestational sac. Pada
usia kehamilan 6 minggu, bila tidak dijumpai gestational sac maka bisa
dicurigai kehamilan ektopik.

Gambar 4. Tampak kantong gestasi di daerah adneksa terpisah dari ovarium2

c. Color

and

Pulsed

Doppler

Ultrasound

untuk

mengidentifikasi

karakteristik warna vaskular, apakah terletak di intrauterine atau


ekstrauterine, tanda khas ring of fire (gambar 5).

Gambar 5. Tanda klasik ring of fire, pengingkatan vaskularisasi tipikal pada


kehamilan ektopik2

3. Kuldosentesis
Pada kehamilan ektopik terganggu dapat terjadi hemoperitoneum sehingga
dapat dilakukan pemeriksaan kuldosentesis untuk mengkonfirmasi adanya
hemoperitoneum.Teknik kuldosintesis dapat dilaksanakan dengan urutan
berikut:
- Penderita dibaringkan dalam posisi lithotomi
- Vulva dan vagina dibersihkan dengan antiseptic
- Speculum dipasang dan bibir belakang portio dijepit dengan cunam
-

serviks, dengan traksi ke depan sehingga forniks posterior tampak


Jarum spinal no.18 ditusukkan ke dalam cavum douglas dengan semprit

10 ml, dilakukan pengisapan.


Bila pada pengisapan ditemukan darah, maka isinya disemprotkan pada
kain kasa dan diperhatikan apakah darah yang dikeluarkan merupakan:
o Darah segar berwarna merah yang dalam beberapa menit akan
membeku, darah ini berasal dari arteri atau vena yang tertusuk

o Darah tua berwarna coklat sampai hitam yang tidak membeku


atau berupa bekuan yang kecil-kecil, darah ini menunjukkan
adanya hematokel retrouterina.

`Gambar 6. Kuldosentesis2

4. Kombinasi Serum -hCG dan USG


Peningkatan serum hCG > 2000 mIU/mL disertai gestational sac
intrauterine yang tidak dapat diidentifikasi, kemungkinan adanya kehamilan
ekstrauterine sangat besar.
5. Laparoskopi
Sebagai alat diagnostic terakhir apabila hasil penilaian prosedur diagnostic
lainnya meragukan.

Gambar 3. Algoritma evaluasi wanita dengan kehamilan ektopik2

7. PENATALAKSANAAN
Pada kasus kehamilan ektopik di pars ampularis tuba yang belum pecah, dapat
ditangani dengan menggunakan kemoterapi, untuk menghindari tindakan
pembedahan. Kriteria kasus yang diobati dengan cara ini ialah:
- Kehamilan di pars ampularis tuba yang belum pecah
- Diameter kantong gestasi 4 cm
- Perdarahan dalam rongga perut 100 ml
- Tanda vital baik dan stabil
Obat yang digunakan adalah metotrexat 1 mg/kg/BB/iv dan faktor
sitrovorum 0,1 mg/kg/BB/im berselang-seling setiap hari selama 8 hari.

Pada kehamilan pars interstisialis tuba, tindakan operasi yang dilakukan


adalah laparotomy, untuk membersihkan isi kavum abdomen dari darah dan
sisa jaringan konsepsi serta menutup sumber perdarahan pada tempat
ampulla berada.
Penatalaksanaan kehamilan ektopik terganggu terdiri atas konservatif (tabel 2)
dan pembedahan. Tindakan pembedahan yang dilakukan yaitu salpingostomi
atau salpingektomi.2
Tabel 2. Protokol terapi kehamilan ektopik terganggu2

8. PROGNOSIS
Dengan diagnosis dini dan persediaan darah yang cukup, kematian akibat
kehamilan ektopik terganggu dapat diturunkan. Pada umumnya kelainan yang
mengakibatkan kehamilan ektopik bersifat bilateral, sebagian perempuan
menjadi steril setelah mengalami kehamilan lagi pada tuba yang lain. Angka
kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan antara 0-14,6%. Untuk
perempuan

dengan

anak

salphingectomi bilateral.

yang

sudah

cukup,

sebaiknya

dilakukan

BAB III
LAPORAN KASUS

Tanggal Pemeriksaan : 09 Maret 2016

Ruangan : IGD kebidanan

UNDATA
Jam

: 20.00 WITA

IDENTITAS
Nama

: Ny. I

Nama Suami : Tn. B

Umur

: 41 tahun (01-01-1975)

Umur

: 43 tahun

Alamat

: Jl. Undata. Lrg. Brendi

Alamat

: Jl. Undata.

Pekerjaan

: IRT

Pekerjaan

: Swasta

Agama

: Islam

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMP

Pendidikan

: SMP

Lrg. Brendi

ANAMNESIS
GIIIPIIA0
HPHT : 01-01-2016

Menarche

: 13 tahun

TP

Perkawinan

: II

: 08-10-2016

Keluhan Utama

: Nyeri perut

Riwayat Penyakit Sekarang

Seorang wanita masuk RS dengan keluhan nyeri hebat pada seluruh bagian
perut dirasakan mendadak sejak sore sebelum masuk RS. Perdarahan pervaginam
(-). Lemas (+) pusing (+), sakit kepala (+), mual (+), muntah (+). Pelepasan air (-),
lendir (-). Buang air besar lancar, buang air kecil lancar.
Riwayat haid terakhir 1 Januari 2016. Riwayat diurut didukun 1 minggu
yang lalu

Riwayat Penyakit Dahulu


1.
2.
3.
4.

Riwayat hipertensi tidak diketahui


Riwayat diabetes mellitus tidak diketahui
Riwayat penyakit jantung diketahui
Riwayat alergi (-)

Riwayat Obstetri

:
1. Laki-laki. Lahir Spontan-LBK, diRS, di tolong
dokter. BBL 3500gr. Usia sekarang 16 tahun.
2. Laki-laki. Lahir Spontan-LBK, diRS, di tolong
dokter. BBL 3200gr. Usia sekarang 14 tahun.

Riwayat ANC

:-

Riwayat Imunisasi

: Tidak ada.

PEMERIKSAAN FISIK
KU

: Sedang

Nadi

: 72 kali/menit

Kesadaran

: Komposmentis

Respirasi

: 24 kali/menit

Suhu

: 36C

Tekanan darah: 90/60 mmHg


Kepala Leher

Bentuk simetris kedua konjungtiva anemis (+/+), kedua sklera tidak ikterik,
mata cekung (-), telinga normal, otorhea (-), bentuk hidung normal, rhinorhea
(-), mukosa faring tidak hiperemis, karies dentis (-), pembengkakan kelenjar
getah bening (-), pembesaran tiroid (-)
Thorax
:
I : Pergerakan thoraks simetris, retraksi (-), sikatrik (-)
P : vocal fremitus (+/+)
P : Sonor pada kedua lapang paru, pekak pada jantung, batas paru-hepar SIC
VII linea mid-clavicula dextra, batas jantung dalam batas normal.
A : Bunyi pernapasan vesikular +/+, rhonki -/-, wheezing -/-. Bunyi jantung I/II
murni
reguler
Abdomen

I :kesan datar
A: Peristaltik (+) kesan normal

P: timpani
P: Nyeri tekan perut (+)
Pemeriksaan Obstetri :
1.
2.
3.
4.

Leopold I
Leopold II
Leopold III
Leopold IV

::::-

DJJ :HIS : Pergerakan janin : TBJ : Genitalia

: Pelepasan darah (-), lendir (-)


VT: pembukaan (-)
Portio: Tebal lunak. Nyeri goyang portio (+)

Ekstremitas

: Edema ekstremitas atas (-), edema ekstermitas bawah (-)

Kulit

: Turgor normal

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah lengkap :

WBC : 19,5 x 103/mm3

RBC

:2.91x 106/mm3

HGB : 7,7 gr/dL


HCT

: 26,5 %

PLT

: 271 x 103/mm3

Pemeriksaan lain :
Planotest (+)
RESUME

Seorang wanita masuk RS dengan keluhan nyeri hebat pada

seluruh bagian perut dirasakan mendadak sejak sore sebelum masuk RS.
Perdarahan pervaginam (-). Lemas (+) pusing (+), sakit kepala (+), mual (+),

muntah (+). Pelepasan air (-), lendir (-). Buang air besar lancar, buang air kecil
lancar.
Riwayat HPHT: 01-01-2016 dan TP : 17-10-2016.

Hasil pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva anemis (+/+).

Nyeri tekan perut (+). VT: Portio tebal lunak dan nyeri goyang portio (+).

Hemoglobin 11,1 g/dl. WBC 19,5. Hasil pemeriksaan planotest (+).

DIAGNOSIS
GIIIPIIA0 gravid 17-18 minggu + susp. Kehamilan Ektopik Terganggu

PENATALAKSANAAN

IVFD RL 20 tpm
Ceftriaxone 1gr/12 jam/IV
Metrondazole /8 jam/IV
Ranitidin /8 jam/IV
Antasida syr 3x1
Persiapan Whole Blood 2 kantong, PRC 1 kantong

Foto Kasus

FOLLOW UP
Pre-Op
09 Maret 2016
S

: Nyeri perut (+), perdarahan pervaginam (-), mual (-), muntah (-),

pusing (+). BAB biasa. BAK lancar.


O

: TD : 90/60 mmHg

N : 78 kali/menit

R : 20 kali/menit

S : 36C
Konjungtiva anemis +/+

Nyeri tekan abdomen (+)

Hasil pemeriksaan USG :

Tampak fetus pada fundus uteri kanan dan ruptur fundus uteri sebelah

kanan
DJJ (-)
Estimasi kasar usia kehamilan 17 minggu
Tampak echo cairan bebas dalam cavum peritoneum
Kesan: Kehamilan Ektopik Terganggu

: GIIIPIIA0 gravid 17- 18 minggu + KET

: Ceftriaxone 1gr/12 jam/IV

Metrondazole /8 jam/IV

Ranitidin /8 jam/IV

Antasida syr 3x1

Persiapan Whole Blood 2 kantong

Laparotomi cito

Laporan Operasi

1. Pasien dibaringkan dalam posisi supinasi di bawah pengaruh anestesi spinal


2. Disinfeksi lapangan operasi dan area sekitarnya dengan menggunakan kasa
steril dan betadine
3. Memasang doek steril
4. Insisi abdomen dengan metode pfanensteel lapis demi lapis secara tajam dan
tumpul
5. Eksplorasi rongga peritoneum, tampak adanya perdarahan di rongga
peritoneum
6. Suction darah dalam rongga peritoneum
7. Identifikasi sumber perdarahan,sumber perdarahan berasal dari fundus uteri
bagian kanan
8. Melakukan ekstraksi bayi dan penjaitan pada fundus uteri
9. Kontrol perdarahan
10. Cuci cavum abdomen dengan NaCl 0,9%
11. Jahit peritoneum parietale, kontrol perdarahan
12. Jahit fascia, kontrol perdarahan
13. Jahit lapisan subcutis, kontrol perdarahan
14. Jahit lapisan cutis secara subcuticuler
15. Bersihkan lapangan operasi dan tutup luka dengan kasa steril
16. Operasi selesai

Instruksi post operasi :

IVFD RL : dex 5% 2:1. 28 tetes/menit

Transfuse whole blood 2 kantong

Ceftriaxone 1 gr/ 12 jam/ IV

Ketorolac 30 mg/ 8 jam/ IV

Ranitidin 50 mg / 8 jam/ IV

As. tranexamat 1 amp/ 8jam / IV

Observasi TTV , perdarahan pervaginam

Cek Hb post operasi dan post transfusi darah PRC 1 kantong


10 Maret 2016

: Nyeri perut (+), nyeri bekas op (+), perdarahan pervaginam (+),

mual (-), muntah (-), pusing (+). BAB (-). BAK lancar. Flatus (-)

: TD : 100/70 mmHg

N : 78 kali/menit

R : 20 kali/menit

S : 36,5C
Konjungtiva anemis +/+

A. Post Laparotomi Hari I a/i KET.

P. IVFD RL 20 tetes/menit
Ceftriaxone 1 gr/ 12 jam/ IV

Ketorolac 30 mg/ 8 jam/ IV


Ranitidin 50 mg / 8 jam/ IV
Asam tranexamat 1 amp/ 8jam / IV

Hasil pemeriksaan darah rutin post transfusi 1 kantong PRC :

WBC : 19,5 x 103/mm3

RBC

:2.91x 106/mm3

HGB : 7,7 gr/dL


HCT

: 26,5 %

PLT

: 132 x 103/mm3

11 Maret 2016
S

: Nyeri perut (+), nyeri bekas op (+), perdarahan pervaginam (+)

sedikit, mual (-), muntah (-), pusing (-). BAB (-). BAK lancar. Flatus (+)

: Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 70 kali/menit

Pernapasan

:18 kali/menit

Suhu

: 36,8oC

KU

: sakit sedang

Kesadaran

Konjungtiva anemis -/-

: komposmentis

A : Post Laparotomi Hari II a/i KET.

P : IVFD RL 20 tetes/menit

Aff kateter

Cefadroxil 2x1

Asam mefenamat 3x1

SF 1x1

Hasil pemeriksaan darah rutin post transfusi 2 kantong PRC :

WBC : 7,84 x 103/mm3


RBC : 3,38 x 106/mm3
HGB : 9,6 gr/dL
HCT : 28,4 %
PLT : 133 x 103/mm3

12 Maret 2016

: Nyeri perut (+), nyeri bekas op (+), perdarahan pervaginam (+)

sedikit, mual (-), muntah (-), pusing (-). BAB biasa. BAK lancar.

: Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 86 kali/ menit

Pernapasan

: 20 kali/menit

Suhu

: 36,5oC

KU : sakit sedang
Konjungtiva anemis -/-

A: Post Laparotomi Hari ke III a/i KET.

P:IVFD RL 20 tetes/menit

Cefadroxil 2x1

Asam mefenamat 3x1

SF 1x1
Hasil pemeriksaan darah rutin post transfusi 2 kantong PRC :

WBC : 7,84 x 103/mm3


RBC : 3,38 x 106/mm3
HGB : 9,6 gr/dL
HCT : 28,4 %
PLT : 133 x 103/mm3

BAB IV

PEMBAHASAN

Pada kasus ini pasien masuk dengan keluhan nyeri perut. Dari
pemeriksaan fisik didapatkan konjungiva anemis +/+, nyeri tekan abdomen (+).
Terapi yang diberikan antara lain ketorolac. Ketorolac merupakan analgesik poten
dengan efek antiinflamasi sedang.Ketorolak merupakan satu dari sedikit AINS
yang tersedia untuk pemberian parenteral.Ketorolak sangat selektif menghambat
COX-1.
Kehamilan ektopik terganggu (KET) adalah kehamilan diluar rahim yang
menyebabkan banyak komplikasi. Banyak faktor yang diduga berpengaruh
terhadap kejadian KET. Sebagian besar kehamilan ektopik berlokasi di tuba
(95%). Konseptus dapat berimplantasi pada ampulls (55%), isthmus (25%),
fimbrial (17%) ataupun pada interstitial (2%). Dari hasil pemeriksaan USG
didapatkan hasil adanya gravid intrauterine pars interstitial tuba. Berdasarkan
teori, kehamilan interstitial yaitu implantasi telur terjadi dalam pars interstitial
tuba. Kehamilan ini juga disebut sebagai kehamilan kornual (kehamilan intrauteri,
tetapi implantasi plasentanya di daerah kornu yang kaya akan pembuluh darah).
Karena lapisan miometrium disini lebih tebal maka ruptur terjadi lebih lambat
kira-kira pada bulan ke 3 atau ke 4. Kehamilan interstitial merupakan penyebab
kematian utama dari kehamilan ektopik yang pecah. Pasien akan merasakan nyeri
perut hebat, seperti yang dialami oleh pasien pada kasus ini. Perdarahan dapat
berlangsung terus sehingga penderita akan cepat dalam keadaan anemia atau syok
oleh karena hemoragia. Darah tertampung pada rongga perut akan mengalir ke
kavum Douglasi yang makin lama makin banyak yang akhirnya dapat memenuhi
rongga abdomen, ibu umumnya memperlihatkan tanda-tanda hipovolemia.
Apabila kehamilan ektopik mengalami penyulit atau terjadi ruptur pada tempat
lokasi nidasi kehamilan ini akan memberikan gejala dan tanda yang khas yaitu
timbulnya sakit perut mendadak yang kemudian disusul dengan syok atau
pingsan. Ini adalah pertanda khas terjadinya kehamilan ektopik yang terganggu.
Nyeri merupakan keluhan utama pada kehamilan ektopik terganggu. Nyeri dapat

unilateral atau bilateral, pada abdomen bagian bawah, seluruh abdomen atau
hanya di bagian atas abdomen. Umumnya diperkirakan, bahwa nyeri perut yang
sangat menyiksa pada suatu ruptut kehamilan ektopik, disebabkan oleh darah yang
keluar ke dalam kavum peritoneum. Darah yang banyak dalam kavum peritoneal
dapat menyebabkan iritasi peritoneum dan menimbulkan rasa nyeri bervariasi.
Rasa nyeri mula-mula terdapar pada satu sisi; tetapi, setelah darah masuk ke
dalam rongga perut,rasa nyeri menjalar ke bagian tengah arau ke seluruh perut
bawah

Pada kasus ini dilakukan pemeriksaan Vaginal Toucher . Pada

kehamilan ektopik terganggu ditemukan

pada pemeriksaan Vaginal Toucher

bahwa usaha menggerakkan serviks uteri menimbulkan rasa nyeri, yang disebut
dengan nyeri goyang porsio atau slinger pijn (bahasa Belanda).

Pada kasus ini

tidak dilakukan pemeriksaan kuldosintesis.

Kuldosentesis adalah suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah dalam


kavum Douglasi ada darah. Cara ini sangat berguna dalam membantu membuat
diagnosis kehamilan ektopik terganggu

Pemeriksaan

laboratorium

dilakukan

dengan

pemeriksaan

hemoglobin dan jumlah sel darah merah berguna dalam menegakkan diagnosis
kehamilan ektopik terganggu, terutama bila ada tanda-tanda perdarahan dalam
rongga perut. Bila ada penurunan hemoglobin dan hematokrit dapat mendukung
diagnosis kehamilan ektopik terganggu. Pada kasus ini, hasil pemeriksaan darah
rutinnya menunjukkan penurunan pada jumlah yaitu Hb 7,7 gr/dL dan HCT 26,5
% . Pada kasus ini pasien diberikan transfusi darah PRC 1 kantong pre operasi dan
persiapan 2 kantong post operasi, kemudian dilakukan operasi laparotomi.

Pada saat operasi laparotomi, didapatkan adanya perdarahan

dicavum peritoneum, sumber perdarahan berasal dari kehamilan pars intertitial


tuba fallopi dextra rupture. Dilakukan reseksi janin dan penjahitan pada bagian
uterus pars intertitial tuba fallopi dextra.
Pasien mengalami anemia setelah operasi, sehingga diberikan transfusi
PRC 2 kantong.


DAFTAR PUSTAKA

1. Lozeau AM, Potter B. Diagnosis and management of ectopic pregnancy.


Am Fam Physician 2005; 72: 1707-14, 1719-20.
2. Cunningham FG, et al. Williams obstetric. 24th ed. New York: McGraw
Hill; 2014. P377.
3. Prawirohardjo S.chapter 13: tumor jinak organ genitalia dalam buku ilmu
kandunga. Edisi 3. Jakarta; PT bina pustaka sarwono prawirohardjo: 2014.
4. Lianury RN. Bahan kuliah reproduksi wanita. Palu; FK UNISA: 2011.
5. Rachimhadhi T. kehamilan ektopik terganggu. Dalam Ilmu bedah
kebidanan. Edisi 1. Yayasan bina pustaka sarwono Prawiroharjo; Jakarta:
2005