Anda di halaman 1dari 14

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Pengertian Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS)
Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) atau Spektrofotometri Serapan Atom
adalah salah satu jenis analisa spektrofometri dimana dasar pengukurannya adalah
pengukuran serapan suatu sinar oleh suatu atom, sinar yang tidak diserap, diteruskan dan
diubah menjadi sinyal listrik yang terukur. AAS pertama kali diperkenalkan oleh Welsh
(Australia) pada tahun 1955. AAS merupakan suatu metode yang populer untuk analisa
logam, karena disamping sederhana, ia juga sensitif dan selektif. Perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi dewasa ini berdampak pada makin meningkatnya pengetahuan
serta kemampuan dari manusia. Betapa tidak setiap manusia lebih dituntut dan diarahkan
kearah ilmu pengetahuan dan teknologi di segala bidang. Tidak ketinggalan pula ilmu
kimia yang identik dengan ilmu mikropun tidak luput dari sosrotan perkebangan IPTEK
ini. Belakangan ini telah lahir IPTEK-IPTEK yang berpeluang mempermudah dalam
keperluan analisis kimia. Salah satu bentuk kemajuan IPTEK ini yang biasa dikenal
sekarang diantaranya alat serapan atom yang kemudian sangat mendukung dalam analisis
kimia dengan metode Spektroskopis Serapan Atom (SSA).
Para ahli kimia sudah lama menggunakan warna sebagai suatu pembantu dalam
mengidentifikasi zat kimia. Dimana, serapan atom telah dikenal bertahun-tahun yang lalu.
Dewasa ini penggunaan istilah spektrofotometri menyiratkan pengukuran jauhnya
penyerapan energi cahaya oleh suatu sistim kimia itu sebagai fungsi dari panjang
gelombang radiasi, demikian pula pengukuran penyerapan yang menyendiri pada suatu
gelomabng tertentu. Perpanjangan spektrofotometri serapan atom ke unsur-unsur lain
semula merupakan akibat perkembangan spektroskopi pancaran nyala. Bila disinari
dengan benar, kadang-kadang dapat terlihat tetes-tetes sample yang belum menguap keluar
dari puncak nyala, dan gas-gas nyala itu terencerkan oleh udara yang menyerobot masuk
sebagai akibat tekanan rendah yang diciptakan oleh kecepatan tinggi itu, lagi pula sistim
optis itu tidak memerikasa seluruh nayala melainkan hanya mengurusi suatu daerah
dengan jarak tertentu diatas titik puncak pembakar.
Selain dengan metode serapan atom unsur-unsur dengan energi eksitasi rendah dapat
juga dianalisis dengan fotometri nyala, tetapi untuk unsur-unsur dengan energi eksitasi
tinggi hanya dapat dilakukan dengan fotomeetri nyala. Untuk analisisi dengan garis
1

spektrum resonansi antara 400-800 nm, fotometri nyala sangat berguna, sedangkan antara
200-300 nm, metode AAS lebih baik dari fotometri nyala. Untuk analisis kualitatif, metode
fotometri nyala lebih disukai dari AAS, karena AAS memerlukan lampu katoda spesifik
(hallow cathode). Kemonokromatisan dalam AAS merupakan syarat utama. Suatu
perubahan temperatur nyala akan mengganggu proses eksitasi sehingga analisis dalam
fotometri nyala dapat berfarisasi hasilnya. Dari segi biaya operasi, AAS lebih mahal dari
fotometri nyala berfilter. Dapat dikatakan bahwa metode fotometri nyala dan
AAS merupakan komplementer satu sama lainnya.
1.2 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam

penulisan

makalah

berjudul

Atomic

Absorption

Spectrophotometer (AAS) ini adalah sebagai berikut:


1. Memenuhi tugas matakuliah Instrumentasi Analitik yang dibimbing oleh Drs Mersi
Suriani Siagian, S.T, M.T.
2. Mengetahui defenisi alat Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS).
3. Mengetahui fungsi alat Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS).
4. Mengetahui gambaran dan prinsip kerja alat Atomic Absorption Spectrophotometer
(AAS).
1.3 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan makalah berjudul Kalorimeter ini adalah sebagai berikut:
1. Terpenuhinya tugas matakuliah Instrumentasi Analitik yang dibimbing oleh Drs
Mersi Suriani Siagian, S.T, M.T.
2. Penulis dan pembaca dapat lebih memahami defenisi dari Atomic Absorption
Spectrophotometer (AAS).
3. Penulis dan pembaca dapat lebih memahami fungsi dari alat Atomic Absorption
4.

Spectrophotometer (AAS).
Penulis dan pembaca dapat lebih memahami gambaran dan prisip kerja dari alat
Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS).

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Spektrofotometri Serapan Atom (AAS)

Spektrofotometri Serapan Atom (AAS) adalah suatu metode analisis yang


didasarkan pada proses penyerapan energi radiasi oleh atom-atom yang berada pada
tingkat energi dasar (ground state). Penyerapan tersebut menyebabkan tereksitasinya
elektron dalam kulit atom ke tingkat energi yang lebih tinggi. Keadaan ini bersifat labil,
elektron akan kembali ke tingkat energi dasar sambil mengeluarkan energi yang berbentuk
radiasi. Dalam AAS, atom bebas berinteraksi dengan berbagai bentuk energi seperti energi
panas, energi elektromagnetik, energi kimia dan energi listrik. Interaksi ini menimbulkan
proses-proses dalam atom bebas yang menghasilkan absorpsi dan emisi (pancaran) radiasi
dan panas. Radiasi yang dipancarkan bersifat khas karena mempunyai panjang gelombang
yang karakteristik untuk setiap atom bebas .
Spektrofotometri molekuler pita absopsi inframerah dan UV-tampak yang di
pertimbangkan melibatkan molekul poliatom, tetapi atom individu juga menyerap radiasi
yang menimbulkan keadaan energi elektronik tereksitasi. Spectra absorpsi lebih sederhana
dibandingakan dengan spectra molekulnya karena keadaan energi elektronik tidak
mempunyai sub tingkat vibrasi rotasi. Jadi spectra absopsi atom terdiri dari garis-garis
yang jauh lebih tajam daripada pita-pita yang diamati dalam spektrokopi molekul.
Spektrofotometer serapan atom (AAS) merupakan teknik analisis kuantitatif dari
unsur-unsur yang pemakaiannya sangat luas, diberbagai bidang karena prosedurnya
selektif, spesifik, biaya analisa relatif murah, sensitif tinggi (ppm-ppb), dapat dengan
mudah membuat matriks yang sesuai dengan standar, waktu analisa sangat cepat dan
mudah dilakukan. Analisis AAS pada umumnya digunakan untuk analisa unsur, teknik
AAS menjadi alat yang canggih dalam analisis.ini disebabkan karena sebelum pengukuran
tidak selalu memerluka pemisahan unsur yang ditetukan karena kemungkinan penentuan
satu logam unsur dengan kehadiran unsur lain dapat dilakukan, asalkan katoda berongga
yang diperlukan tersedia. AAS dapat digunakan untuk mengukur logam sebanyak 61
logam. Sember cahaya pada AAS adalah sumber cahaya dari lampu katoda yang berasal
dari elemen yang sedang diukur kemudian dilewatkan ke dalam nyala api yang berisi
sampel yang telah terakomisasi, kemudian radiasi tersebut diteruskan ke detektor melalui
monokromator. Chopper digunakan untuk membedakan radiasi yang berasal dari nyala api.
Detektor akan menolak arah searah arus ( DC ) dari emisi nyala dan hanya mnegukur arus
bolak-balik dari sumber radiasi atau sampel. Atom dari suatu unsur padakeadaan dasar
3

akan dikenai radiasi maka atom tersebut akan menyerap energi dan mengakibatkan
elektron pada kulit terluar naik ke tingkat energi yang lebih tingi atau tereksitasi. Atomatom dari sampel akan menyerpa sebagian sinar yang dipancarkan oleh sumber cahaya.
Penyerapan energi cahaya terjadi pada panjang gelombang tertentu sesuai dengan energi
yang dibutuhkan oleh atom tersebut .
Hubungan kuantitatif antara intensitas radiasi yang diserap dan konsentrasi unsur
yang ada dalam larutan cuplikan menjadi dasar pemakaian SSA untuk analisis unsur-unsur
logam. Untuk membentuk uap atom netral dalam keadaan/tingkat energi dasar yang siap
menyerap radiasi dibutuhkan sejumlah energi. Energi ini biasanya berasal dari nyala hasil
pembakaran campuran gas asetilen-udara atau asetilen-N 2O, tergantung suhu yang
dibutuhkan untuk membuat unsur analit menjadi uap atom bebas pada tingkat energi dasar
(ground state). Disini berlaku hubungan yang dikenal dengan hukum Lambert-Beer yang
menjadi dasar dalam analisis kuantitatif secara SSA. Hubungan tersebut dirumuskan dalam
persamaan sebagai berikut :
I = Io . a.b.c
Atau,
Log I/Io = a.b.c
A = a.b.c
dengan,
A = absorbansi, tanpa dimensi
a = koefisien serapan, L2/M
b = panjang jejak sinar dalam medium berisi atom penyerap, L
c = konsentrasi, M/L3
Io = intensitas sinar mula-mula
I = intensitas sinar yang diteruskan
Pada persamaan diatas ditunjukkan bahwa besarnya absorbansi berbanding lurus
dengan konsentrasi atom-atom pada tingkat tenaga dasar dalam medium nyala. Banyaknya
konsentrasi atom-atom dalam nyala tersebut sebanding dengan konsentrasi unsur dalam
larutan cuplikan. Dengan demikian, dari pemplotan serapan dan konsentrasi unsur dalam
larutan standar diperoleh kurva kalibrasi. Dengan menempatkan absorbansi dari suatu
cuplikan pada kurva standar akan diperoleh konsentrasi dalam larutan cuplikan.

2.2

Prinsip Kerja Spektrofotometer serapan atom (AAS)


4

Spektrofotometer serapan atom (AAS) merupakan teknik analisis kuantitafif dari


unsur-unsur yang pemakainnya sangat luas di berbagai bidang karena prosedurnya selektif,
spesifik, biaya analisisnya relatif murah, sensitivitasnya tinggi (ppm-ppb), dapat dengan
mudah membuat matriks yang sesuai dengan standar, waktu analisis sangat cepat dan
mudah dilakukan. AAS pada umumnya digunakan untuk analisa unsur, spektrofotometer
absorpsi atom juga dikenal sistem single beam dan double beam layaknya
Spektrofotometer UV-VIS. Sebelumnya dikenal fotometer nyala yang hanya dapat
menganalisis unsur yang dapat memancarkan sinar terutama unsur golongan IA dan IIA.
Umumnya lampu yang digunakan adalah lampu katoda cekung yang mana penggunaanya
hanya untuk analisis satu unsur saja. Dalam AAS kita mengukur serapan (absorbsi) yang
dialami oleh seberkas sinar yang melalui kumpulan atom-atom. Serapan akan bertambah
dengan bertambahnya jumlah atom yang menyerap sinar tersebut.
Sinar tersebut bersifat monokromatis dan mempunyai panjang gelombang () tertentu.
Suatu atom unsur X hanya bisa menyerap sinar yang panjang gelombangnya sesuai dengan
unsur X tersebut. Artinya, sifat menyerap sinar ini merupakan sifat yang khas (spesifik)
bagi unsur X tersebut. Misal : atom Cu menyerap sinar dengan = 589,0 nm sedangkan
atom Pb menyerap sinar dengan = 217,0 nm. Dengan menyerap sinar yang khas, atom
tersebut tereksitasi (elektron terluar dari atomnya tereksitasi ke tingkat energi yang lebih
tinggi).
Hubungan antara serapan yang dialami oleh sinar dengan konsentrasi analit dalam
larutan standar bisa dipergunakan untuk menganalisa larutan sampel yang tidak diketahui,
yaitu dengan mengukur serapan yang diakibatkan oleh larutan sampel tersebut terhadap
sinar yang sama. Biasanya terdapat hubungan yang linier antara serapan (A) dengan
konsentrasi (c) dalam larutan yang diukur dan koefisien absorbansi (a).
A=a.b.c
Dari hukum Lambert-Beer / Bouguer-Beer
Bila cahaya monokromatis dilewatkan pada media transparan maka berkurangnya
intensitas cahaya yang ditransmisikan sebanding dengan ketebalan (b) dan konsentrasi
larutan.

Cara sederhana untuk menemukan konsentrasi unsur logam dalam cuplikan adalah dengan
dengan membandingkan nilai absorbans (Ax) dari cuplikan dengan absorbansi zat standar
yang dikerahui konsentrasinya.
Ax = Cx
As = Cs
Dimana
Ax = absorban sampel
As = absorban standar
Cx = konsentrasi sampel
Cs = konsentrasi standar

2.3 Gambar Spektrofotometer Serapan Atom (AAS)


Berikut ini merupakan beberapa gambar dari Spektrofotometer Serapan Atom (AAS)

2.4BagianBagianpadaAAS
a. LampuKatoda
LampukatodamerupakansumbercahayapadaAAS.Lampukatodamemilikimasa
pakaiatauumurpemakaianselama1000jam.Lampukatodapadasetiapunsuryang
akandiujiberbedabedatergantungunsuryangakandiuji,sepertilampukatodaCu,
hanyabisadigunakanuntukpengukuranunsurCu.Lampukatodaterbagimenjadidua
macam,yaitu:
LampuKatodaMonologam:Digunakanuntukmengukur1unsur
LampuKatodaMultilogam :Digunakanuntukpengukuranbeberapalogamsekaligus,
hanyasajaharganyalebihmahal.
Soketpadabagianlampukatodayanghitam,yanglebihmenonjoldigunakan
untukmemudahkanpemasanganlampukatodapadasaatlampudimasukkankedalam
soketpadaAAS.Bagianyanghitaminimerupakanbagianyangpalingmenonjoldari
keempatbesilainnya.
Lampu katoda berfungsi sebagai sumber cahaya untuk memberikan energi
sehinggaunsurlogamyangakandiuji,akanmudahtereksitasi.Selotipditambahkan,
agartidakadaruangkosonguntukkeluarmasuknyagasdariluardankeluarnyagasdari
dalam,karenabilaadagasyangkeluardaridalamdapatmenyebabkankeracunanpada
lingkungansekitar.
Carapemeliharaanlampukatodaialahbilasetelahselesaidigunakan,maka
lampudilepasdarisoketpadamainunitAAS,danlampudiletakkanpadatempat
busanyadidalamkotaknyalagi,danduspenyimpananditutupkembali.Sebaiknya
setelahselesaipenggunaan,lamanyawaktupemakaiandicatat.
7

b. TabungGas
TabunggaspadaAASyangdigunakanmerupakantabunggasyangberisigas
asetilen.GasasetilenpadaAASmemilikikisaransuhu20.000K,danadajugatabung
gasyangberisigasN2Oyanglebihpanasdarigasasetilen,dengankisaransuhu
30.000K.Regulatorpadatabunggasasetilenberfungsiuntukpengaturanbanyaknya
gasyangakandikeluarkan,dangasyangberadadidalamtabung.Spedometerpada
bagiankananregulatormerupakanpengaturtekananyangberadadidalamtabung.
Pengujianuntukpendeteksianbocoratautidaknyatabunggastersebut,yaitu
denganmendekatkantelingakedekatregulatorgasdandiberisedikitair,untuk
pengecekkan.Bilaterdengarsuaraatauudara,makamenendakanbahwatabunggas
bocor,danadagasyangkeluar.Hallainnyayangbisadilakukanyaitudengan
memberikansedikitairsabunpadabagianatasregulatordandilihatapakahada
gelembungudarayangterbentuk.Bilaada,makatabunggastersebutpositifbocor.
Sebaiknyapengecekkankebocoran,janganmenggunakanminyak,karenaminyakakan
dapatmenyebabkansalurangastersumbat.Gasdidalamtabungdapatkeluarkarena
disebabkandidalamtabungpadabagiandasartabungberisiasetonyangdapat
membuatgasakanmudahkeluar,selaingasjugamemilikitekanan.
c. Ducting
Ducting merupakan bagian cerobong asap untuk menyedot asap atau sisa
pembakaranpadaAAS,yanglangsungdihubungkanpadacerobongasapbagianluar
pada atap bangunan, agar asap yang dihasilkan oleh AAS, tidak berbahaya bagi
lingkungan sekitar. Asap yang dihasilkan dari pembakaran pada AAS, diolah
sedemikianrupadidalamducting,agarpolusiyangdihasilkantidakberbahaya.
Cara pemeliharaan ducting, yaitu dengan menutup bagian ducting secara
horizontal,agarbagianatasdapattertutuprapat,sehinggatidakakanadaseranggaatau
binatanglainnyayangdapatmasukkedalamducting.Karenabilaadaseranggaatau
binatanglainnyayangmasukkedalamducting,makadapatmenyebabkanducting
tersumbat.
Penggunaan ducting yaitu, menekan bagian kecil pada ducting kearah miring,
karenabilalurussecarahorizontal,menandakanductingtertutup.Ductingberfungsi

untuk menghisap hasil pembakaran yang terjadi pada AAS, dan mengeluarkannya
melaluicerobongasapyangterhubungdenganducting
d. Kompresor
Kompresor merupakan alat yang terpisah dengan main unit, karena alat ini
berfungsi untuk mensuplai kebutuhan udara yang akan digunakan oleh AAS, pada
waktu pembakaran atom. Kompresor memiliki 3 tombol pengatur tekanan, dimana
padabagianyangkotakhitammerupakantombolONOFF,spedopadabagiantengah
merupakan besar kecilnya udara yang akan dikeluarkan, atau berfungsi sebagai
pengaturtekanan,sedangkantombolyangkananmerupakantombolpengaturanuntuk
mengaturbanyak/sedikitnyaudarayangakandisemprotkankeburner.Bagianpada
belakang kompresor digunakan sebagai tempat penyimpanan udara setelah usai
penggunaanAAS.
Alatiniberfungsiuntukmenyaringudaradariluar,agarbersih.posisikekanan,
merupakanposisiterbuka,danposisikekirimerupakanposisitertutup.Uapairyang
dikeluarkan,akanmemercikkencangdandapatmengakibatkanlantaisekitarmenjadi
basah,olehkarenaitusebaiknyapadasaatmenekankekananbagianini,sebaiknya
ditampungdenganlap,agarlantaitidakmenjadibasahdanuapairakanterserapkelap.
e. Burner
Burner merupakan bagian paling terpenting di dalam main unit, karena burner
berfungsisebagaitempatpancampurangasasetilen,danaquabides,agartercampur
merata,dandapatterbakarpadapemantikapisecarabaikdanmerata.Lobangyang
beradapadaburner,merupakanlobangpemantikapi,dimanapadalobanginilahawal
dariprosespengatomisasiannyalaapi.
Perawatan burner yaitu setelah selesai pengukuran dilakukan, selang aspirator
dimasukkan ke dalam botol yang berisi aquabides selama 15 menit, hal ini
merupakan proses pencucian pada aspirator dan burner setelah selesai pemakaian.
Selang aspirator digunakan untuk menghisap atau menyedot larutan sampel dan
standaryangakandiuji.Selangaspiratorberadapadabagianselangyangberwarna
oranyedibagiankananburner.Sedangkanselangyangkiri,merupakanselanguntuk
mengalirkan gas asetilen. Logam yang akan diuji merupakan logam yang berupa
larutandanharusdilarutkanterlebihdahuludenganmenggunakanlarutanasamnitrat
9

pekat. Logam yang berada di dalam larutan, akan mengalami eksitasi dari energi
rendahkeenergitinggi.
Nilaieksitasidarisetiaplogammemilikinilaiyangberbedabeda.Warnaapiyang
dihasilkanberbedabedabergantungpadatingkatkonsentrasilogamyangdiukur.Bila
warnaapi merah,makamenandakan bahwa terlalubanyaknya gas.Danwarnaapi
palingbiru,merupakanwarnaapiyangpalingbaik,danpalingpanas.
f. BuanganpadaAAS
BuanganpadaAASdisimpandidalamdrigendandiletakkanterpisahpadaAAS.
Buangandihubungkandenganselangbuanganyangdibuatmelingkarsedemikianrupa,
agarsisabuangansebelumnyatidaknaiklagikeatas,karenabilahaliniterjadidapat
mematikanprosespengatomisasiannyalaapipadasaatpengukuransampel,sehingga
kurva yang dihasilkan akan terlihat buruk. Tempat wadah buangan (drigen)
ditempatkan pada papan yang juga dilengkapi dengan lampu indicator. Bila lampu
indicatormenyala,menandakanbahwaalatAASatauapipadaprosespengatomisasian
menyala, dan sedang berlangsungnya proses pengatomisasian nyala api. Selain itu,
papantersebutjugaberfungsiagartempatatauwadahbuangantidaktersenggolkaki.
Bilabuangansudahpenuh,isididalamwadahjangandibuatkosong,tetapidisisakan
sedikit,agartidakkering.
g. Monokromator
Berfungsimengisolasisalahsatugarisresonansiatauradiasidarisekianbanyak
spectrumyangdahasilkanolehlampupiarhollowcathodeatauuntukmerubahsinar
polikromatismenjadisinarmonokromatissesuaiyangdibutuhkanolehpengukuran.
Macammacam monokromator yaitu prisma, kaca untuk daerah sinar tampak,
kuarsauntukdaerahUV,rocksalt(kristalgaram)untukdaerahIRdankisidifraksi.
h. Detector
Dikenal dua macam detector, yaitu detector foton dan detector panas. Detector
panas biasadipakai untukmengukur radiasiinframerah termasuk thermocoupledan
bolometer.Detectorberfungsiuntukmengukurintensitasradiasiyangditeruskandan
telah diubah menjadi energy listrik oleh fotomultiplier. Hasil pengukuran detector

10

dilakukanpenguatandandicatatolehalatpencatatyangberupaprinterdanpengamat
angka.Adaduamacamdeterktorsebagaiberikut:

DetectorCahayaatauDetectorFoton
Detectorfotonbekerjaberdasarkanefekfotolistrik,dalamhalinisetiapfotonakan

membebaskanelektron(satufotonsatuelectron)daribahanyangsensitifterhadap
cahaya.BahanfotondapatberupaSi/Ga,Ga/As,Cs/Na.

DetectorInfraMerahdanDetectorPanas
Detectorinframerahyanglazimadalahtermokopel.Efektermolistrikakantimbul

jikadualogamyangmemilikitemperaturberbedadisambungjadisatu
2.5 Fungsi dari Spektrofotometer Serapan Atom (AAS)
Spektrofotometer Serapan Atom berfungsi untuk menentukan kadar konsentrasi dari
unsur metalik untuk kepentingan medis dalam pemeliharaan kesehatan, seperti kalsium,
magnesium, tembaga, seng, dan besi. Selain itu Spektrofotometer Serapan Atom juga dapat
digunakan untuk menentukan apakah obat-obatan terapeutik tingkat seperti lithium telah
dicapai dalam darah dan juga dapat mendeteksi quantitatif kadar racun pada logam.
BAB III
APLIKASI AAS
Aplikasi yang menggunakan spektroskopi serapan atom ini telah banyak digunakan
untuk:

Menguji keberadaan logam besi dalam air.


Logam Fe2+ diuji menggunakan spektroskopi yang memakai grafit pada panjang
gelombang 248,3 nm. Logam ini diperoleh dari fraksi air-metanol. Dari hasil
penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penggunaan larutan organik dapat
menurunkan keakuratan analisis logam.

Analisis kuantitatif metalloenzim terimobilisasi.


Tujuan dari penelitian ini adalah mengukur kadar enzim hidrogen peroksidase
dengan mengintepretasi jumlah logam besi yang dikandung dari enzim tersebut
Imobilisasi enzim menggunakan kain karena teknik yang dilakukan yaitu adsorpsi,
kovalen dan kovalen dengan tambahan ikatan seberang silang. Kain tersebut
11

direndam dalam larutan asam sulfat, lalu cairan tersebut dioksidasi dengan
tambahan enzim hidrogen peroksidase. Cairan tersebut lalu diukur menggunakan
spektroskopi yang menggunakan pijaran api pada panjang gelombang 248,3 nm.

Menguji logam vanadium di dalam tanah.


Penelitian ini menggunakan spektroskopi yang memakai grafit. Tanah yang ingin
diuji direaksikan dengan berbagai asam anorganik yang merupakan proses digesti.
Ketika didapatkan konsentratnya dalam asam klorida baru diencerkan dengan air
dan dideteksi dengan spektroskopi.

Menganalisis elemen kelumit (trace element) pada jaringan kelinci.


Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis beberapa elemen kelumit (besi,
tembaga, dan seng) pada jaringan kelinci yang memiliki pola makan tinggi kadar
lemak. Hasil dari penelitian ini adalah logam besi ternyata mampu mempercepat
proses aterosklerosis

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1

Kesimpulan
Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) atau Spektrofotometri Serapan Atom

(SSA) adalah suatu alat yang digunakan pada metode analisis unsur secara kuantitatif
untuk

penentuan

unsur-unsur

logam

dan

metaloid

yang

pengukurannya

berdasarkan penyerapan cahaya dengan panjang gelombang tertentu oleh atom logam
dalam keadaan bebas. Hukum Dasar pada Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)
ialah Hukum Lambert-Beer.
Prinsip kerja AAS ialah ketika atom diberi energy yaitu energy termal (2300 0C)
atau nyala, electron terluar dari atom tersebut akan tereksitasi (terjadi perpindahan energy
rendah menuju energy tinggi) dan selanjutnya teremisi (perpindahan dari energy tinggi
menuju rendah). Pada saat electron tereksitasi secara bersamaan, sumber cahaya
dipancarkan dari lampu katoda. Elektron yang tereksitasi tersebut akan mengabsorpsi

12

energy yang berasal dari sumber cahaya (lampu katoda). Besarnya energy yang diabsorpsi
sebanding dengan jumlah atom tersebut.
Bagian-bagian dari Atomic Absorption

Spectrophotometry

(AAS)

atau

Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) adalah Lampu katoda, sistem pengatoman, tabung
gas, ducting, kompresor, burner, buangan pada AAS, monokromator, dan detector. Ada
beberapa

gangguan

pada

Atomic

Absorption

Spectrophotometry

(AAS)

atau

Spektrofotometri Serapan Atom (SSA), yaitu Gangguan Kimia, Gangguan Fisika,


Gangguan Matrik, Gangguan Ionisasi, Gangguan Absorpsi, dan Gangguan Latar Belakang.
Kelebihan dari Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) atau
Spektrofotometri Serapan Atom (SSA), yaitu Kepekaan lebih tinggi, sistemnya relatif
mudah, dan dapat memilih temperatur yang dikehendaki. Sedangkan kekurangan dari
Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) atau Spektrofotometri Serapan Atom (SSA),
yaitu hanya dapat digunakan untuk larutan dengan konsentrasi rendah, memerlukan jumlah
larutan yang cukup relatif besar (10-15 ml), efisiensi nebulizer untuk membentuk aerosol
rendah, sistem atomisasi tidak mampu mengatomkan secara langsung sampel padat.
Cara Kalibrasi dari Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)

atau

Spektrofotometri Serapan Atom (SSA), yaitu:


1. Buat blanko kemudian ukur nilai absorbansinya (menunjukkan angka 0);
2. Masukkan larutan standar, ukur absorbansinya minimal 3 kali;
3. Bandingkan nilai yang terukur pada spektrofotometri dengan yang tercantum
pada standar larutan (Lihat apakah ada penyimpangan atau tidak).
Cara

Perawatan

dari Atomic Absorption

Spectrophotometry

(AAS)

atau

Spektrofotometri Serapan Atom (SSA), yaitu:

4.2

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Sumber arus yang digunakan dalam pemakaian AAS ialah 220 volt
Meja yang digunakan untuk meletakkan AAS harus datar, kuat dan permanen
Lampu katoda dijaga jangan sampai pecah
Intensitas pemakaian alat jangan melebihi aturan yang telah ditentukan
Setelah alat digunakan, cuci dengan airdeionisasi selama 10 menit
Setelah digunakan, burner dibersihkan dan dikeringkan dengan lap bersih

7.

untuk menghilangkan karbonnya


Alat harus disimpan dalam ruangan yang kelembaban dan suhunya terjaga

8.
9.

seperti pada ruanga berAC


Stabilizer digunakan untuk menstabilkan apabila terjadi fluktuasi
Simpan dalam ruangan yang khusus.

Saran
Pada kesempatan kali ini penulis menyarankan kepada semua pihak yang merasa

memiliki andil dalam pengembangan pendidikan agar supaya hal-hal pendukung yang
berbau teknologi untuk kemudahan pengembangan pendidikan dapat lebih ditingkatkan
13

lagi. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional kita. Selain itu
hendaknya semua pihak hendaknya lebih ditingkatkan lagi rasa kepedulian terhadap
teknologi sains agar kedepan kita dapat mewujudkan masyarakat yang berjiwa teknologi.

14