Anda di halaman 1dari 130

LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT (UKM) Diajukan untuk memenuhi salah satu Tugas Dokter Internsip

Pusat Kesehatan Masyarakat Karanganyar Kecamatan Karanganyar Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah Periode 6 Juni 2016 2 Oktober 2016

PROGRAM UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT PUSKESMAS KARANGANYAR
PROGRAM UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT
PUSKESMAS KARANGANYAR

F1. Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

  • A. DEFINISI OPERASIONAL Promosi kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Dengan harapan bahwa dengan adanya pesan tersebut, maka masyarakat, kelompok atau individu dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik. Pengetahuan tersebut pada akhirnya diharapkan dapat berpengaruh terhadap perilaku. Dengan kata lain dengan adanya promosi kesehatan tersebut diharapkan dapat membawa akibat terhadap perubahan perilaku kesehatan dari sasaran. Menurut Notoatmodjo (2005) yang mengutip pendapat Lawrence Green (1984) merumuskan definisi sebagai berikut: “Promosi Kesehatan adalah segala bentuk kombinasi pendidikan kesehatan dan intervensi yang terkait dengan ekonomi, politik dan organisasi, yang dirancang untuk memudahkan perubahan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan”. Promosi kesehatan mempunyai pengertian sebagai upaya pemberdayaan masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatan diri dan lingkungannya melalui pembelajaran dari, oleh, untuk, dan bersama masyarakat, agar dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan (Depkes, 2005).

  • B. CAKUPAN KEGIATAN

    • 1. PENYULUHAN PERILAKU HIDUP BERSIH dan SEHAT

      • 1.1 Rumah Tangga PHBS

adalah yang berperilaku sesuai dgn 10 indikator PHBS yakni : (target 65%)

  • Melahirkan oleh tenaga kesehatan

  • Bayi diberi ASI Ekslusif sampai umur 6 bulan

  • Mempunyai Jaminan pemeliharaan kesehatan

  • Tidak merokok

  • Melakukan aktivitas fisik setiap hari

  • Makan sayur dan buah setiap hari

  • Tersedianya air bersih

  • Tersedianya jamban

  • Kesesuaian luas lantai dengan jumlah penghuni (minimal 8 m 2 /orang)

  • Lantai rumah bukan dari tanah

Sasaran :

Jumlah seluruh keluarga (RT) yang ada dalam 1 tahun tersebut

Target Sasaran :

65% dari jumlah seluruh keluarga(RT) yang ada dalam 1 th tersebut

Pencapaian :

Jumlah RT(Keluarga) yang dilakukan penyuluhan ber PHBS dalam 1 tahun tersebut

Sub Variabel :

Pencapaian x100%=….% Target Sasaran Rencana kegiatan : September 2015 Pelaksanaan kegiatan : tahunan sesuai PoA awal tahun

  • 1.2 Institusi Pendidikan (sekolah) yang memenuhi 8 Indikator PHBS yakni :

(target 80%)

  • Mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun

  • Mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah

  • Mengikuti kegiatan olahraga yang teratur dan terukur di sekolah

  • Membuang sampah pada tempatnya

  • Mengukur tinggi badan dan menimbang berat badan tiap bulan

  • Tidak merokok di sekolah

  • Pemberantasan jentik nyamuk di sekolah

  • Menggunakan jamban yang bersih dan sehat di sekolah

Sasaran :

Jumlah seluruh sekolah yang ada dalam 1 tahun tersebut

Target Sasaran :

80% dari sasaran

Pencapaian :

Jumlah sekolah yang dilakukan penyuluhan PHBS dalam 1 tahun tersebut

Sub Variabel :

Pencapaian x100%=….% Target Sasaran Rencana pelaksanaan : Agustus-September 2015, di tingkat SD

  • 1.3 Institusi sarana kesehatan yang memenuhi 10 Indikator PHBS yakni : (target

sasaran 80%)

  • Tidak merokok

  • Lingkungan bersih

  • Kamar mandi bersih

  • Ada jamban yang bersih

  • Tersedia air bersih

  • Ada tempat Sampah

  • Ada SPAL

  • Ventilasi memenuhi syarat

  • Ada tempat cuci tangan

  • Ada pencegahan serangga

Sasaran :

Jumlah seluruh sarkes yang ada diwilayah kerja dalam 1 tahun tersebut

Target Sasaran :

80% dari sasaran

Pencapaian :

Jumlah Sarkes yang dilakukan penyuluhan PHBS diwilayah kerja dalam 1

tahun tersebut Sub Variabel :

Pencapaian x100%=….% Target Sasaran

2.

PENYULUHAN NAPZA dan HIV di Tingkat Sekolah Menengah

2. PENYULUHAN NAPZA dan HIV di Tingkat Sekolah Menengah
  • 2.1 Pembinaan Berkala pada Kelompok Sasaran Beresiko Pemakai NAPZA.

Sasaran :

Jumlah kelompok/ sasaran yang beresiko pemakai napza yang ada diwilayah

kerja dalam 1 tahun

Target sasaran :

......

%

dari sasaran

Pencapaian :

Jumlah kelompok /sasaran beresiko pemakai napza yang mendapat pembinaan berkala seperti dgn : penyuluhan,seminar,workshop

Sub Variabel :

Pencapaian x100% =… .. Target Sasaran Rencana pelaksanaan : Agustus 2015

F2. Upaya Kesehatan Lingkungan

  • A. DEFINISI OPERASIONAL

Peningkatan kualitas kesehatan lingkungan pada kabupaten /kota dengan

kriteria minimal 4 dari 6 kriteria yang meliputi:

  • 1. Memiliki Desa/kel melaksanakan STBM minimal 20%

  • 2. Menyelenggarakan kab/kota sehat

  • 3. Melakukan pengawasan kualitas air minum minimal 30%

  • 4. TPM memenuhi syarat kesehatan minimal 31%

  • 5. TTU memenuhi syarat kesehatan minimal 30%

  • 6. RS melaksanakan pengelolaan limbah medis minimal 10%

Desa/Kelurahan yang terverifikasi sebagai desa yang melaksanakan STBM yaitu Desa/Kelurahan yang memenuhi kriteria sbb : telah dilakukan pemicuan STBM, telah memiliki natural leader, telah memiliki Rencana Kerja Masyarakat (RKM). RS yang melakukan pengelolahan limbah medis adalah RS yang melakukan pemilahan dan pengolahan limbah medis sesuai aturan. Pemilahan adlh telah memisahkan antara limbah medis dan non medis. Pengolahan adlh

proses pengolahan akhir limbah yang dilakukan sendiri atau melalui pihak ketiga yg berizin. Pengawasan kualitas air minum adalah penyelenggara air minum yang diawasi kualitas hasil produksinya secara eksternal oleh Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota dan KKP yang dibuktikan dengan jumlah sampel pengujian kualitas air. Penyelenggara air minum adalah :

  • 1. PDAM/BPAM/PT yang terdaftar di Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi)

  • 2. Sarana air minum perpipaan non PDAM

  • 3. Sarana air minum bukan jaringan perpipaan komunal

TTU (Tempat0Tempat Umum) yang memenuhi syarat kesehatan adalah tempat dan fasilitas umum minimal sarana pendidikan dan pasar tradisional yang memenuhi syarat kesehatan berdasarkan hasil Inspeksi Kesehatan Lingkungan sesuai standar di wilayah kab/kota dalam kurun waktu 1 tahun. Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) siap saji yang terdiri dari Rumah Makan/Restoran, Jasa Boga, Depot Air Minum, Sentra Makanan Jajanan yang memenuhi persyaratan hygiene sanitasi yang dibuktikan dengan sertifikat laik hygiene sanitasi. Kab/kota yang menyelenggarakan kawasan sehat adalah kab/kota yang menyelenggarakan pendekatan Kab/Kota Sehat dengan membentuk Tim

Pembina dan Forum Kab/Kota Sehat yang menerapkan minimal 2 Tatanan dari 9 Tatanan Kawasan Sehat yaitu :

(1). Kawasan Permukiman, Sarana, dan Prasarana Umum (2). Kawasan Sarana Lalu Lintas Tertib dan Pelayanan Transportasi (3). Kawasan Pertambangan Sehat (4). Kawasan Hutan Sehat (5). Kawasan Industri dan Perkantoran Sehat (6). Kawasan Pariwisata Sehat (7). Ketahanan Pangan dan Gizi (8). Kehidupan Masyarakat yang Mandiri (9). Kehidupan Sosial yang Sehat.

  • B. CAKUPAN PROGRAM KERJA

    • A. Pendataan Jumlah : Keluranan, Lingkungan, RW, RT, Perumahan, Penduduk dan Kepala Keluarga.

    • B. Pendataan sarana air minum dan sanitasi dasar

1.

 

a.

Sarana air minum non PP : SGL (Sumur Gali), SPT (Sumur Pompa Tangan), PMA (Perlindungan Mata Air), SA (Sumur Artetis), Mata Air

b.

Sarana Air Minum Perpipaan :

 

perpipaan PDAM : air baku, terminal air, hydran umum, kran umum, sambungan rumah (SR)

Perpipaan Masyarakat : air baku, kran umum, SR.

2.

Sarana Pembuangan Kotoran

a.

Jamban Umum / MCK

b.

Jamban Keluarga : Jamban sehat, jamban cemplong

3.

SPAL (Sarana Pembuangan Air Limbah)

4.

Tempat Sampah

 

a.

Tempat sampah rumah tangga

b.

TPS / Container

c.

TPA (Tempat Pembuangan Akhir)

  • C. Pendataan TTU (Tempat Tempat Umum)

1.

Sarana Institusi

 

a.

Sarana Kesehatan : Puskesmas, Puskesmas Pembantu, PKD, RB,

 

BP, Apotik

 

b.

Sarana Pendidikan (Sekolah) : Pra Sekolah (Playgrup, TK), tingkat dasar (SD, MI), tingkat lanjut (SLTP, SLTA,dsb)

2.

Sarana TTU (Tempat-Tempat Umum) : Hotel berbintang, hotel melati/losmen, salon/pangkas rambut, kolam renang, panti pijat, usaha rekreasi, hiburan umum, gedung pertemuan, perkantoran.

3.

Sarana Ibadah : Masjid, mushola, pondok pesantren, gereja, kelenteng, pura, Vihara

  • 4. Sarana Transportasi : Terminal

  • 5. Sarana Ekonomi/ Sosial : Pasar, pertokoan/pusat perbelanjaan, panti sosial (panti asuhan, panti jompo, dsb)

  • 6. Sarana TP3 / Tempat Pembuatan & Penjualan Pestisida : Perkebunan ? Saw Mill, kios pestisida, KUD

  • D. Pendataan TPM Sarana TPM (Tempat Pengelolaan Makanan) : Rumah makan, restoran, warung makan, jasa catering, IRT makanan minuman, PKL / Pedagang Kaki Lima, sentra / kawasan makanan kantin

  • E. Pendataan Lingkungan Pemukiman

    • 1. Desa Pamsimas

    • 2. SLBM (Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat) : Jamban komunal

    • 3. POKMAIR (Kelompok Pemakai Air) : Semua jenis SAM (Sarana Air Minum)

    • 4. Desa yang melaksanakan STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) STBM ada 3 pilar :

      • a. Stop BABS

      • b. CTPS

      • c. PAM RT (Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga) dan Pengelolaan makanan yang aman

      • d. Pengelolaan sampah yang benar

      • e. Pengelolaan limbah cair rumah tangga yang aman

  • C. CAKUPAN KEBERHASILAN

NO

UKURAN KEBERSIHAN

 

SPM

TARGET

CAPAIAN

1.

Jumlah penduduk yang memiliki akses

71%

97,16%

96,92%

terhadap sumber air minum yang berkualitas. Jumlah penduduk 77115

54752

74927

74743

  • 2 Jumlah air minum yang memenuhi syarat

71%

80,35%

81,82%

229

/

299 / 184

22 / 18

163

  • 3 penduduk

Jumlah

yang

menggunakan

63%

80,20%

79,81%

 

jamban sehat

4858

61849

61547

  • 4 Jumlah penduduk yang stop BABS

75%

84,43%

84,17%

5784

65107

64905

  • 5 Jumlah dusun yang stop BABS.

 

33,33%

22,22%

5,67

Jumlah dusun 54

18

12

3

  • 6 Jumlah desa yang stop BABS

 

33.33%

33.33%

0%

4

4

0

  • 7 Jumlah desa yang melaksanakan STBM

40%

41,67%

33.33%

5

5

4

F3. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana

  • A. DEFINISI OPERASIONAL Upaya kesehatan ibu dan anak adalah upaya di bidang kesehatan yang menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil, ibu bersalin, ibu menyusui, bayi dan anak balita serta anak prasekolah. Peranan ibu terhadap anak adalah sebagai pembimbing kehidupan di dunia ini. Ibu sangat berperan dalam kehidupan buah hatinya disaat anaknya

masih

bayi

hingga

dewasa,

bahkan

sampai

anak

yang

sudah

dilepas

tanggung jawabnya.

Tujuan program kesehatan ibu dan anak adalah tercapainya kemampuan hidup sehat melalui peningkatan derajat kesehatan yang optimal., bagi ibu dan keluarganya untuk menuju Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera(NKKBS) serta meningkatnya derajat kesehatan anak untuk menjamin proses tumbuh kembang optimalyang merupakan landasan bagi peningkatan kualitas manusia seutuhnya.

  • B. CAKUPAN KEGIATAN

    • 1. Kunjungan Ibu Hamil Resiko Tinggi Dilakukan setiap kali dalam skrining ibu hamil terdapat ibu hamil dengan resiko tinggi. Yang dimaksud dengan ibu hamil beresiko tinggi adalah ibu hamil dengan peluang atau kemungkinan untuk terjadi suatu keadaan gawat yang tidak diinginkan dikemudian hari. Misalnya terjadinya kematian, kesakitan atau kecacatan pada ibu dan bayinya. Adapun factor factor resiko pada ibu hamil, antara lain; a.Primigravida kurang dari 20tahun

      • b. Kehamilan dengan umur lebih dari 35 tahun

      • c. Anak lebih dari empat

      • d. Jarak persalinan terakir dan kehamilan sekarang kurang dari dua tahun

      • e. Tinggi badan kurang dari 145cm

      • f. Riwayat Diabetes mellitus, hipertensi h.Hb kurang dari 11

2.

Kelas ibu hamil

Dilakukan setiap satu bulan sekali, dengan penekanan setiap ibu hamil dipastikan mendapatkan 3x pertemuan. Kelas ibu hamil merupakan sarana untuk belajar kelompok tentang kesehatan bagi ibu hamil, dalam bentuk tatap muka yang bertujuan meiningkatkan pengetahuan dan ketrampilan ibu-ibu mengenai kehamilan, persalinan, perawatan nifas,dan perawatan bayi baru lahir, melalui praktik dengan buku KIA. Tujuan dilakukan kelas ibu hamil adalah untuk meningkatkan pengetahuan, merubah sikap dan perilaku ibu agar memahami tenatang kehamilan, perubahan tubyh serta keluhan selama kehamilan, perawatan kehamilan, persalinan, perawatan nifas, perawatan bayi, mitos/kepercayaan/adat istiadat setempat, penyakit menular, dan akte kelahiran.

  • 3. Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) Merupakan pembinaan tumbuh kembang anak secara komprehensif dan berkualitas melalui kegiatan stimulasi, deteksi dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang pada masa 5 tahun pertama kehidupan. Kegiatan SDIDTK meliputi; stimulasi dini yang memadai, deteksi dini penyimpangan, intervensi dini, rujukan dini. Tidak semua umur anak bias dilakukan pendeteksian. Anak bias di deteksi ketika umur 0 bulan, 3bulan, 6bulan, 9bulan, 12bulan, 15bulan, 18bulan, 21bulan, 24bulan, 30bulan, 36bulan,42bulan, 48bulan, 54bulan, 60bulan, 66bulan dan 72bulan.

Jadwal dan waktu pendeteksian anak yaitu;

  • a. Anak umur 0-1tahun : 1 bulan sekali

  • b. Anak umur >1-3tahun: 3 bulan sekali

  • c. Anak umur>3-6tahun : 6 bulan sekali

4.

Kelas ibu balita

Kelas Ibu Balita adalah kelas dimana para ibu mempunyai anak berusia 0 sampai 5 tahun secara bersama sama berdiskusi, tukar pendapat, tukar pengalaman akan pemenuhan pelayanan kesehatan, gizi dan stimulasipertumbuhan dan perkembangannya dibimbing oleh fasilitator dengan menggunakan buku KIA.

Tujuannya dalah untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku ibu dengan menggunakan buku KIA dalam mewujudkan tumbuh kembang Balita yang optimal. Penyelenggaran kelas ibu balita dilakukan setiap 3 sampai6 bulan sekali.

  • 5. Kesehatan Reproduksi Remaja Kesehatsn Reproduksi Remaja merupakan upaya untuk mencapai suatu keadaan kesehatan yang sempurna baik secara fisik, mental dan social. Promosi kesehatan dilakuakan dengan cara kunjungan ke sekolah sekolah di sekitar kabupaten, dan dilakukan konselor kesehatan. Untuk pelaksanaan dilakukan ketika jeda sekolah atau ketika Masa Orientasi Sekolah.

  • 6. Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Pelacakan kekerasan terhadap perempuan dan anak dilakukan oleh bidan wilayah, jika mendapatkan laporan akn ditindaklanjuti dengan pembinaan bekerjasama dengan polres dan yayasan perlindungan wanita setempat.

  • 7. Safari KB Merupakan usaha intensifikasi program KB, untuk menyukseskan program KB nasional. Safari KB dilakukan setahun sekali atau dilakukan jika target KB Nasional dalam puskesmas tidak mmenuhi target.

8.

Manajemen Terpadu Balita Sakit Manajemen Terpadu Balita Sakit merupakan suatu pendekatanyang

terintegrasi dalam tatalaksana balita sakit dengan fokus kepada kesehatan anak usia 0-59 bulan (balita) secara menyeluruh. Strategi MTBS memiliki 3 komponen khas yang menguntungkan yaitu;

  • 1. Meningkatakan ketrampilana petugas dalam tatalaksana kasus balita sakit

  • 2. Memperbaiki system kesehatan utamanya ditingkat kabupaten atau kota

  • 3. Memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam perawatan dirumah dan upaya perncarian pertolongabn kasus balita sakit.

F4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat A. DEFINISI OPERASIONAL

Pelayanan gizi adalah suatu upaya memperbaiki, meningkatkan gizi, makanan, dietetik masyarakat, kelompok, individu, atau klien yang merupakan suatu rangkaian kegiatan yang meliputi pengumpulan, pengolahan, analisis, simpulan, anjuran, implementasi dan evaluasi gizi, makanan, dan dietetik dalam rangka mencapai status kesehatan optimal dalam kondisi sehat atau sakit.

  • B. CAKUPAN KEGIATAN

    • 1. Pemberian Tablet Fe

Adalah jumlah ibu hamil yang mendapatkan minimal 90 tablet Fe (Fe3) selama

periode kehamilannya. Cakupan keberhasilan sebesar 80%.

  • 2. Balita Ditimbang

Adalah jumlah anak usia 0 59 bulan yang ditimbang di seluruh Posyandu yang

melapor di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

  • 3. Balita

Adalah jumlah seluruh Balita/dibawah 5 tahun (usia 0 59 bulan) di suatu wilayah,

diperoleh dari hasil pendataan setiap bulan.

4.

Balita Gizi Buruk

Adalah jumlah anak usia 0 59 bulan dengan status gizi berdasarkan indeks Berat Badan menurut Panjang Badan (BB/PB) atau Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) dengan nilai Z score < - 3 SD dan/atau terdapat tanda klinis gizi buruk lainnya. Tanda klinis gizi buruk yaitu kwarshiorkor, marasmus dan kwarshiorkor- marasmus.

  • 5. Balita Gizi Buruk Ditangani

Adalah jumlah Balita gizi buruk yang dirawat inap maupun rawat jalan di fasilitas

kesehatan dan masyarakat. Cakupan keberhasilan sebesar 100%.

  • 6. Cakupan ASI Ekslusif

Adalah jumlah bayi 0 5 bulan yang diberi ASI saja tanpa makanan/cairan lain

berdasarkan recall 24 jam.

  • 7. Vit A Bayi

Adalah jumlah bayi usia 6 11 bulan yang mendapat 1 (satu) kapsul vitamin A

yang mengandung vitamin A dosis tinggi, yaitu 100.000 satuan Internasional (SI) untuk bayi.

  • 8. Vit A Anak Balita

Adalah jumlah anak usia 12 59 bulan yang mendapat 1 (satu) kapsul vitamin A

yang mengandung vitamin A dosis tinggi, yaitu 200.000 satuan Internasional (SI) untuk anak balita. Cakupan keberhasilan sebesar 80%.

  • 9. Anak 6 24 bulan Gizi Kurang dapat MP-ASI

Adalah jumlahpemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) pada bayi

dengan gizi kurang. Cakupan keberhasilan sebesar 100%.

  • 10. Konsumsi Garam Beryodium

Adalah jumlah penggunaan garam beryodium pada tingkat rumah tangga. Cakupan

keberhasilan adalah 90%.

  • 11. Keluarga Sadar Gizi

Keluarga Sadar Gizi (KADARZI) adalah suatu keluarga yang mampu mengenal,

mencegah dan mengatasi masalah gizi setiap anggotanya. Suatu keluarga disebut

KADARZI apabila telah berperilaku gizi yang baik yang dicirikan minimal dengan:

  • 1. Menimbang berat badan secara teratur.

2.Memberikan Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sejak lahir sampai umur 6 bulan (ASI eksklusif).

  • 3. Makan beraneka ragam.

  • 4. Menggunakan garam beryodium.

  • 5. Minum suplemen gizi (TTD, kapsul Vitamin A dosis tinggi) sesuai anjuran.

Cakupan keberhasilan Kadarzi sebesar 70%.

F5. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular

  • A. DEFINISI OPERASIONAL Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) dan tidak menular (P2PTM) yaitu program pelayanan kesehatan puskesmas untuk mencegah dan mengendalikan penular penyakit menular/ infeksi (misalnya TB, DBD, kusta, diare, dll). Tujuan program P2PM/TM ini yaitu menurunkan angka kesakitan, kematian, dan kecacatan akibat penyakit menular dan penyakit tidak menular. Prioritas penyakit menular yang akan ditanggulangi adalah Malaria, DBD, diare, polio, TB, HIV/AIDS, pneumonia, dan penyakit- penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Prioritas penyakit tidak menular yang ditanggulangi adalah penyakit jantung dan gangguan sirkulasi, diabetes mellitus, dan kanker.

  • B. CAKUPAN KEGIATAN

Kegiatan pokok dan kegiatan indikatif program ini meliputi:

1. Pencegahan dan penanggulangan faktor risiko:

Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan perundang- undangan, dan kebijakan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko dan diseminasinya; Menyiapkan materi dan menyusun rencana kebutuhan untuk pencegahan dan penanggulangan faktor resiko;

Menyediakan kebutuhan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko sebagai stimulam; Menyiapkan materi dan menyusun rancangan juklak/juknis/pedoman pencegahan dan penanggulangan faktor risiko; Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko; Melakukan bimbingan, pemantauan dan evaluasi kegiatan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko; Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis pencegahan dan penanggulangan faktor risiko; Melakukan kajian program pencegahan dan penanggulangan faktor risiko; Membina dan mengembangkan UPT dalam pencegahn dan penanggulangan faktor risiko; Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan pencegahan dan pemberantasan penyakit.

2. Peningkatan imunisasi:

Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan perundang- undangan, dan kebijakan peningkatan imunisasi, dan diseminasinya; Menyiapkan materi dan menyusun perencanaan kebutuhan peningkatan imunisasi; Menyediakan kebutuhan peningkatan imunisasi sebagai stimulan yang ditujukan terutama untuk masyarakat miskin dan kawasan khusus sesuai dengan skala prioritas; Menyiapkan materi dan menyusun rancangan juklak/juknis/protap program imunisasi; Menyiapkan dan mendistribusikan sarana dan prasarana imunisasi; Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melaksanakan program imunisasi Melakukan bimbingan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan imunisasi; Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis peningkatan imunisasi;

Melakukan kajian upaya peningkatan imunisasi; Membina dan mengembangkan UPT dalam upaya peningkatan imunisasi; Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan imunisasi.

  • 3. Penemuan dan tatalaksana penderita:

Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan perundangundangan, dan kebijakan penemuan dan tatalaksana penderita dan diseminasinya; Menyiapkan materi dan menyusun perencanaan kebutuhan penemuan dan tatalaksana penderita; Menyediakan kebutuhan penemuan dan tatalaksana penderita sebagai stimulan; Menyiapkan materi dan menyusun rancangan juklak/juknis/pedoman program penemuan dan tatalaksana penderita; Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melaksanakan program penemuan dan tatalaksana penderita; Melakukan bimbingan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan penemuan dan tatalaksana penderita; Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis penemuan dan tatalaksana penderita; Melakukan kajian upaya penemuan dan tatalaksana penderita; Membina dan mengembangkan UPT dalam upaya penemuan dan tatalaksana penderita; Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan penemuan dan tatalaksana penderita.

  • 4. Peningkatan surveilens epidemiologi dan penanggulangan wabah:

Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan perundang- undangan, dan kebijakan peningkatan surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah dan diseminasinya;

Menyiapkan materi dan menyusun perencanaan kebutuhan peningkatan surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah; Menyediakan kebutuhan peningkatan surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah sebagai stimulan; Menyiapkan materi dan menyusun rancangan juklak/juknis/pedoman program surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah; Meningkatkan sistem kewaspadaan dini dan menanggulangi KLB/Wabah, termasuk dampak bencana; Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melaksanakan program surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah; Melakukan bimbingan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah; Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis peningkatan surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah; Melakukan kajian upaya peningkatan surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah; Membina dan mengembangkan UPT dalam upaya peningkatan surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah. Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah.

5. Peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit:

Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan perundang- undangan, dan kebijakan peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit dan diseminasinya; Menyiapkan materi dan menyusun perencanaan kebutuhan peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit.

Menyediakan kebutuhan peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit sebagai stimulan; Menyiapkan materi dan menyusun rancangan juklak/juknis/pedoman program komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit; Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melaksanakan program komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit; Melakukan bimbingan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit; Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit; Melakukan kajian upaya peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit; Membina dan mengembangkan UPT dalam upaya peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit; Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional pelaksanaan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit.

C. CAKUPAN KEBERHASILAN

Program

Target

Pencapaian

  • 1. Desa/ kelurahanmengalami KLB yang ditangani<24 jam

100%

0

  • 2. Acute Flacid Paralysis (AFP) per 100.000 penduduk<15 tahun

1%

0

  • 3. Kesembuhanpenderita TBC BTA+ (cure rate)

>85%

73.53%

  • 4. Penemuankasus TBC BTA+ (case detection rate/ CDR)

70%

44,96%

  • 5. Cakupanbalitadengan pneumonia yang ditangani

100%

0

  • 6. Penderita DBD yang ditangani

100%

100%

  • 7. Incident rate DBD

< 20/

101/100.000

100.000

  • 8. CFR (Angkakematian DBD)

< 1%

0

  • 9. BalitadenganDiare

yang

100%

245 kasus (100%)

ditangani

< 1/

0

10. Angkakematiandiare

100.000

LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT PUSKESMAS KARANGANYAR
LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT
PUSKESMAS KARANGANYAR

Laporan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) LEMBAR PENGESAHAN

Laporan kegiatan tentang “Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM)” yang dilakukan

di wilayah kerja puskesmas karanganyar.

Telah dipresentasikan pada tanggal September 2016 di Puskesmas Karanganyar, Kabupaten Karanganyar guna melengkapi tugas sebagai Dokter Internsip

2016

Dokter Internsip

dr. Alif Adlan Zulizar Dokter Internsip

dr. Subhan Darrojat A. Dokter Internsip

dr. Yudhistira Prakosa

Karanganyar,

September

Dokter Internsip

dr. Hiszom Asyhari Dokter Internsip

dr. Yanuar Rezano Dokter Internsip

dr. Yunita Amelia

Mengetahui, Dokter Pembimbing

dr. Vembrianti Prasiwibawani NIP. 197912152006042011

LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

(UKM)

PEMERIKSAAN ANAK PRA-SEKOLAH

(PROGRAM PROMKES, UKS)

Oleh:

dr. Alif Adlan Zulizar dr. Hiszom Asyhari dr. Subhan Darrojat Arifqi dr. Yanuar Rezano dr. Yudhistira Prakosa dr. Yunita Amelia

Diajukan untuk memenuhi salah satu Tugas Dokter Internsip Periode 6 Juni 2016 2 Oktober 2016 Puskesmas Karanganyar Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah

1.1 Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) sebagai salah satu program yang langsung berhubungan dengan peserta didik sudah dirilis sejak tahun 1976 dan diperkuat tahun 1984 dengan terbitnya SKB 4 menteri yaitu menteri pendidikan dan kebudayaan, menteri agama, menteri kesehatan dan menteri dalam negeri yang diperbaharui pada tahun 2003. Berdasarkan UU no 23 tahun 1992 pasal 45 tentang kesehatan sekolah diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik sehingga peserta didik dapat belajar, tumbuh dan berkembang secara harmonis dan optimal sehingga diharapkan dapat menjadikan sumber daya manusia yang berkualitas. Salah satu modal pembangunan nasional adalah sumberdaya manusia yang berkualitas yaitu sumber daya manusia yang sehat fisik, mental dan sosial serta mempunyai produktivitas yang optimal. Untuk mewujudkan sumberdaya manusia yang sehat fisik, mental dan sosial serta mempunyai produktivitas yang optimal diperlukan upaya-upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan secara terus menerus yang dimulai sejak dalam kandungan, anak usia dini sampai dengan usia lanjut. Pembinaan dan pengembangan usaha kesehatan sekolah merupakan salah satu upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan yang ditujukan kepada peserta didik merupakan salah satu mata rantai yang penting dalam meningkatkan kualitas fisik penduduk. Program usaha kesehatan sekolah yang dikenal dengan trias UKS yaitu pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan dan pembinaan lingkungan sekolah sehat merupakan hal yang sangat penting dalam mewujudkan peserta didik yang sehat dan cerdas. Adapun pembahasan laporan kali ini dititikberatkan pada upaya kesehatan sekolah berupa pemeriksaan kadar hemoglobin, ketajaman penglihatan,

kesehatan telinga hidung dan tenggorokan, kesehatan gigi dan mulut serta status gizi dari peserta didik.

  • 1.2 Tujuan

    • 1. Melakukan pemeriksaan fisik, kesehatan gigi dan mulut, menimbang berat

badan dan tinggi badan serta status gizi dari peserta didik.

  • 2. Menanamkan kebiasaan hidup sehat dan bertanggungjawab atas kebersihan

dan kesehatan daripada peserta didik.

  • 1.2 Manfaat

    • 1. Mampu meningkatkan kesehatan siswa sehingga dapat tumbuh dan belajar

secara optimal dan efisien.

  • 2. Mampu mengoptimalkan peran puskesmas sebagai lini pertama kesehatan

masyarakat.

BAB II

ANALISIS PERMASALAHAN

2.1 PENGERTIAN SWOT

Untuk mengetahui berbagai faktor yang mendukung serta menghambat dalam perkembangan Puskesmas Karanganyar, perlu diadakan kajian secara seksama dengan analisis SWOT (Strength, weakness, opportunity, threat) dengan unsur- unsur sebagai berikut :

  • 1. Kekuatan Kekuatan (strength) adalah berbagai kelebihan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi, yang apabila dimanfaatkan akan berperan besar tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi tapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki oleh organisasi.

  • 2. Kelemahan Kelemahan (weakness) adalah berbagai kekurangan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi yang apabila diatasi akan berperan besar, tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi tetapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki.

  • 3. Kesempatan Kesempatan (opportunity) adalah peluang yang bersifat positif yang dihadapi suatu organisasi, yang apabila dimanfaatkan akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.

  • 4. Ancaman Ancaman (threat) adalah kendala yang bersifat negatif yang akan dihadapi suatu organisasi yang apabila berhasil diatasi akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.

2.2. ANALISIS SWOT

Analisis SWOT terhadap kegiatan ini adalah sebagi berikut

  • 1. Strength

    • a. Jumlah tenaga kesehatan yang cukup di puskesmas karanganyar

    • b. Petugas kesehatan yang cekatan dan terampil dalam melakukan penyuluhan persuasif kepada masyarakat.

    • c. Adanya progam pemeriksaan anak usia pra-sekolah dan penjaringan yang diadakan secara rutin oleh dinas.

  • 2. Weakness

    • a. Hambatan pada sumberdaya puskesmas

      • - kurangnya kerjasama antara pihak tim pelaksanaan program

  • pemeriksaan anak usia prasekolah sehingga proses pemeriksaan

    kurang sistematis.

    • - Waktu yang digunakan dalam penjaringan terkadang terlalu singkat

    sehingga pemeriksaan kurang maksimal.

    • 3. Opportinity

      • - Pihak sekolah sendiri yang juga aktif untuk meminta diadakan penjaringan di sekolah tersebut.

    • 4. Threat

      • - Tingginya jumlah siswa yang terdeteksi kurangnya kebersihan diri, gigi mulut dan telinga.

    BAB III PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

    • 3.1 Alternatif Pemecahan Masalah

    Berdasarkan penyebab-penyebab yang ada, didapatkan beberapa alternative penyelesaian masalah sebagai berikut :

    • 1. Meningkatkan koordinasi, motivasi serta kinerja petugas kesehatan terutama dokter dan bidan wilayah untuk lebih giat mensosialisasikan pola hidup sehat terhadap guru sekolah dan wali murid.

    • 2. Meningkatkan minat dan motivasi peserta didik sebagai kader-kader kesehatan terutama di lingkungan sekolah dan masyarakat dengan menjadi dokter kecil.

    • 3. Mencanangkan hari bersih siswa setiap dua minggu sekali (kebersihan diri meliputi kebersihan kuku, gigi dan mulut) di sekolah-sekolah.

    • 3.2 Pemilihan Intervensi

    Dilakukan penyuluhan oleh tim puskesmas mengenai kesehatan diri sendiri dan lingkungan sekolah terhadap siswa-siswa sekolah dasar serta guru- guru sebelum penjaringan kesehatan dimulai.

    • 4.1 Uraian Kegiatan

    BAB IV

    PELAKSANAAN

    Dalam kegiatan ini dilakukan pemeriksaan fisik umum, seperti mengukur berat badan dan tinggi badan untuk mengetahui tumbuh kembang siswa. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan gigi mulut dan telinga, serta kebersihan diri siswa. Bagi siswa yang mengalami masalah dari pemeriksaan tersebut dilakukan tindakan lebih lanjut dengan memberikan rujukan ke puskesmas terdekat.

    • 4.2 Pelaksana

      • 1. Petugas kesehatan puskesmas karanganyar.

      • 2. Dokter internship puskesmas karanganyar.

  • 4.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan

  • NO

    TEMPAT

    WAKTU

    PELAKSANA

    1

    TK/RA Perwanida

     

    25

    -7- 2016

    Tim kesehatan PKM KRA & dr.internsip

    2

    TK Pertiwi 1 Tegalgede

     

    26

    -7- 2016

    Tim kesehatan PKM KRA & dr.internsip

    3

    TK Pertiwi Pojok Delingan

     

    29

    -7- 2016

    Tim kesehatan PKM KRA & dr.internsip

    4

    TK Pertiwi Cangakan

     

    30

    -7 -2016

    Tim kesehatan PKM KRA & dr.internsip

    5

    TK Aisyiyah Dompon

    1

    -8- 2016

    Tim kesehatan PKM KRA & dr.internsip

    6

    TK Kemala Bayangkari KRA

    2

    -8- 2016

    Tim kesehatan PKM KRA & dr.internsip

    7

    TK pertiwi 1 gedong

    3

    -8- 2016

    Tim kesehatan PKM KRA & dr.internsip

    8

    TK Ponda Bejen

    4

    -8- 2016

    Tim kesehatan PKM KRA & dr.internsip

    9

    TK Pertiwi gayamdompo

    4

    -8- 2016

    Tim kesehatan PKM KRA & dr.internsip

    4.4

    Metode Pelaksanaan

    • 1. Pengukuran tinggi badan dan berat badan

    Pengukuran tinggi badan dan berat badan dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan badan serta status gizi dari siswa sekolah dasar. Siswa yang telah diukur tinggi badannya kemudian melakukan pemeriksaan selanjutnya.

    • 2. Pemeriksaan fisik

    Pemeriksaan fisik meliputi ketajaman penglihatan, kebersihan dan kesehatan telinga, serta gigi dan mulut.

    • 4.5 Dokumentasi Kegiatan

    4.4 Metode Pelaksanaan 1. Pengukuran tinggi badan dan berat badan Pengukuran tinggi badan dan berat badan
    4.4 Metode Pelaksanaan 1. Pengukuran tinggi badan dan berat badan Pengukuran tinggi badan dan berat badan

    BAB V

    MONITORING DAN EVALUASI

    Kegiatan pemeriksaan anak usia pra sekolah berjalan dengan lancar. Dokter internsip dan petugas kesehatan terlihat bersemangat dalam menjalankan tugas. Walaupun telah berjalan lancar namun ada beberapa catatan penting selama pelaksanaan program agar program serupa dapat berjalan lebih lancar dan lebih efektif ke depannya.

    Antara lain koordinasi dengan pihak sekolah lebih ditingkatkan agar penulisan data nama, pengukuran tinggi badan dan berat badan dapat dilakukan sebelum kegaitan berlangsung agar lebih efektif dari segi waktu. Alat penunjang yang dibutuhkan seperti meteran untuk pengukuran tinggi badan dan timbangan tidak selalu ada di tiap-tiap sekolah, ada baiknya jika petugas kesehatan dari puskesmas mempersiapkan peralatan tersebut.

    LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

    (UKM)

    Penyuluhan Kecacingan

    (PROGRAM PROMKES)

    Oleh:

    dr. Alif Adlan Zulizar dr. Hiszom Asyhari dr. Subhan Darrojat Arifqi dr. Yanuar Rezano dr. Yudhistira Prakosa dr. Yunita Amelia

    Diajukan untuk memenuhi salah satu Tugas Dokter Internsip Periode 6 Juni 2016 2 Oktober 2016 Puskesmas Karanganyar Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah

    BAB I

    PENDAHULUAN

    • A. LATAR BELAKANG Penyakit cacingan yang ditularkan melalui tanah masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara beriklim tropis dan sub tropis. Penyakit ini termasuk kedalam kelompok penyakit terabaikan bersama Filariasis, Kusta dan Frambosia. Masalah kecacingan terutama terjadi pada daerah dengan kondisi higiene dan Sanitasi yang kurang baik serta perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat yang kurang, infeksi cacing perut ini dapat mempengaruhi status Gizi, proses tumbuh kembang dan merusak kemampuan kognitif pada anak yang terinfeksi kasus-kasus malnutrisi, stunting, anemia bisa disebabkan oleh karena kecacingan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang bebas dari infeksi cacing, tubuhnya memiliki kemampuan untuk menyerap protein, karbohidrat, vitamin A dan zat besi secara optimal, sehingga dapat meningkatkan status gizi dan kemampuan tumbuh kembangnya. Strategi pemberian obat cacing masal dilakukan secara terintegrasi dengan program pemberian vitamin A pada anak usia balita dan melalui program UKS untuk anak sekolah. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menurunkan angka prevalensi kecacingan pada anak usia prasekolah dan anak usia sekolah melalui pemberian obat cacing terintegrasi. Untuk mencapai tujuan tersebut maka diadakanlah penyuluhan tentang kecacingan dan pentingnya pemberian obat cacing di depan kepala sekolah SD/MI se kecamatan karanganyar sebagai langkah awal agar kegiatan ini berjalan lancar, selain itu dengan harapan ada kesepahaman antar pihak sekolah dan tenaga kesehatan dari puskesmas sehingga tidak

    terjadi kekhawatiran para guru dan orang tua apabila anak sekolah mengkonsumsi obat cacing.

    • B. BENTUK PROMKES Metode penyuluhan dilakukan secara langsung kepada Seluruh Kepala Sekolah SD/MI kecamatan karanganyar. Petugas melakukan penyuluhan langsung bertatap muka dengan kepala sekolah menjelaskan mengenai materi kecacingan dan pentingnya pemberian obat cacing pada murid SD/MI di kecamatan karangayar. Kemudian dijadwalkan pemberian obat cacing albendazol 400 mg untuk siswa kelas 1 s/d kelas 6. Teknik informasi yang digunakan dalam penyuluhan secara informatif dan persuasif.

    BAB II

    ANALISIS PERMASALAHAN

    2.1 PENGERTIAN SWOT

    Untuk mengetahui berbagai faktor yang mendukung serta menghambat dalam perkembangan Puskesmas Karanganyar, perlu diadakan kajian secara seksama dengan analisis SWOT (Strength, weakness, opportunity, threat) dengan unsur- unsur sebagai berikut :

    • 5. Kekuatan Kekuatan (strength) adalah berbagai kelebihan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi, yang apabila dimanfaatkan akan berperan besar tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi tapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki oleh organisasi.

    • 6. Kelemahan Kelemahan (weakness) adalah berbagai kekurangan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi yang apabila diatasi akan berperan besar, tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi tetapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki.

    • 7. Kesempatan Kesempatan (opportunity) adalah peluang yang bersifat positif yang dihadapi suatu organisasi, yang apabila dimanfaatkan akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.

    • 8. Ancaman Ancaman (threat) adalah kendala yang bersifat negatif yang akan dihadapi suatu organisasi yang apabila berhasil diatasi akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.

    2.2. ANALISIS SWOT

    Analisis SWOT terhadap kegiatan ini adalah sebagi berikut

    • 5. Strength

      • d. Jumlah tenaga kesehatan yang cukup di puskesmas karanganyar

      • e. Dokter internsip di dampingi Petugas kesehatan yang sudah berpengalaman dan persiapan yang matang dalam melakukan penyuluhan informatif di depan Kepala Sekolah SD/MI se- Kecamatan Karanganyar.

      • f. Adanya sarana dan prasarana yang memadai

  • 6. Weakness

    • b. Tidak semua kepala sekolah menghadiri kegiatan ini.

    • c. Tidak semua informasi yang diberikan diteruskan kepada orang tua siswa.

  • 7. Opportinity

    • - Memaksimalkan kerjasama lintas sektoral

    • - Antusiasme pihak sekolah yang luar biasa

  • 8. Threat

    • - Siswa yang tidak membawa air minum pada hari pelaksanaan kegiatan

    • - Siswa yang resisten terhadap obat

  • BAB III

    PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

    • 3.1 Alternatif Pemecahan Masalah

    Tidak ada masalah yang berarti dalam pelaksanaan kegaitan kali ini. Namun berdasarkan penyebab-penyebab yang masih ada ada, agar pelaksaan program dapat berjalan dengan sempurna, maka didapatkan beberapa alternatif penyelesaian masalah sebagai berikut :

    • 1. Meningkatkan motivasi serta kinerja petugas kesehatan untuk lebih giat membangun kerja sama lintas sektor

    • 2. Membangun hubungan yang baik dengan pihak sekolah

    • 3.2 Pemilihan Intervensi

    Intervensi yang dapat dilaksanakan adalah dengan meningkatkan motivasi serta kinerja petugas kesehatan untuk lebih giat dalam membangun kerjasama lintas sektor. Pemberian reward atas kerja yang telah dilakukan juga sangat penting agar motivasi kerja dapat terjaga.

    BAB IV

    PELAKSANAAN KEGIATAN

    • A. TUJUAN KEGIATAN

    Tujuan kegiatan ini untuk memberikan informasi mengenai penyakit kecacingan, ciri-ciri anak kecacingan, dampak kecacingan pada anak serta manfaat pemberian obat cacing dan efek sampingnya.

    • B. SASARAN KEGIATAN

    Sasaran kegiatan promkes ini adalah seluruh kepala sekolah SD/MI

    se-kecamatan Karangayar.

    • C. TARGET KEGIATAN

    Target dari promkes ini adalah meningkatkan pengetahuan mengenai penyakit kecacingan, ciri-ciri anak kecacingan, dampak kecacingan pada anak serta manfaat pemberian obat cacing dan efek sampingnya.

    • D. BENTUK KEGIATAN

    Bentuk kegiatan dari promkes ini adalah dengan metode penyuluhan di mana petugas memberikan informasi tentang materi kecacingan dan pentingnya pemberian obat cacing pada murid SD/MI di kecamatan karangayar. Kemudian dijadwalkan pemberian obat cacing albendazol 400 mg untuk siswa kelas 1 s/d kelas 6. Teknik informasi yang digunakan dalam penyuluhan secara informatif dan persuasif.

    • E. DOKUMENTASI KEGIATAN

    E. DOKUMENTASI KEGIATAN
    E. DOKUMENTASI KEGIATAN

    BAB III

    PELAKSANAAN KEGIATAN

    Pelaksanaan kegiatan promkes dengan materi kecacingan kepada seluruh kepala sekolah SD/MI se-kecamatan karanganyar telah diselenggarakan pada:

    No

    Tanggal

    Lokasi

    Jenis Kegiatan

     

    Pelaksana

    1.

    19

    agustus

    Aula Gedung PGRI

    Penyuluhan kecacingan

     

    Dokter Internsip

    2016

    kecamatan Karangayar

    Kepada seluruh kepala sekolah SD/MI kecamatan karanganyar

    Tindak lanjut kegiatan penyuluhan kecacingan kepada seluruh kepala sekolah SD/MI kec. Karanganyar

     

    No

    Tanggal

    Lokasi

    Jenis Kegiatan

     

    Pelaksana

    1.

    sept 2016

    • 7 SDN 1 lalung

    1.

    Pemberian

    obat

    cacing

    Dokter Internsip +

    2.

    SDN 2 lalung

    albendazole

    400

    mg

    kepada

    Staff

    puskemas

    3.

    SDN 3 lalung

    siswa kelas 1 s/d 6.

     

    karanganyar.

    MI

    lalung

     

    2.

    sept 2016

    • 8 SD 1 Bolong

    1.

    Pemberian

    obat

    cacing

    Dokter Internsip +

    2.

    SD 2 Bolong

    albendazole

    400

    mg

    kepada

    Staff

    puskemas

    3.

    MI

    parakan

    siswa kelas 1 s/d 6.

     

    karanganyar.

    bolong

     

    3.

    sept 2016

    • 10 SD 1 Janti harjo

    1.

    Pemberian

    obat

    cacing

    Dokter Internsip +

    2.

    SD 2 Jantiharjo

    albendazole

    400

    mg

    kepada

    Staff

    puskemas

    3.

    MI

    al-Huda

    siswa kelas 1 s/d 6.

     

    karanganyar.

    4.

    • 13 SDN

    sept 2016

    1.

    1

    Pemberian

    obat

    cacing

    Dokter Internsip +

    Karangnyar

    albendazole

    400

    mg

    kepada

    Staff

    puskemas

    2.

    SDN

    4

    siswa kelas 1 s/d 6.

     

    karanganyar.

    Karanganyar

     
     
    • 5. sept 2016

    14

    1.

    SD

    3

    Pemberian

    obat

    cacing

    Dokter Internsip +

    Karanganyar

    albendazole

    400

    mg

    kepada

    Staff

    puskemas

    2.

    MI

    tanjungsari

    siswa kelas 1 s/d 6.

     

    karanganyar.

    tegal gede

     
     

    15

    sept 2016

    • 6. SDN Karanganyar

    1.

    2

    Pemberian

    albendazole

    obat

    400

    mg

    cacing

    kepada

    Dokter Internsip +

    Staff

    puskemas

    2.

    SD 1 Tegalgede

    siswa kelas 1 s/d 6.

     

    karanganyar.

    3.

    SD 4 Tegalgede

     
     

    17

    sept 2016

    • 7. SD muhammadiyah

    1.

    Pemberian

    albendazole

    obat

    400

    mg

    cacing

    kepada

    Dokter Internsip +

    Staff

    puskemas

    tegalgede

    siswa kelas 1 s/d 6.

     

    karanganyar.

       

    2.

    SD 1 jungke

     

    3.

    SD 2 jungke

     

    19

    sept 2016

    • 8. SD Cangakan 1

    1.

    Pemberian

    obat

    cacing

    Dokter Internsip +

    2.

    SD Cangakan 2

    albendazole

    400

    mg

    kepada

    Staff

    puskemas

    3.

    SDLB N Kra

    siswa kelas 1 s/d 6.

     

    karanganyar.

     
    • 9. SD 1 Bejen

    20

    sept 2016

    1.

    Pemberian

    obat

    cacing

    Dokter Internsip +

    2.

    SD 2 Bejen

    albendazole

    400

    mg

    kepada

    Staff

    puskemas

    3.

    SD 3 Bejen

    siswa kelas 1 s/d 6.

     

    karanganyar.

     
    • 10. SD 4 Bejen

    21

    sept 2016

    1.

    Pemberian

    obat

    cacing

    Dokter Internsip +

    2.

    SD ASC Bejen

    albendazole

    400

    mg

    kepada

    Staff

    puskemas

    3.

    SD

    Kristen

    siswa kelas 1 s/d 6.

     

    karanganyar.

    Bejen

     
     

    22

    sept 2016

    • 11. SD 1 Popongan

    1.

    Pemberian

    obat

    cacing

    Dokter Internsip +

    2.

    SD 2 Popongan

    albendazole

    400

    mg

    kepada

    Staff

    puskemas

    3.

    SD 3 Popongan

    siswa kelas 1 s/d 6.

     

    karanganyar.

    12

    24 sept

    1.

    SD 4 Popongan

    Pemberian

    obat

    cacing

    Dokter Internsip +

    2016

    2.

    SD

    1

    albendazole

    400

    mg

    kepada

    Staff

    puskemas

    Gayamdompo

    siswa kelas 1 s/d 6.

     

    karanganyar.

    3.

    SD Gayamdompo

    2

     

    13.

    • 26 sept 2016

    1.

    MI Karan

    Pemberian

    obat

    cacing

    Dokter Internsip +

     

    albendazole

    400

    mg

    kepada

    Staff

    puskemas

    siswa kelas 1 s/d 6.

     

    karanganyar.

     
    • 27 sept 2016

    • 14 SDN 1 Gedong

    1.

    Pemberian

    obat

    cacing

    Dokter Internsip +

    2.

    SDN 2 Gedong

    albendazole

    400

    mg

    kepada

    Staff

    puskemas

    3.

    SDN 3 Gedong

    siswa kelas 1 s/d 6.

     

    karanganyar.

     
    • 28 sept 2016

    • 15 MI

    1.

    Al

    Amin

    Pemberian

    obat

    cacing

    Dokter Internsip +

    Gedong

    albendazole

    400

    mg

    kepada

    Staff

    puskemas

    2.

    SDN

    1

    siswa kelas 1 s/d 6.

     

    karanganyar.

    Delingan

     

    3.

    SDN

    2

    Delingan

    4.

    SDN

    3

    Delingan

    BAB V

    MONITORING DAN EVALUASI

    Tidak ada kendala yang berarti dalam pelaksanaan kegiatan ini. Persiapan yang lebih matang mungkin diperlukan lagi dengan membuat materi presentasi yang menarik agar lebih mudah diterima. Selain penyuluhan mungkin perlu ditambah penyajian materi dengan media leaftlet agar materi menjadi lebih sederhana dan mudah diingat.

    LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

    (UKM)

    KELAS IBU HAMIL

    (Program KIA/KB,Promkes,Gizi)

    Oleh:

    dr. Alif Adlan Zulizar dr. Hiszom Asyhari dr. Subhan Darrojat Arifqi dr. Yanuar Rezano dr. Yudhistira Prakosa dr. Yunita Amelia

    Diajukan untuk memenuhi salah satu Tugas Dokter Internsip Periode 6 Juni 2016 2 Oktober 2016 Puskesmas Karanganyar Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah

    1.1 Latar Belakang

    BAB I

    PENDAHULUAN

    Kelas ibu hamil merupakan sarana untuk belajar bersama tentang kesehatan bagi ibu hamil, dalam bentuk tatap muka dalam kelompok yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu mengenai kehamilan, perawatan kehamilan, persalinan, perawatan nifas, perawatan bayi baru lahir,mitos,penyakit menular dan akte kelahiran (Depkes, 2009:1). Dan pada setiap materi kelas ibu hamil yang akan disampaikan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi ibu hamil tetapi tetap mengutamakan materi pokok (Depkes, 2009:7).

    Tingginya angka kematian ibu (AKI) adalah indikator kritis status kesehatan para perempuan, kematian seorang ibu dalam keluarga memiliki dampak hebat,tidak hanya dalam hal kehilangan suatu kehidupan namun juga karena efeknya pada kesehatan dan usia hidup anggota keluarga yang ditinggalkan. World Health Organization (WHO) tahun 2007 memperkirakan sekitar 75-85% dari seluruh wanita hamil akan berkembang menjadi komplikasi yang berkaitan dengan kehamilannya serta mengancam jiwanya. Departemen kesehatan menyebutkan angka kematian ibu di Indonesia tahun 2012 mencapai 359/100.000 kelahiran hidup. Penyebab langsung kematian ibu sebesar 90% terjadi pada saat persalinan dan segera setelah persalinan, Penyebab langsung kematian ibu yaitu perdarahan sebesar 28%, eklamsia sebesar 24%, dan infeksi sebesar 11%, sedangkan penyebab tidak langsung kematian ibu adalah Kurang Energi Kronik (KEK) pada saat kehamilan sebesar 37%,dan anemia pada saat kehamilan sebesar 40% (Puspitasari,

    2012:1054-1060).

    Untuk menurunkan AKI diperlukan upaya-upaya yang terkait dengan kehamilan,kelahiran dan nifas, upaya untuk mempercepat penurunan AKI telah dimulai sejak akhir tahun 1980-an melalui program Safe Motherhood yang mendapat perhatian besar dan dukungan dalam berbagai pihak baik dalam maupun luar negeri,pada akhir tahun 1990-an secara konseptual telah diperkenalkan lagi

    upaya untuk menajamkan strategi dan intervensi dalam menurunkan AKI melalui Making Pregnancy Safer (MPS), yang dicanangkan oleh pemerintah pada tahun 2000. Untuk mempercepat pencapaian program MDG’s diperlukan upaya

    percepatan penurunan AKI dengan diharapkan kesadaran terhadap pentingnya kesehatan selama kehamilan menjadi meningkat, program yang diselenggarakan oleh Kementrian Kesehatan untuk mendukung langkah tersebut adalah kelas ibu hamil (Puspitasari, 2012:1054-1060).

    Latihan senam hamil yang dilakukan secara teratur baik ditempat latihan maupun di rumah dalam waktu senggang dapat menuntun ibu hamil ke arah persalinan yang fisiologis selama tidak ada keadaan patologis yang menyertai kehamilan. Senam hamil bukan hanya sekedar senam seperti olahraga biasa yang membuat tubuh menjadi segar dan bugar, namun senam hamil terbukti dapat membantu dalam perubahan metabolisme tubuh selama kehamilan dan sangat membantu dalam proses persalinan (Syafrudin,2011).

    Pada dasarnya pelaksanaan kelas ibu hamil dan senam hamil merupakan bentuk intervensi yang dilakukan petugas kesehatan dengan buku KIA yang menjadi referensi utamanya, kelas ibu hamil dan senam hamil dilaksanakan dengan menggunakan prinsip pendekatan belajar orang dewasa (BOD), metode yang digunakan pendekatan belajar orang dewasa adalah ceramah, tanya jawab, demonstrasi dan praktik, curah pendapat, penugasan, stimulasi diharapkan mampu mengoptimalisasi peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu hamil mengenai kehamilan dan perawatan bayi baru lahir (Dinkes, 2009 :12). Ibu beserta suami dan anggota keluarga yang lain harus sudah merencanakan persalinan yang aman oleh tenaga kesehatan (Depkes,2009:25).

    Kelas ibu hamil adalah kelompok belajar ibu-ibu hamil dengan umur kehamilan antara 4 minggu s/d 36 minggu (menjelang persalinan) dengan jumlah peserta maksimal 10 orang. Di kelas ini ibu-ibu hamil akan belajar bersama, diskusi dan tukar pengalaman tentang kesehatan ibu dan anak (KIA) secara menyeluruh dan sistematis serta dapat dilaksanakan secara terjadwal dan berkesinambungan. Kelas ibu hamil difasilitasi oleh bidan/tenaga kesehatan dengan menggunakan paket kelas ibu hamil yaitu buku KIA, Flip chart (lembar balik), pedoman

    pelaksanaan kelas ibu hamil, pegangan fasilitator kelas ibu hamil dan buku senam ibu hamil.

    • 2.2 Tujuan

    1. Meningkatkan pengetahuan, merubah sikap dan perilaku ibu agar memahami

    tentang kehamilan, perubahan tubuh dan keluhan selama kehamilan, perawatan kehamilan, persalinan, perawatan nifas, KB pasca persalinan, perawatan bayi baru lahir, mitos/kepercayaan/adat istiadat setempat, penyakit menular dan akte kelahiran. 2. Terjadinya interaksi dan berbagi pengalaman antar peserta (ibu hamil dengan ibu hamil) dan antar ibu hamil dengan petugas kesehatan/bidan.

    • 2.3 Manfaat

    1. Dapat meningkatkan pengetahuan ibu hamil pada saat kehamilan dan setelah

    persalinan. 2. Dapat meningkatkan interaksi dan berbagi pengalaman antar peserta (ibu hamil dengan ibu hamil) dan anatar ibu hamil dengan petugas kesehatan.

    BAB II

    ANALISIS PERMASALAHAN

    2.1 PENGERTIAN SWOT

    Untuk mengetahui berbagai faktor yang mendukung serta menghambat dalam perkembangan Puskesmas Karanganyar, perlu diadakan kajian secara seksama dengan analisis SWOT (Strength, weakness, opportunity, threat) dengan unsur- unsur sebagai berikut :

    9.

    Kekuatan

    Kekuatan (strength) adalah berbagai kelebihan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi, yang apabila dimanfaatkan akan berperan

    besar tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi tapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki oleh organisasi.

    • 10. Kelemahan Kelemahan (weakness) adalah berbagai kekurangan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi yang apabila diatasi akan berperan besar, tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi tetapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki.

    • 11. Kesempatan Kesempatan (opportunity) adalah peluang yang bersifat positif yang dihadapi suatu organisasi, yang apabila dimanfaatkan akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.

    • 12. Ancaman Ancaman (threat) adalah kendala yang bersifat negatif yang akan dihadapi suatu organisasi yang apabila berhasil diatasi akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.

    2.2. ANALISIS SWOT

    Analisis SWOT terhadap kegiatan ini adalah sebagi berikut

    9. Strength

    • g. Jumlah tenaga kesehatan terutama bidan yang cukup di puskesmas Karanganyar

    • h. Petugas kesehatan yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang cukup dalam melakukan aktivitas penyuluhan di dalam masyarakat.

    • i. Adanya sarana dan prasarana yang memadai.

    • 10. Weakness

      • d. Hambatan pada sumberdaya puskesmas

        • - Tidak selalu adanya dokter yang turun langsung ke lapangan.

        • - Kurangnya kerjasama lintas program.

    • e. Hambatan pada masyarakat

      • - Tingkat kesadaran ibu hamil yang masih rendah tentang manfaat kelas ibu hamil.

      • - Kurangnya jumlah kader kesehatan

  • 11. Opportinity

    • - Kegiatan penyuluhan ibu hamil yang bersamaan dengan senam ibu hamil sehingga menjadi lebih efektif dan efisien.

    • - Adanya kerjasama dan dukungan kader kesehatan, pokja, dan lintas sektoral

    • - Terbukanya berbagai pelatihan untuk meningkatkan keterampilan petugas

    • - Motivasi yang besar dari bidan wilayah terhadap peserta untuk mengikuti program kelas ibu hamil.

    • - Adanya pemberian makanan tambahan pada ibu hamil dapat menambah gizi ibu hamil.

  • 12. Threat

    • - Masih tingginya angka kematian ibu karena pengetahuan yang kurang tentang kehamilan dan kelahiran

    • - Wilayah kerja puskesmas yang cukup luas.

    BAB III

    PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

    • 3.1 Alternatif Pemecahan Masalah

    Berdsarkan

    penyebab-penyebab

    yang ada didapatkan beberapa

    alternatif

    penyelesaian masalah sebagai berikut :

    • 1. Meningkatkan motivasi serta kinerja petugas kesehatan terutama dokter dan bidan wilayah untuk lebih giat menyelenggarakan kelas ibu hamil.

    • 2. Mencari dan menambah kader baru serta membekali dengan pengetahuan yang cukup tentang kesehatan ibu hamil.

    • 3. Meningkatkan minat dan motivasi ibu hamil agar senantiasa datang dalam program kelas ibu hamil sampai sebelum melahirkan.

    • 4. Penyesuaian waktu pelaksanaan kelas ibu hamil tidak mengganggu aktivitas para peserta ibu hamil.

    • 5. Memanfaatkan pelatihan keterampilan bagi petugas kesehatan untuk meningkatkan kualitas program.

    • 3.2 Pemilihan Intervensi

    Alternatif pemecahan masalah di atas apabila terlaksana dapat menyelesaikan permasalahan tentang progam kelas ibu hamil. Namun, untuk melaksanakan pemecahan masalah tersebut secara bersamaan akan sangat sulit. Oleh karena itu, intervensi yang dapat dilaksanakan adalah dengan memberikan penyuluhan

    mengenai kesehatan ibu hamil oleh dokter dan bidan terlatih.

    • 4.1 Metode Intervensi

    BAB IV PELAKSANAAN

    Metode intervensi yang dipilih adalah dengan memberikan penyuluhan mengenai masalah pengetahuan ibu selama kehamilan dan disertai dengan senam ibu hamil. Metode ini diharapkan akan meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang apa saja yang harus diketahui saat kehamilan dan setelah kelahiran. Kegiatan ini dilakukan setiap bulan selama tiga kali pertemuan.

    • 4.2 Sasaran Intervensi

    Peserta kelas ibu hamil sebaiknya ibu hamil pada umur kehamilan 4 s/d 36 minggu, karena pada umur kehamilan ini kondisi ibu sudah kuat, tidak takut terjadi keguguran, efektif untuk melakukan senam hamil. Jumlah peserta kelas ibu hamil maksimal sebanyak 10 orang setiap kelas.

    • 4.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan

    Waktu pelaksanaan yaitu pada saat

     

    Kelurahan

    Tanggal

    Waktu

    Pelaksaan Kegiatan

    No

    Pelaksanaa

    n

    • 1 Popongan

    21-07-2016

    Jam 09.00

    dr. Internsip & petugas Kesehatan PKM KRA

    • 2 Gedong

    21-07-2016

    Jam 09.00

    dr. Internsip & petugas Kesehatan PKM KRA

    • 3 Cangakan

    22-07-2016

    Jam 09.00

    dr. Internsip & petugas Kesehatan PKM KRA

    • 4 Karanganyar

    22-07-2016

    Jam 09.00

    dr. Internsip & petugas Kesehatan PKM KRA

    • 5 Lalung

    23-07-2016

    Jam 09.00

    dr. Internsip & petugas Kesehatan PKM KRA

    • 6 Gayamdompo

    23-07-2016

    Jam 09.00

    • 7 Tegalgede

    25-07-2016

    Jam 09.00

    dr. Internsip & petugas Kesehatan PKM KRA dr. Internsip & petugas Kesehatan PKM KRA

    • 8 Bolong

    25-07-2016

    Jam 09.00

    dr. Internsip & petugas Kesehatan PKM KRA

    • 9 Delingan

    26-07-2016

    Jam 09.00

    dr. Internsip & petugas Kesehatan PKM KRA

    • 10 Jungke

    26-07-2016

    Jam 09.00

    dr. Internsip & petugas Kesehatan PKM KRA

    • 11 Jantiharjo

    28-07-2016

    Jam 09.00

    dr. Internsip & petugas Kesehatan PKM KRA

    • 12 Bejen

    28-07-2016

    Jam 09.00

    dr. Internsip & petugas Kesehatan PKM KRA

    4.4 Dokumentasi Kegiatan

    4.4 Dokumentasi Kegiatan
    4.4 Dokumentasi Kegiatan

    BAB V

    MONITORING DAN EVALUASI

    4.1 Monitoring dan Evaluasi

    Untuk memantau perkembangan dan dampak pelaksanaan kelas ibu hamil perlu dilakukan monitoring dan evaluasi secara berkala dan berkesinambungan. Seluruh pelaksanaan kegiatan kelas ibu hamil dibuatkan pelaporan dan di dokumentasikan.

    Intervensi pada kegiatan kelas ibu hamil berupa penyuluhan yang dibagi menjadi tiga sesi pertemuan tentang kehamilan, perubahan tubuh dan keluhan selama kehamilan,perawatan kehamilan, persalinan, perawatan nifas, KB pasca persalinan, perawatan bayi baru lahir, mitos/kepercayaan/adat istiadat setempat, penyakit menular dan akte kelahiran. Penyuluhan dilakukan secara dua arah yaitu adanya sesi tanya jawab antara petugas kesehatan dan peserta posyandu. Peserta dapat menanyakan masalah kesehatan yang dialaminya kepada petugas kesehatan. Setelah dilakukan penyuluhan diikuti dengan senam ibu hamil selama 15-20 menit. Senam ibu hamil ini diharapkan dapat banyak manfaat dalam membantu kelancaran proses persalinan, antara lain dapat melatih cara mengedan yang benar. Kesiapan ini merupakan bekal bagi calon ibu pada saat persalinan.

    Tujuan senam hamil adalah memberikan dorongan serta melatih jasmani dan rohani ibu secara bertahap agar ibu dapat menghadapi persalinan dengan tenang, sehingga proses persalinan dapat berjalan lancar dan mudah, membimbing wanita menuju suatu persalinan fisiologis, melonggarkan persendian yang berhubungan dengan proses persalinan, cara memperolah kontraksi dan rilaksasi yang sempurna, menguasai teknik pernapasan dalam persalinan, dapat mengatur diri pada ketenangan.

    4.2 Evaluasi Target

    Selama kegiatan kelas ibu hamil, peserta berminat melakukan tanya jawab dengan petugas kesehatan dan melaksanakan senam ibu hamil. Adanya petugas kesehatan yang lengkap terdiri dari dokter dan bidan yang diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelaksanaan program kelas ibu hamil. Dengan program ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan ibu hamil dan dapat menurunkan risiko angka kematian ibu dan anak.

    LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

    (UKM)

    Siaran Keliling Pemberantasan Sarang Nyamuk

    (PROGRAM PROMKES)

    Oleh:

    dr. Alif Adlan Zulizar dr. Hiszom Asyhari dr. Subhan Darrojat Arifqi dr. Yanuar Rezano dr. Yudhistira Prakosa dr. Yunita Amelia

    Diajukan untuk memenuhi salah satu Tugas Dokter Internsip Periode 6 Juni 2016 2 Oktober 2016 Puskesmas Karanganyar Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah

    BAB I

    PENDAHULUAN

    • 1.1 LATAR BELAKANG

    Program kesehatan di Indonesia adalah pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular. Penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia, disamping mulai meningkatnya masalah penyakit tidak menular. Penyakit menular tidak mengenal batas batas daerah

    administratif, sehingga pemberantasan penyakit menular memerlukan kerja sama antar daerah (Suroso, T, 2003).Salah satu penyakit menular adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat penting di Indonesia dan sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan kematian yang besar. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti. Penyakit DBD dapat menyerang semua umur atau orang. Sampai saat ini penyakit DBD lebih banyak menyerang anak anak, tetapi dalam dekade terakhir ini terlihat adanya kecenderungan kenaikan proporsi penderita penyakit DBD pada orang dewasa. Tanda dan gejala penderita penyakit DBD yang sering terjadi adalah demam, adanya pendarahan, hepatomegali (pembesaran hati), renjatan (shock), trombositopeni, hemokonsentrasi (meningkatnya jumlah hematokrit) juga ditemukan gejala anoreksia, lemah, mual, muntah, sakit perut, diare atau konstipasi dan kejang (Suroso, T, dkk, 2003). Upaya yang telah dilakukan Pemerintah terhadap pencegahan telah banyak dilakukan, seperti pada peringatan hari kesehatan pada tanggal 19 April 1998 Menteri Kesehatan mencanangkan Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD) dimana Pemerintah mensosialisasikan Gerakan 3M yaitu Menguras, Menutup dan Mengubur barang yang bisa menampung air, sebagai upaya untuk menghilangkan sarang nyamuk. Usaha yang dilakukan pemerintah nampaknya belum berhasil bila melihat angka kejadian pada tahun 2007 yang relatife tinggi. Hal ini kemungkinan pelaksanaan Gerakan 3M dilakukan secara individual, temporer dan kurangnya

    kemitraan pemerintah dengan masyarakat dalam menyikapi upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk.

    Peningkatan partisipasi masyarakat adalah suatu proses dimana individu, keluarga, dan masyarakat dilibatkan dalam perencanaan dan pelaksanaan pemberantasan vektor nyamuk Aedes Aegypti di wilayahnya. Kegiatan PSN dimaksudkan untuk meyakinkan masyarakat bahwa program PSN perlu dilaksanakan oleh masyarakat untuk mengatasi masalah yang ada dilingkungannya (Suroso,T,dkk, 2003).

    Seluruh masyarakat harus secara serentak dan berkelanjutan ikut serta memberantas sarang nyamuk. Keserentakan dan keberlanjutan inilah kunci keberhasilannya. Selain itu kemitraan antara pemerintah dengan masyarakat juga sangat penting. Selama ini upaya yang dilakukan pemerintah melalui penyediaan prasarana kota seperti saluran pembuangan air limbah dan regulasi yang mengatur berbagai bidang pembangunan agar tidak menimbulkan dampak terhadap masalah kesehatan, sering menjadi sia-sia karena sikap masyarakat yang kurang positif mendukung kesehatan khususnya dalam memberantas sarang nyamuk.

    • 2.1 BENTUK PROMKES

    Metode penyuluhan dilakukan secara langsung kepada masyarakat di 21 kelurahan kecamatan karanganyar, antara lain Kelurahan Lalung, Bolong, Janiharjo, Tegalgede, Jungke, Cangakan, Karanganyar, Bejen, Popongan, Gayamdompo, Delingan, Gedong, Sukoharjo, Jumantono, Matesih, Karangpandan, Mojogedang, Tasikmadu, Jaten, Kerjo, Kebakkramat. Petugas melakukan penyuluhan keliling dengan pengeras suara menggunakan mobil ambulance puskesmas karanganyar dengan tujuan untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengan cara 3M (menutup, menguras, mengubur). Teknik informasi yang digunakan dalam penyuluhan secara informatif dan persuasif.

    BAB II

    ANALISIS PERMASALAHAN

    2.1 PENGERTIAN SWOT

    Untuk mengetahui berbagai faktor yang mendukung serta menghambat dalam perkembangan Puskesmas Karanganyar, perlu diadakan kajian secara seksama dengan analisis SWOT (Strength, weakness, opportunity, threat) dengan unsur- unsur sebagai berikut :

    • 13. Kekuatan Kekuatan (strength) adalah berbagai kelebihan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi, yang apabila dimanfaatkan akan berperan besar tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi tapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki oleh organisasi.

    • 14. Kelemahan Kelemahan (weakness) adalah berbagai kekurangan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi yang apabila diatasi akan berperan besar, tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi tetapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki.

    • 15. Kesempatan Kesempatan (opportunity) adalah peluang yang bersifat positif yang dihadapi suatu organisasi, yang apabila dimanfaatkan akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.

    • 16. Ancaman Ancaman (threat) adalah kendala yang bersifat negatif yang akan dihadapi suatu organisasi yang apabila berhasil diatasi akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.

    2.2. ANALISIS SWOT

    Analisis SWOT terhadap kegiatan ini adalah sebagi berikut

    • 13. Strength

      • j. Jumlah tenaga kesehatan yang cukup di puskesmas karanganyar

      • k. Petugas kesehatan yang cekatan dan terampil dalam melakukan penyuluhan persuasif kepada masyarakat.

      • l. Adanya sarana dan prasarana yang memadai

  • 14. Weakness

    • f. Hambatan pada sumberdaya puskesmas

      • - kurangnya kerjasama lintas program

      • - beban kerja dan kurangnya motivasi petugas kesehatan menjadi

  • penyebab siaran keliling kurang maksimal, hanya dilakukan 1 kali dalam 1 hari untuk 12 kelurahan di kecamatan Karanganyar.

    • g. Hambatan pada masyarakat

      • - Tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah

      • - Kurangnya jumlah kader kesehatan

    • 15. Opportinity

      • - Memaksimalkan kerjasama lintas sektoral

      • - Penyuluhan dilakukan secara persuasif menggunakan kendaraan keliling 12 kelurahan sehingga lebih efektif dan efisien.

  • 16. Threat

    • - Kesadaran masyarakat yang masih sangat kurang

    • - Wilayah kerja puskesmas yang cukup luas.

    • - Waktu dilakukannya siaran keliling yaitu pada jam kerja pagi- siang hari, sehingga kebanyakan masyarakat sedang tidak ada di rumah.

  • BAB III

    PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

    • 3.1 Alternatif Pemecahan Masalah

    Berdasarkan penyebab-penyebab penyelesaian masalah sebagai berikut :

    yang ada, didapatkan beberapa alternatif

    • 3. Meningkatkan motivasi serta kinerja petugas kesehatan untuk lebih giat membangun kerja sama dengan kelurahan atau kerja sama lintas sektor yang lain

    • 4. Mencari dan menambah kader baru serta membekali pengetahuan yang cukup tentang penyakit demam berdarah, penularan, serta cara pemberantasan paling efektif.

    • 5. Meningkatkan kesadaran masyarakat agar senantiasa melakukan pemberantasan sarang nyamuk dilingkungan rumah masing-masing.

    • 3.2 Pemilihan Intervensi

    Alternatif pemecahan masalah di atas apabila terlaksana dapat menyelesaikan permasalahan tentang program pemberantasan sarang nyamuk. Namun untuk melaksanakan pemecahan masalah tersebut secara bersamaan akan sangat sulit. Oleh karena itu, intervensi yang dapat dilaksanakan adalah dengan meningkatkan motivasi serta kinerja petugas kesehatan untuk lebih giat dalam membangun kerjasama lintas sektor dan memberikan penyuluhan secara langsung kepada masyarakat akan pentingnya pemberantasan sarang nyamuk.

    BAB IV

    PELAKSANAAN KEGIATAN

    • F. TUJUAN KEGIATAN

    Tujuan kegiatan ini yaitu untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya melakukan pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengan cara 3M (menutup, menguras dan mengubur) di lingkungan rumah masing-masing, sehingga bersih dari jentik-jentik yang dapat berkembang menjadi nyamuk pembawa virus demam berdarah.

    • G. SASARAN KEGIATAN

    Sasaran kegiatan promkes ini adalah seluruh masyarakat di 21

    kelurahan di kecamatan karanganyar.

    • H. TARGET KEGIATAN

    Target dari promkes ini adalah meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat akan bahaya nyamuk demam berdarah dan penyakit yang ditimbulkanya, serta pentingnya untuk selalu melakukan upaya preventif pembersihan sarang nyamuk dengan jalan 3M (menutup, menguras, mengubur).

    • I. BENTUK KEGIATAN

    Bentuk kegiatan dari promkes ini adalah dengan metode persuasif di mana petugas berusaha meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan akan

    bahaya nyamuk demam berdarah dan penyakit yang ditimbulkanya, serta pentingnya untuk selalu melakukan upaya preventif pembersihan sarang nyamuk dengan jalan 3M (menutup, menguras, mengubur). Teknik informasi yang digunakan dalam penyuluhan secara informatif dan persuasif.

    • J. WAKTU DAN TEMPAT

    Waktu pelaksanaan yaitu pada tanggal 23 juli 2016

    K. DOKUMENTASI KEGIATAN

    K. DOKUMENTASI KEGIATAN

    BAB V

    MONITORING DAN EVALUASI

    Tidak ada kendala yang berarti selama kegaitan ini berlangsung. Tetapi mengingat luasnya wilayah kerja Puskesmas Karanganyar sehingga siaran keliling kurang efektif karena tidak semua tempat dapat dijangkau.

    Kerja sama lintas sektoral sangat diperlukan dan pemberdayaan kader kesehatan sangat penting agar informasi mengenai pentingnya PSN dapat tersampaikan dengan baik. Selain itu dapat pula memberikan penyuluhan akan pentingnya PSN dapat menggunakan media elektronik seperti koran lokal, radio lokal ataupun TV lokal kalau ada.

    LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

    (UKM)

    Pemeriksaan Garam Beryodium

    (PROGRAM UKS)

    Oleh:

    dr. Alif Adlan Zulizar dr. Hiszom Asyhari dr. Subhan Darrojat Arifqi dr. Yanuar Rezano dr. Yudhistira Prakosa dr. Yunita Amelia

    Diajukan untuk memenuhi salah satu Tugas Dokter Internsip Periode 6 Juni 2016 2 Oktober 2016 Puskesmas Karanganyar Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah

    • A. Latar Belakang

    BAB I

    PENDAHULUAN

    Di Indonesia, masalah kekurangan yodium masih menjadi persoalan kesehatan yang cukup serius. Dari hasil Riskesdas tahun 2007, cakupan

    konsumsi garam beryodium di Indonesia adalah 62,3% dengan konsumsi terendah di propinsi Nusa Tenggara Barat 27,90% dan tertinggi di Bangka Belitung 98.7%. Cakupan konsumsi garam beryodium di Indonesia masih di bawah target Universal Salt Iodization (USI) yaitu 90%. Oleh karena itu, upaya penanggulangan GAKY lebih difokuskan pada peningkatan konsumsi garam beryodium. Garam beryodium adalah garam yang telah diyodisasi sesuai

    dengan SNI dan mengandung yodium ≥ 30ppm untuk konsumsi manusia,

    ternak, dan industri garam. Gangguan akibat kurang yodium (GAKY) adalah sekumpulan gejala yang timbul karena tubuh seseorang kekurangan unsur yodium secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama. Suatu daerah dinyatakan beresiko mengalami GAKY bila kandungan yodium dalam tanah dan air sudah banyak yang terkikis karena erosi, banjir, atau hujan lebat. Selain itu, sumber air, hewan, dan tumbuhan di daerah tersebut mengandung kadar yodium yang rendah. Kekurangan yodium dapat menurunkan tingkat kecerdasan atau IQ. Potensi penurunan IQ karena GAKY dibedakan menjadi kretin (50 poin IQ). Gondok (10 poin IQ), dan tinggal di daerah GAKY (5 poin IQ). Prevalensi GAKY di Indonesia masih relative tinggi, pada tahun 1994 diperkirakan 42 juta penduduk berada di daerah resiko kekurangan yodium. Di antara jumlah tersebut, 750.000 s/d 900.000 orang menderita kretin endemic, penderita gondok diperkirakan 10 juta orang sedangkan penderita GAKY lainnya sekitar 3,5 juta orang (Depkes, 2012).

    • B. Tujuan

      • 1. Mengetahui program-program puskesmas tentang penanggulangan gizi masyarakat.

      • 2. Mengetahui kandungan garam yang dikonsumsi masyarakat.

  • C. Manfaat

    • 1. Mampu mencegah terjadinya gangguan akibat kekurangan yodium di masyarakat.

    • 2. Mampu mengoptimalkan peran puskesmas sebagai lini pertama kesehatan masyarakat.

  • BAB II ANALISIS PERMASALAHAN

    Kondisi sehat secara holistic bukan saja kondisi sehat secara fisik melainkan juga secara spiritual dan social dalam bermasyarakat, di mana factor-faktor tersebut harus berjalan dengan harmonis dalam upaya pencapaian kondisi kesehatan secara holistic.

    HOST

    (HEREDITAS)

    ENVIRONMENT (LINGKUNGAN)
    ENVIRONMENT
    (LINGKUNGAN)
    STATUS KESEHATAN

    STATUS KESEHATAN

    STATUS KESEHATAN
    BAB II ANALISIS PERMASALAHAN Kondisi sehat secara holistic bukan saja kondisi sehat secara fisik melainkan juga

    AGENT

    (PERILAKU)

    MEDICAL SERVICE

    (LAYANAN

    KESEHATAN)

    • 1. Lingkungan Lingkungan sangat bervariasi, umumnya digolongkan menjadi 2 kategori yaitu yang berhubungan dengan aspek fisik contohnya sampah, air, udara, tanah, iklim, perumahan. Lingkungan social meliputi kebudayaan, pendidikan, ekonomi dan sebagainya.

    • 2. Perilaku Perilaku merupakan factor kedua yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat karena sehat atau tidak sehatnya lingkungan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat sangat tergantung pada perilaku manusia itu sendiri. Di samping itu, juga dipengaruhi oleh kebiasaan, adat istiadat, kepercayaan, pendidikan social ekonomi, dan perilaku-perilaku lain yang melekat ada individu.

    • 3. Pelayanan kesehatan Pelayanan kesehatan merupakan factor ketiga yang mempengaruhi derajat masyarakat karena keberadaan fasilitas kesehatan sangat menentukan dalam pelayanan pemulihan kesehatan, pencegahan terhadap penyakit, pengobatan

    4.

    dan keperawatan seta kelompok dan masyarakat yang memerlukan pelayanan kesehatan. Hereditas Hereditas merupakan factor yang telah ada dalam diri manusia yang dibawa sejak lahir.

    Untuk mengetahui berbagai faktor yang mendukung serta menghambat dalam pengembangan Puskesmas Karanganyar, perlu diadakan kajian secara seksama dengan analisis SWOT (Strength , Weakness , Opportunity , Threat) dengan unsur- unsur sebagai berikut :

    1)

    Kekuatan

    Kekuatan (Strength) adalah berbagai kelebihan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi, yang apabila dimanfaatkan, akan berperan besar tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi, tapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki oleh organisasi.

    2)

    Kelemahan

    Kelemahan (Weakness) adalah berbagai kekurangan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi, yang apabila diatasi akan berperan besar, tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi, tetapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki.

    3)

    Kesempatan Kesempatan (Opportunity) adalah peluang yang bersifat positif yang dihadapi suatu organisasi, yang apabila dimanfaatkan akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.

    4)

    Ancaman

    Ancaman (Threat) adalah kendala yang bersifat negatif yang akan dihadapi suatu organisasi, yang apabila berhasil diatasi akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.

    1)

    Strength

    • a. Petugas kesehatan yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang

    cukup dalam melakukan aktivitas penyuluhan di dalam masyarakat.

    • b. Lokasi Puskesmas Karanganyar yang cukup strategis

    • c. Pembiayaan program oleh pemerintah

    2)

    Weakness

    • a. Hambatan pada sumber daya puskesmas

    • - Jumlah petugas gizi terbatas

    • - Kurangnya kerjasama lintas program

    • - Terbatasnya dana yang tersedia

    • b. Hambatan pada masyarakat

    • - Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya garam

    beryodium untuk kesehatan.

    • - Kurangnya respon sebagian masyarakat dalam mengikuti program dan penyuluhan dari puskesmas.

    3)

    Opportunity

    • a. Kegiatan penyuluhan gizi seringnya bersamaan dengan pelaksanaan posyandu dan penjaringan anak sekolah.

    • b. Adanya kerjasama dan dukungan kader kesehatan, pokja, dan lintas

    sector serta masyarakat dalam penanggulangan kekurangan yodium.

    4)

    Threat

    • a. Wilayah kerja puskesmas yang cukup luas.

    • b. Status social ekonomi masyarakat masih rendah.

    BAB III

    PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

    • A. Alternatif Pemecahan Masalah

    Melihat dari hasil analisis, disusun isu strategis yang dapat dilakukan untuk

    mendapatkan alternative pemecahan masalah, meliputi :

    • 1. Mengoptimalkan waktu yang seringnya bersamaan dengan posyandu balita atau lansia dengan memberikan penyuluhan tentang gizi.

    • 2. Menjalin kerjasama yang baik dan komunikasi efektif dengan lurah, kader, masyarakat dalam upaya penanggulangan gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY).

    • 3. Optimalisasi kader kesehatan di setiap wilayah untuk memperluas jangkauan pelayanan puskesmas.

    • 4. Memperbaiki pelaksanaan program-program penanggulangan gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) sehingga dapat lebih terencana dan tersampaikan dengan baik.

    • 5. Memanfaatkan jumlah tenaga atau SDM secara maksimal untuk peningkatan kualiatas pelayanan kesehatan.

    • 6. Meningkatkan komitmen dan kerjasama antar petugas kesehatan dengan menerapkan manajemen puskesmas secara optimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.

    • B. Pemilihan Intervensi Dari beberapa alternative pemecahan masalah tersebut, intervensi yang telah dilaksanakan oleh Puskesmas Karanganyar adalah dengan melakukan pemeriksaan kandungan yodium pada garam rumah tangga di wilayah kerja puskesmas dan juga garam yang dibawa oleh anak sekolah SD kelas 1 saat penjaringan.

    BAB IV

    PELAKSANAAN

    • A. Metode Intervensi Metode intervensi yang dipilih dalam upaya penanggulangan gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) adalah dengan melakukan pemeriksaan kandungan yodium pada garam yang dibawa siswa SD pada saat penjaringan seluruh SD di wilayah karanganyar. Pemeriksaan dimulai dengan membuka bungkusan garam yang dibawa siswa lalu ditetesi dengan cairan yodida. Tunggu beberapa detik sampai terjadi perubahan warna pada garam dari putih menjadi biru keunguan (pada garam beryodium).

    • B. Sasaran Intervensi

    Sasaran

    intervensi

    Karanganyar.

    adalah

    seluruh

    keluarga

    siswa

    SD

    wilayah

    • C. Waktu dan Tempat Kegiatan Waktu pelaksanaan pada tanggal 7 September Tempat di 42 SD wilayah Karanganyar.

    s/d 4 Oktober 2016.

    D. Dokumentasi

    D. Dokumentasi
    D. Dokumentasi

    BAB V

    MONITORING DAN EVALUASI

    • A. Monitoring Proses Petugas kesehatan memeriksa kandungan yodium garam rumah tangga yang di bawa oleh siswa SD kelas 1. Metode pemeriksaan kandungan yodium disebut juga test kit. Pemeriksaan ini menggunakan larutan iodine. Hasil pemeriksaan dikatakan positif bila warna menjadi kebiruan. Setelah mendapatkan hasil pemeriksaan yodium, petugas kesehatan segera menunjukkan hasil pemeriksaan kepada guru wali kelasnya. Hasil pemeriksaan yodium diharapkan dapat menjadi acuan ibu para siswa dalam menggunakan garam sebagai bumbu dapur. Penggunaan garam beryodium diharapkan dapat mencegah gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY).

    • B. Evaluasi Target Selama intervensi, sasaran yang kebanyakan siswa SD tampak kurang memahami maksud dan tujuan program yang diadakan puskesmas. Namun setelah pemeriksaan diperoleh hasil sebagian besar bermasyarakat telah menggunakan garam beryodium. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap kesehatan sudah cukup baik.

    LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

    (UKM)

    Penyuluhan NAPZA

    (PROGRAM PROMKES)

    Oleh:

    dr. Alif Adlan Zulizar dr. Hiszom Asyhari dr. Subhan Darrojat Arifqi dr. Yanuar Rezano dr. Yudhistira Prakosa dr. Yunita Amelia

    Diajukan untuk memenuhi salah satu Tugas Dokter Internsip Periode 6 Juni 2016 2 Oktober 2016 Puskesmas Karanganyar Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah

    BAB I

    PENDAHULUAN

    • A. Latar Belakang

    Remaja merupakan masa yang ditandai dengan perubahan- perubahan cepat pada jasmani yang berbarengan dengan matangnya organ seks, yang selanjutnya diikuti oleh perkembangan psikis yang meliputi perubahan emosi dengan melepaskan diri dari ikatan orangtua ketika anak harus dapat berdiri sendiri. Perkembangan kecerdasan dan kepribadian terwujud dalam cara hidup untuk menyesuaikan diri dalam masyarakat. Periode ini dianggap menjadi periode yang prnting karena pada saat inilah kepribadian seseorang terbentuk. Kelompok remaja adalah penduduk yang berada dalam rentang usia 10-19 tahun. Di Indonesia proporsinya sebesar 20% dari jumlah penduduk yaitu 64 juta (27,6%). Ini sesuai dengan proporsi remaja di dunia, dimana jumlah remaja diperkiraan 1,2 miliar atau sekitar 20% dari jumlah penduduk

    dunia. (WHO,2003). Dalam masa remaja, penampilan anak berubah, sebagai hasil peristiwa pubertas yang hormonal, mereka mengambil bentuk tubuh orang dewasa. Pikiran mereka juga berubah; mereka lebih dapat berpikir secara abstrak dan hipotesis. Perasaan mereka berubah terhadap hampir segala hal. Semua bidang cakupan perkembangan sebagai seorang remaja menghadapi tugas utama mereka: membangun identitas termasuk identitas seksual- yang akan terus mereka bawa sampai masa dewasa (Papalia, Old, & Feldman; 2008). Remaja merupakan komponen besar di Indonesia. Sebagai generasi penerus bangsa, remaja harus bias mengatasi permasalahan yang timbul dalam masa transisinya. Permasalahan itu antara lain masalah seksualitas kehamilan yang tidak diinginkan dan aborsi, terinfeksi penyakit menular seksual, HIV/AIDS, bahaya merokok dan NAPZA. Infromasi yang salah mengenai kesehatan remaja mengakibatkan pengetahuan dan persepsi yang

    salah. Hal ini menjadi salah satu indicator besarnya angka kejadian kehamilan yang tidak diinginkan, kasus PMS, dan HIV/AIDS, serta penyalahgunaan NAPZA yang terjadi pada kalangan remaja. Berdasarkan hasil survey, kasus kehamilan tidak diinginkan di Indonesia sebesar 33,79%. Dari 2,4 juta kasus aborsi, sebanyak 800.000 kasus dilakukan oleh remaja. Prevalensi kasus PMS dan HIV/AIDS yang trjadi pada remaja masing masing sebesar 4,18% dan 50%. (LDUI, 2001). Sekitar 1 juta remaja pria (5%) dan 200 ribu remaja wanita (1%) secara terbuka menyatakan bahwa mereka pernah melakukan hubungan seksual (Fuad, 2003 ; Depkes RI, 2006). Di Indonesia diperkirakan ada 1 juta remaja yang mengalami kehamilan di luar nikah, sedangkan di seluruh dunia diperkirakan 15 juta remaja setiap tahunnya hamil, 60% di antaranya hamil di luar nikah (Hidayat dalam Tinceuli, 2010). Dari beberapa penelitian menyebutkan salah satu penyebab kehamilan di luar nikah adalah ketidakmampuan remaja mengendalikan dorongan biologis (Tinceuli,

    2010).

    Karena itulah, puskesmas memberikan penyuluhan tentang kesehatan rpeoduksi remaja, HIV/AIDS, bahaya merokok, dan NAPZA kepada para remaja di wilayah Puskemas Karanganyar bersama dengan SMA/SMK untuk membekali para siswa dengan pengetahuan supaya para siswa bias mengatasi permaslahan yang timbul dengan baik.

    B. Tujuan

    • 1. Memberikan pnegetahuan mengenai kesehatan reproduksi remaja, HIV/AIDS, bahaya merokok, dan NAPZA kepada para siswa.

    • 2. Mengidentifikasi masalah yang dihadapi oleh para siswa seputar kesehatan reproduksi remaja, HIV/AIDS, bahaya merokok, dan NAPZA.

    • 3. Melakuakan intervensi terhadap remaja.

    C. Manfaat

    1. Mampu meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat khususnya remaja mengenai kesehatan reproduksi, HIV/AIDS, bahaya merokok, dan NAPZA. 2. Mampu mengoptimalkan peran Puskesmas sebagai lini pertama kesehatan masyarakat.

    BAB II ANALISIS PERMASALAHAN

    Untuk mengetahui berbagai faktor yang mendukung serta menghambat dalam pengembangan Puskesmas Karanganyar, perlu diadakan kajian secara seksama dengan analisis SWOT (Strength , Weakness , Opportunity , Threat) dengan unsur- unsur sebagai berikut :

    5)

    Kekuatan

    Kekuatan (Strength) adalah berbagai kelebihan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi, yang apabila dimanfaatkan, akan berperan besar tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi, tapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki oleh organisasi.

    6)

    Kelemahan

    Kelemahan (Weakness) adalah berbagai kekurangan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi, yang apabila diatasi akan berperan besar,

    tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi, tetapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki.

    7)

    Kesempatan

    Kesempatan (Opportunity) adalah peluang yang bersifat positif yang dihadapi suatu organisasi, yang apabila dimanfaatkan akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.

    8)

    Ancaman

    Ancaman (Threat) adalah kendala yang bersifat negatif yang akan dihadapi suatu organisasi, yang apabila berhasil diatasi akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.

    1)

    Kekuatan

    • a. Jumlah tenaga kesehatan yang cukup

    • b. Petugas kesehatan yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang cukup dalam melakukan aktivitas penyuluhan di dalam masyarakat.

    2)

    • c. Adanya hubungan baik antara puskesmas dengan sekolah di lingkup wilayahnya. Kelemahan

    • a. Kurangnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi, HIV/AIDS, bahaya merokok, dan NAPZA.

    • b. Kendala tempat dan waktu pelaksanaan penyuluhan sehingga tidak semua siswa mendapatkan materi penyuluhan tentang kesehatan reproduksi remaja, HIV/AIDS, bahaya merokok, dan NAPZA.

    3)

    Kesempatan

    • a. Materi penyuluhan diberikan dengan presentasi dan diskusi

    interaktif sehingga para siswa bias bertanya langsung dan berdiskusi tentang materi penyuluhan

    • b. Adanya kerjasama dan dukungan petugas Puskemas, sekolah dan lintas sector.

    • c. Motivasi yang besar diantara petugas kesehatan untuk memberikan informasi tentang materi penyuluhan.

    4)

    Ancaman

    • a. Tingginya angka kesakitan karena kurangnya pengetahuan dan kesadaran remaja dalam memperhatikan kesehatan reproduksi remaja, HIV/AIDS, bahaya merokok, dan NAPZA.

    • b. Wilayah kerja Puskesmas cukup luas.

    BAB III PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

    • C. Alternatif Pemecahan Masalah

    Melihat dari hasil analisis, disusun isu strategis yang dapat dilakukan untuk

    mendapatkan alternative pemecahan masalah, meliputi :

    1. Meningkatkan motivasi serta kinerja petugas kesehatan untuk lebih giat menyelenggarakan penyuluhan kesehatan reproduksi remaja, HIV/AIDS, bahaya merokok dan NAPZA. 2. Membekali elemen sekoalah yang mampu dan potensial dengan pengetahuan yang cukup tentang kesehatan reproduksi remaja, HIV/AIDS, bahaya merokok dan NAPZA. 3. Meningkatkan minat dan motivasi pihak sekoalh untuk lebih memperhatikan perilaku siswa seputar kesehatan reproduksi remaja, HIV/AIDS, bahaya merokok dan NAPZA.

    • D. Pemilihan Intervensi

    Alternatif pemecahan masalah di atas apabila terlaksana dapat menyelesaikan permaslaahan tentang kesehatan reproduksi remaja, HIV/AIDS, bahaya merokok dan NAPZA. Namun, untuk melaksanakan pemecahan masalah tersebut secara bersamaan akan sangat sulit. Oleh karena itu, intervensi awal yang dapat dilaksanakan adalah dengan memberikan penyuluhan tentang kesehatan reproduksi remaja, HIV/AIDS,

    bahaya merokok dan NAPZA.

    BAB IV PELAKSANAAN

    • A. Metode Intervensi Metode intervensi awal yang dipilih adalah dengan memberikan penyuluhan kesehatan reproduksi remaja, HIV/AIDS, bahaya merokok dan NAPZA. Metode ini diharapkan menambah kewaspadaan puskesmas sekaligus sebagai sarana memberikan masukan kepada pihak sekolah. Para siswa juga bias bertanya kepada petugas yang ditunjuk jika ada permasalahan seputar kesehatan reproduksi remaja, HIV/AIDS, bahaya merokok dan NAPZA.

    • B. Sasaran Intervensi SMA/SMK di wilayah Puskesmas Karanganyar

    • C. Waktu dan tempat pelaksanaan

    • D. Dokumentasi kegiatan

    BAB IV PELAKSANAAN A. Metode Intervensi Metode intervensi awal yang dipilih adalah dengan memberikan penyuluhan kesehatan

    BAB V MONITORING DAN EVALUASI

    • A. Monitoring dan Evaluasi Proses

    Kegiatan penyuluhan ini dibagi dalam dua tahap yaitu pemberian materi dan

    diskusi interaktif dengan para siswa. Selain itu petugas dapat menanyakan permasalahan kesehatan reproduksi remaja, HIV/AIDS, bahaya merokok dan NAPZA yang pernah dialami para siswa untuk bias diselesaikan secara tepat. Prtugas memberikan masukan kepada pihak sekolah agar meningkatkan perhatian terhadap siswa.

    • B. Evaluasi Target Selama kegiatan, hamper seluruh pihak tampak berminat mengikuti materi dan melakukan Tanya jawab dengan petugas. Para siswa juga memerima materi dengan aktif dan antusias.

    LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

    (UKM)

    Penjaringan Anak Sekolah

    (PROGRAM UKS)

    Oleh:

    dr. Alif Adlan Zulizar dr. Hiszom Asyhari dr. Subhan Darrojat Arifqi dr. Yanuar Rezano dr. Yudhistira Prakosa dr. Yunita Amelia

    Diajukan untuk memenuhi salah satu Tugas Dokter Internsip Periode 6 Juni 2016 2 Oktober 2016 Puskesmas Karanganyar Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah

    • A. Latar Belakang

    BAB I

    PENDAHULUAN

    Usaha kesehatan sekolah disingkat UKS adalah suatu usaha yang dilakukan sekolah untuk menolong murid dan juga warga sekolah yang sakit di kawasan lingkungan sekolah. UKS biasanya dilakukan di ruang kesehatan suatu sekolah. Dalam pengertian lain, UKS adalah usaha untuk membina dan mengembangkan kebiasaan dan perilaku hidup sehat pada peserta didik usia sekolah yang dilakukan secara menyeluruh (komprehensif) dan terpadu (integrative). Untuk optimalisasi program UKS perlu ditingkatkan peran serta peserta didik sebagai subjek dan bukan hanya objek. Dengan kegiatan UKS ini diharapkan mampu menanamkan sikap dan perilaku hidup sehat pada dirinya sendiri dan mampu menolong orang lain. Dari pengertian ini maka UKS dikenal pula dengan child to child programme. Program dari anak, oleh anak, dan untuk anak untuk menciptakan anak yang berkualitas. Menurut WHO (World Health Organization) yang dimaksud dengan hidup sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Sedangkan kesehatan jiwa adalah keadaan yang memungkinkan perkembangan fisik, mental, intelektual, emosional, dan sosial yang optimal dari seseorang. Dalam Undang Undang Nomor 23 Tahun 1992 pasal 45 tentang Kesehatan ditegaskan bahwa ”Kesehatan Sekolah” diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar, tumbuh dan berkembang secara harmonis dan optimal sehingga diharapkan dapat menjadikan sumber daya manusia yang berkualitas. Menurut Sumantri, M. (2007) peserta didik itu harus sehat dan orang tua memperhatikan lingkungan yang sehat dan makan makanan yang bergizi, sehingga akan tercapai manusia soleh, berilmu dan sehat (SIS). Dalam proses belajar dan pembelajaran materi pembelajaran berorientasi pada head, heart dan hand, yaitu berkaitan dengan pengembangan pengetahuan, sikap atau nilai yang harus dimiliki dan keterampilan.

    Sasaran dari pelaksanaan kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah yang dilaksanakan tersebut meliputi peserta didik sebagai sasaran primer, guru pamong belajar/tutor orang tua, pengelola pendidikan dan pengelola kesehatan serta TP UKS di setiap jenjang sebagai sasaran sekunder. Sedangkan sasaran tertier adalah lembaga pendidikan mulai dari tingkat pra sekolah/TK/RA sampai SLTA/MA, termasuk satuan pendidikan luar sekolah dan perguruan tinggi agama serta pondok pesantren beserta lingkungannya. Sasaran lainnya adalah sarana dan prasarana pendidikan kesehatan dan pelayanan kesehatan. Sasaran tertier lainnya adalah lingkungan yang meliputi lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat sekitar sekolah.

    B.

    Tujuan

    • 1. Melakukan pemeriksaan kadar hemoglobin, ketajaman penglihatan, kesehatan telinga, hidung dan tenggorokan, kesehatan gigi dan mulut, serta status gizi dari peserta didik.

    • 2. Menanamkan kebiasaan hidup sehat dan bertanggung jawab atas kebersihan dan kesehatan diri pada peserta didik.

    C.

    Manfaat

    • 1. Terdeteksinya kelainan kesehatan pada siswa secara dini terutama dalam hal kadar hemoglobin, ketajaman penglihatan, kesehatan telinga, hidung dan tenggorokan, kesehatan gigi dan mulut, serta status gizi dari peserta didik.

    • 2. Pencegahan dan pengobatan terhadap kadar hemoglobin rendah, gangguan pada ketajaman penglihatan, kesehatan telinga, hidung dan tenggorokan, kesehatan gigi dan mulut, serta status gizi dari peserta didik.

    • 3. Mampu meningkatkan kesehatan siswa sehingga dapat tumbuh dan belajar secara optimaldan efisien.

    • 4. Mampu mengoptimalkan peran Puskesmas sebagai lini pertama kesehatan masyarakat.

    BAB II ANALISIS PERMASALAHAN

    Untuk mengetahui berbagai faktor yang mendukung serta menghambat dalam pengembangan Puskesmas Karanganyar, perlu diadakan kajian secara seksama dengan analisis SWOT (Strength , Weakness , Opportunity , Threat) dengan unsur- unsur sebagai berikut :

    1) Kekuatan Kekuatan (Strength) adalah berbagai kelebihan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi, yang apabila dimanfaatkan, akan berperan besar tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi, tapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki oleh organisasi. 2) Kelemahan Kelemahan (Weakness) adalah berbagai kekurangan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi, yang apabila diatasi akan berperan besar, tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi, tetapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki. 3) Kesempatan Kesempatan (Opportunity) adalah peluang yang bersifat positif yang dihadapi suatu organisasi, yang apabila dimanfaatkan akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi. 4) Ancaman Ancaman (Threat) adalah kendala yang bersifat negatif yang akan dihadapi suatu organisasi, yang apabila berhasil diatasi akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.

    5)

    Kekuatan

    • a. Jumlah tenaga kesehatan yang cukup

    • b. Petugas kesehatan yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang cukup dalam melakukan aktivitas penyuluhan di dalam masyarakat.

    • c. Adanya program penjringan yang diadakan secara rutin oleh dinas.

    6)

    Kelemahan

    • a. Kurangnya koordinasi antara pihak Puskesmas dan sekolah, sehingga proses pemeriksaan kurang sistematis.

    • b. Waktu yang digunakan dalam penjaringan kadang terlalu singkat, sehingga pemeriksaan kurang menyeluruh.

    7)

    Kesempatan

    • a. Pihak sekolah sendiri yang juga aktif untuk meminta diadakan

    penjaringan di sekolah tersebut.

    8)

    Ancaman

    • a. Tingginya jumlah siswa yang terdeteksi memiliki Hb rendah, tingginya angka penyakit gigi mulut, dan kurangnya kebersihan diri.

    BAB III

    PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

    • E. Alternatif Pemecahan Masalah Melihat dari hasil analisis, disusun isu strategis yang dapat dilakukan untuk mendapatkan alternative pemecahan masalah, meliputi :

      • 7. Meningkatkan koordinasi, motivasi serta kinerja petugas terutama dokter dan bidan wilayah untuk lebih giat mensosialisasikan pola hidup sehat terhadap guru sekolah dan wali murid.

      • 8. Meningkatkan minat dan motivasi peserta didik sebagai kader kader kesehatan terutama di lingkungan sekolah dan masyarakat dengan menjadi dokter kecil.

      • 9. Mencanangkan hari bersih siswa setiap dua minggu sekali di sekolah- sekolah.

  • F. Pemilihan Intervensi Dilakukan penyuluhan oleh tim puskesmas mengenai kesehatan diri sendiri dan lingkungan sekolah terhadap siswa siswa sekolah serta guru-guru sebelum penjaringan kesehatan dimulai.

    • A. Uraian Kegiatan

    BAB IV

    PELAKSANAAN

    Dalam kegiatan ini dilakukan pemeriksaan fisik umum, seperti mengukur tinggi badan dan berat badan untuk mngetahui tumbuh kembang siswa. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin siswa serta kebersihan dan kesehatan telinga, hidung dan tenggorok, tajam penglihatan, serta kesehatan gigi dan mulut masing masing siswa. Bagi siswa yang didapati mengalami masalah akan dilakukan tindakan lebih lanjut.

    • B. Pelaksanaan

    Pelaksana :

    Tim Penjaringan Puskesmas Karanganyar Dokter Internsip Puskesmas Karanganyar

    • C. Waktu dan tempat Terlampir

    • D. Metode Pelaksanaan

      • 1. Pengukuran tinggi badan dan berat badan Dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan serta status gizi peserta didik.

      • 2. Pemeriksaan kadar Hb Dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan metode sahli.

      • 3. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan meliputi tajam penglihatan, kebersihan telinga, hidung dan tenggorok, serta gigi mulut

  • E. Dokumentasi

  • A. Uraian Kegiatan BAB IV PELAKSANAAN Dalam kegiatan ini dilakukan pemeriksaan fisik umum, seperti mengukur tinggi

    LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

    (UKM)

    PROLANIS

    (PROGRAM PROMKES)

    Oleh:

    dr. Alif Adlan Zulizar dr. Hiszom Asyhari dr. Subhan Darrojat Arifqi dr. Yanuar Rezano dr. Yudhistira Prakosa dr. Yunita Amelia

    Diajukan untuk memenuhi salah satu Tugas Dokter Internsip Periode 6 Juni 2016 2 Oktober 2016 Puskesmas Karanganyar Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah

    BAB I

    PENDAHULUAN

    • A. Latar Belakang

    Saat ini diabetes melitus menjadi suatu masalah kesehatan dunia seiring meningkatnya prevalensi penyakit ini ini di berbagai negara (Waspadjiet al., 2013). Prevalensi diabetes di dunia sebesar 8,3% danjumlah penderita diabetes diperkirakan akan terus meningkat dari 371 juta orang pada tahun 2012 menjadi 552 juta orang pada tahun 2030(IDF, 2012). Hipertensi dikenal secara luas sebagai penyakit kardiovaskular. Diperkirakan telah menyebabkan 4,5% dari beban penyakit secara global, dan prevalensiya hampir sama besar di negara berkembang maupun negara maju. Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama gangguan jantung. Selain mengakibatkan gagal jantung, hipertensi dapat berakibat pada organ target lain seperti gagal ginjal maupun serebrovaskuler (Depkes,

    2006).

    PROLANIS adalah suatu sistem pelayanan kesehatan dan pendekatan proaktif yang dilaksanakan secara terintegrasi yang melibatkan Peserta, Fasilitas Kesehatan dan BPJS Kesehatan dalam rangka pemeliharaan kesehatan bagi peserta BPJS Kesehatan yang menderita penyakit kronis untuk mencapai kualitas hidup yang optimal dengan biaya pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien (BPJS Kesehatan). Program ini merupakan suatu pengelolaan penyakit kronis dengan bentuk tindakan promotif dan preventif yang terintegrasi. Penyakit kronis yang ditangani saat ini salah satunya adalah diabetes melitus tipe 2 dan Hipertensi. Diharapkan Prolanis akan meningkatkan kualitas hidup peserta Askes yang menderita penyakit kronis melalui pengelolaan penyakit secara spesifik dan terintegrasi.

    • B. Tujuan

    Mendorong peserta penyandang penyakit kronis mencapai kualitas hidup

    optimal dengan indikator 75% peserta terdaftar yang berkunjung ke

    Faskes Tingkat Pertama memiliki hasil “baik” pada pemeriksaan spesifik

    terhadap penyakit DM Tipe 2 dan Hipertensi sesuai Panduan Klinis terkait sehingga dapat mencegah timbulnya komplikasi penyakit

    • C. Manfaat

      • 1. Mampu meningkatkan kualitas hidup para penyandang penyakit kronis agar mencapai kualitas hidup yang lebih optimal.

      • 2. Mendorong para penyandang penyakit kronis supaya ikut berpartisipasi dalam kegiatan bersama.

    BAB II

    ANALISIS PERMASALAHAN

    Untuk mengetahui berbagai faktor yang mendukung serta menghambat dalam pengembangan Puskesmas Karanganyar, perlu diadakan kajian secara seksama dengan analisis SWOT (Strength , Weakness , Opportunity , Threat) dengan unsur- unsur sebagai berikut :

    5) Kekuatan Kekuatan (Strength) adalah berbagai kelebihan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi, yang apabila dimanfaatkan, akan berperan besar tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi, tapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki oleh organisasi. 6) Kelemahan Kelemahan (Weakness) adalah berbagai kekurangan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi, yang apabila diatasi akan berperan besar, tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi, tetapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki. 7) Kesempatan Kesempatan (Opportunity) adalah peluang yang bersifat positif yang dihadapi suatu organisasi, yang apabila dimanfaatkan akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi. 8) Ancaman Ancaman (Threat) adalah kendala yang bersifat negatif yang akan dihadapi suatu organisasi, yang apabila berhasil diatasi akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.

    1)

    Strength

    • a. Jumlah tenaga kesehatan yang cukup di Puskesmas Karanganyar

    • b. Petugas kesehatan (dokter dan petugas lab) yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang cukup dalam melakukan aktivitas penyuluhan di dalam masyarakat.

    • c. Diadakan rutin setiap bulan

    • d. Adanya sarana dan prasarana yang memadai

    2)

    Weakness

    • a. Hambatan pada sumber daya puskesmas

    • - Tidak selalu ada petugas yang turun langsung ke lapangan selain

    dokter dan petugas laboratorium.

    • b. Hambatan pada masyarakat

    • - Tingkat kesadaran peserta yang masih rendah tentang mafaat kegiatan prolanis.

    • - Peserta kadang memilih hanya meminta resep daripada datang ikut serta dalam kegiatan.

    3)

    Opportunity

    • a. Kegiatan prolanis yang diikuti dengan pengecekan lab darah secara rutin tiap bulan.

    • b. Adanya kerjasama dan dukungan kader, dokter dan petugas lab

    • c. Motivasi yang besar dari petugas kesehatan kepada para peserta untuk mengikuti kegiatan secara rutin.

    • d. Adanya penyuluhan dan senam yang dapat menanmbah minat para peserta.

    4)

    Threat

    • a. Tingginya angka kesakitan karena penyakit kronis (Hipertensi dan Diabetes Melitus)

    • b. Cara minum obat yang setiap hari membuat pasien kadang merasa jenuh.

    BAB III

    PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

    • A. Alternatif Pemecahan Masalah Berdasarkan penyebab-penyebab yang ada, didapatkan beberapa alternative penyelesaian masalah sebagai berikut :

      • 1. Penyesuaian waktu pelaksanaan kegiatan prolanis sehingga tidak mengganggu aktivitas para peserta ..

      • 2. Memanfaatkan pelatihan keterampilan bagi petugas kesehatan untuk meningkatkan kualitas petugas.

      • 3. Memberikan tema penyuluhan yang bervariasi agar para peserta tidak merasa bosan.

      • 4. Memberikan motivasi kepada para peserta agar rutin mengikuti kegiatan prolanis sebagai sarana berkumpul bersama.

      • 5. Mengisi kegiatan prolanis dengan berbagai kegiatan (senam) agar dapat menambah minat para peserta.

  • B. Pemilihan Intervensi Alternatif pemecahan masalah di atas apabila terlaksana daapat menyelesaikan permasalahan tentang prolanis. Namun, untuk melaksanakan pemecahan masalah tersebut secara bersamaan akan sangat sulit. Oleh karena itu, intervensi yang dapat dilaksanakan adalah dengan memberikan penyuluhan yang dilakukan oleh dokter.

    • A. Metode Intervensi

    BAB IV

    PELAKSANAAN

    Metode intervensi yang dipilih adalah dengan memberikan penyuluhan yang beragam mengenai masalah penyakit kronis terutama hipertensi dan diabetes melitus. Selain itu dilakukan pengecekan darah secara berkala untuk melihat perkembangan penyakit tiap bulan. Metode ini diharapkan akan meningkatkan minat para peserta prolanis terhadap manfaat kegiatan prolanis. Kegiatan ini dilakukan setiap bulan di gedung PWRI Karanganyar setiap bulan.

    • B. Sasaran Intervensi Para penyandang penyakit kronis (hipertensi dan diabetes melitus) yang ikut serta dalam program BPJS.

    • C. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Waktu pelaksanaan yaitu pada hari Rabu tanggal 12 Agustus 2015 di gedung PWRI Karanganyar.

    • D. Dokumentasi Kegiatan

    A. Metode Intervensi BAB IV PELAKSANAAN Metode intervensi yang dipilih adalah dengan memberikan penyuluhan yang beragam

    BAB V

    MONITORING DAN EVALUASI

    • A. Monitoring dan Evaluasi Proses Intervensi pada kegiatan Prolanis berupa penyuluhan singkat mengenai kesehatan dan pengecekan lab darah secara rutin. Penyuluhan dilakukan secara dua arah yaitu adanya sesi tanya jawab antara petugas kesehatan dan peserta. Peserta dapat menanyakan masalah kesehatan yang dialaminya kepada petugas kesehatan. Komunikasi dua arah ini diharapkan dapat meningkatkan minat peserta untuk menghadiri kegiatan prolanis yang diadakan setiap bulan. Adanya berbagai kegiatan selain penyuluhan seperti senam kaki diabetes membantu meningkatkan minat peserta untuk menghadiri kegiatan yang akan mendatang.

    • B. Evaluasi Target Selama kegiatan, peserta tampak berminat melakukan pengecekan darah dan melakukan tanya jawab dengan petugas kesehatan selama sesi penyuluhan. Selama sesi senam para peserta juga aktif dan antusias dalam mengikuti senam. Adanya petugas kesehatan yang terdiri dari dokter dan petugas lab yang diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelaksanaan prolanis. Adanya kepercayaan tersebut diharapkan dapat meningkatkan usia harapan hidup para penyandang penyakit kronis.

    LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

    (UKM)

    Penyelidikan Epidemiologi Kasus DBD

    (PROGRAM P2PM)

    Oleh:

    dr. Alif Adlan Zulizar dr. Hiszom Asyhari dr. Subhan Darrojat Arifqi dr. Yanuar Rezano dr. Yudhistira Prakosa dr. Yunita Amelia

    Diajukan untuk memenuhi salah satu Tugas Dokter Internsip Periode 6 Juni 2016 2 Oktober 2016 Puskesmas Karanganyar Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah

    BAB I

    PENDAHULUAN

    • A. LATAR BELAKANG

    Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dengan tanda-tanda tertentu dan disebarkan melalui gigitan nyamuk Aedes spp. Kasus DBD setiap tahun di Indonesia terus meningkat dan bahkan makin merajalela dengan pemanasan global. Pusat Informasi Departemen Kesehatan mencatat, jumlah kasus DBD di Indonesia selama 2009 mencapai 77,489 kasus dengan 585 korban meninggal. WHO memperkirakan sebanyak 2,5 sampai 3 milyar penduduk dunia berisikoterinfeksi virus dengue dan setiap tahunnya terdapat 50-100 juta penduduk dunia terinfeksi virus dengue, 500 ribu diantaranya membutuhkan perawatan intensif di fasilitas pelayanan kesehatan. Setiap tahun dilaporkan sebanyak 21.000 anak meninggal karena DBD atau setiap 20 menit terdapat satu orang anak yang meninggal. Penyakit demam berdarah penyebarannya sangat luas hampir di semua daerah tropis diseluruh dunia. Di Indonesia sampai saat ini penyakit demam berdarah (DBD) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Angka kesakitan penyakit ini masih cukup tinggi. Penyakit ini tidak saja ditemukan di daerah perkotaan namun juga terdapat di daerah pedesaan. Pada wilayah Kecamatan Karanganyar terjadi beberapa kasus DBD dan saat ini sedang dilaksanakan upaya penanggulangannya. Cara yang tepat dalam pemberantasan penyakit DBD adalah dengan pengendalian vektor nyamuk sebagai penular oleh sebab itu, Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan pemberdayaan masyarakat akan menjadi strategi utama untuk memberantas nyamuk. DKK Karanganyar memberitahukan kepada Puskesmas Karanganyar bahwa pada wilayahnya terjadi beberapa kasus DBD. Kemudian Puskesmas Karanganyar merespon pemberitahuan tersebut dengan melakukan penyelidikan epidemiologi dengan langkah-langkah yaitu verifikasi informasi, pelacakan kasus, survey vektor nyamuk dan faktor resiko.

    • B. Tujuan

      • 1. Tujuan Umum Dapat menggambarkan kasus DBD yang sesuai dengan waktu, tempat serta orang di wilayah Kecamatan Karanganyar, agar dapat menentukan intervensi yang tepat dalam rangka upaya penanggulangannya.

        • 2. Tujuan Khusus

          • a. Pelacakan kasus untuk menentukan besaran masalah

          • b. Survey nyamuk untuk menentukan kepadatan populasi nyamuk

          • c. Survey faktor resiko

          • d. Tatalaksana penderita

    • C. Manfaat

    1. Dapat menjelaskan penyebab-penyebab timbulnya penyakit dan perkembangan yang terjadi selanjutnya. 2. Dapat mengetahui besaran masalah, menentukan kepadatan populasi nyamuk serta faktor resiko sehingga dapat menentukan langkah selanjutnya 3. Dapat memberikan data dari kegiatan yang dilakukan sehingga dengan data-data tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan untuk memberantas penyakit dan agar dapat mengetahui apakah tujuan yang diinginkan sudah tercapai atau tidak.

    BAB II

    ANALISIS PERMASALAHAN

    2.1 PENGERTIAN SWOT

    Untuk mengetahui berbagai faktor yang mendukung serta menghambat dalam perkembangan Puskesmas Karanganyar, perlu diadakan kajian secara seksama dengan analisis SWOT (Strength, weakness, opportunity, threat) dengan unsur- unsur sebagai berikut :

    • 17. Kekuatan Kekuatan (strength) adalah berbagai kelebihan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi, yang apabila dimanfaatkan akan berperan besar tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi tapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki oleh organisasi.

    • 18. Kelemahan Kelemahan (weakness) adalah berbagai kekurangan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi yang apabila diatasi akan berperan besar, tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi tetapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki.

    • 19. Kesempatan Kesempatan (opportunity) adalah peluang yang bersifat positif yang dihadapi suatu organisasi, yang apabila dimanfaatkan akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.

    • 20. Ancaman Ancaman (threat) adalah kendala yang bersifat negatif yang akan dihadapi suatu organisasi yang apabila berhasil diatasi akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.

    2.2. ANALISIS SWOT

    Analisis SWOT terhadap kegiatan ini adalah sebagi berikut

    • 17. Strength

      • m. Jumlah tenaga kesehatan yang cukup di puskesmas karanganyar

      • n. Dokter internsip di dampingi Petugas kesehatan yang sudah berpengalaman dan persiapan yang matang dalam melakukan penyelidikan epidemiologi, serta penyuluhan pada pemukiman penduduk desa di Kecamatan Karanganyar

      • o. Adanya hubungan yang baik antara puskesmas sebagai sarana kesehatan primer dengan masyarakat yang ada di wilayahnya.

  • 18. Weakness

    • h. Hambatan pada sumber daya puskesmas

      • - Kurang kerjasama lintas program

    • i. Hambatan pada masyarakat

  • -

    Tingkat kesadaran masyarakat masih kurang terhadap kebersihan terutama pada kebersihan lingkungan rumahnya sendiri.

    • 19. Opportinity

     

    -

    Adanya kerjasama dan dukungan petugas puskesmas, masyarakat,

     

    dan lintas sektor.

     

    -

    Kegiatan penyelidikan epidemiologi dan penyuluhan untuk meningkatkan kebersihan dilakukan secara rutin sehingga kegiatan berjalan cukup baik

    • 20. Threat

     

    -

    Masih tingginya angka kesakitan karena tingkat kesadaran masyarakat akan kebersihan yang masih kurang

    -

    Wilayah kerja puskesmas yang cukup luas

    BAB III PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

    • 3.1 Alternatif Pemecahan Masalah

    Berdasarkan penyebab-penyebab yang ada, didapatkan beberapa alternative penyelesaian masalah sebagai berikut :

    • 4. Meningkatkan koordinasi, motivasi serta kinerja petugas kesehatan untuk lebih giat mensosialisasikan pola hidup bersih dan sehat

    • 5. Meningkatkan minat dan motivasi masyarakat untuk lebih menyadari akan pentingnya kebersihan lingkungan dan pola hidup bersih untuk mencegah timbulnya penyakit pada lingkungan masyarakat tersebut.

    • 6. Mengajak kader dan tokoh masyarakat untuk ikut dalam upaya pencegahan penyakit dengan memberikan pengetahuan kepada kader atau tokoh masyarakat sehingga dapat mengajak warga untuk memberantas penyakit.

    • 7. Mengajak warga sekitar untuk membersihkan lingkungan rumahnya sendiri dan lingkungan sekitarnya atau mengadakan kegiatan kerja bakti untuk membersihkan lingkungannya serta saling memngingatkan tantang kebersihan.

    • 3.2 Pemilihan Intervensi

    Alternatif pemecaan masalah di atas adalah apabila terlaksana dapat terselesaikannya permasalahan pada penyelidikan epidemiologi. Namun, untuk melaksanakan pemecahan masalahh tersebut tidak mudah sehingga intervensi awal yang dapat dilakukan adalah dengan melaksanakan penyelidikan epidemiologi dan berusaha untuk menyelesaikannya.

    • 4.1 Metode Intervensi

    BAB IV

    PELAKSANAAN

    Metode intervensi yang dilakukan adala dengan melakukan kegiatan penyelidikan epidemiologi. Metode penyelidikan epidemiologi dilakukan dengan memperkenalkan diri dan selanjutnya melakukan wawancaea dengan keluarga, untuk mngetahui ada tidaknya penderita infeksi dengue lainnya. Kemudian melakukan pemeriksaan jentik pada tempat penampungan air (TPA) dan tempat-tempat lain yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk aedes baik di dalam maupun luar rumaa atau bangunan. Kegiatan penyelidikan epidemiologi dilakukan dalam radius 100 meter dari lokasi tempat tinggal penderita. Bila penderita adala siswa sekola dan pekrja, makas elain dilakukan di rumah penderita tersebut, kegiatan juga dilakukan di sekolah atau tempat kerja penderita. Hasil pemeriksaan epidemiologi segera dilaporkan kepada Kepala Dinkes Kesehatan Karanganyar.

    • 4.2 Sasaran Intervensi Rumah penderita dan rumah yang ada di sekitar penderita

    • 4.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan

      • - Desa Tegalgede, Kecamatan Karanganyar ( Kamis, 14 Juli 2016 )

      • - Desa Popongan, Kecamatan Karanganyar ( Senin, 18 Juli 2016 )

      • - Desa Delingan, Kecamatan Karanganyar ( Selasa, 19 Juli 2016 )

      • - Karanganyar Kota ( Rabu, 20 Juli 2016 )

      • - Kelurahan Jungke ( Kamis, 28 Juli 2016)

      • - Desa Bejen ( Senin, 01 Agustus 2016)

    4.4 Dokumentasi Kegiatan

    4.4 Dokumentasi Kegiatan
    4.4 Dokumentasi Kegiatan

    BAB V

    MONITORING DAN EVALUASI

    • A. Monitoring dan Evaluasi Proses

    Kegiatan penyelidikan epidemiologi berjalan dengan baik dan lancar. Dokter internsip dan petugas kesehatan terlihat bersemangat dalam menjalankan tugas penyelidikan epidemiologi ini. Kegiatan penyelidikan epidemiologi ini dilakukan dengan melakukan pengamatan pada lingkungan rumah penderita dan rumah sekitar penderita. Petugas menanyakan pola hidup serta mengamati kebersian terutama kebersian tempat penyimpanan air warga. Petugas juga memberikan penyuluhan tentang penyakit serta pencegahan penyakit dan diharapkan warga dapat meningkatkan kebersihan sehingga mencegah dari penyakit DBD.

    • B. Evaluasi Target

    Ketika legiatan berlangsung, baik warga penderita dan warga sekitar rumah terlihat kooperatif dengan petugas. Petugas menyampaikan edukasi dengan baik sehingga warga terlihat mengerti dengan penjelasan petugas. Petugas kesehatan yang lengkap dalam menjalankan penyelidikan epidemiologi yang terdiri dari dokter, bidan wilayah, perawat dan petugas program diharapkan dapat mencapai tujuan dari kegiatan ini.

    LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT (UKM)

    Posyandu Balita (PROGRAM PROMKES)

    Oleh:

    dr. Alif Adlan Zulizar dr. Hiszom Asyhari dr. Subhan Darrojat Arifqi dr. Yanuar Rezano dr. Yudhistira Prakosa dr. Yunita Amelia

    Diajukan untuk memenuhi salah satu Tugas Dokter Internsip Periode 6 Juni 2016 2 Oktober 2016 Puskesmas Karanganyar Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah

    BAB I

    PENDAHULUAN

    • D. LATAR BELAKANG

    Posyandu diselenggarakan untuk kepentingan masyarakat sehingga pembentukan, penyelenggaraan dan pemanfaatannya memerlukan peran serta aktif masyarakat dalam bentuk partisipasi penimbangan balita setiap bulannya, sehingga dapat meningkatkan status gizi balita. Kegiatan ini membutuhkan partisipasi aktif ibu-ibu yang memiliki anak balita untuk membawa balita-balita mereka ke posyandu sehingga mereka dapat memantau tumbuh kembang balita melalui berat badannya setiap bulan (Depkes RI, 2006). Posyandu dibentuk oleh masyarakat desa/kelurahan dengan tujuan untuk mendekatkan pelayanan kesehatan dasar, terutama Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Keluarga Berencana (KB), imunisasi, gizi, dan penanggulangan diare kepada masyarakat setempat. Satu posyandu melayani sekitar 80-100 balita. Dalam keadaan tertentu, seperti lokasi geografis, perumahan penduduk yang terlalu berjauhan, dan atau jumlah balita lebih dari 100 orang, dapat dibentuk posyandu baru (Depkes RI,

    2006).

    Secara kuantitas, perkembangan jumlah posyandu sangat menggembirakan, karena di setiap desa ditemukan sekitar 3-4 posyandu. Pada saat posyandu dicanangkan pada Tahun 1986 jumlah posyandu tercatat sebanyak 25.000 posyandu, pada Tahun 2005 meningkat menjadi 238.699 posyandu (Depkes RI, 2006), dan pada Tahun 2008 menjadi 269.202 posyandu (Depkes RI, 2009). Ditinjau dari aspek kualitas masih ditemukan banyak masalah, antara lain kelengkapan sarana dan keterampilan kader yang belum memadai (Depkes RI, 2006). Menurut Depkes RI (2001) meningkatkan kualitas pelayanan posyandu merupakan tujuan khusus dari revitalisasi posyandu yang salah

    satunya yaitu meningkatkan pengelolaan dalam pelayanan posyandu. kelangsungan posyandu sebagai unit pelayanan kesehatan dasar masyarakat, khususnya dari kelompok paling rentan ibu dan anak.

    • E. Tujuan

      • 1. Mengetahui keadaan balita terutama kesehatan para balita di Desa Bolong, Kecamatan Karanganyar

      • 2. Mengidentifikasi dan mencoba menganalisa masalah kesehatan balita di Desa Bolong, Kecamatan Karanganyar

      • 3. Mencoba memberikan alternatif penyelesaian masalah kesehatan lansia

        • di Desa Bolong, Kecamatan Karanganyar

  • F. Manfaat

    • 1. Mampu mengidentifikasi dan menganalisa masalah kesehatan yang sering terjadi pada balita di Desa Bolong, Kecamatan Karanganyar.

    • 2. Membantu memberikan alternatif penyelesaian masalah kesehatan balita

      • di Desa Bolong, Kecamatan Karanganyar.

    • 3. Mampu mengoptimalkan peran puskesmas sebagai pelayanan pertama pada masyarakat.

  • BAB II ANALISIS PERMASALAHAN

    2.1 PENGERTIAN SWOT

    Untuk mengetahui berbagai faktor yang mendukung serta menghambat dalam perkembangan Puskesmas Karanganyar, perlu diadakan kajian secara seksama dengan analisis SWOT (Strength, weakness, opportunity, threat) dengan unsur- unsur sebagai berikut :

    • 21. Kekuatan Kekuatan (strength) adalah berbagai kelebihan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi, yang apabila dimanfaatkan akan berperan besar tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi tapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki oleh organisasi.

    • 22. Kelemahan Kelemahan (weakness) adalah berbagai kekurangan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi yang apabila diatasi akan berperan besar, tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi tetapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki.

    • 23. Kesempatan Kesempatan (opportunity) adalah peluang yang bersifat positif yang dihadapi suatu organisasi, yang apabila dimanfaatkan akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.

    • 24. Ancaman Ancaman (threat) adalah kendala yang bersifat negatif yang akan dihadapi suatu organisasi yang apabila berhasil diatasi akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.

    2.2. ANALISIS SWOT

    Analisis SWOT terhadap kegiatan ini adalah sebagi berikut

    • 21. Strength

      • p. Jumlah tenaga kesehatan yang cukup di puskesmas karanganyar

      • q. Petugas kesehatan yang baik dalam menyampaikan penyuluhan- penyuluhan kepada masyarakat.

      • r. Adanya sarana dan prasarana untuk kegiatan posyandu setiap bulannya di masing-masing kelurahan.

  • 22. Weakness

    • j. Hambatan pada sumberdaya puskesmas

      • - Kurangnya tenaga kesehatan, terutama dokter ketika kegiatan posyandu balita

      • - Kurangnya kerjasama lintas program

  • k. Hambatan pada masyarakat

    • - Tingkat kesadaran ibu-ibu yang masih rendah tentang manfaat posyandu balita

    • - Kurangnya jumlah kader kesehatan yang ikut membantu kegiatan posyandu

  • 23. Opportinity

    • - Memaksimalkan kerjasama lintas sektoral

    • - Adanya kerjasama dan dukungan kader kesehatan, pokja, dan lintas sektor

    • - Motivasi para petugas kesehatan yang tinggi untuk meningkatkan kesehatan

  • 24. Threat

    • - Tingginya angka kesakitan karena kesadaran para ibu dari balita yang masih kurang teradap kesehatan

    • - Wilayah kerja puskesmas yang cukup luas.

  • BAB III PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

    3.1 Alternatif Pemecahan Masalah

    Berdasarkan penyebab-penyebab penyelesaian masalah sebagai berikut :

    yang ada, didapatkan beberapa alternatif

    • 1. Banyak memberikan penyuluhan kepada para ibu-ibu pentingnya manfaat posyandu balita dan diharapkan para ibu-ibu dapat datang ke kegiatan posyandu setiap bulan secara rutin.

    • 2. Menambah jumlah para kader baru dan memberikan edukasi mengenai kesehatan terutama masalah yang sering terjadi pada balita.

    • 3. Meningkatkan motivasi para petugas kesehatan terutama dokter dan bidan pada wilayah tersebut untuk lebih aktif mengikuti kegiatan posyandu.

    • 4. Memberikan pelatihan kepada para kader agar para kader menjadi lebih baik dalam memberikan pelayanan kepada para ibu dan balita

    • 5. Pelaksanaan kegiatan posyandu yang disesuaikan dengan aktivitas para ibu-ibu sehingga tidak mengganggu aktivitas dan kegiatan posyandu.

    3.2. Pemilihan Intervensi

    Alternatif pemecahan masalah di atas apabila terlaksana dapat menyelesaikan permasalahan tentang posyandu balita. Namun, untuk melaksanakan pemecahan masalah tersebut secara bersamaan akan sangat sulit. Oleh karena itu, intervensi yang dapat dilaksanakan adalah dengan memberikan penyuluhan-

    penyuluhan kepada ibu-ibu serta memberikan pengobatan yang dapat mengurangi keluhan para ibu dan balita disesuaikan dengan obat-obatan yang tersedia.

    BAB IV PELAKSANAAN KEGIATAN

    • L. TUJUAN KEGIATAN

    Tujuan umum kegiatan ini yaitu untuk mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) Dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia

    melalui Pemberdayaan Masyarakat sedangkan tujuan khususnya yaitu untuk meningkatnya peran lintas sektor dalam penyelenggaraan Posyandu Meningkatnya cakupan dan jangkauan yankes dasar terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB Meningkatnya Peran masyarakat dalam penyelenggaraan Upaya kesehatan dasar.

    • M. SASARAN KEGIATAN

    Para ibu dan balita di Desa Bolong, Kecamatan Karanganyar.

    • N. TARGET KEGIATAN

    Target dari promkes ini adalah meningkatkan kesadaran dan pengetahuan para ibu sehingga para ibu lebih menyadari pentingnya peranan

    posyandu sehingga meningkatkan kesehatan ibu dan balita.

    • O. BENTUK KEGIATAN

    Bentuk kegiatan dari posyandu ini yaitu :

    1.

    Jenis

    Pelayanan

    Minimal

    Kepada

    Anak

    Penimbangan untuk memantau pertumbuhan anak, perhatian harus diberikan khusus terhadap anak yang selama ini 3 kali tidak melakukan penimbangan, pertumbuhannya tidak cukup baik sesuai umurnya dan anak yang pertumbuhannya berada di bawah garis merah KMS, pemberian makanan pendamping ASI dan Vitamin A, pemberian PMT untuk anak yang tidak cukup pertumbuhannya (kurang dari 200 gram/ bulan) dan anak yang berat badannya berada di bawah garis merah KMS, memantau atau melakukan pelayanan imunisasi dan tanda-tanda lumpuh layu, memantau

    kejadian

    ISPA

    dan

    diare,

    serta

    melakukan

    rujukan

    bila

    perlu.

    2. Pelayanan tambahan yang Diberikan

    :

    • - Pelayanan bumil dan menyusui.

    • - Program Pengembangan Anak Dini Usia (PADU) yang diintegenerasikan dengan program Bina Keluarga Balita (BKB) dan kelompok bermain lainnya ..

    • P. WAKTU DAN TEMPAT

    Waktu pelaksanaan yaitu pada tanggal

    • Q. DOKUMENTASI KEGIATAN

    kejadian ISPA dan diare, serta melakukan rujukan bila perlu. 2. Pelayanan tambahan yang Diberikan : -
    kejadian ISPA dan diare, serta melakukan rujukan bila perlu. 2. Pelayanan tambahan yang Diberikan : -

    BAB V MONITORING DAN EVALUASI

    Tidak ada kendala yang berarti selama kegaitan ini berlangsung. Selama kegiatan posyandu peserta tampak antusias ketika memeriksakan diri dan para ibu- ibu banyak yang berkonsultasi mengenai kesehatan mereka dan para balitanya. Akan tetapi susana yang kurang kondusif karena para balita banyak yang menangis sedikit mengganggu proses penyuluhan yang di berikan. Para petugas kesehatan seperti dokter, perawat dan bidan serta kader melaksanakan tugas dengan baik sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesehatan para ibu dan balita sehingga dapat mencengah penyakit yang dapat terjadi pada ibu dan balita serta mengurangi kematian pada ibu dan bayi.

    LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

    (UKM)

    Posyandu Lansia

    (PROGRAM PROMKES)

    Oleh:

    dr. Alif Adlan Zulizar dr. Hiszom Asyhari dr. Subhan Darrojat Arifqi dr. Yanuar Rezano dr. Yudhistira Prakosa dr. Yunita Amelia

    Diajukan untuk memenuhi salah satu Tugas Dokter Internsip Periode 6 Juni 2016 2 Oktober 2016 Puskesmas Karanganyar Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah

    BAB I

    PENDAHULUAN

    • G. LATAR BELAKANG

    Posyandu lansia merupakan pusat kegiatan masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan pada lanjut usia. Posyandu sebagai suatu wadah kegiatan yang bernuansa pemberdayaan masyarakat, akan berjalan baik dan optimal apabila proses kepemimpinan terjadi proses pengorganisasian, adanya anggota kelompok dan kader serta tersediannya pendanaan ( Azizah, 2011). Seiring dengan semakin meningkatnya populasi lanjut usia, pemerintah telah merumuskan berbagai kebijakan pelayanan kesehatan lanjut usia ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kesehatan lanjut usia untuk mencapai masa tua bahagia dan berguna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan keberadaannya. Sebagai wujud nyata pelayanan sosial dan kesehatan pada lanjut usia, pemerintah telah mencanangkan pelayanan pada lanjut usia melalui beberapa jenjang. Pelayanan ditingkat masyarakat adalah Posyandu Lansia, pelayanan kesehatan lansia tingkat dasar adalah Puskesmas, dan pelayanan kesehatan tingkat lanjutan adalah Rumah Sakit (Fallen, 2011). Jumlah penduduk lanjut usia menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Hal yang sejalan dengan meningkatnya usia harapan hidup serta menjadi tanda membaiknya tingkat kesejahteraan masyarakat. Dari hasil Sensus Penduduk tahun 2010 menunjukkan bahwa Indonesia termasuk lima besar negara dengan jumlah penduduk lanjut usia terbanyak di dunia yaitu mencapai 18,1 juta jiwa pada 2010 atau 9,6 persen dari jumlah penduduk (Abdi, 2013). Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan akan menambah jumlah Puskesmas yang santun bagi lanjut usia karena bertambahnya jumlah penduduk lansia akibat meningkatnya umur harapan hidup menyebabkan pelayanan kesehatan yang ramah bagi kelompok tersebut semakin dibutuhkan. Dari Data Kementerian Kesehatan, saat ini ada 528 Puskesmas Santun Lansia di 231 Kabupaten/Kota di Indonesia. Jumlah kelompok lanjut Usia (Posyandu Lansia)

    yang memberikan pelayanan promotif dan preventif ada 69.500 yang tersebar di semua provinsi di Indonesia. Namun, implementasi posyandu lansia saat ini belum berjalan maksiamal (Kompas, 2013).

    • H. Tujuan

      • 4. Mengetahui keadaan lansia terutama kesehatan para lansia di

      • 5. Mengidentifikasi dan mencoba menganalisa masalah kesehatan lansia di

      • 6. Mencoba memberikan alternatif penyelesaian masalah kesehatan lansia
        di

  • I. Manfaat

    • 1. Mampu mengidentifikasi dan menganalisa masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia

    • 2. Membantu memberikan alternatif penyelesaian masalah kesehatan lansia

    • 3. Mampu mengoptimalkan peran puskesmas sebagai pelayanan pertama pada masyarakat.

  • BAB II

    ANALISIS PERMASALAHAN

    2.1 PENGERTIAN SWOT

    Untuk mengetahui berbagai faktor yang mendukung serta menghambat dalam perkembangan Puskesmas Karanganyar, perlu diadakan kajian secara seksama dengan analisis SWOT (Strength, weakness, opportunity, threat) dengan unsur- unsur sebagai berikut :

    • 25. Kekuatan Kekuatan (strength) adalah berbagai kelebihan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi, yang apabila dimanfaatkan akan berperan besar tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi tapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki oleh organisasi.

    • 26. Kelemahan Kelemahan (weakness) adalah berbagai kekurangan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi yang apabila diatasi akan berperan besar, tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi tetapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki.

    • 27. Kesempatan Kesempatan (opportunity) adalah peluang yang bersifat positif yang dihadapi suatu organisasi, yang apabila dimanfaatkan akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.

    • 28. Ancaman Ancaman (threat) adalah kendala yang bersifat negatif yang akan dihadapi suatu organisasi yang apabila berhasil diatasi akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.

    2.2. ANALISIS SWOT

    Analisis SWOT terhadap kegiatan ini adalah sebagi berikut

    • 25. Strength

      • s. Jumlah tenaga kesehatan yang cukup di puskesmas karanganyar

      • t. Petugas kesehatan yang baik dalam menyampaikan penyuluhan- penyuluhan kepada masyarakat.

      • u. Adanya sarana dan prasarana untuk kegiatan posyandu setiap bulannya di masing-masing kelurahan.

  • 26. Weakness

    • l. Hambatan pada sumberdaya puskesmas

      • - Kurangnya tenaga kesehatan, terutama dokter ketika kegiatan

  • posyandu lansia

    • - Kurangnya kerjasama lintas program

    • m. Hambatan pada masyarakat

      • - Tingkat kesadaran para lansia yang masih rendah tentang manfaat posyandu

      • - Kurangnya jumlah kader kesehatan yang ikut membantu kegiatan posyandu

    • 27. Opportinity

      • - Memaksimalkan kerjasama lintas sektoral

      • - Adanya kerjasama dan dukungan kader kesehatan, pokja, dan lintas sektor

      • - Motivasi para petugas kesehatan yang tinggi untuk meningkatkan kesehatan

  • 28. Threat

    • - Tingginya angka kesakitan karena kesadaran lansia yang masih kurang teradap kesehatan

    • - Kesadaran para lansia yang masih kurang untuk mengikuti kegiatan posyandu

    • - Wilayah kerja puskesmas yang cukup luas.

    BAB III

    PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

    3.1 Alternatif Pemecahan Masalah

    Berdasarkan penyebab-penyebab penyelesaian masalah sebagai berikut :

    yang ada, didapatkan beberapa alternatif

    • 6. Banyak memberikan penyuluhan kepada para lansia pentingnya manfaat posyandu agar para lansia mengikuti kegiatan posyandu setiap bulan secara rutin.

    • 7. Menambah jumlah para kader baru dan memberikan edukasi mengenai kesehatan terutama masalah yang sering terjadi pada lansia.

    • 8. Meningkatkan motivasi para petugas kesehatan terutama dokter dan bidan pada wilayah tersebut untuk lebih aktif mengikuti kegiatan posyandu.

    • 9. Memberikan pelatihan kepada para kader agar para kader menjadi lebih baik dalam memberikan pelayanan kepada para lansia.

    10. Pelaksanaan kegiatan posyandu yang disesuaikan dengan aktivitas para lansia sehingga tidak mengganggu aktivitas dan kegiatan posyandu.

    3.2. Pemilihan Intervensi

    Alternatif pemecaan masalah di atas apabila terlaksana dapat menyelesaikan permasalahan tentang posyandu lansia. Namun, untuk melaksanakan pemecahan masalah tersebut secara bersamaan akan sangat sulit. Oleh karena itu, intervensi yang dapat dilaksanakan adala dengan memberikan penyuluhan-penyuluhan kepada para lansia serta memberikan pengobatan yang dapat mengurangi keluhan para

    lansia disesuaikan dengan obat-obatan yang tersedia.

    BAB IV

    PELAKSANAAN KEGIATAN

    • R. TUJUAN KEGIATAN

    Tujuan kegiatan ini yaitu untuk meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat, sehingga terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuan lansia serta mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam pelayanan kesehatan disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat usia lanjut. Kegiatan ini dilaksanakan setiap bulan secara rutin.

    • S. SASARAN KEGIATAN

    Para lansia di

    • T. TARGET KEGIATAN

    Target dari promkes ini adalah meningkatkan kesadaran dan pengetahuan para lansia sehingga para lansia lebih menyadari pentingnya

    peranan posyandu sehingga meningkatkan kesehatan para lansia.

    • U. BENTUK KEGIATAN

    Bentuk kegiatan dari posyandu ini adalah dengan melakukan pemeriksaan kesehatan fisik yang dicatat dan dipantau dengan Kartu Menuju Sehat untuk mengetahui lebih awal penyakit yang diderita (deteksi dini) atau ancaman kesehatan yang yang dihadapi. Pemeriksaan fisik dapat seperti pemeriksaan tekanan darah dan berat badan. Selain itu dapat dilakukan pemeriksaan sesuai keluhan dan pemberian obat-obatan yang tersedia. Penyuluhan juga dilakukan di posyandu untuk meningkatkan pengetauan para lansia akan kesehatan. Kegiatan ini dibantu ole para kader kesehatan dan dilaksanakan secara rutin setiap bulannya.

    • V. WAKTU DAN TEMPAT

    Waktu pelaksanaan yaitu pada tanggal

    W. DOKUMENTASI KEGIATAN

    W. DOKUMENTASI KEGIATAN
    W. DOKUMENTASI KEGIATAN

    BAB V

    MONITORING DAN EVALUASI

    Tidak ada kendala yang berarti selama kegaitan ini berlangsung. Selama kegiatan posyandu peserta tampak antusias ketika memeriksakan diri dan para lansia banyak yang berkonsultasi mengenai kesehatan mereka. Selain itu, para lansia juga merasa senang melakukan kegiatan olaraga yaitu senam. Para petugas kesehatan seperti dokter, perawat dan bidan serta kader melaksanakan tugas dengan baik sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesehatan para lansia dan meningkatkan usia para lansia.